-->
NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Gogusa no Kuzu to -Tadashii Koi no Owarasetame Volume 1 Chapter 4

Chapter 4

— Asahi Hodoki dan Persiapan Sebelum Musim Hujan (Miu Choumiu) —


"Hodoki! Besok kan hari ulang tahunmu, kan? Malamnya gimana kalau kita semua pergi makan-makan di suatu tempat?"

Saat jam istirahat siang, Kirio menawarkan hal itu dengan nada ramah. Kalau didengar-dengar, sepertinya beberapa teman sekelas ingin merayakan ulang tahun Asahi. Meskipun itu sendiri adalah tawaran yang menarik.

"Maaf. Sudah ada rencana."

"Oh. Ada apa, yang ini?"

Sambil tersenyum menyeringai, Kirio menegakkan satu jari tengahnya.

"Kalau mau ditegakkan itu jari kelingking, tahu! Lagian bukan itu. Orang-orang mirip... keluarga yang akan merayakannya."

"Hmm. Katanya Hodoki nggak bisa! Trus katanya dia juga nggak punya pacar!"(Padahal punya)

Asahi mengikuti Kirio dengan tatapan mata bercampur helaan napas saat pemuda itu melaporkan hal tersebut kepada teman sekelas lainnya.

...Tentu saja, jadwal Asahi sudah bocor sepenuhnya kepada Kirio.

Oleh karena itu, ajakan ini bahkan bukan sekadar sandiwara. Kirio bertanya setelah tahu persis bagaimana Asahi akan menjawabnya.(Pandai sekali ya dia. Jadi teman sekelas, jadi pelayan, pakai setelan jas. Katanya aslinya bukan anak SMA... sebenarnya umur berapa sih si Kirio ini?)

Besok umur Asahi akan menginjak 17 tahun. Di sisi lain, terkait diri Kirio, Asahi nyaris tidak tahu apa-apa meskipun mereka sudah cukup lama saling mengenal. Jangankan hari ulang tahunnya, usianya pun ia tidak tahu, sebaliknya segala hal tentang dirinya justru dikuasai penuh oleh Kirio, menjadikannya sebuah hubungan yang terdistorsi. Asahi berpikir, setidaknya jika Kirio memberitahu hari ulang tahunnya, ia mungkin akan merayakannya sedikit.(Tapi, pada akhirnya Kirio juga adalah orang di pihak Zen. Dia bukan sekutu mutlakku. Karena kami paling sering terlibat, aku jadi tanpa sadar berpikir begitu... tapi apakah boleh terus mempercayainya seperti ini?)

Melihat Kirio berbicara ceria tanpa pandang bulu dengan teman-teman sekelasnya baik laki-laki maupun perempuan, sikap arogan dan tanpa sopan santun yang ditunjukkannya di rumah bahkan terasa seolah-olah ia memiliki kepribadian yang berbeda.

"Woi, Hodoki! Aku mau beli roti di kantin, ada yang kamu mau?"

"Roti yakisoba."

"Katanya apa saja boleh! Ayo ke sana."

"Aku nggak ngomong gitu!"

Asahi tadinya ingin bilang 'kalau begitu jangan tanya', namun Kirio keburu keluar kelas bersama teman-temannya yang lain. Setidaknya, meskipun identitas asli Kirio hampir tidak diketahui, dia adalah salah satu dari sedikit manusia yang mengetahui keadaannya sendiri.

Kalau begitu, hubungan itu harus dijaga dengan baik.

Sambil merogoh dompetnya untuk mengambil uang roti, Asahi menyimpulkan hal tersebut di dalam hatinya.

"—Kalau begitu, mari kita akhiri rapat rutin OSIS hari ini. Semuanya, terima kasih atas kerja keras kalian."

Seperti biasa, begitu Kanase menutup rapat, para pengurus OSIS kompak melakukan peregangan tubuh atau menarik napas dalam-dalam. Sebagai tambahan, entah kenapa hari ini guru Umegoshi juga berada di dalam ruang OSIS.

"Kalian rajin sekali ya. Aku ingin anak-anak klub anime mencontoh kalian."

"Terima kasih, Bu Umegoshi. Apakah ada masalah dengan kegiatan OSIS?"

"Ah, tidak ada, tidak ada. Kalau ini dibilang ada masalah, klub sastra dan klub anime bisa dibubarkan hari ini juga."

Mengenai OSIS, tidak ada guru yang bertindak sebagai pembimbing seperti layaknya kegiatan klub lain. Karena semua guru memiliki kewajiban untuk bekerja sama, argumen bahwa seluruh guru adalah pembimbing—hanyalah sebuah dalih belaka.

Terkadang, guru muda ditugaskan untuk mengawasi kegiatan OSIS dan membuat laporan.

Kali ini Umegoshi kebetulan yang bertugas untuk itu.

"Karena ada Ibu guru di sini, hari ini kami jadi jauh lebih giat, lho."

"Ah, begitu ya. Kalau begitu sebagai bentuk 'khotbah', Mitoguchi-san dan Hodoki-kun, setelah ini tolong tinggal di sini sebentar. Anak-anak yang lain silakan pulang ya—"

"["Eh"]"

Mereka berdua terpaksa harus menerima ceramah. Spontan Kanase dan Umegoshi—eh, Kanase dan Asahi mengeluarkan suara terkejut.

Anggota lainnya sedikit berisik karena bingung apa maksudnya. Umegoshi menambahkan kata "Canda".

"Soal urusan yang kalian konsultasikan padaku beberapa waktu lalu itu. Sebenarnya cukup kalau ada Mitoguchi-san saja, tapi karena Hodoki-kun juga sedikit terlibat, jadi sekalian saja. Nah, anak-anak muda lainnya silakan pulang sana!"

Umegoshi menyuruh para siswa keluar satu per satu dengan lambaian tangan. Urusan yang dikonsultasikan padanya waktu itu—berarti.

Kanase dan Asahi sudah bisa menebak arah pembicaraannya, lalu duduk kembali.

"—Kesimpulannya, dia dipecat. Namanya juga sekolah swasta, kan, di sini."

"Itu artinya..."

"Maksud Ibu, soal Bu Ashiya?"

"Iya. Ahh, bawahan yang bisa diandalkan dengan perintah lisan jadi berkurang satu. Si Detektif hebat ini memang bikin pusing, ya~"

Meskipun Umegoshi mengatakannya dengan nada santai, namun pada kenyataannya—meskipun sebagai akibat—ia sedang menutupi rasa bersalah Kanase yang telah memojokkan seorang guru hingga dipecat.

Di permukaan Kanase memang tidak menunjukkan gelagat perduli, namun ia sendiri menyadari bahwa dirinya sudah 'terlalu jauh melangkah' dan tampaknya menyimpan rasa penyesalan bahwa ia seharusnya bisa sedikit menahan diri. Jika ia menghentikan investigasinya di batas yang wajar, setidaknya Ashiya tidak akan sampai kehilangan pekerjaannya.

Kanase menundukkan wajahnya. Itu bukanlah cerita yang menyenangkan untuk didengar, namun tetap saja.

"Ketua tidak salah kok. Ketua melakukan hal yang benar."

"—Hodoki-kun. Terima kasih, ya."

"Betul. Dilihat dari segi etika, moral, hukum, maupun peraturan yang berlaku, Mitoguchi-san tidak bersalah. Sekalipun bagi pihak yang bersangkutan itu adalah percintaan yang membara—tetap ada batasnya. Sepertinya ada kemungkinan kedua orang itu memang 'melakukan' sesuatu di dalam sekolah. Makanya Mitoguchi-san seharusnya justru bersikap percaya diri. Atau sebaliknya, tidak perlu terlalu dipikirkan. Sebagian besar detektif hebat yang kukenal biasanya adalah tipe hibrida yang secara santai tidak pernah peduli pada urusan pasca-penyelesaian kasus, sih."

"T-tipe hibrida, ya. Terdengar seperti mobil..."

Ngomong-ngomong, terkait Satomi, meskipun ia dijatuhi hukuman skors, pemuda itu tampaknya mengajukan permohonan pengunduran diri secara sukarela.

Karena sejak awal ia bercita-cita menjadi musisi profesional, prestasi akademiknya pun seadanya dan ia tampaknya tidak memiliki penyesalan yang mendalam. Hubungannya dengan Ashiya sudah bukan lagi ranah yang perlu diketahui oleh Asahi maupun Kanase.

"—Sebelumnya Ibu juga sempat bilang, emangnya Bu Umegoshi punya hubungan akrab sama detektif hebat gitu ya? Selama hidup, aku baru pernah lihat orang yang mirip detektif itu cuma Ketua doang."

"Malah saya merasa, Bu Umegoshi lah orang yang paling sering memanggil saya detektif."

"Begitukah? Di ruang guru semuanya manggil begitu, lho? Yah, bukan cuma detektif sih, tapi aku mungkin melihat manusia dengan kecepatan berpikir yang luar biasa lebih banyak dari orang lain. Seperti Kepala Sekolah kita sendiri, pada dasarnya kecepatan berpikirnya juga cepat banget. Meskipun begitu, dia paling lemah kalau diajak berdebat..."

"Ibu pernah berdebat sama Kepala Sekolah...?"

Umegoshi sendiri adalah seorang guru yang menyimpan banyak misteri. Atau lebih tepatnya, setiap individu manusia memang memiliki sejarah tak terduga di dalam diri mereka masing-masing. Mengira kita tahu segalanya tentang orang lain hanyalah bentuk keangkuhan belaka.

"Kembali ke topik, Mitoguchi-san benar-benar tidak perlu memikirkan apa pun, dan jika nanti gara-gara masalah ini kamu menerima sedikit saja perlakuan buruk karena rasa dendam, segera lapor ke Ibu. Laporannya selesai. Berikutnya, pesan titipan. Hodoki-kun, ada beberapa lembar cetakan dokumen yang harus diserahkan kepada Hizume-san, tolong antarkan map ini ke rumah anak itu, ya. Seperti biasa, masukkan saja ke dalam kotak suratnya, cukup itu saja."

"Baik. Boleh kok, nggak masalah."

"Rumah kalian kan berdampingan, merepotkan sekali ya dipaksa melakukan hal semacam ini. Maaf ya~"

Yui dan Asahi tahun ini berada di kelas yang berbeda, dan wali kelas pendamping Yui adalah Umegoshi. Pihak guru sudah mengetahui informasi bahwa rumah mereka berdampingan, sehingga sesekali Asahi memang kerap dimintai tolong untuk mengantarkan titipan semacam ini.

Mengenai Yui yang merupakan seorang hikikomori, Kanase juga mengetahui eksistensinya, dan ia menunjukkan ekspresi penuh kekhawatiran.

"—Hizume Yui-san——sepertinya semester ini sama sekali tidak pernah datang ke sekolah, ya."

"Orang itu kan jalannya santai sesuai ritmenya sendiri. Lagian, dia adalah tipe orang yang paling membenci eksistensi yang namanya 'pembagian kelas' di dunia ini."

"......Kamu tahu banyak hal ya, soal Hizume-san."

"Kan kami teman masa kecil. Ketua kan juga tahu."

"Kalian tidak sedang mendua, kan?"

Pertanyaan berkecepatan tinggi beruntun dilontarkan oleh Umegoshi. Tanpa sadar Asahi mengeluarkan suara aneh, "E-eh."

Umegoshi menatap tajam ke arah Asahi dengan pandangan yang menyelidik.

"Yah, sebenarnya aku agak segan menanyakannya karena aku sendiri yang menitipkannya, tapi... teman masa kecil lawan jenis itu, rasanya bagaimana ya, bukankah cenderung mudah berakhir dengan hubungan seperti itu? Maksudku, kenyataannya sih tidak selalu begitu, tapi di sisi lain bukan berarti tidak mungkin juga, ya tergantung pada dinamika teman masa kecilnya sih. Nah, Hodoki-kun, kenyataannya bagaimana?"

"Aku tidak mendua!!" Kenapa Ibu malah ngomong begitu di depan Ketua?!"

"Aku bertanya justru karena ada anak ini di hadapannya. Lagian Hodoki-kun, besok kamu ulang tahun, kan?"

"Eh, ya, benar sih."

Kenapa Bu Umegoshi bisa tahu——pikirnya, namun karena dia adalah seorang guru, tentu saja dia memiliki akses ke informasi pribadi siswa, atau mungkin mengingatnya karena suatu kesempatan.

"Memangnya kalian berdua sudah punya rencana merayakannya berdua? Ahh, bikin iri saja kalian ini~"

"......Hmm. Tidak, soal itu."

"Rencana seperti itu tidak ada kok, Bu. Tepatnya, kami berdua sama-sama memiliki jadwal acara masing-masing."

Kanase menjawab dengan nada datar. "Ooooooh," Umegoshi mengagumi.

"Begitu ya. Yah, tidak apa-apa kalau mau diganti di lain hari."

"Maaf ya, Ketua. Aku benar-benar tidak bisa menolaknya."

"Tidak apa-apa. Saya sendiri juga ada keperluan untuk pergi bersama orang tua saya. Perayaannya bisa ditunda lain kali."

Di hadapan Umegoshi, ia tidak bisa mengatakan 'aku dipanggil ke rumah Yui'. Hal itu sudah diberitahukan kepada Kanase sebelumnya, dan Kanase juga mengetahui hubungan antara Asahi dan keluarga Hizume, sehingga tidak ada penolakan yang keras.

Meskipun kelihatannya begitu, di dalam hatinya mungkin ada secuil rasa ganjil yang mengganjal—

"—Ah. Maaf ya, Hodoki-kun. Ada barangku yang tertinggal di ruang OSIS..."

Selesai kegiatan, tepat di saat mereka melangkah keluar gerbang sekolah, Kanase menyadari barangnya tertinggal.

"Seriusan? Mau kutemani kembali?"

"Tidak, kalau sekarang harus meminjam kunci lalu mengambilnya, lalu mengembalikan kuncinya lagi, sepertinya akan butuh waktu cukup lama. Jam kepulangan sekolah sudah hampir habis, jadi hari ini kamu pulang duluan saja tidak apa-apa."

Merasa tidak enak karena membuat Asahi ikut repot akibat kesalahannya sendiri, Kanase berkata demikian. Asahi yang tidak berniat memaksakan diri mengangguk menyetujui.

Asahi membungkuk hormat mengantarkan Kanase yang kembali ke gedung sekolah, lalu mulai melangkahkan kakinya pulang sendirian.(Besok ulang tahun ya. Dua bulan sejakPermainan Kehidupan Orang Lain tahun kedua dimulai——sejauh ini, belum ada hal yang bersifat fatal yang terjadi. Tapi itu karena keseharian yang tidak jauh berbeda dari biasanya terus berlanjut. Jadi, kalau bicara soal event besar... justru besok, ya.)

Ia berpikir samar tentang hari esok. Selama dua bulan ini, ada masa-masa di mana situasinya berada di ambang bahaya secara lokal, namun para pacar belum sempat saling berpapasan, sehingga hal itu masih bisa disebut kedamaian.

Namun, besok adalah hari ulang tahun Asahi sendiri. Setidaknya ia akan dirayakan oleh tiga orang wanita.(Yang akan kutemui besok adalah Yui... tapi ya, Yui tidak perlu dicemaskan, kan. Dua orang lainnya juga sudah kuberi tahu sebelumnya, jadi seharusnya tidak ada masalah.)

Seharusnya itu adalah hari untuk dirayakan, namun dari sudut pandang Asahi, hari itu tidak lebih dari hari sial. Singkatnya, hari di mana para kekasih menginginkan keberadaannya—menggunakan istilah 'menginginkan' memang terlalu sombong, namun sebagai sebuah fakta—dan jika hal itu terjadi, probabilitas mereka berpapasan akan meningkat, begitu pula potensi munculnya rasa ketidakpuasan atau pertanyaan karena tidak bisa menemuinya.

Justru karena itulah, Kanase dan Oriko sudah diberi tahu sebelumnya bahwa 'hari itu ada jadwal'. Di atas segalanya, ia juga menjelaskan rincian jadwal tersebut... yaitu kepada Oriko ia katakan 'dirayakan oleh keluarga', dan kepada Kanase ia katakan 'dirayakan oleh keluarga Hizume', sehingga meskipun mereka merasa tidak puas, alasan itu seharusnya bernilai fakta dan bisa dipercaya.

Karena pada praktiknya ia memang akan pergi ke rumah salah satu dari mereka yaitu Yui, ia seharusnya mengatakan 'akan bertemu wanita lain', namun karena keluarga Hizume telah merawatnya dengan baik dan ia tidak semata-mata hanya menemui Yui seorang diri, itu bukanlah sebuah kebohongan.(Untung saja aku sudah putus dengan Tsumugi dan Ami-san. Kalau masih berpacaran dengan kelima orang sekaligus, aku benar-benar tidak punya bayangan bagaimana cara melewatkan hari besok. Kalau tiga orang saja, mungkin masih bisa diatasi.)

Penggantian jadwal perayaan dengan Kanase dan Oriko bisa dilakukan di hari lain. Karena status mereka masih anak SMA, ditarik oleh alasan 'keluarga' masih bisa dimaklumi. Jika seandainya ia sudah menjadi mahasiswa, situasinya tidak akan semudah ini.(——Keluarga, ya.)

Beberapa waktu lalu, merayakan ulang tahun bersama orang di luar keluarga adalah hal yang tidak pernah terlintas di benaknya.

Atau lebih tepatnya, ia tidak perlu memikirkannya. Karena ia tidak pernah membayangkan keluarganya akan lenyap.

Setidaknya tahun ini, ia tidak akan melewatkannya seorang diri. Hanya kenyataan itu saja yang patut disyukuri.

Jika seseorang tidak menatap sesuatu yang terang, ia akan tenggelam ke dalam keputusasaan yang dalam dan gelap.(......Aku harus pergi menjenguk Koyori lagi...)

Besok, sebelum pergi ke rumah keluarga Hizume, ia harus mampir ke rumah sakit terlebih dahulu.

Mungkin saja, sebagai keajaiban hari ulang tahun, sang adik akan membuka matanya.

Ia sempat berkhayal semacam itu, namun segera menggelengkan kepalanya. Keajaiban disebut keajaiban karena hal itu tidak pernah terjadi. Hidup dengan bergantung pada hal semacam itu hanya akan membawa kehancuran di kemudian hari. Tali penyelamat yang meleleh secara alami, tidak ada apa pun yang bisa dipercayakan padanya.

"Sempaiii!! Beritahu alamatnya dong!!"

"Eh?"

Saat ia sedang sibuk mengontrol mentalnya sendiri, tiba-tiba punggungnya ditepuk keras oleh seseorang. Tidak, ia langsung tahu siapa pelakunya. Hanya saja, tindakan itu terasa begitu tidak terduga.

"......Tsukiashi."

"Yo Senpai! Bisa sebentar?"

"Boleh... sih."

Tidak ada perubahan yang mencolok dari Tsukiashi Tsumugi. Bisa dibilang masih seperti biasanya, namun sejak mereka putus, mereka tidak pernah bercakap-cakap secara normal seperti ini lagi.

Meskipun di satu sisi Asahi sengaja menghindarinya, ia berpikir bahwa dirinya sudah tidak punya kualifikasi untuk bersikap akrab lagi.

Namun, bukan berarti setelah putus, sang mantan akan langsung melenyapkan diri dari muka bumi ini.

Terutama karena cara putus mereka yang seperti itu, tidak mengherankan jika Tsumugi masih berinisiatif mengajaknya bicara.

"Senpai, besok ulang tahun kan? Aku mau kasih kado. Agak susah kalau dikasih di sekolah, jadi mau kubawa ke rumahmu! Makanya, aku mikir... aku kan belum tahu alamat rumah Senpai."

"Itu——"

"Ah, bukan, bukan karena maksud macam-macam, cuma mau ngasih sebagai junior aja!"

Tsumugi menambahkan penjelasannya seolah mendahului prasangka Asahi. Status mereka memang bukan lagi pasangan kekasih, namun posisi sebagai junior selamanya tidak akan hilang. Dan kebaikan hati itu tidak sanggup ditolak mentah-mentah oleh Asahi.(Kalau sekadar menerimanya saja... seharusnya tidak ada masalah. Daripada menjaga jarak secara canggung dan melukai Tsumugi lebih jauh lagi... aku seharusnya menyetujuinya.)

Meskipun sempat ragu sejenak, Asahi mengangguk dengan ucapan "Begitu ya." Jika sebatas junior dan hubungan pertemanan biasa, tidak akan ada dampak buruk. Ia mengulangi kalimat itu di dalam kepalanya untuk meyakinkan diri sendiri.

"Intinya, malam hari aku ada acara, jadi mungkin agak larut. Nanti kalau acaranya sudah selesai aku yang akan menghubungi balik. Sudahlah larut malam, jadi kalau sudah kuberikan barangnya langsung pulang ya?"

"Beres, beres. Oh iya, itu pacar baru? Kak Ketua OSIS itu?"

"Bukannya. Aku dipanggil ke rumah teman masa kecilku. Kami punya hubungan dekat selayaknya keluarga."

"Hee, gitu ya!"

Meskipun merasa gadis itu sedang mencoba menyelidiki sesuatu, Asahi berhasil mengelaknya dengan dingin.

Saat ia mengatakan akan mengirim alamat rumahnya lewat pesan nanti, Tsumugi merespons dengan "Oke."

"Jangan terlalu berharap banyak sama kadonya, ya!"

"Nggak berharap kok. Menerimanya saja... sudah hal yang membahagiakan."

"Oke deh. Kalau gitu sampai jumpa!"

"Balasan macam apa gaya orang tua itu... sampai jumpa."

Dalam sekejap mata Tsumugi pergi meninggalkan tempat itu. Asahi sempat berpikir ingin menanyakan situasi klub atletik akhir-akhir ini, namun ia sama sekali tidak punya waktu luang untuk itu. Kalau sekadar obrolan santai, Tsumugi sebenarnya adalah orang yang paling sefrekuensi dengan topik pembicaraannya.(............Bagaimana caranya agar bisa membenci seseorang dengan tulus?)

Jika masalahnya murni soal emosi, Asahi sama sekali tidak membenci Tsumugi. Ia justru memiliki rasa suka.

Namun karena batasan status dan situasi tidak mengizinkan perasaan suka itu ditunjukkan kepada Tsumugi, responnya jadi terasa kaku.

Seharusnya, ia dibenci oleh semua orang, dan ia pun harus membenci balik mereka. Itulah akhir kisah yang pantas didapatkan oleh seorang bajingan bernama Asahi Hodoki. Memilih-milih orang untuk disayangi adalah hal yang mustahil diizinkan baginya.(Setidaknya, jika aku bisa membenci orang lain dari lubuk hatiku sendiri, aku pasti akan dibenci balik oleh mereka.)

Pada akhirnya, kenyataan bahwa ia tidak cukup kuat untuk hidup dengan menolak segala hal di dunia ini adalah buktinya.

Justru karena hubungan mereka berakhir setengah-setengah, ia malah mencoba mencari secercah penyelamatan dari diri Tsumugi. Analisis diri itu langsung berubah menjadi kebencian pada diri sendiri, membuat Asahi mendadak berharap semoga saja di perjalanan pulang nanti ia ditusuk oleh seorang penjahat jalanan.

***

"Hi-kun, selamat ulang tahun. Paman ikut senang. Tahun ini pun kamu bisa menyambut hari ulang tahunmu tanpa ada masalah. Karena paman ingin setidaknya kamu seorang diri bisa tumbuh dengan sehat."

"Terima kasih banyak, Ayah Yui."

Ayah Yui—yang biasa dipanggil Ayah Yui—menyerahkan sebuah kotak kado yang telah dibungkus rapi.

Di hari ulang tahunnya, Asahi yang diundang ke rumah Yui sesuai rencana, kini tengah duduk mengelilingi meja makan yang dipenuhi hidangan mewah. Ibu Yui memasaknya dengan mengerahkan seluruh kemampuannya. Keluarga ini benar-benar sangat baik kepada Asahi.

Hal itu mungkin dikarenakan hubungan kedekatan sejak kecil, tapi—tidak diragukan lagi, hal itu juga karena mereka mengetahui latar belakang kehidupannya. Mereka sejak dulu adalah keluarga yang baik hati, dan mereka terus mengkhawatirkan Asahi yang kini tinggal sendirian setelah kehilangan kedua orang tuanya dan adiknya yang berada dalam kondisi koma.

"Kalau ada kesulitan, silakan konsultasikan apa saja, ya?"

"Ya. Terima kasih selalu, Ibu Yui."

"—Tomat di saladnya nggak suka (rasanya aneh)."

"Ibu tidak bicara pada Yui-chan, lho?"

"Jangan dimasukkan ke piringku..."

Yui memindahkan seluruh buah tomat ceri yang tadinya ditaruh di mangkuk salad miliknya ke atas piring Asahi.

Terhadap Yui yang punya cukup banyak makanan tidak disukai, Asahi—yang tidak memiliki makanan yang benar-benar ia benci, meskipun ada beberapa yang secara mental tidak ingin ia makan—sudah sejak dulu sering dijadikan tempat 'pembuangan'.

"Ha-ha-ha. Tidak boleh begitu, tidak boleh pilih-pilih makanan. Nanti tidak bisa tumbuh besar—Hi-kun."

"Bukannya aku yang pilih-pilih makanan, lho."

"Sebagai gantinya... aku tuangkan jus untuk Hi-kun, ya. Cepat dihabiskan... (sekali tenggak)."

"Itu sih bukan pengganti namanya."

Keluarga Hizume adalah keluarga bertiga yang menyenangkan. Ayah yang ceria dan energik, Ibu yang lembut dan ramah, serta Yui yang pemalu dan cenderung mengurung diri di kamar, namun memiliki selera humor tingkat tinggi yang menurun dari ayahnya. Asahi, yang cenderung berperan sebagai tsukkomi (pemberi tanggapan lucu/korektor), sering kali melontarkan tsukkomi kepada keluarga ini. Bisa dibilang kemampuan tsukkomi-nya justru ditempa oleh mereka.

"Nah, Hi-kun. Maukah kamu membuka kado dari paman?"

"Eh, bolehkah? Aku tadinya mau membukanya setelah makan."

"Fufufu. Ayah ini, rupanya sudah tidak sabar ingin melihat Hi-kun membuka kadonya, ya."

"Yui juga nggak tahu isinya (penasaran)."

"Kalau begitu, dengan senang hati."

Aku melepaskan pita kotak kado itu dengan perlahan, membuka tutupnya, dan melihat isi di dalamnya.

Karena kotaknya jauh lebih ringan dari kelihatannya, Asahi sebenarnya juga merasa penasaran benda apa gerangan yang ada di dalam sana.

"I-, ini adalah—"

Selembar kertas yang terlipat rapi terdiam tenang di dasar kotak.

Asahi mengambilnya lalu membukanya. Benda ini, yang biasa disebut—

"Surat Nikaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh───ッッ!! Ne, Hi-kun, kapan mau nikah sama Yuiiiiiiiiiiii────────ッッ!?!?!?!"

——Surat nikah, atau secara resmi disebut sebagai formulir pendaftaran pernikahan (konin todoke).

Tentu saja, benda itu bukanlah barang lelucon, melainkan formulir resmi yang bisa didapatkan di kantor pemerintahan.

Ayah Yui adalah seorang Paman yang menyenangkan dengan sedikit sisi gila yang terlihat di sana-sini.

"Wah, haha. Aku kan baru saja menginjak usia 17 tahun hari ini. Makanya formulir ini belum bisa diserahkan sekarang. Untuk saat ini benda ini cuma selembar kertas biasa."

"Undang-undang berubah... Yui juga belum bisa menyerahkannya (karena masih 16 tahun)."

Formulir pernikahan tidak akan diterima kecuali kedua belah pihak berusia minimal 18 tahun ke atas. Asahi berusia 17 tahun terhitung hari ini, dan Yui baru berusia 16 tahun, jadi bantahan Asahi bahwa benda itu untuk saat ini hanyalah selembar kertas biasa adalah hal yang benar.

"Tuh kan, Ayah. Makanya kubilang apa. Masih terlalu cepat dari segi hukum, kan."

"Begitu ya. Terlalu cepat secara hukum ya. Cuma selembar kertas biasa, ya~"

Ibu Yui menegur Ayah Yui. Dari segi keseimbangan, Ibu Yui adalah orang yang paling tenang dan berpikiran rasional di antara mereka.

"Kalau begitu artinya tahun depan sudah bisa diserahkan, dong?!?!?!?!?"

Tidak, ternyata tidak seperti itu. Ayah dan Ibu Yui berteriak bersamaan.

Ayah Yui gila secara normal, sedangkan Ibu Yui gila secara licik—itulah pasangan suami istri Hizume.

"Tahun depan Yui baru berumur 17 tahun, jadi sepertinya tetap belum bisa diserahkan. Yui kan lahir di awal tahun (haya-umare)."

Dan karena sudah terbiasa menghadapi mereka berdua selama bertahun-tahun, Asahi bisa memberikan tsukkomi dengan tenang. Memberikan tsukkomi kepada pasangan suami istri ini memang sudah menjadi peran Asahi.

"Kalau begitu jawabannya dua tahun lagi (mungkin)."

"Kalau begitu, dua tahun lagi berarti sudah bisa diserahkan, dong?!?!?!?!?"

Sebaliknya, Yui sangat mahir menebak jalan pikiran orang tuanya lebih dulu.

Hubungan keluarga mereka sangat harmonis—kemungkinan besar karena pasangan suami istri ini sangat cocok satu sama lain.

"Kalimat 'kalau begitu' yang diucapkan serempak itu, entah kenapa justru terasa seram..."

"Hi-kun, pinjam kertas itu sebentar..."

"Eh? Boleh."

Aku menyerahkan surat nikah yang terasa begitu 'berat' secara makna itu kepada Yui.

Seketika itu juga, sriitt, Yui merobek surat nikah itu menjadi dua bagian secara vertikal.

"Ara-ara."

"Yuiiiiiii────ッッ!! Apa yang kamu lakukannnnnn!!"

(Padahal itu kan kado ulang tahun buat aku...)

"Hal kayak gini, nggak perlu. Memberikan tekanan berlebihan ke Hi-kun itu... nggak boleh."

Yui sepertinya sedikit marah. Mungkin ia berpikir bahwa memberikan surat nikah sebagai kado ulang tahun dengan dalih lelucon sudah keterlaluan. Asahi merasa sedikit terkejut di dalam hatinya atas tindakan berani Yui itu.

"Yui..."

"Yui-chan..."

Ayah dan Ibu Yui sepertinya juga merasa bersalah. Suasana mendadak menjadi agak kurang nyaman——

"Tapi saaaaaaaaaaallllliiiiiiiiiiineeeennnnn!! Masih ada banyak banget stok cadangannya kok!! Jangan harap bisa menang melawan Pappa yang lagi serius gini, My Sweet Daughter Honey────────ッッ"

"Karena Pappa adalah pegawai kantor kota yang masih aktif, kami bisa menyiapkan surat nikah dalam jumlah tak terbatas, lho?"

——Tidak, ternyata tidak seperti itu. Pasangan suami istri ini tangguh di luar nalar.

Di tangan Ayah Yui, amunisi surat nikah masih tersisa banyak. Satu bendel penuh. Dalam jumlah grosir.

Orang ini tidak dikucilkan di tempat kerjanya, kan, Asahi sempat memikirkan hal itu secara samar.

"Maafkan aku ya, Hi-kun....... Yui, tidak bisa menang... (terlalu kuat)."

"Kamu tidak harus memaksakan diri untuk menang, kok..."

"Yah, begitulah, Paman tidak berniat menganggap ini sebagai lelucon, kok. Agar Hi-kun dan Yui, itu... m-, m-, m......... Ihh! Ampun deh! Malu banget!!"

"Ayah, berjuanglah!"

"Bukan reaksi tipikal orang yang melemparkan surat nikah sebagai kado ulang tahun, sih..."

"Menjijikkan (menjijikkan)."

Ada istilah keluarga yang ceria, namun keluarga Hizume tampaknya adalah keluarga yang keceriaannya setara dengan teriknya matahari musim panas.

Ayah Yui yang sedang merasa malu itu membulatkan tekadnya lalu melontarkan kata-kata itu.

"Yah, karena kalian kan sudah pacaran! Kalau kelak hubungan kalian berakhir ke jenjang itu, Paman sebagai pihak keluarga akan merasa sangat senang. Tentu saja, Paman tidak akan memaksa..."

Ayah Yui mengibas-ngibaskan segepok surat nikah di udara. Lalu menggunakan segepok kertas itu untuk mengipas-ngipasi dirinya sendiri bagaikan kipas angin datar (uchiwa).

"Itu jelas-jelas pemaksaan yang kasat mata, tahu, lewat surat nikah itu."

"Kita berdua kan masih anak SMA... kecepetan bahasanya. Ayah sama Ibu juga..."

"Yui-chan? Bocah SMA itu mengutamakan kecepatan bagai kilat (shinsoku), tahu?"

"Belum pernah dengar..."

"Peribahasa yang setengahnya mirip perkataan ngawur..."

Yui justru bertindak sebagai rem pengaman, sementara kedua orang tuanya justru mengerahkan seluruh tenaga mendukung pernikahan mereka berdua.

Hal itu terjadi karena ada alasan yang membuat mereka tidak bisa menganggapnya hanya sebagai lelucon belaka——dengan wajah yang sedikit lebih serius dan nada bicara yang tenang, Ayah Yui membuka suara.

"......Jujur saja, Paman ingin Hi-kun datang dan masuk ke keluarga kita sebagai menantu (muko-yoshi). Alasannya——meskipun rasanya kurang tepat mengatakannya di hari ulang tahunmu, tapi Hi-kun hampir tidak memiliki sanak saudara lagi. Di negara ini, ada banyak hal yang menjadi lebih mudah diurus sekadar dengan menyatukan status di dalam kartu keluarga (koseki). Jadi jika memikirkan masa depanmu, Paman ingin kamu melakukannya agar Paman bisa membantumu. Yah, tentu saja kalau kamu ingin menikahi Yui dan membawanya pun tidak masalah, sih?"

"Ayah Yui——terima kasih banyak. Tapi, seperti yang sudah kubilang sebelumnya, kalau urusanku tidak perlu dicemaskan. Masih ada kerabat yang membantu dari segi finansial kok. Lagian, kalau marga (myoji) ku tiba-tiba berubah menjadi Hizume, Koyori nanti akan kaget kalau dia terbangun."

"Kerabat... maksudmu kerabat jauh yang hampir tidak pernah kamu temui itu, ya? Apakah dia benar-benar orang yang bisa diandalkan? Maksudku, bukan berarti Paman meragukannya, tapi..."

Saat Asahi menjadi satu-satunya orang yang selamat dari kecelakaan dengan kondisi fisik yang masih utuh, orang yang paling pertama mencemaskannya adalah pasangan suami istri Hizume dan anak perempuan mereka, Yui. Bahkan pembicaraan mengenai adopsi anak sempat diajukan oleh mereka. Bagi Asahi yang hampir tidak memiliki sanak saudara dekat untuk dijadikan tempat bersandar, kebaikan hati keluarga Hizume saja sudah menjadi penyelamat terbesar baginya.

Oleh karena itu, fakta bahwa dirinya adalah cucu dari seorang tokoh berpengaruh bernama Zen Hinomiya sengaja ia sembunyikan.

Semua itu semata-mata demi alasan terendah—agar tidak mengganggu kelancaranPermainan Kehidupan Orang Lain.

"Yah, kurasa dia cukup bisa diandalkan, kok. Aku sendiri memang jarang menemuinya... tapi dia orang yang baik. Jadi tolong jangan khawatir. Aku tidak akan merepotkan kalian semua."

"Paman tidak pernah menganggapmu sebagai beban, lho."

Bukan berarti ia tidak pernah memikirkan opsi untuk membuang segalanya lalu menerima kebaikan dari keluarga Hizume.

Namun jika melakukan itu, artinya ia juga harus menitipkan perawatan sang adik, Koyori, bersama keluarga Hizume. Ia tidak boleh membebani keluarga berhati mulia ini dengan beban finansial sebesar itu. Justru karena keluarga ini begitu ramah dan terang, mencampurkan elemen kotor bernama Asahi ke dalamnya adalah sebuah dosa besar.

Oleh karena itu, ada satu garis batas minimal yang tidak akan pernah dilanggar oleh Asahi. Garis batas itu sepertinya juga disadari oleh Ayah dan Ibu Yui yang sudah dewasa, sehingga mereka tidak mendesaknya terlalu keras, dan hal itu merupakan sebuah penyelamatan bagi Asahi.

"U-, Ulang tahun! Hi-kun punya! Membahas topik suram itu nggak bagus...!"

Menyadari suasana mendadak tidak nyaman, Yui mengangkat suaranya dengan nada yang tidak biasa.

"Ah benar juga, kata Yui memang betul! Hari ini adalah hari ulang tahun Hi-kun——Paman meminta maaf sebesar-besarnya karena telah membuat sang pemeran utama merasa tidak enak. Oh ya, karena Paman di sini juga membawa surat cerai, bagaimana kalau kita membuat pesawat kertas dari surat ini lalu bertanding siapa yang bisa menerbangkannya paling jauh setelah makan nanti!!"

"Maafkan kami ya, Hi-kun. Kami tidak berniat buruk, kok. Hanya saja, Paman dan Bibi sangat mencemaskanmu... Bagaimana kalau kita buat aturan siapa yang jarak lemparannya paling pendek, hukumannya adalah tidak boleh makan stroberi di atas kue ulang tahun?"

"Pasangan suami istri ini sama sekali tidak ada nyambung-nyambungnya dengan topik sebelum dan sesudahnya...!!"

Mengapa pula ia sampai membawa serta surat cerai untuk dibawa pulang? Tanyakan pun percuma, jadi Asahi untuk sementara waktu menyetujui pertandingan membuat pesawat kertas dari surat cerai tersebut.

Setelah itu mereka melanjutkan makan, dan diakhiri dengan sajian kue ulang tahun, menghabiskan waktu yang benar-benar menyenangkan dari lubuk hati. Bisa makan, minum, dan tertawa bersama seperti 'masa lalu'—bagi Asahi, hal itu kini hanya bisa dirasakan di dalam rumah keluarga Hizume. Ia sangat menyadari bahwa tempat ini adalah tempat persinggahan terakhir di mana ia bisa kembali menjadi dirinya sendiri.

"Anu, Hi-kun....... Ini, kado ulang tahun dari Yui... (terimalah)."

"Seriusan? Terima kasih!"

Usai makan, saat mereka berdua kembali ke kamar Yui untuk bersantai——sebuah kado diserahkan dengan malu-malu.

Sebuah boneka buatan tangan seukuran telapak tangan. Dilengkapi dengan tali gantung seperti tali strap, benda itu bisa digantung atau diikat di mana saja. Desain boneka itu meniru karakter berbentuk buah ek (donguri), maskot terkenal yang sering dilihat Asahi di berbagai tempat.

"Ini, bentuknya itu, kan? Donguri-san. Karakter yang akhir-akhir ini sering kelihatan."

"Nen-donguri..."

"Iya itu. Hebat, kamu buat sendiri? Ditambah lagi wanginya enak banget."

Boneka buah ek itu mengeluarkan aroma manis yang mirip seperti aroma aromatherapy.

"Iya. Ini dibuat jadi sachets... Ibu jago membuatnya. Aku diajari..."

"Oh begitu, sachets ya! ......Sachets......?"

Meskipun ia menimpali pembicaraannya, Asahi sama sekali tidak familiar dengan kosakata tersebut.

"Kantong wewangian... Jenis barang yang sering digantung anak gyaru/chara di dalam mobil mereka... (kelihatan bau)."

"Citra perumpamaannya jadi jelek banget..."

Bisa ditebak, wewangian itu dimasukkan dan dijahit ke dalam boneka rajutan tersebut.

Asahi pernah melihat 'kantong beraroma harum'. Sepertinya namanya adalah sachet.

Yui memiliki tangan yang terampil, meskipun tidak dilakukan secara aktif, ia jago dalam membuat kerajinan tangan kecil atau memperbaiki peralatan mesin. Memanfaatkan keahliannya itu sepenuhnya, ia memberikan hadiah tersebut pada kesempatan ini.

"Terima kasih. Akan kujaga baik-baik."

"Fuhehe....... Tolong pasang di tas sekolahmu... bayangkan itu adalah Yui, lalu bawa ke sekolah. Dengan begitu, itu akan dihitung sebagai... kehadiran Yui (bisa jadi)."

"Mana mungkin begitu! Tapi tasnya akan tetap kupasang kok."

"Asyik..."

Ia mempertunjukkan pose gatsuzopo (mengepalkan tangan tanda sukses) yang membuat semangat melemah. Karena dia adalah putri dari pasangan itu, Yui juga menyimpan sisi humor yang tak terduga. Hanya saja ia jarang menunjukkannya.

Untuk membawa pulang 'donguri sachet' ini dengan aman, Asahi memutuskan memasukkannya ke dalam tas selempang (body bag) tempat ia menyimpan barang-barang berharganya. Lalu, ia tiba-tiba menyadari sesuatu.

(......Ada pesan masuk dari Oriko-san.)

Pesan masuk berdering di salah satu dari dua ponsel yang tersimpan di dalam tasnya.

Ponsel yang khusus digunakan untuk Oriko. Waktu yang berlalu sejak pesan itu masuk belum terlalu lama.

"Maaf ya Yui. Aku izin ke toilet sebentar."

"Keluar kamar lalu belok kanan..."

"Jangan mengusirku."

Ponsel yang berada di dalam saku celananya adalah ponsel untuk Yui dan Tsumugi. Agar tidak ketahuan oleh Yui, Asahi mengambil ponsel khusus Oriko, lalu berlari masuk ke dalam toilet.

Apakah alamat rumahmu benar di sini?

Pesan itu hanya dibubuhi kalimat singkat tersebut beserta tautan (URL) aplikasi peta. Saat tautan itu dibuka, peta tersebut memang menampilkan lokasi tempat tinggalnya saat ini.

Asahi langsung membalasnya. Aku pernah memberitahu alamatku, ya? Pesan itu langsung dibaca dalam hitungan detik.

Kekuatan super

(Mana mungkin...)

Adakah kekuatan super sepraktis itu? Saat mereka pergi jalan-jalan bersama sebelumnya, Asahi pernah beberapa kali menuliskan alamatnya saat mengisi formulir pendaftaran member di tempat resepsi. Oriko mungkin melihatnya sekilas dari samping dan mengingatnya.

Mengesampingkan detailnya Benar kan di sini? House place-mu

(House place...)

Meskipun kosakatanya aneh, maksud yang ingin disampaikan bisa dipahami. Asahi membalas Benar kok, lalu dibalas dengan stiker karakter misterius bertuliskan O-kes.

Nanti kuanterkan kadonya ke sana ya Kamu ada di rumah, kan? Lagi merayakan ultah juga sih

(......Gawat juga ya. Alur ini tidak bisa ditolak.)

Bagi pemahaman Oriko, situasinya adalah 'sedang dirayakan oleh keluarga di rumah'. Pada kenyataannya ia sedang dirayakan di rumah keluarga Hizume, jadi situasinya sedikit berbeda. Namun jika ia menolak secara sembarangan di sini, atau mengatakan 'apakah hari lain saja tidak bisa?', ia pasti akan menimbulkan kecurigaan yang tidak perlu. Tidak ada pilihan lain selain menerimanya secara jujur.

Asahi mengirimkan pesan, Sudah larut malam dan waktunya tidak banyak, apa tidak apa-apa?

Tidak apa-apa Cuma mau menyerahkannya saja kok Nanti kukabari kalau sudah sampai, jadi keluarlah sebentar Oh ya, untuk berjaga-jaga konfirmasi dulu

(Konfirmasi...er?)

Boleh beri tahu nomor kamarmu sekalian

"............"

Setelah itu, ia mengatakan akan membalasnya nanti, lalu Asahi menutup sambungan pesannya.

Ia segera keluar dari toilet, mencuci tangan, dan kembali ke kamar Yui.

"Hi-kun, tidak apa-apa? (perutnya)"

"Ah, tidak, aman kok. Cuma aku harus segera mengerjakan tugas, jadi sebentar lagi mau pulang. Lagian hari ini kan hari biasa, besok sekolah."

Jika ia berlama-lama di rumah keluarga Hizume, ia tidak akan bisa menepati janji dengan Oriko. Ia harus segera pulang, lalu menyesuaikan situasinya dengan Oriko. Asahi merangkai alasan yang masuk akal agar ia bisa pulang.

"......Tidak mau menginap? Seperti biasanya..."

"Ngomong apa sih. Mana ada menginap sejak naik tingkat SMP."

"Begitu ya... (cih)"

"Aku akan datang lagi. Nanti giliran mengajarimu belajar."

"Tidak perlu memaksakan diri..."

"Woi."

Sambil melontarkan candaan ringan dengan Yui, Asahi berpamitan kepada Ayah dan Ibu Yui.

"Hi-kun, mau pulang, ya? Perlu Paman antar?"

"Tidak usah, tidak usah, dekat kok. Lagian aku mau mampir ke minimarket di jalan pulang."

"Hati-hati di jalan ya?"

"Iya. Terima kasih banyak untuk hari ini. Makanannya enak sekali."

"Dadah..."

"Sampai jumpa lagi, Yui. Jangan tidur terlalu malam, ya."

Asahi membungkuk hormat kepada tiga anggota keluarga Hizume yang mengantarnya hingga ke beranda depan, lalu membuka pintu perlahan dan melangkah ke luar. Beberapa detik setelah pintu itu tertutup, Ayah Yui bergumam pelan.

"—Padahal, rumah kita bertetangga, ya."

***

——Ah. Maaf ya, Hodoki-kun. Ada barangku yang tertinggal di ruang OSIS...——

Mitoguchi Kanase melontarkan satu kebohongan kepada Asahi Hodoki. Meskipun begitu, itu bukanlah kebohongan sepenuhnya, karena ia juga menyisipkan beberapa kebenaran di dalamnya. Tempatnya bukan di ruang OSIS, melainkan di ruang guru. Dan yang ia 'tinggalkan' bukanlah sebuah benda, melainkan sebuah 'urusan'.

Jika seseorang sudah mendapatkan kepercayaan dari para guru, urusan-urusan yang biasanya sulit diurus pun terkadang bisa disetujui begitu saja tanpa alasan yang rumit. Kanase memanggil guru yang menjabat sebagai kepala tingkat kelas dua.

Satu hal yang ingin ia ketahui. Alamat rumah Yui Hizume.

Dengan hanya beralasan bahwa ada barang titipan yang harus diantarkan ke sana, sang guru bahkan memberinya kata-kata penyemangat seperti, "Terima kasih ya seperti biasa."

Barang titipan itu bukan untuk dirinya, melainkan untuk Asahi Hodoki. Jadi, bagian ini pun merupakan sebuah kepalsuan.

Meskipun begitu, Kanase yang telah mendapatkan informasi yang diinginkannya meninggalkan ruang guru seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Kanase tidak berniat——untuk menemui Yui Hizume.

Gadis itu adalah teman masa kecil Asahi, dan rumah mereka saling berdekatan... tetangga sebelah.

Dengan kata lain, untuk mengetahui alamat Asahi yang tidak pernah diberitahukan kepadanya, ia hanya perlu menyelidiki tempat tinggal Yui Hizume.

(Maaf ya, Hizume-san. Nanti akan kubuatkan cetakan ringkasan materi belajar mandiri untuk materi pokok kelas dua, lalu kuberikan padamu.)

Semua ini semata-mata dilakukan demi memberikan kado kejutan di hari ulang tahun Asahi Hodoki.

Hari itu, fakta bahwa Kanase sendiri sebenarnya memiliki jadwal acara lain adalah benar, namun jika ditunda ke hari lain rasanya kurang berkesan.

Lebih dari segalanya, niat yang sebenarnya di lubuk hatinya adalah ia ingin mencoba memberikan kado secara surprise.

Barangkali para staf pengajar di SMA Sōyō pun tidak pernah membayangkan bahwa sang ketua OSIS akan bergerak berdasarkan motif asmara seperti itu. Kepercayaan yang tebal akan melenyapkan segala kecurigaan——oleh karena itu, perbuatannya pasti tidak akan terbongkar.

(——Aneh.)

Begitu tiba di hari ulang tahun tersebut. Hal yang dirasakan oleh Mitoguchi Kanase adalah sebuah kejanggalan yang luar biasa.

Kanase yang telah tiba di kediaman keluarga Hizume melihat cahaya yang merembes keluar dari celah tirai. Bukan berarti tidak ada hal yang terpikirkan olehnya mengenai pemandangan itu——namun ia tidak punya pilihan selain mempercayainya. Mengingat latar belakang situasi Asahi Hodoki, mencampuri tindakan pemuda itu hari ini adalah hal yang pantas dihindari, bahkan oleh seorang kekasih sekalipun.

Oleh karena itu, Kanase berjalan dengan tenang menuju rumah di sebelah kediaman keluarga Hizume, yaitu kediaman keluarga Hodoki.

Baik rumah keluarga Hizume maupun rumah keluarga Hodoki adalah rumah tapak (detached house).

Tentu saja, kediaman keluarga Hodoki yang sedang ditinggal pergi oleh Asahi tampak gelap gulita, tanpa ada satu pun lampu di dalam rumah yang menyala.

Mengingat kedua orang tuanya telah tewas karena kecelakaan dan adiknya sedang dirawat di rumah sakit, wajar jika tidak ada siapa pun di rumah ini.

(Jendela-jendelanya ditutup shutter [pintu gulung pengaman], dan tidak ada satu pun lampu yang menyala.)

Jendela geser kaca besar di rumah tapak sebagian besar dilengkapi dengan shutter pengaman.

Misalnya diturunkan pada hari badai untuk mencegah benda-benda membentur kaca hingga pecah.

Atau diturunkan pada malam hari demi alasan keamanan untuk mencegah kaca dipecah maling.

Seluruh jendela di kediaman keluarga Hodoki diturunkan shutter-nya. Bahkan jendela di lantai dua rumah berlantai dua itu pun tertutup rapat.

Secara faktual, Asahi tinggal sendirian. Sebagai bentuk kesadaran akan keamanan, menurunkan semua shutter rumah saat hendak bepergian adalah sesuatu yang masih bisa dipahami. Namun, kali ini tujuannya adalah pergi ke rumah keluarga Hizume yang berada tepat di sebelah, jadi Kanase merasa tidak ada perlunya melakukan tindakan sampai sejauh itu——atau bahkan jika harus dilakukan, cukup shutter jendela lantai dasar saja yang diturunkan——menurutnya hal itu tidak masuk akal. Lagipula, apakah anak SMA laki-laki gemar melakukan hal yang serempot itu?

(Dari jendela lantai dua, terhubung ke arah beranda......)

Jendela lantai dua yang mengarah ke beranda tempat tiang jemuran terlihat, juga tertutup shutter-nya. Sama sekali tidak ada pakaian yang dijemur. Apakah sudah diangkat masuk ke dalam?

Selain itu, ia juga merasa terganggu karena tidak ada satu pun lampu penerangan di sekeliling area luar rumah yang dinyalakan. Ia bisa memahami jika demi alasan penghematan listrik, semua lampu bagian dalam maupun luar dimatikan saat bepergian, namun jika itu alasannya, hal itu tidak sinkron dengan kondisi shutter-nya.

Lampu di pagar rumah atau di ambang pintu depan, jika dibiarkan menyala saja sudah memberikan efek pencegahan kejahatan tertentu. Karena keberadaan lampu luar yang menyala memberikan arti bahwa rumah tersebut mungkin sedang berpenghuni.

Jika Asahi memiliki kesadaran keamanan yang tinggi dan merupakan tipe orang yang menurunkan semua shutter saat bepergian, maka ia seharusnya menyalakan lampunya juga sekalian untuk berjaga-jaga.

(......Sedang bepergian dalam jangka panjang. Atau, rumah kosong yang ditinggalkan atau dijual.)

Jika harus mendeskripsikan kondisi kediaman keluarga Hodoki dalam satu kalimat, ketiga kemungkinan itulah yang langsung terlintas di benak Kanase. Jika meninggalkan rumah dalam jangka waktu lama, kemungkinan lampu tidak dinyalakan memang ada. Terlebih lagi jika itu adalah rumah kosong tanpa penghuni.

Asahi——padahal tinggal di sini?

Kanase mengalihkan pandangannya ke arah kotak pos. Bukan berarti surat-surat menumpuk hingga meluber keluar dari mulut kotak pos. Apakah surat-surat itu rutin diambil?

"—Maafkan aku, Hodoki-kun."

Kanase membuka gerbang kediaman keluarga Hodoki, menerobos masuk, membuka kotak pos, dan menyenteri bagian dalamnya menggunakan lampu ponsel.

Isinya ternyata tidak kosong. Ada beberapa lembar kertas yang bertumpuk. Semuanya tampak seperti slip pemberitahuan ketidakhadiran pengiriman (absence slip).

(Hanya slip pemberitahuan ketidakhadiran saja yang tidak diambil? Bukan, bukan begitu——)

Surat-surat seharusnya sudah diambil secara rutin. Namun, hanya slip pemberitahuan ketidakhadiran saja yang dibiarkan tertinggal.

(Slip pemberitahuan ketidakhadiran akan dimasukkan lagi jika saat dikunjungi ulang penghuninya tetap tidak ada. Artinya, slip yang sama akan menumpuk berlapis-lapis. Saat mengambil surat lain, ia hanya mengambil slip yang diperlukan saja dan membiarkan sisanya tertinggal.)

Jika diperhatikan, surat-surat pemberitahuan ketidakhadiran itu memang adalah jenis yang sama. Sebegitu seringnya slip yang sama menumpuk, rumah ini menandakan bahwa memang selalu tidak ada orang di sini. Namun sesekali, hanya surat-surat penting saja yang diambil. Jumlahnya yang begitu banyak hingga meninggalkan sisa slip duplikat di dalam kotak pos menjadi buktinya.

Pikiran Kanase berputar-putar tak menentu. Di dalam benak Kanase, keraguan tersusun bagaikan peluru yang diisikan ke dalam magasin, lalu mulai mengarahkan larasnya ke arah sang kekasih. Apakah itu sebuah kecurigaan, ataukah sekadar rasa penasaran, ia sendiri belum bisa memberikan jawaban yang pasti.

——Pada saat itu, dari arah teras rumah keluarga Hizume, terdengar dengan jelas sebuah suara yang sangat ia kenal.

***

"—Hodoki-kun."

"Eh, uwaaah!? K-, Ketua!?"

Begitu mendengar suara secara tiba-tiba, lalu mendapati Kanase berdiri di hadapan rumahnya, Asahi hampir kehilangan keseimbangan. Kalau bisa dibilang, dia bahkan hampir berteriak. Sungguh buruk bagi kesehatan jantung——benar-benar buruk.

"T-tunggu, kenapa ada di depan rumahku? Lagian setidaknya beri tahu aku..."

"Surprise!"

"Kaget dan dibuat terkejut itu, rasanya mirip tapi sebenarnya berbeda, lho..."

Mungkin karena Asahi sudah cukup terkejut, Kanase tampak merasa puas.

Lalu dari dalam tas tangannya, ia mengeluarkan sebuah kotak berbungkus rapi seukuran cokelat batangan.

"Aku ingin menyerahkan kado ulang tahun ini secara langsung. Bukan di hari lain, melainkan tepat di hari H."

"Begitu ya... terima kasih banyak. Aku senang sekali."

Kondisi di luar sudah gelap, jadi periksa isinya nanti setelah sampai di rumah ya?"

"Baik. Ah... omong-omong, mau mampir ke atas sebentar? Tidak ada siapa-siapa kok."

Asahi menunjuk ke arah pintu depan rumahnya. Sedikit rasa enggan untuk membawa seorang gadis ke rumahnya di malam hari pada hari kerja seperti ini——ia sengaja bersikap begitu agar terlihat wajar. Jujur saja, isi hatinya sebenarnya sangat kacau.(Kenapa Ketua bisa ada di sini pada waktu seperti ini? Memangnya kenapa orang ini tahu rumahku...)

Asahi tidak pernah memberitahu alamat rumahnya kepada Kanase. Paling-paling informasi yang ada hanyalah bahwa ia adalah tetangga sebelah Yui Hizume.

Baik Oriko maupun Kanase sama-sama sangat pandai menggali informasi pribadi orang lain. Atau mungkin, penjagaannya sendiri yang terlalu longgar. Kalau soal alamat pacar, wajar saja jika seorang pacar tahu, dan ia tidak mungkin menunjukkan rasa jijik atau benci karena hal itu sudah terbongkar.(Aku harus mencari cara agar dia cepat pulang. Kalau tidak, jadwal dengan Oriko bisa——)

"Maksudnya itu, kamu mau mengantarku masuk sekarang?"

"Eh?"

"Ke tempat tinggal Hodoki-kun yang sebenarnya."

(............Seriusan?)

Ia mendesah di dalam hati. Melampaui rasa terkejut dan panik, ia justru merasa hampir terpesona dengan kecepatan daya tangkap Kanase. Melihat kondisi rumah seperti ini, apakah wanita itu bisa langsung menebaknya dengan mantap? Sekalipun ia hanya sedang menggertak, tidak ada gunanya melakukan hal semacam itu. Jika tidak memiliki keyakinan pasti, kalimat ini tidak akan mungkin terlontar.

Pilihan untuk berkelit langsung hancur dalam sekejap. Tidak, instingnya menyadari bahwa berbohong kepada Kanase adalah hal yang sia-sia.

"Ah, eetto, itu, bukan berarti aku berniat menyembunyikannya, ya? Tinggal di rumah ini membuatku... merasa terlalu sedih dan berat. Jadi sekarang aku menumpang di tempat kerabatku dan tinggal di tempat lain."

Oleh karena itu, saat ini Asahi tidak tinggal di 'rumah asalnya'. Dulu——sebelum kecelakaan terjadi——ia memang tinggal di sini, namun ia meninggalkan tempat ini setelah kecelakaan itu. Tinggal sendirian di rumah keluarga yang sudah tidak berpenghuni lagi hanya akan membuat kewarasannya tergerus oleh kesedihan dan keputusasaan. Itu adalah hal yang mustahil bisa ditanggungnya.

Segala sesuatu yang diperlukan untuk memenuhi syaratPermainan Kehidupan Orang Lainselalu disiapkan oleh Kirio jika ia memintanya.

Memiliki beberapa unit ponsel adalah bagian dari hal itu, dan tempat tinggal pun bukanlah sebuah pengecualian.

"Alasannya adalah... ya, seperti yang kamu duga. Terlalu menyakitkan tinggal di rumah ini. Sekarang aku tinggal di tempat lain berkat bantuan kerabat."

Oleh karena itu, saat ini Asahi tinggal di apartemen lain yang disediakan oleh Kirio. Keluarga Hizume mengetahui hal itu, dan secara eksternal diceritakan bahwa 'ia tinggal seorang diri di apartemen milik kerabat jauhnya'.

Alamat yang ditebak oleh Oriko adalah alamat apartemen tersebut, dan kemungkinan besar saat ini Oriko sedang menuju ke sana.

Alasan ia tidak menceritakan hal ini kepada Kanase adalah karena memiliki banyak basis tempat tinggal jauh lebih aman dan praktis. Jika hanya memiliki satu tempat tinggal dan tempat itu diketahui oleh semua pacarnya, itu pasti akan memicu risiko di kemudian hari.

Oleh karena itu, Asahi pada dasarnya tidak pernah memberitahu tempat tinggal utamanya, dan jika terpaksa harus memberitahu, ia membedakan antara 'rumah utama' dan 'apartemen' tergantung pada siapa orangnya. Singkatnya, Kanase seharusnya masuk dalam kategori orang yang mengetahui rumah utama.

Namun jika situasinya sudah jadi begini, ia tidak punya pilihan selain menceritakan kedua tempat itu kepada Kanase.

"Begitu ya... Kuperkirakan kamu tinggal sendirian di rumah keluargamu ini selama ini..."

"Maaf ya. Kupikir itu bukan hal yang penting, jadi aku tidak menceritakannya pada siapa pun. Dalam artian itu, aku dan Yui sebenarnya sudah bukan tetangga sebelah lagi. Ah tapi, tempat tinggalku yang sekarang juga tidak begitu jauh dari sini. Makanya aku bisa mengantarkan cetakan print tugas dan semacamnya."

Masalah kecelakaan adalah hal yang sangat sensitif, dan Kanase mempertimbangkan situasinya sehingga ia tidak mendesak masuk terlalu dalam. Justru karena itulah, fakta bahwa tempat tinggalnya berbeda pun bisa dimasukkan ke dalam alasan yang sama.

Ia mungkin merasa yakin, namun tidak akan menaruh curiga. Begitulah perkiraan Asahi.

"Begitu ya. Ngomong-ngomong, soal kerabat itu? Apakah itu kakek dan nenek Hodoki-kun? Atau paman dan bibi?"

"Itu——"

Kenyataannya, itu adalah sang kakek. Namun, nama itu tidak boleh diucapkan kepada siapapun, tidak peduli siapa lawannya.

Bagaimana ia harus mengatakannya? Seperti yang ia ceritakan kepada keluarga Hizume, menyebutnya sebagai kerabat jauh sepertinya adalah pilihan yang paling aman. Ia hampir tidak pernah bertemu dengan Zen, dan meskipun secara silsilah darah adalah kakeknya, secara pengenalan ia sudah menganggapnya seperti orang asing.

Lebih baik tidak menumpuk kebohongan yang tidak perlu. Meskipun begitu, Asahi merasakan kegelisahan yang ganjil di dalam dadanya.

Kenapa Kanase menanyakan tentang kerabatnya? Apakah informasi itu adalah informasi yang penting bagi Kanase? Jangan-jangan, hal yang sebenarnya ingin ia ketahui bukanlah itu.

"—Sebenarnya, dia adalah sepupuku. Aku menumpang tinggal di tempatnya."

Oleh karena itu, kebohongan tersebut meluncur begitu saja dari mulutnya secara alami, hingga membuat dirinya sendiri terkejut.

"S-, sepupu? Tak disangka..."

"Iya. Yah, awalnya kami hampir tidak pernah saling kenal, sih."

"Itu artinya, Hodoki-kun tidak tinggal sendirian, ya?"

"Selama aku belum kembali ke sini, ya begitu."

"......Begitu ya. Hmm, sedikit disayangkan."

"Eh?"

"Kalau kamu tinggal sendirian, aku tadinya berencana meminta kunci cadangan, padahal."

Kanase mengatakannya dengan nada bercanda——namun sama sekali tidak terdengar seperti sebuah candaan di telinga Asahi.——Ibu pun sebenarnya hanyalah wanita mainan, bukan kekasih utamanya. Begitu saja kesimpulannya——

Ucapan yang pernah dilontarkan oleh Kanase di masa lalu itu beresonansi bolak-balik di dalam benak Asahi.

Saat itu, guru Ashiya sebagai 'kekasih utama' dipercayakan kunci cadangan oleh Satomi Ryoya. Sebaliknya, dua wanita lainnya yang hanya dianggap mainan tidak diberikan. Jika dibalik, 'kunci cadangan' merepresentasikan seberapa besar tingkat kepercayaan yang diberikan kepada pasangan.(Aku jadi paham kenapa aku tadi spontan berbohong... Alasannya karena aku merasa akan mengarah ke sana. Ketua sepertinya menginginkan 'bukti' yang nyata...)

Ia tidak menunjukkannya di luar. Bisa dibilang bersikap seperti biasa. Namun, Kanase jelas-jelas sedang menaruh curiga kepada Asahi, dan justru karena itulah ia menginginkan wujud nyata dari 'kepercayaan' tersebut.

Jika Asahi beralasan dengan alasan yang sama seperti pada keluarga Hizume, yaitu 'tinggal sendirian di apartemen milik kerabat jauh', situasinya tamat. Jika setelah itu Kanase merengek meminta kunci cadangan, ia tidak punya pilihan selain memberikannya——namun begitu kunci itu diserahkan, zona aman bagi Asahi akan lenyap selamanya.

Kepada siapa pun di antara para pacarnya, ia tidak boleh menyerahkan kunci cadangan. Karena Asahi Hodoki menyimpan terlalu banyak rahasia.

(......Untung saja. Berkat sikapnya yang tidak langsung menembak dengan kalimat 'kamu tinggal sendirian sekarang?', dia wanita yang penuh pertimbangan, atau bisa dibilang sangat berhati-hati, pokoknya dia benar-benar orang yang tidak boleh diremehkan.)

Asahi sedikit menghela napas lega. Percakapan dengan Kanase menyimpan ranjau di setiap celahnya.

Jika ia membuat kesalahan kecil, Kanase akan menerobos masuk sekaligus. Menuju ke inti diri Asahi yang paling rahasia.

"Ah, tapi minta kunci cadangan sepertinya terlalu cepat ya. Kita kan masih anak SMA."

"Iya juga ya. Hal seperti itu mungkin baru dibicarakan setelah kita lulus sekolah nanti."

"Setuju. Makanya, sebagai anak SMA yang baik——bolehkah aku mampir untuk memberikan salam?"

"...Ah, salam? Kepada siapa?"

"Kepada sepupumu itu. Kalau aku tebak, posisinya saat ini mirip seperti wali pengganti Hodoki-kun, kan? Karena kita sedang berpacaran, aku ingin orang itu setidaknya tahu siapa diriku. Tempat tinggal kalian kan dekat dari sini, kan? Sungguh, hanya sekadar mampir memberikan salam saja kok."

"Begitu ya..."

——Salah. Kanase memiliki anak panah kedua. Permintaan kunci cadangan tadi mungkin hanya sebatas lemparan umpan, dan target sebenarnya adalah hal ini. Ia ingin memvalidasi data pernyataan Asahi.

Argumennya memang masuk akal. Mengesampingkan fakta bahwa hari ini adalah hari kerja dan waktu sudah larut malam.

Kanase sepertinya tidak berniat menunda kunjungan salam itu ke lain hari. Kunjungan itu bermakna karena dilakukan sekarang.(Kalau ditunda ke lain hari... dia bisa saja 'menyiapkannya'. Dengan melakukan kunjungan mendadak tanpa janji di jam seperti ini, terbukti apakah aku benar-benar tinggal bersama 'sepupu' atau tidak. Konsistensi dan kebenaran akan melekat pada ucapanku. Itulah yang diinginkan oleh Ketua. Dia tidak ingin mencurigaiku, wanita ini......)

Memilih menghabiskan hari ini di rumah Yui pada dasarnya memang mengundang rasa curiga. Ia ingin melenyapkan kecurigaan itu——maka dari itu Kanase mendesak begitu keras saat ini.

Pacarnya ingin bukti nyata bahwa ia sama sekali tidak berbohong.

Jika tidak begitu, wanita itu tidak akan bisa percaya dan terus mencurigai...... lalu mengejarnya hingga tuntas.(——Tidak ada. Mana ada sepupu di sana. Ah, sial......)

Itulah sebabnya ia tidak seharusnya menumpuk kebohongan yang tidak perlu. Namun, jika ia tidak berbohong tadi, situasinya akan mengarah pada permintaan kunci cadangan. Bagaimanapun juga, begitu dicurigai oleh Kanase, Asahi seorang diri tidak akan mampu menandinginya. Cepat atau lambat kebohongan itu akan terkoyak dan terurai seperti benang rajutan. Itulah yang disebut sebagai seorang detektif hebat.

——Melalui celah saku celananya, Asahi menekan tombol di dalam saku tersebut satu kali.

"Boleh-boleh saja sih, tapi kira-kira dia ada di rumah nggak ya? Sepupuku itu suka keluyuran malam-malam."

"Kalau soal itu... sepertinya tipe yang sangat berbeda dari Hodoki-kun, ya."

"Ya, bisa dibilang begitu."

Ia mulai melangkah memandu Kanase. Kecemasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya bergejolak di dalam diri Asahi.(Omong-omong, kalau aku membawa Ketua langsung ke rumah itu——)Nanti kuanterkan kadonya ke sana ya Kamu ada di rumah, kan? Lagi merayakan ultah juga sih(——Kemungkinan besar Oriko-san dan Ketua akan saling berpapasan di sana......!!)

Bukti eksistensi 'sepupu' fiktif. Menghindari pertemuan antara Kanase dan Oriko. Serta kelalaian yang tak boleh diabaikan.

"Ngomong-ngomong, Hodoki-kun."

"Ada apa?"

"Seandainya, jika kamu harus memberikan kunci cadangan kepadaku——kunci rumah yang mana yang akan kamu berikan?"

——Hitungan mundur yang mengarah pada kehancuran Asahi Hodoki, kini telah resmi dimulai.

***

(Di sinilah apartemen tempat tinggalnya)

Kokigi Oriko tiba di bawah apartemen tempat tinggal Asahi Hodoki.

Tujuannya adalah untuk memberikan kado, namun ia juga memiliki tujuan lain.(Aku melihat sebuah 'potongan adegan' (cut) yang kurang bagus. Hari ini, di sini)

Mengenai apa yang disebut prekognisi (pelihatan masa depan), Oriko sendiri masih setengah percaya setengah tidak. Artinya adalah 'separuh benar, separuh meleset'. Prekognisi terjadi secara spontan dan tiba-tiba, memperlihatkan masa depan dekat kepada Oriko.

Namun, masa depan itu bukanlah bentuk gambar atau bahasa yang jelas, melainkan hanya bisa dilihat melalui beberapa 'gambar diam' (still image), seperti potongan capture video. Oriko menyebut ini sebagai 'potongan adegan' (cut), namun jika ditanya apakah 'potongan adegan' itu adalah masa depan yang pasti akan terjadi, probabilitasnya benar-benar antara percaya dan tidak.

Ketika tepat sasaran, masa depan yang datang hampir persis seperti adegan dalam 'potongan adegan' tersebut, namun ketika meleset, ia justru melihat masa depan yang sama sekali tidak ada hubungannya dan meleset jauh. Jujur saja, itu adalah kemampuan yang tidak berguna.(Potongan adegan di mana dia bersama wanita lain——Yah, aku tidak tahu siapa wanita itu. Setidaknya, jika dia memang bersama wanita lain, itu berarti hari ini dia tidak menghabiskan waktu bersama 'keluarga'.)

Sebelumnya Oriko juga pernah beberapa kali melihat 'potongan adegan' di mana Asahi bersama wanita yang tidak ia kenal. Namun, tidak ada tanda-tanda perselingkuhan yang jelas dari Asahi, sehingga ia menganggapnya sebagai masa depan yang meleset.

Kali ini pun situasinya sangat sederhana. Jika Asahi saat ini sedang berada di rumah, itu berarti ramalannya meleset. Karena 'potongan adegan' tersebut menunjukkan masa depan di mana Asahi sedang berjalan bersama wanita asing di luar pada malam hari.(Nomor kamarnya adalah 501. Berdasarkan nomornya, sepertinya itu adalah kamar sudut. Lampu kamarnya——)

Dari bagian belakang apartemen, ia menelusuri cahaya yang merembes dari beranda. Di bagian yang menjadi kamar sudut lantai lima dari apartemen tujuh lantai tersebut, ia melihat tempat yang sepertinya adalah kamar 501.

......Gelap. Lampunya tidak menyala. "Hmm," gumam Oriko seorang diri.

Selanjutnya, Oriko berputar menuju pintu masuk apartemen. Itu adalah apartemen dengan sistem auto-lock, dan kotak pos berjejer seperti sarang lebur di samping pintu masuk. Tidak ada nama yang tertera di kotak pos nomor 501.(Yah, akhir-akhir ini jumlah keluarga yang tidak menempelkan papan nama di kotak pos memang semakin bertambah, ya)

Pintu kaca yang menjadi pintu masuk dilengkapi dengan panel pengoperasian interkom. Dengan memasukkan nomor kamar menggunakan tombol angka di sana lalu menekan tombol 'panggil' (call), interkom kamar akan berdering. Penghuni dapat membuka kunci auto-lock pintu masuk dari dalam kamar, memungkinkan pengunjung untuk masuk ke area lobi dalam.

"A-, anuu"

"Hm?"

Seseorang memanggil Oriko yang sedang melakukan penyelidikan. Oriko langsung berbalik.(Anak-anak... usia SMP atau SMA? Penghuni sini?)

Gadis dengan kulit bercahaya dan sehat, batin Oriko. Wajahnya pun cukup manis.

——Wajah. Oriko tiba-tiba teringat. Wajah ini pernah ia lihat sebelumnya. Di dalam prekognisi.

"Apakah kunci di sebelah sana tidak dibuka?"

Anak seusia SMP-SMA itu menunjuk ke arah panel pengoperasian. Di sana terdapat lubang kunci, dan penghuni dapat membuka kunci auto-lock pintu masuk secara manual dengan memasukkan kunci ke lubang tersebut. "Ah," jawab Oriko pelan.

"Maaf. Aku hanya sedang menunggu seseorang, bukan penghuni sini."

"Eh!? Ah, masa, o-, gitu ya... ah, iya, kalau gitu permisi ya!"

......?

Anak SMP-SMA yang buruk dalam bertutur kata bahasa sopan itu berbalik pergi dengan terburu-buru. Ada apa sebenarnya.(Wajah itu memang pernah kulihat dalam 'potongan adegan' sebelumnya... tapi aku tidak bisa mengingat detailnya)

Bagaikan mimpi yang dilihat menjelang subuh, 'potongan adegan' yang dilihat dalam prekognisi akan segera terlupakan. Meskipun ia berusaha mengingatnya secara sadar, karena ia sehari-hari sering melihat 'potongan adegan' yang tidak penting, Oriko hanya berusaha mengingat hal-hal yang benar-benar ingin ia ingat saja.

Dalam artian tersebut, wajah yang muncul di dalam 'potongan adegan' yang tidak penting mungkin adalah anak tadi. Sekalipun ia bersusah payah mengingatnya kembali, bagaikan jarang bisa melihat kelanjutan mimpi, itu akan menjadi hal yang sia-sia.

Oriko yang langsung mengalihkan pikirannya mengetik angka 501 di panel operasi, lalu menekan tombol 'panggil'.

Suara elektronik ting-tong bergema agar bisa terdengar sampai ke sini.

".................. Tidak ada di tempat, ya."

Ia mengira keluarganya yang akan mengangkat, namun sejak awal menatap lampu kamar yang padam, harapannya sudah tipis.

Bahkan, apakah pemuda itu benar-benar memiliki keluarga, ataukah benar-benar tinggal di sini, hal itu pun meragukan.(Haruskah aku meneleponnya)

Ia belum memberitahu bahwa dirinya sudah tiba. Karena ia ingin menemuinya tanpa membuat janji terlebih dahulu (tanpa appoinment).

"Maaf. Permisi."

Saat Oriko hendak menyentuh ponselnya, suara lain memanggilnya. Seorang wanita muda mengenakan setelan jas memasukkan kunci ke panel operasi dengan cepat lalu membuka kunci pintu masuk. Kali ini, ia pastinya adalah penghuni apartemen ini.

"Maaf. Aku kehilangan kunci rumahku. Bolehkah aku masuk bersama?"

"Eh? Ah, ya."

Secara spontan, Oriko menyusup masuk ke area lobi apartemen bersama wanita tersebut. Alasan yang asal-asalan, namun wanita ini sepertinya tidak terlalu peduli pada orang asing yang tidak dikenalnya.(Langsung pergi ke kamar 501. Kalau mau menyelidiki, harus tuntas——)

Meskipun tindakannya tergolong penyusupan ilegal, Oriko bersikap sangat percaya diri saat naik ke dalam lift bersama wanita tersebut.

Sesuai dengan 'potongan adegan' yang ia lihat——sambil merenungkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

***

Asahi dan Kanase berjalan berdampingan menyusuri jalan malam dengan sedikit kata-kata.

Kunci cadangan milik siapakah yang akan diserahkan——Asahi tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan serius. Ia hanya bisa mengelaknya dengan candaan asal-asalan seperti, "Kalau perlu, kuberikan keduanya."

"......Dengan kerabatmu itu, sebelumnya kalian hampir tidak pernah saling mengenal, kan? Tinggal bersama, apa itu tidak apa-apa?"

"Yah, begitu ya. Usianya tidak terpaut jauh, jadi tidak apa-apa. Alasan kenapa kami tidak saling kenal karena keluarga kami jarang bersosialisasi dengan kerabat, sih. Terutama pihak ibu yang hubungannya kurang baik dengan orang tuanya sendiri... sepertinya ada berbagai hal terjadi. Tapi aku sudah tidak bisa menanyakan detailnya lagi."

"Ah...... maafkan aku. Kebiasaan burukku kambuh lagi. Aku selalu ingin tahu tentang Hodoki-kun. Mungkin, apa pun yang berkaitan dengan Hodoki-kun."

"Jangan dipedulikan. Aku justru merasa senang mendengarnya, ketimbang dibilang tidak ingin tahu."

Asahi sebenarnya ingin memohon agar ia tidak dikorek-korek secara habis-habisan, namun ia adalah tipe orang yang merasa cukup senang begitu tahu pihak lain menaruh ketertarikan pada dirinya.

Tidak ada sosok orang di sekitar. Tanpa aba-aba, Asahi menggenggam tangan Kanase yang sedang kosong.

"......, b-, berani sekali, ya."

"Begitukah? Tangannya Ketua, membuatku ingin terus menyentuhnya."

"Mana mungkin, tanganku kan bukan bulu halus (kapas)..."

Perumpamaan benda yang ingin terus disentuh ternyata adalah bulu kapas......

Jari-jari lentik yang indah itu terajut dengan jarinya sendiri, memberikan kepuasan akan hasrat penaklukan yang buas, bagaikan sedang memangsa hewan kecil yang tak berdaya. Jari-jari wanita, secara umum memang berbeda dari pria.

Suasana canggung menyelimuti jalanan malam. Pada saat itu, sebuah taksi mendahului mereka berdua.

——Tak lama kemudian, taksi tersebut berhenti di depan, dan seseorang turun dengan bunyi banting pintu.

"Eeeeeeeeh~! Sebentar-sebentar, kalian lagi pacaran yaaa!"

Itu adalah seorang wanita dewasa yang tidak dikenal. Mungkin seorang pekerja kantoran, rambut cokelat panjangnya diikat satu, dan di salah satu tangannya ia memegang briefcase kulit sapi berwarna hitam. Namun setelan jas yang dikenakannya tampak sangat berantakan, dan dari celah kancing kemeja yang terbuka, belahan dadanya sedikit terlihat.

Wanita itu mendekati mereka. Bau alkohol menusuk hidung.

"Waktu kulihat punggung yang kukenal dari dalam taksi tadi, ternyata kamu ya, Asahi~. Pacaran sama pacarmu malam-malam begini, mentang-mentang ulang tahun jadi sok asik ya kamu~?"

Paha Asahi dipukul menggunakan briefcase.

"Yah, haha..."

"Anu, Hodoki-kun. Beliau ini...?"

Baik Asahi maupun Kanase sama-sama kebingungan. Kebingungan itu seharusnya berada di tingkat yang sama——namun Asahi yang sengaja melontarkan senyum pahit tidak banyak mengeluarkan kata-kata. Karena ia harus mengamati bagaimana situasinya akan berkembang.

"Ah, perkenalanku kurang ya. Salam kenal, aku sepupu sekaligus kakak perempuan Asahi, namanya Hodoki Rio. Sekarang aku lagi mabuk berat lho."

"Nggak, kamu memang lagi mabuk kan, Rio-nee."Siapa nih, batin Asahi berteriak sejadi-jadinya. Asahi sama sekali tidak punya sepupu. Mungkin saja sebenarnya ada, tapi setidaknya sejak ia bisa mengingat sesuatu, ia belum pernah bertemu dengannya.

"Eh, ah, kalau orang ini?"

"Iya. Bisa dibilang kebetulan, tapi ya arah pulangnya kebetulan sama."

"Kamu ketua OSIS yang dirumorkan itu ya? Asahi kadang-kadang cerita tentangmu lho~. Katanya kamu pintar banget, terus katanya kamu buka kantor detektif sebagai hobi?"

"Aku tidak buka kantor!"

"S-, salam kenal. Maaf saya terlambat berkenalan. Nama saya Mitoguchi Kanase. Um, saya kakak tingkat satu tingkat di atas Hodoki-kun, dan, um, kami sedang berpacaran. Mohon bimbingannya ke depannya!"

"Aku tahu, aku tahu! Nggak usah kaku... kaku... gitu!"

"Mestinya 'tidak usah kaku', kan."

"Bawel banget bocah sialan! Cantik banget begini disia-siakan sama kamu!"

Lagi-lagi paha Asahi dipukuli dengan briefcase. Lumayan sakit.

Sambil terkekeh geli, Rio berjalan pelan-pelan dan tersedot ke arah mesin penjual otomatis terdekat bagaikan seekor ngengat. Sambil menyaksikan pemandangan itu bersama Kanase, Rio membeli air mineral lalu langsung meminumnya dalam sekali teguk.

"Seger bangeeeeeeet~~~~. Bukan karena aku ingin minum alkohol, tapi aku minum alkohol karena aku ingin minum air dingin setelah minum alkohol, tahu nggak. Ngerti nggak kalian para anak muda? Nggak ngerti ya, kan kalian masih di bawah umur!"

"......A-, apa Anda sedang mabuk berat...?"

"Sepertinya begitu. Aku benci orang mabuk, jadi aku tidak ingin mendekatinya."

Botol plastik air mineral yang sudah kosong itu ia masukkan ke dalam tempat sampah dengan gaya shoot, lalu Rio menghela napas lega.

Namun, ekspresinya seketika berubah menjadi sedikit serius.

"Pacaran sih silakan saja, dan bermesraan itu hal yang bagus. Tapi ya, anak SMA jalan berdua selarut ini, itu nggak bisa dibiarkan begitu saja. Bagaimanapun juga, meskipun aku awet muda dan cantik begini, aku ini adalah wali pelindungnya. Kan, Mitoguchi-chan."

"Y-, yaaa! Mohon maaf! Semuanya adalah kelalaian dan kesalahan saya..."

(Cara mintanya maaf mirip kayak di konferensi pers penyesalan)

Kanase langsung menundukkan kepala dalam-dalam. Sebagai senior, ia mungkin merasa dirinyalah yang bersalah.

Namun Rio tertawa berderai-derai sambil menggelengkan kepalanya.

"Tidak, tidak, yang membuat kesalahan adalah si bodoh ini, dan yang jadi korbannya adalah Mitoguchi-chan. Jadi kamu tidak perlu meminta maaf begitu. Tapi ya, kalian pulang sana, ya? Percintaan anak SMA itu seharusnya dipupuk sepulang sekolah di hari biasa dan di tengah hari bolong di hari libur."

Rio menunjuk ke arah taksi yang dinaikinya tadi. Kanase langsung menangkap maksud dari gestur tersebut.

"Dimengerti. Untuk kejadian malam ini karena telah mengajak Asahi berputar-putar selarut ini, sungguh——"

"Maku-bukan, bukan itu maksudnya. Tanggung jawabnya tinggi banget ya. Hei, malah kamu yang minta maaf!"

Asahi mendapati tulang keringnya ditendang oleh Rio. Karena memakai sepatu pantofel kulit, rasanya sakit sekali.

"Sakit! M-, maaf, Ketua. Akulah akar kejahatan itu."

"Saya rasa bukan akar kejahatan... Tidak, justru saya yang datang secara tiba-tiba."

"Hm. Kalau begitu, tunggu sebentar ya."

Berlari kecil mendekati kursi pengemudi taksi, Rio membicarakan sesuatu dengan sopir.

Begitu kembali, ia berkata dengan santai tanpa beban.

"Aku tidak tahu di mana rumah Mitoguchi-chan, tapi ongkos taksi ke sini akan kuteraktir."

"Eh!? Jangan, tidak usah, saya tidak enak! Saya akan bayar sendiri!"

"Begini ya, menyuruh anak SMA pulang lalu membiarkan mereka naik taksi, tapi menyuruh mereka bayar pakai uang sendiri, itu kan didiskualifikasi sebagai anggota masyarakat dewasa? Atau apa, mempermalukan orang dewasa adalah hak istimewa anak-anak?"

Menghadapi ekspresi sinis ala Rio tersebut, Kanase menelan ludah. Lalu ia kembali membungkuk hormat.

Terima kasih banyak, Rio-san. Kebaikan ini akan saya balas nanti——"

"Ah nggak usah, nggak usah, nggak usah terlalu kaku! Cukup balas dengan terus akur sama si bodoh ini ke depannya! Nah, buruan naik, naik!"

Rio mendorong Kanase masuk ke dalam taksi.

"Ketua. Terima kasih untuk kadonya. Hati-hati di jalan."

"Ah, terima kasih kembali. Hodoki-kun dan Rio-san juga, hati-hati di jalan pada malam hari."

"Yah, apartemennya kan dekat dari sini. Kalau ada apa-apa, anak ini bakal kujadikan perisai. Dah ya~"

"Jangan jadikan aku perisai..."

Setelah masing-masing menyampaikan salam perpisahan, taksi pun melaju pergi. Asahi membungkuk hormat hingga taksi itu berbelok di tikungan dan tak terlihat lagi. Rio melambaikan tangannya dengan bersemangat.

Setelah keheningan melanda sesaat——Asahi memastikan tanpa melihat ke arah 'Rio'.

"............Kirio, ya?"

Ditinjau dari situasi dan alur kejadiannya, jawabannya memang seharusnya begitu, namun Asahi sama sekali tidak memiliki rasa percaya diri.

Postur tubuh, bentuk wajah, potongan rambut, warna rambut, bentuk fisik, nada suara——hal-hal yang menentukan identitas 'individu' tersebut, tidak ada satu pun dari diri Kirio dan Rio yang sama. Jauh lebih masuk akal jika berasumsi bahwa orang asing yang tidak dikenal tiba-tiba muncul.

Dan 'Rio' yang ditanya, seolah-olah memusnahkan kesan ramah dan ceria seperti sebelumnya hingga tak bersisa, menyandarkan punggungnya dengan kasar ke tembok pagar terdekat. Sikapnya buruk.

"Tentu saja. Siapa lagi kalau bukan aku, si bodoh tolol dungu bangsat sialan ini."

Meskipun penampilannya berbeda, warna suaranya telah kembali menjadi milik Kirio.

"Mulutnya pedas banget ya...... Tapi, penyamaran itu..."

"Mana mungkin ada hal seperti ini..." ucapnya seraya menatap Asahi yang tampak seperti manusia normal setelah sekian lama.

"Jangan gunakan kata itu dengan nuansa makian begitu."

Kalau dipikir-pikir, dari namanya saja sudah dinamai 'Hodoki Rio', menggunakan marga Kirio.

Bagi nama yang dipikirkan secara mendadak, itu terasa terlalu pas, pikir Asahi.

"Kalau aku tidak datang, kamu pasti sudah tamat, tahu."

"Makanya aku meminta bantuanmu."

"Cih. Yah, ketangkasanmu akan diakui. Kalau sampai kamu keceplosan bilang 'aku tinggal bersama paman' tadi, benar-benar tidak akan ada lagi yang bisa menyelamatkanmu."

Asahi terus dimonitoring——jika dibalik, itu berarti seluruh percakapannya dengan orang lain didengarkan oleh orang-orang di pihak Zen. Kirio tentu saja ada di dalam kelompok itu, dan Asahi menduga percakapannya dengan Kanase pun bocor sepenuhnya kepada Kirio, sehingga ia dengan sengaja menyisipkan kata-kata yang jenis kelaminnya tidak bisa ditebak dari pelafalannya seperti 'sepupu', 'usia sebaya', dan 'suka keluar malam'.

Ia berharap Kirio akan bergerak berdasarkan petunjuk itu, dan semakin sedikit ketidaksesuaian informasi yang diberikan kepada Kanase, maka hal itu akan semakin memperkuat kesan kebenarannya. Hasilnya, Kanase kemungkinan besar tidak akan meragukan eksistensi Rio sebagai 'sepupu'.

Bahkan Asahi sendiri sempat merasa bahwa 'sepupu' bernama Rio itu benar-benar nyata. Hingga membuatnya salah paham, betapa hebatnya akting yang dibawakan oleh Kirio. Tingkat kemampuannya seolah-olah membuat orang mengira ia memiliki banyak kepribadian.

"Aku juga tidak menyangka kamu akan menggunakan penyamaran semacam itu untuk datang menolongku secara langsung. Paling-paling aku mengira kamu akan menelepon menggunakan pengubah suara atau semacamnya."

"Hmph. Kalau aku sengaja memberikan tombol bantuan lalu membiarkanmu memperlihatkan kebodohan saat tombol itu ditekan, aku tidak bisa disebut sebagai seorang profesional sejati. Jangan remehkan aku, bodoh."

"Profesional bidang apa......? Tapi benar-benar tertolong. Kalau tadi aku mengantar Ketua sampai ke kamar, situasinya pasti akan berakhir kacau. Terima kasih sudah menyuruhnya pulang dengan mulus."

Tujuan Kanase pada dasarnya adalah bertatap muka secara langsung dengan 'sang sepupu'. Begitu tujuan itu tercapai, tidak ada alasan lagi baginya untuk memaksa pergi ke apartemen Asahi. Itulah mengapa cara Kirio menyuruhnya masuk taksi dan memulangkannya dengan cepat adalah tindakan yang cemerlang. Asahi memberikan pujian yang tulus kepada Kirio.

Di sisi lain, Kirio mengeluarkan ponselnya, memeriksanya, lalu menyeringai dengan kejam.

"—Hodoki. Kabar buruk dan kabar buruk, mana yang ingin kamu dengar duluan?"

"......Satu, kabar buruk pertama."

"Si wanita esper itu sepertinya sudah tiba duluan. Dia sampai lebih cepat dari kita berdua. Sudah terlambat."

"—Seriusan."

Asahi melirik ponsel khusus Oriko, namun tidak ada pesan masuk khusus darinya. Padahal gadis itu sempat berkata 'Nanti kuanterkan kadonya ke sana ya', apakah dia juga berniat memberikan kejutan?

"Kalau sampai ketua detektif itu ikut terseret, tamat sudah riwayatmu. Pasti bakal berpapasan."

"Bahkan tanpa Ketua pun... tamat."

Rencana awal Asahi adalah segera pulang dengan cepat dari rumah keluarga Hizume lalu menunggu pesan dari Oriko. Jika ia berada di rumah, apa pun yang terjadi saat Oriko datang masih bisa diatasi. Namun di tengah jalan ada kunjungan kejutan dari Kanase, membuatnya jatuh ke dalam situasi di mana ia tidak bisa melepaskan diri tanpa bantuan Kirio.

Akibatnya, waktu terbuang sia-sia, dan Asahi segera menyadari kesalahan fatal yang telah ia perbuat.

"—Lampu kamarnya tetap padam."

"Salahmu sendiri karena melontarkan kebohongan seperti 'menghabiskan waktu bersama keluarga'."

"Bukannya berbohong. Orang-orang itu sudah seperti keluargaku sendiri."

"Bodo amat. Sentimentalitasmu itu tidak ada gunanya."

Oriko sudah menanyakan nomor kamar apartemennya. Mengingat karakternya, ia kemungkinan besar akan memeriksa terlebih dahulu apakah lampu kamarnya menyala atau tidak. Alasan Oriko tiba-tiba ingin mengantarkan kado juga pasti karena masih ada sisa-sisa keraguan di dalam hatinya. Kanase dan Oriko memiliki tipe yang mirip——oleh karena itu, mereka bergerak.

"Pertama-tama, jika setelah tiba di sana aku malah memanggilnya, nomor kamar pun tidak perlu ditanyakan. Begitu dia meminta nomor kamar, itu berarti Oriko-san sedang mencurigaiku. Kalau kebohongan tentang adanya 'keluarga' itu sampai terbongkar——"

"Dia pasti akan menggunakan kekuatan membaca pikirannya sekuat tenaga, kan? Kalau aku jadi dia, aku pasti akan melakukannya. Kebohongan itu adalah kebohongan yang bermakna bagimu——kebohongan yang diucapkan untuk menghindari dirinya, dari sudut pandang si wanita esper."

Sekarang, berlari kembali ke apartemen dengan sekuat tenaga, menemui Oriko yang kemungkinan besar sedang menunggu di dekat pintu masuk, lalu berbohong bahwa ia baru saja pergi ke minimarket——bagaimana kalau ia menggunakan alasan itu. Asahi sempat berpikir demikian, namun hal itu tidak akan bisa ditekan jika kondisi lampu kamarnya padam dan tidak ada 'keluarga' di dalam.

Alasan yang buruk hanya akan menjerat lehernya sendiri dan menyerahkannya secara sukarela kepada lawan.

Terlebih lagi, seandainya lampu kamarnya menyala sekalipun, interkom yang ditekan tidak akan ada yang merespons. Tidak ada satu pun manusia yang akan menjawab di dalam sana. Asahi dilanda keputusasaan.

"—Kirio."

Cara untuk menghindari situasi ini dengan mulus seorang diri——Asahi tidak bisa memikirkannya dalam waktu singkat.

Bagaikan orang yang ingin mencengkeram apa saja, dengan lemah dan memprihatinkan ia menatap ke arah sang pengawas yang berpenampilan laiknya seorang pekerja kantoran profesional.

"Kabar buruk kedua. Kecuali kamu menekan tombol itu dua kali lagi, hari ini aku tidak akan menolongmu lagi."

"Apa......! Kenapa tiba-tiba."

'Tombol Bantuan Yang Terhormat Kirio' telah diberitahukan syarat penggunaannya oleh Kirio sendiri sejak pertama kali diserahkan.

——Namun, tombol itu hanya bisa ditekan total tiga kali. Tidak ada lebih dari itu——

Saat ini, Asahi telah menekan tombol itu sebanyak dua kali. Kesempatan yang tersisa tinggal satu kali——namun menyadari hal itu, Kirio justru meminta penekanan dua kali lipat pada momentum ini.

"Kalau kamu cuma mengeluh terus, waktu akan terbuang sia-sia. Pilihan yang diberikan padamu cuma ada dua. Menekan tombol itu dua kali, atau tidak menekannya dan berduel sendirian melawan si wanita esper."

Kerugian apa yang akan didapat jika menekan tombol itu lebih dari tiga kali, belum pernah dijelaskan sebelumnya.

Mengingat itu adalah ulah Kirio, ia pasti menyiapkan hal yang tidak beres, namun Asahi saat ini tidak punya kapasitas untuk memperhitungkannya. Hanya satu dugaan penuh harapan yang tersisa di benaknya.(Kirio tidak boleh merusakPermainan Kehidupan Orang Lain. Sekalipun menekan tombol itu membawa ketidaknyamanan bagiku——hal itu seharusnya tidak memberikan dampak apa pun terhadap jalannya permainan.)

Jika itu hanya rasa sakit fisik atau rasa malu mental, ia akan menerimanya dengan senang hati. Hal yang paling penting bagi Asahi adalah melanjutkan permainan ini hingga tuntas. Artinya, ia tidak punya waktu lagi untuk ragu-ragu.

Asahi mengeluarkan 'Tombol Bantuan Yang Terhormat Kirio' dari sakunya, lalu menekannya dua kali berturut-turut di hadapan sang pemilik asli.

"Aku bisa melihat dengan jelas apa yang sedang kamu pikirkan sekarang——tapi, aku sengaja tidak akan membahasnya. Itulah pilihanmu. Bisa dipastikan tidak ada penyesalan, kan? Kalau mau membatalkannya, sekarang adalah kesempatan terakhir!"

"Tidak membatalkannya. Kumohon, bantu aku."

"Dimengerti. Waktunya sudah tidak banyak, aku hanya akan menjelaskannya sekali, jadi dengarkan baik-baik——"

***

Perempuan yang ikut naik lift turun lebih dulu di lantai empat.

Oriko mengantarnya pergi dengan ekor matanya, lalu segera menekan tombol ‘Tutup’. Tujuannya adalah lantai lima.

Delapan atau sembilan dari sepuluh, Asahi tidak akan berada di kamar 501. Sebagai berjaga-jaga, ia juga berniat membunyikan bel pintu di depan pintu masuk, tapi ia tidak terlalu berharap. Setelah memastikan ketidakhadirannya secara mutlak—

(...Mari kita tunggu di depan pintu. Dengan begitu, dia pasti akan terkejut. Baik untuk alasan yang bagus maupun buruk.)

—Setelahnya, ia berniat menunggu di sana, mengintai sang pemilik kamar yang cepat atau lambat akan pulang.

Sambil bertaruh dalam hati, apakah ia akan pulang sendirian, atau pulang berdua.

Oriko tiba di depan kamar 501. Ada bel pintu juga di pintu ini.

(Hanya ada nomor kamar tanpa pelat nama. Yah, zaman sekarang lebih sedikit rumah yang memasang pelat nama, sih.)

Setelah memastikan itu, Oriko tanpa ragu menekan tombolnya. Suara elektronik bernada tanpa ampun, ding-dong, bergema, berputar sejenak, lalu memudar. Tidak ada respons apa pun.

Selanjutnya, Oriko mencoba membuka pintu begitu saja. Ada sensasi hambatan yang langsung terasa, bangk. Tentu saja terkunci karena memang seharusnya begitu. Jika pintunya tidak dikunci, ia pasti sudah menerobos masuk tanpa tanya, tapi bagaimanapun juga, hasilnya tidak akan jauh berbeda.

(............Hah. Aku tidak ingin mendengar alasan apa pun, dan aku juga tidak begitu suka menginterogasi orang. Kalau aku menggunakan kemampuan ku dengan serius, mungkin urusannya bisa selesai lebih cepat, ya?)

Ia mengeluarkan lipstik untuk iseng dan berniat memainkannya. Melatih ujung jarinya berguna saat melakukan trik sulap. Memutar-mutar lipstik dengan jarinya seperti memutar pena sudah menjadi kebiasaan Oriko.

────Ketik. Cklek.

"Eh."

Suara kunci yang terbuka. Dan seketika itu juga, pintu perlahan terbuka. Oriko menjatuhkan lipstiknya dan melangkah mundur.

"Maaf-maaf, aku mau mandi jadi pintunya aku kunci! Lagipula Kurokichi ya, beli kondom di minimarket lama banget—... eh?"

Sosok yang muncul dari celah pintu adalah seorang wanita muda yang basah kuyup.

Air menetes dari rambutnya yang hitam pekat, ia melilitkan handuk mandi di tubuhnya, menekannya dengan satu tangan seolah memeluk dirinya sendiri. Belahan dadanya yang ranum terlihat jelas, namun ekspresinya yang tadinya santai seketika berubah menjadi sangat terkejut dan kaget.

"Ah... kyaaa—"

"Maaf. Aku salah kamar."

"—...chhh...!"

Dengan ekspresi seperti topeng tanpa emosi, Oriko menutup pintu yang terbuka itu dengan sekuat tenaga. Jeritan tertahan dan terpotong, namun tetap terdengar dari balik pintu dari sang wanita muda.

"............"

Ia memungut lipstik yang terjatuh dan mengambil jarak dari kamar 501. Menarik napas dalam-dalam. Ia memeriksa urutan nomor kamar di lantai ini—sebelahnya adalah kamar 502, urutannya tidak salah. Kalau begitu.

Oriko menyelesaikan rangkaian gerakannya dengan mulus, mengeluarkan ponselnya, lalu melakukan panggilan.

Tentu saja, orang di seberang sana adalah Hodogi Asahi. Setelah beberapa kali dering, panggilan itu dijawab.

‘Ya, halo?’

"Asahi-kun. Kamu sekarang di rumah?"

‘Iya, betul.’

"Hanya memastikan, nomor kamar rumahmu itu kamar 501, kan?"

‘Hah...? Eh? Kamar 401, kok.’

"Hah?"

Oriko mendengus marah dengan sekuat tenaga. Hii, sebuah jeritan terdengar dari seberang telepon.

‘Eh? Ah, jangan-jangan kamu sudah sampai? Kalau begitu aku turun ke bawah sekarang, ya.’

"Nanti, periksa riwayat pesanmu. Karena kamu menulis kamar 501."

‘Ah, yang benar? Maaf. Tapi, kenapa kamu marah banget...?’

Sebuah pertanyaan yang wajar. Oriko memang hanya menyampaikan, 'Hubungi aku kalau sudah sampai, nanti keluar,' dan sama sekali tidak memberi tahu Asahi bahwa ia akan membunyikan bel pintu atau langsung menerobos masuk.

Tentu saja ia tidak bisa mengatakan kepada Asahi karena harga diri sebagai orang yang lebih tua: aku marah karena aku menerobos masuk area masuk otomatis dengan cara yang agak memaksa, lalu salah kamar dan mempermalukan diriku sendiri.

Terlebih lagi, alasan di balik semua itu adalah karena ia mencurigainya.

Oriko menjadi cukup tenang hingga ia bisa merasakan hawa dingin meskipun ini bulan Juni.

‘Jangan-jangan, kamu salah membunyikan bel—’

"Aku tidak membunyikannya."

‘Ah, begitu ya.’

"Aku akan memasukkan hadiah ke dalam kotak surat kamar 401. Nanti kalau sudah diambil, kirimkan gambarnya kepadaku. Kalau begitu aku pulang dulu, ya. Aku sibuk."

‘Ya, yaa. Tidak perlu langsung menerimanya? Kalau begitu, mau naik ke apartemenku—’

"Bawel."

‘Segitu bawelnya ya...?’

"Sampai jumpa. Selamat ulang tahun. Sampaikan salamku untuk keluargamu juga. Selamat malam."

‘Ah, ya. Selamat malam.’

Setelah menyampaikan semua hal yang ingin dikatakan, Oriko memutus sambungan telepon.

Kemudian dengan langkah mengentak ia naik ke lift, keluar dari pintu keluar, dan dengan sembarangan memasukkan hadiah ke dalam kotak surat kamar 401.

Ia pergi keluar dari apartemen dengan memasang wajah tanpa dosa—dan terakhir kali, ia melirik ke arah beranda.

Kamar 501 memancarkan cahaya remang-remang. Ia sudah tidak peduli lagi.

Di bawahnya, kamar 401 memancarkan cahaya yang sangat terang.

Melihat itu, Oriko pun menghela napas.

(...Aku telah mempermalukan diriku sendiri. Rasanya hampir membuatku trauma. Tidak, ini karena aku setengah-setengah mencurigai orang lain, makanya aku mendapat balasan setimpal. Kalau dari awal aku menghubunginya, hal seperti ini tidak akan terjadi.)

Sambil mengulang instrospeksi diri, Oriko pergi. Ia memutuskan bahwa lain kali, ia akan mentraktir Asahi sesuatu yang enak. Itu jauh lebih bermakna daripada menghabiskan uang secara percuma di mesin slot.

—Apakah sejak awal, kamar 401 sudah menyala lampunya?

Oriko sama sekali tidak mengingatnya, dan juga sama sekali tidak peduli.

***

"────Untunglah... selamat..."

Di dalam kamar, Asahi yang baru saja mengakhiri percakapan telepon dengan Oriko, langsung lemas dan berlutut.

Rasa lelah seketika menyerang seluruh tubuhnya. Jika tempat ini—kamar 401—adalah rumahnya sendiri, ia pasti sudah langsung melompat ke atas tempat tidur tanpa pikir panjang, tapi ia tidak melakukan hal semacam itu.

Kamar 401, kamar Kage Kirio, benar-benar tampak suram dan kosong.

Kamar Asahi juga hampir tidak memiliki barang yang tidak berguna, tapi kamar Kirio bahkan jauh lebih sedikit isinya.

(Karena dia tinggal di lantai bawah untuk mengawasiku... aku jadi tertolong.)

Alasan mengapa Kirio sesekali datang untuk membuatkan sarapan atau makan malam, mengapa ia langsung datang jika terjadi sesuatu, dan mengapa ia selalu berakhir berada di kamar Asahi sebelum orang menyadarinya—semuanya karena Kage Kirio tinggal di lantai bawah untuk tujuan pengawasan, dan juga memegang kunci cadangan kamar 501. Kali ini, ia memanfaatkan hal itu untuk bagaimana caranya mengelabui Oriko.

Masih perlu memberikan sedikit waktu lagi. Asahi mengingat kembali percakapannya dengan Kirio.

"Rencananya ada dua. Lagipula perempuan Esper itu tidak akan bisa masuk ke dalam gedung apartemen. Dia pasti menunggu di pintu keluar-masuk, jadi aku akan pergi ke sana dan membuka pintu masuk. Lalu, bagaimana reaksi si esper itu?"

"Kira-kira... kurasa dia akan ikut masuk. Berpura-pura bilang kalau dia kehilangan kunci, atau semacamnya."

"Aku juga berpikir begitu. Kalau begitu, Rencana A dilanjutkan. Rencana B adalah jika perempuan esper itu tidak ikut masuk. Kalau begitu, aku akan menjatuhkan tali dari beranda, jadi panjatlah ke atas lantai lima dengan sisa tenaga hidupmu tanpa ketahuan sambil berpegangan pada tali itu. Rencana B selesai."

"Bukankah itu tidak masuk akal..."

Keterlaluan sekali mengandalkan kekuatan fisik seperti itu. Tapi, jika pintu keluar-masuk hanya ada satu dan Oriko berjaga di depannya, cara itulah satu-satunya untuk bisa kembali ke kamar tanpa berpapasan dengannya. Meskipun itu adalah rencana yang hampir mustahil.

"Makanya, berdoalah agar kita tidak perlu menjalankan Rencana B. Kelanjutan dari Rencana A adalah, aku akan kembali ke kamarku di lantai empat lebih dulu dari perempuan esper itu, lalu keluar ke beranda dan naik ke berandamu."

"Bagaimana caranya?"

"Tentu saja dengan tenaga sendiri, si bodoh. Yah, karena itu aku yang melakukannya jadi jangan khawatir soal ini."

(Mirip ninja, ya.)

Kirio tentu saja bukan hanya pintar dalam belajar, tapi juga mahir dalam olahraga. Dari beranda kamarnya di lantai empat, ia berniat mencari cara untuk memanjat sampai ke beranda kamar Asahi yang berada tepat di lantai atasnya.

"Kunci jendela berandanya?"

"Belum... kurasa."

"Begitu ya. Yah, kalau sudah dikunci, tinggal pecahkan saja kaca pintunya. Pokoknya ini adalah pertarungan melawan waktu—sebelum perempuan esper itu membunyikan bel kamar 501, aku akan berubah wujud dan menyamar seolah-olah aku sama sekali tidak ada hubungan denganmu. Dan kau beralasan bahwa meskipun kau tinggal di kamar 401, kau salah mengirimkan nomor kamar kepada perempuan itu—kita buat 'alibi' seperti itu."

"...Begitu ya. Tentu saja, kalau kesalahan itu, masih bisa dibuatkan alasan."

"Yeah. Kalau pada dasarnya kamar yang dikunjungi saja sudah salah, maka tidak peduli apakah lampu kamarmu mati atau kau sedang membunyikan bel, itu tidak masalah. Toh kamarnya berbeda. Kita akan menimpakan semua kebodohanmu yang selama ini terjadi ke kepala perempuan esper itu."

Tujuan Kirio adalah membuat Oriko salah mengenali fakta. Mana mungkin Oriko mengira bahwa Asahi memiliki kaki tangan, dan ia pasti mengira bahwa Asahi tidak memiliki kekuatan untuk memanipulasi kamar tempat tinggalnya secara mendadak.

"Bagaimana kalau Oriko-san tidak menekan bel kamar 501?"

"Justru itu yang lebih beruntung, kan. Bagaimanapun juga, pesan pasti akan masuk ke ponselmu. Makanya kau, segeralah pergi ke kamarku setelah aku dan perempuan itu masuk ke apartemen. Kalau kau bersikap seolah-olah kamar 401 adalah rumahmu sendiri, itu bisa diselesaikan sebagai kesalahan ketik pesanmu. Lagipula perempuan esper itu datang untuk mencecarmu secara mendadak. Sungguh merepotkan."

Pokoknya, Asahi hanya perlu menanamkan fakta di benak Oriko bahwa ia tinggal di kamar 401.

Selama ia bisa masuk ke kamar Kirio, sisanya tinggal bagaimana ia berinteraksi dengan Oriko.

"Kupikir kau sudah paham, tapi jangan sampai membuat alur di mana kau mempersilakan perempuan itu masuk ke dalam kamar, ya. Karena 'keluarga' itu, bagaimanapun juga tidak mungkin bisa aku sediakan."

"Mengerti... Terima kasih, Kirio."

"Ucapkan terima kasih setelah semuanya berjalan lancar, si bodoh."

"Benar juga, ya. Nanti aku akan mengatakannya lagi kalau sudah berhasil."

"Hah. Kata-kata saja tidak ada artinya sama sekali. Terserah, pokoknya—kita mulai."

Dengan begitulah, keduanya memutuskan untuk mempermainkan Oriko dalam pertunjukan dadakan ini.

Hasilnya, bisa dibilang hampir semua berjalan sesuai dengan rencana. Kirio berhasil tepat waktu saat Oriko hendak menekan bel kamar 501, dan Asahi—setelah membaca pikiran Oriko—berpura-pura tidak tahu dan bersikap seolah-olah Oriko yang salah membuat kesalahan sendiri.

Mungkin juga karena Oriko adalah seseorang yang lebih tua dan tipe orang yang tidak suka memamerkan kesalahannya kepada orang lain, sehingga hal itu turut membantu. Asahi tadinya mengira mereka akan sedikit bertemu muka, tapi Oriko langsung pulang begitu saja.

(...Sebentar lagi aku harus mengambil hadiah dari Oriko dan kembali ke kamar.)

Ia harus memikirkan bagaimana cara bergerak ke depannya. Ia telah berbohong terlalu banyak kepada Kansei dan Oriko.

Kebohongan adalah rantai tak kasat mata yang mengikat pergelangan kakinya sendiri.

Ia harus berhati-hati sebaik mungkin agar rantai itu tidak mengeluarkan suara logam yang tidak perlu.

Meskipun begitu... hari ini benar-benar melelahkan. Langkah kakinya terasa berat saat Asahi melangkah keluar dari kamar Kirio yang hampa.

***

"Wah. Basah..."

Begitu kembali ke kamarnya, ia langsung menyadari bahwa mulai dari pintu masuk hingga ke kamar mandi basah kuyup.

Kirio pasti yang melakukannya, tapi apa yang sebenarnya terjadi sampai bisa basah begini?

Terlebih lagi, lampu kamar sangat redup, sekilas mirip seperti suasana menjelang tidur.

"Bersihkan sendiri. Sekarang aku bukan maid-mu."

"Kirio────wah!"

Bersamaan dengan munculnya Kirio dari arah kamar mandi, Asahi mengeluarkan suara kaget.

Kirio hampir telanjang bulat. Hanya handuk yang ia pegang di tangannya yang samar-samar menutupi bagian pribadinya yang paling krusial, tapi dengan sedikit gerakan tubuh saja bagian itu pasti akan terlihat.

Tanpa sadar Asahi mengalihkan pandangannya. Untung saja kamar ini redup, batinnya.

"Aku meminjam kamar mandimu untuk mandi. Aku juga mau menghapus riasan wajah."

"Bukannya, bukan itu maksudku..."

"Hah? Menjijikkan sekali───ah, maksudmu ini."

Suara kik-kik, seperti suara suara selotip perekat yang dilepas secara paksa, terdengar.

Menyusul kemudian suara pletak, suara benda basah yang dilempar ke lantai.

Meskipun tidak terlihat jelas dan ia juga tidak ingin melihatnya, Kirio sepertinya telah melepas sesuatu dari tubuhnya.

"Ba, barang apa yang kau buang...?"

"Payudara palsu."

"Palsu... eh apa itu!?"

Tanpa sengaja ia melihat benda yang dibuang itu.

Sebuah kosakata yang terlalu memikat sekaligus membingungkan. Sebuah reaksi yang sangat wajar bagi seorang anak laki-laki masa pubertas.

"Ma, mana mungkin ada benda seperti itu di dunia ini...!"

"Ada, tapi itu bukan urusanmu, kan? Ngomong-ngomong, apa-apaan reaksi itu. Aku mau ganti baju jadi sana hadap sana."

"Ugu... maaf. Aku tidak melihat dan tidak kelihatan kok."

Itu bukan kebohongan. Ia memang tidak melihat wajah maupun tubuh Kirio, tapi dari suara tawa mengejek "Haah" miliknya, Asahi bisa dengan mudah membayangkan ekspresi seperti apa yang sedang Kirio tunjukkan saat ini.

"Kalau mau 'berperan sebagai perempuan', punya payudara itu lebih baik. Tubuhku kan bentuknya begituan. Sebaliknya, kalau 'berperan sebagai laki-laki', aku tidak terlalu kesulitan. Yah, menambahkan sesuatu yang tidak ada adalah dasar dari teknik Henge (transformasi)."

"Hal itu... tadi sempat membuatku penasaran sedikit. Bukannya itu cuma menyamar?"

"Hah? Kalau itu namanya cuma meniru penampilannya saja, kan. Kalau mau 'berubah' sepenuhnya menjadi orang lain yang bukan diri sendiri, istilah yang tepat bukanlah menyamar, tapi Henge (transformasi). Jangan meremehkanku, si bodoh."

"Aku tidak meremehkanmu."

Kalau dipikir-pikir kembali, 'Rio' sama sekali tidak terlihat seperti Kirio yang berdandan, melainkan benar-benar orang yang berbeda.

Rambutnya yang berbeda adalah karena wig, tinggi badannya yang berbeda rupanya karena sepatu bersol tebal.

Bentuk wajahnya diubah dengan riasan, warna suaranya diatur sesuka hati bak pengisi suara profesional, dan puncaknya bentuk tubuhnya disesuaikan secara paksa dengan benda bernama payudara palsu itu.

Itu memang pantas disebut sebagai Henge (transformasi), bukan sekadar penyamaran.

"Si 'Rio' itu sempat terlihat oleh perempuan esper itu, kan. Aku masuk ke kamar ini dari beranda, lalu melepas wig, pakaian, dan sepatuku, menjadi telanjang bulat, dan langsung menyiram kepalaku dengan air. Kenapa pintu masuknya basah... karena aku merespons perempuan esper itu dalam keadaan basah kuyup."

"Bukannya... kenapa harus basah kuyup...?"

"Untuk menciptakan kesan 'perempuan sebelum tidur bersama pacarnya'. Kalau aku menyambutnya dalam keadaan telanjang bulat tanpa alasan, perempuan esper itu mungkin akan curiga. Alasan kamarnya remang-remang juga karena itu──yah, sebenarnya itu karena aku sekadar tidak mau wajahku dilihat dengan jelas dalam keadaan terang."

Bagaimanapun juga, dengan dampak kesan pertama itu, Kirio berhasil membuat Oriko langsung kabur.

Seandainya saat itu ia mengenakan pakaian tidur atau pakaian rumahan biasa, Oriko pasti akan melontarkan beberapa patah kata percakapan sebelum akhirnya menyadari bahwa ia salah kamar. Lawannya adalah seorang esper, jadi ia tidak boleh melakukan percakapan yang tidak perlu—pilihan untuk membuatnya langsung sadar dalam sekejap bahwa 'ini salah' adalah dengan mengambil peran sebagai 'perempuan sebelum merayakan hubungan dengan pacar'.

"...Bukankah cara itu juga berisiko membuat Kirio disangka sebagai selingkuhanku...?"

"Mungkin saja. Sengaja aku sebutkan nama laki-laki yang bukan dirimu, jadi kemungkinan itu kecil. Kalaupun dia salah paham, tinggal meneleponmu saja karena kau sedang berada di kamar 401, jadi tidak masalah."

Hebat sekali, dalam waktu singkat ia bisa memikirkan berbagai hal seperti itu. Bagaimanapun juga, bagi Asahi yang hanya orang biasa, ia tidak memiliki ketangkasan atau kemampuan khusus semacam itu. Sejujurnya, ia merasa iri pada Kirio.

"Entahlah, rasanya daripada aku, lebih baik Kirio saja yang memainkan permainan Taisei Sugi Yugi..."

Ia tidak akan bisa bertahan jika tidak merendahkan dirinya sendiri seperti itu.

Asahi merosot lemas bersandar pada dinding.

Kamarnya masih terasa redup—ia ingin Kirio segera mengenakan pakaiannya, lalu menyalakan lampu.

"Kenapa pula aku yang harus melakukannya. Ini adalah pertunjukan antara kau dan kakek tua itu, kan."

"Memang benar sih──tapi aku tidak menyangka, dalam waktu dua bulan saja situasinya bisa menjadi separah ini. Sebelum berpacaran dan setelah berpacaran lalu putus, situasinya benar-benar jauh berbeda. Bagaimana caranya aku bisa lepas dari lima pacar sekaligus tanpa ketahuan sisa tiga orang lainnya... aku sama sekali tidak merasa mampu melakukannya."

"Menurutmu, apakah aku adalah jenis orang yang akan menghibur orang lain kalau mereka sedang mengeluh?"

Ia hanya mendengarkan suara Kirio saja. Dari cara bicaranya ia bisa tahu. Pasti saat ini Kirio sedang memasang ekspresi yang sangat dingin. Kirio sangat benci pada keluhan atau ucapan putus asa yang dilontarkan Asahi.

"...Kurasa tidak. Jadi anggap saja ini monolog."

"............"

Bahkan suara hela napas pun tidak terdengar. Mungkin ia sudah terlampau muak.

Ia mengerti. Ia tidak bisa mundur dari pertunjukan ini. Selama nyawa adik perempuannya berada di tangan orang lain, Asahi tidak bisa melarikan diri. Meskipun mustahil atau tidak masuk akal, ia harus tetap melewatinya dan berjuang setengah mati.

Meskipun begitu... Hodogi Asahi tetaplah orang biasa.

Ia sama sekali tidak memiliki bakat atau kemampuan khusus──yang disebut sebagai Bakat Luar Biasa.

Sesuatu yang istimewa, seperti yang dimiliki oleh para pacarnya.

"Hodogi Asahi. Ada satu hal yang ingin kukatakan padamu."

"Terserah kau saja. Kalau itu makian, aku sudah kenyang mendengarnya..."

Begitu ia menyadari dirinya sedang melemah, kelelahan merayap ke seluruh tubuhnya dengan skala yang tak terbayangkan.

Biarkan saja seperti ini, ia ingin langsung jatuh panggung ke atas tempat tidur dan tidur.

Hal-hal mulai esok hari, dipikirkan saja esok hari. Ia ingin menurunkan tirai kehidupan ini walau hanya sejenak.

"──Aku kecewa padamu."

Asahi bahkan tidak bisa menemukan bantahan atas satu patah kata makian yang dilontarkan Kirio itu. Diberi rasa kecewa oleh orang lain memang cukup menusuk hati, tapi kalau itu adalah sebuah fakta, menelannya mentah-mentah adalah satu-satunya tindakan yang paling tidak sia-sia.

Bagian mana yang membuatnya kecewa. Ia sebenarnya tidak begitu tertarik, tapi Asahi menjawab, "Lalu?"

"Sebagai orang biasa, kukira kau masih memiliki sedikit potensi... tapi ternyata kau memang cuma orang biasa. Sepertinya aku terlalu menaruh harapan pada anak kemarin sore yang baru berusia 17 tahun."

"Justru aku yang heran. Memangnya apa yang bisa kau harapkan dariku?"

"Setidaknya aku mengira 'tombol' itu bisa bertahan selama setengah tahun."

"Kalau aku bisa memilih, aku juga tidak mau menggunakannya. Memikirkan bagaimana aku harus melewati sisa waktu ini tanpa bantuan Kirio saja... membuat perutku mulas."

Ngomong-ngomong, ia sudah menekan tombol yang dimaksud sebanyak empat kali totalnya, tapi jenis penalti seperti apa yang akan diberikan akibat hal itu? Kalau boleh berharap, semoga makian dingin dari Kirio ini masuk dalam kategori penalti, itu akan sangat melegakan dan membantunya. Asahi memikirkan hal semacam itu di sudut kepalanya.

"...Air mengalir ke tempat yang lebih rendah. ...Begitu kuberi secercah bantuan bernama diriku, hasilnya ya seperti ini."

"Tentu saja, kan. Kalau aku bisa melakukan segala sesuatunya dengan kekuatanku sendiri, dari awal aku tidak akan ikut permainan gila semacam ini. Aku ingin menopang Koyori dengan kekuatanku sendiri. Tanpa menyakiti siapa pun, dengan perjuanganku sendiri, aku ingin bisa hidup seperti itu. Tapi, itu──"

Tiba-tiba, ada satu benang di dalam diri Asahi yang putus.

Niat menyalahkan diri sendiri yang selama ini merembes perlahan, namun masih ditahan dengan susah payah di ambang batas, meledak keluar dari otak dan jantungnya, merayap naik ke kerongkongannya, mendobrak tenggorokannya, dan berubah menjadi suara.

"──Itu mustahil! Aku tidak punya kekuatan apa pun!! Sebagai anak SMA, aku hanyalah anak kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa di masyarakat!! Aku sendiri tidak sanggup menopang nyawa Koyori!! Makanya... makanya, meskipun aku harus menjadi pesuruh seseorang, meskipun aku harus melakukan hal-hal kejam, meskipun aku harus ditertawakan oleh semua orang, aku harus bertahan dan melakukannya!! Apa yang Kirio ketahui tentang diriku!? Karena aku tidak punya kemampuan maupun bakat apa pun!! Apa salahnya meminta tolong pada seseorang dan mengeluh!? Aku juga tidak mau melakukan hal seperti ini!! Kenapa... kenapa!! Kenapa aku tidak ikut mati bersama Ayah dan Ibu saja!! Tidak ada gunanya juga aku hidup sendirian!! Kenapa cuma aku saja!!"

"Mana kutahu. Kalau kau ingin mati seputus asa itu, lompat saja sana dari jendela lalu mati, si bodoh."

"...!"

Ia begitu marah hingga napasnya berhenti. Asahi mengepalkan tangannya dan berbalik menghadap ke arah Kirio.

Sudahlah. Ia ingin memukul seseorang. Ia ingin dipukul seseorang. Ia ingin hancur lebur oleh darah dan air mata hingga kehilangan bentuk aslinya. Sasaran amarah itu akhirnya tertuju pada satu-satunya manusia terdekat, Kirio.

Namun──Asahi hanya bisa melepaskan napas yang tadi ia tahan secara perlahan.

"Ka, kau... kenapa... bajunya, dipakai..."

Kirio masih belum mengenakan sehelai benang pun, menatapnya tanpa ekspresi dari dekat.

Di kamar yang redup, cahaya bulan yang tumpah dari celah tirai menyinari tubuhnya dalam bentuk garis-garis tipis.

Bagaimana cara ia harus mengekspresikannya, Asahi tidak tahu.

Belum pernah sekalipun ia melihat tubuh telanjang selain keluarganya secara langsung begitu dekat.

Entah itu terhadap lawan jenis, sesama jenis, ataupun milik Kage Kirio.

Dan tepat saat ia berkedip, Asahi baru menyadari beberapa detik kemudian bahwa pandangannya telah berputar terbalik.

Bruk, punggungnya terbanting ke atas tempat tidur. Anehnya tidak terasa sakit.

Ia didorong—oleh Kirio.

Mungkinkah Kirio bisa menggunakan seni beladiri tertentu, gerakannya sama sekali tidak terlihat.

Pintar, mahir berolahraga, dan bahkan kuat dalam berkelahi.

Orang yang serba bisa, ya, pikir Asahi dengan pemikiran yang kelewat tenang sambil memperbarui penilaiannya terhadap Kirio.

Dan menyusul kemudian, Kirio dalam keadaan telanjang menindihnya di atas (mount position).

Orang yang pertama kali menunjukkan sikap berkelahi tadi adalah Asahi. Ia pasti akan dihajar babak belur setelah ini.

"Permainan selesai, Hodogi."

Tinju diangkat tinggi-tinggi. Di dalam tatapan matanya yang dingin dan meremehkan itu, sama sekali tidak dirasakan adanya rasa iba terhadap dirinya.

Namun, kalau dipikir-pikir kembali──mungkin di lubuk hatinya yang paling dalam, Asahi memang mengharapkan untuk dipukul oleh seseorang seperti ini. Asahi, yang dengan sengaja menyakiti hati para perempuan yang menjadi kekasihnya, sudah sepantasnya jika fisiknya dihancurkan secara sengaja pula. Dosa selalu menyatu erat dengan hukuman.

Jika hanya dosa saja yang melekat pada dirinya, itu adalah sesuatu yang tidak bisa dimaafkan.

Kirio menjatuhkan hukuman pada fisiknya.

Hal itu adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi dalam hubungan pertemanan ataupun percintaan.

Justru karena hubungan mereka adalah hubungan yang menyimpang antara pengawas dan mainan, tidak ada satu pun dari hal itu yang menyimpang dari jalurnya.

"............"

Asahi memejamkan matanya rapat-rapat. Di bagian mana pun ia dipukul atau dihancurkan, ia tidak peduli.

Meskipun itu akan menjadi hal yang sangat menyakitkan dan sulit untuk ditanggung, tidak masalah.

Karena Hodogi Asahi adalah orang yang paling ia benci di dunia ini, yaitu dirinya sendiri yang hidup di masa sekarang.

Bruk, sebuah suara kering bergema di seluruh ruangan. Tidak ada rasa sakit.

Sesuatu diayunkan tepat di samping kepalanya. Pasti itu adalah kepalan tangan Kirio.

Hal semacam itu, ia merasa sudah tidak penting lagi. Tidak ada rasa sakit sama sekali.

Sebagai gantinya──sesuatu yang terasa lembut dan menyimpan kehangatan, menyentuh bibirnya.

"......, .........!?"

Seluruh tubuh Asahi menegang. Pikirannya melayang terbang. Ia tidak bisa berpikir apa-apa lagi.

Manusia, selalu hidup dengan membuat berbagai prediksi atau bayangan di dalam kepalanya.

Oleh karena itu, jika terjadi sesuatu yang terlalu jauh melenceng dari bayangan itu, sepertinya fungsi fisiologis tubuh pun akan ikut terhenti.

──Prediksi bahwa Kage Kirio akan mencium dirinya, adalah hal yang sama sekali tidak mungkin bisa ia bayangkan.

"...Eh, ha... ah,,,,?"

Bibir mereka terlepas, mengeluarkan suara yang bahkan tidak bisa disebut sebagai suara. Tidak ada ekspresi yang layak disebut ekspresi pada diri Kirio yang menatapnya dari atas.

Tidak ada rasa penuh gairah, tidak ada rasa kasih sayang, tidak ada sesuatu pun yang datang dari perasaan suka terhadap dirinya.

Hanya sentuhan saja yang tertinggal. Kelembutan dari bibir Kirio—yang biasanya selalu memaki, mencaci, menghina, dan begitu lancar mengeluarkan kata-kata kebencian terhadap Asahi—hanya kelembutan itu saja... yang terasa bagaikan sengatan mati rasa.

"Sudah cukup."

"...Eh...?"

"Jadilah budak milikku, Hodogi Asahi."

Asahi sama sekali tidak mengerti apa arti dari perkataan Kirio.

"Dengan begitu, aku akan menjadi bayangan milikmu."

Keinginan untuk memiliki seseorang, ataupun keinginan untuk dimiliki oleh seseorang—tidak pernah ada sekalipun dalam riwayat hidup Hodogi Asahi. Hampir semua orang di dunia ini pasti merasakan hal yang sama.




"Arti, dari..."

Meskipun ukurannya yang kecil, langsing, dan posisinya yang sedang menindih tanpa mengenakan sehelai benang pun, sebenarnya sangat mudah bagi Asahi untuk mendorong Kirio menjauh sekuat tenaga. Namun, tubuhnya yang kaku seakan tidak mau mendengarkan perintahnya.

Setidaknya, ia mencoba untuk meminta penjelasan—namun bibir Asahi kembali dibungkam oleh bibir Kirio yang sama.

Kali ini bukan sekadar bibir yang saling bersentuhan.

Sesuatu yang menggeliat memaksa membuka mulutnya, melumat dan menguasai bagian dalam mulutnya seolah sedang mengamuk.

Jika digambarkan secara objektif, rasanya seperti ada sebuah permen kenyal yang hangat dan basah, bergerak sendiri dan memantul ke sana ke mari di dalam mulutnya, membawa serta kenikmatan yang selaras.

"Hah... hah... hah..."

Ia mulai merasa sesak. Ia bahkan lupa cara bernapas melalui hidungnya.

Mungkin menyadari hal itu, wajah kecil Kirio perlahan menjauh. Seolah menegaskan bahwa fakta yang baru saja terjadi tidak akan bisa dihapuskan, sehelai benang perak melintang basah di antara bibir keduanya, berkilau sejenak sebelum jatuh dan menetes di atas pakaian.

Kirio membaringkan tubuhnya di atas dada Asahi, bersandar manja. Hawa panas dari tubuh manusia tanpa busana itu hampir membuat akal sehatnya runtuh. Padahal baunya sama persis dengan sabun mandi yang biasa ia pakai.

"Hanya aku... yang bisa mengerti dirimu. Kalau kau tidak sanggup menanggung dosamu, aku akan memikul setengahnya. Bukan hanya kau, dan bukan hanya aku. Kita berdua..."

"Hah... ... ..."

"Berdua... kita bertarung. Melawan segala ketidakmasukakalan di dunia ini."

Di dunia ini, satu-satunya orang di mana Asahi bisa meluapkan segala beban yang ditanggungnya hanyalah Kage Kirio.

Jika itu disebut sebagai bentuk pengertian, maka memang itulah kenyataannya. Berbagi rahasia, bagaimanapun bentuknya, akan menumbuhkan rasa solidaritas dan keterikatan, dan selama rahasia itu terjaga, hal tersebut akan tereskalasi menjadi sebuah kepercayaan yang mutlak.

Selama ini, satu-satunya orang yang telah menolong Asahi secara sembunyi-sembunyi berkali-kali bukanlah orang lain, melainkan Kirio.

──Meskipun Asahi sama sekali tidak memahami jalan pikiran maupun tujuan Kirio sedikit pun.

"Tidak apa-apa. Sentuhlah bagian mana pun dari tubuhku."

Tangan kanan Kirio merajut erat dengan seluruh jemari tangan kirinya, menggenggamnya dengan erat.

Tidak sama dengan Tsukiashi, Yui, Kansei, Oriko, maupun Ami.

Jari-jari itu milik Kage Kirio sendiri: kecil, ramping, lembut, lentur, namun penuh kekuatan.

(Aku tidak mengerti, aku tidak mengerti, aku tidak mengerti, aku tidak mengerti, aku tidak mengerti──)

Tangan kanan Asahi yang bebas terulur lemah ke arah langit-langit, namun siku itu melengkung seolah jatuh, dan perlahan-lahan tertarik mendekat. Menuju punggung kecil Kirio, yang masih belum memikul apa pun.

Apakah ada arti tertentu dari memeluk Kirio di saat seperti ini?

Kebenaran atau kesalahan—ia sudah tidak bisa lagi memandang segala sesuatu dengan ukuran seperti itu.

Ia menginginkannya. Asahi sudah sejak lama mendambakan kata-kata itu.

──Memberikan kata-kata yang ingin didengar oleh seseorang adalah hal yang sangat penting dalam menjalin hubungan antarmanusia──

Bagi seorang anak laki-laki yang terus melanjutkan permainan dalam kesendirian, kehadiran seseorang yang dapat dipercayai...

Karena Hodogi Asahi tidak ingin menjadi seorang diri, melainkan ingin menjadi berdua.

──Hal itu bahkan semakin berlaku ketika hubungan tersebut beranjak menjadi hubungan antara pria dan wanita──

"...Ah, aaaaaahhhhh... aaaaaaaaaaahhhhh..."

Apakah ini berasal dari emosinya, ataukah sekadar reaksi fisiologis semata, ia sendiri sudah tidak bisa membedakannya.

Hanya saja, Hodogi Asahi sedang menumpahkan air mata deras dari kedua matanya.

Dan sebelum ia sadari, ia telah melingkarkan kedua lengannya di punggung Kage Kirio, mendekapnya dengan erat, erat sekali.

Ia telah bertambah satu tahun usia. Hodogi Asahi genap berusia 17 tahun hari ini. Meskipun begitu, ia belum cukup dewasa untuk bisa menolak orang yang telah memberikannya apa yang ia inginkan di tempat ini.

"Kau boleh menjadi lemah, Asahi."

"Kirio──"

Kali ini, mereka berdua saling menatap dengan tatapan yang sangat jelas.

Nafsu berahi terhadap Kage Kirio yang sama sekali tidak ia rasakan beberapa menit yang lalu, kini telah meluap dan tidak lagi bisa ditahan.

Kepercayaan yang begitu dicintai. Rasa cinta yang lahir dari rasa percaya.

Apa pun yang terjadi, bagaimanapun situasinya, Kirio pasti tidak akan pernah meninggalkan Asahi.

Ia memiliki keyakinan yang tidak berdasar seperti itu. Dan ia bahkan bisa mengatakannya dengan tegas.

──Entahlah. Aku hanya bisa bilang padamu... bencana besar akan menimpa dirimu──

Kirio menutup matanya. Baik nalar maupun instingnya sama-sama memahami apa yang sedang ia cari, dan apa yang sedang ia berikan.

Jika ada rongga kosong di dalam hati, suatu hari nanti, seseorang atau sesuatu pasti akan mengisinya.

Dan manusia akan menaruh kesetiaan serta rasa cinta yang seolah abadi kepada hal yang telah mengisi kekosongan hatinya itu.

Hati Hodogi Asahi yang hancur dan penuh dengan lubang, kini sedang coba ditambal oleh Kage Kirio.

──Bruk.

Satu detik.

Jika suara benda terjatuh di lantai itu tidak terdengar, maka semuanya pasti akan benar-benar dipenuhi oleh keberadaan Kirio.

Apakah kejadian itu merupakan sebuah keberuntungan bagi Asahi, ataukah sebuah kesialan—bahkan para dewa pun tidak mengetahuinya.

"Na... ah, tunggu, eh......?"

Sebelum ia sempat memberikan ciuman kesetiaan atas kemauannya sendiri, Asahi dan Kirio menoleh ke arah sumber suara tersebut.

"Ke, kenapa kalian malah bermesraan, Senpai...? Tu, tu, tu..."

Kenapa ia bisa ada di sini? Kunci pintu memang terbuka, tapi tetap saja.

──Senpaaaiii!! Beritahu alamatnya!!──

──Lagipula malam ini aku ada acara, jadi mungkin agak larut. Nanti kalau acaranya sudah selesai, aku yang akan menghubungimu. Sudah malam, jadi setelah kau menerima barangnya, langsung pulang, ya?──

Ia benar-benar melupakannya. Karena ia telah menempatkan prioritas gadis itu di urutan paling bawah.

Karena mereka sudah putus. Karena mereka sudah tidak berpacaran lagi. Karena hubungan itu telah berakhir.

Namun──bukan berarti Tsukiashi Tsumugi telah lenyap dari dunia ini, atau semacamnya.

"Orang yang licin, telanjang, dan... saling menempel begini──"

Obsesi itu akan terus tersisa. Toh mereka tidak saling membenci satu sama lain.

Jika begitu, maka bergeraklah. Meskipun itu mustahil, meskipun itu terasa sia-sia, majulah dengan nekat dan tataplah ke depan.

"Tsu, Tsukiashi...?"

"Haah, konyol sekali. Bisa-bisanya dia masuk sejauh ini?"

Kirio tersenyum sinis. Di sisi lain, Asahi bahkan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

──Dia benar-benar gumpalan daya juang, anak ini.──

──Tsukiashi Tsumugi. Bakat Luar Biasa: Daya Juang. Apapun yang terjadi, langkah Tsumugi tidak akan pernah berhenti.

Kesalahan terbesar Hodogi Asahi──adalah karena ia memutuskan hubungan dengan gadis itu di urutan pertama.

Bab 4 - Selesai



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment