Chapter 1
Saat memotong poached egg yang dilumuri saus kental dengan
pisau, kuning telur lumer meleleh keluar. Keterampilan memasak Nino tampaknya
semakin meningkat.
"Tumben banget Ichika sudah bangun jam segini di hari
libur," ucap Itsuki di meja makan yang dipenuhi cahaya mentari pagi.
"Tapi tetap saja aku yang terakhir bangun di antara
kita berlima. Miku juga entah sejak kapan sudah menghilang dari kasur."
Pagi ini, ketika Ichika terbangun, sosok Miku yang tidur di sebelahnya
sudah tidak ada. Padahal semalam Miku—yang meminjamkan kasurnya untuk
Fuutarou—seharusnya tidur bersamanya…….
Tidak pernah terlintas di pikirannya kalau Miku mungkin saja
mengigau dan kembali ke kasurnya sendiri.
"Yotsuba juga belum kembali sejak pergi mencari
Miku……" gumam Nino.
"……Dia?" Itsuki bertanya santai sambil melahap Eggs
Benedict-nya.
"Entahlah? Mungkin masih tidur?" jawab Ichika.
"Anak
itu benar-benar menginap, ya."
Setelah
berbicara dengan nada kesal, Nino mengambil cangkir tehnya, "Yah, sebentar
lagi kesabaranku akan berbuah hasil," dan entah kenapa tersenyum tipis.
"Padahal
Nino ikut belajar saja tidak apa-apa lho. Lumayan asyik tahu?"
Mendengar ajakan
Ichika, Nino menjulurkan lidahnya, Blee.
"Tidak mau.
Itsuki, kamu jangan mau termakan omongannya lho."
Itsuki tidak
menjawab. Wajahnya
terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu dengan serius.
"Padahal
kalau kamu lebih jujur akan lebih baik lho," ucap Ichika sambil tersenyum
tipis.
"Entah
kenapa aku merasa tidak cocok dengan dia. Kemarin juga kami bertengkar…… Entah
kenapa aku jadi cepat terpancing emosi cuma gara-gara hal sepele……."
Kemarin lusa pun,
di jembatan penyeberangan depan stasiun, ia tanpa sengaja berdebat dengan
Fuutarou.
"Aku tidak
bisa seperti Ichika atau Miku……."
Tiba-tiba, mata
Ichika berbinar, Cling!
"Bisa kok,
Itsuki juga pasti bisa!"
Ichika berdiri
dari kursinya, berputar ke belakang Itsuki, dan mulai menata rambutnya.
"Nah, kalau
rambut bagian ini ditarik ke sini…… Tuh, jadilah Miku!"
Dengan membelah
poni ke samping dan membiarkannya menjuntai panjang menutupi mata kiri, memang
hampir semua orang akan mengiranya sebagai Miku.
"……Aku ini
lagi bicara serius, tahu!"
"Ahaha.
Maaf, maaf, kembar-lima joke."
Nino, yang sedari
tadi mendengarkan percakapan mereka, tiba-tiba berdiri dengan semangat.
"Ichika!
……Belahan rambutnya terbalik!"
Yang ditutupi
poni itu adalah mata sebelah kanan.
"Terus,
Itsuki! Matamu harus
dibuat lebih terlihat mengantuk! Rambut yang ini mengganggu nih~."
Nino pun
berputar ke belakang Itsuki dan mulai memberikan berbagai instruksi.
"Jangan main-main denganku dong!”
Mengabaikan protes Itsuki, Ichika memberikan senyuman penuh
rencana licik kepada Nino.
“Kebetulan Miku lagi tidak ada, ayo kita coba apakah ini
bisa menipunya.”
“Eh? Seriusan? Kalau begitu, bajunya juga harus diganti
dong.”
Kepada mereka berdua yang sedang bersemangat, Itsuki menyela
ragu, “Anu~…….”
”Tenang saja! Dia
mana mungkin bisa membedakan kita.”
Nino
benar-benar menikmati ide ini.
***
(A… A… Ada apa dengan situasi ini…….)
Tanpa
menyadari rencana licik yang sedang berlangsung di lantai bawah, Fuutarou yang
terbangun di kamar Miku membeku dengan wajah pucat pasi.
Entah
kenapa di kasur yang sama, ada objek lembut dan kenyal yang beraroma wangi──!
(Tunggu dulu, siapa yang tidur di sebelahku ini? Kemarin, aku kan tidur di kamar Miku…… Oh
iya, yang pakai piyama ini kan Miku…… Miku kah ini……?)
Gawat, gawat
banget. Agar tidak membangunkan Miku, ia diam-diam menyelinap keluar dari kasur
dan berjalan menuju pintu.
Saat Fuutarou
memutar kenop pintu perlahan dan keluar ke lorong, dia sangat terkejut setengah
mati.
Di depannya,
berdiri Miku yang memakai piyama merah muda!
(Tunggu, Miku kan ada di dalam…… Kalau begitu yang ini……)
Yang
memakai piyama ini adalah…… Ingatan semalam langsung kembali ke benak Fuutarou
dalam sekejap.
"A-Ada apa,
Itsuki?"
"……Ternyata kamu
tahu ya."
Wajah Itsuki
tampak terkejut, lalu menunduk dan bergumam dengan suara sekecil nyamuk.
"A-Anu…… untuk ujian tengah semester nanti……."
Pada saat itu, dari belakang Fuutarou terdengar suara Miku
yang sedang mengubah posisi tidurnya, "Nnn~……"
Jantung Fuutarou
rasanya hampir melompat keluar dari mulutnya. Dia sama sekali tidak boleh
ketahuan, terutama oleh Nino dan Itsuki.
"K-Kalau
tidak ada urusan lagi, ya sudah ya!? Aku mau ganti baju!"
Tanpa memberi
kesempatan Itsuki untuk bicara, Fuutarou langsung mendorongnya menjauh dan
menutup pintu.
"……Eeeh~!?"
Dalam keadaan
agak panik, Fuutarou tidak memiliki ruang sedikit pun di pikirannya untuk
memikirkan perasaan Itsuki.
"……Ya
sudahlah kalau begitu!"
Terdengar suara
kesal, dan Itsuki tampak berlalu dari depan kamar. Tak lama kemudian, BRAKK!
Terdengar suara bantingan pintu dengan keras.
Fuutarou keluar
dari kamar Miku dengan hati-hati. Sepertinya Itsuki marah dan mengurung diri di
kamarnya.
(Gawat……
Seharusnya aku dengarkan saja dia bicara di luar……)
Saat ia sedang
meratapi nasib, suara Ichika terdengar dari lantai bawah.
”Fuutarou-kun,
tahu tidak Miku pergi ke mana?”
”Ah…… umm…… ke
perpustakaan mungkin……?” Fuutarou spontan berbohong.
”Kalau begitu,
ayo kita juga ganti suasana dan belajar di perpustakaan.”
”Y-Ya, boleh
juga……”
”Oke, aku hubungi
Yotsuba dulu ya.”
***
Di dalam kamarnya
yang agak gelap, Itsuki mendengarkan percakapan mereka dari balik pintu.
Itsuki
mengerucutkan bibirnya. Ia kembali berbicara ketus kepada Fuutarou. Padahal
sebenarnya ia merasa senang karena Fuutarou mengenalinya sebagai Itsuki, bukan
Miku──.
***
Dengan enggan,
Fuutarou tiba di perpustakaan bersama Ichika dan Yotsuba.
"Miku di
mana ya~?" Yotsuba mulai mencari sambil celingak-celinguk di dalam
perpustakaan.
"Tidak ada
ya~……."
Tentu saja tidak
ada. Miku kan ada di rumah.
Namun, yang
sedang membebani pikiran Fuutarou saat ini bukanlah Miku, melainkan Itsuki.
(Apa
tidak apa-apa dibiarkan begini……)
Tidak,
dia sendiri yang bilang bisa melakukannya sendiri. Aku hanya bisa percaya padanya.
──Biar saja! Meskipun aku sampai tidak naik kelas sekalipun, aku tidak akan
pernah mau diajari olehmu!
Kata-kata pedas
Itsuki yang dilontarkannya waktu itu kembali terngiang di benak Fuutarou.
(Mengingatnya
saja bikin aku jengkel lagi…… Ah masa bodoh!)
Lagi pula, karena
terbawa emosi, Fuutarou juga membalasnya dengan ucapan, "Aku juga tidak
akan pernah mau mengajarimu~~!"
──Hal
yang cuma bisa dilakukan oleh Fuutarou-kun, jadi tolong ya?
Namun kali ini,
kata-kata Ichika melintas di pikirannya.
"Uesugi-san?
Ada apa?"
Menyadari
Fuutarou yang berhenti berjalan, Yotsuba dan Ichika kembali ke arahnya.
"Ah…… nggak,
umm…… Yotsuba…… misalnya nih, kalau suatu saat nanti salah satu dari kalian
berlima tidak naik kelas karena nilainya jelek…… Apa yang akan kamu
lakukan?"
"Aku juga
akan mengulang kelas dua lagi." Yotsuba menjawab dengan cepat tanpa ragu
sedikit pun.
"Meskipun
sebenarnya akulah yang paling berpotensi tidak naik kelas. Ahaha…… Tapi karena
ada Uesugi-san, aku tidak perlu khawatir soal itu, kan!"
Fuutarou tidak
sanggup menatap Yotsuba yang sedang tersenyum ceria, lalu memalingkan wajahnya.
"Uesugi-san?"
Di belakang
Yotsuba yang kebingungan, Ichika tertawa kecil dan mendekati Fuutarou.
"Fuutarou-kun.
Duh, aku lupa bawa kotak pensil nih."
"Ichika!
Kalau cuma alat tulis, aku bawa banyak kok!"
Yotsuba
memamerkan pensil mekanik dan bolpoin yang diselipkan di sela-sela jarinya
dengan bangga kepada Ichika. Ichika perlahan menahan tangan Yotsuba yang
sepertinya cuma punya semangat dan alat tulis berlebih.
"Kami mulai
belajar duluan, ya. Tolong ambilkan barangku yang ketinggalan dong?"
Setelah berkata
demikian, ia mengedipkan mata. Ichika memahami keraguan Fuutarou dan mendorong
punggungnya agar berani bertindak.
"……Oke, aku
pergi dulu!"
***
Fuutarou kembali
ke gedung apartemen mewah itu dengan napas terengah-engah. Dia tidak bisa
membiarkan pekerjaannya setengah jalan dan mengkhianati kepercayaan Yotsuba dan
yang lainnya. Itsuki juga pasti……
Saat pintu utama
terbuka dan ia hendak masuk, ia hampir menabrak seseorang.
"Oh!? Mi……
Miku."
"……Fuu……
tarou." Miku memundurkan langkahnya dengan wajah terkejut.
"B-Bukannya
kamu ke perpustakaan……"
"Ada barang
yang ketinggalan. Ichika dan yang lain sudah menunggu. Kau susul saja mereka
duluan."
Fuutarou melewati
Miku begitu saja dan masuk melewati pintu dalam yang kebetulan sedang terbuka.
"F-Fuutarou!"
Fuutarou menoleh
saat dipanggil.
"Anu……
jangan-jangan, tadi malam……"
Miku bertanya
dengan ragu-ragu sambil tersipu malu.
──Gawat!
Fuutarou sampai
lupa, tapi karena ia terbangun di kasurnya sendiri, padahal Fuutarou yang tidur
di sana, Miku pasti sangat kebingungan.
"Eh? Malam?
Kalau soal malam, semalam kamu bisa tidur nyenyak nggak? Aku sih kurang biasa
tidur di kasur, jadinya aku tidur di lantai ruang tamu. Pinggangku sakit banget,
tahu.”
Fuutarou meredam
perasaannya, lalu berbicara cepat dengan nada datar seperti robot.
”O-Oh, begitu
ya…… Syukurlah……. Ya sudah, sampai jumpa di perpustakaan ya. Hati-hati di
jalan.”
Miku tersenyum
lega lalu berjalan keluar.
──Meskipun
berbohong, mungkin lebih baik dia tidak tahu.
”……Lagi pula,
aku……” Fuutarou menatap ke lantai atas dengan pandangan tajam.
Setelah ini, dia
harus berbohong satu kali lagi…….
***
Itsuki berada di
meja makan di bagian dalam ruang tamu.
Dengan mengenakan
headphone milik Miku, ia tertidur lelap dengan kepala bersandar pada buku
catatan yang terbuka.
"Hei,
bangun."
Saat Fuutarou
mengguncang bahunya, Itsuki perlahan membuka matanya.
"Nn, nn……
mm…… eh…… ah…… maaf……."
Itsuki yang
menoleh sambil melepas headphone-nya, membelalakkan matanya saat melihat
Fuutarou.
"……A-Anu……."
"Akhirnya
ketemu juga kau──Miku!"
"Eh?"
Fuutarou sama
sekali tidak terlihat bercanda. Itsuki yang masih bingung meraba headphone yang
tergantung di lehernya.
"Ah……."
Fuutarou mengira
Itsuki adalah Miku──itulah yang disalahpahami oleh Itsuki.
"Berani-beraninya
kau kabur dari belajar! Tidak akan kumaafkan!"
Tanpa
memberikan celah, Fuutarou terus mendesak Itsuki.
"Anu……."
"Ayo,
pegang pulpennya!"
"Emm……."
"Buka
bukunya!"
"Saya
ini……."
"Sebagai hukumannya, kau akan kuberi pelajaran super ketat! Kau pasti akan kuhindarkan dari nilai merah!"
"Makanya aku
bilang aku bukan Miku……."
"Ngomong-ngomong,
aku tidak melihat Itsuki ya~."
Fuutarou
berpura-pura tidak tahu sambil melirik ke sekeliling ruang tamu.
"Mungkin
sekarang dia juga lagi berjuang keras belajar di kamarnya~. Tidak mungkin kan
dia malah ketiduran~."
Dia menelan
ludah, lalu memberanikan diri untuk bertaruh. "……Ada apa, Miku?"
Itsuki jadi ragu.
Padahal tinggal bilang saja kalau dia itu Itsuki, masalah selesai. Tapi…….
──Padahal
kalau kamu lebih jujur akan lebih baik lho. Tiba-tiba suara Ichika teringat
olehnya.
"A…… tidak
ada apa-apa…… bukan apa-apa kok……."
Sambil menirukan
gaya bicara Miku, wajah Itsuki berubah menjadi merah padam. Tapi, kalau
menyamar sebagai Miku, mungkin dia bisa bersikap lebih jujur.
Fuutarou sempat
tertegun sejenak, tetapi dengan cepat menarik kembali ekspresi wajahnya menjadi
serius.
"……Kalau
begitu ayo kita mulai. Sekarang kamu lagi sampai mana?"
Berdiri di
belakang Itsuki, dia mengintip ke dalam buku pelajaran.
"Biologi……."
"Mau
dilanjut dari situ? Ada bagian yang kamu tidak mengerti?"
"Umm……."
"……Ah, benar
juga. Soal kemarin lusa, maaf ya……." Dengan malu-malu, Fuutarou meminta
maaf pelan.
Itsuki tersentak,
tetapi, "……Soal apa?" ucapnya sambil melanjutkan aktingnya sebagai
Miku.
"Ah, benar
juga, hahaha…… Apa-apaan sih yang kuucapkan ke Miku."
"……Aku juga,
maaf ya……." Sambil menunduk, Itsuki membalas pelan.
"M-Miku
sendiri, bicara apa sih?"
"B-Benar
juga ya…… Umm, bagian yang ini nih……."
Meskipun terasa
canggung, keduanya berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan kembali belajar.
"Lho, kamu
sudah paham sejauh ini?"
Fuutarou merasa
kagum. Pelajaran untuk cakupan materi ujian hampir selesai semua.
"Hebat
ya, kamu bisa berjuang sendiri."
Saat
Fuutarou memujinya, Itsuki menundukkan matanya ke buku pelajaran sambil
tersenyum tersipu gembira.
Nino yang
berada di koridor lantai ruang tamu menatap mereka berdua dengan raut wajah
tidak senang.
***
"Ujian
tengah semesterku dapat nilai 100 semua!"
Itsuki memamerkan
deretan lembar jawaban bernilai sempurna itu kepada Fuutarou.
"Kami juga
dapat nilai 100 lho!"
Lembar jawaban
Ichika, Miku, dan Yotsuba juga dapat nilai 100 untuk semua mata pelajaran.
"Huh. Aku
akui deh. Kamu memang guru privat yang hebat." Nino berkata dengan
malu-malu.
Dan luar
biasanya, lembar jawabannya juga dapat nilai 100 semua!
Anak-anak kembar
lima itu berseru, "Horeee, horeee!" sambil mengangkat dan melempar
Fuutarou ke udara.
"Apa-apaan
ini~~~!? Sukses besar~~~!! Rasanya seperti mimpi~~~!!"
Fuutarou yang
melompat bangun karena terlalu gembira, seketika ditarik kembali ke dunia nyata
dari mimpi indahnya.
Di sinilah dia,
di ruang tamu rumah Nakano. Karena harus mengajar sebagai guru privat, semalam
Fuutarou kembali menginap.
"……Iya lah
ya, mana mungkin dapat nilai 100 semua…… Aduh, sakitnya……."
Karena kapok
dengan kejadian bersama Miku, dia memilih tidur beralaskan matras di lantai
ruang tamu, tetapi pinggangnya tetap saja terasa sakit. Tepat di sebelah meja
rendah di dekatnya, Ichika, Miku, dan Yotsuba masih tertidur lelap. Lalu di
meja makan bagian dalam, terlihat punggung Itsuki yang tertidur telungkup.
Semalam mereka berempat memang hampir bergadang semalaman.
"Seminggu
ini, kalian sudah berjuang keras ya……."
Fuutarou menatap
mereka berempat dengan pandangan lembut.
Dia teringat
kejadian di sekolah kemarin.
"Hah!?
Hari ini menginap lagi buat belajar!?"
Ichika,
Miku, dan Yotsuba setuju, tetapi seperti dugaan, Nino menolak keras ide
Fuutarou itu.
"Besok sudah
ujian. Tanpa peduli efisiensi lagi, kita harus belajar walau hanya
semalam!"
Pada saat itu,
Itsuki lewat. Nino memanggilnya, "Itsuki!!"
Nino tentu saja
berpikir Itsuki akan menolak seperti yang lainnya, tapi……
"Khusus hari
ini saja, tidak apa-apa kan?"
Setelah mengatakan hal itu, Itsuki berjalan melewati mereka semua yang
sedang tercengang──.
”Akhirnya hari H
tiba juga ya…….” Fuutarou tersenyum tipis.
”Hoam~……
Uesugi-kun, kamu cepat sekali bangunnya…….” Itsuki terbangun lalu meregangkan
tubuhnya lebar-lebar.
Sambil
mempertahankan senyumnya, Fuutarou secara tidak sengaja melirik jam dinding.
”Itsuki…… Cuma
mau memastikan, sekolah kita kan batas masuknya jam delapan lewat tiga puluh
menit, kan?”
”Iya benar. Lalu,
lima belas menit setelahnya, ujian dimulai.” Ucap Itsuki sambil menguap dan berdiri.
«Humm……
jam dinding itu tidak rusak, kan?»
Saat
menoleh ke Itsuki, Fuutarou menunjuk jam dinding dengan wajah yang sudah pucat
pasi.
«……Hah……
H-Hyaaaaaaa!»
Teriakan
Itsuki yang baru sadar sepenuhnya membelah udara pagi yang segar.
Jarum jam sudah melewati pukul delapan lewat lima menit!
Di jalan menuju
sekolah yang sepi, anak-anak kembar lima dan Fuutarou berlari sekuat tenaga.
”Kalian lambat
banget~~~!”
Yotsuba yang
berlari paling depan jauh di atas yang lain menoleh ke rombongan di
belakangnya.
”Uesugi-saaann!
Aku jalan duluan ya~~~!”
Puncak jam masuk
sekolah sudah lewat sejak tadi. Tidak ada sosok murid lain yang terlihat.
«Bukannya
kalian biasanya berangkat naik mobil…….»
Fuutarou
yang berlari di barisan paling belakang berbicara sambil terengah-engah.
«……Pak
Ebata…… kan sekretarisnya Ayah…….» Miku juga membalas sambil tersengal-sengal.
«Padahal
kalau Ayah ada di rumah akan lebih enak ya.» Ucap Ichika.
«Y-Ya,
benar juga…….»
Fuutarou
memalingkan pandangannya dengan canggung. Kalau sampai ada ayahnya, justru itu malah bikin
repot.
(Kalau
terlambat begini akan bagaimana? Apa yang harus kujelaskan ke ayah mereka nanti……)
Tiba-tiba Nino
yang berlari di depannya menghentikan langkah, ”Duh, aku tidak mau kelihatan
tanpa makeup begini deh…….” Ucapnya sambil mulai memeriksa wajah menggunakan
ponsel sebagai cermin.
”Empat orang
lainnya saja santai-santai saja tuh!”
Saat melirik ke
samping, tanpa disadari, Miku sedang membawakan barang seorang nenek dan
menyeberangkan jalan bersamanya.
”Wah, kamu baik
sekali! Tapi bukan sekarang waktunya!”
Saat dipikir
begitu, Ichika malah bersandar di bangku depan toko kopi dan tertidur lelap
sambil mendengkur halus.
”Jangan tidur!”
Hanya Itsuki yang
berlari dengan serius, tetapi karena kurang tidur, kakinya jadi lemas tak
bertenaga.
«Sudah
tidak sanggup lagi…….»
«Jangan
menyerah!» Fuutarou memberi
semangat.
”Tidak bisa…… ini
sudah batasku…… Aku
lapar banget, tidak ada tenaga…….»
Perut
Itsuki yang melewatkan sarapan berbunyi nyaring, menyuarakan protesnya.
Fuutarou
tidak yakin Itsuki yang hobi makan ini bisa mengikuti ujian dalam keadaan perut
kosong. Mau tidak mau mereka
mampir ke minimarket.
”Semuanya
kelihatan enak!”
Di depan
rak bento, Itsuki memegang dompetnya sambil hampir meneteskan air liur.
«Kita
tidak punya waktu buat bingung memilih!» Fuutarou mengingatkan.
”Kamu mau pilih
yang mana?”
”Nggak kok…… aku
sih nggak usah.”
Gengsi
bilang kalau tidak punya uang. Ibarat pepatah: biar dingin asal bergaya.
«Cuma
segini, aku traktir kok. Aku tidak akan bilang apa-apa, tapi lagipula aku sudah
banyak merepotkanmu…….»
Mungkin
merasa malu, Itsuki menyembunyikan wajahnya di balik dompet saat
mengucapkannya.
Yah,
kalau Itsuki sampai bilang begitu…… meski maksudnya berbeda, rezeki tidak boleh
ditolak.
”Aku pilih yang
mana ya.”
”Bingung juga ya.”
Di depan rak
pajangan, di saat mereka berdua sedang asyik mengobrol santai,
«Kalian
berdua, bukannya tadi bilang lagi terburu-buru!?»
Nino yang sudah kehilangan
kesabaran berteriak dari pintu masuk.
Apakah masih
sempat atau tidak. Guru olahraga penanggung jawab kesiswaan yang terkenal galak
sedang berdiri di depan pintu masuk sekolah untuk menindak murid yang
terlambat. Kalau terlambat satu menit saja, jangankan ujian, bisa-bisa mereka
tidak diperbolehkan masuk.
Rombongan itu pun
kembali berlari. Itsuki
juga berlari sambil menyantap onigiri.
Saat
akhirnya sampai di jembatan penyeberangan depan stasiun, langkah kaki Nino
terhenti.
«Hei,
Nino. Tinggal sedikit lagi!»
Melihat
Nino yang terengah-engah, Fuutarou memanggilnya.
”……Meski kita
keburu ikut tes, kamu pikir kita bisa terhindar dari nilai merah? Perlu kuberi
tahu ya, aku akan menyampaikan kebenaran apa adanya ke Papa.”
Nino
mengatakannya dengan tegas kepada Fuutarou. Tetapi, Fuutarou juga merasa sudah
melakukan yang terbaik. Yang paling penting, dia tidak ingin usaha keras semua
orang menjadi sia-sia.
”Meski waktunya
singkat, aku merasa sudah melakukan semua yang aku bisa. Kamu juga, tolong ya.”
”Fuutarou-kun!” ”Nino!”
Suara Ichika dan
yang lainnya yang ada di depan membuat mereka tersadar, lalu keduanya dengan
panik kembali berlari.
***
Waktu kedatangan
di sekolah, 『08:33』──.
"Waktu
habis……."
Dengan wajah
pucat seperti mayat, Fuutarou memperlihatkan jam di ponselnya kepada semua
orang.
"Ujiannya
sebentar lagi mulai……."
"Maaf ya…… ini gara-gara aku mampir
tadi." "Aku
juga……." Itsuki dan Miku merasa bersalah dan tertunduk.
Bersembunyi di
balik tanaman hias sambil mengintip ke pintu masuk gedung sekolah, terlihat
guru olahraga berjersey berdiri bersedekap dada bagaikan Cerberus si anjing
penjaga gerbang neraka.
"Guru
kesiswaan itu mau memaafkan kita tidak, ya…?”
Keinginan Ichika
terasa sia-sia, cukup melihat wajah garangnya saja, semua orang sudah tahu
jawabannya.
Apakah tidak ada
cara untuk menyelinap melewati tempat itu…… Saat berpikir keras, Fuutarou
mendadak menengadahkan kepalanya.
“Benar juga. Yotsuba! Itsuki, tolong telepon Yotsuba!”
Meskipun bingung, Itsuki menelepon Yotsuba lalu menyerahkan
ponselnya ke Fuutarou.
“Halo, Yotsuba? Kamu
sudah sampai sekolah, kan? ……Nggak, tidak apa-apa. Tetaplah berada di sekolah.”
”Tunggu, kamu mau
melakukan apa?” Nino bertanya dengan suara pelan.
“Hehe…… sebut saja.” Fuutarou tersenyum licik.
"Strategi
Doppelganger."
***
Sepuluh
menit sebelum ujian dimulai.
Saat guru
olahraga memeriksa jam tangannya, suara langkah kaki terburu-buru mendekat.
"Selamat
pagi~!"
Yang
datang sambil berlari kecil adalah seorang murid perempuan dengan headphone
terpasang di lehernya.
"Kamu!
Kamu terlambat!"
"Ups,
apa kamu tidak asing dengan pita ini?"
Dia
menunjuk ke pita di kepalanya yang berbentuk seperti telinga kelinci.
"……Memang
benar sih, rasanya seperti pernah lihat belum lama ini."
"Aku
tadi membantu guru, lalu keluar lagi!"
"B-Begitu
ya……. Bel tanda mulai pelajaran sudah berbunyi. Pastikan kamu sudah duduk
sebelum ujian dimulai ya."
"Iyaa~!"
Saat
masuk ke pintu siswa, Miku yang menyamar sebagai Yotsuba mengembalikan gaya
rambutnya ke semula lalu menghela napas lega.
"Pffuh……
Tak terjelaskan bak kegelapan……."
Strategi
itu harus tidak diketahui oleh lawan bagaikan kegelapan──ia mengucapkan sebaris bait dari
Fuurinkazan.
Rencana
Doppelganger yang dicetuskan Fuutarou ini memanfaatkan pemikiran bahwa jika
Yotsuba sudah pernah masuk sekolah sekali, guru pun tidak akan bisa menegurnya
dengan keras.
"Selaaamat
pagi~."
Ichika
dan Nino yang sama-sama menyamar sebagai Yotsuba pun mengelabui sang guru
olahraga dan masuk ke gedung sekolah satu demi satu.
Masalahnya
adalah Itsuki yang terakhir.
"S-Selaaamat
pagi!"
"O-Oh,
selamat pagi……."
Melihat Itsuki
yang masuk ke gedung sekolah dengan gerakan kaku, sang guru melepasnya dengan
pandangan heran.
"……Murid
itu, mau berapa kali putaran sih?"
Berhasil melewati
rintangan sulit dengan susah payah, Itsuki bergabung dengan Ichika dan yang
lainnya di pintu siswa.
"Mengelabui
guru begini, betapa tidak sopannya aku……."
"Kamu ini
terlalu serius tahu." Nino yang berhasil lolos dengan santai—jangankan
tegang—merasa heran melihatnya.
Saat itu, Yotsuba
yang asli datang.
"Ah,
syukurlah! Kalian semua sudah bisa masuk!"
"Ini yang
asli." Ucap Miku.
"Lho?
Uesugi-san di mana?"
Yotsuba
celingukan mencari keberadaan Fuutarou.
"Selaaamat
pagi~."
Memakai pita
telinga kelinci dan mencoba melewati guru olahraga dengan berpura-pura tidak
terjadi apa-apa, Fuutarou mendadak dicengkeram kerah bajunya dari belakang
dengan kuat.
"……Sudah terlambat, malah main-main lagi ya?"
"……Pasti
ketahuan ya."
"Ikut ke
ruang kesiswaan!"
Lehernya
dicengkeram, Fuutarou pun diseret begitu saja melewati koridor.
"Fuutarou……."
Dari arah pintu
siswa, terdengar suara Miku yang terdengar cemas.
"Cepat
pergi! Tanpa ada aku pun kalian tidak apa-apa! Percayalah pada kekuatan diri
kalian yang sudah berjuang keras!"
Sambil diseret
oleh guru olahraga, Fuutarou berteriak keras agar suaranya sampai ke anak-anak
kembar lima.
"Bicara sama
siapa kamu sendirian!" Bentak sang guru olahraga pada Fuutarou.
Anak-anak kembar
lima yang keluar dari balik rak sepatu hanya bisa melepas Fuutarou—yang
tampaknya akan dimarahi habis-habisan di ruang kesiswaan nanti—tanpa bisa
melakukan apa-apa.
"……Mmm!"
Terbakar semangat
oleh dorongan Fuutarou, Miku mengepalkan tangannya untuk membakar tekad.
"Ayo kita
dapat nilai bagus dan buat Fuutarou terkejut!" Ichika pun menjadi sangat
bersemangat.
Yotsuba merangkul
kedua tangan Nino dengan kedua tangannya, "Nino juga ayo!"
"A-Aku
kenapa ikut-ikutan juga sih……."
Itsuki yang
memasang raut wajah bertekad menyodorkan tangannya ke semua orang.
"Ayo kita
kerahkan seluruh tenaga kita!"
Jari kelingking
dan ibu jari saling bertautan, kelima tangan menyatu menjadi satu, membentuk
tanda khas si kembar lima.
"Ayo
berjuang, oooh~~~!!"
"Oooh……."
Meskipun dengan semangat agak rendah, Nino ikut menyuarakan suaranya.
***
Jam pelajaran
pertama, 『IPS』.
Miku mengerjakan
ujian dengan raut wajah sangat serius.
(Soalnya
susah-susah semua…… Tapi, kalau sejarah aku pasti bisa…….)
Dia mengisi
lembar jawaban secara pasti satu per satu.
(Kalau aku dapat
nilai lebih tinggi dari Fuutarou, kira-kira dia akan memasang raut wajah
seperti apa ya…….)
Pipi Miku
memerah, lalu dia tersenyum manis.
***
Jam pelajaran
kedua, 『Bahasa
Jepang』.
Yotsuba
memejamkan mata dengan wajah rumit, bersedekap dada sambil berpikir keras.
(Emmmm……
emmmmm…….)
Tiba-tiba,
kerutan di antara kedua alisnya lenyap seketika.
(Aku ingat! Soal
pilihan ganda lima opsi itu paling tinggi probabilitasnya ada di nomor empat!)
***
Jam pelajaran
ketiga, 『Bahasa
Inggris』.
Nino
bertopang dagu, mengerjakan soal kosakata dengan lesu.
(Debat……
debat…… Ah tidak tahu lah, lanjut berikutnya.)
Saat baru
mau menyerah, suara Fuutarou teringat olehnya: "Diingat dengan cara baca 『De-ba-te』."
(……Siapa juga
yang minta diajari sembarangan…….)
Meskipun merasa
kesal, entah kenapa wajah Nino menjadi merah.
***
Jam pelajaran
keempat, 『Matematika』.
Ichika selesai
mengerjakan semua soal.
(Selesai…… begini
saja kali ya. Selamat tidur~.)
Dia
menelungkupkan badan di meja dan memejamkan mata. Namun pada detik berikutnya,
matanya terbuka kembali.
(……Setidaknya
memeriksa ulang jalannya rumus tidak apa-apa kali ya…….)
***
Jam pelajaran
kelima, 『IPA』.
Itsuki memakai
kacamatanya, menatap tajam ke arah lembar ujian.
(Aku tidak akan
membiarkanmu dipecat.)
Setelah
bertengkar dengan Fuutarou di jembatan penyeberangan, Itsuki yang pulang ke
rumah menelepon ayahnya dan mengetahui kebenarannya. Bahwa jika satu orang saja
dari si kembar lima mendapat nilai merah, Fuutarou akan dipecat──.
(Ini demi
Raiha-chan! Cuma untuk jaga-jaga saja!)
Itsuki meyakinkan
dirinya sendiri, lalu melirik sekilas ke arah Fuutarou yang duduk di kursi
barisan depan.
Fuutarou yang
sudah selesai mengerjakan tes sejak tadi menangkupkan kedua tangannya di depan
wajah, berdoa dengan sungguh-sungguh.
(……Kalian semua,
aku mohon ya!)
***
Dan tiga hari
kemudian, hari pengumuman hasil ujian tengah semester──.
"Yo, maaf ya
sudah mengumpulkan kalian."
Di perpustakaan
sekolah setelah jam pelajaran usai, anak-anak kembar lima yang dipanggil oleh
Fuutarou duduk di kursi dan berkumpul bersama.
"Ada
apa? Kok formal banget sih." Ichika tertawa canggung.
"Laporan
ujian tengah semester…… Bagian yang salah, tolong ajari aku lagi ya?"
Miku yang
tidak tahu apa-apa mengatakannya dengan sedikit malu-malu.
──Bukan begitu, Miku. Kalau ada satu orang saja yang dapat nilai merah,
aku tidak akan bisa mengajari kalian lagi……
Raut
wajah Fuutarou menjadi redup. Di luar jendela pun, langit mendung seolah
mengisyaratkan hasil yang buruk.
Namun,
Fuutarou berusaha sebisa mungkin untuk berpura-pura tenang.
"Ah, iya……
Bagaimanapun, pertama-tama tolong perlihatkan lembar jawaban kalian."
"Iyaaa~.
Kalau aku nih."
Ichika yang
paling cepat mengangkat tangan langsung disela oleh Itsuki secara paksa.
"Aku tidak
mau memperlihatkannya. Ini informasi pribadi! Aku menolak keras!"
"Itsuki-chan?"
Melihat sikap
Itsuki, Fuutarou menghela napas kecil karena sudah menebak hasilnya.
"……Terima
kasih ya. Tapi aku sudah siap kok. Tolong beritahu aku."
"Jeng-jeng-jeng~!
Bahasa Jepangku kena tebakan
hoki dapat 30 poin! Ini pertama kalinya aku dapat nilai segini!"
Yotsuba
melaporkannya dengan sangat bersemangat. Tapi, diawali dengan Matematika yang
nilainya cuma satu digit, mata pelajaran lainnya bernilai sangat mengenaskan,
bahkan tidak mencapai 100 poin dari total nilai maksimal 500 poin.
"IPS dapat
68 poin…… Sisanya pas-pasan nilai merah…… Kesal banget."
Yang paling
tinggi di antara mereka berlima adalah Miku yang mata pelajaran sejarah
favoritnya memang sangat menonjol.
"Aku cuma
Matematika saja. Buat kemampuanku yang sekarang sih rasanya cuma sebatas ini
ya."
Ichika dapat
nilai 30 poin untuk Matematika, Bahasa Jepang dan IPS tidak perlu dibahas, tapi
Bahasa Inggris dan IPA cuma kurang beberapa poin saja.
"Bahasa
Jepang, Matematika, IPA, dan IPS nilai merah semua. Asal kamu tahu ya, aku
bukannya tidak niat mengerjakan lho."
Menyusul Nino
yang sikapnya tetap paling sok, Itsuki menjadi yang terakhir berbicara.
"……Sayang
sekali, yang berhasil melewati batas kelulusan hanya IPA dengan nilai 56
poin."
Empat mata
pelajaran lainnya ada di kisaran 20-an poin, menjadi nilai tertinggi kedua
setelah Miku.
Usaha itu
diakuinya. Diakui memang, tapi yang berhasil melewati angka 30 poin hanya satu
mata pelajaran bagi masing-masing orang…… Pundak Fuutarou terkulai lemas.
"……Melihat
kembali betapa bodohnya kalian membuatku benar-benar merasa lemas dan
murung……."
"Berisik
banget sih!" Omel Nino dengan nada ketus. "Yah, tapi kalau mata
pelajaran yang lulus beda-beda untuk setiap orang, rasanya memang sangat
mencerminkan kita banget sih."
"Bisa
jadi!" Ucap Yotsuba.
"Lagipula,
dibandingkan dengan nilai total 100 poin untuk berlima di awal dulu……."
Fuutarou
melanjutkan sisa kata-kata Miku.
"Iya,
kalian memang benar-benar berkembang."
Saat
mengucapkan hal itu, tatapan mata Fuutarou menjadi lembut, tidak seperti
biasanya.
"Miku. Untuk
tingkat kesulitan kali ini, nilai 68 poin itu sudah sangat hebat. Meskipun ada
ketimpangan sih. Ke depannya, bagian yang bisa kamu ajarkan ke
saudari-saudarimu, ajarkanlah dengan percaya diri ya."
Miku yang tadinya
kelihatan gembira karena dipuji mendadak memasang raut wajah heran,
"……Eh?"
"Yotsuba,
kecerobohan sepelemu itu kelihatan banget, sayang sekali. Jangan panik dan
harus lebih berhati-hati ya."
Yotsuba memberi
hormat sambil tersenyum, "Siap, dimengerti!"
"Ichika.
Kamu itu terlalu tidak mau bertahan pada satu soal. Jangan menyerah sampai
akhir dong?"
"Iyaa~."
Ichika tertawa canggung karena tebakannya tepat sasaran.
"Nino. Pada
akhirnya, kamu tidak mau mendengarkan perkataanku sampai akhir, ya. Karena aku sudah tidak akan datang
lagi, jangan lengah, lho?"
Nino
memalingkan wajahnya sambil bergumam, "Huh."
"Fuutarou……
tidak akan datang lagi itu maksudnya apa……?"
Miku
bertanya dengan cemas, tetapi Fuutarou menundukkan matanya tanpa menjawab.
"……Aku."
Itsuki
menyela Miku yang hendak mengatakan sesuatu dengan tegas.
"Miku.
Sekarang dengarkan dulu."
Mungkin ini akan
menjadi saran terakhir dari Fuutarou…… Itsuki memejamkan mata sambil menunduk,
memasang sikap mendengarkan dengan tenang.
"Itsuki……
kamu itu benar-benar bodoh dan kikuk, ya!"
"Apa!?"
Kepada
Itsuki yang spontan berdiri, Fuutarou melanjutkan dengan nada heran.
"Kamu
menghabiskan terlalu banyak waktu untuk satu soal, jadinya tidak selesai sampai
akhir, kan!"
"Uuh……
itu memang bahan evaluasi diriku sih."
"Kalau
kamu sudah memahaminya sendiri, ya bagus. Lain kali hati-hati ya."
Saat Fuutarou
tersenyum, ponsel Itsuki berdering. Mengeluarkan ponsel dari sakunya dan
memeriksa layarnya, Itsuki menyerahkannya kepada Fuutarou sambil berkata,
"Ayah."
Fuutarou menerima
ponsel yang menampilkan tulisan 『Ayah』 di layarnya. Menenangkan hatinya
diam-diam, dia menjawab telepon tersebut.
"……Ya.
Dengan Uesugi di sini."
"Ooh, kamu
sedang bersama Itsuki-kun ya. Padahal aku berniat menanyakannya satu per satu,
tapi bagaimana kalau kudengar langsung dari mulutmu saja?"
"Baik."
"Aku bisa
tahu kalau kamu berbohong lho."
"Saya
tidak akan berbohong kok. Hanya saja…… mulai berikutnya tolong berikan guru
privat yang lebih baik lagi untuk anak-anak ini."
Ichika,
Yotsuba, dan Miku yang mendengar kata-kata Fuutarou hanya bisa bingung karena
tidak memahami situasinya.
"……Kalau
begitu artinya, hasil ujiannya……."
Saat Fuutarou
hendak menjawab, Nino tiba-tiba merebut ponsel itu dari samping secara paksa.
"Papa? Ini
Nino. Boleh tanyakan satu hal tidak? Kenapa Papa memberikan syarat seperti
itu?"
"Aku juga
punya tanggung jawab sebagai orang tua yang menitipkan anak-anak perempuannya.
Aku hanya menguji apakah dia pantas untuk kalian atau tidak."
"Jadi maksud
Papa ini demi kami ya. Terima kasih ya, Papa."
Sambil berkata
begitu, mata Nino menjadi tajam seolah memprotes.
"Tapi, soal
pantas atau tidaknya, mana bisa diketahui cuma dari angka-angka saja."
Empat orang
lainnya tanpa disadari berkumpul mengelilingi Nino untuk memperhatikannya.
"Itulah
standar penilaian yang paling utama."
"Oh
begitu. Kalau begitu, akan kuberitahu!" Ucapan Nino itu dibarengi dengan
menoleh ke arah saudari-saudarinya.
"KAMI
BERLIMA BERHASIL MENGHINDARI NILAI MERAH UNTUK KELIMA MATA PELAJARAN!"
"!"
Fuutarou terdiam
seribu bahasa. Empat orang lainnya pun ikut tercengang.
"……Apakah
itu benar?"
"Aku
tidak berbohong kok."
"Kalau
Nino-kun yang mengatakannya, pasti tidak salah lagi ya. Kalau begitu, silakan
lanjutkan usahamu bersama Uesugi-kun mulai sekarang."
Selesai
berbicara, Nino mematikan sambungan teleponnya.
"Nino, yang
tadi itu……."
Kepada Fuutarou
yang masih tidak mengerti situasinya, Nino menjawab dengan santai.
"Berlima
berhasil lulus lima mata pelajaran. Aku tidak berbohong, kan."
Nino untuk Bahasa
Inggris, Ichika untuk Matematika, Yotsuba untuk Bahasa Jepang, Miku untuk IPS,
dan Itsuki untuk IPA.
Memang
benar, itu bukan bohong. Bukan bohong sih, tapi…….
"Mana
bisa begitu……." Fuutarou memegang kepalanya.
"Hasilnya,
kita memang menipu Papa sih. Dan cara ini mungkin tidak akan mempan untuk kedua
kalinya. Jadi lain kali, buatlah hal itu benar-benar terwujud."
Nino mengedipkan
matanya seolah menantang Fuutarou.
Nino yang sangat
membenci Fuutarou, kenapa malah melakukan hal yang seolah membantu musuh
begini? Apakah hanya sekadar impulsif, atau cuma merasa ini hal yang seru
saja…… Ah, tidak, pada situasi saat ini, hal seperti itu sudah tidak penting
lagi.
"……Akan
kubuktikan." Fuutarou tersenyum penuh percaya diri dengan licik.
Ichika menyela
percakapan mereka berdua, "Tunggu dulu~ yang tadi itu ngomongin soal apa
sih?"
"Tanpa
kusadari, apakah kita berlima sudah lulus lima mata pelajaran~!? Kenapa bisa
begitu~!?"
Mendengar Yotsuba
yang mulai meracau tidak jelas, Nino merasa heran, "Kamu ini ya!"
Kepada Miku yang
belum begitu memahami situasinya, Itsuki tersenyum dan berbicara padanya.
"Miku,
tenang saja. Sepertinya hubungan kita dengan dia masih akan berlangsung sedikit
lebih lama lagi."
"Iya, iya~!
Kalau begitu, ayo kita langsung mengulang pelajaran sekarang juga!"
Yotsuba
mengacungkan kedua tangannya ke atas dengan ceria ke arah semua orang.
"Eh? Kalau
aku sih jujur saja malas ah……."
Ichika menepuk
bahu Nino yang hendak berbalik pergi sambil tersenyum jahil, "Jangan kabur
dong."
"Benar juga
ya……."
Fuutarou yang
sedang berpikir keras mendadak berseru.
"Belajar
setelah lembar ujian dikembalikan adalah hal yang paling penting. Tapi, tidak
harus dilakukan sekarang juga kok. Hadiah…… kalau tidak salah? Es krim
parfait…… atau semacamnya kan yang kalian katakan waktu itu."
Dengan wajah yang
sangat memerah, dia mengucapkannya sambil memalingkan pandangannya ke
mana-mana.
Anak-anak
kembar lima itu sempat tertegun sejenak, lalu……
"Pffft……."
Mereka
spontan menyemburkan tawa, lalu semuanya memegang perut masing-masing dan
tertawa terbahak-bahak.
"Ahahahahaha!
Fuutarou-kun bilang es krim parfait!"
"Sama sekali
tidak cocok buatmu, tahu~."
Baik Ichika
maupun Nino berbicara sesuka hati mereka.
"Kalau
begitu aku mau yang…… porsi ekstra besar!" Itsuki tertawa gembira.
"Memangnya
ada yang seperti itu……?"
Apakah
koin sepuluh yen yang dikumpulkannya di dalam dompet akan cukup ya? Fuutarou sudah mulai merasa menyesal.
***
"Bagus!
Karena berlima dapat lima mata pelajaran, jadi cuma buat satu porsi saja
ya!"
"Uwah~ pelit
banget~!" Ucapan Nino.
Dengan Fuutarou
di tengah, anak-anak kembar lima itu berjalan berdampingan pulang ke rumah.
(……Berikutnya
pasti akan kubuktikan sampai tuntas……!!)
Saat memperbarui
tekadnya, Yotsuba mendekat dengan cepat.
"Ngomong-ngomong,
Uesugi-san sendiri dapat nilai berapa?"
Tangannya terulur
ke arah lembar jawaban Fuutarou yang diselipkan di saku belakangnya.
"Uwah,
hentikan, jangan dilihat!"
Kali ini, selain
karena dia terlambat di jam pertama pelajaran IPS dan hanya bisa ikut di
pertengahan jalan, sebagai tantangan untuk Fuutarou yang selalu dapat nilai
sempurna, soal yang disiapkan oleh si 'Tikus Botak' guru Sejarah Jepang itu
memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi.
"S-Semuanya
dapat nilai 100!?"
"Aaaaah,
malu banget!"
"……Apakah
kamu menikmati alur lelucon itu……?" Itsuki menimpali dengan dingin.
Tanpa disadari,
dari celah langit yang mendung, cahaya matahari sore berwarna jingga yang cerah
mulai memancar masuk.
Illustrasi | ToC | Chapter 2


Post a Comment