Chapter 4
— Asahi Hodoki dan Persiapan Sebelum
Musim Hujan (Miu Choumiu) —
"Hodoki!
Besok kan hari ulang tahunmu, kan? Malamnya gimana kalau kita semua pergi makan-makan di suatu tempat?"
Saat jam
istirahat siang, Kirio menawarkan hal itu dengan nada ramah. Kalau
didengar-dengar, sepertinya beberapa teman sekelas ingin merayakan ulang tahun
Asahi. Meskipun itu sendiri adalah tawaran yang menarik.
"Maaf.
Sudah ada rencana."
"Oh. Ada
apa, yang ini?"
Sambil
tersenyum menyeringai, Kirio menegakkan satu jari tengahnya.
"Kalau mau
ditegakkan itu jari kelingking, tahu! Lagian bukan itu. Orang-orang mirip...
keluarga yang akan merayakannya."
"Hmm.
Katanya Hodoki nggak bisa! Trus katanya dia juga nggak punya
pacar!"(Padahal punya)
Asahi mengikuti
Kirio dengan tatapan mata bercampur helaan napas saat pemuda itu melaporkan hal
tersebut kepada teman sekelas lainnya.
...Tentu saja,
jadwal Asahi sudah bocor sepenuhnya kepada Kirio.
Oleh karena
itu, ajakan ini bahkan bukan sekadar sandiwara. Kirio bertanya setelah tahu
persis bagaimana Asahi akan menjawabnya.(Pandai sekali ya dia. Jadi teman
sekelas, jadi pelayan, pakai setelan jas. Katanya aslinya bukan anak SMA...
sebenarnya umur berapa sih si Kirio ini?)
Besok umur
Asahi akan menginjak 17 tahun. Di sisi lain, terkait diri Kirio, Asahi nyaris
tidak tahu apa-apa meskipun mereka sudah cukup lama saling mengenal. Jangankan
hari ulang tahunnya, usianya pun ia tidak tahu, sebaliknya segala hal tentang
dirinya justru dikuasai penuh oleh Kirio, menjadikannya sebuah hubungan yang
terdistorsi. Asahi berpikir, setidaknya jika Kirio memberitahu hari ulang
tahunnya, ia mungkin akan merayakannya sedikit.(Tapi, pada akhirnya Kirio juga
adalah orang di pihak Zen. Dia bukan sekutu mutlakku. Karena kami paling sering
terlibat, aku jadi tanpa sadar berpikir begitu... tapi apakah boleh terus
mempercayainya seperti ini?)
Melihat Kirio
berbicara ceria tanpa pandang bulu dengan teman-teman sekelasnya baik laki-laki
maupun perempuan, sikap arogan dan tanpa sopan santun yang ditunjukkannya di
rumah bahkan terasa seolah-olah ia memiliki kepribadian yang berbeda.
"Woi,
Hodoki! Aku mau beli roti di kantin, ada yang kamu mau?"
"Roti
yakisoba."
"Katanya
apa saja boleh! Ayo ke sana."
"Aku nggak
ngomong gitu!"
Asahi tadinya
ingin bilang 'kalau begitu jangan tanya', namun Kirio keburu keluar kelas
bersama teman-temannya yang lain. Setidaknya, meskipun identitas asli Kirio
hampir tidak diketahui, dia adalah salah satu dari sedikit manusia yang
mengetahui keadaannya sendiri.
Kalau
begitu, hubungan itu harus dijaga dengan baik.
Sambil
merogoh dompetnya untuk mengambil uang roti, Asahi menyimpulkan hal tersebut di
dalam hatinya.
"—Kalau
begitu, mari kita akhiri rapat rutin OSIS hari ini. Semuanya, terima kasih atas
kerja keras kalian."
Seperti biasa,
begitu Kanase menutup rapat, para pengurus OSIS kompak melakukan peregangan
tubuh atau menarik napas dalam-dalam. Sebagai tambahan, entah kenapa hari ini
guru Umegoshi juga berada di dalam ruang OSIS.
"Kalian
rajin sekali ya. Aku ingin anak-anak klub anime mencontoh kalian."
"Terima
kasih, Bu Umegoshi. Apakah ada masalah dengan kegiatan OSIS?"
"Ah,
tidak ada, tidak ada. Kalau ini dibilang ada masalah, klub sastra dan klub
anime bisa dibubarkan hari ini juga."
Mengenai
OSIS, tidak ada guru yang bertindak sebagai pembimbing seperti layaknya
kegiatan klub lain. Karena semua guru memiliki kewajiban untuk bekerja sama,
argumen bahwa seluruh guru adalah pembimbing—hanyalah sebuah dalih belaka.
Terkadang,
guru muda ditugaskan untuk mengawasi kegiatan OSIS dan membuat laporan.
Kali ini
Umegoshi kebetulan yang bertugas untuk itu.
"Karena
ada Ibu guru di sini, hari ini kami jadi jauh lebih giat, lho."
"Ah,
begitu ya. Kalau begitu sebagai bentuk 'khotbah', Mitoguchi-san dan Hodoki-kun,
setelah ini tolong tinggal di sini sebentar. Anak-anak yang lain silakan pulang ya—"
"["Eh"]"
Mereka berdua
terpaksa harus menerima ceramah. Spontan Kanase dan Umegoshi—eh, Kanase dan
Asahi mengeluarkan suara terkejut.
Anggota lainnya
sedikit berisik karena bingung apa maksudnya. Umegoshi menambahkan kata
"Canda".
"Soal
urusan yang kalian konsultasikan padaku beberapa waktu lalu itu. Sebenarnya
cukup kalau ada Mitoguchi-san saja, tapi karena Hodoki-kun juga sedikit
terlibat, jadi sekalian saja. Nah, anak-anak muda lainnya silakan pulang
sana!"
Umegoshi
menyuruh para siswa keluar satu per satu dengan lambaian tangan. Urusan yang
dikonsultasikan padanya waktu itu—berarti.
Kanase dan
Asahi sudah bisa menebak arah pembicaraannya, lalu duduk kembali.
"—Kesimpulannya,
dia dipecat. Namanya juga sekolah swasta, kan, di sini."
"Itu artinya..."
"Maksud Ibu, soal Bu
Ashiya?"
"Iya. Ahh, bawahan yang bisa
diandalkan dengan perintah lisan jadi berkurang satu. Si Detektif hebat ini
memang bikin pusing, ya~"
Meskipun Umegoshi mengatakannya
dengan nada santai, namun pada kenyataannya—meskipun sebagai akibat—ia sedang
menutupi rasa bersalah Kanase yang telah memojokkan seorang guru hingga
dipecat.
Di permukaan Kanase memang tidak
menunjukkan gelagat perduli, namun ia sendiri menyadari bahwa dirinya sudah
'terlalu jauh melangkah' dan tampaknya menyimpan rasa penyesalan bahwa ia
seharusnya bisa sedikit menahan diri. Jika ia menghentikan investigasinya di
batas yang wajar, setidaknya Ashiya tidak akan sampai kehilangan pekerjaannya.
Kanase menundukkan wajahnya. Itu
bukanlah cerita yang menyenangkan untuk didengar, namun tetap saja.
"Ketua
tidak salah kok. Ketua melakukan hal yang benar."
"—Hodoki-kun.
Terima kasih, ya."
"Betul.
Dilihat dari segi etika, moral, hukum, maupun peraturan yang berlaku,
Mitoguchi-san tidak bersalah. Sekalipun bagi pihak yang bersangkutan itu adalah
percintaan yang membara—tetap ada batasnya. Sepertinya ada kemungkinan kedua
orang itu memang 'melakukan' sesuatu di dalam sekolah. Makanya Mitoguchi-san
seharusnya justru bersikap percaya diri. Atau sebaliknya, tidak perlu terlalu
dipikirkan. Sebagian besar detektif hebat yang kukenal biasanya adalah tipe
hibrida yang secara santai tidak pernah peduli pada urusan pasca-penyelesaian
kasus, sih."
"T-tipe
hibrida, ya. Terdengar seperti mobil..."
Ngomong-ngomong,
terkait Satomi, meskipun ia dijatuhi hukuman skors, pemuda itu tampaknya
mengajukan permohonan pengunduran diri secara sukarela.
Karena
sejak awal ia bercita-cita menjadi musisi profesional, prestasi akademiknya pun
seadanya dan ia tampaknya tidak memiliki penyesalan yang mendalam. Hubungannya
dengan Ashiya sudah bukan lagi ranah yang perlu diketahui oleh Asahi maupun
Kanase.
"—Sebelumnya
Ibu juga sempat bilang, emangnya Bu Umegoshi punya hubungan akrab sama detektif
hebat gitu ya? Selama hidup, aku baru pernah lihat orang yang mirip detektif
itu cuma Ketua doang."
"Malah
saya merasa, Bu Umegoshi lah orang yang paling sering memanggil saya
detektif."
"Begitukah?
Di ruang guru semuanya manggil begitu, lho? Yah, bukan cuma detektif sih, tapi
aku mungkin melihat manusia dengan kecepatan berpikir yang luar biasa lebih
banyak dari orang lain. Seperti Kepala Sekolah kita sendiri, pada dasarnya
kecepatan berpikirnya juga cepat banget. Meskipun begitu, dia paling lemah
kalau diajak berdebat..."
"Ibu
pernah berdebat sama Kepala Sekolah...?"
Umegoshi
sendiri adalah seorang guru yang menyimpan banyak misteri. Atau lebih tepatnya,
setiap individu manusia memang memiliki sejarah tak terduga di dalam diri
mereka masing-masing. Mengira kita tahu segalanya tentang orang lain hanyalah
bentuk keangkuhan belaka.
"Kembali
ke topik, Mitoguchi-san benar-benar tidak perlu memikirkan apa pun, dan jika
nanti gara-gara masalah ini kamu menerima sedikit saja perlakuan buruk karena
rasa dendam, segera lapor ke Ibu. Laporannya selesai. Berikutnya, pesan
titipan. Hodoki-kun, ada beberapa lembar cetakan dokumen yang harus diserahkan
kepada Hizume-san, tolong antarkan map ini ke rumah anak itu, ya. Seperti biasa, masukkan saja ke dalam kotak
suratnya, cukup itu saja."
"Baik.
Boleh kok, nggak masalah."
"Rumah
kalian kan berdampingan, merepotkan sekali ya dipaksa melakukan hal semacam
ini. Maaf ya~"
Yui dan Asahi
tahun ini berada di kelas yang berbeda, dan wali kelas pendamping Yui adalah
Umegoshi. Pihak guru sudah mengetahui informasi bahwa rumah mereka
berdampingan, sehingga sesekali Asahi memang kerap dimintai tolong untuk
mengantarkan titipan semacam ini.
Mengenai Yui
yang merupakan seorang hikikomori, Kanase juga mengetahui eksistensinya, dan ia
menunjukkan ekspresi penuh kekhawatiran.
"—Hizume
Yui-san——sepertinya semester ini sama sekali tidak pernah datang ke sekolah,
ya."
"Orang itu
kan jalannya santai sesuai ritmenya sendiri. Lagian, dia adalah tipe orang yang
paling membenci eksistensi yang namanya 'pembagian kelas' di dunia ini."
"......Kamu tahu banyak hal ya,
soal Hizume-san."
"Kan kami
teman masa kecil. Ketua kan juga tahu."
"Kalian
tidak sedang mendua, kan?"
Pertanyaan
berkecepatan tinggi beruntun dilontarkan oleh Umegoshi. Tanpa sadar Asahi
mengeluarkan suara aneh, "E-eh."
Umegoshi
menatap tajam ke arah Asahi dengan pandangan yang menyelidik.
"Yah,
sebenarnya aku agak segan menanyakannya karena aku sendiri yang menitipkannya,
tapi... teman masa kecil lawan jenis itu, rasanya bagaimana ya, bukankah
cenderung mudah berakhir dengan hubungan seperti itu? Maksudku, kenyataannya
sih tidak selalu begitu, tapi di sisi lain bukan berarti tidak mungkin juga, ya
tergantung pada dinamika teman masa kecilnya sih. Nah, Hodoki-kun, kenyataannya
bagaimana?"
"Aku tidak
mendua!!" Kenapa Ibu malah ngomong begitu di depan Ketua?!"
"Aku
bertanya justru karena ada anak ini di hadapannya. Lagian Hodoki-kun, besok kamu ulang tahun,
kan?"
"Eh,
ya, benar sih."
Kenapa Bu
Umegoshi bisa tahu——pikirnya, namun karena dia adalah seorang guru, tentu saja
dia memiliki akses ke informasi pribadi siswa, atau mungkin mengingatnya karena
suatu kesempatan.
"Memangnya
kalian berdua sudah punya rencana merayakannya berdua? Ahh, bikin iri saja
kalian ini~"
"......Hmm.
Tidak, soal itu."
"Rencana
seperti itu tidak ada kok, Bu. Tepatnya, kami berdua sama-sama memiliki jadwal acara masing-masing."
Kanase
menjawab dengan nada datar. "Ooooooh," Umegoshi mengagumi.
"Begitu
ya. Yah, tidak
apa-apa kalau mau diganti di lain hari."
"Maaf ya,
Ketua. Aku benar-benar tidak bisa menolaknya."
"Tidak
apa-apa. Saya sendiri juga ada keperluan untuk pergi bersama orang tua saya.
Perayaannya bisa ditunda lain kali."
Di hadapan
Umegoshi, ia tidak bisa mengatakan 'aku dipanggil ke rumah Yui'. Hal itu sudah
diberitahukan kepada Kanase sebelumnya, dan Kanase juga mengetahui hubungan
antara Asahi dan keluarga Hizume, sehingga tidak ada penolakan yang keras.
Meskipun
kelihatannya begitu, di dalam hatinya mungkin ada secuil rasa ganjil yang
mengganjal—
"—Ah. Maaf
ya, Hodoki-kun. Ada barangku yang tertinggal di ruang OSIS..."
Selesai
kegiatan, tepat di saat mereka melangkah keluar gerbang sekolah, Kanase
menyadari barangnya tertinggal.
"Seriusan?
Mau kutemani kembali?"
"Tidak,
kalau sekarang harus meminjam kunci lalu mengambilnya, lalu mengembalikan
kuncinya lagi, sepertinya akan butuh waktu cukup lama. Jam kepulangan sekolah
sudah hampir habis, jadi hari ini kamu pulang duluan saja tidak apa-apa."
Merasa
tidak enak karena membuat Asahi ikut repot akibat kesalahannya sendiri, Kanase
berkata demikian. Asahi yang tidak berniat memaksakan diri mengangguk
menyetujui.
Asahi
membungkuk hormat mengantarkan Kanase yang kembali ke gedung sekolah, lalu
mulai melangkahkan kakinya pulang sendirian.(Besok ulang tahun ya. Dua bulan
sejak《Permainan Kehidupan Orang Lain》 tahun kedua dimulai——sejauh ini, belum
ada hal yang bersifat fatal yang terjadi. Tapi itu karena keseharian yang tidak
jauh berbeda dari biasanya terus berlanjut. Jadi, kalau bicara soal event
besar... justru besok, ya.)
Ia berpikir
samar tentang hari esok. Selama dua bulan ini, ada masa-masa di mana situasinya
berada di ambang bahaya secara lokal, namun para pacar belum sempat saling
berpapasan, sehingga hal itu masih bisa disebut kedamaian.
Namun,
besok adalah hari ulang tahun Asahi sendiri. Setidaknya ia akan dirayakan oleh
tiga orang wanita.(Yang akan kutemui besok adalah Yui... tapi ya, Yui tidak
perlu dicemaskan, kan. Dua orang lainnya juga sudah kuberi tahu sebelumnya,
jadi seharusnya tidak ada masalah.)
Seharusnya
itu adalah hari untuk dirayakan, namun dari sudut pandang Asahi, hari itu tidak
lebih dari hari sial. Singkatnya, hari di mana para kekasih menginginkan
keberadaannya—menggunakan istilah 'menginginkan' memang terlalu sombong, namun
sebagai sebuah fakta—dan jika hal itu terjadi, probabilitas mereka berpapasan
akan meningkat, begitu pula potensi munculnya rasa ketidakpuasan atau
pertanyaan karena tidak bisa menemuinya.
Justru
karena itulah, Kanase dan Oriko sudah diberi tahu sebelumnya bahwa 'hari itu
ada jadwal'. Di atas segalanya, ia juga menjelaskan rincian jadwal tersebut...
yaitu kepada Oriko ia katakan 'dirayakan oleh keluarga', dan kepada Kanase ia
katakan 'dirayakan oleh keluarga Hizume', sehingga meskipun mereka merasa tidak
puas, alasan itu seharusnya bernilai fakta dan bisa dipercaya.
Karena pada
praktiknya ia memang akan pergi ke rumah salah satu dari mereka yaitu Yui, ia
seharusnya mengatakan 'akan bertemu wanita lain', namun karena keluarga Hizume
telah merawatnya dengan baik dan ia tidak semata-mata hanya menemui Yui seorang
diri, itu bukanlah sebuah kebohongan.(Untung saja aku sudah putus dengan
Tsumugi dan Ami-san. Kalau masih berpacaran dengan kelima orang sekaligus, aku
benar-benar tidak punya bayangan bagaimana cara melewatkan hari besok. Kalau
tiga orang saja, mungkin masih bisa diatasi.)
Penggantian
jadwal perayaan dengan Kanase dan Oriko bisa dilakukan di hari lain. Karena status mereka masih anak SMA, ditarik
oleh alasan 'keluarga' masih bisa dimaklumi. Jika seandainya ia sudah menjadi
mahasiswa, situasinya tidak akan semudah ini.(——Keluarga, ya.)
Beberapa waktu
lalu, merayakan ulang tahun bersama orang di luar keluarga adalah hal yang
tidak pernah terlintas di benaknya.
Atau lebih
tepatnya, ia tidak perlu memikirkannya. Karena ia tidak pernah membayangkan
keluarganya akan lenyap.
Setidaknya
tahun ini, ia tidak akan melewatkannya seorang diri. Hanya kenyataan itu saja
yang patut disyukuri.
Jika seseorang
tidak menatap sesuatu yang terang, ia akan tenggelam ke dalam keputusasaan yang
dalam dan gelap.(......Aku harus pergi menjenguk Koyori lagi...)
Besok, sebelum
pergi ke rumah keluarga Hizume, ia harus mampir ke rumah sakit terlebih dahulu.
Mungkin saja,
sebagai keajaiban hari ulang tahun, sang adik akan membuka matanya.
Ia sempat
berkhayal semacam itu, namun segera menggelengkan kepalanya. Keajaiban disebut
keajaiban karena hal itu tidak pernah terjadi. Hidup dengan bergantung pada hal
semacam itu hanya akan membawa kehancuran di kemudian hari. Tali penyelamat
yang meleleh secara alami, tidak ada apa pun yang bisa dipercayakan padanya.
"Sempaiii!!
Beritahu alamatnya dong!!"
"Eh?"
Saat ia sedang
sibuk mengontrol mentalnya sendiri, tiba-tiba punggungnya ditepuk keras oleh
seseorang. Tidak, ia langsung tahu siapa pelakunya. Hanya saja, tindakan itu
terasa begitu tidak terduga.
"......Tsukiashi."
"Yo
Senpai! Bisa sebentar?"
"Boleh...
sih."
Tidak ada
perubahan yang mencolok dari Tsukiashi Tsumugi. Bisa dibilang masih seperti
biasanya, namun sejak mereka putus, mereka tidak pernah bercakap-cakap secara
normal seperti ini lagi.
Meskipun di
satu sisi Asahi sengaja menghindarinya, ia berpikir bahwa dirinya sudah tidak
punya kualifikasi untuk bersikap akrab lagi.
Namun,
bukan berarti setelah putus, sang mantan akan langsung melenyapkan diri dari
muka bumi ini.
Terutama
karena cara putus mereka yang seperti itu, tidak mengherankan jika Tsumugi
masih berinisiatif mengajaknya bicara.
"Senpai,
besok ulang tahun kan? Aku mau kasih kado. Agak susah kalau dikasih di sekolah,
jadi mau kubawa ke rumahmu! Makanya, aku mikir... aku kan belum tahu alamat rumah Senpai."
"Itu——"
"Ah,
bukan, bukan karena maksud macam-macam, cuma mau ngasih sebagai junior
aja!"
Tsumugi
menambahkan penjelasannya seolah mendahului prasangka Asahi. Status mereka
memang bukan lagi pasangan kekasih, namun posisi sebagai junior selamanya tidak
akan hilang. Dan kebaikan hati itu tidak sanggup ditolak mentah-mentah oleh
Asahi.(Kalau sekadar menerimanya saja... seharusnya tidak ada masalah. Daripada
menjaga jarak secara canggung dan melukai Tsumugi lebih jauh lagi... aku
seharusnya menyetujuinya.)
Meskipun sempat
ragu sejenak, Asahi mengangguk dengan ucapan "Begitu ya." Jika
sebatas junior dan hubungan pertemanan biasa, tidak akan ada dampak buruk. Ia
mengulangi kalimat itu di dalam kepalanya untuk meyakinkan diri sendiri.
"Intinya,
malam hari aku ada acara, jadi mungkin agak larut. Nanti kalau acaranya sudah
selesai aku yang akan menghubungi balik. Sudahlah larut malam, jadi kalau sudah
kuberikan barangnya langsung pulang ya?"
"Beres,
beres. Oh iya, itu pacar baru? Kak Ketua OSIS itu?"
"Bukannya.
Aku dipanggil ke rumah teman masa kecilku. Kami punya hubungan dekat selayaknya
keluarga."
"Hee, gitu
ya!"
Meskipun merasa
gadis itu sedang mencoba menyelidiki sesuatu, Asahi berhasil mengelaknya dengan
dingin.
Saat ia
mengatakan akan mengirim alamat rumahnya lewat pesan nanti, Tsumugi merespons
dengan "Oke."
"Jangan
terlalu berharap banyak sama kadonya, ya!"
"Nggak
berharap kok. Menerimanya saja... sudah hal yang membahagiakan."
"Oke deh.
Kalau gitu sampai jumpa!"
"Balasan
macam apa gaya orang tua itu... sampai jumpa."
Dalam sekejap
mata Tsumugi pergi meninggalkan tempat itu. Asahi sempat berpikir ingin
menanyakan situasi klub atletik akhir-akhir ini, namun ia sama sekali tidak
punya waktu luang untuk itu. Kalau sekadar obrolan santai, Tsumugi sebenarnya
adalah orang yang paling sefrekuensi dengan topik
pembicaraannya.(............Bagaimana caranya agar bisa membenci seseorang
dengan tulus?)
Jika masalahnya
murni soal emosi, Asahi sama sekali tidak membenci Tsumugi. Ia justru memiliki
rasa suka.
Namun karena
batasan status dan situasi tidak mengizinkan perasaan suka itu ditunjukkan
kepada Tsumugi, responnya jadi terasa kaku.
Seharusnya, ia
dibenci oleh semua orang, dan ia pun harus membenci balik mereka. Itulah akhir
kisah yang pantas didapatkan oleh seorang bajingan bernama Asahi Hodoki.
Memilih-milih orang untuk disayangi adalah hal yang mustahil diizinkan
baginya.(Setidaknya, jika aku bisa membenci orang lain dari lubuk hatiku
sendiri, aku pasti akan dibenci balik oleh mereka.)
Pada akhirnya,
kenyataan bahwa ia tidak cukup kuat untuk hidup dengan menolak segala hal di
dunia ini adalah buktinya.
Justru karena
hubungan mereka berakhir setengah-setengah, ia malah mencoba mencari secercah
penyelamatan dari diri Tsumugi. Analisis diri itu langsung berubah menjadi
kebencian pada diri sendiri, membuat Asahi mendadak berharap semoga saja di
perjalanan pulang nanti ia ditusuk oleh seorang penjahat jalanan.
***
"Hi-kun,
selamat ulang tahun. Paman ikut senang. Tahun ini pun kamu bisa menyambut hari
ulang tahunmu tanpa ada masalah. Karena paman ingin setidaknya kamu seorang
diri bisa tumbuh dengan sehat."
"Terima
kasih banyak, Ayah Yui."
Ayah Yui—yang
biasa dipanggil Ayah Yui—menyerahkan sebuah kotak kado yang telah dibungkus
rapi.
Di hari ulang
tahunnya, Asahi yang diundang ke rumah Yui sesuai rencana, kini tengah duduk
mengelilingi meja makan yang dipenuhi hidangan mewah. Ibu Yui memasaknya dengan
mengerahkan seluruh kemampuannya. Keluarga ini benar-benar sangat baik kepada
Asahi.
Hal itu mungkin
dikarenakan hubungan kedekatan sejak kecil, tapi—tidak diragukan lagi, hal itu
juga karena mereka mengetahui latar belakang kehidupannya. Mereka sejak dulu
adalah keluarga yang baik hati, dan mereka terus mengkhawatirkan Asahi yang
kini tinggal sendirian setelah kehilangan kedua orang tuanya dan adiknya yang
berada dalam kondisi koma.
"Kalau ada
kesulitan, silakan konsultasikan apa saja, ya?"
"Ya.
Terima kasih selalu, Ibu Yui."
"—Tomat di
saladnya nggak suka (rasanya aneh)."
"Ibu tidak bicara pada
Yui-chan, lho?"
"Jangan dimasukkan ke
piringku..."
Yui memindahkan seluruh buah tomat
ceri yang tadinya ditaruh di mangkuk salad miliknya ke atas piring Asahi.
Terhadap Yui yang punya cukup banyak
makanan tidak disukai, Asahi—yang tidak memiliki makanan yang benar-benar ia
benci, meskipun ada beberapa yang secara mental tidak ingin ia makan—sudah
sejak dulu sering dijadikan tempat 'pembuangan'.
"Ha-ha-ha.
Tidak boleh begitu, tidak boleh pilih-pilih makanan. Nanti tidak bisa tumbuh besar—Hi-kun."
"Bukannya
aku yang pilih-pilih makanan, lho."
"Sebagai
gantinya... aku tuangkan jus untuk Hi-kun, ya. Cepat dihabiskan... (sekali
tenggak)."
"Itu sih
bukan pengganti namanya."
Keluarga Hizume
adalah keluarga bertiga yang menyenangkan. Ayah yang ceria dan energik, Ibu
yang lembut dan ramah, serta Yui yang pemalu dan cenderung mengurung diri di
kamar, namun memiliki selera humor tingkat tinggi yang menurun dari ayahnya.
Asahi, yang cenderung berperan sebagai tsukkomi (pemberi tanggapan
lucu/korektor), sering kali melontarkan tsukkomi kepada keluarga ini. Bisa
dibilang kemampuan tsukkomi-nya justru ditempa oleh mereka.
"Nah,
Hi-kun. Maukah kamu membuka kado dari paman?"
"Eh,
bolehkah? Aku tadinya mau membukanya setelah makan."
"Fufufu.
Ayah ini, rupanya sudah tidak sabar ingin melihat Hi-kun membuka kadonya,
ya."
"Yui juga
nggak tahu isinya (penasaran)."
"Kalau
begitu, dengan senang hati."
Aku
melepaskan pita kotak kado itu dengan perlahan, membuka tutupnya, dan melihat
isi di dalamnya.
Karena
kotaknya jauh lebih ringan dari kelihatannya, Asahi sebenarnya juga merasa
penasaran benda apa gerangan yang ada di dalam sana.
"I-,
ini adalah—"
Selembar
kertas yang terlipat rapi terdiam tenang di dasar kotak.
Asahi
mengambilnya lalu membukanya. Benda ini, yang biasa disebut—
"Surat
Nikaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh───ッッ!! Ne, Hi-kun, kapan mau nikah sama
Yuiiiiiiiiiiii────────ッッ!?!?!?!"
——Surat
nikah, atau secara resmi disebut sebagai formulir pendaftaran pernikahan (konin
todoke).
Tentu saja,
benda itu bukanlah barang lelucon, melainkan formulir resmi yang bisa
didapatkan di kantor pemerintahan.
Ayah Yui
adalah seorang Paman yang menyenangkan dengan sedikit sisi gila yang terlihat
di sana-sini.
"Wah,
haha. Aku kan baru saja menginjak usia 17 tahun hari ini. Makanya formulir ini belum bisa diserahkan
sekarang. Untuk saat ini benda ini cuma selembar kertas biasa."
"Undang-undang
berubah... Yui juga belum bisa menyerahkannya (karena masih 16 tahun)."
Formulir
pernikahan tidak akan diterima kecuali kedua belah pihak berusia minimal 18
tahun ke atas. Asahi berusia 17 tahun terhitung hari ini, dan Yui baru berusia
16 tahun, jadi bantahan Asahi bahwa benda itu untuk saat ini hanyalah selembar
kertas biasa adalah hal yang benar.
"Tuh
kan, Ayah. Makanya kubilang apa. Masih terlalu cepat dari segi hukum,
kan."
"Begitu
ya. Terlalu cepat secara hukum ya. Cuma selembar kertas biasa, ya~"
Ibu Yui menegur
Ayah Yui. Dari segi keseimbangan, Ibu Yui adalah orang yang paling tenang dan
berpikiran rasional di antara mereka.
"「Kalau begitu artinya tahun depan sudah bisa
diserahkan, dong?!?!?!?!?」"
Tidak, ternyata
tidak seperti itu. Ayah dan Ibu Yui berteriak bersamaan.
Ayah Yui gila
secara normal, sedangkan Ibu Yui gila secara licik—itulah pasangan suami istri
Hizume.
"Tahun
depan Yui baru berumur 17 tahun, jadi sepertinya tetap belum bisa diserahkan.
Yui kan lahir di awal tahun (haya-umare)."
Dan karena
sudah terbiasa menghadapi mereka berdua selama bertahun-tahun, Asahi bisa
memberikan tsukkomi dengan tenang. Memberikan tsukkomi kepada pasangan suami
istri ini memang sudah menjadi peran Asahi.
"Kalau
begitu jawabannya dua tahun lagi (mungkin)."
"「Kalau begitu, dua tahun lagi berarti sudah
bisa diserahkan, dong?!?!?!?!?」"
Sebaliknya, Yui
sangat mahir menebak jalan pikiran orang tuanya lebih dulu.
Hubungan
keluarga mereka sangat harmonis—kemungkinan besar karena pasangan suami istri
ini sangat cocok satu sama lain.
"Kalimat
'kalau begitu' yang diucapkan serempak itu, entah kenapa justru terasa
seram..."
"Hi-kun,
pinjam kertas itu sebentar..."
"Eh?
Boleh."
Aku menyerahkan
surat nikah yang terasa begitu 'berat' secara makna itu kepada Yui.
Seketika itu
juga, sriitt, Yui merobek surat nikah itu menjadi dua bagian secara vertikal.
"Ara-ara."
"Yuiiiiiii────ッッ!! Apa yang kamu lakukannnnnn!!"
(Padahal
itu kan kado ulang tahun buat aku...)
"Hal
kayak gini, nggak perlu. Memberikan tekanan berlebihan ke Hi-kun itu... nggak boleh."
Yui sepertinya
sedikit marah. Mungkin ia berpikir bahwa memberikan surat nikah sebagai kado
ulang tahun dengan dalih lelucon sudah keterlaluan. Asahi merasa sedikit
terkejut di dalam hatinya atas tindakan berani Yui itu.
"Yui..."
"Yui-chan..."
Ayah dan Ibu
Yui sepertinya juga merasa bersalah. Suasana mendadak menjadi agak kurang
nyaman——
"Tapi
saaaaaaaaaaallllliiiiiiiiiiineeeennnnn!! Masih ada banyak banget stok
cadangannya kok!! Jangan harap bisa menang melawan Pappa yang lagi serius gini,
My Sweet Daughter Honey────────ッッ"
"Karena
Pappa adalah pegawai kantor kota yang masih aktif, kami bisa menyiapkan surat
nikah dalam jumlah tak terbatas, lho?"
——Tidak,
ternyata tidak seperti itu. Pasangan suami istri ini tangguh di luar nalar.
Di tangan
Ayah Yui, amunisi surat nikah masih tersisa banyak. Satu bendel penuh. Dalam jumlah grosir.
Orang ini tidak
dikucilkan di tempat kerjanya, kan, Asahi sempat memikirkan hal itu secara
samar.
"Maafkan
aku ya, Hi-kun....... Yui, tidak bisa menang... (terlalu kuat)."
"Kamu
tidak harus memaksakan diri untuk menang, kok..."
"Yah,
begitulah, Paman tidak berniat menganggap ini sebagai lelucon, kok. Agar Hi-kun
dan Yui, itu... m-, m-, m......... Ihh! Ampun deh! Malu banget!!"
"Ayah,
berjuanglah!"
"Bukan
reaksi tipikal orang yang melemparkan surat nikah sebagai kado ulang tahun,
sih..."
"Menjijikkan
(menjijikkan)."
Ada istilah
keluarga yang ceria, namun keluarga Hizume tampaknya adalah keluarga yang
keceriaannya setara dengan teriknya matahari musim panas.
Ayah Yui yang
sedang merasa malu itu membulatkan tekadnya lalu melontarkan kata-kata itu.
"Yah,
karena kalian kan sudah pacaran! Kalau kelak hubungan kalian berakhir ke
jenjang itu, Paman sebagai pihak keluarga akan merasa sangat senang. Tentu
saja, Paman tidak akan memaksa..."
Ayah Yui
mengibas-ngibaskan segepok surat nikah di udara. Lalu menggunakan segepok
kertas itu untuk mengipas-ngipasi dirinya sendiri bagaikan kipas angin datar
(uchiwa).
"Itu
jelas-jelas pemaksaan yang kasat mata, tahu, lewat surat nikah itu."
"Kita
berdua kan masih anak SMA... kecepetan bahasanya. Ayah sama Ibu juga..."
"Yui-chan?
Bocah SMA itu mengutamakan kecepatan bagai kilat (shinsoku), tahu?"
"Belum
pernah dengar..."
"Peribahasa
yang setengahnya mirip perkataan ngawur..."
Yui justru
bertindak sebagai rem pengaman, sementara kedua orang tuanya justru mengerahkan
seluruh tenaga mendukung pernikahan mereka berdua.
Hal itu terjadi
karena ada alasan yang membuat mereka tidak bisa menganggapnya hanya sebagai
lelucon belaka——dengan wajah yang sedikit lebih serius dan nada bicara yang
tenang, Ayah Yui membuka suara.
"......Jujur
saja, Paman ingin Hi-kun datang dan masuk ke keluarga kita sebagai menantu
(muko-yoshi). Alasannya——meskipun rasanya kurang tepat mengatakannya di hari
ulang tahunmu, tapi Hi-kun hampir tidak memiliki sanak saudara lagi. Di negara
ini, ada banyak hal yang menjadi lebih mudah diurus sekadar dengan menyatukan
status di dalam kartu keluarga (koseki). Jadi jika memikirkan masa depanmu,
Paman ingin kamu melakukannya agar Paman bisa membantumu. Yah, tentu saja kalau
kamu ingin menikahi Yui dan membawanya pun tidak masalah, sih?"
"Ayah
Yui——terima kasih banyak. Tapi, seperti yang sudah kubilang sebelumnya, kalau
urusanku tidak perlu dicemaskan. Masih ada kerabat yang membantu dari segi
finansial kok. Lagian, kalau marga (myoji) ku tiba-tiba berubah menjadi Hizume,
Koyori nanti akan kaget kalau dia terbangun."
"Kerabat...
maksudmu kerabat jauh yang hampir tidak pernah kamu temui itu, ya? Apakah dia
benar-benar orang yang bisa diandalkan? Maksudku, bukan berarti Paman
meragukannya, tapi..."
Saat Asahi
menjadi satu-satunya orang yang selamat dari kecelakaan dengan kondisi fisik
yang masih utuh, orang yang paling pertama mencemaskannya adalah pasangan suami
istri Hizume dan anak perempuan mereka, Yui. Bahkan pembicaraan mengenai adopsi
anak sempat diajukan oleh mereka. Bagi Asahi yang hampir tidak memiliki sanak
saudara dekat untuk dijadikan tempat bersandar, kebaikan hati keluarga Hizume
saja sudah menjadi penyelamat terbesar baginya.
Oleh karena
itu, fakta bahwa dirinya adalah cucu dari seorang tokoh berpengaruh bernama Zen
Hinomiya sengaja ia sembunyikan.
Semua itu
semata-mata demi alasan terendah—agar tidak mengganggu kelancaran《Permainan Kehidupan Orang Lain》.
"Yah,
kurasa dia cukup bisa diandalkan, kok. Aku sendiri memang jarang menemuinya...
tapi dia orang yang baik. Jadi tolong jangan khawatir. Aku tidak akan
merepotkan kalian semua."
"Paman
tidak pernah menganggapmu sebagai beban, lho."
Bukan
berarti ia tidak pernah memikirkan opsi untuk membuang segalanya lalu menerima
kebaikan dari keluarga Hizume.
Namun jika
melakukan itu, artinya ia juga harus menitipkan perawatan sang adik, Koyori,
bersama keluarga Hizume. Ia tidak boleh membebani keluarga berhati mulia ini
dengan beban finansial sebesar itu. Justru karena keluarga ini begitu ramah dan
terang, mencampurkan elemen kotor bernama Asahi ke dalamnya adalah sebuah dosa
besar.
Oleh karena
itu, ada satu garis batas minimal yang tidak akan pernah dilanggar oleh Asahi.
Garis batas itu sepertinya juga disadari oleh Ayah dan Ibu Yui yang sudah
dewasa, sehingga mereka tidak mendesaknya terlalu keras, dan hal itu merupakan
sebuah penyelamatan bagi Asahi.
"U-, Ulang
tahun! Hi-kun punya! Membahas topik suram itu nggak
bagus...!"
Menyadari suasana mendadak tidak
nyaman, Yui mengangkat suaranya dengan nada yang tidak biasa.
"Ah
benar juga, kata Yui memang betul! Hari ini adalah hari ulang tahun
Hi-kun——Paman meminta maaf sebesar-besarnya karena telah membuat sang pemeran
utama merasa tidak enak. Oh ya, karena Paman di sini juga membawa surat cerai,
bagaimana kalau kita membuat pesawat kertas dari surat ini lalu bertanding
siapa yang bisa menerbangkannya paling jauh setelah makan nanti!!"
"Maafkan
kami ya, Hi-kun. Kami tidak berniat buruk, kok. Hanya saja, Paman dan Bibi sangat
mencemaskanmu... Bagaimana kalau kita buat aturan siapa yang jarak lemparannya
paling pendek, hukumannya adalah tidak boleh makan stroberi di atas kue ulang
tahun?"
"Pasangan
suami istri ini sama sekali tidak ada nyambung-nyambungnya dengan topik sebelum
dan sesudahnya...!!"
Mengapa
pula ia sampai membawa serta surat cerai untuk dibawa pulang? Tanyakan pun
percuma, jadi Asahi untuk sementara waktu menyetujui pertandingan membuat
pesawat kertas dari surat cerai tersebut.
Setelah itu
mereka melanjutkan makan, dan diakhiri dengan sajian kue ulang tahun,
menghabiskan waktu yang benar-benar menyenangkan dari lubuk hati. Bisa makan,
minum, dan tertawa bersama seperti 'masa lalu'—bagi Asahi, hal itu kini hanya
bisa dirasakan di dalam rumah keluarga Hizume. Ia sangat menyadari bahwa tempat
ini adalah tempat persinggahan terakhir di mana ia bisa kembali menjadi dirinya
sendiri.
"Anu,
Hi-kun....... Ini, kado ulang tahun dari Yui... (terimalah)."
"Seriusan?
Terima kasih!"
Usai makan,
saat mereka berdua kembali ke kamar Yui untuk bersantai——sebuah kado diserahkan
dengan malu-malu.
Sebuah boneka
buatan tangan seukuran telapak tangan. Dilengkapi dengan tali gantung seperti
tali strap, benda itu bisa digantung atau diikat di mana saja. Desain boneka
itu meniru karakter berbentuk buah ek (donguri), maskot terkenal yang sering
dilihat Asahi di berbagai tempat.
"Ini,
bentuknya itu, kan? Donguri-san. Karakter yang akhir-akhir ini sering
kelihatan."
"Nen-donguri..."
"Iya itu.
Hebat, kamu buat sendiri? Ditambah lagi wanginya enak banget."
Boneka buah ek
itu mengeluarkan aroma manis yang mirip seperti aroma aromatherapy.
"Iya. Ini
dibuat jadi sachets... Ibu jago membuatnya. Aku diajari..."
"Oh
begitu, sachets ya! ......Sachets......?"
Meskipun ia
menimpali pembicaraannya, Asahi sama sekali tidak familiar dengan kosakata
tersebut.
"Kantong
wewangian... Jenis barang yang sering digantung anak gyaru/chara di dalam mobil
mereka... (kelihatan bau)."
"Citra
perumpamaannya jadi jelek banget..."
Bisa
ditebak, wewangian itu dimasukkan dan dijahit ke dalam boneka rajutan tersebut.
Asahi pernah
melihat 'kantong beraroma harum'. Sepertinya namanya adalah sachet.
Yui memiliki
tangan yang terampil, meskipun tidak dilakukan secara aktif, ia jago dalam
membuat kerajinan tangan kecil atau memperbaiki peralatan mesin. Memanfaatkan
keahliannya itu sepenuhnya, ia memberikan hadiah tersebut pada kesempatan ini.
"Terima
kasih. Akan kujaga baik-baik."
"Fuhehe.......
Tolong pasang di tas sekolahmu... bayangkan itu adalah Yui, lalu bawa ke
sekolah. Dengan begitu, itu akan dihitung sebagai... kehadiran Yui (bisa
jadi)."
"Mana
mungkin begitu! Tapi tasnya akan tetap kupasang kok."
"Asyik..."
Ia
mempertunjukkan pose gatsuzopo (mengepalkan tangan tanda sukses) yang membuat
semangat melemah. Karena dia adalah putri dari pasangan itu, Yui juga menyimpan
sisi humor yang tak terduga. Hanya saja ia jarang menunjukkannya.
Untuk membawa
pulang 'donguri sachet' ini dengan aman, Asahi memutuskan memasukkannya ke
dalam tas selempang (body bag) tempat ia menyimpan barang-barang berharganya.
Lalu, ia tiba-tiba menyadari sesuatu.
(......Ada
pesan masuk dari Oriko-san.)
Pesan masuk
berdering di salah satu dari dua ponsel yang tersimpan di dalam tasnya.
Ponsel yang
khusus digunakan untuk Oriko. Waktu yang berlalu sejak pesan itu masuk belum
terlalu lama.
"Maaf ya
Yui. Aku izin ke toilet sebentar."
"Keluar
kamar lalu belok kanan..."
"Jangan
mengusirku."
Ponsel yang
berada di dalam saku celananya adalah ponsel untuk Yui dan Tsumugi. Agar tidak
ketahuan oleh Yui, Asahi mengambil ponsel khusus Oriko, lalu berlari masuk ke
dalam toilet.
『Apakah alamat rumahmu benar di sini?』
Pesan itu hanya
dibubuhi kalimat singkat tersebut beserta tautan (URL) aplikasi peta. Saat
tautan itu dibuka, peta tersebut memang menampilkan lokasi tempat tinggalnya
saat ini.
Asahi langsung
membalasnya. 『Aku pernah memberitahu alamatku, ya?』 Pesan itu langsung dibaca dalam hitungan
detik.
『Kekuatan super』
(Mana
mungkin...)
Adakah kekuatan
super sepraktis itu? Saat mereka pergi jalan-jalan bersama sebelumnya, Asahi
pernah beberapa kali menuliskan alamatnya saat mengisi formulir pendaftaran
member di tempat resepsi. Oriko mungkin melihatnya sekilas dari samping dan
mengingatnya.
『Mengesampingkan detailnya』 『Benar kan di sini?』 『House place-mu』
(House place...)
Meskipun
kosakatanya aneh, maksud yang ingin disampaikan bisa dipahami. Asahi membalas 『Benar kok』, lalu dibalas dengan stiker karakter misterius bertuliskan 『O-kes』.
『Nanti kuanterkan kadonya ke sana ya』 『Kamu ada di rumah, kan?』 『Lagi merayakan ultah juga sih』
(......Gawat
juga ya. Alur ini tidak bisa ditolak.)
Bagi pemahaman
Oriko, situasinya adalah 'sedang dirayakan oleh keluarga di rumah'. Pada
kenyataannya ia sedang dirayakan di rumah keluarga Hizume, jadi situasinya
sedikit berbeda. Namun jika ia menolak secara sembarangan di sini, atau
mengatakan 'apakah hari lain saja tidak bisa?', ia pasti akan menimbulkan
kecurigaan yang tidak perlu. Tidak ada pilihan lain selain menerimanya secara
jujur.
Asahi
mengirimkan pesan, 『Sudah larut malam dan waktunya tidak banyak,
apa tidak apa-apa?』
『Tidak apa-apa』 『Cuma mau menyerahkannya saja kok』 『Nanti kukabari kalau sudah sampai, jadi keluarlah sebentar』 『Oh ya, untuk berjaga-jaga konfirmasi dulu』
(Konfirmasi...er?)
『Boleh beri tahu nomor kamarmu sekalian』
"............"
Setelah itu, ia
mengatakan akan membalasnya nanti, lalu Asahi menutup sambungan pesannya.
Ia segera
keluar dari toilet, mencuci tangan, dan kembali ke kamar Yui.
"Hi-kun,
tidak apa-apa? (perutnya)"
"Ah,
tidak, aman kok. Cuma aku harus segera mengerjakan tugas, jadi sebentar lagi
mau pulang. Lagian hari ini kan hari biasa, besok sekolah."
Jika ia
berlama-lama di rumah keluarga Hizume, ia tidak akan bisa menepati janji dengan
Oriko. Ia harus segera pulang, lalu menyesuaikan situasinya dengan Oriko. Asahi
merangkai alasan yang masuk akal agar ia bisa pulang.
"......Tidak
mau menginap? Seperti biasanya..."
"Ngomong
apa sih. Mana ada menginap sejak naik tingkat SMP."
"Begitu
ya... (cih)"
"Aku
akan datang lagi. Nanti giliran mengajarimu belajar."
"Tidak
perlu memaksakan diri..."
"Woi."
Sambil
melontarkan candaan ringan dengan Yui, Asahi berpamitan kepada Ayah dan Ibu
Yui.
"Hi-kun,
mau pulang, ya? Perlu Paman antar?"
"Tidak
usah, tidak usah, dekat kok. Lagian aku mau mampir ke minimarket di jalan pulang."
"Hati-hati
di jalan ya?"
"Iya.
Terima kasih banyak untuk hari ini. Makanannya enak sekali."
"Dadah..."
"Sampai
jumpa lagi, Yui. Jangan tidur terlalu malam, ya."
Asahi
membungkuk hormat kepada tiga anggota keluarga Hizume yang mengantarnya hingga
ke beranda depan, lalu membuka pintu perlahan dan melangkah ke luar. Beberapa
detik setelah pintu itu tertutup, Ayah Yui bergumam pelan.
"—Padahal,
rumah kita bertetangga, ya."
***
——Ah. Maaf ya,
Hodoki-kun. Ada
barangku yang tertinggal di ruang OSIS...——
Mitoguchi
Kanase melontarkan satu kebohongan kepada Asahi Hodoki. Meskipun begitu, itu
bukanlah kebohongan sepenuhnya, karena ia juga menyisipkan beberapa kebenaran
di dalamnya. Tempatnya bukan di ruang OSIS, melainkan di ruang guru. Dan yang
ia 'tinggalkan' bukanlah sebuah benda, melainkan sebuah 'urusan'.
Jika seseorang
sudah mendapatkan kepercayaan dari para guru, urusan-urusan yang biasanya sulit
diurus pun terkadang bisa disetujui begitu saja tanpa alasan yang rumit. Kanase
memanggil guru yang menjabat sebagai kepala tingkat kelas dua.
Satu hal yang
ingin ia ketahui. Alamat rumah Yui Hizume.
Dengan hanya
beralasan bahwa ada barang titipan yang harus diantarkan ke sana, sang guru
bahkan memberinya kata-kata penyemangat seperti, "Terima kasih ya seperti
biasa."
Barang titipan
itu bukan untuk dirinya, melainkan untuk Asahi Hodoki. Jadi, bagian ini pun
merupakan sebuah kepalsuan.
Meskipun
begitu, Kanase yang telah mendapatkan informasi yang diinginkannya meninggalkan
ruang guru seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Kanase tidak
berniat——untuk menemui Yui Hizume.
Gadis itu
adalah teman masa kecil Asahi, dan rumah mereka saling berdekatan... tetangga
sebelah.
Dengan kata
lain, untuk mengetahui alamat Asahi yang tidak pernah diberitahukan kepadanya,
ia hanya perlu menyelidiki tempat tinggal Yui Hizume.
(Maaf ya,
Hizume-san. Nanti akan kubuatkan cetakan ringkasan materi belajar mandiri untuk
materi pokok kelas dua, lalu kuberikan padamu.)
Semua ini
semata-mata dilakukan demi memberikan kado kejutan di hari ulang tahun Asahi
Hodoki.
Hari itu, fakta
bahwa Kanase sendiri sebenarnya memiliki jadwal acara lain adalah benar, namun
jika ditunda ke hari lain rasanya kurang berkesan.
Lebih dari
segalanya, niat yang sebenarnya di lubuk hatinya adalah ia ingin mencoba
memberikan kado secara surprise.
Barangkali para
staf pengajar di SMA Sōyō pun tidak pernah membayangkan bahwa sang ketua OSIS
akan bergerak berdasarkan motif asmara seperti itu. Kepercayaan yang tebal akan
melenyapkan segala kecurigaan——oleh karena itu, perbuatannya pasti tidak akan
terbongkar.
(——Aneh.)
Begitu tiba
di hari ulang tahun tersebut. Hal yang dirasakan oleh Mitoguchi Kanase adalah
sebuah kejanggalan yang luar biasa.
Kanase yang
telah tiba di kediaman keluarga Hizume melihat cahaya yang merembes keluar dari
celah tirai. Bukan berarti tidak ada hal yang terpikirkan olehnya mengenai
pemandangan itu——namun ia tidak punya pilihan selain mempercayainya. Mengingat
latar belakang situasi Asahi Hodoki, mencampuri tindakan pemuda itu hari ini
adalah hal yang pantas dihindari, bahkan oleh seorang kekasih sekalipun.
Oleh karena
itu, Kanase berjalan dengan tenang menuju rumah di sebelah kediaman keluarga
Hizume, yaitu kediaman keluarga Hodoki.
Baik rumah
keluarga Hizume maupun rumah keluarga Hodoki adalah rumah tapak (detached
house).
Tentu saja,
kediaman keluarga Hodoki yang sedang ditinggal pergi oleh Asahi tampak gelap
gulita, tanpa ada satu pun lampu di dalam rumah yang menyala.
Mengingat
kedua orang tuanya telah tewas karena kecelakaan dan adiknya sedang dirawat di
rumah sakit, wajar jika tidak ada siapa pun di rumah ini.
(Jendela-jendelanya
ditutup shutter [pintu gulung pengaman], dan tidak ada satu pun lampu yang
menyala.)
Jendela
geser kaca besar di rumah tapak sebagian besar dilengkapi dengan shutter
pengaman.
Misalnya
diturunkan pada hari badai untuk mencegah benda-benda membentur kaca hingga
pecah.
Atau diturunkan
pada malam hari demi alasan keamanan untuk mencegah kaca dipecah maling.
Seluruh jendela
di kediaman keluarga Hodoki diturunkan shutter-nya. Bahkan jendela di lantai
dua rumah berlantai dua itu pun tertutup rapat.
Secara faktual,
Asahi tinggal sendirian. Sebagai bentuk kesadaran akan keamanan, menurunkan
semua shutter rumah saat hendak bepergian adalah sesuatu yang masih bisa
dipahami. Namun, kali ini tujuannya adalah pergi ke rumah keluarga Hizume yang
berada tepat di sebelah, jadi Kanase merasa tidak ada perlunya melakukan
tindakan sampai sejauh itu——atau bahkan jika harus dilakukan, cukup shutter
jendela lantai dasar saja yang diturunkan——menurutnya hal itu tidak masuk akal.
Lagipula, apakah anak SMA laki-laki gemar melakukan hal yang serempot itu?
(Dari
jendela lantai dua, terhubung ke arah beranda......)
Jendela
lantai dua yang mengarah ke beranda tempat tiang jemuran terlihat, juga
tertutup shutter-nya. Sama sekali tidak ada pakaian yang dijemur. Apakah sudah
diangkat masuk ke dalam?
Selain itu,
ia juga merasa terganggu karena tidak ada satu pun lampu penerangan di
sekeliling area luar rumah yang dinyalakan. Ia bisa memahami jika demi alasan
penghematan listrik, semua lampu bagian dalam maupun luar dimatikan saat
bepergian, namun jika itu alasannya, hal itu tidak sinkron dengan kondisi
shutter-nya.
Lampu di
pagar rumah atau di ambang pintu depan, jika dibiarkan menyala saja sudah
memberikan efek pencegahan kejahatan tertentu. Karena keberadaan lampu luar
yang menyala memberikan arti bahwa rumah tersebut mungkin sedang berpenghuni.
Jika Asahi
memiliki kesadaran keamanan yang tinggi dan merupakan tipe orang yang
menurunkan semua shutter saat bepergian, maka ia seharusnya menyalakan lampunya
juga sekalian untuk berjaga-jaga.
(......Sedang
bepergian dalam jangka panjang. Atau, rumah kosong yang ditinggalkan atau
dijual.)
Jika harus
mendeskripsikan kondisi kediaman keluarga Hodoki dalam satu kalimat, ketiga
kemungkinan itulah yang langsung terlintas di benak Kanase. Jika meninggalkan
rumah dalam jangka waktu lama, kemungkinan lampu tidak dinyalakan memang ada.
Terlebih lagi jika itu adalah rumah kosong tanpa penghuni.
Asahi——padahal
tinggal di sini?
Kanase
mengalihkan pandangannya ke arah kotak pos. Bukan berarti surat-surat menumpuk
hingga meluber keluar dari mulut kotak pos. Apakah surat-surat itu rutin diambil?
"—Maafkan
aku, Hodoki-kun."
Kanase membuka
gerbang kediaman keluarga Hodoki, menerobos masuk, membuka kotak pos, dan
menyenteri bagian dalamnya menggunakan lampu ponsel.
Isinya ternyata
tidak kosong. Ada beberapa lembar kertas yang bertumpuk. Semuanya tampak
seperti slip pemberitahuan ketidakhadiran pengiriman (absence slip).
(Hanya slip
pemberitahuan ketidakhadiran saja yang tidak diambil? Bukan, bukan begitu——)
Surat-surat
seharusnya sudah diambil secara rutin. Namun, hanya slip pemberitahuan
ketidakhadiran saja yang dibiarkan tertinggal.
(Slip
pemberitahuan ketidakhadiran akan dimasukkan lagi jika saat dikunjungi ulang
penghuninya tetap tidak ada. Artinya, slip yang sama akan menumpuk
berlapis-lapis. Saat mengambil surat lain, ia hanya mengambil slip yang
diperlukan saja dan membiarkan sisanya tertinggal.)
Jika
diperhatikan, surat-surat pemberitahuan ketidakhadiran itu memang adalah jenis
yang sama. Sebegitu seringnya slip yang sama menumpuk, rumah ini menandakan
bahwa memang selalu tidak ada orang di sini. Namun sesekali, hanya surat-surat
penting saja yang diambil. Jumlahnya yang begitu banyak hingga meninggalkan
sisa slip duplikat di dalam kotak pos menjadi buktinya.
Pikiran
Kanase berputar-putar tak menentu. Di dalam benak Kanase, keraguan tersusun
bagaikan peluru yang diisikan ke dalam magasin, lalu mulai mengarahkan larasnya
ke arah sang kekasih. Apakah itu sebuah kecurigaan, ataukah sekadar rasa
penasaran, ia sendiri belum bisa memberikan jawaban yang pasti.
——Pada saat
itu, dari arah teras rumah keluarga Hizume, terdengar dengan jelas sebuah suara
yang sangat ia kenal.
***
"—Hodoki-kun."
"Eh,
uwaaah!? K-, Ketua!?"
Begitu
mendengar suara secara tiba-tiba, lalu mendapati Kanase berdiri di hadapan
rumahnya, Asahi hampir kehilangan keseimbangan. Kalau bisa dibilang, dia bahkan
hampir berteriak. Sungguh buruk bagi kesehatan jantung——benar-benar buruk.
"T-tunggu,
kenapa ada di depan rumahku? Lagian setidaknya beri tahu aku..."
"Surprise!"
"Kaget dan
dibuat terkejut itu, rasanya mirip tapi sebenarnya berbeda, lho..."
Mungkin karena
Asahi sudah cukup terkejut, Kanase tampak merasa puas.
Lalu dari dalam
tas tangannya, ia mengeluarkan sebuah kotak berbungkus rapi seukuran cokelat
batangan.
"Aku ingin
menyerahkan kado ulang tahun ini secara langsung. Bukan di hari lain, melainkan
tepat di hari H."
"Begitu
ya... terima kasih banyak. Aku senang sekali."
Kondisi di luar
sudah gelap, jadi periksa isinya nanti setelah sampai di rumah ya?"
"Baik.
Ah... omong-omong, mau mampir ke atas sebentar? Tidak ada siapa-siapa
kok."
Asahi menunjuk
ke arah pintu depan rumahnya. Sedikit rasa enggan untuk membawa seorang gadis
ke rumahnya di malam hari pada hari kerja seperti ini——ia sengaja bersikap
begitu agar terlihat wajar. Jujur saja, isi hatinya sebenarnya sangat
kacau.(Kenapa Ketua bisa ada di sini pada waktu seperti ini? Memangnya kenapa
orang ini tahu rumahku...)
Asahi tidak
pernah memberitahu alamat rumahnya kepada Kanase. Paling-paling informasi yang
ada hanyalah bahwa ia adalah tetangga sebelah Yui Hizume.
Baik Oriko
maupun Kanase sama-sama sangat pandai menggali informasi pribadi orang lain.
Atau mungkin, penjagaannya sendiri yang terlalu longgar. Kalau soal alamat
pacar, wajar saja jika seorang pacar tahu, dan ia tidak mungkin menunjukkan
rasa jijik atau benci karena hal itu sudah terbongkar.(Aku harus mencari cara
agar dia cepat pulang. Kalau tidak, jadwal dengan Oriko bisa——)
"Maksudnya
itu, kamu mau mengantarku masuk sekarang?"
"Eh?"
"Ke tempat
tinggal Hodoki-kun yang sebenarnya."
(............Seriusan?)
Ia mendesah
di dalam hati. Melampaui rasa terkejut dan panik, ia justru merasa hampir
terpesona dengan kecepatan daya tangkap Kanase. Melihat kondisi rumah seperti
ini, apakah wanita itu bisa langsung menebaknya dengan mantap? Sekalipun ia
hanya sedang menggertak, tidak ada gunanya melakukan hal semacam itu. Jika tidak memiliki keyakinan pasti, kalimat
ini tidak akan mungkin terlontar.
Pilihan
untuk berkelit langsung hancur dalam sekejap. Tidak, instingnya menyadari bahwa
berbohong kepada Kanase adalah hal yang sia-sia.
"Ah,
eetto, itu, bukan berarti aku berniat menyembunyikannya, ya? Tinggal di rumah
ini membuatku... merasa terlalu sedih dan berat. Jadi sekarang aku menumpang di
tempat kerabatku dan tinggal di tempat lain."
Oleh karena
itu, saat ini Asahi tidak tinggal di 'rumah asalnya'. Dulu——sebelum kecelakaan
terjadi——ia memang tinggal di sini, namun ia meninggalkan tempat ini setelah
kecelakaan itu. Tinggal sendirian di rumah keluarga yang sudah tidak
berpenghuni lagi hanya akan membuat kewarasannya tergerus oleh kesedihan dan
keputusasaan. Itu adalah hal yang mustahil bisa ditanggungnya.
Segala
sesuatu yang diperlukan untuk memenuhi syarat《Permainan Kehidupan Orang Lain》selalu disiapkan oleh Kirio jika ia
memintanya.
Memiliki
beberapa unit ponsel adalah bagian dari hal itu, dan tempat tinggal pun
bukanlah sebuah pengecualian.
"Alasannya
adalah... ya, seperti yang kamu duga. Terlalu menyakitkan tinggal di rumah ini.
Sekarang aku tinggal di tempat lain berkat bantuan kerabat."
Oleh karena
itu, saat ini Asahi tinggal di apartemen lain yang disediakan oleh Kirio.
Keluarga Hizume mengetahui hal itu, dan secara eksternal diceritakan bahwa 'ia
tinggal seorang diri di apartemen milik kerabat jauhnya'.
Alamat yang
ditebak oleh Oriko adalah alamat apartemen tersebut, dan kemungkinan besar saat
ini Oriko sedang menuju ke sana.
Alasan ia
tidak menceritakan hal ini kepada Kanase adalah karena memiliki banyak basis
tempat tinggal jauh lebih aman dan praktis. Jika hanya memiliki satu tempat tinggal dan
tempat itu diketahui oleh semua pacarnya, itu pasti akan memicu risiko di
kemudian hari.
Oleh karena
itu, Asahi pada dasarnya tidak pernah memberitahu tempat tinggal utamanya, dan
jika terpaksa harus memberitahu, ia membedakan antara 'rumah utama' dan
'apartemen' tergantung pada siapa orangnya. Singkatnya, Kanase seharusnya masuk
dalam kategori orang yang mengetahui rumah utama.
Namun jika
situasinya sudah jadi begini, ia tidak punya pilihan selain menceritakan kedua
tempat itu kepada Kanase.
"Begitu
ya... Kuperkirakan kamu tinggal sendirian di rumah keluargamu ini selama
ini..."
"Maaf ya.
Kupikir itu bukan hal yang penting, jadi aku tidak menceritakannya pada siapa
pun. Dalam artian itu, aku dan Yui sebenarnya sudah bukan tetangga sebelah
lagi. Ah tapi, tempat tinggalku yang sekarang juga tidak begitu jauh dari sini.
Makanya aku bisa mengantarkan cetakan print tugas dan semacamnya."
Masalah
kecelakaan adalah hal yang sangat sensitif, dan Kanase mempertimbangkan
situasinya sehingga ia tidak mendesak masuk terlalu dalam. Justru karena
itulah, fakta bahwa tempat tinggalnya berbeda pun bisa dimasukkan ke dalam
alasan yang sama.
Ia mungkin
merasa yakin, namun tidak akan menaruh curiga. Begitulah perkiraan Asahi.
"Begitu
ya. Ngomong-ngomong, soal kerabat itu? Apakah itu kakek dan nenek Hodoki-kun? Atau
paman dan bibi?"
"Itu——"
Kenyataannya,
itu adalah sang kakek. Namun, nama itu tidak boleh diucapkan kepada siapapun,
tidak peduli siapa lawannya.
Bagaimana ia
harus mengatakannya? Seperti yang ia ceritakan kepada keluarga Hizume,
menyebutnya sebagai kerabat jauh sepertinya adalah pilihan yang paling aman. Ia
hampir tidak pernah bertemu dengan Zen, dan meskipun secara silsilah darah
adalah kakeknya, secara pengenalan ia sudah menganggapnya seperti orang asing.
Lebih baik
tidak menumpuk kebohongan yang tidak perlu. Meskipun begitu, Asahi merasakan
kegelisahan yang ganjil di dalam dadanya.
Kenapa Kanase
menanyakan tentang kerabatnya? Apakah informasi itu adalah informasi yang
penting bagi Kanase? Jangan-jangan, hal yang sebenarnya ingin ia ketahui
bukanlah itu.
"—Sebenarnya,
dia adalah sepupuku. Aku menumpang tinggal di tempatnya."
Oleh karena
itu, kebohongan tersebut meluncur begitu saja dari mulutnya secara alami,
hingga membuat dirinya sendiri terkejut.
"S-,
sepupu? Tak disangka..."
"Iya. Yah,
awalnya kami hampir tidak pernah saling kenal, sih."
"Itu
artinya, Hodoki-kun tidak tinggal sendirian, ya?"
"Selama
aku belum kembali ke sini, ya begitu."
"......Begitu
ya. Hmm, sedikit disayangkan."
"Eh?"
"Kalau
kamu tinggal sendirian, aku tadinya berencana meminta kunci cadangan,
padahal."
Kanase
mengatakannya dengan nada bercanda——namun sama sekali tidak terdengar seperti
sebuah candaan di telinga Asahi.——Ibu pun sebenarnya hanyalah wanita mainan,
bukan kekasih utamanya. Begitu saja kesimpulannya——
Ucapan yang
pernah dilontarkan oleh Kanase di masa lalu itu beresonansi bolak-balik di
dalam benak Asahi.
Saat itu, guru
Ashiya sebagai 'kekasih utama' dipercayakan kunci cadangan oleh Satomi Ryoya.
Sebaliknya, dua wanita lainnya yang hanya dianggap mainan tidak diberikan. Jika
dibalik, 'kunci cadangan' merepresentasikan seberapa besar tingkat kepercayaan
yang diberikan kepada pasangan.(Aku jadi paham kenapa aku tadi spontan
berbohong... Alasannya karena aku merasa akan mengarah ke sana. Ketua
sepertinya menginginkan 'bukti' yang nyata...)
Ia tidak
menunjukkannya di luar. Bisa dibilang bersikap seperti biasa. Namun, Kanase jelas-jelas sedang
menaruh curiga kepada Asahi, dan justru karena itulah ia menginginkan wujud
nyata dari 'kepercayaan' tersebut.
Jika Asahi
beralasan dengan alasan yang sama seperti pada keluarga Hizume, yaitu 'tinggal
sendirian di apartemen milik kerabat jauh', situasinya tamat. Jika setelah itu
Kanase merengek meminta kunci cadangan, ia tidak punya pilihan selain
memberikannya——namun begitu kunci itu diserahkan, zona aman bagi Asahi akan
lenyap selamanya.
Kepada
siapa pun di antara para pacarnya, ia tidak boleh menyerahkan kunci cadangan.
Karena Asahi Hodoki menyimpan terlalu banyak rahasia.
(......Untung
saja. Berkat sikapnya yang tidak langsung menembak dengan kalimat 'kamu tinggal
sendirian sekarang?', dia wanita yang penuh pertimbangan, atau bisa dibilang
sangat berhati-hati, pokoknya dia benar-benar orang yang tidak boleh
diremehkan.)
Asahi sedikit
menghela napas lega. Percakapan dengan Kanase menyimpan ranjau di setiap
celahnya.
Jika ia membuat
kesalahan kecil, Kanase akan menerobos masuk sekaligus. Menuju ke inti diri
Asahi yang paling rahasia.
"Ah, tapi
minta kunci cadangan sepertinya terlalu cepat ya. Kita kan masih anak
SMA."
"Iya juga
ya. Hal seperti itu mungkin baru dibicarakan setelah kita lulus sekolah
nanti."
"Setuju.
Makanya, sebagai anak SMA yang baik——bolehkah aku mampir untuk memberikan
salam?"
"...Ah,
salam? Kepada siapa?"
"Kepada
sepupumu itu. Kalau aku tebak, posisinya saat ini mirip seperti wali pengganti
Hodoki-kun, kan? Karena kita sedang berpacaran, aku ingin orang itu setidaknya
tahu siapa diriku. Tempat tinggal kalian kan dekat dari sini, kan? Sungguh, hanya sekadar
mampir memberikan salam saja kok."
"Begitu
ya..."
——Salah. Kanase
memiliki anak panah kedua. Permintaan kunci cadangan tadi mungkin hanya sebatas
lemparan umpan, dan target sebenarnya adalah hal ini. Ia ingin memvalidasi data
pernyataan Asahi.
Argumennya
memang masuk akal. Mengesampingkan fakta bahwa hari ini adalah hari kerja dan
waktu sudah larut malam.
Kanase
sepertinya tidak berniat menunda kunjungan salam itu ke lain hari. Kunjungan
itu bermakna karena dilakukan sekarang.(Kalau ditunda ke lain hari... dia bisa
saja 'menyiapkannya'. Dengan melakukan kunjungan mendadak tanpa janji di jam
seperti ini, terbukti apakah aku benar-benar tinggal bersama 'sepupu' atau
tidak. Konsistensi dan kebenaran akan melekat pada ucapanku. Itulah yang
diinginkan oleh Ketua. Dia tidak ingin mencurigaiku, wanita ini......)
Memilih
menghabiskan hari ini di rumah Yui pada dasarnya memang mengundang rasa curiga.
Ia ingin melenyapkan kecurigaan itu——maka dari itu Kanase mendesak begitu keras
saat ini.
Pacarnya ingin
bukti nyata bahwa ia sama sekali tidak berbohong.
Jika tidak
begitu, wanita itu tidak akan bisa percaya dan terus mencurigai...... lalu
mengejarnya hingga tuntas.(——Tidak ada. Mana ada sepupu di sana. Ah,
sial......)
Itulah sebabnya
ia tidak seharusnya menumpuk kebohongan yang tidak perlu. Namun, jika ia tidak
berbohong tadi, situasinya akan mengarah pada permintaan kunci cadangan.
Bagaimanapun juga, begitu dicurigai oleh Kanase, Asahi seorang diri tidak akan
mampu menandinginya. Cepat atau lambat kebohongan itu akan terkoyak dan terurai
seperti benang rajutan. Itulah yang disebut sebagai seorang detektif hebat.
——Melalui celah
saku celananya, Asahi menekan tombol di dalam saku tersebut satu kali.
"Boleh-boleh
saja sih, tapi kira-kira dia ada di rumah nggak ya? Sepupuku itu suka keluyuran
malam-malam."
"Kalau
soal itu... sepertinya tipe yang sangat berbeda dari Hodoki-kun, ya."
"Ya, bisa
dibilang begitu."
Ia mulai
melangkah memandu Kanase. Kecemasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya
bergejolak di dalam diri Asahi.(Omong-omong, kalau aku membawa Ketua langsung
ke rumah itu——)『Nanti kuanterkan kadonya ke sana ya』 『Kamu ada di rumah, kan?』 『Lagi merayakan ultah juga sih』(——Kemungkinan besar Oriko-san dan Ketua akan
saling berpapasan di sana......!!)
Bukti
eksistensi 'sepupu' fiktif. Menghindari pertemuan antara Kanase dan Oriko.
Serta kelalaian yang tak boleh diabaikan.
"Ngomong-ngomong,
Hodoki-kun."
"Ada
apa?"
"Seandainya,
jika kamu harus memberikan kunci cadangan kepadaku——kunci rumah yang mana yang
akan kamu berikan?"
——Hitungan
mundur yang mengarah pada kehancuran Asahi Hodoki, kini telah resmi dimulai.
***
(Di sinilah
apartemen tempat tinggalnya)
Kokigi Oriko
tiba di bawah apartemen tempat tinggal Asahi Hodoki.
Tujuannya
adalah untuk memberikan kado, namun ia juga memiliki tujuan lain.(Aku melihat
sebuah 'potongan adegan' (cut) yang kurang bagus. Hari ini, di sini)
Mengenai apa
yang disebut prekognisi (pelihatan masa depan), Oriko sendiri masih setengah
percaya setengah tidak. Artinya adalah 'separuh benar, separuh meleset'.
Prekognisi terjadi secara spontan dan tiba-tiba, memperlihatkan masa depan
dekat kepada Oriko.
Namun, masa
depan itu bukanlah bentuk gambar atau bahasa yang jelas, melainkan hanya bisa
dilihat melalui beberapa 'gambar diam' (still image), seperti potongan capture
video. Oriko menyebut ini sebagai 'potongan adegan' (cut), namun jika ditanya
apakah 'potongan adegan' itu adalah masa depan yang pasti akan terjadi,
probabilitasnya benar-benar antara percaya dan tidak.
Ketika tepat
sasaran, masa depan yang datang hampir persis seperti adegan dalam 'potongan
adegan' tersebut, namun ketika meleset, ia justru melihat masa depan yang sama
sekali tidak ada hubungannya dan meleset jauh. Jujur saja, itu adalah kemampuan
yang tidak berguna.(Potongan adegan di mana dia bersama wanita lain——Yah, aku
tidak tahu siapa wanita itu. Setidaknya, jika dia memang bersama wanita lain,
itu berarti hari ini dia tidak menghabiskan waktu bersama 'keluarga'.)
Sebelumnya
Oriko juga pernah beberapa kali melihat 'potongan adegan' di mana Asahi bersama
wanita yang tidak ia kenal. Namun, tidak ada tanda-tanda perselingkuhan yang
jelas dari Asahi, sehingga ia menganggapnya sebagai masa depan yang meleset.
Kali ini pun
situasinya sangat sederhana. Jika Asahi saat ini sedang berada di rumah, itu
berarti ramalannya meleset. Karena 'potongan adegan' tersebut menunjukkan masa
depan di mana Asahi sedang berjalan bersama wanita asing di luar pada malam
hari.(Nomor kamarnya adalah 501. Berdasarkan nomornya, sepertinya itu adalah
kamar sudut. Lampu kamarnya——)
Dari bagian
belakang apartemen, ia menelusuri cahaya yang merembes dari beranda. Di bagian
yang menjadi kamar sudut lantai lima dari apartemen tujuh lantai tersebut, ia
melihat tempat yang sepertinya adalah kamar 501.
......Gelap.
Lampunya tidak menyala. "Hmm," gumam Oriko seorang diri.
Selanjutnya,
Oriko berputar menuju pintu masuk apartemen. Itu adalah apartemen dengan sistem
auto-lock, dan kotak pos berjejer seperti sarang lebur di samping pintu masuk.
Tidak ada nama yang tertera di kotak pos nomor 501.(Yah, akhir-akhir ini jumlah
keluarga yang tidak menempelkan papan nama di kotak pos memang semakin
bertambah, ya)
Pintu kaca yang
menjadi pintu masuk dilengkapi dengan panel pengoperasian interkom. Dengan
memasukkan nomor kamar menggunakan tombol angka di sana lalu menekan tombol
'panggil' (call), interkom kamar akan berdering. Penghuni dapat membuka kunci
auto-lock pintu masuk dari dalam kamar, memungkinkan pengunjung untuk masuk ke
area lobi dalam.
"A-,
anuu"
"Hm?"
Seseorang
memanggil Oriko yang sedang melakukan penyelidikan. Oriko langsung
berbalik.(Anak-anak... usia SMP atau SMA? Penghuni sini?)
Gadis
dengan kulit bercahaya dan sehat, batin Oriko. Wajahnya pun cukup manis.
——Wajah. Oriko
tiba-tiba teringat. Wajah ini pernah ia lihat sebelumnya. Di dalam prekognisi.
"Apakah
kunci di sebelah sana tidak dibuka?"
Anak seusia
SMP-SMA itu menunjuk ke arah panel pengoperasian. Di sana terdapat lubang
kunci, dan penghuni dapat membuka kunci auto-lock pintu masuk secara manual
dengan memasukkan kunci ke lubang tersebut. "Ah," jawab Oriko pelan.
"Maaf. Aku
hanya sedang menunggu seseorang, bukan penghuni sini."
"Eh!? Ah,
masa, o-, gitu ya... ah, iya, kalau gitu permisi ya!"
......?
Anak SMP-SMA
yang buruk dalam bertutur kata bahasa sopan itu berbalik pergi dengan
terburu-buru. Ada apa sebenarnya.(Wajah itu memang pernah kulihat dalam
'potongan adegan' sebelumnya... tapi aku tidak bisa mengingat detailnya)
Bagaikan mimpi
yang dilihat menjelang subuh, 'potongan adegan' yang dilihat dalam prekognisi
akan segera terlupakan. Meskipun ia berusaha mengingatnya secara sadar, karena
ia sehari-hari sering melihat 'potongan adegan' yang tidak penting, Oriko hanya
berusaha mengingat hal-hal yang benar-benar ingin ia ingat saja.
Dalam artian
tersebut, wajah yang muncul di dalam 'potongan adegan' yang tidak penting
mungkin adalah anak tadi. Sekalipun ia bersusah payah mengingatnya kembali,
bagaikan jarang bisa melihat kelanjutan mimpi, itu akan menjadi hal yang
sia-sia.
Oriko yang
langsung mengalihkan pikirannya mengetik angka 501 di panel operasi, lalu
menekan tombol 'panggil'.
Suara
elektronik ting-tong bergema agar bisa terdengar sampai ke sini.
"..................
Tidak ada di tempat, ya."
Ia mengira
keluarganya yang akan mengangkat, namun sejak awal menatap lampu kamar yang
padam, harapannya sudah tipis.
Bahkan,
apakah pemuda itu benar-benar memiliki keluarga, ataukah benar-benar tinggal di
sini, hal itu pun meragukan.(Haruskah aku meneleponnya)
Ia belum memberitahu bahwa dirinya
sudah tiba. Karena ia ingin
menemuinya tanpa membuat janji terlebih dahulu (tanpa appoinment).
"Maaf.
Permisi."
Saat Oriko
hendak menyentuh ponselnya, suara lain memanggilnya. Seorang wanita muda
mengenakan setelan jas memasukkan kunci ke panel operasi dengan cepat lalu
membuka kunci pintu masuk. Kali ini, ia pastinya adalah penghuni apartemen ini.
"Maaf. Aku
kehilangan kunci rumahku. Bolehkah aku masuk bersama?"
"Eh? Ah, ya."
Secara spontan, Oriko menyusup masuk
ke area lobi apartemen bersama wanita tersebut. Alasan yang asal-asalan, namun
wanita ini sepertinya tidak terlalu peduli pada orang asing yang tidak
dikenalnya.(Langsung pergi ke kamar 501. Kalau mau menyelidiki, harus tuntas——)
Meskipun tindakannya tergolong
penyusupan ilegal, Oriko bersikap sangat percaya diri saat naik ke dalam lift
bersama wanita tersebut.
Sesuai dengan 'potongan adegan' yang
ia lihat——sambil merenungkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
***
Asahi dan
Kanase berjalan berdampingan menyusuri jalan malam dengan sedikit kata-kata.
Kunci cadangan
milik siapakah yang akan diserahkan——Asahi tidak bisa menjawab pertanyaan itu
dengan serius. Ia hanya bisa mengelaknya dengan candaan asal-asalan seperti,
"Kalau perlu, kuberikan keduanya."
"......Dengan
kerabatmu itu, sebelumnya kalian hampir tidak pernah saling mengenal, kan?
Tinggal bersama, apa itu tidak apa-apa?"
"Yah,
begitu ya. Usianya tidak terpaut jauh, jadi tidak apa-apa. Alasan kenapa kami tidak saling kenal karena
keluarga kami jarang bersosialisasi dengan kerabat, sih. Terutama pihak ibu
yang hubungannya kurang baik dengan orang tuanya sendiri... sepertinya ada
berbagai hal terjadi. Tapi aku sudah tidak bisa menanyakan detailnya
lagi."
"Ah......
maafkan aku. Kebiasaan burukku kambuh lagi. Aku selalu ingin tahu tentang
Hodoki-kun. Mungkin, apa pun yang berkaitan dengan Hodoki-kun."
"Jangan
dipedulikan. Aku justru
merasa senang mendengarnya, ketimbang dibilang tidak ingin tahu."
Asahi
sebenarnya ingin memohon agar ia tidak dikorek-korek secara habis-habisan,
namun ia adalah tipe orang yang merasa cukup senang begitu tahu pihak lain
menaruh ketertarikan pada dirinya.
Tidak ada
sosok orang di sekitar. Tanpa aba-aba, Asahi menggenggam tangan Kanase yang
sedang kosong.
"......っ, b-, berani sekali, ya."
"Begitukah?
Tangannya Ketua, membuatku ingin terus menyentuhnya."
"Mana
mungkin, tanganku kan bukan bulu halus (kapas)..."
Perumpamaan
benda yang ingin terus disentuh ternyata adalah bulu kapas......
Jari-jari
lentik yang indah itu terajut dengan jarinya sendiri, memberikan kepuasan akan
hasrat penaklukan yang buas, bagaikan sedang memangsa hewan kecil yang tak
berdaya. Jari-jari wanita, secara umum memang berbeda dari pria.
Suasana
canggung menyelimuti jalanan malam. Pada saat itu, sebuah taksi mendahului
mereka berdua.
——Tak lama
kemudian, taksi tersebut berhenti di depan, dan seseorang turun dengan bunyi
banting pintu.
"Eeeeeeeeh~!
Sebentar-sebentar, kalian lagi pacaran yaaa!"
Itu adalah
seorang wanita dewasa yang tidak dikenal. Mungkin seorang pekerja kantoran,
rambut cokelat panjangnya diikat satu, dan di salah satu tangannya ia memegang
briefcase kulit sapi berwarna hitam. Namun setelan jas yang dikenakannya tampak
sangat berantakan, dan dari celah kancing kemeja yang terbuka, belahan dadanya
sedikit terlihat.
Wanita itu
mendekati mereka. Bau alkohol menusuk hidung.
"Waktu
kulihat punggung yang kukenal dari dalam taksi tadi, ternyata kamu ya, Asahi~.
Pacaran sama pacarmu malam-malam begini, mentang-mentang ulang tahun jadi sok
asik ya kamu~?"
Paha Asahi
dipukul menggunakan briefcase.
"Yah,
haha..."
"Anu,
Hodoki-kun. Beliau ini...?"
Baik Asahi
maupun Kanase sama-sama kebingungan. Kebingungan itu seharusnya berada di
tingkat yang sama——namun Asahi yang sengaja melontarkan senyum pahit tidak
banyak mengeluarkan kata-kata. Karena ia harus mengamati bagaimana situasinya
akan berkembang.
"Ah,
perkenalanku kurang ya. Salam kenal, aku sepupu sekaligus kakak perempuan
Asahi, namanya Hodoki Rio. Sekarang aku lagi mabuk berat lho."
"Nggak,
kamu memang lagi mabuk kan, Rio-nee."Siapa nih, batin Asahi berteriak
sejadi-jadinya. Asahi sama sekali tidak punya sepupu. Mungkin saja sebenarnya
ada, tapi setidaknya sejak ia bisa mengingat sesuatu, ia belum pernah bertemu
dengannya.
"Eh, ah,
kalau orang ini?"
"Iya. Bisa
dibilang kebetulan, tapi ya arah pulangnya kebetulan sama."
"Kamu
ketua OSIS yang dirumorkan itu ya? Asahi kadang-kadang cerita tentangmu lho~.
Katanya kamu pintar banget, terus katanya kamu buka kantor detektif sebagai
hobi?"
"Aku tidak
buka kantor!"
"S-, salam kenal. Maaf saya
terlambat berkenalan. Nama saya Mitoguchi Kanase. Um, saya kakak tingkat satu
tingkat di atas Hodoki-kun, dan, um, kami sedang berpacaran. Mohon bimbingannya
ke depannya!"
"Aku tahu, aku tahu! Nggak usah
kaku... kaku... gitu!"
"Mestinya
'tidak usah kaku', kan."
"Bawel
banget bocah sialan! Cantik banget begini disia-siakan sama kamu!"
Lagi-lagi
paha Asahi dipukuli dengan briefcase. Lumayan sakit.
Sambil
terkekeh geli, Rio berjalan pelan-pelan dan tersedot ke arah mesin penjual
otomatis terdekat bagaikan seekor ngengat. Sambil menyaksikan pemandangan itu
bersama Kanase, Rio membeli air mineral lalu langsung meminumnya dalam sekali
teguk.
"Seger
bangeeeeeeet~~~~. Bukan karena aku ingin minum alkohol, tapi aku minum alkohol
karena aku ingin minum air dingin setelah minum alkohol, tahu nggak. Ngerti
nggak kalian para anak muda? Nggak ngerti ya, kan kalian masih di bawah
umur!"
"......A-,
apa Anda sedang mabuk berat...?"
"Sepertinya
begitu. Aku benci orang mabuk, jadi aku tidak ingin mendekatinya."
Botol
plastik air mineral yang sudah kosong itu ia masukkan ke dalam tempat sampah
dengan gaya shoot, lalu Rio menghela napas lega.
Namun,
ekspresinya seketika berubah menjadi sedikit serius.
"Pacaran
sih silakan saja, dan bermesraan itu hal yang bagus. Tapi ya, anak SMA jalan
berdua selarut ini, itu nggak bisa dibiarkan begitu saja. Bagaimanapun juga,
meskipun aku awet muda dan cantik begini, aku ini adalah wali pelindungnya.
Kan, Mitoguchi-chan."
"Y-,
yaaa! Mohon maaf! Semuanya adalah kelalaian dan kesalahan saya..."
(Cara
mintanya maaf mirip kayak di konferensi pers penyesalan)
Kanase
langsung menundukkan kepala dalam-dalam. Sebagai senior, ia mungkin merasa
dirinyalah yang bersalah.
Namun Rio
tertawa berderai-derai sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak,
tidak, yang membuat kesalahan adalah si bodoh ini, dan yang jadi korbannya
adalah Mitoguchi-chan. Jadi kamu tidak perlu meminta maaf begitu. Tapi ya, kalian pulang sana, ya?
Percintaan anak SMA itu seharusnya dipupuk sepulang sekolah di hari biasa dan
di tengah hari bolong di hari libur."
Rio menunjuk ke
arah taksi yang dinaikinya tadi. Kanase langsung menangkap maksud dari gestur
tersebut.
"Dimengerti.
Untuk kejadian malam ini karena telah mengajak Asahi berputar-putar selarut
ini, sungguh——"
"Maku-bukan,
bukan itu maksudnya. Tanggung jawabnya tinggi banget ya. Hei, malah kamu yang minta
maaf!"
Asahi
mendapati tulang keringnya ditendang oleh Rio. Karena memakai sepatu pantofel kulit, rasanya
sakit sekali.
"Sakit!
M-, maaf, Ketua. Akulah akar kejahatan itu."
"Saya rasa
bukan akar kejahatan... Tidak, justru saya yang datang secara tiba-tiba."
"Hm. Kalau
begitu, tunggu sebentar ya."
Berlari kecil
mendekati kursi pengemudi taksi, Rio membicarakan sesuatu dengan sopir.
Begitu kembali,
ia berkata dengan santai tanpa beban.
"Aku tidak
tahu di mana rumah Mitoguchi-chan, tapi ongkos taksi ke sini akan
kuteraktir."
"Eh!?
Jangan, tidak usah, saya tidak enak! Saya akan bayar sendiri!"
"Begini
ya, menyuruh anak SMA pulang lalu membiarkan mereka naik taksi, tapi menyuruh
mereka bayar pakai uang sendiri, itu kan didiskualifikasi sebagai anggota
masyarakat dewasa? Atau apa, mempermalukan orang dewasa adalah hak istimewa
anak-anak?"
Menghadapi
ekspresi sinis ala Rio tersebut, Kanase menelan ludah. Lalu ia kembali
membungkuk hormat.
Terima kasih
banyak, Rio-san. Kebaikan ini akan saya balas nanti——"
"Ah nggak
usah, nggak usah, nggak usah terlalu kaku! Cukup balas dengan terus akur sama
si bodoh ini ke depannya! Nah, buruan naik, naik!"
Rio mendorong
Kanase masuk ke dalam taksi.
"Ketua.
Terima kasih untuk kadonya. Hati-hati di jalan."
"Ah,
terima kasih kembali. Hodoki-kun dan Rio-san juga, hati-hati di jalan pada
malam hari."
"Yah,
apartemennya kan dekat dari sini. Kalau ada apa-apa, anak ini bakal kujadikan perisai. Dah ya~"
"Jangan
jadikan aku perisai..."
Setelah
masing-masing menyampaikan salam perpisahan, taksi pun melaju pergi. Asahi
membungkuk hormat hingga taksi itu berbelok di tikungan dan tak terlihat lagi.
Rio melambaikan tangannya dengan bersemangat.
Setelah
keheningan melanda sesaat——Asahi memastikan tanpa melihat ke arah 'Rio'.
"............Kirio,
ya?"
Ditinjau dari
situasi dan alur kejadiannya, jawabannya memang seharusnya begitu, namun Asahi
sama sekali tidak memiliki rasa percaya diri.
Postur tubuh,
bentuk wajah, potongan rambut, warna rambut, bentuk fisik, nada suara——hal-hal
yang menentukan identitas 'individu' tersebut, tidak ada satu pun dari diri
Kirio dan Rio yang sama. Jauh lebih masuk akal jika berasumsi bahwa orang asing
yang tidak dikenal tiba-tiba muncul.
Dan 'Rio' yang
ditanya, seolah-olah memusnahkan kesan ramah dan ceria seperti sebelumnya
hingga tak bersisa, menyandarkan punggungnya dengan kasar ke tembok pagar
terdekat. Sikapnya buruk.
"Tentu
saja. Siapa lagi kalau bukan aku, si bodoh tolol dungu bangsat sialan
ini."
Meskipun
penampilannya berbeda, warna suaranya telah kembali menjadi milik Kirio.
"Mulutnya
pedas banget ya...... Tapi, penyamaran itu..."
"Mana
mungkin ada hal seperti ini..." ucapnya seraya menatap Asahi yang tampak
seperti manusia normal setelah sekian lama.
"Jangan
gunakan kata itu dengan nuansa makian begitu."
Kalau
dipikir-pikir, dari namanya saja sudah dinamai 'Hodoki Rio', menggunakan marga
Kirio.
Bagi nama yang
dipikirkan secara mendadak, itu terasa terlalu pas, pikir Asahi.
"Kalau aku
tidak datang, kamu pasti sudah tamat, tahu."
"Makanya
aku meminta bantuanmu."
"Cih. Yah,
ketangkasanmu akan diakui. Kalau sampai kamu keceplosan bilang 'aku tinggal
bersama paman' tadi, benar-benar tidak akan ada lagi yang bisa
menyelamatkanmu."
Asahi terus
dimonitoring——jika dibalik, itu berarti seluruh percakapannya dengan orang lain
didengarkan oleh orang-orang di pihak Zen. Kirio tentu saja ada di dalam
kelompok itu, dan Asahi menduga percakapannya dengan Kanase pun bocor
sepenuhnya kepada Kirio, sehingga ia dengan sengaja menyisipkan kata-kata yang
jenis kelaminnya tidak bisa ditebak dari pelafalannya seperti 'sepupu', 'usia
sebaya', dan 'suka keluar malam'.
Ia berharap
Kirio akan bergerak berdasarkan petunjuk itu, dan semakin sedikit
ketidaksesuaian informasi yang diberikan kepada Kanase, maka hal itu akan
semakin memperkuat kesan kebenarannya. Hasilnya, Kanase kemungkinan besar tidak
akan meragukan eksistensi Rio sebagai 'sepupu'.
Bahkan Asahi
sendiri sempat merasa bahwa 'sepupu' bernama Rio itu benar-benar nyata. Hingga
membuatnya salah paham, betapa hebatnya akting yang dibawakan oleh Kirio.
Tingkat kemampuannya seolah-olah membuat orang mengira ia memiliki banyak
kepribadian.
"Aku juga
tidak menyangka kamu akan menggunakan penyamaran semacam itu untuk datang
menolongku secara langsung. Paling-paling aku mengira kamu akan menelepon
menggunakan pengubah suara atau semacamnya."
"Hmph.
Kalau aku sengaja memberikan tombol bantuan lalu membiarkanmu memperlihatkan
kebodohan saat tombol itu ditekan, aku tidak bisa disebut sebagai seorang
profesional sejati. Jangan remehkan aku, bodoh."
"Profesional
bidang apa......? Tapi benar-benar tertolong. Kalau tadi aku mengantar Ketua
sampai ke kamar, situasinya pasti akan berakhir kacau. Terima kasih sudah
menyuruhnya pulang dengan mulus."
Tujuan Kanase
pada dasarnya adalah bertatap muka secara langsung dengan 'sang sepupu'. Begitu
tujuan itu tercapai, tidak ada alasan lagi baginya untuk memaksa pergi ke
apartemen Asahi. Itulah mengapa cara Kirio menyuruhnya masuk taksi dan
memulangkannya dengan cepat adalah tindakan yang cemerlang. Asahi memberikan
pujian yang tulus kepada Kirio.
Di sisi lain,
Kirio mengeluarkan ponselnya, memeriksanya, lalu menyeringai dengan kejam.
"—Hodoki.
Kabar buruk dan kabar buruk, mana yang ingin kamu dengar duluan?"
"......Satu,
kabar buruk pertama."
"Si wanita
esper itu sepertinya sudah tiba duluan. Dia sampai lebih cepat dari kita
berdua. Sudah terlambat."
"—Seriusan."
Asahi melirik
ponsel khusus Oriko, namun tidak ada pesan masuk khusus darinya. Padahal gadis
itu sempat berkata 'Nanti kuanterkan kadonya ke sana ya', apakah dia juga
berniat memberikan kejutan?
"Kalau
sampai ketua detektif itu ikut terseret, tamat sudah riwayatmu. Pasti bakal
berpapasan."
"Bahkan
tanpa Ketua pun... tamat."
Rencana awal
Asahi adalah segera pulang dengan cepat dari rumah keluarga Hizume lalu
menunggu pesan dari Oriko. Jika ia berada di rumah, apa pun yang terjadi saat
Oriko datang masih bisa diatasi. Namun di tengah jalan ada kunjungan kejutan
dari Kanase, membuatnya jatuh ke dalam situasi di mana ia tidak bisa melepaskan
diri tanpa bantuan Kirio.
Akibatnya,
waktu terbuang sia-sia, dan Asahi segera menyadari kesalahan fatal yang telah
ia perbuat.
"—Lampu
kamarnya tetap padam."
"Salahmu
sendiri karena melontarkan kebohongan seperti 'menghabiskan waktu bersama
keluarga'."
"Bukannya
berbohong. Orang-orang itu sudah seperti keluargaku sendiri."
"Bodo
amat. Sentimentalitasmu itu tidak ada gunanya."
Oriko sudah
menanyakan nomor kamar apartemennya. Mengingat karakternya, ia kemungkinan
besar akan memeriksa terlebih dahulu apakah lampu kamarnya menyala atau tidak.
Alasan Oriko tiba-tiba ingin mengantarkan kado juga pasti karena masih ada
sisa-sisa keraguan di dalam hatinya. Kanase dan Oriko memiliki tipe yang
mirip——oleh karena itu, mereka bergerak.
"Pertama-tama,
jika setelah tiba di sana aku malah memanggilnya, nomor kamar pun tidak perlu
ditanyakan. Begitu dia meminta nomor kamar, itu berarti Oriko-san sedang
mencurigaiku. Kalau kebohongan tentang adanya 'keluarga' itu sampai
terbongkar——"
"Dia pasti
akan menggunakan kekuatan membaca pikirannya sekuat tenaga, kan? Kalau aku jadi
dia, aku pasti akan melakukannya. Kebohongan itu adalah kebohongan yang
bermakna bagimu——kebohongan yang diucapkan untuk menghindari dirinya, dari
sudut pandang si wanita esper."
Sekarang,
berlari kembali ke apartemen dengan sekuat tenaga, menemui Oriko yang
kemungkinan besar sedang menunggu di dekat pintu masuk, lalu berbohong bahwa ia
baru saja pergi ke minimarket——bagaimana kalau ia menggunakan alasan itu. Asahi
sempat berpikir demikian, namun hal itu tidak akan bisa ditekan jika kondisi
lampu kamarnya padam dan tidak ada 'keluarga' di dalam.
Alasan yang
buruk hanya akan menjerat lehernya sendiri dan menyerahkannya secara sukarela
kepada lawan.
Terlebih lagi,
seandainya lampu kamarnya menyala sekalipun, interkom yang ditekan tidak akan
ada yang merespons. Tidak ada satu pun manusia yang akan menjawab di dalam
sana. Asahi dilanda keputusasaan.
"—Kirio."
Cara untuk
menghindari situasi ini dengan mulus seorang diri——Asahi tidak bisa
memikirkannya dalam waktu singkat.
Bagaikan orang
yang ingin mencengkeram apa saja, dengan lemah dan memprihatinkan ia menatap ke
arah sang pengawas yang berpenampilan laiknya seorang pekerja kantoran
profesional.
"Kabar
buruk kedua. Kecuali kamu menekan tombol itu dua kali lagi, hari ini aku tidak
akan menolongmu lagi."
"Apa......!
Kenapa tiba-tiba."
'Tombol Bantuan
Yang Terhormat Kirio' telah diberitahukan syarat penggunaannya oleh Kirio
sendiri sejak pertama kali diserahkan.
——Namun,
tombol itu hanya bisa ditekan total tiga kali. Tidak ada lebih dari itu——
Saat ini, Asahi
telah menekan tombol itu sebanyak dua kali. Kesempatan yang tersisa tinggal
satu kali——namun menyadari hal itu, Kirio justru meminta penekanan dua kali
lipat pada momentum ini.
"Kalau
kamu cuma mengeluh terus, waktu akan terbuang sia-sia. Pilihan yang diberikan
padamu cuma ada dua. Menekan tombol itu dua kali, atau tidak menekannya dan
berduel sendirian melawan si wanita esper."
Kerugian apa
yang akan didapat jika menekan tombol itu lebih dari tiga kali, belum pernah
dijelaskan sebelumnya.
Mengingat itu
adalah ulah Kirio, ia pasti menyiapkan hal yang tidak beres, namun Asahi saat
ini tidak punya kapasitas untuk memperhitungkannya. Hanya satu dugaan penuh
harapan yang tersisa di benaknya.(Kirio tidak boleh merusak《Permainan Kehidupan Orang Lain》. Sekalipun menekan tombol itu membawa
ketidaknyamanan bagiku——hal itu seharusnya tidak memberikan dampak apa pun
terhadap jalannya permainan.)
Jika itu hanya
rasa sakit fisik atau rasa malu mental, ia akan menerimanya dengan senang hati.
Hal yang paling penting bagi Asahi adalah melanjutkan permainan ini hingga
tuntas. Artinya, ia tidak punya waktu lagi untuk ragu-ragu.
Asahi
mengeluarkan 'Tombol Bantuan Yang Terhormat Kirio' dari sakunya, lalu
menekannya dua kali berturut-turut di hadapan sang pemilik asli.
"Aku bisa
melihat dengan jelas apa yang sedang kamu pikirkan sekarang——tapi, aku sengaja
tidak akan membahasnya. Itulah pilihanmu. Bisa dipastikan tidak ada penyesalan,
kan? Kalau mau membatalkannya, sekarang adalah kesempatan terakhir!"
"Tidak
membatalkannya. Kumohon, bantu aku."
"Dimengerti.
Waktunya sudah tidak banyak, aku hanya akan menjelaskannya sekali, jadi
dengarkan baik-baik——"
***
Perempuan yang
ikut naik lift turun lebih dulu di lantai empat.
Oriko
mengantarnya pergi dengan ekor matanya, lalu segera menekan tombol ‘Tutup’.
Tujuannya adalah lantai lima.
Delapan atau
sembilan dari sepuluh, Asahi tidak akan berada di kamar 501. Sebagai
berjaga-jaga, ia juga berniat membunyikan bel pintu di depan pintu masuk, tapi
ia tidak terlalu berharap. Setelah memastikan ketidakhadirannya secara mutlak—
(...Mari kita
tunggu di depan pintu. Dengan begitu, dia pasti akan terkejut. Baik untuk alasan yang bagus
maupun buruk.)
—Setelahnya,
ia berniat menunggu di sana, mengintai sang pemilik kamar yang cepat atau
lambat akan pulang.
Sambil
bertaruh dalam hati, apakah ia akan pulang sendirian, atau pulang berdua.
Oriko tiba di
depan kamar 501. Ada bel pintu juga di pintu ini.
(Hanya ada
nomor kamar tanpa pelat nama. Yah, zaman sekarang lebih sedikit rumah yang
memasang pelat nama, sih.)
Setelah
memastikan itu, Oriko tanpa ragu menekan tombolnya. Suara elektronik bernada tanpa ampun,
ding-dong, bergema, berputar sejenak, lalu memudar. Tidak ada respons apa pun.
Selanjutnya,
Oriko mencoba membuka pintu begitu saja. Ada sensasi hambatan yang langsung
terasa, bangk. Tentu saja terkunci karena memang seharusnya begitu. Jika
pintunya tidak dikunci, ia pasti sudah menerobos masuk tanpa tanya, tapi
bagaimanapun juga, hasilnya tidak akan jauh berbeda.
(............Hah.
Aku tidak ingin mendengar alasan apa pun, dan aku juga tidak begitu suka
menginterogasi orang. Kalau aku menggunakan kemampuan ku dengan serius, mungkin urusannya bisa
selesai lebih cepat, ya?)
Ia mengeluarkan
lipstik untuk iseng dan berniat memainkannya. Melatih ujung jarinya berguna
saat melakukan trik sulap. Memutar-mutar lipstik dengan jarinya seperti memutar
pena sudah menjadi kebiasaan Oriko.
────Ketik.
Cklek.
"Eh."
Suara kunci
yang terbuka. Dan seketika itu juga, pintu perlahan terbuka. Oriko menjatuhkan
lipstiknya dan melangkah mundur.
"Maaf-maaf,
aku mau mandi jadi pintunya aku kunci! Lagipula Kurokichi ya, beli kondom di
minimarket lama banget—... eh?"
Sosok yang
muncul dari celah pintu adalah seorang wanita muda yang basah kuyup.
Air menetes
dari rambutnya yang hitam pekat, ia melilitkan handuk mandi di tubuhnya,
menekannya dengan satu tangan seolah memeluk dirinya sendiri. Belahan dadanya
yang ranum terlihat jelas, namun ekspresinya yang tadinya santai seketika
berubah menjadi sangat terkejut dan kaget.
"Ah...
kyaaa—"
"Maaf. Aku
salah kamar."
"—...chhh...!"
Dengan ekspresi
seperti topeng tanpa emosi, Oriko menutup pintu yang terbuka itu dengan sekuat
tenaga. Jeritan tertahan dan terpotong, namun tetap terdengar dari balik pintu
dari sang wanita muda.
"............"
Ia memungut
lipstik yang terjatuh dan mengambil jarak dari kamar 501. Menarik napas
dalam-dalam. Ia memeriksa urutan nomor kamar di lantai ini—sebelahnya adalah
kamar 502, urutannya tidak salah. Kalau begitu.
Oriko
menyelesaikan rangkaian gerakannya dengan mulus, mengeluarkan ponselnya, lalu
melakukan panggilan.
Tentu saja,
orang di seberang sana adalah Hodogi Asahi. Setelah beberapa kali dering,
panggilan itu dijawab.
‘Ya, halo?’
"Asahi-kun.
Kamu sekarang di rumah?"
‘Iya, betul.’
"Hanya
memastikan, nomor kamar rumahmu itu kamar 501, kan?"
‘Hah...? Eh?
Kamar 401, kok.’
"Hah?"
Oriko
mendengus marah dengan sekuat tenaga. Hii, sebuah jeritan terdengar dari
seberang telepon.
‘Eh? Ah,
jangan-jangan kamu sudah sampai? Kalau begitu aku turun ke bawah sekarang, ya.’
"Nanti,
periksa riwayat pesanmu. Karena kamu menulis kamar 501."
‘Ah, yang
benar? Maaf. Tapi, kenapa kamu marah banget...?’
Sebuah
pertanyaan yang wajar. Oriko memang hanya menyampaikan, 'Hubungi aku kalau
sudah sampai, nanti keluar,' dan sama sekali tidak memberi tahu Asahi bahwa ia
akan membunyikan bel pintu atau langsung menerobos masuk.
Tentu saja ia
tidak bisa mengatakan kepada Asahi karena harga diri sebagai orang yang lebih
tua: aku marah karena aku menerobos masuk area masuk otomatis dengan cara yang
agak memaksa, lalu salah kamar dan mempermalukan diriku sendiri.
Terlebih lagi,
alasan di balik semua itu adalah karena ia mencurigainya.
Oriko menjadi
cukup tenang hingga ia bisa merasakan hawa dingin meskipun ini bulan Juni.
‘Jangan-jangan,
kamu salah membunyikan bel—’
"Aku tidak
membunyikannya."
‘Ah, begitu
ya.’
"Aku akan
memasukkan hadiah ke dalam kotak surat kamar 401. Nanti kalau sudah diambil,
kirimkan gambarnya kepadaku. Kalau begitu aku pulang dulu, ya. Aku sibuk."
‘Ya, yaa. Tidak
perlu langsung menerimanya? Kalau begitu, mau naik ke apartemenku—’
"Bawel."
‘Segitu
bawelnya ya...?’
"Sampai
jumpa. Selamat ulang tahun. Sampaikan salamku untuk keluargamu juga. Selamat
malam."
‘Ah, ya.
Selamat malam.’
Setelah
menyampaikan semua hal yang ingin dikatakan, Oriko memutus sambungan telepon.
Kemudian dengan
langkah mengentak ia naik ke lift, keluar dari pintu keluar, dan dengan
sembarangan memasukkan hadiah ke dalam kotak surat kamar 401.
Ia pergi keluar
dari apartemen dengan memasang wajah tanpa dosa—dan terakhir kali, ia melirik
ke arah beranda.
Kamar 501
memancarkan cahaya remang-remang. Ia sudah tidak peduli lagi.
Di bawahnya,
kamar 401 memancarkan cahaya yang sangat terang.
Melihat itu,
Oriko pun menghela napas.
(...Aku
telah mempermalukan diriku sendiri. Rasanya hampir membuatku trauma. Tidak, ini
karena aku setengah-setengah mencurigai orang lain, makanya aku mendapat
balasan setimpal. Kalau dari awal aku menghubunginya, hal seperti ini tidak
akan terjadi.)
Sambil
mengulang instrospeksi diri, Oriko pergi. Ia memutuskan bahwa lain kali, ia akan
mentraktir Asahi sesuatu yang enak. Itu jauh lebih bermakna daripada
menghabiskan uang secara percuma di mesin slot.
—Apakah sejak
awal, kamar 401 sudah menyala lampunya?
Oriko sama
sekali tidak mengingatnya, dan juga sama sekali tidak peduli.
***
"────Untunglah...
selamat..."
Di dalam kamar,
Asahi yang baru saja mengakhiri percakapan telepon dengan Oriko, langsung lemas
dan berlutut.
Rasa lelah
seketika menyerang seluruh tubuhnya. Jika tempat ini—kamar 401—adalah rumahnya
sendiri, ia pasti sudah langsung melompat ke atas tempat tidur tanpa pikir
panjang, tapi ia tidak melakukan hal semacam itu.
Kamar 401,
kamar Kage Kirio, benar-benar tampak suram dan kosong.
Kamar Asahi
juga hampir tidak memiliki barang yang tidak berguna, tapi kamar Kirio bahkan
jauh lebih sedikit isinya.
(Karena dia
tinggal di lantai bawah untuk mengawasiku... aku jadi tertolong.)
Alasan
mengapa Kirio sesekali datang untuk membuatkan sarapan atau makan malam,
mengapa ia langsung datang jika terjadi sesuatu, dan mengapa ia selalu berakhir
berada di kamar Asahi sebelum orang menyadarinya—semuanya karena Kage Kirio
tinggal di lantai bawah untuk tujuan pengawasan, dan juga memegang kunci
cadangan kamar 501. Kali ini, ia memanfaatkan hal itu untuk bagaimana caranya mengelabui Oriko.
Masih perlu
memberikan sedikit waktu lagi. Asahi mengingat kembali percakapannya dengan
Kirio.
"Rencananya
ada dua. Lagipula perempuan Esper itu tidak akan bisa masuk ke dalam gedung
apartemen. Dia pasti menunggu di pintu keluar-masuk, jadi aku akan pergi ke
sana dan membuka pintu masuk. Lalu, bagaimana reaksi si esper itu?"
"Kira-kira...
kurasa dia akan ikut masuk. Berpura-pura bilang kalau dia kehilangan kunci,
atau semacamnya."
"Aku juga
berpikir begitu. Kalau begitu, Rencana A dilanjutkan. Rencana B adalah jika
perempuan esper itu tidak ikut masuk. Kalau begitu, aku akan menjatuhkan tali
dari beranda, jadi panjatlah ke atas lantai lima dengan sisa tenaga hidupmu
tanpa ketahuan sambil berpegangan pada tali itu. Rencana B selesai."
"Bukankah
itu tidak masuk akal..."
Keterlaluan
sekali mengandalkan kekuatan fisik seperti itu. Tapi, jika pintu keluar-masuk
hanya ada satu dan Oriko berjaga di depannya, cara itulah satu-satunya untuk
bisa kembali ke kamar tanpa berpapasan dengannya. Meskipun itu adalah rencana
yang hampir mustahil.
"Makanya,
berdoalah agar kita tidak perlu menjalankan Rencana B. Kelanjutan dari Rencana
A adalah, aku akan kembali ke kamarku di lantai empat lebih dulu dari perempuan
esper itu, lalu keluar ke beranda dan naik ke berandamu."
"Bagaimana
caranya?"
"Tentu
saja dengan tenaga sendiri, si bodoh. Yah, karena itu aku yang melakukannya
jadi jangan khawatir soal ini."
(Mirip
ninja, ya.)
Kirio tentu
saja bukan hanya pintar dalam belajar, tapi juga mahir dalam olahraga. Dari
beranda kamarnya di lantai empat, ia berniat mencari cara untuk memanjat sampai
ke beranda kamar Asahi yang berada tepat di lantai atasnya.
"Kunci
jendela berandanya?"
"Belum...
kurasa."
"Begitu
ya. Yah, kalau sudah dikunci, tinggal pecahkan saja kaca pintunya. Pokoknya ini
adalah pertarungan melawan waktu—sebelum perempuan esper itu membunyikan bel
kamar 501, aku akan berubah wujud dan menyamar seolah-olah aku sama sekali
tidak ada hubungan denganmu. Dan kau beralasan bahwa meskipun kau tinggal di
kamar 401, kau salah mengirimkan nomor kamar kepada perempuan itu—kita buat
'alibi' seperti itu."
"...Begitu
ya. Tentu saja, kalau kesalahan itu, masih bisa dibuatkan alasan."
"Yeah.
Kalau pada dasarnya kamar yang dikunjungi saja sudah salah, maka tidak peduli
apakah lampu kamarmu mati atau kau sedang membunyikan bel, itu tidak masalah.
Toh kamarnya berbeda. Kita akan menimpakan semua kebodohanmu yang selama ini
terjadi ke kepala perempuan esper itu."
Tujuan Kirio
adalah membuat Oriko salah mengenali fakta. Mana mungkin Oriko mengira bahwa
Asahi memiliki kaki tangan, dan ia pasti mengira bahwa Asahi tidak memiliki
kekuatan untuk memanipulasi kamar tempat tinggalnya secara mendadak.
"Bagaimana
kalau Oriko-san tidak menekan bel kamar 501?"
"Justru
itu yang lebih beruntung, kan. Bagaimanapun juga, pesan pasti akan masuk ke ponselmu. Makanya kau,
segeralah pergi ke kamarku setelah aku dan perempuan itu masuk ke apartemen.
Kalau kau bersikap seolah-olah kamar 401 adalah rumahmu sendiri, itu bisa
diselesaikan sebagai kesalahan ketik pesanmu. Lagipula
perempuan esper itu datang untuk mencecarmu secara mendadak. Sungguh
merepotkan."
Pokoknya, Asahi hanya perlu
menanamkan fakta di benak Oriko bahwa ia tinggal di kamar 401.
Selama ia bisa
masuk ke kamar Kirio, sisanya tinggal bagaimana ia berinteraksi dengan Oriko.
"Kupikir
kau sudah paham, tapi jangan sampai membuat alur di mana kau mempersilakan
perempuan itu masuk ke dalam kamar, ya. Karena 'keluarga' itu, bagaimanapun
juga tidak mungkin bisa aku sediakan."
"Mengerti...
Terima kasih, Kirio."
"Ucapkan
terima kasih setelah semuanya berjalan lancar, si bodoh."
"Benar
juga, ya. Nanti aku akan mengatakannya lagi kalau sudah berhasil."
"Hah.
Kata-kata saja tidak ada artinya sama sekali. Terserah, pokoknya—kita
mulai."
Dengan
begitulah, keduanya memutuskan untuk mempermainkan Oriko dalam pertunjukan
dadakan ini.
Hasilnya, bisa
dibilang hampir semua berjalan sesuai dengan rencana. Kirio berhasil tepat
waktu saat Oriko hendak menekan bel kamar 501, dan Asahi—setelah membaca
pikiran Oriko—berpura-pura tidak tahu dan bersikap seolah-olah Oriko yang salah
membuat kesalahan sendiri.
Mungkin juga
karena Oriko adalah seseorang yang lebih tua dan tipe orang yang tidak suka
memamerkan kesalahannya kepada orang lain, sehingga hal itu turut membantu.
Asahi tadinya mengira mereka akan sedikit bertemu muka, tapi Oriko langsung
pulang begitu saja.
(...Sebentar
lagi aku harus mengambil hadiah dari Oriko dan kembali ke kamar.)
Ia harus
memikirkan bagaimana cara bergerak ke depannya. Ia telah berbohong terlalu
banyak kepada Kansei dan Oriko.
Kebohongan
adalah rantai tak kasat mata yang mengikat pergelangan kakinya sendiri.
Ia harus
berhati-hati sebaik mungkin agar rantai itu tidak mengeluarkan suara logam yang
tidak perlu.
Meskipun
begitu... hari ini benar-benar melelahkan. Langkah kakinya terasa berat saat
Asahi melangkah keluar dari kamar Kirio yang hampa.
***
"Wah.
Basah..."
Begitu
kembali ke kamarnya, ia langsung menyadari bahwa mulai dari pintu masuk hingga
ke kamar mandi basah kuyup.
Kirio pasti
yang melakukannya, tapi apa yang sebenarnya terjadi sampai bisa basah begini?
Terlebih
lagi, lampu kamar sangat redup, sekilas mirip seperti suasana menjelang tidur.
"Bersihkan
sendiri. Sekarang aku bukan maid-mu."
"Kirio────wah!"
Bersamaan
dengan munculnya Kirio dari arah kamar mandi, Asahi mengeluarkan suara kaget.
Kirio
hampir telanjang bulat. Hanya handuk yang ia pegang di tangannya yang
samar-samar menutupi bagian pribadinya yang paling krusial, tapi dengan sedikit
gerakan tubuh saja bagian itu pasti akan terlihat.
Tanpa sadar
Asahi mengalihkan pandangannya. Untung saja kamar ini redup, batinnya.
"Aku
meminjam kamar mandimu untuk mandi. Aku juga mau menghapus riasan wajah."
"Bukannya,
bukan itu maksudku..."
"Hah?
Menjijikkan sekali───ah, maksudmu ini."
Suara kik-kik,
seperti suara suara selotip perekat yang dilepas secara paksa, terdengar.
Menyusul
kemudian suara pletak, suara benda basah yang dilempar ke lantai.
Meskipun tidak
terlihat jelas dan ia juga tidak ingin melihatnya, Kirio sepertinya telah
melepas sesuatu dari tubuhnya.
"Ba,
barang apa yang kau buang...?"
"Payudara
palsu."
"Palsu...
eh apa itu!?"
Tanpa sengaja
ia melihat benda yang dibuang itu.
Sebuah kosakata
yang terlalu memikat sekaligus membingungkan. Sebuah reaksi yang sangat wajar
bagi seorang anak laki-laki masa pubertas.
"Ma, mana
mungkin ada benda seperti itu di dunia ini...!"
"Ada, tapi
itu bukan urusanmu, kan? Ngomong-ngomong, apa-apaan reaksi itu. Aku mau ganti
baju jadi sana hadap sana."
"Ugu...
maaf. Aku tidak
melihat dan tidak kelihatan kok."
Itu bukan
kebohongan. Ia memang tidak melihat wajah maupun tubuh Kirio, tapi dari suara
tawa mengejek "Haah" miliknya, Asahi bisa dengan mudah membayangkan
ekspresi seperti apa yang sedang Kirio tunjukkan saat ini.
"Kalau
mau 'berperan sebagai perempuan', punya payudara itu lebih baik. Tubuhku kan
bentuknya begituan. Sebaliknya, kalau 'berperan sebagai laki-laki', aku tidak
terlalu kesulitan. Yah, menambahkan sesuatu yang tidak ada adalah dasar dari
teknik Henge (transformasi)."
"Hal
itu... tadi sempat membuatku penasaran sedikit. Bukannya itu cuma
menyamar?"
"Hah?
Kalau itu namanya cuma meniru penampilannya saja, kan. Kalau mau 'berubah'
sepenuhnya menjadi orang lain yang bukan diri sendiri, istilah yang tepat
bukanlah menyamar, tapi Henge (transformasi). Jangan meremehkanku, si
bodoh."
"Aku tidak
meremehkanmu."
Kalau
dipikir-pikir kembali, 'Rio' sama sekali tidak terlihat seperti Kirio yang
berdandan, melainkan benar-benar orang yang berbeda.
Rambutnya yang
berbeda adalah karena wig, tinggi badannya yang berbeda rupanya karena sepatu
bersol tebal.
Bentuk wajahnya
diubah dengan riasan, warna suaranya diatur sesuka hati bak pengisi suara
profesional, dan puncaknya bentuk tubuhnya disesuaikan secara paksa dengan
benda bernama payudara palsu itu.
Itu memang
pantas disebut sebagai Henge (transformasi), bukan sekadar penyamaran.
"Si 'Rio'
itu sempat terlihat oleh perempuan esper itu, kan. Aku masuk ke kamar ini dari
beranda, lalu melepas wig, pakaian, dan sepatuku, menjadi telanjang bulat, dan
langsung menyiram kepalaku dengan air. Kenapa pintu masuknya basah... karena
aku merespons perempuan esper itu dalam keadaan basah kuyup."
"Bukannya...
kenapa harus basah kuyup...?"
"Untuk
menciptakan kesan 'perempuan sebelum tidur bersama pacarnya'. Kalau aku
menyambutnya dalam keadaan telanjang bulat tanpa alasan, perempuan esper itu
mungkin akan curiga. Alasan kamarnya remang-remang juga karena itu──yah,
sebenarnya itu karena aku sekadar tidak mau wajahku dilihat dengan jelas dalam
keadaan terang."
Bagaimanapun
juga, dengan dampak kesan pertama itu, Kirio berhasil membuat Oriko langsung
kabur.
Seandainya saat
itu ia mengenakan pakaian tidur atau pakaian rumahan biasa, Oriko pasti akan
melontarkan beberapa patah kata percakapan sebelum akhirnya menyadari bahwa ia
salah kamar. Lawannya adalah seorang esper, jadi ia tidak boleh melakukan
percakapan yang tidak perlu—pilihan untuk membuatnya langsung sadar dalam
sekejap bahwa 'ini salah' adalah dengan mengambil peran sebagai 'perempuan
sebelum merayakan hubungan dengan pacar'.
"...Bukankah
cara itu juga berisiko membuat Kirio disangka sebagai selingkuhanku...?"
"Mungkin
saja. Sengaja aku sebutkan nama laki-laki yang bukan dirimu, jadi kemungkinan
itu kecil. Kalaupun dia salah paham, tinggal meneleponmu saja karena kau sedang
berada di kamar 401, jadi tidak masalah."
Hebat sekali,
dalam waktu singkat ia bisa memikirkan berbagai hal seperti itu. Bagaimanapun
juga, bagi Asahi yang hanya orang biasa, ia tidak memiliki ketangkasan atau
kemampuan khusus semacam itu. Sejujurnya, ia merasa iri pada Kirio.
"Entahlah,
rasanya daripada aku, lebih baik Kirio saja yang memainkan permainan Taisei
Sugi Yugi..."
Ia tidak
akan bisa bertahan jika tidak merendahkan dirinya sendiri seperti itu.
Asahi
merosot lemas bersandar pada dinding.
Kamarnya
masih terasa redup—ia ingin Kirio segera mengenakan pakaiannya, lalu menyalakan
lampu.
"Kenapa
pula aku yang harus melakukannya. Ini adalah pertunjukan antara kau dan kakek
tua itu, kan."
"Memang
benar sih──tapi aku tidak menyangka, dalam waktu dua bulan saja situasinya bisa
menjadi separah ini. Sebelum berpacaran dan setelah berpacaran lalu putus,
situasinya benar-benar jauh berbeda. Bagaimana caranya aku bisa lepas dari lima
pacar sekaligus tanpa ketahuan sisa tiga orang lainnya... aku sama sekali tidak
merasa mampu melakukannya."
"Menurutmu,
apakah aku adalah jenis orang yang akan menghibur orang lain kalau mereka
sedang mengeluh?"
Ia hanya
mendengarkan suara Kirio saja. Dari cara bicaranya ia bisa tahu. Pasti saat ini
Kirio sedang memasang ekspresi yang sangat dingin. Kirio sangat benci pada
keluhan atau ucapan putus asa yang dilontarkan Asahi.
"...Kurasa
tidak. Jadi anggap saja ini monolog."
"............"
Bahkan suara
hela napas pun tidak terdengar. Mungkin ia sudah terlampau muak.
Ia mengerti. Ia
tidak bisa mundur dari pertunjukan ini. Selama nyawa adik perempuannya berada
di tangan orang lain, Asahi tidak bisa melarikan diri. Meskipun mustahil atau
tidak masuk akal, ia harus tetap melewatinya dan berjuang setengah mati.
Meskipun
begitu... Hodogi Asahi tetaplah orang biasa.
Ia sama sekali
tidak memiliki bakat atau kemampuan khusus──yang disebut sebagai Bakat Luar
Biasa.
Sesuatu yang
istimewa, seperti yang dimiliki oleh para pacarnya.
"Hodogi
Asahi. Ada satu hal yang ingin kukatakan padamu."
"Terserah
kau saja. Kalau itu makian, aku sudah kenyang mendengarnya..."
Begitu ia
menyadari dirinya sedang melemah, kelelahan merayap ke seluruh tubuhnya dengan
skala yang tak terbayangkan.
Biarkan saja
seperti ini, ia ingin langsung jatuh panggung ke atas tempat tidur dan tidur.
Hal-hal mulai
esok hari, dipikirkan saja esok hari. Ia ingin menurunkan tirai kehidupan ini
walau hanya sejenak.
"──Aku
kecewa padamu."
Asahi bahkan
tidak bisa menemukan bantahan atas satu patah kata makian yang dilontarkan
Kirio itu. Diberi rasa kecewa oleh orang lain memang cukup menusuk hati, tapi
kalau itu adalah sebuah fakta, menelannya mentah-mentah adalah satu-satunya
tindakan yang paling tidak sia-sia.
Bagian mana yang membuatnya kecewa.
Ia sebenarnya tidak begitu tertarik, tapi Asahi menjawab, "Lalu?"
"Sebagai
orang biasa, kukira kau masih memiliki sedikit potensi... tapi ternyata kau
memang cuma orang biasa. Sepertinya aku terlalu menaruh harapan pada anak
kemarin sore yang baru berusia 17 tahun."
"Justru
aku yang heran. Memangnya apa yang bisa kau harapkan dariku?"
"Setidaknya
aku mengira 'tombol' itu bisa bertahan selama setengah tahun."
"Kalau aku
bisa memilih, aku juga tidak mau menggunakannya. Memikirkan bagaimana aku harus
melewati sisa waktu ini tanpa bantuan Kirio saja... membuat perutku
mulas."
Ngomong-ngomong,
ia sudah menekan tombol yang dimaksud sebanyak empat kali totalnya, tapi jenis
penalti seperti apa yang akan diberikan akibat hal itu? Kalau boleh berharap,
semoga makian dingin dari Kirio ini masuk dalam kategori penalti, itu akan
sangat melegakan dan membantunya. Asahi memikirkan hal semacam itu di sudut
kepalanya.
"...Air
mengalir ke tempat yang lebih rendah. ...Begitu kuberi secercah bantuan bernama
diriku, hasilnya ya seperti ini."
"Tentu
saja, kan. Kalau aku bisa melakukan segala sesuatunya dengan kekuatanku
sendiri, dari awal aku tidak akan ikut permainan gila semacam ini. Aku ingin
menopang Koyori dengan kekuatanku sendiri. Tanpa menyakiti siapa pun, dengan
perjuanganku sendiri, aku ingin bisa hidup seperti itu. Tapi, itu──"
Tiba-tiba, ada
satu benang di dalam diri Asahi yang putus.
Niat
menyalahkan diri sendiri yang selama ini merembes perlahan, namun masih ditahan
dengan susah payah di ambang batas, meledak keluar dari otak dan jantungnya,
merayap naik ke kerongkongannya, mendobrak tenggorokannya, dan berubah menjadi
suara.
"──Itu
mustahil! Aku tidak punya kekuatan apa pun!! Sebagai anak SMA, aku hanyalah
anak kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa di masyarakat!! Aku sendiri tidak
sanggup menopang nyawa Koyori!! Makanya... makanya, meskipun aku harus menjadi
pesuruh seseorang, meskipun aku harus melakukan hal-hal kejam, meskipun aku
harus ditertawakan oleh semua orang, aku harus bertahan dan melakukannya!! Apa
yang Kirio ketahui tentang diriku!? Karena aku tidak punya kemampuan maupun
bakat apa pun!! Apa salahnya meminta tolong pada seseorang dan mengeluh!? Aku
juga tidak mau melakukan hal seperti ini!! Kenapa... kenapa!! Kenapa aku tidak
ikut mati bersama Ayah dan Ibu saja!! Tidak ada gunanya juga aku hidup
sendirian!! Kenapa cuma aku saja!!"
"Mana
kutahu. Kalau kau ingin mati seputus asa itu, lompat saja sana dari jendela
lalu mati, si bodoh."
"...!"
Ia begitu marah
hingga napasnya berhenti. Asahi mengepalkan tangannya dan berbalik menghadap ke arah Kirio.
Sudahlah.
Ia ingin memukul seseorang. Ia ingin dipukul seseorang. Ia ingin hancur lebur
oleh darah dan air mata hingga kehilangan bentuk aslinya. Sasaran amarah itu akhirnya tertuju pada
satu-satunya manusia terdekat, Kirio.
Namun──Asahi
hanya bisa melepaskan napas yang tadi ia tahan secara perlahan.
"Ka,
kau... kenapa... bajunya, dipakai..."
Kirio masih
belum mengenakan sehelai benang pun, menatapnya tanpa ekspresi dari dekat.
Di kamar yang
redup, cahaya bulan yang tumpah dari celah tirai menyinari tubuhnya dalam
bentuk garis-garis tipis.
Bagaimana cara
ia harus mengekspresikannya, Asahi tidak tahu.
Belum pernah
sekalipun ia melihat tubuh telanjang selain keluarganya secara langsung begitu
dekat.
Entah itu
terhadap lawan jenis, sesama jenis, ataupun milik Kage Kirio.
Dan tepat saat
ia berkedip, Asahi baru menyadari beberapa detik kemudian bahwa pandangannya
telah berputar terbalik.
Bruk,
punggungnya terbanting ke atas tempat tidur. Anehnya tidak terasa sakit.
Ia
didorong—oleh Kirio.
Mungkinkah
Kirio bisa menggunakan seni beladiri tertentu, gerakannya sama sekali tidak
terlihat.
Pintar,
mahir berolahraga, dan bahkan kuat dalam berkelahi.
Orang yang
serba bisa, ya, pikir Asahi dengan pemikiran yang kelewat tenang sambil
memperbarui penilaiannya terhadap Kirio.
Dan
menyusul kemudian, Kirio dalam keadaan telanjang menindihnya di atas (mount
position).
Orang yang
pertama kali menunjukkan sikap berkelahi tadi adalah Asahi. Ia pasti akan
dihajar babak belur setelah ini.
"Permainan
selesai, Hodogi."
Tinju
diangkat tinggi-tinggi. Di dalam tatapan matanya yang dingin dan meremehkan
itu, sama sekali tidak dirasakan adanya rasa iba terhadap dirinya.
Namun,
kalau dipikir-pikir kembali──mungkin di lubuk hatinya yang paling dalam, Asahi
memang mengharapkan untuk dipukul oleh seseorang seperti ini. Asahi, yang
dengan sengaja menyakiti hati para perempuan yang menjadi kekasihnya, sudah
sepantasnya jika fisiknya dihancurkan secara sengaja pula. Dosa selalu menyatu
erat dengan hukuman.
Jika hanya
dosa saja yang melekat pada dirinya, itu adalah sesuatu yang tidak bisa
dimaafkan.
Kirio
menjatuhkan hukuman pada fisiknya.
Hal itu adalah
sesuatu yang tidak mungkin terjadi dalam hubungan pertemanan ataupun
percintaan.
Justru karena
hubungan mereka adalah hubungan yang menyimpang antara pengawas dan mainan,
tidak ada satu pun dari hal itu yang menyimpang dari jalurnya.
"............"
Asahi
memejamkan matanya rapat-rapat. Di bagian mana pun ia dipukul atau dihancurkan,
ia tidak peduli.
Meskipun itu
akan menjadi hal yang sangat menyakitkan dan sulit untuk ditanggung, tidak
masalah.
Karena Hodogi
Asahi adalah orang yang paling ia benci di dunia ini, yaitu dirinya sendiri
yang hidup di masa sekarang.
Bruk,
sebuah suara kering bergema di seluruh ruangan. Tidak ada rasa sakit.
Sesuatu
diayunkan tepat di samping kepalanya. Pasti itu adalah kepalan tangan Kirio.
Hal semacam
itu, ia merasa sudah tidak penting lagi. Tidak ada rasa sakit sama sekali.
Sebagai
gantinya──sesuatu yang terasa lembut dan menyimpan kehangatan, menyentuh
bibirnya.
"......,
.........!?"
Seluruh tubuh
Asahi menegang. Pikirannya melayang terbang. Ia tidak bisa berpikir apa-apa
lagi.
Manusia, selalu
hidup dengan membuat berbagai prediksi atau bayangan di dalam kepalanya.
Oleh karena
itu, jika terjadi sesuatu yang terlalu jauh melenceng dari bayangan itu,
sepertinya fungsi fisiologis tubuh pun akan ikut terhenti.
──Prediksi
bahwa Kage Kirio akan mencium dirinya, adalah hal yang sama sekali tidak
mungkin bisa ia bayangkan.
"...Eh,
ha... ah,,,,?"
Bibir mereka
terlepas, mengeluarkan suara yang bahkan tidak bisa disebut sebagai suara.
Tidak ada ekspresi yang layak disebut ekspresi pada diri Kirio yang menatapnya
dari atas.
Tidak ada rasa
penuh gairah, tidak ada rasa kasih sayang, tidak ada sesuatu pun yang datang
dari perasaan suka terhadap dirinya.
Hanya sentuhan
saja yang tertinggal. Kelembutan dari bibir Kirio—yang biasanya selalu memaki,
mencaci, menghina, dan begitu lancar mengeluarkan kata-kata kebencian terhadap
Asahi—hanya kelembutan itu saja... yang terasa bagaikan sengatan mati rasa.
"Sudah
cukup."
"...Eh...?"
"Jadilah
budak milikku, Hodogi Asahi."
Asahi sama
sekali tidak mengerti apa arti dari perkataan Kirio.
"Dengan
begitu, aku akan menjadi bayangan milikmu."
Keinginan
untuk memiliki seseorang, ataupun keinginan untuk dimiliki oleh seseorang—tidak
pernah ada sekalipun dalam riwayat hidup Hodogi Asahi. Hampir semua orang di dunia ini pasti
merasakan hal yang sama.
"Arti,
dari..."
Meskipun
ukurannya yang kecil, langsing, dan posisinya yang sedang menindih tanpa
mengenakan sehelai benang pun, sebenarnya sangat mudah bagi Asahi untuk
mendorong Kirio menjauh sekuat tenaga. Namun, tubuhnya yang kaku seakan tidak
mau mendengarkan perintahnya.
Setidaknya, ia
mencoba untuk meminta penjelasan—namun bibir Asahi kembali dibungkam oleh bibir
Kirio yang sama.
Kali ini
bukan sekadar bibir yang saling bersentuhan.
Sesuatu
yang menggeliat memaksa membuka mulutnya, melumat dan menguasai bagian dalam
mulutnya seolah sedang mengamuk.
Jika
digambarkan secara objektif, rasanya seperti ada sebuah permen kenyal yang
hangat dan basah, bergerak sendiri dan memantul ke sana ke mari di dalam
mulutnya, membawa serta kenikmatan yang selaras.
"Hah...
hah... hah..."
Ia mulai merasa
sesak. Ia bahkan lupa cara bernapas melalui hidungnya.
Mungkin
menyadari hal itu, wajah kecil Kirio perlahan menjauh. Seolah menegaskan bahwa
fakta yang baru saja terjadi tidak akan bisa dihapuskan, sehelai benang perak
melintang basah di antara bibir keduanya, berkilau sejenak sebelum jatuh dan
menetes di atas pakaian.
Kirio
membaringkan tubuhnya di atas dada Asahi, bersandar manja. Hawa panas dari
tubuh manusia tanpa busana itu hampir membuat akal sehatnya runtuh. Padahal
baunya sama persis dengan sabun mandi yang biasa ia pakai.
"Hanya
aku... yang bisa mengerti dirimu. Kalau kau tidak sanggup menanggung dosamu,
aku akan memikul setengahnya. Bukan hanya kau, dan bukan hanya aku. Kita
berdua..."
"Hah...
... ..."
"Berdua...
kita bertarung. Melawan segala ketidakmasukakalan di dunia ini."
Di dunia ini,
satu-satunya orang di mana Asahi bisa meluapkan segala beban yang ditanggungnya
hanyalah Kage Kirio.
Jika itu disebut
sebagai bentuk pengertian, maka memang itulah kenyataannya. Berbagi rahasia,
bagaimanapun bentuknya, akan menumbuhkan rasa solidaritas dan keterikatan, dan
selama rahasia itu terjaga, hal tersebut akan tereskalasi menjadi sebuah
kepercayaan yang mutlak.
Selama ini,
satu-satunya orang yang telah menolong Asahi secara sembunyi-sembunyi
berkali-kali bukanlah orang lain, melainkan Kirio.
──Meskipun Asahi
sama sekali tidak memahami jalan pikiran maupun tujuan Kirio sedikit pun.
"Tidak
apa-apa. Sentuhlah bagian mana pun dari tubuhku."
Tangan kanan
Kirio merajut erat dengan seluruh jemari tangan kirinya, menggenggamnya dengan
erat.
Tidak sama
dengan Tsukiashi, Yui, Kansei, Oriko, maupun Ami.
Jari-jari itu
milik Kage Kirio sendiri: kecil, ramping, lembut, lentur, namun penuh kekuatan.
(Aku
tidak mengerti, aku tidak mengerti, aku tidak mengerti, aku tidak mengerti, aku
tidak mengerti──)
Tangan
kanan Asahi yang bebas terulur lemah ke arah langit-langit, namun siku itu
melengkung seolah jatuh, dan perlahan-lahan tertarik mendekat. Menuju punggung
kecil Kirio, yang masih belum memikul apa pun.
Apakah ada arti
tertentu dari memeluk Kirio di saat seperti ini?
Kebenaran atau
kesalahan—ia sudah tidak bisa lagi memandang segala sesuatu dengan ukuran
seperti itu.
Ia
menginginkannya. Asahi sudah sejak lama mendambakan kata-kata itu.
──Memberikan
kata-kata yang ingin didengar oleh seseorang adalah hal yang sangat penting
dalam menjalin hubungan antarmanusia──
Bagi seorang
anak laki-laki yang terus melanjutkan permainan dalam kesendirian, kehadiran
seseorang yang dapat dipercayai...
Karena Hodogi
Asahi tidak ingin menjadi seorang diri, melainkan ingin menjadi berdua.
──Hal itu bahkan
semakin berlaku ketika hubungan tersebut beranjak menjadi hubungan antara pria
dan wanita──
"...Ah,
aaaaaahhhhh... aaaaaaaaaaahhhhh..."
Apakah ini
berasal dari emosinya, ataukah sekadar reaksi fisiologis semata, ia sendiri
sudah tidak bisa membedakannya.
Hanya saja,
Hodogi Asahi sedang menumpahkan air mata deras dari kedua matanya.
Dan sebelum ia
sadari, ia telah melingkarkan kedua lengannya di punggung Kage Kirio,
mendekapnya dengan erat, erat sekali.
Ia telah
bertambah satu tahun usia. Hodogi Asahi genap berusia 17 tahun hari ini.
Meskipun begitu, ia belum cukup dewasa untuk bisa menolak orang yang telah
memberikannya apa yang ia inginkan di tempat ini.
"Kau boleh
menjadi lemah, Asahi."
"Kirio──"
Kali ini, mereka
berdua saling menatap dengan tatapan yang sangat jelas.
Nafsu berahi
terhadap Kage Kirio yang sama sekali tidak ia rasakan beberapa menit yang lalu,
kini telah meluap dan tidak lagi bisa ditahan.
Kepercayaan yang
begitu dicintai. Rasa cinta yang lahir dari rasa percaya.
Apa pun yang
terjadi, bagaimanapun situasinya, Kirio pasti tidak akan pernah meninggalkan
Asahi.
Ia memiliki
keyakinan yang tidak berdasar seperti itu. Dan ia bahkan bisa mengatakannya
dengan tegas.
──Entahlah. Aku
hanya bisa bilang padamu... bencana besar akan menimpa dirimu──
Kirio menutup
matanya. Baik nalar maupun instingnya sama-sama memahami apa yang sedang ia
cari, dan apa yang sedang ia berikan.
Jika ada rongga
kosong di dalam hati, suatu hari nanti, seseorang atau sesuatu pasti akan
mengisinya.
Dan manusia akan
menaruh kesetiaan serta rasa cinta yang seolah abadi kepada hal yang telah
mengisi kekosongan hatinya itu.
Hati Hodogi
Asahi yang hancur dan penuh dengan lubang, kini sedang coba ditambal oleh Kage
Kirio.
──Bruk.
Satu detik.
Jika suara benda
terjatuh di lantai itu tidak terdengar, maka semuanya pasti akan benar-benar
dipenuhi oleh keberadaan Kirio.
Apakah kejadian
itu merupakan sebuah keberuntungan bagi Asahi, ataukah sebuah kesialan—bahkan
para dewa pun tidak mengetahuinya.
"Na... ah,
tunggu, eh......?"
Sebelum ia
sempat memberikan ciuman kesetiaan atas kemauannya sendiri, Asahi dan Kirio
menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"Ke, kenapa
kalian malah bermesraan, Senpai...? Tu, tu, tu..."
Kenapa ia bisa
ada di sini? Kunci pintu memang terbuka, tapi tetap saja.
──Senpaaaiii!!
Beritahu alamatnyaー!!──
──Lagipula
malam ini aku ada acara, jadi mungkin agak larut. Nanti kalau acaranya sudah
selesai, aku yang akan menghubungimu. Sudah malam, jadi setelah kau menerima
barangnya, langsung pulang, ya?──
Ia benar-benar
melupakannya. Karena ia telah menempatkan prioritas gadis itu di urutan paling
bawah.
Karena mereka
sudah putus. Karena mereka sudah tidak berpacaran lagi. Karena hubungan itu
telah berakhir.
Namun──bukan
berarti Tsukiashi Tsumugi telah lenyap dari dunia ini, atau semacamnya.
"Orang
yang licin, telanjang, dan... saling menempel begini──"
Obsesi itu akan
terus tersisa. Toh mereka tidak saling membenci satu sama lain.
Jika begitu,
maka bergeraklah. Meskipun itu mustahil, meskipun itu terasa sia-sia, majulah
dengan nekat dan tataplah ke depan.
"Tsu,
Tsukiashi...?"
"Haah,
konyol sekali. Bisa-bisanya dia masuk sejauh ini?"
Kirio tersenyum
sinis. Di sisi lain, Asahi bahkan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
──Dia
benar-benar gumpalan daya juang, anak ini.──
──Tsukiashi
Tsumugi. Bakat Luar Biasa: 《Daya Juang》. Apapun yang terjadi, langkah Tsumugi tidak akan pernah berhenti.
Kesalahan
terbesar Hodogi Asahi──adalah karena ia memutuskan hubungan dengan gadis itu di
urutan pertama.
《Bab 4 - Selesai》


Post a Comment