Interlude 3
Meskipun
spesial, bukan berarti itu berguna. Kesimpulan yang diambil Kokigi Oriko sejak
dini terhadap kekuatan yang dimilikinya—yang biasa disebut kekuatan
super—adalah hal yang setengah-setengah seperti itu.
Pertama, tidak
ada kestabilan. Kekuatan itu naik turun karena segala macam faktor eksternal.
Kondisi fisik, suasana hati, musim, cuaca, tekanan udara, fase bulan, perataan
bintang, siklus menstruasi, dan lain-lain.
Tidak ada
pengguna kekuatan super di dunia nyata seperti dalam cerita fiksi yang bisa
langsung menggunakan kekuatannya begitu mereka memikirkannya. Atlet Major
League mana pun tidak akan bisa langsung memukul home run begitu bangun tidur.
Pengguna kekuatan super pun kurang lebih sama. Lingkungan dan situasi di mana semuanya
selaras hampir tidak pernah ada di Jepang modern.
(Asahi
Hodoki-kun. Sungguh... anak yang misterius.)
Selain itu,
kekuatan super hampir tidak memiliki efek dramatis seperti yang diasosiasikan
dari namanya.
Bahkan untuk
salah satu kemampuan Oriko, yaitu membaca pikiran, apa yang biasanya terlihat
saat membaca pikiran seseorang bukanlah kata-kata, melainkan semacam visi yang
mirip seperti lukisan. Itulah 'hati' yang dimiliki oleh manusia.
Namun, sama
seperti jumlah penikmat seni yang memiliki interpretasi berbeda terhadap sebuah
lukisan agung, bahkan jika Oriko melihat 'lukisan hati' tersebut, tidak banyak
hal yang bisa ia pahami. Karena ia telah melihat hati begitu banyak orang
sebelumnya, ia sudah memahami secara intuitif bahwa ada tingkat tipologi dan
hukum tertentu di dalamnya.
(Orang yang
memiliki hati seperti itu, dalam hidupku baru kutemui tiga orang termasuk
dirimu.)
Di
tengah-tengah segala sesuatu yang dipenuhi warna hitam legam, hanya ada sebuah
kotak besi kecil yang bersinar samar.
Itulah 'lukisan
hati' milik Asahi Hodoki. Berdasarkan pengalaman Oriko, manusia semacam itu
sangat jarang ada.
Dengan
membandingkan 'lukisan' tersebut dengan watak kepribadian orangnya, Oriko
menumpuk pengalaman interpretasinya dengan berpikir, 'Oh, hal ini berarti
begini.' Namun, 'hati' Asahi memiliki terlalu sedikit contoh, sehingga ia tidak
bisa membuat keputusan.
(Yang
kutahu——kamu mendekatiku dengan membawa rahasia sejak awal. Namun, kamu sama
sekali tidak menunjukkan hal itu di wajahmu, dan terus bersikap sebagai anak
SMA biasa. Sangat aneh dan menyeramkan. Justru karena itulah... aku jadi
tertarik.)
Manusia yang
memiliki 'kotak' di dalam hatinya sering kali menyembunyikan semacam rahasia.
Namun, berbicara soal rahasia, isinya sangat beragam. Apakah itu sekadar
rahasia pribadi, trauma psikologis, atau sesuatu yang bahkan pemiliknya sendiri
sudah lupa, kekuatan Oriko jarang bisa menembus sampai ke bagian dalamnya.
Selain itu,
segala sesuatu di luar 'kotak' tersebut semuanya berwarna hitam pekat. Meskipun
tidak ada kepastian mutlak, Oriko tanpa sadar berpikir.
(Asahi-kun.
Kamu, meskipun baru sebatas tebakan——sepertinya ada bagian dari dirimu yang
sudah rusak.)
Karena rusak,
maka semuanya ditutupi. Ditimpa dengan warna hitam yang menimpa seluruh warna
lainnya.
Sambil
mengintip wajahnya sendiri di cermin kecil, Oriko tersenyum kecil.
(——Sama
sepertiku. Makanya aku menyukaimu.)
Kokigi Oriko
berpikir demikian saat melihat lukisan hatinya sendiri yang dipenuhi warna
hitam legam di dalam cermin kecil.
Meskipun dalam
pengelihatan masa depan yang datang secara tiba-tiba, ia melihat lima wanita
asing berada di sekitar Asahi——
***
Bagi Asahi
Hodoki, tempat yang ia tuju ketika hatinya dilanda kelelahan adalah sebuah
tempat yang terasa ganjil.
Ia tidak
berniat mencari penyelamatan ataupun ketenangan di sana. Seolah-olah
menancapkan pasak besi berwarna hitam legam ke dalam dirinya sendiri, ia
melangkahkan kakinya ke sana dengan tenang dan datar.
Bangunan
rumah sakit universitas yang terkenal, lantai paling atas. Masuk ke kamar
pribadi mewah di sudut lantai tersebut tidak memerlukan izin siapa pun.
Seharusnya melalui prosedur kunjungan terlebih dahulu, namun kini wajahnya
sudah dikenal dan bisa langsung masuk begitu saja. Entah itu hal yang baik atau
buruk, Asahi memikirkannya sejenak sambil duduk di kursi samping tempat
hospital.
"—Ini
adalah hal yang buruk, kan. Mengingat kamu tidak kunjung terbangun,
Koyori."
Tidak ada
jawaban meskipun ia ajak bicara. Jika suara elektronik monitor di sisi tempat
hospital yang berbunyi dengan ritme konstan itu adalah satu-satunya pengganti
jawaban, maka tidak ada hal yang terasa lebih kosong dari ini.
Adik
perempuannya——Koyori, yang dihubungkan dengan selang di sekujur tubuhnya dan
tampak begitu kurus kering di hadapannya, tertidur tanpa menyadari kedatangan
tamu. Tenang, damai... bagaikan sudah tiada.
"Kalau
Koyori bangun sekarang, kamu sudah kelas dua SMP ya. Ah, tapi, kamu bahkan
belum pernah pergi ke sekolah menengah sama sekali, ya. Kalau begitu keadaannya
bagaimana? Apakah dalam pendidikan wajib pun bisa tinggal kelas? Haha, Yui
mungkin juga tinggal kelas dan itu merepotkan. Kalian berdua benar-benar mirip
satu sama lain."
Ia menggenggam
tangan adiknya lalu berbicara. 'Pasti ada artinya kok,' ujar perawat yang
merawatnya dulu.
Mempercayai
kata-kata itu, setiap kali datang ke sini ia menceritakan obrolan sehari-hari
yang tidak penting kepada Koyori sepuasnya.
Meskipun tangan
kecil yang kering dan layu tak sesuai usianya itu, hanya dengan menyentuhnya
saja sudah cukup untuk menggerogoti hatinya sendiri.
"Sudah
satu tahun berlalu, tahu? Sejak Koyori tertidur."
Satu tahun yang
berlalu dalam sekejap mata. Asahi mengenang titik awal itu di dalam ruang hospital yang hanya
berdua saja.
Itu terjadi
sebelum Asahi masuk SMA dan sebelum Koyori masuk SMP.
Sebagai
perayaan kelulusan dan masuk sekolah bagi kakak beradik itu, kedua orang tua,
Koyori, dan Asahi pergi berlibur bersama keluarga. Menggunakan mobil pribadi
kesayangan yang selalu dijaga mengkilap karena dicuci oleh sang ayah setiap
akhir pekan. Perjalanan
keluarga biasa selama tiga hari dua malam.
Kecelakaan itu
terjadi saat perjalanan pulang. Saat ia sadar, Asahi sudah menatap
langit-langit rumah sakit.
Dokter,
perawat, polisi, dan mantan wali kelas SMP datang ke ruang hospital. Dengan
kepala yang pusing dan tidak berfungsi dengan baik, tidak mampu membedakan
apakah ini mimpi atau kenyataan, informasi mengalir masuk silih berganti.
——Hentikan.
Seluruh tubuhku terasa sakit.
Ia ingin
mengatakannya, namun tidak bisa mengatakan apa-apa. Mulut para orang dewasa di sekitarnya
tidak berhenti bergerak.
Kedua orang
tuanya tewas seketika. Koyori selamat dari maut, namun ia mengalami benturan
keras di kepala dan jatuh ke dalam gangguan kesadaran berkepanjangan, atau yang
biasa disebut kondisi vegetatif (koma). Hanya Asahi seorang yang secara ajaib
lolos dengan hanya mengalami memar di seluruh tubuhnya. Tidak ada kerabat yang
dapat dihubungi Asahi saat ini. Upacara kremasi orang tuanya harus segera
dilakukan.
Di atas
segalanya——biaya untuk melanjutkan perawatan penunjang kehidupan Koyori mulai
sekarang membutuhkan biaya yang sangat besar.
'Kalau
biayanya tidak bisa dibayar, apa yang akan terjadi pada Koyori?'*
Beberapa
hari setelah sadar, ia mengenang kembali pertanyaannya kepada dokter dengan
suara yang bergetar saat itu.
Ekspresi
dokter yang begitu canggung itu mungkin tidak akan sering ia lihat seumur
hidupnya.
'...Perawatan
di rumah sakit kami tidak bisa dilanjutkan. Namun, saat ini melalui tanggungan
asuransi dan prosedur di kantor pemerintahan, beban finansial Anda akan
dikurangi sampai tingkat tertentu. Bersamaan dengan itu, silakan cari rumah sakit rujukan yang baru.'*
Pada akhirnya,
opini yang dikembalikan mirip seperti operan bola kepada seseorang yang tidak
terlihat.
Dirinya yang
bahkan belum sepenuhnya menjadi anak SMA, sebenarnya harus berbuat apa dan
bagaimana?
Dengan tubuh
yang kesakitan ini, tanpa bisa bergantung pada siapa pun, tanpa kedudukan
maupun uang.
'——Hoo~. Mirip
sekali ya, dengan masa mudaku. Nah, di bagian ujung alis matanya, terutama
sekali.'
Saat itulah.
Suara yang terdengar serak namun mengandung wibawa yang luar biasa menggema di
dalam ruangan.
Itu adalah
seorang lelaki tua yang tidak ia kenal. Namun, jas jubah formal (montsuki
hakama) yang dikenakannya pastilah barang bermutu tinggi, bahkan Asahi yang
tidak begitu paham nilai barang pun bisa memahaminya. Membawa banyak pengawali
berjas di belakangnya, sebenarnya apa tujuan orang ini datang ke sini? Kalau
sekadar menjenguk seseorang, bukankah ruangannya berbeda?
'Asahi Hodoki.
Apa kamu tahu siapa aku? Kalau tidak tahu, ingatlah sekarang juga. Aku
adalah——'
——Adalah
kakekmu, katanya.
Itulah
pertemuan pertama antara Asahi dan sang kakek kandung, Zen Hinomiya.
Zen yang
kelihatannya adalah kakek dari pihak ibu—meskipun sang ibu telah sepenuhnya
memutuskan hubungan dengan Zen—mendengar berita duka tentang putrinya dari
suatu tempat, lalu datang ke sini.
Awalnya dokter
yang sempat melarang orang tanpa izin masuk itu, mendadak pergi meninggalkan
ruangan dengan wajah pucat setelah dibisiki oleh sang direktur rumah sakit yang
datang tergesa-gesa.
Dalam
sekejap mata orang-orang disingkirkan, dan yang tersisa di ruang hospital
hanyalah Asahi, Koyori, dan Zen.
'Katakan
secara terus terang. Asahi Hodoki——maukah kamu bermain game denganku?'*
'Game,
maksudnya? Kenapa harus...'*
'Tidak usah
bertanya. Tapi akan kuberitahu hadiahnya. Jika kamu menerima game ini, maka
pertama-tama selama satu tahun, biaya pengobatan cucu perempuan yang terbaring
di sana, biaya sekolahmu, biaya hidup, biaya pemakaman ibumu, semuanya akan
ditanggung olehku. Lebih dari itu, jika kamu berhasil memenangi game tersebut,
masalah uang apa pun yang kamu hadapi di masa depan akan diselesaikan olehku
secara bulat. Yah, kalau dalam game itu kamu kalah, bantuan finansialnya
berhenti sampai di situ saja, sih.'*
'Kenapa, Anda
mau melakukan itu untuk kami? Kita baru pertama kali... bertemu, kan?'*
'Karena kamu
cucu tersayangku. Apakah jawaban ini masih kurang?'*
Interaksi yang
menghangatkan hati... sama sekali tidak terasa seperti itu. Karena Zen
memamerkan gigi permanennya yang putih tanpa ada satupun yang tanggal—dengan
senyuman yang terasa begitu mengerikan dan tampak sangat menikmati situasi itu.
Asahi merasa
kesal di dalam hatinya. Ia merasa marah atas ucapan 'yang terbaring di sana'.
Namun di sisi lain, ia juga bisa menebak bahwa kakek tua ini kemungkinan besar
memang benar-benar memiliki banyak uang.
(Ibu tidak
pernah menceritakan apa pun tentang keluarganya.)
Alasannya kini
mulai sedikit terlihat. Orang tua ini adalah anomali. Mungkin, dia adalah
eksistensi yang berada di atas awan, yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh
siapa pun. Karena muak dengan hal itu, sang ibu memutuskan hubungan.
'Nah, pilihlah
anak muda. Kalau kamu menggelengkan kepala, aku akan pergi tanpa suara. Kalau
kamu menganggukan kepala, kontrak disepakati——game yang menyenangkan denganku
akan dimulai. Tapi pilihannya hanya sekali saja. Pembatalan tidak berlaku,
ya.'*
Apa sebenarnya
game yang harus ia mainkan, pertanyaan tidak diizinkan.
Hal yang
diminta darinya hanya apakah ia akan 'melakukannya' atau 'tidak melakukannya'.
Asahi melihat
ke arah Koyori. Wajahnya masih dipenuhi lebam, namun ia tertidur dengan damai.
Hanya saja,
tidak ada harapan untuk bangun, dan ia terus bermimpi hingga kini.
Suasana penuh
mimpi itu, sebagai seorang Asahi yang belum matang menjadi anak SMA, tidak
memiliki uang maupun kekuatan, pasti tidak akan sanggup ia pertahankan.(Koyori.
Satu-satunya keluarga yang tersisa untukku. Demi kamu, Kakak akan melakukan apa
saja.)
Masa
depannya sendiri tidak penting. Terburuknya, ia berniat tidak masuk SMA dan
bekerja siang malam demi menutup biaya pengobatan Koyori. Sekalipun tubuh Asahi pada akhirnya hancur
duluan, itu jauh lebih baik daripada menelantarkan Koyori.
Orang tua yang
mengaku sebagai kakeknya ini belum tentu berkata jujur.
Namun bagi
Asahi saat ini, yang tidak memiliki satu pun tempat untuk bergantung, hanya ada
satu hal yang ia takuti.
Kehilangan
adiknya, Koyori, dan menjadi seorang diri—hanya itu hal yang paling menakutkan
di dunia ini.
Benang
laba-laba menuju akhirat yang dijulurkan ke hadapan realitas. Namun jika benang
itu berkilau keemasan.
'...Aku akan
melakukannya. Jika apa yang Anda katakan itu benar, tidak ada alasan untuk
menolak.'*
'Kesepakatan
tercapai. Tenang saja, aku paling benci kebohongan. Hei!'*
Begitu Zen
bersuara, beberapa pria berpakaian hitam yang mungkin adalah para pengawalnya
langsung berdatangan ke dalam ruangan.
Seketika itu
pula beberapa dokter dan perawat muncul, lalu mulai memindahkan sang adik ke
atas brankar.
'Anum, apa
yang——'*
'Mana boleh
membiarkan cucuku dirawat di rumah sakit kota yang suram seperti ini. Kita
pindah rumah sakit. Hei, angkat dengan hati-hati! Pikirkan ini cucu siapa!
Jangan sampai anak itu lecet satu pun, kalau terjadi aku tidak akan memaafkan
kalian!'*
Gerakannya
begitu cekatan. Apakah sejak awal mereka memang sudah memperhitungkan jawaban
Asahi?
'Bagaimana pun
jawabanmu, itu hanya akan membuang sedikit orang, waktu, dan uang saja. Hal
semacam itu memang diciptakan untuk dibuang. Tidak perlu dipikirkan. Selama
kamu bermain-main denganku, aku akan memberikan perawatan medis terbaik untuk
adikmu. Ah, apa kamu tidak tahu? Kakekmu ini adalah orang yang kaya raya
setengah mati——dan seorang pria tua sekarat yang setengah mati kebosanan
menantikan sisa hidupnya.'*
Sekali lagi
memperlihatkan deretan gigi putihnya, Zen tersenyum. Kontrak dengan iblis yang
dekaden. Bisa dibilang seperti itulah adanya, dan Asahi hingga detik ini masih
terperangkap di dalam cerminan iblis tersebut. Menukarkan kehidupan adiknya
dengan kehidupannya sendiri.
——Awal mula
《Permainan Kehidupan Orang Lain》 adalah dari sini.
"—Kakak
ini, ternyata cukup populer, ya. Atau lebih tepatnya, harus kukatakan kalau
Kakak berusaha keras supaya populer? Kenapa alasannya? Ya, tentu saja demi
Koyori. Bukankah lebih keren kalau punya kakak yang hebat? ...Ucapku sih
begitu. Yah, sebagai hasilnya, Kakak malah berakhir menjadi cowok sampah yang
mendua dengan lima orang sekaligus. Bagaimana menurutmu? Brengsek sekali,
kan?"
Matahari
sudah benar-benar terbenam, dan ruang hospital diterangi oleh cahaya lampu neon
yang benderang. Meskipun begitu, Asahi tetap tidak berhenti berbicara kepada
Koyori. Hari ini ia sangat ingin didengarkan oleh sang adik.
"Semuanya
bilang dengan tulus bahwa mereka menyukai Kakak. Aku senang. Di saat yang sama,
aku merasa diriku ini benar-benar sampah. Dan sekarang, aku malah memutuskan
untuk putus dengan semua orang itu. Jadi, beberapa orang sudah kuputusin. Aneh,
kan? Padahal awalnya aku hanya memikirkan bagaimana caranya agar disukai. Tapi
sekarang Kakak, masih terus berpikir keras bagaimana caranya supaya dibenci
oleh mereka semua. Sudah tidak karuan lagi, ya. Aku ini sebenarnya sedang apa,
sih. Apa yang harus kulakukan sekarang. Aku ini sudah tidak waras,
sungguh."
Tidak ada
jawaban. Tidak ada ekspektasi maupun harapan. Yang ada hanya rasa tanggung
jawab untuk melindungi sang adik yang tengah bermimpi.
Demi tujuan
itu——Asahi telah memantapkan tekadnya untuk melakukan apa saja.
Hingga tiga
tahun sampai《Permainan Kehidupan Orang Lain》berakhir. Ia akan terus menipu, mengkhianati,
dan membohongi orang-orang.
Jika semua itu
sudah berakhir, ia tidak peduli lagi apa yang akan terjadi pada dirinya. Selama
masa depan Koyori terjamin, sudahlah cukup.
Sekalipun ia
dipukuli, diadukan ke pengadilan, ditusuk, atau dibunuh oleh para gadis itu——ia
tidak peduli sama sekali.
Ia sadar bahwa
tindakan yang dilakukannya memang pantas diganjar seperti itu. Justru karena ia
menyadarinya, ia bisa terus bergerak maju.
"Nih,
Koyori. Kakak, kalau nanti lulus SMA—"
Ia menggenggam
tangan adiknya lalu menempelkannya perlahan ke dahinya sendiri. Jika keajaiban
benar-benar terjadi, ia berharap Koyori yang terbangun pada detik ini bisa
menampar pipinya keras-keras.
"—Kakak akan jatuh ke neraka.


Post a Comment