-->
NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Tonari no Seki no Seijo-sama wa Ore ni Kossori Sukaato no Naka o Oshiete Kureru Volume 1 Chapter 4

Chapter 4

Kerja Sama dengan Sang Gadis Suci


Pertengahan Juni, di suatu hari.

Hari itu, sekolah kami sedang mengadakan acara olahraga.

Karena aku bukanlah tipe orang yang bersemangat dalam acara sekolah seperti festival olahraga, aku menghabiskan waktu dengan memberikan sorakan seadanya saja.

Tiba-tiba, aku dipanggil oleh Saotome.

Istirahat siang nanti, aku tunggu di ruang kelas kosong lantai tiga ya

Merasa penasaran ada apa, aku pun pergi ke lantai tiga dan mendapati dirinya sudah memegang sekotak bekal di tangannya.

"Mumpung ada kesempatan, mau makan bareng? Sekalian buat mempererat hubungan."

"Kupikir hubungan kita sudah terlalu erat tanpa harus dipererat lagi, sih……"

"Boleh juga, kan. Kita berdua kan bakal turun di cabang lomba yang sama."

Ya, aku dan Saotome akan berpartisipasi dalam lomba yang sama.

Lomba tersebut bernama Lomba Lari Rintangan Campuran (gender-mixed obstacle race).

Lomba ini juga sering dijuluki sebagai ajang pencetak pasangan kekasih.

Konon katanya, karena peserta laki-laki dan perempuan harus berlari sambil berpegangan tangan, efek jembatan gantung (suspension bridge effect) pun ikut bekerja sehingga hubungan mereka bisa semakin dekat.

Meskipun kenyataannya, kurasa hanya pasangan laki-laki dan perempuan yang memang sudah akrab saja yang mau mendaftar lomba ini.

Bukannya karena ikut lomba lari rintangan campuran lantas mereka jadi berpacaran, melainkan pasangan yang sudah resmi pacaran atau sudah sangat akrab sampai detik-detik mau jadianlah yang biasanya mendaftar lomba lari rintangan campuran ini.

Sayangnya, di kelas kami tidak ada pasangan yang semesra itu.

Oleh karena itu, akhirnya diputuskan untuk memilih peserta laki-laki dan perempuan lewat undian…… tapi.

"Omong-omong, kita ini benar-benar punya ikatan takdir yang kuat, ya. Himuro-kun."

"Begitulah."

Sebagai hasil dari undian yang adil dan jujur, aku malah harus berpasangan dengan Saotome.

Bagi diriku, Saotome adalah siswi perempuan yang paling dekat denganku di kelas, jadi dia bukan pilihan yang buruk untuk dijadikan pasangan.

Para siswa laki-laki sekelas sempat merasa iri kepadaku.

Kalau saja mereka tahu bahwa aku pernah melihat celana dalam Saotome, kira-kira apa ya tanggapan mereka?

Mungkin mereka tidak bakal percaya, sih.

"Yah, tidak masalah juga, sih."

Aku pun mengeluarkan makan siangku dari dalam tas.

Melihat itu, Saotome mengintip isinya sambil memasang wajah penuh percaya diri (doyagao).

"Bekal Himuro-kun…… Hmph, cuma Onigiri yang di beli di minimarket, ya."

"……Memangnya ada yang salah?"

Aku memang kadang-kadang masak sendiri, sih……

Kendati demikian, aku sama sekali tidak punya niat untuk repot-repot membuat bekal dan membawanya di pagi hari yang sibuk.

"Kalau aku buatan rumah, lho."

Saotome berkata dengan nada pamer entah kenapa.

Kotak bekal miliknya berukuran agak besar untuk porsi makan seorang perempuan, dan di dalamnya terisi aneka lauk pauk yang tampak lezat.

"Buatan bibi pelayan?"

"Buatan tanganku sendiri! Kalau bukan, ya tidak bisa dibanggakan dong!"

Rupanya dia memang berniat memamerkannya.

Begitu ya…… Dia sempat khawatir kalau-kalau aku membawa bekal buatan sendiri yang kualitasnya lebih tinggi darinya, ya.

Lalu, karena mendapati bekalku ternyata cuma onigiri minimarket, dia jadi merasa tenang dan berani pamer.

Dasar tidak penting.

Gadis Suci itu ternyata cuma penampilannya doang, ya.

"Bagaimana? Mau cicipi? Kalau kamu memohon, mungkin aku bisa sedikit menyuapimu, lho?"

"Enggak, makasih."

"Sebenarnya aku agak kebanyakan masaknya. Kalau dibiarkan begini, takutnya nanti tidak habis termakan semuanya…… Tapi cuaca lagi panas. Sayang juga kalau dibawa pulang……"

Saotome terus melirik ke arahku sambil melempar kode.

Entah kenapa hari ini dia agresif banget.

"Ahー, ya ampun, ya sudah kalau begitu, aku minta sedikit deh."

"Nih, ambil. Sumpitnya."

"Terima kasih."

Setelah menerima sumpit dari Saotome, aku langsung memasukkan satu potong tamagoyaki (telur dadar) ke dalam mulutku.

Rupanya, Saotome adalah tipe orang yang suka membuat tamagoyaki dengan rasa manis.

"Tamagoyaki ini, lumayan juga……"

"Eh, beneran dimakan, ya."

Pas aku mau memujinya, Saotome malah tersenyum menyeringai.

Yah, beneran kumakan sih……

"Sebenarnya ada satu hal penting yang ingin kuminta."

Saotome memperkecil jarak di antara kami.

Sambil bergerak gelisah (moji-moji), pipinya merona merah.

"Anu…… itu, kemarin kan kamu sempat meminjamkanku sesuatu? Itu, yang buku…… ecchi itu……"

Lalu dia berbisik pelan tepat di dekat telingaku.

Sensasi geli itu membuatku tanpa sadar menggerakkan tubuhku.

"Kamu mau pinjam buku tipis lagi?"

"I, iya.…… Boleh?"

"Silakan saja sih.…… Tapi, kalau dibawa ke sekolah, rasanya agak risi juga."

Kalau pinjam-meminjamnya terlalu sering, nanti pasti ada kesempatan di mana orang lain bisa melihatnya.

Bahkan aku pun tidak mau sampai reputasiku hancur gara-gara kedapatan membawa buku dewasa ke sekolah.

"Aku bakal datang langsung ke rumahmu buat mengambilnya.…… Tenang saja, aku bakal datang secara diam-diam."

"Begitu ya. Kalau begitu, datanglah kapan pun kamu mau."

"Kalau gitu, hari ini aku mampir ya."

"B, begitu…… ya."

Separah itu sukanya……?

Jangan-jangan, aku sudah memberikan barang yang salah ke tangan yang salah?

Kuharap fetisenya yang memang sudah melenceng itu tidak semakin parah gara-gara ini.

"Makanya, sebagai ucapan terima kasih, makanlah yang banyak!"

"Iya…… b, baiklah."

Terdesak oleh tekanannya, aku terus menyuapkan lauk buatan Saotome ke dalam mulutku.

Rasanya lumayan enak.

Rasanya sederhana, seperti masakan rumahan pada umumnya.

Saotome sempat memasang ekspresi puas sejenak, lalu kembali memperpendek jarak duduk kami.

Siku lengannya mengenai dadaku, membuatku buru-buru menarik lenganku ke belakang.

Saotome tidak memedulikannya dan mendekat, lalu berbisik di telingaku.

"Aku sebenarnya cukup suka sama acara festival olahraga ini. Menurutmu kenapa?"

"Karena kamu bisa pakai baju olahraga, kan."

"……Coba dipikirkan lebih serius lagi."

"Bukannya itu, ya?"

"……Bener juga sih."

Saotome menjawab dengan ekspresi tidak puas.

Dibandingkan dengan pakaian biasa, baju olahraga jauh lebih tipis, berlengan pendek, dan celana pendeknya juga (meski tidak bisa dibilang terlalu terbuka) mengekspos bagian tubuh.

Bagi Saotome yang mengidap exhibitionism, pakaian ini sepertinya tidak begitu buruk.

"Ngomong-ngomong, ini rahasia antar kita saja, tapi……"

"Apa?"

"Sebenarnya aku sengaja memakai satu ukuran lebih kecil dari yang biasa."

Mendengar ucapan Saotome, aku tanpa sadar melirik pakaian yang dikenakannya.

Kalau dipikir-pikir, memang terlihat agak ketat…… rasanya begitu.

Bentuk dadanya tercetak dengan jelas, dan celana pendeknya juga tampak agak pendek serta berisiko (khiwadai).

"Ih, mesum. Jangan dilihatin terus."

"Kamu sendiri kan yang mulai duluan."

Begitu aku buru-buru memalingkan muka, Saotome tertawa geli.

……Menyebalkan sekali.

"Kalau sampai seniat itu, bukankah bagian dalamnya juga harusnya pakai warna yang mencolok sekalian?"

"I, itu…… m, mana mungkin, nanti malah jadi pusat perhatian yang aneh, tahu."

Saotome merona tipis di pipinya sambil memalingkan wajah.

Lalu menutupi dadanya dengan kedua tangan.

Dari balik kain tipis baju olahraganya, sehelai camisole putih tampak menerawang samar-samar.

"……J, jangan dilihatin."

Saotome melotot tajam ke arahku.

Dia merasa malu kalau camisole-nya kelihatan tembus pandang, ya.

Padahal keluyuran tanpa celana dalam saja dia santai, tapi giliran yang itu malah malu?

……Standarnya benar-benar tidak bisa dimengerti.

Singkat cerita, saat waktu makan siang hampir usai, jam istirahat siang pun berakhir, dan tibalah waktu untuk lomba lari rintangan.

"……Duluan sana. Aku mau nyusul nanti."

Ucap Saotome sambil buru-buru melangkah pergi meninggalkan kelas.

Mau ke toilet, ya?

Sambil berpikir begitu, aku berjalan lebih dulu ke lapangan perlombaan untuk menunggu Saotome.

Lomba akan segera dimulai sebentar lagi.

Sebaiknya aku suruh dia cepat, atau aku susulin saja, ya?

Pas aku sedang memikirkan itu, Saotome datang berlari kecil menghampiriku.

Wajahnya tampak sedikit kemerahan.

"Badanmu kurang sehat?"

"Enggak, aku baik-baik saja."

Menerima instruksi dari panitia acara, kami berjalan menuju ke garis start.

Jujur saja, aku tidak peduli siapa yang menang atau kalah di festival olahraga ini, tapi begitu sadar kalau ada banyak orang yang menonton, rasa gugup tetap saja muncul.

Saat aku sedang merasa sedikit berdebar-debar itu——

"Himuro-kun."

"Wah."

Tiba-tiba tanganku digenggam.

Detak jantungku mendadak berdegup kencang.

"Sebelum lari, ada satu hal yang ingin kusampaikan."

"A, ada apa?"

"Sebenarnya ya."

Saotome berkata begitu sambil menarik lengannya pelan.

Lalu sedikit berjinjit, mendekatkan bibirnya ke dekat telingaku.

"Aku, sekarang ini……"

Sesuatu yang lembut bersentuhan dengan lengan atasku.

"Lagi nggak pakai bra, lho."

"Ha?"

Suara peluit berbunyi nyaring menggema di seluruh lapangan.

"Nah, ayo berangkat!"

"I, iya……"

Aku mulai berlari sambil menggandeng tangan Saotome.

Sambil berlari, aku melirik sekilas ke arah dada Saotome.

Kalau tidak diberi tahu mungkin tidak akan sadar, tapi gerakan goyangan dadanya memang terasa jauh lebih besar…… rasanya begitu.

"Hei, Saotome. Soal yang tadi itu……"

"Tuh, rintangan pertama di depan!"

Entah karena suaraku tidak terdengar atau dia sengaja pura-pura tidak dengar.

Saotome menunjuk ke arah celana raksasa (deka-pan) besar yang ada di depan kami.

Rintangan pertama adalah Lomba Celana Raksasa.

Bagi yang belum tahu, ini adalah lomba di mana peserta harus masuk ke dalam lubang celana (atau celana panjang?) berukuran raksasa secara bersamaan lalu berlari.

Anggap saja ini versi santai dari balap kaki tiga (two-person three-legged race).

"Nanti bakal kutanya lebih detail pokoknya."

"……Pelan-pelan saja ya."

Kami berdua pun sama-sama memasukkan kaki ke dalam lubang celana raksasa tersebut.

Di dalam celana itu ternyata cukup sempit.

Tidak sampai mengganggu lari kami, tapi tubuh kami jadi saling berdempetan erat.

Siku lenganku sesekali bersentuhan dengan dada Saotome.

Mungkin karena tahu fakta bahwa dia sedang "tidak pakai bra", aku jadi merasa salah tingkah sendiri.

"Selanjutnya lomba cardboard crawler, ya."

Kami akhirnya terbebas dari posisi berdempetan itu.

Aku tanpa sadar mendesah lega.

"Biar aku di depan, ya?"

"Silakan."

Rintangan berikutnya adalah balap merangkak dalam kardus.

Ini adalah lomba di mana peserta masuk ke dalam terowongan ulat bulu (caterpillar) yang terbuat dari kardus, lalu maju dengan merangkak menggunakan kedua tangan dan lutut (quintupedal).

Sesuai rencana, Saotome masuk ke dalam kardus terlebih dahulu.

Lalu aku menyusul masuk di belakangnya, tapi……

"Aku mau jalan agak cepat, ya?"

"B, baiklah……"

C, cewek ini……

Bukannya cuma dadanya saja, tapi bokongnya juga besar, ya?

Aku memalingkan wajah sambil menjawab pertanyaannya.

"Bisa lebih cepat lagi?"

"Boleh."

Saotome meningkatkan kecepatan merangkaknya.

Aku maju dengan penuh rasa tegang agar tidak tertinggal dari Saotome, sekaligus menjaga jarak agar tidak menabrak bokongnya.

Atau lebih tepatnya, kenapa cewek ini bajunya kelihatan ngetep banget…… Ah, benar juga, tadi dia bilang pakai ukuran yang lebih kecil, ya.

Wanita mesum ini……

Aku tanpa sadar melototi bokong yang ada tepat di depan mataku.

Pada detik itu juga.

Dari celah antara paha dan celana pendeknya, kilasan warna putih tampak mengintip sekilas.

"Ah."

Gawat.

Aku buru-buru membuang muka.

"Himuro-kun."

"A, ada apa?"

Jantungku berdegup kencang.

"Kita sudah sampai. Cepat keluar, ayo lanjut."

"I, iya!"

Seolah ditarik oleh Saotome, aku berlari menuju rintangan selanjutnya.

"Berikutnya estafet bola, ya."

Saotome berkata dengan ekspresi serius.

Rupanya dia benar-benar menghayati lombanya.

Cewek ini, apa dia lupa kalau dirinya sedang tidak pakai bra, ya?

"Gimana? Posisinya stabil? Aku boleh lari sekarang?"

"Aku bakal menyesuaikan, lari saja sesukamu."

Kami mulai berlari sambil menjepit bola di antara punggung kami.

Meskipun dibilang berlari, gerakannya lebih mirip seperti berjalan menyamping dengan kecepatan lari-lari kecil.

Selain bagian bokong Saotome yang membentur bokongku, tidak ada kontak fisik lainnya.

Untuk saat ini, aman.

Rintangan setelah ini kalau tidak salah…… jajaran titian keseimbangan (balance beam), ya.

"Kita terobos sekaligus, yuk."

"Setuju."

Selesai mengantar bola, Saotome langsung naik ke atas papan titian.

Tantangan titian keseimbangan terakhir ini mengharuskan peserta perempuan berjalan di atas papan titian sementara peserta laki-laki menjaga di sampingnya.

Berbeda dengan siswi dari kelas lain yang berjalan sambil berteriak histeris, Saotome justru melibasnya dengan kecepatan penuh dan ekspresi wajah yang sangat serius.

Padahal dia tadi bilang tipe orang yang "tidak antusias"…… apa dia sebenarnya tipe orang yang tidak suka kalah?

"Kalau buru-buru begitu nanti baha—"

"Kyaa!"

Sebelum peringatanku selesai, kaki Saotome terpeleset.

Aku buru-buru menangkap dan menopang tubuh Saotome.

Aku bisa merasakan keempukan dadanya yang tertekan menempel di atas dadaku.

"Kamu tidak apa-apa?"

"U, um……"

Saotome mengangguk dengan wajah yang merah padam.

Lalu, sambil menutupi dadanya dengan sebelah tangan, dia mulai berjalan pelan meniti papan keseimbangan.

……Sepertinya dia baru ingat kalau dirinya sedang tidak pakai bra.

Di penghujung jalan, dia sempat beberapa kali sempoyongan dan menubruk tubuhku, tapi akhirnya kami berhasil menyeberangi papan titian itu sampai garis akhir.

Hasilnya kami menduduki peringkat ketiga.

"M, maaf ya. Aku malah jadi beban buatmu."

Saotome menggaruk pipinya yang merona merah sambil berbicara dengan nada canggung.

Dia sepertinya merasa bersalah karena mengira posisinya yang harusnya bisa finis pertama malah hancur gara-gara kesalahannya sendiri.

"Aku sama sekali tidak peduli soal peringkat di festival olahraga. Ketimbang itu…… kamu senang?"

"E, eh…… y, ya. ……Lumayanlah."

Menanggapi pertanyaanku, Saotome mengangguk dengan wajah memerah.

Sepertinya, pintu dunia baru telah terbuka untuknya.

……Yah, kalau dia senang sih ya sudahlah.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment