Chapter 6
Cinta Bertepuk Sebelah Tangan
Hari Jumat.
Ujian yang dimulai sejak hari Rabu
akhirnya berhasil kami lewati dengan selamat, dan kami pun terbebas dari
kutukan belajar ujian.
Sesi belajar kelompok yang dipimpin oleh
"Guru Saegusa-san" terus berlanjut hingga hari-hari sebelumnya. Berkat itu, aku, Takayuki, dan Shimizu-san merasakan keyakinan yang pasti
terhadap hasil ujian kali ini.
Dan semakin sering kami mengadakan sesi
belajar kelompok, semakin jelas pula betapa hebatnya kemampuan belajar Saegusa-san.
Bahkan Takayuki sempat berkata dengan jujur,
"Level Saegusa-san itu sudah bukan level anak SMA kita lagi,"
mengagumi kemampuan akademiknya. Namun, Saegusa-san hanya tertawa canggung,
"Ahahaha," untuk mengalihkan pembicaraan.
Yah, terlepas dari itu, bebas bagi siapa saja
untuk bersekolah di mana pun yang mereka inginkan. Jika memang dia berada di
level yang seharusnya tidak perlu datang ke sekolah kami ini, aku hanya bisa
merasa bersyukur karena takdir telah mempertemukan kami di sini.
***
Selepas pulang sekolah, kami memutuskan untuk
mengadakan pesta perayaan selesai ujian di sebuah restoran burger di depan
stasiun.
Sambil memakan burger, kami menikmati obrolan
santai tentang kesan-kesan ujian. Namun, keberadaan Saegusa-san hari ini
kembali mencolok dan sukses menarik perhatian orang-orang di sekitar
separah-parahnya.
Namun, hal itu tidak hanya berlaku bagi Saegusa-san;
Takayuki yang duduk di sebelah serta Shimizu-san yang duduk di seberang tidak
luput dari perhatian orang-orang.
Melihat Shimizu-san yang sedang mengunyah
burger dengan mulut kecilnya sambil tersenyum, aku teringat pada sebuah
insiden.
Yaitu kejadian setelah kami mulai akrab dan
sering berkumpul bersama.
Seseorang yang dulunya satu SMP dengan
Shimizu-san pernah bertanya kepadaku dengan nada terkejut, "Kalian ini
bagaimana ceritanya bisa akrab dengan sang putri es itu?!"
Mendengar cerita itu, karena kecantikannya
yang luar biasa, Shimizu-san terkenal sebagai gadis tercantik nomor satu di
sekolahnya sejak masa SMP, dan karena dia terus-menerus menolak setiap
pernyataan cinta yang datang, dia dijuluki dengan julukan keren ‘Sang Putri
Kesepian’.
Julukan macam apa itu? Rasanya kayak karakter
di komik atau anime saja, pikirku. Namun, teman-teman seangkatannya dari SMP
tampaknya benar-benar terkejut melihat Shimizu-san—yang dulunya bahkan hampir
tidak pernah berinteraksi secara normal dengan sesama perempuan—kini bisa
bergaul dan tertawa bersama kami secara natural.
"Saku-chan, ada saus di pipimu."
"Eh? Ah, malu banget."
Saegusa-san, yang tampak sangat puas karena
bisa menikmati burger bersama-sama hari ini, dengan riang membersihkan saus
yang menempel di pipi Shimizu-san di sebelahnya.
Ngomong-ngomong,
"Saku-chan" yang dimaksud adalah Shimizu-san. Nama depan Shimizu-san
adalah Sakura, dan entah sejak kapan Saegusa-san mulai memanggilnya
‘Saku-chan’.
Melihat
interaksi akrab di antara mereka, terlihat jelas kenapa Shimizu-san bisa begitu
membuka hatinya, semua itu berkat sikap ramah Saegusa-san yang tulus kepadanya.
Setelah
puas mengobrol dan menikmati waktu bersama sepuasnya, kami memutuskan untuk
bubar dan pulang ke rumah masing-masing begitu keluar dari restoran.
***
"U-um,
Ichijo-kun!"
Saat
aku sedang berjalan seorang diri di jalan pulang, seseorang memanggilku dari
belakang secara tiba-tiba.
Karena
terkejut oleh panggilan mendadak itu, aku secara refleks menoleh ke arah sumber
suara.
Di
sana, kulihat sosok Shimizu-san—yang seharusnya sudah berpisah tadi—berdiri di
belakangku.
Karena lokasinya sudah agak jauh dari tempat
kami berpisah tadi, apakah dia mengikutiku sepanjang jalan ini? Shimizu-san
berdiri di sana memasang ekspresi yang sulit dijelaskan.
"Hm?
Shimizu-san? Ada apa?"
Sambil
bertanya-tanya keperluan apa yang membawanya mencariku, aku yakin pasti ada
alasan khusus di baliknya.
"Um,
itu... sebenarnya ada hal yang ingin kuperbincangkan..."
Meskipun
dialah yang memanggilku duluan, Shimizu-san tampak ragu-ragu dan kesulitan
merangkai kata.
Sambil
berpikir ‘Baiklah, kalau mau cerita silakan’, Shimizu-san menunjuk ke sebuah
kafe terdekat dan berkata, "Kalau ngobrol di sini kurang pas, bagaimana
kalau kita bicara sebentar di sana?"
Begitulah
akhirnya aku berdua saja masuk ke dalam sebuah kafe terdekat bersama
Shimizu-san yang tampak menyimpan suatu rahasia—.
Begitu
masuk ke kafe, aku duduk berhadapan dengan Shimizu-san di seberang meja.
Duduk
berhadapan berdua saja seperti ini membuatku menyadari satu hal dengan sangat
jelas.
Yaitu,
bahwa Shimizu-san ternyata sama cantiknya dengan Saegusa-san tanpa keraguan
sedikit pun.
Paras
wajahnya yang begitu sempurna sukses membuat jantungku berdegup kencang.
Aku
tadinya mengiyakan ajakannya dengan santai, namun jika diamati dari jarak dekat
seperti ini, tingkat kecantikan Shimizu-san—sama seperti Saegusa-san—berada di
level di mana cowok biasa sepertiku tidak pantas duduk semeja dengannya secara
santai.
Bertubuh
mungil dengan kulit putih bersih transparan, serta fitur wajah tegas namun
memiliki kelucuan tersembunyi bak kucing, kecantikan proporsional itu memang
sangat layak menjadikannya salah satu dari dua gadis tercantik di angkatan
kami.
"J-jadi...
apa hal yang mau kamu diskusikan?"
Karena
tidak tahan dengan keheningan udara di antara kami, aku mencoba membuka suara
lebih dulu.
"Um,
sebenarnya bukan berkonsultasi dengan Ichijo-kun... tapi lebih tepatnya aku
ingin menanyakan sesuatu..."
Mungkin
karena merasa gugup, gaya bicara Shimizu-san tetap terdengar ragu-ragu.
Kira-kira
apa yang ingin ditanyakan oleh seorang gadis seperti dia kepadaku dalam situasi
seperti ini?
"Soal...
Yamamoto-kun, sebenarnya..."
"Hm?
Takayuki?"
Aku
terkejut bukan main saat nama sahabat karibku tiba-tiba meluncur dari mulut
Shimizu-san.
Topik
yang ingin dibicarakannya rupanya berkaitan dengan Takayuki.
"U-um.
Yamamoto-kun itu, um... p-p-pernah punya pacar nggak ya sebelumnya?"
"Pacar
Takayuki, ya... ah, kalau nggak salah, waktu SD dia pernah punya satu
kali?"
Sambil
menunduk malu, Shimizu-san menanyakan riwayat percintaan Takayuki di masa lalu.
Pada
titik ini, aku sudah bisa menebak apa sebenarnya yang diinginkan Shimizu-san
dariku.
Dan
begitu menyadari hal itu, keteganganku langsung sirna, membuatku bisa merespon
dengan nada bicara biasa seperti biasanya.
Namun,
mendengar jawabanku, Shimizu-san menunjukkan ekspresi terkejut secara
terang-terangan saat tahu Takayuki pernah punya pacar.
"A-apakah hubungan itu... masih berlanjut
sampai sekarang...?"
Meskipun merasa tidak enak pada Shimizu-san
yang bertanya dengan penuh kehati-hatian, ekspresinya saat itu mirip seperti
anak hewan yang kebingungan—begitu menggemaskan hingga aku hampir terpesona
menatapnya.
"Oh, kalau sekarang sih nggak ada. Dia
sempat punya pacar waktu SD, tapi itu pun cuma sebentar banget."
Ya, benar bahwa Takayuki pernah punya pacar,
tapi itu terjadi saat kami masih sekolah dasar, dan masa pacarannya pun sangat
singkat.
Semenjak naik ke SMP, Takayuki sangat fokus
pada kegiatan klub basket, dan meskipun banyak yang menyukainya, dia tidak
pernah berniat mencari pacar sampai sekarang.
Kupikir menceritakan detail semacam ini tidak
masalah, jadi aku menceritakan beberapa kenangan masa lalu tentang Takayuki
sebelum masa SMP kepada Shimizu-san.
Shimizu-san mendengarkan ceritaku dengan
senyuman penuh ketertarikan.
Bukannya karena ceritaku lucu, melainkan
karena dia benar-benar merasa gembira bisa mendengar kisah masa lalu Takayuki
dari masa sebelum mereka saling mengenal.
Namun, memikirkan betapa beruntungnya Takayuki
karena dicintai oleh gadis secantik ini, aku merasa iri—jujur saja, aku merasa
sangat, sangat, dan amat iri—.
"Jadi, apakah Shimizu-san ingin aku
membantumu dengan sesuatu?"
"Eh? Membantu?! Um, nggak kok, bukan bermaksud begitu."
Sambil merasa sudah cukup, aku
mengonfirmasi tujuan utama dari obrolan ini kepada Shimizu-san.
Shimizu-san mengibas-ngibaskan kedua
tangannya dengan malu-malu, menyangkal bahwa dia tidak punya niat meminta
bantuan semacam itu.
"—Sejujurnya, perasaan seperti ini
baru pertama kali kurasakan seumur hidupku, jadi aku sendiri bingung harus
bersikap bagaimana..."
Gadis itu bergumam dengan pipi merona
merah; dia benar-benar tampak seperti seorang gadis yang sedang dilanda cinta
pertama.
Jika Takayuki melihat ekspresi Shimizu-san
saat ini, dia pasti akan langsung jatuh hati tanpa keraguan.
"Aku mengerti. Kalau begitu, aku tidak
akan ikut campur terlalu jauh dan akan bersikap seperti biasa. Tapi sebagai
gantinya, kalau ada apa-apa, kamu boleh mengandalkanku kapan saja, lho."
Oleh karena itu, aku memutuskan untuk
mendukung perjuangan Shimizu-san yang berusaha menghadapi perasaan cinta
pertamanya dengan sungguh-sungguh.
Terlebih lagi, pria yang menjadi targetnya
adalah sahabat karibku sendiri, jadi tentu saja aku harus mendukungnya.
—Cupid Takuya, bersiap beraksi!!
Mendengar kata-kataku, Shimizu-san tersenyum
lega, lalu mengangguk kecil dengan wajah yang merona.
—Krek-byargh!!
Suara nyaring benda terjatuh—seperti sendok
yang membentur lantai—terdengar dari meja di dekat sana.
Karena terkejut oleh suara itu, aku menoleh ke
sumber suara, dan mendapati sosok Saegusa-san berada di meja yang letaknya agak
tidak jauh dari kami.
Dia tampak berusaha bersembunyi dengan panik,
namun sayangnya usahanya gagal total karena keberadaannya sudah terlihat jelas.
"Eh? Shi-chan?"
Sambil merasa terkejut, aku memanggilnya, dan Saegusa-san
yang ketahuan langsung tertawa canggung untuk menyembunyikan kepanikannya.
Sementara itu, Shimizu-san yang berada di
hadapanku juga ikut berseru kaget, "Eh, Shion-chan!?" dengan nada
yang agak panik.
Dan Saegusa-san, yang akhirnya tertangkap
basah oleh kami berdua, meskipun masih memaksakan diri untuk tertawa, wajahnya
tampak sangat pucat pasi—.
***
Wajah Saegusa-san yang memucat, dan
Shimizu-san yang tampak begitu panik—.
Dan aku, yang entah kenapa duduk berhadapan
dengan kedua gadis itu—.
Saegusa-san, yang akhirnya tertangkap basah
oleh kami berdua, terpaksa ikut duduk semeja, dan sekarang aku sedang duduk
berhadapan dengan dua gadis cantik jelita luar biasa yang memasang ekspresi
sulit diartikan.
Padahal tadinya aku sedang mendengarkan
curhatan tentang masalah percintaan, namun entah kenapa situasinya kini berubah
drastis hingga menyerupai sebuah pemandangan penuh ketegangan setelah ketahuan
berselingkuh.
Jika situasi ini benar-benar sebuah pertemuan
tiga pihak akibat skandal perselingkuhan, maka aku yang bisa dikelilingi oleh
dua gadis cantik seperti ini pasti terlihat seperti Raja Iblis atau semacamnya
di mata orang lain, membuatku hanya bisa tertawa kering, "Ha-ha-ha."
"E-ehm... kalian berdua sedang
apa..."
Di tengah keheningan yang menyelimuti, Saegusa-san
membuka suara dengan nada menyelidik, namun terdengar agak lemas.
Dia pasti penasaran kenapa aku dan Shimizu-san
bisa berdua saja berada di sini.
Namun, mustahil bagiku untuk mengatakan, ‘Kami
baru saja membahas konsultasi cinta Shimizu-san, yang membuatku kesulitan
merangkai kata.
Melihat respons ragu-ragu dariku itu, Saegusa-san
sepertinya menyimpulkan sesuatu yang salah, membuat wajahnya semakin pucat pasi
hingga memasang ekspresi keputusasaan yang mendalam.
"B-bukan begitu! Aku tadi cuma minta
tolong ditemani konsultasi sebentar sama Ichijo-kun kok!"
Menyadari keanehan pada diri Saegusa-san,
Shimizu-san buru-buru meluruskan kesalahpahaman itu dengan panik.
"—Konsultasi?"
"Iya, tentang... masalah
percintaanku..."
Saegusa-san bertanya balik dengan suara yang
hampir menangis, sementara Shimizu-san menjawab dengan rona malu di wajahnya.
Kupikir situasi akan mereda berkat kejujuran
Shimizu-san tersebut, namun jawaban itu justru kembali membuat wajah Saegusa-san
berubah pucat pasi.
"B-begitu ya... tapi aku
juga..."
Meskipun wajahnya pucat, Saegusa-san
mengepalkan kedua tangannya, memasang ekspresi penuh tekad bulat.
"A-bukan begitu! Sebenarnya, aku ini
menyukai Yamamoto-kun…"
Menyadari bahwa pembicaraan mereka semakin
melenceng ke arah yang salah, Shimizu-san buru-buru memberikan penjelasan
tambahan bahwa orang yang dimaksud adalah Takayuki.
Penjelasan itu sangat membantuku, karena aku
sempat khawatir Saegusa-san salah paham mengira ada hubungan khusus di antara
aku dan Shimizu-san.
Hasilnya, penjelasan Shimizu-san itu sukses
membuat Saegusa-san menyadari kesalahpahaman konyolnya sendiri. Sambil memasang
ekspresi tertegun, Saegusa-san menatap bergantian ke arah kami berdua, dan
perlahan-lahan rona merah mulai merayap menutupi seluruh wajahnya.
"A-awawa,
aku! S-salah paham rupanya!!"
"M-maaf
ya Shion-chan! Penjelasanku kurang lengkap! Aku tahu kok! Aku sudah tahu
semuanya kok!"
Saegusa-san
panik bukan kepalang, disusul oleh Shimizu-san yang ikut panik sambil
melontarkan pembelaan yang tidak jelas arahnya.
Meskipun
aku tidak tahu apa maksud dari ‘sudah tahu semuanya’ itu, setidaknya
kesalahpahaman di antara mereka sudah beres, dan itu adalah hal yang bagus.
Sejak
saat itu, Saegusa-san bangkit kembali bagaikan ikan yang menemukan air, bahkan
mendeklarasikan dengan suara lantang, "Aku juga akan mendukung kisah cintamu,
Saku-chan!"
Mendengar
itu, Shimizu-san tersenyum manis dengan penuh rasa terima kasih, "Terima
kasih."
Pemandangan
dua gadis jelita yang saling melempar senyuman hangat itu begitu indah dan
berharga, seolah-olah insiden salah paham tadi tidak pernah terjadi.
"Ngomong-ngomong,
kenapa Shi-chan bisa ada di sini?"
Setelah
suasana kembali tenang, aku melontarkan pertanyaan yang tiba-tiba melintas di
benakku.
Kenapa
juga Saegusa-san bisa nongkrong di tempat ini.
Mendengar
itu, Saegusa-san mendadak memasang senyuman kaku dan membeku bagaikan patung
batu.
"I-i-itu anu..."
"Ya, itu apa?"
"E-ehm... b-kebetulan lewat?"
Oh, kebetulan rupanya. Kalau begitu ya mau
bagaimana lagi—
Mana mungkin bisa kebetulan begituー!
Protesku dalam hati dengan teriakan tsukkomi
yang sangat keras.
Setelah berpisah di depan restoran burger
tadi, Saegusa-san biasanya selalu berjalan pulang ke arah yang berlawanan
dariku, jadi secara fisik sama sekali tidak mungkin kami bisa
"kebetulan" berpapasan di kafe semacam ini.
"Ah! Betul! Kafe ini sekarang lagi
ngetren banget di kalangan cewek-cewek, makanya Shion-chan juga sering mampir
ke sini, kan?!"
Shimizu-san langsung bergerak sigap mencoba
menutupi kebohongan Saegusa-san yang terlalu dipaksakan itu.
"Eh? Begitukah?! Terkenal ya?!"
Namun, Saegusa-san yang berdarah polos tidak
menangkap sinyal itu dan malah terkejut beneran, membuat pembelaan Shimizu-san
amblas seketika tanpa sisa.
Melihat interaksi komikal antara kedua gadis
itu, aku tidak bisa menahan tawa.
Yah, meskipun aku tidak tahu pasti apa alasan
sebenarnya Saegusa-san berada di sini, demi menghargai kekonyolannya hari ini,
aku memutuskan untuk tidak menginterogasinya lebih jauh.
Melihatku tertawa, Saegusa-san ikut tersenyum
meskipun tidak tahu apa yang ditertawakan, sementara Shimizu-san tertawa kecil
karena keluguan Saegusa-san.
Begitulah, meskipun sempat diwarnai berbagai
insiden tidak terduga, hari ditutup dengan tawa bersama di antara kami bertiga
dalam suasana yang menyenangkan—.
Setibanya di rumah, aku langsung merebahkan
tubuhku melebar di atas tempat tidur kamarku.
Jadi, Shimizu-san menyukai Takayuki...
Memikirkan hal itu, aku merasa sangat antusias membayangkan kemungkinan
lahirnya sepasang kekasih baru dalam waktu dekat.
Dan di saat yang sama, hasrat kebapakan—ralat,
hasrat kelaki-lakian—dalam diriku mulai bergejolak, membuatku berpikir bahwa
aku juga ingin segera punya pacar.
Meskipun aku tidak mungkin bisa setampan dan
sebaik Takayuki, setidaknya aku harus mulai berusaha dari hal-hal kecil yang
sanggup kulakukan, dengan tekadku dalam hati sambil memantapkan niat.
—Ping.
Sebuah bunyi notifikasi Line berdering dari
ponselku.
Siapa yang mengirim pesan? Saat kubuka,
ternyata pesan itu dikirimkan secara langsung oleh Takayuki—sesuatu yang sangat
jarang terjadi.‘Kerja bagus hari ini! Ngomong-ngomong, besok kamu senggang?’
Karena besok aku tidak ada jadwal kerja paruh
waktu dan sama sekali tidak punya rencana, aku membalasnya: ‘Sama-sama! Besok
aku senggang kok, ada apa?’
Tak lama kemudian, pesannya masuk lagi: ‘Kalau
gitu, besok siang bisa ketemuan sebentar?’
Yah, kebetulan tidak ada acara, dan lagipula
ini adalah permintaan dari sahabat karibku.
Aku langsung membalas: ‘Boleh!’, lalu dibalas
kembali: ‘Kalau gitu karena besok pagi aku ada latihan klub, ketemuan di depan
stasiun jam dua siang ya!’
Begitulah, akhirnya caraku berjanji untuk
bertemu dengan Takayuki—sosok yang sedang menjadi perbincangan hangat di
mana-mana.
***
Keesokan harinya.
Aku menunggu kedatangan Takayuki di depan
stasiun sesuai waktu yang dijanjikan.
"Yo! Takuya! Sori ya sudah merepotkanmu
dan memanggilmu ke sini!"
"Nggak apa-apa, aku lagi senggang
kok! Mau cari tempat buat ngobrol?"
Takayuki yang baru selesai latihan klub
masih tampak sedikit berkeringat, dan bahkan di mata sesama cowok pun
penampilannya terlihat cukup seksi.
—Kira-kira kalau aku seorang cewek, aku pasti
sudah naksir!
Pikirku, membuatku sedikit bisa memahami
perasaan Shimizu-san saat ini.
Kami akhirnya memutuskan untuk mengobrol di
sebuah restoran keluarga (family restaurant) terdekat.
Begitu duduk sambil masing-masing memegang
segelas jus dari mesin drink bar, aku langsung membuka topik pembicaraan,
"Jadi, apa hal penting yang mau dibicarakan?"
Takayuki tampak ragu-ragu dan kesulitan
merangkai kata karena merasa malu sebelum akhirnya membuka mulut.
"Begini, rasanya aku sudah nggak sanggup
lagi..."
Kalimat bernada pesimis yang keluar dari mulut
Takayuki itu terasa sangat langka.
Bukan hanya langka, bahkan aku meragukan
apakah Takayuki pernah mengeluh melemah seperti ini sebelumnya sepanjang
sejarah pertemanan kami.
"A-ada apa?! Terjadi sesuatu?!"
"Yah, begitulah..."
Menanggapi rasa khawatirku, Takayuki masih
terus berbicara dengan nada ragu-ragu.
Lalu, seolah membulatkan tekad, Takayuki
akhirnya berterus terang:
"—Sepertinya aku telah jatuh cinta."
Sambil menggaruk kepalanya karena malu,
Takayuki melontarkan pengakuan mengejutkan tersebut.
—Eeeeeeeeeeeeeh?!
Tanpa ada unsur berlebihan sedikit pun, aku
mengeluarkan seruan kaget yang cukup keras.
Takayuki—pria yang tidak pernah mau berpacaran
dengan siapa pun sejak masa SMP—tengah jatuh cinta?! Eh, kepada siapa?!
Aku dibuat bingung oleh topik pembicaraan
asmara yang mendadak dilempar oleh sahabat karibku ini.
"Entahlah, rasanya cuma dengan melihat
wajahnya saja sudah membuatku gila, bahkan saat pulang ke rumah pun aku terus
memikirkan tentang dirinya, haha."
Wajah Takayuki memerah saat menceritakan hal
itu; ekspresinya benar-benar mencerminkan seorang anak laki-laki yang sedang
dimabuk cinta, terlihat sedikit menggemaskan.
"Lalu, siapa orangnya...?"
Oleh karena itu, aku langsung bertanya secara
blak-blakan.
Kemarin malam, aku baru saja memutuskan untuk
mendukung kisah cinta Shimizu-san, namun situasi ini mendadak menjadi krisis
besar.
Jika Takayuki ternyata sudah memiliki
seseorang yang disukainya, maka Shimizu-san akan memulai perjuangannya dari
garis start yang sangat merugikan.
Oleh karena itu, memikirkan perasaan
Shimizu-san, aku menunggu kalimat berikutnya dari Takayuki dengan jantung
berdegup kencang.
"U-um...
orangnya adalah... Shimizu-san..."
"Ha?"
Meskipun
tidak enak pada Takayuki yang menjawab dengan malu-malu, aku tanpa sadar
mengeluarkan suara bodoh.
Dan
sedetik kemudian, aku langsung memahami keseluruhan situasi tersebut.
—Kalian
berdua ini, sama-sama saling menyukai rupanya!
Rasa
gembira dan geli bercampur menjadi satu, membuatku nyaris menyunggingkan
senyuman lebar.
Melihatku
tersenyum, Takayuki memprotes dengan wajah merona merah, "J-jangan
ketawain aku ya!", menegaskan kembali bahwa dia benar-benar seorang anak
laki-laki yang tengah di mabuk cinta.
Mengetahui
semua rahasia di balik layar, aku mengangguk paham ke arah Takayuki.
"Kurasa kalau Shimizu-san, kalian pasti
bisa jadian kok."
Karena aku tahu persis bagaimana perasaan
Shimizu-san, aku menjawabnya dengan santai penuh keyakinan.
"N-ngomongnya gampang banget ya?! Yang kita
bicarain ini Shimizu-san lho! Kamu tahu kan? Waktu SMP dia dijuluki ‘Sang Putri
Kesepian’, dan dikabarkan sama sekali tidak pernah membiarkan cowok mana pun
mendekatinya!"
"Tapi, bukankah kita selalu berempat ke
mana-mana?"
"Y-ya memang sih, tapi tetap saja!"
Takayuki terus beralasan ini-itu, namun dari
sudut pandangku yang memegang seluruh informasi, semua kekhawatirannya itu
hanyalah kecemasan yang tidak berguna.
Meskipun begitu, rasanya tidak etis jika aku
membocorkan rahasia ‘Shimizu-san juga menyukaimu’ begitu saja dari mulutku
sendiri.
Lagipula, tanpa perlu aku ikut campur tangan
terlalu dalam, hanya tinggal menunggu waktu saja sampai hubungan mereka berdua
mencair dengan sendirinya.
"Y-yah, pokoknya ada satu hal yang ingin
kuminta darimu."
"Hm? Meminta bantuan?"
"Iya, hari Sabtu minggu depan ada
turnamen klub basket, dan meskipun aku masih kelas satu, sepertinya aku bakal
diturunkan bertanding di lapangan. Jadi... maukah kalian semua datang untuk
menonton dan mendukungku?"
Rupanya, Takayuki berhasil membuktikan
kemampuannya di klub hingga dipercaya turun bertanding mewakili tim utama
meskipun masih berstatus sebagai siswa kelas satu.
Jika situasinya begitu, terlepas dari urusan
percintaan mereka, aku tentu saja tidak punya alasan untuk tidak mendukung
kerja keras sahabatku.
"Beres, aku kosongkan jadwal kerjaku hari
itu. Kalau begitu, mari kita tanyakan langsung di grup Line sekarang!"
"Eh? Tunggu, maksudmu sekarang?!
S-seriusan?!"
"Yoi, serius."
Mengabaikan Takayuki yang panik, aku
langsung mengetik pesan di grup Line kami.
‘Hari Sabtu minggu depan, Takayuki katanya
mau tanding di turnamen klub basket. Mau pada ikut nonton buat dukung dia
nggak?’
Selesai, pesan terkirim.
Takayuki menatap layar ponselku dengan
ekspresi tegang penuh antisipasi.
Dia menunggu balasan masuk, dan tidak butuh
waktu lama—
—Ping.
‘Aku ikut!’
—Datang.
Namun, balasan itu tidak dikirim oleh
Shimizu-san, melainkan oleh Saegusa-san.
Saegusa-san memang sudah akrab dengan
Takayuki, dan dia juga bertindak sebagai sesama "rekan perjuangan"
yang mendukung kisah cinta Shimizu-san, jadi merespon dengan cepat adalah hal
yang wajar.
Namun, memikirkan hal itu lebih jauh,
apakah aman bagi seorang selebriti terkenal sekelas Saegusa-san untuk datang
langsung ke venue turnamen sekolah? Kecemasan kecil mulai merayap di benakku.
Namun, gadis bersangkutan tampaknya sama
sekali tidak mempermasalahkan hal itu dan sudah menunjukkan antusiasme penuh
untuk datang.
Bahkan di bagian akhir pesannya, dia
menyertakan stiker animasi Shiorin berpose peace.
"Pft! Stiker apa pula ini?!"
Takayuki—yang baru pertama kali melihat
stiker Shiorin—tertawa lepas menyadari bahwa stiker itu dikirim langsung oleh
orangnya sendiri.
Berkat kemunculan stiker konyol Saegusa-san
itu, ketegangan di wajah Takayuki sedikit mereda, membuatku ikut membalas
menggunakan stiker Shiorin berpose thumbs-up tanda setuju.
Melihat stikernya, kubalas, Takayuki
kembali tertawa terbahak-bahak, "Kampret, kamu juga punya stiker itu
rupanya!"
‘Aku juga ikut! Semangat ya Yamamoto-kun!’
Tak lama kemudian, balasan dari Shimizu-san
menyusul masuk ke dalam grup.
Melihat balasan itu, Takayuki mengepalkan
tangan membentuk gestur guts pose dengan penuh kemenangan, "Yes!",
membuatku ikut merasa bahagia melihat kebahagiaannya.
"Untung banget ya, Takayuki. Ah,
ngomong-ngomong aku juga pengen cepet-cepet punya pacar, tapi sayangnya aku
nggak populer..."
Merasa sedikit iri melihat Takayuki yang
tengah dilanda asmara, aku tanpa sadar melontarkan kalimat merendahkan diri
sendiri.
Yah, tidak seperti Takayuki yang memang
fkemen, cowok biasa sepertiku hanya bisa berusaha merintis semuanya secara
perlahan dari bawah.
"Ngomong apa kamu, Takuya... serius
nih?"
Namun, tanggapan yang diberikan Takayuki di
luar dugaan.
Dia menatapku dengan tatapan seolah-olah
sedang melihat makhluk asing yang aneh.
"M-maksudmu 'serius' apa?"
"......Ah, bukan apa-apa. Pokoknya tenang
saja, aku berani menjamin. Kamu bakal aman, bro. Bahkan dari sudut pandang yang
nggak masuk akal sekalipun, kamu itu aman."
Maksudnya, sudut pandang yang nggak masuk akal
itu apa? Batin, sambil tertawa, aku tetap mengucapkan terima kasih atas
kata-kata penyemangat dari sahabatku itu.
Takayuki hanya tersenyum maklum melihat
reaksimu.
—Ping.
Notifikasi Line berdering, dan aku
memeriksa pesan yang masuk.‘Peluang emas buat Saku-chan nih! Ayo kita bantu mereka berdua!’
Pesan itu dikirim oleh Saegusa-san.
Aku membalasnya: ‘Betul! Nanti kita cari celah
biar mereka bisa berdua-duaan!’, dibalas kembali oleh Saegusa-san dengan stiker
Shiorin bermata bentuk hati.Duh, stiker ini... imut banget, sumpah.
Satu minggu berlalu sejak hari itu.
Hari yang dinanti-nantikan pun tiba: hari
pertandingan penyisihan Inter-High untuk Takayuki.
Selama seminggu terakhir, aku mendengarkan
curhatan masalah cinta dari Takayuki maupun Shimizu-san secara bergantian,
namun keduanya tidak menunjukkan gelagat aneh di sekolah dan tetap berinteraksi
seperti biasa.
Melihat ketenangan mereka berdua membuatku
bisa bernapas lega, dan aku bisa menjalani hari-hariku dengan normal...
seharusnya begitu.
Kata ‘seharusnya’ itu kugunakan karena ada
satu variabel tak terkendali yang membuat masalahku sendiri terasa jauh lebih
kecil dibandingkan dirinya.
Variabel
itu bernama Saegusa-san—.
Dia
adalah gadis terkenal yang dulunya bernaung di bawah grup idol nasional paling
populer.
Sekaligus
seorang gadis yang sangat payah dalam hal menyembunyikan rahasia.
Lebih
tepatnya, dia memiliki kepribadian jujur yang tidak bisa berbohong, namun
setiap kali Shimizu-san dan Takayuki mengobrol di dekatnya, Saegusa-san selalu
panik salah tingkah sendiri, membuat situasi malah menjadi semakin kentara.
Namun,
berkat tingkah laku mencurigakannya (kyodofushin) yang sering mendadak kambuh
itu, ketegangan di antara Takayuki dan Shimizu-san justru mencair karena mereka
terpaksa tersenyum canggung untuk meredakannya; jadi dalam arti tertentu, hal
itu memberikan hasil akhir yang positif—yah, bisa dibilang begitu—.
***
Begitulah,
dengan berbagai macam dinamika tersebut, aku sekarang sedang dalam perjalanan
menaiki kereta menuju sekolah SMA tempat digelarnya turnamen, dikawal oleh dua
orang gadis cantik jelita: Saegusa-san dan Shimizu-san.
Ngomong-ngomong
soal pakaian Saegusa-san hari ini, dia mengenakan gaun terusan (one-piece) yang
dibelinya di butik Ken-chan beberapa waktu lalu.
Saat
menungguku di stasiun tadi, Saegusa-san berputar pelan dengan riang di
hadapanku, lalu menumpuk kedua tangannya di belakang punggung sambil sedikit
membungkuk ke depan, bertanya dengan kepala miring, "Gimana? Cocok
nggak?"—pemandangan itu benar-benar hampir membuat jantungku copot.
Sungguh,
dampaknya terlalu mematikan.
Rasanya
bagaikan salah satu adegan dari film romantis di mana sang tokoh utama wanita
tiba-tiba muncul di dunia nyata, membuatku merasa seolah-olah tersesat ke
dimensi paralel.
Di
dalam hati aku berteriak penuh kemenangan, ‘Shiorin is the best!’, namun di
luar aku berusaha memasang wajah setenang mungkin sambil menjawab, "Iya,
cocok banget kok! Hari ini juga kamu kelihatan imut!", yang langsung
dibalas Saegusa-san dengan menyentuh pipinya menggunakan kedua tangan sambil
meliuk-liuk kegirangan.
Terlihat
jelas betapa dia sangat menyukai gaun terusan tersebut, dan aku mengamatinya
dengan senyuman hangat penuh kelegaan.
Sementara
itu, Shimizu-san yang datang sedikit terlambat mengenakan blus putih dipadukan
dengan rok panjang bermotif bunga berwarna krem—sebuah penampilan feminin yang
sangat manis dan lembut.
Sebuah
tas mini berwarna pink tersampir di bahunya, sementara tangannya menjinjing
sebuah keranjang berukuran agak besar.
"
A-apa penampilanku aneh?"
Mungkin
merasa risih dengan penampilannya sendiri, Shimizu-san meminta pendapat dengan
ekspresi malu-malu.
Oleh karena itu, aku menjawabnya dengan jujur
sesuai isi hatiku.
"Nggak kok, imut banget."
"Iya! Saku-chan imut banget!"
Mendengar pujian jujur dari aku dan Saegusa-san,
Shimizu-san tersenyum lega dengan rona merah di wajahnya.
Senyuman malu-malu ala gadis yang sedang
kasmaran itu terlihat begitu manis. Aku sempat terpaku sejenak memandangnya
sebelum tiba-tiba merasakan tatapan tajam bermata sipit (jito-me) diarahkan
kepadaku dari arah samping.
Setibanya di gimnasium sekolah tempat
turnamen diselenggarakan, pertandingan ternyata sudah dimulai.
Karena turnamen ini adalah kesempatan
terakhir bagi para siswa kelas tiga, setiap sekolah mengerahkan dukungan dengan
tingkat antusiasme yang luar biasa tinggi.
Melihat jadwal pertandingan yang tertulis
di papan pengumuman, pertandingan yang sedang berlangsung saat ini adalah laga
terakhir sebelum giliran sekolah kami bertanding di babak pertama.
Jika mereka berhasil menang di sini,
pertandingan babak kedua sudah menanti di sesi siang hari nanti.
"Wah! Kalian benar-benar
datang!"
Takayuki yang mengenakan jersey bola
basket berlari menghampiri kami dengan penuh semangat.
"Tentu saja! Pastikan kalian menang,
ya!"
"Semangat ya Yamamoto-kun!"
"Yo! Terima kasih banyak, kawan!"
Mendengar sorakan dukungan dari aku dan Saegusa-san,
Takayuki mengangkat ibu jarinya sambil tersenyum lebar.
Mungkin karena mode seriusnya sedang aktif,
Takayuki hari ini terlihat jauh lebih keren dari biasanya.
Menghadapi Takayuki yang memancarkan aura luar
biasa itu, Shimizu-san tampak tersipu malu, bersembunyi di balik punggung kami
sebelum akhirnya mengumpulkan keberanian untuk menyapanya:
"S-semangat ya, Yamamoto-kun..."
"Y-ya... terima kasih, aku bakal
berusaha..."
Takayuki dan Shimizu-san sama-sama merona
merah padam hingga ke pangkal telinga.
"B-baiklah,
sebentar lagi ada sesi warming-up pasca half-time, jadi aku balik ke dalam dulu
ya!"
Sambil
melontarkan alasan untuk menutupi rasa salah tingkahnya, Takayuki berbalik lari
kembali ke dalam area gimnasium.Baik dalam pertandingan maupun percintaan,
berjuanglah yang keras, Takayuki! Aku mengirimkan sorakan penuh dukungan di
dalam hati melihat punggungnya yang menjauh.
"U-um! M-maaf, apakah kamu...
Shiorin?!"
"Bukaan-nn!!"
"Eh, tapi..."
"Bukaan-nn!!"
"Anu..."
"Bukaan-nn!!"
Dan benar saja, begitu aku mengalihkan
pandangan sejenak, Saegusa-san kembali menjadi sasaran pertanyaan dari siswa
sekolah lain. Namun, hari ini pun dia menepisnya menggunakan jurus senyuman
ramah dan penolakan mutlak "Bukan" tanpa membiarkan siapa pun
mendekat.
Ngomong-ngomong, hari ini Saegusa-san kembali
mengenakan kacamata hitam berbingkai bulat besar andalannya; justru karena dia
mengenakannya di dalam area gimnasium tertutup, penampilannya menjadi semakin
mencolok, menarik perhatian setiap pasang mata di sekitarnya berkat visualnya
yang luar biasa.
Meskipun begitu, melihat bagaimana Saegusa-san
menepis setiap orang yang mencoba mendekatinya menggunakan tenaga dalam dan
ketegasan mental, aku dan Shimizu-san hanya bisa saling bertukar pandang lalu
tertawa bersama.
Melihat situasi terkendali seperti ini, kurasa
kecemasanku terhadap gerak-gerik Saegusa-san di luar sekolah tidak perlu
dikhawatirkan secara berlebihan.
***
Pertandingan sebelumnya telah berakhir, dan
kini pertandingan babak pertama sekolah kami akan segera dimulai.
Karena sekolah kami adalah SMA negeri biasa,
klub bola basket kami pun tidak terlalu kuat.
Tidak ada siswa yang dikumpulkan melalui jalur
rekomendasi, melainkan para anggota yang berkumpul secara kebetulan setelah
mengikuti ujian masuk SMA seperti biasa.
Namun, justru karena sekolah kami adalah
sekolah seperti itu, keberadaan Takayuki terasa begitu istimewa dan dia
benar-benar menjadi bintang baru yang sangat dinanti-nantikan.
Pasalnya, Takayuki bukan hanya memiliki tinggi
badan yang melampaui 180 sentimeter, tetapi juga sangat mahir dalam hal teknik.
Sewaktu SMP, meskipun sekolahnya hanya
mengandalkan satu pemain saja, dia memiliki rekam jejak berhasil menembus
turnamen tingkat distrik, dan intinya, dia sangat, sangat hebat dalam bermain
bola basket.
Takayuki tentu saja sempat didekati oleh
beberapa sekolah unggulan yang kuat dalam bidang bola basket. Rupanya, di level
yang lebih tinggi sana akan ada banyak pemain yang mengalahkannya baik dari
segi tinggi badan maupun teknik.
Oleh karena itu, Takayuki tidak berniat
menyerah pada bola basket, tetapi demi masa depannya dia memilih untuk
memprioritaskan keseimbangan antara pendidikan dan olahraga, dan saat ini dia
bisa bersekolah di SMA yang sama denganku.
Yah, justru karena Takayuki adalah orang
seperti itu, wajar saja jika SMA negeri biasa seperti sekolah kami menaruh
harapan besar padanya sebagai seorang pendatang baru berbadan besar yang
menjanjikan.
Dan akhirnya, pertandingan babak pertama klub
bola basket yang diperkuat oleh Takayuki pun resmi dimulai.
Didorong oleh semangat dukungan yang membara,
tanpa terasa pertandingan berakhir dalam sekejap.
Hasil babak pertama adalah kemenangan telak
bagi sekolah kami dengan skor 95 berbanding 52.
Takayuki, yang berhasil mencetak poin
terbanyak meskipun masih kelas satu, tampil gemilang, begitu pula para senior
lainnya yang bermain sangat kompak dan sama sekali tidak memberikan celah bagi
lawan.
Sudah lama aku tidak melihat Takayuki bermain
bola basket, dan performanya kali ini terasa jauh lebih luar biasa daripada
sebelumnya.
"Keren banget ya."
"Iya, keren parah!"
Di sebelahku, Shimizu-san mengangguk antusias
menanggapi ucapan Saegusa-san.
Tentu saja, melihat pria yang disukai
menunjukkan penampilan sekeren itu, siapa pun pasti akan merasakan hal yang
sama. Sambil membatin ‘iya benar, benar banget’, aku mengangguk setuju di dalam
hati kepada Shimizu-san yang sedang mabuk cinta itu.
Karena masih ada jeda waktu yang cukup lama
sebelum pertandingan berikutnya, Takayuki menyempatkan diri untuk bergabung
bersama kami meskipun agak lebih awal, dan kami memutuskan untuk makan siang
bersama-sama.
Sesuai janji di Line sebelumnya bahwa
Shimizu-san akan membuatkan dan membawakan sandwich lagi hari ini, kami
memutuskan untuk menikmatinya di area yang sedikit menjauh dari gimnasium.
"Pertama-tama, selamat ya sudah lolos
babak pertama!"
"Yo, terima kasih banyak! Di pertandingan
berikutnya aku bakal berjuang lebih keras lagi!"
Mengucapkan selamat kepada Takayuki yang
meraih kemenangan gemilang, Takayuki menyunggingkan senyuman lebar sambil
melakukan gestur guts-pose kecil.
"Tadi itu keren banget,
Yamamoto-kun."
"S-Saegusa-san
sampai memujiku?! I-iya, terima kasih banyak. Rasanya agak
terharu..."
Mendapat pujian langsung dari Saegusa-san,
Takayuki merona merah dan menunjukkan ekspresi senang yang tulus.
Bagi Takayuki, Saegusa-san tetaplah seorang
Shiorin sang idol super.
Dipuji oleh idol yang sangat diidolakannya itu
tentu saja membuatnya merasa sangat gembira.
"Yamamoto-kun... um, itu... tadi itu
keren, lho...?"
"A, b-begitukah... Haha, dipuji oleh
Shimizu-san rasanya adalah hal yang paling membahagiakan..."
Terakhir, Shimizu-san memujinya dengan wajah
merona malu, membuat Takayuki membalasnya dengan rona merah yang sama-sama
padam di wajahnya karena salah tingkah.
Lalu, mereka berdua saling bertatapan sambil
tersenyum malu-malu.
Melihat dua orang yang jelas-jelas saling
mencintai di hadapan kami ini, bahkan orang yang melihatnya pun ikut merasa
salah tingkah.
Saat aku melirik ke samping, kulihat Saegusa-san
menempelkan kedua tangannya di pipi sambil menatap mereka berdua dengan
ekspresi yang tampak sedikit iri.
Melihat Saegusa-san seperti itu, aku sempat
berpikir, ‘Oh begitu, ya, tentu saja Saegusa-san juga pengen punya pacar atau
semacamnya ya’, namun entah kenapa dadaku tiba-tiba merasakan sensasi tusukan
jarum yang samar di dalam sana—.
***
Kami melahap habis sandwich buatan Shimizu-san
dengan nikmat, lalu menghabiskan waktu sejenak dengan bersantai sambil
mengobrol ringan.
Lalu, mendengar ucapan Takayuki bahwa sudah
waktunya bersiap untuk pertandingan berikutnya, kami kembali bergerak menuju ke
arah gimnasium.
"Berkat sandwich buatan Shimizu-san, aku
jadi punya tenaga buat berjuang di pertandingan selanjutnya! Terima kasih
banyak ya!"
"K-kalau begitu baguslah! Semangat
ya!"
Sambil berjalan, obrolan antara Takayuki dan
Shimizu-san itu memancarkan atmosfer yang sangat menyenangkan.
Oleh karena itu, aku dan Saegusa-san saling
bertukar pandang, memberikan isyarat, lalu berjalan pelan di belakang mereka
berdua agar tidak mengganggu.
Namun, mengamati punggung mereka berdua yang
tampak begitu akrab dari belakang, rasanya membuatku berpikir ‘andai saja’.
Saat aku menoleh ke samping, Saegusa-san
sepertinya merasakan hal yang sama; dia menatap mereka berdua dengan ekspresi
yang lagi-lagi menyiratkan rasa iri.
Dan sekali lagi, melihat Saegusa-san memasang
ekspresi seperti itu kembali memunculkan rasa sakit yang misterius di dalam
dadaku—.
"Eh? Shimizu-san?"
Di dekat pintu masuk gimnasium, Shimizu-san
tiba-tiba diajak bicara oleh seorang pria asing.
Pria itu memiliki tinggi badan yang kurang
lebih setara dengan Takayuki, berkulit putih bersih dengan rambut yang dicoklatkan;
siapa pun yang melihatnya pasti akan mengakui bahwa dia adalah seorang pria
tampan.
Meskipun tipenya berbeda dari Takayuki, cowok
tampan yang penampilannya mirip anggota boyband itu rupanya adalah kenalan lama
Shimizu-san.
"Ah, kenalkan, dia Watanabe-kun, teman
satu SMP-ku dulu...."
"Halo, aku Watanabe, teman satu SMP
Shimizu-san. Ah, ngomong-ngomong, pertandingan berikutnya tim sekolah
Shimizu-san melawan timku ya, mohon pertolongannya."
Melihat jersey yang dikenakan Takayuki,
Watanabe baru menyadari bahwa mereka akan saling berhadapan sebagai lawan di
pertandingan selanjutnya.
Jersey yang dikenakan oleh Watanabe adalah
seragam milik sebuah SMA swasta kuat yang selalu menjadi langganan empat besar
di wilayah ini.
Oleh karena itu, jika melihat tinggi badannya
yang setara dengan Takayuki, tidak heran jika dia berhasil masuk ke SMA swasta
melalui jalur rekomendasi.
Namun, yang membuatku merasa tidak suka adalah
cara pandang Watanabe yang seolah meremehkan saat menatap ke arah Takayuki
sejak tadi.
Memang benar sekolah kami adalah SMA negeri
biasa, tapi Takayuki adalah kasus khusus yang hampir seorang diri membawa
timnya menembus turnamen distrik semasa SMP.
Selain itu, para senior di tim kami juga sudah
berjuang keras dan mendedikasikan diri mereka untuk klub ini; berdasarkan
performa mereka di pertandingan sebelumnya, tim kami sama sekali tidak lemah sehingga
bisa dipandang sebelah mata seperti itu.
Jika dia juga bermain basket di wilayah ini,
dia seharusnya tahu siapa Takayuki.
Itulah sebabnya aku bisa menebak kenapa dia
menunjukkan sikap sok seperti itu.
"Lalu? Ada perlu apa Watanabe-kun datang
ke sini menemui kami?"
"Hm? Nggak perlu apa-apa sih, cuma
kebetulan ketemu lagi melihat Shimizu-san, jadi aku pengen ngobrol sebentar
saja."
Menanggapi pertanyaan Takayuki yang
dilontarkan dengan wajah datar, Watanabe menjawab sambil tersenyum menyeringai
tipis bahwa dia hanya ingin mengobrol dengan Shimizu-san.
"Makanya, Shimizu-san, nanti kalau kami
menang di pertandingan selanjutnya, temani aku ngobrol sebentar ya."
"—Kya!! A-aku tidak mau!!"
Meskipun Takayuki berdiri tepat di sampingnya,
dengan penuh percaya diri Watanabe melontarkan ajakan kepada Shimizu-san.
Shimizu-san yang diajak secara tiba-tiba
tampak panik hendak membalas, namun Takayuki menepuk bahunya dengan lembut
seolah berkata ‘tidak apa-apa’, membuat Shimizu-san mengatupkan bibirnya
rapat-rapat sambil menuruti isyarat Takayuki dengan perasaan canggung.
Namun, sikap Watanabe yang begitu egois itu
berhasil membuatku merasa sangat kesal.
Yang paling membuatku geram adalah kalimatnya:
‘kalau kami menang’, alih-alih berkata ‘setelah pertandingan selesai’.
Dengan kata-kata itu, Watanabe secara
terang-terangan memprovokasi kami, meremehkan sekolah kami dengan asumsi bahwa mereka
tidak mungkin kalah melawan sekolah seperti kami.
Merasa kepalaku mendidih karena sekolah kami
dan sahabat terurku diremehkan begitu saja, aku hendak melangkah maju untuk
memotong pembicaraan, namun Takayuki menahan tanganku sambil tersenyum kecil.
Lalu, setelah menghela napas pendek, dia
membalas ucapan Watanabe dengan satu kalimat telak:
"Begitu ya, kalau begitu tim kami juga
tidak berniat kalah, jadi ajakan ngobrolnya batal ya."
"—Oh, begitu. Baiklah, aku menantikan
pertandingannya. Sampai jumpa di lapangan nanti."
Mendengar balasan Takayuki, alis Watanabe
sempat berkedut sesaat, namun dia tetap mempertahankan senyuman menyeringai
penuh percaya diri, lalu berkata, "Sampai jumpa lagi nanti" kepada
Shimizu-san sebelum akhirnya berlalu pergi.
"Maaf ya, padahal suasananya tadi lagi
seru, tapi malah jadi rusak gara-gara aku."
"T-tidak apa-apa! Gara-gara Watanabe-kun
dari SMP yang sama jadi bikin Yamamoto-kun... u-um, aku sama sekali nggak punya
niat ngobrol kok dengan Watanabe-kun?!"
Melihat Takayuki yang meminta maaf,
Shimizu-san buru-buru menundukkan kepala sambil mengungkapkan isi hatinya
dengan panik.
Tentu saja, mustahil Shimizu-san mau berurusan
dengan pria menyebalkan seperti itu.
Namun, Takayuki mendaratkan tangannya di atas
kepala Shimizu-san, menepuknya pelan.
"Tenang saja, kami tidak akan pernah
kalah, jadi lihat saja nanti."
Sambil berkata demikian, Takayuki tersenyum
lembut dan penuh keyakinan.
Menghadapi sikap Takayuki yang begitu keren
itu, rasa kesalku seketika menguap entah ke mana, digantikan oleh gelombang
semangat yang membuncah untuk mendukung sahabat terbaikku ini sekuat tenaga.
Sementara itu, Shimizu-san yang kepalanya baru
saja ditepuk pelan oleh Takayuki tampak merona merah padam karena rasa malu dan
bahagia yang bercampur aduk, namun tekadnya untuk mendukung Takayuki pasti sama
besarnya dengan diriku.
Di sisi lain, Saegusa-san—yang sedari tadi
menyimak seluruh insiden tersebut dalam diam—menyunggingkan senyuman tipis.
Sekilas tampak biasa saja, namun ada secercah emosi yang menyerupai kemarahan
tersirat di balik ekspresi wajahnya.
Yah, terlepas dari sedikit ketegangan sebelum
pertandingan dimulai tadi, Takayuki menepuk kedua pipinya sendiri dengan kedua
tangan untuk memantapkan fokus, lalu berseru, "Baiklah, aku pergi
dulu!" dan bergabung kembali bersama rekan setimnya yang lain untuk
bersiap bertanding.
***
—Berjuanglah yang keras!! Takayuki!!
Kami bertiga mengirimkan sorakan penuh
dukungan kepada punggung Takayuki yang beranjak pergi.
Peluit tanda pertandingan dimulai pun ditiup.
Tip-off pertama berhasil dimenangkan dengan
mudah oleh pemain lawan yang memiliki tinggi badan yang melampaui Takayuki.
Serangan balik kilat langsung dilancarkan oleh
tim lawan, dan mereka sukses mencetak poin pertama dengan mudah.
Maklum saja, sebagai sekolah langganan empat
besar tingkat distrik, level permainan mereka benar-benar berada di kelas yang
berbeda dari lawan babak pertama kami tadi. Ngomong-ngomong, Watanabe sendiri
duduk di bangku cadangan dan tampaknya bukan bagian dari starting five.
"Jangan dipikirkan! Ayo kita balas satu
per satu!"
Melihat para senior mulai menunjukkan ekspresi
ciut nyali menghadapi perbedaan level tersebut, Takayuki tersenyum ramah dan
menyemangati mereka untuk mencetak poin balasan pertama.
Mendengar kata-kata Takayuki itu, para senior
mengangguk dan kembali menyalakan tekad mereka.
Jika mereka kalah di pertandingan ini, musim
panas mereka akan berakhir di sini.
Oleh karena itu, ini bukan waktunya untuk
merasa gentar hanya karena satu aksi permainan dari lawan.
Namun, jika diamati dari postur tubuh tim
lawan, rata-rata tinggi badan mereka jauh melampaui tim kami.
Selisihnya mungkin sekitar lima sentimeter;
meskipun terdengar kecil, dalam olahraga bola basket selisih lima sentimeter
memegang peran yang sangat krusial di lapangan.
Takayuki, yang merupakan pemain tertinggi di
tim kami, ditempel ketat secara man-to-man oleh pemain tertinggi dari tim
lawan, sehingga keunggulan tinggi badan Takayuki berhasil diredam dengan sangat
efektif.
Menghadapi tim lawan yang jauh lebih unggul
namun bermain tanpa ampun, ketegangan yang tidak menyenangkan mulai merayap di
kubu tim kami, termasuk para pemain cadangan.
Namun, hanya Takayuki seorang yang
berbeda—.
Pemain yang mengawal ketat Takayuki adalah
center andalan tim lawan.
Sebaliknya, meskipun memiliki postur
jangkung, posisi bermain Takayuki adalah small forward.
Alih-alih mengandalkan duel fisik di bawah
ring layaknya seorang center, Takayuki bertindak sebagai small forward yang
merobek pertahanan lawan melalui kecepatan dan teknik olah bola—yang artinya,
dia adalah pemain paling teknis di tim kami.
Menerima operan bola, Takayuki mengecoh
lawannya dengan gerakan tipuan ringan, lalu meluncur menerobos masuk ke jantung
pertahanan lawan dalam satu gerakan cepat.
Alhasil, pemain lawan yang biasanya
berjaga sebagai center sama sekali tidak mampu mengimbangi kecepatan gerakan
Takayuki, membuatnya kehilangan kawalan dengan mudah dan Takayuki melesakkan
layup mulus tanpa hambatan.
Meskipun ini adalah laga perdana bagi tim
sekolah unggulan, banyak penonton dari sekolah lain berkumpul di tribun, dan
aksi permainan Takayuki sukses memancing sorak-sorai kekaguman,
"Oooooh!" dari sekeliling penonton.
"Hei! Anak itu masih kelas satu, kan?!
Kenapa kita harus ketemu monster kayak dia di babak penyisihan awal
begini?!"
Kapten tim lawan tampak mulai panik dan
memperketat instruksi kewaspadaannya setelah melihat aksi tunggal Takayuki.
Namun, serangan yang dimotori oleh Takayuki
tidak bisa dihentikan begitu saja, dan meskipun berstatus sebagai tim unggulan,
jalannya pertandingan berubah menjadi duel kejar-mengejar skor yang sangat
sengit.
Ketegangan di lapangan membuat jumlah penonton
yang berkerumun di tribun semakin bertambah padat.
Tanpa terasa, di kuarter penentuan akhir,
Watanabe akhirnya dimasukkan ke lapangan dari bangku cadangan.
Watanabe yang baru saja masuk langsung
ditugaskan untuk melakukan man-to-man marking secara langsung terhadap
Takayuki.
"Nggak disangka, kamu bisa ngerepotin tim
kami sejauh ini ya."
"Sudah kubilang, kan? Kami tidak
berniat kalah."
Watanabe melempar kalimat sindiran dengan nada
kesal, namun Takayuki sama sekali tidak menunjukkan reaksi terganggu.
Melihat sikap tenang Takayuki yang masih
sempat bersikap santai itu, ekspresi wajah Watanabe semakin terlihat tidak
senang.
Dan serangan Takayuki sama sekali tidak
mengendur sedikit pun berkat stamina fisiknya yang seolah tidak ada habisnya.
Bahkan Watanabe—yang baru saja masuk dan masih
segar—pun gagal mengimbangi kecepatan dribble Takayuki.
Sejujurnya, setelah melontarkan sesumbar
sebesar itu tadi, performa Watanabe saat ini terlihat agak memalukan.
Namun hal itu bukan karena Watanabe bermain
buruk, melainkan karena Takayuki yang sedang berada dalam puncak konsentrasinya
bermain terlalu luar biasa.
Menyadari bahwa Watanabe seorang diri tidak
akan mampu membendung pergerakan Takayuki, tim lawan memutuskan mengirimkan
pemain kedua untuk melakukan double-team kepada Takayuki.
Dengan cara itu, bahkan Takayuki sekalipun
akan kesulitan menembus pertahanan, membuat pergerakannya berhasil dikunci.
Namun, bola basket adalah olahraga yang
dimainkan oleh lima orang melawan lima orang.
Jika Takayuki dikawal oleh dua orang
sekaligus, itu artinya ada satu pemain di tim kami yang berdiri dalam posisi
bebas tanpa pengawalan.
Oleh karena itu, Takayuki yang terkunci
langsung melayangkan operan akurat tanpa melihat (no-look pass).
Aksi trik cerdas Takayuki itu sukses
mengejutkan tim lawan hingga mereka tidak sempat bereaksi.
Pemain yang menerima operan itu adalah sang
center senior tim kami, yang berdiri bebas tanpa pengawalan akibat konsentrasi
lawan terpecah pada Takayuki.
Menerima bola dalam posisi tanpa pengawalan
sama sekali, sang senior melesakkan tembakan dengan mudah, dan untuk pertama
kalinya dalam pertandingan ini, sekolah kami berhasil merebut keunggulan skor.
Jika pola permainan ini masih seperti masa SMP
di mana Takayuki bermain seorang diri (one-man team), strategi double-team
lawan tadi mungkin akan sangat efektif.
Namun, tim ini berbeda; ada banyak pemain lain
selain Takayuki yang bisa diandalkan untuk mencetak poin.
Itulah sebabnya, ketika ruang geraknya
dikunci, Takayuki hanya perlu mempercayakan sisanya kepada rekan setimnya yang
berdiri bebas.
Prrrrt!
Tim lawan terpaksa meminta timeout karena
tidak mampu membendung tekanan.
Meskipun berbagai taktik penangkalan telah
dikerahkan oleh tim lawan untuk menghentikan Takayuki, Takayuki berhasil
menembus semuanya dengan gemilang dan terus menghasilkan pundi-pundi poin bagi
tim.
Semua itu tentu saja bukan semata-mata karena
kerja keras Takayuki seorang.
Seperti saat itu, ketika lawan mengeroyok
Takayuki, dia mengoper bola ke rekan setimnya untuk menyumbangkan poin bagi tim
secara keseluruhan.
Dan sebaliknya, saat pengawalan terhadap
Takayuki mulai longgar, bola kembali dialirkan kepadanya untuk mencetak angka;
bagi tim lawan yang tidak mampu mengalahkan Takayuki dalam duel satu lawan
satu, situasi itu membuat mereka berada dalam posisi terjepit tanpa jalan
keluar.
Aksi permainan Takayuki yang luar biasa
sepanjang pertandingan ini berhasil membuatku, Saegusa-san, dan Shimizu-san
terpaku dalam ketegangan mengikuti alur pertandingan yang silih berganti
memimpin.
Kamu benar-benar keren, Takayuki—.
Saat Takayuki sudah menyalakan mode seriusnya,
tidak ada seorang pun yang bisa menghentikannya.
Di bangku cadangan tim lawan, Watanabe tampak
menggigit bibir dengan ekspresi frustrasi yang amat sangat.
Meskipun fisiknya masih bugar karena baru
dimainkan, dia bahkan gagal meredam pergerakan Takayuki yang sudah bermain
penuh sejak awal, wajar saja jika dia merasa sangat terpukul.
Melihat papan skor: 77 berbanding 76.
Kedua tim mencatatkan skor tinggi dalam
duel jual beli serangan yang sangat ketat.
Dan sisa waktu pertandingan kini tinggal
menyisakan dua menit lebih sedikit—.
Menghadapi situasi di mana tim mana pun
berpeluang memenangkannya, atensi para penonton di sekitar semakin memuncak ke
level maksimal.
Pertandingan kembali dilanjutkan.
Dimulai dari penguasaan bola oleh tim lawan;
di saat-saat krusial yang menuntut mereka mencetak angka, tim lawan membawa
bola secara hati-hati hingga melewati garis tengah lapangan.
Melalui set play yang rapi, tim lawan berusaha
membuka ruang bebas bagi pemain mereka.
Alhasil, Watanabe berhasil lolos dari
pengawalan setelah memanfaatkan screen dari rekan setimnya.
Menerima operan dalam posisi bebas, Watanabe
langsung menerobos masuk dan bersiap melakukan layup dengan memanfaatkan
keunggulan postur tubuhnya.
Namun, pemain yang bereaksi paling cepat
terhadap pergerakan Watanabe itu adalah Takayuki—.
Berlari dengan kecepatan luar biasa ke arah
Watanabe, Takayuki melompat dari arah belakang mengejar bola yang meluncur ke
arah ring, lalu menepis bola tersebut ke bawah dengan keras (block).
Bola yang terpental berhasil dikuasai oleh
rekan setim kami, sukses mematahkan peluang emas serangan lawan.
Aksi tunggal itu seketika memicu gelombang
kehebohan di seluruh arena gimnasium.
Bahkan di antara kerumunan penonton, terdengar
jeritan histeris bernada kekaguman dari siswi-siswi sekolah lain.
Melihat begitu banyak siswi sekolah lain yang
berteriak histeris menyaksikan aksi luar biasa Takayuki itu, Shimizu-san
langsung memasang wajah cemberut, bangkit berdiri dari kursinya, dan berteriak
memberikan dukungan dengan suara lantang agar tidak kalah dari mereka:
"Semangat Yamamoto-kun!! Jangan mau
kalah!!"
Meskipun berteriak bukanlah keahlian utamanya,
Shimizu-san mengerahkan seluruh suaranya demi memberikan dorongan semangat
kepada Takayuki.
Dukungan penuh kesungguhan dari Shimizu-san
itu tampaknya berhasil sampai ke telinga Takayuki dengan jelas.
Takayuki memberikan gestur jempol kecil ke
arah kami, lalu menerima operan dari seniornya untuk kembali menghadapi duel
1-on-1 melawan Watanabe.
Sisa waktu pertandingan kini sudah kurang dari
satu menit.
Itu artinya, jika Takayuki berhasil mencetak
poin dari sini, tim lawan akan terdorong masuk ke dalam situasi yang
benar-benar tanpa harapan.
Watanabe—selaku pemain bertahan—sangat
memahami situasi tersebut, sehingga ekspresi wajahnya kehilangan seluruh sisa
ketenangannya.
Menghadapi Watanabe yang tegang, Takayuki
tersenyum tipis, lalu meluncur menerobos masuk lewat drive cepat secara
tiba-tiba.
Namun, Watanabe yang bertekad tidak mau
kecolongan lagi mati-matian menempel pergerakan Takayuki tanpa memberi celah.
Kendati berada dalam situasi gentar seperti
itu, Takayuki tetap mempertahankan kepalanya agar tetap dingin—dan mengambil
sebuah keputusan yang sangat berani.
Takayuki secara mendadak menghentikan laju
drive-nya dan berhenti total di tempat.
Mengharapkan Takayuki akan terus menerobos
masuk ke dalam ring karena mereka butuh kepastian satu angka, Watanabe yang
telanjur melaju kencang kehilangan keseimbangan dan gagal mengantisipasi
berhentinya Takayuki secara mendadak.
Dan tepat di tempat Takayuki berhenti berdiri,
garis three-point line terbentang di bawah kakinya.
Takayuki meraih bola, lalu bersiap mengambil
posisi shoot.
Ya, di saat timnya sebenarnya hanya butuh satu
poin aman untuk mengamankan keunggulan, Takayuki justru memilih mengambil
risiko besar dengan membidik tembakan tiga angka (three-pointer).
Keputusan tak terduga Takayuki itu sukses
mengejutkan kawan maupun lawan di lapangan.
Namun, aksi tersebut bukan sekadar pertaruhan
yang hanya mendatangkan risiko semata.
Jika Takayuki sukses memasukkan tembakan tiga
angka ini, selisih skor akan melebar menjadi empat angka, membuat upaya lawan
untuk mengejar ketertinggalan menjadi mustahil meskipun mereka berhasil
mencetak three-pointer di sisa waktu yang ada.
Tampaknya itulah target utama Takayuki saat
melepaskan tembakan berisiko tinggi tersebut.
Dan bola yang meluncur ke udara membentuk
kurva lengkung yang sempurna—lalu menghantam jaring ring dengan mulus—.
Poin krusial dari Takayuki itu sukses
meruntuhkan sisa mental bertanding lawan, memastikan kemenangan mutlak bagi tim
kami hingga peluit akhir pertandingan dibunyikan.
Berkat aksi heroik Takayuki tersebut, sekolah
kami berhasil mencatatkan kemenangan sensasional dengan menumbangkan tim
sekolah unggulan.
Rekan-rekan setim berlari menghampiri
Takayuki, menepuk punggungnya bertubi-tubi dengan penuh rasa bangga, sementara
Takayuki tertawa gembira.
Para senior mungkin tidak pernah membayangkan
mereka bisa mengalahkan tim unggulan sebesar ini.
Mengingat pertandingan ini tadinya diprediksi
menjadi akhir dari musim panas mereka, genangan air mata tampak mulai
menggenang di sudut mata para senior.
Melihat pemandangan penuh haru dari para
pejuang muda itu, aku hampir saja ikut meneteskan air mata terharu.
Sebaliknya, tim lawan yang berstatus sebagai
unggulan namun harus tersingkir di babak pertama tertunduk lesu dalam
keputusasaan, tidak mampu menggerakkan tubuh mereka dari tempat duduk di bangku
cadangan.
"Sialan!!"
Watanabe yang terduduk di lantai memukul
permukaan lapangan sambil meneriakkan kekesalannya.
Lalu, saat tatapannya bersiborok dengan
Shimizu-san yang duduk di sebelahku, dia membuang muka dengan ekspresi
canggung.
Tentu saja, dalam situasi mengenaskan seperti
ini, niat untuk mendekati Shimizu-san sudah sepenuhnya musnah dari benaknya.
Melihat pemandangan Watanabe yang seperti itu,
aku merasakan secercah kepuasan di dalam hati.
Berkat perjuangan Takayuki, kejadian ini pasti
akan menjadi pelajaran berharga yang setimpal baginya.
Di tengah lamunanku, Saegusa-san yang duduk di
sebelahku tiba-tiba bangkit berdiri secara perlahan.
Dan di hadapan begitu banyak orang yang
memadati tempat itu, dia melepaskan kacamata hitam besar yang sedari tadi terus
dikenakannya.
"Yamamoto-kun, semuanya, kalian hebat
sekali! Selamat atas kemenangan hari ini!"
Lalu, Saegusa-san melangkah maju mendekati
para anggota klub bola basket yang baru saja meraih kemenangan gemilang,
menghujani mereka dengan kata-kata apresiasi tulus sambil memasang senyuman
bagaikan malaikat.
Mendapati Shiorin, sang Angel Girls, muncul
secara tiba-tiba di hadapan mereka, suasana seisi gimnasium seketika bergemuruh
heboh.
Hal serupa juga dirasakan oleh para anggota
klub bola basket; meskipun mereka tahu Saegusa-san bersekolah di tempat yang
sama, kemunculan langsung Shiorin di hadapan mereka tetap saja memicu
keterkejutan yang luar biasa.
"Eh... Hah?!"
Orang yang paling terkejut oleh kemunculan Saegusa-san
itu adalah Watanabe, yang tadinya tertunduk lesu.
Menghadapi sang idol nasional yang mendadak
berdiri di hadapannya, dia hanya bisa menganga lebar tanpa mampu berkata-kata.
Selesai menyampaikan kata-kata penyemangat
kepada seluruh anggota klub bola basket, Saegusa-san kembali ke tempat duduk
kami dengan ekspresi puas, lalu duduk kembali dengan manis di sebelah
Shimizu-san.
"Eh?
S-Shimizu-san, kamu kenal sama Shiorin?!"
Merasa
penasaran, Watanabe menghampiri Shimizu-san dengan ekspresi tak percaya.
"Saku-chan itu temanku, lho?"
Menjawab pertanyaan Watanabe, Saegusa-san
melontarkan kalimat itu sambil tersenyum manis bahkan sebelum Shimizu-san
sempat membuka mulut.
"Eh, b-begitukah! A-aku fans berat
Angel Girls, dan aku teman se SMP Shimizu-san, anu!"
Mendengar itu, Watanabe mendadak beralih
sasaran—bukan lagi kepada Shimizu-san, melainkan mulai mencoba mendekati Saegusa-san.
Melihat kelakuannya itu, aku hanya bisa
mengelus dada karena merasa heran pada tingkat tidak tahu malu dari cowok
tersebut.
"Begitu ya."
Namun, Saegusa-san tetap mempertahankan
senyuman ramahnya tanpa merusak image idol miliknya sedikit pun.
Menghadapi Saegusa-san yang bersikap
demikian, wajah Watanabe merona merah, sementara ekspresi kekecewaannya sesaat
sebelumnya langsung sirna, digantikan oleh binar penuh semangat.
"A-anu! Aku—"
"Hmm, tapi rasanya... aku ingat
Yamamoto-kun adalah teman yang sangat berharga bagiku. Jadi, bukankah tadi kamu
sempat mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan kepada Saku-chan dan
Yamamoto-kun?"
"A, bukan, itu sebenarnya..."
Meskipun tersenyum ramah, Saegusa-san
menyampaikan teguran dengan nada suara yang tenang.
Menghadapi tatapan Saegusa-san tersebut,
Watanabe kehilangan kata-kata dan tidak bisa membela diri.
"Menurutku, seseorang yang tidak bisa
menghargai perasaan dari orang-orang berharga di sekitarku... adalah tipe orang
yang paling kubenci."
Hanya mengucapkan kalimat
itu, Saegusa-san berkata, "Yuk?" sambil menarik tangan Shimizu-san
dan bangkit berdiri, lalu langsung berjalan meninggalkan gimnasium.
Begitulah, Watanabe—yang
telah ditolak secara mentah-mentah baik oleh Shimizu-san maupun oleh Saegusa-san—ditinggalkan
begitu saja di tempatnya berdiri, memasang ekspresi yang sangat kusut akibat
rasa sesal dan malu yang luar biasa.
Melihat Watanabe yang
tampak begitu menyedihkan itu, aku akhirnya mengerti kenapa Saegusa-san sampai
nekat melakukan tindakan tadi, dan perasaan banggaku terhadap Saegusa-san—yang
bahkan rela memperlihatkan wajah aslinya demi membela temannya—semakin
melambung tinggi hingga membuatku semakin jatuh cinta kepadanya—.
Pertandingan berakhir
dengan selamat, dan setelah aku menyampaikan ucapan selamat secara langsung
kepada Takayuki, aku bergabung kembali bersama Saegusa-san dan Shimizu-san yang
sedang menungguku di area agak sepi di luar gimnasium.
Karena mereka berdua
pergi duluan, aku sempat bingung harus mencari ke mana, namun pesan di grup
Line mengatakan, "Kami menunggu di sini ya", membuatku kembali
menyadari betapa praktisnya aplikasi Line itu.
Setelah menghabiskan
waktu sejenak sambil mengobrol santai membahas jalannya pertandingan tadi,
Takayuki yang baru saja menyelesaikan rapat evaluasi pascapertandingan datang
menghampiri kami dengan terburu-buru, dan kami pun memutuskan untuk pulang
bersama-sama dalam formasi berempat.
Begitu keluar dari
gerbang sekolah, mengingat keberadaan Saegusa-san, kami sepakat untuk
menghindari keramaian, mengambil jalan memutar, dan berjalan menyusuri
pinggiran sungai besar yang tenang menuju ke stasiun.
"Semuanya, terima kasih
banyak atas dukungannya hari ini ya."
Takayuki tersenyum lebar dengan
gaya khasnya, mengucapkan terima kasih kepada kami semua.
Melihat penampilan Takayuki yang
baru saja menyuguhkan pertandingan luar biasa hari ini, dia terlihat bagaikan
seorang pahlawan, jauh lebih keren dari biasanya.
Saat aku melirik ke samping, Saegusa-san
tampak tersenyum, sementara Shimizu-san menatap Takayuki dengan pipi merona
merah sambil terpesona.
"Ah, benar juga, Takkun!
Mumpung kita lagi di kota ini, aku baru ingat ada satu tempat yang pengen
banget kudatangi! Jadi, kalau tidak keberatan, maukah kalian menemaniku ke sana
sekarang?"
Saegusa-san tiba-tiba
menghentikan langkahnya, lalu menarik pelan ujung pakaianku sambil melontarkan
ajakan mendadak.
Dan Saegusa-san memberikan satu
kali kedipan mata rahasia ke arah Shimizu-san agar tidak ketahuan oleh
Takayuki.
Shimizu-san yang sepertinya
langsung menangkap makna dari kedipan mata itu tampak menegang kaku.
"Tempat? Hm, boleh
kok."
Oleh karena itu, aku langsung
menyambut ajakan dadakan Saegusa-san itu tanpa pikir panjang.
Demi mewujudkan tujuan kedua dari
perjalanan kami ke sini hari ini, momen ini adalah waktu yang paling tepat.
"Eh, kalian mau pergi ke
suatu tempat?"
"Y-ya, tapi Takayuki pasti
capek kan? Jadi hari
ini sebaiknya langsung pulang saja."
Melihat Takayuki yang
tampak ingin ikut, aku mendahuluinya dan menyarankan agar ia pulang lebih dulu.
Lalu, aku mengirimkan
isyarat mata kepada Takayuki, yang langsung paham maksudku; dengan ekspresi
malu-malu, dia berkata, "B-begitu ya", lalu membulatkan tekad
dan berbalik menghadap ke arah Shimizu-san.
"Shimizu-san,
kalau... um... tidak keberatan, maukah pulang bersama sampai stasiun
terdekat?"
Mendapatkan ajakan seterus terang
itu dari Takayuki, Shimizu-san merona merah padam namun mengangguk pelan tanpa
suara.
Melihat interaksi mereka berdua, Saegusa-san
berseru, "Kalau begitu, hari ini kita berpisah dengan Saku-chan di sini
ya!" sambil menepuk punggung Shimizu-san secara perlahan dan lembut.
Dan aku juga menepuk bahu
Takayuki pelan, "Kalau begitu, sampai jumpa lagi ya!"
Didorong secara bersamaan oleh
aku dan Saegusa-san, jarak di antara mereka berdua kini menjadi sangat dekat,
membuat keduanya saling berhadapan dengan wajah yang sama-sama memerah padam.
" K-kalau begitu, ayo kita
pulang."
"I-iya."
Begitulah, setelah berpamitan
kepada kami berdua, mereka berjalan berdampingan menuju ke arah stasiun.
Aku dan Saegusa-san berdiri
mengawasi punggung mereka berdua dari kejauhan sambil bersembunyi.
"—Semoga semuanya berjalan
lancar ya."
"Iya, kedua orang itu pasti
akan baik-baik saja."
Saegusa-san bergumam
sambil tersenyum, dan aku membalasnya dengan senyuman serupa.
Tak lama setelah kami
mengawasi punggung mereka, Takayuki tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Penasaran dengan apa yang
akan dilakukannya, kami mengamati situasi tersebut; Takayuki berbalik menghadap
ke arah Shimizu-san, lalu membungkuk dalam-dalam secara tiba-tiba.
Lalu, sambil mengucapkan
sesuatu, Takayuki mengulurkan telapak tangannya ke hadapan Shimizu-san.
Shimizu-san sempat tampak
terkejut sesaat, namun setelah jeda beberapa detik dia perlahan-lahan
menumpukkan tangannya di atas telapak tangan Takayuki—.
Keduanya kemudian tertawa
bersama, lalu melanjutkan perjalanan menuju stasiun sambil bergandengan tangan.
Karena jarak kami yang cukup
jauh, suara mereka tidak terdengar jelas oleh kami.
Namun, cukup melihat pemandangan
itu saja sudah membuat kami tahu apa yang baru saja terjadi di antara mereka
berdua.
"—Kalian berdua, selamat
ya."
Melihat punggung mereka yang
disinari oleh cahaya matahari terbenam, aku bergumam dengan suara bergetar
karena hampir menangis terharu.
Di sebelahku, Saegusa-san melepas
kacamata hitamnya, membiarkan air matanya mengalir sambil menyaksikan dua orang
yang kini menggenggam erat tangan satu sama lain.
Sambil menghapus air matanya, Saegusa-san
menatapku dengan senyuman paling indah di wajahnya dan berkata, "Syukurlah
ya".
Melihat ekspresi Saegusa-san itu,
pertahanan emosiku runtuh seketika, dan tanpa sadar aku ikut menangis
bersamanya.
Menangis di hadapan seorang gadis
memang terasa sangat memalukan, tapi karena ini adalah air mata kebahagiaan,
jadi hal itu sah-sah saja.
"—Né, Takkun."
Sambil memandangi kepergian
pasangan yang tampak begitu bahagia itu hingga sosok mereka menghilang, Saegusa-san
memanggilku pelan tanpa mengalihkan pandangannya ke depan.
"Hm? Ada apa?"
"Bagaimana ya, melihat
mereka berdua tadi, rasanya... manis sekali ya."
"—Iya, benar sekali."
Aku mengangguk menanggapi ucapan Saegusa-san.
Melihat dua orang yang akhirnya
berhasil bersatu itu, gelombang keinginan untuk merajut hubungan romantis
sendiri tiba-tiba melonjak drastis di dalam dadaku.
"Makanya... ya? Bergandengan
tangan seperti itu... rasanya seperti apa ya..."
Sambil berujar demikian, Saegusa-san
menatapku lurus-lurus dengan tatapan lekat.
Kedua pipinya merona lembut—.
Menatap sosok Saegusa-san seperti
itu membuat jantungku berdegup kencang tak karuan.
"—Kalau begitu, mari kita
latihan."
"L-latihan?"
"Iya, sebagai latihan...
mari kita coba... bergandengan tangan, ya?"
Sambil berkata demikian, Saegusa-san
mengulurkan tangan kecilnya yang lembut, perlahan-lahan menumpukkannya di atas
telapak tanganku.
Di hadapan Saegusa-san yang
menatapku lekat-lekat dengan rona malu di wajahnya, aku sudah tidak lagi
memiliki alasan untuk menolak—.
"Iya... latihan ya."
Jawabku mantap, lalu menggenggam
balik tangan Saegusa-san dengan erat.
"K-kalau begitu, ayo kita
jalan."
"I-iya."
Lalu, kami berdua mulai berjalan perlahan
menuju stasiun sambil bergandengan tangan.
Wajah kami berdua merona merah padam,
sehangat warna matahari terbenam yang terpantul di hadapan kami saat itu—.
***
"Ehehe, ehehehe♪"
"Ada apa?"
"Bukan apa-apa kok—ehehe♪"
Sambil bergandengan tangan menyusuri pinggiran
sungai, Saegusa-san terus-menerus tersenyum riang dengan nada seperti itu.
"Begitu ya, bukan apa-apa ya."
"Iya, bukan apa-apa kok—ehehe♪"
Melihat Saegusa-san yang tampak begitu
gembira, senyuman pun tersungging secara alami di bibirku.
"Né, Takkun, lihat itu."
Mendengar ucapannya, aku mengalihkan pandangan
ke arah yang ditunjuk oleh telunjuk Saegusa-san.
Di sana, aliran sungai tampak berkilauan
memantulkan cahaya matahari senja, membentangkan pemandangan yang sangat
indah—.
"Indah banget..."
Saegusa-san bergumam sambil menatap
pemandangan itu dengan senyuman polos.
Namun, pemandangan indah itu hampir tidak
masuk sama sekali ke dalam penglihatanku.
Alasannya, Saegusa-san yang tersenyum
disinari cahaya matahari senja jauh lebih indah daripada pemandangan luas apa
pun di hadapan kami—.
Dan melihat Saegusa-san seperti itu, aku
menyadari bahwa batasan untuk terus membohongi diriku sendiri sudah mencapai
akhirnya.
Oleh karena itu, aku memutuskan untuk
menghadapi satu perasaan yang selama ini selalu kuhindari dengan berbagai macam
alasan.
—Aku sangat mencintai Saegusa Shion.
Mulai sekarang, aku akan berhenti menjadikan
alasan seperti "dia adalah seorang idol" atau "dia adalah bunga
di puncak gunung yang tak terjangkau" sebagai pembelaan diri.
Jika aku merasa tidak sepadan, maka aku hanya
perlu menjadi pria yang pantas untuk bersanding dengannya.
Menghadapi perasaan ini secara jujur berarti
mengambil keputusan itu.
Meskipun saat ini statusnya hanyalah latihan,
suatu hari nanti aku pasti akan menggenggam tangan ini dengan
sungguh-sungguh—aku bersumpah di dalam hati sambil menatap Saegusa-san yang
tersenyum di sampingku—.


Post a Comment