Chapter 7
Kencan Ganda
Hari Sabtu akhirnya
tiba. Hari itu menyambut kami dengan langit biru tanpa cela, tanpa ada satu pun
awan yang menutupi, serta tanpa hembusan angin—hari yang sempurna untuk pergi
berlibur. Sinar mataharinya sedikit terik bagi orang sepertiku yang lebih suka
berdiam diri di dalam ruangan, tetapi masih cukup bersahabat untuk dinikmati.
Kami berencana untuk
berkumpul langsung di taman bermain, tetapi sebelum itu, aku terlebih dahulu
menuju stasiun terdekat bersama Kazuki. Agar bisa tiba tepat waktu saat taman bermain baru
dibuka, kami harus menaiki kereta pertama hari itu.
Saat pertama kali
mendengarnya, aku sempat terkejut—kukira aku salah dengar. Namun, tak peduli
berapa kali pun kuperjelas pada Saito, jawabannya tetap sama: kami harus naik
kereta pertama. Setelah cukup sering kuprotes, dia akhirnya mulai
mengabaikanku.
Karena saat itu masih
sebelum kereta pertama diberangkatkan, area di sekitar stasiun terasa sepi
mencekam. Hanya segelintir orang
yang terlihat berjalan menuju stasiun di plaza yang lengang itu. Sambil
berjalan, aku melihat sosok seorang cowok berwajah sangat tampan sedang
bersandar santai di tembok.
"Oh, Minato.
Pagi."
"Pagi. Kau datang
awal sekali rupanya."
"Aku tidak bisa
tidur karena gugup dan akhirnya malah bangun jam empat tadi."
"Bahkan kau pun bisa
gugup juga?"
"Aku sendiri juga
terkejut. Tapi ya, kali ini aku benar-benar tegang—sudah lama sekali,
kan."
"Yah, mereka kan
bilang mau meluruskan masalahnya, jadi kurasa semuanya bakal baik-baik
saja."
"Gampang sekali ya
bicara begitu karena bukan masalahmu."
"Memang bukan
masalahku, sih."
Aku memang mengatur
rencana ini untuk membantu Kazuki, tetapi mulai dari sini, semuanya terserah
padanya untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Tentu saja aku akan
memberikan dukungan, tapi jangan harap asisten amatiran ini bisa diandalkan
terlalu berlebihan.
"Minato, hari ini kau
tidak berpakaian selayaknya mau berkencan, ya?"
"Aku kan bukan
bintang utamanya. Lagipula, tidur jauh lebih penting daripada sibuk memilih
pakaian."
"Bukannya itu
juga sengaja supaya tidak mencolok?"
"Entahlah."
Aku sempat ragu-ragu
untuk berdandan rapi, tetapi mataku menolak bekerja sama sepagi itu, dan aku
bahkan tidak sanggup memasang lensa kontakku, jadi kuputuskan untuk menyerah.
***
Kami melewati gerbang
tiket dan menuruni tangga menuju peron, tempat beberapa orang sudah menunggu
tersebar. Tak lama kemudian, kereta yang dinanti pun tiba, dan kami langsung
naik ke dalam.
"Hei, aku sudah
bertanya pada Rena berkali-kali, tapi apa benar-benar harus naik kereta sepagi
ini?"
"Bukan berarti
wajib, tapi kalau tidak begitu, kita tidak akan sempat tiba pas saat gerbangnya
dibuka."
"Apa separah itu
kalau kita sampai setelah gerbangnya dibuka?"
"Yah, Saito
sepertinya tipe orang yang menikmati segala sesuatu dari awal sampai akhir,
semacam penggemar fanatik. Mungkin karena itulah alasannya."
Begitu mendengarnya
disebut "penggemar fanatik", semuanya langsung masuk akal. Saito
adalah tipe orang yang mendedikasikan dirinya sepenuhnya dengan antusiasme
penuh. Besar kemungkinan dia ingin memaksimalkan seluruh pengalamannya.
(Saito hari ini sepertinya
bakal agak berlebihan…)
Aku bergidik ngeri
membayangkan kalau-kalau dia nanti bertindak berlebihan dan mengabaikan dua
orang yang sedang kami coba bantu.
Perjalanan kereta
berlangsung mulus tanpa perlu transit, sehingga perjalanan terasa sangat
santai. Aku nyaris tertidur di sepanjang perjalanan, tetapi berhasil turun di
stasiun yang tepat.
'Kami menunggu di pintu
keluar Timur di dekat gerbang tiket.'
Pesan singkat itu menuntun
kami menuju pintu keluar Timur. Menemukan mereka bukanlah hal yang
sulit—Mai-chan dan Saito langsung mencuri perhatian karena penampilan mereka.
"Selamat pagi,
Minato-kun, Ichinose-san!"
"Ah, pagi. Tetap
bersemangat seperti biasa, kulihat."
"Hari ini kan ke
taman bermain! Kita harus memanfaatkan waktu kita sebaik-baiknya!"
Ekspresi Saito yang
berbinar-binar sama sekali tidak mencerminkan orang yang baru bangun pagi. Eh,
apa kau lupa apa tujuan utama kita ke sini? Aku mencondongkan badan mendekati
telinganya.
"Kau tidak lupa
tujuan utama kita hari ini, kan?"
"T-tentu saja tidak!
Tujuan utamanya adalah membantu Mai-chan dan Ichinose-san memperbaiki hubungan
mereka."
Dia sempat terbata-bata.
Aku sama sekali tidak merasa tenang. Memandangi mereka berdua, kulihat mereka
berdiri berjauhan dengan canggung, ada jarak tipis yang tercipta di antara
mereka.
"Sudah lama sekali ya
sejak terakhir kali kita mengobrol?"
"Iya. Maaf ya waktu
itu aku tidak bisa banyak bicara."
Mereka begitu kaku
sampai-sampai terasa mengesankan. Bagaimana mungkin sebuah percakapan bisa
begitu canggung?
"Apa ini kunjungan
pertamamu ke sini?"
"Seingatku, terakhir
kali aku ke sini bersama Ichinose-senpai."
"Ah, iya, sama
sepertiku juga."
Gawat. Aku justru
memperkeruh keadaan dengan mengungkit jalan-jalan masa lalu mereka. Jelas-jelas
awal yang sangat buruk. Aku berbisik pada Saito.
"Hei, sekarang
bagaimana? Bukankah aturan dasarnya adalah memilih tempat yang belum pernah
dikunjungi keduanya untuk menghindari situasi canggung ini?"
"Mana kutahu? Ini
tempat paling terkenal di area ini—bukan kejutan kalau mereka pernah ke sini.
Serahkan saja padaku. Aku yang akan mengurusnya."
"Baiklah."
Saito berbicara dengan
penuh percaya diri, jadi kuputuskan untuk memercayainya untuk saat ini. Ia memimpin di depan,
dengan Mai-chan berjalan di sampingnya. Kazuki dan aku mengekor di belakang
mereka berdua, berjalan berdampingan. Saito tampak begitu gembira, mengobrol
dengan sangat antusias bersama Mai-chan sepanjang jalan.
Ketika kami tiba di
gerbang masuk taman bermain, antrean panjang pengunjung sudah mengular menunggu
dibuka. Kami bergabung di ujung antrean paling belakang.
"Waktu kita
tersisa sekitar empat puluh menit. Ichinose-san,
apa jenis wahana favoritmu?"
"Kurasa wahana jatuh bebas (free-fall)."
Wahana jatuh bebas adalah jenis wahana di mana
kita dibawa ke puncak menara tinggi lalu dijatuhkan langsung ke bawah—perpaduan
unik antara sensasi melayang dan memacu adrenalin.
Mata Mai-chan menyipit
penuh nostalgia saat mendengar jawabannya.
"Sampai sekarang kau
masih suka wahana itu, ya?"
"Dua tahun belum
cukup lama untuk mengubah hobi."
Percakapan itu masih
terasa canggung, tetapi setidaknya mereka sudah saling bicara. Tepat saat aku
berharap lebih, percakapan itu mendadak terhenti begitu saja. Saito langsung
turun tangan.
"Ada kejadian apa
dengan wahana jatuh bebas di masa lalu?"
"Aku selalu
menyukainya, tapi Mai-chan ketakutan setengah mati dan menolak naik."
"Tentu saja!
Bagaimana kalau wahana-nya patah dan kita jatuh!?"
Ekspresi sungguh-sungguh
Mai-chan hampir membuatku tertawa. Khawatir macam apa itu sebenarnya? Kazuki
pun ikut menghela napas pasrah.
"Meskipun sudah
kubilang berkali-kali kalau wahana-nya aman, dia tetap saja tidak mau percaya.
Pada akhirnya, kami tidak pernah jadi naik berdua."
"Kalau begitu, mari
kita ubah itu hari ini. Mai-chan, kau harus naik wahana itu bersamanya."
"Tidak mau!"
Mai-chan menggelengkan
kepalanya keras-keras menolak usulan Saito. Reaksi itu sudah bisa ditebak.
Namun, setelah Saito
membisikkan sesuatu kepadanya, sikap Mai-chan seketika berubah.
"Baiklah. Aku akan
naik dengannya."
Apa yang dibisikkan Saito
kepadanya? Bisa membuat Mai-chan mengubah keputusannya semudah itu—sungguh
menakutkan. Namun, wajah Kazuki langsung berseri-seri seketika.
"Benarkah? Kau
mau?"
"Iya, tapi cuma kali
ini saja, Ichinose-senpai."
"Tentu saja."
Wah. Perkembangannya
tampak cukup bagus. Apakah ini memang rencana Saito sejak awal? Jika iya,
kemampuannya benar-benar luar biasa menakutkan.
Aku sempat meragukannya
dan mengira dia hanya ingin bersenang-senang, tetapi ia berhasil membuktikan
dugaanku salah.
***
Sambil menunggu gerbang
dibuka, dukungan penuh perhitungan dari Saito tampak perlahan memangkas jarak
di antara mereka berdua. Dari apa yang kulihat, kemajuan yang pasti sedang
terjadi.
"Taman bermain
sekarang resmi dibuka."
Seiring pengumuman itu ,
barisan antrean mulai bergerak. Setelah menunggu sebentar untuk pemeriksaan
tas, akhirnya giliran kami tiba. Tepat saat kami melangkah masuk menggunakan
tiket masing-masing, kurasakan tarikan mendadak di lenganku.
"Hah!?"
"Minato-kun, lewat
sini."
Sebelum sempat kusadari,
Saito sudah menyelinap ke belakang punggungku. Apa dia semacam ninja? Ia
mencengkeram tanganku lalu menarikku menuju bayang-bayang dinding bangunan di
dekat pintu masuk.
"Ada apa, Rena?"
"Kecilkan
suaramu."
Saito mengintip dari
balik bayangan tembok, mengamati sesuatu dengan lekat. Aku mengikuti arah
pandangannya, ikut berjongkok di sampingnya untuk melihat apa yang sedang ia
perhatikan.
Di arah yang ia
fokuskan, kulihat Kazuki dan Mai-chan sedang berdiri kebingungan menengok ke
sana kemari.
"Hei, mereka sedang
mencari kita. Apa kita harus menghampiri mereka?"
"Jangan bilang
hal konyol begitu. Kita tinggalkan saja
mereka berdua."
"Hah?"
Apa yang sedang ia
bicarakan? Kalaupun kami berniat membiarkan mereka pergi berdua saja, kupikir
itu akan dilakukan nanti setelah suasana mulai mencair. Meninggalkan mereka
begitu saja tepat setelah masuk gerbang sama sekali bukan bagian dari rencana
awal.
"Aku menyadari
sesuatu dari percakapan mereka tadi. Kalau mereka cuma mengobrol biasa, mereka
pasti bakal cepat akur kembali. Masalahnya adalah mereka berdua terlalu
berhati-hati."
"Yah, benar juga.
Mereka berdua kelihatan sama-sama ingin akur lagi."
"Kalau begitu, kita
paksa mereka untuk bicara. Kalau aku terus turun tangan menengahi setiap hal
kecil, kita tidak akan pernah maju ke mana-mana. Aku tidak punya kesabaran
untuk itu."
"Oh, uh…
baiklah."
Ketegasan Saito sungguh di
luar dugaan. Aku juga merasakan kecanggungan dalam percakapan mereka tadi,
tetapi kupikir kami cukup mengawasi dan membiarkan semuanya berjalan secara
alami saja. Dia ternyata sama sekali tidak punya niat seperti itu.
Kedua orang itu terus
memindai area sekitar, tetapi tak lama kemudian Kazuki mengeluarkan ponselnya
lalu mulai mengetik sesuatu. Beberapa detik kemudian, ponselku bergetar pelan.
Kucek layarnya dan mendapati sebuah pesan masuk.
"Apa kata
mereka?"
"'Kalian di
mana?'"
"Balas dengan,
'Kalian pasti bisa! Semangat ya.' Mai-chan baru saja mengirimiku pesan serupa,
jadi aku akan membalasnya dengan pesan yang sama."
"Paham."
Mengikuti instruksinya,
kuirimkan pesan tersebut. Beberapa detik kemudian, sebuah stiker emoji menangis
mendarat sebagai balasan.
'Sumpah ya, kalian berdua.
Memangnya kami berdua mau ngobrol apa kalau cuma berduaan saja?'
Aku bisa merasakan
kepanikan Kazuki merembes lewat layar ponsel, tetapi tidak ada yang bisa
kulakukan. Metode ibu guru Saito memang terkenal keras. Kubalas pesannya dengan
singkat, 'Kalian pasti bisa. Semangat.'
"Sudah selesai?"
"Iya. Aku baru saja
mengirim pesan, 'Semangat ya.'"
"Sempurna. Mai-chan
juga mengirimiku pesan merengek ingin menangis, tapi kusemangati agar dia tetap
bertahan."
Aku tidak bisa melihat
ekspresi wajah mereka dari jarak sejauh ini, tetapi aku bisa merasakan tingkat
kecemasan mereka yang kian melonjak.
"Oh, mereka mulai
bergerak."
Setelah berdiri terpaku
selama beberapa menit, tampaknya mereka akhirnya pasrah menerima keadaan.
Kazuki mengatakan sesuatu kepada Mai-chan, yang langsung dibalas dengan
anggukan mantap.
"Nah, bagaimana kalau
kita ikuti mereka?"
"Tunggu, kita
menguntit mereka?"
"Tentu saja. Kita
harus memastikan apakah mereka benar-benar sudah mulai akur."
"Oh… benar
juga."
Di luar dugaan, Saito
ternyata cukup teliti untuk memastikan segalanya berjalan tuntas. Kami
menguntit pasangan itu secara diam-diam dari jarak aman.
"Ini agak
menegangkan juga ya. Rasanya seperti jadi agen
rahasia (spy)."
"Aku belum pernah
melakukan hal semacam menguntit sebelumnya."
"Aku juga
belum."
Meskipun mengaku belum
berpengalaman, gerak-geriknya terasa sangat mahir. Ia menjaga jarak dengan
sempurna, memastikan kami tidak kehilangan jejak mereka.
"Bagaimana pendapatmu
tentang 'kencan penguntit' ini sejauh ini?"
"Mungkin ini
pengalaman yang tidak akan pernah dirasakan sebagian besar orang seumur hidup
mereka."
"Nah, kalau
begitu ini pengalaman yang langka. Sama-sama."
"…Iya."
Aku tidak bisa
menyebut kegiatan ini sebagai sebuah "hadiah", tetapi menghabiskan
waktu bersama Saito tetap menyenangkan dengan caranya sendiri.
Melihatnya begitu
bersemangat memberikan keseruan tersendiri yang aneh—meskipun alasannya karena
sedang menguntit orang lain.
Tampaknya pasangan itu
memutuskan untuk mencoba wahana permainan menembak (shooting game),
terlihat dari antrean tempat mereka bergabung sekarang.
"Kita tidak ikut
mengantre juga?"
"Tidak perlu.
Kalau kita ikut naik, nanti kita malah bakal memperlambat rencana karena waktu selesainya
kita tidak sinkron dengan mereka. Mari kita amati saja dulu dari sini. Lagipula,
kelihatannya percakapan mereka berjalan dengan lancar."
"Masuk akal
juga."
Mereka sudah sempat
mengobrol dalam perjalanan ke sini tadi, dan bahkan kulihat beberapa kali
senyuman terukir di wajah mereka. Segalanya tampak berkembang ke arah yang
positif.
"Mengejutkan sekali
betapa segalanya bisa berjalan begitu mulus kalau mereka dibiarkan berduaan
saja."
"Yah, mereka berdua sebenarnya sudah
saling memendam perasaan. Mereka cuma menahan diri saja. Begitu terpaksa harus
berinteraksi, secara alami mereka jadi mulai mengobrol."
Analisis Saito sangat
tepat sasaran. Aku merasa kagum—hari ini dia terlihat begitu bisa diandalkan.
"Kau benar-benar luar
biasa hari ini, Rena."
"Fufufu. Oh, ya?
Silakan kalau mau jatuh cinta padaku."
Ia membusungkan dadanya
bangga. Ekspresinya yang sedikit tersipu menambah daya pikatnya.
"Jadi, apa rencana
berikutnya?"
"Yah, kalau
memperkirakan waktu tunggunya, kita punya waktu sekitar satu jam sebelum mereka
selesai. Mari kita jelajahi taman bermain ini sebentar. Pertama-tama, ayo kita
pergi membeli bando."
"Bando?"
"Lihat ke arah
sana."
Ia menunjuk ke arah
sepasang pengunjung yang mengenakan bando berbentuk telinga yang terkulai (droopy
ears).
"Taman bermain
ini punya banyak sekali cenderamata bertema karakter-karakter di sini. Aku yakin kita bisa
menemukan satu yang paling cocok untukmu, Minato-kun."
"Ah, jadi itu alasan
kenapa banyak orang memakai benda-benda aneh di kepala mereka."
"Tolong jangan
sebut benda-benda itu sebagai 'benda aneh'."
Tatapan tajam Saito
memperjelas bahwa pilihan kataku kurang tepat.
"Baiklah, baiklah.
Ayo kita lihat-lihat bando itu."
"Benar. Ikuti
aku."
Saito meraih tanganku dan
memimpin jalan. Sebelum kusadari, bergandengan tangan kini terasa begitu alami.
Kurasa aku sudah mulai terbiasa.
Toko bando itu ukurannya
luar biasa besar, dengan dinding yang dipenuhi oleh tak terhitung banyaknya
pilihan model.
"Tempat ini besar
sekali."
"Aku membawamu ke
toko yang paling besar di sini. Masih ada beberapa toko yang lebih kecil yang
tersebar di area lain."
Variasinya benar-benar
luar biasa banyak. Ada model telinga terkulai, telinga tegak lurus, bahkan ada
bando dengan boneka karakter yang duduk manis tepat di atas kepala.
"Kurasa model telinga
terkulai ini paling cocok untukmu."
Saito menyerahkan sepasang
bando kepadaku. Mencobanya ternyata jauh lebih sulit dari yang kubayangkan.
"Apa yang kau lakukan?
Sini, biarkan aku."
Ia mengambil bando itu
dari tanganku lalu secara alami memasangkannya di kepalaku. Sensasi jemarinya
yang menyentuh rambutku membuatku merasa sedikit salah tingkah.
"Nah. Selesai."
Hanya butuh waktu sedetik
baginya untuk menyesuaikannya. Bercermin di kaca, kupikir model itu memang
cukup cocok—tetapi aku tetap merasa ragu. Wajah Saito berseri-seri saat
menatapku.
"Sempurna! Kau
kelihatan hebat sekali!"
"Oh, uh… terima
kasih."
"Yups. Penampilan
rambut sedikit berantakan itu justru membuatnya kelihatan makin keren. Penemuan
baru!"
Sebelum aku sempat
merespons, ia mengeluarkan ponselnya dan mulai menjepret foto dengan cepat.
Yah, kalau dia menyukainya, maka kurasa itu tidak masalah.
Setelah semenit sesi
pemotretan mendadak usai, Saito akhirnya tampak puas. Wajahnya bersinar cerah,
dipenuhi kebahagiaan.
"Fufufu, aku berhasil
mengabadikan sesuatu yang luar biasa. Ini bakal jadi pusaka keluarga."
"Memangnya sepenting
itu?"
"Tentu saja! Ini
praktis foto mukjizat! Aku bahkan mungkin akan meletakkannya berdampingan
dengan patung kucing di kamarku lalu menyembahnya bersama-sama."
"Tolong, jangan
lakukan hal gila itu."
Sejujurnya, hal ini mulai
terasa agak meresahkan dalam berbagai aspek. Meskipun aku senang foto semacam
itu bisa memberinya kebahagiaan sebesar itu, aku tidak pernah tahu bahwa
antusiasme yang ekstrem bisa terasa begitu meresahkan.
"Nanti akan
kutunjukkan lebih banyak lagi. Untuk sekarang, mari kita pilihkan sesuatu untuk
Rena."
"Kalau begitu,
bisakah kau yang memilihkan untukku, Minato-kun?"
"A-aku?"
Permintaan tak terduga itu
membuatku terbata-bata. Aku melirik ke arah Saito, tetapi ia hanya mengangguk
penuh harap, matanya berbinar memancarkan antisipasi.
"Baiklah, tapi jangan
protes ya kalau hasilnya ternyata aneh."
"Aku tidak akan
protes. Kalau jelek pun, aku akan tetap menikmatinya apa adanya."
"Baiklah kalau
begitu..."
Dengan enggan, aku
menyetujuinya. Aku tidak pernah
pandai memilihkan barang untuk orang lain. Pengalamanku minim dan seleraku
payah—aku sadar betul akan hal itu.
(Tapi, kalau itu bisa
membuat Saito bahagia, maka semuanya sepadan.)
Selagi aku dengan
sungguh-sungguh memeriksa semua pilihan yang ada, kurasakan tarikan lembut di
lengan bajuku.
"Tolong pilihkan
sesuatu yang ingin kau lihat aku memakainya."
"Ah, kalau
begitu..."
Hal itu membuat pilihannya
jadi jauh lebih mudah. Jika tujuannya cuma memilihkan sesuatu yang kusukai, aku
bisa mengatasinya. Setelah mengamati semua opsi dengan cermat, kupilih model
yang paling menarik perhatianku.
"Yang ini."
"Ini… bando
telinga kucing?"
"Iya."
Aku selalu menganggap
Saito mirip dengan kucing, jadi aku tanpa sadar tertarik padanya.
Meskipun sebelumnya
aku pernah memintanya menirukan gestur kucing dengan tangannya, ini adalah kali
pertama kami mencoba bando telinga kucing sungguhan. Tidak diragukan lagi,
aksesori itu pasti akan sangat cocok untuknya.
Saito dengan cekatan
merapikan tatanan rambutnya lalu mengenakan bando tersebut.
"Wah! Hebat
sekali. Kelihatan manis
banget!"
"B-benarkah?"
Sembari merona merah
tipis, Saito memberikan senyuman malu-malu, mendongak menatapku. Dia terlihat
luar biasa ilahi.
Telinga kucing itu berpadu
sempurna dengan tatanan rambutnya, menciptakan keselarasan yang tanpa cela.
Saito yang biasanya memang
sudah manis kini keimutannya berlipat ganda berkat aksesori yang hampir terasa
berbahaya ini. Aku tak tahan untuk
tidak mengangguk berulang kali mengiyakan.
"Sempurna. Kau
biasanya memang sudah imut, tapi sekarang, kau jadi jauh lebih imut di luar
batas wajar."
"O-oke, aku
paham. Tolong berhenti mengatakan 'imut' sebanyak itu."
"Tapi
kenyataannya memang begitu. Hal-hal yang imut memang sudah sepatutnya dipuji
imut."
Aku tidak bisa
berhenti meresapi rasa terima kasihku secara diam-diam kepada penemu bando
telinga kucing. Sungguh sebuah ciptaan yang maharaya. Tepuk tangan dalam hatiku
tak kunjung surut.
"Aku tidak
menyangka kau bakal menyukainya separah ini."
"Tidak, serius,
bando ini sangat cocok untukmu—aku tidak bisa menahannya."
"Kalau begitu, kita
ambil yang ini saja."
Kami membayar bando
telinga kucing itu lalu melangkah keluar toko. Meskipun baru sekitar lima belas
menit berlalu, waktu itu terasa begitu memuaskan.
"Ayo kita jalan-jalan
santai sebentar."
Saito menoleh menatapku,
telinga kucing di kepalanya ikut bergoyang kecil. Keimutannya benar-benar di
luar nalar. Menahan dorongan kuat untuk terus memandangnya, aku mengangguk
mantap.
Area taman bermain itu
sangat semarak, dipenuhi oleh pengunjung yang ceria. Setiap orang yang
berpapasan dengan kami tampak berseri-seri memancarkan kebahagiaan.
"Fufufu, seru sekali
ya."
"Kita kan cuma
berjalan kaki saja, tahu."
"Justru karena itulah
rasanya menyenangkan, bukan?"
Wajah Saito melunak
membentuk senyuman damai, matanya menyipit lembut. Kebahagiaannya itu sangat
menular. Saat kuremas pelan tangannya yang menggenggam longgar tanganku, ia
membalasnya dengan genggaman yang mantap, mengirimkan kehangatan lembut ke
seluruh tubuhku.
"Oh, mereka sedang menjual popcorn. Popcorn karamel di
sini rasanya terkenal enak sekali."
"Aku belum pernah
makan popcorn karamel seumur hidupku."
"Hidup macam apa
itu! Tidak tahu rasanya? Kau wajib mencobanya."
Saito berjalan
antusias menghampiri kedai penjualnya, menunjuk varian rasa karamel menggunakan
jari telunjuknya. Staf penjual menyendok popcorn itu ke dalam sebuah mangkuk
kertas kecil.
"Silakan
dinikmati."
Saito kembali
menghampiriku dengan raut wajah yang sangat puas, matanya berbinar-binar dan
suaranya dipenuhi antusiasme.
"Coba makan,
Minato-kun. Cicipi ini!"
Kupilih satu butir popcorn
dari mangkuk yang ia sodorkan. Popcorn putih yang mengembang empuk itu terbalut
lapisan karamel, mengeras membentuk lapisan luar yang mengkilap. Saat kucicipi,
rasa manis yang lembut menyebar di rongga mulutku, disusul oleh aroma dan cita
rasa khas karamel yang kaya. Aku langsung paham kenapa Saito begitu
menyukainya.
"Ya, rasanya
enak."
"Benar, kan?"
Saito berseri-seri senang
lalu mulai ikut memakannya. Di setiap suapannya, senyumannya makin mengembang,
memancarkan kebahagiaan murni. Melihatnya begitu menikmati makanan itu
mengangkat suasana hatiku sendiri. Pada akhirnya, kupikir dia menghabiskan sekitar
tiga perempat bagian dari mangkuk tersebut sendirian.
"Bagaimana kalau kita
kembali sekarang?"
Saito mengecek jam
tangannya lalu mengangguk. Untung saja. Aku tadi sudah terlalu hanyut dalam
keseruan sampai-sampai nyaris melupakan alasan utama kami datang ke sini. Kami
bergegas kembali dan menunggu di bangku terdekat hingga pasangan itu muncul.
"Menurutmu, keadaan
mereka berjalan lancar?"
"Kalau Ichinose-san
ikut bersama mereka, seharusnya semuanya baik-baik saja. Dengan kepribadian
mereka berdua, tidak mengejutkan kalau mereka bahkan sudah berbaikan sejak
tadi."
"Biasanya aku bakal
setuju… tapi kalau menyangkut Mai-san, Kazuki selalu bersikap ragu-ragu di luar
kewajaran."
Entah kenapa, dia selalu
saja salah tingkah jika menyangkut Mai. Bukan hal yang mustahil jika sifat
penakutnya yang biasa itu malah mendominasi saat mereka berada di dalam
bangunan itu.
"Dari suasana hati
mereka tadi, seharusnya tidak akan ada kendala berarti. Lagipula, kalau terjadi
sesuatu yang canggung, kita pasti sudah dikirimi pesan lagi sejak tadi."
"Benar juga."
Mengingat ucapannya, dia
memang benar. Tadi pagi saja dia sempat merengek menangis padaku. Kalau kami
belum menerima kabar apa pun sampai sekarang, itu artinya segalanya berkembang
dengan lancar.
***
"Oh, itu
mereka."
Kulihat dua sosok yang
sangat familier sedang berjalan keluar bersama-sama. Aku tidak bisa melihat
dengan jelas, tetapi Mai tampak mendongak menatap Kazuki, mengobrol dengan
gembira.
"Minato-kun, sebelah
sini."
Saat mereka mendekat,
Saito menarikku, menyembunyikan kami di balik patung karakter taman bermain di
dekat situ.
"Tenanglah. Bagaimana
kalau mereka melihat kita?"
"Maaf, aku tadi
melamun."
Mereka mendekat, cukup
dekat hingga aku bisa mengenali wajah mereka dengan sangat jelas.
"—Begitulah
kejadiannya."
"Benarkah? Menarik
sekali."
Suara samar percakapan
mereka melintas mendekat, lalu perlahan memudar di kejauhan. Tampaknya
kecanggungan di antara mereka sudah sirna sepenuhnya.
"Kelihatannya mereka
tidak butuh dukungan kita lagi, ya?"
"…Sepertinya
begitu."
Saito dan aku memandangi
kedua orang itu yang berjalan menjauh berdampingan. Ya, bisa dipastikan misiku
sudah sukses besar.
Menguntit mereka lebih
jauh lagi terasa sudah tidak diperlukan dan malah jadi tindakan usil.
"Mumpung masih ada
waktu, mari kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk menaiki sebanyak mungkin
wahana."
"Setuju."
Sulit dipercaya. Masalah
yang tadinya terlihat begitu rumit dan kusut bisa terselesaikan hanya lewat
obrolan singkat. Mungkin selama ini aku terlalu banyak mencemaskan hal yang
tidak perlu. Rasanya aku hampir ingin meminta kembali tenaga dan usahaku. Sedikit
merasa sebal, aku melangkah menuju area wahana bersama Saito.
***
"Fyuuh. Aku lelah
sekali."
"Aku juga. Kita
sepertinya terlalu berlebihan tadi."
Langit sudah gelap gulita,
dan lampu-lampu taman bermain mulai dinyalakan, memancarkan pendar cahaya yang
mengingatkan pada taburan bintang gemerlap di sekeliling kami.
"Mari kita tonton
pawai penutup untuk mengakhiri hari ini."
"Oh, ada acara pawai
juga?"
"Cukup terkenal,
lho."
"Begitukah? Belum
pernah dengar."
"Yah, mungkin itu
karena kau tidak punya teman..."
"Apa katamu
tadi?"
"Bukan apa-apa,
kok!"
Bahkan Saito pun tidak
akan dimaafkan untuk cibiran blak-blakan semacam itu.
Pawai tersebut memiliki
area penonton khusus, dan Saito membimbingku ke sana. Dia benar-benar tahu
segala hal tentang tempat ini. Areanya dipenuhi lautan penonton hingga sulit
bagi kami untuk melihat ke depan, tetapi kami berhasil menemukan titik dengan sudut
pandang yang lumayan bagus.
"Rena, mau tukar
posisi?"
Di depan Saito berdiri
seorang pria berbadan tinggi, yang kemungkinan besar menghalangi
pemandangannya. Kuusulkan hal itu, dan Saito mengangguk tanpa ragu, melangkah
maju berdiri di depanku.
Dari sudut ini, aku bisa
melihat bagian puncak kepalanya yang dihiasi bando telinga kucing. Telinga
kucing itu sedikit terangkat dengan sangat menggemaskan.
Mengintip sedikit ke
samping untuk menangkap ekspresinya, kulihat matanya yang gelap dan jernih
berbinar memantulkan pendar lampu taman bermain, bagaikan langit malam yang
bertabur bintang.
"Ada apa?"
"Tidak, cuma
penasaran apa yang sedang kau lihat."
"Aku cuma sedang
menunggu… Oh, tunggu sebentar."
Saito menyipitkan matanya,
lalu membelalak kaget.
"Minato-kun, bukankah
itu Mai-chan dan yang lainnya?"
Mengikuti arah
telunjuknya, kulihat kedua sosok itu berada di seberang jalur pawai. Mereka
tampak sedang asyik mengobrol dengan ceria.
"Kelihatannya mereka
baik-baik saja."
"Iya, kelihatannya
begitu."
Mereka berdua sama sekali
tidak bisa menyembunyikan senyuman di wajah mereka, menikmati waktu mereka
bersama. Setelah dua tahun berpisah, mereka pasti punya banyak hal untuk
dibicarakan. Sambil mengamati
mereka, lengan Kazuki bergerak perlahan dengan halus.
(Tidak mungkin,
seriusan?)
Kecurigaanku terbukti
saat Kazuki mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Mai. Sentuhan itu terlihat
ringan, tetapi mereka dipastikan sedang bergandengan tangan.
"Minato-kun!"
"Iya, aku lihat
juga."
"Mereka
bergandengan tangan, kan!?"
"Iya."
Mata Saito membelalak
kaget, dan ia menarik-narik lengan bajuku berulang kali, bahkan mengguncang
tubuhku pelan.
Kagetnya sangat bisa
dimengerti, tetapi kalau dia mengguncangku lebih keras lagi, aku bisa-bisa
merasa pusing.
"Mengejutkan sekali,
ya? Tapi hei, mereka kan sebenarnya memang saling menyukai sejak dulu."
"Tentu saja
mengejutkan! Aku tidak menyangka sama sekali!"
Apa dia tidak sadar
seberapa besar usaha yang harus kami keluarkan hanya untuk sekadar berani
bergandengan tangan? Kami berdua menghabiskan waktu berhari-hari diliputi
keraguan tanpa henti. Namun, Kazuki berhasil melewati proses itu dalam sekejap
mata. Luar biasa tidak adil.
"Mari kita
bergandengan tangan juga."
"Tentu saja! Kita
tidak boleh kalah saing dari mereka."
Aku tidak tahu apa yang
sedang kami kompetensikan, tetapi menggenggam tangannya saat ini terasa seperti
sebuah kemenangan tersendiri.
"Sekarang aku malah
jadi cemas. Apa menurutmu Mai-chan bakal baik-baik saja menghadapi cowok yang
bergerak secepat itu?"
"Kurasa dia bakal
baik-baik saja… mungkin."
"Apa maksudmu
'mungkin'?"
"Masa depan
Mai-chan sedang dipertaruhkan di sini!"
"Tidak ada yang
namanya kepastian seratus persen di dunia ini."
"…Yah, kurasa itu
benar juga. Aku akan memercayai
penilaianmu, Minato-kun."
"Serahkan saja
padaku."
Setelah semua usaha yang
kuciptakan untuk membantu mereka berdua, kalau sampai Kazuki mengacaukannya,
aku mungkin bakal serius memutuskan hubungan pertemanan dengannya.
"Sudahlah, jangan
terlalu dipikirkan dan mari kita fokus menonton pawainya saja."
"Benar. Ini kan
bagian finalnya. Kita harus menikmatinya
dengan benar."
Aku memutuskan untuk
menanyai mereka soal itu nanti saja. Untuk sekarang, kuarahkan seluruh
perhatianku pada pawai tersebut—dan pada pemandangan Saito yang mengenakan
bando telinga kucing untuk yang terakhir kalinya.
Kurekam pemandangan itu
lekat-lekat ke dalam ingatanku.
***
Akhirnya, musik pengiring
pawai mulai mengalun, terdengar sayup-sayup dari sisi paling kiri.
"Minato-kun, sudah
mau mulai!"
Saito berbalik menatapku,
matanya berbinar penuh antusiasme. Ia tampak begitu bersemangat, bahkan setelah
seharian penuh menjelajahi berbagai wahana.
Musik makin lama makin keras,
dan kereta hias (float) pertama mulai terlihat.
Itu adalah sebuah kapal
bercahaya gemerlap dengan maskot karakter yang berdiri gagah di bagian paling
atasnya. Pendar cahayanya yang semarak terlihat sangat memukau.
"Lihat, karakter itu
adalah model bando yang kau kenakan, Minato-kun."
"Oh, begitu ya."
Meskipun hari sudah gelap
dan jaraknya agak jauh, aku bisa mengenali bentuk telinga yang terkulai dari
karakter tersebut.
"Kelihatannya sedikit
mirip denganmu."
"Bagian mana dari
karakter itu yang mirip denganku?"
Disamakan dengan karakter
anjing peliharaan rasanya agak sedikit menghina.
"Tuh, kan? Ekspresi
tanpa motivasi itu."
"Kau sedang
menyindirku secara halus, ya?"
"Tidak, sama sekali
tidak."
Sangkalan polosnya
terdengar sangat kentara. Memangnya apa yang harus kulakukan dengan ekspresi
wajahku yang sudah bawaan lahir ini?
Beberapa kereta hias dan
karakter lainnya berlalu-lalang, hingga akhirnya kereta hias terakhir muncul di
hadapan kami.
"Oh, itu dia
datang!"
Nada suara Saito meninggi
secara mencolok. Matanya terpaku lekat pada kereta hias yang mendekat,
antusiasmenya terpampang nyata tanpa ditutup-tutupi. Aku langsung paham apa
alasannya.
(Oh, jadi itu alasannya.)
Kereta hias tersebut
menampilkan maskot karakter kucing yang sangat populer. Pantas saja dia begitu
bersemangat.
Maskot itu menari penuh
energi di atas kereta hias, membuatnya sangat menghibur untuk disaksikan. Saito
bertepuk tangan mengikuti irama musiknya, jadi aku ikut bertepuk tangan
bersamanya.
Begitu pawai usai, lautan
penonton mulai membubarkan diri meninggalkan area.
"Bagaimana kalau kita
pulang?"
"Iya. Lalu bagaimana
dengan Mai-chan dan yang lchinose-san?"
"Mereka
kemungkinan besar akan pulang bersama-sama dengan gembira."
"Kalau begitu, aku
akan mengirimkan mereka pesan singkat."
"Iya, kirimkan
saja."
Mereka sepertinya sudah
tidak butuh bantuan kita lagi. Faktanya, dengan momen langka yang sedang mereka
miliki sekarang, bergabung dengan mereka justru akan menjadi gangguan yang
tidak perlu. Begitu Saito selesai mengirimkan pesan tersebut, kami bergabung
dalam arus kerumunan orang yang berjalan meninggalkan area.
"Oh, Rena."
"Ya?"
"Sebelum kita pulang,
mari kita berfoto bersama di depan kastil."
"Ide bagus!"
Nyaris saja aku lupa. Aku
hampir lupa mengabadikan penampilan Saito dengan bando telinga kucingnya. Ini
bisa jadi misi paling krusial hari ini.
Ketika kami tiba di depan
bangunan kastil, kerumunan pengunjung sudah jauh berkurang drastis karena
sebagian besar orang sudah mulai pulang.
"Mau kita ambil
sekarang?"
"Wah."
Saito mendadak melangkah
merapat mendekatiku, membuatku mengeluarkan suara kaget. Ia memosisikan dirinya
berdiri tepat di sampingku, memastikan wajah kami berdua masuk ke dalam bingkai
layar ponselnya.
Telinga kucing di kepalaku
dan bando telinga anjingku melengkapi satu sama lain dengan sangat pas di dalam
bingkai layar.
"Baiklah, siap
ya."
Cekrek. Suara rana kamera
berbunyi beberapa kali berturut-turut. Bahkan dalam pencahayaan yang temaram
sekalipun, wajah kami tertangkap dengan sangat jelas dan jernih.
"Fufufu, hasilnya
bagus sekali, kan?"
"Iya, bagus."
Foto itu menampilkan Saito
dan diriku—dan—meski aku mengatakannya untuk diri sendiri, kami berdua terlihat
begitu tulus dan bahagia.


Post a Comment