Chapter 1
"Tuan Mizuki, apakah Anda baik-baik saja? Jika Anda merasa tidak enak
badan..."
"Ya. Aku
tidak apa-apa kok." Sambil
tersenyum canggung mendengar suara yang mengkhawatirkannya, Toudou Mizuki turun
dari mobil.
Penampilannya
yang berkulit putih dan bertubuh kurus—mungkin karena sudah lama mengurung diri
di rumah—sekilas membuatnya terlihat seperti seorang gadis. "Setidaknya aku harus berusaha di hari
pertama sekolah ini." Mendengar
perkataan Mizuki, Mikado Rei, sang ajudan yang menemaninya, menundukkan kepala
seolah patuh.
Melihat hal itu,
wajah Mizuki sempat menunjukkan ekspresi rumit, sebelum akhirnya ia mendongak
menatap gerbang sekolah yang menyerupai benteng berstruktur batu bata.
Akademi
Shirayuki.
Merupakan salah
satu sekolah bergengsi yang dikenal sebagai Empat Akademi Campuran. Mizuki
berkewajiban untuk bersekolah di sini selama tiga tahun ke depan. Bagi Mizuki yang hampir tidak pernah
bersekolah selama masa SMP, ini adalah kehidupan sekolah pertamanya setelah
sekian lama.
Untuk
menghilangkan rasa cemasnya, ia mendongak menatap sang ajudan di
sampingnya. "Ini sekolah almamater
Anda, kan, Mikado-san?"
"Ya. Gerbang
sekolah yang megah ini dibangun pada pertengahan era Meiji dan telah ditetapkan
sebagai Cagar Budaya Penting. Gedung sekolah ini sangat pantas untuk Tuan
Mizuki."
***
Mizuki melangkah
menyusuri area sekolah bersama Rei yang memperkenalkan almamaternya dengan
bangga. Di sekitarnya, tampak beberapa siswi yang terlihat seperti murid baru.
Selain itu, tatapan penuh rasa ingin tahu sesekali tertuju padanya.
Rasio pria dan
wanita di akademi ini adalah 1 : 30. Walaupun proporsi laki-laki di sini lebih
tinggi dibandingkan dunia luar, keberadaan Mizuki tetap saja mencolok.
"Anak itu, ada apa ya?" Pemandangan yang tidak sengaja menarik
perhatiannya membuat langkah Mizuki terhenti.
Di dekat gerbang
sekolah, di depan sebuah mesin penjual otomatis, tampak seorang siswi sedang membungkuk
melakukan sesuatu. Mizuki ragu sejenak,
lalu melangkah mendekati siswi tersebut.
"Kamu tidak
apa-apa? Ada masalah apa?"
"Kunciku
jatuh... ke dalam..." Melihat
siswi yang menoleh ke arahnya, Mizuki tanpa sadar menahan napas. Gadis itu sangat cantik, bahkan Mizuki
merasa belum pernah melihat yang secantik ini sebelumnya.
Rambut hitamnya
ditata gaya half-up, dan ia memiliki sepasang mata yang tajam nan anggun.
Ditambah lagi, gerak-geriknya menunjukkan bahwa ia berasal dari keluarga
terpandang.
Dalam sekejap, Mizuki terpesona oleh wajahnya, tetapi ia segera teringat tujuannya dan melihat ke arah tangan gadis itu. Sepertinya kunci gadis itu jatuh ke dalam saluran air di depan mesin penjual otomatis. Di atas saluran air itu tertutup kisi-kisi besi (grating).
"Hmm,
kisi-kisi besinya dipasang dengan sekrup khusus, jadi sepertinya tidak bisa
dilepas dengan mudah. Kalau melapor ke staf sekolah, mungkin nanti bisa
diambilkan, tapi..."
"Anu......?" Mizuki menurunkan tas sekolahnya yang masih
baru dan mengeluarkan kotak bekal dari dalamnya.
Siswi yang
tadinya mematung itu membelalakkan mata dan mengeluarkan suara kebingungan saat
melihat kotak bekal tersebut.
Mizuki
mengabaikannya dan menjulurkan sumpit yang menempel pada kotak bekal ke arah
saluran air. "Ah, sepertinya
bisa."
***
"Nah,
silakan." Ia berhasil mengaitkan
kunci yang jatuh di dalam dan menariknya ke atas.
"K-Kalau
begitu, mohon maaf sekali! Melakukan hal seperti ini kepada seorang pria…!"
Mizuki menyeka
kunci yang berhasil diambil dengan saputangan sebelum menyerahkannya. Gadis itu
menundukkan kepalanya dalam-dalam, tampak semakin merasa bersalah.
"Saya akan membayar biaya dry cleaning-nya, jadi—"
"Daripada
itu, apakah waktumu cukup? Bukankah siswi ada orientasi terlebih dahulu?
Sebaiknya kamu segera pergi."
Hari ini adalah
hari masuk sekolah, tetapi tidak ada upacara penerimaan yang mengumpulkan
seluruh siswa.
Siswa laki-laki
dan perempuan dipisahkan untuk menerima orientasi masuk, lalu setelah itu
berkenalan di kelas masing-masing.
Melihat siswi
yang masih menunduk dan tidak bergerak itu, Mizuki memutuskan untuk
meninggalkan tempat tersebut.
"Terima
kasih banyak atas bantuannya. Lain kali saya akan datang untuk menyampaikan
rasa terima kasih saya secara resmi, jadi jika berkenan, bisakah saya tahu nama
Anda…?"
"Aku Toudou
Mizuki, tapi… menurutku lebih baik kita tidak usah sering bertemu."
"......Eh?" Mendengar kata-kata yang terlontar begitu
saja, gerakan gadis itu terhenti.
"Soalnya,
aku adalah orang dari kelas kasta paling bawah."
◇◇◇
Toudou Mizuki memiliki sebuah ingatan yang
aneh.
Mizuki
menganggapnya sebagai ingatan dari kehidupan sebelumnya, meskipun ia tidak
memiliki bukti pasti. Ia juga tidak pernah menceritakannya kepada siapa
pun. Ia hanya berpikir samar-samar
seperti itu.
Namun, ingatan
itu tiba-tiba meluap pada suatu hari.
Di musim dingin saat kelas 3 SMP. Pada malam hari di bawah langit yang
dingin, ketika ditabrak bus yang hilang kendali dan terhempas ke aspal yang
dingin.
Saat menyadari
kematian, di saat ia mendekati kematian, ia terkejut karena ini adalah kedua
kalinya bagi dirinya.
Ingatan yang
mendadak teringat kembali itu adalah tentang dunia yang sama sekali berbeda
dari dunia yang dikenal Mizuki. Itu
adalah dunia yang aneh di mana jumlah laki-laki dan perempuan hampir seimbang.
Dunia tempat
Mizuki hidup sangat berbeda dengan dunia rasio 1 : 200 ini, sehingga ia tidak
bisa menganggapnya sekadar delusi atau ilusi akibat kecelakaan.
Namun, ingatan
tentang masa setelah kematian itu sangat penuh dengan celah hingga ia bahkan
tidak tahu namanya sendiri, sehingga sulit untuk memanfaatkan pengetahuan
teknis dari dunia tersebut secara efektif.
Lagi pula, Mizuki sendiri di dunia ini hanyalah seorang anak lemah yang
menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah sakit.
Hanya saja, fakta
bahwa ia mendapatkan ingatan kehidupan sebelumnya telah mengubah nilai-nilai
hidup Mizuki secara jelas.
Mizuki saat masa
SMP menderita fobia terhadap wanita yang parah. Namun, setelah mendapatkan
ingatan misterius itu, fobia tersebut terasa bukan lagi masalah besar baginya.
Dan kini, Mizuki
yang telah keluar dari rumah sakit akibat kecelakaan tersebut datang ke Akademi
Shirayuki yang telah ditentukan oleh negara sebagai tempatnya bersekolah.
"Apakah aku
bisa melakukannya dengan baik, ya…?"
"Tuan Mizuki
pasti akan baik-baik saja."
"Aku tidak
punya skor kredit yang layak, dan lagi pula berada di kelas kasta
terendah..."
"Kalau Tuan
Mizuki, pasti akan berhasil naik tingkat dengan lancar." Mizuki, yang baru saja selesai menghadiri
sesi penjelasan khusus murid laki-laki, membocorkan rasa cemasnya saat berjalan
menuju kelasnya sendiri.
Namun, Rei
langsung membantahnya. Rei, yang telah
bertugas sebagai ajudan sejak Mizuki masih kecil, memang memiliki sisi seperti
itu sejak dulu. Sikapnya terkadang memperlihatkan sesuatu yang menyerupai
sebuah keyakinan atau iman.
"......Sepertinya
penjelasan untuk murid perempuan belum selesai, ya." Ketika sampai di depan kelas, terdengar
suara guru dari dalam.
Karena tidak ada
pilihan lain, Mizuki bersandar di jendela koridor dan memandangi pemandangan di
luar. Di depan gerbang sekolah, terlihat bunga sakura yang tampak begitu indah
khas musim semi.
"Kalau
merasa kondisi tubuhmu kurang baik, tolong segera beri tahu aku."
Berbeda dari yang
tadi, Rei berbicara dengan raut wajah yang tampak khawatir.
Mizuki pun
tersenyum canggung tanpa sadar dan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa kok. Aku tidak sedang
memaksakan diri, lagi pula..."
Mizuki
mengutarakan perasaannya yang sejujurnya.
"Sebenarnya
ada bagian dari diriku yang merasa lumayan bersemangat."
"Bersemangat,
apakah benar begitu?"
Mendengar
perkataan Mizuki, Rei menunjukkan ekspresi terkejut.
"Iya."
Di kehidupan
sekarang, ia takut pada perempuan sehingga tidak ingin pergi ke sekolah.
Di kehidupan
sebelumnya, ia sering sakit-sakitan sehingga tidak bisa pergi meski ingin.
Di satu sisi ia
merasa cemas, namun di sisi lain ada perasaan aneh yang bertolak belakang—rasa
antusias menghadapi kehidupan sekolah yang baru.
"Toudou-kun,
apakah persiapannya sudah selesai?"
Pintu kelas
mendadak terbuka, dan seorang guru perempuan yang tampaknya wali kelas
memunculkan wajahnya.
Sepertinya
penjelasan di dalam sudah berakhir dan tiba waktunya untuk saling
berkenalan.
"Saya akan
menunggu di koridor, jadi jika Anda memerlukan sesuatu, mohon beri tahu
saya."
"Iya, kalau
begitu aku masuk dulu, ya." Mizuki
menarik napas dalam-dalam, lalu memegang gagang pintu kelas.
◇◇◇
"Sesuai dengan
yang dijelaskan tadi, peringkat kelas akan berubah berdasarkan poin kelas saat
kenaikan tingkat. Bagi kalian di Kelas A, jika saat kelulusan berada di
peringkat teratas, kalian akan mendapatkan kualifikasi sebagai anggota partai. Hal
itu sangat memungkinkan. Selain itu, untuk memperluas pilihan hak pilih kelas,
usaha yang terus-menerus sangatlah diperlukan."
Hojou Noa
mendengarkan penjelasan masuk sekolah yang membosankan itu sambil memikirkan
kursi kosong yang ada di depannya.
Keluarga Hojou
adalah salah satu dari keluarga terpandang yang disebut "Delapan Belas
Keluarga Utama" (Jūhachi-ke). Mereka adalah keluarga bangsawan yang
berdiri sejak era Edo dan terus memainkan peran simbolis dalam modernisasi
setelah pembentukan pemerintah baru Restorasi.
Dan kursi kosong
di depannya, seharusnya diduduki oleh Isshiki Shizuku, yang juga berasal dari
Delapan Belas Keluarga Utama.
(Mengenai
hal ini, apa yang sebenarnya terjadi?)
Sejauh
yang diketahui Noa, Shizuku Isshiki adalah putri dari Delapan Belas Keluarga
Utama yang sangat teladan.
Prestasi
akademisnya unggul, dan ia selalu menunjukkan perilaku yang pantas bagi
seseorang yang memimpin. Ia
bukanlah tipe orang yang membolos pada hari pertama sekolah.
Satu-satunya
alasan ketidakhadirannya yang terpikirkan adalah semacam kemalangan keluarga,
tetapi pastinya informasi mengenai hal itu sudah sampai ke tangan orang-orang
dari Delapan Belas Keluarga Utama.
Namun, kursi
kosong ini tetap menjadi misteri baginya.
"Selanjutnya,
mengenai siswa laki-laki yang diterima sebagai murid tahun pertama. Tahun ini,
ada 11 siswa laki-laki yang diterima. Mereka telah ditempatkan mulai dari Kelas
K. Kalian di Kelas A diberikan hak untuk memilih kelas secara bebas hanya
sebanyak satu kali. Namun, begitu kalian mendapatkan 『Tanda Berkeluarga』 (O-tegumi), hak pilih
tersebut akan hangus dan kalian tidak akan bisa pindah ke kelas lain. Harap
diingat untuk tidak bertindak ceroboh."
Di layar yang
berada di depan kelas, wajah-wajah siswa laki-laki yang ditempatkan di setiap
kelas mulai ditampilkan satu per satu.
Suasana kelas yang tadinya terasa membosankan seketika berubah drastis,
menjadi sedikit gaduh dan penuh kegelisahan.
"Mengenai
nilai para siswa laki-laki, kalian dapat melihatnya dengan masuk ke situs
internal sekolah. Tentu saja, menyebarkan informasi ini ke luar sekolah akan
dikenakan sanksi berupa dikeluarkan dari sekolah dan, tergantung kasusnya, bisa
berhadapan dengan hukuman pidana. Mohon untuk sama sekali tidak melihatnya di
tempat umum seperti di dalam kereta atau kafe."
Noa
melirik sekilas ke arah jam dinding.
Sesi penjelasan
masih tersisa 20 menit lagi. Isshiki Shizuku masih belum datang juga.
"Tentu saja,
nilai siswi perempuan juga akan dibuka kepada para siswa laki-laki. Mulai dari
nilai Sekolah Menengah Pertama, struktur keluarga, hingga riwayat penggunaan
hak pilih, semuanya akan tercatat. Khususnya mengenai penggunaan hak pilih,
harap berhati-hati. Para siswa laki-laki biasanya akan menjauhi siswi yang
menggunakan hak pilihnya di kelas selain dirinya di masa lalu. Setidaknya,
disarankan untuk menghindari penggunaannya selama tahun pertama."
Bagi Noa dan
siswi lainnya di Kelas A, kelas ini adalah tempat berkumpulnya murid-murid
paling berprestasi berdasarkan nilai ujian masuk, skor kredit, serta skor
produktivitas. Di saat yang sama,
mereka juga diberikan hak pilih kelas untuk berpindah ke kelas kasta mana pun
sesuai keinginan.
Meski begitu, hak
pilih ini biasanya tidak pernah digunakan.
Sengaja berpindah ke kelas kasta bawah sama saja dengan menunjukkan
bahwa tujuannya adalah mencari laki-laki di kelas bawah tersebut. Begitu
menggunakan hak pilih walau hanya sekali, ia tidak akan lagi dilirik oleh
laki-laki lain, dan kehidupan sekolahnya di masa depan akan hancur. Penggunaan hak pilih ini di kalangan murid
tahun pertama terbilang sangat jarang, dan hubungan dengan para siswa laki-laki
di kelas... hanya dilakukan jika dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa.
"Baiklah,
kalau begitu, mari kita perkenalkan secara singkat siswa laki-laki yang pasti
paling membuat kalian penasaran."
Sambil memandangi
kursi kosong milik Isshiki Shizuku dan memikirkan hal itu, Noa ditarik kembali
ke realitas oleh perkataan wali kelas.
"Pertama,
dari Kelas A, Kichijouji Susumu-kun. Warga Negara Kelas Tiga. Seperti yang kalian lihat, skor kreditnya
sangat tinggi. Jumlah pergantian ajudannya adalah 3 kali. Jumlah O-tegumi
adalah 6 kali."
Sambil
memandangi data siswa bertubuh besar yang diproyeksikan ke layar, Noa
menganalisisnya dengan dingin: Laki-laki berpikiran elit yang tipikal. Naik
sampai ke Kelas Tiga padahal masih SMA adalah bukti kuat bahwa ia memiliki
dorongan untuk maju. Jumlah pergantian ajudan sebanyak 3 kali menunjukkan
sifatnya yang sulit didekati dan kaku.
Kemungkinan
besar ia seorang yang pemarah. "Berikutnya Kelas B, Koba Takumi-kun.
Warga Negara Kelas Empat. Jumlah pergantian ajudannya 2 kali. Di masa lalu, ia
pernah melakukan O-tegumi sebanyak 20 kali." Suasana di dalam kelas seketika menjadi riuh
rendah.
Sebelum masuk
SMA, jumlah O-tegumi sebanyak 20 kali adalah angka yang sangat banyak.
Dengan kata lain,
dari sudut pandang perempuan, ia adalah tipe yang mudah dimanfaatkan. "Kelas C, Shirakawa Kento-kun. Warga
Negara Kelas Empat. Jumlah pergantian ajudannya 5 kali. Jumlah O-tegumi 7 kali.
Pernah terlibat insiden kekerasan… sebanyak 3 kali." Tanpa sadar, Noa mengerutkan wajahnya.
Tiga kali insiden
kekerasan. Sudah pasti ia adalah anak bermasalah.
Namun, wajah yang
diproyeksikan di layar terlihat tampan dan rapi, membuat beberapa siswi di
kelas menatapnya dengan pandangan penuh gairah. "Kelas D——" Sejak saat itu, data para siswa laki-laki
tidak lagi berkesan bagi Noa.
Data yang
dibacakan hanyalah milik siswa-siswa biasa.
Semakin mendekati
kelas kasta bawah, catatan khusus yang bernada negatif pun semakin bertambah.
Suasana kelas
yang tadinya sempat agak bersemangat pun perlahan-lahan mulai tenang.
"Terakhir,
Kelas K. Toudou Mizuki-kun. Jumlah pergantian ajudan 0 kali. Jumlah O-tegumi 0
kali. Tingkat kehadiran saat SMP hanya 20 kali. Skor kredit hampir tidak ada,
dan terdiagnosis mengalami fobia wanita yang parah." Melihat foto wajah yang diproyeksikan, Noa
seketika terpesona.
Raut wajahnya
androgini, dengan tatapan mata yang lembut. Dibandingkan dengan siswa laki-laki
lainnya, ia memiliki penampilan yang menonjol secara jelas.
(Sayang
sekali...)
Dari informasi
bahwa ia menderita fobia terhadap wanita, Noa menebak bahwa dengan penampilan
seperti ini, kemungkinan besar ia pernah mengalami kejadian menakutkan di masa
lalu.
Melihat informasi
bahwa jumlah pergantian ajudannya 0 kali, Noa tanpa sadar menghela napas.
Anak laki-laki
pada masa kecil atau masa pubertas umumnya akan mengamuk dan setidaknya pernah
mengganti ajudannya sekali. Informasi angka 0 kali ini terbilang sangat langka.
(Andai saja
dia tidak punya masalah skor kredit, dia pasti sudah jadi aset yang bagus) pikir Noa sambil merenungkan murid-murid
laki-laki lainnya.
Pasangan yang
diinginkan Noa tidak ditemukan di antara para siswa laki-laki ini.
Dalam tiga tahun
ke depan, ia harus mempersempit pilihannya dengan metode eliminasi.
(Atau
mungkin……) Ada pilihan
lain untuk menggunakan kekuatan keluarga Hojou demi menemukan pria dari luar
sekolah. Namun, itu adalah kewajiban Noa, yang dilahirkan sebagai putri sulung
dari Delapan Belas Keluarga Utama yang harus meneruskan garis keturunan tanpa
memilih cara.
Kemudian, ia
mengalihkan pandangannya ke kursi Isshiki Shizuku, yang memikul kewajiban yang
sama.
Shizuku Isshiki
masih belum juga datang. Sesi
penjelasan hampir berakhir.
◇◇◇
Kaminari Nene,
yang ditempatkan di Kelas K tahun pertama, membungkukkan punggungnya seolah
ingin menyembunyikan tubuhnya yang tinggi, yakni 178 cm, sambil mendengarkan
sesi penjelasan.
(Mungkin anak
yang membolos itu…… wajar jika dialokasikan ke kelas kasta terendah) Bagi Nene yang ditempatkan di Kelas K—kelas
kasta terendah—kelas ini tidak memiliki hak pilih. Dengan kata lain, ia tidak
punya tempat untuk melarikan diri.
Dalam arti
tertentu, merupakan suatu keberuntungan bagi Nene bahwa kelasnya diisi oleh
siswa laki-laki yang terbilang tidak berbahaya. Tanpa perlu terlibat langsung,
Nene sudah merasa cukup hanya dengan memandangi sosoknya yang menggemaskan dari
jauh.
"Kalau
begitu, apakah ada pertanyaan?"
Merasakan suasana sesi penjelasan yang akhirnya akan segera berakhir,
orang-orang di dalam kelas mulai merasa gelisah.
Nene semakin
membungkukkan punggungnya dan berhati-hati agar tidak terlalu mencolok. Tubuh
tinggi seperti Nene dikhawatirkan akan membuat siswa laki-laki merasa takut
secara tidak perlu. "Jika tidak
ada, Toudou-kun, silakan masuk ke ruangan." Wali kelas berjalan menuju pintu dan
mengatakan sesuatu dengan suara pelan ke arah koridor.
Segera setelah
itu, seorang siswa laki-laki masuk ke dalam kelas.
Pada momen
tersebut, suasana di dalam kelas berubah seketika.
(……Wajahnya
jauh lebih tampan daripada di foto)
Pandangan para
siswi di kelas secara serempak tertuju padanya. Sosoknya yang dibalut seragam sekolah
terlihat agak rapuh, sehingga Nene tanpa sadar terus memperhatikannya.
Kulitnya yang
putih dengan raut wajah yang rapi. Rambutnya yang lembut dan mengalir tampak
bersinar lembut, disinari cahaya yang masuk dari jendela. Wali kelas mengisyaratkan dengan tangannya.
"Kalau
begitu, Toudou-kun, silakan perkenalkan dirimu." Mizuki mengangguk pelan lalu melangkah maju.
Menyesuaikan
dengan gerakannya, udara di dalam kelas semakin tegang. "Salam kenal. Saya Toudou Mizuki.
Karena sampai SMP saya tidak terlalu sering bersekolah, mungkin ada banyak hal
yang belum terbiasa, tetapi mohon bantuannya." Meskipun suaranya tenang, pembawaannya
terasa begitu percaya diri, bertolak belakang dengan informasi awal.
Nene merasakan
kejanggalan kecil.
"Baiklah,
silakan duduk di kursi tengah sana."
"Baik." Sesuai arahan wali kelas, Toudou Mizuki
duduk di kursinya.
Ternyata
posisinya persis di sebelah kanan Nene. Nene menegangkan seluruh tubuhnya dan
membungkukkan punggungnya semakin dalam seolah ingin menyembunyikan
keberadaannya.
"Selanjutnya,
mari kita lanjutkan dengan perkenalan diri para siswi. Gimana kalau kita mulai
dari sisi jendela? Tolong persingkat sekitar 30 detik ya."
"Y-Ya. Saya
Aihara Yura! Saya datang dari Hokkaido. Tinggal di asrama—" Saat itu, suara ketukan pintu berbunyi dari
pintu kelas.
Setelah
menunjukkan wajah heran, wali kelas berkata, "Silakan," lalu seorang
gadis memunculkan dirinya. "Saya
Shizuku Isshiki. Saya telah menggunakan hak pilih kelas dan berpindah ke sini.
Staf sekolah menginstruksikan saya untuk membawa meja nanti, jadi saya diminta
untuk mendengarkan orientasi terlebih dahulu."
"......Hak
pilih kelas?" Kehadiran sosok
penyusup yang tiba-tiba membuat suasana kelas menjadi gaduh, bukan hanya wali
kelas saja.
(Hak pilih
kelas? Sejak hari pertama?)
Hak memilih kelas
adalah hak istimewa berharga yang hanya bisa digunakan satu kali hingga
kelulusan.
Hak tersebut
biasanya digunakan jika hubungan dengan siswa laki-laki di kelasnya memburuk,
atau digunakan setelah pria yang dituju sudah dipastikan. Sama sekali bukan hak
yang digunakan sebelum orientasi di hari pertama.
Terlebih lagi,
ini adalah Kelas K. Sangat tidak masuk akal jika ada yang sengaja berpindah ke
kelas kasta terendah atas kemauannya sendiri.
(Lagi
pula...... Aku mendengar nama Isshiki......)
Bahkan Nene yang
merupakan rakyat jelata pun tahu bahwa nama keluarga Isshiki adalah bagian dari
Delapan Belas Keluarga Utama. Tindakan keluarga terpandang terkemuka di negeri
ini yang seperti ini semakin membuat keadaan tidak dapat dipahami.
Di tengah
pandangan penuh kebingungan dari seisi kelas, Isshiki Shizuku menundukkan
kepalanya secara tenang.
"Saya minta
maaf atas keributannya. Boleh kah saya berdiri di belakang sampai mejanya
tiba?"
"......Ah,
ya. Mohon maaf, bisakah Anda melakukan itu?"
"Baik." Setelah menundukkan kepala sekali lagi,
Shizuku Isshiki berjalan ke area belakang kelas.
"Kalau
begitu, Aihara-san. Sekali lagi, silakan perkenalkan dirimu."
"......Baik.
Mohon maaf atas pengulangannya. Saya Aihara Yura. Asal saya dari
Hokkaido—" Suasana kelas tempat
perkenalan diri dilanjutkan kembali masih belum benar-benar tenang.
Para siswi
sesekali melirik ke arah Shizuku Isshiki yang berdiri di bagian belakang.
Keberadaannya
terasa terlalu asing.
Keadaan di mana
seseorang yang memikul nama Delapan Belas Keluarga Utama dengan sukarela turun
ke kelas kasta terendah adalah hal yang tak dapat dipahami oleh siapa pun. Meskipun demikian, perkenalan diri terus
berlanjut dengan lancar, berpindah dari deretan jendela menuju ke tengah secara
berurutan.
Selama proses
itu, pandangan semua orang ditarik oleh Shizuku Isshiki di belakang. Namun,
Shizuku hanya berdiri diam secara tenang di belakang kelas tanpa menunjukkan
tanda-tanda terganggu.
Melihat sosoknya
yang begitu anggun dan percaya diri, Nene merasa cemas. Pasti gadis itu tidak pernah
merasa minder dengan dirinya sendiri.
Tinggi
badannya yang 178 cm pun terasa menonjol di dalam kelas.
Keberadaan
Toudou Mizuki yang duduk di sebelah kanannya malah membuat Nene merasa semakin
tegang.
Rambutnya
yang lembut dan wajahnya yang rapi hingga tak pernah dilihatnya sebelumnya.
Jika
informasi bahwa dia menderita fobia terhadap wanita itu benar, gadis bertubuh
besar seperti Nene pasti akan dihindari olehnya.
(Aku
tidak ingin dibenci olehnya), pikirnya dari dalam hati.
"Berikutnya,
Kaminari-san." Mendengar suara
wali kelas, Nene membuat bahunya terguncang kaget.
Ketika mencoba
berdiri, kakinya hampir tersangkut.
Sambil merasakan
tatapan seluruh siswa kelas, ia berusaha mengeluarkan suaranya pelan-pelan.
"K-Kaminari
Nene. Um...... saat SMP saya bergabung dengan klub bola voli. Mohon
bantuannya." Ia tidak sanggup
melanjutkan perkenalan diri hingga 30 detik, lalu langsung memotongnya dan
segera duduk.
Wajahnya
terasa panas. Setelah itu, ia menurunkan pandangannya dan hanya bisa memandangi
serat kayu di meja tanpa mampu menggerakkan tubuhnya yang membungkuk hingga
seluruh perkenalan diri siswa selesai.
◇◇◇
Setelah
perkenalan diri, sesi penjelasan berakhir tanpa kendala berarti, dan hari itu
mereka dibubarkan. Namun,
tidak ada satu pun siswi yang beranjak dari kursinya.
Di tengah
kesunyian yang saling menahan diri, Nene hanya bisa menahan napasnya.
Orang pertama
yang memecah kesunyian tersebut adalah Shizuku Isshiki. "Toudou-sama, senang bisa bertemu
dengan Anda kembali."
"Um......
yang tadi pagi?"
"Ya. Saya
Isshiki Shizuku. Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan Anda
mengambilkan kunci tadi......"
Shizuku
menundukkan kepalanya secara sopan, lalu menatap lurus ke mata Mizuki.
"Ya, tapi
itu bukan masalah besar kok. Lagipula, aku mendengar kamu sampai menggunakan
hak pilih kelas. Apakah kamu benar-benar tidak apa-apa?"
Semua siswi di
dalam kelas mendengarkan percakapan mereka berdua sambil mengawasi Toudou
Mizuki dan Shizuku Isshiki dari kejauhan.
Nene juga salah
satu di antaranya, sambil mengepalkan tangan di bawah meja. "Ya. Saya sangat ingin bertemu kembali
dengan Toudou-sama. Mengingat Anda kesulitan menghadapi banyak wanita, jika ada
hal yang menyulitkan Anda, silakan berkonsultasi dengan saya. Saya pasti akan
melindungi Anda." Mendengar
perkataan Shizuku, tatapan tajam terbang dari berbagai penjuru kelas.
Nene pun
merasakan dadanya bergemuruh kencang.
"Um, aku
menghargai perasaanmu dan merasa senang, tapi sebenarnya sekarang aku tidak
sampai sefobia itu terhadap wanita kok…"
"Benarkah
begitu? Kalau begitu, jika Anda berkenan, bagaimana kalau setelah ini kita
minum teh di kafe......" Melihat sikap Shizuku yang mencoba memangkas
jarak tanpa menyerah, suasana di dalam kelas mulai berubah menjadi mencekam. Seakan
menyadari hal itu, Mizuki dengan tenang menggelengkan kepalanya.
"Maaf ya,
hari ini aku sedikit tegang dan lelah, jadi bagaimana kalau lain kali
saja?"
"Saya mohon
maaf karena kurang peka. Kalau begitu, di lain kesempatan saja." Nene menghela napas lega di dalam hatinya.
Dengan begini,
untuk hari ini sepertinya tidak akan ada orang yang mendahului.
Ia mencoba
berdiri pelan-pelan dari kursinya agar tidak mencolok. "Wah, Kaminari-san ternyata tinggi
banget ya!" Deg, jantungnya
mendadak berdegup kencang.
Perasaan
tegangnya seketika hilang.
Saat menoleh,
Mizuki sedang mendongak menatapnya dengan senyuman yang polos tanpa beban. "Eh, a...... m-maaf—"
"Kelihatan
keren banget kayak model ya!"
Pertemuan mereka
belum genap satu jam.
Kata-kata yang
terucap bahkan belum sampai sepuluh detik.
Namun, pasti di
dalam diri Nene, keberadaan yang bernama Mizuki sudah mulai menjadi sosok yang 『Spesial』.
(Aku tidak ingin dia diambil oleh siapa pun), pikirnya dari lubuk hati yang paling dalam.
"Hmm,
kisi-kisi besinya dipasang dengan sekrup khusus, jadi sepertinya tidak bisa
dilepas dengan mudah. Kalau melapor ke staf sekolah, mungkin nanti bisa
diambilkan, tapi..."
"Anu......?" Mizuki menurunkan tas sekolahnya yang masih
baru dan mengeluarkan kotak bekal dari dalamnya.
Siswi yang
tadinya mematung itu membelalakkan mata dan mengeluarkan suara kebingungan saat
melihat kotak bekal tersebut.
Mizuki
mengabaikannya dan menjulurkan sumpit yang menempel pada kotak bekal ke arah
saluran air. "Ah, sepertinya
bisa."
***
"Nah,
silakan." Ia berhasil mengaitkan
kunci yang jatuh di dalam dan menariknya ke atas.
"K-Kalau
begitu, mohon maaf sekali! Melakukan hal seperti ini kepada seorang pria…!"
Mizuki menyeka
kunci yang berhasil diambil dengan saputangan sebelum menyerahkannya. Gadis itu
menundukkan kepalanya dalam-dalam, tampak semakin merasa bersalah.
"Saya akan membayar biaya dry cleaning-nya, jadi—"
"Daripada
itu, apakah waktumu cukup? Bukankah siswi ada orientasi terlebih dahulu?
Sebaiknya kamu segera pergi."
Hari ini adalah
hari masuk sekolah, tetapi tidak ada upacara penerimaan yang mengumpulkan
seluruh siswa.
Siswa laki-laki
dan perempuan dipisahkan untuk menerima orientasi masuk, lalu setelah itu
berkenalan di kelas masing-masing.
Melihat siswi
yang masih menunduk dan tidak bergerak itu, Mizuki memutuskan untuk
meninggalkan tempat tersebut.
"Terima
kasih banyak atas bantuannya. Lain kali saya akan datang untuk menyampaikan
rasa terima kasih saya secara resmi, jadi jika berkenan, bisakah saya tahu nama
Anda…?"
"Aku Toudou
Mizuki, tapi… menurutku lebih baik kita tidak usah sering bertemu."
"......Eh?" Mendengar kata-kata yang terlontar begitu
saja, gerakan gadis itu terhenti.
"Soalnya,
aku adalah orang dari kelas kasta paling bawah."
◇◇◇
Toudou Mizuki memiliki sebuah ingatan yang
aneh.
Mizuki
menganggapnya sebagai ingatan dari kehidupan sebelumnya, meskipun ia tidak
memiliki bukti pasti. Ia juga tidak pernah menceritakannya kepada siapa
pun. Ia hanya berpikir samar-samar
seperti itu.
Namun, ingatan
itu tiba-tiba meluap pada suatu hari.
Di musim dingin saat kelas 3 SMP. Pada malam hari di bawah langit yang
dingin, ketika ditabrak bus yang hilang kendali dan terhempas ke aspal yang
dingin.
Saat menyadari
kematian, di saat ia mendekati kematian, ia terkejut karena ini adalah kedua
kalinya bagi dirinya.
Ingatan yang
mendadak teringat kembali itu adalah tentang dunia yang sama sekali berbeda
dari dunia yang dikenal Mizuki. Itu
adalah dunia yang aneh di mana jumlah laki-laki dan perempuan hampir seimbang.
Dunia tempat
Mizuki hidup sangat berbeda dengan dunia rasio 1 : 200 ini, sehingga ia tidak
bisa menganggapnya sekadar delusi atau ilusi akibat kecelakaan.
Namun, ingatan
tentang masa setelah kematian itu sangat penuh dengan celah hingga ia bahkan
tidak tahu namanya sendiri, sehingga sulit untuk memanfaatkan pengetahuan
teknis dari dunia tersebut secara efektif.
Lagi pula, Mizuki sendiri di dunia ini hanyalah seorang anak lemah yang
menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah sakit.
Hanya saja, fakta
bahwa ia mendapatkan ingatan kehidupan sebelumnya telah mengubah nilai-nilai
hidup Mizuki secara jelas.
Mizuki saat masa
SMP menderita fobia terhadap wanita yang parah. Namun, setelah mendapatkan
ingatan misterius itu, fobia tersebut terasa bukan lagi masalah besar baginya.
Dan kini, Mizuki
yang telah keluar dari rumah sakit akibat kecelakaan tersebut datang ke Akademi
Shirayuki yang telah ditentukan oleh negara sebagai tempatnya bersekolah.
"Apakah aku
bisa melakukannya dengan baik, ya…?"
"Tuan Mizuki
pasti akan baik-baik saja."
"Aku tidak
punya skor kredit yang layak, dan lagi pula berada di kelas kasta
terendah..."
"Kalau Tuan
Mizuki, pasti akan berhasil naik tingkat dengan lancar." Mizuki, yang baru saja selesai menghadiri
sesi penjelasan khusus murid laki-laki, membocorkan rasa cemasnya saat berjalan
menuju kelasnya sendiri.
Namun, Rei
langsung membantahnya. Rei, yang telah
bertugas sebagai ajudan sejak Mizuki masih kecil, memang memiliki sisi seperti
itu sejak dulu. Sikapnya terkadang memperlihatkan sesuatu yang menyerupai
sebuah keyakinan atau iman.
"......Sepertinya
penjelasan untuk murid perempuan belum selesai, ya." Ketika sampai di depan kelas, terdengar
suara guru dari dalam.
Karena tidak ada
pilihan lain, Mizuki bersandar di jendela koridor dan memandangi pemandangan di
luar. Di depan gerbang sekolah, terlihat bunga sakura yang tampak begitu indah
khas musim semi.
"Kalau
merasa kondisi tubuhmu kurang baik, tolong segera beri tahu aku."
Berbeda dari yang
tadi, Rei berbicara dengan raut wajah yang tampak khawatir.
Mizuki pun
tersenyum canggung tanpa sadar dan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa kok. Aku tidak sedang
memaksakan diri, lagi pula..."
Mizuki
mengutarakan perasaannya yang sejujurnya.
"Sebenarnya
ada bagian dari diriku yang merasa lumayan bersemangat."
"Bersemangat,
apakah benar begitu?"
Mendengar
perkataan Mizuki, Rei menunjukkan ekspresi terkejut.
"Iya."
Di kehidupan
sekarang, ia takut pada perempuan sehingga tidak ingin pergi ke sekolah.
Di kehidupan
sebelumnya, ia sering sakit-sakitan sehingga tidak bisa pergi meski ingin.
Di satu sisi ia
merasa cemas, namun di sisi lain ada perasaan aneh yang bertolak belakang—rasa
antusias menghadapi kehidupan sekolah yang baru.
"Toudou-kun,
apakah persiapannya sudah selesai?"
Pintu kelas
mendadak terbuka, dan seorang guru perempuan yang tampaknya wali kelas
memunculkan wajahnya.
Sepertinya
penjelasan di dalam sudah berakhir dan tiba waktunya untuk saling
berkenalan.
"Saya akan
menunggu di koridor, jadi jika Anda memerlukan sesuatu, mohon beri tahu
saya."
"Iya, kalau
begitu aku masuk dulu, ya." Mizuki
menarik napas dalam-dalam, lalu memegang gagang pintu kelas.
◇◇◇
"Sesuai dengan
yang dijelaskan tadi, peringkat kelas akan berubah berdasarkan poin kelas saat
kenaikan tingkat. Bagi kalian di Kelas A, jika saat kelulusan berada di
peringkat teratas, kalian akan mendapatkan kualifikasi sebagai anggota partai. Hal
itu sangat memungkinkan. Selain itu, untuk memperluas pilihan hak pilih kelas,
usaha yang terus-menerus sangatlah diperlukan."
Hojou Noa
mendengarkan penjelasan masuk sekolah yang membosankan itu sambil memikirkan
kursi kosong yang ada di depannya.
Keluarga Hojou
adalah salah satu dari keluarga terpandang yang disebut "Delapan Belas
Keluarga Utama" (Jūhachi-ke). Mereka adalah keluarga bangsawan yang
berdiri sejak era Edo dan terus memainkan peran simbolis dalam modernisasi
setelah pembentukan pemerintah baru Restorasi.
Dan kursi kosong
di depannya, seharusnya diduduki oleh Isshiki Shizuku, yang juga berasal dari
Delapan Belas Keluarga Utama.
(Mengenai
hal ini, apa yang sebenarnya terjadi?)
Sejauh
yang diketahui Noa, Shizuku Isshiki adalah putri dari Delapan Belas Keluarga
Utama yang sangat teladan.
Prestasi
akademisnya unggul, dan ia selalu menunjukkan perilaku yang pantas bagi
seseorang yang memimpin. Ia
bukanlah tipe orang yang membolos pada hari pertama sekolah.
Satu-satunya
alasan ketidakhadirannya yang terpikirkan adalah semacam kemalangan keluarga,
tetapi pastinya informasi mengenai hal itu sudah sampai ke tangan orang-orang
dari Delapan Belas Keluarga Utama.
Namun, kursi
kosong ini tetap menjadi misteri baginya.
"Selanjutnya,
mengenai siswa laki-laki yang diterima sebagai murid tahun pertama. Tahun ini,
ada 11 siswa laki-laki yang diterima. Mereka telah ditempatkan mulai dari Kelas
K. Kalian di Kelas A diberikan hak untuk memilih kelas secara bebas hanya
sebanyak satu kali. Namun, begitu kalian mendapatkan 『Tanda Berkeluarga』 (O-tegumi), hak pilih
tersebut akan hangus dan kalian tidak akan bisa pindah ke kelas lain. Harap
diingat untuk tidak bertindak ceroboh."
Di layar yang
berada di depan kelas, wajah-wajah siswa laki-laki yang ditempatkan di setiap
kelas mulai ditampilkan satu per satu.
Suasana kelas yang tadinya terasa membosankan seketika berubah drastis,
menjadi sedikit gaduh dan penuh kegelisahan.
"Mengenai
nilai para siswa laki-laki, kalian dapat melihatnya dengan masuk ke situs
internal sekolah. Tentu saja, menyebarkan informasi ini ke luar sekolah akan
dikenakan sanksi berupa dikeluarkan dari sekolah dan, tergantung kasusnya, bisa
berhadapan dengan hukuman pidana. Mohon untuk sama sekali tidak melihatnya di
tempat umum seperti di dalam kereta atau kafe."
Noa
melirik sekilas ke arah jam dinding.
Sesi penjelasan
masih tersisa 20 menit lagi. Isshiki Shizuku masih belum datang juga.
"Tentu saja,
nilai siswi perempuan juga akan dibuka kepada para siswa laki-laki. Mulai dari
nilai Sekolah Menengah Pertama, struktur keluarga, hingga riwayat penggunaan
hak pilih, semuanya akan tercatat. Khususnya mengenai penggunaan hak pilih,
harap berhati-hati. Para siswa laki-laki biasanya akan menjauhi siswi yang
menggunakan hak pilihnya di kelas selain dirinya di masa lalu. Setidaknya,
disarankan untuk menghindari penggunaannya selama tahun pertama."
Bagi Noa dan
siswi lainnya di Kelas A, kelas ini adalah tempat berkumpulnya murid-murid
paling berprestasi berdasarkan nilai ujian masuk, skor kredit, serta skor
produktivitas. Di saat yang sama,
mereka juga diberikan hak pilih kelas untuk berpindah ke kelas kasta mana pun
sesuai keinginan.
Meski begitu, hak
pilih ini biasanya tidak pernah digunakan.
Sengaja berpindah ke kelas kasta bawah sama saja dengan menunjukkan
bahwa tujuannya adalah mencari laki-laki di kelas bawah tersebut. Begitu
menggunakan hak pilih walau hanya sekali, ia tidak akan lagi dilirik oleh
laki-laki lain, dan kehidupan sekolahnya di masa depan akan hancur. Penggunaan hak pilih ini di kalangan murid
tahun pertama terbilang sangat jarang, dan hubungan dengan para siswa laki-laki
di kelas... hanya dilakukan jika dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa.
"Baiklah,
kalau begitu, mari kita perkenalkan secara singkat siswa laki-laki yang pasti
paling membuat kalian penasaran."
Sambil memandangi
kursi kosong milik Isshiki Shizuku dan memikirkan hal itu, Noa ditarik kembali
ke realitas oleh perkataan wali kelas.
"Pertama,
dari Kelas A, Kichijouji Susumu-kun. Warga Negara Kelas Tiga. Seperti yang kalian lihat, skor kreditnya
sangat tinggi. Jumlah pergantian ajudannya adalah 3 kali. Jumlah O-tegumi
adalah 6 kali."
Sambil
memandangi data siswa bertubuh besar yang diproyeksikan ke layar, Noa
menganalisisnya dengan dingin: Laki-laki berpikiran elit yang tipikal. Naik
sampai ke Kelas Tiga padahal masih SMA adalah bukti kuat bahwa ia memiliki
dorongan untuk maju. Jumlah pergantian ajudan sebanyak 3 kali menunjukkan
sifatnya yang sulit didekati dan kaku.
Kemungkinan
besar ia seorang yang pemarah. "Berikutnya Kelas B, Koba Takumi-kun.
Warga Negara Kelas Empat. Jumlah pergantian ajudannya 2 kali. Di masa lalu, ia
pernah melakukan O-tegumi sebanyak 20 kali." Suasana di dalam kelas seketika menjadi riuh
rendah.
Sebelum masuk
SMA, jumlah O-tegumi sebanyak 20 kali adalah angka yang sangat banyak.
Dengan kata lain,
dari sudut pandang perempuan, ia adalah tipe yang mudah dimanfaatkan. "Kelas C, Shirakawa Kento-kun. Warga
Negara Kelas Empat. Jumlah pergantian ajudannya 5 kali. Jumlah O-tegumi 7 kali.
Pernah terlibat insiden kekerasan… sebanyak 3 kali." Tanpa sadar, Noa mengerutkan wajahnya.
Tiga kali insiden
kekerasan. Sudah pasti ia adalah anak bermasalah.
Namun, wajah yang
diproyeksikan di layar terlihat tampan dan rapi, membuat beberapa siswi di
kelas menatapnya dengan pandangan penuh gairah. "Kelas D——" Sejak saat itu, data para siswa laki-laki
tidak lagi berkesan bagi Noa.
Data yang
dibacakan hanyalah milik siswa-siswa biasa.
Semakin mendekati
kelas kasta bawah, catatan khusus yang bernada negatif pun semakin bertambah.
Suasana kelas
yang tadinya sempat agak bersemangat pun perlahan-lahan mulai tenang.
"Terakhir,
Kelas K. Toudou Mizuki-kun. Jumlah pergantian ajudan 0 kali. Jumlah O-tegumi 0
kali. Tingkat kehadiran saat SMP hanya 20 kali. Skor kredit hampir tidak ada,
dan terdiagnosis mengalami fobia wanita yang parah." Melihat foto wajah yang diproyeksikan, Noa
seketika terpesona.
Raut wajahnya
androgini, dengan tatapan mata yang lembut. Dibandingkan dengan siswa laki-laki
lainnya, ia memiliki penampilan yang menonjol secara jelas.
(Sayang
sekali...)
Dari informasi
bahwa ia menderita fobia terhadap wanita, Noa menebak bahwa dengan penampilan
seperti ini, kemungkinan besar ia pernah mengalami kejadian menakutkan di masa
lalu.
Melihat informasi
bahwa jumlah pergantian ajudannya 0 kali, Noa tanpa sadar menghela napas.
Anak laki-laki
pada masa kecil atau masa pubertas umumnya akan mengamuk dan setidaknya pernah
mengganti ajudannya sekali. Informasi angka 0 kali ini terbilang sangat langka.
(Andai saja
dia tidak punya masalah skor kredit, dia pasti sudah jadi aset yang bagus) pikir Noa sambil merenungkan murid-murid
laki-laki lainnya.
Pasangan yang
diinginkan Noa tidak ditemukan di antara para siswa laki-laki ini.
Dalam tiga tahun
ke depan, ia harus mempersempit pilihannya dengan metode eliminasi.
(Atau
mungkin……) Ada pilihan
lain untuk menggunakan kekuatan keluarga Hojou demi menemukan pria dari luar
sekolah. Namun, itu adalah kewajiban Noa, yang dilahirkan sebagai putri sulung
dari Delapan Belas Keluarga Utama yang harus meneruskan garis keturunan tanpa
memilih cara.
Kemudian, ia
mengalihkan pandangannya ke kursi Isshiki Shizuku, yang memikul kewajiban yang
sama.
Shizuku Isshiki
masih belum juga datang. Sesi
penjelasan hampir berakhir.
◇◇◇
Kaminari Nene,
yang ditempatkan di Kelas K tahun pertama, membungkukkan punggungnya seolah
ingin menyembunyikan tubuhnya yang tinggi, yakni 178 cm, sambil mendengarkan
sesi penjelasan.
(Mungkin anak
yang membolos itu…… wajar jika dialokasikan ke kelas kasta terendah) Bagi Nene yang ditempatkan di Kelas K—kelas
kasta terendah—kelas ini tidak memiliki hak pilih. Dengan kata lain, ia tidak
punya tempat untuk melarikan diri.
Dalam arti
tertentu, merupakan suatu keberuntungan bagi Nene bahwa kelasnya diisi oleh
siswa laki-laki yang terbilang tidak berbahaya. Tanpa perlu terlibat langsung,
Nene sudah merasa cukup hanya dengan memandangi sosoknya yang menggemaskan dari
jauh.
"Kalau
begitu, apakah ada pertanyaan?"
Merasakan suasana sesi penjelasan yang akhirnya akan segera berakhir,
orang-orang di dalam kelas mulai merasa gelisah.
Nene semakin
membungkukkan punggungnya dan berhati-hati agar tidak terlalu mencolok. Tubuh
tinggi seperti Nene dikhawatirkan akan membuat siswa laki-laki merasa takut
secara tidak perlu. "Jika tidak
ada, Toudou-kun, silakan masuk ke ruangan." Wali kelas berjalan menuju pintu dan
mengatakan sesuatu dengan suara pelan ke arah koridor.
Segera setelah
itu, seorang siswa laki-laki masuk ke dalam kelas.
Pada momen
tersebut, suasana di dalam kelas berubah seketika.
(……Wajahnya
jauh lebih tampan daripada di foto)
Pandangan para
siswi di kelas secara serempak tertuju padanya. Sosoknya yang dibalut seragam sekolah
terlihat agak rapuh, sehingga Nene tanpa sadar terus memperhatikannya.
Kulitnya yang
putih dengan raut wajah yang rapi. Rambutnya yang lembut dan mengalir tampak
bersinar lembut, disinari cahaya yang masuk dari jendela. Wali kelas mengisyaratkan dengan tangannya.
"Kalau
begitu, Toudou-kun, silakan perkenalkan dirimu." Mizuki mengangguk pelan lalu melangkah maju.
Menyesuaikan
dengan gerakannya, udara di dalam kelas semakin tegang. "Salam kenal. Saya Toudou Mizuki.
Karena sampai SMP saya tidak terlalu sering bersekolah, mungkin ada banyak hal
yang belum terbiasa, tetapi mohon bantuannya." Meskipun suaranya tenang, pembawaannya
terasa begitu percaya diri, bertolak belakang dengan informasi awal.
Nene merasakan
kejanggalan kecil.
"Baiklah,
silakan duduk di kursi tengah sana."
"Baik." Sesuai arahan wali kelas, Toudou Mizuki
duduk di kursinya.
Ternyata
posisinya persis di sebelah kanan Nene. Nene menegangkan seluruh tubuhnya dan
membungkukkan punggungnya semakin dalam seolah ingin menyembunyikan
keberadaannya.
"Selanjutnya,
mari kita lanjutkan dengan perkenalan diri para siswi. Gimana kalau kita mulai
dari sisi jendela? Tolong persingkat sekitar 30 detik ya."
"Y-Ya. Saya
Aihara Yura! Saya datang dari Hokkaido. Tinggal di asrama—" Saat itu, suara ketukan pintu berbunyi dari
pintu kelas.
Setelah
menunjukkan wajah heran, wali kelas berkata, "Silakan," lalu seorang
gadis memunculkan dirinya. "Saya
Shizuku Isshiki. Saya telah menggunakan hak pilih kelas dan berpindah ke sini.
Staf sekolah menginstruksikan saya untuk membawa meja nanti, jadi saya diminta
untuk mendengarkan orientasi terlebih dahulu."
"......Hak
pilih kelas?" Kehadiran sosok
penyusup yang tiba-tiba membuat suasana kelas menjadi gaduh, bukan hanya wali
kelas saja.
(Hak pilih
kelas? Sejak hari pertama?)
Hak memilih kelas
adalah hak istimewa berharga yang hanya bisa digunakan satu kali hingga
kelulusan.
Hak tersebut
biasanya digunakan jika hubungan dengan siswa laki-laki di kelasnya memburuk,
atau digunakan setelah pria yang dituju sudah dipastikan. Sama sekali bukan hak
yang digunakan sebelum orientasi di hari pertama.
Terlebih lagi,
ini adalah Kelas K. Sangat tidak masuk akal jika ada yang sengaja berpindah ke
kelas kasta terendah atas kemauannya sendiri.
(Lagi
pula...... Aku mendengar nama Isshiki......)
Bahkan Nene yang
merupakan rakyat jelata pun tahu bahwa nama keluarga Isshiki adalah bagian dari
Delapan Belas Keluarga Utama. Tindakan keluarga terpandang terkemuka di negeri
ini yang seperti ini semakin membuat keadaan tidak dapat dipahami.
Di tengah
pandangan penuh kebingungan dari seisi kelas, Isshiki Shizuku menundukkan
kepalanya secara tenang.
"Saya minta
maaf atas keributannya. Boleh kah saya berdiri di belakang sampai mejanya
tiba?"
"......Ah,
ya. Mohon maaf, bisakah Anda melakukan itu?"
"Baik." Setelah menundukkan kepala sekali lagi,
Shizuku Isshiki berjalan ke area belakang kelas.
"Kalau
begitu, Aihara-san. Sekali lagi, silakan perkenalkan dirimu."
"......Baik.
Mohon maaf atas pengulangannya. Saya Aihara Yura. Asal saya dari
Hokkaido—" Suasana kelas tempat
perkenalan diri dilanjutkan kembali masih belum benar-benar tenang.
Para siswi
sesekali melirik ke arah Shizuku Isshiki yang berdiri di bagian belakang.
Keberadaannya
terasa terlalu asing.
Keadaan di mana
seseorang yang memikul nama Delapan Belas Keluarga Utama dengan sukarela turun
ke kelas kasta terendah adalah hal yang tak dapat dipahami oleh siapa pun. Meskipun demikian, perkenalan diri terus
berlanjut dengan lancar, berpindah dari deretan jendela menuju ke tengah secara
berurutan.
Selama proses
itu, pandangan semua orang ditarik oleh Shizuku Isshiki di belakang. Namun,
Shizuku hanya berdiri diam secara tenang di belakang kelas tanpa menunjukkan
tanda-tanda terganggu.
Melihat sosoknya
yang begitu anggun dan percaya diri, Nene merasa cemas. Pasti gadis itu tidak pernah
merasa minder dengan dirinya sendiri.
Tinggi
badannya yang 178 cm pun terasa menonjol di dalam kelas.
Keberadaan
Toudou Mizuki yang duduk di sebelah kanannya malah membuat Nene merasa semakin
tegang.
Rambutnya
yang lembut dan wajahnya yang rapi hingga tak pernah dilihatnya sebelumnya.
Jika
informasi bahwa dia menderita fobia terhadap wanita itu benar, gadis bertubuh
besar seperti Nene pasti akan dihindari olehnya.
(Aku
tidak ingin dibenci olehnya), pikirnya dari dalam hati.
"Berikutnya,
Kaminari-san." Mendengar suara
wali kelas, Nene membuat bahunya terguncang kaget.
Ketika mencoba
berdiri, kakinya hampir tersangkut.
Sambil merasakan
tatapan seluruh siswa kelas, ia berusaha mengeluarkan suaranya pelan-pelan.
"K-Kaminari
Nene. Um...... saat SMP saya bergabung dengan klub bola voli. Mohon
bantuannya." Ia tidak sanggup
melanjutkan perkenalan diri hingga 30 detik, lalu langsung memotongnya dan
segera duduk.
Wajahnya
terasa panas. Setelah itu, ia menurunkan pandangannya dan hanya bisa memandangi
serat kayu di meja tanpa mampu menggerakkan tubuhnya yang membungkuk hingga
seluruh perkenalan diri siswa selesai.
◇◇◇
Setelah
perkenalan diri, sesi penjelasan berakhir tanpa kendala berarti, dan hari itu
mereka dibubarkan. Namun,
tidak ada satu pun siswi yang beranjak dari kursinya.
Di tengah
kesunyian yang saling menahan diri, Nene hanya bisa menahan napasnya.
Orang pertama
yang memecah kesunyian tersebut adalah Shizuku Isshiki. "Toudou-sama, senang bisa bertemu
dengan Anda kembali."
"Um......
yang tadi pagi?"
"Ya. Saya
Isshiki Shizuku. Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan Anda
mengambilkan kunci tadi......"
Shizuku
menundukkan kepalanya secara sopan, lalu menatap lurus ke mata Mizuki.
"Ya, tapi
itu bukan masalah besar kok. Lagipula, aku mendengar kamu sampai menggunakan
hak pilih kelas. Apakah kamu benar-benar tidak apa-apa?"
Semua siswi di
dalam kelas mendengarkan percakapan mereka berdua sambil mengawasi Toudou
Mizuki dan Shizuku Isshiki dari kejauhan.
Nene juga salah
satu di antaranya, sambil mengepalkan tangan di bawah meja. "Ya. Saya sangat ingin bertemu kembali
dengan Toudou-sama. Mengingat Anda kesulitan menghadapi banyak wanita, jika ada
hal yang menyulitkan Anda, silakan berkonsultasi dengan saya. Saya pasti akan
melindungi Anda." Mendengar
perkataan Shizuku, tatapan tajam terbang dari berbagai penjuru kelas.
Nene pun
merasakan dadanya bergemuruh kencang.
"Um, aku
menghargai perasaanmu dan merasa senang, tapi sebenarnya sekarang aku tidak
sampai sefobia itu terhadap wanita kok…"
"Benarkah
begitu? Kalau begitu, jika Anda berkenan, bagaimana kalau setelah ini kita
minum teh di kafe......" Melihat sikap Shizuku yang mencoba memangkas
jarak tanpa menyerah, suasana di dalam kelas mulai berubah menjadi mencekam. Seakan
menyadari hal itu, Mizuki dengan tenang menggelengkan kepalanya.
"Maaf ya,
hari ini aku sedikit tegang dan lelah, jadi bagaimana kalau lain kali
saja?"
"Saya mohon
maaf karena kurang peka. Kalau begitu, di lain kesempatan saja." Nene menghela napas lega di dalam hatinya.
Dengan begini,
untuk hari ini sepertinya tidak akan ada orang yang mendahului.
Ia mencoba
berdiri pelan-pelan dari kursinya agar tidak mencolok. "Wah, Kaminari-san ternyata tinggi
banget ya!" Deg, jantungnya
mendadak berdegup kencang.
Perasaan
tegangnya seketika hilang.
Saat menoleh,
Mizuki sedang mendongak menatapnya dengan senyuman yang polos tanpa beban. "Eh, a...... m-maaf—"
"Kelihatan
keren banget kayak model ya!"
Pertemuan mereka
belum genap satu jam.
Kata-kata yang
terucap bahkan belum sampai sepuluh detik.
Namun, pasti di
dalam diri Nene, keberadaan yang bernama Mizuki sudah mulai menjadi sosok yang 『Spesial』.
(Aku tidak ingin dia diambil oleh siapa
pun), pikirnya dari lubuk
hati yang paling dalam.
◇◇◇
Laki-laki
sering diibaratkan sebagai roda gigi dan oli mesin.
Meskipun yang
menggerakkan masyarakat pada kenyataannya adalah wanita, tanpa oli mesin
bernama laki-laki, masyarakat tidak akan berjalan dengan baik.
Cara pandang yang
banyak digunakan di seluruh dunia ini menggambarkan keadaan dunia saat ini
dengan sangat tepat. Pembagian kelas di
Akademi Shirayuki juga sangat mencerminkan pemikiran ini.
Peringkat kelas
untuk siswi terutama ditentukan oleh skor produktivitas kerja dan nilai ujian,
sedangkan kelas untuk siswa laki-laki ditentukan oleh skor kredit berdasarkan
kegiatan pelayanan masyarakat.
Para wanita
dituntut untuk bersaing secara ketat, dan mereka yang berprestasi akan
mendapatkan hak untuk memilih laki-laki.
Sementara para
laki-laki dituntut untuk melakukan pelayanan masyarakat tanpa diwajibkan
bekerja, oli mesin harus terus diberikan kepada seluruh masyarakat.
"......Skor
kredit serendah ini belum pernah kulihat sebelumnya." Hojou Noa menatap kembali data Toudou Mizuki
di kamar pribadinya sambil mengerutkan alis.
Skor kredit yang
ditampilkan menunjukkan bahwa Toudou Mizuki sangat kekurangan kemampuan
bersosialisasi.
"Jumlah
kehadiran di sekolah...... 20 kali."
Selain mengabaikan kewajiban pelayanan masyarakat, ia juga sama sekali
tidak menghadiri sekolah saat SMP.
Khususnya sejak
kelas dua, ia tidak pernah bersekolah satu kali pun. Keterangan khusus mencatat
bahwa ia mengalami kecelakaan lalu lintas pada musim dingin kelas tiga, tetapi
itu sudah bukan lagi alasan.
"......Fobia
wanita, ya." Hojou Noa menatap
kalimat yang tertulis di kolom catatan khusus Mizuki sambil menggeser halaman
dengan ujung jarinya.
Jika hanya
melihat angka yang tercatat, Mizuki memang sangat cocok berada di kelas kasta
terendah.
Namun, foto wajah
yang ditampilkan di layar—wajah tampan bertipe androgini yang
dipancarkannya—jelas sangat berbeda dan menarik minat Noa melebihi siswa
laki-laki lainnya.
"......Pemikiran
Shizuku sulit dipahami, ya." Noa
tanpa sadar bergumam penuh tanya.
Isshiki Shizuku,
yang berasal dari Delapan Belas Keluarga Utama seperti dirinya, telah
mengaitkan penggunaan hak pilihnya bahkan sebelum orientasi dimulai—sebuah
fakta yang sebenarnya sudah menyebar ke seluruh angkatan. Noa tidak menyangka
bahwa putri sulung keluarga Isshiki yang berada di posisi calon kepala keluarga
berikutnya, akan mengambil tindakan seceroboh itu.
Namun, bagi siswi
di kelas lain, melakukan kontak dengan siswa laki-laki dari kelas lain secara
umum dianggap sebagai pengkhianatan terhadap siswa laki-laki di kelasnya
sendiri, sehingga kemungkinan besar akan menimbulkan perselisihan.
(Apakah
dia bermaksud mengirimkan pengawal?)
Keluarga Hojou
sendiri memiliki banyak keluarga bangsawan bawahan yang telah mengabdi sejak
zaman dahulu.
Noa mengeluarkan
ponselnya, lalu mengakses jaringan pribadi milik keluarga Hojou. Yang ditampilkan di layar adalah daftar
pelayan yang terdaftar di Akademi Shirayuki.
Setelah
memperhatikannya sejenak, Noa memutuskan untuk menghubungi seseorang yang
tampaknya paling bisa diandalkan.
"Miya,
apakah ada waktu sebentar? Aku ingin minta tolong untuk memata-matai Kelas
K."
◇◇◇
Aihara Yura
adalah seorang putri dari keluarga terpandang yang terkenal di Hokkaido.
Pembukaan lahan
Hokkaido dimulai dengan maklumat Dewan Negara pada tahun kedua era Meiji. Di
antaranya, keluarganya adalah golongan samurai (Shizoku) yang mencuat
berkat hubungan kuat mereka dengan pemerintah Restorasi dalam memimpin
pembangunan area pelabuhan. Namun, hal
itu sudah menjadi cerita masa lalu.
Sekarang pengaruh
keluarganya telah sepenuhnya hilang, dan Aihara Yura sudah menyerah pada
pemulihan nama baik keluarganya.
Satu-satunya
tujuannya sekarang adalah menemukan takdir pertemuan yang baik di Tokyo.
***
"Selamat
pagi!" Saat memasuki kelas, Yura
menyapa dengan ceria.
Namun, yang
terbalas hanyalah sapaan pelan dari beberapa orang saja. Yura merasa sedikit
kecewa, lalu melangkah menuju kursinya dengan lesu.
(Apa karena
orang Tokyo, jadi mereka tidak terbiasa menyapa?)
Suasana di dalam
kelas tampak tenang. Tidak ada suasana ramah yang menunjukkan niat untuk
berteman.
Gadis-gadis di
sekitarnya tampak sibuk merias diri dengan cermin kecil. Yura sempat menunggu
kesempatan untuk menyapa teman-teman sekelasnya, tetapi ia tak menemukan momen
yang tepat.
"......"
Siswi-siswi yang
masuk setelahnya pun hanya menundukkan kepala sedikit tanpa bersuara.
Ketegangan
yang unik terasa memenuhi ruang kelas.
Agar bisa melupakan rasa tidak nyaman ini, Yura mengalihkan pandangannya
ke jendela.
Dari sana
terlihat gerbang utama yang megah berstruktur batu bata. Di sekitarnya terdapat
pepohonan yang terawat rapi, dan Yura hanya bisa menghabiskan waktu sambil
memandangi pemandangan yang terasa agak asing baginya.
"Selamat
pagi."
Terdengar
suara yang tegas dan dingin. Saat
menoleh, Isshiki Shizuku sudah berdiri di pintu.
"S-Selamat
pagi!"
Yura
tanpa sadar berdiri dan melambaikan tangan kecilnya.
Shizuku
tersenyum tipis dan memberi hormat singkat, lalu melangkah menuju meja barunya
yang telah diantarkan ke belakang kelas.
(Gadis
seanggun itu, kenapa pindah ke Kelas K, ya?)
(Padahal kalau
anak laki-laki Kelas A takut, lebih baik mereka membayangkan hal-hal yang
menyenangkan saja)
Saat Yura sibuk
membayangkan berbagai hal, mendadak siswi-siswi di sekitarnya berdiri secara
serempak.
"Selamat
pagi!" Berbeda jauh dari yang
tadi, para gadis menyapa dengan penuh semangat.
Yura tidak dapat
memahami secara instan apa yang sedang terjadi.
"Selamat
pagi."
Suara seorang
laki-laki. Yura akhirnya menyadari
situasi tersebut.
Ia ikut berdiri
menyusul yang lain, lalu berusaha tersenyum selebar mungkin. "Selamat pagi—!" Sambil berdebar-debar menatap pemuda yang
membalas senyumannya, Yura memperhatikan para gadis di sekitarnya yang sikapnya
berubah dalam sekejap.
(......Apakah
gadis-gadis kota memang semenakutkan ini?)
Yura, yang tumbuh
di daerah asalnya hingga jenjang SMP, dibesarkan di lingkungan yang hampir
tidak ada laki-laki. Bahkan kehadiran satu laki-laki di sekolah pun sudah
terbilang bagus, dan mayoritas murid perempuan hanya bergaul akrab dalam
kelompok sesama perempuan. Mereka menghabiskan waktu dengan cara seperti itu.
Di sana ada
semacam rasa pasrah. Namun, Akademi
Shirayuki berbeda. Di tempat di mana garis awal hanya diperuntukkan bagi
perempuan yang berhasil memenangkan persaingan, tujuan mereka jauh lebih jelas.
(Apakah aku
bisa bertahan, ya…?) Yura duduk kembali di kursinya, lalu secara
diam-diam mengamati profil wajah Mizuki yang berada di sampingnya.
Dengan
kecantikannya yang androgini, Mizuki tampak seperti murid yang pantas berada di
kelas atas jika dilihat dari penampilannya saja.
Meskipun
Yura mendengar skor kreditnya rendah, Mizuki tidak terlihat seperti orang yang
dingin. Malahan, untuk saat
ini ia terlihat sangat ramah.
(Hah, cuma
Toudou-kun yang membuat suasana terasa adem di sini)
Tak lama
kemudian, wali kelas masuk. Lalu diikuti oleh tiga orang siswi yang tidak dikenal
yang masuk secara berurutan.
Masing-masing
berpakaian rapi dengan gestur dan sikap tubuh yang jelas-jelas memancarkan aura
kelas atas. Di saat yang sama, staf
sekolah membawa meja-meja baru dari belakang kelas.
Yura yang tidak
memahami situasinya hanya bisa memandangi wajah teman-teman barunya dengan
bingung. Semua orang menunjukkan raut wajah yang penuh kebingungan.
"Jam
pelajaran pertama rencananya digunakan untuk menentukan pengurus organisasi
kelas, tapi pertama-tama saya akan memperkenalkan teman-teman kelas baru
kalian." Mendengar perkataan wali kelas, Yura tanpa sadar mengerutkan
alisnya.
(Lagi......?)
Baru kemarin Isshiki Shizuku berpindah ke Kelas K menggunakan hak
pilihnya.
Padahal hal itu
saja sudah merupakan pengecualian yang tidak biasa, tetapi pagi ini saja
bertambah tiga orang lagi. Pasti ada
sesuatu yang aneh.
"Saya
Sakakura Sanae. Saya berasal dari Izu. Mohon bantuannya."
"Saya
Shinonome Yukari, datang dari Saitama."
"Saya Goba
Miya. Rumah keluarga saya di Chiba, dan mengelola sebuah tempat latihan bela
diri (dōjō). Mohon berteman baik dengan saya." Ketiganya berasal dari wilayah Kanto.
Dari pembawaan
mereka, bisa ditebak bahwa mereka berasal dari keluarga terpandang.
(Apakah
kejadian seperti ini cuma kebetulan?) Tanpa sadar, Yura menatap Mizuki
yang berada di tengah kelas.
Pemuda yang
tampak androgini, ramah, dan memancarkan atmosfer yang sedikit rapuh.
Di sekeliling
pemuda dari kelas kasta terendah ini, para putri dari keluarga terpandang mulai
berkumpul.
(Ini......
sama sekali tak biasa!)
Yura tanpa sadar
mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas. Raut wajah Shizuku Isshiki yang
berada di belakang tampak kehilangan ekspresi.
Atmosfer ramah
saat menyapa tadi sudah tak berbekas di mana pun.
Bukan hanya
Shizuku Isshiki. Seluruh siswi di kelas melemparkan tatapan dingin kepada tiga
siswi baru tersebut. Melihat hal itu,
Yura akhirnya paham.
Semua orang di
sini bukan sekadar teman kelas yang harus diajak berteman baik, melainkan
musuh.
◇◇◇
Jumlah istri yang
diambil seorang pria sepanjang hidupnya umumnya dikatakan sekitar tiga hingga
lima orang.
Di tengah rasio
pria dan wanita 1 : 200 ini, wanita yang bisa menikah dengan pria jumlahnya
sangat sedikit. Bahkan di Akademi
Shirayuki yang rasionya 1 : 30, wanita yang bisa bersatu dengan pria terbatas
pada mereka yang memenangkan persaingan ketat.
Oleh karena itu,
para wanita membentuk faksi. Antar keluarga terpandang saling membentuk
kelompok untuk mencoba mengurung pria tersebut. Itulah hubungan pertemanan yang umum di
Akademi Shirayuki.
Jelas bahwa tiga siswi baru yang datang
adalah satu faksi, dan bagi teman-teman sekelasnya, mereka adalah musuh yang
nyata.
"Baiklah, pertama-tama mari kita tentukan ketua kelas. Apakah ada yang ingin mencalonkan diri?"
Mendengar perkataan wali kelas,
empat orang langsung mengacungkan tangan mereka dengan mantap. Salah satunya
adalah Isshiki Shizuku.
Dan tiga
orang lainnya adalah siswa yang baru saja pindah hari ini.
"Apakah ada
yang lain?"
Pandangan wali
kelas menyapu sekeliling ruang kelas. Tidak ada indikasi orang lain yang
mengacungkan tangan. Siswi-siswi Kelas K lainnya hanya mengamati situasi dengan
tenang.
Empat
orang yang mencalonkan diri masing-masing menunjukkan ekspresi penuh percaya
diri. Shizuku Isshiki mempertahankan senyuman lembut namun memiliki kesan
wibawa yang kuat. Tiga orang yang baru datang saling bertukar pandang,
bertindak percaya diri seolah-olah mereka telah berdiskusi sebelumnya.
"Baiklah,
kita akan mengambil keputusan suara terbanyak di antara empat orang ini. Pemungutan suara bersifat anonim, jadi
silakan tuliskan namanya di kertas."
Wali kelas mulai membagikan kertas pemungutan suara.
Aihara Yura
merenung sambil menggenggam kertas kosong tersebut.
(Yang bisa dipercaya cuma Isshiki-san, tapi……) Keluarga
Isshiki terkenal sebagai keluarga yang adil. Meskipun Yura tidak menghafal
seluruh Delapan Belas Keluarga Utama, berdasarkan penglihatannya langsung,
Shizuku tidak terlihat seperti orang jahat.
Lagipula, Isshiki Shizuku sudah memiliki pengaruh yang kuat sejak
awal.
Yura menilai bahwa terpilih atau tidaknya Shizuku sebagai
ketua kelas tidak akan mengubah pengaruh atau kekuatannya, sehingga Yura
memutuskan untuk menuliskan nama Shizuku Isshiki.
Pemungutan suara selesai dengan cepat, dan wali kelas mulai
menghitung hasilnya. Yura menahan napas dan mengamati wajah siswi-siswi
lainnya.
"Saya akan mengumumkan hasilnya. Isshiki-san, 12 suara. Sakakura-san, 1 suara.
Goba-san, 1 suara. Shinonome-san, 2 suara. Lainnya, kosong. Dengan demikian,
ketua kelas adalah Isshiki-san."
Suasana lega langsung menyebar di dalam kelas.
Shizuku berdiri
dengan sikap sempurna lalu menundukkan kepalanya pelan. "Saya akan berusaha sebaik mungkin
untuk memenuhi harapan Anda sekalian. Jika ada masalah atau kesulitan, silakan
beri tahu saya kapan saja." Tiga
orang murid baru tersebut tampak tidak terlalu memusingkan fakta bahwa mereka
hampir tidak mendapatkan suara sama sekali.
Mungkinkah hal
ini memang sudah masuk dalam perhitungan mereka? Setelah pemilihan ketua kelas selesai,
dilanjutkan dengan pemilihan pengurus lainnya—wakil ketua kelas, pengurus
kebersihan, pengurus olahraga, dan sebagainya.
Di sini pun
calon-calon bermunculan satu demi satu, hingga akhirnya Shinonome Yukari
terpilih sebagai wakil ketua kelas.
Yura sendiri tidak pernah mengacungkan tangan sekali pun.
***
Saat jam
pelajaran pertama berakhir, masuklah waktu istirahat yang singkat.
Mizuki tetap
duduk di kursinya sambil membuka buku pelajaran yang baru saja dibagikan. Di sana, Isshiki Shizuku menjadi orang
pertama yang mendekatinya dan menyapa dengan suara lembut.
"Toudou-sama,
ini adalah usulan saya sebagai ketua kelas, bagaimana jika kita membuat grup
obrolan kelas di aplikasi pesan untuk memudahkan komunikasi?"
"Membentuk
grup obrolan rasanya akan sangat berguna. Boleh kalau diserahkan kepadamu?"
"Ya, tentu
saja. Hari ini juga saya akan menyapa dan mengajak semuanya untuk bergabung
ya." Saat itu, Shinonome Yukari
berbicara dengan nada gembira.
"Menyerahkan
posisi ketua kelas kepada Isshiki-san memang keputusan yang tepat. Sepertinya
Anda sudah sangat terbiasa dengan laki-laki, dan itu terasa sangat
mengayomi."
"Bahkan saat
SMP pun beliau secara aktif berinteraksi dengan laki-laki. Kalau keluarga
Isshiki, pasti ada banyak laki-laki di sekitar Anda. Cara Anda mendapatkan
kontak mereka secara halus sungguh bisa jadi bahan pelajaran."
Di permukaan
mereka terdengar seperti memuji, namun Yura dapat merasakan ada nada sindiran
di dalam perkataan mereka. Jadi ada
juga cara menyerang seperti itu, pikir Yura dengan kagum.
"Saya adalah
lulusan dari sekolah dalam kompleks menengah akademi ini. Sayangnya di sekolah
menengah Shirayuki hanya ada perempuan, jadi pengalaman seperti ini baru
pertama kali bagi saya bersama Toudou-sama. Saya rasa Anda sekalian juga sudah
mengetahuinya." Shizuku membalas
ucapan Shinonome Yukari dan kelompoknya yang bernada cemoohan dengan senyuman
yang tenang dan santai.
Perkataan mereka
langsung terbungkam.
(Kalau orang
seperti aku yang mencalonkan diri, pasti langsung dihancurkan dalam sekejap)
Yura semakin
memahami bagaimana situasi dan sistem di akademi ini berjalan. Bagi mereka yang
berasal dari keluarga berstatus rendah, bergerak secara sembarangan bukanlah
tindakan yang bijak. Perlu kehati-hatian untuk mengamati situasi dengan cermat.
(Atau mungkin,
perlu menambah sekutu...)
(Isshiki-san...
hebat banget)
Melihat Shizuku
yang mengulas senyum seperti topeng, Yura menghela napas pelan.
Rambut hitam
half-up miliknya terawat dengan sangat baik, dan riasannya adalah batas minimal
sebagai seorang murid namun tetap mengikuti tren dengan rapi. Bahkan dari sudut pandang sesama perempuan,
kecantikannya mampu membuat terpesona, sekaligus memiliki keberanian untuk
bertindak seorang diri tanpa pengawal.
Bagi Shizuku yang
datang seorang diri dari Kelas A, tidak ada pengikut yang mendampinginya
seperti murid-murid lainnya.
(Mungkin cuma
Isshiki-san yang bisa bersatu dengan anak laki-laki, kalau keluarga Aihara yang
sedikit lebih tinggi kedudukannya pun rasanya sangat tidak mungkin menirunya)
(Aku
mungkin... cuma bisa gemetar di dekat jendela saja)
Pasti mayoritas
siswi di kelas merasakan hal yang sama seperti Yura.
Tidak ada yang
berani angkat bicara, dan ruang kelas kembali hening seketika. Dan sosok yang memecah keheningan tersebut
adalah orang yang di luar dugaan.
"Pelajaran
berikutnya sepertinya langsung Matematika ya. Pelajaran SMA itu ternyata memang
susah ya?" Toudou Mizuki membalik
halaman buku pelajarannya seolah tidak terjadi apa-apa, lalu mengajak orang-orang
di sekitarnya berbicara.
"Apakah
kalian semua jago Matematika? Aku agak kurang paham nih."
Suasana yang tadinya tegang seketika mencair dalam sekejap.
Kaminari
Nene yang duduk di sebelahnya langsung menjawab dengan suara yang sedikit
panik. "W-Wah, aku juga tidak
jago!"
"Kecepatan
pelajarannya bikin cemas ya."
"Kalau cuma
Matematika, aku mungkin bisa mengajarkannya sedikit!"
"Kalau ada
apa-apa, tanya aku saja ya!"
Diawali oleh respon tersebut, siswi-siswi yang tadinya berdiam diri
mulai ikut berbicara sekaligus.
"Begitu ya,
ternyata ada yang jago juga. Kalau begitu, kalau nanti grup obrolan sudah
dibuat, mungkin aku bisa konsultasi sama yang jago pelajaran di sana
ya." Melihat mata Mizuki yang
ramah, Yura tanpa sadar terpaku menatapnya.
Di dalam kelas
yang terasa menyesakkan ini, hanya di tempat pemuda itu berada lah udaranya
terasa berbeda.
"Isshiki-san
juga, terima kasih ya. Akan sangat membantu kalau ada yang berinisiatif
mengajukan ide. Kalau ada hal lain yang terpikirkan, aku akan senang kalau kamu
mau memberi tahu."
"Y-Ya!
Sebagai ketua kelas, jika ada yang bisa saya bantu, silakan!"
"Iya. Sangat
membantu kok. Mengutarakan kritik dari luar memang bisa dilakukan siapa saja,
tapi bertindak sendiri itu menurutku yang paling sulit." Mizuki
jelas-jelas sedang melindungi Shizuku.
Agar Shizuku
tidak dipojokkan, Mizuki membentenginya dengan bertindak mendahului.
Shizuku yang
tetap berdiri di sampingnya memerah pipinya dan tersenyum bahagia. Senyuman itu
terasa berbeda dari senyuman seperti topeng yang diperlihatkannya tadi,
senyuman yang kini terlihat malu-malu.
(......) Di dalam diri Yura, perasaan ganjil
bergejolak.
Perasaan
terhadap gadis yang tadinya ia anggap sangat hebat berubah dengan cepat menjadi
emosi yang berbeda.
***
Shizuku
memang menyapa semua orang dengan ceria. Ia menjadi ketua kelas dan
berinisiatif membuat grup obrolan demi kelas. Tanpa membawa pengikut, ia berhasil mengatasi
sindiran dari siswi lain sendirian.
Terlepas dari nama Delapan Belas Keluarga Utama yang disandangnya, ia
adalah gadis yang patut dihormati.
Namun, meski
begitu, Yura merasa iri padanya. Pada masyarakat komunal primitif, pria
diperlakukan sebagai kekayaan bersama milik komunitas.
Seiring
berjalannya zaman, para penguasa di berbagai daerah mulai memonopoli pria, dan
tradisi meminjamkan mereka kepada rakyat hanya saat masa subur pun terbentuk.
Lambat laun, pria menjadi simbol kekayaan dan kekuasaan. Namun, hal ini tidak berlangsung selamanya.
Revolusi warga
terjadi berulang kali di seluruh dunia, dan seiring bangkitnya negara-negara
demokratis, pria kembali beralih menjadi aset bersama milik negara.
Lambat laun, hak
asasi manusia yang setara dengan wanita mulai diakui bagi pria, dan
memungkinkan mereka untuk menjalani kehidupan warga biasa demi menjaga
populasi.
Dalam kasus
Jepang, pergerakan ini mengalami kemajuan pesat berkat Restorasi Meiji, dan
gedung utama Akademi Shirayuki yang tua ini merupakan bangunan bersejarah yang
menyimbolkan kemajuan pada masa itu. Dan sejarah pria selalu berdampingan
dengan kekuasaan dan perselisihan.
Hal itu tidak
berubah bahkan di era modern saat ini.
"Menyerahkan
posisi ketua kelas kepada Isshiki-san memang keputusan yang tepat. Sepertinya
Anda sudah sangat terbiasa dengan laki-laki, dan itu terasa sangat
mengayomi."
"Bahkan saat
SMP pun beliau secara aktif berinteraksi dengan laki-laki. Kalau keluarga
Isshiki, pasti ada banyak laki-laki di sekitar Anda. Cara Anda mendapatkan
kontak mereka secara halus sungguh bisa jadi bahan pelajaran."
Toudou Mizuki
mengamati persaingan tenang dalam perebutan dominasi di dalam kelas yang
terjadi di depan matanya secara dingin. Konflik seperti ini pernah ia lihat
juga saat masa SMP.
——Ya. Ini adalah
hal yang paling dibencinya. Mungkin
karena ingatan kehidupan sebelumnya bercampur secara samar, ia mengingat masa
lalu seolah-olah itu adalah urusan orang lain.
Mizuki saat SD
adalah anak yang jujur dan masuk dalam kelompok murid berprestasi. Pada
dasarnya, Mizuki menyukai menghabiskan waktu bersama gadis-gadis yang memiliki
kepribadian tenang dan serupa dengannya. Dan hal itulah yang menjadi bumerang.
Biasanya, di SD
atau SMP negeri, rata-rata hanya ada satu atau dua murid laki-laki yang
dialokasikan. Keadaan di mana tidak ada murid laki-laki sama sekali di angkatan
yang sama adalah hal yang lumrah terjadi.
Saat masuk ke
SMP, di angkatan sekolah gabungan dari SD lain tempatnya bergabung, tidak ada
murid laki-laki lain selain Mizuki. Ia menjadi satu-satunya murid laki-laki di
angkatan tersebut.
Murid-murid
perempuan dari SD gabungan tersebut baru pertama kali berada dekat dengan
laki-laki.
Setelah melewati
masa pubertas sekunder, minat mereka terhadap lawan jenis menjadi semakin kuat.
Mizuki yang
berada di kelompok gadis-gadis tenang, menjadi pemicu persaingan perebutan
dominasi yang sengit di dalam kelas. Persaingan itu semakin parah, dan
gadis-gadis yang tadinya berteman akrab mulai menjadi sasaran perundungan yang
licik dan berbahaya.
Menyadari bahwa
keberadaannya telah memicu perselisihan yang tidak perlu, Mizuki akhirnya
berhenti pergi ke sekolah. Ia menjadi takut pada tatapan para wanita.
Ia mulai
mengurung diri di rumah. Tatapan para
wanita yang terasa lengket dan pekat semakin menguat seiring usianya bertambah.
Kunjungan dari
dinas sosial mendorongnya untuk melakukan pelayanan masyarakat. Kunjungan
dokter untuk konseling. Kunjungan wali kelas SMP yang datang melihat
keadaannya. Tatap
muka dengan wanita yang sesekali datang. Semuanya terasa menyakitkan dan
mengerikan.
Ia menyadari
fakta bahwa pemulihan sosialnya semakin lama semakin sulit. Musim dingin kelas 3 SMP, Toudou Mizuki
melompat ke jalur jalan raya seolah dipanggil oleh sesuatu.
***
Di depan matanya
saat ini, Shizuku Isshiki memasang senyuman seperti topeng demi menangkis
sindiran dari tiga siswi baru. Sosok
itu mengingatkannya pada gadis yang dulu berteman akrab dengannya saat SD.
Mizuki saat itu
merasa menyesal karena tidak mampu menenangkan situasi dengan baik.
Di dalam hatinya,
rasa penyesalan itu selalu ada.
——Pasti, selama
terlahir sebagai pria, ia tidak akan bisa melarikan diri dari perselisihan
semacam ini.
Pikirannya terasa
sangat dingin dan tenang.
"Pelajaran
berikutnya sepertinya langsung Matematika ya. Pelajaran SMA itu ternyata memang
susah ya?" Ia membuka suara seolah
tidak terjadi apa-apa.
Tatapan para
siswi berkumpul ke arah Mizuki. Meskipun begitu, tubuhnya tidak
lagi gemetar. "Apakah kalian semua jago matematika? Aku
agak kurang paham nih." Ingatan
kehidupan sebelumnya yang diingat Mizuki setelah percobaan bunuh diri tidaklah
terlalu spesifik.
Nama, usia, dan
asal-usulnya, semuanya diselimuti kabut dan terasa sangat samar. Era dalam
ingatannya pun terasa hampir sama dengan era saat ini, namun rasio pria dan
wanita sama sekali berbeda.
Ingatan yang
menyerupai dunia paralel itu tidak memiliki istilah yang bisa didefinisikan
secara benar oleh Mizuki. Mungkin
ingatan kehidupan sebelumnya itu hanyalah halusinasi yang diciptakan oleh
otaknya yang terdesak hingga melakukan percobaan bunuh diri—pikirnya
demikian.
"W-Wah, aku
juga tidak jago!"
"Kecepatan
pelajarannya bikin cemas, ya."
"Kalau cuma matematika,
aku mungkin bisa mengajarkannya sedikit!"
"Kalau ada
apa-apa, tanya aku saja ya!"
"Begitu ya,
ternyata ada yang jago juga. Kalau begitu, kalau grup obrolan sudah selesai dibuat,
mungkin aku bisa konsultasi sama yang jago pelajaran di sana ya."
Lagi pula,
jawaban pastinya tidak akan pernah bisa dicocokkan.
Tidak ada yang
bisa membuktikannya, dan ia pun tidak memiliki pengetahuan konkret yang
tampaknya dapat berguna.
Hanya saja, sudut
pandang dan nilai-nilainya terhadap wanita telah berubah.
"Isshiki-san
juga, terima kasih ya. Akan sangat membantu kalau ada yang berinisiatif
mengajukan ide. Kalau ada hal lain yang terpikirkan, aku akan senang kalau kamu
mau memberi tahu."
"I-Iya!
Sebagai ketua kelas, jika ada yang bisa saya bantu!"
"Iya. Sangat
membantu kok. Mengutarakan kritik dari luar memang bisa dilakukan siapa saja,
tapi bertindak sendiri itu menurutku yang paling sulit." Ia tidak lagi memikirkan kematian.
Tetapi, ia
menjadi punya kelonggaran untuk memikirkan orang lain.
◇◇◇
Di dunia yang
hancur ini, Toudou Mizuki memutuskan untuk melangkah ke depan atas kemauannya
sendiri.
"Hei, kamu
tahu tidak? Katanya belakangan ini ada anak laki-laki yang sering datang ke
game center dekat sini. Mungkinkah murid dari Akademi Shirayuki, ya?"
Koito Tsubaki, yang sedang membaca buku dengan tenang di dalam kelas, agak
enggan mengangkat wajahnya menanggapi temannya yang tampak bersemangat.
"Kalau
beruntung, mungkin bisa ketemu! Sepulang sekolah, ayo pergi bareng!"
"......Aku
tidak usah deh." Tsubaki
mengatakan hal itu, lalu kembali menurunkan pandangannya ke buku.
"Kamu ini
ya, kalau terlalu jual mahal nanti akan nyesel lho? Pria-pria setelah lulus
sekolah itu persaingannya ketat banget, sampai tidak ada celah buat masuk
belakangan."
"Aku
benar-benar tidak tertarik kok." Itu bukanlah pura-pura atau gengsi,
melainkan perasaan sejujurnya. Pada
kenyataannya, meskipun Tsubaki memiliki kemampuan akademis yang memadai, ia
tidak mendaftar ke Akademi Shirayuki.
Di SD dan SMP
negeri, murid laki-laki diusahakan untuk ditempatkan secara merata, namun mulai
dari jenjang SMA, sebagian sekolah negeri mengumpulkan murid laki-laki,
sehingga murid perempuan dipaksa menghadapi persaingan ujian yang sengit.
Meskipun demikian, Tsubaki memilih sekolah khusus perempuan atas kemauannya
sendiri.
"Aah,
Tsubaki jangan-jangan lebih suka sesama perempuan?"
"......Bukan
begitu kok." Temannya yang suka
mencampuri urusan orang lain ini pasti akan terus mengajak Tsubaki ke
tempat-tempat yang ada laki-lakinya.
Oleh karena itu,
secara tidak biasa perasaan sejujurnya pun terucap. "Soalnya, dari dulu
aku sudah punya orang yang kusukai."
"......" Keheningan seketika melingkupi.
Di sekitarnya,
keributan khas sekolah khusus perempuan dapat terdengar. "......Itu, bukannya cuma cerita teman
sekelas masa SD yang sering ada atau semacamnya?" Kepada temannya yang bertanya dengan
ragu-ragu sembari memilih kata-kata, Tsubaki tidak mengatakan apa-apa.
"Anak
laki-laki seumuran yang kebetulan dekat di lingkungan rumah, atau anak
laki-laki yang selalu duduk di samping di bus sekolah, atau dari tempat
les...... Cerita-cerita seperti itu kan milik siapa saja. Menurutku itu cuma
kenangan indah."
Nada bicaranya
terdengar seolah sedang membujuk.
Tsubaki pun memahaminya secara rasional. "Bagi kita itu mungkin kenangan yang
spesial, tapi...... bagi dia mungkin berbeda."
"Bisa jadi
begitu ya." Di dalam benaknya,
bayangan seorang anak laki-laki memancar.
Seseorang
yang disukainya.
Seseorang
yang spesial.
Dan
seseorang yang tidak bisa ia lindungi.
"Tapi,
mungkin sampai mati pun aku tidak akan bisa melupakannya." Meskipun gadis-gadis di sekitarnya
memperlihatkan foto atau video anak laki-laki yang sedang hangat dibicarakan,
hatinya tidak pernah tergerak sekali pun.
Yang ada di dalam hatinya hanyalah satu orang anak laki-laki tersebut.
Firasat bahwa
bahkan setelah lulus SMA, bahkan setelah bekerja, bahkan setelah orang-orang di
sekitarnya mulai melahirkan anak, hal ini saja tidak akan pernah berubah. Rasanya seolah telah terpatri di dalam
jiwanya.
"Makanya,
aku biarlah tetap seperti ini saja."
Koito Tsubaki
mengatakan hal itu sambil tersenyum kesepian.
◇◇◇
"Lalu,
bagaimana menurutmu, Yukari?"
Mendengar suara
berat Hojou Noa yang berbisik tepat di dekat telinganya, tubuh Shinonome Yukari
bergetar.
"......Nng......
K-Kelihatannya bukan orang jahat kok."
Di kamar asrama
saat jam istirahat makan siang.
Tanpa menyantap
makan siangnya, Yukari dipeluk dari belakang oleh kekasihnya, Noa, di atas
tempat tidur.
"Cuma
itu?"
"Yah, karena
saya belum begitu mengenalnya."
"Begitu ya.
Tapi, kalau terlalu banyak mengamati, nanti bisa terlambat lho?"
"T-Tapi! Di
sini, mengamati dulu adalah langkah yang tepat......" Sambil mengatakan itu, Yukari menyandarkan
berat tubuhnya ke arah kekasihnya yang penuh kasih sayang, melemaskan
tenaganya.
"Seberapa
akurat informasi mengenai fobia wanitanya?"
"Untuk saat
ini, kelihatannya...... tidak seperti itu......"
"Hmm,
diagnosis palsu kah? Atau ada kemungkinan seseorang di kelas sudah
mengurungnya?"
"Begitu
ya...... Kalau itu diagnosis palsu yang direncanakan oleh pihak pengurung, itu
cukup aneh ya." Yukari menghembuskan napas hangatnya sambil perlahan
memalingkan wajah ke arah Noa di belakangnya.
Meskipun seorang
wanita, ia berbadan tinggi dan memiliki raut wajah rapi yang memberikan kesan
gagah bak pangeran. Banyak orang yang pasti akan salah mengira dirinya sebagai
pria yang tampan.
Dada
mudanya yang padat berisi—
"Bagaimana dengan pergerakan Isshiki Shizuku?"
"Alasannya
tidak pasti, tapi...... luar biasa mendalaminya. Bukan hanya hak pilih kelas,
bahkan sampai mencalonkan diri sebagai ketua kelas...... Apakah ia menilai pria
lain tidak layak masuk dalam pandangannya?"
"Meskipun
begitu, biasanya mereka berada pada tahap mengamati situasi dahulu."
Putri dari
keluarga Shinonome turun-temurun bersekolah di Akademi Shirayuki. Neneknya,
ibunya, dan kakak-kakaknya semuanya adalah alumni Akademi Shirayuki, sehingga
mereka sangat memahami seluk-beluk akademi ini.
Para siswa
laki-laki memiliki kecenderungan untuk menghindari siswi yang sudah pernah
diklaim (O-tegumi) oleh orang lain. Oleh karena itu, bagi siswi yang
dialokasikan ke kelas kasta bawah, ada kemungkinan untuk naik ke kelas atas
selama masa tahun pertama dengan menjaga jarak yang tepat dari siswa laki-laki
di kelas kasta bawah.
Memanfaatkan hal
ini secara terbalik, ada pula strategi untuk mengklaim pria saat tingkat
persaingannya masih rendah. Namun, siswa laki-laki di kelas kasta bawah umumnya
memiliki kelemahan besar, sehingga tak jarang tindakan ini justru membuat
mereka terjebak di jalan buntu tanpa tempat melarikan diri.
Terlebih lagi,
Isshiki Shizuku adalah murid yang ditempatkan di Kelas A, sehingga strategi
berisiko tinggi seperti ini sebenarnya sama sekali tidak diperlukan olehnya.
"Apakah ada
hal lain yang menarik perhatianmu?"
"......Ada
seorang siswi setinggi 180 cm bernama Kaminari Nene, tapi Mizuki-sama memujinya
dengan mengatakan 'dia keren seperti model'."
"He~h?" Di dalam suara Noa, terselip nada gembira.
"Penasaran
ya, apakah dia juga akan memujiku keren?"
"Tentu saja,
karena tidak ada yang lebih keren daripada Anda, Noa-sama." Sambil mengatakan itu, Yukari menatap Noa di
belakangnya lalu menghentikan gerakannya.
Maksud hati ingin
meminta ciuman, namun Noa tampak sedang melamun dan tidak memberikan respons
apa pun.
(Noa-sama......)
Melihat
kekasihnya begitu antusias pada seorang murid laki-laki yang informasinya
bahkan belum banyak diketahui, kobaran api cemburu kecil mulai membesar di
dalam diri Yukari.
Hojou Noa
memiliki kepopuleran di kalangan siswi berkat penampilannya yang mirip
pangeran, dan sejak masa SMP sudah banyak rumor percintaan tentangnya.
Meskipun dikagumi
oleh banyak siswi, ekspresi kesepian dan agak muram yang sesekali
diperlihatkannya justru sangat memikat hati gadis-gadis yang lebih muda.
Bagi Yukari, Noa
adalah kekasih yang sangat dibatidakannya.
"Apakah ada
gadis lain yang berpotensi menjadi ancaman?"
"Selain
Isshiki Shizuku, belum ada yang menunjukkan pergerakan besar."
"Apakah dia
lebih menyukai pria berambut panjang?"
"Bagaimanapun
juga......"
"Bagaimanapun,
aku ingin mencoba berbicara dengannya sekali. Pertama-tama, harus membuat dia
mengingat wajahku dulu."
"......"
Melihat Yukari
yang terdiam, Noa terkekeh jahat sambil berkata, "Masa cemburu
sih?"
"Apakah kamu
sudah mengklaimnya?"
"Kita bahkan
belum pernah bertemu sekali pun, jadi itu terlalu cepat. Maksudku, kira-kira
bagian mana dari dirinya yang disukai?"
"Apakah
seperti sejenis?"
"Sejenis,
maksud Anda?" Tanpa berpikir
panjang, Noa menegaskan perkataannya.
"Aah.
Pastinya Isshiki Shizuku juga punya alasan yang sama." Yukari memiringkan kepalanya, namun Noa
sepertinya tidak berniat menjelaskan lebih lanjut.
Dengan matanya
yang selalu diselimuti rasa muram, Noa terus memandangi ruang kosong seolah
sedang memikirkan sesuatu.
(Noa-sama......)
Hal itu terasa
tidak menyenangkan bagi Yukari. Yukari
segera memutar tubuhnya dan membenamkan wajahnya tepat di dada empuk Noa.
Tangan Noa yang
hangat pun dengan lembut mengelus kepala Yukari.
"Aku ingin
Yukari diikutsertakan juga ya."
"......Kalau
aku...... asalkan bersama Noa-sama......"
"Kurasa
tidak bisa begitu, kan?" Noa tersenyum ragu, lalu Yukari memejamkan matanya tanpa bisa mengutarakan
keegoisan lebih lanjut.
◇◇◇
Saat Shinonome
Yukari kembali ke kelas, di sekeliling meja Mizuki sudah berkumpul kerumunan
orang.
Sepertinya
mayoritas siswi telah selesai makan siang dan sedang menikmati obrolan
santai.
"Ibu
mengelola penginapan pemandian air panas di Izu. Kalau mau menyegarkan badan, silakan beri tahu
saya ya!"
"Mulai dari
sekarang, cuaca akan semakin panas. Kalau ingin ke tempat peristirahatan musim
panas, keluarga Aihara akan menyambut Anda dengan sepenuh tenaga di
Hokkaido!"
"Kalau di
Hakone ada vila milik keluarga. Tempatnya sangat nyaman, tidak cuma pemandian
air panas, tapi bisa menikmati memancing juga."
Sepertinya
masing-masing sedang memamerkan kemegahan rumah keluarga mereka.
Yukari pun
bergabung ke dalam lingkaran tersebut sealami mungkin.
"Begitu ya.
Wah, jadi tidak sabar menunggu liburan panjang ya!"
Meskipun
dikelilingi siswi seisi kelas, Mizuki merespons mereka dengan senyuman yang tak
pernah lepas dari wajahnya.
Melihat hal itu,
Yukari merasa curiga—jangan-jangan diagnosis fobia wanita itu memang
benar-benar palsu.
Bangsawan istana
di Kyoto dulunya sering mengeluarkan diagnosis palsu untuk mengurung pria
idaman mereka agar tetap berada di dekat mereka.
Meskipun metode
ini sudah jarang terlihat di era modern akibat mencuatnya Delapan Belas
Keluarga Utama, kemungkinan tersebut tidak bisa sepenuhnya disingkirkan.
"Anu,
Mizuki-kun, bolehkah aku memanggil nama depanmu?" Tiba-tiba seorang siswi bertanya
padanya.
Yukari terperanjat, lalu mengalihkan pandangannya ke arah
Aihara Yura yang mengajukan pertanyaan tersebut. Ia berpikir bahwa tindakan itu
terlalu berlebihan terhadap pria yang terdiagnosis menderita fobia terhadap wanita,
namun Mizuki sendiri tampak tidak terlalu memikirkannya.
"Iya, panggil saja sesukamu. Aku juga akan memanggil
nama depan kalian kalau sudah sedikit lebih terbiasa ya." Sorakan gembira terdengar dari
sekelilingnya.
Yukari hanya bisa memandangi sekitarnya dengan bingung.
(......Ini
beda banget sama cerita yang kudengar!) Di
saat Yukari sedang berflirtasi dengan Noa, keadaan kelas rupanya sudah menjadi
sangat akrab.
Padahal
opsi terbaik bagi kelas kasta bawah adalah mengamati situasi dahulu, tetapi
seluruh isi kelas justru mulai menunjukkan keaktifan yang tidak biasa.
(Kalau begini
terus, Toudou Mizuki akan langsung dikurung dalam tahun pertama ini), pikirnya.
Keputusan Noa
untuk bergegas berkenalan mungkin adalah langkah yang sangat tepat.
***
"Mizuki-sama,
apakah ada acara sepulang sekolah nanti?"
"Emm, hari
ini aku berpikir untuk mencari tahu tentang tempat pelayanan masyarakat
dulu..."
Topik yang tidak
tersentuh oleh siapa pun. Topik sensitif yang tak berani disinggung.
Atmosfer
yang tadinya santai seketika menjadi tegang dalam sekejap.
"......Apakah
Anda sudah memiliki rencana?"
"Jadwal
pastinya belum kutentukan sih, tapi aku berniat ikut mulai minggu depan
sebisaku."
Menanggapi
pertanyaan Shizuku yang hati-hati, Mizuki menjawab dengan raut wajah yang
tenang. Yukari semakin tidak dapat menyembunyikan
kebingungannya.
(Apa maksudnya
ini? Kalau begini kan dia sama saja seperti...) Sama
seperti siswa laki-laki dari Kelas A.
Seluruh alasan
mengapa Toudou Mizuki dialokasikan ke Kelas K seolah lenyap bak kebohongan.
Sistem
kasta kelas ini sudah hampir tidak berfungsi lagi. Jika Mizuki terus menambah skor kreditnya
tanpa masalah, para siswi dari kelas kasta bawah lainnya yang tadinya mengamati
situasi juga akan langsung menyerbu Kelas K.
"K-Kalau
begitu, santai saja juga tidak apa-apa kok!"
Membayangkan masa
depan di mana putri-putri dari keluarga terpandang dari kelas atas berpindah ke
sini, Yukari tanpa sadar mengutarakan hal itu.
"B-Benar
juga ya. Nah, bagaimana kalau kita mengadakan acara keakraban kelas dulu?"
"Iya,
setuju! Kami ingin mendengar lebih banyak cerita tentang Mizuki-kun!"
Apakah
siswi-siswi lain juga membayangkan masa depan yang sama, sehingga mereka
mencoba mengerem kegiatan pelayanan masyarakat Mizuki?
"Hmm, tapi
aku harus mengejar ketertinggalanku selama tiga tahun tidak sekolah dan mengurung
diri." ujar Mizuki sambil bercanda dan tersenyum. Melihat senyumannya yang polos tanpa
keraguan, Yukari pun menjadi yakin.
Jika Hojou Noa
benar-benar bertemu langsung dengannya, Noa pasti akan semakin terpikat
olehnya.
Bagi Yukari yang
tidak memiliki kekuatan besar, itu adalah masa depan pasti yang tak dapat ia
cegah. Oleh karena itu, ia tidak bisa
menahan diri untuk tidak bertanya di dalam hatinya:
——Bahkan jika saatnya tiba nanti, maukah Anda tetap membiarkan saya berada di
samping Anda?
◇◇◇
Mikado Rei
berdiri sendirian di luar kelas untuk menjaga keselamatan.
Peran seorang
ajudan meliputi pengawasan, pembantu kehidupan sehari-hari, sopir, penanggung
jawab negosiasi dengan berbagai pihak, hingga pengawalan.
Untuk
menghilangkan pengaruh keluarga, anak laki-laki dipisahkan dari orang tua
mereka sejak usia tujuh tahun. Bagi anak laki-laki tersebut, ajudan terkadang
juga bertindak sebagai pengganti orang tua.
Sejarah mencatat
bahwa ibu kandung sering memanfaatkan kelangkaan anak laki-laki untuk merebut
kekuasaan di daerah. Di era modern, negara pun turun tangan untuk memberlakukan
regulasi.
Regulasi di
Jepang terbilang sangat ketat, bahkan perintah larangan mendekati keluarga pun
telah dikeluarkan. Regulasi yang ketat ini juga diberlakukan kepada para ajudan
yang rentan memperoleh kekuasaan sebagai keluarga semu.
"......"
Ajudan diwajibkan
untuk tidak mencampuri urusan para siswi di sekitar, selama tidak ada bahaya
yang mengancam. Segala bentuk tindakan seperti memberikan perlakuan khusus atau
memberi kemudahan secara alami dilarang.
Oleh karena itu,
ketika Hojou Noa datang ke depan Kelas K dengan membawa rombongan siswi dari
kelas lain, Mikado Rei tidak bisa mengatakan apa-apa.
(......Apa
sebenarnya yang direncanakan oleh calon kepala keluarga Hojou berikutnya ini?)
Hojou Noa adalah
putri sulung dari keluarga Hojou, salah satu dari Delapan Belas Keluarga Utama.
Keluarga Hojou
yang namanya melejit sebagai klan militer berpengaruh di wilayah Kanto dan
berjasa dalam pembentukan Pemerintah Restorasi, tidak pernah surut pengaruhnya
hingga era modern sekarang.
Mereka membawahi
banyak pengawal (yoriki). Noa yang merupakan calon kepala keluarga
berikutnya, secara alami menjadi sosok yang sangat mencolok di dalam akademi.
"Apakah
pelajarannya berlangsung lama? Maaf ya, membuatmu menunggu sebentar." Noa mengatakan hal itu dengan
ramah lalu berdiri di samping Rei.
"Tidak
apa-apa," jawab Rei singkat sambil mengalihkan pandangannya ke arah
rombongan pengikut Noa.
Ada
sebelas orang. Semuanya adalah murid tahun pertama.
(Apakah
mereka berniat bermain sepak bola?) Sambil memikirkan lelucon konyol tersebut,
Rei merenungkan niat di balik tindakan Noa.
Secara
umum, melakukan kontak dengan pria dari kelas lain adalah hal yang dihindari.
Karena tindakan yang mengindikasikan penggunaan hak pilih kelas seperti ini
akan membuat mereka kehilangan kepercayaan secara signifikan dari pria di kelas
mereka sendiri.
"Apakah
Toudou-kun tidak apa-apa dengan makanan manis?" Mendadak, Noa
memperlihatkan kantong kertas yang dipegangnya.
"Saya
berpikir untuk menyapa hari ini. Saya membawakan kue sus sebagai buah
tangan."
"......Ya,
beliau menyukainya tanpa masalah."
"Begitu ya.
Apakah dia akan senang?"
"......"
Melihat Noa yang
mengutarakan tujuannya begitu saja, Rei menatapnya dengan penuh kewaspadaan.
Meskipun Noa
berbadan tinggi dan berwajah rapi sehingga sekilas memancarkan atmosfer yang
sulit didekati, senyuman ramahnya yang pandai mengambil hati orang lain justru
memberikan rasa tenang. Memang perayu alami.
"Kalau tidak
salah, Anda Mikado-san, kan? Apakah pekerjaan ini sudah lama Anda jalani?"
"......Ya,
sejak saya lulusan baru."
"He~h.
Berapa orang yang sudah Anda tangani?"
"......Hanya
Toudou-sama seorang."
"Luar biasa.
Berarti Anda sangat unggul ya, sampai terus dipercaya menangani satu orang
saja."
"......Itu
karena Toudou-sama adalah orang yang sangat baik hati."
"Begitu ya.
Lalu, kalau boleh tahu, bagian mana dari dirinya yang baik hati?"
"......"
Mendapati
pertanyaan yang terkesan ramah namun menjebak dari Noa, Rei memilih untuk
bungkam daripada membicarakan tuannya secara sembarangan.
"Ups, maaf
ya. Urusan tentang tuanmu tidak boleh dibicarakan sembarangan, ya. Begitu ya,
pantas saja Toudou-kun begitu memercayaimu."
"Mohon maaf,
ini adalah tugas saya."
"Ngomong-ngomong,
cincin yang kamu pakai itu lumayan langka ya?"
"......Ini
adalah pemberian dari Mizuki-sama."
Rei menjawab
sambil terus mengamati Noa dengan cermat selagi mereka berbicara.
Rei
sekali lagi menyadari secara jelas bahwa gadis di hadapannya tak diragukan lagi
adalah seorang wanita berbakat dari keluarga Delapan Belas Keluarga Utama.
Ia bukan
sekadar siswa berprestasi yang pintar belajar, tetapi sosok yang telah menerima
pendidikan calon kepala keluarga yang ketat, terlihat dari caranya memberikan
tanggapan singkat namun sarat makna.
"He~h.
Dibuat dengan baik, tapi ini mainan, kan? Apa dibelikan waktu kamu masih kecil?"
"......Saat
ulang tahun yang ke-7."
"Wah, itu
luar biasa ya. Mungkinkah dibelikan setiap tahun?"
"......"
"Coba
kutebak ya. Selain ini, apakah ada ikat rambut, jam tangan, lalu ikat
pinggang?"
"......"
"Ikat rambut
sepertinya iya...... tapi rasanya itu bukan ide dari Toudou-kun ya. Harganya
murah, dan Mikado-san memintanya sendiri sebagai barang yang bisa terus
dipakai. Menurutku ini tebakan yang lumayan bagus."
"......Noa-sama,
mohon hentikan." Saat itu, guru
keluar dari kelas. Sepertinya pelajaran terakhir telah selesai.
Rei menghela
napas lega di dalam hatinya.
"Mikado-san,
terima kasih ya. Berkat kamu, aku jadi bisa tahu banyak tentang keadaan di luar
sekolah."
"......"
"Kalau di
dalam sekolah, aku bisa bersikap sesukaku. Soalnya aku butuh informasi di luar
sekolah."
Kegaduhan di
dalam kelas kian membesar. Para siswa diperkirakan akan segera keluar.
"Ngomong-ngomong,
aku mendengar dia akan mulai melakukan pelayanan masyarakat minggu depan."
"......"
"Mungkin
akan terjadi sedikit kekacauan ya."
"......"
"Kamu
bisa tenang. Aku berniat mengambil tindakan kok."
"......Terima
kasih atas perhatian Anda." Pintu terbuka, dan para siswa mulai mengalir
ke koridor.
Noa dan
rombongannya melihat ke arah kerumunan tersebut dan langsung mematung.
Dan
Toudou Mizuki yang baru saja keluar ke koridor pun langsung menghentikan
langkahnya.
"Yaa,
salam kenal." Noa yang berdiri di samping Rei melangkah maju perlahan
dengan penuh percaya diri.
"Aku
Hojou Noa dari Kelas A. Aku benar-benar ingin bertemu dengan Toudou-kun."
"E-Eh...... s-salam kenal?"
"Maaf ya datang tiba-tiba tanpa memberi tahu dulu.
Apakah kamu marah?"
"T-Tidak
kok."
"Baguslah,
jangan lupa oleh-olehnya ya. Ini kue sus dari Cléme Bijou."
"Eh,
a-apa?" Sambil memburu dengan
perkataannya, Noa menyerahkan kantong kertas.
Saat itu, Rei
tidak melewatkan momen ketika tangan Noa menyentuh Mizuki. Mizuki tidak tampak terganggu, ia mengintip
isi kantong kertas lalu mengeluarkan suara gembira.
"Wah,
ini kan kue yang selalu diantre orang-orang! Boleh nih?"
"Aah,
ada empat buah, jadi bagus kalau dimakan bareng Mikado-san."
"Terima
kasih banyak!" Mungkin kontak
barusan dilakukan untuk memastikan apakah fobia wanitanya sudah sembuh total.
Meskipun
mengamati sambil tetap menjaga prinsip tidak mencampuri urusan, Rei merasa
waspada terhadap kecermatan gadis ini.
"Tapi,
kenapa sampai datang menyapa?"
Mizuki
mengutarakan pertanyaan yang wajar.
Terhadap pertanyaan itu, Noa menjawab dengan santai seolah bukan masalah
besar.
"Sebenarnya
aku sedang mempertimbangkan untuk pindah kelas. Aku berpikir akan lebih baik
kalau berkenalan dulu."
Dalam sekejap,
udara mencekam menyelimuti para siswi Kelas K yang sejak tadi mengamati situasi
dari koridor.
"Itu
pembicaraan yang cukup mendadak ya." Shizuku Isshiki melangkah maju dari
kerumunan siswi yang mengelilinginya.
"Fufu,
tidak mendadak seperti kamu kok. Kamu kan sudah memutuskan pindah kelas sebelum orientasi hari pertama, kan?
Itu sudah jadi rumor lho."
"Saya hanya
bertatap muka secara kebetulan dengan Mizuki-sama sebelum orientasi. Saya ingin
mendengar lebih detail tentang hal itu, tapi mari kita bahas lain kali
saja." Lalu, Shizuku kembali menghadap Mizuki.
"Bagaimana
ya? Pasti akan sangat berguna kok." Noa mengatakan hal itu, lalu
mengalihkan pandangannya ke arah para siswi pengawal (yoriki) yang
berbaris di belakangnya.
"Anu......
mungkinkah kalian dari Delapan Belas Keluarga Utama?"
"Aah,
Noa-san dari keluarga Hojou, putri sulung mereka."
"Di Kelas K
tidak apa-apa?"
"Tidak
masalah. Di tempatku ada Kelas A kok." Noa tertawa terbahak-bahak saat
menggoda Mizuki. Mizuki pun ikut terkekeh.
"Begitu ya,
hak pindah kelas adalah hak para siswi, jadi dari tidak ada hal yang bisa kukatakan.
Hanya saja, kalau kamu sudi datang, tentu saja kami menyambut dengan senang
hati."
"Aku terima
sebagai kesepakatan ya. Sampai jumpa besok, aku akan merepotkanmu mulai
besok."
"Iya. Kami
juga mohon bantuannya." Mizuki
yang menanggapi jawaban dengan gagah di hadapan putri dari Delapan Belas
Keluarga Utama ditatap oleh Rei yang tersenyum kecil.
Namun pada saat
yang sama, rasa cemas yang tak terlukiskan kian membesar.
Mengapa dua putri
dari keluarga Delapan Belas Keluarga Utama sampai berkumpul di kelas kasta
terendah? Ini terasa sangat tidak wajar.
"Toudou-kun
itu ternyata jauh lebih manis daripada di foto ya. Aku sebenarnya ingin ngobrol
lebih banyak lagi, tapi..."
"Bisa-bisa
kalau kita terus ngobrol di sini, semua orang jadi tidak bisa pulang
ya." Noa melirik ke sekeliling,
lalu memberi jeda sejenak seolah memberi kesan.
Anak-anak
perempuan Kelas K di belakang Noa tidak ada satu pun yang tertawa.
◇◇◇
Malam itu, Hojou
Noa berjalan seorang diri di kawasan permukiman.
Ini adalah
kawasan apartemen tenang yang diperuntukkan bagi Warga Negara Kelas Dua. Rumah
bagi siswa laki-laki hanya disediakan di distrik Warga Negara Kelas Dua atau
lebih tinggi.
Lalu lintas
kendaraan sedikit, dan trotoar dibuat lebar sehingga pemandangannya bagus. Ini
tampak seperti tempat yang nyaman untuk ditinggali. Noa berjalan mengelilingi area sekitar
sejenak, dan memastikan bahwa tidak ada toko yang buka hingga malam seperti
minimarket.
——Memang aneh. Mengenai catatan kecelakaan lalu lintas
yang dialami Mizuki saat kelas 3 SMP, Noa merasa ada ganjalan. Waktu terjadinya
kecelakaan adalah jam tiga dini hari.
Di arah yang
berlawanan dengan stasiun, tidak ada apa-apa di sekitarnya.
——Apa yang
dilakukannya saat jalan-jalan malam di tempat yang tidak ada tujuannya seperti
ini? Jalanan dengan jarak pandang luas
dan tanpa penyeberangan jalan.
Waktu ketika
hampir tidak ada mobil yang lewat pada pukul tiga dini hari.
Semua kondisi
tersebut membuat kecelakaan lalu lintas di tempat ini terasa tidak masuk
akal. Dan Noa mulai mengarah pada satu
jawaban.
Kecelakaan itu
terjadi pada bulan Desember kelas 3 SMP. Masa-masa penting menjelang masuk SMA.
——Bunuh diri.
Pelayanan
masyarakat tingkat tinggi. Perubahan lingkungan. Sistem kasta kelas. Mulainya
penyediaan donor genetik.
Semuanya adalah
hal yang sulit ditahan bagi seseorang dengan fobia wanita tingkat berat.
Kemungkinan
besar, Mizuki menceburkan dirinya atas kemauannya sendiri.
(Begitu
rupanya)
Noa menghela
napas pelan.
Keterangan fobia
wanita bukan kebohongan, namun alasan sebenarnya mengapa Mizuki dialokasikan ke
Kelas K kemungkinan besar karena ia mengidap ideasi bunuh diri.
Noa yang sampai
pada jawaban tersebut dengan mudah, menyandarkan berat tubuhnya ke pagar
pengaman dan memandangi permukiman malam.
Kota yang tenang.
Apartemen teratur
untuk Warga Negara Kelas Dua yang tunduk pada batasan tinggi bangunan, tanpa
diwarnai oleh penghuni yang menimbulkan keributan.
Membayangkan
sosok pemuda yang berjalan sendirian di sini pada larut malam dengan raut wajah
kesepian membuat dadanya terasa sesak.
(Ternyata dia
sejenis denganku ya) Bisikan
Noa menyatu dan lenyap di kawasan permukiman yang sepi tanpa seorang pun.
Gadis itu berdiri
membisu sejenak di sana, tampak seperti anak kecil yang kehilangan tujuannya.
◇◇◇
Ketika Toudou
Mizuki berjalan menuju kelas di pagi hari, beberapa staf sekolah tampak sibuk
memasukkan meja-meja ke dalam kelas.
Para siswi yang
datang lebih awal berkumpul di koridor agar tidak mengganggu pekerjaan para
staf.
"......Ada
apa ini?"
"Selamat
pagi! Itu, sepertinya ada permintaan perpindahan kelas dalam jumlah
besar."
"Kukira cuma
Hojou-san saja......"
Mizuki mengingat
kembali gadis-gadis pengikut yang berada di belakang Hojou Noa kemarin.
Sepertinya mereka
semua juga mengajukan permintaan perpindahan ke Kelas K.
"......Hebat
banget ya."
"Namun,
apakah semua meja itu bisa masuk ke dalam?"
Mungkin karena
gedung sekolah tua yang dibangun pada era Meiji, ruang kelasnya terasa lebih
luas dibandingkan dengan sekolah modern. Meski begitu, jika dilihat dari luar,
para staf tampaknya cukup kesulitan menatanya dengan baik.
"Yaa,
selamat pagi."
Saat menoleh, Hojou
Noa sudah berdiri di sana. Di belakangnya tampak gadis-gadis pengikut yang sama
seperti kemarin.
Mizuki pun secara
jujur mengutarakan apa yang dipikirkannya.
"Kukira yang
pindah ke Kelas K cuma Hojou-san saja."
"Tentu ada
alasan yang jelas untuk hal ini."
Sambil mengatakan
hal itu, Noa mendekat dan mengambil posisi tepat di samping Mizuki secara
alami.
"Memang
belum banyak diketahui, tetapi kapasitas satu kelas sebenarnya ditetapkan 40
orang. Artinya, ini melebihi kapasitas."
"Jumlah
orangnya agak tanggung ya."
"Katanya,
berdasarkan konsentrasi karbon dioksida, jika lebih banyak dari ini akan
membuat mengantuk karena kekurangan oksigen."
Selagi mereka
berbicara, teman-teman sekelas lainnya mulai berdatangan satu per satu dan
menunjukkan raut wajah bingung melihat pengerjaan pemindahan meja skala besar
tersebut.
"Daripada
itu, mulai hari ini kita adalah teman sekelas. Aku ingin kamu berhenti
menggunakan bahasa formal ya."
"Emm, iya,
benar juga ya."
"Fufu,
begitu kan lebih bagus karena jarak kita terasa lebih dekat. Ngomong-ngomong,
soal kelebihan kapasitas tadi..."
Mungkin karena
baru saja membicarakan soal kekurangan oksigen, Noa membuka jendela koridor.
Rambut perak cerahnya yang panjang sampai ke bahu tampak berkibar lembut
diterpa angin musim semi.
Mizuki sempat
terpesona sejenak melihat profil wajahnya.
"Kalau
dibiarkan seperti ini, siapa pun bisa pindah ke Kelas K tanpa kesulitan.
Misalnya, jika murid-murid dari Kelas J mendadak pindah bersamaan, itu akan
menyulitkan, jadi aku harus mengambil tindakan lebih awal."
Mendengar
perkataan Noa, Mizuki memiringkan kepalanya.
Tidak disangka
akan ada siswi yang sengaja pindah ke kelas kasta terendah. Namun, dengan
kepindahan Isshiki Shizuku dan Hojou Noa, mungkin akan ada siswi lain yang
tergiur untuk ikut pindah.
"Sepertinya
ini butuh waktu sedikit lagi. Kalian, kemarilah."
Noa memberi
isyarat tangan kepada gadis-gadis pengikutnya.
Gadis-gadis yang
tadinya bersandar di jendela koridor berkumpul mendekati Mizuki, membentuk
posisi yang secara alami mengepungnya dari separuh arah.
"Ini
disiapkan khusus untukmu, bagaimana? Aku mencoba mengumpulkan berbagai tipe
gadis selengkap mungkin. Kalau ada yang kamu suka, kamu bebas menggunakannya.
Tidak perlu menjadikannya istri. Cukup yang kamu pilih saja."
"......Eh?"
Mizuki tanpa
sadar menatap gadis-gadis di depannya.
Gadis-gadis yang
berbaris di sekelilingnya semuanya memiliki penampilan yang sangat rapi.
"Atau kalau
kamu suka yang lebih muda, aku bisa mencarikannya dari SMP, dan kalau suka yang
lebih tua, ada siswi kelas atas di sini atau mahasiswa dari universitas."
"E-Eh,
a-anu......"
"Yah, tentu
saja kalau kamu menyukaiku, aku juga tidak keberatan. Dalam hal itu, kamu harus
menjadikanku seorang istri, ya."
"T-Tunggu
dulu! Itu terlalu mendadak!"
"Kukuku,
tidak apa-apa, sifat pemalu-mu itu juga bagus kok."
Sambil
menggodanya, Noa tersenyum tipis lalu melambaikan tangan kepada satu orang
lagi.
"Anak ini
namanya Shinonome Yukari. Aku sudah mengirimnya lebih dulu jadi kamu mungkin
sudah kenal, tapi..."
"N-Noa-sama!"
Mizuki mendadak
merangkul bahu Yukari.
"Kalau mau
menikahiku, aku ingin kamu juga menikahi anak ini."
"......E-Eh,
kalau hal itu sih bisa dipertimbangkan......"
"Baguslah, anak yang penurut itu manis ya."
"Noa-sama~!"
Melihat interaksi keduanya, Mizuki, yang merasa seperti
memahami hubungan mereka, berada dalam suasana yang agak serba salah.
Sepanjang pengetahuan Mizuki, ia belum pernah mendengar tentang
pasangan wanita yang bersama-sama menjadi istri dari pria yang sama.
***
"Ah,
akhirnya selesai juga ya."
"Mari
masuk."
Bersamaan dengan
keluarnya para staf sekolah, bel berbunyi nyaring.
Sambil mengikuti
arus para siswi menuju kelas, Mizuki sempat menoleh ke belakang.
Di sana, terlihat
sosok Isshiki Shizuku dan Hojou Noa yang sedang membicarakan sesuatu.
◇◇◇
"Kalau
begitu, mari kita mulai pelajaran dengan mengulang materi SMP ya."
Pelajaran pada
hari ketiga sekolah.
Selama pelajaran,
Kaminari Nene terus saja melamun.
Situasi berubah
dengan sangat cepat hingga ia tak sanggup mengejarnya.
"Sistem
Monarki. Ini adalah hal yang umum diketahui semua orang lewat game atau manga,
kan? Singkatnya, ini adalah sistem di mana seorang Raja tirani memonopoli pria
secara tidak adil. Seiring dengan modernisasi, hampir semuanya dikirim ke tiang
eksekusi."
Tawa
kecil terdengar di dalam kelas.
Nene
berpura-pura tertawa ikut-ikutan sambil mencuri pandang ke sampingnya.
Satu-satunya
murid laki-laki di kelas ini, Toudou Mizuki, memiliki profil wajah yang rapi
persis di dekatnya.
"Berikutnya
adalah Sosialisme Kedua. Saat ini, sistem ini hanya ada di Uni Soviet. Semua
perusahaan dijadikan perusahaan negara untuk menyingkirkan prinsip pasar.
Mereka mengusung tujuan menjadikan seluruh dunia berideologi Komunisme lewat
Revolusi Dunia, hal yang sangat mengerikan."
Rombongan sebelas
orang yang dibawa oleh Hojou Noa dari Delapan Belas Keluarga Utama pagi ini
membuat Kelas K mencapai kapasitas penuh, hingga meja-meja kini saling menempel
rapat satu sama lain.
Aroma harum
terpancar dari Mizuki yang berada tepat di sebelahnya, membuat Nene menarik
napas pelan-pelan.
"Demokrasi
Banyak Partai. Ini adalah sistem yang dipakai oleh Inggris dan Amerika. Ada
yang tahu akan jadi seperti apa hasilnya?"
Para
siswi serentak mengacungkan tangan.
Nene pun
terburu-buru ikut mengacungkan tangan.
"Ya, coba
Aihara-san!"
"Terjadi
perpecahan dan kemacetan politik!"
"Ya, nilai
seratus. Ini pasti keluar di ujian SMA nanti ya. Membawa prinsip pasar ke dalam politik adalah
kesalahan besar dari orang-orang hebat dulu. Akibat dari dua hal ini yang
menjadi landasan, terwujudlah masyarakat dengan sistem kontrol tingkat tinggi
seperti negara kita sekarang ini. Baik, ujian masuk universitas pun hal ini pasti keluar lho."
***
"Dalam
kasus terburuk, ini bisa berkembang menjadi perang saudara lho."
Sejak
pagi, atmosfer yang tidak tenang terus menyelimuti kelas.
Dari 46 orang dalam
kapasitas kelas, 15 orang di antaranya adalah faksi Hojou Noa, membuat siapa
pun merasa cemas.
"Kalau
begitu, Demokrasi Satu Partai. Ini adalah sistem negara kita. Ada yang tahu apa
keuntungannya, Isshiki?"
"Dengan
menyatukan partai, kita bisa mencegah perpecahan. Selain itu, saat pemilu
partai dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan pemungutan suara,
sehingga tata kelola yang demokratis tetap memungkinkan."
"Ya, benar.
Bisa dikatakan ini adalah bentuk sempurna dari demokrasi. Lalu, mengapa ini
dianggap sebagai bentuk sempurna?"
Di sanalah muncul
konsep Rasionalitas Ketertiban.
Nene mengamati
Shizuku Isshiki yang menjawab dengan lancar.
Sampai Hojou Noa
datang, Shizuku Isshiki adalah sosok dengan pengaruh terkuat di Kelas K. Dengan
penampilan menonjol sebagai putri sulung Delapan Belas Keluarga Utama yang
pindah dari Kelas A sejak hari pertama, ia bahkan terpilih sebagai ketua kelas.
Posisinya
seharusnya berada di tempat yang paling membuat Hojou Noa merasa terancam.
Namun, ia tetap menunjukkan sikap tenang seperti biasanya.
Rasionalitas
ketertiban adalah konsep untuk mengelola ketertiban secara rasional sesuai
namanya. Contohnya, daripada membasmi tikus...
...lebih baik
membuat faksi besar yang menentang Hojou Noa, begitulah perkiraan Nene.
Bagi Nene yang
hanyalah rakyat biasa, cara agar bisa bertahan hidup dalam perselisihan
internal kelas adalah dengan ikut naik ke faksi Shizuku Isshiki.
Namun, Shizuku
Isshiki sama sekali tidak menunjukkan pergerakan ke arah sana.
"Maksudnya,
mari kita pikirkan titik kompromi dan jalan keluarnya. Akademi Shirayuki ini
juga begitu. Monopoli pria oleh Keshogu,nan memang memberikan ketertiban dalam
arti pengelolaan sumber daya masyarakat, tetapi tidak ada rasionalitas di
dalamnya karena menghalangi kebebasan asmara sebagian besar wanita. Lewat
gerakan pembebasan oleh Pemerintah Restorasi yang agung, Rasionalitas
Ketertiban diwujudkan hingga menjadi bentuknya yang sekarang. Jika berusaha,
siapa pun bisa memilih pria bersama wanita berlevel tinggi. Ya, ini yang
disebut kesetaraan kesempatan."
Nene hanya bisa
memiringkan kepalanya, bingung memikirkan apa rencananya.
Meskipun para
siswi di kelas terus menunggu Shizuku Isshiki untuk bergerak.
Padahal Shizuku
Isshiki belum membangun hubungan pertemanan sama sekali.
"Inilah
hasil pemikiran para orang hebat, di mana Rasionalitas Ketertiban negara kita
menjadi indikator nomor satu di dunia. Demokrasi Satu Partai dan Rasionalitas
Ketertiban. Dua hal ini menjadi landasan dibentuknya masyarakat terkontrol
tingkat tinggi saat ini. Ingat ya, ini pasti keluar di ujian masuk
universitas."
Guru sosiologi
mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas.
"Jika ingin
tahu lebih banyak tentang Rasionalitas Ketertiban, kalian bisa bertanya pada
teman sekelas dari Delapan Belas Keluarga Utama. Ini pengalaman yang sangat
berharga lho. Kesempatan mendengar langsung cerita bagaimana partai melakukan
tata kelola lewat Rasionalitas Ketertiban tingkat tinggi itu sangat
jarang."
Pandangan seisi
kelas tertuju pada Hojou Noa dan Shizuku Isshiki.
Seorang gadis
yang mengulas senyuman percaya diri dengan kelompok besar pengikutnya, dan
seorang gadis yang duduk tegak tanpa membiarkan orang lain mendekatinya.
Melihat
dua orang yang sangat bertolak belakang itu, Nene membatin.
Meskipun Shizuku
Isshiki belum menunjukkan pergerakan apa pun, entah kenapa terlihat seperti
seorang penguasa.
"Siswa luar,
khususnya, harus mempersiapkan pelajaran dengan baik. Karena siswa dalam sudah
mempelajari materi ini lebih dulu."
Begitu guru
sosiologi keluar dari kelas, suasana sekitar mendadak menjadi ramai.
***
Jam istirahat
makan siang adalah kesempatan bagus untuk memangkas jarak dengan siswa
laki-laki.
Di dalam
ruang kelas yang sempit ini, para siswi serentak berdiri dan mengelilingi
Mizuki.
Nene yang
mendapat keberuntungan duduk di sebelah Mizuki, meresapi rasa bahagianya dalam
hati sambil mengeluarkan bekal makan siangnya.
"Mizuki-sama,
apakah hari ini membawa bekal juga?"
"Iya. Besok
aku berniat coba pergi ke kantin sekolah sih."
Fakta bahwa
Mizuki menyiapkan bekal sendiri selama tiga hari ini sudah menyebar luas,
sehingga siswi yang menuju ke kantin sudah tidak ada lagi.
"Dibuat
sendiri ya? Hebat banget!"
"Aku
cuma isi dengan lauk pauk yang sederhana kok, agak malu kalau dilihat
terus......"
Sambil
tersenyum canggung, Mizuki berdiri.
"Maaf ya,
aku mau ke kamar kecil dulu."
"Baik!"
Kerumunan orang
terbelah membukakan jalan.
Selagi mata Nene
memperhatikan Mizuki yang berjalan keluar, keheningan mendadak menguasai kelas.
"Yukari."
Secara tidak
terduga, Hojou Noa angkat bicara.
"Tolong
pergi ke ruang staf dan sampaikan masalah penguncian jendela ya."
"Baik."
Tanpa memahami
maksudnya, Nene yang bingung memperhatikan Shinonome Yukari yang bergegas
keluar dari kelas.
Di antara para
siswi yang tersisa, pandangan-pandangan yang saling mencari tatanan saling
bersilangan.
Saat itu, suara
engsel dan gesekan kursi yang ditarik bergema nyaring. Pandangan semua orang serentak tertuju pada
sumber suara.
Di luar
kerumunan, Isshiki Shizuku yang berdiri perlahan ada di sana. "Seluruh siswi, harap tetap berada di
sini setelah jam sekolah selesai."
Suaranya tenang.
Namun, mengandung
gema yang tak mengizinkan penolakan sama sekali. "Kita akan mengadakan rapat
kelas."
◇◇◇
"......Nah,
sepertinya semuanya sudah berkumpul ya."
Di ruang
kelas sepulang sekolah.
Beberapa
menit setelah Toudou Mizuki pulang ke rumah, Hojou Noa membuka suara.
"Yukari,
pastikan tidak ada yang mendekat ya."
"Baik." Shinonome Yukari yang menjabat sebagai wakil
ketua kelas, berdiri di depan pintu kelas seolah memblokir akses ke koridor.
"Kalau
begitu, mari kita mulai rapat kelas yang pertama ini."
Mengatakan hal
itu, Noa mengalihkan pandangannya ke arah Isshiki Shizuku. Shizuku berdiri dengan tenang lalu melangkah
menuju mimbar.
"Pertama-tama,
apa yang akan saya sampaikan ini adalah pemberitahuan dari saya. Ini bukan
bahan diskusi." Suaranya terdengar
lantang dan jelas.
Noa menduga bahwa
Shizuku telah dilatih sebagai calon kepala keluarga berikutnya dari keluarga
Isshiki. Kualitas suara dan cara bicaranya memberikan pengaruh besar kepada
orang lain, sesuatu yang sangat dipahami oleh orang yang berdiri di atas.
"Kalau
begitu, mari kita persingkat."
Memasang senyuman
bagai topeng, Shizuku mulai berbicara dengan datar.
"Pada hari
Sabtu dan Minggu akan dilakukan perbaikan kecil pada ruang kelas, namun
dilarang keras menjadikan hal ini sebagai bahan pembicaraan." Noa mengamati ruang kelas tanpa lengah.
Sebagian besar
siswi tampak bingung, dan hampir tidak ada yang memahami situasi secara
tepat.
"Membawa
Mizuki-sama ke tempat tinggi, tempat berair, atau tempat mana pun yang memiliki
risiko kecelakaan dilarang keras."
Jika mereka
adalah orang yang cerdas, mereka pasti akan menyadari maksud di balik hal ini,
pikir Noa sambil mengalihkan kembali pandangannya ke arah Shizuku yang berdiri
di mimbar. Ia merasa roknya sedikit
memendek.
(He~h) Batinnya mengagumi. (Ternyata ada cara
seperti itu juga).
"Mengajak
Mizuki-sama melakukan olahraga berat dilarang keras. Khususnya olahraga yang mengangkat bahu, harap
dihindari. Jika ingin melonggarkan aturan ini, pemberitahuan akan
menyusul." Itu adalah informasi
yang tidak diketahui Noa.
Sumber
informasinya sebenarnya dari mana? Noa mencoba mereka-reka beberapa
kandidat.
"Pemberitahuan
dari saya cukup sekian. Selanjutnya,
sepertinya Hojou-san juga ingin menyampaikan sesuatu." Menggantikan
Shizuku yang melangkah turun dari mimbar, Noa berjalan menuju mimbar.
Dari mimbar yang
posisinya satu tingkat lebih tinggi, ekspresi teman-teman sekelasnya terlihat
dengan sangat jelas.
Dari sebagian
siswi, terasa ada semacam rasa permusuhan. "Kalau begitu, dari saya juga
singkat saja." Sebagai pembuka,
Noa menarik napas dalam-dalam.
Mulai sekarang,
ia akan membuat banyak musuh.
Namun, itu adalah
hal yang diperlukan.
"Pertama-tama,
mari kita perjelas premisnya. Toudou Mizuki pada dasarnya adalah pria yang
seharusnya dialokasikan ke Kelas A."
Tidak ada yang mengatakan apa pun.
Hanya
mengonfirmasi fakta semata. "Oleh karena itu, kalian semua tidak sepadan
dengannya." Lalu, ia mengutarakan
jawaban yang ditarik dari hal tersebut.
"Oleh karena
itu, kalian tidak seimbang dengannya."
Tanpa diduga, tidak ada perlawanan.
Mungkinkah fakta
bahwa Toudou Mizuki ditempatkan di Kelas K hanyalah sebuah kecelakaan, sudah
dipahami dalam hati oleh mereka semua?
"Dalam waktu
satu tahun, peringkat kelas ini diperkirakan akan naik ke tingkat atas. Selama
ada Isshiki Shizuku dan saya di sini, bisa dikatakan hal itu akan tercapai
secara otomatis." Di sana, Noa
langsung masuk ke inti permasalahan.
"Ini adalah sebuah permintaan, tetapi setelah perubahan peringkat
di tahun kedua, bisakah kalian menggunakan hak pilih kelas kalian untuk keluar
dari kelas ini?" Di Akademi
Shirayuki, peringkat kelas akan berubah saat kenaikan tingkat berdasarkan
prestasi kelas sepanjang tahun.
Pada saat itu,
tanpa memedulikan nilai individu, seluruh anggota kelas akan berpindah
bersama.
"Bagaimanapun,
tempat ini awalnya adalah kelas kasta terendah. Karena kami akan menaikkan
peringkat kelas untuk kalian, kalian bisa menghabiskan dua tahun sisanya di
kelas yang lebih tinggi dari Kelas K yang sebenarnya. Bukannya ini bukan
penawaran yang buruk, kan?" Di
sana, Noa menyapu pandangan ke sekeliling kelas sekali lagi untuk melihat
reaksi.
Wajah-wajah yang
tampak ingin mengatakan sesuatu. Raut wajah yang tampak menyesal. Wajah yang
menyiratkan rasa pasrah. Berbagai
reaksi terlihat, namun tidak ada bantahan yang terucap.
Noa tahu betul
kekuatan jumlah sebagai seseorang yang berdiri di atas orang lain. Di Kelas K pada hari ketiga ini, belum ada
kelompok besar lain selain Noa.
Faksi besar
adalah metode paling mudah dan jelas untuk menundukkan orang lain, sekaligus
menjadi keahlian keluarga Hojou.
"Saat
kelulusan nanti, kelas peringkat teratas akan mendapatkan kualifikasi sebagai
anggota partai. Ini adalah imbalan yang pantas. Kalian pun pasti tidak ingin
menghalangi kehormatan yang seharusnya didapatkan oleh Toudou Mizuki,
kan?"
Lalu, Noa mulai
mengakhiri. "Kalian kebetulan cuma beruntung saja. Anggap saja kalian
beruntung bisa menghabiskan waktu satu tahun bersamanya."
"Aku tidak
setuju." Tiba-tiba, sebuah suara
tajam bergema.
Pemilik suara itu
adalah seorang siswi bertubuh pendek yang duduk di dekat jendela dan tampak
bosan.
Potongan rambut
bob hitamnya dengan corak emas begitu berkesan, dan Noa menatapnya lekat-lekat.
"Sayang
sekali ya, kamu siapa tadi?"
"Aku
Minagaki Suzuka."
Sepasang mata
merah yang memancarkan tekad kuat terlihat sangat menarik bagi Noa.
"Pembagian
kelas di Shirayuki tidak ditentukan murni oleh kemampuan. Contohnya, Kaminari
di sana adalah pemain inti tingkat nasional di kejuaraan bola voli SMP.
Berdasarkan standar kuota olahraga, tak peduli seberapa rendah akademisnya, ia
seharusnya masuk Kelas D. Alasan dia dijatuhkan ke Kelas K ini kemungkinan
karena tinggi badannya dinilai sebagai poin minus."
"Lalu?"
"Menentukan
secara sepihak apakah seseorang tidak berguna atau tidak di hadapanmu adalah
hal yang tak masuk akal," tegasnya.
Noa tanpa sadar mengulas senyum.
Suatu hal yang
langka, ada siswi yang berani menentang Noa, sang putri sulung keluarga Hojou,
secara terang-terangan.
"Tentu saja,
aku dari awal memang tidak berharap banyak pada kalian, dan tidak melakukan
penyelidikan mendalam."
"Begitu
ya."
"Tapi ya
sudahlah. Asalkan
kamu tidak menghalangi, tidak masalah." Noa menaikkan bahunya, lalu menerima argumen
Minagaki Suzuka dengan mudah.
"Lagipula,
ini bukan hal yang bisa dipaksakan. Ada maknanya juga memberi gertakan.
Semangat ya, lakukan yang terbaik," bisik Noa dalam hati. Suzuka hanya
mendelik menatap Noa tanpa mengatakan apa-apa lagi.
(Sifatnya yang
tidak banyak omong kosong ini, aku menyukainya), Pikir Noa sambil mengalihkan pandangan ke arah
Shizuku. "Pembicaraan dari saya
cukup sekian."
"Saya
mengerti. Apakah ada yang ingin menyampaikan usulan atau hal lain?" Shizuku menyampaikan suara ke seluruh kelas,
namun tidak ada seorang pun yang mengacungkan tangan.
"Kalau
begitu, sekian rapat kelas yang pertama ini."
◇◇◇
"Apakah
waktunya aman?"
Di ruang kelas,
setelah rapat kelas selesai, Hojou Noa berhadapan dengan Isshiki Shizuku.
Tidak ada sosok
lain di dalam kelas.
"Shinonome
Yukari yang berjaga di luar koridor. Sepertinya ada hal yang ingin dibicarakan."
"Rasa terima
kasih tidak diperlukan. Sesuai permintaan, saya membuka rapat kelas dengan
cepat, tetapi bahkan tanpa permintaan dari Hojou-san pun saya memang berencana
membukanya demi memberikan pemberitahuan."
"Begitu
ya......" Keheningan melingkupi
tempat itu.
Gadis di
hadapannya, Isshiki Shizuku, memasang senyuman seperti topeng dan tak ada emosi
apa pun yang bisa terbaca.
Umpan godaan yang
dilontarkan Noa tidak mampu menggoyahkan gadis yang tampaknya akan menjadi
penghalang terbesar ini.
"Ngomong-ngomong, kapasitas kelas kan sudah penuh, bagaimana
rencanamu? Rombonganmu sepertinya tidak bisa dijejalkan lagi ya."
"Tidak
masalah. Sejak awal saya tidak punya rencana seperti itu kok." Ekspresi Shizuku tidak berubah.
Noa tidak bisa
membedakan apakah itu sekadar gengsi atau hal yang sebenarnya. "He~h, apakah itu cuma gengsi?"
"Saya adalah
putri sulung keluarga Isshiki. Perlu menjamin keadilan bagi rakyat biasa
lainnya."
"Hebat
ya, memang pantas disebut pelindung ketertiban. Tapi dari sudut pandangmu, Hojou
cuma rombongan burung gagak yang mengandalkan jumlah saja, kan?"
"Keluarga
Hojou sejak dulu meraih hasil gemilang lewat penggunaan pengawal (yoriki)
yang efektif. Tidak ada alasan bagi saya untuk merendahkannya." Terhadap Shizuku yang tidak memperlihatkan perasaannya
dengan jujur, ketertarikan Noa berkurang dengan cepat.
"Yah, tidak apa-apa,"
Noa memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan.
"Kau tahu
kan penyebab kecelakaan lalu lintas itu?"
"Ya." Reaksi Shizuku sampai di sini sesuai dengan
perkiraannya.
Noa memutuskan
untuk melangkah sedikit lebih dalam.
"Kalau begitu, kau tahu panggilan Void?"
"Tidak......" Sepertinya itu hal yang sebenarnya.
Noa tidak bisa
menyembunyikan rasa kecewanya. Gagasan
bahwa Shizuku Isshiki adalah sejenis dengannya ternyata merupakan prasangka Noa
saja.
"Dorongan
menuju kematian yang tiba-tiba muncul adalah salah satunya. Ini bukan penyakit.
Singkatnya, penanganan secara medis tidak akan menyembuhkannya. Mari kita
usahakan agar sebisa mungkin tidak mengalihkan pandangan darinya."
"......Anda
tahu secara detail ya."
"Ada orang
yang paham soal pengawal. Cuma menjual kembali pengetahuan orang lain
kok." Noa menaikkan bahunya.
"Oh iya,
kenyataan bahwa bahunya tidak bisa diangkat, jujur saja, aku tidak tahu.
Sepertinya kau punya sumber informasi yang sangat spesial, ya."
"......"
Melihat Shizuku
terdiam, Noa tersenyum.
Akhirnya ia bisa
melihat emosi gadis itu bergerak.
"Saya tidak
akan mengatakan apa-apa. Namun, sebaiknya kamu Extra hati-hati mengenai sumber
informasimu."
"Ya.
Tentu saja." Tanpa ada hal yang
perlu dibicarakan lagi, keduanya mengambil tas masing-masing.
Dan, saat
momen yang paling tak terduga datang—
"Ngomong-ngomong, rokmu memendek cukup banyak ya." Gerakan Shizuku seketika terhenti.
Merasakan kepuasan yang luar biasa, Noa meninggalkan ruang kelas sambil tertawa.
◇◇◇
Bagaimana bisa
jadi seperti ini? Nanase Hikari, yang
menjabat sebagai ketua kelas Kelas A, mendengarkan pengumuman pagi dari wali
kelas dengan wajah terperanjat.
"Sekian, hak
pilih kelas dari tiga orang telah diterima. Bersama dengan tiga orang yang
sudah berpindah sebelumnya, dengan ini Kelas A..."
"...jumlah
siswanya menjadi dua puluh empat orang."
Tiga hari sejak hari pertama masuk sekolah.
Hanya dalam waktu
tiga hari, Kelas A berada di ambang kehancuran.
"......Tujuan
mereka ke mana?"
Tanya seseorang
di wali kelas pagi. Para teman sekelas berkumpul, dan ini adalah situasi di
mana kepanikan seharusnya disembunyikan.
Namun, Hikari
tidak dapat menahan suara gemetarnya.
"Ke Kelas
K."
Guru tua dengan
rambut beruban yang terikat rapi itu menatapnya dengan tatapan iba.
Selagi merasakan
pusing yang luar biasa, Hikari perlahan menyandarkan tubuhnya ke sandaran
kursi.
——Ini aneh, pikirnya.
Hikari adalah
putri keempat dari keluarga Nanase yang terhubung dengan Delapan Belas Keluarga
Utama.
Meskipun
kedudukan keluarganya tinggi, ia hanyalah putri keempat, sehingga posisi ketua
kelas yang seharusnya dipegang oleh Hojou Noa, putri sulung keluarga Hojou,
justru harus ditanggung oleh Hikari. Padahal, mengapa bisa jadi seperti
ini?
——Keanehan ini sudah dimulai sejak hari
pertama.
Kabarnya, Isshiki
Shizuku dari Delapan Belas Keluarga Utama tidak datang ke sekolah pada hari
pertama dan telah menggunakan hak pilih kelasnya sebelum orientasi. Saat itu,
Hikari memandang remeh situasi tersebut.
Ia
menginterpretasikannya secara praktis, berpikir bahwa Shizuku hanya terpesona
oleh pemuda tampan di Kelas K dan mengambil tindakan impulsif karena dorongan
hasrat usia muda.
——Bahkan seorang
pelindung ketertiban pun tidak bisa menang melawan hasrat seksual di usianya. Ia
berpikir sampai ke tahap itu.
Langkah awal
Akademi Shirayuki adalah mengamati situasi, sehingga tidak ada penyelidikan
mendalam yang dilakukan.
Lalu hari
berikutnya——yaitu kemarin, Shinonome Yukari yang merupakan tangan kanan Hojou
Noa, juga menggunakan hak pilih kelasnya.
"Mereka cuma
bertengkar kok." Saat ditanya
alasannya oleh wali kelas, Hojou Noa bersikap tidak peduli seperti itu.
Dada Hikari
terasa berdebar kencang. Ada sesuatu yang aneh.
Tujuan Shinonome
Yukari adalah Kelas K yang sama dengan Isshiki Shizuku.
Seolah-olah ada
sesuatu di sana. Namun, pemilihan setiap komite langsung dimulai, sehingga
Hikari menyadari ia tidak bisa mengusutnya lebih jauh.
Dan kemudian, hal
yang lebih aneh terjadi.
Hojou Noa, yang
merupakan kandidat paling kuat untuk posisi ketua kelas, tidak mengacungkan
tangannya. Ia juga tidak mengacungkan tangan untuk posisi wakil ketua kelas
maupun ketua komite olahraga.
"Yukari
sudah tidak ada, jadi sekarang aku tidak sedang berminat." Hojou Noa bahkan mengutarakan hal itu di
hadapan banyak orang.
Dasar aktris
yang hebat, pikir Hikari.
Namun, tak peduli
berapa kali ia memeriksa, skor kredit pemuda di Kelas K itu begitu rendah
sampai-sampai belum pernah ia lihat sebelumnya, menunjukkan kurangnya kesadaran
bermasyarakat secara jelas.
——Jika memilih
pria, pertama-tama lihatlah skor kreditnya. Jangan pernah memilih berdasarkan
wajah.
Itu adalah
kata-kata yang terus diulang oleh ibunya sampai telinganya panas.
Kepribadian pria, skor kredit adalah segalanya.
Kepedulian terhadap wanita, jiwa pengabdian pada masyarakat,
ketekunan, semuanya terangkum dalam angka-angka tersebut.
Skor kredit yang rendah menandakan pria tersebut membenci
wanita, mengabaikan pengabdian kepada masyarakat, dan memiliki sifat pemalas.
Namun, dari Kelas B pun ada dua orang pengawal (yoriki) Hojou Noa yang
berpindah ke Kelas K, Begitulah informasi yang sampai ke telinganya.
——Kalau begitu,
ini adalah diagnosis palsu.
Hikari sampai
pada satu hipotesis paling awal. Tindakan membuat dokter pribadi mengeluarkan
diagnosis palsu untuk mengurung pria dan menyembunyikan skor rendahnya.
Di era modern di
mana pengawasan begitu ketat, hal seperti itu hampir tidak pernah terlihat
lagi, tetapi ia hanya bisa memikirkan kemungkinan itu.
——Meski begitu,
membingungkan mengapa Isshiki dan Hojou bergerak bersamaan.
Ia merasa
penyelidikan lebih lanjut diperlukan. Namun, Kichijouji Susumu, murid laki-laki
Kelas A, menyerahkan tugas sebagai ketua kelas kepadanya, sehingga penyelidikan
murid Kelas K tersebut terpaksa ditunda.
Aturan awal di
Akademi Shirayuki adalah mengamati situasi, dan hal itu justru mendatangkan
situasi seperti sekarang.
"Kelas K
kini telah mencapai kapasitas penuh. Mulai sekarang, penggunaan hak pilih kelas
tidak dapat diterapkan lagi." Sesuatu yang tidak biasa sedang terjadi.
Hikari merasa
diserang oleh perasaan aneh seolah-olah hanya dirinya yang ditinggalkan oleh
dunia.
Jabatan terhormat
sebagai ketua kelas di kelas peringkat atas, kini terasa persis seperti
belenggu di kakinya.
"Pemberitahuan cukup sekian. Dengan ini wali kelas selesai."
Guru tua itu
memberikan pandangan penuh kepedulian kepada Hikari sebagai penutup, lalu
melangkah keluar dari kelas. Setelah
suara pintu tertutup rapat, ruang kelas dikuasai oleh keheningan yang berat.
Hikari hanya bisa
menatap papan tulis dengan tatapan kosong.
"Nanase,
buat ulang." Suara rendah bergema
seolah meresap ke dalam ruang kelas yang hening.
Saat
menoleh, di sana berdiri Kichijouji Susumu, murid laki-laki yang tetap
memeriksa dokumen di tangannya secara diam-diam terlepas dari situasi darurat
ini.
"Buat
ulang?" Ia berdiri perlahan lalu melemparkan dokumen di tangannya ke atas
meja Hikari.
Itu
adalah draf pembagian tugas festival olahraga yang dibuat Hikari hingga larut
malam atas permintaan Kichijouji Susumu kemarin. Melihat lembaran kertas yang
berserakan, Kichijouji Susumu menatapnya.
Tubuhnya
yang terlatih dengan tinggi 184 cm bahkan memberikan rasa intimidasi tersendiri
bagi Kelas A yang memiliki tinggi rata-rata siswi 155 cm. Sepasang matanya yang tanpa emosi hanya
menatap Hikari yang ada di bawahnya.
"......Rencana
awal adalah pembagian tim yang berpusat pada Hojou Noa. Ini butuh sedikit
waktu." Tenggorokannya terasa kering.
Pikirannya
tidak bisa terorganisasi dengan baik. "Susunan sementara saja tidak apa-apa. Selesaikan penyusunan ulang
untuk satu tahun ke depan lebih dulu, lalu evaluasi kelayakannya."
"......Satu
tahun?"
"Jika ada
tugas lain yang ingin diprioritaskan, aku mengizinkan untuk mengajukan
usul."
Ia tidak bisa
mengatakan bahwa ia ingin menyelidiki murid laki-laki di Kelas K. Menunjukkan
ketertarikan pada murid laki-laki di kelas lain adalah hal yang tabu.
"......Tidak."
"Baguslah."
"Sampaikan
kemajuanmu pada awal minggu, lalu inventarisasi jika ada kekhawatiran atau
kendala." Selesai bicara, Kichijouji Susumu kembali ke kursinya perlahan.
Yang tersisa di
tempat itu hanyalah daftar pembagian tim festival olahraga yang sia-sia dan
keheningan yang tidak menyenangkan.
Melihat
Kichijouji Susumu yang mengangkat wajahnya.
Ia telah
kehilangan minat pada keanehan kelas dan sedang memeriksa daftar tempat
pengabdian masyarakat di laptopnya.
Melihat sosoknya
yang seolah menjadi perwujudan Rasionalitas Ketertiban itu sendiri, Hikari
merasakan kejanggalan yang tak tertuliskan dalam kata-kata.
***
(Sebenarnya
apa yang sedang terjadi?) Di toilet wanita yang paling jauh
dari kelas, Hikari menuntut penjelasan dari teman-teman sekelas yang berhasil
ia kumpulkan.
"K-Kami
juga tidak mengerti apa-apa......"
"Aku
tidak bertindak menonjol kok. Tolong selidiki soal Kelas K."
"T-Tunggu,
kalau bicara soal penyelidikan...... apa yang harus diselidiki?"
Sikap mereka
membuat rasa kesal Hikari tak tertahankan.
"Pertama-tama,
buat daftar orang-orang yang menggunakan hak pilih kelas ke Kelas K! Lalu
lakukan penyelidikan mengenai kemungkinan diagnosis palsu. Jika itu diagnosis
palsu, laporkan secara rahasia ke rumah sakit yang mengeluarkan diagnosis itu
dan seret mereka!"
"T-Tapi,
walau bilang buat daftar, orang-orang yang menggunakan hak pilih kan tidak
dipublikasikan ke umum......"
"Kalau pakai
kaki pasti tahu kan! Cepat bergerak!"
Mendengar teriakan amarah Hikari, para siswi bergegas keluar dari toilet
wanita.
Melihat
penampilan mereka yang jauh dari representasi Kelas A, tanpa sadar ia menghela
napas panjang.
......Isshiki dan
Hojou, yang mana ya? Baru tiga hari
sejak masuk sekolah.
Yang
mengganggunya adalah fakta bahwa Isshiki Shizuku dan Hojou Noa bergerak hampir
bersamaan.
Pasti salah satu
dari mereka yang merencanakannya, dan yang lainnya menyadari hal itu lalu ikut
menumpang.
Pikiran bahwa
Kelas A telah dipermainkan dan ia ditinggalkan sendirian membuat amarahnya tak
kunjung padam. Ia tidak berniat membiarkan hal ini berakhir begitu saja.
Lalu, ia
mengingat wajah pemuda tampan di Kelas K itu. Jika bukan karena masalah skor
kredit, Hikari pun pasti akan menggunakan hak pilih kelasnya. Lagipula, jika
bukan karena diagnosis palsu itu, Toudou Mizuki seharusnya bisa berada di Kelas
A.
Dengan kata lain,
ini adalah hasil dari tindakan tidak adil.
Rasa amarahnya
kian membesar tanpa batas.
——Aku tidak
akan memaafkannya.
Monopoli tidak
adil terhadap pria telah menentukan takdir kemusnahannya sejak zaman dahulu.
Hikari
membisikkan kata-kata itu seolah memuntahkannya dari lubuk hati yang paling
dalam, penuh dengan kebencian.
"Pasti akan kukirim kalian ke tiang eksekusi."
Illustrasi | ToC | Chapter 2


Post a Comment