Chapter
3
Persembahan Pertama
Mizuki Toudou sedang menatap layar laptop di
kamarnya yang luas.
Mizuki sendiri dulunya adalah warga negara
tingkat lima, namun karena alasan keamanan, anak laki-laki di bawah umur diberi
tempat tinggal yang diperuntukkan bagi warga negara tingkat dua.
Di layar monitor berjejer daftar tempat
pengabdian masyarakat, beserta rincian tugas pengabdian yang dijelaskan secara
detail.
"……"
Di leher Mizuki, dua buah lengan melingkar
dari belakang.
Pada saat yang sama, bagian belakang
kepalanya dibelai oleh sentuhan yang lembut.
"……Anu, kamu marah?"
"Ada apa gerangan?"
Dada yang lembut dan empuk terus menempel
padanya.
Mizuki mendongak menatap pemilik dada yang
terus berubah bentuk bagaikan sesuatu yang lembut tersebut, yaitu ajudannya,
Rei Mikado.
Sebenarnya, ajudan pada jam seperti ini
seharusnya bersiap di rumahnya sendiri yang berada di sebelah, namun sejak
Mizuki keluar dari rumah sakit, Rei menghabiskan sebagian besar waktunya di
sini.
"……Soalnya untuk pendamping donor genetika, aku memilih
Kaminari-san."
"Gadis itu terlihat bersungguh-sungguh dan merupakan wanita
yang baik. Saya sama sekali tidak
marah," kata Rei melanjutkan. "Tapi,"
"Saya sempat berharap Anda akan mengajak
saya."
"……Ya."
"Sudah menjadi kebiasaan untuk membawa
teman sekolah. Anda tidak perlu memikirkannya."
Empuk, empuk.
"Anu…… kalau tidak marah, dari tadi ada
apa ya?"
"Mizuki-sama saat masih kecil sangat
menyukai dada saya yang besar ini."
"……Aku ingat kok."
"Seminggu ini berjalan dengan lancar,
jadi saya ingin agak bermanja-manja."
"……"
Muni, bagian belakang kepalanya makin terbenam
ke dalam kelembutan itu.
Mizuki melepaskan tangannya dari papan ketik,
lalu menyandarkan seluruh berat tubuhnya.
"Mizuki-sama sudah menjadi sosok yang
sangat luar biasa."
"Aku cuma baru bisa mulai pergi ke
sekolah dengan lancar, belum melakukan apa-apa kok."
"Perkembangan itu sendiri sudah sangat
luar biasa."
Hening sejenak melanda. Keheningan yang
terasa begitu nyaman.
Mizuki memejamkan mata sambil tetap
menyandarkan berat tubuhnya pada Rei di belakangnya.
"Ngomong-ngomong,"
"Ya, ada apa?"
"Selain dada, apakah aku tidak memiliki
daya tarik lain?"
"Eh?"
"Soalnya Anda sama sekali tidak menyentuh
saya."
Rei mengatakannya dengan nada yang entah
mengapa terdengar tidak puas.
"Y-Yah……"
"Apakah Anda masih memiliki rasa
takut atau canggung terhadap wanita?"
"Rasanya agak sulit dijelaskan, tapi
aku cuma agak merasa sungkan saja……"
"Sungkan, begitu?"
Rei bertanya dengan raut wajah yang
benar-benar bingung.
"Maksud ucapanmu itu, aku kurang memahaminya."
"……Iya juga ya."
"Mizuki-sama tidak perlu merasa sungkan
sama sekali lho."
"Iya. Di dalam kepalaku aku tahu hal itu,
tapi……"
Di situ Mizuki meregangkan badan, lalu berdiri
dari kursinya.
Daftar tempat pengabdian masyarakat sangat
banyak, dan tak kunjung bisa diputuskan.
"Mungkin aku mau jalan-jalan sebentar
untuk mencari udara segar."
"Mau saya siapkan camilan malam?"
"Tidak usah. Aku cuma mau keluar
sebentar, boleh kan?"
"Di luar, ya?"
"Tadi sewaktu lari sedikit pas makan
siang, aku langsung napas terengah-engah. Rasanya aku harus mengembalikan
stamina sebelum festival olahraga."
"……Kaki Anda tidak apa-apa?"
Mizuki melakukan gerakan tekuk lutut di
tempat.
"Agak kaku sih rasanya, tapi…… dokter juga bilang latihan ringan tidak
masalah."
"Baiklah. Tapi tolong jangan terlalu
memaksakan diri ya."
"Iya."
Mizuki berganti pakaian ke baju olahraga, lalu
menuju pintu keluar bersama Rei.
Sensor manusia bereaksi, dan lampu merah
menyala.
Perangkat pengawas yang dipasang sejak Mizuki
mengalami kecelakaan lalu lintas.
Mizuki dan Rei melewati sensor tersebut seolah
tidak menyadarinya, lalu keluar ke koridor apartemen.
"Malam hari agak dingin ya."
"Mau saya ambilkan jaket?"
"Tidak usah. Kalau lari nanti juga akanan
hangat kok."
Mendatangi lift khusus pria untuk turun ke
lantai satu.
Setelah menyapa singkat concierge dan petugas
keamanan, mereka keluar dan mendapati kawasan permukiman yang sudah tak asing
lagi.
"Sepi ya."
"Iya."
Setelah melakukan peregangan ringan, Mizuki
mulai berlari pelan di trotoar.
Sendi kakinya terasa sedikit nyeri.
"……Ternyata susah juga ya."
Belum sampai tiga puluh detik, napasnya sudah
terengah-engah, Mizuki melakukan napas dalam di tempat.
Selain karena dulunya sering mengurung diri di
rumah, akibat masa rawat inap di rumah sakit, kekuatan ototnya menurun jauh
lebih parah daripada yang dibayangkan.
"Anda tidak perlu memaksakan diri."
"……Iya."
Mizuki bersandar di pagar pembatas jalan
sambil mengatur napasnya, menatap samar kota di malam hari.
Lampu depan mobil yang melintas secara berkala
memberikan perasaan yang entah mengapa terasa nostalgik.
Mizuki mendadak teringat sesuatu dan bertanya,
"Pernah kudengar sebelumnya, tapi
Mikado-san itu lulusan Shirayuki, kan?"
"Iya."
"……Pernah bertugas mendampingi donor genetika juga?"
"Tidak, belum pernah."
"……Begitu ya…… Syukurlah, aku jadi
lega."
Rei menunjukkan raut wajah yang tampak
heran.
"Aku ini wanita yang tidak ramah. Tidak ada yang mempedulikan saya selain
Mizuki-sama."
"Begitu ya? Kalau menurutku, kamu itu
cantik banget lho."
"Begitukah? Usia saya sudah bertambah dua
tahun terlambat dari yang lain."
Ajudan harus berkuliah di sekolah ajudan
selama dua tahun setelah lulus universitas.
Mengingat Rei sudah mengurusnya sejak Mizuki
berusia tujuh tahun, usianya pasti sudah melewati tiga puluh tahun.
Jika dipikir-pikir, kalau bukan karena
mengurus dirinya, Rei mungkin sudah menemukan pria yang baik, pikir Mizuki.
"Kalau aku lulus SMA nanti, masa tugas
ajudan akan selesai, kan?"
"Iya."
Angin dingin menerpa tubuhnya yang hangat.
Mata Rei yang terlihat di balik kegelapan
menatap Mizuki dari depan dengan guncangan penuh kecemasan.
"Meskipun masa tugas selesai, maukah Anda
tetap tinggal bersama saya?"
"……Iya."
"Kalau begitu, tidak masalah."
Mizuki mendadak memeluk bahu Rei yang
meneteskan air mata.
"Hei, jangan menangis
dong."
"Baik."
Mizuki memeluk lembut bahu Rei yang
terisak menunduk.
"Apakah kamu selama ini selalu merasa
cemas? Maaf ya……"
"Tidak apa-apa."
Tiga tahun tidak sekolah, ditambah kecelakaan
lalu lintas.
Mungkin Rei merasa memikul beban mental dalam
situasi di mana Optimasi Ideologi bisa saja terjadi, dan merasa bersalah karena
tidak bisa mencegah kecelakaan lalu lintas itu.
"……Mau balik sekarang? Udara makin dingin
nih."
"Iya."
Rei yang menunduk untuk menyembunyikan
wajahnya berjalan bersisian dengan Mizuki kembali ke apartemen.
Selama perjalanan, Rei tidak mengucapkan
sepatah kata pun.
"Mikado-san mau bagaimana? Mau langsung
pulang?"
Rumah Rei berada tepat di sebelah kamarnya.
Ketika Mizuki bertanya di depan kamar Rei, Rei
menggelengkan kepalanya.
"Tidak, hari ini saya ingin tetap di
samping Anda."
"Begitu ya. Kalau mengantuk, beri tahu
aku ya."
Mizuki kembali ke kamarnya dan duduk di depan
laptop.
Tanpa alasan khusus, sebuah ide terlintas di
pikirannya.
"Tempat pengabdian, bagaimana kalau di
tempat di mana aku pernah dirawat saat rehabilitasi, ya?"
"Itu pemikiran yang sangat bagus. Pasti
akan menjadi penyemangat bagi semuanya."
Mizuki mengoperasikan tetikus dan membuka tab
yang berhubungan dengan kesejahteraan.
Saat itu, sebuah kata tiba-tiba menarik
perhatiannya.
"……"
"Mizuki-sama?"
Fasilitas Eutanasia (Anrakushi Shisetsu).
Di antara fasilitas yang berjejer, kata itu
tampak sangat mencolok.
Mizuki mengklik untuk melihat detailnya.
"……Untuk kunjungan penghiburan pertama
kali, rasanya lebih baik memilih tempat yang agak berbeda."
Dada Mizuki mendadak berdebar
kencang.
Seolah tersedot, Mizuki mengklik tombol
pendaftaran.
"Mizuki-sama……"
"Mungkin tempat seperti ini adalah tempat
yang paling membutuhkan bantuan."
Tulisan 'Pendaftaran Selesai' muncul, lalu
Mizuki menutup peramban dan menghela napas pelan.
"Sip, yang harus dikerjakan sudah
selesai, mau tidur ah."
"……"
Rei tidak bergerak.
"Mikado-san?"
"Besok…… adalah jadwal donor genetika ya."
"Iya."
"Apakah Anda tidak takut?"
"Iya…… tidak apa-apa kok. Terima
kasih."
Rei tersenyum lembut seolah ingin menenangkan
Mizuki yang sedang mengkhawatirkannya.
"……Saya telah memperhatikan Mizuki-sama
sejak Anda masih kecil."
"Iya."
"Saya menganggap Anda sudah seperti
anak saya sendiri."
"……Iya."
"Makanya, saya tidak bisa
memaafkannya."
"Eh?"
Sambil berkedip kebingungan, Mizuki
mendengarkan perkataan Rei.
"Tadi saya telah berbohong.
Sebenarnya saya sangat marah. Saya tidak bisa memaafkan gadis yang tiba-tiba
muncul dan merebut pengalaman pertama Mizuki-sama."
"……"
Sikapnya sama sekali tidak kelihatan bercanda.
"Meskipun masa tugas saya berakhir, saya
sudah mendapat izin untuk tetap berada di samping Anda. Karena itu, ampunilah
keegoisan saya ini."
Lalu, Rei menatap Mizuki dari depan dan
berkata dengan tegas,
"Tolong, gunakanlah tubuh saya untuk
latihan Anda."
◇◇◇
Sinar matahari pagi yang menembus celah tirai
membangunkan Mizuki Toudou.
Sambil mengucek mata yang masih mengantuk,
Mizuki melihat ke sekelilingnya.
"Mizuki-sama, selamat
pagi."
Wajah Rei Mikado yang
tersenyum tipis berada sangat dekat dengannya.
"Selamat
pagi, Mikado-san."
"……Mohon panggil saya
dengan nama depan saja, seperti saat kita sedang mesra."
Rei memeluknya dengan
lembut. Dua bukit kembar yang berlimpah itu terekspos, hingga kepala Mizuki
tenggelam di antaranya.
"Saya mohon maaf.
Semalam saya telah memperlihatkan nafsu wanita saya yang kotor. Apakah Anda
tidak merasa takut?"
"Tidak kok. Kalau
Rei-san yang melakukannya, aku tidak apa-apa."
Suara aneh fugo
terdengar dari Rei.
"……Saya jadi
tidak tenang. Mari kita segera bersiap-siap."
◇◇◇
Semua siswa laki-laki
memiliki kewajiban donor genetika sejak kelas satu SMA. Hal ini dilakukan agar
produksi populasi dapat berjalan secermat mungkin, sehingga saat ini inseminasi
buatan menjadi lebih dominan dibandingkan dengan kehamilan alami.
Genetika——dengan kata
lain, cairan sperma——diambil dengan bantuan wanita terdekat sebagai pendamping.
Hal tersebut sudah menjadi kebiasaan umum.
"S-S-Selamat pagi!"
Di tempat pertemuan sebelum siang hari, Nene
Kaminari berdiri dengan raut wajah yang lebih tegang dari biasanya.
Gaya busananya memadukan sweat shorts
pendek dengan hoodie yang agak longgar, memperlihatkan paha yang kencang
dan memancarkan semangat yang lebih terasa dibandingkan dengan seragam sekolah
biasanya.
"Maaf ya, sudah mengganggu
pagi-pagi."
"Sama sekali tidak!
I-Ini suatu kehormatan bagi saya!"
Saat pintu belakang sedan
dibuka, Nene masuk dan duduk di sebelah Mizuki sambil mengecilkan tubuhnya.
"Bagusslah harinya
cerah ya!"
"Iya. Kamu sudah
makan siang? Kalau sudah selesai, bagaimana kalau kita makan bersama?"
"B-Beneran?! Mau, aku
mau pergi!"
Sambil mengobrol, Nene
memasang sabuk pengamannya, lalu Rei Mikado di kursi pengemudi menjalankan
mobilnya.
Di jalan besar yang dihiasi
bangunan bergaya Neo-Renaissance dari era Taisho, sudah terlihat banyak
pengunjung.
"Kalau hari libur,
area Akademi Shirayuki yang megah ini memang ramai didatangi pengunjung
ya."
"Iya, kalau bagi
rakyat biasa, Shirayuki itu semacam tempat impian……"
"Begitu ya?"
"Banyak yang
menjadikannya motif novel percintaan, dan tingkat persaingannya pun sangat
tinggi."
"Begitu ya. Kalau
begitu Kaminari-san hebat juga ya."
"A-Aku kan lewat
jalur olahraga, jadi soal belajar sebenarnya biasa saja……"
Mobil melaju memasuki
kawasan pemukiman yang berjejer rumah-rumah untuk warga negara tingkat satu.
"N-Nanti, Mizuki-kun,
kondisi tubuhmu baik-baik saja?"
"Iya."
"A-Aku sudah belajar banyak lho."
Nene memajukan
tubuhnya dengan bersemangat.
"Kan ini pertama
kalinya buat Mizuki-kun. Pasti takut kan. Tenang saja! Serahkan padaku hari
ini!"
"Bagi Mizuki-sama,
ini bukanlah yang pertama kali."
Suara dingin terdengar
dari kursi pengemudi.
"……Eh?"
"Oleh karena itu,
bagi Mizuki-sama ini bukanlah yang pertama kali."
Kepada Nene yang
tertegun, Rei Mikado mengulangi kata-katanya dengan datar.
Keheningan melanda di
dalam mobil.
"I-Iya. Jadi,
Kaminari-san tidak perlu terlalu tegang kok."
"B-Begitu
ya."
Meskipun Nene
memalingkan pandangannya seolah bingung, ia kemudian membuka mulutnya seolah
telah memantapkan hati.
"… Tapi, aku rasa
kamu tetap tegang, kan."
Sambil berkata begitu,
Nene menggenggam tangan Mizuki.
"Kalau sebelum
pengambilan kita berpegangan tangan, rasanya hati bisa jadi lebih tenang."
"……Terima kasih. Kamu
sudah mencari tahu banyak hal, ya."
Tak lama kemudian, mereka
tiba di Bank Genetika yang menjadi tujuan.
Di dalam bangunan bercat
putih yang modern, tampilannya tampak seperti rumah sakit kecil.
Rei memarkirkan mobil
di area parkir, lalu mengantar Mizuki dan Nene ke dalam.
Terdapat ruang tunggu
dengan sekitar dua puluh kursi dan area resepsionis, namun tidak ada seorang
pun selain petugas.
"Mizuki-sama, silakan
mengurus administrasi di resepsionis."
"Iya."
Setelah mencocokkan ID
di resepsionis, mereka segera diantar ke ruang privat.
Ruangannya terlihat
seperti hotel bisnis kecil, di mana terdapat tempat tidur, meja, dan monitor.
"Hari ini pertama
kali bagi Toudou-sama ya. Silakan lakukan pengambilan ke wadah di sebelah sana.
Jika sudah selesai, silakan tekan tombol panggil ya."
Setelah perawat yang
memberikan penjelasan singkat dan Rei keluar, hanya Mizuki dan Nene yang
tersisa di dalam ruangan.
"A-Anu…… bagaimana baiknya ya?"
Nene berdiri terpaku
di dekat dinding dengan wajah yang merah padam.
Mizuki duduk di tempat
tidur lalu mengambil wadah pengambilan yang transparan.
Di atas meja, selain
itu, juga disediakan wadah pengambilan berbentuk kondom tertutup serta berbagai
peralatan lainnya.
Mizuki mengedarkan
pandangannya dengan canggung, bingung harus melakukan apa.
Atmosfer di ruangan
terasa berat dan penuh ketegangan.
"Mizuki-kun……"
Nene yang tadinya
membeku di dekat dinding mulai bergerak, lalu duduk di sebelah Mizuki.
Di saat berikutnya,
sesuatu yang lembut dan hangat mendekap Mizuki dari samping.
"Anu, katanya
sebelum mulai, lebih baik membiasakan diri seperti ini dulu."
Nene yang memeluk
Mizuki seolah hendak melindunginya berkata dengan suara lembut yang penuh kasih
sayang.
"Tidak apa-apa
kok. Tidak usah takut ya."
Berbeda jauh dari
sikapnya yang biasanya canggung, terasa ketenangan dari dirinya.
Mungkin inilah sifat
aslinya yang sebenarnya.
Akibat perbedaan
tinggi badan, tubuh Mizuki secara alami terselimuti sepenuhnya oleh pelukannya.
"Kita seperti ini
sebentar ya. Tenang saja, aku tidak akan melakukan apa-apa kok."
"……Iya."
Kekuatan di tubuh Mizuki
perlahan memudar.
Mizuki baru menyadari
bahwa dirinya ternyata lebih tegang daripada yang ia kira.
"Mizuki-kun, kamu
tidak takut padaku, kan?"
"……Iya. Kenapa bertanya
begitu?"
"Soalnya badanku agak
tinggi. Aku khawatir kalau memberi rasa tertekan."
Meskipun bersikap biasa
saja, Nene tampaknya juga merasa cemas.
Mizuki dengan ragu-ragu
membalas pelukannya, dan kekakuan dari tubuh Nene pun perlahan menghilang.
"Waktu SMP aku merasa
takut…… tapi sekarang aku sudah tidak apa-apa kok."
"Benarkah? Kamu tidak
memaksakan diri?"
"Iya. Malahan……
suasana di dekat Kaminari-san ini membuatku merasa tenang."
Pelukan Nene yang tadinya
terasa agak sungkan kini menjadi sedikit lebih erat.
Suasana hening.
Hanya suara tepukan lembut
di punggung yang bergema.
Mizuki dan Nene tidak
bergerak selama beberapa saat.
◇◇◇
"Baik, tidak ada
masalah sama sekali. Terima kasih atas kerja samanya."
Perawat yang menerima
wadah pengambilan tersenyum ramah.
Nene yang berdiri
menempel tepat di sebelah Mizuki membungkuk kecil dengan wajah memerah.
"Jika untuk bulan
depan, silakan lakukan pemesanan tempat lagi ya."
"Baik."
Bahkan saat keluar dari
Bank Genetika, Nene tidak melepaskan genggaman tangannya dari Mizuki.
Sambil tetap
berpegangan tangan erat dan menyandarkan bahunya, Nene kembali ke mobil.
"……Terima kasih atas
kerja kerasnya. Apakah Anda mau
langsung makan?"
"Iya."
Kepada Nene yang
bersandar pada Mizuki di kursi belakang, Rei Mikado tampak ingin mengatakan
sesuatu sejenak, namun pada akhirnya ia tidak mengucapkan apa-apa.
"Di dekat sini
ada restoran untuk warga negara tingkat tiga. Apakah tidak apa-apa di
sana?"
"Iya, benar.
Nene-chan juga tidak apa-apa di sana?"
"……Iya."
Nene yang menyandarkan
bahunya pada Mizuki seolah sedang melayang berkata.
Wajahnya agak memerah
seperti sedang demam, dan di dahinya terlihat butiran keringat halus.
"Kamu tidak
apa-apa?"
"……Iya."
Jari-jemari mereka yang
bertautan saling mengelus lembut.
"Mizuki-kun…… baumu
harum ya."
"Begitu ya? Padahal
aku tidak pakai wewangian apa-apa."
"Iya…… lebih baik
jangan pakai apa-apa saja."
Nene terus mengendus
aromanya untuk beberapa saat.
Saat mobil tiba di
restoran, Rei membukakan pintu.
"Mari, silakan."
Selama berjalan ke dalam
restoran pun, Nene tidak melepaskan genggaman dari Mizuki.
Saat diantar oleh pelayan
ke kursi khusus pria di bagian dalam, di sanalah mereka baru akhirnya
melepaskan genggaman tangan.
Mizuki dan Nene duduk
berdampingan, sementara Rei duduk sendirian di posisi berhadapan dengan mereka.
"……A-Restorannya
bagus ya."
Melihat Nene yang
tampak sedikit tegang, Mizuki tersenyum untuk menenangkannya.
Tentu saja tempat ini
adalah restoran yang biasanya tidak dimasuki oleh murid SMA saja.
"Tempat seperti
ini aku juga biasanya tidak masuk kok. Soalnya
aku jarang keluar rumah."
"E-Eh, begitu
ya?"
"Bagaimana dengan
yang ini? Karena ini menu paket dasar, rasanya tidak akan salah, dan aku mau
pesan yang ini sih."
"Kalau begitu, aku
juga ikut yang itu!"
Melihat Nene yang sudah
kembali ke sikap biasanya, Mizuki merasa lega dan menyelesaikan pesanan.
Mungkin karena jam makan
siang sudah lewat, suasana di dalam restoran terasa tenang.
Sesekali terasa tatapan
dari meja lain.
Karena ini adalah tempat
untuk warga negara tingkat tiga, tidak banyak orang yang memperhatikan mereka
secara terang-terangan.
"Donor genetika itu
ada setiap bulan, ya."
Sekali lepas, tangan Nene
yang tadinya terpisah perlahan-lahan terulur kembali menuju tangan Mizuki.
"Aku……"
Di saat yang sama, matanya
yang basah terarah lurus menatap Mizuki.
Atmosfer canggung yang
dirasakan hingga tadi seketika sirna.
"Semoga bulan depan
juga kamu memilihku, ya. Aku akan berusaha!"
Jari-jemari yang saling
menumpuk saling bertautan. Setiap jemarinya saling mencengkeram erat.
"……"
Di kursi seberang, Rei
Mikado menatap pemandangan itu dengan ekspresi wajah yang datar bagaikan topeng
Noh.
◇◇◇
Hari Senin di minggu
berikutnya.
Suzu Minaki yang datang ke
sekolah lebih awal segera memeriksa kondisi ruang kelas.
Mekanisme kuncian setengah
pada jendela untuk mencegah kecelakaan jatuh baru saja dipasang. Tampaknya
pengerjaan sederhana yang dibicarakan saat rapat kelas adalah hal ini.
Melihat ke sekeliling,
stopkontak juga tampak sudah diganti dengan yang baru. Tampaknya ada perubahan
lain juga, namun Suzu menilai secara sepintas bahwa tidak ada hal yang
mencolok, lalu ia melangkah menuju kursinya.
Lalu, ia mengakses
informasi Mizuki Toudou melalui ponsel pintarnya.
Jumlah Otetsuki
(tersentuh) telah diperbarui dari 0 kali menjadi 2 kali.
“Huh…”
Hal itu menjawab kekhawatiran terakhirnya:
Mizuki tidak memiliki masalah dengan fungsi seksualnya.
Ia mempertimbangkan kedua klaim tersebut.
Memang sudah cukup lumrah seorang ajudan
berakhir diklaim… Tapi siapa yang satunya lagi?
Beberapa kemungkinan terlintas di benaknya.
Nene masuk ke kelas saat itu, terlihat jauh
lebih ceria dari biasanya.
“S-Selamat pagi.”
“Pagi.”
Baru beberapa siswi lain yang tiba. Suzune berdiri dan menghampiri meja Nene.
“Sepertinya berjalan lancar.”
“Y-Ya. Kurasa aku melakukan semuanya dengan
benar.”
Saat mereka berbicara, Suzune melirik jari
Nene. Sebuah cincin merah berkilau di sana.
Ada sebuah konsep yang dikenal sebagai
koloni.
Terpisah dari pernikahan, kata itu
menggambarkan sekelompok wanita yang memiliki hubungan seksual dengan pria yang
sama.
Sebuah koloni tidak memiliki pembatasan
hukum khusus, tetapi sering kali sangat penting dalam masyarakat umum.
Setelah seorang wanita bergabung ke
dalamnya, ia diharapkan menghindari kontak dengan pria lain sejauh mungkin.
Bagian dari alasannya adalah untuk mencegah
perselisihan sengit antarkoloni memperebutkan pria—atau memperebutkan wanita.
Alasan lainnya adalah untuk mencegah penularan penyakit menular antarkoloni.
Menjaga koloni tetap terpisah memiliki manfaat
epidemiologis yang jelas. Kebiasaan ini telah menjadi pemahaman tersirat di
seluruh dunia sejak sebelum sejarah tercatat.
Cincin merah Nene menandakan bahwa ia telah
diklaim. Itu juga merupakan perhiasan yang diimpikan para gadis untuk
dikenakan: sebuah cara untuk menyatakan bahwa mereka terikat pada suatu koloni.
***
“…Kukira Toudou tidak mahir berurusan dengan
wanita.”
“Ya. Dia memang begitu sampai SMP, tapi dia
bilang sekarang dia sudah tidak apa-apa.”
“…Huh.”
Suzune menyelidiki sedikit lebih jauh, secara
pribadi merasa hal itu agak aneh.
Fobia terhadap wanita tidak tampak seperti
sesuatu yang bisa hilang begitu saja dengan mudah.
Dan ia masih ingin tahu mengapa jumlah klaim
meningkat dua, bukan satu.
Apakah ada seseorang
di belakangnya?
Ia mulai berpikir ada keluarga terpandang
yang bersembunyi saat Yura tiba.
“Selamat pagiii!”
“Pagi.”
Yura langsung menuju ke tempat Nene.
“Bagaimana hasilnya?!”
“Y-Ya. Kurasa semuanya baik-baik saja.”
“Kamu berhasil! Selamat ya!”
Suzune sedikit terkesan dengan betapa
tulusnya Yura merayakan keberhasilan Nene.
Itu adalah kualitas yang langka di Akademi
Shirayuki.
“Oh, kamu sudah pakai cincin! Apa kamu
membelinya?”
“Aku buru-buru membelinya hari Minggu. Aku
tidak ingin ada orang lain selain Mizuki-kun yang menyentuhku.”
“Ini seperti sesuatu yang keluar dari manga.
Aku berharap bisa memakainya juga suatu hari nanti.”
***
Semakin banyak siswi yang berdatangan selagi
mereka mengobrol.
“Selamat pagi, Kaminari-san. Bagaimana
hasilnya?”
“Anu, tidak ada masalah kok.”
Tak lama kemudian, gadis-gadis yang sebelumnya
hampir tidak pernah berbicara dengan Nene mulai berkumpul di sekelilingnya.
Yah, tentu saja.
Sebelumnya mereka mungkin berpikir untuk
mendekati Mizuki sebagai bagian dari 'paket penjualan'.
Nene telah mendampingi donor pertamanya dan
kemungkinan besar akan tetap menjadi favoritnya. Hal itu bisa memberi
gadis-gadis yang dekat dengannya kesempatan yang lebih baik juga.
***
“Selamat pagi.”
Ruangan seketika tegang mendengar suara
Noa.
Suzune berbalik dan terhenti.
Begitu pula orang lain. Seluruh kelas menatapnya.
“Kaminari-san, sepertinya pendampingannya
berjalan lancar. Selamat ya.”
Noa menyampaikan salam sopan itu dengan rambut
yang disanggul ke atas dan dihiasi ornamen.
Aura pangeran yang biasanya melekat padanya
telah mereda. Siluet barunya terlihat jelas lebih feminin.
“…T-Terima kasih.”
Nene menatapnya dengan terkejut.
Noa tampak tidak memedulikan perhatian itu. Ia langsung menuju ke kursinya.
“Noa-sama! Rok Anda terlalu pendek.”
“Ini sangat normal kok.”
Keberatan Yukari tidak mengganggunya sama
sekali.
Haruskah aku mewarnai rambutku menjadi hitam
lagi?
Suzune menyentuh rambutnya tanpa berpikir.
Ia memberikan highlight emas agar orang-orang
tidak meremehkannya karena bertubuh pendek. Sekarang hal itu mengganggunya.
Jika Mizuki menyukai gadis-gadis yang serius
dan lembut seperti Nene, hal itulah yang harus diubah Suzune terlebih dahulu.
Sudah agak terlambat untuk itu.
Ia bisa merapikan penampilannya di luar,
tetapi lambat laun sifat aslinya akan kelihatan juga.
Lagipula, ia hanya akan tenggelam di antara
gadis-gadis lainnya.
***
“Selamat pagi.”
“Selamat pagi!”
Mizuki masuk di antara gelombang kedatangan
siswi yang terus mengalir.
Semua gadis menyapanya secara bersamaan. Hanya Nene yang tersenyum tenang.
“Selamat pagi, Mizuki-kun.”
“Pagi, Nene-chan.”
Nene tidak menyusut ketakutan saat Mizuki
duduk di sampingnya.
Punggungnya, yang biasanya dibungkukkan, hari
ini berdiri tegak.
…Dia menyukainya lebih dari yang kubayangkan.
Semua orang di ruangan itu pasti menyadari
perubahan cara mereka memanggil satu sama lain.
Nene juga menggeser tempat duduknya lebih
dekat setelah Mizuki duduk.
Sekali lihat saja sudah cukup bagi Suzune
untuk mengetahui bahwa mereka telah menjadi intim.
***
“Baiklah semuanya, silakan duduk di tempat
masing-masing.”
Wali kelas mereka, Hikage, masuk.
Suzune kembali ke mejanya sendiri dan melirik
ke belakang untuk terakhir kalinya.
Ruang kelas berubah sedikit demi sedikit. Seperti biasa, Shizuku sendiri tampak tidak berubah sama
sekali.
◆
“Jadi. Apa yang sudah kalian cari tahu tentang
Toudou Mizuki?”
Saat jam istirahat makan siang, Ketua Kelas A,
Hikari Nanase, mendesak teman-teman sekelasnya yang dikumpulkannya di toilet
perempuan.
“Kami sudah berbicara dengan mantan teman
sekelas dan wali kelas SMP-nya. Diagnosis fobia wanitanya sepertinya asli.”
Gadis itu ragu-ragu sebelum melanjutkan.
“Dan tahun lalu, dia mengalami kecelakaan lalu
lintas. Ada kemungkinan dia sebenarnya… melompat.”
“Kamu yakin?”
“Itu ada di catatannya.”
“Cari rumah sakit yang merawatnya. Laporkan
kembali jika ada hubungan sekecil apa pun dengan Isshiki atau Hojou.”
“Sialan,” gumam Hikari.
Tidak ada yang menghubungkan Shizuku atau Noa
dengan masa lalu anak laki-laki itu.
Biro Pengawas Etika tampaknya juga tidak
menemukan bukti yang relevan.
“Yang kita butuhkan hanyalah bukti. Diagnosis
itu pasti direkayasa. Jumlah klaimnya melonjak dua saat donor genetik,
satu-satunya kewajiban yang tidak bisa dia hindari. Ini terlalu kebetulan.”
“Tapi kami menerima laporan bahwa ajudannya
juga memakai cincin…”
“Jelas-jelas itu gertakan. Mengapa dia
mendadak mengklaim ajudannya setelah sekian lama? Pernah ada kasus sebelumnya
di mana seseorang menyuruh orang lain mengajukan permohonan.”
Hikari menatap tajam gadis-gadis di
sekitarnya.
“Dengar. Toudou Mizuki sepertinya sudah
terkenal karena ketampanannya sejak SD. Detail tentang dirinya cukup dikaburkan
agar Biro Pengawas Etika tidak bertindak, tetapi ada banyak informasi di
internet jika kalian mencarinya. Orang-orang berkuasa pasti sudah
memperhatikannya.”
“Tapi tidak ada jejak Isshiki maupun Hojou…”
Hikari berhenti dan melihat sekeliling.
Teman sekelas yang ditempatkan di luar masih
berjaga.
“…Aku sudah memeriksa gadis-gadis di kelas SMP
Toudou Mizuki. Ada jumlah yang tidak wajar yang berasal dari Kyoto dan Osaka.”
“Kyoto?”
“Setiap gadis dari mereka sepertinya pindah ke
Tokyo saat kelas enam. Bukan ke SD Mizuki, melainkan ke SD lain yang akan
bergabung dengan SMP-nya. Kemudian mereka berhubungan dengannya di sana secara
alami.”
“…”
Gadis-gadis Kelas A paham dan bungkam.
“Isshiki dan Hojou mungkin baru ikut bergabung
setelahnya. Periksa lagi hubungan ke Delapan Belas Keluarga Utama di Kansai
atau ke Bangsawan Istana (Kuge).”
Beberapa gadis menjadi ketakutan mendengar
sebutan Bangsawan Istana.
Merekalah kekuasaan lama yang telah kehilangan
wewenang formalnya, tetapi Kyoto masih memiliki lebih dari lima puluh keluarga
Bangsawan Istana. Pengaruh mereka bertahan di setiap bidang. Putri dari
keluarga provinsi biasa punya alasan untuk ragu-ragu.
“…Akan kubuat mereka menyesal karena telah
mempermainkan keluarga Nanase.”
Keluarga Nanase mengukir nama mereka dengan
membantu menegakkan ketertiban di tengah kekacauan pada akhir masa keshogunan.
Di antara Delapan Belas Keluarga Utama
pendiri, keluarga mereka memegang wewenang kepolisian.
Hikari mungkin putri keempat, tetapi ia
memiliki harga diri sebagai seorang Nanase.
“Peninggalan era lain itu tidak akan bertindak
seenaknya selama aku mengawasi.”
***
Ketika pertemuan di toilet berakhir, Hikari
kembali ke kelas. Susumu langsung berbicara padanya.
“Nanase. Sebuah tugas. Atur ujian simulasi
bulanan mulai sekarang. Gunakan pihak luar jika perlu.”
“Ujian simulasi?”
“Aku akan mengambil peraih nilai tertinggi
setiap bulan untuk mendampingi donor genetikku.”
Susumu mengatakannya tanpa mendongak dari
laptopnya.
Para gadis yang mendengarnya menjerit
gembira.
Hikari menatap mereka dengan dingin.
“…Kamu yakin?”
“Festival Olahraga akan berfungsi dengan cara
yang sama. Peraih nilai tinggi akan diberikan izin untuk mendampingiku saat
donor genetik selama liburan musim panas.”
“Dimengerti. Akan kuberitahukan kepada semua
orang.”
Susumu tidak pernah sekalipun menatapnya.
Matanya yang tajam tetap tertuju pada layar
laptop. Setiap kali ada waktu luang, ia selalu mengerjakan sesuatu.
Ada sesuatu tentang pengejarannya yang tak kenal lelah terhadap rasionalitas ketertiban yang membuat Hikari merasa tidak nyaman.


Post a Comment