Cerita Pendek Tambahan (SS)
Belum lama sejak aku masuk SMA, suatu hari di
waktu istirahat siang.
Seperti biasa, setelah selesai memakan bento
bersama sahabatku Takayuki, aku menikmati sisa waktu istirahat yang tidak punya
tujuan khusus ini sambil mengobrol membahas hal-hal remeh.
Aku perlahan-lahan mulai terbiasa dengan
kehidupan SMA, tapi aku rasa memiliki sahabat di kelas yang sama seperti ini
adalah hal yang sangat bagus.
Bagi diriku yang tidak begitu pandai
bersosialisasi, butuh waktu lama untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan baru.
Berkat kehadiran Takayuki, aku bisa terhindar
dari takdir yang disebut sebagai loner (orang kesepian) dan menikmati kedamaian
serta ketenangan dalam menjalani masa-masa SMA.
—Apalagi, situasinya terasa jauh lebih
istimewa di kelas ini...
Sambil memikirkan hal itu, saat aku menoleh ke
belakang secara diam-diam, di kursi agak menyerong ke belakang, sekumpulan anak
sekelas tampak mengerubungi meja Saegusa-san seperti hari-hari biasa.
Suasana di sekitarnya selalu dipenuhi
keriuhan. Sebagai mantan idol nasional dan orang terkenal, Saegusa-san tetap
memancarkan kehadiran yang terasa begitu istimewa tanpa ada perubahan sedikit
pun.
Ya, dengan keberadaan orang terkenal seperti Saegusa-san
di kelas yang sama, kelas ini seolah berpusat pada dirinya, membuatku merasa
semakin sulit untuk mendekat atau membaur ke dalam lingkaran mereka.
"Beneran deh, sampai sekarang aku masih
nggak percaya kalau Angel Girls itu ada di kelas yang sama dengan kita."
"Iya, bener juga."
Sambil mengamati pemandangan yang selalu ramai
itu, baik aku maupun Takayuki tetap tidak bisa membiasakan diri dengan situasi
di mana Saegusa-san berada di kelas yang sama.
Gadis jelita pujaan yang selama ini selalu
kulihat di televisi, kini mengenakan seragam sekolah yang sama dan duduk di
ruang kelas yang sama secara nyata.
Saegusa-san masih tersenyum manis di tengah
kerumunan itu hari ini, dan hanya dengan melihat wujudnya secara langsung saja
sudah membuatku merasa bersyukur.
Sebesar itulah aura eksistensi yang
dimilikinya, membuatnya tampak berada di garis yang teramat jauh dari jangkauan
kami, orang-orang biasa.
"Ah, ngomong-ngomong, yang kamu maksud
tadi itu yang ini, kan?"
Sambil berkata begitu, Takayuki menunjukkan
layar ponselnya.
Gambar yang tertera di layar adalah kue sus
minimarket yang baru saja kami bicarakan tadi.
"Betul, yang itu. Asli, rasanya enak
banget lho."
"Hoo, kelihatannya memang enak. Aku
mau coba beli juga deh."
"Oke, nanti kalau sudah coba, kasih tahu
kesanmu ya!"
Mungkin terdengar konyol dua cowok
membicarakan kue sus minimarket seperti ini, tapi karena rasanya benar-benar
enak, itu adalah salah satu menu yang sangat ingin kurekomendasikan.
Mendapatkan informasi makanan lezat lebih
cepat dari orang lain mungkin adalah salah satu keuntungan dari bekerja paruh
waktu di minimarket.
"Maaf ya semuanya! Karena ada hal yang
harus kulakukan sekarang, boleh minta waktunya sebentar?"
Tiba-tiba, suara Saegusa-san yang agak nyaring
terdengar dari arah belakang.
Meskipun nada bicaranya terdengar menyesal,
dia sedikit mengeraskan suaranya karena panik, membuat suaranya terdengar
sangat jelas sampai ke tempat dudukku.
Alhasil, merespon ucapan itu, orang-orang yang
tadinya berkerumun di sekitarnya mulai membubarkan diri satu per satu
meninggalkan meja Saegusa-san.
Berapa kali pun aku melihatnya, kharisma yang
dimilikinya—di mana hanya dengan sepatah kata saja dia bisa menggerakkan
orang-orang di sekitarnya—selalu berhasil membuatku terkagum-kagum.
"Ngomong-ngomong, dari dua varian itu
rasanya yang lebih enak yang mana?"
"Hm? Ah, tentu saja yang rasa
matcha."
"Hoo, kalau gitu aku mau coba beli yang
itu. Katanya stok itu cuma ada di jaringan minimarket tempatmu kerja paruh
waktu, ya, Takuya?"
"Iya, itu produk private brand toko
kami."
Ngomong-ngomong, topik yang kami bicarakan
sejak tadi sama sekali bukan hal besar, melainkan produk baru kue sus dari
minimarket tempatku bekerja.
Itu adalah obrolan remeh yang sama sekali
tidak penting, tapi itulah jenis percakapan yang biasa dibagikan oleh
teman-teman yang sudah lama bersama dalam keseharian yang biasa.
Namun, di tengah-tengah obrolan itu, aku
mendadak merasakan suatu kehadiran dari arah belakang.
Meskipun sebenarnya tidak perlu
dipedulikan, rasa penasaran membimbingku untuk menoleh ke belakang. Di sana,
kulihat Saegusa-san sedang duduk sendirian dengan mata terpejam, tampak sangat,
sangat fokus.
Aku tidak tahu apa yang sedang
dilakukannya, tapi ekspresinya terlihat serius luar biasa, bahkan memancarkan
semacam aura ketegangan.
Meskipun aku tidak tahu alasan di balik
tindakannya itu, pemandangan tersebut tetap terlihat indah. Saat aku hampir
terpesona menatapnya, mata Saegusa-san tiba-tiba terbuka lebar.
Dan entah apa yang dipikirkannya, dia
langsung mengeluarkan ponselnya dan tampak mengetik sesuatu dengan tergesa-gesa
untuk mencari sesuatu.
Aku tidak tahu apa yang sedang dicarinya,
tapi setelah tadi sempat memejamkan mata dan fokus, Saegusa-san mendadak
membuka mata lebar-lebar lalu mulai mencari sesuatu di ponselnya; hari ini pun
dia kembali menunjukkan bakat alaminya dalam hal bertingkah mencurigakan
(kyodofushin) tanpa disadari orang lain.
—Ah.
Sepertinya menyadari tatapanku, Saegusa-san
mendadak mengangkat wajahnya dari layar ponsel, dan mata kami pun bersiborok
secara langsung.
Merasa terkejut karena menyadari aku
sedang memperhatikannya, Saegusa-san panik berdiri, lalu melangkah pergi
meninggalkan ruang kelas dengan tergesa-gesa sambil menggenggam ponselnya.
—Tunggu, kita kan cuma tak sengaja bertatapan
mata, kan?
Meskipun Saegusa-san kembali menunjukkan
tingkah laku mencurigakannya hari ini, mengingat dia baru saja bertindak
bagaikan seorang idol sempurna beberapa detik lalu, alasan di balik
kepanikannya itu benar-benar tidak bisa dimengerti.
Jangan-jangan... dia cuma bersikap aneh
setiap kali berada di depanku? Sempat terbersit pikiran semacam itu di benakku,
tapi rasanya itu terlalu percaya diri dan kegeeran.
***
Sekolah usai, dan pekerjaan paruh waktu di
minimarket hari ini pun dimulai.
Aku mulai terbiasa dengan ritme hidup baru
berupa penyeimbangan antara sekolah dan pekerjaan paruh waktu, hingga kini aku
sudah bisa menangani sebagian besar tugas tanpa harus bertanya lagi kepada
senior.
Meskipun hari ini aku sempat merasa gugup
karena ditugaskan menjaga toko sendirian untuk sementara waktu, untungnya saat
ini tidak ada pelanggan yang datang, jadi itu sangat membantuku.
—Pilorilorin.
"Selamat datang~"
Merespon melodi pintu minimarket yang sudah
sangat familiar itu, aku menyapa pelanggan yang datang sekaligus mengonfirmasi
sosoknya.
Di sana, berdiri seorang gadis yang tampak
sangat mencurigakan: mengenakan topi casquette yang ditarik rendah, kacamata
berbingkai tebal, dan masker untuk menutupi wajahnya.
Tentu saja, orang itu tidak lain dan tidak
bukan adalah Saegusa-san, yang entah kenapa kini sering datang berkunjung ke
minimarket ini.
Meskipun hari ini penampilannya tetap
mencurigakan seperti biasa, dia adalah teman sekelas sekaligus seorang figur
publik terkenal.
Alasan di balik penyamarannya saat datang ke
minimarket ini tetap menjadi sebuah misteri, dan berbohong jika aku bilang aku
tidak penasaran.
Namun, karena dia hanya terlihat mencurigakan
tanpa berniat melakukan kejahatan, aku memutuskan untuk mengamati
gerak-geriknya seperti biasa hari ini.
Saat aku mengarahkan pandangan ke arah Saegusa-san,
mata kami langsung bersiborok secara telak.
Seketika, Saegusa-san mengalihkan pandangannya
dariku, lalu berjalan tergesa-gesa menuju sudut majalah seolah-olah sedang
kabur.
Lalu, dia berhenti tepat di sudut blind spot
di balik rak agar posisinya tersembunyi dari pandanganku.
—Eh, kenapa malah kabur?
Melihat tingkah lakunya yang mencurigakan
langsung kambuh hari ini, rasa penasaranku terhadap Saegusa-san kembali
membuncah.
Kenapa seorang gadis yang pernah bernaung di
bawah grup idol nasional dan berstatus sebagai pesohor super terkenal rela
datang ke minimarket biasa seperti ini hanya untuk melakukan hal-hal misterius
semacam itu—rasanya aneh jika tidak merasa penasaran.
Saegusa-san mengintip pelan dari balik rak,
memunculkan separuh wajahnya sambil mengawasi gerak-gerikku secara lekat.
Dari sudut pandangnya, dia mungkin merasa
sedang mengawasiku secara sembunyi-sembunyi.
Namun, sayangnya, di dalam minimarket yang
sedang sepi tanpa pelanggan lain ini, keberadaannya justru terlihat sangat
mencolok dan sepertinya dia tidak menyadari hal itu.
Saegusa-san—yang biasanya memasang senyuman
manis di ruang kelas dan berinteraksi secara sempurna dengan teman-teman
sekelasnya—kini melakukan aksi mencurigakan tanpa alasan yang jelas; aku sama
sekali tidak bisa menebak jalan pikirannya, dan tentu saja aku tidak tahu
jawaban yang benar untuk menghadapi tingkah laku misteriusnya ini.
—Haruskah aku menyapanya? Tapi, Saegusa-san
kan datang dengan menyamar, yang artinya dia tidak ingin identitasnya
ketahuan...
Ah, tidak bisa. Aku benar-benar tidak
paham.
Oleh karena itu, aku menyerah untuk
berpikir terlalu dalam dan memutuskan untuk melanjutkan rutinitas seperti
biasa: pura-pura tidak menyadarinya.
Melihatku mengabaikannya, Saegusa-san
kembali menarik tubuhnya bersembunyi di balik rak, lalu—seolah tidak terjadi
apa-apa—mengambil keranjang belanja dan mulai berbelanja secara normal.
Meskipun gerakannya terlihat sedikit kaku,
Saegusa-san menggenggam ponselnya dan berhenti di depan salah satu rak.
Karena terhalang oleh rak, ekspresinya
tidak terlihat, namun setelah menatap lekat-lekat produk di depannya untuk
beberapa saat, Saegusa-san memasukkan barang itu ke dalam keranjang dan
berjalan menuju kasir.
Saegusa-san yang kini berdiri di meja
kasir tampak menundukkan kepala dengan wajah merona merah, mungkin karena
merasa malu tertangkap basah sedang mengawasiku tadi.
Sambil tersenyum masam melihat tingkahnya,
aku memantapkan diri bahwa aku sedang bekerja, lalu mulai memindai barang di
dalam keranjangnya.
—Fuwari
Choux Cream (Rasa Matcha), 1 buah.
Hm? Cuma ini saja hari ini?
Ya, di dalam keranjang belanja Saegusa-san
hanya terdapat satu buah kue sus saja.
Meskipun rasanya aneh harus memakai keranjang
belanja hanya untuk satu buah kue, yah, terkadang ada kalanya seseorang berniat
membeli banyak hal namun akhirnya mengurungkan niat, jadi aku tidak ambil
pusing dan menyebutkan total harganya.
"Harganya 126 yen—"
"Ini!!"
Bahkan sebelum aku selesai berbicara hari ini
pun, Saegusa-san langsung merogoh dompetnya dan menyodorkan selembar uang
seribu yen dengan sigap.
Karena sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan
mencurigakannya itu, aku menerima uang seribu yen tersebut, memproses
pembayarannya dengan cepat, dan menyerahkan uang kembaliannya.
Lalu, Saegusa-san kembali menerima uang
kembalian itu dengan membungkus kedua tanganku menggunakan kedua tangannya
secara penuh kasih.
Namun, pecahan uang kembalian dari lembar
seribu yen kali ini terasa terlalu banyak untuk dibayar pada pembelian sejumlah
itu.
Uang koin di telapak tangannya bergemerincing
berantakan, dan salah satu koin terlepas dari celah jarinya lalu menggelinding
jatuh ke lantai.
"Ah—!"
Suara seruan kami berdua bergemanya bersamaan
secara sinkron.
Saegusa-san panik memasukkan uang kembaliannya
ke dalam dompet, lalu bergegas mencari keberadaan koin yang menggelinding tadi.
Namun, karena rasa malu yang teramat sangat, Saegusa-san
tampak kebingungan setengah mati dan kesulitan menemukan posisi koin yang
jatuh.
"Uwaa, nggak ada... di mana..."
Sambil meraba-raba lantai dengan panik,
pemandangan dirinya mengeluarkan keluhan imut seperti itu terasa sangat
menggemaskan, meskipun aku merasa tidak enak pada Saegusa-san.
Namun, karena merasa kasihan, akhirnya aku
memutuskan untuk membantunya.
"Nona Pelanggan! Koinnya ada di dekat
kaki anda!"
Mencondongkan badan dari balik meja kasir, aku
ikut membantu mencari, dan menemukan koin seratus yen berkilau tepat di dekat
kaki Saegusa-san.
Begitu kuberitahu, Saegusa-san terlonjak kaget
bagaikan seekor katak yang disenggol.
Menemukan koin yang tergeletak di dekat
kakinya, Saegusa-san mengambilnya dengan ekspresi lega lalu memasukkannya ke
dalam dompet.
"T-terima kasih banyak!"
Sambil membungkuk dalam-dalam menyampaikan
rasa terima kasih, rasa malu yang menyelimutinya membuat Saegusa-san buru-buru
kabur meninggalkan minimarket.
Sambil mengantar punggung Saegusa-san yang
kabur dengan kepanikan badai bagaikan angin puyuh itu, rasa penasaranku kembali
terpantik: kenapa sebenarnya Saegusa-san hanya membeli satu buah kue sus saja?
Meskipun bebas bagi siapa saja untuk membeli
apa pun, tetap saja alasan di balik tindakannya membeli tepat satu buah kue sus
itu meninggalkan tanda tanya besar. Di tengah jam kerja minimarket yang sepi
ini, rasa penasaran yang sudah muncul di kepalaku tidak bisa dihentikan begitu
saja.
Dan semakin dipikirkan, misterinya semakin
dalam. Aku terus memikirkan hal itu sepanjang jam kerjaku hari ini, namun
sampai shift berakhir pun jawabannya tidak kunjung kutemukan.
***
Keesokan harinya.
Setibanya di sekolah seperti biasa,
Takayuki—yang baru saja menyelesaikan latihan pagi—datang menghampiri meja.
"Pagi, Takuya! Kue sus yang kamu ceritain
kemarin, aku sudah coba lho."
"Hm? Kue sus yang mana?"
"Yah, masa sudah lupa sih! Kue sus itu
lho!"
Ah, benar juga, kemarin kami sempat membahas
hal itu.
"Oh, kue sus itu ya. Terus, gimana
rasanya?"
"Begini ya, kalau dinilai dari sudut
pandangku selaku Connoisseur (pakar) makanan manis—nilainya 100 dari 100!"
"Bagus deh kalau begitu."
Sepertinya makanan itu cocok di lidah
Takayuki.
Yah, mengingat Takayuki sejak dulu adalah tipe
orang yang selalu melahap apa pun dengan lahap sambil berkata ‘enak, enak’,
sebutan pakar itu terdengar agak meragukan, tapi untuk saat ini biarkan saja
dia menikmati kehalusannya.
—Eh? Kalau dipikir-pikir, bukannya Saegusa-san
juga membeli kue sus yang sama persis kemarin?
Ya, kue sus tunggal yang dibeli Saegusa-san
kemarin ternyata adalah jenis kue sus yang sama persis dengan yang kuceritakan
kepada Takayuki sebelumnya.
Namun, alasan kenapa Saegusa-san sampai
membelinya seorang diri tetap menjadi misteri yang tidak terpecahkan.
—Jangan-jangan, dia membelinya karena
mendengarkan obrolan kami di kelas kemarin?
Pikiran itu sempat melintas di benakku, namun
langsung kutepis cepat-cepat dengan anggapan ‘mana mungkin’.
Lagipula, mustahil seorang figur publik
sekelas Saegusa-san mau mendengarkan obrolan remeh kami berdua lalu repot-repot
membeli makanan yang sama.
—Meskipun begitu, siapa tahu ada kemungkinan
satu persen.
Berpikir demikian, demi menuntaskan rasa
penasaran terkait misteri kue sus tunggal kemarin, aku memutuskan untuk
memancingnya meskipun kemungkinannya sangat kecil.
"Ngomong-ngomong, kemarin ada pelanggan
yang datang ke minimarket dan beli tepat satu buah kue sus lho. Jangan-jangan
dia sempat dengar obrolan kita kemarin, ya."
Brak!
Sengaja mengeraskan suaraku agar terdengar
oleh Saegusa-san yang duduk di belakang, aku melontarkan kalimat pancingan
tersebut.
Seketika, suara gaduh terdengar dari arah
belakang merespon ucapanku.
Baik aku maupun Takayuki terkejut dan menoleh
serentak ke sumber suara; di sana, Saegusa-san tampak berdiri tegak di samping
kursinya.
Tubuhnya kaku seperti robot, dan dia menatap
ke arah kami dengan ekspresi bersalah.
—Eh?
Kenapa Saegusa-san menunjukkan reaksi seperti
itu?
Sikapnya itu seolah-olah mengonfirmasi bahwa
dia memang benar-benar mendengarkan obrolan kami kemarin...
Seketika, Saegusa-san menarik napas
dalam-dalam seolah membulatkan tekad, lalu berjalan mendekati meja kami dengan
langkah kaki yang kaku.
Di hadapan kami berdua yang menatapnya dengan
rasa tegang penuh kebingungan, Saegusa-san melangkah mendekat.
Sang idola kelas, gadis tercantik yang
sempurna, mendekati kami secara langsung, membuatku dan Takayuki menahan napas,
bersiap mendengarkan apa yang akan dia katakan.
Saegusa-san berhenti di depan meja kami, lalu
mengacungkan ibu jarinya dengan mantap.
"U-um, kalian berdua lagi bahas soal
kue sus, ya? A-aku juga kemarin sempat makan itu lho!
R-rasanya enak banget, kan! Hehe!"
Sambil mengalihkan pandangan ke sana ke mari
dan memasang senyuman canggung yang aneh, Saegusa-san melontarkan kalimat itu
lalu bergegas kabur meninggalkan kelas sambil berseru, "K-kalau begitu,
sampai jumpa!".
"A-ada
apa dengan dia..."
"E-entahlah..."
Kami
berdua yang ditinggal terpaku hanya bisa mengedipkan mata kebingungan
menghadapi situasi absurd tersebut.
Sekilas
kulihat wajah Saegusa-san merona merah padam saat beranjak pergi; meskipun aku
tidak paham apa maksud di balik semuanya, hari ini pun Saegusa-san kembali
sukses memamerkan bakat alami mencurigakannya
secara maksimal—.


Post a Comment