Chapter
4
Kerja Sama dengan Sang Gadis Suci
Pertengahan Juni, di suatu hari.
Hari itu, sekolah kami sedang mengadakan acara
olahraga.
Karena aku bukanlah tipe orang yang
bersemangat dalam acara sekolah seperti festival olahraga, aku menghabiskan
waktu dengan memberikan sorakan seadanya saja.
Tiba-tiba, aku dipanggil oleh Saotome.
『Istirahat siang nanti, aku tunggu di ruang
kelas kosong lantai tiga ya』
Merasa penasaran ada apa, aku pun pergi ke
lantai tiga dan mendapati dirinya sudah memegang sekotak bekal di tangannya.
"Mumpung ada kesempatan, mau makan
bareng? Sekalian buat mempererat hubungan."
"Kupikir hubungan kita sudah terlalu
erat tanpa harus dipererat lagi, sih……"
"Boleh juga, kan. Kita berdua kan
bakal turun di cabang lomba yang sama."
Ya, aku dan Saotome akan berpartisipasi
dalam lomba yang sama.
Lomba
tersebut bernama Lomba Lari Rintangan Campuran (gender-mixed obstacle race).
Lomba
ini juga sering dijuluki sebagai ajang pencetak pasangan kekasih.
Konon
katanya, karena peserta laki-laki dan perempuan harus berlari sambil
berpegangan tangan, efek jembatan gantung (suspension bridge effect) pun ikut
bekerja sehingga hubungan mereka bisa semakin dekat.
Meskipun
kenyataannya, kurasa hanya pasangan laki-laki dan perempuan yang memang sudah
akrab saja yang mau mendaftar lomba ini.
Bukannya
karena ikut lomba lari rintangan campuran lantas mereka jadi berpacaran,
melainkan pasangan yang sudah resmi pacaran atau sudah sangat akrab sampai
detik-detik mau jadianlah yang biasanya mendaftar lomba lari rintangan campuran
ini.
Sayangnya,
di kelas kami tidak ada pasangan yang semesra itu.
Oleh karena itu, akhirnya diputuskan untuk
memilih peserta laki-laki dan perempuan lewat undian…… tapi.
"Omong-omong, kita ini benar-benar punya
ikatan takdir yang kuat, ya. Himuro-kun."
"Begitulah."
Sebagai hasil dari undian yang adil dan jujur,
aku malah harus berpasangan dengan Saotome.
Bagi diriku, Saotome adalah siswi perempuan
yang paling dekat denganku di kelas, jadi dia bukan pilihan yang buruk untuk
dijadikan pasangan.
Para siswa laki-laki sekelas sempat merasa iri
kepadaku.
Kalau saja mereka tahu bahwa aku pernah
melihat celana dalam Saotome, kira-kira apa ya tanggapan mereka?
Mungkin mereka tidak bakal percaya, sih.
◇ ◇ ◇
"Yah, tidak masalah juga, sih."
Aku pun mengeluarkan makan siangku dari
dalam tas.
Melihat itu, Saotome mengintip isinya
sambil memasang wajah penuh percaya diri (doyagao).
"Bekal Himuro-kun…… Hmph, cuma Onigiri
yang di beli di minimarket, ya."
"……Memangnya ada yang salah?"
Aku memang kadang-kadang masak sendiri, sih……
Kendati demikian, aku sama sekali tidak punya
niat untuk repot-repot membuat bekal dan membawanya di pagi hari yang sibuk.
"Kalau aku buatan rumah, lho."
Saotome berkata dengan nada pamer entah
kenapa.
Kotak bekal miliknya berukuran agak besar
untuk porsi makan seorang perempuan, dan di dalamnya terisi aneka lauk pauk
yang tampak lezat.
"Buatan bibi pelayan?"
"Buatan tanganku sendiri! Kalau
bukan, ya tidak bisa dibanggakan dong!"
Rupanya dia memang berniat memamerkannya.
Begitu ya…… Dia sempat khawatir
kalau-kalau aku membawa bekal buatan sendiri yang kualitasnya lebih tinggi
darinya, ya.
Lalu, karena mendapati bekalku ternyata cuma onigiri minimarket, dia jadi merasa tenang dan berani pamer.
Dasar tidak penting.
Gadis Suci itu ternyata cuma penampilannya
doang, ya.
"Bagaimana? Mau cicipi? Kalau kamu
memohon, mungkin aku bisa sedikit menyuapimu, lho?"
"Enggak, makasih."
"Sebenarnya aku agak kebanyakan masaknya.
Kalau dibiarkan begini, takutnya nanti tidak habis termakan semuanya…… Tapi
cuaca lagi panas. Sayang juga kalau dibawa pulang……"
Saotome terus melirik ke arahku sambil
melempar kode.
Entah kenapa hari ini dia agresif banget.
"Ahー, ya ampun, ya sudah kalau begitu, aku minta sedikit deh."
"Nih, ambil. Sumpitnya."
"Terima kasih."
Setelah menerima sumpit dari Saotome, aku
langsung memasukkan satu potong tamagoyaki (telur dadar) ke dalam mulutku.
Rupanya, Saotome adalah tipe orang yang suka
membuat tamagoyaki dengan rasa manis.
"Tamagoyaki ini, lumayan juga……"
"Eh, beneran dimakan, ya."
Pas aku mau memujinya, Saotome malah tersenyum
menyeringai.
Yah, beneran kumakan sih……
"Sebenarnya ada satu hal penting yang
ingin kuminta."
Saotome memperkecil jarak di antara kami.
Sambil bergerak gelisah (moji-moji), pipinya
merona merah.
"Anu…… itu, kemarin kan kamu sempat
meminjamkanku sesuatu? Itu, yang buku…… ecchi itu……"
Lalu dia berbisik pelan tepat di dekat
telingaku.
Sensasi geli itu membuatku tanpa sadar
menggerakkan tubuhku.
"Kamu mau pinjam buku tipis lagi?"
"I, iya.…… Boleh?"
"Silakan saja sih.…… Tapi, kalau dibawa
ke sekolah, rasanya agak risi juga."
Kalau pinjam-meminjamnya terlalu sering, nanti
pasti ada kesempatan di mana orang lain bisa melihatnya.
Bahkan aku pun tidak mau sampai reputasiku
hancur gara-gara kedapatan membawa buku dewasa ke sekolah.
"Aku bakal datang langsung ke rumahmu
buat mengambilnya.…… Tenang saja, aku bakal datang secara diam-diam."
"Begitu ya. Kalau begitu, datanglah kapan
pun kamu mau."
"Kalau gitu, hari ini aku mampir
ya."
"B, begitu…… ya."
Separah itu sukanya……?
Jangan-jangan, aku sudah memberikan barang
yang salah ke tangan yang salah?
Kuharap fetisenya yang memang sudah melenceng
itu tidak semakin parah gara-gara ini.
"Makanya, sebagai ucapan terima kasih,
makanlah yang banyak!"
"Iya…… b, baiklah."
Terdesak oleh tekanannya, aku terus menyuapkan
lauk buatan Saotome ke dalam mulutku.
Rasanya lumayan enak.
Rasanya sederhana, seperti masakan rumahan
pada umumnya.
Saotome sempat memasang ekspresi puas sejenak,
lalu kembali memperpendek jarak duduk kami.
Siku lengannya mengenai dadaku, membuatku
buru-buru menarik lenganku ke belakang.
Saotome tidak memedulikannya dan mendekat,
lalu berbisik di telingaku.
"Aku sebenarnya cukup suka sama acara
festival olahraga ini. Menurutmu kenapa?"
"Karena kamu bisa pakai baju olahraga,
kan."
"……Coba dipikirkan lebih serius
lagi."
"Bukannya itu, ya?"
"……Bener juga sih."
Saotome menjawab dengan ekspresi tidak
puas.
Dibandingkan dengan pakaian biasa, baju
olahraga jauh lebih tipis, berlengan pendek, dan celana pendeknya juga (meski
tidak bisa dibilang terlalu terbuka) mengekspos bagian tubuh.
Bagi Saotome yang mengidap exhibitionism,
pakaian ini sepertinya tidak begitu buruk.
"Ngomong-ngomong, ini rahasia antar
kita saja, tapi……"
"Apa?"
"Sebenarnya aku sengaja memakai satu
ukuran lebih kecil dari yang biasa."
Mendengar ucapan Saotome, aku tanpa sadar
melirik pakaian yang dikenakannya.
Kalau dipikir-pikir, memang terlihat agak
ketat…… rasanya begitu.
Bentuk dadanya tercetak dengan jelas, dan
celana pendeknya juga tampak agak pendek serta berisiko (khiwadai).
"Ih, mesum. Jangan dilihatin
terus."
"Kamu sendiri kan yang mulai
duluan."
Begitu aku buru-buru memalingkan muka,
Saotome tertawa geli.
……Menyebalkan sekali.
"Kalau sampai seniat itu, bukankah
bagian dalamnya juga harusnya pakai warna yang mencolok sekalian?"
"I, itu…… m, mana mungkin, nanti malah
jadi pusat perhatian yang aneh, tahu."
Saotome merona tipis di pipinya sambil
memalingkan wajah.
Lalu menutupi dadanya dengan kedua tangan.
Dari balik kain tipis baju olahraganya,
sehelai camisole putih tampak menerawang samar-samar.
"……J, jangan dilihatin."
Saotome melotot tajam ke arahku.
Dia merasa malu kalau camisole-nya kelihatan
tembus pandang, ya.
Padahal keluyuran tanpa celana dalam saja dia
santai, tapi giliran yang itu malah malu?
……Standarnya benar-benar tidak bisa
dimengerti.
Singkat cerita, saat waktu makan siang
hampir usai, jam istirahat siang pun berakhir, dan tibalah waktu untuk lomba
lari rintangan.
"……Duluan sana. Aku mau nyusul
nanti."
Ucap Saotome sambil buru-buru melangkah pergi
meninggalkan kelas.
Mau ke toilet, ya?
Sambil berpikir begitu, aku berjalan lebih
dulu ke lapangan perlombaan untuk menunggu Saotome.
Lomba akan segera dimulai sebentar lagi.
Sebaiknya aku suruh dia cepat, atau aku
susulin saja, ya?
Pas aku sedang memikirkan itu, Saotome
datang berlari kecil menghampiriku.
Wajahnya tampak sedikit kemerahan.
"Badanmu kurang sehat?"
"Enggak, aku baik-baik saja."
Menerima instruksi dari panitia acara, kami
berjalan menuju ke garis start.
Jujur saja, aku tidak peduli siapa yang menang
atau kalah di festival olahraga ini, tapi begitu sadar kalau ada banyak orang
yang menonton, rasa gugup tetap saja muncul.
Saat aku sedang merasa sedikit
berdebar-debar itu——
"Himuro-kun."
"Wah."
Tiba-tiba tanganku digenggam.
Detak jantungku mendadak berdegup kencang.
"Sebelum lari, ada satu hal yang ingin
kusampaikan."
"A, ada apa?"
"Sebenarnya ya."
Saotome berkata begitu sambil menarik
lengannya pelan.
Lalu sedikit berjinjit, mendekatkan bibirnya
ke dekat telingaku.
"Aku, sekarang ini……"
Sesuatu yang lembut bersentuhan dengan
lengan atasku.
"Lagi nggak pakai bra, lho."
"Ha?"
Suara peluit berbunyi nyaring menggema di
seluruh lapangan.
◇ ◇ ◇
"Nah, ayo berangkat!"
"I, iya……"
Aku mulai berlari sambil menggandeng
tangan Saotome.
Sambil berlari, aku melirik sekilas ke
arah dada Saotome.
Kalau tidak diberi tahu mungkin tidak akan
sadar, tapi gerakan goyangan dadanya memang terasa jauh lebih besar…… rasanya
begitu.
"Hei, Saotome. Soal yang tadi
itu……"
"Tuh, rintangan pertama di
depan!"
Entah karena suaraku tidak terdengar atau
dia sengaja pura-pura tidak dengar.
Saotome menunjuk ke arah celana raksasa
(deka-pan) besar yang ada di depan kami.
Rintangan pertama adalah Lomba Celana Raksasa.
Bagi yang belum tahu, ini adalah lomba di mana
peserta harus masuk ke dalam lubang celana (atau celana panjang?) berukuran
raksasa secara bersamaan lalu berlari.
Anggap
saja ini versi santai dari balap kaki tiga (two-person three-legged race).
"Nanti
bakal kutanya lebih detail pokoknya."
"……Pelan-pelan saja ya."
Kami berdua pun sama-sama memasukkan kaki ke
dalam lubang celana raksasa tersebut.
Di dalam celana itu ternyata cukup sempit.
Tidak sampai mengganggu lari kami, tapi
tubuh kami jadi saling berdempetan erat.
Siku lenganku sesekali bersentuhan dengan
dada Saotome.
Mungkin karena tahu fakta bahwa dia sedang
"tidak pakai bra", aku jadi merasa salah tingkah sendiri.
"Selanjutnya
lomba cardboard crawler, ya."
Kami akhirnya terbebas dari posisi
berdempetan itu.
Aku tanpa sadar mendesah lega.
"Biar aku di depan, ya?"
"Silakan."
Rintangan berikutnya adalah balap
merangkak dalam kardus.
Ini adalah lomba di mana peserta masuk ke
dalam terowongan ulat bulu (caterpillar) yang terbuat dari kardus, lalu maju
dengan merangkak menggunakan kedua tangan dan lutut (quintupedal).
Sesuai rencana, Saotome masuk ke dalam
kardus terlebih dahulu.
Lalu aku menyusul masuk di belakangnya,
tapi……
"Aku mau jalan agak cepat, ya?"
"B,
baiklah……"
C,
cewek ini……
Bukannya
cuma dadanya saja, tapi bokongnya juga besar, ya?
Aku
memalingkan wajah sambil menjawab pertanyaannya.
"Bisa
lebih cepat lagi?"
"Boleh."
Saotome meningkatkan kecepatan merangkaknya.
Aku maju dengan penuh rasa tegang agar tidak
tertinggal dari Saotome, sekaligus menjaga jarak agar tidak menabrak bokongnya.
Atau lebih tepatnya, kenapa cewek ini bajunya
kelihatan ngetep banget…… Ah, benar juga, tadi dia bilang pakai ukuran yang
lebih kecil, ya.
Wanita mesum ini……
Aku tanpa sadar melototi bokong yang ada tepat
di depan mataku.
Pada detik itu juga.
Dari celah antara paha dan celana pendeknya,
kilasan warna putih tampak mengintip sekilas.
"Ah."
Gawat.
Aku buru-buru membuang muka.
"Himuro-kun."
"A, ada apa?"
Jantungku berdegup kencang.
"Kita sudah sampai. Cepat keluar, ayo
lanjut."
"I, iya!"
Seolah ditarik oleh Saotome, aku berlari
menuju rintangan selanjutnya.
"Berikutnya estafet bola, ya."
Saotome berkata dengan ekspresi serius.
Rupanya dia benar-benar menghayati
lombanya.
Cewek ini, apa dia lupa kalau dirinya
sedang tidak pakai bra, ya?
"Gimana? Posisinya stabil? Aku boleh
lari sekarang?"
"Aku bakal menyesuaikan, lari saja
sesukamu."
Kami mulai berlari sambil menjepit bola di
antara punggung kami.
Meskipun dibilang berlari, gerakannya
lebih mirip seperti berjalan menyamping dengan kecepatan lari-lari kecil.
Selain bagian bokong Saotome yang
membentur bokongku, tidak ada kontak fisik lainnya.
Untuk saat ini, aman.
Rintangan setelah ini kalau tidak salah…… jajaran titian
keseimbangan (balance beam), ya.
"Kita terobos sekaligus, yuk."
"Setuju."
Selesai mengantar bola, Saotome langsung
naik ke atas papan titian.
Tantangan titian keseimbangan terakhir ini
mengharuskan peserta perempuan berjalan di atas papan titian sementara peserta
laki-laki menjaga di sampingnya.
Berbeda dengan siswi dari kelas lain yang
berjalan sambil berteriak histeris, Saotome justru melibasnya dengan kecepatan
penuh dan ekspresi wajah yang sangat serius.
Padahal dia tadi bilang tipe orang yang
"tidak antusias"…… apa dia sebenarnya tipe orang yang tidak suka
kalah?
"Kalau buru-buru begitu nanti baha—"
"Kyaa!"
Sebelum peringatanku selesai, kaki Saotome
terpeleset.
Aku buru-buru menangkap dan menopang tubuh
Saotome.
Aku bisa merasakan keempukan dadanya yang
tertekan menempel di atas dadaku.
"Kamu tidak apa-apa?"
"U, um……"
Saotome mengangguk dengan wajah yang merah
padam.
Lalu, sambil menutupi dadanya dengan sebelah
tangan, dia mulai berjalan pelan meniti papan keseimbangan.
……Sepertinya dia baru ingat kalau dirinya
sedang tidak pakai bra.
Di penghujung jalan, dia sempat beberapa
kali sempoyongan dan menubruk tubuhku, tapi akhirnya kami berhasil menyeberangi
papan titian itu sampai garis akhir.
Hasilnya kami menduduki peringkat ketiga.
"M, maaf ya. Aku malah jadi beban
buatmu."
Saotome menggaruk pipinya yang merona merah
sambil berbicara dengan nada canggung.
Dia sepertinya merasa bersalah karena mengira
posisinya yang harusnya bisa finis pertama malah hancur gara-gara kesalahannya
sendiri.
"Aku sama sekali tidak peduli soal
peringkat di festival olahraga. Ketimbang itu…… kamu senang?"
"E,
eh…… y, ya. ……Lumayanlah."
Menanggapi
pertanyaanku, Saotome mengangguk dengan wajah memerah.
Sepertinya, pintu dunia baru telah terbuka
untuknya.
……Yah, kalau dia senang sih ya sudahlah.


Post a Comment