Chapter 5
Semester Baru
"Hwaaah..."
Bermandikan hangatnya
sinar mentari pagi, aku menguap lebar. Setelah pulang dari perjalanan sehari
bersama Saito kemarin, aku langsung tepar tertidur pulas, tetapi rasanya itu
masih belum cukup. Aku rela tidur dua jam lagi kalau memang bisa.
Sayangnya, hari ini
menandai dimulainya semester ajaran baru di sekolah, jadi bolos jelas bukan
pilihan. Terlebih lagi, hari ini adalah hari pengumuman pembagian kelas baru,
dan orang sepertiku pun sedikit penasaran dibuatnya.
Ketika tiba di
sekolah, kerumunan besar murid sudah berkumpul di depan papan pengumuman dekat
pintu masuk. Areanya sangat padat—saking padatnya sampai-sampai aku tidak punya
nyali untuk menerobos masuk ke sana.
Kuputuskan untuk menunggu
di barisan belakang sampai kerumunan mulai menyusut. Selagi menunggu, sosok
yang familier melangkah menghampiriku.
"Oh, Minato. Pagi!
Kau sudah mengecek pembagian kelasmu?"
"Belum. Aku sedang
menunggu kerumunannya agak sepi dulu."
"Begitu ya... jadi
kau belum lihat."
Ia memasang ekspresi
mencurigakan, berusaha (dan gagal total) menyembunyikan seringai puasnya.
"Ada apa dengan
reaksi itu? Kau sudah melihatnya duluan ya?"
"Tentu saja! Aku
bangun jam empat pagi hari ini khusus demi hal ini."
Ia memamerkan pose dua
jari (peace) ke arahku. Serius deh, apa dia ini anak kecil?
"Itu terlalu
kepagian."
"Yah, ini kan hari
pertama semester baru. Harus siap sedia!"
"Iya, iya, terserah.
Jadi, aku masuk kelas mana?"
"Kau di Kelas B, sama
sepertiku."
"Lagi-lagi... sekelas
denganmu?"
Punya teman di kelas yang
sama memang bagus, tetapi dengan orang yang satu ini, aku sudah bisa mencium
aroma masalah yang bakal mendidih. Itu pasti alasan kenapa dia menyeringai
jahil dari tadi.
"Nah, karena sekarang
kita sudah tahu, ayo lekas ke kelas."
"Iya, kurasa aku
tidak perlu repot-repot mengeceknya lagi."
Aku memang sedikit
penasaran siapa saja yang masuk di kelasku, tetapi kupikir aku akan segera
mengetahuinya nanti. Tidak ada gunanya menunggu di sini. Kazuki menyenggol
bahuku menyuruh jalan, dan kami pun melangkah menuju deretan loker sepatu.
"Kelas B ada di
lantai tiga, kan?"
"Iya, dan di sana
sudah ada beberapa orang yang datang."
"Ada orang yang
kukenal?"
"Kenapa tidak kau
buktikan sendiri saja dengan matamu?"
Ada nada bicara yang
terdengar aneh dari caranya mengucapkannya barusan, tetapi sebelum aku sempat
mendesaknya lebih jauh, kami sudah tiba di depan ruang kelas. Kubuka pintunya
dan mendapati beberapa murid sudah duduk di tempat masing-masing, beberapa di
antaranya menoleh menatap ke arah kami.
(Belum banyak orang
yang datang ternyata... tunggu, apa-apaan ini!?)
Menyapu pandangan ke
sekeliling ruangan, mataku seketika terkunci pada seorang gadis yang duduk di
barisan belakang. Meski aku pernah melihatnya mengenakan seragam sekolah
sebelumnya, jarang sekali melihat sosoknya langsung di sekolah. Matanya yang
jernih bak permata, postur tubuhnya yang semampai layaknya model, dan rambut
hitamnya yang berkilau seketika langsung mencuri perhatian. Itu adalah
Saito—pacarku sendiri.
Secara refleks aku
melangkah mundur kembali ke lorong kelas lalu menghadang Kazuki.
"Hei, apa maksudnya
ini?"
"Maksud apanya?"
"Jangan pura-pura
bodoh. Kau sengaja tidak memberitahuku kalau Saito ada di kelas kita,
kan!"
"Soalnya aku tidak
mau mengatakannya. Ya ampun, ekspresi kagetmu yang barusan benar-benar luar
biasa tak ternilai harganya."
"Kau sengaja
menyembunyikannya, kan?"
"Tentu saja."
Kazuki tertawa
terbahak-bahak sampai membungkukkan tubuhnya saking gelinya. Aku melotot tajam
ke arahnya, tetapi bukan itu masalah utamanya sekarang.
Saito dan aku berada di
satu kelas yang sama. Kalau sampai ada orang yang tahu kami berpacaran, ini
bakal jadi bencana besar. Kemarin kami baru saja sepakat untuk saling memanggil
dengan nama depan kami masing-masing, jadi aku harus ekstra waspada agar tidak
sampai keceplosan di dalam kelas. Banyak sekali hal yang harus kuawasi mulai
sekarang.
(...Meskipun sekelas,
bukan berarti kami bakal banyak berinteraksi juga sih.)
Dari dulu aku bukan tipe
orang yang suka membangun pertemanan dekat dengan anak perempuan, jadi selain
percakapan seperlunya, aku kemungkinan besar juga tidak akan berinteraksi
dengan Saito. Malahan selama kelas dua kemarin, rasanya aku sama sekali tidak
pernah berbicara dengan siswi mana pun di kelasku di luar urusan tugas sekolah
yang wajib.
Meski sempat terkejut
melihatnya berada di sini, semakin kupikirkan, hal itu tampaknya bukan masalah
yang terlalu besar. Menarik napas dalam-dalam, aku melangkah masuk ke dalam
kelas.
Di papan tulis hitam di
depan kelas tertera denah tempat duduk. Kutemukan namaku tertulis di sana.
(Urutan kelima dari
depan... Tidak buruk... tunggu, apa lagi ini!?)
Tepat di sebelah namaku
tertera nama Saito Rena. Kulirik ke arah mejanya dan mendapatinya sedang
tersenyum tipis penuh arti.
Aku tidak bisa berdiri
mematung di depan kelas selamanya, jadi perlahan kulangkahkan kakiku menuju
tempat dudukku. Setiap langkah membawaku makin dekat ke arah Saito, dan
bersamaan dengan itu, ketegangan aneh seketika mencengkeram tubuhku. Ketika
akhirnya aku duduk di kursiku, Saito sama sekali tidak menoleh atau menyapaku.
Duduk tepat di sebelah
Saito di dalam ruang kelas yang sama terasa sangat tidak nyata bagiku. Dia
berpura-pura tidak mengenalku, jadi kuputuskan untuk mengikuti permainannya,
menghindari tatapan yang tidak perlu selagi bersiap-siap memulai pelajaran.
Seiring berjalannya waktu
dan ruang kelas yang kian dipadati murid-murid, guru wali kelas pun tiba, dan
sesi wali kelas dimulai. Karena ini hari pertama, belum ada jam pelajaran
efektif—hanya pengumuman prosedural mengenai persiapan ujian masuk perguruan
tinggi dan pemilihan pengurus kelas.
Sesekali kucuri pandang ke
arah Saito. Ia duduk dengan postur yang sangat anggun dan sempurna, pena di
tangannya meluncur mulus di atas buku catatannya. Tatapan matanya yang
tertunduk mempertegas bulu matanya yang lentik, membuatnya terlihat bagaikan
sosok yang berasal dari dunia yang sama sekali berbeda dibanding sosok ceroboh
dan manjanya yang kulihat kemarin. Aura tenang dan sulit didekati yang ia
pancarkan mengingatkanku pada momen pertama kali kami bertemu dulu.
Saat jam istirahat makan
siang, selagi aku mengobrol dengan sekelompok anak laki-laki, Kazuki
mencondongkan tubuhnya mendekat lalu berbisik pelan.
"Tadi kuperhatikan
dari belakang, tapi kenapa kalian berdua sama sekali tidak mengobrol? Padahal
aku berharap bisa melihat kalian bermesraan."
"Mana mungkin. Kau
tahu tidak kekacauan macam apa yang bakal timbul di kelas ini kalau kulakukan
itu?"
"Iya sih, pasti
bakal langsung memicu gosip heboh. Tapi hei, langsung jadi terkenal dalam
semalam, kan?"
"Bukan ketenaran
semacam itu yang kuinginkan."
"Yah, membosankan
sekali."
Terlepas dari ucapannya,
dia sama sekali tidak tampak kecewa. Itu kemungkinan besar hanyalah kebiasaan
jahilnya yang biasa.
"Setidaknya kau harus
bicara sedikit dengannya. Kalau kalian bersikap terlalu kaku dan canggung,
orang-orang justru bakal curiga."
"Aku tidak tahu
batasan yang pas di mana. Lagipula kalau kuajak bicara, kami bisa-bisa tanpa
sadar tergelincir ke dinamika santai kami yang biasa."
"Kau ini memang
payah dalam urusan seperti ini ya."
"Diamlah. Aku
cuma hidup jujur apa adanya."
"Iya, iya, terserah.
Tapi untuk ukuran orang yang sangat mencintaiku, kau ini jahat sekali padaku.
Mana ada orang yang butuh cowok tsundere sepertimu."
"Perasaanku padamu
itu seratus persen murni benci, tahu."
Aku bersungguh-sungguh
mengatakannya, tetapi Kazuki hanya tertawa terbahak-bahak sembari mengibaskan
tangannya santai, sama sekali tidak terpengaruh. Dia benar-benar tak terkalahkan.
"Tapi dia
benar-benar sangat cantik ya?"
Tak jauh dari kami,
beberapa anak laki-laki sedang membicarakan sosok Saito.
"Banget. Dulu aku
cuma melihatnya dari kejauhan, tapi kalau dilihat dari dekat begini, pesonanya
benar-benar di tingkat yang berbeda."
"Tanaka, kau duduk
tepat di sebelahnya, kan?"
Mereka menoleh padaku, dan
aku mengangguk pelan.
"Bung, aku iri
sekali. Kau bisa melihatnya dari dekat sepanjang waktu."
"Entahlah, aku tidak
yakin. Kalau dia memergokiku sedang menatapnya, dia pasti bakal melototiku
dengan tatapan tajam."
"Benar juga. Duduk di
belakangnya sebenarnya jauh lebih aman buat mencuri pandang diam-diam."
Percakapan mereka
berlanjut—membicarakan pakaian seperti apa yang cocok dengannya, gaya
rambutnya, hingga hewan favoritnya. Aku hampir saja menyemburkan tawa saat
mendengar seseorang menyebutkan bahwa gadis itu menyukai kucing.
Rupanya, kabar burung
terbaru tentang Saito adalah bahwa koleksi alat tulisnya belakangan ini mulai
dipenuhi oleh pernak-pernik bertema kucing. Jika orang-orang bahkan sampai
mengetahuinya lewat rumor, artinya kebiasaannya itu memang sudah terlalu
mencolok.
Kulirik ke arah Saito yang
sedang mengobrol dan tertawa bersama beberapa teman sekelas perempuan di
sekitar mejanya.
Di atas mejanya bertengger
kotak bekal makannya yang bentuknya tak salah lagi menyerupai kepala seekor
kucing. Dari jarak sejauh ini pun bentuknya terlihat sangat jelas benderang.
Ya, pantas saja
orang-orang menyadarinya. Rasa cintanya pada kucing terlalu terang-terangan
sampai-sampai terasa menggelikan. Aku tak bisa menahan kekehan pasrah di dalam
hati.
***
"Aku tidak menyangka
kita bakal berakhir sekelas."
Ini adalah hari pertama
semester baru, dan sepulang sekolah, akhirnya aku punya kesempatan berkunjung
ke rumah Saito untuk mengobrol santai tanpa perlu mencemaskan tatapan mata
orang-orang yang mengintai.
"Aku juga tidak
menyangka. Waktu melihat papan pengumuman tadi pagi, aku kaget sekali. Tadi kau
kelihatan sangat terperangah waktu membuka pintu kelas. Kau benar-benar tidak
tahu sampai saat itu?"
"Iya. Papan
pengumumannya terlalu padat untuk kudekati, lalu Kazuki kebetulan ada di sana
dan memberitahuku kelasku. Aku tidak banyak berpikir dan langsung melangkah ke
kelas... hanya untuk melihatmu sudah duduk di sana. Untuk sesaat, kukira mataku
sedang mempermainkanku."
"Ekspresi wajahmu
waktu itu sungguh luar biasa lho. Beberapa anak perempuan di kelas sempat
membicarakannya tadi."
"Tolonglah. Itu semua
murni ulah keisengan Kazuki."
Aku tidak menyangka hal
konyol semacam itu bakal menjadi topik obrolan orang-orang. Ini sepenuhnya
adalah kesalahan Kazuki. Kalau saja dia memberitahuku secara normal sejak awal,
semua kekacauan ini tidak akan pernah terjadi. Tapi tidak, dia sengaja menyembunyikannya
murni demi kepuasan hiburan pribadinya semata. Dasar orang menyebalkan.
"Jadi saat di dalam
kelas, kita akan tetap bersikap seperti tadi siang, kan?"
"Iya. Duduk
bersebelahan mungkin membuat kita sesekali mengobrol sedikit, tapi kalau tidak
hati-hati, kita bisa keceplosan."
"Aku setuju. Rasanya
aku bisa saja tanpa sengaja memanggil nama depanmu di sana."
Aku bisa dengan mudah
membayangkan diriku memanggilnya "Rena" secara santai saat sedang
mengobrol, lalu ada murid lain yang tak sengaja mendengarnya. Itu bakal
langsung jadi game over seketika.
"Melihat sosokmu di
kelas tadi mengingatkanku pada waktu pertama kali kita bertemu dulu."
"Apa aku kelihatan
seberbeda itu?"
"Kau memancarkan
aura murid teladan yang tenang, anggun, dan berwibawa. Padahal kenyataannya,
kau cuma gadis pencinta kucing."
"Aku berusaha
menjaga citraku di depan anak-anak lain di kelas. Wajar saja kalau aku terkesan
dingin dan sulit didekati. Sebenarnya terkadang aku sengaja melakukannya."
"Untuk mencegah
anak-anak cowok mendekatimu?"
"Jauh lebih mudah
menyelesaikan masalah dengan cara seperti itu. Kalau orang yang mendekatiku
adalah orang yang sopan dan baik sih tidak masalah, tapi di luar sana kan ada
berbagai macam tipe orang. Jauh lebih praktis kalau mereka menjaga jarak sejak
awal."
Ia menghela napas
panjang, dan aku bisa melihat sekilas sekelumit beban perjuangan yang selama
ini ia tanggung sendirian. Ini pasti semacam taktik pertahanan diri yang ia
kembangkan dari waktu ke waktu.
"Aku cuma
bersyukur dulu kau tidak mengusirku menjauh."
"Awalnya aku
sempat bersikap begitu kok. Tapi lalu pertahananku runtuh gara-gara kau sesama
pencinta buku."
"Waktu kau pertama
kali menyapaku di perpustakaan dulu, kau membuatku takut setengah mati
tahu."
"Waktu itu aku juga
sebenarnya merasa gugup."
"Sama sekali tidak
kelihatan begitu tuh. Kau langsung meluncurkan penjelasan panjang lebar yang
berapi-api soal daya tarik buku itu."
"Tolong lupakan
bagian memalukan itu."
Saat kugoda, ia
melayangkan tatapan tajam yang menusuk ke arahku, membuatku refleks mengangkat
bahu. Aku tidak berani memancing emosinya lebih jauh.
"Rasanya sangat
bernostalgia ya?"
"Padahal baru enam bulan berlalu."
"Tunggu, baru selama itu?"
Ia mengeluarkan ponselnya, menghitung hari di
layarnya, lalu mengangguk mantap.
"Kau benar, baru tepat enam bulan. Sulit
dipercaya kalau sekarang kita sudah resmi berpacaran."
"Aku sendiri pun
masih sulit memercayainya."
Enam bulan yang lalu,
membayangkan diriku—seorang kutu buku penyendiri—bisa berpacaran, apalagi punya
pacar yang luar biasa cantik memukau, pasti bakal ditertawakan habis-habisan
oleh diriku di masa lalu.
"Bahkan dari sudut
pandang orang luar sekalipun, gagasan bahwa seorang Minato punya pacar adalah
hal yang mengguncang dunia. Itu bisa dimasukkan ke dalam salah satu dari tujuh
misteri terbesar sekolah."
Itu jenis misteri yang
terlalu personal untuk sekolah.
"Kalau begitu,
bukankah kasusku ini harusnya jadi misteri yang kedelapan?"
"Tinggal kita
pensiunkan saja salah satu dari tujuh misteri yang lama."
Ia menyatakannya dengan
begitu tegas dan tanpa ragu sampai-sampai aku tidak bisa membantahnya. Meskipun
aku sangat meragukan apakah konsep "pensiun" benar-benar berlaku di
ranah misteri sekolah. Ia mengangkat satu jari telunjuknya seolah hendak
mengganti topik pembicaraan.
"Minato, kau harus
sangat berhati-hati saat di dalam kelas."
"Paham. Intinya aku
harus memisahkan persona sekolah dan persona rumahku dengan jelas, kan?"
"Tepat sekali.
Dilarang keras berteriak, 'Hei, Rena!' di dalam kelas."
"Bahkan di rumah pun
aku tidak pernah berteriak begitu! Kau membuatku terdengar seperti orang yang
sama sekali berbeda tahu."
Citra macam apa yang
sebenarnya ia miliki tentang diriku? Aku mulai merasa cemas sendiri.
"Kupikir hal itu bisa
saja terjadi kalau kau sampai terlalu terbawa suasana."
"Itu bukan terbawa
suasana namanya; itu sudah keluar dari karakter asliku sepenuhnya."
"Meski begitu, aku
sebenarnya agak ingin melihatmu melakukan hal itu. Sekali saja."
"Hah!?"
Ada angin apa yang
mendadak merasukinya? Dia kan biasanya paling benci tipe cowok yang suka pamer
dan heboh.
"Kau tahu kan,
semacam dorongan rasa penasaran yang aneh. Pasti bakal seru melihatnya. Aku
bahkan berniat merekamnya dengan ponsel. Ayo, lakukanlah!"
Ia menatapku dengan mata
yang berbinar-binar cerah. Tolong jangan memasang tampang seantusias itu untuk
hal semacam ini.
"Mana mau. Kau cuma
bakal menjadikanku mainan untuk bahan hiburan pribadimu saja."
"Mana ada!"
"Lalu untuk apa kau
mau merekamnya?"
"Untuk... keperluan
dokumentasi sejarah?"
Dokumentasi sejarah
kepalamu. Rekaman itu pasti bakal berakhir jadi bahan pemerasan seumur hidup.
Kalau sampai video semacam itu ada di dunia ini, itu bakal menjadi aib hitam
paling memalukan dalam sejarah hidupku yang harus kukubur dan kusegel rapat-rapat
selamanya. Tidak akan pernah kubiarkan diriku menciptakan materi baru untuk ia
manfaatkan.
Ketika aku menggelengkan
kepala kuat-kuat, ia mengerucutkan bibirnya cemberut lalu menjatuhkan bahunya
lemas. Sebegitu inginnya kah dia melihat momen memalukan itu?
"Ada hal lain lagi
yang harus kuwaspadai?"
"Jangan bersikap
terlalu kaku dan salah tingkah sampai-sampai kau menghindari bicara denganku
sama sekali."
"Paham."
"Jangan menatapku
terus-menerus juga."
"Baiklah."
"Jangan bersikap
terlalu akrab tanpa batas."
"Siap."
"Dan jangan
mengembalikan barang-barang pinjaman dariku waktu di sekolah."
"Mengerti."
"Dan yang
terakhir, jangan pernah mengikuti orang asing hanya karena mereka
mengiming-imingi buku padamu."
"Tunggu, apa-apaan
itu?"
Aku harus menghentikannya.
Poin-poin awal tadi sangat masuk akal, tetapi peringatan yang terakhir ini
benar-benar konyol.
"Apa maksudnya
peringatan terakhir itu?"
"Oh, cuma sedikit
nasihat bertahan hidup yang umum."
"Aku bukan anak TK
lagi, tahu. Mana mungkin aku mengikuti orang asing sembarangan."
"Tapi kalau orang itu
memasang jebakan buku, aku merasa kau pasti bakal langsung terjerembap masuk ke
dalamnya tanpa ragu."
"Jebakan buku?"
"Semacam jebakan
muslihat wanita (honey trap), tapi memakai umpan buku. Istilah yang
kuciptakan sendiri."
"Kedengarannya
terlalu spesifik dan aneh."
"Makanya perbaiki
dirimu supaya jebakan semacam itu tidak mempan padamu."
"Itu hal yang
mustahil."
"Jangan mendadak
memasang tampang percaya diri untuk hal yang memalukan seperti itu."
Saito menghela napas
panjang, tetapi ada hal-hal di dunia ini yang memang benar-benar mustahil
diubah. Jika kau menyingkirkan buku dari hidupku, tidak ada lagi hal berharga
yang tersisa dari diriku, jadi aku butuh dia untuk menerima kenyataan tersebut
apa adanya. Sekali lagi, aku memantapkan tekad di dalam hati untuk tetap fokus
dan tidak lengah sedikit pun saat berada di dalam ruang kelas nanti.
***
Sudut Pandang Hiiragi
Manajer memberiku waktu
istirahat makan siang, jadi aku melangkah menuju ruang istirahat untuk makan.
Makan siangku hanyalah bekal sederhana berisi sisa masakan dari makan malam
tadi.
(Cukup lezat, kalau boleh
kupuji masakanku sendiri.)
Kemarin malam aku sempat
mencoba membuat masakan rebusan (nimono). Bumbu-bumbunya sudah meresap
sempurna semalaman, menjadikannya terasa jauh lebih lezat hari ini. Tekstur kentangnya
begitu lembut hingga praktis langsung lumer di mulut—benar-benar sempurna.
"Hiiragi-senpai,
semangat kerjanya!"
Mai-chan menerobos
masuk ke dalam ruang istirahat dengan riang. Hari ini rambutnya diikat ke
belakang dengan pita kecil berwarna kuning yang manis.
"Semangat juga,
Mai-chan."
"Sayang sekali ya
padahal sekarang kita sudah satu sekolah, tapi aku hampir tidak pernah
berkesempatan melihatmu gara-gara kelas anak kelas tiga letaknya jauh
sekali."
"Murid-murid
kelas satu kan memang ditempatkan di lantai satu gedung baru, wajar saja."
Sebenarnya, Mai-chan
mulai masuk ke sekolah yang sama denganku tahun ini. Melihatnya mengenakan
seragam sekolah yang sama persis denganku terasa agak janggal, hampir
membuatnya terlihat seperti sosok yang berbeda.
"Hiiragi-senpai, di
sekolah namamu Saito, kan? Kau sangat populer lho di kalangan teman-teman
seangkatanku. Semua orang membicarakan sosok kakak kelas yang cantik jelita.
Aku jadi ikut bangga!"
"Hal yang sama juga
terjadi tahun lalu kok."
"Tapi waktu itu belum
ada rumor kalau kau sedang berpacaran dengan seseorang. Apa kau
menyembunyikannya?"
"Kalau sampai
ketahuan, hal itu pasti bakal langsung memicu gosip yang heboh di
mana-mana."
Sejujurnya, jika
orang-orang bisa membiarkan kami tenang, aku tidak merasa perlu
menyembunyikannya. Namun mustahil kabar itu tidak menimbulkan kegemparan besar.
Aku membenci situasi seperti itu, dan aku yakin Minato pun merasakan hal yang
sama. Dia adalah tipe orang yang sangat menghargai kedamaian dan ketenangan.
"Padahal aku ingin
sekali bertemu dengan orang yang kau pacari itu. Apa dia satu sekolah dengan
kita juga?"
"Iya,
sebenarnya..."
Mungkin sebaiknya
kuberitahukan saja padanya. Karena mereka berada di sekolah yang sama, selalu
ada kemungkinan Mai-chan bakal berpapasan dengan Minato secara tak sengaja.
Situasinya bisa jadi rumit, jadi menjelaskannya sekarang akan mencegah
timbulnya masalah di kemudian hari.
"Orang yang sedang
kupacari itu adalah Tanaka-san."
"Tunggu,
serius!?"
Mata Mai-chan membelalak
lebar karena terkejut, dan ia mencondongkan badannya ke depan, sepenuhnya
terpikat oleh pengakuanku.
"Sekarang setelah kau
mengungkitnya, aku memang tidak pernah mendengar di mana Tanaka-senpai
bersekolah, jadi masuk akal sih... Tunggu sebentar, bukankah itu artinya selama
ini Tanaka-senpai telah menceritakan dan curhat tentang dirimu sendiri tanpa
dia sadari!?"
"Kau sangat cepat
tanggap. Sebenarnya, Tanaka-san tampaknya mengira aku adalah orang yang sama
sekali berbeda waktu di sekolah."
"Apa? Itu lucu
banget!"
"Yah, penampilanku
waktu di sekolah memang agak berbeda dibanding waktu di rumah atau di sini. Hal
itu tampaknya berhasil meyakinkannya sepenuhnya."
"Aku tidak percaya
hal gila seperti itu benar-benar terjadi selama ini. Harusnya kau memberitahuku
lebih awal! Jadi itu alasan kenapa selama ini kau menanyakan berbagai macam
pertanyaan padanya waktu dia curhat."
"Lagipula itu adalah
kesempatan paling sempurna untuk mengorek pendapatnya yang paling jujur,
kan."
Saat di rumah, sangat
sulit menebak apa yang sebenarnya dipikirkan Minato tentang diriku. Sandiwara
ini menjadi kesempatan emas untuk membongkar isi hatinya.
"Tanaka-senpai
benar-benar tidak peka sama sekali ya. Bagaimana bisa ada orang yang salah
mengira pacar semanis ini sebagai orang lain? Aku saja pasti bakal langsung
mengenalimu dalam sedetik."
"Tanaka-san itu punya
tingkat ketertarikan nol besar terhadap orang lain. Seluruh dunianya cuma
berputar di sekitar buku."
Aku memang sudah tahu
Minato adalah seorang kutu buku akut sejak hari pertama kami bertemu dulu,
tetapi tingkat obsesinya melampaui apa pun yang pernah kubayangkan. Akhir-akhir
ini, aku tak tahan untuk tidak merasa pasrah. Kuharap dia bisa sedikit menguranginya,
walau hanya sedikit saja.
"Sebagian orang
memang bisa sefanatik itu kalau menyangkut hobi mereka. Kurasa hal itu tidak
bisa dihindari."
"Tepat sekali. Aku
sudah menyerah berusaha mengubah kebiasaannya itu."
Aku menghela napas panjang
tanpa kusadari sendiri.
"Tapi tetap saja,
fakta bahwa selama ini dia mencurahkan isi hatinya padamu tanpa sadar itu
terlalu menggelikan. Membuatku ingin menjahilinya habis-habisan."
"Jangan! Kalau kau
melakukannya, dia bisa-bisa menyadarinya nanti."
"Kau berencana
memberitahunya suatu saat nanti?"
"Sejujurnya, aku
sudah melewatkan momen terbaik untuk berterus terang. Rasanya sudah agak
terlalu terlambat sekarang."
"Semakin lama kau
menundanya, bakal makin sulit situasinya nanti, lho."
"Aku tahu. Tapi meski
begitu, aku sudah sering melontarkan petunjuk-petunjuk yang sangat gamblang
sejak kami mulai berpacaran—seperti membicarakan soal sekolah atau mengungkit
peristiwa Hari Valentine kemarin. Tapi dia sama sekali tidak menyadari apa-apa."
Aku sudah berusaha
membuatnya sejelas mungkin, tetapi tingkat ketidakpekaan Minato sungguh luar
biasa mengagumkan. Pada titik ini, aku bertekad untuk terus melanjutkannya
sampai dia berhasil membongkarnya sendiri dengan kekuatannya sendiri.
"Mai-chan, kalau kau
melihat Tanaka-san di sekolah nanti, tolong jangan katakan apa-apa tentang
diriku ya."
"Tentu saja. Aku cuma
akan mendengarkan dalam diam dan menikmati menontonnya tetap berada dalam
ketidaktahuan yang membahagiakan."
Mai-chan menyeringai
jahil, binar nakal berkilat di matanya. Hanya dialah satu-satunya orang yang bisa bersikap
seberani ini tanpa beban.
"Terima kasih atas
kerja kerasnya."
Tepat pada saat itu, sosok
Minato melangkah masuk ke dalam ruang istirahat. Gawat—apa tadi dia
mendengar obrolan kami?
"Hai, Tanaka-san.
Terima kasih juga untukmu."
Kuperhatikan ekspresi
wajahnya dengan sangat cermat, tetapi dia tampaknya tidak menyadari apa-apa.
Peredam suara di ruangan ini pasti jauh lebih bagus dari dugaanku, dan selama
pintunya tertutup rapat, dia kemungkinan besar tidak mendengar suara kami. Lagipula,
ini adalah Minato. Sekalipun dia mendengar sesuatu, dia pasti tidak akan paham
apa maknanya.
Selagi Minato sibuk
mengutak-atik komputer untuk mencatatkan absensi kerjanya, wajah Mai-chan
seketika berseri-seri penuh rencana.
"Tanaka-senpai,
bagaimana perkembangan hubunganmu dengan pacarmu?"
"Mai-chan!?"
Apa yang sedang ia
lakukan!? Tadi dia baru saja bilang bakal tutup mulut! Aku berusaha
menghentikannya, tetapi semuanya sudah terlambat. Minato berbalik menghadap ke
arah kami.
"Tidak ada yang
banyak berubah sejak kemarin."
"Benarkah? Belakangan
ini kalian sempat pergi ke suatu tempat berdua?"
"Kami pergi ke acara
sesi tanda tangan buku dan melihat festival bunga sakura di hari terakhir
liburan musim semi kemarin."
"Sesi tanda tangan
buku?"
"Iya, dia adalah
penggemar garis keras penulis itu. Dia mengirimkan ulasan pemikirannya dan
berhasil terpilih untuk menghadiri acaranya."
"Mengesankan
sekali."
"Dia kelihatan sangat
bahagia sekali waktu itu. Melihatnya seantusias dan segembira itu terlihat
sangat menggemaskan."
Mai-chan melirik ke
arahku, menyeringai penuh arti. Kuharap dia berhenti memberiku tatapan
menyebalkan seperti itu. Rasanya sangat memalukan.
Yah... aku tidak bisa
memungkiri kalau aku merasa sangat senang mengetahui dia menganggapku manis dan
menggemaskan.
"Kedengarannya
sangat menyenangkan. Aku senang mengetahui hubungan kalian berjalan lancar.
Sebagai Mak Comblang-mu, aku merasa sangat bangga."
"Kau masih
mengklaim peran itu?"
"Tentu saja. Ini
adalah kewajibanku untuk membimbing Tanaka-senpai menuju kesuksesan
asmara."
"Jangan menetapkan
misi aneh-aneh untuk dirimu sendiri sembarangan."
Minato menghela napas
panjang, jelas merasa sangat pasrah.
"Kencan sesi tanda
tangan bukunya berjalan lancar?"
"Iya, semuanya
berjalan mulus tanpa hambatan. Acaranya memang pagi-pagi sekali, tapi kami
berhasil melewatinya."
Jika obrolan ini terus
berlanjut, seluruh detail kencan kami kemarin bakal dibongkar habis-habisan di
depan umum. Minato, berhenti bersikap terlalu jujur dan terbuka begitu!
Sangat memalukan membeberkan hal-hal semacam ini pada orang lain. Kutarik
pelan ujung lengan baju Mai-chan.
"Mai-chan, kau tidak
boleh menanyakan hal-hal pribadi sedetail itu..."
"Oh, benar
juga."
Syukurlah Mai-chan
mengangguk setuju, menghentikan rentetan pertanyaannya—untuk saat ini.
"Pertanyaan terakhir,
apa kau punya keluhan atau kekhawatiran tertentu? Mungkin sesuatu tentang
kencan kalian kemarin?"
"Kurasa tidak ada hal
yang mengganggu, tapi ada satu tindakannya yang... agak membingungkan
buatku."
"Tindakan apa itu?
Kalau kau menceritakannya padaku, mungkin aku bisa membantu mencari tahu
alasannya."
"Benar kan?"
Mai-chan menimpali, melirik ke arahku dengan tatapan menyelidik yang penasaran.
Sejujurnya, aku sendiri pun penasaran hal apa yang menurutnya membingungkan.
Seingatku, kemarin aku bersikap sangat normal dan wajar.
Minato menatapku
sekilas sebelum berbalik kembali menatap Mai-chan lalu memulai ceritanya.
"Itu terjadi waktu
kami sedang naik kereta saat perjalanan berangkat."
Perjalanan kereta? Aku
sama sekali tidak punya gambaran apa yang sedang ia bicarakan.
Tunggu—mungkinkah...!?
"Waktu itu aku sedang
menyandarkan kepalaku di pundaknya dan tertidur pulas, tapi selagi aku tidur,
dia terus-menerus mengendus aroma tubuhku. Apa orang-orang memang biasa mengendus orang lain
sebanyak itu?"
"!!"
Tentu saja, hal itulah
yang ia sadari! Kupikir waktu itu aku
melakukannya dengan sangat rahasia dan hati-hati, tapi ternyata dia sudah
bangun dari tadi?! Ini gawat. Benar-benar sangat buruk. Kukira dia tidak akan
menyadarinya, jadi waktu itu aku nekat melakukannya dengan berani, tetapi sekarang
rasanya aku ingin menenggelamkan diri ke dalam tanah saat ini juga.
Aku berusaha sekuat tenaga
mempertahankan ekspresi netral di wajahku, tetapi usahaku sia-sia belaka.
Wajahku terasa makin membara di setiap detik yang berlalu, dan aku bisa
merasakan hawa panas melonjak naik tak terbendung ke kepalaku. Berharap bisa
menyembunyikannya, kusedikit menundukkan kepalaku dan menghindari tatapan mata
mereka berdua.
"Wah, jadi pacarmu
melakukan hal semacam itu ya," ujar Mai-chan, jelas merasa luar biasa
tertarik.
"Waktu aku terbangun
dengan kepala yang masih mengantuk, dia sedang melakukannya tepat di depan
mataku. Itu pemandangan yang cukup mengejutkan."
"Kurasa banyak anak
perempuan yang menyukai aroma tubuh dari orang yang mereka cintai. Bagaimana
menurutmu, Hiiragi-senpai?"
"Eh?"
Padahal aku sudah berusaha
mati-matian untuk tidak bereaksi, tetapi Mai-chan malah melemparkan topik
mematikan itu tepat ke wajahku. Saat mendongak, kulihat Mai-chan dan Minato sedang
kompak menatap lurus ke arahku. Mataku tanpa sengaja bertemu dengan mata Minato, dan aku
lekas membuang pandanganku ke arah lain secepat kilat.
"Persis seperti yang
dikatakan Mai-chan tadi, mungkin dia cuma menyukai aroma tubuh dari orang yang
ia cintai, dan itulah alasan kenapa ia melakukannya."
"Jadi begitu rupanya
ya. Terima kasih penjelasannya, Hiiragi-san."
"Sama-sama. Jangan
dipikirkan."
"Apa itu artinya
Hiiragi-senpai juga menyukai aroma tubuh dari orang yang kau cintai?"
"Yah... iya, kurasa
begitu."
Ditanyai hal semacam itu
secara terang-terangan rasanya sungguh tak tertahankan. Bagaimana bisa aku
menatap wajahnya lagi setelah ini? Aku tidak sanggup lagi memandang wajah
Minato dan memusatkan seluruh sisa energiku hanya untuk mempertahankan ekspresi
datarku.
(Tadinya ini kesempatan
bagus untuk mengorek bagaimana perasaan Minato yang sebenarnya... tapi
belakangan ini, rasanya kok malah aku sendiri yang terus-menerus dibuat salah
tingkah.)
Sembari meratapi bagaimana
segala hal seolah tidak pernah berjalan sesuai rencanaku, kudengarkan dalam
diam selagi Minato menceritakan kembali pemikirannya tentang kencan kami
kemarin.
***
Sudut Pandang Minato
Sekitar sepuluh hari telah
berlalu sejak semester baru dimulai, dan aku akhirnya mulai terbiasa berada di
satu kelas yang sama dengan Saito. Persis seperti yang kuprediksi sebelumnya,
kami hampir tidak pernah mengobrol di dalam kelas.
Meskipun tempat duduk kami
bersebelahan, percakapan kami terbatas hanya dua atau tiga patah kata santai
saja. Tampaknya kami berhasil menjaga rahasia hubungan kami tetap tertutup
rapat tanpa cela.
"Tanaka-san, kau yang
bertugas mengumpulkan tugas Bahasa Jepang kelas kita kan? Bisakah tolong bawa
tumpukan ini ke ruang guru?"
Saito berbicara padaku
saat aku sedang melamun santai membaca buku. Rasanya akhir-akhir ini dialah
yang jauh lebih sering menghampiriku duluan, padahal dia bukan ketua kelas atau
semacamnya.
"Maaf, aku lupa.
Terima kasih sudah mengingatkanku."
"Sama-sama. Bukan
masalah."
Ia menyerahkan tumpukan
lembar tugas sekelas itu ke tanganku dan, untuk sepersekian detik, ia melirik
ke arahku. Ekspresi wajahnya sedikit melunak, dan sudut bibirnya terangkat
membentuk senyuman kecil yang begitu samar, sangat halus hingga mustahil disadari
oleh murid-murid lain di kelas.
Setelah menyelesaikan
tugasnya, ia lekas melangkah kembali menghampiri teman-temannya. Rambutnya
terayun ringan seiring langkah kakinya yang menjauh.
(Hah... sebaiknya aku
lekas berangkat.)
Ruang guru terletak di
ujung gedung sekolah yang baru—letaknya cukup jauh. Aku sebenarnya enggan
membawa tumpukan kertas tebal ini atau mengorbankan waktu membacaku yang
berharga, tetapi ini adalah tugas yang memang harus kuselesaikan. Sembari
menghela napas pasrah, aku bangkit berdiri dan melangkah keluar meninggalkan
ruang kelas.
"Minato, kau mau ke
ruang guru ya?"
Suara Kazuki memanggil
dari belakangku. Padahal beberapa detik yang lalu dia masih asyik mengobrol
dengan murid-murid dari kelas sebelah. Bagaimana bisa dia menyadari aku sedang
berjalan keluar?
"Aku harus
menyerahkan tugas Bahasa Jepang kelas kita."
"Pas sekali! Aku juga
ada urusan di sana. Ayo kita jalan bareng."
"Kau pasti bakal
tetap ikut sekalipun aku menolaknya, kan?"
"Kau memang
paling mengenalku luar dalam."
Sayangnya, setelah
lebih dari dua tahun menghadapi kelakuan Kazuki, aku sudah bisa membaca
gelagatnya dari jarak bermil-mil jauhnya. Tidak ada gunanya mencoba menolak
keberadaannya. Pasrah, aku mulai melangkah menyusuri lorong menuju ruang guru.
"Urusan apa yang kau
punya di sana?" tanyaku.
"Soal rencana masa
depanku setelah lulus. Guru BK menyuruhku datang saat jam makan siang atau
sepulang sekolah untuk mendiskusikannya."
"Begitu ya. Jadi
kau berencana lanjut ke universitas?"
"Tentu saja. Aku
mengincar jalur undangan prestasi (rekomendasi)."
"Lancar seperti biasa
ya."
"Anggap saja ini buah
manis dari kerja keras selama tiga tahun."
Meskipun Saito dikenal
luas berkat prestasinya yang luar biasa di bidang akademik, Kazuki sebenarnya
sama sekali bukan murid yang bodoh. Untuk orang dengan penampilan semenarik
dirinya, kemampuan akademiknya yang bagus itu terasa hampir tidak adil.
"Kau populer di
kalangan perempuan dan pintar belajar. Kau membuat orang-orang seperti kami
terlihat menyedihkan."
"Itu alasan yang aneh
sekali untuk merasa kesal."
Kazuki melontarkan tawa
kecil.
"Tapi tetap saja, aku
bukan siapa-siapa jika dibandingkan dengan sosok Saito-san."
"Oh, Rena."
"Eh? Tunggu, apa
katamu?"
"Apa?"
"Tadi kau baru saja
memanggil Saito-san dengan nama depannya!?"
"Ah."
Aku benar-benar lengah
di dekat Kazuki. Sekarang setelah kupikir-pikir lagi, aku memang belum sempat
menceritakan padanya soal perubahan panggilan kami berdua. Dia seketika
memangkas jarak di antara kami, wajahnya dipenuhi binar antusiasme yang
meluap-luap.
"Terlalu dekat.
Mundur sana."
"Ini berita
besar! Pendengaranku tidak salah kan barusan?"
"…Kau benar. Aku
sudah mulai memanggilnya begitu sejak beberapa waktu lalu."
"Kenapa kau tidak memberitahuku lebih
awal!?"
"Karena aku sudah
tahu kau pasti bakal bereaksi heboh seperti ini. Dan, yah... sejujurnya aku
cuma lupa saja."
"Jahat sekali
bicaramu. Kau ini menganggapku teman macam apa sih sebenarnya? Kita ini kan
sahabat karib sejati, Minato."
Kazuki secara berlebihan
menjatuhkan bahunya, berpura-pura tampak putus asa dan terluka. Rasa bersalah
apa pun yang sempat kurasakan seketika menguap tak berbekas.
"Terserahlah.
Bersyukurlah kau bisa mengetahuinya sekarang."
"Setidaknya kau harus
memberitahuku sehari setelah hal itu terjadi. Itu praktis sudah menjadi
kewajiban warga negara yang mutlak."
"Kalau hal sekonyol
itu dijadikan undang-undang resmi, seluruh penduduk negeri ini pasti bakal
langsung kabur melarikan diri ke luar negeri."
Kazuki terus melontarkan
ocehan-ocehan konyol sampai-sampai aku berhenti menanggapinya dengan serius.
Kuputuskan untuk mengabaikannya dan membiarkan ocehannya hanya menjadi suara
latar belakang saja di telingaku.
Kami akhirnya tiba di
depan ruang guru. Perjalanan kaki ke mari terasa sangat panjang dan melelahkan,
terutama bagi orang sepertiku yang jarang sekali berolahraga fisik. Dan membayangkan harus
berjalan menempuh jarak yang sama jauhnya untuk kembali ke kelas terasa sangat
menyiksa mental.
"Ruang guru letaknya
terlalu jauh."
"Iya, ini pertama
kalinya aku ke sini, tapi memang melelahkan sekali."
"Kakiku rasanya sudah
mau copot."
"Itu tanda pasti
kalau kau butuh lebih banyak latihan fisik. Latihan kekuatan otot itu sangat
penting, tahu."
"Aku membawa
buku-buku tebal setiap hari di dalam tasku. Itu seharusnya sudah dihitung
sebagai latihan kekuatan otot."
"Membawa buku tidak
dihitung latihan otot, Minato."
Kazuki menghela napas
pasrah, tetapi menurutku sangkalannya barusan sangat tidak adil. Buku-buku
bersampul tebal (hardcover) itu sangat berat, dan memegangnya sembari
berbaring membaca buku sama sekali bukan perkara main-main.
"Ugh. Aku malas
sekali berjalan kaki balik ke kelas."
"Lalu kau mau kembali
pakai apa kalau begitu?"
"Coba
kupikir..."
Secara realistis memang
tidak ada opsi lain. Mengendarai sepeda di dalam koridor gedung sekolah jelas
dilarang keras.
"Bagaimana kalau
pakai Taksi Kazuki?"
"Taksi Kazuki?"
"Iya. Aku naik di
punggungmu, lalu kau menggendongku sampai ke kelas. Rencana yang sangat
sempurna."
"Sama sekali tidak
sempurna!"
Dia langsung menolak
mentah-mentah ideku saat itu juga. Padahal kupikir itu ide yang sangat
cemerlang—memangnya apa yang salah dengan rencana itu?
"Apa
masalahnya?"
"Semuanya bermasalah.
Membayangkanmu naik di punggungku itu sangat konyol, dan itu cuma bakal membuat
rasa lelahku bertambah dua kali lipat."
"Bukannya tadi kau
sendiri yang bilang kalau latihan otot itu penting? Aku kan cuma sedang
membantumu mewujudkannya."
"Kaulah yang
butuh latihan fisik, bukan aku."
Tampaknya rencanaku
gagal total. Pasrah menerima kenyataan bahwa aku harus berjalan kaki sendiri,
kujatuhkan pundakku dengan kecewa. Tepat pada saat itu, seorang siswi melangkah
keluar dari dalam ruang guru.
"!"
Aku sama sekali tidak
mengantisipasi pertemuan ini. Gadis itu memiliki rambut cokelat keabuan pendek
yang lincah dan perawakan mungil yang memancarkan energi meluap-luap. Itu
adalah Mai.
(Apa yang dilakukannya di
sini?)
Apa yang sebenarnya sedang
terjadi di sini? Jawabannya sebenarnya sudah sangat jelas jika kupikirkan
baik-baik, tetapi itu adalah kenyataan yang enggan kuakui. Berada di satu
sekolah yang sama selama satu tahun penuh ke depan... itu bakal menjadi mimpi buruk
yang nyata.
Satu-satunya penyelamatku
adalah fakta bahwa penampilanku saat di tempat kerja paruh waktu sangat berbeda
jauh dibanding penampilanku yang sekarang saat di sekolah. Dia kemungkinan
besar tidak akan mengenaliku. Tolonglah, biarkan aku lewat begitu saja tanpa
terjadi apa-apa... atau setidaknya begitulah yang kuharapkan.
"Tunggu,
mungkinkah... Tanaka-senpai?"
Tepat saat kami hendak
berpapasan, Mai menyipitkan matanya menatapku sebelum ekspresi wajahnya
melunak, dan matanya seketika membelalak lebar.
"Kau salah
orang."
"Tidak, tidak, kau
tak salah lagi pasti Tanaka-senpai. Jangan kira kau bisa membodohiku ya."
Ia mencondongkan tubuhnya
mendekat, meneliti wajahku dari sisi kanan lalu sisi kiri, memeriksa berulang
kali untuk memastikan dugaannya.
"Ada apa dengan
penampilanmu ini? Kau kelihatan sangat berbeda sekali dari biasanya!"
"…Pihak sekolah kan
secara teknis melarang muridnya bekerja paruh waktu, jadi ini cuma bentuk
tindakan pencegahan saja."
"Cuma karena alasan
itu? Kau sampai rela menyamar segitunya demi hal sepele begitu? Itu lucu
banget!"
Ia tertawa terbahak-bahak
tanpa henti, bahunya berguncang hebat selagi ia terus terkikik geli. Dia
benar-benar Mai yang sama persis seperti di tempat kerja—sama sekali tidak ada
yang berubah.
"Hal itu tidak selucu
itu sampai harus ditertawakan begitu."
"Bukan, ini sungguhan
sangat lucu! Kau kelihatan persis seperti orang yang sama sekali berbeda
tahu!"
"Lalu bagaimana bisa
kau mengenaliku?"
"Cuma firasat saja.
Awalnya aku memang tidak yakin, tapi reaksimu waktu kupanggil tadi langsung
membocorkan semuanya. Padahal tadi aku sempat gugup kalau-kalau tebakanku salah
lho."
"Harusnya kau pulang
saja tanpa perlu memperhatikanku."
Itulah yang
sungguh-sungguh kuharapkan dari lubuk hatiku yang terdalam. Tak diragukan lagi
dia pasti bakal menjahiliku habis-habisan soal masalah ini untuk beberapa waktu
ke depan.
"Wah, wah. Mari kita
berteman akrab di sekolah juga ya, Senpai."
Mai tersenyum jahil,
mendongak menatapku dengan kilatan binar keisengan di matanya. Tolong,
ampuni aku...
"Aku tidak
menyangka Minato punya kenalan siswi perempuan," celetuk Kazuki menyela
obrolan kami. Suaranya tampaknya menyadarkan Mai akan keberadaan sosoknya yang
berdiri tepat di sampingku. Gadis itu menoleh menatap ke arahnya, matanya
seketika membelalak lebar karena terkejut.
"Tunggu...
Ichinose-senpai?"
"Eh?"
Mungkinkah mereka
berdua saling mengenal? Kazuki menatapnya heran sembari memiringkan kepalanya
bingung. Kemudian, saat sebuah kesadaran akhirnya merasuk ke dalam benaknya,
alisnya perlahan bertaut turun, dan sebuah bayangan muram tampak menyelimuti
wajahnya. Atmosfer di sekitar
kami mendadak terasa jauh lebih berat dan tegang.
Kazuki dengan
ragu-ragu membuka mulutnya perlahan.
"Apa kau ini...
Mai-chan?"
"Iya. Sudah lama
sekali tidak bertemu ya, Senpai?"
Setelah saling bertukar
beberapa patah kata singkat itu, keheningan total seketika menyelimuti kami
bertiga. Sungguh pemandangan yang sangat janggal menyaksikan dua orang yang
biasanya selalu sangat banyak bicara ini mendadak terdiam membisu seribu bahasa.
Kazuki menggigit bibir bawahnya sejenak sebelum akhirnya memaksakan senyum kaku
yang tampak begitu canggung di wajahnya.
"…Kau sudah berubah
banyak sekali ya. Aku sama sekali tidak mengenalimu tadi."
"Sudah dua tahun
berlalu sejak kau lulus SMP, Senpai. Tentu saja penampilanku sudah banyak
berubah."
"Ternyata sudah dua
tahun berlalu ya."
"Iya, tepat dua
tahun."
Mereka berdua memang
saling berbicara, tetapi percakapan mereka terasa begitu kaku, canggung, dan
sarat akan jarak yang dingin. Bahkan orang sepertiku pun bisa merasakan dengan
sangat jelas bahwa ada sesuatu yang tidak beres di antara mereka berdua di masa
lalu.
"Apa kabarmu
baik-baik saja sejak saat itu?"
"Berkat bantuanmu
dulu, keadaanku sudah membaik setelah itu. Kabarku baik-baik saja."
"Syukurlah... kalau
begitu."
"Sudah waktunya aku
harus pergi. Permisi dulu."
"…Iya, sampai
jumpa."
Kazuki memandangi punggung
Mai yang melangkah menjauh dengan tatapan yang begitu lekat dan intens.


Post a Comment