NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Rendatsu no Kyōshitsu 1 Danjo-hi ga Kowareta Sekai de Gisugisu Suru Hanashi Volume 1 Chapter 2

Chapter 2

Logika Dunia Wanita


"Pagi—!"

Ketika Yura Aihara tiba di sekolah lebih awal dari biasanya, ia segera memindai pandangannya ke seluruh ruang kelas.

Tidak ada sosok Shizuku Isshiki maupun Noa Hojou.   Setelah memastikan hal itu, ia berjalan lurus menuju kursi di dekat koridor.   "Minaki-san! Kemarin kamu hebat sekali!"

"Eh, a...?"   Suzu Minaki, yang sedang bersandar di atas tangannya dengan wajah mengantuk, mendongak dengan raut bingung.

"Aku sampai terharu waktu kamu membalas ucapan Noa-san itu!"

"O-Oh."

Berbeda dengan Yura yang begitu antusias, Suzu hanya bersandar sedikit ke belakang.

"Wah, aku juga kaget lho."

Nene Kaminari ikut menimpal dari samping.   "Hebat banget, ya."

"Aku jadi merasa dapat keberanian."

"Aku cuma merasa kesal terus-terusan diomongin seperti itu."

Yura menggenggam tangan Suzu dan mendekatkan wajahnya, "Terima kasih ya. Aku baru sadar kalau kita tinggal membalasnya saja nanti."

"......Begitu ya. Baguslah kalau begitu."

Suzu tertawa kecil acuh tak acuh, lalu memalingkan wajahnya yang sedikit malu.   Melihat penampilannya yang tanpa kepura-puraan, Yura merasa itu sangat manis.

"Aku juga akan berusaha supaya tidak merepotkan kalian!"

"Humph," desah Nene sambil menunjukkan tekadnya. Terhadap hal itu, Suzu berbisik pelan.

"Sebaiknya jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati. Yang seperti itu cuma omong kosong."  

"Eh...?"

"Alasan apa saja tidak masalah, dia cuma ingin alasan untuk mengusir orang. Kalau orang-orang keluar, proporsi faksi Hojou di kelas akan meningkat. Karena dia masih punya beberapa orang yang bisa dimanfaatkan di kelas atas, dia bisa langsung mengunci kelas ini setelahnya."

"A......"

"Delapan kursi. Kalau ada delapan kursi lagi, Noa Hojou bisa menguasai 23 orang dari total 46 orang di kelas ini. Dengan kata lain, mengambil setengahnya."

"Itu skakmat." Mendengar logika yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, Yura merasakan pikirannya mendadak dingin.  

Atau, Suzu melanjutkan kekhawatirannya yang lain.

"Tanpa perlu melakukan hal itu pun, pasti ada saja orang di kelas ini yang memihak Noa. Dengan statusnya sebagai putri sulung keluarga Hojou, dan ketika 15 orang dimasukkan sekaligus, rasanya sudah terlambat."

"I-Iya juga ya...!"   Yura dan Nene di sampingnya saling bertukar pandang.

Bagi mereka yang tidak memiliki pelindung di belakang mereka, ada perasaan bahwa mereka akan dengan mudah disingkirkan.

"......Tapi yah, kita tidak perlu memikirkannya."

"E-Eh, kenapa?"  

Suzu berbicara dengan wajah yang tampak sangat bosan. "Di dunia anak-anak bernama sekolah ini, kesempatan untuk menggunakan dinamika kekuasaan orang dewasa itu sebenarnya sangat sedikit."

"......Masa sih...?"

"Paling hanya bisa memegang kendali atas pengelolaan kelas. Tapi ya cuma sebatas itu."

Kendali atas pengelolaan kelas.

Pengambilan keputusan untuk kegiatan sekolah.

Yura memikirkan artinya secara mendalam. Memang kalau dipikir-pikir, mengambil suara terbanyak di kelas tidak ada artinya sama sekali.

"Pengelolaan kelas itu biarlah dilakukan oleh orang yang memang ingin melakukannya. Toh kalian juga tidak berniat memimpin kelas, kan?"

"......Mungkin memang begitu."

"Kan? Kepentingan mayoritas atau minoritas, itu cuma logika wanita di dalam masyarakat wanita."

Suzu memberikan jawaban dari sudut pandang yang tak pernah dipikirkan oleh Yura sebelumnya.

"Sejauh yang kulihat, kriteria Mizuki Toudou dalam memilih wanita bukanlah di situ."

"......Ya. Aku juga merasa begitu."

"Kan?"

"Mizuki Toudou saat ini berteman baik dengan semua orang di kelas. Dia tidak pernah mengubah perlakuannya hanya karena kasta keluarga atau apakah orang itu kelompok mayoritas. Pada akhirnya, hal seperti ini cuma perebutan kekuasaan antarwanita yang membosankan. Biarkan saja si bos monyet itu duduk di kursinya."

Mendengar perkataan Suzu, Nene yang ada di sampingnya mendadak antusias dan memajukan tubuhnya.

"K-Keren banget! Minaki-san ternyata pinter banget ya!"

"......Tadi kamu baru saja bilang 'ternyata' ya?"   Yura spontan tertawa.

Bersama teman-teman sekelasnya ini, entah mengapa ia merasa bisa menjalani hubungan dengan baik.

Lalu, ia menatap Suzu Minaki yang bertubuh mungil di depannya.

Gadis itu memancarkan aura dewasa yang tampak sudah memahami banyak hal. Yura secara tidak sadar melihat ke sekelilingnya. Shizuku Isshiki dan Noa Hojou belum datang ke sekolah.

(...Minaki-san. Kalau kamu mau maju ke depan, aku yakin pasti akan ada banyak orang yang mengikutimu.)

Ia memiliki keyakinan seperti itu.   Jika Suzu melawan Noa Hojou sendirian, Suzu akan disegani di kelas ini.

Saat Shizuku Isshiki tidak menunjukkan pergerakan, jika timbul poros ketiga, orang-orang dipastikan akan bergerak serentak.   Namun, Suzu segera menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak berniat melakukan hal besar, dan rasanya itu tidak penting." Lalu, Suzu merendahkan suaranya.

"Yang benar-benar harus diwaspadai adalah...... Isshiki."

"Benarkah...?"

Dari sudut pandang Yura, Shizuku Isshiki hanyalah seseorang yang menyapa dengan ramah. Ia tidak pernah memamerkan kekuatan keluarganya seperti halnya Noa Hojou.

"......Yah, pada akhirnya, ini tentang apakah kita dipilih oleh Mizuki Toudou atau tidak. Jangan sampai terlalu larut dalam logika masyarakat wanita."

Logika masyarakat wanita.   Yura memikirkan artinya dengan baik, lalu tiba-tiba terbersit di pikirannya.

Apakah Noa Hojou sendiri justru yang paling terikat oleh logika tersebut?

◇◇◇

"Apa itu dominasi?"

Noa Hojou sedang bermimpi.

Ia merindukan suara ibunya yang tenang namun tegas.

"Dominasi adalah memberikan keuntungan ke dalam."

Kata-kata yang sering ia dengar selama pendidikan sebagai penerus keluarga Hojou. Saat itu, Noa yang masih SD belum memahami artinya.

"Dan merebut dari luar?"

"Apakah ada dua hal?"

"Posisikan keduanya bersamaan. Merebut dari luar, dan memberikan keuntungan ke dalam. Keberlanjutan dari mekanisme distribusi inilah yang disebut orang sebagai dominasi."

Noa Hojou lahir sebagai anak pertama dari keluarga Hojou.

Pada titik itu, masa depannya sudah hampir ditentukan.

Menyatukan anak-anak perempuan para Yoriki, meneruskan kepemimpinan keluarga Hojou, memperoleh kualifikasi anggota partai, menjadi warga negara tingkat satu, dan memimpin pasukan ke generasi berikutnya. Itulah makna keberadaan Noa Hojou.

"Noa, apa yang bisa kamu berikan kepada kami?"

"Eh......"

"Kamu kelak adalah sosok yang meneruskan posisi kepala keluarga. Kamu harus menganggap baik hal memberi sesuatu kepada kami."

"......"

"Cara paling sederhana adalah membuat batas baru. Berikan imbalan kepada mereka yang tunduk, dan hukuman kepada mereka yang menunjukkan permusuhan. Setelah itu, dengan mendistribusikan ini, struktur dominasi akan terbentuk. Jika kamu mencoba hal ini di keluarga Hojou, kamu bisa dengan mudah membunuh adik-adikmu yang lain."

Ajaran yang ditanamkan secara berulang-ulang itu membentuk sosok Noa Hojou yang sekarang.  

"Batasan seperti ini sudah dibangun oleh pendahulu kita sebagai sebuah sistem. Contohnya, sistem anggota partai. Ada batas yang jelas antara anggota partai dan nonanggota, dan bagi nonanggota, tidak ada posisi karier yang disediakan. Karena itulah, orang-orang menaikkan Skor Produktivitas mereka, menjaga kemurnian ideologi, dan secara sukarela mendedikasikan tenaga dalam pekerjaan maupun kelompok pembersih."

"......"

Sekarang ia memahaminya. Dominasi juga berarti menyediakan kursi.

Masyarakat yang dipenuhi Rasionalitas Ketertiban mengajarkan hal itu padanya.

"Secara sukarela menginginkan dominasi. Ketahuilah bahwa itulah inti dari dominasi."

"......"

"Sebagai langkah awal, gunakan anak-anak di sekitarmu, belajarlah dengan baik, dan berikan dorongan yang baik. Seseorang yang tidak bisa menggerakkan orang lain tidak bisa meneruskan nama keluarga Hojou."

Ia dibesarkan dengan kata-kata yang diulang-ulang tersebut.

Tindakan menggerakkan orang lain adalah hal yang menjadikan Noa Hojou sebagai penerus keluarga Hojou. Noa Hojou tidak dituntut untuk melakukan hal selain itu.

"......Noa-sama."   Suara di dekat telinganya membuat Noa melompat bangun.

Melihat ke sekeliling, ia memastikan bahwa ini adalah kamar asrama Yukari Shinonome.

Di sampingnya, Yukari yang masih setengah tidur sedang menempelkan tubuhnya.

"Hari ini kamu juga manis ya."

Noa membelai kepalanya dengan lembut.

Pujian itu hanyalah sebuah kebiasaan. Kebanyakan wanita merasa senang hanya dengan diucapkan hal ini, dan mereka akan mengarahkan pandangan penuh gairah kepada Noa.

Ia perlahan bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju wastafel.

Di dalam cermin, tampak sosok androgini dirinya.   Sesuatu yang sengaja diciptakan oleh Noa.

Wanita menginginkan pria. Dan tidak perlu menjadi pria sejati.

Noa mengamati wajahnya sendiri yang tanpa ekspresi, lalu menata rambutnya.

Memastikan tidak ada cela sedikit pun. "Noa-samaa."

Saat ia merapikan penampilannya, Yukari terbangun. "Kamu ini manja sekali ya. Sini, aku sisirkan rambutmu."

Yukari yang memeluknya memejamkan mata dengan nyaman saat Noa menyisir rambutnya.

Noa sangat memahami tindakan yang dicari oleh seorang wanita dari kekasihnya.

"Ayo, kita berangkat."

Setelah selesai berganti pakaian dan keluar dari asrama, di sekitarnya berjajar bangunan-bangunan bata merah yang dibangun pada era Taisho.

Noa menyukai pemandangan di sekitar Akademi Shirayuki ini.

Jauh lebih baik daripada pemandangan apartemen-apartemen seragam yang membosankan.  

"Pagi hari agak dingin ya."

"A......"

Noa sengaja merangkul bahu Yukari, mendekat lalu berbisik.

"Yukari, jangan menoleh ya. Kita sedang diintai."

"......"

"Biro Pengawas Etika?"

"Di dalam mobil?"

"Ya."

Pergerakan mereka lebih cepat daripada yang perkirakan.   Petugas pengawas etika yang menerima laporan pasti merasa curiga dengan situasi di Kelas K.

Tawa kecil terkekeh keluar dari mulut Noa.   "Pelapornya kemungkinan besar Nanase yang ditinggalkan sendirian di Kelas A."

Biro Pengawas Etika biasanya ditakuti dan dihindari oleh orang-orang. Jika demikian, orang yang melapor kemungkinan adalah orang dari partai.

"Oya, di sini hangat ya."

"N-Noa-sama...!"   Sambil mengelus pinggul Yukari, Noa memikirkan hal-hal yang akan terjadi selanjutnya.

Sebaiknya biarkan mereka melakukan kesalahpahaman selama mungkin.

Jika Hikari Nanase tidak membuang-buang energi dan bertindak sia-sia.

"Bagaimana kalau kita main-main dengannya?" Noa tersenyum tipis.

Noa Hojou adalah putri sulung dari keluarga Hojou.

Sejak kecil, ia menerima pendidikan ketat sebagai calon penerus dan belajar banyak tentang arti dominasi.

Dan sejarah gemilang keluarga Hojou selalu berdampingan dengan para Yoriki. Sama sekali tanpa rasa ragu, di mata Noa Hojou, yang ada sampai saat ini hanyalah Delapan Belas Keluarga Utama yang setara dengannya.

◇◇◇

"Tingkat kehamilan pada masa ovulasi dikatakan sekitar 30%, dan dalam perhitungan produksi populasi, umumnya digunakan angka 0,3."

Ruang kelas diselimuti oleh atmosfer yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Sambil menegakkan buku pelajaran seolah untuk menyembunyikan wajahnya, Mizuki Toudou melirik ke sekelilingnya. Di sebelahnya, Nene menunduk dalam-dalam dengan wajah yang memerah padam.

"Pria…… ah…… cairan sperma diproduksi dua hari sekali…… tentu saja variasi individu sangat besar, tetapi anggaplah keluar dua hari sekali, maka diasumsikan jumlah ejakulasi tahunan adalah 182 kali. Ini standar kalkulasi sederhana, tetapi—"

"——Begitu."

Guru olahraga juga tampak seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya, dan tidak mencoba menatap mata para murid.

"Usia mimpi basah pria sangat bervariasi antar individu, dan tidak ada jawaban pasti mengenai hal ini, tetapi demi kemudahan, kita hitung dari usia 15 tahun."

Mungkin ia mencoba bersikap tenggang rasa pada Mizuki. Kata-kata ambigu berlanjut seolah menghindari ketegasan.

"Di sini juga variasi individunya besar, tetapi secara berkelanjutan, batas usia ereksi diasumsikan hingga 40 tahun. Jika menggunakan model ini, perkiraan masa ejakulasi adalah 25 tahun. Ini hanyalah model kalkulasi sementara untuk produksi populasi."

Ia bermaksud menunjukkan pemahaman bahwa pendidikan kesehatan itu penting, tetapi di tengah rasio gender yang ekstrem ini, situasinya tampak seperti neraka. Suara guru olahraga yang berusaha ceria justru terdengar ironis dan menyakitkan.

"Nah, mari kita hitung. Tingkat kehamilan pada masa ovulasi adalah 0,3, dan jumlah ejakulasi tahunan adalah 182 kali. Jika itu berlanjut selama 25 tahun…… Nah, apakah ada yang bisa menghitungnya?"

Keheningan yang tak menyenangkan melanda.   Yura Aihara maupun Shizuku Isshiki, yang biasanya paling cepat mengacungkan tangan, menunjukkan ekspresi tidak tahu.

"Ya, jawabannya adalah 1.365 orang. Ini adalah nilai teoritis anak yang lahir dari satu orang pria, dan—"

"Dikatakan sebagai nilai maksimum produksi individu."

"1.365 orang."

"Mungkin ada di antara kalian yang merasa angka ini lebih banyak dari yang dibayangkan. Angka ini bahkan lebih banyak dari jumlah murid perempuan di Akademi Shirayuki. Di zaman saat harapan hidup sekitar 30 hingga 40 tahun, atau di era saat penyakit menular merajalela, produksi populasi masih memiliki cukup kelonggaran dengan angka ini."

Mungkin karena beralih ke topik teoritis, nada bicara guru olahraga kembali normal seperti biasa.

"Lantas, di era modern saat pembuahan buatan sudah menjadi hal lumrah, mengapa kita harus mempelajari hal ini? Itu karena konstanta nilai maksimum produksi individu sebanyak 1.365 ini digunakan di berbagai bidang."

Di buku pelajaran tercantum peta dunia.

Pada saat yang sama, tercantum nilai rata-rata produksi individu di setiap negara, dan beberapa negara memiliki angka yang sangat menonjol.

"Contohnya, di Kekaisaran Inggris, dari angka nilai maksimum produksi individu sebesar 1.365 ini, mereka menghitung jumlah minimum pria yang harus disisakan di koloni dan menyerap sisa pria lainnya. Nilai maksimum produksi individu ini juga menjadi teori penting yang mempengaruhi pengambilan keputusan di tingkat militer."
Di sana, guru olahraga menatap Mizuki dengan penuh arti.

"Saat ini, berkat donor genetika, nilai maksimum produksi individu ini melonjak lebih tinggi lagi, tetapi…… yah, persetubuhan rekreasi——"

"Dengan kata lain, itu adalah pemborosan sumber daya masyarakat, dan harus dilakukan secukupnya. Sekian."

Saat bel berbunyi, guru olahraga bergegas keluar seolah melarikan diri.

Para murid yang tersisa tidak mengatakan apa-apa, dan tidak ada yang berdiri.

Mizuki buru-buru merapikan buku pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, lalu memulai persiapan untuk pelajaran berikutnya meski biasanya tidak ia lakukan.   Bagaimanapun, ia ingin melakukan sesuatu saat ini.

***

"Aku teringat sesuatu dari pelajaran tadi, ngomong-ngomong, donor genetika akhirnya akan segera dimulai ya."

Di ruang kelas yang hening, suara Shizuku Isshiki bergema, entah kenapa terasa terang-terangan.   Menerima tatapan dari seluruh ruang kelas, Shizuku mendekati Mizuki sambil tersenyum.

"Saat donor genetika, apakah orang yang mendampingi Anda sudah ditentukan?"

Dalam hal donor genetika seminggu sekali, sudah menjadi kebiasaan masyarakat untuk membawa wanita terdekat sebagai asisten pendamping.

"Untuk murid SMA, biasanya teman sekelas akan mendampingi sebagai asisten."

"Anu……"   Mizuki kehabisan kata-kata dan melihat ke sekelilingnya.

Tanpa disadari, pandangan dari seluruh ruang kelas terpusat pada Mizuki.

Dan keheningan aneh melanda seolah semua orang sedang memasang telinga.

"Aku baru mau memikirkannya, tapi……"

Asisten donor genetika pada dasarnya mengacu pada tindakan seksual tidak langsung untuk mengambil cairan sperma.

Mizuki sadar matanya goyah sendiri. Rok Shizuku Isshiki tampak sangat pendek secara aneh.

Pandangan mata seolah tersedot ke paha yang tampak sehat itu. Lalu, tanpa disadari, Noa Hojou juga berdiri di dekatnya sambil menatap Mizuki. Roknya juga menjadi lebih pendek dan kancing blusnya terbuka, memperlihatkan belahan dadanya.

"Ya. Jika ditunjuk, siapa pun akan senang."

Shizuku tersenyum dengan postur tubuh yang tegap.   Berseberangan dengan gerak-gerik yang indah itu, entah mengapa ada atmosfer yang agak sensual.

Para siswi di sekitarnya juga menyilangkan kaki seolah ingin memamerkan diri.

"……" Tiba-tiba, Mizuki menatap Nene.

Sama seperti biasanya, wajahnya memerah padam dan tubuhnya membungkuk.   Penampilannya yang tidak berubah memberikan rasa aman bagi Mizuki. "……Kaminari-san."

"Hya, hyai?!" Melihat Nene yang melompat saat menjawab, Mizuki terkekeh.

Meskipun Mizuki mencoba berbicara dengan teman-teman sekelasnya secara merata sejak masuk sekolah, orang yang paling sering bertukar kata dengannya, termasuk obrolan ringan saat pelajaran, adalah Nene yang duduk di sebelah kursinya. Mizuki menumbuhkan rasa suka pada gadis yang jujur dan polos ini, serta menganggapnya sebagai orang yang bisa dipercaya.

"Saat donor genetika nanti, bolehkah aku minta bantuan Kaminari-san untuk mendampingi?"

"K-K-Kalo tidak keberatan dengan aku, t-tentu saja!" Punggungnya yang membungkuk menjadi semakin membungkuk, hingga Nene tampak seolah-olah akan tenggelam ke dalam meja.

Mizuki sedikit penasaran seberapa kecil Nene bisa meringkuk. "Kalau begitu, bagaimana kalau Sabtu sebelum makan siang?"

"Aku siap! Tidak masalah!"

"Ya. Kalau begitu, aku akan minta Mikado-san untuk menyiapkan mobilnya ya."

"B-Baik!"

◇◇◇

"Saat donor genetika nanti, bolehkah aku minta bantuan Kaminari-san untuk mendampingi?"

"K-K-Kalo tidak keberatan dengan aku, t-tentu saja!" Suzu Minaki menyeringai sambil melihat pemandangan itu dan berpikir, 'Sudah kuduga.'  Logika masyarakat wanita tidak berlaku pada Mizuki Toudou.

Kasta antarwanita sama sekali tidak ada artinya. Melihat Shizuku Isshiki dan Noa Hojou yang terpaku, dalam hati Suzu mengutuk, 'Rasakan itu.'  

Gadis-gadis itu pasti berpikir bahwa yang akan dipilih adalah salah satu di antara mereka berdua.

Atau mereka berpikir Mizuki akan memilih rakyat biasa yang tersisa demi menjaga keseimbangan kelas pada donor genetika kedua.   Namun, yang terpilih adalah rakyat biasa yang bahkan tidak berasal dari keluarga terpandang di daerah.

(Makin ingin rasanya memiliki dia)

Meskipun skor kreditnya yang rendah sempat mengganggu, sejauh pengamatan Suzu, Mizuki Toudou memiliki kepribadian yang sangat jujur. Ia juga punya mata untuk menilai wanita.

'Mata untuk menilai wanita' ini adalah hal penting bagi rakyat biasa seperti Suzu.

Jika para istri yang dinikahi hanya dinilai dari penampilan dan asal-usul keluarga tanpa melihat sifatnya, imbas buruknya akan menimpa orang seperti Suzu.

(Tapi, apakah tidak apa-apa kalau aku yang terpilih?)  

Nene Kaminari yang terpilih adalah siswi dengan tubuh paling tinggi di kelas. Malahan Suzu Minaki adalah yang paling pendek di kelas, dan jika Nene menyukai gaya seperti itu, ada kemungkinan Suzu tidak akan dijadikan pilihan.

(Kalau begitu, perlu dilakukan penjualan sistem paket ya) Suzu melirik ke arah Yura Aihara.

Dia tipe yang menyapa dengan suara keras seperti orang bodoh setiap pagi.

Baik atau buruk, dia adalah orang desa yang belum terkontaminasi oleh kota besar.

(Kalo tolok ukurnya Mizuki Toudou, dia pas sekali)  

Suzu membuat keputusan di dalam hatinya. Rata-rata pria mengambil tiga hingga lima istri.

Jika dijual dalam paket, jika Nene mengikuti perkembangan, kemungkinan Suzu dinikahi juga sangat tinggi.

***

"……Apakah anak-anak yang kusiapkan tidak ada yang sesuai dengan seleramu?"

Noa Hojou menyapa Mizuki seolah mengukur waktu yang pas.   Suzu memperhatikan hal itu dari kejauhan sambil tersenyum sinis.

"Lagipula, waktu itu aku sudah bilang, kalau menggunakan aku, kamu harus menikahiku, jadi mungkin itu menimbulkan kesalahpahaman. Biar kujelaskan dengan benar ya."

"Anu……"

"Kalau cuma sampai bantuan donor genetika, itu adalah kewajiban wanita dan bukan status Otetsuki (tersentuh), jadi jangan ragu untuk menunjukku."

"Kamu tidak perlu sungkan denganku kok."   Sikap Noa Hojou jelas-jelas tidak seanggun biasanya.

"Ah, benar. Apakah kamu suka anak yang tinggi? Aku juga merasa diriku cukup tinggi, tapi kalau kamu punya gaya rambut yang diinginkan, katakan saja ya."

"Anu……"   Mizuki menunjukkan wajah yang kebingungan.

Noa masih belum menyadari kondisi Mizuki.

"Atau mau coba menyapa anak-anak model, atau anak-anak yang suka bola voli?"   Mikirnya dangkal sekali, Suzu mendengus.

Logika kelas atas.

Logika Delapan Belas Keluarga Utama.

Logika wanita. Nilai-nilai Noa Hojou sudah kaku dan membeku.

Dan hal itu tidak sejalan dengan Mizuki Toudou.

"A-Aku bisa lebih berguna lho? Kalau kamu mengajukan permintaan secara spesifik, aku bisa melakukan apa saja."

"……Hojou-san." Lalu, Mizuki bicara seolah menasihatinya.

"Jangan katakan hal seperti itu lagi."

Ruang kelas menjadi hening seketika. Noa Hojou menunjukkan ekspresi seolah tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan padanya.

"Aku tahu Hojou-san berusaha memperhatikan aku……"

"……"

"Tapi kalau berteman secara biasa, aku akan jauh lebih senang."

"……"

"Mungkin kalau terlalu berlebihan seperti ini rasanya kurang baik, jadi…… ah, ya…… begitu deh…… tolong hati-hati ya."   Mungkin tidak hanya Noa Hojou saja.

Seluruh isi kelas tampaknya tidak memahami situasi ini dengan benar. Ini baru hari kelima sejak masuk sekolah.

Faksi besar yang dibuat Noa Hojou secara kilat seharusnya bisa menelan kelas ini tanpa masalah.   Namun, Noa Hojou sama sekali tidak dianggap sebagai ancaman, menciptakan situasi aneh yang membuat semua orang merasa bingung.

(……)

Suzu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah Shizuku Isshiki.

Di sana terdapat rasa terkejut, keguncangan, dan kebingungan.

Dan juga, tatapan mata yang dipenuhi oleh hasrat.

(……Ada apa…… dengan orang ini?)

Orang yang dipilih untuk mendampingi donor genetika adalah Nene Kaminari yang merupakan rakyat biasa.

Shizuku Isshiki, yang memilih menjadi pendamping atas kemauannya sendiri, seharusnya berada di posisi yang memalukan.

Meski demikian, ekspresi Shizuku Isshiki bahkan memperlihatkan rona kegembiraan. Seolah-olah ini adalah perhitungan yang menyenangkan baginya.

(……Dia bahkan tidak kelihatan senang karena Noa diabaikan)

Keluarga Isshiki berada di posisi yang sangat khusus bahkan di antara Delapan Belas Keluarga Utama.

Keluarga mereka, yang dipanggil sebagai Pelindung Ketertiban, cenderung berada dalam posisi terisolasi dari keluarga terpandang lainnya. Dan, gadis ini pun terus sendirian di ruang kelas ini.  

Meski penampilannya tidak memperlihatkan apa yang dipikirkannya, entah bagaimana ia tampak agak menakutkan.

"Aku jadi lapar ya. Jam istirahat makan siang masih lama, kan?"

Seolah ingin mengubah topik percakapan, Mizuki berbicara kepada para siswi di sekitarnya.  

"Hei, hari ini kalian pergi ke kantin sekolah, kan?"

"Iya. Apakah ada menu khas atau sejenisnya?"

"A-Aku sudah menyelidikinya, katanya masakan yang menggunakan kaldu (dashi) sangat enak lho!"

"Aku sudah pernah ke sana sejak SMP, dan semuanya sangat direkomendasikan!"

"Aku pergi pada hari pertama. Tempatnya sangat indah. Aku yakin Mizuki-sama juga akan menyukainya!"

Melihat para siswi di sekitarnya berebut masuk ke dalam percakapan, Suzu mengamati Shizuku Isshiki dari sudut pandangnya.  Gadis itu masih terus memperhatikan Mizuki Toudou dari jauh. Ia bahkan tidak mencoba ikut bergabung dalam percakapan.

Shizuku Isshiki belum menunjukkan pergerakan apa pun.  

◇◇◇

"Singkatnya, rasio jantan dan betina pada mamalia selain manusia mendekati 1:1. Ini yang disebut sebagai prinsip Fisher."

Pelajaran jam keempat: Biologi.   Seorang guru paruh baya berambut keriting keunguan terus berbicara dengan bersemangat.

"Menarik, bukan? Lantas, mengapa hanya manusia yang spesial? Mengenai hal ini, ada berbagai teori ilmiah."

"Pada dasarnya, ini adalah cacat yang tidak mungkin terjadi pada mamalia."

"Apakah makhluk hidup yang memiliki lebih banyak jantan juga ada di suatu tempat?, pikir Mizuki samar-samar.

"Satu hal yang bisa dikatakan adalah bahwa rasio gender ekstrem yang dimiliki manusia menjadi dorongan bagi peradaban. Untuk berkembang biak, dibutuhkan kelompok yang sangat besar, dan hal itu menciptakan negara yang tidak terlihat oleh makhluk hidup lain, hingga membentuk peradaban tinggi. Sebaliknya, jika rasio gender manusia sama, mungkin kita tidak akan bisa membangun masyarakat berperadaban seperti ini dan hidup dalam kelompok kecil seperti hewan."

Di sana, bel sekolah berbunyi.

"Kalau begitu, sampai di sini untuk hari ini."

Melihat guru biologi melangkah keluar, Mizuki meregangkan badannya.   "Apakah ada yang mau pergi ke kantin sekolah bersama?"

Saat Mizuki bertanya, seluruh murid di kelas berdiri secara serentak.

"Eh, semuanya?"

"Aku berminat!"

"Aku ingin mencoba pergi ke sana sekali!"

"Karena aku sudah sering langganan sejak SMP!"

"B-Begitu ya."

Mizuki, yang awalnya memperkirakan sekitar separuh kelas, merasa tertegun sejenak, namun tetap melangkah menuju kantin bersama seluruh isi kelas. Pemandangan 46 orang yang bergerak bersama-sama itu terasa persis seperti perpindahan ruang kelas.

"T-Tidak perlu memaksakan diri menyesuaikan dengan ku kok?"

"Tidak, kami tidak punya kesempatan pergi ke sana sebelumnya, jadi ini pas sekali!"

"Iya, iya. Foto-fotonya kelihatan enak juga!"

Akademi Shirayuki adalah sekolah terpadu SMP-SMA, dan di dalam jalurnya terdapat beberapa bangunan yang berjajar.

Untuk menuju ke kantin, Mizuki dan yang lainnya perlu berjalan sedikit dari gedung utama tempat mereka belajar.

"Kalau dilihat-lihat begini, murid SMP juga lumayan banyak ya."

Dalam perjalanan, sesekali mereka berpapasan dengan murid-murid yang tampak seperti siswa SMP.

Gedung SMP dan SMA menggunakan gerbang sekolah yang berbeda, sehingga sebelumnya hampir tidak pernah terlihat.

"Karena separuh murid di sini berasal dari gedung SMP. Selain kantin bersama dan perpustakaan, kita jarang berpapasan kok."

"Begitu ya. Perpustakaan dan lainnya juga gabung ya."

"Shizuku Isshiki dari gedung SMP akan menjelaskannya."

"Eh, ada gedung SMP juga?"

"Gedung SMP terpisah sepenuhnya. Karena mereka masih muda dan belum bisa membedakan hal baik/buruk, beberapa dari mereka bahkan sampai sengaja berhenti dan menatap."

Di antara murid SMP yang berpapasan, ada yang sengaja menghentikan langkah dan mengarahkan pandangan mereka.

Shizuku berpindah posisi berjalan ke sisi dinding agar menjadi penghalang.

"Mohon maklumi. Karena murid SMP hanya terdiri dari perempuan, mereka belum terbiasa."  

"……Tolong maklumi dia. Dia memang seperti itu."

Noa Hojou, yang tampak agak lesu, menimpali penjelasan tersebut.

"Hojou-san juga lulusan internal?"

"Ya, jadi aku lumayan paham tentang fasilitas di dalam sekolah."

"Begitu ya. Kalau ada apa-apa, aku boleh minta bantuanmu ya."

"T-Tentu saja!"   Saat Mizuki tersenyum padanya, wajah Noa seketika menjadi sedikit lebih cerah.

"Kalau begitu, Isshiki-san dan Hojou-san sudah saling kenal sejak SMP?"

"Kami tahu wajah satu sama lain…… tapi tidak pernah berada di kelas yang sama."   Seketika, timbul jeda canggung di antara mereka.

Saat Mizuki menunjukkan wajah heran, Shizuku menambahkan penjelasan untuk mengisi keheningan.

"Karena ada lima kelas, banyak juga murid yang belum pernah mengobrol sama sekali."   Sementara mengobrol, mereka akhirnya sampai di kantin.

Berbeda dengan gedung sekolah utama, tempat ini memiliki tampilan modern dan terlihat seperti restoran.

"Wah…… lebih besar dari yang kubayangkan ya."

"Ada 800 kursi. Di dalam juga ada kafetaria."

Ketika masuk ke dalam, membentang ruangan yang jauh lebih luas dari bayangan. Di area dekat dinding, berjejer beberapa konter seperti food court.

"A-Apa ya yang direkomendasikan?"

"Benar ya. Untuk sementara, bagaimana kalau menu paket (teishoku) saja?"

"Udon Shirayuki juga terkenal lho!"

"Menu donburi dengan kuah kaldu yang gurih sangat enak!" Para teman sekelas menyebutkan menu favorit mereka masing-masing.

Mizuki menatap Nene Kaminari seolah meminta bantuan.   "K-Kalau Kaminari-san bagaimana?"

"Eh, a-aku…… mikirnya mau pesan menu paket harian sih"

"Kalau begitu, aku ikut itu saja deh." Mizuki menuju ke konter menu paket paling depan untuk memesan dan membayar.

Para teman sekelas pun menyusul di belakangnya secara berurutan. "M-Mendingan kalian pilih apa yang kalian suka saja……"

"Ini bagus kok!"

"Memang lagi ingin makan ini kok!"

"Beneran? Kalian tidak memaksakan diri kan?"

Nampan menu paket segera diserahkan di konter pengambilan. Tampaknya menu hari ini adalah Paket Ayam Goreng (Karaage Teishoku).

Setelah Mizuki menerimanya, ia berjalan menuju meja kosong yang tampaknya bisa diduduki oleh seluruh anggota kelas.

Saat Mizuki duduk menunggu, para siswi kelasnya berkumpul di sekitarnya satu per satu.  

"……"

"……"

Anehnya, tidak ada seorang pun yang langsung duduk.

Tanpa alasan yang jelas, pandangan semua orang tertuju pada Nene.

"……"

Saat Nene dengan ragu-ragu duduk di depan Mizuki, seolah hal itu menjadi sinyal, teman-teman sekelasnya mulai duduk di kursi kosong terdekat. Tampaknya ada semacam hierarki di antara para siswi.

Kedua sisi di samping Mizuki secara alami dikuasai oleh Shizuku Isshiki dan Noa Hojou.  

(Mulai besok bawa bekal saja deh)

Saat Mizuki mulai makan dengan bulatan tekad di dalam hatinya, terlihat rombongan yang masuk ke kantin secara beriringan.

"Lho, bukannya itu anak kelas satu?"

Terdengar suara laki-laki.

Mizuki spontan menghentikan sumpitnya.

"Hei, dasi merah itu! Beneran sesama kelas satu, kan!"

Seorang pria yang memimpin rombongan siswi berjalan lurus ke arah mereka sambil mengangkat tangan kirinya.

"Senang bisa ketemu, bro!" Pria itu berambut pirang pendek gaya spiky dengan tubuh tinggi dan ramping yang mengesankan.

Tanpa ragu, ia langsung duduk santai di meja sebelah Mizuki. Lalu, ia mengumbar senyum ramah pada Mizuki.

"Yo! Gua Kento Shirakawa dari Kelas C. Salam kenal ya!"

Di sekitar siswa laki-laki yang memperkenalkan diri itu, ada sekitar 20 siswi kelas C yang berdiri mengelilinginya.

Tidak ada satu pun yang mencoba duduk di kursi. "Lu dari kelas mana?"

"S-Salam kenal. Gua Mizuki Toudou dari Kelas K."

"Hee, Kelas K……"

Tatapan Kento Shirakawa tertuju pada Mizuki seolah sedang menilai harganya. "Gua suka cowok yang mukanya lumayan," ujarnya.

"Eh?"

"Maksudnya, ayo kita berteman baik!" 

"I-Iya, tentu."

Sambil mengobrol, Mizuki melihat ke arah para siswi di belakang Shirakawa.

Mereka semua masih berdiri.

"Gua tadi nyoba nyapa beberapa cowok lain juga lho." Sambil berkata begitu, Shirakawa mengeluarkan dompetnya. "Sori ya, tolong beliin makanan yang pas dong."

"Baik." Seorang siswi kelas C menerima dompetnya lalu berlari pergi.

Entah kenapa terasa ada kejanggalan.

"Gimana cowok-cowok di kelas lain?"

"Anak-anak Kelas A pergaulannya kaku banget, terus anak Kelas B cuma tertarik sama cewek doang tuh."

Lalu, Shirakawa mengangkat bahunya.   "Anak Kelas E tidur terus dari tadi. Yah, isinya cuma cowok-cowok cuek doang sih."

"Bukannya sedikit ya cowok yang mau temenan?"

"Mungkin aja. Ngomong-ngomong, lu udah nentuin pengabdian masyarakat minggu depan belum?"

"Iya. Gua udah cek di rumah, tapi masih belum begitu paham, jadi belum menentukan."

"Apaan tuh? Lu tipe yang suka bolos waktu SMP ya?"

"Iya. Sebenarnya hampir tidak pernah pergi sekolah."

Seketika, tangan Shirakawa menggenggam erat bahu Mizuki.   "Gak apa-apa kok. Tidak usah takut."

"I-Iya."

"Gimana kalau ikutan upacara ritual? Cuma duduk sambil senyum-senyum aja tapi poinnya tinggi lho. Awalnya yang begini oke banget. Ikut parade militer juga boleh. Setelah itu makan-makan pesta berdiri (standing party) partai. Makanan enak lho!"

Mizuki merasa kaget melihat Shirakawa yang berbicara dengan sangat lancar.

"W-Wah, kau paham banget ya."

"Yoi, di Pasal 1 Undang-Undang Promosi (Suishin-hou) juga tertulis gitu kan. 'Semua pria memiliki kewajiban untuk berpartisipasi dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang ditetapkan oleh negara'."

Di tengah-tengah percakapan, siswi Kelas C membawakan makan siang untuknya. Menu Katsudon.

"Ooh, tengkiu ya. Nah, pengabdian itu kan salah satu bentuk pembentukan kepribadian, sekaligus berkontribusi pada pemeliharaan ketertiban umum. Artinya ini demi kita juga. Kita harus berterima kasih sama Partai!"

Melihat Shirakawa yang menyantap katsudon, Mizuki melirik para siswi di belakang Shirakawa.

Mungkin saja ia membuat para siswi itu merasa canggung dengan percakapan sesama pria ini, pikir Mizuki.

"……Anu…… makan siangnya, tidak pesan?"

"Kami belakangan saja."

Meskipun ditanya dengan agak ragu, para siswi Kelas C tampaknya tidak berniat untuk ikut makan saat ini.

Tanpa memedulikan hal itu, Kento Shirakawa menyelesaikan kunyahannya dan kembali membicarakan pengabdian masyarakat.

"Tapi ya, acara formal atau parade itu tergantung musimnya sih. Jadi mendingan biasakan dulu dari yang durasinya pendek."

"Shirakawa-kun mau ikut kegiatan apa?"

"Gua? Gua rencananya mau keliling klub buruh lokal sama kelompok pembersih (seikadan). Kan tertulis di Pasal 7 Undang-Undang Promosi, kalau kita harus punya rasa cinta sama daerah lokal."

Sambil mengangguk mendengar ucapan Kento, Mizuki menggigit ayam gorengnya.

"Hee, sampai sedetail itu ya isi Undang-Undang Promosi."

"Iya dong. Undang-Undang Promosi itu kayak kitab sucinya kita. Pasal 7 itu mendorong pengabdian ke daerah lokal dan memprioritaskan kegiatan yang berkontribusi pada peningkatan taraf hidup warga sekitar."

Beberapa siswi di sekitarnya yang mengamati situasi mengangguk menyetujui, "Itu hal yang sangat luar biasa."

Mizuki melihat alur pembicaraan itu lalu mencoba mengalihkan pertanyaan kepada para siswi.

"Apakah kalian semua menghafal seluruh isi Undang-Undang Promosi?"

"Walaupun kami mempelajarinya, kami tidak menghafal seluruh teksnya kok."

"Kami juga tidak sampai menghafalnya. Tapi kami paham betul betapa pentingnya hal itu bagi pria."

"Itu adalah kewajiban yang khusus bagi pria, ya."

Saat itu, suasana di tempat tersebut mendadak berubah.

Senyum ramah Kento Shirakawa perlahan-lahan mulai terdistorsi.

"……Kalian paham, ya?"

Suara Kento terdengar berat dan menahan emosi. Suara denting sumpit yang diletakkan bergema.

"Hei……"

Mendadak, Shizuku Isshiki merangkul Mizuki seolah hendak melindunginya. Pada saat yang sama, Noa Hojou juga maju ke depan seolah ingin menutupi mereka.

"Kalian ini sebenarnya paham apa tentang kami?!"

Akibat teriakan mendadak itu, seluruh kantin menjadi hening seketika.

Kento berdiri dengan wajah memerah dan menatap tajam ke sekelilingnya. Para siswi Kelas C panik mencoba menarik lengan baju Kento, tetapi ia menepisnya.

"Apa yang wanita tahu tentang kami?! Betapa beratnya kewajiban dan pengabdian yang harus kami tanggung?!"

Melihat perubahan sikap yang mendadak ini, Mizuki tidak mampu merespons.

Di dalam pelukan Shizuku Isshiki, Mizuki hanya bisa menatap Kento Shirakawa yang napasnya terengah-engah.

Di dalam matanya tidak hanya ada amarah belaka, melainkan percampuran berbagai emosi yang kalut.

"……"

Kantin hening sepenuhnya, hanya deru napas Kento yang kasar yang terdengar. Namun di saat berikutnya, Kento seolah baru tersadar, menghela napas, dan menundukkan bahunya.

Di tengah sisa-sisa gaung teriakannya, ia bergumam pelan.

"Sori…… gua mendadak emosi……"

Sembari deru napas kewaspadaan Shizuku terdengar di dekat telinganya, tak ada seorang pun yang bersuara.

"Sori ya, udah bikin suasana jadi aneh." Kento memperlihatkan senyum yang dipaksakan menyerupai tangisan, lalu melihat ke sekeliling.

Pandangan seluruh orang di kantin tertuju padanya.

"Sori ya, suasana jadi canggung begini."

Sambil berkata begitu, ia meninggalkan nampannya dan berbalik pergi. Para siswi Kelas C dengan panik bergegas menyusulnya dari belakang.

Sosok punggungnya yang berjalan gontai terlihat begitu kecil dari belakang.

"……"

***

"Saya mohon maaf. Seharusnya saya memperingatkan Anda lebih awal," berbisik Shizuku di dekat telinganya.

"……"

"Ini adalah informasi yang tidak dipublikasikan secara umum, tetapi dia di masa lalu pernah menjalani proses Optimasi Ideologi (Shisou Saiteki-ka)."

"……"

"Ada pandangan yang disebut Pemulihan Kembali (Saiseisan), yaitu untuk menghilangkan dampak pelecehan seksual dari ibu kandungnya. Hal itu dilakukan terhadap pria yang merupakan sumber daya masyarakat yang sangat berharga, dan jika ada kemungkinan tidak bisa kembali ke masyarakat, tindakan administratif berupa manipulasi kepribadian akan diterapkan."

Itulah hal yang paling ditakuti oleh Mizuki Toudou saat ia masih berada di kelas 3 SMP.

"Maafkan saya, penilaian saya terlambat. Seharusnya saya memotong pembicaraan lebih awal."

Mizuki yang terdiam hanya bisa menatap punggung Kento Shirakawa yang makin menjauh, sementara Noa mencoba menenangkannya.

"……Shirakawa-sama adalah…… sosok yang luar biasa. Setelah menerima Optimasi Ideologi, beliau berusaha keras menjalankan kewajibannya secara sungguh-sungguh."

"……Ya."

Bagi Mizuki yang dulunya menolak sekolah dan tidak pernah melakukan pengabdian masyarakat, Kento terlihat sangat tulus dan benar-benar mengkhawatirkannya.

Mata itu tidak berbohong.

Dan Mizuki mengingat kembali bahwa alasan dirinya mulai memikirkan kematian adalah akibat dari Optimasi Ideologi tersebut.

Mansion kelas dua yang berjejer. Kota sepi tanpa penghuni. Jalanan gelap. Beberapa pemandangan terlintas di benaknya seperti lentera sihir. Saat ia bersinggungan dengan kematian, ingatan yang seharusnya tidak ada mendadak bercampur.

Jika bukan karena hal itu, Mizuki Toudou mungkin juga akan menjalani Optimasi Ideologi sama seperti Kento.

"……"

Mizuki seolah terdorong oleh sesuatu, berdiri dari kursinya dan berlari.

"Mizuki-sama?!" Suara Shizuku Isshiki terdengar dari belakang.

Kento Shirakawa sudah berada di luar kantin.

"Shirakawa-kun!"

Kento menoleh dengan raut wajah penuh rasa curiga. Mungkin karena efek terlalu lama dirawat di rumah sakit, Mizuki cepat merasa kehabisan napas dan menghentikan langkahnya sambil bernapas terengah-engah.

"……Ada apa sih?"

Suaranya terdengar tidak senang. Namun bagi Mizuki, sosok Kento terlihat bagaikan binatang terluka yang sedang mengarahkan ancaman sekuat tenaga dengan sisa keputusasaannya.

"Mulai sekarang pun, aku ingin kita tetap berteman baik."

"……"

"Aku tidak punya teman laki-laki sama sekali."

"……"

"Aku sudah lama tidak pergi ke sekolah, dan aku tidak tahu apa-apa tentang dunia luar, tapi……"

"……"

"Jadi, aku ingin kita bisa berteman."

Mata Kento Shirakawa dipenuhi oleh warna emosi yang bercampur aduk antara rasa terkejut dan keheranan.

"Lu…… aneh banget ya."

Lalu, ia memperlihatkan senyuman ramah seperti yang ditunjukkannya pertama kali.



Chapter 1 | ToC | Chapter 3

Post a Comment

Post a Comment