-->
NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Tonari no Seki no Seijo-sama wa Ore ni Kossori Sukaato no Naka o Oshiete Kureru Volume 1 Chapter 5

Chapter 5

Situasi Percintaan Sang Gadis Suci


Beberapa waktu setelah festival olahraga berlalu.

"Saotome-san, aku menyukaimu. Tolong jadilah pacarku!!"

Hari ini cuacanya sedang bagus, dan aku tadinya berniat pergi ke lantai atas untuk makan siang di atap sekolah demi menyegarkan pikiran, tapi sesampainya di tangga, aku malah tidak sengaja memergoki adegan pernyataan cinta.

Satu orang adalah sang gadis suci kebanggaan kita.

Dan satu orang lagi adalah…… anak dari kelas sebelah, ya.

"Maafkan aku. Aku──"

Mengintip urusan orang lain tentu bukan hal yang sopan.

Aku pun memutuskan untuk bersikap cool dan berlalu pergi dari tempat itu.

Seandainya mereka berdua jadian, itu berarti permainan rahasia bersama Saotome juga harus berakhir.

Bisa-bisa itu dihitung sebagai perselingkuhan.

Meskipun, berhubung kata "maaf" sudah telanjur kudengar, Saotome sepertinya baru saja menolak pria itu.

Namun…… cowok itu pasti tidak menyangka kalau gadis suci yang baru saja dia tembak cintanya itu sebenarnya sedang tidak pakai celana dalam.

Dan, keesokan harinya setelah insiden itu.

"Selamat pagi, Himuro-kun. Mohon kerja samanya ya hari ini."

"Eh? A, ah……"

Pagi-pagi buta.

Disapa oleh Saotome yang sedang mood-nya bagus, aku tanpa sadar mengeluarkan suara aneh.

"P, pagi."

Hari ini, memangnya ada apa dengan Saotome?

Aku memiringkan kepala dan mengecek jadwal pelajaran hari ini.

Di sana tertulis jadwal pelajaran Seni Rupa di jam keenam.

Ah, benar juga, hari ini ada pelajaran melukis model manusia.

Berpasangan dengan teman sebangku.

Minggu lalu Saotome melukis potretku, jadi kali ini giliranku yang harus melukis potret Saotome.

Tapi kurasa itu bukan pelajaran yang seru-seru amat, sih……

Sambil memikirkan hal itu, pundakku ditepuk dari belakang.

Begitu menoleh, kutemukan wajah Saotome yang sudah berada tepat di depan mukaku.

"A, ada apa……?"

"Hari ini warnanya hitam, lho."

Saotome berbisik pelan tepat di telingaku.

Kali ini tidak pakai format kuis.

Ini adalah pola di mana dia membongkarnya sendiri demi menikmati reaksinya dariku.

"J, jarang banget. Biasanya kan lewat pesan."

"Kadang-kadang ada hari di mana aku lagi ingin mood kayak gini."

Saotome berkata begitu lalu kembali duduk di kursinya.

Mood seperti itu……?

Kalau alasannya karena kondisi badannya sedang tidak enak sehingga dia enggan melakukannya, aku masih bisa paham.

Namun, Saotome hari ini justru kelihatan senang bukan kepalang.

Senang tapi tidak mau main kuis…… kalau dipikir dari kebiasaannya sehari-hari, rasanya janggal banget.

Yah, terserah dia sih, bukan urusanku juga untuk protes……

Sambil membawa perasaan ganjil yang mengganjal di dada, aku menghabiskan waktu belajarku sampai akhirnya——

"Hei, sebenarnya Himuro-kun dan Saotome-san itu pacaran, ya?"

"Enggak kok, mana ada."

"Himuro, lu beneran jadian sama sang gadis suci?"

"Nggak pacaran."

"Himuro, lu sebenarnya suka ya sama Saotome?"

"Mana ada, biasa aja."

Pertanyaan semacam itu terus diberondongkan padaku setiap kali jam istirahat berganti.

Memang benar kalau kami tidak terlalu menutup-nutupi kedekatan kami.

Waktu festival olahraga kemarin kami juga ikut lomba rintangan bersama, jadi wajar saja kalau orang-orang salah paham dan berspekulasi kalau hubungan kami sudah semakin dalam, tapi……

Lalu, di jam pelajaran keempat.

"Himuro, kudengar rumor kalau kamu jadian sama Saotome, beneran tuh?"

"Himuro, lu beneran pacaran sama Saotome, hah?!"

"Lagi-lagi bahas itu."

Dikonfirmasi sampai empat kali dalam sehari rasanya sudah terlalu berlebihan.

Sebenarnya, apa yang sudah terjadi?

"Kami nggak pacaran. Emangnya kamu dengar dari siapa?"

"Dengar dari siapa ya…… Ya, cuma dengar omongan orang sih."

Teman sekelasku menjawab dengan nada ragu-ragu.

"Katanya, Saotome-san bilang kalau dia menyukaimu, lho."

"Mana mungkin, omong kosong."

Konon katanya, saat Saotome ditembak oleh cowok lain tempo hari, dia menolak dengan alasan "karena aku menyukai Himuro-kun".

Rumor seperti itu sedang hangat beredar.

……Memang benar sih, kemarin dia habis nolak cowok.

Tingkat kebenarannya tinggi banget.

Perempuan sialan itu, berani-beraninya mencatut nama orang sembarangan……!!

Tapi sekarang semuanya jadi masuk akal.

Dia sengaja memakai alasan itu saat menolak cinta orang lain untuk menjahiliku.

Dia pasti ingin menikmati ekspresiku yang kebingungan atau malah menelan mentah-mentah rumor itu.

Jujur saja, aku mulai kesal.

Kalau masalahnya cuma berkisar di antara aku dan Saotome saja masih bisa dimaklumi, tapi kalau sampai menyeret orang lain dan menyebarkan kebohongan, itu sudah keterlaluan.

Ini sudah melewati batas garis aman.

Saat jam istirahat siang, aku menyeret Saotome ke belakang gimnasium.

"Apaan sih? Tiba-tiba manggil ke sini. Jangan-jangan kamu pengin lihat bagian dalam rokku, ya?"

Saotome berkata sambil tertawa.

Tapi begitu melihat ekspresiku yang serius, raut wajahnya langsung berubah kaku.

"Akan langsung kutanya yah. Benar nggak sih kamu bilang kalau kamu suka sama aku?"

"Hah……? Maksudnya apa. Nggak tahu tuh. Mana mungkin aku ngomong begitu. Kan aku nggak suka sama kamu."

"……Hmm."

Saotome kelihatannya tidak sedang berbohong.

"Rumor semacam itu lagi beredar lho. Kamu nggak punya bayangan kenapa bisa begitu?"

"Hmm, yah, kemarin memang benar aku habis nolak cowok yang nembak aku, sih…… tapi coba kucerna lagi percakapan kami waktu itu."

Saotome mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari.

Dia bahkan tidak ingat apa yang dia bicarakan……?

"Mana ada orang lupa omongannya sendiri."

"Karena aku terbiasa pakai template jawaban, jadi agak lupa yang mana yang kupakai…… Sebentar, biarkan aku mengingatnya dulu."

"Ini bukan lagi bahas menu sarapan, tahu."

"Kemarin pagi sarapanku menu masakan Jepang."

"Ingat-ingat obrolan pas siang hari."

"Hmm, waktu itu ada menu tamagoyaki, ya."

"Bukan itu topiknya. Jauhi urusan makanan!"

Aku menegurnya dengan nada tegas karena Saotome terus-menerus melempar gimmick bercanda.

Saotome menutup matanya sejenak, lalu menepuk tangannya pelan.

"Ah, aku memang menjawab kalau aku punya seseorang yang kucintai."

"Emangnya beneran ada?"

"Nggak ada. Aku nggak ngomong secara spesifik siapa orangnya. Tentu saja aku nggak pernah bilang kalau orang itu adalah kamu."

"Hmm…… terus gimana?"

Punya seseorang yang kucintai → Orang itu adalah Himuro.

Asumsi itu rasanya terlalu melompat jauh.

Pasti ada kalimat lain yang memicu kesalahpahaman.

"Ah…… waktu itu aku sempat ditanya, 'Apakah orang itu Himuro?' sih."

"Terus kamu bantah?"

"Aku tidak membantah…… hmm, tepatnya aku nggak bilang iya atau tidak, cuma kujawab 'Kira-kira begitu ya~'."

Sudah pasti gara-gara kalimat itu biangnya!

"Kenapa nggak kamu bantah sekalian?!"

"Membantah secara tegas kan rasanya sok banget. Nanti kalau ditanya lagi 'Kalau bukan dia, terus siapa dong?' kan malah bikin repot. Makanya lebih baik kubikin mengambang aja."

Saotome mengerutkan keningnya sambil membela diri.

Benar juga…… kemungkinan itu memang ada.

Kalau dia punya pengalaman buruk sebelumnya, aku tidak bisa menyalahkannya terlalu keras.

"Tapi gara-gara itu kamu jadi ikut terseret repot, ya. ……Mau kubantu luruskan rumornya biar aku saja yang membantah?"

"……Enggak, kalau sekarang mendadak dibantah malah bakal kelihatan disengaja. Jangan deh."

Kalau buru-buru diklarifikasi sekarang, orang-orang malah akan semakin curiga dan mengira 'Jangan-jangan emang beneran ada apa-apa'.

Kurasa lebih baik biarkan mereda dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

"Masuk akal juga sih. Ya sudah, nanti kalau ada yang tanya lagi bakal kubantah langsung."

"Nah, itu ide bagus. Cukup begitu aja."

Aku sendiri juga selalu menyangkalnya mati-matian, kan.

Setidaknya orang-orang tidak bakal mengira kami benar-benar pacaran.

"Oh iya, gimana? Sebagai permintaan maaf, mau lihat nggak?"

Saotome tiba-tiba punya ide cemerlang dan mencubit ujung roknya pelan.

Disertai dengan senyuman penuh arti.

"Kalau kamu lewatkan momen hari ini, kesempatan kayak gini nggak bakal datang dua kali lho."

"Ah, gitu ya. Nggak usah deh, makasih."

"Eh, beneran nggak mau?"

"Prinsip utamanya kan bukan hasil akhirnya, melainkan proses perjuangannya, kan."

Justru karena aku berhasil menebak kuisnya, hadiah itu jadi bernilai tinggi.

Kalau ditunjukkan langsung atas inisiatif Saotome…… yah, bukan berarti aku tidak senang, sih.

Tapi rasanya nilai eksklusifnya jadi hancur.

Lagi pula, rasanya kayak dikasih amal belas kasihan, males banget.

"Wah, kamu rupanya sudah paham filosofinya, ya."

Saotome menarik kembali tangannya dari rok dengan mood yang tampak bagus.

Lalu memutar balik badannya.

"Kalau begitu, sampai ketemu lagi di kelas Seni Rupa nanti ya."

Dia berjalan pergi meninggalkan tempat itu.

Setidaknya, kecurigaan bahwa Saotome sengaja memakai namaku sudah berhasil dibersihkan.

Baguslah aku terbebas dari fitnah.

……Tapi alasan kenapa mood Saotome hari ini kelihatan bagus banget tetap jadi misteri.

Atau jangan-jangan……

Jangan-jangan dia beneran suka sama aku, dan senang karena aku bakal melukis potret dirinya……?

Ah, mana mungkin.

Sambil memikirkan hal-hal tidak penting seperti itu, jam istirahat siang usai, dan pelajaran jam kelima pun selesai.

***

Lalu, tepat sebelum jam pelajaran keenam dimulai——

"Oh iya, Himuro-kun."

"Hm?"

"Sini sebentar."

Saotome melambaikan tangannya menyuruhku mendekat.

Memberi gestur agar aku memajukan telinga ke dekat mulutnya.

"Ada apa?"

"Aku, sekarang ini lagi nggak pakai celana dalam, lho."

……Ha?

Dan tambahkan kalimat susulan untukku yang masih kebingungan.

"Ngomong-ngomong, aku juga lagi nggak pakai bra."

……Ehm.

Saat aku masih terpaku membeku, Saotome sudah menjauhkan wajahnya dariku.

Lalu dia tersenyum kecil geli sambil mencubit ujung roknya.

"Jadi…… mohon kerja samanya ya."

Katanya dengan wajah yang memerah malu.

"Lukis aku yang manis, ya."

C, cewek ini……!

Alasan kenapa mood-nya bagus sejak pagi ternyata karena hal ini rupanya!!

Objek lukisan utamanya memang manusia, tapi latar belakang pemandangannya juga harus ikut digambar sebagai satu kesatuan.

Oleh karena itu, kami harus memutuskan terlebih dahulu “di mana kami akan menggambar”……

"Eh? Emangnya nggak apa-apa di tempat sepi kayak gini?"

"Kalau sampai ketahuan kan gawat."

Tempat yang kupilih adalah sudut sepi di balik gedung sekolah.

Ada satu pohon besar tumbuh di belakang kami.

Menurutku ini pilihan yang bagus karena latar belakangnya cukup digambar satu pohon saja, jadi tidak ribet.

Dan alasan kedua adalah demi menghindari risiko orang-orang tahu kalau sang gadis suci sedang no-panties, no-bra.

"Bisa gawat kalau aku nanti dikira ikut-ikutan jadi pervert."

Kalau Saotome melakukannya sendirian, cap pervert itu cuma melekat pada dirinya seorang.

Tapi…… sekarang posisiku sedang dikabarkan punya hubungan spesial dengan Saotome.

Bagaimana jadinya kalau seandainya ketahuan Saotome sedang tanpa celana dalam dan bra dalam kondisi seperti ini?

Sudah pasti orang-orang bakal berasumsi aku yang menyuruhnya melakukan permainan aneh itu.

Atau lebih parahnya lagi, dikira aku yang memaksa.

Reputasi sosialku di masyarakat bisa hancur lebur.

Hal semacam itu harus dihindari dengan segala cara.

"Begitu ya…… Yah, buatku sendiri berduaan begini malah jauh lebih praktis sih, jadi nggak masalah."

"Sudahlah, cepat duduk di sana."

"Iya, iya."

Saotome duduk di atas bangku taman.

Kedua kakinya dirapatkan dengan sempurna, dan kedua tangannya diletakkan di atas lutut.

Postur duduknya tetap terlihat sangat anggun seperti biasa.

Pantas saja dia bisa melakukannya secara alami, dasar anak orang kaya.

Baru saja aku memuji dalam hati……

"Cuma duduk diam doang kan bosan, ya kan?"

"Ha?"

"Bukankah lebih bagus kalau ada pose atau gerakan dinamisnya? Kamu bebas kok kasih instruksi."

……Memang benar sih, kalau ada kesan bergerak hidup sedikit mungkin nilai lukisannya jadi lebih bagus.

Tapi aku tidak butuh itu.

Aku tidak mengharapkan hal semacam itu.

"Begitu saja sudah cukup. Kelihatan anggun dan mirip gadis suci."

"Justru karena itu, rasanya lebih baik kalau penampilannya sedikit dibuat santai, kan?"

Selesai berkata begitu, Saotome bergerak atas kemauannya sendiri.

Salah satu lututnya ditekuk ke atas, lalu dipeluk dengan kedua tangan.

Kemudian kaki sebelahnya diluruskan ke depan.

Roknya pun tersingkap naik secara alami.

"H, hei!"

"Tenang saja, nggak kelihatan kok."

Memang benar sih, bagian dalamnya belum kelihatan.

……Tapi posisinya sudah sangat berisiko.

"Kalau Himuro-kun mau, mau kugayakan dengan pose yang lebih menantang lagi?"

"Sudah diam saja di situ."

"Atau roknya kulipat jadi lebih pendek lagi……"

"Nggak usah aneh-aneh."

Namun, Saotome tidak mendengarkan peringatanku, tangannya malah meraba bagian dadanya.

J, jangan-jangan……

"H, hei……"

"Akhir-akhir ini cuacanya panas banget, ya."

Sambil meracau begitu, Saotome membuka kancing blusnya satu persatu.

Belahan dadanya sekilas mengintip keluar.

Tentu saja, pakaian dalamnya tidak kelihatan.

"Aku bakal melukismu dalam kondisi kancing tertutup, lho."

"Tega banget mengabaikan sang model."

Ucap Saotome sambil tertawa kecil.

Untungnya, setelah itu Saotome tidak melakukan aksi nekat di luar dugaan lagi.

Yah, ini kan jam pelajaran sekolah.

Lebih baik aku menyelesaikannya dengan cepat, lalu aku mulai menggoreskan pensilku ke atas kertas.

Wajah, dada, bagian tengah badan, lalu kaki.

Sambil mengamati Saotome lekat-lekat, aku mulai membuat garis besar bentuk tubuhnya…… tapi cewek ini benar-benar punya proporsi tubuh model profesional, ya.

Kakinya panjang banget.

Meskipun ramping, kurusnya tidak berlebihan.

Paha putihnya terisi dengan daging yang sehat dan berisi.

Sangat menggoda (eroi).

Atau lebih tepatnya, bagian tersembunyi di balik sana justru malah bikin aku semakin penasaran.

"Ditatap setajam dan segairah itu bikin aku malu, tahu."

"Nggak usah komentar!"

Aku mengalihkan pandanganku dari bagian bawah tubuhnya ke arah atas.

Pemandangan yang langsung menyambut retinaku adalah belahan dada putih milik Saotome.

Ukurannya memang besar.

Mungkin karena efek suhu udara, kulitnya tampak sedikit berkeringat, dan aku bisa melihat butiran keringat menetes turun melewatinya.

Blusnya juga tampak sedikit tembus pandang.

Kalau aku mempertajam pandangannya, mungkin aku bisa melihat kulit putih mulus beserta puncak dadanya…… mungkin.

Pikiran semacam itu sukses membuatku salah tingkah sendiri.

"Eh, Himuro-kun. Kok pensilnya berhenti bergerak? Kamu menatapku dengan tatapan seolah bernafsu begitu. Kenapa? Terpesona sama pesonaku, ya?"

"Diamlah."

Aku kembali menggerakkan pensil.

Berusaha fokus melukis…… tapi syarat utamanya adalah aku harus menatap tajam ke arah Saotome.

Dan begitu aku menatap tajam ke arah Saotome, bagian dalam roknya atau blusnya yang basah oleh keringat malah jadi mengalihkan konsentrasiku.

"Punya daya tarik emang berat, ya."

Sebaliknya, Saotome malah kelihatan senang luar biasa.

Menyebalkan sekali……

Kucoba balas menyerang sedikit.

"Emangnya seru ya jadi objek model telanjang begitu?"

Mendengar ucapanku, tubuh Saotome langsung menegang kaku.

Oho, bagus.

Pertahankan posisiku dan jangan bergerak.

"M, maksudmu apa……?"

Dia masih berniat pura-pura tidak tahu, rupanya.

Padahal buku tipis bertema itu kan aku sendiri yang meminjamkannya kepadanya.

Apa dia pikir aku tidak bakal tahu?

"Ternyata kamu gampang sekali terpengaruh, ya."

Tidak ada rahasia apa pun.

Di dalam buku tipis yang kupinjamkan ke Saotome tempo hari, ada cerita dengan tema "gadis sekolah yang dipaksa menjadi model telanjang".

Sepertinya cerita itu cocok sekali dengan fetisenya.

Dia pasti berkhayal ingin mencoba hal serupa di dunia nyata.

"T, tidak…… a, aku tidak terpengaruh kok!? L, lagi pula aku kan nggak telanjang……"

"Jangan bergerak. Jangan ditutupi. Jangan rapatkan kakinya."

"K, kalimat itu……!"

Wajah Saotome merona merah padam.

Namun, dia tidak bisa membantah lagi, dan tubuhnya pun membeku tidak berani bergerak.

Hanya suara goresan pensilku saja yang bergeming.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu.

Aku mengecek jam tangan di pergelangan tanganku.

Sisa waktu pelajaran tinggal sepuluh menit lagi.

Memperhitungkan waktu berjalan kembali ke kelas, sepertinya sudah saatnya kami harus bergegas balik.

"Saotome, ayo kembali."

"……"

"Woy."

Meskipun aku memanggilnya, Saotome sama sekali tidak bergeming.

Dia membeku dalam lamunan kosong.

Atau lebih tepatnya, sepertinya dia sedang asyik melamunkan sesuatu.

"Hei, kamu nggak apa-apa?"

Aku menepuk pundak Saotome pelan.

Seketika itu juga, Saotome tersentak kaget dengan bahu bergetar hebat.

"A, apa?!"

"Kubilang kepadamu waktunya kembali…… tadi."

"Ah, begitu…… M, maaf ya."

Saotome membuang muka dengan canggung, lalu berdiri dari duduknya.

Lalu merapikan bagian belakang roknya.

"Beresin dadamu sana."

"Eh? Ah…… um. Aku tahu."

Mendengar teguranku, Saotome buru-buru menutup kembali kancing blusnya dengan panik.

Dia sampai lupa, ya……

"Tadi itu sebenarnya lagi mikirin apa?"

"Nggak, nggak ada apa-apa kok? Emangnya aku kelihatan mikirin apa?"

Saotome membuang muka dengan wajah memerah.

Yah, aku bisa menebak isi kepalanya.

Dia pasti sedang berkhayal memadukan isi cerita buku tipis yang kupinjamkan dengan situasi nyata yang kami alami barusan.

"Boleh aku lihat hasil lukisannya?"

"Boleh aja."

Kutunjukkan lukisan setengah jadi itu kepada Saotome.

Dia menatapnya sesaat lalu bergumam kagum.

"Bagus juga ya. ……Bahkan lebih bagus dariku."

"Terima kasih."

Setelah itu Saotome meletakkan jarinya di dagu dan mulai merenung serius.

……Sebaiknya kuklarifikasi sekarang saja, deh.

"Aku tidak sedang membuka lowongan model telanjang, lho."

"H, hah?! M, maksudmu apa?!"

Saotome mengeluarkan suara panik.

"M, mana mungkin aku minta hal kayak gitu! Kalaupun diminta, aku pasti nolak."

"Nggak bakal kuminta kok, tenang saja."

Kalau aku sampai memintanya, aku merasa aku harus bisa menggambar sketsa dengan tingkat keahlian luar biasa tinggi sebagai gantinya agar dimaafkan.

Dan kemampuan menggambarku tidak sehebat itu.

……Ah, benar juga.

"Sebelum pulang, pakai pakaian dalammu sana. Nanti kamu bisa masuk angin lagi lho."

"T, tanpa kau suruh pun…… aku tahu."

Saotome berkata begitu sambil merapatkan roknya erat-erat.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment