Chapter
3
Situasi Gadis Suci yang Tidak Terlalu Rumit
"Hmm,
sudah jam sepuluh, ya……"
Saat
aku terbangun dari tidur kedua kaliku, waktu sudah menunjukkan hampir tengah
hari.
Kondisi tubuhku kurang begitu
baik.
Nafsu makan pun tidak ada,
jadi setelah hanya meminum air putih, aku kembali berbaring di atas tempat
tidur.
Lalu, sebelum tidur aku
memeriksa ponselku terlebih dahulu.
Ada pesan dari teman-temanku
yang menanyakan kabar dan mengkhawatirkan kondisiku.
Namun, di antara pesan-pesan
itu, ada satu yang paling menarik perhatianku.
『Hari ini hitam. Apa kamu sudah merasa lebih baik? Perlu
kulepas juga?』
Logika macam apa itu.
『Jangan dilepas, nanti kamu masuk angin. Tenagaku sudah sedikit
pulih, kok』
Aku mengirimkan balasan tersebut,
lalu kembali menyusup masuk ke dalam selimut.
◇ ◇ ◇
"Hei, Himuro-kun. Menurutmu
sekarang aku memakainya atau tidak? Coba tebak…… Coba pastikan sendiri?"
"Ah……"
Begitu aku menyingkap rok Saotome
dan hendak memeriksa bagian dalamnya—
Ting-tong!
Suara bel pintu yang sama sekali
tidak bisa membaca suasana membangunkan tidurku.
Sialan, siapa sih yang bertamu
saat orang sedang mengalami mimpi indah……
Sambil merasa kesal, aku
memeriksa layar interfon.
Di sana terpampang wajah
Saotome.
Aku buru-buru bergegas menuju
ke pintu depan.
"Halo, Himuro-kun. Wajahmu
ternyata tidak kelihatan pucat-pucat amat, ya."
Saotome berkata begitu sambil
menjinjing kantong belanjaan di tangannya.
Sepertinya dia datang untuk
menjengukku.
"Harusnya kabari aku dulu
sebelum datang."
"Tadi siang aku sudah
mengirim pesan, tapi pesanku tidak dibaca."
"Eh"
Aku buru-buru memeriksa ponselku.
Benar saja, ada pesan masuk dari
Saotome yang berbunyi: 『Aku mau menjengukmu sepulang sekolah nanti, ada yang kamu
inginkan?』
……Atau lebih tepatnya, ternyata
hari sudah sore, ya?
"Karena tidak ada balasan,
barang-barangnya kubeli seadanya saja."
"……Begitu ya. Terima
kasih."
"Jangan dipikirkan. Anggap
saja ini karena aku yang sudah membuatmu jatuh sakit."
Bagaimanapun juga, akhirnya aku
mempersilakan Saotome masuk ke dalam rumah.
"Wah…… kudengar cowok yang
tinggal sendirian itu berantakan, tapi ternyata lumayan rapi juga ya. Kukira
bakal banyak sampah berserakan di mana-mana."
"Aku rajin membuangnya, jadi
tenang saja."
Memangnya dia menganggap
diriku ini apa……
Sambil membatin seperti
itu, Saotome menyerahkan kantong plastik yang dibawanya kepadaku.
"Lembar pendingin
demam, permen tenggorokan, terus bubur instan sama makanan kaleng, aku belikan
itu. Pasti berguna, kan."
"Terima kasih. Aku
berhutang budi padamu.…… Struknya ada?"
"Ada di dalam
kantong. Tapi tidak usah dibayar juga tidak apa-apa kok.
Ngomong-ngomong……"
Saotome dengan santai
meletakkan tangannya di bahuku.
"Ehm……!?"
Lalu dia mendekatkan
wajahnya secara tiba-tiba.
Bibirnya yang lembut
mendekat.
Wajahku terpantul jelas
di dalam manik mata biru miliknya.
Kening kami saling
bersentuhan.
"Demammu tidak
begitu tinggi, ya."
"B-Bodoh,
hentikan……!"
Aku buru-buru menarik
tubuh Saotome menjauh.
Saotome memasang senyum
menyeringai.
"Wajahmu merah
banget. Jangan-jangan demamnya kambuh lagi?"
Perempuan ini.
Memanfaatkan keadaanku yang tidak
bisa melawan.
"Berhentilah membuli orang sakit."
"Benar juga, ya. Tapi,
kelihatannya kamu cukup bugar.…… Punya nafsu makan?"
"Nafsu makan ya……"
Aku mengusap perutku.
Belum ada satu suapan pun yang
masuk sejak pagi tadi.
"……Yah, lumayan lah."
"Begitu. Kalau begitu, mau
kubelikan atau kubuatkan sesuatu?"
"……Kamu bisa masak?"
"Tergantung bahan yang ada
di kulkas."
Saotome berkata begitu sambil
mengeluarkan sebuah apron dari dalam tasnya.
Penampilan sang gadis suci dengan
balutan apron itu ternyata terlihat cukup cocok untuknya.
"……Rasanya tidak enak
merepotkanmu sampai sejauh ini."
"Kalau kamu tidak cepat
pulih, aku bakal repot karena tidak ada lawan bicara, tahu."
"Ah, begitu ya……"
Rasanya rumit sekali
mendengarnya.
"Ngomong-ngomong, Himuro-kun."
"Apa."
"Menurutmu sekarang aku
memakainya atau tidak? Coba tebak?"
Saotome mencubit ujung roknya dan
mengangkatnya sedikit sambil berkata begitu.
Paha putihnya sekilas kelihatan
di dalam pandanganku.
"Boleh kubuktikan?"
"Jelas tidak bolehlah."
Saotome menjawab dengan wajah
datar, lalu menurunkan kembali roknya dan berjalan menuju dapur.
……Sepertinya kejadian tadi bukan
mimpi.
◇ ◇ ◇
"Aku kaget, ternyata ada
banyak bahan makanan. Kamu rajin masak sendiri, ya."
Sambil berkata begitu, hidangan
yang dibawakan oleh Saotome adalah bubur telur (tamago zosui).
Aroma sedapnya menggelitik rongga
hidungku.
"Yah, lumayan lah."
"Lumayan apanya kalau
bahannya selengkap ini."
Aku memang memasak
sendiri setidaknya dua hari sekali, sih……
Walaupun, di tengah-tengah
kondisi sakit seperti ini, aku sama sekali tidak punya tenaga untuk menyiapkan
makanan.
Kupikir aku hanya bisa makan
seadanya dari minimarket, jadi aku sangat berterima kasih kepada Saotome.
Terlebih lagi, ini adalah masakan
buatan sang gadis suci.
Hanya dengan pemikiran itu saja
sudah membuatnya terasa lezat.
"Kalau begitu, aku makan
ya."
Aku mengambil sendok dan
menyuapkan bubur telur itu ke dalam mulutku.
Aroma kaldu yang gurih
langsung menyebar di dalam mulut.
Bumbunya agak sedikit
hambar, tapi sangat pas untuk kondisi tubuhku yang sedang sakit saat ini.
Irisan daun bawang hijau
yang ditaburkan di atas bubur memberikan aksen rasa yang pas.
"Enak. Kamu jago
masak juga ternyata."
"Bukan masakan yang rumit
juga sih. Cuma memanfaatkan bahan seadanya aja."
"Bisa meracik masakan enak
dengan bahan seadanya dalam waktu singkat itu bukti kalau kamu jago
masak."
Orang yang biasanya tidak pernah
masak pun bisa membuat hidangan mewah yang rumit jika melihat buku resep.
Namun, hanya orang yang sudah
terbiasa memasak saja yang bisa meracik hidangan lezat dengan mudah menggunakan
bahan-bahan seadanya.
"……Cukup lumayan aja
kok."
Saotome membuang muka dengan pipi
yang sedikit merona malu.
Ekspresi wajahnya yang
seperti ini termasuk langka.
"Sekalian ngobrol santai,
boleh aku tanya sesuatu?"
"Silakan."
"Sejak kapan kamu mulai hobi
seperti itu?"
"……Yah."
Saotome menatap ke kejauhan
dengan tatapan kosong.
"Waktu itu, hari musim panas
yang terik."
"Oh."
"Waktu itu aku masih SD.
Hari itu ada jadwal pelajaran berenang. Tapi, karena aku malas ganti baju
renang……"
"Paham. Aku jadi sangat
paham kenapa kamu sering mengulangi kesalahan yang sama."
Intinya, sama seperti kejadian
sebelumnya, dia datang ke sekolah mengenakan pakaian renang, lalu tanpa sengaja
lupa membawa pakaian dalam dan akhirnya menghabiskan hari tanpa celana dalam (noban).
Itulah akar penyebab fetisnya
menjadi menyimpang seperti itu.
"……Kemarin itu aku tidak
sengaja lupa, tahu? Sumpah demi apa pun. Aku tidak separah itu sampai bisa
dibilang mesum(ervert)."
Entah kenapa, Saotome malah mulai
membela diri dengan panik.
Padahal dari awal memutuskan
tidak pakai pakaian dalam saja sudah bisa dibilang pervert, jadi kurasa
tidak ada bedanya dengan tidak pakai bra.
Apa perempuan ini tidak sadar
kalau dirinya itu pervert? Sepertinya memang tidak sadar, ya.
"Boleh aku tanya satu hal
lagi?"
"Hm."
"Kupikir masalahnya bakal
selesai kalau kamu punya pacar, Kenapa tidak cari pacar saja?"
Kurasa tidak ada salahnya kalau
dia melakukan permainan pamer semacam itu sepuasnya dengan pacarnya sendiri.
Yah, tentu saja aku sendiri tidak
keberatan, sih.
"Pacar ya…… Yah, bukan
berarti aku tidak pernah memikirkannya, sih."
"Tapi?"
"Nanti kalau sudah putus,
aku repot kalau rahasia anehku dibocorkan ke mana-mana, kan?"
"Benar juga."
Soalnya ini kan jenis
fetis yang tidak biasa.
Pasti risih kalau
dibocorkan dengan kalimat, 'Cewek itu tuh super pervert!' atau
semacamnya.
"Lagi pula, aku juga
tidak tahu apakah cowoknya bakal mau melayani hobiku."
"Masuk akal
juga."
"Lagian, punya pacar
itu merepotkan, kan? Menikah juga……"
Ekspresi Saotome tampak
sedikit muram saat mengatakan itu.
Jangan-jangan dia punya
pengalaman buruk soal hubungan percintaan di masa lalu?
……Yah, untuk ukuran gadis
secantik dia, wajar saja kalau di masa lalu dia pernah punya satu atau dua
mantan pacar.
"Tapi sebagai permulaan,
bukankah hal yang normal kalau kita memperlihatkan tubuh kita ke pacar
sendiri?"
"……Hmm?"
Pembicaraannya mulai bergeser ke
arah yang berbeda, nih.
"Justru fakta 'karena dia
bukan pacar' tapi diperlihatkan ke dia, sensasi kondisi inilah yang penting,
tahu. Lagian, yang paling penting itu bukan hasilnya, melainkan prosesnya,
kan?"
Ternyata jalan pikirannya jauh
lebih menyimpang dari yang kubayangkan.
"Kalau cuma 'bukan pacar",
kurasa bukan cuma aku saja orangnya di luar sana. Kenapa tidak cari 'teman'
lain saja yang tipenya seperti itu?"
"Aku benci orang yang
terlalu nafsu dan memaksa untuk melihatnya."
H, hah……?
Padahal aku sendiri sebenarnya
tidak berniat untuk melihatnya secara agresif, sih.
"Aku tidak suka kalau mereka
terlalu agresif merebutnya. Tapi kalau mereka benar-benar benci dan jijik, kan
ya salah juga, kan? Bisa dibilang, keseimbangan di area abu-abu itu yang paling
pas."
Bisa dipahami, tapi juga
membingungkan.
……Sudahlah, mencoba memahami
jalan pikirannya dari awal adalah sebuah kesalahan.
Namanya juga sudah masuk ranah
hobi dan fetis.
"Oleh karena itu, cepatlah
sembuh ya. Sekolah bakal terasa membosankan tanpamu."
"Iya, iya."
Biasanya kalimat seperti itu
harusnya membuat orang senang, tapi mendengarnya darinya sama sekali tidak
membuatku merasa senang.
"Ngomong-ngomong, boleh aku
balik tanya?"
"Silakan."
"Kudengar cowok seumuran
kalian biasanya menyembunyikan buku ecchi di bawah tempat tidur. Boleh
kulihat?"
"Silakan saja, tapi
barang-barang semacam itu tidak ada di bawah tempat tidurku kok."
"Tidak ada di bawah
tempat tidur, ya. Itu artinya
kamu menyimpannya di tempat lain."
Saotome berkata begitu
sambil tersenyum menyeringai penuh kemenangan.
Jangan-jangan, dia pikir
dia berhasil menjebakku?
"Ada di dalam lemari
dinding (tansu) di sebelah sana."
"……K, kenapa kamu
gampang banget ngasih tahu-nya sih."
Entah kenapa, Saotome malah
memasang kuda-kuda siaga.
Timing kewaspadaannya
benar-benar aneh.
"Namanya juga cowok seusia
gini, pasti pada punyalah. Mau disembunyikan juga percuma."
"Kalau aku sih tidak
punya?"
"Hoh."
"B, beneran kok? ……Walau
kalau yang sebatas rating R-12 sih, aku punya."
Saotome berkata sambil membuang
muka karena malu.
Padahal kehidupan sehari-harinya
sendiri sudah berstandar rating R-18, tapi kenapa masih sok polos begitu, ya.
"……Boleh kulihat?"
"Terserah."
Begitu kuberi izin, Saotome
dengan ragu-ragu membuka pintu lemari dinding.
Lalu dia memasukkan kepalanya ke
dalam lemari.
Punggung dan bokongnya
yang terbalut rok tampak bergoyang-goyang.
……Dia lagi pakai celana
dalam nggak ya? Atau lagi
nggak pakai? Bikin penasaran saja.
"Wah, banyak banget
koleksimu ternyata……"
Saotome menarik keluar
sebuah kotak kardus dari dalam lemari.
Lalu dia membuka
penutupnya dan mengambil salah satu buku dari dalamnya.
Dia membuka halaman sampulnya,
lalu—
"Kyaaa!"
Dia menjerit kaget.
"……Ada apa?"
Di dalam koleksiku itu
memang ada beberapa judul yang gambarnya agak vulgar dan ekstrem.
Jangan-jangan dia tidak
sengaja mengambil buku level hardcore yang terlalu berat buat pemula……?
Kupikir begitu, tapi saat kulihat
sampulnya, ternyata itu adalah manga percintaan murni (jun-ai) antara
manusia biasa pada umumnya.
"B, bagian tubuh yang penting…… kelihatan semua, tahu!"
Saotome berkata begitu sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Namun kalau diperhatikan lebih jeli, dia sengaja mengintip lewat celah
jarinya.
"Namanya juga buku dewasa (ero-hon), ya wajarlah."
"T, tapi, i, isi buku kayak
gini apa pantas dibaca sama anak-anak……"
"Namanya juga buku
dewasa."
Sebenarnya anak ini ngomong apa
sih.
Kendati demikian, rasa
penasarannya sepertinya jauh lebih besar, karena Saotome perlahan-lahan mulai
membuka kembali lembar demi lembar buku tipis itu.
"P, pakaiannya separah ini……
Eh, ehh? S, sampai bagian situ juga? T, tidak boleh dong……"
Sambil meracau mengucapkan
kalimat-kalimat seperti itu, Saotome terus menatap lekat-lekat buku tipis di
tangannya.
Pada akhirnya, dia mulai
merapatkan kedua pahanya dan menggeliat gelisah (moji-moji).
Dia begitu asyik sampai-sampai tidak menyadari
keadaan di sekitarnya.
"Bagaimana, suka?"
"Eh? Ah, bukan, b-bukan begitu! K-kalau ini sih, cuma ketertarikan akademis saja, b-bukan berarti……"
"Kalau kamu suka, boleh dipinjam
kok."
Mendengar perkataannya, mata Saotome
membelalak lebar.
"B-Beneran boleh?"
"Boleh dibawa pulang sepuasnya."
Sebagai ucapan terima kasih karena sudah
menjengukku…… rasanya terlalu berlebihan atau tidak ya.
Namun, berbagi barang kesukaan kepada orang
lain adalah sifat dasar manusia.
"B-Begitu ya. ……Kalau begitu, boleh
kupinjam ya. B-Bukan berarti aku suka yang kayak gini, lho ya! Cuma, penasaran
sama kelanjutan ceritanya aja. Tanggung kan kalau nggak diselesaikannya……"
Sambil memberikan berbagai alasan pembelaan,
Saotome buru-buru memasukkan buku tipis itu ke dalam tasnya.
"Oh
iya, Saotome."
"A-Apa?"
"Terima kasih makanannya. Enak
banget."
Aku menunjukkan mangkuk yang sudah kosong.
Aku bisa menikmatinya dengan lahap sampai
suapan terakhir.
"B-Begitu. Sama-sama…… Sisa makanannya
sudah kutaruh di wadah makanan tahan panas dan kusimpan di kulkas. Kalau mau
dimakan, dihangatkan sebelum basi, ya."
"Paham. Terima kasih."
"K-Kalau begitu…… aku mau pulang dulu
ya."
"Ah. ……Nanti kapan-kapan, ceritain
kesanmu setelah baca ya."
"E-Ehm…… setelah selesai kubaca,
ya."
Saotome berjalan pergi sambil mendekap
tasnya erat-erat di depan dada.
Dua hari kemudian.
Aku yang akhirnya sudah pulih masuk
sekolah lagi untuk pertama kalinya setelah sekian hari…… tapi giliran Saotome
yang jatuh sakit.
……Yah, ini sih, jelas-jelas gara-gara aku.
◇ ◇ ◇
『Aku mau
menjengukmu, ada yang kamu inginkan?』
『Puding』『Kalau begitu, nanti sepulang sekolah aku datang』
『……Oh iya. Mau main kuis?』
『Kurasa tidak etis mengajak orang sakit main kuis begitu』
『Oh begitu…… Hari ini warnanya putih, ya』
Suasana yang terpancar dari pesannya
menunjukkan kalau dia kelihatannya cukup bugar.
Meskipun begitu, ada kemungkinan dia hanya
sedang memasang gengsi (memaksa kuat).
『Jangan dilepas, pakai yang hangat ya』
『Ya jelaslah』
Padahal 'yang seharusnya' adalah dia datang ke
sekolah dengan memakai pakaian dalam dengan benar.
Aku tadinya mau melontarkan komentar itu, tapi
kuurungkan niatku.
Orangnya sepertinya tidak merasa kalau dirinya
itu seorang pervert.
Oleh karena itu, aku membeli barang-barang
titipannya beserta puding yang dipesannya di sebuah toko kue, lalu meluncur
pergi ke rumah Saotome.
"Wah, megah banget ya."
Rumah Saotome langsung bisa kukenal dengan
mudah.
Bukan sekadar rumah…… melainkan sebuah
kediaman besar (mansion).
Sebuah bangunan bergaya barat kuno yang
dikelilingi oleh tembok pagar yang tinggi.
Biaya perawatannya saja pasti butuh uang dalam
jumlah yang luar biasa besar.
Aku sempat khawatir apakah aku bakal diizinkan
masuk, tapi sepertinya Saotome sudah memberi tahu pihak rumah lebih dulu
tentang kedatanganku.
Begitu aku menyebutkan nama dan tujuanku lewat
interfon, aku langsung dipersilakan masuk tanpa hambatan.
"Terima kasih sudah datang
menjenguk."
Seorang pelayan mengantarkanku berkeliling
menelusuri bagian dalam rumah.
Kesan yang kudapat, interior rumahnya
terawat dengan sangat rapi dan bersih.
Beberapa karya seni yang dipajang di
sepanjang jalan tampak mahal dan bernilai sejarah tinggi.
Pantas saja, beda sekali auranya dengan
keluarga kaya baru.
"Kamar Nona muda ada di sebelah
sini."
Setelah berjalan beberapa saat, sang pelayan
menghentikan langkahnya di depan salah satu dari sekian banyak pintu yang ada.
Sepertinya ini adalah kamar pribadi milik
Saotome.
"Ngh, ahnn……"
Aku samar-samar mendengar suara rintihan
Saotome dari dalam.
……Apakah kondisinya sedang sangat parah?
Di sisi lain, pelayan tersebut mengetuk pintu
tanpa ragu sedikit pun.
"Ehem…… Nona muda! Tamu Anda, Tuan
Himuro, telah datang. Bolehkah saya membukakan pintu?"
"……Eh? T-Tunggu, sebentar dulu!!"
Teriakan panik Saotome terdengar dari balik
pintu.
Disusul dengan suara langkah kaki yang berisik
kesana-kemari……
"E-Ehem. Boleh. Silakan masuk."
"Kalau begitu, permisi."
Pelayan itu membuka pintu kamar.
Di sana, tampak Saotome sedang mendudukkan
tubuhnya di atas tempat tidur.
Dia mengenakan negligee berwarna
putih——pakaian tidur berbentuk gaun terusan (one-piece).
Sesuai dengan julukannya sebagai "Gadis
Suci", suasananya terlihat begitu anggun dan murni bagaikan seorang putri
raja yang suci tanpa noda.
Meskipun isi aslinya adalah seorang wanita
mesum, sih……
"Nanti akan saya bawakan teh. Silakan
menikmati waktunya."
Pelayan itu membungkuk hormat, lalu berlalu
pergi meninggalkan tempat tersebut.
Aku melangkah maju menghampiri Saotome.
"Kelihatannya kamu sudah sehat, ya."
"Y-Ya…… y-yah……"
Saotome membuang muka sambil berkata begitu.
Kondisinya tidak terlihat separah itu, sih……
Tapi entah kenapa, wajahnya tampak merah
padam.
Pakaiannya juga kelihatannya sedikit
berantakan.
Apakah karena baru bangun tidur, ya?
"Bagaimana
demamnya?"
"Eh,
ah, sebentar……"
"Permisi."
Sekalian
untuk membalas perbuatannya tempo hari, aku mendekatkan wajahku ke wajah
Saotome.
Menempelkan keningku ke keningnya.
Rasanya agak…… ralat, kurasa suhu tubuhnya
panas banget.
"Demammu sepertinya tinggi, lho. Kamu
tidak apa-apa? Wajahmu juga merah banget……"
"A-Aku tidak apa-apa! C-Cepat menjauh……"
Saotome berkata begitu sambil menepis
tanganku.
Sikapnya terasa jauh lebih penurut dan
kalem daripada biasanya.
Entah kenapa, dia sama sekali tidak mau
menatap mataku, dan……
"Ngomong-ngomong, kenapa jendela kamarnya
dibiarkan terbuka lebar begini?"
Anehnya, jendela kamar pribadi Saotome
terbuka lebar tanpa ditutup.
Mungkin karena itulah, udara panas dan
lembap di luar merangsek masuk ke dalam kamar.
"I-Ini ventilasi, ventilasi udara.
B-Bukannya tidak apa-apa, ya."
"Begitu ya. ……Boleh aku melihat kaca
jendelanya sebentar?"
"Hah? Eh, boleh aja sih."
Setelah meminta izin kepada Saotome, aku
berdiri dan berjalan menghampiri kaca jendela.
Aku mencoba mengintip pemandangan taman bagian
tengah lewat balik kaca jendela.
Saat
kulakukan, pemandangan di luar sana tampak sedikit bergelombang dan
terdistorsi.
"Kaca Taisho, ya? Langka
banget. Merawatnya pasti susah, kan."
"Iya. ……Menurutku, sebaiknya
rumah ini disumbangkan saja ke kota atau prefektur biar dijadikan museum. Tapi
mungkin bakal ditolak, sih."
Saotome berkata dengan nada
ketus.
Sepertinya dia tidak begitu
menyukai rumah ini.
Memang benar kalau tempat ini
bagus untuk dikunjungi sebagai tempat wisata, tapi kalau untuk ditinggali
sepertinya kurang nyaman.
Musim panas pasti terasa lembap,
dan musim dingin pasti terasa sangat dingin.
"……Ngomong-ngomong, bisa
tolong tutupkan jendelanya? Rasanya mulai agak gerah."
"Ventilasi udaranya tidak
masalah?"
"Iya. ……Kurasa bau di
ruangan ini juga sudah hilang."
Saotome berkata sambil
mengendus-endus hidungnya.
……Bau?
Tanpa sadar aku memiringkan
kepalaku.
"……Oh iya, itu cocok juga
buatmu. Kelihatan
seperti gadis suci beneran."
"Begitu? Terima
kasih."
Saotome menjawab dengan
nada datar.
Kupikir dia sudah
terbiasa dipuji begitu…… tapi
kalau diperhatikan baik-baik, dia tampak malu-malu sambil memainkan rambutnya.
Sudut bibirnya juga sedikit
melengkung tersenyum.
Ternyata sang gadis suci pun
merasa senang jika dipuji secara jujur.
Mulai sekarang aku harus lebih
sering melontarkan pujian.
Di tengah obrolan kami, sang
pelayan datang membawakan teh barley dingin (mugicha).
Mumpung ada, lebih baik kubuka
saja oleh-oleh yang kubawa.
"Mau makan puding?"
"Wah, kamu beneran
membelikannya, ya. ……Eh, bukannya ini puding yang mahal? Padahal beli yang di
minimarket saja sudah cukup."
Meskipun protes begitu, Saotome
kelihatan senang.
Baguslah kalau dia suka.
"Terima kasih atas
makanannya. Enak
banget."
"Baguslah kalau
begitu. Oh iya, Saotome."
"Apa?"
"Buku tipis yang
kupinjamkan kemarin, gimana? Seru nggak?"
Halaman bukunya kan tidak
banyak.
Kupikir dia pasti sudah
selesai membacanya, jadi aku bertanya dengan santai.
Lalu……
"……Eh."
Ekspresi Saotome membeku.
Dan dalam sekejap mata,
wajahnya berubah merah padam.
"K, kamu sadar, ya……?"
……Sadar apa?
"K, kalau kamu sadar,
harusnya bilang dari awal atau gimana gitu…… t, terus, kalau bisa lebih baik
kalau kamu pura-pura ngetawain aja biar damage di aku nggak terlalu parah,
atau……"
"Kamu ngomongin apa
sih?"
"Eh? M, maksudnya,
itu……"
Saotome mengalihkan pandangannya.
"T, tidak ada apa-apa
kok."
"Begitu ya? ……Jadi, gimana
soal buku tipis itu? Belum selesai kamu baca?"
Aku kembali ke topik utama.
"Sudah selesai kubaca kok.
Y, ya begitu deh. Cukup menarik juga. Yah, lumayanlah."
"Aku ada bawa judul lain
juga, mau baca?"
Aku mengangkat kantong
kertas di tangan sambil bertanya.
Mata Saotome langsung
membelalak lebar.
"J, judul lain…… m,
maksudnya, e, buku ecchi gitu……?"
"Yah, ya ampun, kukira kamu
lagi bosan aja. Aku bawain beberapa yang kira-kira kamu suka. ……Tapi kalau
nggak mau ya sudah sih."
"T, tidak, a, aku mau
kok!"
Saotome mencondongkan tubuhnya ke
depan dan merebut kantong kertas itu dariku.
Pada detik itu juga, kerah baju
di bagian dadanya mengendor dan terbuka lebar.
Belahan dada putih yang mulus
sekilas terlihat mengintip.
Dan pakaian dalamnya…… tidak
kelihatan.
"Kamu ini……"
"Eh? Ada apa?"
"Ah, bukan apa-apa."
Jangan-jangan dia tidak pakai bra
lagi, ya……
"Ngomong-ngomong, sebagai
ganti buku yang kemarin…… buku itu sekarang di mana, ya?"
Sebenarnya aku jadi ingin membaca
ulang buku itu sedikit.
Alasan utamaku membawakan buku
baru untuk Saotome juga sekalian untuk menukar bukunya.
Kupikir dia menyembunyikannya di
suatu tempat.
"Eh? A, a, anu…… i, itu, s,
sekarang nggak ada di sini, sih……"
"Nggak ada di sini?
……Jangan-jangan ketinggalan di sekolah?"
"B, bukan begitu!
Ada kok, ada di sini. Bukan berarti hilang, kok……. Cuman, sekarang lagi di
tempat yang agak susah diambil aja……"
Saotome meraba-raba
gelisah di atas tempat tidur sambil berkata begitu.
Tempat yang susah
diambil?
"Maksudnya, kamu menyembunyikannya?"
"E, eh…… y, ya!
Begitulah. Makanya, kalau ditaruh di sini, takutnya nanti ketahuan bibi pelayan
waktu lagi bersih-bersih!"
"Paham juga
sih."
Tempat sembunyi setiap
orang kan beda-beda.
Sebenarnya aku ingin membacanya
sekarang, tapi kuurungkan saja deh.
"Orang tuamu segalak
itu, ya?"
Dilihat dari reaksinya saat
melihat buku tipis itu tempo hari, sepertinya pengalamannya bersentuhan dengan
hal-hal berbau dewasa sangat minim.
Mungkin orang tuanya melarang hal
semacam itu, atau kalaupun tidak dilarang, mereka sengaja menjauhkannya dari
hal-hal begituan.
"Hmm…… Orang tuaku tipenya
yang membebaskan (laissez-faire), sih. Kalau kakek dan nenek…… dulu
dididik dengan cukup ketat, ya. Sekarang mereka sudah mulai paham situasi, jadi
nggak begitu ketat lagi sih."
……Hubungannya dengan keluarganya sepertinya tidak begitu akur, ya.
Sepertinya lebih baik aku tidak mengoreknya terlalu dalam.
"Yah, tenang saja. Buku itu nggak bakal ketemukan kok. Kalaupun
ketemukan, paling tinggal bilang aja itu dipinjam dari teman, jadi mereka nggak
bakal langsung buang. Mereka kan orang yang peduli banget sama imej keluarga (gengsi)."
Saotome menepuk tangannya untuk mencairkan suasana yang sempat meredup tadi.
Bersamaan dengan itu, dadanya sedikit bergoyang.
……Jujur saja, saat ini aku jauh lebih penasaran apakah dia sedang memakai
pakaian dalam atau tidak ketimbang memikirkan urusan keluarga Saotome.
Coba kail pancing sedikit, deh.
"Ngomong-ngomong,
kamu beneran pakai pakaian yang hangat, kan?"
"Eh? Hangat……"
Mendengar ucapanku,
Saotome memiringkan kepalanya, lalu langsung mematung.
"Ah, gawat……"
Lalu dengan panik dia
menarik selimutnya, membungkus tubuhnya rapat-rapat untuk bersembunyi.
"B, bukan berarti
nggak pakai……! Aku nggak sebodoh itu, ya!!"
"B, begitu……
ya……?"
Pandanganku tersedot
bukan ke arah Saotome…… melainkan ke ujung tempat tidur.
Karena Saotome menarik
selimutnya dengan kasar, benda yang tadinya tersembunyi jadi ikut tersingkap
keluar.
Dua lembar kain putih.
Serta buku tipis milikku yang
kemarin kupinjamkan ke Saotome.
Titik-titik itu pun
terhubung menjadi satu garis lurus.
"Ah…… iya,
paham-paham……"
Krisnya pecah.
"B, bukan gitu…… i,
ini tuh, anu, karena gerah tadi, jadi cuma takbaca sekilas aja, b, bukan
berarti ada maksud apa-apa……"
"Yah, bagus deh kalau kamu
kelihatan sehat. ……Kalau
begitu, aku pulang dulu, ya. Maaf sudah mengganggu."
"T, tunggu! Dengerin
penjelasan aku dulu. Biar aku bela diri."
Teriak Saotome sambil
mencegat langkahku dan memegangiku erat-erat.
Bahu ku ditekan paksa ke bawah.
"H, hei……! J, jangan
gitu. Nanti semuanya
kelihatan, nih……"
Aku buru-buru mengalihkan
pandangannya.
Gaun tidur negligee
Saotome berada dalam kondisi yang cukup berbahaya, nyaris membuat area
pentingnya terekspos telanjang bulat.
"Kalau gitu, makanya percaya
dulu! Aku tadi cuma baca doang, kok!"
"I, iya, deh. Paham.
Aku percaya."
"Baguslah kalau
ngerti."
Merasa puas, Saotome
mengangguk.
Lalu, sedetik kemudian
dia menyadari kondisi mengenaskan dari gaun tidurnya sendiri dan mengeluarkan
jeritan kecil.
"K, kamu nggak lihat
apa-apa kan, kan?"
"Sayang sekali, tadi
itu nyaris banget kelihatan."
Jujur saja, rasanya
bagian yang agak-agak mirip itu sempat sekilas masuk ke dalam retinaku, sih.
Tapi aku tidak sempat
mengamatinya lebih detail.
Sayang sekali.
"B, begitu. Kalau
gitu aku bakal percaya."
Saotome mengangguk
ragu-ragu, lalu kembali merebahkan diri ke tempat tidur.
Namun entah kenapa, auranya
kelihatan lemas tidak bersemangat.
……Yah, bagaimana pun juga, malu
rasanya kalau rahasia semacam itu ketahuan oleh lawan jenis.
"……Aku juga sering
banget pakai buku tipis kayak gitu kok. Hal biasa itu, biasa."
"Heeh, b, begitu, ya. B,
begitu. T, tapi kalau aku sih nggak pernah pakai ya. Jangan salah paham,
lho."
"Nggak, nggak. Mana mungkin
seorang gadis suci melakukannya."
Meskipun cewek ini aslinya wanita
mesum, sih.
"Y, ya iyalah.
……Ngomong-ngomong, boleh aku tanya satu hal?"
"Apa?"
"Apa kamu pernah
membayangkan aku pas lagi 'pakai' itu?"
Pertanyaan bola cepat dengan
kecepatan tinggi dilempar begitu saja ke arahku.
Aku sempat bingung sejenak harus menjawab apa, tapi……
"Belum pernah pakai
buat gituan kok, tenang aja."
Untuk amannya, aku memutuskan
untuk menyangkalnya.
"B, begitu…… Pleg,
aku lega."
Saotome berkata begitu
sambil menundukkan pandangannya.
"Terus, kapan
pulangnya? Urusanmu kan sudah selesai, kan? Cepat sana pulang. Nanti kalau Kakek sama Nenek
keburu pulang, bisa gawat urusannya."
"Padahal yang narik-narik
aku tadi kan kamu."
Sambil diusir oleh Saotome yang
tiba-tiba berubah bersikap dingin, aku meninggalkan kamarnya.
……Apa aku ada ngomong sesuatu
yang bikin dia ngambek, ya?
Yah, besok juga palingan mood-nya
sudah balik bagus lagi, sih.
Omong-omong, sang pelayan yang
mengantarkanku sampai depan pintu sempat berkata, "Sudah lama sekali
rasanya saya tidak mendengar suara Nona muda berteriak ceria begitu."
Sepertinya seluruh isi percakapan
kami tadi terdengar jelas di luar, ya.
Malu banget sialan……


Post a Comment