Kata Penutup
Perkenalkan.
Saya Uzo Toshimichi. Saya menyampaikannya lewat kata penutup di halaman akhir
ini.
Karya ini
adalah novel ke-14 saya secara keseluruhan. Ini adalah karya baru yang
sepenuhnya orisinal, berbeda dari seri "Soshiki no Shukuteki" (Musuh
Bebuyutan Organisasi). Volume terbaru dari "Soshiki no Shukuteki"
juga akan segera terbit, jadi mohon tunggu sebentar lagi...
Mari langsung
saja menyampaikan ucapan terima kasih. Kepada Pemimpin Redaksi Anan yang telah
mengizinkan saya merilis seri lain, editor yang bertanggung jawab yaitu
Tabata-san, Kuronamako-sensei yang telah mendesain lima orang plus sekian
heroin dengan sangat imut, teman-teman yang telah menemani saya membaca
pratinjau naskah ini, dan yang terutama kepada para pembaca yang telah membaca
cerita ini sampai akhir, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang
sebesar-besarnya melalui kesempatan ini.
Khususnya
kepada Pemimpin Redaksi Anan yang telah berjalan bersama saya sejak sebelum
debut, beliau akan dipindahtugaskan dan tidak lagi menjadi editor saya. Buku
inilah satu-satunya karya nyata terakhir yang diproduksi di bawah keterlibatan
beliau. Saya sudah menyampaikan rasa terima kasih saya secara langsung, jadi
saya tidak akan berbicara panjang lebar di sini, namun tetap saja, terima kasih
banyak atas semua bantuannya selama ini. Tolong terus awasi saya ke depannya
dengan penuh kehangatan (dan sedikit rasa geli).
Nah, terima
kasih banyak telah membaca karya ini sampai selesai. Jika ada kesempatan, mari
kita bertemu lagi di lain kesempatan.
Uzo Toshimichi
『Kazuwaku no Kuzu to, Tadashii Koi no Owarasen Kata.
[Denshi Tokubetsu-ban]』
Cerita Pendek Spesial: "Ami Chigira, Sang
Pekerja Paruh Waktu yang Super-Super-Sibuk"
Saat Hodogi
Asahi masih duduk di kelas satu SMA—masa-masa ketika ia mulai berpacaran dengan
Chigira Ami.
"Kerjaan
tuh... nggak adaaaa!"
"Kurasa
tidak begitu, kok."
Tempat kerja
paruh waktu Asahi adalah sebuah studio foto kecil. Mereka utamanya memotret, mengedit, dan
mencetak foto kenang-kenangan, foto paspor, dan foto profil profesional.
Meskipun ada beberapa layanan kecil lainnya, tidak seperti studio besar, mereka
tidak melakukan pemotretan berskala besar.
Ini adalah
toko perorangan yang dikelola oleh sebuah keluarga, dan orang-orang yang
dipekerjakan di sana sebagai pekerja serabutan adalah Asahi dan Ami.
"Hanya
karena para pemilik toko sedang pergi keluar semua, bukan berarti kamu boleh
bolos, ya."
"Kamu
detail banget, deh. Kalau dari remaja sudah begitu, nanti pas umur 20-an kamu
bisa jadi orang hebat, lho!"
"Itu sih
hal yang patut disyukuri, tapi..."
Asahi baru
bekerja di sini belum ada setengah tahun, dia adalah seorang pemula bau kencur.
Di sisi lain, Ami tampaknya sudah bekerja cukup lama, dan ia sangat dipercaya
oleh para pemilik toko. Setidaknya, ia dipercaya sampai-sampai ditinggali
menjaga toko sendirian setelah semuanya pergi keluar.
(Kamu itu
sebenarnya bisa diandalkan dalam urusan pekerjaan, ya, Ami-san.)
"Bilang
gitu, tapi dari sore di hari kerja, mana ada orang yang mau datang ke studio
kumuh begini~"
"Makanya
di waktu senggang seperti itu, masih banyak hal tak terbatas yang bisa
dikerjakan, seperti bersih-bersih, mengecek peralatan, mengedit foto, memandu
reservasi, atau mengirim email promosi."
"Mau minum sesuatu~? Kakak ini
mau minum air hangat (sayu), lho!"
(Kenapa dengan gaya santai begituan
dia bisa menjadi 'orang yang andal dalam bekerja'?)
Asahi jadi
teringat saat-saat pertama kali ia masuk kerja paruh waktu. Sejak saat itu, Ami
memang selalu seperti ini.
Namun, Asahi
langsung akrab dengan Ami. Meski begitu, itu bukanlah karena usaha Asahi yang
membuahkan hasil, melainkan karena kemampuan membangun hubungan interpersonal
milik Ami yang memang sangat luar biasa. Yakin deh, bahkan jika Asahi hanya
duduk terdiam tanpa bersuara pun, Ami akan terus mengajaknya ngobrol dan
menyusup masuk ke dalam lubuk hatinya. Kalau mau, dia sepertinya adalah tipe
manusia yang bahkan bisa akrab dengan batu, rumput liar, atau bangku taman.
(Aku masih
tidak percaya. Bahwa orang seperti ini menyatakan cinta kepadaku.)
"Ooh, ada
sisa camilan untuk tamu, nih. Kubakan dan cek tanggal kadaluarsanya, ya!"
"Alasan
yang tidak masuk akal..."
Secara halus,
Ami itu sosok yang berkilau. Ucapannya yang asyik, perilakunya yang kocak,
kepribadiannya yang disukai semua orang, ditambah lagi penampilannya yang
cantik. Orang seperti ini, mana mungkin tidak disukai.
Justru karena
Asahi berpikir begitu, terkadang ia merasa tidak percaya apakah pengakuan cinta
Ami padanya ini adalah mimpi atau bukan. Bagi Asahi yang harus membagi cintanya
ke lima orang (berpacaran lima sekaligus), hal itu seharusnya disebut sebagai
sebuah keberuntungan──namun di saat yang sama, ini juga pertama kalinya ia
benar-benar mencurigai orang lain, mengira jangan-jangan ada udang di balik
batu.
"Nih.
Camilan teh dan cola yang kadar sodanya hampir mati, silakan dinikmati!"
"Terima
kasih. Tapi cola ini benar-benar tidak bisa disajikan untuk tamu, ya."
"Urusan
menyajikan cola ke tamu itu urusan belakangan, sih~. Ah, mungkin karena aku
justru ingin menyajikan cola, makanya sengaja kumatikan sodanya? Karena
pemiliknya itu orang yang cerdik, sih~"
"Sudah
pasti tidak ada hubungannya..."
Keberadaan cola
itu mungkin hanya karena hobi sang pemilik toko saja. Pemilik toko yang
berperawakan agak gempal itu, konon tubuhnya semakin lama semakin mengembang
karena selain kegemukan parah ala paruh baya, ia juga sangat menyukai makanan
manis.
"Tapi,
bisa ngobrol santai sesama pekerja paruh waktu begini, sambil makan camilan dan
dibayar pula, rasanya ini bukan pekerjaan yang direstui di dunia ini, ya~"
"Tentu
saja tidak direstui. Aku kan sudah bilang kalau masih ada pekerjaan yang harus
dilakukan."
"Wahai
para dewa, wahai manju (kue tradisional Jepang)..."
Mengangkat
tinggi-tinggi kue manju untuk tamu, Ami langsung melahapnya dalam satu gigitan.
Artinya,
saat ini ia sedang tidak ingin bekerja. Sebanyak apa pun Asahi mengomelinya,
sama sekali tidak ada bayangan bahwa Ami akan sigap menyelesaikan sisa
pekerjaannya.
"Terus,
gimana nih akhir-akhir ini? Keadaanmu baik-baik saja?"
"Jangan
pakai bahasa Kansai dan bertanya dengan akrab begitu secara tiba-tiba."
Terlebih lagi,
logat Kansainya sangat lancar dan akurat tanpa ada keraguan sedikit pun.
Jangan-jangan Ami memang berasal dari Kansai, tapi meskipun mereka berpacaran,
Asahi belum begitu tahu banyak tentang latar belakangnya.
"Keadaanku...
yah, kurang lebih biasa saja, sih. Cukup masuk kerja paruh waktu, dan cukup
aktif tampil di dewan siswa. Bisa dibilang aku ini anak SMA pada umumnya,
kan?"
"Okelah
kalau begitu. Kalau gitu, oke deh."
"...Jangan-jangan,
kamu mengkhawatirkanku?"
"Tentu
saja. Kamu kan kelihatan berjuang keras dengan berbagai hal."
Ia tidak
menanyakannya dengan pikiran yang rumit. Hanya saja, karena Ami tahu keadaan
Asahi, ia bertanya murni karena mencemaskannya. Akar hatinya memang sangat
baik.
Menyadari hal
itu, Asahi sedikit membungkukkan kepalanya dengan perasaan yang agak serba
salah. Di hadapan seseorang, setidaknya di hadapan perempuan yang sedang
dipacarinya, ia tidak ingin memperlihatkan raut wajah seperti 'berat' atau
'menderita'. Entah karena wataknya, atau karena ia seorang laki-laki, ia jadi
ingin bersikap keras kepala seperti itu. Meskipun isi hatinya sebenarnya
berbeda.
"Kalau
begitu, sebagai perayaan kesehatan kita, mau difoto nggak? Mau difoto, kan~.
Serahkan saja pada profesional☆"
"Aku
bahkan belum menjawab apa-apa..."
Ami dengan
gigih menarik Asahi ke ruang pemotretan. Meskipun mereka sama-sama pekerja
paruh waktu dan berstatus sebagai petugas serabutan, ada jurang perbedaan yang
besar antara wewenang dan kemampuan Ami dan Asahi.
Ami lebih
pantas disebut sebagai asisten daripada pekerja serabutan; ketika sang pemilik
memotret pelanggan, Ami merias wajah pelanggan, membantu proses pemotretan, dan
bahkan melakukan retouch foto setelah pemotretan selesai. Meskipun ia tidak
pernah menekan tombol shutter kameranya, hampir semua hal lainnya ia tangani.
Oleh karena
itu, yah, meskipun mereka diam-diam menggunakan kamera toko untuk
bersenang-senang dan berfoto, sang pemilik toko sepertinya tidak akan marah,
dan bahkan mungkin akan merekrut Ami secara serius ke jalur fotografi karena
mengira ia tertarik menjadi fotografer. Menyadari sampai ke titik itu, Asahi
tidak banyak melawan dan berdiri di depan latar belakang kertas putih.
Di sisi lain,
Ami menyesuaikan sudut kamera dan membingkai Asahi ke dalam bingkai bidikannya.
"Bagus
sekali, Pelanggan~. Siapa tipe wanita kesukaanmu? Kapan cinta pertamamu? Berapa
banyak jumlah pengalaman asmaramu?"
"Menanyakan
hal itu saat pemotretan itu cuma terjadi di video-video mencurigakan,
tahu."
"Kamu tahu
banyak, ya~?"
"............"
Asahi
memalingkan punggungnya dari lensa kamera. Itu adalah wujud penolakan
pemotretan.
"Bentar-bentar,
Pelanggan. Toh di sini ada 'buah dada' yang nantinya bisa diremas-remas, jadi
jangan pasang muka cemberut begitu, ya? Nah, hadap sini dong?"
"Nantinya
bakal diremas-remas, katamu?!"
Asahi berbalik
dengan kecepatan yang hampir menyamai kecepatan suara. Instingnya merespons
dengan sangat jujur.
── Pip, jepret.
"Ah."
"Eh, judul
fotonya adalah... 'Sensasi Mach Masa Pubertas'."
Sambil melihat
gambar hasil pemotretan yang ditampilkan di laptop, Ami memberikan penamaan
secara blak-blakan. Saat Asahi ikut mengintipnya, ia melihat dirinya sendiri
yang sedang memamerkan wajah hasil perpaduan antara harapan, nafsu, dan sedikit
keraguan, dengan rambut yang berantakan dan berpose seolah-olah sedang berlari
kencang.
"Bisa
tolong hapus fotonya?"
"Berapa
yang bisa kamu bayar~?"
"Ini sudah
jadi bahan ancaman...!!"
"Tapi kamu
ini, di luar dugaan punya sisi anak laki-laki juga, ya."
"Tolong
ucapkan 'pria' dengan jujur, deh."
Ami menutup
laptopnya dengan suara pletak. Topik tentang foto hasil pemotretan tadi buru-buru diburamkan begitu
saja. Kalau foto itu sampai dibagikan ke pemilik toko, hal itu sudah berada di
level di mana ia harus mempertimbangkan untuk berhenti kerja paruh waktu.
"Tapi
ya, 'bedei' kakak ini tidak murah, lho."
"Sebanyak
apa pun logat aslimu, kamu tidak akan melafalkan body menjadi bedei."
"Soalnya
harganya sesuai pasaran, sih, 'budu' milik kakak ini."
"Terdengar
seperti buah anggur..."
Bagaimanapun
juga, Ami adalah wanita dewasa yang ceria, menyenangkan, dan sedikit seksi.
Dan di satu
sisi ia memiliki sisi seperti iblis kecil──tetap saja, ia merasa dirinya tidak
pantas bersanding dengan wanita sebaik itu. Tindakannya terasa seperti tindakan
amoral, memaksa burung liar yang sedang terbang bebas untuk dimasukkan ke dalam
sangkar burung. Di balik senyum pahit yang ia tunjukkan pada Ami, hal itulah
yang dipikirkan oleh Asahi.
"Mulai
sekarang... ayo kita bekerja. Sebanyak waktu yang kita habiskan untuk bermain
tadi."
"Oke-oke. Aku akan bekerja sebanding dengan camilan
teh yang tadi kuambil!"
"Termasuk foto hasil main-main
tadi juga, ya."
Ami mulai bersenandung kecil,
fun-fun. Begitu tombol di dalam dirinya aktif, tanpa perlu diberi tahu pun ia
akan mengerjakan apa yang harus dikerjakan dengan benar. Kebijaksanaan dan
kelonggaran seperti itu adalah hal yang diperlukan oleh orang dewasa, begitu
simpan Asahi dalam lubuk hatinya sebagai seorang anak yang masih remaja.
"Oh iya, Ami-san."
"Hmm~?"
"Tipe wanita kesukaanku adalah
orang seperti Ami-san, cinta pertamaku adalah Ami-san, dan jumlah pengalaman
asmaraku adalah 0."
"............
Foto yang tadi akan aku hapus, deh ♡"
"Asyik!"
Dengan
blak-blakannya ia memamerkan sebagian besar isi lubuk hatinya, dan begitu pula
hari ini, pekerjaan paruh waktu mereka pun dimulai kembali secara perlahan──
《Selesai》


Post a Comment