Epilog
"Kalau begitu, ini kemenanganku ya! Hore~!"
Tepuk tangan bergema di dalam ruang klub
sastra. Aku dan Jun bertepuk tangan pelan sambil menepuk bahu masing-masing
dengan gulat kecewa.
Nanaha-senpai mengangkat kedua tangannya
dengan polos, mengukir senyuman lebar di wajahnya.
Hari ini pun tidak ada yang berubah.
Pertarungan novel membuahkan kemenangan mutlak bagi Nanaha-senpai seorang diri.
"Sial! Seperti biasa, dia wanita yang
menarik ya. Novelnya, maksudku. Pokoknya bakal kuanalisis dan kujadikan
referensi."
"Karakter, pandangan dunia, sampai
perkembangannya bagus semua, jadi tidak bisa ditandingi."
"Novel kalian berdua juga sangat seru
lho! Jangan pedulikan menang atau kalah, ayo kita
saling membantai lagi."
"Dasar berserker kreator... Yah,
nanti bakal kulayani lagi sih."
"Aku juga."
Setelah pertarungan novel selesai, para
anggota klub melakukan apa yang ingin mereka lakukan masing-masing. Ada yang
bersiap untuk pulang, ada yang mulai membaca novel, dan ada juga yang menulis.
Ini adalah hari-hari biasa di klub sastra.
Sambil meresapi kekalahan yang menyisakan rasa
kesal meski terasa nyaman, aku membereskan barang-barangkanku.
"Hari ini melakukan rutinitas itu
lagi?"
"Ya. Kalau begitu, aku duluan."
Setelah mengucapkan salam seadanya, aku keluar
dari ruang klub.
Sekitar dua bulan telah berlalu sejak saat
itu. Karena tidak pulang selama sehari, aku membuat Jun, Nanaha-senpai, dan
keluargaku sangat khawatir, sampai-sampai aku dimarahi habis-habisan. Soal
dunia paralel dan semacamnya, selain Nanaha-senpai, tidak ada yang percaya,
jadi aku tetap menyembunyikannya dengan alasan seadanya. Gara-gara itu aku
dimarahi sekali lagi, tetapi bagaimanapun juga kehidupanku sudah kembali
seperti semula. Tanpa disadari, musim telah mencapai pertengahan musim panas,
ujian akhir semester telah usai, dan kami hanya tinggal menunggu liburan musim
panas.
Suhu udara tidak kunjung turun meski hari
sudah sore. Di bawah langit senja yang hanya sedikit lebih mendingan dari
sebelumnya, aku meninggalkan sekolah dengan seragam musim panas yang dibasahi
keringat.
Sejak saat itu, aku memiliki sebuah rutinitas
harian.
Baik saat menghadiri kegiatan klub sastra
maupun tidak, aku tidak langsung pulang ke rumah.
Aku melewati kota tua dan berjalan di depan
Kuil Himurokigaoka. Di dalam area kuil tempat pohon-pohon rindang membuat suara
gesekan daun, tampak seorang kakek warga sekitar sedang berkunjung untuk
beribadah.
Aku terus berjalan menuju ke arah bekas area
terlarang.
Terowongan itu—Terowongan Pertama
Himurokigaoka—terlihat seperti terowongan yang sangat biasa. Di siang hari,
hutan tempat Iwakura bersemayam di atas terowongan hanya terlihat seperti
pepohonan hijau yang mewarnai kota.
Aku sudah berulang kali berpikir apakah
Tsukino ada di tengah terowongan itu, tetapi aku tahu hal seperti itu tidak
akan terjadi lagi.
Begitu melewatinya, aku segera sampai di
tujuan. Sebuah taman di Higashi-machi yang pernah kukunjungi bersama Tsukino.
Anak-anak yang menunggu suhu udara sedikit
mereda di sore hari sedang bermain dengan alat permainan. Sambil berharap agar
mereka berhati-hati terhadap heatstroke, aku meminum sisa teh gandum di botol
plastik, lalu duduk di bangku taman.
Bangku tempat aku memikirkan bad end bersama
Tsukino ini memiliki atap, sehingga cuaca terik yang menyengat jadi sedikit
lebih mendingan.
Aku mengeluarkan laptop dan mulai melakukan
pekerjaan seperti biasa. Fan laptop yang diberi penanganan anti-overheat
meraung keras, tetapi aku berusaha tidak terlalu memikirkannya.
Rutinitas harian itu tentu saja adalah
memikirkan bad end. Novel panjang Seishun Killers yang kupikirkan setengah
jalan bersama Tsukino terus kutulis sejak hari itu, dan akhirnya kini hampir
mencapai klimaks.
Setelah Tsukino menghilang, mungkin karena
hubungan antardunia sudah terputus, jejak-jejak keberadaannya makin lama makin
menghilang.
Kamar Tsukino sudah kembali menjadi gudang
seperti semula pada saat dia kembali. Hanya barang-barang kecil yang dibelinya
belakangan yang tersisa, jadi sempat kusimpan di kamarku.
Ayah, Ibu, Jun, dan Nanaha-senpai juga sedikit
demi sedikit berhenti membicarakan dirinya. Masumi Tsukino tidak ada di dunia
ini. Tampaknya semuanya telah kembali ke bentuk yang alami.
Mungkin, satu-satunya orang di dunia ini yang
masih mengingat Tsukino hanyalah aku. Untuk saat ini tidak ada tanda-tanda
ingatanku memudar, tetapi jika aku sampai melupakannya, aku mungkin tidak akan
sadar bahwa aku telah melupakannya. Hal itulah yang membuatku cemas.
"Mungkin, Tsukino juga memikirkan hal
yang sama."
Jika berpikir bahwa ada orang lain yang
memiliki kecemasan yang sama, kecemasan yang tak terobati ini jadi sedikit
mereda.
Ketika memikirkan kembali alasan kenapa dua
dunia bisa terhubung, aku masih merasa ada yang janggal. Jika lokasinya adalah
area terlarang, tindakannya adalah ritual, dan syaratnya hanya periode waktu
tertentu, harusnya warga sekitar yang sehari-hari sering menggunakan terowongan
itu sudah berbondong-bondong menyeberang dunia.
Mungkin saja ada satu alasan lagi. Misalnya,
Tsukino, yang telah kehilangan banyak hal, merindukan dunia di mana hal itu
tidak terjadi. Aku, yang memiliki kecenderungan bad end sebagai minoritas,
sedang mencari seseorang yang bisa menerimaku. Perasaan dari dua keberadaan
yang sama—mirip namun berbeda—saling bertumpuk, hingga akhirnya menghubungkan
dunia satu dengan dunia lainnya.
Ini cuma khayalanku saja.
Namun, meski cuma khayalan, aku tidak ingin
menghilangkan hubungan itu. Aku tidak ingin kalah oleh rasa cemas bahwa
hubungan ini suatu saat akan terputus. Tsukino adalah keberadaan yang sama
denganku, sangat sesuai dengan seleraku, dan fetish-nya pun cocok. Jejak
keberadaan Tsukino yang seperti itu akan kupertahankan di sini bagaimanapun
caranya.
Aku menyukai bad end. Aku suka saat hatiku
hancur berkeping-keping oleh bad end, dan aku juga suka melihat wajah pembaca
yang meringis kesakitan. Aku membayangkan ekspresi Tsukino—yang merupakan
diriku sekaligus pembacaku—yang berada di antara kenikmatan mental dan
penderitaan yang hancur berkeping-keping dalam rasa kenikmatan terlarang.
Mengoyak hati Tsukino dengan novel ini akan
berujung pada kesenanganku sendiri, dan karya yang bisa melakukan hal itu
harusnya bisa menghancurkan hati para pembaca hingga berkeping-keping.
"Novel
ini adalah buktinya. Bad end terburuk demi tujuan itu. Extreme Bad End milikku
dan Tsukino."
Aku menekan papan ketik, membangun adegan
klimaks.
Tanpa sadar sudut bibirku terangkat, bahkan
tawa pelan sempat terlepas dari mulutku. Agar tidak menakuti anak-anak yang
sedang bermain dengan polosnya, aku menutupi mulutku dan terus menuangkan
gairahku ke dalam papan ketik.
Seishun Killers yang dipoles dari cerita yang
kubuat di sini bersama Tsukino menjadi kisah buddy antara tokoh utama dan sang
heroine.
Tokoh utama yang terus-menerus menerima
perundungan intens, termasuk kekerasan berlebihan dari teman sekelasnya, mulai
berubah setelah bertemu dengan sang heroine yang tidak ragu untuk membalas
dendam.
Balas dendam kepada teman sekelas yang mereka
mulai perlahan meluas menjadi pertarungan melawan kelompok gangster (geng
kriminal) di balik layar, hingga berkembang menjadi pertarungan melawan musuh
yang jauh lebih kuat.
Sebuah drama kepemudaan di mana dua orang
dengan nasib serupa saling memahami satu sama lain. Kebangkitan bakat membunuh
yang tersembunyi dalam diri tokoh utama. Banyaknya rasa kehilangan dan
penyesalan akibat rantai balas dendam.
Di ujung perjalanan itu, sang tokoh utama
mengetahui bahwa sejak awal sang heroine hanya memanfaatkannya, dan bahwa sang
heroine-lah yang mengendalikan benang merah di balik banyaknya rasa kehilangan
tersebut.
Sang heroine hanya memanfaatkan tokoh
utama demi balas dendamnya sendiri. Sambil dihujani tawa ejekan dari sang
heroine, tokoh utama menghabisi nyawa sang heroine dengan tangannya sendiri.
Balas dendam, kebencian, maupun cinta,
semuanya adalah palsu. Tanpa mendapatkan apa-apa, sang tokoh utama yang
kehilangan segalanya di akhir cerita hanya bisa meratap histeris, dan semuanya
pun berakhir.
Aku menghembuskan napas yang tanpa sadar
sempat kuhentikan. Sambil merasakan udara memenuhi paru-paruku, aku selesai
menulis kalimat terakhir.
Saat mendongak ke langit, tanpa disadari,
matahari senja telah tenggelam. Walau titik balik Matahari musim panas
(solstice) sudah lewat, harusnya siang hari masih lumayan panjang. Baru
sekarang aku sadar bahwa aku telah menulis dengan konsentrasi penuh dalam waktu
yang sangat lama.
Setelah ini aku akan masuk ke tahap
penyuntingan (proofreading), tetapi aku memiliki keyakinan bahwa aku baru saja
menulis bad end terbaik yang pernah ada. Aku penasaran bagaimana reaksi Jun,
Nanaha-senpai, dan anggota klub lainnya. Harusnya aku telah menggambar bad end
yang menarik sebagai hiburan, sekaligus sanggup merobek-robek hati.
Hanya saja, Tsukino tidak akan pernah membaca
novel ini.
Aku sudah menerimanya sejak lama. Aku akan
menempuh jalanku di duniaku sendiri. Harusnya aku sudah memutuskan hal itu.
Meskipun begitu, setelah selesai menulis, aku
merasa ada sesuatu yang kurang. Apakah bad end-nya masih belum cukup, ataukah—
Sambil menahan helaan napas yang hampir lolos,
aku menutup perangkat lunak pengolah kata yang sedang digunakan.
Aku merasakan kejanggalan pada tampilan layar.
File Seishun Killers bertambah. Aku tidak
ingat pernah membuat file bertuliskan rincian "Version 2".
Dengan
penuh curiga, aku membuka file tersebut. Jumlah total
halaman berbeda dari yang baru saja selesai kutulis, dan di bagian akhir ada
kalimat tambahan bertuliskan tinta merah. Itu adalah sinopsis yang belum berbentuk
novel. Namun, jalurnya berbeda dari akhir cerita yang kutulis.
Setelah menghabisi sang heroine, tokoh utama
melihat rekaman video yang ditinggalkan olehnya. Video itu berisi permohonan
maaf dan ucapan perpisahan kepada tokoh utama. Sang heroine selama ini terus
memendam rasa bersalah kepada tokoh utama. Dari video itu, rasa suka yang tanpa
kebohongan tersampaikan dengan jelas. Sang heroine berniat mencabut nyawanya
sendiri setelah menyelesaikan semuanya.
Namun, tokoh utama yang mengejar sang heroine
yang hendak pergi malah mencacinya dengan kata-kata kotor, lalu membunuhnya
setelah menyiksanya sekeji-keji-nya. (※ Di sini masukkan ekspresi gore sadis yang
penuh totalitas) Tokoh utama menyadari bahwa tawa ejekan maupun rintihan
memohon ampun yang buruk di akhir hayat sang heroine semuanya hanyalah akting
agar tokoh utama tidak merasa bersalah. Jika dia mengetahuinya lebih awal, dia
tidak akan membunuh sang heroine. Tokoh utama baru menyadarinya setelah
semuanya terlambat.
Seolah bertubi-tubi, berita melaporkan bahwa
para penjahat yang hilang akibat dibunuh oleh tokoh utama sebenarnya sudah
ditetapkan untuk diadili oleh hukum. Niat hati membunuh musuh yang tidak bisa
diadili oleh hukum, dirinya justru malah menghalangi keadilan hukum. Muncul
pula orang-orang yang putus asa karena para penjahat itu menghilang dan tidak
bisa diadili.
Keputusan yang diambil tokoh utama tidak
melahirkan apa pun selain kemalangan. Apa yang dilakukannya pun tidak ada
artinya. Padahal jika dia mau, dia bisa saja mundur di suatu tempat. Dia hanya bisa
menangis meraung-raung.
"Ini
More Hell!"
"Sudden
Strike. Namun, itu adalah More Hell yang juga merupakan Endless Causal
Ouroboros: The End."
Di bawah cahaya bulan, rambut hitam
berayun dengan tenang. Mawar hitam dan perak berpendar samar.
Ia duduk tepat di sampingku. Sangat dekat
hingga ujung rok seragamnya menyentuhku.
Mata sayupnya terlihat tajam dan dingin,
tetapi kenikmatan akan bad end memancarkan kehangatan. Di atas kulit putihnya,
bibir yang merah merona membentuk sebuah lengkungan.
Yang ia letakkan di atas meja adalah laptop
model lama yang dibawanya waktu itu. Saat jari-jari putihnya mengoperasikan
laptop, folder berbagi di perangkat lunak cloud sedang terbuka. Tulisan Version
2 adalah salinan dari Seishun Killers yang ditambahi olehnya.
"Tsukino!?"
"Ya, Asahi-ku yang satu lagi."
Aku pikir ini ilusi. Namun, di sana ada
senyuman Tsukino, hembusan napasnya, bahkan More Bad-nya pun ada. Satu-satunya
hal yang berbeda hanyalah seragamnya yang berubah menjadi pakaian musim panas
berupa blus lengan pendek. Karena suhu udara yang tidak kunjung turun meski
sudah malam, rambut hitamnya yang lembap terasa makin nyata.
Bahkan ketika aku mencoba mengatakan atau
menanyakan sesuatu, suaraku tidak keluar. Melihatku yang seperti itu, ia
memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Setelah saat itu, tahu. Aku, Nanaha-senpai, dan Jun mencoba meneliti lebih
lanjut tentang legenda kamikakushi. Lalu, kami tahu kalau periode terjadinya
hal seperti itu tidak cuma sekali dalam setahun. Makanya… aku mencobanya."
Tsukino mengalihkan pandangannya ke arah
Terowongan Pertama Himurokigaoka. Karena terhalang rumah-rumah warga,
terowongannya sendiri hanya terlihat sedikit, tetapi Iwakura memang benar-benar
ada di sana.
"Makanya. Aku datang untuk menemui
orang yang kusukai."
Setelah mengatakan hal itu, ia menundukkan
kepalanya. Rambut hitamnya terurai, meluncur menutupi area telinganya yang
memerah.
Mungkin, tidak, sudah pasti wajahku juga sama
merahnya.
"Aku juga menyukaimu. Aku ingin bertemu
denganmu."
Tsukino mengangkat wajahnya. Jarak kami makin
terkikis. Aku merasakan sentuhan yang luar biasa lembut dan hangat. Kami berdua
saling merasakannya.
"...Kali ini, buatlah bad end terburuk
yang kutulis bersamaku."
"Tentu.
Bad end yang bakal merobek-robek hati."
""More Bad! More
Hell!""
Kami menyodorkan kepalan tangan dan
melakukan fist bump beberapa kali.
Aku ingin tahu lebih banyak tentang
dirinya.
Karena dia adalah diriku.


Post a Comment