Chapter
7
Kolam Renang Bersama Sang Gadis Suci
Musim liburan musim panas telah tiba.
Kegiatan klub tidak kulakukan dengan
serius.
Tidak pula pergi ke bimbingan belajar
(les).
Bagi diriku yang seperti ini, ini adalah
musim yang terasa terlalu santai dan membosankan.
Tentu saja, bukan berarti aku ingin
mengikuti pelajaran sekolah, sih……
Oleh karena itu, tahun lalu aku memutuskan
untuk segera pulang kampung ke rumah orang tua dan menghabiskan hari-hari
dengan bermalas-malasan, namun tahun ini berbeda.
"Selamat datang."
"Aku ikut numpang masuk ya."
Seira mulai sering datang dan menetap di
rumahku.
Ingin belajar bersama.
Begitulah alasan awalnya, namun tujuan
utama Seira sebenarnya adalah bermain game.
Sebagai bentuk kedok minimalis, dia
mengerjakan sedikit pelajaran, lalu sisanya dihabiskan untuk bermain game.
Bermain
game yang dimaksud pun bukanlah game biasa.
Melainkan
game dewasa (eroge).
Sebenarnya
boleh-boleh saja kalau mau kupinjamkan, tapi sepertinya di rumah Seira tidak
ada lingkungan yang mendukung untuk memainkan game jenis itu dengan nyaman.
Seandainya
ada pun, aku bisa paham betapa sulitnya memainkan game itu di rumahnya.
Barang
itu tidak bisa disembunyikan semudah buku tipis (manga doujinshi).
……Meskipun, memainkan game seperti itu di
rumah teman sekelas lawan jenis juga rasanya patut dipertanyakan, sih.
Sebagai bentuk pembelaan untuk menjaga nama
baik Seira, aku harus meluruskan bahwa dia tidak melulu memainkan game dewasa
saja.
Kami juga sering memainkan game
pertarungan yang bisa dimainkan berdua.
Kalau dihitung dari durasi waktu
bermainnya, mungkin porsi game jenis ini jauh lebih lama.
Meskipun pada akhirnya tetap saja tidak
ada perubahan, fakta bahwa kami sama sekali tidak belajar tetap ada.
"Aku terharu banget……"
Seira melepas earphone miliknya lalu
berucap dengan nada suara yang terdengar begitu emosional.
Sepertinya
permainannya sudah mencapai babak akhir.
"Syukurlah
kalau begitu."
Rasanya
materi cerita game itu agak terlalu hardcore untuk direkomendasikan kepada
seorang pemula.
Namun, bagi Seira, sepertinya tidak ada
masalah sama sekali.
……Tapi aku jadi cemas kalau-kalau fetisnya
malah semakin menyimpang gara-gara ini.
Terlepas dari bagaimana alur ceritanya, aku
sama sekali tidak ingin terlibat dalam konten berbau seperti itu di dunia
nyata.
"Meskipun begitu, tidak disangka kalau
ternyata teman masa kecilnya adalah dalang di balik semua ini. Ah, ralat,
harusnya disebut sebagai 'teman masa kecil palsu' ya. Aku sebenarnya cukup
menjagokan dia, jadi agak disayangkan sih……"
Saotome mengobrol panjang lebar mengomentari
isi game tersebut.
Sebagian besar komentarnya hanya berpusat pada
jalan cerita.
"Tapi permainannya agak terlalu hardcore,
jadi aku malah nggak sempat merasa bergairah. ……Apakah Haruki-kun suka jenis
game seperti ini?"
"Mana mungkin, tenang saja."
"Baguslah kalau begitu."
Kami berdua sama-sama merasa lega.
"Boleh aku tanya satu hal?"
"Apa?"
"Kamu beneran nggak perlu
belajar?"
Aku sempat melontarkan pertanyaan itu kepada
Seira.
Mendengarnya, Seira mendengus kecil
mengejek lalu menjawab.
"Cukup mendengarkan penjelasan di
kelas dan membaca buku pelajaran, itu saja sudah lebih dari cukup."
Meskipun terlihat seperti itu, Seira adalah
peraih peringkat pertama di sekolah.
Aku tadinya mengira dia tidak pernah absen
melakukan persiapan dan ulasan materi setiap hari, tapi ternyata tidak begitu
kenyataannya.
Dia mengandalkan kemampuan dasar otaknya yang
memang sudah cemerlang untuk mendominasi, bukan lewat kerja keras belajar
mati-matian.
"Yah, kecuali kalau sudah masuk tiga hari
menjelang ujian, sih."
"Aku iri banget."
"Kamu sendiri nilainya juga lumayan
bagus, kan?"
"Aku kan rajin belajar,
mempersiapkan, dan mengulas materi."
Meskipun sedang libur musim panas dan
tidak pergi ke tempat les, aku tetap melanjutkan rutinitas belajar secara
mandiri.
Meskipun durasinya cuma sekitar satu jam
sehari.
Hal semacam itu jauh lebih efektif jika
dilakukan secara konsisten setiap hari.
Dengan begitu, beban belajar di kemudian hari
jadi terasa lebih ringan.
Oleh karena itu, aku duduk belajar dengan giat
di sebelah Seira yang sedang asyik bermain eroge.
"Heeh, begitu ya."
"Ngomong-ngomong, bentar lagi udah masuk
jam makan siang…… Gimana kalau kita membuat somen (mi dingin) saja?"
"Boleh banget. Aku yang potong bumbu
pelengkapnya (yakumi), ya."
"Paham. Kalau begitu aku yang merebus
mi-nya."
Setelah membagi tugas secara garis besar,
kami mulai memasak somen bersama.
Meskipun pada akhirnya cuma merebus mi dan
mengiris bumbu pelengkap saja, jadi tidak bisa dibilang sebagai kegiatan
memasak yang rumit.
Termasuk waktu persiapannya, somen buatan kami
selesai dalam waktu lima menit.
"Enak. ……Udah sering kukatakan sebelumnya
sih, tapi kamu selalu beli merek somen yang berkualitas bagus ya."
"Emangnya iya?"
Sambil menyeruput somen, aku memiringkan
kepalaku.
Aku memang merasa rasanya enak, tapi aku tidak
tahu apakah somen ini bisa dikategorikan sebagai barang berkualitas tinggi atau
bukan.
Alasannya karena aku tidak pernah makan somen
selain merek ini seumur hidupku.
"Kamu belinya tanpa tahu
kualitasnya?"
"Soalnya ini kiriman dari kampung
halaman."
"Ah, begitu ya. ……Yah, wajar sih buat
ukuran tuan muda kaya."
"Aku nggak mau dibilang begitu sama
seorang putri bangsawan."
Selesai menghabiskan somen, kami mencuci
piring kotor bersama-sama.
"……Hei, Haruki-kun."
"Ada apa?"
"Antara kolam renang dan pantai, kamu
lebih suka yang mana?"
"Pantai, kurasa. Rasanya lebih terasa
bebas lepas."
"Heeh, begitu ya."
"Kalau kamu sendiri?"
"Aku lebih suka kolam renang. Kalau di
pantai, air lautnya bisa bikin rambutku rusak."
"Bener juga, ya."
"Lagian aku benci kulit terbakar
matahari, jadi aku kurang suka keduanya."
"Heeh, begitu toh. Tak disangka-sangka,
ya."
"Emangnya aku kelihatan punya kulit
sekuat itu?"
"Enggak sih. Cuma kupikir kamu bakal
lebih suka karena bisa pamer kulit secara legal."
"Kamu menganggap diriku ini apa,
sih?"
"Cewek hobi pamer (eksibisionis)."
"……Aku akui aku emang punya fetis
itu. Tapi ya, aku benci ditatap langsung sama orang lain."
"Begitu ya?"
"Iya. ……Buktinya aku nggak pernah
pamer beneran di depan orang kan?"
"Memang benar sih, kamu nggak pernah
pamer beneran."
"Sensasi berdebar-debar karena
mengira 'mungkin bagian itu bakal kelihatan' itu yang kusukai, tapi aku nggak
mau kulitku dilihat secara langsung oleh orang lain."
"Filosofinya dalam banget."
"Makanya, biasanya aku nggak mau
pergi."
"Tapi, kamu sempat beli baju renang,
kan?"
"Namanya juga ajakan sosial, kan ada
kalanya kita nggak bisa nolak. Kalau adikku atau temanku ngotot banget ngajak
pergi, ya terpaksa kutemani. Lagian aku sendiri sebenarnya nggak benci
aktivitas main airnya, kok. Rasanya sejuk, kan. Apalagi itu kan salah satu
tradisi musim panas. Rasanya bakal ada penyesuaian tersendiri kalau sampai
nggak pernah pergi sekalipun."
"Bisa dimengerti sih. Meskipun nggak
begitu suka, hal-hal musiman seperti itu tetap pengin dilakukan sesekali
setidaknya setahun sekali."
"Betul banget. Nanti pas udah masuk musim
gugur, pasti bakal muncul penyesuaian rasa menyesal 'Kenapa kemarin nggak
ikutan pergi yaー', kan malesin banget."
"Heeh. Terus, rencana tahun ini gimana? Sekarang kan udah bulan Agustus, lho."
"Belum sempat pergi. Makanya, kalau
ada yang ngajak, aku kepingin ikut. Semangatku lagi membara, nih. Sayang banget
kan kalau baju renang yang kemarin kubeli nggak kepakai."
"……"
"……Padahal aku sudah beli model yang
agak berani, lho."
"……"
Lirik, lirik, lirik.
Seira melempar kode kontak mata berulang
kali sambil berbicara.
Dari gelagatnya, dia sepertinya ingin aku
mengajaknya pergi.
Kalau memang niatnya ingin pergi, kenapa
tidak diucapkan secara terus terang saja dari awal.
……Yah, kebetulan aku juga kepingin pergi
sih, jadi tidak masalah.
"……Kalau gitu, mau pergi bareng? Main
ke pantai atau kolam renang berdua denganku."
Begitu kutawarkan, Seira langsung melompat
girang seolah-olah dia memang sudah menunggu ajakan itu dari tadi.
Lalu memasang senyum menyeringai lebar.
"Ih, enggak mau. Jangan-jangan kamu
ngajak begitu cuma karena pengin ngeliat baju renangku, ya?"
"Iya."
Begitu kujawab jujur, gerakan tubuh Seira
langsung mematung kaku.
Ada
apa dengan cewek ini.
Padahal
dia sendiri yang dari tadi sengaja mancing-mancing perhatian.
Apa
dia mengira aku bakal menyangkalnya sekadar untuk jaim (jaga imej)?
"M, mau lihat?"
"Kalau kamu nggak pengin nunjukin, ya
udah batalin aja."
Seira memasang ekspresi galau seolah
sedang berkonflik batin.
Lalu melirik ragu-ragu, mengamati ekspresi
wajahku.
"……Harus pakai model yang berani ya,
emangnya?"
"Enggak juga sih. Pakai aja baju renang
apa pun yang kamu suka."
"B, beneran?"
"Lagian aku sendiri nggak tahu model
baju renang seperti apa yang kamu beli."
"B, bener juga, ya? Kalau
gitu……"
"Tapi, aku tetap memasang ekspektasi
tinggi, lho."
"……B, baiklah."
Seira membuang muka dariku seolah ingin
menyembunyikan wajahnya.
Telinga mungilnya yang mengintip dari
balik rambut peraknya tampak merona merah padam.
"……A, akan kupikirkan dulu."
Ucapnya lirih terbata-bata.
◆ ◇ ◆
Namaku adalah Sayaka Saotome. Aku memiliki
seorang kakak perempuan.
Seira Saotome.
Kakak perempuan yang suci, baik hati, menawan,
dan sangat cantik.
Meskipun Kakak perempuan yang begitu sempurna,
tapi akhir-akhir ini aku cemas kalau-kalau dia sedang terseret ke dalam kasus
kriminal berbahaya.
Ada kecurigaan kuat bahwa dia sedang diancam
oleh pria berengsek dan dipaksa melakukan hal-hal yang senonoh.
Karena, mustahil banget Kakak mau pergi keluar
rumah dengan kemauannya sendiri tanpa memakai pakaian dalam (noban).
Kakak mustahil punya kepribadian mesum.
Meskipun demikian…… ya.
Menyimpulkan bahwa dia sedang diancam mungkin
terlalu terburu-buru.
Bisa jadi dia terpaksa menuruti hobi pacarnya
semata.
Sebenarnya aku ingin sekali menyuruhnya
memutuskan saja cowok model begitu, tapi mengingat ini adalah pacar pertamanya,
wajar saja kalau Kakak merasa kebingungan karena belum punya pengalaman.
Ada kemungkinan juga dia sedang dibohongi.
Kakak itu sangat polos tanpa noda, jadi
mungkin dia mengira hal semacam itu memang wajar dalam hubungan berpacaran……
begitulah kira-kira.
Suatu hari, di tengah hari-hariku yang
dipenuhi kecemasan dan rasa penasaran.
Hari itu pun Kakak sudah sibuk bersiap-siap
pergi sejak pagi buta.
"……Kakak, baju yang dipakai itu……?"
Namun, pakaian yang dikenakannya hari ini
berbeda dari biasanya.
Nuansa gaya busananya jauh berbeda dari gaya
berpakaian yang biasa Kakak kenakan sehari-hari.
Secara singkat, itu bukanlah gaya pakaian yang
mencerminkan “selera pribadi” Kakak.
Lebih dari itu, itu adalah baju baru yang
belum pernah kulihat sebelumnya.
Kapan dia membelinya!?
"Ah…… baru beli beberapa waktu lalu. Gimana menurutmu? Nggak aneh, kan?"
Kata Kakak sambil memainkan ujung
rambutnya.
Gerakan gestur tubuh itu kelihatan sangat
memesona.
"Anu…… kesannya kelihatan suci dan
anggun, menurutku cocok banget kok sama Kakak."
Mungkin itu memang bukan selera asli Kakak.
Tapi, gaya itu sah-sah saja (“lulus sensor”).
Aku pengen memotretnya buat dokumentasi……
Eh, bukan itu maksudku!
"……Ada seseorang yang membantumu
memilihkan baju ini?"
"Iya…… kurang lebih begitu."
Jawab Kakak sambil membuang muka
menghindari tatapanku.
"……Hari ini sepertinya aku bakal
pulang sedikit lebih larut dari biasanya. Tolong sampaikan ya."
"Tentu saja tidak masalah. Emangnya
Kakak mau pergi ke mana?"
"……Ke kolam renang."
Kolam renang?
Karena ini musim panas, sebenarnya tidak aneh
sih.
Tapi, tumben sekali dia sampai berpenampilan
semodis ini……
"Mau pergi bareng siapa?"
"……Teman. Teman cewek."
Teman cewek.
Kalau jawabannya cuma teman, kenapa dia harus
repot-repot menekankan kata “cewek” di kalimatnya?
Rasanya janggal seperti sedang
menyembunyikan sesuatu.
Kalau memang cuma teman biasa, kan tinggal
jawab teman cowok atau cewek secara santai.
"Bolehkah aku ikut gabung?"
Aku sengaja mencobanya iseng.
Lalu—
"Nggak boleh!"
Teriak Kakak dengan nada suara yang cukup
keras.
Aku tanpa sadar merinding dan menciut.
Mana pernah Kakak membentakku sebesar
itu……
"……Kalau tiba-tiba ada orang lain
yang ikut, nanti malah bikin repot. Ya sudah, aku berangkat dulu ya."
Kakak berpamitan dengan ekspresi canggung
lalu kabur pergi terburu-buru seolah ingin melarikan diri.
Gelagatnya jelas mencurigakan.
Hubungannya dengan pacarnya itu pasti
bukan hubungan normal pada umumnya.
"……Baiklah."
Aku telah mengambil keputusan.
Akulah yang harus melindungi Kakak.
Untuk mewujudkannya, aku harus
mengumpulkan bukti nyata terlebih dahulu.
Aku harus menguntitnya secara diam-diam.
……Bukan berarti aku berniat mau mengintip
Kakak pakai baju renang, lho ya.
◆ ◇ ◆
"Huu, ngantuk banget……"
Aku tanpa sadar menguap lebar begitu tiba
di titik lokasi pertemuan.
Hari ini adalah hari di mana aku berencana
pergi bermain ke kolam renang bersama Seira.
Ya, kolam renang.
Sudah pasti Seira bakal mengenakan pakaian
renang.
Bahkan bukan sekadar pakaian renang biasa.
Melainkan model “yang berani”.
Aku tidak tahu standar batasan seperti apa
yang dia maksud dengan kata berani, tapi yang jelas itu pasti pakaian renang
yang mengekspos kulit lebih banyak dari biasanya.
Aku kan juga remaja cowok normal pada
umumnya.
Tentu saja aku sangat tertarik melihat cewek
seumuran memakai baju renang.
Terlebih lagi, Seira adalah gadis tercantik
nomor satu di antara semua cewek yang pernah kutemui seumur hidupku.
Rasa penasaranku sudah mencapai level
maksimal.
"Selamat pagi, Haruki-kun."
Sebuah suara menyapa dari belakangku.
Sambil berusaha meredam debaran jantung yang
bergemuruh, aku membalikkan badan, dan mendapati sosok gadis cantik mengenakan
terusan putih (one-piece) dipadukan dengan topi jerami berdiri di sana——Seira.
Sepertinya dia langsung mengenakan pakaian
yang kami beli bersama beberapa waktu lalu.
"Halo,
Seira. ……One-piece itu, cocok untukmu."
"Tentu
saja."
Hehehe.
Seira
membusungkan dadanya dengan ekspresi bangga.
"Kalau begitu, ayo berangkat?"
"Iya."
Kami naik kereta dan menuju ke sebuah
fasilitas kolam renang besar yang lokasinya agak jauh.
Kalau ada kolam renang umum di sekitar
sini, dikhawatirkan kami bisa berpapasan dengan teman sekelas.
Lagipula, kalau mau main, lebih baik di
kolam renang yang luas sekalian.
"Hei, Haruki-kun."
Sambil duduk berdampingan di kursi kereta,
Seira merapat mendekatiku.
Jarak kami terasa agak terlalu dekat.
"Menurutmu hari ini aku pakai
apa……?"
Seira berbisik tepat di telingaku sambil
mencubit pelan ujung lengan terusan miliknya.
Aku berpikir sejenak sebelum menjawab.
"Baju renang, kan. Aku juga
memakainya di balik celana."
"Kamu kayak anak SD aja."
"Emangnya kamu enggak?"
"Mana mungkin."
Seira tertawa geli.
◇ ◇ ◇
Kereta diguncang selama satu setengah jam.
Tempat yang kami tuju adalah fasilitas kolam
renang besar yang baru saja dibuka belakangan ini.
"Wah,
ada banyak macam wahana, ya."
Seira mengeluarkan seruan kagum sambil
membaca brosur.
Selain kolam renang biasa, ada juga kolam
arus (lazy river), kolam ombak buatan, hingga seluncuran air (water slide).
"Kalau begitu, kita ketemuan di sekitar
sini aja, ya."
"Boleh."
Sambil menunjuk brosur, kami menentukan titik
lokasi tempat janjian nanti.
Tepat di area luar ruang ganti.
Nah, kira-kira model pakaian renang
seperti apa yang akan dipakai oleh Seira, ya?
Sambil diliputi rasa penasaran, aku
berganti pakaian lalu keluar dari ruang ganti.
"G, gimana menurutmu……?"
Tidak lama kemudian, Seira pun menyusul
keluar.
Seira tampak menyibak rambutnya dengan
malu-malu sambil berkata begitu.
Pipinya merona tipis.
"……Ooh."
Tanpa sadar, suara itu lolos dari mulutku.
Pakaian renang yang berani.
Sesuai dengan klaim yang diucapkannya
sebelumnya, penampilan berbikini itu mengekspos kulit putih mulusnya lebih
banyak dari biasanya.
Pesona Seira yang memiliki proporsi tubuh jauh
lebih bagus dibandingkan dengan gadis seumurannya terpancar secara maksimal.
Namun, anehnya, kesan vulgar sama sekali tidak
terasa.
Mungkin karena warna kainnya yang putih, atau
mungkin karena hiasan renda yang secara samar-samar menutupi belahan dada dan
bokongnya.
Alih-alih terkesan sensual, penampilannya
justru terlihat imut dan memancarkan aura kesucian.
"Y, yah…… biasanya aku pakai model yang
lebih tertutup, sih. Tapi kan mumpung lagi di sini? Jadi
kupikir nggak ada salahnya coba pakai model yang agak berani sesekali……"
Seira berbicara dengan tempo cepat seolah
sedang beralasan.
Lalu melotot tajam ke arahku.
"K, katakan sesuatu dong……"
Seira berkata sambil menggeliat gelisah karena
malu.
Meskipun begitu, dia tidak berusaha menutupi
bagian dada ataupun area selangkangannya.
Atau lebih tepatnya, tangannya tampak gatal
ingin menutupinya, tapi dia mengepalkan tangannya erat-erat demi menahan
dorongan tersebut.
……Entah kenapa, hal itu justru terlihat
semakin erotis.
Padahal biasanya dia selalu melontarkan ucapan
dan tindakan tanpa rasa malu sedikit pun.
Melihatnya memasang gestur malu-malu kucing
begini justru membuat jantungku berdebar tak karuan.
Apakah ini yang dinamakan efek pesona gap
(kontras)?
Kalau semua ini memang sudah diperhitungkan
olehnya sejak awal, maka dia benar-benar hebat.
"Cocok banget, sumpah. Bener-bener
kelihatan kayak gadis suci beneran."
"H, hih……"
"Cantik, dan yang paling penting
imut."
"B, begitu, ya……"
Begitu aku menghujaninya dengan pujian,
Seira langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Lalu bergumam pelan di balik kedua
tangannya.
"M, meskipun kamu memujiku, aku nggak
bakal ngasih apa-apa lho."
Ucapnya sambil mengintip melirik ke arahku
lewat celah jarinya.
Wajahnya sudah merah padam.
Dia rupanya sedang tersipu malu.
Manis banget.
Kira-kira kalau aku memujinya lebih banyak
lagi, apakah dia bakal menunjukkan ekspresi yang lebih manis lagi, ya?
Namun, kalau aku terus membuka mulut,
kutakutkan aku malah akan keceplosan mengucapkan hal-hal aneh di luar kendali……
"……Baju renangmu sendiri juga nggak
jelek kok. Tubuhmu ternyata cukup atletis juga, ya."
Di saat aku sedang berkonflik batin, Seira
balik memujiku.
Memangnya pakaian renang cowok ada
hubungannya dengan cocok atau tidak, ya?
"Biar nggak malu-maluin amat, aku
cukup rajin olahraga kok."
"O, oho. Baguslah kalau begitu. Hebat
juga ya. Kuapresiasi pujiannya."
"……"
"……"
Kami berdua mendadak terdiam seribu
bahasa.
M, memangnya telanjang setengah badan di
depan umum begini rasanya agak memalukan, ya……
"A, ayo cepat masuk ke kolam."
"I, iya juga ya……"
Untuk mencairkan suasana canggung, aku
mulai melakukan pemanasan.
Selama tubuhku bergerak, tidak adanya
obrolan di antara kami tidak akan terasa terlalu janggal.
Ya, demi mengalihkan perhatianku sendiri.
Di sisi lain, Seira menatapku lekat-lekat
selagi aku melakukan pemanasan.
Atau lebih tepatnya, tatapannya itu lebih
mirip dengan melotot, ya?
……Duh, malah bikin aku jadi salah tingkah.
"Kamu harusnya pemanasan sedikit juga
biar nggak kram, lho."
"……Sebelum itu, ada hal lain yang harus
dilakukan, kan?"
"Hal lain?"
Tanpa sadar, aku balik bertanya, membuat Seira
terdiam membeku seolah sedang menimbang sesuatu.
Lalu
berbisik lirih.
"Losion
tabir surya (sunscreen)."
"……Aku sudah mengoleskannya dari rumah
tadi. Kamu belum pakai?"
Apa Seira belum mengoleskannya?
Kalau belum, harusnya dia oleskan dulu dari……
"Bukannya itu maksudku."
Seira menjawab dengan ekspresi cemberut.
Lalu mendengus kesal.
"Tolong oleskan ke punggungku."
Ucap Seira sambil menyerahkan botol losion
tabir surya kepadaku.
Lalu membalikkan badannya membelakangiku.
"……Di sini ngolesinnya?"
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Posisi kami kebetulan berada di balik bayangan
bangunan, jadi tidak terlalu mencolok.
Meskipun begitu, di tempat umum ini tetap
saja banyak orang berlalu-lalang.
"M, mana mungkin mengoleskan di punggung
bisa jadi masalah besar. Kita kan nggak lagi buka baju."
"Memang benar sih, tapi……”
"K, kamu nggak mau, ya?"
"Mana mungkin. ……Kalau Seira maunya aku
yang mengoleskan, ya sudah."
Aku memutar posisi menghadap punggung
Seira.
Kulitnya tampak begitu putih bersih tanpa noda
sedikit pun.
Pertama-tama, aku meletakkan tangan di area
sekitar tulang belikatnya.
"Ngh……"
Suara kecil lolos dari bibir Seira.
"Kulitku nggak begitu tahan sama terik
matahari."
"Begitu ya."
"Nanti bisa merah-merah semua. Makanya,
oleskan agak tebal, ya. Jangan sampai ada bagian yang terlewat."
"Paham."
Karena kulitnya sensitif terhadap sengatan
matahari, aku tidak boleh mengoleskannya secara asal-asalan.
"Ah, pelan-pelan…… geli."
"Woy, jangan banyak gerak."
Tepat saat tanganku merayap turun melewati
bawah tulang belikatnya, Seira mulai menggeliat gelisah.
Meskipun dia sedikit bergerak, sebenarnya itu
tidak mengganggu pekerjaanku, sih.
"Eh, cara mengoleskannya kok berasa agak
mesum, ya?"
Begitu tanganku meraba area punggung bawahnya,
Seira mulai melayangkan protes.
Sambil menoleh ke belakang, dia menatapku
dengan senyuman menyeringai menggoda.
"Perasaanmu aja kali."
"Hih, tapi dari tadi tanganmu
bolak-balik bolak-balik di tempat yang sama terus, kan?"
"Tadi kan kamu sendiri yang minta
dioles agak tebal."
Aku sama sekali tidak berniat
mengoleskannya dengan cara yang aneh-aneh.
Sudah pasti kalau aku pakai cara lain pun
dia bakal tetap mencari-cari celah buat menjahiliku.
Lagipula, itu memang tujuan utamanya, kan.
"Kamu ini ya, cowok mesum
terselubung!!"
"Nggak ada cewek lain di dunia ini yang
pantas ngomong gitu ke aku selain kamu……"
Sambil meladeni omelan tidak pentingnya, aku
berhasil meratakan losion sampai ke area pinggangnya.
Lalu, saat pandanganku sedikit turun ke bawah,
di sanalah letak bokong Seira.
……Besar juga, ya.
"Hei, tanganmu udah berhenti gerak dari
tadi. Udah
selesai belum?"
"Ah,
iya, udah beres."
Aku
mengembalikan botol losion itu kepada Seira.
Dia
melototiku dengan wajah yang sedikit merona merah.
"Tadi matamu jelalatan ke mana,
hah?"
"Emangnya ngeliat apa?"
"Mesum."
Seira meletakkan kedua tangannya ke belakang
punggung, membuat gestur seolah menutupi bokongnya.
Rupanya dia menyadarinya.
Emangnya di punggungnya ada mata tambahan,
apa.
◇ ◇ ◇
Satu jam berlalu sejak kami mulai bermain di
area kolam.
"Huu, rasanya agak bosan juga, ya."
Ucap Seira sambil mengapung santai di atas
ban pelampung.
Ban pelampung itu kami sewa.
Tadinya kami asyik bermain bersama menaiki ban
pelampung di kolam arus (lazy river) tapi……
Dia sepertinya sudah bosan.
"Rasanya nggak sebersemangat yang
kubayangkan."
"Semangat gimana maksudmu?"
Menurutku, sekadar berendam di air kolam
sambil mengikuti arus saja sudah cukup menyenangkan, kok.
Atau, bukankah justru itu standar kesenangan
orang pada umumnya?
Datang ke kolam rekreasi kan bukan buat
latihan berenang atletik.
"Maksudku tuh……"
"Maksudnya?"
Seira melirik ke arahku sekilas.
Lalu membuang muka dengan ekspresi tidak
puas.
Ekspresi macam apa itu.
"Maksudku, harusnya ada makhluk
seperti tentakel monster yang menyerang kita gitu, seru kan."
"Jangan bawa-bawa istilah tentakel di
tempat umum, ya."
Bagi diriku sendiri, kegiatan santai
begini saja sudah sangat menyenangkan dan memicu adrenalin.
Meskipun begitu, membiarkan pasangan kencan
kita merasa bosan tentu bukan tindakan yang baik.
"Mau main lempar bola pantai?"
Permainan bola tidak diizinkan di kolam
ini.
Tapi, ada area khusus untuk bermain, dan
tempat penyewaan bola juga tersedia.
"Bola pantai ya…… Yah, bukan berarti
aku benci sih, tapi bukan itu maksudku……"
"Bukannya itu, terus apa?"
"……"
Seira terdiam merenung.
Lalu menatap ke suatu titik nun jauh di sana.
Pandangannya
tertuju ke arah…… seluncuran air (water slide).
"Mau
coba main seluncuran air itu?"
"O, ide bagus."
Kami naik ke daratan kolam dan berjalan menuju
ke area menara seluncuran air.
Rupanya seluncuran air di sini berjenis wahana
seluncur melingkar yang dinaiki menggunakan ban pelampung besar.
"Mau naik sendiri-sendiri atau naik
berdua?"
Tanya petugas penjaga wahana.
Ternyata wahana-nya bisa dinaiki berdua
sekaligus.
Sudah pasti……
"Sendiri—"
"Naik berdua."
Seira langsung memotong dengan cepat.
Eh? Berdua, maksudnya……?
"Kenapa? Kamu nggak mau?"
"……Enggak kok, cuma agak kaget aja."
Y, yah…… yang ngajak duluan kan memang
Seira.
Aku sendiri juga tidak keberatan.
Tapi, berdua, ya……
"Aku duduk di depan."
"Kalau begitu, masnya silakan duduk
di depan duluan."
Sesuai instruksi petugas, aku mendudukkan
diriku di atas ban pelampung terlebih dahulu.
Lalu Seira mengambil posisi duduk tepat di
depanku.
"Adik ceweknya, tolong pegangan erat pada
ban pelampungnya ya. Dan masnya tolong lingkarkan tangan ke pinggang
ceweknya."
"B, begini ya?"
Aku melingkarkan kedua tanganku di perut
Seira.
Seketika itu juga Seira menyandarkan
punggungnya ke dadaku.
Tubuh kami saling berdempetan erat.
Apakah ini aroma parfum dari losion tabir
surya tadi? Aroma buah jeruk yang segar tercium samar-samar.
Jantungku mendadak berdegup kencang tak
karuan……
"Silakan meluncur!"
Petugas mendorong ban pelampung kami.
Ban pelampung yang membawa kami meluncur
turun dengan kecepatan tinggi menembus terowongan pipa melingkar.
"Kyyyaaa!"
"Wah……!"
Seira menjerit…… ralat, bersorak
kegirangan.
Kaget mendengar teriakannya, aku tanpa
sadar ikut bersuara.
Meskipun penampilannya selalu terkesan
tenang, ternyata dia bisa berekspresi seantusias ini juga, ya……Byurrr!
Di tengah lamunanku, ban pelampung keluar
dari ujung terowongan dan langsung mendarat menghantam permukaan air kolam.
"Ahaha! Seru banget ya!!"
Ucap Seira sambil menyeka cipratan air di
wajahnya.
Lalu menepuk punggungku pelan.
"Ayo cepat naik, jangan ngalangin jalan
orang lain."
"I, iya……"
"Berikutnya gantian, Haruki-kun yang
duduk di depan, ya."
"Eh? Boleh aja sih."
Mau meluncur sekali lagi, ya……
Yah, nggak masalah juga, sih.
"Giliran aku yang duduk di
belakang!"
Seira mendeklarasikan hal itu kepada
petugas, lalu mendudukkan dirinya di atas ban pelampung.
Disusul aku yang duduk di bagian depan.
"Kya!"
Begitu aku duduk, Seira langsung memelukku
dari belakang.
Aku bisa merasakan keempukan dadanya
menempel kuat di punggungku.
"Masnya, karena posisi duduknya
terlalu condong ke depan, berbahaya, tolong sandarkan badan agak ke belakang,
ya."
"Tuh, dengerkan kata masnya."
"……Iya."
Sesuai instruksi, aku menyandarkan tubuhku ke
belakang.
Tingkat kelekatan tubuh kami semakin
menjadi-jadi.
"Badanmu atletis dan bagus juga,
ya."
Bisik Seira tepat di dekat telingaku.
Udah gila, ngomong apa dia tiba-tiba!
Belum sempat aku melayangkan protes, ban
pelampung kami sudah kembali meluncur turun menyusuri terowongan.
"Aha!"
Seira berseru senang.
Bersamaan dengan itu, pelukannya di
tubuhku semakin mengerat.
Lalu dalam sekejap kami mendarat kembali ke
air.
"Ayo kita main sekali lagi!!"
"Hah?! Y, yah, kalau kamu mau……"
Kami naik ke daratan, lalu mengantre kembali
ke barisan……
Sebelum antrean maju, Seira berbalik menoleh
ke belakang.
"Oh iya. Sesi berikutnya enakan kita
posisi depan atau belakang, ya?"
"M, mana tahu. Terserah kamu aja."
"Jawabannya nggak tegas banget. Kalau
gitu, kuajukan pertanyaan lain."
Seira memperpendek jarak di antara kami.
Lalu ia mencondongkan wajahnya menatapku
lekat-lekat sambil tersenyum penuh arti.
"Antara meluk aku dari belakang, atau
dipeluk dari belakang sama aku, kamu lebih milih yang mana?"
"N, ngomong apa sih, pertanyaan macam apa
itu!"
"Jawab aja dulu."
U, umm. Kalau dipikir-pikir.
Pelukan saat aku berada di posisi belakang
memeluk Seira rasanya jauh lebih mendebarkan, sih……
Ketimbang merasakan tubuh cewek di depanku,
justru merasakan tubuh cewek menempel di depanku terasa jauh lebih menegangkan.
Oleh karena itu, posisi di belakang dicoret.
"Aku pilih di depan aja."
"Hih, begitu ya."
Seira menyunggingkan senyum menyeringai.
"Kamu rupanya lebih suka ngerasain
dadaku nempel di punggungmu, ya."
"Bukan gitu!"
Jangan memelintir kata-kataku dengan
konotasi aneh!!
Selepas itu, kami masih terus bolak-balik
menaiki seluncuran air itu entah sudah berapa kali.
***
Kira-kira setelah meluncur lebih dari sepuluh
kali.
Seira sepertinya mulai kelelahan juga.
"Ugh, rasanya aku mulai capek, deh."
Ucapnya mengajukan usul istirahat.
"Bener juga. Mending kita cari makan
siang dulu, yuk."
Memang sudah waktunya makan siang.
Waktu yang sangat pas untuk beristirahat.
"Seingatku, di sebelah sana ada area
kantin tempat makan, kan?"
Ada fasilitas ruang makan semi-outdoor yang
memperbolehkan pengunjung mengenakan pakaian renang.
Pembayarannya bisa dilakukan secara praktis
menggunakan gelang band yang diberikan saat registrasi masuk tadi.
"Ah… iya, benar juga."
"Emangnya ada masalah?"
"Anu…… aku nggak bawa rash guard (kaos
renang penangkal UV), sih."Rash guard? Kenapa memangnya……?
Aku sempat heran, tapi mungkin dia merasa risi
berkeliaran di tempat umum hanya mengenakan pakaian renang doang.
Meskipun di area kolam renang sah-sah saja, kalau
harus mampir ke ruang makan umum, rasanya jadi agak segan…… Pemikiran yang
wajar sih.
"Kalau mau, pakai punyaku aja gimana? Aku
ada bawa kok, walau cuma cadangan."
Aku memang membawa rash guard di dalam tas.
Tapi tidak kusempatkan memakainya.
Masih tersimpan rapi di dalam loker ruang
ganti.
"Eh, beneran boleh?"
"Kulitmu kan sensitif, gampang terbakar
matahari, kan?"
"Kalau begitu, dengan senang hati aku
pinjam ya."
Aku berjalan kembali ke ruang ganti untuk
mengambil rash guard milikku.
Begitu rash guard itu kuberikan, Seira
langsung memakainya ke tubuh……
Lalu, seolah menyadari sesuatu, dia tersenyum
geli.
"Hei-hei, coba lihat aku,
Haruki-kun."
"Apaan?"
"Model baju kayak gini, kelihatannya agak
ecchi nggak sih?"
Seira mengenakan rash guard milikku, lalu
mengepak-ngepakkan bagian lengan bajunya yang kebesaran itu ke udara.
Sama sekali tidak kelihatan ecchi, tahu.
Karena tertutup lapisan kain tambahan, area
kulit yang terekspos justru semakin berkurang, harusnya kesan ecchi-nya malah
hilang drastis.
"Kelihatan kayak orang yang lupa pakai
celana atau rok nggak sih?"
"Oohー"
Akhirnya aku paham maksud ucapannya.
Karena rash guard itu adalah milikku, ukuran
bajunya tentu saja kebesaran di badan Seira.
Alhasil, bagian ujung bawah baju itu turun
menutupi sampai ke area pahanya, menyembunyikan bawahan bikini putihnya secara
keseluruhan.
Hal itu menciptakan ilusi seolah “dia sedang
tidak memakai pakaian bawahan sama sekali”.
……Aku baru saja mendapat ide cemerlang.
"Coba angkat sedikit bagian bawah
bajunya ke atas."
"Eh? Boleh sih……?"
Sambil memiringkan kepala karena bingung,
Seira mencubit ujung baju itu dan mengangkatnya sedikit ke atas.
Seketika itu juga, bawahan bikini putih
miliknya mengintip-intip genit keluar.
……Kelihatan persis seperti panty shot (celana
dalam yang tak sengaja kelihatan).
"Eh, jangan!"
Menyadari maksud dari tatapanku, Seira
buru-buru menutupi bagian bawah bajunya dengan kedua tangan.
Lalu melotot tajam ke arahku.
"Mesum."
"Dih, dari awal kan kamu sendiri yang
ngomong duluan kalau kelihatannya jadi ecchi (nampak seperti erotis). Lagian
ini kan baju renang."
"Sengaja melakukan secara sadar dan tidak
sengaja menyadari itu dua hal yang berbeda, tahu!"
Seira menggembungkan pipinya dengan
cemberut.
Meskipun mengomel begitu, dia sama sekali
tidak menunjukkan gestur untuk melepas rash guard miliknya.
Yah, wajar saja karena kalau dilepas,
tingkat eksposurnya malah bakal bertambah lagi.
……Atau jangan-jangan, dia sebenarnya menikmati
situasi di mana bajunya kelihatan seperti panty-shot itu?
"Ayo cepat kita pergi cari makan
siang."
Ucap Seira, lalu melangkah berjalan
mendahuluiku.
Sesekali dia menarik-narik ujung rash
guard-nya seolah merasa risi dengan posisinya.
Area
ruang makan (eat-in space) tampak sangat padat dipenuhi pengunjung.
Meskipun tempat duduknya masih ada, tapi
antrean di setiap gerai makanan kelihatan mengular panjang.
"Ramai banget, ya."
"Namanya juga udah jam makan siang."
Sudah bisa ditebak, semua gerai makanan
dipadati antrean panjang.
Kalau kami ikut mengantre seperti biasa,
sepertinya butuh waktu sekitar tiga puluh menit hanya untuk membeli satu menu.
"Bagaimana kalau kita berpencar
saja?"
"Hm…… berpencar, ya?"
Seira adalah gadis yang sangat cantik.
Meskipun berada di tempat umum yang ramai,
membiarkan gadis secantik itu berkeliaran dalam balutan baju renang yang minim
pertahanan terasa mengkhawatirkan.
Rasa cemas itu masih mengganjal di hatiku.
"Ara, apa kamu merasa keberatan kalau
harus berpisah dariku?"
"Bukannya keberatan, tapi……"
"Rasa kepemilikanmu mulai muncul, ya?
Cowok yang terlalu posesif biasanya dibenci cewek, lho."
Seira tertawa terkikik geli.
Anak ini, padahal orang lain lagi
cemas-cemasnya mikirin dia……
"Kalau ada apa-apa, aku tinggal
berteriak, jadi tenang saja."
"Begitu ya?"
"Lagian, mana ada cowok yang berani
ngajak kenalan cewek yang lagi pakai rash guard cowok."
Eh?
Mengenakan rash guard pria membuatmu tidak
akan diajak kenalan?
"Ehm…… maksudnya gimana?"
"Ya begitulah……"
Seira mendadak tampak kesulitan menjawab.
Matanya bergeser ke sana ke mari, lalu
menunduk malu-malu.
"Seira?"
"……Mungkin cowok yang lamban sepertimu
saja yang bakal nekat ngajak kenalan."
"Lamban maksudmu……"
"Cepat sana belikan
makanannya!"Plak!!
Punggungku dipukul dengan cukup keras oleh
Seira.
"S, sakit……"
"Kalau kamu cemas banget ninggalin aku
sendirian, makanya selesaikan urusanmu cepat-cepat."
Lalu Seira mendengus kecil.
"Kalau sampai ada cowok yang jauh lebih
baik darimu di sini, aku bakal pindah ke lain hati lho."
◇ ◇ ◇
"Sumpah ya, anak itu
bener-bener."
Sambil mengelus punggungku yang bekas
dipukul Seira, aku menyusuri jejeran gerai makanan.
Tidak ada makanan yang terlalu mencolok
atau aneh di sini.
Mengingat mencari menu yang gampang
dibagikan adalah pilihan terbaik, akhirnya aku memutuskan untuk membeli
takoyaki.
Nah, kira-kira Seira sekarang ada di mana,
ya……
"……Bisa tolong menyingkir sebentar?"
Terdengar suara Seira.
Aku buru-buru menoleh ke sumber suara.
Di sana kudapati dua orang pria bersama
seorang gadis berambut hitam.
Bukan Seira.
"Hei, dek, sendirian aja? Atau lagi
bareng teman?"
"Mau gabung main bareng kami nggak? Tuh, lihat kelompok di sebelah sana. Seperti yang kamu lihat, ada ceweknya
juga kok. Kalau rame-rame kan pasti jauh lebih seru dan meriah, kan?"
Situasi itu adalah adegan klasik nampa
(menggandeng/mengajak kenalan cewek di jalan).
Kalau si cewek kelihatan menikmati situasinya,
mungkin bakal kubiarkan saja…… tapi suasananya sama sekali tidak menunjukkan
hal itu.
Mereka kelihatan terganggu.
Atau lebih tepatnya, si cewek tampak sudah di
ambang batas kesabarannya (mau ngamuk).
……Mau tak mau, aku harus turun tangan.
"Maaf, sudah menunggu lama."
Aku menyela masuk di antara kedua pria itu
sambil menyapa sang gadis.
Lalu berkata kepada para pria tersebut.
"Dia ini gandenganku."
Begitu kukatakan kalimat itu, para pria
tersebut mendengus kesal lalu berlalu pergi.
Setelah itu, aku berbalik menghadap ke arah
sang gadis.
Gadis berambut hitam dengan manik mata
hitam.
Meskipun tidak secantik Seira, proporsi
tubuhnya juga bagus.
Meskipun sorot matanya kelihatan agak
tajam, pahatan wajahnya tertata rapi bagaikan boneka tradisional Jepang (ningyō).
Baju renang one-piece bergaya suci yang
dipakainya sangat cocok melekat di tubuhnya.
Pantas saja kalau dia sampai diajak kenalan,
tingkat keimutannya memang masuk akal.
Nah, lalu sekarang aku harus bagaimana? Sendirian
saja? Bahaya lho, mau diantar ke tempat temanmu?
……Eh, tapi kalimat itu kedengarannya malah
kayak modus nampa (ngajak kenalan) baru, ya.
Lagi pula, Seira sedang menungguku, jadi
rasanya aku tidak punya kewajiban khusus untuk repot-repot mengantarnya.
"Kalau begitu, aku permisi dulu……"
"Aku merasa tidak pernah bilang kalau
aku ini gandenganmu, lho?"
Gadis itu menatapku tajam sambil
memicingkan matanya.
Dia kelihatan kesal.
Padahal aku tidak merasa berbuat kesalahan
apa pun yang membuatnya marah……
"Tindakan tadi cuma cara praktis buat
ngusir mereka berdua aja. Aku sendiri juga nggak punya niat buat jadi
gandenganmu."
"Hih, begitu ya? Tapi rasanya aku
nggak pernah minta tolong ditolongin, kan?"
Manusia macam apa anak ini.
Cewek yang cukup merepotkan, ya……
sebaiknya aku cepat-cepat kabur.
"Cuma niat baik iseng aja. ……Kalau gitu,
aku duluan."
"Tunggu sebentar."
Lengan bajuku dicekal.
"Apa lagi?"
"……Mau membiarkan cewek sendirian
begitu saja?"
"……Ha?"
"Kamu sudah menolongku, jadi tolong
bertanggung jawablah sampai tuntas."
Ucap gadis itu sambil mendengus sebal.
Narsis banget, nih anak.
"Boleh juga sih. ……Terus, aku harus
ngapain?"
"Antar aku sampai ke tempat temanku
berkumpul."
"Boleh. Di sebelah mana?"
"Lewat sini."
Aku berjalan mengikuti satu langkah di
belakang gadis tersebut.
"Namaku Sayaka. Kalau kakak, siapa
namanya?"
"Himuro Haruki."
"Kalau begitu, aku panggilnya Kak Haruki
ya. Kakak panggil aku Sayaka-chan saja."
"Ah, iya……"
Anak ini tingkat agresivitasnya mendekati
seram banget……
Tanpa sadar, aku melirik ke arah
gadis—Sayaka —yang berjalan tepat di sampingku.
Pandangan kami berpapasan.
……Rasanya dia mirip banget sama Seira.
Padahal warna rambut dan warna matanya
harusnya berbeda.
"Bisa tolong berhenti menatapku seperti
itu?"
Entah apa yang ada di pikirannya, Sayaka
langsung menutup dadanya dengan kedua tangan.
"Aku nggak ngeliat apa-apa, ya."
Namun, Sayaka sepertinya tidak terima dan
terus melontarkan protes, menuduhku sebagai pervert, dasar cowok emang semuanya
sama saja, dan lain-lain.
Hmm……
Kurasa tebakanku benar, Nada suaranya memang
mirip banget sama Seira.
Meskipun mungkin cuma perasaan batinku saja.
"Ah,
Sayaka-chan!!"
"Lama
banget sih! Bikin cemas aja tahu…… Eh, siapa tuh cowok di
sebelahmu?"
Sambil berjalan agak jauh, sepasang gadis
melambaikan tangan ke arah kami.
Sepertinya mereka teman-temannya.
"Katanya berbahaya kalau sendirian, jadi
dia berbaik hati mengantarkanku. Namanya Kak Haruki."
"Oh gitu. Emangnya udah kenal?"
"Udah."
"Sejak lima menit yang lalu,
tepatnya."
Banyak banget bahan roasting dari anak
ini……
"Kalau gitu, aku mau pergi duluan
ya."
Kalau aku menunda lebih lama lagi, mood Seira
bisa-bisa semakin memburuk.
Aku berniat segera meninggalkan tempat itu,
tapi——
"Tunggu sebentar."
"……Apa lagi?"
"……Terima kasih banyak, ya."
Sayaka mendengus kecil, mengucapkan terima
kasih.Udah kubilang terima kasih, syukuri dong.
Kurang lebih, ekspresinya menyiratkan hal itu.
Aku tanpa sadar tersenyum pahit.
"Sama-sama. Kalau begitu aku……"
"Ngomong-ngomong, Kak Haruki…… sendirian
aja?"
"Eh?"
"Kalau sendirian, mau gabung main
bareng kami nggak?"
"「Eh!?」"
Mendengar ucapan Sayaka, kedua temannya
kompak mengeluarkan suara seruan kaget bersamaan.Ada apa nih!?
Begitu ekspresi kebingungan yang terpancar
di wajah kedua temannya saat menatap bergantian ke arahku dan Sayaka.
Namun, orang yang paling kebingungan di
sini adalah aku sendiri.
Diajak gabung bermain oleh cewek yang baru
saja dikenal beberapa menit lalu……
Eh?
Jangan-jangan, aku sedang diajak kenalan?
"Ah…… tawaran yang bagus, tapi
sayangnya aku lagi……”
"Lagi bersama temanmu, ya? Nggak apa-apa
kok! Justru makin ramai makin seru, kan……"
"Aku lagi menunggu kekasihku."
Begitu kujawab begitu, ekspresi wajah Sayaka
langsung membeku.
Lalu dalam sekejap berubah menjadi masam tidak
senang.
"Kalau gitu, aku permisi."
Aku buru-buru ngibrit kabur dari tempat itu.
◇ ◇ ◇
"Haruki-kun! Di sini, di sini!"
Begitu aku mendekati titik lokasi janjian,
suara Seira terdengar memanggilku dari jarak agak jauh.
Menoleh ke arah sumber suara, kudapati Seira
yang sudah mengamankan meja makan sedang melambaikan tangan ke arahku.
"Lama banget, sih."
Begitu aku duduk berhadapan dengannya, Seira
menyambutku dengan senyuman lebar merekah.
Tapi matanya sama sekali tidak tersenyum.
Meskipun belum sampai level marah besar, tapi
jelas mood-nya sedang jelek.
"Mengluntang-luntang ke mana aja sampai
ninggalin cewek lemah sendirian? Jangan-jangan sempat-sempatnya nampa cewek
lain, ya?"
Jangan-jangan dia sempat melihat kejadian
tadi?
Kalau benar begitu, alih-alih mencoba mengelak
dengan argumen bodoh, mengaku jujur jauh lebih aman.
"Tadi sempat terseret sedikit masalah
repot."
"Masalah apa?"
Kuceritakan semua kronologi kejadiannya
kepada Seira tanpa ada yang ditutup-tutupi.
……Hanya bagian digodnya saja yang sengaja
kusembunyikan.
Entah kenapa, perasaanku mengatakan kalau
aku jujur soal itu, dia bakal semakin ngambek.
"Kukira kamu kesasar entah ke mana tadi.
……Baik banget sih jadi orang."
"Y, ya…… rasanya nggak tenang aja
kalau dibiarkan begitu saja."
"Giliran aku yang kamu telantarkan
sendirian, tapi giliran cewek lain yang nggak dikenal malah dibantu."
Seira memajukan bibirnya (cemberut) sambil
melayangkan protes.
Sudah kuduga dia bakal ngomong begitu.
Sebenarnya aku ingin membela diri dengan
berkata, ‘Kan kamu sendiri yang bilang nggak apa-apa ditinggal sendirian, kalau
nggak mau ditinggal harusnya dari awal ikut bareng dong’ tapi……
Kalau kuucapkannya, dijamin dia bakal
ngambek total.
"Aduhー. Tahu gitu mending aku terima aja ajakan cowok lain tadi."
"……Kamu sempat diajak kenalan dengan
orang lain?"
"Ya begitulah. Aku kan cantik."
Ucap Seira dengan nada sok bangga
(doyagao).
Aku jadi sedikit menyesal kenapa tadi
tidak langsung bergegas kembali padanya secepat mungkin.
"Yah, tapi begitu mengoperasikan
benda ini, mereka langsung pada ciut mundur dan kabur."
Ucap Seira sambil mengangkat gelas
minumannya.
Isinya jus biasa.
Tapi bentuk sedotannya tidak biasa.
Melengkung membentuk lambang hati (love),
dengan dua lubang sedotan di ujungnya.
Jenis sedotan yang biasa dipakai pasangan
kekasih untuk minum berdua.
Mana mungkin sedotan begitu dipakai sendirian,
jadi kalau ada cowok melihatnya, pasti bakal berasumsi dia sudah punya pasangan
lalu mundur teratur.
Ide yang cerdik juga.
"Ayo cepat makan siang. Perutku udah
keroncongan."
"Bener juga."
Kami menggelar makanan yang masing-masing
kami beli di atas meja.
Aku membeli takoyaki.
Sedangkan Seira sepertinya membeli karaage
(ayam goreng) dan kentang goreng.
"Aku paling suka takoyaki atau
kentang goreng yang teksturnya garing krispi."
Sambil mengomel kecil, Seira terus
menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Padahal takoyakinya cuma ada dua belas
buah, tapi dia sudah melahap delapan buah sendirian……
"Apa? Mau protes?"
"Enggak, nggak ada apa-apa kok."
Mencari gara-gara dengan merusak mood-nya lagi
adalah pantangan terbesar saat ini.
Kalau cukup dengan mengikhlaskan dua buah
takoyaki bisa membuat mood-nya kembali bagus, akan kuberikan dengan senang
hati.
"Rasanya agak gerah, ya."
Sambil mengeluh kecil, Seira mulai menarik
ritsleting rash guard-nya sedikit ke bawah.
Belahan dada putihnya yang tadinya tertutup
kini terekspos jelas.
Kalau dilihat dari arah depan, daya pikat
visualnya benar-benar luar biasa……
"……Hehehe."
Menyadari tatapanku, Seira sengaja menarik
ritsletingnya lebih turun lagi ke bawah.
Hingga akhirnya bagian depan bajunya terbuka
lebar.
Memakai rash guard tapi justru menciptakan
ilusi seolah “memperlihatkan sesuatu yang seharusnya disembunyikan” ternyata
jauh lebih erotis.
Sebuah penemuan fakta tidak penting yang baru
saja kutemukan.
"Hei, jangan menatapku dengan mata mesum
begitu dong. Genit."
Ucap Seira sambil menendang kakiku pelan di
bawah meja.
Eits, ralat, bukan menendang, melainkan
menyentuh dan membelai, ya.
Kakinya yang jenjang terulur meraba-raba
tulang kering dan lututku menggunakan telanjang kaki.
Sepertinya mood-nya sudah kembali bagus dalam
waktu singkat.
"Kalau gitu, tutup lagi ritsletingnya."
"Kan gerah."
Ucapnya sambil melirik menggoda ke arahku,
lalu sengaja melorotkan rash guard dari salah satu bahunya.
Lalu sambil menggeliat meliuk-liuk bagaikan
ulat, dia melepaskan rash guard itu perlahan-lahan sedikit demi sedikit.
Hingga akhirnya baju itu terlepas sepenuhnya.
Aku mencoba mengalihkan pandangan, lalu
melirik lagi, mengalihkan pandangan, lalu melirik lagi……
Mataku terus mengulangnya secara refleks tanpa
bisa dikontrol.
Setiap kali mata kami berpapasan, Seira selalu
menyeringai usil.
Rasanya aku dipermainkan di dalam telapak
tangannya.
"……Aku mau ambil minum dulu."
Tanpa sadar, tenggorokanku terasa kering
kerontang.
Demi mengisi cairan tubuh sekaligus
menenangkan debaran jantungku, aku berdiri dari kursi.
"Tunggu."
Namun, langkahku dicegat oleh Seira.
Matanya memicing tajam menatapku lurus.
Padahal mood-nya tadi sudah bagus……
"Mau ninggalin aku sendirian lagi?"
"Tapi kan cuma sebentar ke sana
doang……"
"Mau ninggalin aku sendirian?"
"……Kalau gitu, mau ikut?"
"Nanti meja kita keburu diserobot orang
lain, tahu. Lagian kalau mau minum, tuh di sini ada."
Ucap Seira sambil menyodorkan gelas
minumannya ke depan.
Gelas dengan sedotan berbentuk hati yang
terkenal sebagai simbol pasangan bucin (baku-couple).
"Tapi, itu kan bekas kamu……"
"Emangnya kenapa? Kan muat buat
berdua, kayak yang kelihatan."
"……"
Seira tersenyum manis penuh kemenangan.
Tapi matanya sama sekali tidak tersenyum.
Tekanan auranya kuat banget.
——Kenapa? Nggak mau berbagi minuman denganku? Jijik, gitu?
Kalau aku menolak, sepertinya dia
benar-benar bakal meledak ngambek di tempat umum.
"……Kalau gitu, boleh aku cicipi
minumannya?"
Seharusnya Seira tadi memakai sisi sedotan
yang sebelah sini.
Aku berniat meraih sisi sedotan yang belum
tersentuh oleh bibir Seira, tapi——
"……Hehehe."
Seira dengan sengaja memutar gelas minumannya
tepat di depan mukaku seolah sedang mengejekku.
Sedotannya ikut berputar.
Alhasil, sekarang kami berdua sama sekali
tidak tahu sisi sedotan mana yang tadi dipakai oleh Seira.
"Ngh."
Lalu Seira langsung menyesap sisi sedotannya,
sambil melemparkan tatapan lurus ke arahku.
……Artinya, kami harus minum dari sedotan yang
sama secara bersamaan.
Baiklah, akan kutelan tantangan itu.
Aku ikut menyedot minumannya.
Cairan berwarna merah muda mulai mengalir naik
melewati sedotan.
Rasa manis buatan yang pekat menyebar memenuhi
rongga mulutku.
Saat aku mengalihkan pandangan dari gelas ke
arah depan, wajah Seira sudah berada tepat di hadapan mukaku.
Sepasang manik mata biru jernih menatapku
lekat-lekat.
Pesona wajahnya yang begitu misterius dan
indah bagaikan karya seni religius terpampang nyata tanpa cela seperti biasa.
Satu-satunya hal yang berbeda dari
biasanya adalah pipi putih mulusnya kini merona merah padam.
Kurasa, rona wajahku sendiri saat ini
pasti memerah dengan tingkat warna yang kurang lebih sama.
Oleh karena itu, aku tidak boleh membuang
muka, aku harus balas menatapnya lekat-lekat.
Seira juga balas menatapku tanpa mau kalah.
Tiga detik sejak kami saling bertatapan.
Manik mata Seira tampak bergetar.
Dua detik berikutnya, manik mata biru
Seira bergeser melirik ke arah kiri.
Lalu bibirnya yang lembut terlepas dari
sedotan.
"……Cukup sekian ya hukumannya buat hari
ini."
Ucapnya dengan wajah merona. Melihat bibirnya,
aku tiba-tiba berpikir—
——Aku ingin menciumnya.
Tepat di saat pikiran itu melintas di benakku.
"Ah, eh…… Gawat!!"
Seira tiba-tiba menundukkan wajahnya,
menyembunyikan muka.
Aku kebingungan dibuatnya atas tindakan
reaktif Seira yang mendadak itu.
……Jangan-jangan, suara hatiku tadi sempat
keceplosan keluar terdengar olehnya?
"Ada apa?"
"……Adikku, ada di sekitar sini."
"Adik? Di mana……"
"Jangan kepo menoleh ke sana-sini! Nanti
ketahuan!!"
Dicegah dengan nada suara penuh penekanan, aku
langsung kaku membeku.
Beberapa saat kemudian, Seira menghela napas
pendek.
"……Sudah
pergi."
"O-oh,
begitu. Ngomong-ngomong…… hubungan kalian lagi nggak akur, ya?"
"……Bukan berarti nggak akur,
sih."
Ucap Seira sambil membuang muka.
Tapi kelihatannya juga tidak bisa dibilang
akur.
"Soalnya pelindungku…… tipe orang
yang suka ikut campur urusan pergaulan orang lain, sih."
"Oh."
"Kalau sampai ketahuan aku pergi ke
kolam renang bareng cowok, entah omelan apa lagi yang bakal kudengar.…… Meskipun perginya sebagai teman, ya."
"B, begitu, ya……"
Sebagai teman, ya……
Yah, memang tidak ada yang salah dengan
kalimat itu, sih.
"Dia suka mengadu, ya?"
"Enggak sih, belum pernah ngadu juga
sebenarnya…… cuma anak itu tipe yang hobi mengomentari urusan relasi sosial
orang lain."
"Pahamlah."
"Pokoknya lebih baik jangan sampai
ketahuan.…… Oh ya, bukan berarti aku malu jalan bareng sama kamu karena kamu
cowok jelek atau gimana, lho ya? Cuma situasinya aja yang absurd."
"Bener juga. Jauh lebih absurd lagi cewek
yang hobi jalan-jalan di sekolah tanpa pakai celana dalam, sih."
"I, iya…… kurasa itu nggak separah
yang kamu bayangkan kok? Paling tidak, ada sekitar tiga orang cewek di sekolah
kita yang punya fetis sama kayak aku. Semuanya cuma sok pasang akting jaim aja
di luar."
"Bahkan di dunia eroge tingkat atas
pun nggak bakal nemu tiga orang sekaligus kali."
Sambil melempar candaan ringan seperti
itu, kami berdiri meninggalkan kursi.
Demi menghindari risiko tertangkap basah
oleh adik Seira.
"Ini, terima kasih ya."
Begitu kami kembali merapat ke area
pinggir kolam, aku mengembalikan rash guard kepada Seira.
Mengingat dia tadi sempat melepasnya di
tengah jalan, pada akhirnya benda itu memang tidak begitu terpakai, sih.
"Biar kukembalikan ke dalam
loker."
"Oke.
Eh, awas jangan diendus-endus bau keringatku, ya."
"Mana mungkin kulakukan!"
Aku membalas omelan Seira lalu melangkah pergi
kembali ke ruang ganti.
Membuka pintu loker, lalu merapikan rash guard
ke dalamnya……
"……Rasanya manis keasaman."
Tanpa sadar aku mendekatkan hidungku sedikit
lebih dekat.
Mungkin karena sisa aroma losion tabir surya,
ya.
Aroma buah jeruk sitrus yang menyegarkan
tercium lembut.
"Lama banget."
"Kamu nggak diem-diem ngendus bajuku,
kan?"
"Enggak lah."
Usahakan menjawab dengan nada senatural
mungkin.
Entah Seira bisa melihat kebohonganku atau dia
cuma sekadar iseng menjahiliku saja.
"Hih, beneran nih?"
Dia menyenggol sikunya ke pinggangku.
Lalu tersenyum ceria sambil mengulurkan
tangannya untuk menggenggam jemariku.
Tangan lembut seorang gadis.
"……!"
"Ngomong-ngomong, habis ini…… mau ke mana
lagi?"
"E, hmm, gimana ya……"
Sambil pura-pura berpikir, aku membatin dalam
hati.
Jarak kami terasa begitu dekat.
Bukan cuma telapak tangan saja, bahkan lengan
kami pun saling bersentuhan satu sama lain.
Kucoba melangkah sedikit lebih rapat
mendekatinya.
Alih-alih menjaga jarak, Seira justru merapat
semakin dekat ke arahku.
Bahu kami saling bersentuhan.
Suasananya terasa sangat mendukung.
"Bagaimana kalau kita coba main ke kolam
ombak?"
"Hih, boleh juga tuh."
Kami berdua berjalan beriringan menuju ke
kolam ombak buatan.
Kolam rekreasi yang dilengkapi mesin pembuat
ombak buatan menyerupai lautan asli.
"Kita nggak perlu sewa ban pelampung
lagi?"
"Yah, aku punya rencana lain."
Kami berdua masuk ke dalam air kolam.
Seira tampak…… agak sedikit kecewa.
"Bukankah bakal jauh lebih seru kalau
kita pakai ban pelampung?"
Naik di atas ban pelampung lalu
terombang-ambing dihempas ombak.
Itu pasti jauh lebih asyik, pikir Seira.
Yah, memang benar sih, kebanyakan pengunjung
lain juga menikmati kolam dengan cara seperti itu, tapi……
"Sebagai gantinya, bagaimana kalau kamu
naik ke punggungku?"
Mendengar tawaranku, Seira membelalakkan
matanya lebar-lebar.
Lalu
tersenyum ceria.
Ide
bagus juga. ……Kalau begitu, dengan senang hati aku
terima tawaranmu."
"Kalau gitu, naiklah."
Aku berjongkok, membalikkan badanku
membelakangi Seira.
Dia melingkarkan kedua tangannya ke
pundakku dan membiarkan seluruh berat badannya bertumpu padaku.
Aku bisa merasakan keempukan dadanya
menempel telak di punggungku.
"Ngomong-ngomong, tadi kamu sendiri
kan yang bilang lebih suka dipeluk dari belakang."
"Tadi itu cuma bohong."
"Ara, ya kah?"
"……Hoi, siap-siap ya."
"Wawah……"
Aku berdiri perlahan dengan Seira yang
masih menempel di punggungku.
Lalu melangkah masuk berjalan ke dalam
kedalaman air kolam.
"Gimana? Berat nggak?"
"Kalau kujawab berat, kamu pasti bakal
ngamuk, kan."
"Mana mungkin aku ngamuk. Jadi, gimana
rasanya?"
"Karena di dalam air, jadi rasanya
ringan."
"Kalau di darat, berarti rasanya berat,
gitu!?"
"Bukannya begitu maksudku."
Entah apa yang lucu, Seira malah tertawa
terkikik geli.
Lalu mengulurkan kedua tangannya ke depan.
"Nah, ayo jalan lebih ke depan lagi.
Hadapi terjangan ombaknya."
"Jangan kasih perintah yang mustahil
dong."
"Bukankah ini fungsinya menggantikan ban
pelampung?"
"Iya, iya."
Sesuai instruksi Seira, aku melangkah maju
menyongsong datangnya ombak buatan.Byur!
Air ombak menerpa tepat di wajahku.
"Ahahaha! Lumayan seru juga, ya."
"Uhuk…… bener juga……"
Aku mulai sedikit merasa menyesal.
Namun, seolah bisa membaca isi hatiku yang
mulai goyah, Seira malah memelukku semakin erat.
Lalu berbisik tepat di dekat telingaku.
"Ayo, berjuanglah, berjuang."
"……Iya, iya."
Didorong dan disemangati terus oleh Seira,
aku harus rela menerjang terjangan ombak berkali-kali.
Disiksa fisik begini demi bisa merasakan
sensasi keempukan dadanya di punggungku.
Sungguh malang nasibku.
"Hei, aku punya satu permintaan lagi,
boleh?"
"Apaan lagi?"
"Bagaimana kalau kita coba main
kandaguruma (gendong pundak)?"
Bisikannya berbisik lirih di telingaku.
Gendong pundak, ya……
"Hmm, aku nggak tahu bisa atau nggak,
nih?"
"……Itu kalimat halus yang menyiratkan
kalau aku ini berat, ya?"
"Bukan begitu, masalahnya aku belum
pernah menggendong orang di pundak sepanjang hidupku, jadi aku nggak tahu bakal
bisa seimbang atau enggak."
"Ah, begitu ya. Masuk akal
juga."
"Yah, biarpun begitu, nggak ada
salahnya dicoba dulu."
Aku menurunkan Seira dari punggungku sejenak.
"Kira-kira posisinya harus gimana?"
"Diam aja di tempat. Nanti aku yang
bakal ngangkat kamu dari bawah."
"Paham."
Aku menundukkan kepalaku ke dalam air.
Tepat di depan mukaku, ada area bokong
Seira.
……Bentuknya bagus juga, ya.
Sambil memikirkan hal-hal mesum di dalam
kepala, aku menyelipkan kepalaku di antara kedua paha Seira.
Meraih pergelangan kakinya, lalu
mengangkatnya ke atas secara bersamaan.
"Wawah!"
"Fuh……" Berhasil ternyata."
Mungkin karena dibantu efek daya apung air
(buoyancy), mengangkatnya terasa jauh lebih mudah dari perkiraanku.
Namun begitu tubuh Seira terangkat keluar
dari permukaan air, bebannya langsung terasa berkali-kali lipat lebih berat.
Sepertinya tidak akan bertahan lama.
"Gimana? Rasanya digendong di
pundak?"
"Pemandangannya kelihatan tinggi banget.
Lumayan seru."
Suara riang gembira terdengar dari atas
kepalaku.
Sepertinya dia menikmati posisinya.
Syukurlah kalau usahaku tidak sia-sia.
"Coba jalan-jalan sebentar keliling
kolam, dong."
"Siap, laksanakan."
Aku mulai melangkahkan kakiku, berjalan
mengitari kolam.
"Kalau Haruki-kun sendiri gimana
rasanya?"
"Gimana apanya…… aku kan cuma jadi alas
tumpuan beban doang."
"Kan dapat bonus keuntungan, kan?
Ngaku deh, apa rasanya waktu bokongku menempel pas di atas kepalamu?"
"Rasanya…… ya cuma ketutup kepala
doang, lah."
Aku tidak bisa melihatnya secara langsung,
dan kontak fisiknya juga terbatas.
Jauh lebih menggoda bagian paha mulus yang
berada tepat di samping pipiku ini, tahu.
"Ngeles mulu, deh. Nih, rasain
nih……"
Entah mengira pembelaanku cuma bentuk jaim
belaka, Seira yang sedang di atas pundakku mulai menggoyangkan pinggulnya ke
depan dan ke belakang dengan sengaja.
Dia berniat menindihkan bokongnya ke kepalaku.
Namun, melakukan gerakan barbar semacam itu di
atas pundak orang yang sedang menggendong di dalam air……
"Woy, jangan banyak bergerak! Eh,
gawat……!!"
"Kyaa!"
Bersamaan dengan hilangnya keseimbanganku,
tubuh Seira meluncur jatuh tercebur ke dalam air kolam.
Aku buru-buru merangsek maju mendekati Seira
lalu merangkul tubuhnya untuk mengangkatnya berdiri.
"Kamu nggak apa-apa……?"
"E, ehem……"
Seira mengangguk sambil memeluk erat
tubuhku.
Lalu seketika sadar dan buru-buru melepaskan
pelukannya untuk menjaga jarak.
"M, maaf ya. Aku tadi sedikit kebablasan
main-mainnya."
Dia kelihatan malu karena sempat refleks
memelukku tadi.
Namun, ada masalah yang jauh lebih gawat
daripada rasa malu itu.
"Seira,
bagian dadamu!"
"Eh?
Wahh!!"
Seira
buru-buru menutupi kedua dadanya dengan kedua tangan.
Dampak
terjatuh tadi membuat atasan baju renangnya terlepas melorot.
"Haruki-kun, itu di sebelah sana……"
"B, biarkan aku yang ambil!"
Untungnya, atasan bikini itu mengapung tidak
jauh dari posisi kami.
Aku buru-buru memungutnya.
"Nih."
"Kalau di tempat terbuka begini aku nggak
bisa langsung pakainya……"
"B, bener juga, ya."
Aku ikut panik dibuatnya.
Sambil menutupi dadanya rapat-rapat
menggunakan tangan, Seira melirik, mengisyaratkan dengan dagunya ke arah
pinggir kolam.
"Ayo kita naik ke daratan dulu."
"Ide bagus. ……Bagaimana kalau di balik
patung besar itu, kelihatannya cukup teduh dan terlindung dari bayangan."
"Boleh juga."
Aku berjalan menuntun Seira naik ke pinggir
kolam sambil menutupi tubuhnya dari pandangan orang lain.
Lalu menepi merapat tepat di balik dinding
patung besar tersebut.
"Bisa tolong…… buatkan bayangan
penghalang?"
"……Begini caranya?"
Aku merentangkan kedua tanganku di dekat
wajah Seira.
Punggungnya menempel ke dinding patung,
sementara bagian depannya terlindungi oleh tubuhku.
"T-Terima kasih.
Ngomong-ngomong……"
Seira menatapku dari bawah dengan wajah
yang merona tipis.
A, ada apa lagi……
"K-Kamu…… sempat lihat?"
"……Nggak lihat kok."
"Beneran? Jujur jawab."
"……Cuma ngintip sedikit."
Hanya sedikit saja, sungguh.
Puncaknya saja.
Indah banget.
"……"
Seira terdiam seribu bahasa.
Meskipun itu murni kecelakaan, rasanya
mustahil kalau dia tidak merasa risi.
Apa dia bakal marah besar?
Yah, kalau sebatas dimarahi sih aku masih
terima dengan senang hati.
Tapi kalau sampai dia menangis.
Kalau sampai membuatnya sedih atau ketakutan……
"……Mau lihat lagi?"
Berbeda jauh dari kekhawatiranku, kalimat yang
keluar dari mulut Seira justru di luar dugaan.
"Ha?"
Karena tidak paham maksudnya, aku tanpa sadar
meminta pengulangan.
Lalu Seira membuang muka, tidak mau menatap
mataku, namun berucap dengan artikulasi yang sangat jelas.
"Mau lihat lagi lebih jelas? ……Kalau mau,
bakal kutunjukkan sedikit. Cuma sedikit saja."
Selesai berkata begitu, Seira perlahan-lahan
mulai melepaskan jarinya satu per satu dari menutupi dadanya.
Keindahan kulit putih mulusnya terekspos
perlahan-lahan ke udara bebas.
Dan tepat saat bagian ujung puncaknya nyaris
tersingkap sempurna di depan mataku—
"K-Kakak sedang diserang penjahat!!!"
Sebuah teriakan histeris memecah keheningan.
Menoleh ke sumber suara, kudapati sosok gadis
berambut hitam—Sayaka —berdiri di sana.
……Kakak? Eh, tunggu, kalian berdua ini
ternyata kakak beradik!?
Tapi, kalau dipikir-pikir, muka mereka memang
mirip sih……
Bukan saatnya mikirin hal itu sekarang!!
Aku langsung melompat berdiri tegak secara
refleks.
"B, bukan! Ini cuma salah paham!!"
"Semua pelaku kriminal pasti ngomongnya
begitu!! I, iya benar…… aku harus panggil polisi sekarang!"
"T, tunggu sebentar! Dengarkan
penjelasanku dulu……"
Melihat Sayaka hendak merogoh ponselnya, aku
melangkah maju mendekatinya untuk memberikan klarifikasi.
Namun, tindakan itu justru berakibat fatal,
membuat Sayaka mundur ketakutan dengan gestur waspada tinggi.
Terus aku harus bagaimana lagi……
"Haruki-kun. Tolong kembalikan baju
renangku."
Di tengah kebingunganku yang sudah mencapai
puncaknya, sebuah suara menegurku dari belakang.
Di sana berdiri Seira dengan wajah merah
padam, kedua tangannya sibuk menutupi dada.
……Ah, benar juga, baju renangnya masih
kusempatkan pegang di tangan.
"Ah, maaf."
Aku buru-buru menyerahkan pakaian renang itu
kepada Seira.
"Sayaka. Dengerin penjelasan Kakak dulu
ya, sebentar."
Ucap Seira sambil membalikkan badannya
membelakangi kami.
Lalu buru-buru mengenakan kembali atasannya
dengan panik.
……Tadi itu tidak perlu repot-repot aku
bertindak jadi perisai pelindung bayangan tubuhnya dong, ya?
Setelah urusannya beres, Seira kembali
berbalik menghadap ke arah Sayaka.
"Ehem, anu…… pertama-tama, Kakak
sedang tidak diserang, kok."
"T, tapi tadi Kakak baru saja
dilucuti bajunya dan didesak tak berdaya begitu, kan!"
……Kalau dilihat dari sudut pandang pihak
luar, sanggahan itu mustahil untuk dibantah.
"Baju renangnya terlepas karena
kecelakaan murni. Aku cuma minta tolong dia bikinin bayangan penutup
tadi."
"Mana ada baju renang bisa lepas sendiri
karena kecelakaan biasa? Kecelakaan macam apa yang nggak masuk akal
begitu!"
"Meskipun kamu ngomong begitu……"
Seira menatapku meminta pertolongan dengan
ekspresi memelas.
Tolong jangan libatkan aku dalam urusan ini.
Bahkan aku sendiri juga bingung kenapa
situasinya bisa berujung runyam begini.
"Tadi itu sempat hampir tenggelam, terus
pas meronta-ronta bajunya nggak sengaja ikut tersangkut."
"Alasan klasik! Jelas-jelas Kakak sengaja
diapa-apain, kan!!"
Hadehh, ampun deh……
Mulai malas menghadapi situasi ribet ini.
"……Seandainya benar dibilang sengaja,
emangnya ada masalah besar?"
"M, masalah besar ya jelas ada lah, itu
kan……!"
"Karena dia ini adalah kekasihku."
"「Ha?」"
Seira dan Sayaka berteriak kaget secara
bersamaan.
Ngomong
apa sih cowok ini?
Begitu
ekspresi kebingungan yang dipancarkan mata Seira saat menatap ke arahku.
Woi,
jangan ikut-ikutan pasang muka bingung begitu dong.
"Berbuat mesra sama pacar sendiri
emangnya salah."
Selesai berkata begitu, aku langsung menarik
pinggang Seira secara paksa dan merangkkulnya mendekat ke arahku.
Mungkin karena terlalu kencang menariknya,
keseimbangan tubuh Seira langsung goyah.
Praktis membuat tubuhnya limbung jatuh
menubruk merapat ke dadaku.
"Eh? A, ah……"
Mendengar kalimatku barusan, Seira sepertinya
baru sadar dan memahami maksud sandiwara yang sedang kuperankan.
Tanpa ragu-ragu, dia langsung membalas dengan
memeluk erat tubuhku dengan berani.
Aku juga merangkul balik bahunya agar
skenarionya kelihatan semakin meyakinkan.
"U, udah dibilang kan begitu
keadaannya!"
Ucap Seira setengah membentak, penuh
penekanan.
Lalu ia menyembunyikan wajahnya yang merah
padam di balik dadaku karena malu.
"M, m, mana mungkin……!?"
Sayaka membuka-tutup mulutnya, tidak bisa
berkata-kata.
"Meskipun statusnya sepasang kekasih,
tapi mana mungkin orang-orang waras mau pamer bermesraan secara terbuka di
bawah terik matahari di hadapan publik kayak begini kan!?"
I, iya…… itu memang benar sih.
Tapi kan tadi itu beneran murni kecelakaan.
"Kalau beneran kejahatan kriminal,
jauh lebih nggak masuk akal lagi, kan."
"I, itu……! I, iya sih, tapi…… tetap saja, mana mungkin Kakak mau merendahkan diri selancang itu…"
Sayaka mulai meracau, bergumam sendiri.
Sepertinya dia masih belum bisa mempercayai
apa yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri.
Padahal Seira sendiri yang bilang secara
langsung kalau itu bukan tindakan kriminal, makanya terima saja kenyataannya……
"Sayaka."
Panggil Seira tetap pada posisi memeluk erat
tubuhku.
Dengan wajah memerah padam menahan malu, dia
melayangkan tatapan matanya ke arah Sayaka.
"I,
iya! A, ada apa Kak?"
"……Seperti yang kamu lihat, aku dan
dia memang punya hubungan spesial."
"T, tapi……"
"Bukan karena dipaksa, kok. ……Jadi tolong maklumi dan percayai aku, ya."
Ucap Seira dengan nada suara lirih nyaris
tak terdengar saking kecilnya.
Mendengar ketulusan di balik suara
kakaknya, Sayaka membelalakkan matanya lebar-lebar, lalu mengangguk patuh
seolah akhirnya bisa menerima situasi tersebut.
"……Aku mengerti."
"Satu lagi, soal kejadian hari ini……
tolong anggap saja kamu tidak melihat apa pun."
"……Baik. Aku paham."
Sayaka menggigit bibir bawahnya karena
sebal, lalu melotot tajam ke arahku.
Kalau sudah paham, ekspresi wajahnya
tolong dikondisikan supaya jangan kelihatan sinis begitu, dong.
"Untuk hari ini, aku mengalah."
Ucapnya mendeklarasikan kekalahan, lalu
berbalik melangkah pergi meninggalkan tempat itu dengan hentakan kaki kuat.
……Untuk saat ini, tuduhan palsu itu sudah
dibersihkan, ya?
"Maaf ya, Seira. Gara-gara aku,
situasinya jadi rumit begini."
"Enggak kok, nggak apa-apa. Adikku itu
tipis banget, gampang kemakan asumsi soalnya. Harapannya sih semoga dia nggak
cerita ke siapa-siapa. Tapi, daripada itu……"
"Ya?"
"U-untuk sekarang, boleh lepas
pelukannya, kan?"
"Eh?
A, ah…… tentu saja!"
Aku
buru-buru melepaskan tanganku dari pundak Seira.
Lalu
melonggarkan rangkulan lengannya.
Namun, Seira masih tetap bergelayut erat
memelukku.
"Seira?"
"Boleh tanya satu hal?"
"A, ada apa?"
"……Soal yang tadi, seberapa besar itu
beneran?"
Beneran? Ah……
"Tentu saja, tadi itu bukan
disengaja."
"Ah, iya…… bukan itu maksudku."
Bukan itu?
Itu artinya……
"Soal hubungan sebagai pasangan
kekasih."
"A, ah…… itu, soalnya……"
Aku merenung sejenak sebelum menjawab.
"……Cuma alibi sandiwara aja, kok."
"Huh, begitu ya."
Mendengar jawabanku, Seira akhirnya melepaskan
diri dan mengambil jarak dariku.
"Yah, anggap aja hari ini kita pakai
alibi itu, deh."
Ucapnya sambil menyunggingkan senyuman
puas.
◇ ◇ ◇
Setelah itu, aku menghabiskan sisa hari
bersama Seira bermain di kolam renang sampai taman bermainnya tutup.
Waktu aku mengantarnya pulang sampai ke
dekat rumahnya, matahari sudah mulai terbenam.
"Terima kasih untuk hari ini. Seru banget."
"Aku juga senang. Terima kasih
kembali."
Meskipun aku sebenarnya bukan tipe orang
yang hobi main ke kolam renang, aku betah dan ikut bersemangat.
Semua itu karena aku senang bisa menghabiskan
waktu bersama Seira.
"Jaraknya juga nggak terlalu jauh, jadi
aku kepingin main ke sini lagi kapan-kapan."
Dia bahkan melontarkan ajakan kedua kalinya.
Jantungku mendadak berdegup kencang.
"B, begitu, ya…… Kalau begitu, bagaimana
kalau kita ke pantai lain kali?"
"Boleh juga. Tempat yang bernuansa
terbuka luas sepertinya asyik."
Mendengar jawabannya, wajah Seira tampak
bersemu merah, mungkin terpantul cahaya matahari terbenam.
Atau jangan-jangan, maksudnya dari sudut
pandang pakaian terbuka (eksposor)?
"Kalau dijaga dan dilindungi sama
Haruki-kun, rasanya aku jadi pengin coba pakai baju renang yang jauh lebih
menantang lagi, deh."
"O, oou……"
Meskipun senang diandalkan seperti itu,
rasanya itu juga berarti dia sama sekali tidak menganggapku sebagai seorang
pria.
Perasaan jadi terasa rumit.
Meskipun dia memang menganggapku sebagai
seorang pria, mungkin dia tidak akan mengajakku pergi ke kolam renang berdua
dari awal, sih……
"Haruki-kun juga pasti pengin lihat,
kan?"
"Eh? Y, yah…… t, tentu saja."
"Mumpung lagi di sini, bagaimana kalau
baju renang selanjutnya nanti dibelikan oleh Haruki-kun, ya?"
Aku yang milih……!?
Beneran nih? Awas ya, nanti kupilihkan model yang super seksi, lho.
"Y, yah…… kalau memang aku dipercaya
sih……"
"Fufu,
cuma bercanda kok."
"Apa!"
Seira tersenyum usil sambil menempelkan
jari ke bibirnya.
Sialan…… aku dijaili lagi.
"Ah…… omong-omong, tadi itu kan belum, ya."
"Belum, apa maksudnya?"
"Tadi pagi kan kamu sempat
menebaknya, kan."
Tadi pagi…… ah, soal rok… ralat, soal bagian
dalam terusan panjangnya, ya.
Tebakanku
soal dia yang sedang memakai pakaian renang waktu itu.
"Bakal
kutunjukkan sekarang, deh."
Ucap
Seira sambil mengulurkan tangannya meraih ujung kain terusan miliknya.
Tapi,
kan dia sedang pakai baju renang…… Eh, tunggu
dulu?
Jangan-jangan!?
"Cuma sedetik aja, kok."
Seira mengangkat ujung terusannya ke atas
selama sedetik.
"Kalau begitu, sampai jumpa besok ya.
Mohon kerja samanya juga untuk ke depannya."
Selesai berkata begitu, Seira memutar
balik badannya.
Lalu meninggalkan diriku yang terpaku syok
kebingungan di tempat.
Previous Chapter | ToC | Next Chapter


Post a Comment