Chapter
5
Situasi Percintaan Sang Gadis Suci
Beberapa waktu setelah festival olahraga
berlalu.
"Saotome-san,
aku menyukaimu. Tolong jadilah pacarku!!"
Hari
ini cuacanya sedang bagus, dan aku tadinya berniat pergi ke lantai atas untuk
makan siang di atap sekolah demi menyegarkan pikiran, tapi sesampainya di
tangga, aku malah tidak sengaja memergoki adegan pernyataan cinta.
Satu orang adalah sang gadis suci kebanggaan
kita.
Dan satu orang lagi adalah…… anak dari kelas sebelah, ya.
"Maafkan aku. Aku──"
Mengintip urusan orang lain tentu bukan hal
yang sopan.
Aku pun memutuskan untuk bersikap cool dan
berlalu pergi dari tempat itu.
Seandainya mereka berdua jadian, itu berarti
permainan rahasia bersama Saotome juga harus berakhir.
Bisa-bisa itu dihitung sebagai perselingkuhan.
Meskipun, berhubung kata "maaf"
sudah telanjur kudengar, Saotome sepertinya baru saja menolak pria itu.
Namun…… cowok itu pasti tidak menyangka kalau
gadis suci yang baru saja dia tembak cintanya itu sebenarnya sedang tidak pakai
celana dalam.
◇ ◇ ◇
Dan, keesokan harinya setelah insiden itu.
"Selamat pagi, Himuro-kun. Mohon kerja
samanya ya hari ini."
"Eh?
A, ah……"
Pagi-pagi
buta.
Disapa
oleh Saotome yang sedang mood-nya bagus, aku tanpa sadar mengeluarkan suara
aneh.
"P,
pagi."
Hari
ini, memangnya ada apa dengan Saotome?
Aku
memiringkan kepala dan mengecek jadwal pelajaran hari ini.
Di sana tertulis jadwal pelajaran Seni Rupa di
jam keenam.
Ah, benar juga, hari ini ada pelajaran melukis
model manusia.
Berpasangan dengan teman sebangku.
Minggu lalu Saotome melukis potretku, jadi
kali ini giliranku yang harus melukis potret Saotome.
Tapi kurasa itu bukan pelajaran yang seru-seru
amat, sih……
Sambil memikirkan hal itu, pundakku
ditepuk dari belakang.
Begitu menoleh, kutemukan wajah Saotome
yang sudah berada tepat di depan mukaku.
"A, ada apa……?"
"Hari ini warnanya hitam, lho."
Saotome berbisik pelan tepat di telingaku.
Kali ini tidak pakai format kuis.
Ini adalah pola di mana dia membongkarnya
sendiri demi menikmati reaksinya dariku.
"J, jarang banget. Biasanya kan lewat
pesan."
"Kadang-kadang ada hari di mana aku
lagi ingin mood kayak gini."
Saotome berkata begitu lalu kembali duduk
di kursinya.
Mood seperti itu……?
Kalau alasannya karena kondisi badannya
sedang tidak enak sehingga dia enggan melakukannya, aku masih bisa paham.
Namun, Saotome hari ini justru kelihatan
senang bukan kepalang.
Senang tapi tidak mau main kuis…… kalau
dipikir dari kebiasaannya sehari-hari, rasanya janggal banget.
Yah, terserah dia sih, bukan urusanku juga
untuk protes……
Sambil membawa perasaan ganjil yang mengganjal
di dada, aku menghabiskan waktu belajarku sampai akhirnya——
"Hei, sebenarnya Himuro-kun dan
Saotome-san itu pacaran, ya?"
"Enggak kok, mana ada."
"Himuro, lu beneran jadian sama sang
gadis suci?"
"Nggak pacaran."
"Himuro, lu sebenarnya suka ya sama
Saotome?"
"Mana ada, biasa aja."
Pertanyaan semacam itu terus diberondongkan
padaku setiap kali jam istirahat berganti.
Memang benar kalau kami tidak terlalu
menutup-nutupi kedekatan kami.
Waktu festival olahraga kemarin kami juga ikut
lomba rintangan bersama, jadi wajar saja kalau orang-orang salah paham dan
berspekulasi kalau hubungan kami sudah semakin dalam, tapi……
Lalu, di jam pelajaran keempat.
"Himuro, kudengar rumor kalau kamu jadian
sama Saotome, beneran tuh?"
"Himuro, lu beneran pacaran sama Saotome,
hah?!"
"Lagi-lagi bahas itu."
Dikonfirmasi sampai empat kali dalam sehari
rasanya sudah terlalu berlebihan.
Sebenarnya, apa yang sudah terjadi?
"Kami nggak pacaran. Emangnya kamu dengar
dari siapa?"
"Dengar dari siapa ya…… Ya, cuma dengar
omongan orang sih."
Teman sekelasku menjawab dengan nada
ragu-ragu.
"Katanya, Saotome-san bilang kalau dia
menyukaimu, lho."
"Mana mungkin, omong kosong."
Konon katanya, saat Saotome ditembak oleh
cowok lain tempo hari, dia menolak dengan alasan "karena aku menyukai
Himuro-kun".
Rumor seperti itu sedang hangat beredar.
……Memang benar sih, kemarin dia habis
nolak cowok.
Tingkat kebenarannya tinggi banget.
Perempuan sialan itu, berani-beraninya
mencatut nama orang sembarangan……!!
Tapi sekarang semuanya jadi masuk akal.
Dia sengaja memakai alasan itu saat menolak
cinta orang lain untuk menjahiliku.
Dia pasti ingin menikmati ekspresiku yang
kebingungan atau malah menelan mentah-mentah rumor itu.
Jujur saja, aku mulai kesal.
Kalau masalahnya cuma berkisar di antara aku
dan Saotome saja masih bisa dimaklumi, tapi kalau sampai menyeret orang lain
dan menyebarkan kebohongan, itu sudah keterlaluan.
Ini
sudah melewati batas garis aman.
Saat
jam istirahat siang, aku menyeret Saotome ke belakang gimnasium.
"Apaan
sih? Tiba-tiba manggil ke sini. Jangan-jangan kamu pengin lihat bagian dalam rokku, ya?"
Saotome berkata sambil tertawa.
Tapi begitu melihat ekspresiku yang serius,
raut wajahnya langsung berubah kaku.
"Akan
langsung kutanya yah. Benar nggak sih kamu bilang kalau kamu suka
sama aku?"
"Hah……? Maksudnya apa. Nggak tahu tuh.
Mana mungkin aku ngomong begitu. Kan aku nggak suka sama kamu."
"……Hmm."
Saotome kelihatannya tidak sedang berbohong.
"Rumor semacam itu lagi beredar lho.
Kamu nggak punya bayangan kenapa bisa begitu?"
"Hmm, yah, kemarin memang benar aku
habis nolak cowok yang nembak aku, sih…… tapi coba kucerna lagi percakapan kami
waktu itu."
Saotome mengetuk-ngetuk dagunya dengan
jari.
Dia bahkan tidak ingat apa yang dia
bicarakan……?
"Mana ada orang lupa omongannya
sendiri."
"Karena aku terbiasa pakai template
jawaban, jadi agak lupa yang mana yang kupakai…… Sebentar, biarkan aku
mengingatnya dulu."
"Ini bukan lagi bahas menu sarapan,
tahu."
"Kemarin pagi sarapanku menu masakan
Jepang."
"Ingat-ingat obrolan pas siang
hari."
"Hmm, waktu itu ada menu tamagoyaki,
ya."
"Bukan itu topiknya. Jauhi urusan
makanan!"
Aku menegurnya dengan nada tegas karena
Saotome terus-menerus melempar gimmick bercanda.
Saotome menutup matanya sejenak, lalu menepuk
tangannya pelan.
"Ah, aku memang menjawab kalau aku punya
seseorang yang kucintai."
"Emangnya beneran ada?"
"Nggak ada. Aku nggak ngomong secara
spesifik siapa orangnya. Tentu saja aku nggak pernah bilang kalau orang itu
adalah kamu."
"Hmm…… terus gimana?"
Punya seseorang yang kucintai → Orang itu
adalah Himuro.
Asumsi itu rasanya terlalu melompat jauh.
Pasti ada kalimat lain yang memicu
kesalahpahaman.
"Ah…… waktu itu aku sempat ditanya,
'Apakah orang itu Himuro?' sih."
"Terus kamu bantah?"
"Aku tidak membantah…… hmm, tepatnya aku
nggak bilang iya atau tidak, cuma kujawab 'Kira-kira begitu ya~'."
Sudah pasti gara-gara kalimat itu biangnya!
"Kenapa nggak kamu bantah
sekalian?!"
"Membantah secara tegas kan rasanya sok
banget. Nanti kalau ditanya lagi 'Kalau bukan dia, terus siapa dong?' kan malah
bikin repot. Makanya lebih baik kubikin mengambang aja."
Saotome mengerutkan keningnya sambil membela
diri.
Benar juga…… kemungkinan itu memang ada.
Kalau dia punya pengalaman buruk sebelumnya,
aku tidak bisa menyalahkannya terlalu keras.
"Tapi gara-gara itu kamu jadi ikut
terseret repot, ya. ……Mau kubantu luruskan rumornya biar aku saja yang
membantah?"
"……Enggak, kalau sekarang mendadak
dibantah malah bakal kelihatan disengaja. Jangan deh."
Kalau buru-buru diklarifikasi sekarang,
orang-orang malah akan semakin curiga dan mengira 'Jangan-jangan emang beneran
ada apa-apa'.
Kurasa lebih baik biarkan mereda dengan
sendirinya seiring berjalannya waktu.
"Masuk akal juga sih. Ya sudah, nanti
kalau ada yang tanya lagi bakal kubantah langsung."
"Nah,
itu ide bagus. Cukup begitu aja."
Aku sendiri juga selalu menyangkalnya
mati-matian, kan.
Setidaknya orang-orang tidak bakal mengira
kami benar-benar pacaran.
"Oh iya, gimana? Sebagai permintaan maaf,
mau lihat nggak?"
Saotome
tiba-tiba punya ide cemerlang dan mencubit ujung roknya pelan.
Disertai dengan senyuman penuh arti.
"Kalau kamu lewatkan momen hari ini,
kesempatan kayak gini nggak bakal datang dua kali lho."
"Ah, gitu ya. Nggak usah deh,
makasih."
"Eh, beneran nggak mau?"
"Prinsip utamanya kan bukan hasil
akhirnya, melainkan proses perjuangannya, kan."
Justru karena aku berhasil menebak kuisnya,
hadiah itu jadi bernilai tinggi.
Kalau ditunjukkan langsung atas inisiatif
Saotome…… yah, bukan berarti aku tidak senang, sih.
Tapi rasanya nilai eksklusifnya jadi
hancur.
Lagi pula, rasanya kayak dikasih amal
belas kasihan, males banget.
"Wah, kamu rupanya sudah paham
filosofinya, ya."
Saotome menarik kembali tangannya dari rok
dengan mood yang tampak bagus.
Lalu memutar balik badannya.
"Kalau begitu, sampai ketemu lagi di
kelas Seni Rupa nanti ya."
Dia berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
Setidaknya, kecurigaan bahwa Saotome sengaja
memakai namaku sudah berhasil dibersihkan.
Baguslah aku terbebas dari fitnah.
……Tapi alasan kenapa mood Saotome hari ini
kelihatan bagus banget tetap jadi misteri.
Atau jangan-jangan……
Jangan-jangan dia beneran suka sama aku, dan
senang karena aku bakal melukis potret dirinya……?
Ah, mana mungkin.
Sambil memikirkan hal-hal tidak penting
seperti itu, jam istirahat siang usai, dan pelajaran jam kelima pun selesai.
***
Lalu, tepat sebelum jam pelajaran keenam
dimulai——
"Oh iya, Himuro-kun."
"Hm?"
"Sini sebentar."
Saotome melambaikan tangannya menyuruhku
mendekat.
Memberi gestur agar aku memajukan telinga ke
dekat mulutnya.
"Ada apa?"
"Aku, sekarang ini lagi nggak pakai
celana dalam, lho."
……Ha?
Dan tambahkan kalimat susulan untukku yang
masih kebingungan.
"Ngomong-ngomong, aku juga lagi nggak
pakai bra."
……Ehm.
Saat aku masih terpaku membeku, Saotome sudah
menjauhkan wajahnya dariku.
Lalu dia tersenyum kecil geli sambil mencubit
ujung roknya.
"Jadi…… mohon kerja samanya ya."
Katanya dengan wajah yang memerah malu.
"Lukis aku yang manis, ya."
C, cewek ini……!
Alasan kenapa mood-nya bagus sejak pagi
ternyata karena hal ini rupanya!!
◇ ◇ ◇
Objek lukisan utamanya memang manusia, tapi
latar belakang pemandangannya juga harus ikut digambar sebagai satu kesatuan.
Oleh karena itu, kami harus memutuskan
terlebih dahulu “di mana kami akan menggambar”……
"Eh? Emangnya nggak apa-apa di tempat
sepi kayak gini?"
"Kalau sampai ketahuan kan gawat."
Tempat yang kupilih adalah sudut sepi di balik
gedung sekolah.
Ada satu pohon besar tumbuh di belakang kami.
Menurutku ini pilihan yang bagus karena latar
belakangnya cukup digambar satu pohon saja, jadi tidak ribet.
Dan alasan kedua adalah demi menghindari
risiko orang-orang tahu kalau sang gadis suci sedang no-panties, no-bra.
"Bisa gawat kalau aku nanti dikira
ikut-ikutan jadi pervert."
Kalau Saotome melakukannya sendirian, cap
pervert itu cuma melekat pada dirinya seorang.
Tapi…… sekarang posisiku sedang dikabarkan
punya hubungan spesial dengan Saotome.
Bagaimana jadinya kalau seandainya
ketahuan Saotome sedang tanpa celana dalam dan bra dalam kondisi seperti ini?
Sudah pasti orang-orang bakal berasumsi
aku yang menyuruhnya melakukan permainan aneh itu.
Atau lebih parahnya lagi, dikira aku yang
memaksa.
Reputasi sosialku di masyarakat bisa
hancur lebur.
Hal semacam itu harus dihindari dengan
segala cara.
"Begitu ya…… Yah, buatku sendiri
berduaan begini malah jauh lebih praktis sih, jadi nggak masalah."
"Sudahlah, cepat duduk di sana."
"Iya, iya."
Saotome duduk di atas bangku taman.
Kedua kakinya dirapatkan dengan sempurna,
dan kedua tangannya diletakkan di atas lutut.
Postur duduknya tetap terlihat sangat
anggun seperti biasa.
Pantas saja dia bisa melakukannya secara
alami, dasar anak orang kaya.
Baru saja aku memuji dalam hati……
"Cuma duduk diam doang kan bosan, ya
kan?"
"Ha?"
"Bukankah lebih bagus kalau ada pose
atau gerakan dinamisnya? Kamu bebas kok kasih instruksi."
……Memang benar sih, kalau ada kesan
bergerak hidup sedikit mungkin nilai lukisannya jadi lebih bagus.
Tapi aku tidak butuh itu.
Aku tidak mengharapkan hal semacam itu.
"Begitu saja sudah cukup. Kelihatan
anggun dan mirip gadis suci."
"Justru karena itu, rasanya lebih
baik kalau penampilannya sedikit dibuat santai, kan?"
Selesai berkata begitu, Saotome bergerak
atas kemauannya sendiri.
Salah satu lututnya ditekuk ke atas, lalu
dipeluk dengan kedua tangan.
Kemudian kaki sebelahnya diluruskan ke depan.
Roknya pun tersingkap naik secara alami.
"H, hei!"
"Tenang saja, nggak kelihatan kok."
Memang benar sih, bagian dalamnya belum
kelihatan.
……Tapi posisinya sudah sangat berisiko.
"Kalau Himuro-kun mau, mau kugayakan
dengan pose yang lebih menantang lagi?"
"Sudah diam saja di situ."
"Atau roknya kulipat jadi lebih pendek
lagi……"
"Nggak usah aneh-aneh."
Namun, Saotome tidak mendengarkan
peringatanku, tangannya malah meraba bagian dadanya.
J, jangan-jangan……
"H, hei……"
"Akhir-akhir
ini cuacanya panas banget, ya."
Sambil
meracau begitu, Saotome membuka kancing blusnya satu persatu.
Belahan dadanya sekilas mengintip keluar.
Tentu saja, pakaian dalamnya tidak kelihatan.
"Aku bakal melukismu dalam kondisi
kancing tertutup, lho."
"Tega banget mengabaikan sang
model."
Ucap Saotome sambil tertawa kecil.
Untungnya, setelah itu Saotome tidak
melakukan aksi nekat di luar dugaan lagi.
Yah, ini kan jam pelajaran sekolah.
Lebih baik aku menyelesaikannya dengan cepat,
lalu aku mulai menggoreskan pensilku ke atas kertas.
Wajah, dada, bagian tengah badan, lalu kaki.
Sambil mengamati Saotome lekat-lekat, aku
mulai membuat garis besar bentuk tubuhnya…… tapi cewek ini benar-benar punya
proporsi tubuh model profesional, ya.
Kakinya panjang banget.
Meskipun ramping, kurusnya tidak
berlebihan.
Paha putihnya terisi dengan daging yang
sehat dan berisi.
Sangat menggoda (eroi).
Atau lebih tepatnya, bagian tersembunyi di
balik sana justru malah bikin aku semakin penasaran.
"Ditatap setajam dan segairah itu bikin
aku malu, tahu."
"Nggak usah komentar!"
Aku mengalihkan pandanganku dari bagian bawah
tubuhnya ke arah atas.
Pemandangan yang langsung menyambut retinaku
adalah belahan dada putih milik Saotome.
Ukurannya memang besar.
Mungkin karena efek suhu udara, kulitnya
tampak sedikit berkeringat, dan aku bisa melihat butiran keringat menetes turun
melewatinya.
Blusnya
juga tampak sedikit tembus pandang.
Kalau
aku mempertajam pandangannya, mungkin aku bisa melihat kulit putih mulus
beserta puncak dadanya…… mungkin.
Pikiran semacam itu sukses membuatku salah
tingkah sendiri.
"Eh, Himuro-kun. Kok pensilnya berhenti
bergerak? Kamu menatapku dengan tatapan seolah bernafsu begitu. Kenapa?
Terpesona sama pesonaku, ya?"
"Diamlah."
Aku kembali menggerakkan pensil.
Berusaha fokus melukis…… tapi syarat utamanya
adalah aku harus menatap tajam ke arah Saotome.
Dan begitu aku menatap tajam ke arah Saotome,
bagian dalam roknya atau blusnya yang basah oleh keringat malah jadi
mengalihkan konsentrasiku.
"Punya daya tarik emang berat,
ya."
Sebaliknya, Saotome malah kelihatan senang
luar biasa.
Menyebalkan sekali……
Kucoba balas menyerang sedikit.
"Emangnya seru ya jadi objek model
telanjang begitu?"
Mendengar ucapanku, tubuh Saotome langsung
menegang kaku.
Oho, bagus.
Pertahankan posisiku dan jangan bergerak.
"M, maksudmu apa……?"
Dia masih berniat pura-pura tidak tahu,
rupanya.
Padahal buku tipis bertema itu kan aku
sendiri yang meminjamkannya kepadanya.
Apa dia pikir aku tidak bakal tahu?
"Ternyata kamu gampang sekali
terpengaruh, ya."
Tidak ada rahasia apa pun.
Di dalam buku tipis yang kupinjamkan ke
Saotome tempo hari, ada cerita dengan tema "gadis sekolah yang dipaksa
menjadi model telanjang".
Sepertinya cerita itu cocok sekali dengan
fetisenya.
Dia pasti berkhayal ingin mencoba hal serupa
di dunia nyata.
"T, tidak…… a, aku tidak terpengaruh
kok!? L, lagi pula aku kan nggak telanjang……"
"Jangan bergerak. Jangan ditutupi.
Jangan rapatkan kakinya."
"K, kalimat itu……!"
Wajah Saotome merona merah padam.
Namun, dia tidak bisa membantah lagi, dan
tubuhnya pun membeku tidak berani bergerak.
Hanya suara goresan pensilku saja yang
bergeming.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu.
Aku mengecek jam tangan di pergelangan
tanganku.
Sisa waktu pelajaran tinggal sepuluh menit
lagi.
Memperhitungkan waktu berjalan kembali ke
kelas, sepertinya sudah saatnya kami harus bergegas balik.
"Saotome, ayo kembali."
"……"
"Woy."
Meskipun aku memanggilnya, Saotome sama sekali
tidak bergeming.
Dia membeku dalam lamunan kosong.
Atau lebih tepatnya, sepertinya dia sedang
asyik melamunkan sesuatu.
"Hei, kamu nggak apa-apa?"
Aku menepuk pundak Saotome pelan.
Seketika itu juga, Saotome tersentak kaget
dengan bahu bergetar hebat.
"A, apa?!"
"Kubilang kepadamu waktunya kembali……
tadi."
"Ah, begitu…… M, maaf ya."
Saotome membuang muka dengan canggung, lalu
berdiri dari duduknya.
Lalu merapikan bagian belakang roknya.
"Beresin dadamu sana."
"Eh? Ah…… um. Aku tahu."
Mendengar teguranku, Saotome buru-buru menutup
kembali kancing blusnya dengan panik.
Dia sampai lupa, ya……
"Tadi itu sebenarnya lagi mikirin
apa?"
"Nggak, nggak ada apa-apa kok? Emangnya
aku kelihatan mikirin apa?"
Saotome
membuang muka dengan wajah memerah.
Yah, aku bisa menebak isi kepalanya.
Dia pasti sedang berkhayal memadukan isi
cerita buku tipis yang kupinjamkan dengan situasi nyata yang kami alami
barusan.
"Boleh aku lihat hasil lukisannya?"
"Boleh aja."
Kutunjukkan lukisan setengah jadi itu kepada
Saotome.
Dia menatapnya sesaat lalu bergumam kagum.
"Bagus juga ya. ……Bahkan lebih bagus
dariku."
"Terima kasih."
Setelah itu Saotome meletakkan jarinya di dagu
dan mulai merenung serius.
……Sebaiknya kuklarifikasi sekarang saja, deh.
"Aku tidak sedang membuka lowongan
model telanjang, lho."
"H, hah?! M, maksudmu apa?!"
Saotome mengeluarkan suara panik.
"M, mana mungkin aku minta hal kayak
gitu! Kalaupun diminta, aku pasti nolak."
"Nggak bakal kuminta kok, tenang
saja."
Kalau aku sampai memintanya, aku merasa
aku harus bisa menggambar sketsa dengan tingkat keahlian luar biasa tinggi
sebagai gantinya agar dimaafkan.
Dan kemampuan menggambarku tidak sehebat
itu.
……Ah, benar juga.
"Sebelum pulang, pakai pakaian
dalammu sana. Nanti kamu bisa masuk angin lagi lho."
"T, tanpa kau suruh pun…… aku tahu."
Saotome berkata begitu sambil merapatkan
roknya erat-erat.


Post a Comment