-->
NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Tonari no Gorira ni Koishiteru Volume 1 Chapter 2

Chapter 2

Dari Pertemuan Pertamaku dengan Gorila-san hingga Sekarang


Dari pertemuan pertamaku dengan Gorila-san hingga sekarang (1)

——Semuanya bermula pada liburan musim panas saat aku duduk di kelas enam, ketika aku mulai melihat lawan jenis sebagai hewan dengan mataku. Aku mengingatnya dengan jelas, bahkan tanggalnya: 11 Agustus.

Sehari sebelumnya, aku mengikuti latihan tim bisbol mulai tengah hari, dan pada sore harinya, aku punya rencana pergi ke festival kuil bersama beberapa teman lainnya.

Tepat pada pukul 6 sore, aku tiba di jembatan dekat kuil tempat kami seharusnya berkumpul, namun aku justru mendapati seorang gadis berbalut yukata yang belum pernah kutemui sebelumnya. Menurutnya, ia diundang oleh salah satu anggota kelompok kami yang bersekolah di tempat bimbingan belajar yang sama, tetapi semua yang lain pergi ke kolam renang, dan karena suatu kecelakaan, layanan kereta terhenti sehingga mereka tidak bisa langsung kembali. Ia menerima kabar tersebut tepat sebelum berangkat dan diminta untuk menyampaikan pesan itu kepadaku.

Mendengar hal ini dari gadis yang baru saja kukenal, aku ingat sempat berpikir, [Sialan] Bukan karena aku ditinggal berdua saja dengan seorang gadis yang tidak kukenal, melainkan karena aku khawatir kami tidak bisa pergi ke festival yang sudah sangat dinantikan-nantikan itu.

Sebagai anak laki-laki yang sama-sama antusias bermain bisbol, sepak bola, dan gim video tanpa memedulikan jenis kelamin, aku membujuk gadis yang tadinya hendak pulang itu untuk ikut bersamaku ke festival. Kataku, "Kalau aku pergi sendirian dan ketahuan, aku bakal dimarahi, jadi kumohon temani aku ya."

Dia tampaknya tidak begitu supel, tetapi setelah berpikir sejenak, dia mengangguk setuju.

Maka aku pergi ke kuil bersamanya dan menikmati festival tersebut. Ada begitu banyak hal yang ingin kami makan dan lakukan, jadi kami menyatukan uang kami dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

Kami melahap takoyaki, yakisoba, kembang gula, dan pisang cokelat. Di stan permainan tembak-tembakan yang memberi kesempatan tiga kali mencoba, aku mengambil dua giliran, dan sebagai bentuk terima kasih, aku memberikannya hadiah berupa manisan apel.

Suasana sangat padat, jadi kami berpegangan tangan agar tidak terpisah. Kami juga ikut menari dalam tarian bon odori dan bermain kembang api jenis sparkler yang dibagikan secara gratis. Aku terkejut betapa baiknya aku mengingat semua itu. Kejadian itu pastinya sangat berkesan.

Setelah bermain hingga dompet kami hampir kosong, kami secara alami berpegangan tangan dalam perjalanan pulang, mengobrol tentang berbagai hal sampai kami tiba di jembatan tempat kami bertemu tadi, lalu berpisah dengan gadis yang orang tuanya datang menjemput dengan mobil.

Begitu dia pergi, aku tiba-tiba diliputi rasa kesepian yang luar biasa dan berlari sekuat tenaga sepanjang jalan pulang.

Tiba di rumah dengan napas terengah-engah, aku hampir tidak membahas tentang festival itu dengan keluargaku, lalu mandi dalam keadaan setengah melamun... dan di situlah aku akhirnya menyadari kalau aku belum menanyakan namanya.

Sungguh sebuah kejutan mendapati diriku telah menghabiskan waktu yang begitu panjang dan menyenangkan bersama tanpa bahkan mengetahui hal itu.

Rasa penyesalan menyelimutiku, tetapi semuanya sudah terlambat. Aku pergi tidur sambil mengenang senyumnya, ekspresi kecewanya saat gagal dalam permainan tembak-tembakan, serta sosoknya saat ia pergi, dan aku jatuh tertidur dengan perasaan gelisah yang sulit dijelaskan.

Jika dipikir-pikir kembali sekarang, aku menyadari bahwa itu kemungkinan besar adalah cinta pertamaku.

——Nah, di sinilah bagian krusial dari cerita ini bermula.

Keesokan paginya, pada hari yang membawa takdir tanggal 11 Agustus itu, aku dibangunkan oleh suara ibuku yang berkata, "Ayo, sudah waktunya senam pagi!" Saat aku membuka kelopak mataku yang terasa berat dalam keadaan masih mengantuk, aku dihadapkan pada wajah seekor sapi dari jarak sangat dekat, dan aku pun menjerit hingga bergema ke seluruh lingkungan sekitar.

Tidak usah heran—itu kan seekor sapi, tahu?

Aku belum pernah melihat hewan itu dari jarak dekat kecuali di televisi atau buku bergambar, dan tiba-tiba saja hewan itu sedang mengintip ke wajahku saat aku baru terbangun. Tentu saja aku menjerit.

Dalam keadaan benar-benar panik, alih-alih pergi senam pagi, aku malah dibawa ke rumah sakit beberapa waktu kemudian dan didiagnosis "tidak ada kelainan". Aku ingat ingin berteriak melayangkan protes, karena para perawat dan pasien semuanya tampak seperti hewan, dan situasi itu terasa seperti mimpi buruk yang demam.

Ketika aku kembali ke rumah, kakek dan pamanku dari prefektur lain, yang entah bagaimana sudah tiba di sana, menatapku dengan penuh rasa kasihan sambil berkata, "Sepertinya hari ini telah tiba juga bagi Kouta," dengan ekspresi penuh penyesalan.

Dalam kebingungan dan masih melihat ibuku sebagai seekor sapi, aku duduk di meja makan dikelilingi oleh para kerabatku dan diberitahu sebuah kebenaran yang mengejutkan.

Keluarga kami dikutuk——begitu kata mereka.

Apa yang kudengar selanjutnya adalah cerita yang begitu konyol hingga hampir terdengar seperti lelucon.

Pada awal periode Meiji, salah satu leluhurku terlibat perselisihan dengan seorang penyihir bernama Yamamoto Manjuuta. Akibatnya, sebuah kutukan dijatuhkan bahwa "putra sulung keluarga Saiki akan melihat lawan jenis sebagai makhluk bukan manusia ketika mereka menginjak usia dewasa." Seluruh insiden itu bermula karena sang penyihir jatuh cinta pada pandangan pertama kepada leluhurku dan bersikeras, "Mari kita menjadi suami istri!"

Tentu saja ia ditolak, menjadi murka, dan pergi dengan kata-kata perpisahan, "Kukutuk garis keturunanmu hingga hancur!"

Baru satu dekade kemudian mereka menyadari bahwa itu bukan sekadar rintihan dari orang yang kalah dan tak mau terima. Putra sulung yang tadinya tumbuh dengan sehat, tiba-tiba berseru suatu hari, "Ibu telah berubah menjadi hantu tanpa wajah!" Setelah berkonsultasi dengan seorang pendeta ternama, mereka mengetahui bahwa "kutukan itu menimpa putra sulung yang akan mewarisi keluarga Saiki, dan kutukan itu akan diteruskan ke generasi berikutnya."

Sayangnya, mereka tidak dapat menemukan cara untuk mematahkan kutukan tersebut. Satu-satunya pelipur lara adalah bahwa kutukan itu tidak memengaruhi anak laki-laki kedua, dan kutukan tersebut akan terangkat dari sang putra sulung begitu anak laki-laki kedua memiliki seorang anak laki-laki.

Sebagai kesimpulan, garis keturunan keluarga kami diteruskan kepada anak-anak lelaki kedua, dan kelahiran anak lelaki kedua sangat dinanti-nantikan, karena para putra sulung sudah dikutuk sejak awal... rupanya begitu.

Mendengar hal itu, kamu bisa membayangkan bagaimana perasaanku. Hal itu dijelaskan kepadaku dengan istilah-istilah sederhana, tetapi justru hal itulah yang membuatnya semakin tidak masuk akal.

——Tidak ada alasan bagiku untuk menderita seperti ini!

Hanya leluhurku saja yang diperlakukan secara tidak adil dan disumpahi, dan penyihir dengan nama aneh itulah yang mengutuk semuanya. Selain itu, kutukan tersebut baru bermanifestasi paling tidak satu dekade kemudian, di mana pada saat itu sang pelaku sihir kemungkinan besar sudah lama melupakannya.

Bahkan, penyihir itu tidak pernah muncul lagi setelah melontarkan kutukan tersebut. Bahkan tidak ada perkembangan seperti, ‘Jika kau ingin kutukan ini tercabut, maka kau harus…~’

Semuanya dibiarkan begitu saja tanpa kejelasan, tanpa ada kepastian mengenai kelanjutannya.

Ada apa dengan Manjuuta (Penyihir) itu?

Tidak ada satu pun yang diuntungkan dari hal ini, termasuk dirimu sendiri, Manjuuta.

Pertahankan keanehan itu hanya pada namamu saja, Manjuuta.

…Jadi, sementara kebencianku yang teramat besar terhadap Manjuuta—yang bahkan belum pernah kutemui—terus bertambah, faktanya penyihir yang dikutuk itu sudah lama mati. Namun kutukan tersebut tak kunjung hilang. Itulah masalah sebenarnya.

Tidak jelas apakah dengan sekadar melepaskan nama keluarga akan menyelesaikan masalah ini, atau apakah kutukan itu memengaruhi putra sulung yang mewarisi keluarga, atau apakah ia memengaruhi anak laki-laki pertama yang lahir di generasi berikutnya. Lagi pula, kutukan itu tidak bermanifestasi sampai seseorang tumbuh dewasa, dan menunggu hasilnya sebelum mengambil tindakan membutuhkan waktu yang terlalu lama.

Para putra sulung yang telah dikutuk turun-temurun tidak memiliki anak karena efek kutukan tersebut baru terangkat ketika usia mereka sudah cukup tua. Pamanku  masih lajang sampai sekarang.

Dan satu hal penting lagi… dalam kasusku, aku memiliki seorang adik perempuan sebelum adik laki-lakiku lahir. Putra kedua keluarga Saiki yang sudah lama dinanti-nantikan, Masaharu-kun, akan mulai masuk sekolah dasar tahun depan, dan ia tumbuh dengan sehat.

Bahkan jika ia menikah lebih awal dan memiliki anak… berapa usianya nanti saat anaknya tumbuh besar?

Rasanya sudah sangat beruntung jika usia ku saat itu masih menginjak kepala empat.

Jika aku harus terus menjalani hidup dengan melihat lawan jenis berubah menjadi hewan hingga usia tersebut, aku mungkin akan berakhir menjalani kehidupan lajang abadi seperti paman-paman ku.

Namun di sisi lain, mustahil untuk bisa menjalin hubungan romantis dengan hewan berukuran manusia.

——Omong-omong, mengenai apa yang terjadi dengan gadis yang pergi bersamaku ke festival kala itu, tidak ada perkembangan apa pun; identitasnya tetap tidak diketahui. Aku tahu dari dirinya bahwa ia adalah siswi dari sekolah lain, tetapi tidak lebih dari itu. Aku sebenarnya bisa mencari tahu nama dan siapa dirinya dari teman-teman yang seharusnya pergi bersamaku, tetapi aku tidak pernah melakukannya.

Karena tidak seperti gadis yang ada dalam ingatanku, jika kami bertemu lagi, ia akan terlihat seperti seekor hewan. Bahkan jika kami bertemu, aku tidak akan tahu apakah ia adalah gadis yang sama.

Saat ini, aku sudah bisa berinteraksi secara normal dengan hewan-hewan, tetapi mereka terasa lebih seperti spesies manusia yang berbeda alih-alih sebagai lawan jenis. Setidaknya, mustahil bagiku untuk memendam perasaan manis dan masam dari cinta monyet.

Untuk beberapa waktu, aku bahkan sempat merasa kebingungan saat harus berbicara dengan hewan.

Dengan segala kerumitan itu, sementara anak-anak laki-laki di sekitarku mulai bersemangat membicarakan cinta dan nafsu, aku menghabiskan masa SMP-ku dengan bersenang-senang tetapi benar-benar hampa dari kehadiran perempuan. Aku berharap bisa menemukan cara untuk mematahkan kutukan ini——tetapi tanpa petunjuk apa pun, aku malah menjadi seorang siswa SMA…

Dan pada hari pertama masuk SMA, aku langsung membuat kekacauan.

Aku berhasil lulus ujian masuk ke sebuah SMA yang jaraknya masih bisa dijangkau dengan sepeda dari rumahku, berkat kemampuan akademikku yang pas-pasan. Sekolah yang kupilih adalah Akademi Senbazuru, sebuah sekolah swasta dengan nama yang seolah menyiratkan penggunaan kertas origami secara berlebihan. (Catatan Penerjemah: Senbazuru berarti 1000 burung bangau kertas). Mengenakan seragam sekolah yang masih baru, aku berjalan memasuki gedung sekolah.

Upacara penerimaan siswa baru melibatkan kegiatan berkumpul di dalam kelas terlebih dahulu, kemudian bergerak bersama kelas masing-masing. Jadi, dengan postur tubuh yang tegang, aku berjalan melewati para siswa yang mencoba melakukan debut SMA dengan rambut yang terlalu sering diputihkan serta gadis-gadis berwujud hewan yang sudah asyik mengobrol dengan suara berisik di koridor, lalu berjalan menuju kelas.

Ruang kelas tahun pertama untuk jalur umum berada di lantai tiga gedung utama, dan aku masuk ke Kelas B dari total delapan kelas yang ada. Ruang kelas tersebut adalah kelas kedua dari tangga, yang kupikir akan menjadi keuntungan pada pagi hari jika aku terlantar atau kesiangan. Namun, aku segera patah semangat saat mengetahui bahwa ruang kelas disusun berurutan mulai dari A, B, C dari bagian belakang. Tapi letaknya sepertinya lebih dekat dengan koperasi sekolah, jadi itu menjadi kerugian di pagi hari namun menjadi keuntungan saat jam makan siang. Jujur saja, keramaian jam makan siang jauh lebih penting daripada datang terlambat, jadi mungkin itu adalah hal yang patut disyukuri.

Sambil memikirkan hal-hal semacam itu, aku melangkah masuk ke dalam kelas melalui pintu yang terbuka dan melihat ruangan itu sudah terisi setengah penuh, meskipun hari masih pagi sebelum waktu apel dimulai. Papan tulis dihiasi dengan bunga-bunga dan tulisan besar Selamat atas penerimaan kalian! yang ditulis oleh para siswa senior. Tanpa diduga, hal itu membuatku senang melihat pemandangan tersebut.

Ada juga selembar kertas lainnya di papan tulis. Setelah diperhatikan lebih dekat, itu adalah diagram ruang kelas dengan kotak-kotak yang merepresentasikan meja-meja, dan ada angka-angka yang tertulis di dalamnya. Angka-angka itu pastinya adalah nomor presensi.

Nomor presensiku, yang sudah ku ketahui sebelumnya, adalah enam. Ada tiga puluh lima siswa di dalam kelas tersebut, terbagi rata hampir seimbang antara laki-laki dan perempuan, dengan delapan belas siswa laki-laki. Susunan tempat duduknya adalah enam baris yang masing-masing berisi enam kursi untuk setiap jenis kelamin.

…Dengan kata-kata lain, kursi di sisi jendela yang paling belakang! Sungguh sebuah jackpot!

Aku sebenarnya sempat khawatir ditempatkan di barisan paling depan jika susunannya adalah lima kursi dengan tujuh baris, jadi ini adalah kejutan yang menyenangkan. Aku benar-benar merasa bersemangat.

Dengan gembira aku berjalan menuju tempat dudukku dan tiba di kursi di sisi bagian belakang dekat jendela, tempat selembar selotip bertuliskan 6 Saiki tertempel rapi di atas meja. Ya, ini benar-benar tempat duduk yang istimewa.

Kursi di barisan siswi sebelah kananku masih kosong. Di atas meja tersebut tertulis… 『å¼·ç¾…』… Hmm… Kyoura, mungkin? Nama keluarga yang cukup langka dengan dampak visual yang kuat. Terdengar keren.

Aku tidak tahu gadis seperti apa dia, tetapi apakah dia cantik atau tidak sama sekali tidak penting bagiku. Dia toh akan terlihat sebagai seekor hewan di mataku. Jadi, aku hanya berharap dia adalah tipe gadis yang mudah diajak bicara.

Melihat sekeliling ruang kelas dari tempat duduk terbaik ini, aku tidak mengenali satu pun anak laki-laki. Mengenai para siswinya, aku sama sekali tidak bisa membedakannya. Ada terlalu banyak spesies hewan yang sama di sana, dan tidak mudah untuk membedakan mereka hanya dari bulu atau ciri-ciri wajah mereka.

Terlebih lagi, hewan-hewan tidak mencerminkan gaya rambut atau riasan wajah, yang membuat segalanya menjadi semakin sulit. Aksesoris dan barang-barang kecil saja yang terlihat, dan kuku palsu bisa langsung dikenali. Sewaktu SMP, seorang siswi yang dirumorkan sebagai ‘gadis dengan rambut terpanjang di angkatan dan seorang model berpenampilan luar biasa’ justru tampak di mataku sebagai seekor anjing Dachshund.

Seharusnya bagian rambut atau anggota badan yang panjang, bukan tubuh bagian tengahnya.

Hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kenyataan.

Aku harus mengingat para siswi yang telah menjadi teman sekelasku, dan aku harus memahami bagaimana caraku memandang seseorang berbeda dari wujud aslinya. Aku harus berhati-hati agar tidak melukai siapa pun dengan ucapan yang ceroboh. Ini pasti akan butuh waktu.

Namun tetap saja, ini adalah awal yang baik dengan tempat duduk yang istimewa. Aku berharap kami tidak perlu bertukar tempat duduk sama sekali... Tapi tunggu, bisa jadi tempat ini terasa dingin di dekat jendela saat musim dingin. Jadi nanti mungkin yang terbaik adalah pindah ke kursi di sisi dekat koridor.

Melihat ke luar jendela, aku melihat sebuah bangunan panjang bertingkat tiga dan sebuah gedung sekolah tua agak jauh di sana, yang pastinya adalah gedung ruang klub dan gedung sekolah tua yang disebutkan dalam buku panduan sekolah.

Gedung ruang klub, yang masih relatif baru dan digunakan oleh klub-klub olahraga serta beberapa klub kebudayaan, tampak kontras dengan gedung sekolah tua yang terlihat benar-benar kuno. Bangunan itu tidak terbuat dari kayu, tetapi penampilannya yang kehitaman memberikan kesan bersejarah yang kental. Tempat itu masih digunakan, jadi kuharap bagian dalamnya terawat dengan baik.

Akademi Senbazuru cukup luas dan memiliki sejarah, jadi tampaknya sekolah ini memiliki banyak kegiatan klub. Hari ini adalah upacara penerimaan siswa baru, dan kurasa angkatan lain belum mulai masuk kelas, tetapi aku sudah berpapasan dengan orang-orang yang tampaknya berasal dari klub bisbol dan orkes tiwas, serta aku bisa mendengar suara-suara dari lapangan latihan. Ada banyak orang yang sudah bekerja keras sejak pagi hari.

"Kegiatan klub, ya... Mungkin aku harus bergabung dengan sesuatu..."

Sambil bergumam dan memperhatikan para kakak kelas yang keluar masuk gedung ruang klub, aku tiba-tiba merasakan kehadiran seseorang di belakangku. Karena aku tadi sedang melihat ke arah samping, itu berarti orang tersebut berada di kursi di sebelahku.

Aku bisa mendengar suara kursi ditarik keluar dan seseorang yang duduk, jadi sudah jelas bahwa gadis di sebelahku telah tiba.

Baiklah. Kami akan menghabiskan setidaknya satu tahun bersama di ruang kelas yang sama, jadi aku harus menyapanya terlebih dahulu.

Memikirkan hal itu, aku memasang senyum ramah yang segar dan berbalik.

——Dan ada seekor gorila di sana.

"Gorila...!?"

Karena terkejut, aku tanpa sengaja mengucapkannya dengan suara keras dan buru-buru menutup mulutku. Suaranya tidak terlalu kencang, tapi cukup jelas terdengar.

Kuharap dia tidak mendengarnya... tapi ya, mana mungkin. Gorila-san sedang menatap tepat ke arahku. Seekor gorila berbalut seragam pelaut sedang melihatku.

Tapi tetap saja... aku belum pernah melihat banyak wanita berwujud gorila sebelumnya, dan jarak dekat seperti ini benar-benar pengalaman pertama... Dampak visual dari seekor gorila sungguh luar biasa...

Bulu pendek di tubuhnya berwarna hitam pudar atau lebih tepatnya kecoklatan kebiruan, dan warna kulitnya pun mirip. Aku tidak tahu kalau mereka ternyata tidak sepenuhnya berwarna hitam. Ada juga bagian-bagian yang berwarna abu-abu.

Aku tidak bisa memperkirakan tinggi badannya karena dia sedang duduk, tetapi kepalanya setidaknya satu ukuran lebih besar daripada kepala manusia, dan dia tampak kuat. Aku baru pernah melihat gorila dari jarak jauh di kebun binatang, tapi dia terlihat begitu kuat... Fitur wajahnya agak tajam dan hampir terlihat tampan.

Yah, dia kan seorang gadis, jadi dia adalah seekor gorila betina. Dia juga mengenakan hiasan rambut berwarna kuning dengan pita di atasnya.

"…"

Dan dari Gorila-san betina itu, tatapan tajam menusuk menembus diriku.

Ekspresinya yang garang memancarkan tekanan tanpa suara. Aku bisa dengan jelas merasakan permusuhan.

Ini gawat, kesan pertamanya benar-benar yang paling buruk. Tentu saja, memanggil seorang gadis dengan sebutan gorila. Aku tidak bisa melihat wajah aslinya, tetapi jika wujud aslinya bahkan mendekati rupa itu, aku baru saja melontarkan penghinaan yang keterlaluan.

Sambil memikirkan apa yang harus kulakukan jika aku telah melukai perasaannya atau apakah ada cara untuk meredakan situasi ini, pikiranku berputar begitu cepat hingga aku merasa lumpuh. Kemudian, Gorila-san, yang tadinya menatapku lekat-lekat, membuka suara.

"…Apa kita pernah bertemu di suatu tempat sebelumnya?"

"Eh? T-tidak, kurasa tidak..."

Aku secara refleks menggelengkan kepala merespons pertanyaan yang tiba-tiba itu.

Lalu sang gorila mengerutkan keningnya... atau apakah dia benar-benar mengerutkannya?

Tunggu, apakah makhluk itu bahkan punya alis?

Sulit untuk memastikannya pada gorila, wujudnya yang begitu mirip manusia justru membuat hal itu semakin sulit untuk ditebak...!

Saat aku sedang berusaha mencari tahu apakah sekarang adalah saat yang tepat untuk meminta maaf, gorila di sebelahku memeriksa nama keluarga yang tertulis di sebelah nomor presensi di meja kami,

"…Apakah kamu bersekolah di sekolah dasar atau taman kanak-kanak di sekitar area ini?"

"Y-ya, aku anak lokal. Tidak pernah pindah."

"…Bagaimana dengan tempat bimbingan belajar atau les?"

Apa ini, sebuah interogasi?

Tapi rasanya persis seperti, "Hei, katakan sekarang juga. Kamu berasal dari mana, huh?" seolah-olah aku sedang diinterogasi atau ditanyai.

Jelas sekali, ini bukanlah saatnya untuk berkelakar, jadi aku harus menjawabnya dengan jujur... tapi apa-apaan ini?

"…Aku baru ikut bimbingan belajar sebentar saja sebelum ujian masuk di tahun ketiga SMP-ku. Kalau soal les... aku pernah ikut tim bisbol dan sepak bola, tapi tidak ada les formal."

"…Begitu ya. Jadi, kenapa kamu tadi melihatku dan berkata 'gorila'?"

Nah, itu dia. Pertanyaan langsung yang paling sulit untuk dijawab.

Bagaimana aku harus menanggapinya, dia yang berbicara dengan nada tenang namun tegas? Mustahil membuat hal itu terdengar seperti sebuah lelucon. Aku tidak punya keahlian semacam itu.

Tapi mengatakan "Karena kamu mirip gorila" tentu saja keluar dari daftar pilihan. Berbohong mungkin adalah kejahatan yang diperlukan. Maksudku, apa gunanya menyampaikan kebenaran menyakitkan yang tidak akan dipercaya?

…Jadi, itu artinya...

"…S-Saat aku sedang memikirkan tentang gorila, aku tanpa sengaja keceplosan mengatakannya."

Alasan ini, yang sangat mendekati kebenaran, tampaknya membuat dahi Gorila-san berkerut... kurasa?

Wajahnya hampir mirip manusia, tapi aku tidak yakin apakah aku mengartikan reaksinya dengan benar...!

Setidaknya pada gadis-gadis hewan lainnya, mereka tidak mengekspresikan emosi melalui tindakan seperti hewan sungguhan. Orang berwujud anjing tidak mengibas-ngibaskan ekornya saat senang, dan orang berwujud kucing tidak mendesis saat marah. Tapi di sisi lain, beberapa dari mereka memang merespons dengan cara yang sama, yang membuat situasinya jadi semakin rumit.

Gorila di hadapanku ini tampaknya menunjukkan ekspresi yang lebih garang daripada sebelumnya, yang kupikir karena dia memang sedang memasang wajah seperti itu... Sulit sekali mendeteksi perubahan-perubahan kecil pada wajah seekor hewan...!

Lagipula, aku tidak punya pilihan selain menghadapinya.

Sambil mengumpulkan keberanian, aku menangkupkan kedua tangan di depan dada dan membungkuk dalam-dalam kepada Gorila-san,

"Kalau aku sudah membuatmu merasa tidak nyaman, aku minta maaf, sama sekali tidak ada niat buruk! Tolong maafkan aku! Kalau ini saja belum cukup... um... kamu boleh memukulku sekali!"

Menunjukkan ketulusan sebaik mungkin, ekspresi Gorila-san justru semakin terlihat garang. Aku panik di dalam hati karena mengira telah memilih opsi yang salah, namun kemudian Gorila-san mengembuskan napas yang mirip seperti desahan.

"Aku tidak akan melakukan itu. Wanita kasar seperti apa yang ada di pikiranmu? Apa aku perlu memukulmu?"

"Uh, bukankah itu pernyataan yang kontradiktif?"

"Bukan kontradiksi. Aku tadi hanya merasa begitu tersinggung sampai-sampai ingin melayangkan protes. Kamu telah membangunkan sesuatu yang tersembunyi di dalam diriku secara paksa... um..."

Gorila-san ragu-ragu sejenak, lalu pandangannya beralih ke arah mejaku, dan aku pun menyadari satu hal mendasar yang belum kulakukan sama sekali. Aku bahkan belum melakukan hal pertama yang seharusnya dilakukan saat sedang berkomunikasi.

"Namaku Saiki. Saiki Kouta, dari SMP Kedua Asakawa."

"…Begitu ya... sebuah nama yang asing..."

Setelah aku memperkenalkan diri, aku berharap Gorila-san akan melakukan hal yang sama, tetapi ia malah tampak merenungkan sesuatu. "Sang Bijak dari Hutan" adalah julukan untuk orangutan, namun gorila berwajah serius ini tampak bijak juga.

…Dan kemudian, Gorila-san menunjuk ke arah kertas nomor presensi dan nama keluarga yang ada di atas mejanya.

"Apa kamu tahu cara membaca ini?"

"Eh? Aku tidak begitu yakin, tapi bukankah itu dibaca 'Kyoura'?"

"Itu salah. Ada nama tempat dengan kanji dan pelafalan yang sama, tapi kamu tidak mengetahuinya?"

Hal itu terasa lebih mirip sebuah konfirmasi daripada sebuah pertanyaan, jadi aku mengangguk dengan jujur, dan jemari tebal sang gorila menelusuri bagian bawah karakter kanji "Goura",

"Nama ini dibaca sebagai 'Goura'."

"…Begitu ya."

Aku hampir saja menebaknya dengan benar bersama sang gorila. Benar juga, ada juga pelafalan gouriki untuk kanji 『強力』 (kekuatan).

Seandainya saja aku tahu hal itu lebih awal, aku bisa beralasan, "Ah, tadinya aku mau bilang 'Goura', tapi lidahku keseleo"...

"Ngomong-ngomong, nama depanku adalah Riho."

"Oh, jadi Riho-san dari keluarga Goura ya."

"Ya. Jadi waktu aku masih SD, anak-anak laki-laki biasa menjahiliku dengan membalik urutan namaku menjadi 'Uho Gorilla' (Goura Riho)."

"…Begitu ya."

Mendengar kisah masa lalu seperti itu langsung dari mulut seekor gorila rasanya begitu surealis.

…Dan dari cerita itu... mungkin saja, kalau tadi aku menghubungkan nama tersebut dengan seekor gorila dalam jawabanku, situasinya bakal menjadi jauh lebih buruk daripada yang paling buruk...!?

…Fiuh, nyaris saja celaka...! Aku sama sekali tidak merasa berada di zona aman, tapi setidaknya ini jauh lebih baik. Aku nyaris saja melewati batas akhir...!

Bagaimanapun juga, memanggil Goura Riho dengan sebutan 'Uho Gorilla'. Hal semacam apa sih yang diucapkan anak-anak SD kepada seorang anak perempuan? Dan harus mengalami pengalaman traumatis yang dicocok-cocokkan secara sempurna dengan seekor gorila oleh kutukan terkutuk ini.

Sambil aku merasa panik di dalam hati, Gorila-san yang duduk di sebelahku menatapku lekat-lekat.

"Kupikir mungkin kita pernah bersekolah di SD yang sama atau punya jadwal les yang kebetulan sama... tapi kita tidak saling kenal, kan?"

"Y-Ya, kurasa tadi memang salahku karena langsung memanggilmu gorila, dan aku sama sekali tidak tahu ada latar belakang seperti itu... Maafkan aku soal itu."

"Tidak apa-apa, kalau itu bukan disengaja dan tidak ada niat jahat, ya mau bagaimana lagi. Bukan hal yang perlu dibesar-besarkan untuk anak tingkat SMA."

"Mendengar kamu berkata begitu membuatku lega. Aku benar-benar minta maaf, kapan-kapan akan kutraktir jus sebagai permintaan maaf."

Aku menundukkan kepala sebagai ucapan terima kasih, dan bibir Gorila-san tampak tersenyum... kurasa?

Mungkin dia memang tersenyum.

Selamat. Gorila ini tampaknya adalah orang yang baik. Syukurlah aku bisa menghindari masa-masa sekolah yang suram akibat terlibat pertengkaran dengan seorang siswi tepat di hari pertama masuk sekolah. Mungkin amal baikku selama ini terbayar sudah.

"Ngomong-ngomong, kamu tadi bilang kalau kamu sedang memikirkan tentang gorila."

"Hm? Oh, ya, ada apa memangnya?"

"Kenapa kamu sampai melamun memikirkan gorila pada hari pertama sekolah di dalam ruang kelas?"

"…"

Sial. Aku sama sekali tidak memikirkan apa pun. Apa maksudnya melamun memikirkan gorila?

Tiba-tiba terkena skakmat lagi, aku berusaha keras agar tidak terlihat gugup.

Selama hampir lima menit hingga bel berbunyi dan wali kelas datang, aku harus menanggung waktu yang terasa seperti di neraka karena harus berbicara tanpa henti mengenai pertanyaan-pertanyaan seputar gorila, gambaran visualnya, dan cita-cita yang bahkan tidak pernah kupikirkan sama sekali di hari pertama sekolah.

—Jika dipikir-pikir kembali, itu adalah pertemuan pertama yang nyaris membawa bencana, namun Gorila-san, alias Goura Riho, dan aku berhasil menjalin hubungan bertetangga yang cukup baik terlepas dari awal perjumpaan kami yang kasar. Setidaknya dari sudut pandangku.

Di dalam kelas, diputuskan untuk mempertahankan posisi tempat duduk sesuai nomor presensi selama semester pertama agar kami bisa mencocokkan wajah dengan nama, jadi aku berusaha keras untuk menghafal nama-nama teman sekelasku yang baru.

Untungnya, tidak ada gadis berwujud hewan di kelas yang sulit dibedakan, jadi aku bekerja keras untuk memahami nama-nama mereka, jenis hewan mereka, dan pola bulu yang menjadi ciri khas masing-masing. Meskipun tinggi badan mereka tetap sama, jika seorang gadis memiliki wajah dan anggota tubuh yang tampak berisi namun mengenakan seragam yang ramping, itu berarti dia sebenarnya tidak bertubuh gemuk.

Hanya bagian kulit terbuka saja yang tampak berubah menjadi wujud hewan. Oleh karena itu, cara seseorang mengenakan seragam mereka serta bentuk tubuh asli mereka adalah petunjuk utama untuk membedakan gadis-gadis dari spesies hewan yang sama.

Sejak awal, wujud hewan yang muncul di mataku hampir sama sekali tidak ada hubungannya dengan bentuk asli mereka.

Sebagai contoh, Gorila-san yang duduk di sebelahku memiliki tubuh yang tebal, dengan leher, lengan, dan jari-jari yang besar akibat wujudnya sebagai gorila, namun jika melihatnya saat mengenakan pakaian olahraga, dia sama sekali tidak gemuk. Faktanya, dia memiliki bentuk tubuh yang bagus.

Rambutnya pendek seperti bulu di lengan dan bagian tubuh lainnya. Namun, dia sering mengenakan hiasan rambut atau pita, dan dari percakapan para siswi yang tak sengaja kudengar, rambut aslinya ternyata cukup panjang. Aku sebenarnya tidak ingin melihat seekor gorila berambut panjang karena kehadirannya akan terasa terlalu mendominasi, tetapi sungguh sangat merepotkan bahwa kenyataan dan apa yang kulihat begitu jauh berbeda.

…Yah, fakta bahwa mereka tampak sebagai hewan saja sudah merupakan hal yang luar biasa! Aku ingin tahu apakah mereka merasa hal itu tidak masalah selama jumlah mata, mulut, and anggota tubuhnya sama, karena cara kutukan ini menetapkan penampakan visual sungguh-sungguh sembarangan. Aku benar-benar benci aspek sembarangan dari kutukan ini. Aku berharap kutukan ini bisa segera berakhir.

Karena kutukan yang menjeratku secara sepihak ini, komunikasi dengan lawan jenis menjadi sangat sulit, namun aku sudah mulai bisa menerimanya sampai batas tertentu. Setidaknya, aku sudah menghafal nama-nama dan karakteristik teman-teman sekelasku, dan sisanya terserah!

Jika itu adalah seseorang yang jarang berinteraksi denganku, tidak masalah untuk mengatakan, "Maaf, siapa ya tadi namamu?"

Untungnya, ada anak-anak laki-laki yang berasal dari SMP yang sama, jadi aku membuat teman di kelas dengan memanfaatkan mereka serta beberapa anak lain yang tampaknya mudah diajak bicara sebagai titik awal. Aku memang sedikit mengobrol dengan para siswi, namun untuk saat ini, aku hanya sedang mengamati situasi terlebih dahulu.

Untuk saat ini, satu-satunya siswi di kelas yang berinteraksi denganku adalah Gorila-san yang duduk di sebelahku, tapi setelah dua minggu mengikuti berbagai macam kelas, aku mulai memahami beberapa hal.

Pertama, Gorila-san itu tinggi. Tentu saja, aku sudah menyadari hal ini sejak hari pertama. Saat duduk, aku tampak sedikit lebih tinggi darinya, tapi begitu kami berdiri untuk menuju ke aula demi menghadiri upacara penerimaan siswa baru, terlihat jelas bahwa dia sedikit lebih tinggi dariku. Dia tampaknya adalah siswi paling tinggi di kelas.

Hal berikutnya yang kusadari datang beberapa hari kemudian. Saat jam istirahat, ketika aku kembali ke tempat dudukku setelah mengobrol dengan anak-anak laki-laki lain, Gorila-san sedang, seperti biasa, membaca buku di mejanya. Bukan ponsel pintar, melainkan sebuah novel tipis bersampul kertas.

Seekor gorila yang memancarkan aura gadis sastrawan... gorila intelektual... aku jadi ingin membelikannya satu set baret dan kacamata...

Yah, terlepas dari keinginan itu, sepertinya Gorila-san tidak terlalu berinteraksi dengan siswi-siswi lain, atau lebih tepatnya, dia bukan tipe yang suka memulai percakapan. Ketika beberapa siswi, dan kadang-kadang siswa laki-laki, mendekati serta mengajaknya mengobrol, dia akan meresponsnya dengan baik. Obrolan mereka sepertinya tidak terlalu meriah, tapi setidaknya dia tidak dikucilkan. Dia bahkan diajak dengan semestinya saat orientasi siswa baru untuk mempererat pertemanan. Padahal, akulah yang hampir ketinggalan bergabung dengan kelompok dan sempat berada dalam situasi genting.

Menjelang pertengahan bulan April, saat aku mulai bisa mencocokkan nama, wajah, serta ciri-ciri hewan dari teman-teman sekelasku, aku berlari kencang memasuki ruang kelas tepat waktu untuk menghindari keterlambatan dan mengambil tempat dudukku sambil menyapa tetangga sebelahku dengan cepat.

"Gossan, pagi."

"Pagi P... eh, kamu sedang ngobrol denganku...?"

Gorila-san, yang mengerutkan keningnya dengan galat, seolah bertanya apakah aku telah melakukan kesalahan sembari mengawasiku, jadi aku, yang baru saja duduk dan merasa kepanasan karena berlari, mengipas-ngipasi wajahku menggunakan tatakan meja yang tertinggal di dalam laciku lalu mengangguk.

"Tentu saja. Memangnya ada orang lain di sini, kan?"

"Kenapa tiba-tiba jadi pakai dialek daerah... Eh, bukan itu yang utama, kenapa panggilannya jadi seperti itu...?"

"Begini, aku sudah memikirkannya selama beberapa hari belakangan. Memanggilmu 'Goura' rasanya terdengar agak terlalu kasar, tahu?"

"…Kurasa aku bisa memahami poin itu."

"Jadi, memanggilmu dengan nama depanmu rasanya terlalu akrab, kan? Dan 'Gocchan' juga kurang pas jika dibandingkan dengan 'Gossan', jadi setelah melalui pertimbangan matang, caramu dipanggil kuputuskan dengan cara ini."

"…"

Gorila-san, dengan tetap mempertahankan ekspresi tanpa emosi, menatapku dalam keheningan. Tekanan dari gorila ini cukup intens. Aku sudah mulai terbiasa selama dua minggu terakhir ini, tapi rasanya tetap saja mengancam nyawa. Namun, cara ini adalah yang terbaik bagi kami berdua.

Aku sengaja memilih untuk tidak membaca situasi.

Bagaimanapun juga, setiap kali aku mencoba memanggilnya 'Goura', aku hampir keceplosan memanggilnya 'Gorira' (Gorila).

Karena wujud yang kulihat adalah seekor gorila berseragam sekolah, kan? Ditambah lagi ada marga 'Goura', yang begitu mirip dengan kata 'Gorira'. Terasa lebih natural kalau huruf 'ri' diselipkan di antara 'go' dan 'ra' daripada huruf 'u', bukan?

Namun, pihak yang dipanggil adalah seorang siswi, terlebih lagi dia memiliki trauma karena pernah dipanggil gorila di masa lalu. Aku benar-benar ingin menghindari kesalahan mengucapkan itu. Jadi, sebagai langkah putus asa, aku memutuskan untuk menetapkan panggilan 'Gossan' di dalam benakku demi menjaga jarak dari citra gorila tersebut. Memanggilnya dengan nama depannya akan terlalu intim mengingat tingkat keakraban kami saat ini.

Bagi seorang gadis, panggilan 'Gossan' mungkin adalah julukan yang lebih ingin mereka hindari, tapi kuharap dia mau memaafkanku. Ini adalah masalah krusial antara aku yang mungkin akan tidak sengaja memanggilnya gorila atau tidak.

Gorila-san, dengan hiasan rambut berwarna kuning di kepalanya, menatapku lekat-lekat, dan sulit untuk ditebak apakah dia sedang marah atau merenung, tapi...

"Yah, terserah kamulah. Setidaknya aku merasa ada sedikit rasa hormat karena kamu menambahkan imbuhan 'san' di belakangnya."

"Oh, baguslah kalau begitu. Aku memilih panggilan yang rasanya paling pas. Aku senang kalau kamu menyukainya."

"Aku tidak menyukainya. Omong-omong, apa saja opsi pilihan lainnya?"

"Hm? Oh, aku sempat berpikir untuk memakai 'Gori-san' dengan mengambil suku kata 'go' dari 'Goura' dan 'ri' dari 'Riho', atau bahkan 'Gohho' dengan mengambil suku kata 'ho' dari 'Riho'..."

"Begitu ya, aku sekarang mengerti——aku kesal, jadi aku akan memukulmu."

"Tunggu, sebentar, itu kan cuma kandidat yang dicoret... Aduh!"

Sebelum aku sempat memberikan pembelaan apa pun, tangan kiri Gorila-san terayun dan mendarat telak di dekat bahu kananku.

Apakah ini benar-benar pukulan seorang gadis? Rasanya begitu sakit sampai-sampai aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara, dan ini sama sekali bukan dibesar-besarkan. Sekalipun otakku salah mengartikan akibat dampak visualnya, rasa sakitnya sangat nyata. Kalau pukulan itu mengenai wajahku, aku mungkin akan menangis.

Wujud gorila itu ternyata bukan sekadar hiasan... dan sambil aku mengusuli bagian yang terasa nyeri itu, aku melihat profil tenang sang gorila yang baru saja melayangkan tamparan bertenaga besar tersebut. Hal itu terasa seperti kebohongan jika mengingat suara hantamannya yang begitu keras, namun lebih dari separuh isi kelas menoleh ke arah sini, bertanya-tanya apa yang telah terjadi.

Mengabaikan tatapan semua orang serta reakku, Gorila-san mulai bersiap untuk mengikuti pelajaran, sementara aku melayangkan protes dengan suara tinggi.

"Hei, Gossan. Pahlawan wanita yang gemar melakukan kekerasan itu sudah tidak populer lagi lho, tahu?"

"Aku bukan pahlawan wanita, dan aku juga tidak gemar melakukan kekerasan, jadi hal itu tidak relevan."

"Hmm? Lalu apa sebutan untuk pukulan yang baru saja kamu layangkan padaku?"

"Itu adalah manifestasi fisik dari rasa sakit di hatiku. Hal itu berbeda dari kekerasan."

"…Jadi kamu ini bukan pahlawan wanita yang gemar kekerasan, melainkan pahlawan wanita yang gemar melakukan pelecehan verbal..."

"Sudah kubilang, aku bukan pahlawan wanita. Mau kena pukul sekali lagi?"

Bagaimana bisa ini bukan disebut pahlawan wanita yang gemar kekerasan? Dari sudut pandangku, dia adalah seekor gorila yang liar. Rasanya bagaikan di alam liar yang belum terjamah.

Tapi... yah, benar juga sih. Ucapan Gossan ada benarnya.

"Memang benar, tidak tepat memperlakukanmu sebagai pahlawan wanita. Gossan, kamu ini lebih memancarkan aura seorang pahlawan utama pria ketimbang pahlawan wanita."

"Sebagai referensi untuk ke depannya, apa perbedaannya?"

"Bagiku, tipe sepertimu adalah jenis orang yang mengambil tindakan alih-alih hanya menunggu, tahu? Lebih sebagai sosok pelindung daripada yang dilindungi, seperti karakter yang awalnya muncul sebagai musuh lalu belakangan berubah menjadi sekutu tapi benci terlalu akrab dan bersikeras ingin menjadi penolong soliter."

"Begitu ya... aku sama sekali tidak paham."

"Tidak apa-apa. Mungkin itu terlalu sulit dipahami oleh seorang gadis... Ah, rasa sakitnya akhirnya mulai mereda."

"Kamu terlalu lebay. Aku tadi sudah menahannya dengan benar kok."

"…Benarkah? Itu namanya menahan diri...!?"

Pernyataan mengejutkannya itu membuat mataku terbelalak lebar, namun tatapan tidak suka dari Gorila-san meyakinkanku bahwa itu adalah sebuah kebenaran. Pukulan tadi terasa jauh lebih menyakitkan dan mengejutkan daripada saat aku terkena dropkick dari adik perempuanku ketika dia sedang mengamuk.

Jika itu adalah saat dia menahan diri... aku bahkan tidak berani membayangkan seperti apa kekuatan penuhnya...!!

“Gossan, apa kamu dulu pernah ikut karate atau semacamnya?”

“Cakupan tebakanmu terlalu luas, tapi aku tidak punya pengalaman di bidang seni bela diri atau olahraga tarung. Aku hanya pernah berpartisipasi dalam turnamen sumo anak-anak saat masih SD.”

“Oh, benarkah? Kenapa bisa begitu?”

“Aku tergiur dengan hadiahnya. Namanya juga masih anak-anak.”

“Masuk akal juga. Jadi, bagaimana hasilnya?”

“Untungnya, aku menang. Aku senang sekali bisa mendapatkan konsol gim yang kuinginkan.”

Konsol gim? Turnamen itu pasti cukup besar. Dan dia berhasil menang...

“…Satu hal lagi. Waktu SMP dulu kamu ikut klub apa?”

“Klub tenis. Tenis lapangan lunak, tepatnya.”

“…Jadi, seseorang dengan potensi untuk memenangkan turnamen sumo tanpa pengalaman apa pun, sambil mengayunkan raket selama masa pertumbuhannya... Itu mah pada dasarnya adalah senjata berjalan...”

“…Sepertinya kamu benar-benar minta dipukul sekali lagi, ya?”

Tepat saat Gossan mengucapkan kata-kata bernada ancaman itu dan memancarkan aura berbahaya, pintu ruang kelas terbuka dan wali kelas masuk sambil berkata santai, ‘Maaf ya saya telat.’ Kalau mau telat, setidaknya beri tahu kami dulu. Usahaku berlari kencang dari tempat parkir sepeda jadi sia-sia begitu saja.

Tapi yah, berkat kedatangannya, aku selamat dari serangan kedua Gossan. Dia bahkan sudah tidak melihat ke arahku lagi. Sebagai gorila yang serius, dia bukan tipe orang yang terus-menerus main-main saat guru sedang hadir.

Jadi, setelah lolos dari maut secara tipis, aku mulai bersiap untuk mengikuti pelajaran sementara sang guru menyampaikan beberapa pengumuman sepele, dan tepat saat aku menurunkan kewaspadaanku, guru itu dengan cepat meninggalkan kelas. Nyaris bersamaan dengan itu, aku menerima hantaman kedua dari Gossan dan akhirnya mengeluarkan jeritan yang menyedihkan.

“Ngomong-ngomong, Gossan. Apa rencana kedepannya soal kegiatan klub?”

Saat itu adalah jam istirahat di siang hari pada akhir bulan April, tanpa ada tugas khusus atau kebutuhan untuk berpindah kelas. Aku dengan santai membuka percakapan dengan orang di sebelahku karena merasa bosan, sambil teringat bahwa mulai minggu depan, setiap klub akan mulai menerima anggota baru untuk partisipasi uji coba.

Gossan, yang baru saja hendak membuka buku sampul tipis berbalut kertas, memposisikan ulang pembatas buku bergfloral miliknya—yang tampak tidak cocok dipegang oleh seekor gorila—lalu berbalik ke arahku dan berkata,

“Aku belum memutuskan mau bergabung ke mana, tapi aku berencana untuk masuk klub olahraga. Aku sudah menerima beberapa ajakan.”

“Oh? Mau gabung ke klub yang sama dengan teman-temanmu?”

“Bukan, ajakan itu datang dari seorang Senpai yang tidak kukenal. Sepertinya mereka memperhatikan tinggi badanku, dan aku sudah diincar oleh klub bola voli maupun bola basket.”

Direkrut, ya? Kalau tinggi badanmu setinggi Gossan di kelas kita, hal seperti itu sepertinya memang wajar terjadi.

“Jadi, kamu mau pilih voli atau basket? Bagaimana dengan tenis yang tadi kamu bilang kamu ikuti waktu SMP?”

“Aku sudah memainkannya selama tiga tahun, jadi kurasa itu sudah cukup. Lagian, kalau bukan karena rasa bersalah membuat orang tuaku membiayai raketnya, aku mungkin sudah berhenti dalam waktu setahun.”

“Eh, sebegitu tidak sukanya kah?”

“Bukan berarti aku tidak suka tenisnya itu sendiri. Hanya saja, aku payah dalam memainkannya.”

Nada bicaranya terdengar datar, tapi aku tidak melewatkan sudut bibir tebal sang gorila yang sedikit menurun. Hal itu sepertinya merupakan pengalaman yang cukup membuat frustrasi baginya, namun tidak sampai menyulut api dendam untuk membuktikannya di SMA. Aku sebenarnya sangat ingin melihat seekor gorila mengayunkan raket tenis, tapi ya sudahlah.

“Aku berencana mencoba beberapa klub terlebih dahulu sebelum memutuskan, tapi bagaimana denganmu, Saiki-kun?”

“Aku juga akan mencoba beberapa klub sebelum memutuskan. Kalau klub olahraga, biasanya kita bisa melihat mereka beraksi secara langsung, tapi kalau klub kebudayaan, sering dikatakan bahwa situasinya jauh berbeda dari bayangan kita kecuali kita memeriksanya sendiri.”

Aku punya beberapa gagasan tentang mana yang akan dicari pertama kali. Namun karena bergabung dengan klub atau organisasi sekolah sifatnya wajib, ada beberapa pilihan serupa yang tersedia. Aku harus mempertimbangkan baik-baik mana yang tampaknya paling cocok.

…Dan entah kenapa, Gossan menatapku dengan ekspresi bingung.

“Hm? Ada yang salah?”

“Tidak... aku tadinya berasumsi kamu pasti akan masuk klub olahraga, Saiki-kun.”

“Ah, kamu meremehkanku, Gossan. Tentu saja, aku mungkin memancarkan kesan yang sporty dan menyegarkan, tapi pada kenyataannya, aku juga punya sisi yang menyukai kegiatan di dalam ruangan dan berbau seni.”

“Tiba-tiba sekali mengungkapkan sisi kehidupan masa lalu yang tidak dikenal. Apakah ini latar belakang karakter dari kehidupan lalumu?”

Eksistensiku saat ini langsung ditolak mentah-mentah dengan wajah serius. Padahal itu dimaksudkan sebagai lelucon, tapi rasanya menyedihkan sekali. Yah, kurasa Gossan juga sedang bercanda, jadi terserahlah.

“Aku memainkan berbagai macam olahraga seperti bisbol, bola basket, sepak bola, dan lainnya sampai tingkat SMP. Tapi karena sekolah ini punya banyak klub unik, termasuk berbagai kelompok peminatan, aku pikir tidak ada salahnya bergabung dengan yang paling cocok untukku, tahu?”

“Begitu ya? Apakah ada sesuatu yang spesifik ingin kamu lakukan?”

“Selama itu menyenangkan, apa saja boleh! Tapi karena aku sudah cukup banyak menggeluti olahraga, aku berpikir untuk memilih kegiatan yang di dalam ruangan saja.”

“Kamu tidak berencana kerja paruh waktu?”

“Ah, aku tadinya ingin, tapi sepertinya bakal sulit. Kalau aku menemukan sesuatu dengan kondisi kerja yang pas, aku ingin mencobanya.”

Memiliki uang sendiri tergantung dari hasil kerjaku adalah hal yang sangat menarik, namun dalam kasusku, ada hambatan super besar berupa penglihatan yang melihat wanita sebagai hewan. Aku belajar dari pamanku bahwa hal ini akan menjadi nilai minus yang signifikan dalam bidang pelayanan pelanggan... Hal itu bisa berujung pada kemarahan pelanggan yang bertubi-tubi.

Sambil memikirkan untuk melamar pekerjaan paruh waktu yang membutuhkan tenaga fisik sebelum liburan musim panas tiba, aku menyadari bahwa sudah waktunya untuk kelas berikutnya. Jadi, aku meraba-raba isi meja untuk mencari buku pelajaran.

“Pokoknya, aku sudah mempersempit pilihanku, jadi aku berencana untuk mengecek beberapa klub dulu. Karena Gossan akan pergi ke gedung olahraga bagaimanapun juga, kita sepertinya tidak akan berpapasan.”

“Aku tidak tahu klub mana yang berencana kamu masuki, tapi memang benar begitu. Aku dengar banyak klub kebudayaan yang ruang klubnya tidak berada di gedung utama.”

“Oh, begitu ya? Mungkin mereka menggunakan gedung sekolah tua sebagai ruang klub mereka.”

“Kalau begitu, kegiatan di musim panas akan sangat melelahkan. Gedung sekolah tua itu tidak memiliki pendingin ruangan.”

“…Komentar yang sangat tepat untuk meredam antusiasmeku untuk bergabung…”

Aku bergumam dalam apa yang bisa digambarkan sebagai rasa putus asa, dan aku merasa bibir Gossan sedikit berkedut membentuk senyuman—meskipun sulit dipastikan pada seekor gorila, suasananya seolah mengisyaratkan hal itu.

Aku tidak tahu apa yang membuatnya geli, tapi... yah, jika dia terlihat senang, aku rasa itu tidak masalah.

Sambil memperhatikan Gossan, yang tampak berada dalam suasana hati yang sedikit lebih baik saat dia merapikan alat-alat tulisnya di sebelahku, aku pun tidak bisa menahan perasaan gembira di dalam hati.

…Namun, perasaan itu dengan cepat sirna ketika kuis mendadak dimulai tepat setelah pelajaran dimulai.

——Dan begitu saja, seminggu setelah percakapan itu dengan Gossan.

Aku sedang berjalan sendirian di sepanjang rute belakang sekolah yang lebih sepi setelah jam pelajaran berakhir. Aku tidak dipanggil untuk menyatakan cinta ataupun diajak berkelahi. Aku hanya sedang menuju ke area parkir sepeda setelah menyelesaikan beberapa urusan.

Meskipun aku baru saja mulai bersekolah di sini dan masih banyak tempat yang belum kukunjungi, berjalan di jalur baru memiliki kesegarannya tersendiri. Aku bahkan mendapati diriku berhenti untuk menatap tumpukan barang dan kursi-kursi tak terpakai di pinggir jalan.

Aku berpapasan dengan sekelompok orang yang tampak seperti tim rugbi yang sedang lari pagi, dan aku berjalan dengan canggung melewati sepasang kekasih yang duduk berdekatan di tangga darurat. Ketika aku mencapai sisi gerbang belakang, tempat gedung olahraga dan aula bela diri berada, aku melihat sosok yang akrab di dekat keran air minum.

“Hei, Gossan, masih ada kegiatan klub?”

Saat aku memanggilnya, Gossan yang tadinya sedang membasuh wajahnya di keran air, membuat gerakan seolah ingin melihat ke arahku, namun mungkin karena matanya basah dan tidak bisa dibuka, dia berhenti dan menyeka wajahnya dengan handuk yang menggantung di lehernya.

“Panggilan itu lagi... Saiki-kun, ya? Kamu mengenalku dengan cukup baik.”

“Yah, kalau kamu duduk di sebelah seseorang selama hampir sebulan, tentu saja kamu jadi tahu.”

Maaf, itu bohong. Yang benar adalah aku mengenunimu karena kamu adalah seekor gorila. Entah itu gorila, simpanse, atau orangutan, termasuk para guru, kamu adalah satu-satunya orang di sekolah ini yang berpenampilan seperti primata, jadi aku bisa langsung mengenalinya hanya dari belakang.

Setelah menyeka wajahnya, Gossan melingkarkan kembali handuknya di leher dan menghela napas kecil, melirikku dengan wajah gorila khasnya yang bermartabat.

“Apakah kamu masih berada di sini pada jam seperti ini untuk uji coba klub, Saiki-kun?”

“Yah, aku sudah cukup mantap untuk bergabung. Aku sudah datang ke sana selama tiga hari berturut-turut, dan tadi aku baru saja membantu membuang sampah.”

Sambil merespons, aku memandang Gossan dari atas ke bawah.

Alih-alih mengenakan seragamnya seperti biasa, dia mengenakan kaus putih dengan rompi kuning di luarnya, dan di bawahnya dia mengenakan celana training resmi sekolah serta sepatu olahraga. Selain itu, dia tidak mengenakan hiasan rambut yang biasanya melekat di kelas.

“Apakah kamu bergabung dengan klub bola basket, Gossan?”

“Bukan, ini klub bola voli. Kurasa aku akan resmi bergabung minggu depan.”

“Oh, begitu ya. Aku sempat berpikir bola basket akan lebih cocok untukmu.”

Aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku ingin melihat seekor gorila asli melakukan dunk.

Seekor gorila dengan dribel dinamis... gorila yang melakukan dunk dengan kekuatan lebih hebat dari siapapun dan mengeluarkan raungan... Mungkin kalau aku membayarnya, apakah dia mau melakukannya...?

Saat aku berjuang untuk melepaskan impianku, Gossan memposisikan ulang handuk yang digunakannya untuk menyeka wajah dan berkata,

“Aku memang sempat mencoba klub bola basket, tapi rasanya kurang cocok untukku. Melakukan shoot itu sulit, dan aku terus-menerus mendapat pelanggaran hanya karena sedikit pergerakan.”

“Ah... Bola basket memang punya banyak aturan pelanggaran untuk hal-hal kecil. Tapi hei, kamu kan tinggal memasukkan semua bola dengan cara dunk saja, kan?”

“Kamu tidak bisa melakukannya semudah itu. Tinggi ringnya kan sama dengan bola basket putra, tahu?”

“Wah, benarkah? Aku pikir itu sedikit lebih rendah. Kalau begitu, bahkan Gossan pun tidak bisa melakukannya, ya?”

“Aku bisa menyentuh ringnya, tapi sulit memasukkan bolanya dari atas. Terutama saat harus berlari sambil mendribel, rasanya sama sekali tidak bagus.”

Begitu ya, dia benar-benar mencobanya. Aku tadinya berpikir Gossan yang memiliki tinggi hampir 180 sentimeter akan dengan mudah melakukan dunk, tapi jika dia sudah mencoba dan gagal, situasinya pasti cukup sulit.

“Klub bola voli kalau begitu? Tapi Gossan, pakaianmu tidak terlihat seperti anak klub bola voli.”

“Begitukah? Para Senpai juga mengenakan pakaian yang mirip.”

“Sungguh!? Aku selalu mengira bola voli identik dengan seragam ketat, lengkap dengan celana pendek atau bloomers di bagian bawah!”

“Selama pertandingan mungkin iya, tapi untuk latihan, kami biasanya mengenakan kaus atau celana pendek setengah lutut. Lagi pula, komentar barusan bisa dianggap sebagai pelecehan seksual.”

“Pelecehan seksual... Begitukah keadaannya... Sejujurnya, aku lebih menyukai pakaian yang tidak terlalu terbuka, jadi aku tidak punya pola pikir seperti itu.”

“Pernyataan itu sendiri sudah sangat melecehkan... Aku terkejut. Saiki-kun, kamu ternyata seorang pria mesum.”

Wah, wajah gorila serius itu baru saja melontarkan kalimat yang luar biasa.

“Hei Gossan, di bagian mana kamu melihat unsur kemesuman dalam diriku? Kalaupun ada, aku seharusnya dipuji sebagai seorang gentleman!”

“Anak laki-laki seusia kita seharusnya selalu berfantasi tentang ketelanjangan lawan jenis. Namun kamu justru lebih menyukai pakaian tertutup, yang jelas-jelas berarti kamu memiliki preferensi khusus. Tolong jauhi aku.”

“Aku tidak punya preferensi aneh seperti itu! Aku hanyalah seorang pria yang lebih menyukai pakaian musim dingin daripada musim panas! Kamu terlalu berprasangka buruk, Gossan!”

“Kakak laki-ku, adik laki-lakiku, dan semua kerabat kami sepakat mengatakan, ‘Bikini jauh lebih baik daripada baju renang one-piece.’ Satu-satunya yang tidak setuju adalah para wanita, jadi artinya, Saiki-kun, kamu adalah bagian dari minoritas yang mesum...”

“Itu kan cuma masalah preferensi! Ada orang yang suka daging, ada juga yang suka ikan, begitu saja kok!”

“Hmm... kalau kamu menjelaskannya seperti itu, memangnya...”

Aku merasa lega karena dia tampaknya bisa menerima argumenku sampai batas tertentu... tapi aku tidak bisa menjelaskan lebih jauh dari apa yang kulihat di permukaan.

Dalam kasusku, bagian tubuh yang terbuka tampak berubah menjadi wujud hewan. Dalam situasi seperti itu, wujud mereka berbeda dari bentuk aslinya dan berubah menjadi sekadar hewan biasa. Jadi, pakaian yang bisa membuatku bergairah secara erotis justru adalah baju ketat seluruh tubuh yang dikenakan oleh pahlawan sentai, tapi di sisi lain, pakaian itu juga menutupi bagian wajah, yang malah membuatku bertanya-tanya bagaimana cara kerja hal tersebut.

“Ngomong-ngomong, Gossan, obrolan macam apa sih yang kamu lakukan dengan kerabatmu itu? Justru bagian itu yang terdengar lebih aneh.”

“Ya, itu memang aneh. Kejadian itu terjadi saat peringatan kematian kakek buyut kami yang ketiga, dan semua pria di keluarga mendapatkan hukuman ilahi.”

“Hukuman ilahi?”

“Ya.”

Aku sebenarnya ingin penjelasan yang lebih mendetail, tapi aku juga merasa mungkin lebih baik tidak menggali terlalu dalam. Gossan bisa jadi sangat mengerikan tanpa diduga... Kalau hal itu sudah mengalir dalam darah mereka, sudah sangat jelas kalau dia dan para kerabatnya bekerja sama untuk menjatuhkan sesuatu yang mereka sebut hukuman ilahi... Ya, lebih baik aku lupakan saja. Aku tidak ingin mempertaruhkan keselamatan diriku sendiri dengan terlalu banyak mencari tahu. Sepertinya aku sudah belajar untuk membuat keputusan yang dewasa.

“Gossan, apa latihan klubmu sudah selesai?”

“Latihan kelompoknya sudah selesai, tapi para senior akan melanjutkan latihan individu, jadi aku akan ikut bergabung dengan mereka. Sepertinya para senpai juga menaruh harapan padaku.”

“Karena tinggi badanmu itu, ya? Yah, kalau begitu semoga beruntung. Aku mau pulang dulu.”

“Saiki-kun, kamu naik sepeda ke sekolah, kan?”

“Ya, tempat parkir sepeda ada di sebelah sana, jadi lain kali aku akan mampir untuk menonton setelah kegiatan klub selesai.”

Sekolah kami memiliki dua tempat parkir sepeda, dan tempat yang biasa kugunakan berada di sebelah aula bela diri dekat gerbang belakang. Dari sini, jalurnya memutar melewati gedung olahraga.

“Hati-hati. Kalau ada anak laki-laki yang ketahuan mengintip, bola voli, bola basket, dan bola pingpong akan beterbangan ke arahmu.”

“Bukankah sistem anti-penyusupan itu agak berlebihan...? Meski kurasa aku tidak terlalu peduli dengan bola pingpong.”

“Katanya kadang-kadang raket juga ikut melayang keluar.”

“Itu benar-benar berbahaya! Yah, aku akan berhati-hati saat datang untuk mengisengimu.”

“Kamu tidak bilang kalau kamu jadi tidak akan datang?”

“Aku suka menonton olahraga. Aku ingin melihat Gossan gagal melakukan spike.”

“Begitu ya. Aku mungkin akan gagal melakukan spike dan tidak sengaja memukul wajah Saiki-kun, tapi itu adalah kesalahan yang lumrah bagi pemula, jadi mau bagaimana lagi.”

“Yah, kalau itu murni kesalahan, aku tidak bisa protes. Tapi Gossan, izinkan aku mengajukan satu permintaan.”

“Ya? Tentang apa?”

“Kalau kamu mau memukulku, pakailah bola voli! Kalau pukulan spike yang meleset mengenaimu, itu rasanya seperti kamu sedang menyerangku dengan jurus andalan!”

“Hmm, ada benarnya juga. Kalau begitu, aku akan mengarahkan servis bertenaga penuh ke wajahmu.”

“Ya, itu lebih ba— eh?”

Aku mengangguk menyetujui, tapi ada sesuatu yang terasa ganjil. Aku seharusnya berhasil membujuknya, namun kenapa ada hal yang terasa sangat keliru...?

“Yah, terserah. Aku duluan. Sampai jumpa lagi, Gossan.”

“Hati-hati di jalan.”

Setelah ucapan perpisahan yang terasa terlalu perhatian untuk seseorang yang baru saja melontarkan begitu banyak kalimat bernada kekerasan, Gossan berjalan menuju gedung olahraga. Sebenarnya itu adalah rute terpendek untukku juga, tapi akan terasa canggung jika aku langsung mengekorinya setelah berpisah, jadi aku mengambil sedikit jalan memutar ke tempat parkir sepeda.

“Gossan masuk klub bola voli, ya...”

Mungkin ini kasus orang yang tepat di tempat yang tepat. Berbeda dengan tipe orang yang tinggi tapi pemalu dan payah dalam olahraga, dia memiliki jiwa bertarung untuk memukul anak laki-laki.

Sayang sekali aku tidak bisa melihat gorila melakukan dunk, tapi pemandangan seekor gorila melakukan spike pasti akan sangat luar biasa juga. Membayangkannya saja membuatku merasa tidak sabar, dan aku memutuskan bahwa aku harus menontonnya setidaknya sekali saja.

Dengan bayangan Gossan yang melayang di udara, aku tidak bisa menahan senyum lebar, membuat para siswa laki-laki yang berpapasan denganku menatap dengan tatapan aneh saat aku bersemangat mengayuh sepeda pulang ke rumah.

Setelah liburan panjang pertama di SMA berakhir, tibalah hari tertentu di pertengahan bulan Mei sepulang sekolah.

Dengan tekad yang bulat, aku memposisikan diriku di hadapan Gossan yang sedang bersiap-siap untuk pulang.

“Gossan, aku punya permintaan yang sangat penting.”

“Aku sudah punya firasat buruk tentang ini, tapi apa itu?”

Aku mencondongkan tubuh ke atas meja, menumpukan kedua tangan di atasnya, dan membungkukkan kepala dengan tenaga penuh seperti orang yang hendak menanduk Gorila-san—yang jelas-jelas terlihat tidak ingin dilibatkan.

“Tolong pinjamkan catatanmu pada pria malang ini! Hanya Bahasa Inggris dan Sejarah Dunia saja, aku mohon padamu!”

“Kenapa aku, yang begadang dengan sabar, harus meminjamkan catatanku kepada seseorang yang bahkan tidak repot-repot mencatatnya selama pelajaran berlangsung?”

“Kumohon, aku sangat memohon padamu. Tentu saja, aku akan memberimu imbalan, dan aku akan mengembalikannya dalam waktu lima menit setelah selesai menyalin.”

“Kenapa tidak minta pada orang lain saja?”

“Aku bisa saja meminta pada orang lain, tapi aku tidak tahu apakah catatan mereka bagus. Aku ingin catatan yang jelas dan tersusun rapi seperti milik Gossan!”

Permohonan putus asaku itu mengundang tatapan aneh dari teman-teman sekelas lainnya, tapi aku sudah tidak peduli lagi. Nilai ujian dan nilai akhirku sangat berpengaruh pada uang saku, jadi ini adalah masalah hidup dan mati.

Setelah keheningan yang panjang serta tatapan tajam menyelidik dari Gossan, ditambah kehadiran aura seekor gorila, aku tetap menangkupkan kedua tangan dan mempertahankan posisi memohonku.

“Baiklah. Tapi ada syaratnya.”

“Baguslah. Demi catatan itu, aku bahkan rela melakukan tarian perut atau breakdance untukmu!”

“Aku tidak ingin melihat tarian apa pun. Yang aku inginkan adalah——”

Satu jam setelah tawar-menawar jiwa tersebut, aku mendapati diriku berada di sebuah kafe dekat stasiun terdekat dari sekolah, duduk berhadap-hadapan dengan Gossan.

Namun, di hadapan Gossan terdapat sebuah parfait stroberi ukuran deluxe dan segelas teh hitam murni, sementara di depanku hanya ada dua buah buku catatan dan segelas air putih—sebuah kontras yang begitu mencolok.

“Kamu belum selesai juga? Aku hampir menghabiskan ini.”

“Tunggu, kamu terlalu cepat! Gossan, nikmati pelan-pelan dong!”

“Aku menikmatinya kok. Tapi aku tidak suka kalau es krimnya meleleh terlalu banyak atau kalau sereal di bawahnya menjadi lembek, jadi secara alami aku akhirnya makan dengan cepat.”

Jadi dia memang tidak punya niat untuk memperlambat makannya. Aku bahkan baru saja selesai menyalin catatan Bahasa Inggris.

Syarat yang diajukan Gossan untuk meminjamkan catatannya ada dua. Yang pertama adalah harus disalin dengan tangan alih-alih difotokopi, dan yang kedua adalah mentraktirnya apa pun yang ingin ia makan sampai aku selesai menyalin. Aku memang punya sedikit uang hasil bekerja bersama teman-teman selama liburan Golden Week, dan karena Gossan memilih kafe, aku tadinya berpikir situasinya tidak akan terlalu buruk. Aku ingin meninju diriku di masa lalu karena begitu gegabah meremehkan keadaan.

Gossan sudah menghabiskan panekuk dan kue gateau chocolat. Dia bahkan sedang menikmati cangkir teh keduanya, dan itu adalah jenis teh yang mahal. Berkat semua itu, dompetku sudah berada di ambang kematian, sampai-sampai aku menyesal telah memesan kopi milikku sendiri.

"Sial... kalau saja kamu mengizinkanku memfotokopinya, hal ini tidak akan terjadi...!"

"Aku tidak suka gagasan orang lain memiliki salinan dari catatanku. Lagipula, kamu bisa selesai lebih cepat jika tidak menyalin semuanya kata per kata."

"Tapi kalau aku membaca kembali catatanku sendiri, rasanya aku jadi malas membacanya! Karena aku sudah membayar mahal untuk ini, aku ingin mendapatkan setidaknya sedikit nilai yang bagus...!"

"Baguslah kalau kamu punya ambisi. Nah, setelah makan yang manis-manis, aku jadi ingin sesuatu yang sedikit asin..."

"Kamu masih mau makan lagi!? Gossan, serius deh, apa kamu tidak makan terlalu banyak? Nanti kamu tidak punya ruang lagi di perut untuk makan malam."

"Tenang saja. Kalau cuma sebanyak ini, aku tinggal mengurangi porsi nasi nanti."

Begitu ya. Jadi satu-satunya hal yang tidak akan diselamatkan adalah dompetku.

Selamat tinggal, uang hasil jerih payahku.




Tidak ada pilihan lain, aku harus menutupinya dengan hasil ujianku nanti. Meskipun ada teori yang mengatakan bahwa sudah terlambat untuk memulihkan jumlah uang yang telah dihabiskan.

Menelan air mata, aku mulai menuliskan seluruh cakupan materi tes Sejarah Dunia dari awal hingga akhir, lalu bertanya,

“Ngomong-ngomong, Gossan. Apa kamu tidak mengambil jeda dari kegiatan klub karena ujian? Apakah kamu tidak punya rencana untuk pergi keluar dan bersenang-senang?”

“Kenapa kamu berpikir kami tidak punya kegiatan klub? Aku pasti akan memanfaatkan waktu itu untuk belajar dengan benar.”

“Lalu bagaimana setelah ujian selesai?”

“Karena kegiatan klub langsung dimulai lagi tepat di hari terakhir ujian, aku tidak punya rencana khusus.”

“Ah, begitu ya. Waktu di SMP dulu, sekolahku melarang kegiatan klub bahkan pada hari terakhir ujian. Kami akan kembali normal pada hari berikutnya, tapi di hari terakhir, biasanya kami semua pergi keluar dan bersenang-senang bersama.”

Sambil mengenang masa lalu tanpa menghentikan kegiatan menyalin catatanku, aku melihat tangan seekor gorila yang membeku secara tidak wajar saat memegang cangkir teh, berada di sudut pandangku.

“Ngomong-ngomong, seorang teman yang baru-baru ini jalan bersamaku mengatakan hal yang mirip dengan apa yang dikatakan Saiki-kun. Mungkin kalian berasal dari sekolah yang sama.”

“Oh, benarkah? Tapi Gossan, aku terkejut kamu mau jalan-jalan dengan teman. Aku tidak menyangka hal itu.”

“Cara bicaramu itu sangat menjengkelkan. Apa kamu pikir aku tidak punya teman?”

“Bukan, bukan begitu. Jangan bersiap-siap untuk memukulku ya? Maksudku, aku tidak pernah mendengarmu mengobrol tentang jalan-jalan dengan siswi lain dari kelas.”

Gossan, yang tadinya bersiap untuk menyerang kapan saja, tampak menerima penjelasan tersebut dan menarik kembali tangannya untuk meminum tehnya.

“Memang benar, aku belum pernah jalan-jalan dengan teman sekelasku yang sekarang. Teman yang kusebutkan tadi sudah berteman sejak SD, dan karena kami sekolah di tempat yang berbeda, temanku itu biasanya datang berkunjung dengan cara yang hampir mirip seperti invasi.”

“Huh, teman dari sekolah lain... Bagaimana kalian bisa berkenalan?”

“Di tempat bimbingan belajar. Anehnya, aku tidak punya banyak kenangan tentang belajar bersama.”

“Kalau kita dulu satu SMP, mungkin kita juga satu SD. Siapa nama temanmu itu? Dan apa nama sekolahnya?”

Saat aku bertanya dengan santai, berharap bisa menemukan topik yang sama, Gossan menatapku lekat-lekat.

“Tidak akan kuberitahu. Kalau kita punya kenalan yang sama, akan merepotkan kalau kamu mulai bertanya macam-macam tentang diriku.”

“Ayolah, Gossan, kamu menganggap diriku ini apa? Aku ini dikenal sebagai orang yang penuh pertimbangan, tahu?”

“Itu berita baru bagiku, dan aku sama sekali tidak melihatnya seperti itu, jadi anggap saja aku tidak mendengarkan ucapan barusan. Lagipula, ada privasi dirinya yang harus dipertimbangkan.”

“Kupikir adalah hal yang wajar untuk merasa bersemangat saat menemukan kenalan yang sama...”

“Kalau kamu membuang-buang waktu lagi, catatan ini akan kuambil kembali. Sebelum itu—permisi, bolehkah aku memesan tambahan?”

Kalimat itu tidak ditujukan kepadaku melainkan kepada pelayan yang lewat, dan meminta persetujuanku tidak pernah menjadi bagian dari rencana.

Dia bukanlah seekor gorila, melainkan sesosok iblis. Menyadari bahaya tersebut, aku dengan cepat kembali menyalin catatannya.

Sambil mendengarkan Gossan memesan ogura toast, aku mendapati diriku merenungkan percakapan mereka sebelumnya.

—Seorang gadis, rupanya.

Yah, tidak terlalu mengejutkan jika Gossan memiliki teman perempuan daripada teman laki-laki.

Hmm, hmm.

“Apa yang sedang kamu senyumkan itu?”

“Eh?”

Karena tertangkap basah, aku menyentuh wajahku sendiri dan berkata,

“Apa? Apa aku tadi tersenyum?”

“Ya. Apa kamu melihat coretan gambar yang kubuat untuk menghibur diri lagi? Kalau kamu menertawakan hal itu, aku akan menusukmu dengan garpu.”

“Bukan, bukan begitu sama sekali, aku bahkan tidak sadar...”

Terlepas dari usulan Gossan yang agak mengerikan itu, hal yang lebih membuatku penasaran adalah alasan kenapa aku tersenyum tanpa sadar.

Ada apa ini? Apakah aku senang mengetahui bahwa teman Gossan adalah seorang perempuan? Bukan, rasanya lebih seperti... kelegaan...?

“Ekspresi aneh apa itu sekarang? Apa kamu juga mau ogura toast?”

Karena dikejutkan oleh pertanyaan Gossan yang melenceng jauh dari sasaran, aku memberikan respons yang samar-samar, yang tampaknya justru membuat dia benar-benar khawatir. Dia membagikan ogura toast yang dipesannya dan bersikeras ingin membayarnya, tapi aku menolak sambil berkata, ‘Ini traktiranku’, dan membayar seluruh harganya sambil menangis di dalam hati.

Aku tidak pernah benar-benar tahu alasan di balik reaksiku terhadap fakta bahwa teman Gossan adalah seorang perempuan. Bingung dengan perasaan sendiri, aku bahkan tidak bersemangat untuk belajar untuk ujian meskipun harga yang harus kubayar untuk catatan itu sangat mahal.

Malam itu, aku mendapati diriku terus memikirkan Gossan sambil menghabiskan waktu luangku.

—Dan begitulah, meskipun aku menjaga hubungan yang tidak terlalu dekat maupun terlalu jauh dengan si gadis gorila tinggi yang duduk di sebelahku, terkadang mengandalkan dirinya dan terkadang terkena pukulan darinya, aku mendapati diriku semakin terpikat oleh kehadirannya, memikirkannya, serta merasa bersemangat dalam setiap percakapan kami.

Menjelang akhir bulan Juni, mendefinisikan perasaan yang sulit dipahami ini telah menjadi tantangan terbesarku.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment