Chapter
1
Arc Kuis yang Membuat Jantung Berdebar-Debar
──Omong-omong, itu jenis yang transparan dan ecchi
(nakal) lho.
Hari saat aku menerima laporan seperti itu, aku jadi
penasaran dengan apa yang ada di dalam rok Seira Saotome, sampai-sampai tidak
bisa berkonsentrasi di kelas.
Aku hampir saja tanpa sadar mencari gambar dari "jenis
transparan dan ecchi" tersebut, lalu mati-matian menahannya.
Malam harinya, aku membayangkan wujud Saotome yang
mengenakan "jenis transparan dan ecchi" itu, lalu merasa resah
dan gelisah seorang diri.
Akibatnya, aku jadi kurang tidur.
……Sudah tidak boleh keterusan seperti ini.
Aku memutuskan untuk memblokir Saotome.
Berkat itu, aku bisa menghabiskan waktu dengan tenang
pada hari itu, tapi……
"Hei, Himuro-kun. Maksudnya apa ini?"
Saat jam istirahat siang keesokan harinya.
Saotome mendatangi dan mengajakku bicara.
Tidak ada maksud apa-apa, dan tidak ada apa-apa juga.
"Ngomongin apa sih?"
"……Sebentar, ikut aku ke sini."
"Yah, buat apa……"
"Pokoknya ikut!"
Suara Saotome menggema ke seluruh ruang kelas.
Kami jadi menjadi pusat perhatian yang aneh.
……Mau bagaimana lagi.
"Iya, iya."
Untuk menyelesaikan urusan dengan Saotome, aku pun
mengekor di belakangnya.
Tujuan kami adalah bagian belakang gimnasium.
"Apa maksudnya kamu memblokirku?"
"Ya supaya aku tidak menerima pesan yang tidak
menyenangkan,lah."
Bahkan tanpa perlu berpikir dingin pun, itu adalah
pelecehan seksual.
Sebesar apa pun kecantikan seorang gadis, bukan berarti
boleh melakukan pelecehan seksual.
"……Begitu ya."
Entah karena mengerti dengan argumen ku atau
bagaimana, Saotome mengangguk dengan ekspresi serius.
"Memang benar. Aku minta maaf karena sampai sekarang
tidak memikirkan perasaanmu."
"O, ooh…… Bukan apa-apa, asal kamu paham saja sudah
cukup."
Ternyata dia cukup jujur untuk meminta maaf, ya.
Yah, kalau begitu aku juga akan melupakan kejadian yang
sudah-sudah dan—
"Mari kita buat dalam bentuk kuis."
"Kenapa jadi begini!"
Bukankah seharusnya itu dihentikan saja!
Mengabaikan perkataanku, Saotome melanjutkan
pembicaraannya dengan penuh percaya diri.
"Kesempatanmu cuma satu. Tapi, baik benar maupun
salah, nanti jawabannya akan kuberi tahu."
"Kuis seperti itu, apa untungnya buat aku,
hah?"
"Bagus sekali kamu bertanya."
Mendengar pertanyaanku, Saotome mencondongkan tubuhnya ke
depan.
"Kalau kamu jawab dengan benar, akan kutunjukkan
jawabannya."
"……Ha?"
"M, makanya…… a, aku bilang akan kutunjukkan."
Akan kutunjukkan.
Menunjukkan apa?
Kalau dipikirkan dari konteksnya, pasti pakaian dalam.
"Yang benar saja."
"Aku tidak berbohong. Demi kehormatan keluarga Saotome."
"Kehormatan keluargamu murahan banget, ya."
Kudengar kau tidak memakai apa-apa!
"Sudahlah,
tidak usah banyak omong. Cepat, coba tebak."
"Huft……"
"Omong-omong,
hari ini luar biasa lho."
Saotome
berkata begitu dengan rona tipis di wajahnya.
Luar biasa, maksudnya……
Tanpa sadar, lamunanku tadi malam melintas di benakku.
"Hitam?"
"Mana mungkin aku mengenakan warna yang sama selama
dua hari berturut-turut."
Saotome berkata dengan nada meremehkan.
Mana tahu, siapa tahu aku memang memakainya!
Ah, gawat.
Kalau begini, aku bisa mengulangi kesalahan kemarin.
"Padahal aku sudah berbaik hati memberikan petunjuk
lho."
"Aku sama sekali tidak tertarik. Kalau
begitu……"
Aku mencoba memutus pembicaraan secara paksa dan beranjak
pergi dari tempat itu.
Namun, Saotome mencengkeram lenganku.
Lalu, dia berbisik di dekat telingaku.
"Hari ini, aku tidak memakai apa-apa."
……Kamu bercanda?
◇ ◇ ◇
──Hari ini, aku tidak memakai apa-apa.
Perkataan Saotome itu terus mengusik pikiranku, membuat
makan siangsuapanku jadi hambar.
Pelajaran di jam keempat, setelah jam istirahat siang.
Aku tetap tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran.
Sebelum aku sadar, pandanganku sudah mengarah ke tempat
duduk Saotome.
Seperti biasa, dia mengikuti pelajaran dengan postur
duduk yang baik, punggungnya tegak lurus.
Dari balik roknya, sepasang kaki putih dan jenjang
terulur keluar.
Layaknya seorang wanita yang anggun, kedua kakinya
tertutup rapat.
Tentu saja, bagian dalamnya tidak bisa dilihat.
Tapi, aku penasaran.
"……?"
Saat aku mendongak, tatapan kami berpapasan.
Saotome tersenyum nakal.
Sepertinya dia menyadari kalau aku sedang
memerhatikannya.
Merasa canggung, aku kembali menghadap ke arah papan
tulis.
Tapi, gawat juga ya……
Hari ini giliranku piket.
Selepas sekolah pun aku masih harus bersama Saotome.
◇ ◇ ◇
Lalu, sepulang sekolah.
"Mohon bantuannya lagi ya hari ini,
Himuro-kun."
"……Ah."
Seperti biasa, kami melanjutkan pekerjaan di dalam kelas.
Namun, aku tidak bisa menahan rasa penasaran mengenai apa
yang ada di dalam rok Saotome.
Panjang roknya sendiri berada di atas lutut, cukup pendek
layaknya anak SMA zaman sekarang, tapi mungkin karena dia seorang putri
bangsawan.
Pertahanannya sangat ketat.
Dia sama sekali tidak pernah berjalan dengan langkah
lebar, jadi kelihatannya seperti hampir kelihatan tapi sebenarnya tidak.
Justru karena itulah, aku jadi semakin penasaran.
Tanpa sadar, mataku terus mengikutinya.
Dan setiap kali tatapan kami bertemu, Saotome tersenyum
nakal.
Kesabaranku sudah di ambang batas.
"Ngomong-ngomong."
Tidak tahan lagi, aku mengajaknya bicara.
"Apa?"
"Sebenarnya apa maksudmu?"
"Apanya?"
"……Soal
tidak memakai celana dalam, soal warna, dan lain-lain."
"Secara singkat ya, hobi... mungkin?"
Hobi, ya.
Singkatnya, dia mempermainkanku untuk bersenang-senang.
Hal itu sendiri sudah kusadari sejak awal. Tapi,
masalahnya bukan di situ.
"Kenapa harus aku?"
Aku tidak merasa pernah melakukan hal yang membuatnya
menyukaiku.
Namun, jika perilaku semacam ini terus berlanjut setiap
hari…… mau tidak mau aku jadi berpikir, "Jangan-jangan dia punya perasaan
padaku?"
"Kamu tidak akan menyebarkannya ke mana-mana,
kan?"
"Apa kamu tidak takut disangka macam-macam dan
diserang? Padahal sekarang kita
sedang berduaan."
"Apa? Apa kamu berniat menyerangku sekarang?"
"……Yah, tidak juga sih."
"Nah, kan."
Saotome terkikik geli.
Aku juga punya harga diri, jadi aku tidak mungkin
melakukan hal semacam itu, tapi……
Pikiranku dibaca sejelas itu membuatku kesal.
"Jujur saja, ini sangat mengganggu. Hentikan. Ini tidak menyenangkan."
"Itu bohong."
"Kenapa kamu berpikir begitu? Apa menurutmu
senang dilecehkan secara seksual oleh wanita yang tidak kamu minati?"
"Padahal kamu sendiri menatapku dengan mata
penuh nafsu begitu. Enak saja bicara."
Jleb.
"Tidak ada hal seperti itu."
"Oh, begitu ya. Kira-kira itu cuma salah pahamku
saja, ya. Kalau begitu baguslah."
Saotome
tertawa riang.
Perempuan
ini……
Aku
mencoba untuk membantah, tapi kata-kata yang tepat tidak kunjung keluar.
Melihatku
begitu, Saotome tertawa geli lalu menepuk kedua tangannya.
"Baiklah, cukup sampai di sini bicaranya. ……Ayo kita
selesaikan pekerjaannya."
"Sebelum itu, boleh aku tanya satu hal?"
"Apa?"
"Kamu benar-benar tidak memakainya?"
Bagaimanapun caranya, aku ingin mendebat sang gadis suci
berhati licik ini sampai bungkam.
Kepalaku dipenuhi oleh hal itu.
"Wah, kamu masih penasaran rupanya? Hmm, kira-kira
yang mana ya?"
"Begitu. Berarti itu bohong, ya."
"……Ha?"
Saotome mengerutkan keningnya.
Sikap tenangnya selama ini mendadak runtuh.
Dalam hati, aku tersenyum puas.
"Kenapa kamu bisa menyimpulkan begitu?"
"Aku rasa kamu tidak punya keberanian sebesar
itu."
Sejujurnya, aku yakin dia memang tidak memakainya.
Karena sebelumnya, dia pernah memasukkan celana dalam
yang habis dilepas ke dalam saku (yang berarti saat itu dia tidak memakainya).
Kalau sudah pernah melakukannya sekali, dia pasti akan
melakukannya untuk kedua kalinya.
"Lagian, kamu tidak bisa menegaskannya dengan
mantap, itu juga mencurigakan. Bukankah itu karena sebenarnya kamu
memakainya?"
"……Ck."
Saotome menggigit bibirnya dengan ekspresi kesal, matanya
bergeser ke sana kemari.
Dia pasti sedang mencari sanggahan.
Lalu, beberapa saat kemudian, dia melotot tajam ke
arahku.
"……Sungguh. Aku tidak memakainya. Puas
sekarang?"
Saotome berkata begitu sambil merona tipis di pipinya dan
menatap tajam ke arahku.
Aku cukup terkejut karena dia akhirnya mengatakannya
secara terus terang, padahal sebelumnya selalu mengelak.
Merasa puas melihat keterkejutanku, bibir Saotome sedikit
melengkung.
"Lalu, buktinya mana?"
"……Eh?"
"Buktinya mana? Tidak ada, kan? Lagian warnanya juga pasti bohong,
kan? Bagaimanapun juga aku tidak punya cara untuk memastikannya."
Kecuali kalau dia menyingkap roknya dan
memperlihatkannya kepadaku.
Dan Saotome, sang gadis suci, tidak akan dan mungkin
tidak bisa berbuat sejauh itu.
Mustahil untuk membuktikan apakah dia benar-benar
memakainya atau tidak.
"Ugh……"
Tampaknya dia benar-benar tidak bisa berkutik
menghadapi argumen ini.
Saotome mengubah ekspresinya dengan kesal, hanya bisa
melotot ke arahku tanpa mampu membalas sepatah kata pun.
Kemenangan ada di pihakku.
"Aku tidak menyangkal kalau aku penasaran, sih. Tapi, toh itu cuma kebohonganmu saja."
"Ah, begitu ya. Kalau kamu ngotot sampai separuh
jalan begini……"
Saotome mencubit ujung roknya.
"M-Mau, kutunjukkan……?"
Katanya
dengan wajah yang memerah padam.
……Ha?
"Apa, apa yang kamu katakan, hah?"
"Kamu sendiri kan yang bilang minta tunjukkan
buktinya?"
"Yah, bukan berarti——"
"Cuma sebentar saja kok. Akan kutunjukkan
buktinya."
Ucap Saotome, lalu perlahan-lahan dia mengangkat roknya.
Paha putih nan mulus perlahan-lahan menampakkan wujudnya.
Dan garis roknya mulai mendekati area segitiga itu……
"……!"
Aku buru-buru memalingkan wajahku.
Sadar tidak sadar, jantungku berdegup kencang.
Bertekad bulat, aku mengembalikan pandanganku ke sana,
tapi……
"Kamu sendiri kan yang memalingkan muka
tadi."
Saotome berdiri di sana dengan ekspresi penuh
kemenangan.
Panjang roknya sudah kembali ke posisi semula.
"Atau, kamu masih berniat bilang kalau kamu tidak
percaya? Padahal kamu sendiri
yang membuang muka."
"……Aku tidak sebegitu pengecutnya untuk
mengelak."
Kalau dia benar-benar tidak memakainya, bukankah
seharusnya dia malah tidak menyingkapnya?
Apakah dia benar-benar tidak memakainya? Atau
sebenarnya dia memakainya?
Keraguanku malah semakin mendalam di dalam benakku.
Namun, mungkin itu juga sudah termasuk dalam
perhitungan Saotome.
Sial, seharusnya aku tidak memalingkan wajah tadi……
Padahal aku pasti bisa melihat hal yang bagus.
"Kalau begitu…… mohon kerjasamanya ya mulai sekarang, Himuro-kun."
"……Terserah kaukah."
Begitulah cara akhirnya aku terseret dalam kebiasaan
pamer dari sang gadis suci—ralat, gadis mesum tersebut.
◇ ◇ ◇
Keesokan paginya.
Begitu tiba di sekolah, aku langsung dipanggil oleh
Saotome.
Di belakang gimnasium, seperti biasa.
"Ada apa hari ini?"
"Ya, ini."
Benda yang diserahkan Saotome kepadaku adalah sebuah
amplop.
Amplop cokelat biasa tanpa keistimewaan.
"Surat cinta?"
"Mana mungkin."
"Lalu, apa ini?"
"Tertulis warna hari ini di dalam sini."
Justru hal itu yang aneh, kan.
Aku melotot ke arah Saotome, tapi dia sama sekali tidak
terlihat peduli.
"Dengan begini, kamu tidak akan bisa menuduhku
berbohong lagi, kan?"
"……Yah,
benar juga sih."
"Makanya,
jawab."
"……"
──Hehe.
Saotome
memasang ekspresi penuh rasa bangga.
"Begitu senangkah kamu mempermainkanku?"
"Ya, senang sekali."
……Mau diabaikan begitu saja pun silakan.
Namun, kalau begitu yang tersisa hanya fakta bahwa aku
telah dipermainkan sesuka hati oleh Saotome.
Hal itu sungguh sangat menjengkelkan.
Terlebih lagi…… aku memang tetap penasaran dengan apa
yang ada di dalam rok Saotome.
Aku tetap ingin melihatnya.
Yah, bagaimanapun juga aku adalah seorang laki-laki.
"Merah."
Mengingat kemarin dia tidak memakainya, rasanya kecil
kemungkinan dia melakukannya dua hari berturut-turut.
Meski begitu, aku tidak tahu warna apa yang tepat.
Oleh karena itu, aku memilih warna merah yang paling
umum.
"Coba buka."
"……"
Aku mencoba membuka amplop tersebut.
Hal yang tertulis di dalamnya adalah…… "Biru".
"Sayang sekali ya."
Sama sekali tidak sayang.
Merah dan biru itu bertolak belakang.
"Padahal hari ini aku sudah niat banget, lho.
Rasanya mengecewakan."
Saotome sengaja mengangkat kedua bahunya.
Me-menyebalkan sekali……!!
"Oleh karena itu, aku menantikan tantangan ulangmu
besok."
Ucap Saotome dengan nada meremehkan, lalu menunjuk ke
arah wajahnya sendiri.
"Pikirkanlah baik-baik tentang diriku."
"Ke-Kenapa aku harus memikirkan tentangmu……"
"Kalau tidak mau melihat, ya sudah."
Saotome berbalik hendak pergi, lalu memutar balik
tubuhnya.
"Ah, benar juga. Mulai besok, jawaban akan
diterima lewat pesan ya. Jadi buka blokirnya, oke?"
Si-Siapa juga yang mau menuruti rencanamu!!
◇ ◇ ◇
Malam harinya.
"Argh, sial! Bikin penasaran sampai tidak bisa
tidur!!"
Aku penasaran dengan isi dalam rok Saotome.
Lebih dari itu, aku merasa kesal karena merasa kalah.
Aku ingin membuatnya menangis meraung-raung.
Meskipun pada akhirnya aku tetap berada di dalam
telapak tangannya……!
──Pikirkanlah baik-baik tentang diriku.
Perkataan Saotome terngiang di benakku.
Intinya, jika aku memikirkan Saotome baik-baik, aku
akan tahu warnanya.
Dengan kata lain, ada aturan atau pola period
tertentu.
"……Kalau tebakannya meleset total, Saotome pasti
juga bosan, kan."
Perempuan itu memiliki apa yang disebut
"kebiasaan pamer" (fetish eksibisionis).
Dan menurutku, "kebiasaan pamer" itu mirip
seperti semacam keinginan merusak diri sendiri.
Semakin tinggi risikonya, semakin besar pula gairahnya.
Oleh karena itu, tanpa adanya risiko, Saotome tidak akan
bisa merasa bergairah.
Maka dari itu, pasti ada celah untuk bisa menjawabnya
dengan benar.
"Kalau
tidak salah, warna-warna sebelumnya adalah……"
Aku
menuliskan dan merangkum warna-warna yang pernah diberitahukan Saotome sejauh
ini di atas kertas.
Lalu mencocokkannya dengan kalender……
Ah……!
◇ ◇ ◇
Keesokan paginya.
Begitu aku tiba di sekolah, sebuah pesan masuk
bersamaan dengan itu.
『Terima kasih sudah membuka
blokirnya. Tapi, apa separah itu bikin penasaran?』
Tanpa sadar, aku menoleh ke arah Saotome.
Dia menunjuk roknya dengan wajah bangga (doyagao).
Aku sempat ingin memblokirnya kembali, tapi kutahan
kuat-kuat.
『Hari ini aku bakal jawab dengan benar』
『Oh ya? Ngomong-ngomong, jawabannya ada di dalam laci
mejamu』
Aku memasukkan tanganku ke dalam laci meja.
Di dalamnya ada sebuah amplop cokelat.
『Jawab sebelum pulang
sekolah ya』
『Putih kan』
Aku mengirim pesan balasan.
Pola yang berhasil kutemukan.
Itu adalah keterkaitan dengan hari dalam seminggu.
Hari Senin: Hitam.
Hari Selasa: Merah.
Hari Rabu: Biru.
Hari Kamis: Putih.
Hari Jumat: Kuning.
Begitu polanya, warna terikat dengan hari dalam
seminggu.
Omong-omong, biru muda adalah biru, dan merah muda
adalah merah.
Memang ada "hari di mana dia tidak
memakainya", tapi hal itu kutangani sebagai semacam nilai anomali (outlier).
Dan kemarin adalah hari Rabu, warnanya biru.
Hari ini hari Kamis, jadi…… seharusnya putih.
Nah, apakah jawabanku benar?
Aku mengarahkan pandanganku ke arah Saotome.
Dia membeku sambil menatap ponselnya.
……Hmm.
Aku membuka amplop cokelat tersebut.
Hal yang tertulis di dalamnya adalah:
Putih.
Benar.
Yosh!!
Tanpa sadar aku mengepalkan tangan ke udara (guts
pose).
Aku menang!!
Aku memamerkan kertas yang ada di dalam amplop
cokelat itu kepada Saotome.
Dia sudah pulih dari keadaan freezing-nya.
Dengan wajah merah padam, dia melotot tajam ke arahku
penuh kekesalan.
『Jadi, kamu bakal menunjukkannya, kan?』
Yah, mana mungkin dia mau.
Sambil berpikir begitu, aku mengetik pesannya.
Namun, Saotome justru membuang muka dengan ekspresi
tidak senang.
Sepertinya dia memang tidak berniat menepati
janjinya.
Meskipun begitu, dengan ini hubungan antara aku dan
Saotome akan berakhir……
Baru saja aku berpikir begitu, sesaat kemudian—
『……Datanglah ke belakang gimnasium sepulang sekolah』
Balasan pesannya datang setelah jam istirahat siang
dimulai.
◇ ◇ ◇
Nah, sambil merasa ragu apakah dia benar-benar akan
memperlihatkannya kepadaku, aku pun pergi ke belakang gimnasium.
Di sana, kudapati sosok Saotome sedang melipat tangan
di dada dengan gaya sok berkuasa.
"Yah, kuakui kamu hebat karena sudah menjawab
dengan benar."
"Terima kasih banyak atas pujiannya."
Entah kenapa aku malah dipuji dengan nada meremehkan dari
atas.
Sama sekali tidak membuatku senang.
"Jadi, mau ditunjukkan atau tidak?"
"Eh?
Ah, u, um…… s, soal itu……"
Sikap Saotome mendadak menjadi kalem.
Memang dasarnya gengsian, ya.
Yah, wajar sih.
"Kalau tidak mau ditunjukkan juga tidak
apa-apa……"
"Akan kutunjukkan! Kehormatan keluarga…… terserahlah
mau bagaimanapun. Tapi harga diriku tidak mengizinkannya."
Harga diri macam apa itu.
"T, tapi…… j, jangan ambil foto atau semacamnya,
ya?"
"Mana mungkin aku melakukan hal itu…… T, tapi
beneran mau ditunjukkan?"
"Ya, jelaslah!"
Ucap Saotome sambil menoleh ke sana kemari mengawasi
keadaan sekitar.
Lalu, seolah membulatkan tekad, dia mencubit roknya
dengan kedua tangan.
"Cuma tiga detik, ya."
Katanya, lalu Saotome mengangkat roknya.
Warnanya putih.
Itu adalah celana dalam perempuan yang imut, berbahan
renda putih dan sedikit transparan.
K, k-anak ini, dia benar-benar memperlihatkannya……!
"Nah, sudah selesai!"
Sebelum aku sadar, tiga detik sepertinya sudah
berlalu.
Saotome menurunkan kembali roknya.
Deg-degan, deg-degan.
Sadar tidak sadar, jantungku berdegup kencang.
"G,
gimana?"
Saotome
bertanya dengan wajah yang memerah padam.
"G, gimana maksudnya……?"
"M, maksudnya…… kesanmu."
K-Kesan……!?
Mana mungkin aku bisa memberikan kesan soal celana
dalam……
"Y, yah…… rasanya kelihatan suci dan imut……
sih."
"O, oh begitu."
Rupanya jawaban itu sudah cukup baginya.
Entah kenapa Saotome mengangguk dengan ekspresi puas.
"K, kalau begitu, sampai jumpa besok!"
"Ah, o, oh…… sampai jumpa besok……"
Saotome berlari pergi dalam sekejap.
……Aku sudah melihat hal yang bagus.
Namun, dengan ini Saotome pasti sudah jera.
Kali ini sepertinya tidak akan ada lagi ronde
berikutnya.
Hubungan kami pun akan berakhir sampai di sini…… begitu
pikirku, tapi—
Keesokan paginya.
『Menurutmu hari ini warna
apa?』
Ternyata Saotome sama sekali belum jera.
Aku memasukkan tanganku ke dalam laci meja.
Satu
amplop cokelat di dalam sana.
Y, yah…… terserahlah.
Hari ini harusnya warna kuning.
『Kuning』
Aku mengirim pesan.
Lalu……
『Sayang sekali, salah!』
……Apa!?
Aku
membuka amplop cokelat tersebut.
Di sana tertulis……『Ungu』.
K, k-anak ini…… dia mengubah polanya secara sepihak!!
『Pikirkanlah baik-baik
kenapa tebakanmu bisa salah』
Tanpa sadar aku menoleh ke arah Saotome.
Dia memamerkan wajah penuh kemenangan terbaiknya.
Sialan,
menyebalkan sekali!!


Post a Comment