Chapter 4
Sesuatu yang Tidak Dapat Dibeli dengan Uang
“Ini memang agak terlalu awal, tetapi aku
ingin mulai menyusun pembagian tugas untuk Festival Olahraga.”
Saat itu adalah sepulang sekolah. Isshiki
Shizuku berdiri di depan kelas.
Di sampingnya berdiri Sakura Sanae, anggota
komite Penjaskes sekaligus salah satu pengikut Hojou Noa.
Jadi, pada akhirnya Isshiki dan Hojou yang
memegang kendali.
Minaki Suzune melirik ke sekeliling
teman-teman sekelasnya.
Gadis-gadis dari keluarga yang lebih besar dan
berpengaruh semuanya memilih untuk diam. Bahkan Kaminari Nene, yang disukai
oleh Todo Mizuki, tidak menunjukkan minat untuk mengambil alih kendali.
Posisi Shizuku dan Noa sepertinya hanya akan
menjadi semakin kuat dan aman.
“Anak laki-laki mulai melakukan pengabdian
masyarakat minggu ini, dan anak perempuan mulai melakukan kegiatan Korps Seika.
Kita harus menyesuaikan latihan Festival Olahraga di antara kedua kegiatan
tersebut, jadi sebaiknya kita memulainya lebih awal.”
Korps Seika (Qinghua Corps).
Nama itu merujuk pada kelompok regional di
mana para gadis berpartisipasi secara “sukarela” setelah jam sekolah.
Kegiatan mereka berkisar dari pelatihan
cadangan militer dan debat, hingga kegiatan budaya seperti pembacaan puisi.
Kelompok ini juga berfungsi, sebagian, sebagai cabang dari Partai.
Partisipasi yang aktif dapat membuat seorang
gadis mendapatkan kualifikasi keanggotaan Partai. Beberapa di antara mereka
bahkan memberikan usaha yang lebih besar pada Korps dibandingkan dengan pelajaran
sekolah mereka.
Siswa-siswi tertentu, termasuk beberapa yang
diterima melalui jalur prestasi olahraga, dibebaskan dari kegiatan ini. Namun,
sebagian besar gadis harus melapor ke Korps Seika lokal mereka mulai hari ini.
“Setiap orang harus berpartisipasi dalam
setidaknya satu cabang Festival Olahraga,” kata Sanae sambil menuliskan
cabang-cabang olahraga tersebut di papan tulis. “Untuk cabang yang masih
memiliki sisa tempat, kalian boleh berpartisipasi lebih dari satu kali.”
“Kita akan mulai dari cabang yang bernilai
poin paling tinggi. Pertama, lari estafet 1.600 meter. Siapa yang percaya diri
dengan kemampuannya berlari?”
Noa adalah orang pertama yang mengacungkan
tangannya, sambil mengumbar senyum santainya yang seperti biasa.
Shizuku, yang berdiri di depan,
mengacungkan tangannya berikutnya.
“Ada lagi yang lain?”
Sanae melihat ke sekeliling ruang kelas.
Tidak ada tangan lain yang terangkat.
Setelah mengamati ruangan, Suzune
mengacungkan tangannya.
“Minaki-san, apakah kamu pelari yang cepat?”
“Ini sifatnya sementara. Kalau ada yang lebih
cepat saat latihan, ganti saja aku dengan orang itu.”
“…Baiklah kalau begitu. Satu orang lagi?”
“Aku mencalonkan Kaminari.”
Setiap pasang mata di ruangan itu tertuju pada
Nene.
Ia terlihat terkejut, tetapi ia tidak menyusut
ketakutan seperti yang biasanya ia lakukan.
“A-Aku akan berusaha sebaik mungkin.”
“Kalau begitu, Isshiki-san, Noa-sama,
Minaki-san, dan Kaminari-san adalah tim sementara kita.”
Kombinasi yang bagus, pikir Suzune.
Ini akan memberinya kesempatan untuk membuat
dirinya tampil mencolok.
“Berikutnya, pertarungan tanpa senjata. Cabang
ini juga memiliki poin yang sangat besar.”
“Aku ambil yang itu juga.”
Dialah yang pertama kali mengacungkan
tangan.
Shizuku dan Noa menatapnya dengan
terkejut.
“…Oh? Penampilan luar memang bisa menipu, ya.”
“Ada masalah? Kita bisa mencobanya kalau mau.”
“Aku ingin mengujinya kapan-kapan. Tapi kalau
kamu percaya diri, menyerahkannya padamu bukan masalah.”
Noa mengangkut bahunya. Suzune mendengus.
Sanae berdehem, mengambil alih kembali
jalannya alur rapat.
“Berikutnya, simulasi menembak. Jika ada
yang ingin—”
“—Aku mau.”
Sekali lagi, tangan Suzune terangkat
paling awal.
Mata Shizuku menyempit.
“Maafkan aku karena bertanya, tapi apakah
kamu pernah memegang senjata api sebelumnya?”
“Pernah. Kita bisa bertanding kalau kamu
keberatan soal itu.”
Keheningan melanda.
Sekarang saatnya.
Suzune mengamati ruangan itu
perlahan-lahan. Beberapa gadis tampak tidak senang, tetapi tidak ada satu pun
yang berbicara.
“Ada yang keberatan?”
Ketika ia menatap mata mereka, mereka
memalingkan pandangan.
Hanya Shizuku dan Noa yang terus
memperhatikannya seolah-olah sedang mengukur kemampuannya.
Akan kubuat jelas bahwa aku bukan sekadar
murid buangan biasa.
Suzune tahu bahwa ia memiliki kemampuan yang
seharusnya bisa mencegahnya terlempar ke Kelas K.
Ia harus mengumpulkan poin pertandingan
sebanyak mungkin di Festival Olahraga—dan memastikan Mizuki mengingat wajahnya.
“…Kalau begitu aku akan memasukkan nama
Minaki-san secara sementara untuk simulasi menembak juga. Berikutnya, lari
estafet rintangan. Kita butuh empat orang.”
“Kalau butuh empat orang, bagaimana kalau
pakai tim lari estafet 1.600 meter saja?” usul Noa.
“Ya, Noa-sama. Pengaturan yang sama memang
sering digunakan di masa lalu. Ada keberatan?”
Tidak ada keberatan sama sekali.
Nama Suzune tertulis di papan tulis sekali
lagi.
“Cabang-cabang olahraga mulai dari sini
nilainya lebih kecil. Bagi
yang belum mendaftar sukarela, silakan mulai mengacungkan tangan.”
Posisi untuk lari 100 meter, lari 200
meter, lari gawang, tarik tambang, dan cabang-cabang berpoin rendah lainnya
mulai terisi secara berurutan.
“Apakah ada yang belum mendapatkan cabang
olahraga sama sekali?”
Tidak ada tangan yang terangkat.
Sanae mulai mengakhiri pembagian tersebut.
“Kalau begitu kita akan menggunakan ini
sebagai daftar umum—”
“Kurasa Otonashi-san belum mendapatkan cabang
pertandingan.”
Suara tenang Mizuki memotong ucapannya.
Suzune tidak mengenali nama itu. Ia dengan
tergesa-gesa memindai seluruh ruangan.
…Apakah gadis itu?
Seorang gadis duduk sendirian di dekat
jendela, menatap lurus ke arah mejanya.
Kalau dipikir-pikir, Suzune tidak pernah
mendengarnya berbicara secara jelas. Bahkan saat perkenalan, gadis itu hanya
bergumam menyebutkan namanya.
“Otonashi-san, apakah ada cabang
pertandingan yang kamu inginkan?” tanya Sanae.
Otonashi Nagi tetap menatap mejanya dan tidak
mengatakan apa-apa.
“Otonashi-san?”
Nada bicara Sanae mulai mengeras.
“…Aku ingin lari 100 meter.”
Suara Nagi terdengar lemah dan serak.
Ia tidak mengangguk maupun mengangkat
kepalanya. Matanya tetap tertuju pada
permukaan mejanya yang kosong.
“Kalau dipikir-pikir, aku juga belum dapat
cabang pertandingan. Apakah aku akan ikut lari bakiak/ikat kaki (three-legged
race)?”
Sebelum suasana di dalam ruangan berubah
menjadi aneh, Mizuki mengalihkan topik pembicaraan dengan suara yang ceria.
“Iya. Secara tradisi,
anak laki-laki memang sering berpartisipasi dalam lari ikat kaki. Um… bagaimana dengan pasanganmu?”
Suzune mendapati dirinya menatap Nene.
Nene adalah gadis yang paling mungkin
dipilih Mizuki sekarang, tetapi perbedaan tinggi badan mereka membuat mereka
tidak cocok untuk lari ikat kaki.
“Um, bisakah hal itu dibiarkan belum
diputuskan untuk saat ini?”
“Tentu saja. Masih ada waktu sebelum Festival
Olahraga. Aku akan menyerahkan pilihannya kepadamu, Mizuki-sama.”
“Baiklah. Terima kasih, Sakura-san.”
Saling pandang terjadi di seluruh ruang kelas
saat para gadis memperhatikan satu sama lain.
Hanya Nagi yang terus menatap mejanya.
***
“Itu mengakhiri pembagian cabang olahraga
untuk saat ini. Ini masih bersifat sementara, jadi jika ada masalah, kita bisa
menyelesaikannya nanti.”
Para siswa mulai bersiap-siap untuk pergi.
Anak laki-laki harus menghadiri pengabdian
masyarakat, sementara anak perempuan harus pergi ke kelompok Korps Seika
regional mereka.
Saat Suzune mengenakan tas sekolahnya, ia
melihat Mizuki mendekati Nagi.
“Apakah kamu tidak terlalu menyukai olahraga,
Otonashi-san?”
Mizuki berjongkok di depan meja Nagi untuk
menyamakan pandangan matanya dengan mata Nagi. Nagi tidak merespons.
Gadis-gadis yang memperhatikan di dekatnya
cemberut.
“Otonashi-san, bukankah tidak sopan
mengabaikan Mizuki-sama?”
“Ah, tidak apa-apa,” kata Mizuki dengan senyum
terburu-buru. “Mungkin sulit untuk
berbicara di depan banyak orang? Dan kamu
sibuk—kamu harus pergi ke Korps Seika. Maaf ya.”
Nagi berdiri, membungkuk kecil, lalu melarikan
diri ke koridor.
Para gadis saling bertukar pandang,
jelas-jelas ingin mengatakan sesuatu.
“Hari ini adalah hari besar bagi semua orang,
bukan? Mari kita semua melakukan yang terbaik.”
“Ya! Tolong hati-hati juga, Mizuki-sama.”
Perhatian mereka langsung kembali padanya.
Memperhatikan mereka, Suzune bergumam
dalam hati.
Ini akan jadi hal yang
merepotkan.
◆
Suzune memeriksa jam tangannya.
Jam empat lewat empat puluh menit. Ia
masih punya waktu sebelum mereka dijadwalkan berkumpul.
Di depannya berdiri Aula Seika, sebuah
bangunan tiga lantai yang megah.
Setiap siswi tahun pertama SMA harus
bergabung dengan Korps Seika atas kehendaknya sendiri.
Tempat itu hampir menyerupai sekolah
kedua, tempat untuk mempelajari hal-hal di luar kurikulum akademis melalui
pelatihan cadangan militer, debat, dan kegiatan lainnya.
Berbeda dengan sekolah, tempat ini
mengumpulkan para gadis berdasarkan wilayah. Suzune mengenali beberapa wajah
dari SMP-nya dulu.
Nah, kalau begitu…
Ia masuk ke dalam dan mulai mencari
kelompok yang bisa diajak menghabiskan waktu selama tiga tahun ke depan.
Beberapa gadis melirik ke arahnya dan
berbisik-bisik di antara mereka sendiri.
Sudah lama sejak Suzune merasa seperti
orang yang tidak tersentuh lagi, seperti yang ia rasakan di SMP lokalnya dulu.
Ia perlu menemukan gadis-gadis yang terlihat
cakap dari SMP lain.
Saat ia melihat ke sekeliling, ia
menyadari seorang gadis sedang membaca di dekat dinding.
Gadis itu bertubuh mungil dan pendiam,
tetapi ada kilatan kecerdasan yang samar di matanya.
“Hei. Selera yang bagus.”
Suzune berusaha sebaik mungkin agar
terdengar ramah dan mengumbar senyum.
“Aku sudah membaca Puncak Putih karya
penulis yang sama. Apakah yang itu bagus?”
“…Sejauh ini belum.”
“Sayang sekali.”
Suzune berdiri di sampingnya dan mengamati
isi aula.
“Sendirian di sini? Bagaimana dengan
gadis-gadis dari SMP-mu?”
“Aku tidak punya banyak teman.”
“Baguslah. Aku juga tidak.”
“Begitu ya.”
Gadis itu kembali membaca bukunya,
tampaknya tidak tertarik.
Suzune menyukai kenyataan bahwa gadis itu
tidak berusaha menyenangkan orang asing.
“Siapa namamu?”
“…Koito Tsubaki.”
◆
“Apakah memang ada tempat seperti itu di
sekitar sini?”
Mizuki datang bersama ajudannya, Rei, ke
daerah hiburan yang tidak diketahuinya.
Di awal malam, jalanannya dipadati oleh
wanita-wanita yang pulang dari tempat kerja.
“Ya. Menurut peta, ini adalah lokasi yang
benar.”
Ketika Mizuki mendengar bahwa penempatan
pengabdian masyarakatnya adalah fasilitas eutanasia, ia membayangkan pinggiran
kota yang tenang secara samar-samar. Ia tidak bisa menyembunyikan
kebingungannya.
Para wanita yang melintas menatapnya dengan
rasa ingin tahu.
“Di sini tempatnya.”
Rei berhenti dan menengadah menatap sebuah
bangunan.
Itu adalah bangunan pensil tua yang sempit. Retakan terlihat jelas di dinding luar
bangunan tersebut.
“…Mari kita masuk ke dalam.”
Mempertimbangkan kerumunan orang, Rei
melangkah ke depan untuk melindunginya.
Di dalamnya hanya ada kotak surat, lift,
dan pintu menuju tangga darurat.
“Tidak salah lagi. Ada di lantai tiga.”
Rei telah memeriksa nama fasilitas itu di
kotak surat.
Mereka naik lift menuju lantai tiga, tempat
meja resepsionis berdiri tepat di luar pintu.
Segala sesuatu di dalamnya berwarna putih dan
bersih, berbanding terbalik dengan bagian luar bangunan tua tadi.
“Apakah Anda Toudou-sama? Kami telah
menjadwalkan kunjungan Anda hari ini.”
“Iya.”
“Hanya ada satu orang yang menunggu hari ini.
Kunjungan seperti ini akan sangat berarti di saat-saat terakhir. Silakan ikuti
saya.”
Resepsionis itu tersenyum dan memimpin jalan.
Lima kamar privat berjejer di sepanjang
koridor. Ia mengetuk pintu terdekat.
“Nakamura-san, anak laki-laki yang mengunjungi
Anda sudah tiba.”
Ia membuka pintu, lalu Mizuki dan Rei
mengikutinya masuk ke dalam.
“Oh, alangkah indahnya. Mendapatkan kunjungan
dari anak laki-laki seperti malaikat di saat terakhirku.”
Seorang wanita tua terbaring di atas
tempat tidur.
Selang infus terpasang di lengannya.
“Salam kenal. Saya Toudou Mizuki.”
“Wah, astaga. Apakah kamu masih SMA? Kamu
masih sangat muda.”
Saat mereka berbicara, resepsionis membawakan
sebuah kursi.
Mizuki mengucapkan terima kasih dengan sebuah
anggukan, meletakkan kursi di samping tempat tidur wanita itu, lalu duduk.
“Kamu kelas berapa?”
“Kelas satu.”
“Astaga, kamu baru saja mulai ya. Apakah kamu
sudah punya teman?”
“Iya. Ada beberapa orang yang sudah dekat
denganku.”
Nakamura mendengarkannya dengan senyuman
gembira.
“Di mana kamu sekolah? Oh, mungkin aku tidak
boleh menanyakan hal itu?”
“Rasanya tidak apa-apa kok. Namanya Akademi
Shirayuki.”
“Oh! Yang dibangun dari bata merah itu? Aku
pernah pergi melihat Festival Budayanya waktu aku masih muda.”
Ia bertepuk tangan, dan Mizuki menatapnya
terkejut.
“Nenek pernah masuk ke dalam Shirayuki?”
“Oh ya. Aku masih mengingatnya dengan
jelas. Ada kedai makanan yang
sangat megah, dan seorang anak laki-laki membuatkan yakisoba untukku. Kamu
tidak sering mendapatkan kesempatan untuk memakan masakan pria. Aku sangat
bahagia saat itu.”
Nakamura mulai batuk-batuk.
Batuk yang terasa kering.
“A-Apakah Nenek tidak apa-apa?”
“Iya. Obatnya bekerja dengan baik hari ini,
jadi hari ini adalah salah satu hariku yang lebih baik. Kalau sedang parah,
seluruh tubuhku terasa sakit.”
Terlepas dari penjelasannya, getaran samar
terdengar pada suaranya.
Ia terus batuk. Mizuki hanya bisa duduk di
sana, bingung, sambil mengelus lengannya.
“Ini kanker. Sakitnya luar biasa, dan aku
tidak bisa bekerja lagi. Aku memikirkan tentang rasionalitas ketertiban, lalu
aku datang ke sini.”
“…Kapan waktunya?”
“Prosedurnya besok. Hari ini untuk
bersiap-siap. Mereka menyajikan makanan
yang lezat.”
“Meskipun,” tambah Nakamura dengan senyum
pasrah, “aku tidak punya banyak nafsu makan lagi. Jadi, makanlah banyak makanan
favoritmu mumpung kamu masih muda.”
“…Apakah ada yang bisa kubantu untuk Nenek?”
“Aku senang sekali kalau kamu mau mengobrol
denganku. Percakapan mengalihkan pikiranku dari rasa sakit.”
Tubuhnya membungkuk akibat batuk lainnya.
Lapisan keringat tipis muncul di dahinya.
“Oh, ceritakan padaku tentang sekolah. Apa
yang kamu lakukan di sana?”
“Hari ini… kami memilih cabang pertandingan
untuk Festival Olahraga.”
“Apakah anak laki-laki juga bertanding?”
“Iya. Aku berencana ikut lari ikat kaki (three-legged race).”
“Wah, astaga! Betapa beruntungnya gadis yang menjadi pasanganmu. Itu pasti akan menjadi kenangan yang disimpannya seumur
hidup.”
“Aku… Aku tidak…”
“Bagi seorang wanita, hal seperti itu sangat
berharga. Lebih dari yang mungkin kamu sadari.”
Rasa pusing samar mendadak melanda
dirinya.
“Jadi bersikap baiklah padanya. Maaf
ya—kurasa ini bukan kapasitasku untuk mengatakannya.”
Sosok wanita tua itu bertumpuk dengan
seseorang yang terkubur jauh di dalam ingatannya.
Seseorang yang wajahnya tidak lagi bisa ia
ingat.
“Apakah kamu sudah sering pergi ke tempat
pengabdian?”
“Tidak… Sejujurnya, aku hampir belum pernah ke mana-mana. Aku
dulu takut pada orang-orang.”
“Oh… Kamu tidak kelihatan seperti itu. Apakah
aku meminta terlalu banyak darimu sekarang?”
“Sekarang, aku… tidak apa-apa. Sekarang aku
sudah tidak apa-apa.”
Ingatannya yang kabur tentang kehidupan lain
itu bergoyang dan terlintas di benaknya.
Sesuatu yang pernah dilihatnya di balik batas
yang tidak boleh dilewatinya.
Sebuah kamar rumah sakit berwarna putih.
Seseorang yang tersenyum. Suara yang lembut.
Pemandangan samar itu menimpa ruangan di depan
matanya.
“Kalau dipikir-pikir, kamu kelihatan pucat.
Apakah kamu tidak apa-apa?”
“…Aku tidak apa-apa.”
Napasnya menjadi dangkal. Jantungnya mulai
berdebar kencang.
“Kamu yakin? Kamu tidak sedang memaksakan diri?”
Ia bisa merasakan ada yang salah dengan pikirannya.
Dentingan tinggi menusuk kepalanya, diikuti
oleh rasa sakit yang tajam. Ruangan berputar di sekelilingnya.
“Maaf. Aku cuma agak anemia, itu saja.”
Ia memaksakan dirinya tersenyum lalu berbicara
lagi.
“Apakah tubuh Nenek masih terasa sakit?”
“Iya, sayang. Bahkan dengan obat, seluruh
tubuhku tetap terasa sakit.”
“…Bagaimana kalau aku melakukan ini?”
Mizuki menggenggam tangan wanita tua itu
dengan kedua tangannya.
Pada saat yang sama, rasa sakit di kepalanya
sendiri mereda.
“Apakah ini membantu Nenek merasa sedikit
lebih tenang?”
“Ya. Ya, benar. Tapi aku tidak seharusnya
membuatmu menyentuh tangan tua yang keriput ini.”
“Aku rasa kerja keras Nenek tertulis di tangan
ini.”
“Wah, alangkah indahnya hal yang kamu katakan
itu.”
Suara datar Rei terdengar dari
belakangnya.
“Mizuki-sama, sudah waktunya.”
“Wah, astaga, sudah waktunya ya? Terima kasih banyak untuk hari ini.”
“Maaf ya, tapi aku harus pergi.”
“Iya, iya. Kamu sudah membuatku merasa jauh
lebih baik. Hati-hati di jalan ya.”
Mizuki membungkuk dalam-dalam lalu pergi
bersama Rei.
Nakamura melambaikan tangan sampai mereka
hilang dari pandangan.
“Terima kasih banyak.”
Resepsionis membungkuk. Mizuki membalas
anggukan itu dan melangkah ke dalam lift.
“Mizuki-sama… apakah Anda baik-baik saja?”
Rei menyebut namanya dengan nada khawatir.
Mizuki merasa terlalu lelah untuk menjawab.
Sesuatu yang berat telah tersangkut di
hatinya. Ia tidak tahu harus berbuat apa dengan hal itu.
“…”
Lift mencapai lantai dasar. Ia berjalan
keluar dari bangunan di samping Rei.
Kebisingan kawasan hiburan menerpanya
seolah-olah ia telah melangkah ke dunia lain.
“Rei-san, bisakah kita jalan-jalan sebentar?”
Tubuhnya terasa aneh, ringan dan tidak
stabil.
Ia hampir tidak bisa bernapas, seolah-olah
ia telah lupa caranya.
Berusaha agar terdengar seperti dirinya
yang biasa, ia berbicara dengan keceriaan yang terasa palsu.
“Mizuki-sama, jika Anda merasa tidak enak
badan, sebaiknya kita kembali ke mobil…”
“Aku ingin mencari udara segar.”
Hari telah gelap.
Para wanita di jalan utama menatap Mizuki
secara terang-terangan.
Mizuki menembus kerumunan dan terus berjalan
menuju malam.
“Aku tidak sering pergi ke tempat seperti
ini. Tempat ini sangat ramai ya.”
“Banyak orang yang kemungkinan datang ke
sini untuk minum-minum setelah bekerja.”
Izakaya murah yang melayani para pekerja
berjejer di sepanjang jalan.
Mizuki melihat ke sekeliling dengan rasa
ingin tahu. Ia tidak mengenal tempat seperti ini di kedua kehidupannya.
Biasanya, Rei tidak akan membiarkannya
mendekati kerumunan padat seperti ini.
Lalu Mizuki berhenti di luar sebuah toko.
Sebuah papan penanda besar menarik
perhatiannya: TERSEDIA BARANG DI BAWAH MEJA.
“Toko macam apa ini?”
“Mizuki-sama… anu…”
Mizuki memiringkan kepalanya melihat keraguan
Rei.
Melalui kaca, ia bisa melihat barang-barang
dewasa di dalamnya.
Biasanya ia akan langsung memalingkan wajah.
Namun sebaliknya, seolah-olah ia bisa menutupi beban di hatinya dengan suara
yang ceria, ia berkata, “Oh… Ayo kita masuk!”
“M-Mizuki-sama…”
Mizuki tahu, dengan perasaan terpisah yang
aneh, bahwa ia tidak bersikap seperti dirinya sendiri. Meski begitu, ia membuka
pintunya.
Beberapa wanita di dalam berbalik menatapnya
dengan terkejut.
“Wah. Ada banyak barang di sini.”
Rak-rak film dewasa untuk wanita berjejer
di toko tersebut.
Dinilai dari sampulnya, film-film itu
menampilkan wanita yang berpakaian seperti pria yang melakukan adegan simulasi.
“Apakah kamu membeli barang-barang seperti
ini juga, Rei-san?”
“…Tentu saja tidak.”
“Benarkah?”
“…Iya. Saya bersumpah.”
Rei memalingkan wajahnya, merasa canggung,
terlepas dari jawabannya.
Mizuki tertawa kecil dan melangkah lebih
jauh ke dalam toko.
“Ada berbagai macam mainan juga.”
“M-Mizuki-sama… tempat seperti ini rasanya
tidak……”
Mizuki tertawa pelan mendengar suaranya yang
panik, lalu mengamati mainan seks yang tergantung di pajangan.
Ia mengambil sebuah dildo yang bentuknya
aneh.
“Kenapa yang satu ini tajam-tajam begini?”
“…Saya tidak tahu sama sekali… Sama sekali
tidak tahu.”
Sebuah slogan provokatif tercetak dalam huruf
besar di kemasannya.
Apakah bentuk bergerigi itu dianggap ideal untuk wanita? Mizuki meletakkannya kembali dan berjalan lebih jauh ke
dalam.
“…Apa ini?”
Pakaian dalam pria dipajang di dalam kotak
transparan di dekat kasir.
Setiap pasang memiliki foto dan label
harga yang tinggi di sampingnya.
“…Apakah mereka membeli
pakaian dalam bekas?”
Wanita di balik kasir, yang tampaknya pemilik toko tersebut, memberinya
tatapan tidak ramah lalu mengangguk.
"Tentu. Atas kesepakatan bersama, tentu saja. Aku tidak menerima barang
curian."
"Oh…"
Harganya bervariasi.
Matanya terus tertuju pada angka-angka yang lebih besar.
Pikirannya mendadak menjadi dingin secara aneh.
"Berapa harganya?"
"Untuk celana yang mana?"
"Berapa harga celanaku jika dijual?"
"Mizuki-sama! Hentikan ini…!"
Suara Rei meninggi hingga hampir berupa jeritan. Mizuki mengangkat tangan
untuk menghentikannya.
"Berapa harga yang bisa kudapatkan jika menjualnya?"
Wajahnya tampak serius. Pemilik toko sepertinya menyadari bahwa Mizuki tidak
sedang bercanda, lalu mengamatinya perlahan dari kepala hingga ujung kaki.
"Untuk milikmu… delapan ratus ribu… tidak, sembilan ratus… satu juta
yen."
"Uang tunai?"
"Ya. Aku juga butuh foto."
Mizuki menghela napas pendek dan mengulurkan tangan ke gesper sabuknya.
Rei meremas lengannya.
"Mizuki-sama! Anda tidak boleh melakukannya!"
"Kalau begitu Rei-san saja yang beli!"
Teriakan itu mendadak keluar dari mulutnya.
Rei dan pemilik toko sama-sama mundur selangkah.
"Mizuki-sama…"
Mizuki terkejut dengan suaranya sendiri. Ia tidak ingat pernah berbicara
sekasar itu kepada Rei.
Meninggalkan Rei yang berdiri mematung karena terkejut, Mizuki melepas
pakaian dalam beserta celananya, lalu menyerahkan pakaian dalam itu kepada
pemilik toko paruh baya yang ketakutan tersebut.
"A-Aku akan memeriksa brankas. Tunggu di sini…"
Keheningan canggung memenuhi toko saat wanita itu pergi mengambil uang.
Suara logam dari gesper sabuk Mizuki berdenting saat ia mengenakan kembali
celananya.
Lirik lagu pop yang ceria dan terputar di toko terdengar begitu suram.
"Dan fotonya… apakah tidak apa-apa?"
Pemilik toko kembali membawa kantong kertas dan memperlihatkan sebuah kamera
instan.
"Iya."
"Kalau begitu… berdirilah di depan dinding itu."
Mizuki melakukan apa yang diperintahkan dan mengangkat tangannya membentuk
tanda peace ().
Ia tidak sanggup untuk tersenyum.
Pemilik toko tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menyerahkan kantong kertas
itu.
Mizuki mengambilnya dan memeriksa seikat lembaran uang di dalamnya.
"Mizuki-sama… apa-apaan ini…"
"Kita kembali."
Ia berbicara singkat kepada Rei yang masih berdiri terpaku di sampingnya,
lalu berbalik sambil memeluk kantong kertas itu.
"K-Kembali ke mana?"
"Fasilitas tadi."
Ia bergegas keluar dari toko dan menyusuri kembali rute perjalanan mereka
sebelumnya.
Lampu-lampu neon berkedip-kedip di sudut pandangannya.
Ia merasa pusing.
Ia tahu Pikirannya sedang kalut dan kacau.
Hanya perasaan mendesak yang tak terjelaskan yang terus membuatnya
melangkah.
"Mizuki-sama, tolong berhenti dan tenangkan diri Anda."
Mengabaikan Rei, Mizuki langsung masuk ke dalam bangunan pensil tua
tersebut.
Di tengah-tengah kawasan hiburan, bangunan itu terasa hening bagaikan
kematian.
Suara mesin lift terdengar sangat keras hingga membuatnya khawatir.
"Apa yang ingin Anda lakukan?"
"…"
Lift mencapai lantai tiga, dan pintunya terbuka.
Resepsionis menatapnya dengan terkejut.
"Toudou-sama?"
"Ada barangku yang tertinggal."
Ia memberikan jawaban singkat dan menuju ke salah satu dari lima kamar yang
ada.
Ketika ia membuka pintu, Nakamura masih terbaring di tempat tidur.
"Oh? Apakah ada barangmu yang tertinggal?"
Mizuki menghampirinya, berjongkok di samping tempat tidur, dan menyodorkan
kantong kertas itu.
"Apakah ini bisa membayar biaya operasi? Apakah uang ini cukup?"
Nakamura mengambil kantong tersebut dan melihat ke dalamnya.
Ia memberikan senyuman yang serba salah. Untuk beberapa saat, ia hanya
menatap Mizuki.
"Aku tahu aku memaksakan kehendak. Aku tahu ini merepotkan. Tapi
tolonglah. Aku ingin Nenek menggunakannya, demi aku."
"Tidak, sayang. Aku sudah tidak bisa bekerja lagi. Aku harus mematuhi
rasionalitas ketertiban."
Ia secara lembut menyerahkan kembali kantong kertas itu.
"Tapi!"
"Lagipula umurku juga tidak akan lama lagi. Di usiaku sekarang, ada
berbagai macam penyakit lain di tubuhku."
Senyumannya terasa hangat dan lembut.
"Terima kasih ya. Aku sudah hidup lama, tapi aku tidak yakin pernah ada
orang yang memedulikanku seperti ini."
"…"
Senyum wanita tua itu bertumpuk dengan senyum seseorang dalam ingatannya
yang jauh.
Di balik kabut.
Di seberang batas kematian.
Bayangan-bayangan bermunculan satu demi satu, lalu sirna sebelum ia sempat
mengenali bentuknya.
"Tolong… terimalah."
"Tidak boleh. Kamu tidak boleh menghamburkan uang seperti ini.
Tenangkan dirimu."
Mizuki tidak bisa berhenti terisak.
Ia mengusap air mata yang menetes di wajahnya dan terus memohon.
"Sudah, sudah. Jangan menangis."
Sebaliknya, wanita tua itu menariknya ke dalam pelukannya. Ingatan tentang
seseorang kembali muncul ke permukaan.
Ia tidak bisa lagi mengingat wajah maupun namanya.
Hal itu membuatnya merasa sedih.
"Tolong… terimalah uang ini."
"Wah, astaga. Aku harus bagaimana menghadapimu?"
Suaranya terdengar benar-benar serba salah, tetapi tangannya menepuk
punggung Mizuki dengan lembut.
"Dengar ya. Kamu tidak boleh melakukan hal seperti ini kepada orang
lain. Tidak akan ada habisnya nanti."
Segala sesuatu di dalam dirinya berguncang kalut.
Perasaannya meluap seperti air yang jebol dari bendungan yang rusak.
"Kamu anak yang baik, bukan? Hatimu sakit melihat orang lain
menderita."
Ia membelai kepala Mizuki, suaranya terdengar lembut seolah-olah sedang
menjelaskan sesuatu kepada anak kecil.
"Tapi kamu tidak boleh melakukan hal ini."
Mizuki hanya bisa mengangguk.
"Gunakan uang ini untuk orang-orang yang berharga bagimu. Ajaklah gadis
muda di sebelah sana untuk makan makanan yang enak."
Nakamura melihat ke arah belakang Mizuki.
Mizuki menoleh dan melihat Rei berdiri dengan canggung di dekat dinding.
"Berjanjilah padaku. Jangan berikan uang kepada seseorang hanya karena
kamu ingin menolongnya. Hal itu bisa berakhir sangat buruk. Maukah kamu membuat
satu janji terakhir denganku?"
"……Maafkan aku."
"Nah, jam kunjungan sudah berakhir. Seorang anak laki-laki terutama
harus segera pulang ke rumah."
Nakamura menepuk punggungnya dengan lembut, mengakhiri kunjungan tersebut.
Mizuki berdiri dengan sempoyongan, mengusap air matanya dengan lengan baju,
lalu membungkuk.
"Maafkan aku. Aku sudah… menyusahkan Nenek."
"Tidak apa-apa. Memang seharusnya begini. Justru orang yang bisa tetap tenang di tempat
seperti ini adalah orang yang aneh."
Nakamura tersenyum padanya untuk terakhir kali.
"Jaga kesehatanmu ya."
Mizuki tidak menemukan kata-kata untuk diucapkan kepada seorang wanita yang
akan meninggal besok. Yang berhasil diucapkannya hanyalah, "Terima
kasih."
Ia meninggalkan kamar, berbicara singkat kepada resepsionis, dan kembali ke
lift.
"……Mizuki-sama."
Segera setelah mereka berduaan, Rei merangkul bahunya.
Mizuki meremas kantong kertas itu dan menengadah menatapnya dengan senyum
lemah.
"Maaf ya. Aku emosi dan mulai bertingkah aneh."
"……Tidak. Seharusnya
saya yang menghentikan Anda."
Pintu lift terbuka dengan suara yang berat.
Berbeda dari saat datang, Mizuki membiarkan Rei menuntunnya keluar dari
bangunan.
Kawasan hiburan itu masih tetap ramai seolah-olah berada di dunia lain.
Ia berjalan menembus kerumunan dalam keheningan, bersandar pada genggaman
tangan Rei.
Kantong kertas yang diapit di bawah lengan kirinya terasa seberat timbal.
"Lewat sini."
Di dekat mobil yang terparkir, Rei membukakan pintu.
Mizuki tenggelam ke dalam kursi belakang dan menjatuhkan kantong lembaran
uang kertas itu di sampingnya.
Ia merasa sangat lelah.
"Dibutuhkan waktu untuk sampai ke rumah. Cobalah untuk tidur."
Rei menyesuaikan kaca spion dari kursi pengemudi.
"Iya."
Ia menatap pemandangan luar yang mulai bergerak perlahan.
Lalu ia memikirkan dunia yang samar dari ingatannya, suatu waktu dan di
suatu tempat yang lain.
"Apakah eutanasia…… benar-benar diperlukan?"
"……Itu adalah pilihan pribadi yang penting. Memilih kematian yang
bermartabat juga merupakan salah satu hak yang paling sakral."
"Ya…… kurasa begitu……"
Ia teringat perkataan Nakamura bahwa tubuhnya terasa sakit.
Bagi wanita itu, hal tersebut tak diragukan lagi merupakan sejenis kelegaan.
Namun, menyebutnya sebagai sebuah 'pilihan' terasa sedikit tidak jujur bagi
Mizuki.
Nakamura bilang bahwa ia harus mematuhi rasionalitas ketertiban.
Mizuki tidak bisa menghilangkan pemikiran bahwa ajaran Partai telah
menyudutkan wanita itu ke dalam kondisi tanpa pilihan.
Setidaknya dulu aku tidak ingin mati.
Kata-kata itu tertahan di tenggorokannya, dan ia menelannya kembali.
Musim dingin di kelas 3 SMP.
Barisan apartemen yang sepi. Jalan raya. Lampu depan mobil yang melaju
kencang ke arahnya.
Peristiwa pada malam yang dingin
itu terputar kembali di pikirannya berulang kali.
Lalu ia teringat Kento Shirakawa.
Senyum ramahnya yang terdistorsi dan hancur, wajahnya yang terjebak di
antara tawa dan tangis saat berteriak. Mizuki tidak bisa menghapus pemandangan
itu dari ingatannya.
Dan Tsubaki Koito, temannya sejak SD, keluar dari toilet perempuan dalam
keadaan basah kuyup lalu memaksakan senyum untuknya.
Ingatan-ingatan yang menyakitkan bermunculan dan sirna, satu demi satu.
Rasanya seolah-olah segala sesuatu, di suatu tempat, sudah mendekati
kehancuran.
"Kalau aku lulus dari kelas teratas…… aku akan berhak mendapatkan
kualifikasi anggota Partai, kan?"
"……Iya."
Ia menatap seikat lembaran uang kertas yang menyembul dari kantong di kursi di
sebelah dirinya.
Pada akhirnya, uang tidak bisa mengubah apa pun.
Ia membutuhkan kekuatan untuk mengubah sesuatu sampai ke akar-akarnya.
"Jika aku menjadi eksekutif Partai, bisakah aku mengubah beberapa
hal?"
"……Saya tidak paham masalah politik."
Ia bertanya-tanya di mana distorsi ini bermula.
Dunia yang sempat diliriknya di ambang kematian tidak memiliki konsep
tentang rasionalitas ketertiban.
Setidaknya, ia tahu bahwa hal itu bukanlah prinsip universal.
Seperti yang dilihatnya sekarang, rasionalitas ketertiban yang dijunjung
tinggi oleh Partai tidak tampak benar bagi Mizuki.
Namun, pasti ada alasan mengapa
pemikiran seperti itu bisa mengakar kuat.
Akar masalahnya kemungkinan adalah betapa sulitnya mempertahankan masyarakat
dengan rasio gender yang begitu ekstrem.
"Hari ini…… aku mendapati diriku berharap agar dunia bisa menjadi
sedikit saja…… sedikit saja lebih baik dari sekarang."
"……Iya."
Sendirian, ia mungkin hampir tidak bisa berbuat apa-apa.
Ia tahu ia tidak bisa mengubah segala sesuatu yang timbul dari masalah
biologis.
Namun, ia tidak bisa percaya bahwa akhir yang menanti wanita tua yang
ditemuinya hari ini adalah hal yang benar. Ia berharap segalanya bisa menjadi
sedikit lebih baik.
Rasanya hal itu menjadi salah satu alasan mengapa ia bisa bertahan hidup
secara kebetulan.
"Jadi…… aku rasa aku akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk
mencapai Kelas A."
Semoga semua orang menemukan kedamaian, meskipun hanya sedikit, di dunia
dengan rasio gender yang telah rusak ini.


Post a Comment