Epilog
Pola Hubungan Asmara dengan Sang Gadis Suci
──Akan kutunjukkan, ya.
"Uwa! ……M, mimpi, ya."
Malam hari di hari itu.
Seira muncul di dalam mimpiku.
"Haah…… Sialan. Kalau begini caranya, dia
itu bukan gadis suci, melainkan succubus (iblis wanita), kan."
Aku terbangun dari tempat tidurku lalu
berjalan menuju ke dekat wastafel.
Lalu membasuh mukaku untuk sedikit menenangkan
hati.
"Tapi…… dia tadi kelihatan cantik banget,
ya."
Hari ini tanpa sengaja aku melihat berbagai
sisi dari diri Seira.
Melihat semua hal itu sama sekali tidak
membuatku merasa kecewa atau turn off.
Sebaliknya, hanya dengan membayangkan apa yang
ada di balik pakaian gadis itu saja sudah membuatku……
"Haah…… Aku, apa aku benar-benar menyukai
anak itu, ya……"
◇ ◇ ◇
Satu minggu telah berlalu sejak kencan kolam
renang bersama Haruki-kun.
Untungnya, Ayah maupun Kakek dan Nenek tidak
ada yang menegur atau mempermasalahkannya.
Sayaka sepertinya menepati janjinya dengan
benar.
Mungkin aku terlalu bersikap waspada
secara berlebihan.
Meskipun begitu, setiap kali aku pulang
kembali dari rumah Haruki-kun, Sayaka selalu saja mencari-cari topik untuk
memberondongku dengan berbagai pertanyaan.
"Hari ini Kakak diapakan saja?"
Dan hari ini pun, aku kembali dirundung
pertanyaan oleh Sayaka.
Kenapa dia begitu penasaran dengan apa yang
kulakukan bersama Haruki-kun, ya?
……Yah, wajar saja sih kalau dia penasaran.
Soalnya Sayaka mengira aku dan Haruki-kun
adalah sepasang kekasih.
Sepengetahuanku, Sayaka belum pernah punya
pengalaman menjalin hubungan asmara dengan laki-laki.
Namun, sebagai gadis remaja seumuran, wajar
kalau dia merasa tertarik dengan hal-hal semacam itu.
Meskipun, sayangnya aku dan Haruki-kun
sebenarnya masih belum resmi berpacaran, jadi aku tidak bisa menceritakan kisah
seru apa pun.
Ya, masih belum.
Menurutku itu hanya tinggal menunggu waktu
saja.
"Bukan apa-apa kok, tidak ada hal
spesial."
"……Mana mungkin. Berduaan saja di
kamar berdua dengan Kakak, mustahil kalau tidak terjadi apa-apa."
Biasanya dia langsung menyerah, tapi hari
ini dia sedikit mendesak keras.
Mau bagaimana lagi.
Ini saatnya aku membuat adikku ini iri
(flexing) dengan pamer episode kemesraan antara aku dan Haruki-kun……
Meskipun aku ingin mengatakan hal itu,
kenyataannya memang benar-benar tidak terjadi apa-apa, jadi aku tidak bisa
bercerita banyak.
……Aku tidak mungkin bilang kalau kami tadi
sibuk main kuis tebak warna pakaian dalam, kan.
"Sungguh
beneran tidak ada apa-apa, kok. ……Cuma main game sebentar."
Tentu
saja yang dimaksud adalah game dewasa (eroge), tapi itu rahasia.
Menjelaskan
kepada adik kandung sendiri bahwa aku “sedang memainkan game mesum” rasanya
sudah melampaui batas toleransi rasa malu di dalam diriku.
"B,
game ya……"
"Iya,
game. ……Beneran bukan hal yang istimewa kok."
Reaksi Sayaka membuatku merasa sedikit
janggal.
Memang benar keluarga kami menerapkan aturan
ketat soal game, tapi bermain game di rumah teman masih ditoleransi.
Sayaka sendiri pasti pernah diam-diam main
game di rumah teman ceweknya.
Seharusnya itu bukan hal yang sampai
membuatnya separah itu terkejutnya.
Saat aku tanpa sadar memiringkan kepalaku
karena bingung——
"Jangan-jangan…… Kakak baru saja
diperlakukan dengan senonoh olehnya!?"
Eh?
Pikiranku mendadak berhenti sejenak.
Diperlakukan dengan senonoh?
Artinya, “Kalian sudah melakukan hal mesum,
ya?” begitu kah maksudnya.
Memang benar aku tadi memainkan game mesum di
rumah Haruki-kun.
Tapi, kenapa Sayaka bisa tahu soal itu!?
"T, t, tidak kok! Mana ada!"
"B, bohong! Reaksi Kakak barusan itu
sudah pasti bohong!! J, jadi Kakak beneran habis diapa-apain, ya? D,
diapa-apain gimana emangnya!?"
Diapa-apain gimana……
Aku teringat kembali isi game yang kami
mainkan hari ini.
Kalau tidak salah hari ini temanya adalah……
"SM……"
"Eh!?"
Gawat.
Aku buru-buru membekap mulutku dengan kedua
tangan.
"P, pokonya tidak ada apa-apa kok!"
"I, iya, tapi……"
"Lagi pula, apa ada alasan penting buat
aku menjelaskan hal itu ke kamu?"
"I, itu……"
Saat aku balik membalas dengan nada tegas,
Sayaka tampak bergumam tidak jelas, lalu terdiam bungkam.
Apa sikapku tadi terlalu ketus, ya?
Keheningan menguasai ruangan.
"Aku cuma sedikit cemas…… takut kalau
Kakak ditipu oleh Kak Haruki……"
Itulah kalimat terakhir yang akhirnya berhasil
diucapkan oleh Sayaka dengan susah payah.
Bagaimana bisa obrolan barusan berujung pada
kesimpulan bahwa aku dibohongi oleh Haruki-kun……?
……Atau lebih tepatnya.
"Kamu kelihatan akrab banget sama
Haruki-kun. Sejak kapan kalian jadi dekat begitu?"
Sejauh yang kutahu, Sayaka dan Haruki-kun baru
pertama kali bertemu saat di kolam renang tempo hari.
Sekolah mereka sama, jadi wajar saja kalau
mereka tahu nama satu sama lain tapi……
Aku rasa mereka tidak mungkin sampai akrab
sampai bisa saling memanggil nama depan begitu.
"Kami tidak dekat! Orang kayak
gitu……!! Padahal kukira dia orang baik……"
Nada bicaranya terdengar seolah-olah
mereka sudah saling kenal sejak lama.
Haruki-kun tidak pernah sekalipun
menyebutkan bahwa dia sudah kenal dengan Sayaka sebelumnya.
……Kira-kira apa alasannya, ya?
Jujur saja, aku jadi merasa sedikit kesal.
Di saat aku sebagai wanita utamanya ada di
sisinya, dia malah berurusan dengan perempuan lain.
Terlebih lagi, berani-beraninya dia
mendekati adikku.
"Kapan dan di mana kalian mulai
kenalan?"
"Eh? Ah…… waktu di kolam renang.
Kalau dipikir-pikir kembali, waktu itu……"
Sayaka berkata dengan ekspresi wajah yang
tampak kesal dan masam.
"Mungkin dia waktu itu sedang nampa
(mengajak kenalan), sih."
……Hih, begitu.
Sepertinya hal ini perlu diinterogasi
lebih lanjut, nih.


Post a Comment