Chapter 1
— Tumugi Tsukiashi dan Garis Akhir Masa Remaja —
"Bangun. Kutendang ya."
Pagi-pagi buta, ditendang dan dibangunkan oleh Kirio tidak membuatku terlalu terkejut. Mengingat aku memberikan kunci duplikat padanya, tidak ada cara bagi Asahi untuk menebak kapan dia akan keluar masuk rumahnya.
"...Bangunkan aku dengan sedikit lebih lembut..."
"Apa kamu masih mengantuk, bodoh? Cepat bangun, bodoh. Lalu makan, bodoh."
(Kebiasaan bicara yang menyebalkan...)
Seperti biasa, Kirio mengenakan seragam pelayan. Padahal saat berada di rumah ini dia bisa mengenakan pakaian bebas, atau karena dia akan pergi ke sekolah setelah ini, mengenakan seragam sekolah saja sudah cukup, tapi dia sepertinya memiliki idealisme yang misterius.
Aku mengangkat tubuh dari tempat tidur, melihat ke arah meja rendah, dan mendapati sarapan buatan Kirio telah disiapkan. Roti panggang, salad, telur setengah matang (ham and eggs). Yogurt dan kopi panas. Menu yang lebih dari cukup untuk pagi hari.
"Terima kasih selalu, Kirio."
"Ha? Tidak selalu, kan. Hanya saat aku datang ke rumahmu pagi-pagi saja aku membuatkan makanan."
"Kamu kan sudah sering datang ke sini. Jadi ya sama saja seperti selalu."
"Mau mengambil hatiku sejak pagi? Orang yang harus kamu suap itu Tuan Besar. Jangan salah paham, bodoh."
(Bukannya aku bermaksud seperti itu...)
Menerima rasa terima kasih tanpa rasa canggung seperti ini memang wataknya yang khas. Yah, ekspresi Kirio sendiri sedikit melunak—rasanya begitu—jadi mengatakannya tidak sia-sia.
"Jawab sambil makan saja. Hodoki, siapa yang berencana kamu putusi dulu? Ini sudah seminggu lho."
Seminggu telah berlalu sejak semester baru dimulai. Hingga kini, Asahi belum mengambil tindakan apa pun.
Mungkin karena sudah kehabisan kesabaran dengan situasi yang tidak bergerak ini, Kirio melepas white brim (topi pelayan) di kepalanya dan memegangnya seperti cambuk pelatih, membelah angin untuk mengintimidasi.
"Nanti aku ceritakan. Bisa pas berangkat sekolah saja?"
"Ah? Menyuruhku menunggu? Dalam kapasitasmu sebagai orang bodoh?"
"Aku ingin menikmatinya pelan-pelan. Soalnya enak."
Saat Asahi mengatakannya dari lubuk hatinya yang paling dalam, Kirio menghentikan ayunan tangannya dan melipat kedua tangannya di dada.
"Begitu ya. Kalau begitu baiklah. Lagian ini kan masakan buatan tanganku."
(Seperti biasa, di bagian yang aneh dia malah jujur...)
Sambil menyeruput kopi, Asahi memikirkan kembali situasinya bersamaan dengan otak yang mulai terjaga.
Saat ini, kelima wanita yang sedang berpacaran dengannya—yaitu Tsukiashi Tsumugi, Yui Hizume, Kanase Mitoguchi, Oriko Kokigi, dan Ami Chigira—adalah aturan kondisi tahun kedua di mana ia harus putus secara baik-baik dengan mereka semua dalam waktu satu tahun.
"Kira-kira kalau aku jujur mengajak putus seperti waktu nembak dulu, bakal berjalan lancar dengan mudah nggak ya?"
Asahi bertanya kepada Kirio dengan nada santai.
"Cih. Cewek-cewek spesial itu? Mana mungkin semudah itu. Selama ini kamu adalah pihak yang mengejar para wanita itu. Tapi, mau bagaimana pun, para wanita itu sudah jatuh cinta padamu. Jadi menarik untuk dilihat saat mereka berbalik menjadi pihak yang memburumu. Pada hakikatnya, para betina itu karnivora. Mereka tidak berburu hanya karena para jantan yang mendatangi mereka, tapi mereka secara naluriah patuh pada 'keinginan'. Ingat itu baik-baik."
Apakah itu pembicaraan tentang manusia, atau tentang hewan? Atau mungkin berlaku untuk keduanya?
Meskipun merasakan sedikit kengerian dari perumpamaan Kirio, Asahi hanya bisa mengangguk samar.
"—Terima kasih makanannya. Enak."
"Sama-sama, brengsek. Terima ini setelah makan."
Mengambil sesuatu dari seragam pelayannya, Kirio melemparkannya dengan sembarangan ke arah Asahi.
Sebuah alarm pengaman kecil berwarna hitam seukuran telapak tangan. Apaan nih, tanya Asahi penuh kebingungan.
"Ini 'Tombol Bantuan Yang Terhormat Kirio'. Jika ke depannya kamu jatuh ke dalam krisis yang berkaitan dengan wanita, tekan sekali tombol alarm itu, dan aku akan langsung datang memberikan pertolongan."
"Wah... istilahnya itu, praktis ya."
Dalam mempertahankan situasi abnormal seperti berpacaran dengan lima orang sekaligus, ada batas dari kemampuan Asahi sendiri.
Pasti ada momen di mana bantuan dari orang lain sangat diperlukan di suatu tempat.
Kirio, yang selalu bersiap di dekat Asahi sebagai pengawas, terkadang berpikir bahwa akan membosankan jika Asahi langsung kalah telak, sehingga dia memberikan uluran tangan beberapa kali sebelumnya.
Namun di tahun pertama, bantuan Kirio bersifat musiman, dan Asahi tidak bisa secara aktif meminta bantuan. Di tahun kedua ini, ternyata dia bisa meminta bantuan dari pihaknya sendiri.
Wajah Asahi tanpa sadar merekah, namun Kirio menjulurkan satu lengannya. Tiga jari ditegakkan—apa arti dari hal itu?
"—Namun, tombol itu hanya bisa ditekan total tiga kali. Tidak ada lebih dari itu."
"Eh. Kalau begitu, bagaimana kalau aku menekan yang keempat kalinya?"
"Entahlah. Bencana besar akan menimpamu... cuma itu yang kuberi tahukan."
Kira-kira nasib buruk seperti apa yang akan menimpa? Kirio hanya tersenyum menyeringai.
Mengingat durasi satu tahun, batas tiga kali menekan itu terlalu sedikit.
Ternyata tidak akan semudah itu menguntungkan dirinya sendiri, ya, Asahi merasa bisa memahaminya.
Sebagai barang darurat, tombol ini harus disimpan sebisa mungkin sampai saat-saat terakhir.
"Sudah waktunya ya. Aku mau ganti baju. Kalau mau dibunuh secara sosial, silakan datang mengintip."
"Kalau aku ingin dibunuh secara sosial, aku akan mengintip."
Ketika Asahi membalas dengan nada ringan, Kirio mendengkus dan berjalan ke arah ruang ganti. Di sinilah dia akan mengenakan seragam pria, dan menghabiskan waktunya sebagai teman sekelas bernama Kirio Kageri hingga sepulang sekolah.
(Padahal kupikir lebih gampang kalau pakai seragam dari awal...)
Asahi berpikir begitu, tapi Kirio tidak akan mendengarkan meskipun diperingatkan—
***
Tsukiashi Tsumugi. Kepribadiannya ceria dan penuh semangat, tipe idola kelas yang bergaul dengan siapa saja tanpa memandang bulu.
Sebagai adik kelas satu tingkat di bawahnya, Asahi dan Tsumugi awalnya berasal dari SMP yang sama, dan dulunya berada di klub atletik yang sama. Karena itu klub atletik yang cukup keras, jam sepulang sekolah saat itu membuat Asahi hampir setiap hari bertemu Tsumugi karena kegiatan klub.
(Kalau harus memilih siapa yang diputusin duluan—)
Di antara para junior yang terkadang dilatih oleh Asahi baik laki-laki maupun perempuan, Tsumugi adalah orang yang paling akrab dengannya—begitulah kata orang-orang yang berasal dari klub atletik SMP yang sama. Oleh karena itu, saat memutuskan berpacaran dengannya dalam《Permainan Kehidupan Orang Lain》, hampir tidak ada masalah sama sekali. Waktu untuk menyatakan cinta pun dipilih setelah turnamen terakhir Tsumugi di SMP usai, dan dengan pemikiran sombong—perhitungan untuk ditolak hampir tidak ada.
"Yo Senpai! Ada apa, mukanya serius amat? Tapak kakinya lecet?"
Dugaan khas anak klub atletik... bukan apa-apa kok. Lagian aku kan sudah bukan anak klub atletik lagi."
Sepulang sekolah. Karena hari ini latihan klub atletik diliburkan, Asahi memutuskan pulang bersama Tsumugi.
Meskipun secara akademis cukup berat, Tsumugi yang masuk ke SMA yang sama dengan Asahi berkat jalur rekomendasi olahraga, tetap aktif di klub atletik SMA. Atau lebih tepatnya, karena masuk melalui jalur rekomendasi, dia diwajibkan mengikuti kegiatan atletik.
"Oh iya ya. Nih, mau masuk klub atletik sekarang juga nggak? Di SMA ini, siswa wajib ikut klub kan? Kalau Senpai yang masuk di tengah jalan, pasti langsung jadi pemain inti!"
"Sudah kubilang sebelumnya, karena urusan keluarga aku sudah tidak bisa ikut klub lagi. Sebagai gantinya aku masuk OSIS, jadi kalau kamu memberiku suap, aku bisa memberikan berbagai kemudahan untukmu, Tsukiashi."
"Eh! Senpai, hal semacam itu... mesum banget!"
"Hah? Bukan, bukan begitu maksudnya."
"Kan kata 'suap' itu mirip sama 'suap-suapan' [vulgarian/cabul] kan?!"
"Kan kanji-nya beda! Kalau pakai logika itu, 'Perempatan Y' juga punya arti mesum dong!"
"Lalu mengukur kloset itu artinya juga nggak jelas! Senpai ini orang TOTO ya?!"
"Bukan kloset, tapi kemudahan!! Mengukur juga bukan berarti mengukur dimensi!!"
Tsumugi sangat lemah dalam semua mata pelajaran dasar. Meskipun dia bilang 'yang penting itu latihan dasarnya', kalau prestasi belajarnya terlalu buruk meski lewat jalur rekomendasi, ancaman tinggal kelas tetap ada.
"...Tsukiashi. Belajar yang benar ya? Aku takut kamu malah tinggal kelas atau drop-out duluan."
"Tenang aja! Masih lama kok sampai ujian tengah semester! Masih santai!"
"Kontradiktif banget bilang 'masih santai' padahal mepet..."
Antara mepet atau santai, yah, nuansanya sendiri bisa dipahami sih.
Meskipun Asahi merasa khawatir dengan cukup serius, di sisi lain Tsumugi terlihat sangat menikmati perjalanannya.
"Ho~ta~ru no~, hi~ka~ri~, wa~ga~shi, oi~shi~♪"
"Jangan mencampurkan lagu 'Hotaru no Hikari' menggunakan melodi 'Aogeba Toutoi' lalu diselipi lagu 'Furusato'..."
"Senpai! Di jalan pulang nanti ada toko wagashi (kue tradisional Jepang) yang enak, yuk kita beli!"
"Bukan wagashi, tapi waga-shi (guruku), enak juga bukan oishii tapi oishi... haah."
Berjalan-jalan bersama Tsumugi selalu membuat seseorang merasa seperti sedang mengajak anjing yang tidak bisa diam untuk berjalan-jalan. Perhatiannya selalu berpindah ke mana-mana, dan sangat terburu-buru. Apakah jalan pikirannya seperti batu loncatan di sungai?
"Aku, seneng banget! Bisa jalan bareng Senpai lagi kayak gini!"
Namun pada akhirnya, Tsumugi pasti menoleh ke arah Asahi dan tersenyum memperlihatkan gigi putihnya.
"Begitu ya. Terima kasih. Aku juga senang, bisa jalan bareng Tsukiashi lagi."
Makanya, waktu seperti ini sama sekali tidak kubenci. Justru aku menantikannya—saat Tsumugi masuk ke SMA yang sama dengan diriku. Berbagi waktu senja, hanya berdua saja.
(Bagaimana ya—mulut mana yang berani mengatakan itu.)
Dengan ekspresi tenang, namun di dalam hatinya ia tenggelam dalam cemoohan pada diri sendiri. Karena tidak ada seorang pun yang bisa membaca isi hati orang lain, Tsumugi berjalan mendahului tanpa menyadari suasana hati Asahi tersebut.
"—Hodoki-kun."
Saat itulah, sebuah suara memanggil punggung Asahi. Begitu bergegas menoleh, ada wajah yang dikenalnya.
—Ketua OSIS. Ada apa? Seharusnya hari ini tidak ada kegiatan."
"Maaf ya, sudah menghentikan kalian. Ini, dokumen yang akan dipakai di rapat berikutnya. Sebenarnya rencananya mau diberikan besok, tapi kebetulan punggung Hodoki-kun terlihat, jadi kupikir langsung kuberikan saja."
Ketua OSIS, Kanase Mitoguchi. Bagi Asahi, dia adalah senior satu tingkat di atasnya sekaligus kekasihnya.
Namun di hadapan publik, Kanase tidak menunjukkan perilaku seperti itu. Hanya sebatas menyerahkan dokumen kepada Asahi sebagai sesama rekan di OSIS. "Terima kasih," balas Asahi dengan sopan.
"Wahh—ada dokumen-dokumen segala ya, anak OSIS. Repot ya kayaknya."
Di tengah-tengah mereka berdua, Tsumugi menyembulkan kepalanya secara tiba-tiba.
Tanpa terlihat terkejut sedikit pun, Kanase merespons dengan lancar.
"Murid kelas satu klub atletik, Tsukiashi-san ya? Kenapa latihannya hari ini ditiadakan?"
"Ugh. Eh, libur! Karena libur! Kenapa orang ini tahu namaku?!"
"Hei, Tsukiashi! Kamu tahu tidak siapa yang diajak bicara?"
"Perkenalan langsungnya memang belum pernah ya. Waktu upacara penerimaan siswa baru memang sempat memperkenalkan diri di atas podium sih—perkenalkan sekali lagi. Aku menjabat sebagai ketua di OSIS, Mitoguchi. Kurasa penting bagiku untuk setidaknya mengingat wajah, nama, dan asal klub dari seluruh siswa sekolah. Jadi aku mengingatnya, kan?"
"Eh, Bu Ketua OSIS... sama sekali nggak ingat... tapi, apa perlu ya menghafal semua hal tentang seluruh siswa sekolah?! Eh, tapi perlu ya?!"
Tsumugi menggunakan bahasa kehormatan yang kacau. Kanase membungkam tawanya.
"Tidak perlu kok. Tapi, mumpung sudah jadi ketua. Ya, sekadar iseng saja."
(Benar—tahun ini hal seperti inilah yang akan terjadi.)
Mempertahankan hubungan lima orang sekaligus, tanpa ketahuan oleh satupun dari mereka, dan mengakhiri semuanya secara baik-baik.
Sekali lagi dituliskan pun itu adalah kondisi yang tidak masuk akal, namun alasan mengapa tahun lalu tidak ada tanda-tanda perselingkuhan itu terbongkar adalah karena lingkungan di sekitar Asahi menguntungkan dirinya sendiri.
—Singkatnya, kesempatan bagi para wanita yang dipacarinya untuk bertemu secara kebetulan sangatlah sedikit.
Tsumugi adalah anak SMP, bersekolah di SMP yang berbeda sama sekali. Yui dan Kanase berada di SMA yang sama, namun karena Yui hampir menjadi hikikomori, satu-satunya orang di sekolah yang ditemui Asahi hanyalah Kanase. Universitas tempat Oriko (mahasiswi) berkuliah letaknya jauh, dan Ami yang merupakan pekerja paruh waktu freeter memiliki ruang lingkup kehidupan yang sama sekali berbeda dengan mereka.
Bahkan jika dirinya sedang berbicara langsung dengan salah satu dari mereka, melihat sosok itu oleh pacar yang lain... situasi maupun keberuntungan sama sekali tidak memunculkan hal itu. Namun, tahun ini berbeda.
(Melihatku berjalan bersama Tsukiashi, dilihat oleh Ketua. Yah, aku sudah menduga suatu saat pasti akan ketahuan, tapi ternyata lebih cepat dari perkiraanku. Padahal kutebak hari ini Ketua akan tinggal lebih lama di sekolah karena urusan lain.)
Melihat kekasihnya berjalan bersama wanita lain—orang dari sekolah yang sama—kecurigaan pasti akan muncul.
Oleh karena itu, orang yang harus diputusin pertama kali menurut penilaian Asahi adalah—Tsumugi.
Sebenarnya Kanase juga bisa menjadi pilihan, namun mengingat kemampuan Kanase, Asahi memilih Tsumugi.
Pilihan itu diambil bukan berdasarkan emosi, melainkan semata-mata dari sudut pandang manajemen risiko.
"Maaf, Ketua. Tsukiashi ini junior waktu SMP dulu. Dulu dia satu klub atletik denganku. Hari ini katanya latihan diliburkan, jadi kami pulang bareng seperti masa lalu."
Asahi tidak panik. Situasi ini bisa diperkirakan kapan saja. Di atas semua itu, tidak ada satu pun kebohongan yang diucapkan Asahi kepada Tsumugi maupun Kanase di tempat ini. Dia benar-benar hanya pulang bersama junior klub atletik SMP-nya.
Hanya menyembunyikan kata kunci premis dasarnya—bahwa mereka sedang berpacaran.
"Ah, begitu ya. Tapi hari ini—... ah, sudahlah. Aku masih ada urusan di sekolah, jadi aku kembali dulu ya. Kalian berdua, jangan terlalu banyak mampir ke mana-mana, ya?"
"Haha... akan kuberitahu."
"Ketua, mirip guru ya. Duluan ya~"
Sambil membungkuk kepada Asahi yang membungkuk hormat dan Tsumugi yang melambaikan tangan, Kanase berjalan kembali ke arah sekolah.
Begitu sosoknya tidak terlihat lagi, Tsumugi menghembuskan napas lega.
"Pintar banget sepertinya..."
"Bukan sepertinya, tapi memang pintar. Nilai ujiannya selalu juara satu paralel dari dulu, orang itu."
"Dia manusia bukan?"
"Ya jelas manusia lah..."
Bagi Tsumugi, Kanase mungkin terlihat seperti makhluk dari spesies yang berbeda. Wanita bernama Mitoguchi Kanase itu.
Namun kepintaran Kanase itulah yang menjadi ancaman terbesar bagi Asahi. Meski begitu, khusus untuk kali ini, karena dia bisa membaca alasan tindakan Kanase, bisa dikatakan itu berdampak positif baginya.
(Meskipun masih ada urusan yang tersisa di sekolah, tidak ada perlunya repot-repot mengejarku demi memberikan dokumen besok. Itu sama sekali tidak rasional, Ketua. Artinya...)
Secara kebetulan melihat Asahi berjalan bersama Tsumugi, lalu mengejarnya dengan menggunakan alasan yang pantas.
Meskipun tidak terlihat sama sekali di luar, itu adalah tindakan Kanase untuk memastikan sendiri kecurigaan yang ada di dalam hatinya.
(Karena setelah itu keraguannya berhasil 'dibersihkan', sebagai hasilnya ini bagus sih.)
Asahi memutuskan untuk mengulangi perkataan yang telah ditanamkan kepada Tsumugi sebelumnya.
"Ngomong-ngomong, hebat juga ya Tsukiashi. Peraturan sekolah yang melarang pacaran, kamu ingat dengan benar rupanya."
"Kan? Boleh dipuji-puji lho!"
"Apaan dipuji-puji itu."
"Pujian itu ya pujian! Memuji orang yang ingin dipuji!"
"Kayak tongue twister aja..."
Peraturan sekolah yang melarang pacaran, mungkin sedikit salah kaprah jika dikatakan begitu, tapi secara garis besar tidak salah.
Sekolah ini melarang hubungan antar lawan jenis yang tidak murni di kalangan siswa—di zaman sekarang, peraturan sekolah yang terasa agak kuno itu memang ada di《Sekolah Menengah Atas Sōyō》 tempat mereka berdua menimba ilmu. Meskipun tidak ada sanksi pasti yang ditentukan jika melanggar peraturan ini, tidak sulit membayangkan bahwa kesan di mata para guru akan memburuk.
Oleh karena itu, hampir tidak ada siswa yang secara terang-terangan menyatakan hubungan asmara mereka, dan semua orang berpacaran dengan kerahasiaan setengah-setengah, seperti mengendap-endap dari orang tua mereka hingga larut malam. Kedua orang ini pun tidak terkecuali.
"Parah banget sih. Katanya di SMA lain temen-temenku bilang nggak ada peraturan kayak gitu."
"Peraturan yang aneh ya. Meskipun begitu, kurasa apa yang dikatakan pihak sekolah tidak sepenuhnya salah."
"Eh~? Begitukah."
"Bukankah karena semakin banyak siswa dengan pemikiran seperti itu makanya peraturan ini dibuat...?"
Orang yang paling diuntungkan oleh peraturan sekolah ini bukanlah pihak sekolah, melainkan Asahi sendiri.
Dia telah membuat janji kepada Tsumugi dan Kanase untuk 'tidak menceritakan hubungan mereka kepada orang lain'.
Namun, janji lisan seperti itu suatu saat pasti akan tak sengaja terelang. Sangat mungkin membocorkannya kepada teman atau keluarga. Kalau kepada keluarga mungkin masih tidak apa-apa, tapi kalau dibicarakan pada teman, rumor itu lambat laun akan menyebar.
Mulut manusia tidak bisa ditutup—jika itu terjadi, informasi itu cepat atau lambat akan mencekik leher Asahi.
Alasan mengapa hal itu belum terjadi hingga sekarang adalah karena keberadaan peraturan sekolah ini. Kanase, yang seharusnya berada di pihak yang menjaga ketertiban disiplin, tentu saja mematuhinya, dan Tsumugi yang baru saja masuk sekolah pun mematuhi peraturan tersebut. Dengan kata lain, ada efek pencegah di mana bukan berarti mereka tidak ingin mengatakannya kepada siapa pun, melainkan mereka tidak bisa mengatakannya.
Efek pencegah berupa pemikiran bahwa jika mereka mengatakannya, hal itu akan merepotkan orang yang mereka sukai.
"Yah, aku kan sudah dewasa! Daripada pamer, berpacaran secara sembunyi-sembunyi begini justru membuat api cinta semakin membara, tahu!"
"Begitukah?"
"Entahlah? Nggak tahu."
"Kamu ngomong asal mangap ya."
"Senpai, suka imo-youkan atau mame-daifuku?"
"...Hmm. Tsukiashi mungkin."
"Kalau aku sama choux a la creme pilih mana?"
"Jangan dialihkan dengan santai begitu."
"Ini sistem turnamen lho!"
"Turnamen apa?"
Youkan dan daifuku kacang adalah kesukaan orang tuanya, sedangkan choux a la creme adalah kesukaan adiknya.
Bagi Asahi, itu bukanlah jenis makanan yang sangat ingin ia makan. Kalau artinya seperti itu—meskipun wanita itu sepertinya menganggapnya sebagai lelucon—bahwa Tsumugi adalah yang paling disukainya di antara pilihan tersebut, tidak ada yang salah.
(Meskipun memilih orang lewat metode eliminasi itu sendiri sebenarnya aneh sih...)
"Ah! Gawat, Senpai. Barangkali sebentar lagi aku mau ngomong sesuatu yang bakal bikin dimarahin."
"Ada apa?"
"Dompetku isinya cuma koin lima yen doang!"
"Rasa bingungku lebih besar daripada rasa marah... Kenapa?"
"Biar ada hubungan yang baik (go-en), gitu."
"Malah diputusin nanti kalau dompet isinya cuma lima yen...!"
Lebih parahnya lagi itu bukan alasan yang jelas. Tsumugi sepertinya juga bukan tipe pengguna e-money.
Dengan patuhnya Tsumugi memperlihatkan isi dompetnya. Penuh dengan kartu poin toko, kartu member tempat antah berantah dan lain-lain, tapi benar-benar hanya berisi koin lima yen saja. Aku justru merasakan ketulusan yang blak-blakan.
Padahal sebentar lagi mereka akan sampai di toko wagashi, sungguh ya—Asahi menghela napas.
"Aku traktir. Satu saja."
"Wah, gawat, aku malah bersikap seperti orang yang minta ditraktir. Nggak usah, nggak usah, kapan-kapan saja!"
"Mungkin aku bakal bilang begitu kalau kamu cuma junior biasa."
"Eh?"
"Paham kan. Pacar itu beda."
Sambil berkata begitu, Asahi menarik tangan Tsumugi dan mempercepat langkahnya.
"—h. Curang, Senpai itu."
Setelah sempat terkejut—pipi Tsumugi merona tipis, mirip seperti bunga persik yang terlihat bulan lalu.
***
"—Jadi. Kamu paham kenapa aku sengaja memanggilmu ke sini?"
Beberapa hari kemudian, sepulang sekolah. Di sebuah restoran keluarga dekat stasiun, Asahi dan Tsumugi duduk saling berhadapan.
Yang mengajak adalah pihak Asahi. Namun, ekspresinya kaku. Bahkan mereka belum mengambil minuman dari drink bar.
Di sisi lain, Tsumugi bersikap santai, sedang menyerumuput minuman campuran cola dan calpis buatannya sendiri lewat sedotan sepuas hatinya. Dengan bunyi tsupo, ia melepaskan sedotan dari bibirnya.
"Hih~. Mau dipaksa ngomong ya~?"
"Ya. Mau menyuruhmu ngomong."
"Palingan juga, 'Karena aku ingin berkencan bersama Tsumugi-chan tersayang♡' kan!"
"Haah..."
Dia kelihatannya pura-pura tidak tahu. Asahi memijat pangkal hidungnya dengan jari.
Bukti-buktinya sudah terkumpul. Percuma saja melakukan tanya jawab seperti ini.
Asahi langsung menembak Tsumugi dengan nada serius semampunya.
"—Katanya kamu sama sekali nggak pernah datang. Ke latihan klub atletik."
"Ubugh, ghehoh, gohoh! A, a, penyakit bawaanku... radang biang keringat di tenggorokan kambuh...!"
Tsumugi berpura-pura ada minuman yang masuk ke saluran pernapasannya. Pengetahuannya tentang penyakit tampaknya di bawah rata-rata.
"Apaan radang biang keringat di tenggorokan. Jangan mengalihkan pembicaraan."
"Eh, eetto... dari mana kamu tahu itu...? Jangan-jangan kamu menyewa detektif buat mengawasiku...!"
"Nggak perlu repot-repot menyelidiki sejauh itu juga... Aku cuma ditanya sama pembina klub atletik secara biasa. Katanya Tsukiashi sama sekali nggak pernah datang latihan sejak hari pertama masuk sekolah, apakah aku tahu alasannya."
"Waaah gawat banget... Terus, Senpai jawab apa?"
"Ya mau gimana lagi selain bilang tidak tahu. Toh aku memang beneran nggak tahu."
Kalau dipikir-pikir, saat Kanase bertemu Tsumugi sebelumnya pun, Kanase langsung bertanya pada Tsumugi 'kenapa tidak latihan hari itu'. Mungkin Kanase tahu bahwa hari itu latihan klub atletik tidak libur, dan langsung menyadari kebohongan Tsumugi. Bahwa anak kelas satu ini sedang bolos.
"Kenapa kamu terus-terusan membolos? Sampai-sampai bohong ke aku kalau latihannya libur."
"Itu tuh... Ya kan aku pengen pulang bareng Senpai lagi..."
"Kalau begitu, selain hari itu, harusnya kamu pergi latihan. Di hari-hari kamu nggak ketemu aku pun, Tsukiashi nggak pernah pergi latihan, jadi menurutku itu bukan alasan yang tepat."
Kalau bicara soal masa lalu waktu SMP, Tsumugi memang punya sisi yang terkesan ringan dari segi penampilan maupun ucapan, tapi dia adalah siswi yang tekun dalam hal latihan. Setidaknya, Asahi mengingat bahwa di masa SMP dulu, Tsumugi tidak pernah absen selain karena urusan keluarga atau sakit.
Begitu menginjak bangku SMA, dia bahkan baru sekali datang latihan.
Ada jarak yang cukup jauh antara Tsumugi dalam ingatannya dan kondisi Tsumugi saat ini.
"Kalau cuma bolos sesekali sih... Yah, buat ukuran murid jalur prestasi seperti Tsukiashi sebenarnya nggak boleh sih, tapi kuanggap terpaksa lah kali ini. Latihan bukan segalanya juga. Refreshing dan penyegaran itu diperlukan oleh atlet mana pun, menurutku. Tapi kalau hampir nggak pernah datang, itu kan gawat."
"Ughm..."
Pada dasarnya, Tsumugi masuk ke SMA Sōyō melalui jalur prestasi olahraga atletik. Kelas tempatnya beralamatkan juga diisi oleh banyak siswa dari jalur prestasi olahraga. Itu berarti, selama masa sekolah ia dituntut memberikan hasil di klub atletik, alasan yang berbeda dari siswa biasa yang sekadar ikut kegiatan klub biasa.
Jika dia tidak berniat melanjutkan atletik—maka yang menanti Tsumugi adalah hukuman drop-out tanpa ampun.
"Ceritakan alasannya. Kamu pasti tahu sendiri kan kalau terus begini kamu tidak akan bisa bertahan di sekolah. Kalau tidak bisa menceritakannya padaku, boleh ke guru atau orang tuamu. Jangan memendamnya sendirian—"
"Rasanya membosankan..."
"Eh?"
Memotong ceramah Asahi yang seolah sudah disiapkan berurutan, Tsumugi mengucapkannya sendiri.
Lalu ia melemparkan kedua lengannya ke atas meja, menempelkan pipinya ke permukaannya, dan melemas.
(Reaksinya agak beda dari yang kubayangkan...)
Asahi mengira responsnya akan sedikit lebih serius atau mendalam, namun Tsumugi bersikap sangat biasa, kalau boleh dibilang bersikap apa adanya. Kalau dibilang buruk, dia terlihat tidak paham sama sekali dengan situasinya sendiri.
"Tadi kudengar bilang membosankan. Eh, maksudnya?"
"Ma-ka-nya, ngebosenin gitu lhoh~. Dunia lari itu—..."
"Artinya bakal beda kalau disebut dunia lari... Ah, maksudnya, latihan klub atletiknya membosankan jadi malas datang, begitu?"
"Bup-pin-pong."
Sambil memanyunkan bibirnya, Tsumugi mengucapkan jawaban benar dan salah secara bersamaan.
"Yang mana yang benar?"
"Rasanya separuh benar, separuh salah~..."
"Di sebelah mana yang salah?"
"Bukan latihan klubnya, tapi lari itu sendiri yang ngebosenin. Cuma itu."
"Itu kan—"
Alasan kekanak-kanakan seperti malas karena membosankan lalu berhenti berlari, fase seperti itu sudah lama berlalu. Tsumugi adalah orang yang memiliki bakat sebesar itu.
"Oleh karena itu—pernyataan itu tidak bisa dibiarkan."
Oleh sebab itu, bagi Asahi yang terpaksa merelakan masa muda yang direnggut oleh urusan keluarga, ucapan Tsumugi itu sangat menyulut emosinya. Asahi tidak menyembunyikan sedikit kemarahan yang terselip dalam kata-katanya.
Hal itu sepertinya tersampaikan kepada Tsumugi, karena ia bangkit dari postur tubuhnya yang lemas.
"...Kamu mau memarahiku?"
"Ya. Maaf ya, aku agak kesal."
"Kalau gitu—"
Dari dalam tas sekolahnya yang sudah dipenuhi berbagai macam gantungan dan hiasan, Tsumugi mengeluarkan sesuatu.
Selembar kertas tanpa kerutan sedikit pun. Dengan gerakan meluncur di atas meja, ia mendorongnya ke hadapan Asahi.
"—Sebagai Senpai di klub, marahi aku."
Asahi menatap formulir pendaftaran klub yang masih kosong itu dalam keheningan.
Kali ini ada kesungguhan dalam suara Tsumugi. Meskipun Tsumugi payah dalam hal belajar, tapi dia tidak bodoh.
Mungkin dia datang ke tempat ini dengan perkiraan garis besar mengenai alasan Asahi memanggilnya, apa yang akan dikatakan, dan apa yang ingin disampaikan. Sulit dipercaya kalau dia kebetulan membawa benda ini.
"Itu, tidak bisa kulakukan."
"Kenapa?"
"Sudah kubilang kan. Karena urusan keluarga, aku tidak bisa ikut klub lagi. Kalaupun bisa, hanya klub budaya yang santai."
"Tapi, kamu kan di OSIS! Katanya kegiatan OSIS juga lumayan ketat, lho?"
"Dibandingkan klub olahraga, OSIS lebih fleksibel kok."
"Klub atletik juga siapa tahu nggak apa-apa kalau dijelasin soal urusan keluarga itu!"
"Bukannya masalah itu."
"Aku! Mau sekali lagi, ikutan kegiatan klub bareng Senpai!"
Tsumugi yang biasanya cukup penurut kali ini sama sekali tidak mau mengalah.
Dia menginginkannya. Agar Asahi masuk ke klub atletik.
(Ah, begitu ya. Aku sudah menduganya—)
Menarik napas sedikit lebih dalam, Asahi memegang formulir pendaftaran klub tersebut.
— Brik.
Lalu begitu saja, seolah memamerkannya di depan Tsumugi, ia merobeknya menjadi dua bagian secara vertikal.
Menolak dan menginjak-injak keinginan Tsumugi secara mentah-mentah. Tindakan semacam itu sengaja ia pilih.
"…………っ"
(Bagaimana reaksimu, Tsukiashi. Pacarmu ini adalah sampah paling brengsek. Kecewalah padaku. Rendahkan aku. Bencilah aku. Dan kalau bisa, langsung saja denganku—)
Saat mengetahui Tsumugi tidak datang latihan, Asahi memikirkan alasannya seorang diri.
Bukan masalah kondisi fisik. Mentalnya juga tenang.
Kalau begitu—meskipun ini terlalu percaya diri—pilihan kemungkinannya jatuh pada dirinya sendiri.
Tsumugi ingin melakukan kegiatan klub bersama Asahi sekali lagi.
Jika ini adalah motivasi dan alasan baginya untuk tetap melanjutkan lari meskipun sudah SMA.
Memanfaatkan hal itu, tidak bisakah digunakan ke arah bagaimana cara memutuskan hubungan?
Asahi yang merencanakan hal tersebut berhasil membawanya hingga ke situasi yang 'bisa digunakan'. Tentu saja, jika alasan Tsumugi tidak datang latihan adalah karena hal lain, dia tinggal bergerak menyesuaikan hal itu. Tapi sepertinya, gadis itu lebih menyukai kegiatan klub bersama Asahi melebihi dugaannya. Baik itu hal yang menyenangkan maupun menyedihkan, ini bahkan bukan salah perhitungan.
(Aku mau muntah. Berpura-pura seolah tidak tahu apa-apa, padahal sejak awal aku sudah paham dan sengaja mengambil tindakan ini. Ingin dibenci oleh orang lain, aku sudah tidak waras.)
Tsumugi menatap lekat-lekat formulir pendaftaran yang robek itu.
Kalau-kalau dia menangis. Kalau begitu, hatinya akan terasa sakit.
Karena sakit itulah, ia tidak bisa begitu saja menuruti permintaan pihak lawan.
Tsumugi bergumam kecil, "Begitu ya." Dan dengan sembarangan ia merogoh tasnya.
"Tapi aku masih punya seratus lembar lagi kok!!"
"Mana mungkin..."
Tumpukan kertas yang keluar dari tasnya ternyata semuanya adalah formulir pendaftaran klub yang kosong. Mendengar Tsumugi mengatakannya dengan ekspresi ceria, Asahi yakin bahwa perhitungan awalnya sama sekali tidak berjalan lancar.
"Kamu terlalu santai, kan...?"
"Fufuun. Aku kan seorang kerorist!"
"Apaan itu mirip teroris saja."
Kira-kira itu adalah istilah buatan untuk menyebut tipe manusia yang tetap santai apa pun yang terjadi.
Tsumugi tidak menerima kerusakan mental, bahkan sebaliknya, sepertinya dia sudah membaca tindakan Asahi.
"Lagian, urusan keluarga Senpai itu sebenarnya apa sih? Kamu sudah ngomong begitu sejak lama, tapi belum pernah cerita jelas padaku kan? Walaupun aku ngerti kalau kamu nggak mau cerita sih."
"Sebelum masuk SMA, orang tuaku meninggal karena kecelakaan. Aku harus mengurus adik perempuanku."
"Eh"
Orang-orang yang mengetahui keadaan ini adalah Yui sang teman masa kecil, Kanase yang akrab dengan urusan siswa, serta Ami rekan satu tempat kerjanya, namun sekarang Tsumugi ditambahkan ke dalam daftar itu.
Niat Asahi yang sebenarnya adalah sesedikit mungkin orang yang tahu. Jika tahu, tentu saja mereka akan merasa kasihan.
Namun, setidaknya dalam menjaga hubungan pria dan wanita, rasa kasihan itu akan menjadi penghalang, pikir Asahi.
"...Begitu ya. Maafkan aku. Aku tidak peka."
"Yah, tidak apa-apa. Asal jangan disebar-sebarkan."
"Aku nggak akan bilang ke siapa-siapa."
"Ya. Tolong ya."
Kali ini sang kerorist tampaknya kehilangan julukannya, Tsumugi tampak ciut.
Tujuan utamanya bukanlah untuk membuat gadis itu down. Asahi mengalihkan topik dengan berkata, "Bagaimanapun juga."
"Makanya aku tidak bisa masuk klub atletik. Tapi, Tsukiashi berbeda. Kamu harus tetap datang latihan, kan? Alasan 'karena aku tidak ada jadi malas' itu bukan alasan yang benar. Paham?"
"Mh-mm..."
"Bagian itu tolong anggukilah dengan jujur."
"Mm-m... Hm?"
"Ada apa."
Tsumugi melipat tangan di dada sambil perlahan menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan. Itu adalah kebiasaan kecilnya saat sedang berpikir.
Apakah masih ada hal yang perlu dipikirkan? Asahi menunggu kalimat selanjutnya dari gadis itu.
"Aku tahu! Kalau begitu, aku mau latihan mandiri bareng!"
"Latihan mandiri, denganku?"
"Iya! Pagi-pagi buta atau malam hari! Kalau begitu gimana?!"
"Gimana ya... Kalau begitu apa kamu mau pergi latihan klub?"
"Mau!"
Kalau ditanya apakah ada waktu luang di pagi hari atau malam hari, Asahi sebenarnya tidak punya.
Dalam situasi berpacaran dengan lima orang sekaligus, menghabiskan waktu dengan fokus hanya pada satu orang saja membawa risiko yang cukup besar. Kalau saat itu keadaannya diketahui sedang melakukan apa—sedang tidur, bekerja paruh waktu—mungkin masih mending, tapi melakukan latihan mandiri bersama Tsumugi adalah tugas merepotkan jika sampai ketahuan oleh empat pacar lainnya.
"...Baiklah. Kalau latihan mandiri aku temani."
"Asyik!"
"Namun, ada syaratnya."
"Eh?!"
Oleh karena itu, Asahi memutuskan untuk memanfaatkan situasi ini.
Karena Tsumugi mengajukan permintaan, itu artinya permintaan darinya pun akan lebih mudah diterima.
"Menjelang turnamen musim panas nanti, klub atletik harusnya memutuskan perwakilan untuk masing-masing cabang bulan depan. Kamu harus masuk ke dalam daftar itu."
"Eh, serius? Padahal aku anak baru kelas satu lho? Biasanya kan perwakilan dipilih dari kelas dua atau tiga. Eh, kalau aku sepertinya yang masuk kategori itu nomor 100 atau 200 meter ya?"
"Yah, jatuhnya ke lari jarak pendek ya. Tsukiashi kan memang spesialis di situ."
"K-kalau seandainya aku nggak masuk perwakilan...?"
"—Aku putus dengan Tsukiashi."
"Uwaaahhh?! Apa-apaan itu?!"
Mengabaikan Tsumugi yang terkejut setengah mati, Asahi tetap bersikap tenang.
Di bawah aturan《Permainan Kehidupan Orang Lain》 di mana hubungan tidak dianggap putus jika kedua belah pihak tidak sepakat, bagaimana cara menarik 'persetujuan' tersebut? 'Persetujuan' tidak selalu hanya berasal dari emosi pihak yang bersangkutan.
Cukup dengan membuat pihak lawan terpaksa menyetujui—dengan kata lain, membuat mereka menelan syarat yang diajukan.
"Sudah kukatakan dari awal ini bukan lelucon. Aku akan menemanimu latihan mandiri dengan benar. Dan Tsukiashi harus berusaha semaksimal mempraktikkan atletik dan memberikan hasil yang jelas. Hanya puas karena sudah latihan mandiri denganku saja tidak boleh. Tanggung risikonya. Kalau hasilnya tidak ada, aku akan putus dan tidak mau menemani latihan mandirimu lagi."
"Kejam... Kayak Senpai yang dulu..."
Karena tahu itu diucapkan secara serius, Tsumugi tidak mengajukan sanggahan.
Bagaimanapun, Asahi adalah tipe orang yang dulunya menekuni kegiatan klub dengan sungguh-sungguh saat SMP. Dan sekarang, kurangnya keseriusan itu ada di pihak Tsumugi, sehingga dia merasa bersalah. Asahi memanfaatkan celah itu dengan mahir.
"Dengar, Tsukiashi. Kamu harus melakukan semuanya. Berpacaran denganku, pergi latihan klub, dan memberikan hasil di sana, semuanya. Itulah wujud yang seharusnya dari seorang murid jalur prestasi—dan jika aku menjadi penghalang untuk itu, kita tidak seharusnya berpacaran. Aku menyukai Tsukiashi yang bisa menyeimbangkan keduanya."
"Menyeimbangkan..."
— Aku menyukai wujud Tsukiashi saat berlari. Tentu saja, saat tidak berlari pun aku suka.
Kata-kata saat ditembak itu muncul kembali di benak Tsumugi, bergemanya kuat.
Dia tidak melupakannya. Justru karena itulah Asahi secara sengaja memilih kata 'menyeimbangkan'.
"...Aku mengerti. Kalau hasilnya nanti gagal, kita putus."
Tsumugi menyetujuinya. Sejak awal, ia dibebani tiga tahun di mana ia tidak bisa lepas dari dunia atletik.
Melakukan semuanya. Justru karena itu adalah hal yang wajar, tidak ada keraguan di hatinya.
"Ya. Janji. Sebagai gantinya, aku akan menemanimu latihan mandiri kapan pun."
"Hm. Janji!"
Tanpa dikomando, mereka mengulurkan tangan dan melakukan fist bump.
"Yah, omong-omong aku kan punya bakat? Masuk perwakilan meskipun baru kelas satu juga gampang kali? Lagi pula kalaupun seandainya aku gagal mewakili klub, kurasa Senpai bakal nangis karena sebenarnya nggak mau putus, sih?"
"Heh."
Begitulah—Tsumugi kembali bergabung dengan klub, dan memutuskan untuk melakukan latihan mandiri bersama Asahi.
Dengan syarat bahwa jika gagal menjadi perwakilan, mereka akan putus.
***
"—Begitu ya. Jadi dengan cara cerdas itu kau berhasil menghasut gadis itu. Kontradiktif dan sungguh menyenangkan. Sambil menemaninya latihan mandiri sebagai pacar, jauh di lubuk hatimu kau malah berharap dia tersandung dan jatuh, kan? Kau pria yang mirip iblis, Hodoki. Ah, sungguh iblis—"
Saat aku menceritakan seluruh kronologis kejadian kepada Kirio, reaksi seperti inilah yang kudapatkan.
Namun, alih-alih mengejek, Kirio saat ini tampaknya lebih diliputi oleh rasa jengkel.
"—Padahal aku harus pergi latihan mandiri mulai subuh-subuh sialan ini!"
Brak, Kirio meletakkan cangkir mug berisi kopi panas ke atas meja dengan kasar.
Itu adalah cara meletakkan yang terampil, hanya menimbulkan suara keras sementara isinya tidak tumpah sama sekali.
"Namanya juga latihan pagi, ya pasti pagi-pagi buta."
"Terlalu pagi, tahu, sialan! Coba pikirkan perasaan orang yang membuatkan makanan sepagi ini, dasar kepala bodoh!"
(Kepala bodoh apa pula...)
Hari masih gelap, bahkan sedikit terlalu dini untuk fajar. Asahi bangun pagi-pagi sekali demi latihan pagi bersama Tsumugi, namun Kirio dengan telaten datang menyesuaikan waktu ini dan membuatkan sarapan.
Mungkin karena sedang kesal, seragam pelayannya sedikit berantakan dan rambutnya yang berantakan karena tidur pun tampak mencolok.
"Sebenarnya kamu tidak perlu memaksakan diri datang..."
"Mana bisa begitu. Selama kamu bangun, aku juga harus bangun, dan aku hanya diizinkan tidur saat kamu tertidur. Itulah tugas seorang pengawas... fuuun."
Privasi atau waktu pribadi tidak eksis bagi Asahi. Kapan pun dan dalam situasi apa pun, para pengawas yang diwakili oleh Kirio selalu mengawasi Asahi. Dengan cara yang sama sekali tidak disadari oleh yang bersangkutan.
"Ah, tidak bisa. Aku ngantuk..."
"Mau tidur sebentar? Di tempat tidurku."
"Kupakai... Pengawasanku kuserahkan pada pengganti..."
Begitu saja, Kirio langsung merebahkan diri ke tempat tidur Asahi tanpa sungkan.
Padahal Asahi hanya berniat melontarkan lelucon ringan, tapi dia sepertinya benar-benar mengantuk.
"Kupikir setidaknya kau punya sedikit rasa sungkan."
"...Apaan sih. Ah, seragam pelayannya jadi kusut... Ya sudahlah."
(Bukannya itu masalahnya...)
Kirio membenamkan kepalanya di bantal milik Asahi seolah-olah itu miliknya sendiri. Menggunakan bantal milik orang lain memunculkan rasa sungkan dan rasa bersalah yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Apakah boleh seperti ini, pikir Asahi.
(Yah, Yui juga dulu sering tidur di futon-ku sih...)
"—Ah... benar, Hodoki."
"Hm? Ada apa, Kirio."
"Kau mungkin berpikir semuanya berjalan dengan lancar—tapi aku tidak berpikir begitu. Gadis pelari itu tidak normal... dia berlari tanpa henti sampai batas. Melampaui apa yang kita bayangkan."
"Maksudmu, dalam waktu kurang dari sebulan Tsukiashi akan menjadi perwakilan klub? Tidak, mana mungkin. Klub atletik kita kan tergolong kuat. Kurasa mustahil anak kelas satu bisa langsung menyusip masuk."
Selain itu, sejak berhenti dari klub atletik di kelas tiga SMP hingga masuk SMA, Tsumugi memiliki masa vakum. Tampaknya dia tidak terus-menerus melatih tubuhnya dengan giat. Aku sempat berpikir bagaimana bisa begitu jika masuk lewat jalur prestasi olahraga, namun Tsumugi adalah tipe orang yang—baik atau buruk—catatan waktunya sangat dipengaruhi oleh motivasinya sendiri.
Kirio, yang mulai mengekspresikan rasa mengantuknya melalui kelopak mata yang hampir tertutup, berkata dengan suara yang nyaris menghilang.
"...Mungkin saja. Atau... hal setelah itu. Berhati-hatilah sebentar lagi..."
Kirio langsung tertidur dalam waktu singkat. Entah itu teguran atau peringatan, Asahi menyimpan kata-kata pelayan itu di dalam hatinya, lalu memutuskan untuk pergi ke tempat berkumpul latihan pagi.
"Ketiduran!"
"Aku tahu..."
Tsumugi datang terlambat sekitar empat puluh tahun—eh, empat puluh menit dari waktu berkumpul.
Mendengar alasan keterlambatannya disampaikan dengan wajah ceria, rasa marahnya pun mendadak menguap.
"Aku kan nunggu morning call dari Senpai lho~?"
"Kamu cek riwayat panggilan masuk nggak?"
Sudah tak terhitung jumlah panggilan yang kulakukan menggunakan kedua tangan. Meskipun begitu, Tsumugi memang pada dasarnya tidak bangun saja.
Tempat latihan pagi adalah taman olahraga yang biasa mereka gunakan untuk latihan mandiri semasa SMP.
Mungkin karena masih sebelum fajar, sama sekali tidak ada sosok orang di sekitar. Meskipun sudah bulan April, udara pada jam-jam begini terasa sedikit dingin. Jika tidak melakukan pemanasan dengan benar, hal itu bisa memicu cedera.
"Mikirin mau latihan mandiri bareng Senpai lagi setelah sekian lama, aku jadi nggak bisa tidur. Masuk futon jam sembilan, tapi setelah itu ingatanku langsung blank."
"Kamu tidur lama banget dong kalau gitu."
"Nah! Kalau gitu, mulai pemanasan dulu yaaa~"
"Padahal aku pemanasannya sudah selesai dari tadi..."
Asahi yang kelebihan waktu luang sudah lebih dulu menyelesaikan pemanasannya seorang diri, dan berada dalam kondisi siap bergerak kapan saja.
Di sisi lain, Tsumugi dengan pace-nya sendiri memulai dari gerakan peregangan.
"Senpaaai. Dorong punggungku dong~"
"Iya, iya."
Aku berjalan ke belakang Tsumugi yang sedang melakukan straddle stretch (duduk mengangkang sambil membungkuk ke depan), lalu mendorong punggungnya dengan mantap.
Rasanya seperti menekan pegas yang lentur. Fleksibilitas tubuhnya tidak bisa dibandingkan dengan Asahi.
"Tubuhmu masih selentur dulu ya, Tsukiashi. Iri deh."
"Eh? Tapi selentur apa pun nggak begitu ngaruh ke lari sih."
"Mana bisa begitu. Orang yang lebih fleksibel itu lebih nggak gampang cedera."
"Hee—. Rasanya tahu nggak bakal gampang cedera karena mirip Tahu."
"Emangnya bayangan tentang Tahu itu nggak gampang cedera? Kan rapuh..."
Rupanya di dalam benak Tsumugi, bayangan tubuh yang fleksibel itu adalah Tahu. Sensitivitas yang unik.
Setelah selesai peregangan, mereka melakukan jogging ringan mengelilingi tepi luar taman olahraga.
Begitu tubuh mereka sudah cukup hangat, latihan pagi pun dimulai dengan sungguh-sungguh.
"Kalau begitu kita mulai dari lunge ya."
"Aku paling nggak suka itu..."
"Makanya harus dilakukan."
Lunge adalah singkatan dari lunge walk, latihan tubuh bagian bawah yang utamanya melatih otot paha dan hamstring. Dengan satu kaki sebagai poros, langkahkan satu kaki lainnya jauh ke depan, lalu turunkan tubuh secara perlahan tegak lurus ke tanah sementara lutut kaki tumpuan ditekuk. Setelah itu, langkahkan kaki yang di depan tadi sebagai poros baru untuk berjalan, beberapa langkah kemudian langkahkan kaki satunya lagi jauh ke depan dengan posisi yang sama... gerakan tersebut diulang beberapa kali.
Rasanya seperti berjalan sambil melakukan squat, dan hanya dengan melakukannya beberapa kali saja bagian kaki bawah akan terasa kaku luar biasa. Tsumugi sangat membenci latihan yang sepele namun melelahkan seperti ini.
"Aaaaaah, otot-ototku rasanya mau putus!"
"Kalau beneran putus nanti aku panggil ambulans ya. Berarti tendonnya robek."
"Cuma rasanya!"
"Iya, iya."
Meskipun banyak mengeluh dengan mulutnya, Tsumugi tetap menyelesaikan latihannya dengan benar.
Dia hanya sekadar banyak bicara, bukan berarti karena benci lantas tidak mau melakukannya.
"Ngomong-ngomong, aku sudah merancang menu latihannya. Karena kita mau sekolah setelah ini, dan sore nanti juga ada latihan klub, agar tidak terjadi overtraining, kita fokuskan ke dasar-dasar dulu ya."
Mengingat ada perbedaan fisik antara pria dan wanita, tidak mungkin memberikan porsi latihan yang persis sama. Karena Tsumugi adalah pemeran utamanya, Asahi telah merancang menu latihan sebelumnya agar disesuaikan dengan kapasitas gadis itu.
"Yah, Senpai mikirin macem-macem buat aku, rasanya seneng deh!"
"Biasa saja. Lagian kalau dibiarkan latihan mandiri terserah Tsukiashi, nanti ujung-ujungnya cuma lari-lari sembarangan tanpa mikir apa pun."
"Pintar banget, Senpai emang paham banget ya tentang aku."
"Jangan bangga. Dan jangan pakai bahasa Kansai yang setengah-setengah."
"Oh iya! Aku pengen coba itu! Kejar-kejaran!"
"Jangan asal minta permintaan mendadak dong... Kejar-kejaran itu maksudnya chuisou (lari kejar)?"
"Itu dia! Kayaknya itu!"
"Setidaknya ingatlah nama latihannya."
Chuisou, atau lari kejar, adalah salah satu latihan sprint yang dilakukan secara berpasangan.
Pihak yang mengejar berlari dengan sekitar delapan puluh persen tenaga, dan pihak yang dikejar, begitu pihak yang mengejar mendekat, berlari melarikan diri dengan porsi delapan puluh persen tenaga juga. Pada akhirnya pihak yang mengejar melakukan akselerasi dan menyentuh punggung lawan untuk bertukar posisi... begitulah aturan internal klub masa SMP mereka berdua.
"Ini kan bukan lapangan, nggak ada pylon atau pita pengukur buat nentuin zone-nya, lagian ini bakal lumayan nguras tenaga jadi kalau latihan kejar-kejaran dilakukan pas latihan pagi—"
"Kalau gitu aku jadi peloncat—eh pelari, Senpai bagian yang ngebantu ya, oke."
"Maksa banget... Kamu benar-benar mengabaikan menu latihan buatanku ya."
Tidak perlu merampungkan semuanya dengan sempurna sejak awal. Memahami hal itu, Asahi memutuskan menuruti perkataan Tsumugi. Setelah itu, mereka mengambil jarak yang cukup satu sama lain.
(Karena sudah lama tidak melakukannya, apa aku bisa melakukannya dengan baik?)
Pihak yang dikejar juga tidak bisa sembarang asal lari. Harus berlari menyesuaikan tempo lawan, terlalu cepat atau terlalu lambat sama-sama tidak boleh. Jika kecepatannya tidak terkejar, itu hanya akan menjadi bentuk pemalakan waktu, dan jika tertangkap terlalu cepat, latihannya jadi tidak ada gunanya.
Tanpa disadari ini adalah latihan yang menuntut kemampuan dan kecocokan pernapasan satu sama lain.
Oleh karena itu, Asahi yang sudah lama meninggalkan dunia atletik merasa tegang di luar dugaannya sendiri.
"Mulai ya!"
Tsumugi berlari melesat. Asahi langsung menyadari bahwa teknik larinya sedikit berantakan. Apakah karena sudah lama vakum, atau karena masih pagi buta. Sulit untuk memastikannya, tapi dia pasti perlu mendapatkan bimbingan di klub nanti.
Seharusnya memasang pylon untuk menandai batas zone, tapi karena benda itu tidak ada, Asahi juga harus mulai berlari berdasarkan perkiraan mata saja.
Setelah memastikan Tsumugi mendekat sampai batas tertentu, Asahi ikut berlari.
(Kira-kira temponya segini ya)
Membayangkan wujud Tsumugi saat berlari di masa SMP dalam benaknya.
Awalnya dia bukan atlet yang begitu menjanjikan. Namun seiring bertambahnya latihan, sebelum disadari dia tumbuh menjadi salah satu sprinter terkemuka di klub atletik putri.
Kaki dan tangan yang panjang serta kelenturan sendi pergelangan kakinya adalah bawaan lahir, dan tidak disangka dia memiliki semangat pantang menyerah yang kuat.
Namun staminanya tidak begitu besar, sehingga dia sangat cocok menjadi seorang sprinter.
(Sungguh... wujudnya saat berlari benar-benar indah.)
Tsumugi yang biasanya ceria dan menjadi pencair suasana yang cerah, penampilannya berubah drastis saat berlari.
Hanya karena alasan itu dia cukup populer di kalangan anak laki-laki, tapi entah mengapa dia malah menyukai orang sepertinya. Asahi sempat berasumsi bahwa gadis itu menyukai pria yang lebih tua.
"Ketangkeeeeeep..."
"Eh?"
"Hap!"
Benturan keras merambat dari punggung hingga ke pinggang. Tanpa sempat berpikir, Asahi terdorong ke depan dan terjatuh ke tanah dengan gaya head-sliding.
"Uwoaaaaaaaahhhhh—!!"
Jika bagian bawahnya bukan rumput yang empuk, dan jika dia tidak mengenakan jersey lengan panjang, mungkin dia sudah mengalami cedera yang lumayan. Dari beban yang dirasakan di atas punggungnya, Asahi menyadari apa yang baru saja terjadi.
"Tsukiashi, kau ini ya! Jangan asal menerjang ke mari! Bahaya tahu?!"
"Yah, tadi kupikir bakal mental lebih jauh dari perkiraan jadi kaget~ Punggung tanganku jadi lecet nih."
"Kacau banget..."
Intinya, Tsumugi melingkarkan tangannya ke pinggang Asahi dari belakang lalu melakukan tackle.
Rasa marahnya melampaui keterkejutan atas tindakan mendadak itu, dan Asahi kini sudah merasa pasrah.
"Kan, Senpai larinya agak lambat sih."
"......Eh. Begitukah?"
"Iya. Ah, 'kalau begini pasti gampang terkejar nih—' gitu. Kalau gitu latihannya jadi nggak berasa, jadi 'ah, kalau gitu mending aku meluk Senpai sekuat tenaga aja deh'. Gimana? Ide jeniusku ini!"
"Bahaya, jangan diulangi lagi...!"
Rupanya Asahi gagal menyelaraskan temponya. Kalau begitu seharusnya dia bisa meminta mengulang dari awal, tapi cara berpikir Tsumugi benar-benar di luar nalar. Yah, yang di luar nalar sebenarnya fisik mereka berdua sih.
"Atau lebih malahan, lepasin gih. Keliatannya kayak adegan penangkapan pelaku kriminal."
"Gimana ya enaknya~"
Tsumugi menggosok-gosokkan wajahnya ke punggung Asahi. Ditambah lagi dia memeluknya dengan tenaga yang cukup kuat, membuatnya tidak bisa melepaskan diri.
Biarkan saja dia berbuat sesuka hatinya untuk sementara waktu—pada saat Asahi menghela napas pasrah, dunia mulai bertunas dan mewarnai dirinya. Garis-garis cahaya membelai tanah, memantulkan warna hijau rumput yang cerah.
Disinari oleh cahaya itu, mereka berdua melepaskan suara secara bersamaan.
"—Fajar."
"Mulai silau nih!"
Meskipun dari segi pembendaharaan kata atau kemampuan ekspresi ada perbedaan, sih.
"Nah, kita harus lanjut latihan pagi!"
Begitu melepaskan Asahi, Tsumugi bangkit berdiri.
Asahi mengikutinya berdiri, lalu membersihkan rumput dan tanah yang menempel di jersey-nya menggunakan tangan.
"Cahaya matahari pagi... Matahari terbit! Sama kayak Senpai, hari ini juga lucky dan happy!"
"Apa-apaan teori itu. Pokoknya, waktu kita masih ada, ayo lanjutkan latihan pagi."
"Ba-ik!"
Tidak ada artinya merusak tubuh akibat overtraining. Latihan pagi ini terus berlanjut setiap beberapa hari sekali.
Meskipun awalnya Asahi memiliki perasaan yang rumit, lambat laun ia terbiasa dengan latihan pagi ini secara alami.
Menggerakkan tubuh bersama Tsumugi, saling melontarkan candaan, terkadang memarahinya. Mentraktirnya jus.
(Ah...)
Emosi yang hinggap di dadanya setelah itu, adalah emosi yang sama sekali tidak diharapkan. Sebuah kontradiksi besar.
Seseorang yang berjuang demi sesuatu itu indah. Dan, mereka pantas mendapatkan imbalan. Sama sekali tidak boleh berakhir sia-sia. Jika itu sia-sia, pasti tidak akan ada lagi orang yang sanggup berjuang.
Tsumugi sedang berjuang. Justru karena menyaksikannya dari jarak dekat, dia merasakannya dari lubuk hati yang paling dalam.
(......Tsukiashi, kuharap dia tidak terpilih menjadi perwakilan ya...)
—Kau pria yang mirip iblis, Hodoki.
Asahi harus menghadapi arti sebenarnya dari kata-kata yang dilontarkan oleh Kirio.
***
Hari itu, Tsukiashi Tsumugi sama sekali tidak merasa gugup.
Jangankan turnamen yang mempertandingkan atlet dari sekolah lain, kompetisi di dalam klub saja tidak cukup membuatnya gugup.
Cabang atletik, khususnya lari jarak pendek, adalah olahraga dengan aturan yang sangat simpel.
Siapa yang paling cepat, hanya itu saja ukurannya. Siapa yang melewati garis finis lebih dulu dari yang lain, itu saja.
(Kalau harus menang melawan anak kelas dua atau kelas tiga sih, susahnya setengah mati~)
Orang yang terpilih menjadi perwakilan klub dibatasi maksimal tiga orang untuk setiap nomor. Bahkan jika memasukkan pemain cadangan, empat orang adalah batasnya.
Tentu saja, tingkat kelas tidak berpengaruh di sana. Jika cepat, anak kelas satu pun akan dipilih.
Namun, dibandingkan dengan anak kelas dua dan kelas tiga yang fisik dan tekniknya sudah matang, anak kelas satu lulusan SMP secara keseluruhan masih belum sempurna.
Bahkan jika melihat sejarah klub, hampir tidak ada contoh anak kelas satu yang terpilih menjadi perwakilan sejak awal masuk.
(Yah, bodo amat sih. Tinggal lewatin semuanya kan? Gampang.)
Seleksi internal klub dilakukan melalui beberapa kali pencatatan waktu. Berdasarkan catatan waktu tersebut, sang pembimbing akan memilih para perwakilan—namun satu-satunya kemungkinan di mana orang yang lambat terpilih adalah nol.
Tsumugi mengambil posisinya. Mengatur napasnya dalam-dalam, merasakan pijakan starting block di telapak sepatunya.
(Aku sudah banyak latihan mandiri. Tiap hari juga dateng klub. Sebulan ini, aku sudah berusaha. Nggak apa-apa. Bisa. Mampu. Menang. Pasti dapet juara satu.)
Tsumugi tidak begitu paham bagian mana dari dirinya yang disukai oleh Asahi Hodoki.
Memikirkannya pun percuma, namun satu hal yang bisa ia katakan adalah, hanya wujud saat dirinya berlari itulah yang dipastikan akan selalu disukai oleh Asahi.
Itulah mengapa sejak awal dia seharusnya tidak mengambil jarak bahkan sedikit pun dari dunia atletik.
(Karena kita sudah pacaran, aku jadi bermanja-manja. Kupikir dia bakal terus suka padaku selamanya, padahal hal kayak gitu nggak mungkin terjadi. Hal yang menghubungkan aku dan Senpai, dulu maupun sekarang—)
Suara kosong dari pistol starter menusuk telinganya. Pada saat itu, darah mengalir ke seluruh tubuhnya, sinyal elektrik dikirimkan ke otot-ototnya, dan Tsukiashi Tsumugi melesat keluar seperti pegas.
(—Hanya berlari, titik!)
Bagi mereka berdua untuk melangkah ke tahap selanjutnya, mungkin baru akan terjadi setelah Tsumugi menjadi anak kelas tiga dan pensiun dari klub atletik. Sampai saat itu tiba, Tsumugi hanya akan membuktikan nilai dirinya melalui terus berlari.
Bahwa diriku yang disukai olehmu ini, memiliki kecepatan lari yang sehebat ini.
Bahkan jika di mata orang yang tidak tertarik pada atletik, pandangan nilai itu mungkin berujung pada ejekan sekalipun.
(Semuanya! Keseimbangan! Cinta juga! Atletik juga! Dua-duanya!)
Itulah nilai dan ikatan milik mereka berdua saja yang menghubungkan Tsumugi dan Asahi.
Oleh karena itu Tsumugi membidiknya, dan berusaha mencapainya. Lebih cepat dari siapa pun, lebih dulu dari siapa pun.
Jika tidak begitu, semuanya tidak akan dimulai. Jika tidak begitu, semuanya akan berakhir.
(Juara satu dalam segala hal! Adalah milikku!!)
Menuju garis finis, garis akhir masa remaja bagi Tsukiashi Tsumugi dan Asahi Hodoki—ia berlari menembusnya.
***
Jika mau, sebenarnya Asahi bisa saja pergi meninjau latihan klub atletik sepulang sekolah.
Memungkinkan baginya untuk mengetahui apa hasil dari Tsumugi di sana, dan bahkan gadis itu sendiri memintanya untuk datang memberikan dukungan, namun Asahi menolaknya mentah-mentah. Soal mengetahui hasilnya, ia memintanya disampaikan lewat mulut Tsumugi sendiri setelah semuanya usai.
Malam harinya, Asahi tiba di taman olahraga yang sudah sangat familier dengan berlari kecil.
Pekerjaan paruh waktunya sedikit lebih lama dari biasanya, membuatnya terlambat dari waktu yang dijanjikan.
(Biasanya kan selalu pihak Tsukiashi yang telat, jadi toleransi buat hari ini ya.)
Dia sudah mengirimkan pesan pemberitahuan akan terlambat. Meskipun pesan itu tidak kunjung dibaca.
Tempat pertemuannya pun adalah area yang biasa mereka gunakan untuk latihan mandiri. Di bangku yang ada di sana, Tsumugi duduk dengan lemas. Asahi mendekatinya sambil memastikan tidak ada bayangan orang lain di sekitar.
"Oi, Tsukiashi. Maaf ya, tadi ada lembur kerja paruh waktu. Nunggu lama?"
"Hmm. Yah, sekitar lima jam?"
"Jangan ngawur."
Ekspresi Tsumugi tidak bisa terbaca sama sekali. Bisa dibilang sama seperti biasanya.
Asahi duduk di bangku sebelah. Tidak ada siapa pun di sekitar—yang mana hal itu wajar mengingat sudah larut malam.
"Sudah larut malam begini, langsung tanyakan straight aja ya. Gimana tadi?"
"Hmm-fu-fu."
Tsumugi tersenyum misterius. Jika dia tersenyum dengan cara seperti ini, kata-kata yang akan menyusul berikutnya sudah bisa ditebak.
"Satu!"
Bangkit dari bangku dengan penuh semangat, berbalik ke arahnya, dan Tsumugi menegakkan satu jari telunjuknya.
Satu—artinya, juara pertama. Dia mencapai garis finis lebih cepat dari siapa pun.
"Serius. Eh, hebat juga ya. Bisa dapet juara satu."
"Yaelah! Lagian aku kan ibarat garam batu dari bakat?"
"Bilang aja bongkahan kalau di situ."
Hanya berselang satu bulan lebih sejak masuk klub, mampu melompati anak kelas dua dan kelas tiga adalah hal yang mustahil bagi Asahi, setara dengan meraih nilai seratus di ujian matematika tanpa belajar sama sekali.
Hal yang mustahil itu berhasil diselesaikan oleh Tsumugi dengan gemilang. Bisa disebut sebagai prestasi yang luar biasa.
"Tapi—"
Oleh karena itu, Asahi sudah tahu apa yang harus ia katakan setelah ini.
Ia menyadari ketenangan batinnya. Berusaha agar suaranya tidak bergetar karena gugup. Agar kegelisahannya tidak terbongkar.
Entah sebuah kebetulan yang aneh, baik Asahi Hodoki maupun Tsukiashi Tsumugi berada dalam situasi batin yang persis sama pada saat ini.
"—Kamu tidak terpilih menjadi perwakilan, kan."
"......Ugh. Ah, etto, ketahuan ya?"
"Ketahuan dong. Kalau kepribadian Tsukiashi, kalimat pertama yang keluar pasti 'aku masuk perwakilan'. Kalau itu nggak ada, berarti artinya begitu. Ah, kalau tebakanku salah silakan dikoreksi."
"…………Nggak, terpilih."
"Begitu ya."
Asahi sedikit banyak memahami alasannya. Seleksi perwakilan klub dilakukan melalui beberapa kali pencatatan waktu.
Artinya, seandainya dilakukan tiga kali pengukuran, jika ada orang yang pada pengukuran pertama mendapat peringkat pertama namun sisanya berada di posisi buncit, dibandingkan dengan orang yang secara konsisten selalu berada di peringkat ketiga pada ketiga pengukuran tersebut, maka yang akan dipilih adalah yang terakhir.
Mengingat kemungkinan faktor keberuntungan bisa terjadi, mereka tidak akan memutuskan segalanya hanya berdasarkan satu kali urutan peringkat saja. Rata-rata catatan waktu itulah yang menjadi kemampuan sesungguhnya dari seorang atlet.
(Tsukiashi... penampilannya tidak konsisten. Meskipun cepat pada pengukuran pertama, pada pengukuran kedua dan ketiga output-nya menurun. Karena dia selalu mengerahkan seluruh tenaganya sampai habis, dia memang kuat dalam situasi mendadak seperti turnamen, tapi kali ini hal itu justru menjadi bumerang baginya. Pada akhirnya dia kalah dalam hal kekuatan menyeluruh dari senior yang mempersiapkan diri dengan matang—)
Dia memang menang sekali. Tapi dia tidak terpilih. Seandainya Asahi menjadi pembimbing klub sekalipun, dia tidak akan memilih Tsumugi. Namun, terlepas apakah itu faktor keberuntungan atau bukan pada saat ini, Tsumugi yang memiliki kemampuan mengalahkan senior patut mendapatkan penilaian maksimal sebagai pemilik bakat yang luar biasa.
(Hanya saja dia tidak akan dibawa serta ke turnamen musim panas tahun ini. Tahun depan dan tahun depannya lagi dia pasti akan masuk perwakilan kok, Tsukiashi.)
"Eto, Senpai. Soal ini—"
"Nah. Kalau begitu, aku pulang dulu ya. Tsukiashi juga pulangnya hati-hati di jalan."
Bangkit berdiri dari bangku, Asahi berniat meninggalkan tempat tersebut.
Karena ia ingin menyudahinya dengan santai, seminimal mungkin menggunakan kata-kata, dengan asumsi 'pasti kau paham'.
Namun, situasinya tidak berakhir begitu saja. Tsumugi mendadak berubah pucat pasi dalam sekejap.
"Tunggu dulu! Senpai! Besok! Di sini lagi, latihan mandiri—"
"Tidak. Bukankah janjinya kita sudahi."
"Tapi! Tunggu, eh, ini cuma akal-akalan kan? Ngomongin soal putus, kamu nggak beneran ngomong gitu kan?! Lagian, kita berdua kan hubungannya baik-baik saja!"
"Aku serius."
"Bohong!"
"Nggak bohong. Kalau dari awal aku nggak serius, aku nggak bakal ngomong begitu. Karena aku ngomong serius, Tsukiashi pun berjuang dengan serius. Kalau perkataanku waktu itu cuma bohong belaka, terus usaha Tsukiashi selama sebulan ini apakah cuma kebohongan yang setengah-setengah?"
Menolak orang yang bergantung padanya dengan sengaja menampakkan niat jahat dan maksud terselubung. Situasi yang membuat tulang punggung terasa dingin.
Saat ini, Asahi bahkan tidak bisa memahami apa yang sedang ia katakan kepada Tsumugi, bahkan jika dilihat dari sudut pandang objektif.
Emosi, tujuan, logika, tujuan, isi hati, tujuan, kepura-puraan, dan tujuan—mulutnya bergerak hanya didorong oleh hal-hal itu saja.
"Apa kamu bisa bilang kalau kamu nggak berjuang dengan serius?"
"......Nggak... bisa... Aku... sudah berusaha kok. Terus... dengan serius."
"Kalau begitu, tepati janji kita sebagai hal terakhir."
Integritas bahwa janji harus ditepati. Beban kesalahan sebelah pihak bahwa kegagalan meraih hasil adalah kesalahannya sendiri. Di atas segalanya, suara dan tatapan dingin yang luar biasa yang ditujukan kepadanya.
Psikologi negatif merampas kemampuan penilaian normal dari diri Tsumugi. Itulah arah yang dibimbing oleh Asahi.
"—Senpai, apa kamu nggak suka? Sama aku..."
"Aku suka. Tapi, kurasa kalau aku terus ada di sisi Tsukiashi, kamu malah akan hancur. Mampu mengalahkan senior meskipun baru kelas satu, itu hal yang luar biasa. Bakat semacam itu adalah sesuatu yang tidak kumiliki—dan justru karena itulah, aku sendiri tidak sanggup menanggung jika bakat itu menjadi busuk karenaku. Hal yang seharusnya dipikirkan pertama kali oleh Tsukiashi bukanlah aku, melainkan dunia atletik."
"Jangan putusin sendiri!! Aku tuh ya! Asalkan bisa bareng Senpai, dunia atletik itu—"
Setelah selesai mengatakannya, Tsumugi mendadak terkesiap dan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Mungkin dia secara intuitif mengerti apa arti ucapan yang baru saja dilontarkannya itu. Sebagai respons, Asahi melontarkan kalimat penutup.
"—Aku juga ingin mengatakannya. Ingin berhenti dari dunia atletik."
Dengan dingin, namun terdengar kesepian, Asahi hanya menyampaikan itu lalu mulai melangkah pergi.
Bahwa sebuah 'jarak' yang pasti telah tercipta di antara mereka berdua—Tsumugi memahaminya.
Dan pemahaman itu juga membuatnya mengerti bahwa hal tersebut adalah akhir dari hubungan mereka berdua.
"—Hiks, ……….hiks"
Syukurlah debar
jantungku sendiri terasa begitu berisik dan mengganggu. Detak jantung itu
menghanyutkan segalanya.
Karena jika ia sampai
mendengar suara tangisan Tsumugi di punggungnya, langkah kaki Asahi pasti akan
terhenti.
—Untuk pembicaraan
putus, tidak butuh waktu yang lama. Hal itu baru disadari oleh mereka berdua untuk pertama
kalinya.
***
Setibanya kembali di
rumah, Kirio menyambutnya dengan duduk bersila di atas tempat tidur.
Pulang ke rumah namun
mendapati pelayan di dalamnya sama sekali tidak membuat hatinya bergetar
gembira.
"Yo. Ada apa dengan wajah muram itu? Wajah
yang jelek banget, keliatan kayak abis diputusin pacar aja?"
"…………"
"Hei, beritahu aku dong, Hodoki.
Sebenarnya apa yang terjadi? Kita kan teman, kasih tahu dong."
Menghadapi Kirio yang
terlihat begitu menikmati situasi ini, Asahi merasa kesal. Namun jika ia
termakan oleh provokasi ini, itu artinya ia masuk ke perangkap lawan
sepenuhnya. Oleh karena itu, ia terpaksa menjawab dengan nada menggigit.
"—Kau pasti tahu kan,
kalau itu dirimu."
"—Tentu saja. Karena
itulah, aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu."
"Selera... mu buruk
ya. Sungguh..."
"Atau mau
melampiaskan unek-unek dengan berdebat melawanku? Akan kuterima
tantangannya?"
Tentu saja aku tidak akan
melakukannya. Sebagai bentuk penolakan itu, Asahi duduk di samping Kirio.
"…………Aku sudah putus
dengan Tsukiashi."
"Ah. Anggap saja
kesepakatan kedua belah pihak. Dari sisi emosional mungkin tidak ada satu pun
yang bisa diterima, tapi gadis itu terlanjur membuat 'janji' yang ceroboh. Kau
berhasil membuat dia membayar harga dari janjinya itu, Hodoki."
"—Ini gila.
Seolah-olah pihak sana yang salah, aku mempermainkan Tsukiashi secara sepihak
demi kepentingan dan argumentasiku sendiri, lalu memaksakan kesimpulannya
begitu saja seperti sampah. Tanpa membiarkannya mengatakan apa yang ingin ia
katakan, tanpa menjawab apa yang ingin ia tanyakan, aku menyudahinya hanya
dengan alasan 'karena itu adalah janjinya'. Seberapa hancurnya pun Tsukiashi,
aku mengabaikannya begitu saja. Aku ini brengsek sekali... separah apa aku ini
sebagai sampah?"
Kata-kata itu meluncur
keluar satu demi satu seperti longsoran salju. Di dalam benak Asahi, hanya
tersisa penyesalan dan rasa bersalah.
Namun, menanggapi monolog
yang hampir mirip pengakuan dosa itu, Kirio justru mengerutkan keningnya.
"—Hentikan. Aku
paling benci logika pelaku kejahatan, tahu? Dengar ya? Yang membuang adalah
kau, dan yang dibuang adalah gadis itu. Batasannya sudah jelas sejak saat itu.
Sekarang kau malah merengek-rengek, bilang merasa bersalahlah, menyesallah, benar-benar
menyebalkan dan tidak penting. Kau itu hanya ingin menyalahkan dirimu sendiri
dan meredakan rasa bersalahmu. Di hadapan Tuhan dan seluruh umat manusia, kau
hanya sedang menunduk sambil memasang mode 'bukan salahku' untuk mencari
simpati. Kalau bersikap rendah diri seperti itu, nanti salah satu gadis yang
terikat olehmu akan datang menghiburmu, kan, si pengecut. Makanya, biar aku
saja yang menolaknya."
Sambil mencondongkan
tubuhnya ke depan untuk menatap wajah Asahi yang sedang menunduk—Kirio berkata
dengan kejam.
"—Kau yang
melakukannya. Jangan memasang wajah seperti korban padahal kau pelakunya,
menjijikkan."
"…………"
Tidak ada sanggahan maupun
pembelaan. Bahkan cercaan Kirio ini terasa seperti sebuah hiburan tersendiri.
Itu memang 'wajah seperti
korban' yang pengecut dan merendahkan diri.
Kirio mendecakkan lidahnya
sekali, lalu bangkit dari tempat tidur.
"Masih ada empat
orang lagi, lho. Kalau baru memutus satu orang saja kau sudah loyo begini, masa
depan terlihat suram. Aku tidak peduli kalau kau sampai ambruk, tapi kalau itu
terjadi sebelum aku sempat menghibur Tuan Besar, aku yang akan repot."
"……Benar juga.
Masih ada empat orang lagi……"
Aku tidak boleh
berhenti di sini. 'Permainan' ini baru saja
dimulai.
Setiap kali memutuskan
satu orang, jika terus-menerus dikuasai oleh rasa penyesalan seperti ini,
lama-kelamaan aku tidak akan bisa berbuat apa-apa. Biar bagaimana perasaan
aslinya, di luar aku harus tetap tegar, maju ke depan, dan melihat ke masa
depan.
"—Tidak, harus
kupikirkan bahwa ini sisa empat orang. Memang benar seperti kata Kirio. Terima
kasih."
"Cih. Aku tidak
berniat menghiburmu, ya. Buang saja rasa terima kasih itu ke comberan."
Namun, setelah memastikan
bahwa cara pikir Asahi sedikit banyak telah berubah, Kirio berjalan langsung ke
arah dapur dan mengenakan apron di atas seragam pelayannya.
"Aku akan buatkan
makanan tengah malam. Sebutkan apa yang ingin kau makan."
"……Bubur."
"Kau ini pasien rumah
sakit?! Nasi siram teh hijau (chazuke) saja sudah cukup."
Karena kurang lebih
rasanya sama saja, Kirio mengubah pesanannya secara sepihak.
Tidak diketahui apakah ini
bentuk perhatian ala pelayan tersebut ataukah ada niat lain di baliknya, namun chazuke
yang dimakan larut malam itu terasa memiliki rasa yang sangat pekat dan begitu
lezat.
Sisa empat orang. Asahi
Hodoki harus terus menumpuk 'kebohongan' itu esok hari.
Sampai saat berakhirnya《Permainan Kehidupan Orang Lain》 tiba—
《Chapter 1 Selesai》
Prolog | ToC | Next Chapter


Post a Comment