Chapter
6
Kencan Bersama Sang Gadis Suci
Awal bulan Juli.
Aku pergi ke sebuah restoran keluarga
(family restaurant) di dekat rumah.
Tujuannya adalah untuk belajar menghadapi
ujian akhir semester (kimasu shiken).
Sebenarnya bisa saja belajar di rumah,
tapi rasanya belajar di luar bisa jauh lebih fokus…… sepertinya.
"……Keputusan yang salah, ya."
Dan aku menyesalinya baru lima menit
setelah keluar rumah.
Seharusnya aku tidak keluar rumah di cuaca
sepanas ini……
Sambil bercucuran keringat, aku akhirnya
berhasil tiba di restoran keluarga.
Saat aku mencari meja yang kosong—
"Eh, itu kan Saotome."
"Ah…… Himuro-kun."
Ada Saotome di sana.
Dia sedang membentangkan buku referensi di
atas meja.
Sepertinya dia juga sedang belajar.
"……Mau duduk?"
Saotome sedikit menggeser buku
referensinya, lalu menciptakan ruang kosong di meja.
Kalau tujuannya untuk belajar, bukankah
akan lebih fokus kalau kami tidak bersama?
Namun, tingkat jiwa sosialku tidaklah
sedemikian rendahnya sampai-sampai menolak hanya karena alasan itu.
"Kalau begitu, aku izin
bergabung."
Aku
duduk di hadapan Saotome, lalu meraih panel sentuh (touch screen).
Pertama-tama, aku memilih menu bar minuman
(drink bar).
Lalu sisanya……
"Kentang goreng. Mau pesan juga, apa kamu
mau makan?"
"……Nggak usah. Lagi belajar,
nih."
Saotome menunjukkan sedikit keraguan
sebelum akhirnya menggelengkan kepala.
Kalau Saotome tidak mau makan, sepertinya memesan
ukuran kecil saja sudah cukup, ya.
Selesai memesan dan membawa minuman seadanya,
aku pun mulai belajar.
"……"
"……"
Tidak ada obrolan di antara kami berdua.
……Sesekali aku bisa merasakan tatapan Saotome
yang seolah ingin mengajak bicara, tapi kutahan.
Kami baru saja tiba di restoran keluarga.
Mungkin Saotome sudah belajar cukup lama dan
mulai bosan, sementara aku sendiri hampir belum mulai belajar sama sekali.
Lalu, sekitar lima belas menit kemudian.
Kentang goreng pesananku tiba di meja.
Aku terus belajar sambil mencolek kentang
goreng.
Kira-kira lima menit setelah mulai makan.
Aku sedikit mendongakkan pandanganku dari buku
referensi ke atas.
Tatapan kami berpapasan.
"……"
"……"
Dia mengalihkan pandangannya dengan canggung.
Namun, sesaat kemudian tatapannya kembali
terarah…… bukan padaku, melainkan pada kentang goreng.
Ekspresinya kelihatan sangat menginginkannya.
Beberapa kali dia membuka mulutnya hendak
bicara, tapi langsung menutupnya rapat-rapat untuk menahan diri.
Mengingat dia sempat bilang "tidak
mau", rasanya gengsi kalau harus minta sekarang.
Sifat gengsiannya yang aneh itu masih belum
berubah rupanya.
"Mau makan?"
"T, tidak kok? ……Nggak mau makan,
kok?"
Saat aku sengaja menawarinya, dia malah
memasang sikap sok gengsi yang misterius.
Padahal jujur saja bilang kalau mau makan
kan gampang……
"Begitu ya. Ya sudah kalau
begitu."
"……Tapi, kalau Himuro-kun tidak
sanggup menghabiskannya, aku bisa bantu makanin lho?"
“Peka dong.”
Ekspresinya seolah berkata begitu.
Sebenarnya aku tinggal pesan tambahan lagi
sih, jadi memberikan separuh porsinya pada Saotome bukan masalah besar.
Namun, karena rasanya seru, aku sengaja ingin
menjahilinya sedikit lagi.
"Enggak, kalau porsi segini mah bakal
kuhabiskan sendiri."
"……"
Dia melototiku.
Ekspresinya seperti berkata, 'Jangan jahat
begitu, dong'.
Memang sih, jajahanku barusan agak
keterlaluan.
"Kalau mau makan, ambil aja."
"B, bukan berarti aku ingin makan,
lho……"
"Kalau nggak mau, kuhabiskan sendiri
semuanya nih."
Ucapku sambil menatap lurus ke arah Saotome.
Seketika
Saotome membuang muka dengan canggung.
Lalu
mengangguk pelan dengan wajah yang merona tipis.
"……Mau makan."
Lalu dengan ekspresi merengut (cemberut),
dia mengulurkan tangan mengambil kentang goreng.
Memasukkan satu batang ke dalam mulutnya.
"……"
Lalu batang kedua, batang ketiga, terus
dia lahap tanpa henti.
Sepertinya dia sudah tidak bisa berhenti
lagi.
……Kalau begini caranya, jatahku malah
bakal habis.
Sebenarnya aku bisa pesan kentang goreng
lagi, tapi mumpung lagi di sini, bagaimana kalau pesan menu lain saja?
"Aku mau pesan pizza. Mau makan
juga?"
"……Kalau Himuro-kun yang pesan,
sih."
"Popcorn shrimp?"
"……Kalau sedikit aja, sih."
Saotome mengangguk sambil menutupi
wajahnya menggunakan buku referensi.
Dia kelihatan jauh lebih malu dibandingkan
saat tidak pakai celana dalam.
……Standar
moral macam apa yang dia anut sebenarnya, cewek ini.
Sambil
memiringkan kepala karena bingung, aku membuat pesanan tambahan lalu kembali
fokus belajar.
"……Hei, Himuro-kun."
Lalu, Saotome tiba-tiba mengajakku ngobrol.
Seharusnya aku fokus belajar.
Tapi mengabaikan Saotome begitu saja juga
terasa tidak enak.
……Sambil merangkai alasan pembenaran di dalam
hati, aku mengarahkan pandanganku ke arah Saotome.
"Apaan?"
"Menurutmu hari ini warna apa?"
Saotome berkata begitu dengan rona tipis di
pipinya.
Disertai dengan ekspresi yang tampak
sedikit puas.
……Rupanya, hal inilah yang sedari tadi
ingin dia bicarakan.
Ini adalah pertama kalinya dia menanyakannya
secara terang-terangan bertatap muka begini.
Tapi, warna hari ini, ya……
Aku mengalihkan fokus pikiranku dari soal
latihan di buku referensi ke dalam isi rok Saotome.
Meskipun aku tidak pernah menghitungnya secara
pasti, warna yang paling sering muncul di dalam rok Saotome adalah hitam.
Sepertinya dia paling suka pakaian dalam
bertema warna hitam.
Disusul dengan warna putih.
Lalu diikuti oleh biru dan merah.
Warna merah muda (pink) ternyata jarang sekali
muncul.
Sesekali saja ada warna lain seperti kuning
atau hijau.
Kemungkinan “tidak pakai sama sekali” bisa
kita abaikan untuk hari ini.
Mengingat dia sendiri yang melempar pertanyaan
“Menurutmu warna apa?”, pastinya kali ini dia memakainya.
Oleh karena itu, kemungkinan terbesar jatuh
pada warna hitam.
Namun, kalau kita memperhitungkan kondisi
lain, jawabannya bisa berubah.
Contohnya, setiap kali ada jadwal pelajaran
olahraga, warna putih jauh lebih mendominasi.
Mungkin karena kalau pakai warna hitam,
camisole atau bra miliknya bakal terlalu tembus pandang dan bikin dia malu.
Warna
putih memang tembus pandang juga sih…… tapi tidak separah warna hitam.
Selain itu, Saotome juga suka mengganti
warna pakaian dalamnya tergantung mood-nya hari itu.
Dan hari ini……
"Bukannya merah, ya?"
"……Kenapa kamu nebak begitu?"
"Biar lebih bersemangat."
Kurasa di hari-hari di mana dia harus
mengerahkan semangat ekstra seperti hari ujian, dia sering pakai warna merah.
Tentu saja, ada pengecualian juga sih.
"Heeh, begitu ya."
"Tebakanku bener?"
Saat kutanya, Saotome memberi isyarat tangan
menyuruhku mendekat.
……Kurasa tidak ada orang lain di sekitar
sini yang lagi pasang telinga nguping, sih.
Aku memajukan tubuhku dan mendekatkan
telingaku ke dekat Saotome.
"Biru."
Hembusan napas Saotome menggelitik telingaku.
Lalu Saotome menyunggingkan senyum menyeringai
penuh kemenangan.
"Sayang sekali, salah."
"……Begitu ya."
Nyebelin juga, ya.
"Biar aku bisa lebih fokus, aku kepingin
pakai warna yang kesannya lebih tenang."
……Emangnya warna pakaian dalam bisa memengaruhi
tingkat ketenangan pikiran, ya?
Aku tanpa sadar memiringkan kepalaku.
"Tapi, semangat juga penting kok.
Unsur itu juga tetap ada di dalamnya."
"……Unsur?"
"Yah, bisa dibilang gitu, ya.
……Semacam pakaian dalam untuk laga penentu."
Entah kenapa Saotome berkata begitu dengan
gaya sok tahu.
"Hoh."
Memangnya ada pengaruhnya buat buku
referensi?
Emangnya bisa bikin tambah semangat?
"Kira-kira model desainnya seperti apa,
ya?"
"E, eh……"
Meskipun ditanya soal desain……
Mana mungkin aku paham soal desain lingerie
wanita.
Lagian, kulihat semuanya juga mirip-mirip
saja.
"Cawat
(fundoshi)? ……Eh, bercanda kok."
Melihat
tatapan mata Saotome berubah dingin, aku buru-buru meralat ucapannya.
Meskipun
begitu, selain cawat, aku tidak bisa membayangkan pakaian dalam jenis apa lagi
yang bisa membangkitkan semangat.
"……Bisa
dibilang tebakanmu tidak sepenuhnya tepat, tapi juga tidak meleset jauh."
"Ha?"
Jangan-jangan, dia benar-benar pakai
cawat!?
Saat aku dilanda kebingungan, Saotome
kembali memberi isyarat tangan.
Begitu aku mencondongkan badan ke depan—
"T-String."
Bisik Saotome pelan.
Begitu ya.
Bisa dibilang hampir mendekati…… atau
tidak, ya?
"Di hari ujian nanti, aku berencana
pakai warna merah dengan model yang sama."
Pakaian dalam taruhan jenis T-string warna
merah, ya.
……Kalau dibayangkan, jantungku jadi agak
berdebar.
"Ngomong-ngomong, ganti topik yuk,
Himuro-kun."
"A, ada apa?"
"Selepas ujian akhir nanti, mau nggak
berkencan denganku?"
"K-Kencan!?"
Suaraku tanpa sadar melengking naik.
Diajak berkencan tepat setelah topik
pembahasan soal pakaian dalam taruhan sukses membuat ekspektasiku melambung
tinggi.
Meskipun, kalau dipikir pakai logika sehat,
aku tahu persis Saotome tidak punya perasaan seperti itu padaku.
"Maksudmu nemenin kamu belanja?"
"Kurang lebih begitu sih."
Artinya aku cuma dijadikan pesuruh pembawa tas
belanjaan, ya.
Aku sih tidak keberatan.
Baru saja aku mau menjawab begitu—
"Lagi pula, yah, aku juga kepingin
jalan-jalan bersenang-senang sebentar…… Bolehkan?"
Tanyanya sambil menatapku dari bawah
(mendongak sedikit).
Detak jantungku berdegup kencang.
"……Tentu saja, boleh kok."
"Baguslah kalau gitu. Kalau begitu, di
hari libur pasca ujian selesai ya. Mohon kerjasamanya."
Saotome tersenyum manis dengan ceria.
◆ ◇ ◆
Namaku adalah Sayaka Saotome.
Aku adalah seorang gadis cantik, siswi tahun
pertama SMA.
Seberapa cantiknya diriku? Kalau dinilai,
akulah gadis tercantik nomor dua di seluruh Jepang.
Ngomong-ngomong, wanita tercantik nomor satu
di Jepang adalah kakak tiri perempuanku.
Seira Saotome.
Kakak perempuan kesayanganku yang cantik,
berhati lembut, dan suci tanpa noda……
Namun, akhir-akhir ini Kakak menunjukkan
gelagat yang aneh.
"Selamat datang kembali, Kakak.
……Pulangnya telat banget, ya."
"……Iya."
Belakangan ini dia sering pulang
terlambat.
Aku dan Kakak bersekolah di tempat yang
sama.
Tingkat kelas Kakak satu tingkat di
atasku——ia duduk di kelas dua SMA, tapi harusnya jam kepulangan sekolah kami
tidak terpaut terlalu jauh.
"……Apakah Kakak pergi main ke suatu
tempat dengan teman?"
"Yah…… kurang lebih begitu."
Kakak sedikit membuang muka.
Ekspresinya kelihatan canggung.
Ditambah lagi wajahnya sedikit memerah.
……Mencurigakan.
"Pacar, ya?"
"Eh?"
Aku sengaja menebaknya iseng.
Tentu saja itu cuma candaan, tapi……
"B, bukan kok!"
Kakak mendadak menaikkan nada suaranya untuk
menyangkal dengan panik.
Kakak yang biasanya selalu tampil cool dan
tenang itu……
"O, orang menyebalkan kayak gi— Maksudku,
nggak ada apa-apa kok."
Orang menyebalkan……Pervert!?
Kakak yang nyaris keceplosan mengucapkan
kalimat mencurigakan itu mendadak kembali memasang ekspresi tenangnya seperti
biasa.
"Bukannya punya pacar, kok. ……Cuma teman.
Jangan bilang-bilang ke Kakek ya, nanti dia berisik
cerewet."
"……I, iya, tentu saja."
Begitu aku mengangguk, Kakak melangkah
pergi dengan terburu-buru.
……Perasaanku jadi tidak enak.
***
Beberapa waktu kemudian, di hari libur.
"~♪"
Kakak hari ini kelihatan mood-nya bagus
banget.
Biasanya setiap pagi dia selalu bangun
dengan ekspresi suram, tapi khusus hari ini dia bahkan bersenandung kecil.
Bahkan dia menyisir rambutnya lebih teliti
dari biasanya.
Dia juga memoleskan makeup di wajahnya yang
biasanya polos tanpa riasan.
……Sampai titik ini, masih wajar.
Bisa kutebak mungkin dia mau pergi bermain
dengan temannya.
Tapi yang bikin aku penasaran adalah
pakaiannya.
Atasan see-through transparan dipadukan dengan
rok mini ketat berwarna hitam.
Terlalu terbuka, ya.
Model pakaian yang lebih memikirkan tatapan
lawan jenis ketimbang sesama jenis.
Biasanya dia tidak pernah pakai baju seperti
itu.
Bahkan aku kaget tahu dia punya baju semacam
itu di lemari.
"Apa ini terlalu berani, ya? Tapi, kalau
cuma segini sih……"
Kakak bergumam sendiri di depan cermin.
Sudah lebih dari sepuluh menit dia sibuk
memeriksa penampilannya dengan teliti.
Padahal biasanya dia asal-asalan kalau pakai
baju……
Jangan-jangan, dia mau nemuin cowoknya?
Pasti benar begitu.
Mana mungkin dia mau repot-repot berpenampilan
modis dan pusing memilih baju kalau cuma mau ketemu teman cewek.
Artinya, Kakak yang biasanya kelihatan tidak
tertarik sama sekali pada kaum adam akhirnya kedatangan musim semi dalam
hidupnya juga, ya.
Jujur saja, perasaanku rumit.
Di satu sisi ada rasa tidak rela menyerahkan
Kakak tercinta ke tangan cowok entah berantah.
Tapi di sisi lain, Kakak kelihatan sangat
bahagia sekarang.
Wajahnya memerah…… benar-benar rupa seorang
gadis yang sedang mabuk kepayang dilanda cinta.
……Sebagai seorang adik, sudah sepatutnya aku
mendukung kisah cinta dan kebahagiaan Kakak.
Aku menekan perasaan cemburu di dalam dada,
lalu mengirimkan sorakan semangat untuk Kakak di dalam hati.Berjuanglah!!
"……Yosh."
Tepat di saat aku menyemangatinya, Kakak
mengepalkan tangan kecilnya penuh tekad.
Sepertinya
dia sudah puas dengan dandanannya.
Lalu,
sebagai sentuhan akhir seolah menegaskan persiapannya, Kakak memasukkan
tangannya ke dalam roknya.
Dan
menarik keluar sebuah pakaian dalam renda hitam berdesain seksi yang tidak
wajar dari dalam roknya, lalu memasukkannya ke dalam tas.
……Eh?
Eh!?
Ehhhhh!?!?!?!?
Otakku
mendadak freezing.
Kakak berjalan melewatiku sambil
bersenandung riang.
Lalu pergi keluar rumah.
Tanpa memakai pakaian dalam sehelai pun di
baliknya.
"Eh? K, kenapa…… k, kok bisa
begitu!?"
Aku tidak bisa memahami alasan kenapa dia
nekat tidak pakai pakaian dalam.
Karena panas?
Mana mungkin.
Lagi pula, pakaian dalam transparan dan tipis
berenda yang minim kain begitu, dipakai atau tidak dipakai sama sekali tidak
ada pengaruhnya terhadap pengaturan suhu tubuh.
Jangan-jangan, itu hobi Kakak?
Fetis eksibisionis!?
Enggak, tidak mungkin!
Lagian, mana mungkin Kakak yang suci dan manis
itu punya kelainan fetis separah itu!!
Kalau begitu milik siapa…… jangan-jangan!?
Selera pacarnya!?
Dia tadi bilang pervert (orang mesum)……
Tapi, mana mungkin Kakak mau menuruti
perkataan si cowok kalau pacarnya itu seorang pervert.
Dengan kata lain, jangan-jangan……
"Jangan-jangan Kakak diancam!?"
Kelemahannya sedang dipegang!?
Lalu dia dididik dan dilatih begitu!?
Kayak di buku-buku dewasa!?
M, mana mungkin……
Mempermainkan Kakakku yang cantik, suci, dan
manis sesuka hati mereka, bikin iri…… Eh, bukan!!
Aku tidak bisa memaafkannya!!
◇ ◇ ◇
Akhir pekan, tepat setelah ujian akhir
semester berakhir.
Aku sudah janjian bertemu dengan Saotome di
area bunderan depan stasiun.
Tidak lama setelah jam janjian lewat, sebuah
mobil berhenti di area bunderan.
Lalu dari dalam mobil muncullah seorang
gadis berambut perak.
"Maaf ya, aku sedikit terlambat."
Saotome
yang muncul mengenakan atasan see-through putih dipadukan dengan rok mini
hitam.
Di
balik atasannya dia mengenakan camisole hitam, yang semakin menonjolkan kulit
putih mulus di bagian bahu dan lengan atasnya.
Kaki jenjangnya yang terekspos dari rok
mini dipadukan dengan sandal hak tinggi berwarna krem.
Penampilannya tampak modis ala musim panas……
Namun, pakaiannya sangat terbuka.
Dia tidak akan bisa memakainya kalau tidak
punya rasa percaya diri tinggi pada kulitnya.
"……Enggak kok, aku juga baru saja
sampai."
Aku menjawab sambil membuang muka.
Visualnya terlalu memicu rangsangan sampai
susah ditatap secara langsung.
"Kira-kira nggak ada komentar gitu
buat aku?"
"Cocok kok. Kamu kelihatan lebih
cantik dari biasanya."
"Heeh, biasa banget."
Mendengar pujian jujurku, Saotome
mendengus pelan.
Namun, bertolak belakang dengan ucapannya,
sudut bibirnya sedikit melengkung tersenyum, dan dia tampak malu-malu sambil
mempermainkan ujung rambutnya.
Sepertinya
dia sedang malu-malu kucing.
"Ngomong-ngomong,
Himuro-kun."
"Apaan?"
"Menurutmu hari ini aku pakai warna
apa……?"
Saotome bertanya kepadaku sambil sedikit
mencubit rok mininya.
Hmm.
"……Bukan warna hitam, ya?"
Pertama-tama, sebagai asumsi dasarnya, kurasa
dia tidak mungkin tidak pakai apa-apa.
Alasannya karena rok Saotome hari ini lumayan
pendek.
Biasanya kalau Saotome sedang tidak pakai
apa-apa, dia pasti sengaja membuat roknya lebih panjang.
Meskipun perbedaannya tipis, dia akan
membuatnya sedikit lebih panjang untuk memperketat pertahanannya.
Jadi hari ini dia pasti memakainya.
Dan lagi, Saotome hari ini mengenakan camisole
hitam.
Meskipun warna camisole tidak selalu harus
disamakan dengan bra atau celana dalamnya, tapi biasanya dia lebih sering
mencocokkannya.
Terlebih lagi, Saotome sangat menyukai warna
hitam.
Mengingat hari ini kami sedang berkencan,
wajar saja kalau dia memilih warna hitam.
Sisanya, yah…… selera pribadiku saja, sih.
"Setengah benar."
"……Setengah?"
"Kalau yang ini, memang benar
hitam."
Saotome menunjuk ke arah atasannya——lebih
tepatnya camisole yang ada di balik atasannya.
Tanpa sadar tatapanku mengarah ke camisole
itu dan belahan dada putihnya yang sedikit mengintip.
Aku buru-buru mengalihkan pandangan.
Mengingat dia memakai atasan see-through,
sudah jelas camisole-nya berwarna hitam tanpa perlu ditebak pun kelihatan.
Oleh karena itu, yang ditunjuk oleh
Saotome pasti bukanlah camisole-nya, melainkan bra di dalamnya.
……Begitu
ya, bagian atasnya warna hitam, ya.
Lalu,
bagaimana dengan bawahnya?
Mana
mungkin warnanya tidak senada?
Bukankah biasanya satu set atas-bawah?
Yah, aku sendiri tidak pernah memikirkan
urusan kombinasi warna, sih.
"Kalau yang bagian sini, tadi warnanya
masih hitam."
Rupanya tebakanku meleset.
"……Aku pengen coba pakai gaya pakaian
kasual kayak gini sekali-kali."
Ucap Saotome sambil sedikit menggeliat gelisah
dengan kakinya.
"Di lingkungan sekolah kan
aman."
"B, beneran aman kah……?"
Emangnya lingkungan sekolah itu aman?
Yah, setidaknya tidak ada orang asing atau
chikan (penculikan/pelecehan) jadi harusnya aman, ya.
"Lindungi aku ya……?"
Saotome mengedipkan sebelah matanya sambil
berkata begitu.
"Soal itu serahkan padaku."
Ucapku sambil mengulurkan tangan ke arah
Saotome.
Saotome membelalakkan matanya karena terkejut,
lalu tersenyum malu-malu.
"……Kalau begitu, tolong eskort(jaga/dukung)t
aku ya."
"Tentu saja."
Sambil menggenggam jemarinya yang lembut,
aku mengangguk.
◇ ◇ ◇
"Terus, tujuan pertamanya kita mau ke
mana nih?"
Tanyaku kepada Saotome.
Tujuan utama kencan kami hari ini harusnya
belanja, tapi……
"Eh? Rencana kencan itu kan tugas cowok
yang mikirin, kan?"
……Cewek ini.
Kalau dari awal maunya begitu, bilang dong
dari tadi.
"Cuma bercanda kok. Jangan pasang muka
jutek begitu."
Saotome tertawa lalu menunjuk ke arah pusat
perbelanjaan (mall) di depan stasiun.
"Aku mau beli baju. Temani aku, ya."
"Paham."
Kami langsung melangkah masuk ke dalam
mal.
Udara di dalam terasa sejuk karena AC.
"Jadi, apa yang mau dibeli?"
"Pertama-tama kita lihat dari lantai atas
dulu."
"……Dari atas?"
Maksudnya model pakaiannya?
Sambil berpikir begitu, dia menunjuk ke arah
langit-langit mal saat Saotome menunjuk ke atas.
"Dari atas."
……Maksudnya dari lantai paling atas, ya.
Mal ini punya enam lantai sampai dua lantai
basemen.
Yah, nggak masalah sih.
***
"Selanjutnya kita mampir ke toko ini
yuk."
Saotome melangkah masuk ke toko kelima yang
kami kunjungi hari ini.
Sejauh ini, jumlah baju yang sudah dibeli
masih nol.
Memang sih lebih baik daripada disuruh
menenteng banyak kantong belanjaan, tapi kalau akhirnya tidak membeli satu pun,
rasanya jadi bertanya-tanya apa arti waktu yang sudah kami habiskan selama ini.
……Tentu saja, tidak kukatakan secara langsung.
"Kalau yang ini, menurutmu gimana?"
Saotome mengangkat sehelai baju terusan
(one-piece) bermotif bunga sambil bertanya.
"Bukannya lumayan bagus?"
"Jawabannya sama persis kayak tadi."
Aku tidak punya selera bagus soal fesyen
wanita.
Jangankan selera, dasarnya saja Saotome itu
sudah cantik, jadi pakai baju apa pun pasti kelihatan cocok di badannya.
Makanya jawabanku selalu klise begitu terus.
"Aku mau dengar pendapat jujur dari lubuk
hatimu."
"Aku sama sekali nggak punya fashion
sense. Pengetahuan tentang itu juga nihil."
"Nggak apa-apa kok. Aku cuma mau
dengar sebagai referensi aja."
Begitu ya.
……Kalau begitu.
"Menurutku agak kelihatan tua kayak
ibu-ibu, sih."
"……Begitu ya. Masuk akal juga
sih."
Saotome sepertinya merasa ada benarnya
juga.
Tanpa mencobanya di kamar pas, dia
langsung mengembalikan baju itu ke rak.
"……Ngomong-ngomong, Himuro-kun, punya
preferensi gaya baju cewek yang kamu suka nggak? Di toko ini."
"Aku nggak punya hobi pakai baju
perempuan, lho."
"Kamu serius ngomong gitu?"
"Jangan melotot, cuma bercanda kok.
……Boleh aku yang pilihkan?"
"Boleh, buat referensi aja."
Selera pakaianku, ya.
Kalau aku salah pilih model yang aneh-aneh,
nanti malah diketawain lagi.
Sebenarnya aku ingin pilihkan baju yang
kelihatannya aman dan cocok, tapi……
"Kalau yang ini, gimana?"
"Heeh."
Baju yang kuambil dari rak adalah sebuah
one-piece putih polos.
Tidak ada motif mencolok apa pun.
Hanya kain putih bersih yang dihiasi renda dan
pita sederhana.
Meskipun isi aslinya agak gimana gitu, dari
segi penampilan dan aura visual, Saotome itu kelihatan suci, jadi model baju
ini pasti bakal cocok banget di badannya.
"Cowok-cowok emang pada suka ya sama
model begini."
Reaksi Saotome terdengar datar.
Mungkin bukan selera utamanya, ya.
"Model baju kayak gini cuma bakal
kelihatan bagus kalau dipakai sama cewek yang beneran cantik. Bukannya aku suka
one-piece putih, tapi aku kagum sama cewek yang bisa membawakan one-piece putih
dengan sempurna."
Ini murni opini umum mewakili kaum adam, lho.
Bukan berarti aku secara pribadi mengagumi
Saotome, lho ya.
Meskipun, diam-diam aku juga kepingin lihat
sih.
"Heeh."
"Yah, pilih aja sesukamu. Masih banyak
toko lain kok."
Kataku sambil berniat mengembalikan gaun itu
ke tempatnya.
Namun, pergelangan tanganku keburu dicekal
oleh Saotome.
"Aku mau coba pakai. Pinjami aku."
"Eh? A, ah…… baiklah."
Saotome merebut one-piece putih itu dari
tanganku lalu ngibrit masuk ke dalam kamar pas.
Suara pakaian yang dilepas terdengar
samar-samar.
Tidak lama kemudian, tirai kamar pas terbuka.
"Gimana?"
"Ooh……"
Tanpa sadar aku mengeluarkan desahan kagum.
Pantas saja, proporsi tubuh dan paras wajahnya
sudah mirip model profesional.
Dia berhasil membawakan one-piece putih itu
dengan sangat sempurna.
……Tapi, rasanya masih ada yang kurang.
"Bisa tunggu sebentar?"
"Hm? Yah, boleh sih."
Seingatku, barang itu dijual di sebelah sana.
Ketemu, ketemu.
Ini dia.
Sambil membawa barang incaran di tangan, aku
bergegas kembali menghampiri Saotome.
"Coba pakai topi ini di kepala."
"Topi jerami? Boleh juga."
Meskipun memasang ekspresi sebal, Saotome
tetap mengenakan topi jerami itu.
Kepingan puzzle yang tadinya kurang kini
sukses terpasang sempurna.
Gadis
cantik + One-piece putih + Topi jerami.
Satu
formula jawaban yang mutlak telah tercipta.
"Kalau
latarnya pemandangan pantai atau kebun bunga matahari, pasti bakal lebih
estetik lagi."
"Bisa dibilang klise banget,
sih."
Gumam Saotome sambil menatap pantulan
dirinya di cermin.
Ekspresinya kelihatan agak rumit.
Rupanya ini memang bukan selera utamanya,
ya.
"Soal warna camisole-nya harus
dipikirkan lagi, nih. Kelihatan tembus pandang begini jadi jelek."
Di balik one-piece putih itu, camisole
hitam milik Saotome memang tampak menerawang samar-samar.
Karena kainnya bukan jenis see-through,
tembus pandangnya tidak separah baju kasual yang tadi dipakainya di awal.
Hanya saja, baju terusan putih pada
dasarnya tidak dirancang dengan asumsi baju dalamnya bakal tembus pandang dan kelihatan
dari luar.
Demi menjaga imej suci, sebaiknya memang
tidak perlu sampai tembus pandang begitu.
Meskipun aslinya Saotome jelas-jelas tidak
suci, sih.
Tapi pembawaannya memang cocok pakai gaya
suci, dan aura visualnya mendukung ke arah sana.
Auranya suci banget.
Meskipun isi aslinya nggak suci.
"Ya sudah, aku mau ganti baju
dulu."
Kata Saotome sambil menutup kembali tirai
kamar pas.
Tidak lama kemudian, Saotome keluar dan sudah
kembali mengenakan pakaian kasual aslinya.
"Nih, tolong pegang."
Saotome dengan santai memasukkan one-piece
putih dan topi jerami itu ke dalam keranjang belanjaan yang kupegang.
"……Jadi dibeli?"
"Iya. ……Kupikir modelnya lumayan
bagus."
Ucap Saotome sambil membuang muka.
"Bukannya aku menyesuaikan dengan
seleramu lho, ya. Jangan salah paham."
Pipi Saotome merona tipis saat mengatakannya.
◇ ◇ ◇
"Mau istirahat sebentar?"
Waktu menunjukkan pukul sebelas siang.
Aku mengajukan usul itu kepada Saotome.
Masih sedikit terlalu awal untuk jam makan
siang, tapi kalau lewat sampai jam dua belas nanti suasananya bakal penuh
sesak.
Waktu paling pas buat masuk restoran ya
sekarang ini.
"Bener juga. ……Ada rekomendasi tempat
makan?"
"Hmm. Kalau kafe estetik gitu,
sepertinya lumayan banyak sih di sekitar sini."
"Kalau gitu, aku serahkan padamu ya. Cari
tempat yang bagus."
"Jangan berharap terlalu tinggi ya."
Kafe estetik bertema mainstream, ya.
Atau, tapi dia kan sebenarnya doyan juga
makanan junk food yang agak berat.
Sambil memikirkan berbagai opsi—
"Spesialisasi omurice? Wah, ada tempat
kayak gitu rupanya."
Restoran yang kupilih adalah restoran khusus
omurice.
Menu ini pasti bakal memuaskan seleranya.
"Gimana menurutmu?"
"Boleh juga."
Untungnya, responsnya positif.
Kami berdua berjalan menuju ke restoran
tersebut.
Untuk mencapai lokasinya, kami harus naik ke
lantai atas menggunakan eskalator terlebih dahulu——
"Himuro-kun."
"Apa?"
"Tolong amankan bagian belakangku,
ya?"
"……Belakang?"
Sebelum aku sempat memiringkan kepala karena
bingung memikirkan maksudnya, Saotome sudah lebih dulu melangkah naik ke atas
eskalator.
Aku mengikutinya, berdiri tepat di
belakangnya.
Lalu seketika itu juga, aku paham maksud
perkataannya.
Roknya, bahaya banget.
Meskipun tidak sampai terlihat pendek kalau
dilihat dari posisi berdiri di belakangnya, kalau aku berniat nekat mengintip,
panjangnya sudah cukup untuk memicu celah untuk diintip.
……Ngomong-ngomong, hari ini dia lagi nggak
pakai celana dalam, ya.
Mengingat kembali fakta yang sempat terlupakan
itu, kepalaku mendadak dipenuhi oleh rasa penasaran akut terhadap isi rok
Saotome.
"Makasih ya."
Begitu turun dari eskalator, Saotome
mengedipkan sebelah matanya ke arahku.
Merasa bersalah karena sempat punya niat
terselubung, aku buru-buru mengalihkan pandangan.
Karena masih tergolong jam pagi, kami bisa
langsung mendapatkan tempat duduk tanpa harus mengantre.
"Aku
pesan yang plain (original) aja deh."
Kalo
gitu aku pilih yang rasa Japanese style (wa-fu) saja.
Satu
porsi omurice original dan satu porsi omurice wa-fu.
Kami memesan dua menu berbeda.
Pesanannya tiba sekitar lima belas menit
kemudian.
Aku memotong bagian omurice wa-fu menggunakan
sendok lalu menyuapnya ke dalam mulut.
Basenya tetap omurice biasa, tapi sesuai
dengan namanya yang berlabel “wa-fu”, ada sentuhan aroma kecap asin (shoyu) dan
kaldu dashi yang samar-samar tercium.
Kupikir rasanya bakal aneh, tapi ternyata
lumayan enak.
"Enak nggak itu?"
"Lumayan."
"Boleh minta cicipi sesuap?"
"Boleh."
Ada piring kecil nggak ya?
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling meja,
tapi tidak menemukan piring kecil apa pun.
Mau tidak mau harus pesan, ya.
Sambil berpikir begitu, saat aku mendongak ke
depan, Saotome sudah membuka mulutnya lebar-lebar sambil mencondongkan tubuhnya
ke depan.
"……"
Berpikir sejenak, aku mengambil sendok baru
dari dalam wadah alat makan.
Memotong bagian sisi yang belum tersentuh,
lalu menyuapkannya ke dalam mulut Saotome.
"Gimana?"
"……Lumayan kok."
Ucap Saotome sambil mengunyah makanannya.
Meskipun jawabannya memuji, ekspresinya
kelihatan agak ketus.
Apa rasanya kurang enak di lidahnya……?
"Aku juga boleh minta cicipi skot
mu?"
"……Boleh. Silakan aja."
Saotome juga mengambil sendok baru dan
memotong bagian omurice-nya sendiri.
Lalu menyodorkan sendok yang berisi suapan
omurice itu tepat ke depan mukaku.
"Eh, kalau ditaruh di piring ini aja
sebenernya……"
"Ayo, buka mulutnya!"
Sendoknya dipaksa mendekat, menempel ke
bibirku.
Mau tak mau aku harus menerima suapan itu dan
mengunyah omuricenya.
"Gimana?"
"……Enak."
"Begitu ya. Bagus deh kalau kamu
suka."
Saotome mendengus pelan sambil
tersenyum.Mood-nya kelihatan sedikit membaik.
"Selesai belanja nanti, kita mau lanjut
ke mana?"
"Hmm, gimana ya……"
Sambil mengobrol santai, kami menghabiskan
porsi omurice.
Tepat saat aku baru makan separuh dan hendak
meneguk air putih—
"Ah."
Klang.
Sendok di tanganku terlepas dan jatuh
membentur lantai.
Aku langsung berjongkok untuk memungut
sendok yang jatuh.
Lalu tanpa sadar, pandanganku mendongak ke
depan.
Di sana, kulihat sepasang kaki putih milik
Saotome berdiri tepat di depanku.
Dari kakinya yang jenjang dan ramping,
pandanganku merayap naik sedikit ke atas menuju rok yang hanya menutupi separuh
pahanya.
Tanpa bisa dicegah, mataku tersedot
mengintip ke dalam balik celah roknya……
"Sendoknya
udah ketemu?"
"A,
ah…… udah kok. Aduh!"
Karena
panik sewaktu mau berdiri, kepalaku malah terbentur pinggiran meja.
"Kamu lagi ngapain sih?"
"……Bener banget, ya."
Bener banget, kelakuanku memang kelewatan.
Niat mau ngintip itu perbuatan yang nggak
terpuji.
◇ ◇ ◇
Selesai makan.
Kami melanjutkan kembali agenda belanja kami.
"Berikutnya aku mau mampir ke toko
itu."
"……Oke."
Tempat yang ditunjuk oleh Saotome adalah
sebuah toko lingerie (pakaian dalam wanita).
Di sana terpajang aneka pakaian dalam
berwarna-warni yang mencolok.
"Mau nemenin aku milih bareng?"
Tanya Saotome sambil menyunggingkan senyum
penuh arti.
Mana mungkin tawaran itu serius, pasti cuma
bercanda.
"Boleh."
"……Eh?"
Reaksiku sukses membuat ekspresi Saotome
membeku seketika.
Pipi putihnya merona tipis.
"B, bukan, maksudku tuh……"
"Cuma bercanda kok."
Begitu kujawab begitu, tulang keringku
langsung ditendang kencang.
Lalu dia mendengus kesal dan berjalan
masuk sendirian ke dalam toko.
Padahal yang dari awal sengaja
mancing-mancing kan dia sendiri……
Tidak lama kemudian, Saotome keluar
menenteng kantong kertas belanjaan di tangannya.
"Nih,
tolong pegangin."
"Siap."
"Jangan
diintip isinya, lho ya?"
"Nggak
bakal kulihat."
"Ngomongnya
gitu. Aslinya kamu penasaran setengah mati, kan?"
"Kalau
nggak dilihat kan sensasi rasa penasarannya jadi tetap terjaga, benar
kan?"
"……Masuk
akal juga, sih."
Responku
sukses membuat Saotome manggut-manggut setuju.
Emangnya
beneran sesimpel itu pola pikirnya……?
Destinasi
berikutnya yang kami singgahi adalah toko perlengkapan baju renang.
Berbeda
dengan toko lingerie sebelumnya, di sini juga dijual pakaian dalam khusus pria.
"Aku mau lihat-lihat ke sebelah sana
sebentar ya."
"Eh? Himuro-kun mau beli juga?"
"Baju renangku yang lama sudah mulai
lapuk, nih."
Ukurannya juga sudah mulai kekecilan, ditambah
warnanya mulai pudar.
Meskipun aku tidak punya standar desain
khusus, tapi memakai baju renang yang kelihatan kuno juga kan nggak enak
dilihat.
"Kalau gitu, nanti ketemu lagi di depan
toko ini pas udah selesai ya."
"Paham."
Aku melangkah pergi menuju ke sudut area
pakaian renang pria.
Mencari model baju renang yang desainnya tidak
terlalu mencolok tapi juga tidak terlalu suram.
Sekalian memborong kacamata renang (goggles),
losion tabir surya, dan topi renang.
Meskipun belanjaanku agak banyak, ternyata
urusanku tetap selesai lebih cepat daripada Saotome.
Selepas menunggu sekitar sepuluh menit, tepat
di saat aku berniat menyusul masuk ke dalam toko untuk mengecek kondisinya,
Saotome muncul dari dalam.
"Maaf lama. ……Boleh tolong bawain
juga?"
"Boleh sih, tapi belanjaannya lumayan
banyak, ya?"
"Aku beli dua set baju renang. Plus satu rash
guard juga."
"Dua
set?"
Baju
renang kan bukan jenis pakaian yang sering dipakai berkali-kali dalam waktu
dekat, rasanya mubazir kalau punya banyak……
"Yang satu model biasa. Biar bisa dipakai
pas jam pelajaran sekolah ataupun liburan rekreasi."
"Terus kalau yang satu lagi?"
"……Modelnya agak sedikit berani."
Model berani, ya.
……Jadi agak penasaran, nih.
Kira-kira kalau diajak ke pantai atau
kolam renang lagi, dia bakal mau nunjukin nggak ya?
"Semua daftar belanjaan kita udah beres
sih…… Tapi kalau langsung pulang sekarang,
rasanya masih terlalu sore, ya."
"Bener juga. ……Mau nongkrong dulu
buat buang waktu?"
"Kalau kamu punya ide tempat, aku
ngikut aja."
Nah, enaknya ke mana ya.
Barang bawaan kami lumayan banyak, jadi aku
malas kalau harus jalan kaki keliling-keliling terus.
Kalau begitu pilihannya……
"Gimana kalau ke tempat karaoke? Lumayan kan bisa buat titip barang bawaan juga."
"Karaoke, ya. Ide bagus."
Kami mencari tempat karaoke berharga
miring di sekitar sana, lalu masuk ke dalam.
Ruangan yang diberikan kepada kami tidak
terlalu besar karena dikhususkan untuk dua orang.
Begitu aku mendudukkan diri di sofa,
Saotome langsung ikut duduk merapat tepat di sebelahku.
Padahal kursinya masih longgar kalau dia
mau duduk di seberang.
"Duluan aja nyanyi."
"Eh, gantiin dong, aku malu."
Saotome langsung gesit mengoperasikan panel
sentuh dan memilih lagu.
Aku ikut mencondongkan badan untuk ikut
mengintip menu pilihan lagunya di layar sentuh.
Lalu tanpa sengaja, pandanganku meluncur turun
ke bawah……
Kaki jenjang putih Saotome tertangkap jelas di
sudut pandang mataku.
"Hei, Himuro-kun."
"A, ada apa?"
"……Kamu merhatiin ke mana aja dari
tadi?"
"……Emangnya ngeliat apa?"
Sambil pura-pura bego, Saotome justru tertawa
geli.
Lalu dengan sengaja dia menyilangkan kakinya.
Mataku langsung otomatis tersedot tak berdaya
menatap ke arah sana.
"Dari tadi seharian penuh matamu
jelalatan terus, ya."
"Mana ada."
"Tapi bukannya tadi di restoran keluarga
kamu sempat nyaris ngintip juga?"
Jleb.
"Aku nggak ngintip."
"Oh ya? Terus…… tadi itu posisinya bukan
berniat ngintip?"
"……Tadi cuma khilaf sesaat aja."
Begitu kujawab jujur, Saotome malah tertawa
terbahak-bahak puas.
Lalu dia mencubit ujung roknya pelan.
"Kalau skor karaokemu bisa ngalahin
skorku, gimana kalau kutunjukin aslinya?"
"……Kamu serius ngajak taruhan
begini?"
"Ada sensasi mendebarkan, serunya kan,
makanya seru? ……Sebagai gantinya, anggap aja ini taruhan imbang."
"Ganti apa?"
"Kalau aku yang menang, kamu harus
menuruti satu permintaanku apa pun itu."
"……Apa pun?"
"Tentu saja dalam batasan normal akal
sehat, ya."
……Standar akal sehat dari cewek yang hobinya
doyan keluyuran tanpa celana dalam, ya.
Aku merenung sejenak sebelum akhirnya
mengangguk setuju.
"Baiklah. ……Tapi ingat, ya, nggak ada
istilah 'batalkan taruhan' di antara kita."
"Tentu saja."
Begitulah akhirnya kami sepakat menggelar duel
adu skor karaoke.
Dan hasil akhirnya, singkat kata, aku kalah
telak.
Sebenarnya perolehan skor kami sempat bersaing
ketat, tapi di tengah-tengah lagu Saotome sengaja melancarkan aksi sabotase
terang-terangan dengan beralasan "Gerah banget" sambil membuka
kancing atas bajunya atau sengaja memamerkan pose menyilangkan kaki dengan gaya
menggoda.
Mana mungkin aku bisa menang kalau lawannya
main curang begini.
……Sialan, mental pure cowokku benar-benar
dipermainkan habis-habisan.
"Nah, sekarang giliranku menagih janji
permintaanku, ya."
Ucap Saotome sambil tersenyum menyeringai
puas.
Aku langsung memasang kuda-kuda siaga,
bersiap mental menghadapi permintaan aneh apa pun yang bakal dia ajukan.
"Panggil aku dengan nama Seira."
"……Eh?"
"Jangan panggil aku Saotome, tapi
panggil aku Seira. ……Nanti aku bakal manggil kamu Haruki-kun."
Permintaan Saotome di luar dugaan banget.
"Yakin cuma mau minta hal sepele kayak
gitu?"
Tanyaku sambil tersenyum kecut, sementara
Saotome mendengus pelan dan membuang muka ke samping.
"……Bukannya sepele, tahu. Atau, kamu
lebih suka dipanggil Seira-sama?"
Pipi Saotome——ralat, pipi Seira tampak merona
kemerahan saat mengucapkannya.
……Malu-malu kucing, rupanya.
"Kalau gitu, Seira. Mohon kerja samanya
ya mulai sekarang."
"Iya…… Haruki-kun."
Selepas kejadian itu, kami menyanyikan satu
lagu duet bersama sebelum akhirnya meninggalkan tempat karaoke.
◆ ◇ ◆
Antara pantai dan kolam renang, kira-kira
Haruki-kun lebih suka yang mana, ya?
Aku——Seira Saotome memikirkan hal semacam itu
sepanjang perjalanan pulang ke rumah.
Tepat saat aku sampai, adik perempuanku,
Sayaka Saotome, mendadak berlari keluar menyambutku.
"Kakak! K-Kakak baik-baik saja
kan!?"
"Eh, e-ehm…… aku pulang."
……Baik-baik saja?
"Emangnya ada apa sampai bikin kamu
khawatir begitu?"
"I-Itu, anu…… e, etto……"
Kelihatan ragu-ragu mau ngomong.
Sayaka terdiam, menelan ludah.
"……A, apa Kakak baru saja diperlakukan
dengan kasar sama pacar Kakak?"
"Hah? ……P-Pacar!?"
Aku dan Haruki-kun!?
Aku bisa merasakan suhu wajahku mendadak
melonjak panas.
"B, bukan…… k-kami nggak pacaran
kok!"
"O, owh begitu ya?"
"Udah, nggak usah kepo yang aneh-aneh! Kami nggak punya hubungan spesial kayak gitu!"
Aku membentak Sayaka dengan panik lalu
melangkah terburu-buru kabur masuk ke dalam kamarku sendiri.


Post a Comment