Chapter 1
Satu Cerita tentang Laut, Penginapan,
Festival, dan Tempat-Tempat Tak Terduga
Musim hujan telah berakhir, dan
hawa panas bulan Juli mulai terasa makin menyengat.
“Duh, tak sabar menunggu liburan
musim panas tiba.” “Aku sangat menantikan konser-konser musik musim panas!”
“Aku sudah dapat izin untuk ambil sif tambahan di tempat kerja paruh waktu,
jadi aku bakal panen uang banyak!”
Ujian akhir semester telah usai,
dan dengan makin dekatnya liburan musim panas, teman-teman sekelasku tampak
sangat antusias. Sebagai siswa kelas dua SMA dengan ujian masuk perguruan
tinggi yang masih jauh, sebagian besar obrolan yang terdengar adalah tentang
rencana bersenang-senang dan jalan-jalan.
Bahkan aku—seorang penyendiri yang
biasanya berpura-pura tidur saat jam istirahat—diam-diam merasa sangat
bersemangat sambil menungkupkan wajah di atas meja. Alasannya sederhana:
nilaiku pada ujian akhir semester cukup bagus, dan uang saku bulanku dinaikkan.
“…………”
Sembari mengingat-ingat kembali,
selama ini aku hanya menjalani ujian sekadarnya, tidak begitu bagus dan tidak
pula terlalu buruk. Namun kali ini, aku belajar di perpustakaan dan kafe
bersama Miran yang telah mengundangku.
Dulu aku punya prasangka kalau
gadis-gadis gyaru (anak muda yang sangat memperhatikan penampilan) tidak
pandai dalam hal belajar, tetapi aku dibuat terkejut saat mengetahui bahwa
Miran sepuluh kali lebih pintar dariku.
Hanako-san dan Atsuki-san, dua
teman gyaru Miran, bergabung dengan kelompok belajar kami di tengah
jalan. Melalui kombinasi saling mengajari dan belajar bersama, kami berhasil
meraih nilai yang lebih tinggi daripada yang pernah kami capai sebelumnya.
“Liburan musim panas… Aku harus
melakukan apa, ya?”
Dengan bertambahnya uang saku,
pilihan kegiatanku untuk liburan musim panas jadi makin luas. Membeli dan
menenggelamkan diri dalam gim baru terdengar menyenangkan… Atau aku bisa pergi
kencan yang terkesan agak bergaya bersama Miran…
Saat sedang hanyut dalam bayangan
indah tentang musim panas, aku tak sengaja mendengar percakapan Miran dan
teman-temannya yang tampak makin bersemangat.
“Ayo kita liburan musim panas kali
ini!” “Wah, ide bagus tuh! Mungkin ke suatu tempat di dekat laut?” “Pasti seru banget! Aku juga
mau pergi ke festival!”
Begitu ya… Miran dan
teman-temannya sedang merencanakan liburan musim panas. Tipikal kaum ekstrover
sekali.
Membayangkan anak-anak SMA
pergi berlibur tanpa didampingi keluarga terasa sedikit mengkhawatirkan… Tapi
Miran adalah sosok yang bertanggung jawab, dan bersama teman-teman gyaru-nya,
mereka harusnya akan baik-baik saja…
Saat aku sedang memikirkan hal
itu dengan perasaan protektif, mendadak aku merasakannya tepukan pelan di
bahuku.
“Hei, hei, Shuji, kalau kamu bisa
memilih, kamu mau pergi ke mana?”
“…Eh!? Aku?”
Aku agak lambat mencerna
pertanyaan yang tak terduga itu. Ketika aku menengadah, tunanganku si gadis gyaru
yang baru saja menepuk bahuku sedang tersenyum cerah.
“Pergi… ke mana?” “Sama seperti
yang baru saja kami bicarakan, liburan!”
Rupanya dia tahu kalau aku sedang
menguping.
“Apakah aku… ikut dimasukkan ke
dalam rencana liburan itu!?” “Tentu saja!” “Memangnya itu sudah pasti!?”
Apakah benar-benar tidak apa-apa
kalau seorang penyendiri sepertiku ikut pergi berlibur bersama para gadis gyaru,
meskipun salah satu dari mereka adalah tunanganku sendiri?
Saat aku melirik ke arah
Hanako-san dan Atsuki-san, mereka justru berujar, “Eh, kamu nggak ikut?” dan
“Tentu saja kamu harus ikut, kan?”
“Tapi aku kan cowok, kalau ikut
bergabung… bukankah itu agak…”
Aku ragu-ragu seraya berbicara
kepada Hanako-san dan Atsuki-san. Sampai belum lama ini, aku masih berbicara
formal kepada mereka, tetapi selama sesi belajar untuk ujian akhir kemarin,
mereka memaksa agar kami berbicara santai saja, dengan alasan “panggilan formal
itu menyebalkan”.
Meskipun aku sudah menjadi makin
akrab dengan mereka melalui Miran, pergi berlibur bersama seorang laki-laki
rasanya tetap kurang etis dari segi kesopanan. Seingatku, aku pernah mendengar
kalau Hanako-san sudah punya pacar…
Saat aku sedang memikirkan hal
itu, Hanako-san dengan santai menyela, “Aku baru saja putus sama pacarku, jadi
santai saja.”
“Itu sih…”
Pernyataannya yang terkesan santai
itu membuatku bingung harus merespons bagaimana. Haruskah aku mengucapkan bela
sungkawa? Menunjukkan rasa simpati? Aku kehilangan kata-kata, hingga Atsuki-san
menambahkan dengan acuh tak acuh, “Nggak usah dipikirkan. Itu hal biasa buat
Hanako. Kali ini malah bertahan lumayan lama, kan?”
“Apakah… begitu…?”
Konsep sering jadian dan putus
adalah hal yang sangat asing bagiku, seorang penyendiri yang tidak familier
dengan urusan asmara. Sementara Hanako-san dan Atsuki-san tampak biasa saja,
Miran terlihat agak khawatir… Setidaknya reaksi Miran lebih dekat dengan apa
yang kurasakan, dan itu cukup menenangkan.
Mencoba mengarahkan kembali
jalannya percakapan, Hanako-san dan Atsuki-san berkata, “Lagi pula enaknya ada
cowok pas liburan jauh itu sangat praktis. Shuji kan pacarnya Miran, jadi
pilihan yang aman banget, haha.” “Iya, dijamin aman! Kamu harus ikut liburan
ya!”
Apa maksud mereka dengan kata
‘aman’…?
Aku memutuskan untuk mengabaikan
tawa mereka untuk sementara waktu…
“Li-liburan… Liburan ya…”
Aku bingung harus merespons
bagaimana. Bukan berarti aku tidak mau pergi berlibur bersama Miran dan yang
lainnya. Tapi… aku merasa ragu karena belum pernah pergi berlibur dengan siapa
pun selain keluarga. Setidaknya mentalitas penyendiriku belum siap untuk
memberikan jawaban secara langsung.
“Hei, Shuji,” Hanako-san makin
mendekat dan berbisik padaku sambil menyeringai, “Kamu mungkin bisa melihat
Miran pakai baju renang lho waktu liburan nanti. Kamu nggak mau?”
“B-baju renang…!?”
Miran dalam balutan baju
renang… Aku memang pernah melihatnya memakai baju renang sekolah yang standar
saat pelajaran olahraga renang, tapi belum pernah melihatnya memakai baju
renang pribadi.
Kata-katanya menghantamku
dengan godaan yang kuat. Kemudian Atsuki-san, setelah saling bertukar pandang
dengan Hanako-san, ikut berbisik, “Kamu juga mungkin bisa melihat dia pakai yukata.”
“Yukata…!?”
Membayangkan Miran mengenakan yukata…
Tentu saja, aku belum pernah melihat pemandangan langka seperti itu sebelumnya.
Kucoba membayangkan tunanganku
dalam balutan baju renang dan yukata, tetapi sebagai seorang otaku
penyendiri, aku terlalu minim pengalaman dunia nyata untuk bisa merajut kedua
bayangan itu di kepalaku!
“Kalian berbisik-bisik soal
apa sih?”
Miran memiringkan kepalanya karena
penasaran. Hanako dan Atsuki merespons, “Cuma lagi membahas betapa menariknya
liburan nanti,” lalu menjauh sambil menyeringai ke arahku.
“Pacarnya Miran pasti makin
kebelet mau ikut liburan, ya?” “Dia kelihatan tergoyahkan banget, kan?”
Mendengar komentar teman-temannya,
Miran kembali bertanya padaku.
“Shuji, bagaimana pendapatmu
tentang rencana liburan ini? Tapi… jangan merasa tertekan kalau kamu memang
tidak mau ya.”
Miran menatapku dengan perpaduan
rasa antusias dan ragu-ragu.
“Aku… ――”
Menatap ke arahnya, aku acungkan
jempol dan mendeklarasikannya.
“Aku ikut liburan…!”
“Benarkah!? Aku senang
banget!”
Miran tersenyum lebar penuh
kebahagiaan, sementara teman-temannya terkikik di belakangnya.
Bukan berarti aku memutuskan
ikut hanya karena ingin melihat Miran pakai baju renang atau yukata!
Hanya saja, pergi berlibur khusus bagi anak-anak gadis SMA sendirian terasa
berbahaya, dan kupikir tak ada salahnya pergi ke tempat yang jauh untuk mencari
suasana baru—kebetulan saja kepentingan kami saling sejalan…
Saat aku mencoba membenarkan
keputusanku dalam hati, aku justru makin ditertawakan oleh teman-temannya.
“Kamu punya tempat tujuan yang
ingin dikunjungi nggak, Shuji?”
Kembali ke pertanyaan awal,
tetapi sebagai orang yang menghabiskan waktunya di dalam rumah, aku tidak bisa
memikirkan tempat mana pun secara spontan.
“Yah… aku ikut apa kata kalian
bertiga saja…!”
Hanya itu batas kemampuanku.
Ketiga gadis itu kemudian makin
antusias membicarakan rencana liburan tersebut, menyusun ide serakah untuk
mencari festival musim panas di dekat laut dan menjadikannya sebagai tujuan
kami.
Selagi mereka mendiskusikan
detail-detail kecil seperti durasi menginap hingga pilihan antara penginapan
tradisional (ryokan) atau hotel, aku mendadak teringat satu hal penting
yang harus ditanyakan.
“Ngomong-ngomong, aku tahu ini
agak terlambat untuk menanyakannya, tapi… apakah orang tua kalian akan
mengizinkan pergi berlibur dan menginap?”
Rasanya cukup berisiko bagi
anak-anak SMA pergi menginap sendirian, dan ada kemungkinan besar orang tua
akan keberatan, terutama untuk anak perempuan.
“Hmm, kurasa orang tuaku bakal
membolehkan kok,” “Kurasa orang tuaku juga oke-oke saja,” jawab Hanako dan
Atsuki sedikit ambigu.
Miran mengangguk setuju.
“Kurasa orang tuaku juga tidak
akan masalah.” “Kalau begitu… bagaimana kalau kita pastikan lagi ke orang tua
masing-masing lebih dulu? Sekadar untuk aman saja.”
Jika kita tidak mendapat izin dari
orang tua, rencana liburan ini bisa batal total. Jadi, berdasarkan saranku,
kami memutuskan untuk memfinalisasi detail liburan baru setelah mendapatkan
izin resmi dari orang tua.
“Penasaran apa yang bakal
dikatakan orang tuaku…”
Apakah mereka akan mengizinkanku
pergi berlibur? Mengingat aku selalu mengurung diri di rumah setiap hari libur,
mereka mungkin akan terkejut dan keberatan jika aku mendadak bilang mau pergi
berlibur bersama para gadis…
Begitulah yang kupikirkan, sampai…
“Liburan, ya? Pergi saja!
Bersenang-senanglah di sana!”
Itulah respons instan dari orang
tuaku saat aku membuka pembicaraan mengenai rencana liburan tersebut.
Ayahku menyetujuinya tanpa ragu
sedikit pun, dan ibuku bahkan sampai terharu hingga meneteskan air mata.
“Shuji-ku tercinta, pergi berlibur
bersama teman-temannya… Ibu senang sekali.”
Yah… aku memang sempat mengira hal
ini sangat mungkin terjadi, berkaca dari pengalamanku sebelumnya. Pengalaman
memang tidak pernah berbohong.
“Apakah kalian benar-benar tidak
keberatan kalau aku pergi berlibur selama liburan musim panas?” “Ya, tentu
saja!” jawab mereka serempak.
Jadi, aku berhasil mendapatkan
persetujuan mereka untuk pergi berlibur… Namun, tiadanya keraguan dari mereka
justru membuatku jadi makin cemas.
“Kalian yakin? Ini liburan yang
cuma diisi anak-anak SMA lho. Apa kalian tidak khawatir?” “Yah… kalau cuma
Shuji sendirian sih Ayah bakal khawatir, tapi kalau ada Miran-chan, harusnya
bakal baik-baik saja, kan?”
Ayahku tampak tenang, dan ibuku
mengangguk setuju, “Kalau ada Miran-chan, Ibu tidak khawatir sama sekali.”
Tampaknya mereka jauh lebih
mempercayai Miran daripada diriku sendiri.
“Tapi tetap saja, aku ini
satu-satunya cowok… Apa kalian tidak punya rasa cemas sedikit pun?”
Saat aku mengutarakan kecemasanku,
ibuku terkekeh pelan.
“Shuji kan tidak berbahaya, jadi
Ibu sama sekali tidak khawatir. Bahkan kalau pergi bersama beberapa gadis
sekaligus, itu tidak membuat Ibu cemas.”
“Bukankah itu komentar yang agak
keterlaluan?”
Apakah itu sebuah ejekan atau
bentuk kepercayaan…?
Merasa harga diriku sebagai
seorang laki-laki sedikit terluka—suatu hal yang biasanya tak pernah
kupikirkan—ayahku berdeham dan berujar.
“Yang lebih penting, Shuji,
pastikan kamu melindungi para gadis itu.” “Soal itu… iya…”
Aku satu-satunya laki-laki di
grup. Kurasa itu adalah salah satu alasan mengapa para gadis gyaru
mengajakku berlibur. Yah, masih menjadi misteri apakah aku, seorang penyendiri,
mampu menjalankan peran itu atau tidak…
Saat aku mengangguk dalam
keraguan, ibuku bertanya padaku.
“Kamu kelihatan murung, Shuji. Apa
kamu tidak mau pergi berlibur bersama Miran dan yang lainnya?” “Bukan, bukan
begitu tapi…”
Ini adalah pertama kalinya aku
pergi berlibur bersama teman-teman sekelas—dan kelompok ini berisi tunanganku
beserta dua orang gadis lainnya. Sifat dari perjalanan ini yang sangat tidak
bisa ditebak membuatku makin cemas menjelang keberangkatan.
“Yah, santai saja dan nikmati
perjalananmu.” “Uh, iya…”
Bab 1: Satu
Cerita tentang Laut, Penginapan, Festival, dan Tempat-Tempat Tak Terduga
Musim hujan telah berakhir, dan
hawa panas bulan Juli mulai terasa makin menyengat.
“Duh, tak sabar menunggu liburan
musim panas tiba.” “Aku sangat menantikan konser-konser musik musim panas!”
“Aku sudah dapat izin untuk ambil sif tambahan di tempat kerja paruh waktu,
jadi aku bakal panen uang banyak!”
Ujian akhir semester telah usai,
dan dengan makin dekatnya liburan musim panas, teman-teman sekelasku tampak
sangat antusias. Sebagai siswa kelas dua SMA dengan ujian masuk perguruan
tinggi yang masih jauh, sebagian besar obrolan yang terdengar adalah tentang
rencana bersenang-senang dan jalan-jalan.
Bahkan aku—seorang penyendiri yang
biasanya berpura-pura tidur saat jam istirahat—diam-diam merasa sangat
bersemangat sambil menungkupkan wajah di atas meja. Alasannya sederhana:
nilaiku pada ujian akhir semester cukup bagus, dan uang saku bulanku dinaikkan.
“…………”
Sembari mengingat-ingat kembali,
selama ini aku hanya menjalani ujian sekadarnya, tidak begitu bagus dan tidak
pula terlalu buruk. Namun kali ini, aku belajar di perpustakaan dan kafe
bersama Miran yang telah mengundangku.
Dulu aku punya prasangka kalau
gadis-gadis gyaru (anak muda yang sangat memperhatikan penampilan) tidak
pandai dalam hal belajar, tetapi aku dibuat terkejut saat mengetahui bahwa
Miran sepuluh kali lebih pintar dariku.
Hanako-san dan Atsuki-san, dua
teman gyaru Miran, bergabung dengan kelompok belajar kami di tengah
jalan. Melalui kombinasi saling mengajari dan belajar bersama, kami berhasil
meraih nilai yang lebih tinggi daripada yang pernah kami capai sebelumnya.
“Liburan musim panas… Aku harus
melakukan apa, ya?”
Dengan bertambahnya uang saku,
pilihan kegiatanku untuk liburan musim panas jadi makin luas. Membeli dan
menenggelamkan diri dalam gim baru terdengar menyenangkan… Atau aku bisa pergi
kencan yang terkesan agak bergaya bersama Miran…
Saat sedang hanyut dalam bayangan
indah tentang musim panas, aku tak sengaja mendengar percakapan Miran dan
teman-temannya yang tampak makin bersemangat.
“Ayo kita liburan musim panas kali
ini!” “Wah, ide bagus tuh! Mungkin ke suatu tempat di dekat laut?” “Pasti seru banget! Aku juga
mau pergi ke festival!”
Begitu ya… Miran dan
teman-temannya sedang merencanakan liburan musim panas. Tipikal kaum ekstrover
sekali.
Membayangkan anak-anak SMA
pergi berlibur tanpa didampingi keluarga terasa sedikit mengkhawatirkan… Tapi
Miran adalah sosok yang bertanggung jawab, dan bersama teman-teman gyaru-nya,
mereka harusnya akan baik-baik saja…
Saat aku sedang memikirkan hal
itu dengan perasaan protektif, mendadak aku merasakannya tepukan pelan di
bahuku.
“Hei, hei, Shuji, kalau kamu bisa
memilih, kamu mau pergi ke mana?”
“…Eh!? Aku?”
Aku agak lambat mencerna
pertanyaan yang tak terduga itu. Ketika aku menengadah, tunanganku si gadis gyaru
yang baru saja menepuk bahuku sedang tersenyum cerah.
“Pergi… ke mana?” “Sama seperti
yang baru saja kami bicarakan, liburan!”
Rupanya dia tahu kalau aku sedang
menguping.
“Apakah aku… ikut dimasukkan ke
dalam rencana liburan itu!?” “Tentu saja!” “Memangnya itu sudah pasti!?”
Apakah benar-benar tidak apa-apa
kalau seorang penyendiri sepertiku ikut pergi berlibur bersama para gadis gyaru,
meskipun salah satu dari mereka adalah tunanganku sendiri?
Saat aku melirik ke arah
Hanako-san dan Atsuki-san, mereka justru berujar, “Eh, kamu nggak ikut?” dan
“Tentu saja kamu harus ikut, kan?”
“Tapi aku kan cowok, kalau ikut
bergabung… bukankah itu agak…”
Aku ragu-ragu seraya berbicara
kepada Hanako-san dan Atsuki-san. Sampai belum lama ini, aku masih berbicara
formal kepada mereka, tetapi selama sesi belajar untuk ujian akhir kemarin,
mereka memaksa agar kami berbicara santai saja, dengan alasan “panggilan formal
itu menyebalkan”.
Meskipun aku sudah menjadi makin
akrab dengan mereka melalui Miran, pergi berlibur bersama seorang laki-laki
rasanya tetap kurang etis dari segi kesopanan. Seingatku, aku pernah mendengar
kalau Hanako-san sudah punya pacar…
Saat aku sedang memikirkan hal
itu, Hanako-san dengan santai menyela, “Aku baru saja putus sama pacarku, jadi
santai saja.”
“Itu sih…”
Pernyataannya yang terkesan santai
itu membuatku bingung harus merespons bagaimana. Haruskah aku mengucapkan bela
sungkawa? Menunjukkan rasa simpati? Aku kehilangan kata-kata, hingga Atsuki-san
menambahkan dengan acuh tak acuh, “Nggak usah dipikirkan. Itu hal biasa buat
Hanako. Kali ini malah bertahan lumayan lama, kan?”
“Apakah… begitu…?”
Konsep sering jadian dan putus
adalah hal yang sangat asing bagiku, seorang penyendiri yang tidak familier
dengan urusan asmara. Sementara Hanako-san dan Atsuki-san tampak biasa saja,
Miran terlihat agak khawatir… Setidaknya reaksi Miran lebih dekat dengan apa
yang kurasakan, dan itu cukup menenangkan.
Mencoba mengarahkan kembali
jalannya percakapan, Hanako-san dan Atsuki-san berkata, “Lagi pula enaknya ada
cowok pas liburan jauh itu sangat praktis. Shuji kan pacarnya Miran, jadi
pilihan yang aman banget, haha.” “Iya, dijamin aman! Kamu harus ikut liburan
ya!”
Apa maksud mereka dengan kata
‘aman’…?
Aku memutuskan untuk mengabaikan
tawa mereka untuk sementara waktu…
“Li-liburan… Liburan ya…”
Aku bingung harus merespons
bagaimana. Bukan berarti aku tidak mau pergi berlibur bersama Miran dan yang
lainnya. Tapi… aku merasa ragu karena belum pernah pergi berlibur dengan siapa
pun selain keluarga. Setidaknya mentalitas penyendiriku belum siap untuk
memberikan jawaban secara langsung.
“Hei, Shuji,” Hanako-san makin
mendekat dan berbisik padaku sambil menyeringai, “Kamu mungkin bisa melihat
Miran pakai baju renang lho waktu liburan nanti. Kamu nggak mau?”
“B-baju renang…!?”
Miran dalam balutan baju
renang… Aku memang pernah melihatnya memakai baju renang sekolah yang standar
saat pelajaran olahraga renang, tapi belum pernah melihatnya memakai baju
renang pribadi.
Kata-katanya menghantamku
dengan godaan yang kuat. Kemudian Atsuki-san, setelah saling bertukar pandang
dengan Hanako-san, ikut berbisik, “Kamu juga mungkin bisa melihat dia pakai yukata.”
“Yukata…!?”
Membayangkan Miran mengenakan yukata…
Tentu saja, aku belum pernah melihat pemandangan langka seperti itu sebelumnya.
Kucoba membayangkan tunanganku
dalam balutan baju renang dan yukata, tetapi sebagai seorang otaku
penyendiri, aku terlalu minim pengalaman dunia nyata untuk bisa merajut kedua
bayangan itu di kepalaku!
“Kalian berbisik-bisik soal
apa sih?”
Miran memiringkan kepalanya karena
penasaran. Hanako dan Atsuki merespons, “Cuma lagi membahas betapa menariknya
liburan nanti,” lalu menjauh sambil menyeringai ke arahku.
“Pacarnya Miran pasti makin
kebelet mau ikut liburan, ya?” “Dia kelihatan tergoyahkan banget, kan?”
Mendengar komentar teman-temannya,
Miran kembali bertanya padaku.
“Shuji, bagaimana pendapatmu
tentang rencana liburan ini? Tapi… jangan merasa tertekan kalau kamu memang
tidak mau ya.”
Miran menatapku dengan perpaduan
rasa antusias dan ragu-ragu.
“Aku… ――”
Menatap ke arahnya, aku acungkan
jempol dan mendeklarasikannya.
“Aku ikut liburan…!”
“Benarkah!? Aku senang
banget!”
Miran tersenyum lebar penuh
kebahagiaan, sementara teman-temannya terkikik di belakangnya.
Bukan berarti aku memutuskan
ikut hanya karena ingin melihat Miran pakai baju renang atau yukata!
Hanya saja, pergi berlibur khusus bagi anak-anak gadis SMA sendirian terasa
berbahaya, dan kupikir tak ada salahnya pergi ke tempat yang jauh untuk mencari
suasana baru—kebetulan saja kepentingan kami saling sejalan…
Saat aku mencoba membenarkan
keputusanku dalam hati, aku justru makin ditertawakan oleh teman-temannya.
“Kamu punya tempat tujuan yang
ingin dikunjungi nggak, Shuji?”
Kembali ke pertanyaan awal,
tetapi sebagai orang yang menghabiskan waktunya di dalam rumah, aku tidak bisa
memikirkan tempat mana pun secara spontan.
“Yah… aku ikut apa kata kalian
bertiga saja…!”
Hanya itu batas kemampuanku.
Ketiga gadis itu kemudian makin
antusias membicarakan rencana liburan tersebut, menyusun ide serakah untuk
mencari festival musim panas di dekat laut dan menjadikannya sebagai tujuan
kami.
Selagi mereka mendiskusikan
detail-detail kecil seperti durasi menginap hingga pilihan antara penginapan
tradisional (ryokan) atau hotel, aku mendadak teringat satu hal penting
yang harus ditanyakan.
“Ngomong-ngomong, aku tahu ini
agak terlambat untuk menanyakannya, tapi… apakah orang tua kalian akan
mengizinkan pergi berlibur dan menginap?”
Rasanya cukup berisiko bagi
anak-anak SMA pergi menginap sendirian, dan ada kemungkinan besar orang tua
akan keberatan, terutama untuk anak perempuan.
“Hmm, kurasa orang tuaku bakal
membolehkan kok,” “Kurasa orang tuaku juga oke-oke saja,” jawab Hanako dan
Atsuki sedikit ambigu.
Miran mengangguk setuju.
“Kurasa orang tuaku juga tidak
akan masalah.” “Kalau begitu… bagaimana kalau kita pastikan lagi ke orang tua
masing-masing lebih dulu? Sekadar untuk aman saja.”
Jika kita tidak mendapat izin dari
orang tua, rencana liburan ini bisa batal total. Jadi, berdasarkan saranku,
kami memutuskan untuk memfinalisasi detail liburan baru setelah mendapatkan
izin resmi dari orang tua.
“Penasaran apa yang bakal
dikatakan orang tuaku…”
Apakah mereka akan mengizinkanku
pergi berlibur? Mengingat aku selalu mengurung diri di rumah setiap hari libur,
mereka mungkin akan terkejut dan keberatan jika aku mendadak bilang mau pergi
berlibur bersama para gadis…
Begitulah yang kupikirkan, sampai…
***
“Liburan, ya? Pergi saja!
Bersenang-senanglah di sana!”
Itulah respons instan dari orang
tuaku saat aku membuka pembicaraan mengenai rencana liburan tersebut.
Ayahku menyetujuinya tanpa ragu
sedikit pun, dan ibuku bahkan sampai terharu hingga meneteskan air mata.
“Shuji-ku tercinta, pergi berlibur
bersama teman-temannya… Ibu senang sekali.”
Yah… aku memang sempat mengira hal
ini sangat mungkin terjadi, berkaca dari pengalamanku sebelumnya. Pengalaman
memang tidak pernah berbohong.
“Apakah kalian benar-benar tidak
keberatan kalau aku pergi berlibur selama liburan musim panas?” “Ya, tentu
saja!” jawab mereka serempak.
Jadi, aku berhasil mendapatkan
persetujuan mereka untuk pergi berlibur… Namun, tiadanya keraguan dari mereka
justru membuatku jadi makin cemas.
“Kalian yakin? Ini liburan yang
cuma diisi anak-anak SMA lho. Apa kalian tidak khawatir?” “Yah… kalau cuma
Shuji sendirian sih Ayah bakal khawatir, tapi kalau ada Miran-chan, harusnya
bakal baik-baik saja, kan?”
Ayahku tampak tenang, dan ibuku
mengangguk setuju, “Kalau ada Miran-chan, Ibu tidak khawatir sama sekali.”
Tampaknya mereka jauh lebih
mempercayai Miran daripada diriku sendiri.
“Tapi tetap saja, aku ini
satu-satunya cowok… Apa kalian tidak punya rasa cemas sedikit pun?”
Saat aku mengutarakan kecemasanku,
ibuku terkekeh pelan.
“Shuji kan tidak berbahaya, jadi
Ibu sama sekali tidak khawatir. Bahkan kalau pergi bersama beberapa gadis
sekaligus, itu tidak membuat Ibu cemas.”
“Bukankah itu komentar yang agak
keterlaluan?”
Apakah itu sebuah ejekan atau
bentuk kepercayaan…?
Merasa harga diriku sebagai
seorang laki-laki sedikit terluka—suatu hal yang biasanya tak pernah
kupikirkan—ayahku berdeham dan berujar.
“Yang lebih penting, Shuji,
pastikan kamu melindungi para gadis itu.” “Soal itu… iya…”
Aku satu-satunya laki-laki di
grup. Kurasa itu adalah salah satu alasan mengapa para gadis gyaru
mengajakku berlibur. Yah, masih menjadi misteri apakah aku, seorang penyendiri,
mampu menjalankan peran itu atau tidak…
Saat aku mengangguk dalam
keraguan, ibuku bertanya padaku.
“Kamu kelihatan murung, Shuji. Apa
kamu tidak mau pergi berlibur bersama Miran dan yang lainnya?” “Bukan, bukan
begitu tapi…”
Ini adalah pertama kalinya aku
pergi berlibur bersama teman-teman sekelas—dan kelompok ini berisi tunanganku
beserta dua orang gadis lainnya. Sifat dari perjalanan ini yang sangat tidak
bisa ditebak membuatku makin cemas menjelang keberangkatan.
“Yah, santai saja dan nikmati
perjalananmu.”
“Uh, iya…”
Aku mengangguk, dan ibuku
menambahi dengan penuh kebaikan,
“Kalau kamu butuh uang
saku tambahan untuk liburan nanti, bilang saja pada kami ya.” “Benarkah?
Boleh?”
Sembari mencondongkan
badan ke depan dengan antusias, kulihat kedua orang tuaku bertukar senyum, lalu
ibuku berujar,
“Nanti uang sakumu
akan Ibu berikan lebih awal (kasbon).” “Uh…!”
Ternyata memang tidak
ada makan siang yang gratis di dunia ini. Dan sebenarnya berapa biaya yang dibutuhkan untuk
perjalanan liburan nanti…?
“…………”
Tergantung ke mana kami
pergi dan di mana kami menginap, sepertinya uang saku tambahan yang kudapatkan
dari kenaikan uang bulanan kemarin akan habis tak bersisa untuk perjalanan ini.
Pemikiran ini
memberikan beban tersendiri bagiku. Meski begitu, gagasan pergi berlibur
bersama Miran dan yang lainnya tetap membuatku bersemangat, mencampurkan rasa
cemas dan antusias menjadi satu.
***
Tampaknya Miran dan
yang lainnya juga telah mendapatkan persetujuan dari orang tua masing-masing,
sehingga perjalanan liburan musim panas kami resmi dikonfirmasi.
Kami membuat grup REIN
untuk memutuskan detail perjalanan serta jadwal acara—aku lebih banyak
mengikuti arus dari apa yang diinginkan oleh para gadis gyaru,
siap melakukan riset dan membagikan informasi kapan pun dibutuhkan.
Satu-satunya hal yang
benar-benar kukirimkan sebagai permintaan adalah agar kami dapat menekan biaya
perjalanan ke tingkat yang masuk akal dan cocok untuk kantong anak SMA.
Aku berharap kami bisa
memfinalisasi rencananya sebelum liburan musim panas dimulai. Namun kemudian…
“Semuanya terputuskan
dengan cepat sekali…!”
Aku dibuat terpana
oleh jumlah notifikasi di grup REIN setelah selesai mandi.
Tipikal gadis
ekstrover sekali, kurasa.
Sementara aku pasti
akan menghabiskan banyak waktu untuk mempertimbangkan setiap keputusan, para
gadis gyaru
itu dengan cepat memilih destinasi, tanggal, dan tempat penginapan kami. Pada
akhir hari di mana grup tersebut dibuat, rencana perjalanan kami sudah hampir
terencana sepenuhnya.
“Dua hari satu malam…”
Sesuai dengan rencana
awal yang bikin penasaran, kami memutuskan untuk menginap di sebuah penginapan
dekat laut, bersamaan dengan digelarnya festival besar musim panas.
“Pantai dan festival…!”
Rencananya adalah
menikmati pantai pada hari pertama dan festival pada hari berikutnya. Para
gadis gyaru
itu bahkan sudah memesan persewaan yukata di dekat lokasi festival,
dan aku tidak bisa menahan tawa melihat betapa antusiasnya mereka.
“Biayanya adalah…”
Atsuki yang mengurus
bagian reservasi mengabarkan rincian biaya per orang kepada kami.
“Baguslah kalau begitu…”
Aku merasa lega melihat
nominalnya. Biayanya tetap berada di batas yang wajar, tepat seperti yang
kuharapkan. Kami akan pergi menggunakan kereta, tidak terlalu jauh, jadi
sepertinya aku bisa mengatasinya hanya dengan mengambil uang saku di muka untuk
satu bulan…!
“Tapi… apa aku benar-benar
bisa menangani itinerary ini…?”
Membayangkan rencana
liburannya saja sudah bikin kewalahan, apalagi ditambah dengan agenda pantai
dan festival yang makin membuatnya terasa berat bagi seorang tipe rumahan kelas
berat sepertiku.
Namun…
“Miran dalam balutan baju
renang dan yukata…”
Kata-kata Hanako dan
Atsuki kembali terngiang di kepalaku.
Bayangan berada di dekat
tunanganku dalam penampilan langka seperti itu membuatku merasa sama
bersemangatnya dengan rasa gugup yang kurasakan.
Di tengah cuaca terik
akhir bulan Juli—
Liburan musim panas
akhirnya dimulai.
Biasanya, aku akan mulai
bermalas-malasan di rumah sejak hari pertama, tetapi tahun ini berbeda. Aku
belum pernah memiliki rencana besar selama liburan musim panas sebelumnya, jadi
aku merasa gelisah meskipun masih ada beberapa hari tersisa sebelum hari H
keberangkatan.
“Apakah barang bawaan
seperti ini sudah oke…?”
Aku sudah selesai
bersiap-siap untuk perjalanan nanti, tetapi aku terus mengeceknya berulang kali
karena merasa khawatir.
“Apakah aku harus membawa
kompas kalau-kalau nanti kami tersesat? Dan mungkin kamus bahasa Inggris
kalau-kalau harus berbicara dengan orang asing… Tidak, itu bikin tas jadi
terlalu berat…”
Saat aku sedang
merenungkan barang bawaanku yang makin menumpuk, ponselku berdering. Aku bergegas
mengambilnya—itu adalah pesan REIN dari Miran.
“Ada apa, ya?”
Membuka aplikasi REIN,
beberapa saat kemudian, aku dibuat bungkam oleh apa yang tampil di layarku.
“A-apa-apaan ini!?”
Aku merasa seperti
tersambar petir!
Pesan REIN dari Miran
disertai dengan tulisan—
“Baju renang baru yang
kubeli, bagaimana menurutmu?”
Bersamaan dengan pesan
itu, ada sebuah foto.
Foto itu memperlihatkan
Miran yang secara malu-malu mengintipkan wajahnya dari balik tirai kamar ganti—
“Dalam balutan baju
renang—!?”
Meskipun terhalang oleh
tirai, itu tampak jelas seperti baju renang, dengan sekelibat kulit dan kain
yang samar-samar terlihat. Sayangnya, tampilan penuhnya tidak kelihatan jelas…!
Namun meski begitu—
“Dia… terlalu imut…!”
Aku bisa merasakan wajahku
makin memanas.
Aku terombang-ambing oleh
keinginan untuk terus mengagumi foto tersebut, tetapi aku segera kembali ke
realita.
“Benar, aku harus
mengirim balasan…!”
Tapi aku belum pernah
memberikan masukan untuk baju renang seorang gadis sebelumnya. Apa yang harus
kutulis…? Balasan yang pendek jelas tidak boleh, dan pujian yang terlalu
blak-blakan rasanya kurang cukup! Sulit sekali…
“Anu… anu…”
Aku harus membalasnya
dengan cepat!
Mengarahkan seluruh pengalamanku, aku dengan cepat mengetik dan mengirimkan kata-kata terbaik yang bisa kupikirkan.
(Pengirim: Shuji
Halo, selamat
beristirahat (^^) Aku sudah mengecek perkiraan cuaca di internet secara
berkala, dan sepertinya kemungkinan besar hari H liburan kita akan cerah. Lega
ya. Tapi sepertinya bakalan cukup panas, jadi kita harus benar-benar menyiapkan
pencegahan heatstroke
(sengatan panas). Lalu mungkin kita juga butuh plester obat dan semacamnya
kalau-kalau ada yang terluka. Tenang saja, aku sudah menyiapkan semua barang
yang sekiranya dibutuhkan (^-^)
Lalu mengenai topik
utama soal baju renang baru, menurutku baju itu sangat cocok dengan kulit putih
mulus Miran, kaki dan lenganmu yang jenjang, serta warna rambutmu yang cerah
(^^)/ Meskipun di foto cuma kelihatan sebagian, justru karena itulah terpancar
atmosfer misterius, anggun, sekaligus bikin berdebar yang membuatku makin tidak
sabar menantikan hari liburan kita.)
Miran terlihat
malu-malu di foto itu, jadi kucoba mengirimkan balasan yang tulus secara
santai… tapi aku ragu apakah pesanku menyampaikan maksudku dengan baik.
“Harusnya aku menulis
lebih banyak ya? Tapi kalau nulis kepanjangan juga kayaknya nggak bagus deh.”
Saat aku membaca ulang
pesanku dan kembali memandangi foto Miran—
“Lho?”
Tepat ketika aku mengira
fotonya menghilang, rupanya foto itu telah ditarik kembali (unsend).
Di tengah kebingunganku,
bertubi-tubi pesan penuh kepanikan kemudian masuk dari Miran.
Miran:
Uwah!! Maaf banget!!
Foto yang tadi itu dikirim
sembarangan sama Hanako dan yang lainnya buat usil!!
Aku malu banget, jadi
tolong lupakan foto tadi ya!! ðŸ˜
Shuji:
Oh, ternyata begitu! Siap, dimengerti (^^)/
Meskipun dia sudah
menariknya kembali, gambar tersebut sudah terlanjur membekas di ingatanku,
membuatnya tidak mungkin untuk dilupakan.
“Terima kasih, para
sahabat gyaru.”
Aku merasa sedikit
menyesal karena tidak menyimpannya di memori ponselku yang sebenarnya, tetapi
dalam hati aku menyampaikan rasa terima kasih kepada teman-teman gyaru-nya
itu.
Apakah aku harus menghapus komentarku juga…?
Saat aku sedang
merenungkan hal itu, pesan lain masuk dari Miran.
(Pengirim: Hanatsukimi Miran
Tapi, tanggapan panjangmu
lucu banget wkwk
Kurasa aku lumayan senang
dapet kesan-kesannya (*'ω'*) Liburannya makin bikin tak sabar ya!)
Membaca pesannya, rasa
antusias untuk liburan makin tumbuh di dalam diriku. Setelah membalas pesan
Miran, aku sekali lagi memeriksa ulang segala persiapan liburanku dengan sangat
teliti.
Dan kemudian, hari keberangkatan pun makin dekat—
***
Pada pagi hari
keberangkatan, aku sudah merasa pusing dan melayang.
Alasannya sederhana.
Rasa antusias dan cemas
membuatku tidak bisa tidur nyenyak semalaman.
Membayangkan harus
menghadapi agenda luar ruangan seperti pantai dan festival saja sudah membuat
diriku dipenuhi rasa cemas.
“Hati-hati di jalan ya.”
“Sampaikan salam kami
untuk Miran dan yang lainnya!”
Dilepas oleh kedua orang
tuaku, aku pun meninggalkan rumah sambil membawa tas besar.
“Iya, aku berangkat
dulu…!”
Saat berjalan di luar di
bawah teriknya sinar matahari, aku merasa agak was-was karena tas bawaanku
terasa cukup ringan.
Persiapan liburan yang
sebelumnya kulakukan secara berlebihan, telah dipangkas habis-habisan setelah
mendapatkan kritik tajam dari ibuku kemarin.
“Belum ada yang datang
ya…?”
Aku tiba lebih awal di
titik kumpul dekat stasiun, tetapi karena aku datang terlalu cepat, belum ada
satu pun dari para gadis gyaru yang terlihat.
Cobalah untuk sedikit
menenangkan diri…
Saat aku sedang
mencari tempat berteduh di dekat patung yang cukup mencolok, sebuah suara ceria
yang familier memanggilku.
“Shuji, selamat pagi!”
Aku berbalik dan
melihat tunanganku berlari ke arahku, membuat kesadaranku mendadak terkumpul
penuh saat melihatnya.
Kupikir aku sudah
terbiasa dengan penampilannya yang modis, tetapi hari ini dia tampak bersinar
makin cerah di bawah paparan sinar matahari, terlihat sangat cantik luar biasa.
Kembali ke realita,
dengan canggung aku memeriksa penampilanku sendiri lalu melambaikan tangan.
“Selamat pagi…! Kamu
datang cepat sekali, Miran.”
“Aku bangun pagi-pagi
sekali karena terlalu bersemangat. Kamu
juga datang cepat, Shuji!”
“Yah, aku juga bangun lebih awal.”
Lebih tepatnya, aku hampir tidak tidur sama
sekali…
“Bikin antusias banget, ya!”
“Iya, benar sekali…!”
Aku mengangguk membalas senyuman Miran yang
tanpa beban.
Meskipun merasa cemas
dan tegang, aku jujur merasa sangat antusias dan berdebar-debar menantikan
acara yang akan datang.
Saat kami sedang
mengobrol tentang rencana pergi langsung ke pantai dari penginapan serta
kembang api di festival musim panas, Hanako dan Atsuki tiba tepat waktu.
“Pagi~”
“Kukira aku bakal
terlambat karena membawa bawaan sebanyak ini~”
Melihat kedua teman gyaru-nya
mengenakan pakaian kasual yang modis, aku jadi khawatir akan terlihat mencolok
di antara mereka.
Tidak, menjadi tak
terlihat di antara tiga orang gadis gyaru itu jelas mustahil, jadi aku
memutuskan untuk tidak mengganggu kenyamanan mereka saja.
“Bawaanmu kebanyakan tuh,
Atsuki,” puji Hanako dengan nada sedikit gemas, dan Miran pun terkekeh.
Atsuki membawa barang
bawaan yang hampir sebanyak rencana awal bawaanku.
Merasakan ikatan simpati,
aku pun memberanikan diri menawarkan bantuan.
“Bisa kubantu bawakan?
Barang bawaanku tidak terlalu banyak kok.”
“Benarkah? Terima kasih
ya, pacarnya Miran!”
Membawa cukup banyak
barang memang memberikan rasa aman tersendiri!
Merasa mantap oleh
beratnya barang bawaan, kami semua akhirnya berkumpul dan naik ke kereta menuju
destinasi tujuan.
Setelah beberapa kali
berganti kereta, kami menaiki kereta yang membawa kami langsung ke sana.
Karena masih ada cukup
banyak waktu sebelum tiba, para gadis gyaru itu asyik menikmati obrolan
seru khas anak perempuan.
“…………”
Mendengarkan percakapan
mereka, lama-kelamaan aku tertidur lelap.
“Kita sudah hampir
sampai!”
Dibangunkan oleh Miran,
aku membuka mata dan melihat pemandangan di luar jendela kereta telah berubah
drastis.
Meskipun kami tidak
tinggal di kota besar, pemandangan tenang di luar sana terasa sangat
menyejukkan hati.
“Luar biasa… pemandangan
yang indah…”
Aroma samar air laut
mengelus hidungku, membangkitkan rasa nostalgia.
“Pacar, kamu tadi pingsan
total ya.”
“Apa kamu semalam terlalu
bersemangat sampai tidak bisa tidur? wkwk”
Diejek oleh teman-teman gyaru-nya,
aku tidak keberatan sama sekali. Kesadaran bahwa kami benar-benar sedang
berlibur mendadak menaikkan semangatku.
Setelah turun dari kereta
dan keluar dari stasiun, antusiasme kami makin memuncak. Suasana festival musim
panas yang mulai terasa dari stasiun hingga ke area pertokoan terasa sangat
menular.
Dengan deretan stan
dan dekorasi yang mulai dipasang, hawa kemeriahan dari acara besar ini terasa
begitu nyata.
Sambil melewati kota
yang penuh dengan suasana festival, kami naik bus menuju penginapan yang telah
dipesan.
“Lautnya kelihatan
indah banget!”
“Orang-orang sudah
pada berenang tuh!”
“Nggak sabar mau cepat-cepat sampai!”
Para gadis gyaru itu sudah riuh penuh
antusiasme.
Memandang ke arah laut dan para gadis yang
bersemangat tinggi melalui jendela, bus kami terus melaju hingga akhirnya
sampai di penginapan.
“Tempatnya ternyata lebih bagus dari yang
kubayangkan!”
Saat melihat ryokan (penginapan tradisional
Jepang) tersebut, Hanako menyampaikan kesannya, dan dalam hati aku setuju
dengannya.
Ini adalah ryokan dengan harga terjangkau yang
sanggup dibayar oleh anak SMA, jadi kukira bangunan ini akan tua dan kumuh.
Namun ternyata, wujud aslinya jauh lebih bagus daripada yang kulihat di
internet.
Tepat di depan ryokan membentang lautan luas,
lengkap dengan ruang ganti dan fasilitas pancuran di area luar, memungkinkan
kami untuk berenang di laut dan langsung kembali ke penginapan.
“Kami punya reservasi untuk empat orang atas
nama Yamashita Atsuki…”
“Kami sudah menunggu kedatangan Anda. Kamar
Anda adalah kamar ‘Bintang Laut’ di lantai dua.”
Memimpin jalan setelah
menerima kunci di resepsionis ryokan, Atsuki melangkah ke lantai
atas menuju kamar kami. Tentu saja, aku mengekor di belakang ketiga gadis gyaru
itu menuju kamar ‘Bintang Laut’, tetapi kemudian—
“Eh―― Tunggu dulu, cuma
satu kamar!?”
Aku menyerukan kesadaranku
yang terlambat itu dengan terkejut.
Bingung, Atsuki
memiringkan kepalanya seolah ingin berkata, ‘Memangnya kenapa?’
“Iya, kenapa memangnya?”
“Bukan begitu, maksudku,
apakah aku… bakal berbagi kamar dan tidur bareng semuanya!?”
“Ada masalah dengan itu?”
“Bukannya itu masalah
besar…!? Cowok sepertiku menginap se kamar dengan kalian semua!?”
“Ah, santai saja wkwk.
Kami kan harus menekan anggaran, dan cuma tersisa satu kamar yang bisa
dipesan.”
Aku memang meminta harga
yang terjangkau dan cocok untuk anak SMA, tapi…
Apakah aku benar-benar
tidak mengecek berapa kamar yang kami pesan? Tidak, tidak mungkin. Harusnya aku
sudah mengeceknya.
“――――!?”
Mendadak, aku
menyadari Atsuki dan Hanako saling bertukar pandang sambil menyeringai nakal.
Apakah aku baru saja
dijebak…!?
“Tunggu, apa pacarnya
Miran nggak mau se kamar sama kami?” tanya Atsuki sekarang.
Sambil memegangi kepalaku,
aku menatap ke arah Miran dan Hanako.
“Bukannya aku keberatan,
tapi… apa Miran dan Hanako tidak apa-apa kalau aku ada di kamar yang sama…?”
“Aku tidak masalah kok.
Kukira kamu sudah tahu dari awal kalau kita bakal se kamar.”
Rupanya, Miran sudah tahu
sejak awal. Hanako, yang ikut menyeringai bersama Atsuki, juga tidak punya
masalah dengan hal itu.
Yah… toh tidak mungkin
bisa diganti sekarang… dan memang benar kalau cara ini bisa menekan biaya…
“Kalau begitu,
sepertinya aku bakal menginap di kamar yang sama… mohon bantuannya ya…!”
Menginap di kamar yang
sama dengan gadis-gadis gyaru…!
Aku melangkah masuk ke
kamar ‘Bintang Laut’ bersama ketiga gadis gyaru itu, tubuhku kaku diselimuti
ketegangan.
“Kamarnya bagus!”
“Pemandangannya
mantap!”
“Kira-kira ada jimat
atau semacamnya nggak ya di sini wkwk”
Ketiga gadis itu
langsung bersemangat begitu masuk. Kamar kami, meskipun punya nama yang agak
unik, merupakan kamar berkonsep tradisional Jepang yang tenang dan nyaman.
Namun, mengingat
situasinya, aku sama sekali tidak bisa santai. Tidak ada hal lain yang bisa
dilakukan selain pasrah menerima keadaan…!
“Baiklah kalau begitu…”
Aku meletakkan barang
bawaanku dan menarik napas dalam-dalam.
Mulai merasakan rasa lelah
dari perjalanan yang menghampiri tubuhku.
“…………”
Perjalanan ini terasa
begitu panjang.
Meskipun hanya naik kereta
dan bus, bagi seorang penyendiri yang biasa mengurung diri di rumah sepertiku,
ini sudah terasa seperti sebuah petualangan yang sangat besar.
Mungkin aku bakal
bersantai saja di kamar sampai lewat jam makan siang…
Tepat saat itu,
“Ayo kita langsung pergi
ke pantai sekarang!”
Miran mengajukannya dengan
penuh energi, dan Atsuki serta Hanako menyetujuinya dengan antusias, “Ayo!☆”
“Kita mau ke pantai
sekarang juga!?”
Kami baru saja sampai, dan
mereka sudah mau lanjut ke agenda berikutnya…?
Aku dibuat terkejut oleh
kesiapan para gadis ekstrover itu untuk langsung beralih ke langkah
selanjutnya.
“Tentu saja! Kamu juga
ikut, kan?”
“Anu, tadinya aku berpikir
untuk istirahat dulu, tapi…”
Sebelum aku sempat
menyelesaikan kalimatku, para gadis gyaru itu sudah keburu
memanas-manasiku.
“Kamu ikut, kan?
Jangan buang-buang waktu dong,”
“Kita nggak boleh
melewatkan laut dan baju renang yang sudah menunggu kita.”
Yah, kalau sudah sampai di
sini, kurasa aku tidak punya pilihan selain ikut saja…
Terdorong oleh antusiasme
para gadis gyaru
yang energik itu, aku meneguhkan hati dan mengangguk.
“Aku akan bersiap-siap
untuk ke pantai…!”
Aku mengeluarkan baju
renang dan perlengkapan pantai dari dalam tas.
Tapi di mana aku harus
berganti pakaian? Apakah di ruang ganti
luar tidak apa-apa?
Saat aku sedang
merenungkan hal itu—
“――――?”
Mendadak, suara
gesekan pakaian yang dilepas terdengar di telingaku.
Tanpa berpikir
panjang, aku menoleh ke arah sumber suara,
“Wa-wa-wa――!?”
Aku meloncat mundur
karena terkejut melihat apa yang ada di depan mataku.
Di hadapanku—
Ketiga gadis gyaru
itu baru saja hendak melepas pakaian mereka. Aku sempat melihat sekilas kulit
mereka yang biasanya tidak terlihat, dan rasanya seperti jantungku baru saja
dihantam keras.
“Apa yang sedang
kalian lakukan――!?”
Aku mengalihkan
pandanganku secepat kecepatan suara, menutupi mataku dengan kedua tangan seraya
menginterogasi mereka.
Berbanding terbalik
dengan kepanikanku, Hanako merespons dengan tenang,
“Maksudmu apa? Kami kan
sedang berganti pakaian pakai baju renang.”
“Di sini, saat ada aku di
sekitar kalian!?”
“Pacarnya Miran panik
banget, kocak banget deh wkwk”
“Bagaimana bisa ada
orang yang tidak panik dalam situasi seperti ini!?”
“Kami kan tidak sedang
pakai pakaian yang masalah kalau kelihatan wkwk,”
“Lagi pula, kami kan
sudah selesai berganti wkwk.”
“Ha??”
Aku tidak sanggup mencerna
kata-kata Hanako dan Atsuki, kebingungan menyelimuti pikirkanku.
Saat aku berdiri di sana,
bingung sambil menutupi mata, Miran terkekeh dan menjelaskan,
“Kami sudah memakai baju
renang di dalam pakaian kami.”
“Di dalam pakaian
kalian!?”
“Jadi, tidak apa-apa kok
kalau kamu mau melihat.”
Meskipun dia bilang tidak
apa-apa untuk melihat…!
Bingung tapi mencoba
memahami situasinya, aku mengintip ke arah Miran dan yang lainnya dari
sela-sela jariku.
Di dalam pakaian mereka…
Sekarang setelah dia
menyebutkannya, apa yang sempat kuintip di balik pakaian yang setengah terlepas
itu memang lebih tampak seperti baju renang daripada pakaian dalam.
Tapi tetap saja!
Situasi ini terlalu
merangsang bagi mentalitas penyendiriku. Jujur saja, aku tidak bisa membedakan
antara baju renang dan pakaian dalam…!
Menatap mereka secara langsung jelas bukan pilihan. Berada di ruang yang sama saja sudah membuat jantungku rasanya mau lompat keluar dari mulut.
“Aku bakal ganti baju di ruang ganti luar dan pergi ke pantai duluan! Kalian bertiga santai saja bersiap-siapnya.”
Merasa aku bisa pingsan duluan sebelum sempat sampai di pantai, aku bergegas mengambil baju renang serta barang-barangku lalu berlari keluar dari kamar.
***
Setelah berganti pakaian renang, aku menghabiskan waktu beberapa menit di bawah teriknya sinar matahari di pantai berpasir.
“Shuji~! Maaf ya sudah membuatmu menunggu!”
Miran, yang mengenakan kaus di luar baju renangnya, datang menyusulku.
Tunanganku si gadis gyaru itu memang tampil dengan kulit lebih terbuka dari biasanya, tetapi sama sekali tidak ada kesan senonoh. Situasi tadi saja yang terlalu canggung!
Tentu saja, jantungku tetap berdebar kencang melihat penampilan Miran, tetapi suasana pantai membuatnya terasa seperti aku sedang mengagumi sebuah karya seni.
“Lihat, kita pasang tenda di sana di bawah payung pantai itu! Atsuki membawa banyak barang.”
Miran menuntunku dengan menggenggam tanganku.
Hanako dan Atsuki sedang membuka payung pantai dan membentang tikar piknik di bawahnya.
“Reaksi pacarnya Miran tadi kocak banget wkwk.”
“Bagaimana pendapatmu tentang penampilan baju renang kami?”
Saat aku dan Miran mendekat, mereka berdua menoleh ke arah kami.
Merek berdua mengenakan baju renang yang berani, tepat seperti yang kamu harapkan dari para gadis gyaru.
“Itu… mengagumkan, kurasa…”
Kemampuanku untuk merangkai kata telah menurun drastis.
Melihat teman sekelasku mengenakan baju renang pribadi adalah hal yang langka, membuat jantungku kembali berdebar kencang. Tapi dengan Miran dan yang lainnya yang sama-sama memakai baju renang, aku bahkan tidak tahu lagi apa yang membuat jantungku berdebar.
“Gawat! Aku lupa pakai sunscreen!”
“Ah, aku juga! Aku terburu-buru keluar tadi!”
Kedua gadis itu mengeluarkan sunscreen dari tas kecil mereka, dan kemudian, seolah mendapatkan sebuah ide, mereka saling bertukar pandang dengan kesadaran mendadak.
“Bagaimana kalau kita minta tolong pacarnya Miran buat meratakannya? wkwk”
“Ide bagus tuh, wkwk.”
Hanako dan Atsuki menyeringai nakal padaku.
Tentu saja, aku berniat langsung menolaknya saat itu juga. Sungguh, tanpa ragu sedikit pun! Tidak goyah sama sekali!
Tapi sebelum aku sempat bertindak, Miran menarik tanganku dan memberi tahu mereka.
“Apalagi sih, kalian berdua pakai sendiri sana!”
“Iya deh~”
Kedua gadis itu merespons dengan patuh, tetapi terus terkikik geli.
“Kamu sudah pakai sunscreen, Shuji?”
Miran berbalik dan bertanya padaku, dan aku menggelengkan kepala.
“Belum, aku belum pakai.”
Jujur saja, aku hampir tidak pernah berada dalam situasi di mana aku terpapar sinar matahari langsung, jadi aku tidak benar-benar berpikir untuk memakai sunscreen.
“Matahari hari ini terik banget. Jelas lebih baik kalau pakai.”
“Apakah memang perlu…?”
Memang benar, terpapar sinar matahari langsung seperti ini adalah hal yang tidak biasa bagiku, kecuali mungkin saat pelajaran renang di sekolah.
Merasa agak was-was melihat kulitku yang perlahan terpanggang matahari, aku menggaruk kepala.
“Tapi aku tidak membawa sunscreen…”
“Kupinjamkan punyaku ya.”
Miran mengambil wadah sunscreen dari salah satu pouch di atas tikar dan menyerahkannya padaku.
“Terima kasih! Apa kamu sudah pakai, Miran?”
Bukannya aku berharap bisa mengoleskan sunscreen ke tubuh Miran atau semacamnya…! Aku cuma sekadar penasaran saja…!
Merasakan tatapan dari teman-teman gyaru-nya, aku bergegas mengirimkan alasan membela diri di dalam hati.
“Aku sudah memakainya sampai rata sebelum keluar dari rumah tadi.”
“Tentu saja sudah…!”
Bukan berarti aku kecewa ya, jadi jangan menatapku seperti itu, wahai para gadis gyaru.
Menerima sunscreen dari Miran, aku mulai mengoleskannya secara terburu-buru ke wajah dan tanganku.
Tapi bagaimana cara mengoleskannya ke punggung?
Setelah selesai mengoleskannya di area yang terjangkau oleh tanganku, aku pun terdiam.
Miran mengambil sunscreen dari tanganku dan berpindah ke belakangku.
“Kubantu oleskan di punggungmu ya.”
“Eh?”
Sebelum aku sempat merespons, sensasi dingin menyebar di punggungku.
Sentuhan jari-jemari lenturnya yang menelusuri punggungku memicu rasa geli, dan aku memutar tubuhku karena panik.
“A-aku bisa oleskan sendiri kok, Miran!”
“Bagian punggung itu gampang kelewat tahu. Biarkan aku yang meratakannya.”
“Tapi ini geli banget…! Aku sudah tidak apa-apa kok…!”
“Aku belum selesai meratakannya dengan benar!”
Mencoba bergerak menjauh, Miran memegang pinggangku dengan erat. Merasakan jemarinya di tempat yang biasanya tidak pernah kurasakan, aku makin meliuk-liuk karena geli.
Lalu tanpa sengaja, aku bersentuhan dengan Miran yang ada di belakangku.
“――――!?”
Sensasi kelembutan tersalurkan langsung ke punggungku, dan aku seketika membeku kaku.
Selama momen itu, Miran mengoleskan sunscreen ke punggungku hingga rata, sementara teman-teman gyaru-nya tertawa terbahak-bahak melihat pemandangan tersebut.
“…………”
Meskipun situasinya agak kacau, laut yang kumasuki setelah sekian lama terasa begitu dingin dan menyegarkan.
Aku dulu sering berenang di kolam renang, tetapi sudah sangat lama sejak terakhir kali aku pergi ke laut.
Saat aku sedang merenung sambil merasakan sapuan ombak di kakiku—
“Uwah――!?”
Cipratan air mendadak mengenai wajahku.
Merasakan asinnya air laut, aku berbalik dan menemukan tunanganku si gadis gyaru sebagai pelakunya.
“Miran!?”
Dia telah melepas kaus yang dikenakannya tadi, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang dibalut baju renang serta belahan dada yang mengintip samar. Aku secara tak sadar terpesona dan mendadak kaku.
“Shuji, terima ini!”
Miran, yang masih terkekeh, mencipratkan lebih banyak air ke arahku.
Setelah akhirnya kembali ke realita, aku menyenduk air laut untuk mencipratkannya balik ke arahnya.
Saat kami melanjutkan perang air yang penuh canda ini, aku mendadak menyadari sesuatu.
“…………”
Tunggu dulu, bukankah ini seperti adegan di anime atau manga?
Dulu aku biasa menonton adegan-adegan seperti ini dengan rasa geli tanpa ikatan emosional, tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti aku akan melakukan hal yang sama. Namun sekarang, aku merasa bisa memahami bagaimana perasaan karakter-karakter tersebut.
Ini menyenangkan…!
Memiliki seseorang untuk tertawa bersama dan saling mencipratkan air terasa benar-benar murni dan menyenangkan, terutama karena seseorang itu adalah orang yang kusukai.
Saat aku melanjutkan permainan perang air ini dengan perpaduan rasa malu dan perasaan yang mendalam, ejekan terdengar dari teman-teman gyaru-nya.
“Tega-teganya meninggalkan kami sementara kalian asyik menikmati masa muda, ya!”
“Ayo, ayo, kita main bareng!”
Dua teman gyaru lainnya telah memompa bola pantai dan, dengan melemparnya sekuat tenaga, memulai permainan seru yang terasa seperti gabungan antara dodgeball dan bola voli.
Saat matahari makin terik—
“Aku mau istirahat sebentar.”
Adrenalin saat itu sempat membuatku melupakan rasa lelah akibat semalaman tidak tidur, jadi aku memutuskan untuk beristirahat di bawah payung pantai.
Ketiga gadis gyaru itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan, mereka justru tampak makin energik.
“Mungkin kaum ekstrover memang punya stamina tanpa batas…”
Gumamku dalam hati sambil memperhatikan Miran dan yang lainnya bermain di tepi ombak.
Bahkan dari kejauhan, penampilan Miran dalam balutan baju renang terlihat sangat menarik—
Trio gyaru itu tampak paling menonjol di pantai yang ramai ini, keberadaan mereka sungguh bersinar.
“Bukankah gadis itu imut banget?”
“Iya benar! Terutama yang itu, penasaran apa dia sudah punya pacar ya?”
Aku tidak menyadarinya saat bermain tadi, tetapi suara-suara yang memuji Miran dan teman-temannya terdengar di mana-mana.
Miran, khususnya, tampaknya menarik banyak perhatian.
“…………”
Sebagai tunangannya, aku merasa senang karena Miran dipuji, tapi…
Rasa krisis, seperti kecemasan yang perlahan membakar dari dalam, mulai membumbung di dalam diriku.
Para pria yang memuji Miran dan yang lainnya adalah—seperti yang sudah diduga dari orang-orang yang datang ke pantai—sebagian besar berkulit tan dengan otot-otot yang terbentuk rapi—pria-pria yang bisa dibilang sangat tampan dan ideal.
Sebaliknya, bagaimana dengan diriku…?
Aku melirik tubuhku sendiri.
Kulit pucat yang perlahan memerah karena terbakar sinar matahari. Lengan dan kaki dengan massa otot yang standar, atau mungkin malah kurang dari standar.
“…………”
Aku tidak bisa tidak bertanya-tanya bagaimana penampilanku di mata orang lain.
Apakah aku… pantas menjadi tunangan dari gadis gyaru secantik itu? Apakah aku memang layak?
Aku sudah berusaha keras sejak hari di mana aku mendeklarasikan diriku sebagai tunangan Miran, tetapi setiap kali mendengar suara-suara yang memuji dirinya dan teman-temannya, rasa tidak percaya diri selalu menyeruak di dadaku.
“Shuji, kamu tidak apa-apa? Kamu merasa mual?”
Aku terkejut oleh suara yang menyapaku.
Miran telah kembali ke bawah payung pantai.
Melihat ekspresi cemas Miran, aku bergegas menenangankannya.
“Aku baik-baik saja kok! Cuma lagi mendinginkan tubuh setelah bermain di laut untuk pertama kalinya setelah sekian lama.”
Miran tersenyum padaku dan mengeluarkan dompet koin yang imut dari dalam pouch-nya.
“Aku mau beli minuman di kedai pantai sebelah sana ya!”
“Aku ikut.”
Aku mencoba berdiri, tetapi Miran menghentikanku.
“Tidak apa-apa, Shuji. Istirahat saja di sini.”
“Yah, um… baiklah. Terima kasih ya.”
Kami berdua terkekeh melihat percakapan yang terasa seperti déjà vu ini, dan aku duduk kembali, memperhatikan Miran berjalan menuju kedai pantai.
“…………”
Kenapa pemikiranku jadi negatif begini di perjalanan ini…?
Ini semua gara-gara kurang tidur! Mulai sekarang, aku harus memastikan diriku dapat istirahat yang cukup sebelum ada acara-acara penting!
Setelah menggelengkan kepala untuk membersihkan pikiranku, aku kembali menatap ke arah Miran.
“――――?”
Miran, yang sedang menuju kedai pantai, tampak dikelilingi oleh beberapa orang.
Setelah diamati lebih dekat, sepertinya dia sedang dihampiri oleh beberapa cowok ekstrover…
“Mungkinkah itu ajakan PNS (pickup / digoda)?”
Tampaknya pria-pria itu mengganggunya secara persisten, jadi aku bergegas berdiri dan melangkah ke sana.
“Kamu dari mana?”
“Kasih tahu nama kamu dong, Nona―”
Aku bisa mendengar suara mereka yang secara terang-terangan menggodanya.
Para cowok ekstrover itu adalah kelompok beranggotakan tiga orang, tampak seperti mahasiswa dengan penampilan luar yang luwes dan terkesan nakal.
“Maaf ya, tapi aku ke sini bersama pacar dan teman-temanku.”
“Masa sih? Kenalkan dong teman-temanmu ke kami.”
“Tolong bisakah kalian tinggalkan kami sendiri?”
Miran tampak jengkel oleh para mahasiswa ekstrover yang terus memaksa itu.
Dulu aku mungkin tidak akan berani angkat bicara, tetapi melihat Miran diganggu, bahkan orang berhati penakut sepertiku bisa menjadi seberani elang.
“Permisi―”
Aku melangkah masuk ke antara Miran dan para cowok ekstrover itu.
“Shuji…!”
“Harusnya aku pergi bersamamu tadi. Maaf ya. Harusnya aku ada di sisimu.”
Aku berbicara kepada Miran, lalu berbalik menghadapi para mahasiswa ekstrover itu, mencoba menjaga nadaku tetap tenang.
“Kami akan pergi sekarang, permisi.”
Aku mencoba menyelesaikan situasi ini secara damai, tetapi tampaknya mereka tidak berniat melepaskan kami begitu saja dengan mudah.
“Hei, tunggu dulu. Siapa kamu mendadak menyerobot begitu?”
Gangguan dari para mahasiswa ekstrover itu tidak juga mereda.
“Aku adalah―”
Pacarnya. Tunangannya.
Aku berbalik menatap para mahasiswa ekstrover itu, hendak mengatakan hal tersebut.
Aku baru saja mau mengatakannya, tapi kemudian―
“Jangan-jangan, cowok ini pacarnya? wkwk”
“Nggak mungkin lah, cowok se-biasa ini nggak mungkin pacarnya kan? wkwk”
Tawa ejekan mereka terdengar di telingaku, membuat kata-kataku terhenti sejenak.
Pemikiran negatif yang kupikirkan sebelumnya kembali menyeruak―
Jika aku mendeklarasikan diriku sebagai pacar Miran di sini, apakah aku justru akan membuatnya menjadi bahan tertawaan?
“Aku adalah―!”
Namun meski begitu, aku mencoba dengan cepat mengumpulkan pikiranku dan bicara lagi, tetapi sebelum aku sempat melakukannya, dua suara nyaring yang tak asing menyela.
“Ugh, godain cewek tuh payah banget tahu wkwk.”
“Sumpah, geli banget wkwk.”
Saat menoleh, ternyata Hanako dan Atsuki yang baru saja datang.
“Ha?”
Para mahasiswa ekstrover itu tampak kesal tetapi sepertinya menyadari perhatian yang mereka tarik dari sekitar, lalu pergi sambil mendesiskan lidah.
“Terima kasih ya. Orang-orang tadi benar-benar gigih banget; kalian sangat membantu.”
Miran, yang merasa lega, mengucapkan terima kasih kepada kami.
“Nggak, aku tidak… melakukan apa-apa.”
Namun, aku tidak bisa sepenuhnya menerima ucapan terima kasih dari Miran.
Aku hanya melangkah masuk, dan yang lebih penting—aku tidak bisa langsung mendeklarasikan diriku sebagai pacar Miran, tunangannya, kepada para mahasiswa ekstrover itu…
Keraguan itu, walau hanya sesaat, membuatku merasa bersalah kepada Miran.
“Hanako dan Atsuki yang tadi luar biasa. Terima kasih ya.”
Saat aku mengucapkan terima kasih pada mereka, teman-teman gyaru-nya membalas dengan tawa.
“Nggak ah, kamu yang berani tadi, wkwk.”
“Kamu keren kok, langsung maju buat membantu Miran tadi, wkwk.”
Meskipun dipuji oleh teman-teman gyaru-nya, aku merasakan kehilangan rasa percaya diri yang jauh lebih besar akibat jarak antara penilaian mereka dan penilaian diriku sendiri.
***
Kemudian, dengan momen yang pas, kami memutuskan untuk makan siang di kedai pantai.
“Kami dan yang lainnya mau kembali berenang, kalau kamu bagaimana, Shuji?”
“Aku mau istirahat sebentar lagi sebelum menyusul.”
“Oke, jangan memaksakan diri ya!”
Para gadis gyaru yang energik dan meluap-luap dengan semangat itu kembali menuju ke laut dengan ceria tepat setelah selesai makan. Tampaknya insiden tadi sudah sepenuhnya mereka lupakan.
Setelah kembali dari kedai pantai ke payung pantai kami, aku mengedarkan pandangan mencari Miran dan yang lainnya.
Mereka tadi bermain di dekat ombak, tetapi sekarang sepertinya sudah pergi sedikit lebih jauh ke tengah. Mereka berenang ke sana kemari dengan bebas, masing-masing membawa pelampung.
Sambil mengawasi mereka dan duduk di atas tikar piknik, aku menghela napas kecil.
“Ah…”
Aku mungkin terlihat seperti cowok yang lemah, tapi aku masih terus memikirkan apa yang terjadi tadi.
Aku tidak bisa mengatakan dengan bangga bahwa aku adalah pacar Miran… dan jujur aku merasa frustrasi karena tidak bisa merespons dengan cepat.
“Aku masih belum cukup baik…”
Aku merasa murung karena meratapi kekuranganku sendiri.
Namun kemudian, aku menggelengkan kepala dan menepuk pipiku pelan.
“Tidak, jangan berpikir negatif, wahai diriku!”
Aku harus menjadi pria yang pantas untuk Miran, kan?
Aku teringat hari di mana aku mendeklarasikan diriku sebagai tunangannya―aku sudah memutuskan untuk berkembang sejak saat itu.
Bahkan jika aku belum cukup baik sekarang, demi tunanganku yang peduli padaku, aku harus―tidak, aku ingin melakukan yang terbaik.
“Baiklah!”
Terpacu semangat, aku pun berdiri.
Tepat saat aku berpikir untuk pergi berenang bersama Miran dan yang lainnya,
“Lho?”
Ada yang aneh dengan gadis yang sedang berenang di tengah laut itu – Miran.
Dia memegang pelampung, tetapi tampak agak panik dan kewalahan.
Hanako dan Atsuki berenang agak jauh dan belum menyadari kondisi Miran.
Bahkan kalau ini cuma rasa cemas berlebih, tidak apa-apa.
“Miran!”
Aku bergegas menerjang ke dalam laut dan berenang dengan cepat menuju tunanganku.
Meskipun aku ini otaku penyendiri tanpa keahlian khusus selain berpura-pura tidur saat jam istirahat dan menceracaukan pengetahuan otaku dengan cepat, sebenarnya aku lumayan jago berenang.
Sewaktu kecil, aku sempat ikut les renang sebentar, dan selama pelajaran olahraga yang kubenci, berenang adalah satu-satunya momen di mana aku bisa berenang melintasi air dengan percaya diri. Yah, aku berhenti berenang secara benar setelah mendapatkan julukan “Kappa” sih.
“Miran…! Kamu tidak apa-apa?”
Dugaanku benar; Miran tampak ketakutan sambil memeluk erat pelampungnya.
“Shuji…! Kakiku kram…”
Miran meringis kesakitan.
Memahami situasinya, aku bergegas menenangankannya.
“Tidak apa-apa. Pegang saja pelampungnya erat-erat.”
Aku mendekati Miran lalu mulai berenang menuju tepi pantai sambil menarik pelampungnya.
Aku bersyukur keahlian “Kappa”-ku bisa berguna di saat seperti ini.
Setelah berhasil membawa Miran dengan selamat ke titik di mana dia bisa berdiri, aku menghela napas lega.
“Kakimu tidak apa-apa? Bisa jalan?”
“Iya, kurasa aku bisa mengatasi jalannya.”
Aku menggenggam tangan Miran saat kami berjalan menelusuri pantai berpasir, langkahnya agak limbung.
Tepat ketika kami hendak menuju ke payung pantai, Miran mendadak bersandar dan memelukku erat.
“Mi-Miran…!?”
Karena sama-sama mengenakan baju renang, ada banyak kontak kulit secara langsung.
Sentuhan kulitnya yang dingin namun terasa hangat serta kelembutannya tersalurkan langsung padaku, membuatku merasa seperti gurita rebus.
Apakah dia tidak bisa berjalan…? Atau dia masih ketakutan…?
Apa yang harus kulakukan!?
Dalam kepanikanku, Miran menengadah menatapku dan berkata,
“Terima kasih ya, Shuji.”
Wajah Miran, yang kini menjadi tunanganku si gadis gyaru, tidak lagi menunjukkan rasa takut, melainkan senyuman bahagia.
Aku merasa lega melihat wajahnya, tetapi karena masih panik, aku membalasnya dengan gugup.
“I-Iya…! Aku senang banget ini bukan masalah serius!”
“Tadi aku takut banget, tapi aku senang sekali kamu langsung datang menolongku.”
“Itu sih hal yang wajar…! Kalau ada masalah dengan orang yang penting bagiku, aku pasti bakal sadar dan langsung berlari menolongnya.”
Aku melontarkan isi pikiranku dalam keadaan panik.
“Shuji…”
Melihat wajah Miran yang memerah, aku terlambat menyadari bahwa aku baru saja mengatakan sesuatu yang cukup puitis nan menggelikan.
“A-Ayo kita istirahat di bawah payung pantai dulu untuk sekarang…!”
“Iya…”
Kami kembali ke payung pantai untuk beristirahat.
Merasa malu dengan apa yang baru saja terjadi, kami tidak banyak bicara setelah itu, tetapi aku merasa posisi Miran terasa sangat dekat dari biasanya.
“Ada apa dengan kalian berdua?”
“Ada masalah ya?”
Teman-teman gyaru-nya, sekembalinya mereka, menatap Miran dan aku dengan ekspresi penasaran.
“Nggak… tidak ada apa-apa kok…”
Berpikir hal itu bisa merusak suasana liburan, dan mengingat itu cuma masalah kram kaki ringan, kupikir lebih baik tidak usah disebutkan saja.
Dengan pemikiran itu, aku menggelengkan kepala, tapi kemudian…
“Tadi itu! Shuji keren banget tahu―!”
Miran dengan antusias mulai menceritakan insiden tadi kepada kedua teman gyaru-nya, bahkan dengan bahagia menyebutkan kata-kata yang sempat kualamatkan padanya.
“Aku mau berenang dulu!”
Merasa malu dan canggung luar biasa, aku kabur dari lokasi kejadian seperti orang yang sedang melarikan diri dan lari untuk berenang.
Sampai beberapa saat yang lalu, aku sempat merasa kehilangan rasa percaya diri, tapi…
Bisa membantu tunanganku yang sedang dalam kesulitan, aku merasa sedikit dari rasa percaya diriku mulai kembali.
***
“Kulitku rasanya perih banget…!”
Setelah menghabiskan waktu yang cukup di pantai hingga memuaskan para gadis gyaru, aku kembali ke penginapan dan merendam diri di pemandian air panas.
Meskipun aku sudah memakai sunscreen, aku berada di pantai dalam waktu yang lama dan terkena sengatan matahari yang lumayan parah, jadi air pemandian terasa sangat menyengat di kulitku.
Meskipun terasa perih, pemandian air panas memberikan kelegaan yang menyenangkan bagi tubuhku yang lelah. Fasilitas pemandian air panasnya tidak terlalu besar, tetapi pengunjung lain hanya sedikit, memberikannya kesan terbuka dan tenang.
“…………”
Sewaktu aku masih kecil, aku sering pergi berlibur bersama orang tuaku dan mengunjungi pemandian air panas…
Seiring bertambahnya usia, aku jadi makin tertutup dan malas keluar rumah.
Mungkin aku harus menemani orang tuaku di liburan mereka berikutnya…
Pemikiran-pemikiran itulah yang melintas di benakku saat merendam diri di pemandian air panas.
“Wah―kulit terbakar sinar mataharinya parah banget tuh,”
“Hei, lihat yang ini deh―,”
“Kocak banget―”
Dari pemandian wanita di balik dinding sebelah.
Aku bisa mendengar samar-samar suara dan gelak tawa yang tak asing dari para gadis gyaru melalui celah di langit-langit.
“――――”
Aku mendapati diriku secara refleks menengadah menatap celah di langit-langit.
Karena kami kembali dari pantai dan pergi ke pemandian air panas pada saat yang sama, saat ini, Miran, Hanako, dan Atsuki pasti juga sedang mandi di balik dinding sebelah―.
“…………”
Bayangan ketiganya yang sedang mandi mulai terbentuk di benakku seperti kepulan uap air.
“Tidak, tidak, tidak!”
Aku bergegas menggelengkan kepala untuk mengusir fantasi itu.
Namun―setiap kali aku mendengar suara mereka, imajinasiku seolah otomatis menyala. Kenyataan bahwa aku telah melihat mereka mengenakan baju renang yang terbuka tadi siang membuat bayangan itu terasa terlalu nyata di kepalaku.
“Argh―!”
Membayangkan ketiganya sedang mandi di sini adalah hal yang buruk!
Yang lebih buruk lagi adalah fakta bahwa kami harus tidur di kamar yang sama malam ini, dan aku jelas tidak akan bisa tidur dengan pikiran seperti ini…!
Untuk menekan pikiranku yang makin liar, aku memutuskan untuk fokus pada hal lain.
“Jugemu Jugemu, Gokou no Surikire, Kaijarisuigyo no Suigyomatsu… Paipo Paipo, Paipo no Shuuringan, Shuuringan no Guurindai, Guurindai no Ponpokopi no Ponpokona no Choukyuumei no Chousuke.”
Nama panjang dari cerita rakugo (komedi tunggal tradisional Jepang) yang terkenal. Tantanganku adalah melihat seberapa cepat aku bisa mengucapkannya!
Meskipun aku mendapatkan tatapan aneh dari pria lain di pemandian, aku tidak bisa peduli tentang hal itu saat ini.
“Jugemu Jugemu―”
Aku fokus penuh untuk berbicara secepat mungkin, bertekad mengusir seluruh pikiran keduniawian.
Strategi ini sepertinya berhasil, dan aku benar-benar masuk ke dalam zona konsentrasi.
Dan ketika aku mulai kehilangan hitungan sudah berapa kali aku mencobanya―.
“Ugh, kepalaku pusing…”
Tubuhku sudah benar-benar terlalu panas (overheat).
Tapi… sepertinya para gadis gyaru sudah keluar duluan, karena tidak ada lagi suara yang terdengar dari pemandian wanita.
***
Berjalan sempoyongan dengan kepala pusing, aku berganti pakaian mengenakan yukata penginapan dan kembali ke depan kamar, lalu menggetok pintu.
Para gadis gyaru membawa kuncinya, jadi mereka harus membukakannya untukku.
“Pintunya tidak dikunci kok!”
Tanpa mengecek siapa yang mengetok, sebuah suara tanpa beban merespons, dan aku dengan ragu-ragu melangkah masuk ke dalam kamar.
“Selamat datang kembali!”
Di dalam, Hanako dan Atsuki, yang baru selesai mandi, sedang bersantai sambil memainkan ponsel pintar mereka.
“Terima kasih…!”
Aku secara tak sadar merasa panik melihat teman-teman sekelasku dalam balutan yukata.
Bukannya aku memikirkan hal yang tidak-tidak kok…!
Tidak yakin dengan ekspresi wajahku sendiri, aku secara panik membuat alasan di dalam kepala sambil mencari tunanganku, tetapi dia tidak ada di mana-mana.
“Uh, Miran di mana…?”
“Dia pergi membeli minuman karena haus,” jawab Atsuki tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
“Begitu ya…”
Di dalam kamar yang didominasi perempuan ini, aku tidak yakin harus duduk di mana, jadi aku memilih untuk menyudut di pojokan kamar.
Kamar terasa tenang, dengan mereka berdua yang sibuk menatap ponsel masing-masing, dan aku tanpa tujuan mengamati struktur kayu dari ruangan ini.
“Ngomong-ngomong,” suara Hanako terdengar, dan aku berbalik.
Dia menengadah dari ponsel pintarnya dan bertanya padaku,
“Sejauh mana hubunganmu dan Miran sudah berjalan?”
“Sejauh mana maksudmu…?”
“Maksudku, kalian kan sepasang kekasih, atau lebih tepatnya tunangan, kan? Kalian pasti sudah melakukan sesuatu yang romantis, kan?”
Hal semacam itu…!?
Aku dibuat panik oleh pertanyaan bola cepat yang mendadak itu.
Atsuki juga menengadah dari ponselnya sambil menyeringai.
“Ayo dong, jujur saja! Cerita, cerita!”
Hanako mendesak, menggodaku.
Sejauh mana Miran dan aku telah berjalan sebagai sepasang kekasih, sebagai tunangan…?
Merasa bahwa menyembunyikannya justru akan makin memancing rasa penasaran mereka, aku berdeham empat kali dan menjawab,
“Kami… sudah bergandengan tangan, kurasa…”
Setelah menjawab, aku merasa malu dan lidahku mendadak kelu.
Memang ada hal-hal seperti paha yang dijadikan bantal, gendongan di punggung, dan saling mengelap tubuh, tetapi hal-hal itu lebih seperti kejadian spontan yang tidak disengaja―.
Satu-satunya hal yang kami lakukan secara sadar sebagai sepasang kekasih adalah bergandengan tangan.
Saat aku menatap mereka dengan perasaan malu, mereka berdua justru mengernyitkan dahi dan memanyunkan bibir.
“Apa!?” “Kamu serius!?”
“Eh, kenapa!?”
Kedua gadis itu tampak tidak percaya, dan aku dibuat bingung oleh reaksi tak terduga mereka.
Apakah bergandengan tangan itu terlalu cepat…?
Saat aku sedang panik, kedua teman gyaru itu menghela napas gemas.
“Ini mah kayak percintaan anak SD,” “Nggak nyangka kemajuannya sedikit banget.”
“Apakah… begitu…?”
Kupikir kami sudah membuat cukup banyak kemajuan…
Tapi apa yang dimaksud dengan kemajuan lebih lanjut…?
Saat aku sedang tenggelam dalam pemikiran, Hanako berkata padaku,
“Setidaknya kamu harus ciuman dong! Setidaknya ciuman!”
“C-Ciuman…!?”
Aku begitu asing dengan konsep itu hingga hal pertama yang terlintas di benakku adalah nama ikan (kiss), tetapi gerakan setuju dari Atsuki yang memanyunkan bibirnya langsung menyentakkanku kembali ke realita.
Ciuman… maksudnya menempelkan bibir?
“Nggak mungkin lah, masih terlalu awal untuk itu!”
Saat aku panik, kedua gadis itu membantah balik.
“Ini malah sudah terlambat banget tahu! Temanku dari ○○×× saja–” “Salah satu temanku dari SMP dari ○○○×△◇–”
Aku mendengarkan cerita-cerita mereka, tapi…
Rasa terkejut dari cerita-cerita blak-blakan para gadis gyaru membuat otakku membeku dan dipenuhi error.
–Ah, betapa indahnya bintang-bintang di luar sana.
Tanpa sadar, pikiranku telah berkelana ke ruang angkasa yang sangat luas. Bintang-bintang baru bermunculan, yang lain perlahan meredup. Aku terharu oleh keindahan galaksi yang berputar, warna-warnanya berkedip-kedip.
Sambil mendengarkan percakapan para gadis, otakku melakukan perjalanan kosmik untuk sementara waktu.
“――――!”
Aku berbalik mendengar suara pintu yang terbuka, dan di sana tampak tunanganku yang baru kembali.
“Pemandian air panasnya segar banget!”
Miran masuk ke kamar dengan ceria, mengenakan yukata dari penginapan, kulitnya memerah karena sengatan matahari dan sehabis mandi.
Melihat penampilan tak biasa dari tunanganku ini, aku akhirnya kembali ke realita dari perjalanan mental kosmikku.
“Ada apa? Ada yang terjadi?”
Miran memiringkan kepalanya, merasakan atmosfer aneh di dalam kamar.
“Nggak ada apa-apa kok―” “Aku lapar nih―”
Kedua teman gyaru-nya berpura-pura seolah tidak ada yang terjadi.
Aku ikut mengalir bersama mereka kali ini. Otakku tidak sanggup mencerna apa yang baru saja mereka bicarakan, dan bahkan jika aku bisa, aku tidak akan sanggup membicarakannya.
Bagaimanapun juga, aku menyisakan rasa takut bahwa “gadis gyaru itu menakutkan” sejak saat itu.
“Shuji, kulit terbakar sinar mataharimu parah banget! Kamu harus pakai pelembap.”
Miran mendekat dan mengamati kulitku yang memerah.
Hal ini membuatku ikut menatap tunanganku si gadis gyaru dari dekat.
“M-Miran juga―”
Melihat leher, pipi Miran yang memerah, serta bibir merah mudanya yang kenyal, sebuah frasa tertentu bergema dengan sangat kuat di dalam kepalaku.
“Setidaknya kamu harus ciuman dong! Setidaknya ciuman!”
Itulah kata-kata yang diucapkan Hanako sebelum otakku membeku tadi.
Mendadak jadi sangat sadar akan bibir Miran, tubuhku memanas cepat seperti pemanas air instan.
“Aku mau beli minuman dulu…!”
Merasa seperti akan pingsan jika tetap berada di sana, aku bergegas meninggalkan kamar.
Setelah menenangkan diri secara signifikan, aku kembali dan menemukan hidangan makan malam penginapan sudah tersaji.
“………”
Kupikir makan akan mengalihkan perhatianku dari memikirkan bibir Miran, tapi itu tidak berhasil sama sekali. Dia terlihat sangat imut saat makan dan minum, dan setiap kali bibirnya yang cantik menyentuh cangkir atau diusap dengan serbet, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikannya.
“Argh!”
Menyalahkan mereka berdua karena telah membuatku menyadari hal-hal aneh…
Aku menatap Hanako dan Atsuki dengan pandangan jengkel, tetapi mereka sepertinya sudah melupakan obrolan tadi dan sedang menikmati makanan dengan ceria bersama Miran.
Aku terus terganggu oleh kesadaranku akan bibir Miran, tetapi saat kami selesai makan malam dan mulai bersiap untuk tidur, kecemasanku makin menjadi-jadi.
Di mana aku harus tidur!?
“Tidur biasa saja kenapa sih,” kata para gadis gyaru itu tanpa beban, tapi aku jauh dari kata santai.
Membentangkan empat kasur futon adalah satu hal, tapi tidur di tengah-tengah, dikelilingi oleh para gadis, adalah hal yang tak terbayangkan.
Normally, aku akan memilih posisi paling pinggir, tapi tetap saja, bayangan seorang gadis tidur di sebelahku membuatku terlalu tegang untuk tidur.
Aku sudah kurang tidur, dan besok ada festival musim panas, aku jelas ingin beristirahat.
Setelah berpikir panjang, aku memindahkan kasur futon ke area dekat jendela, setelah menyingkirkan kursi dan meja di sana.
“Kamu yakin tidak apa-apa tidur di situ?”
“Aku tidak apa-apa…! Aku bisa merasa lebih dekat dengan alam di sini…!”
Kataku, mencoba bersikap pemberani di hadapan Miran, lalu berbaring di atas futon.
Gordennya tipis, dan saat aku berbaring telentang, langit malam terlihat jelas melalui jendela.
“Kamu sudah mau tidur?”
Miran bertanya padaku, dan aku mengangguk dari balik selimut.
“Iya, aku mau tidur sekarang buat acara besok…!”
Setelah mengucapkan selamat tidur kepada Miran dan yang lainnya, aku memejamkan mata.
Kemudian, kenangan tentang kunjungan ke pantai hari ini berhamburan kembali.
Pantai terasa sangat menyenangkan setelah sekian lama…
Miran juga imut banget…
“――――”
Saat aku tenggelam dalam pemikiran ini, bayangan Miran dalam balutan baju renangnya melintas di benakku, disusul oleh kilasan obrolan intens bersama teman-teman gyaru-nya. Hal ini mengejutkanku hingga membuat mataku terbuka lebar.
“Hah…”
Sepertinya aku tidak akan bisa tidur malam ini…
Mendengarkan obrolan para gadis di dekatku seperti lagu pengantar tidur, aku kembali memejamkan mata, bersiap menghadapi malam tanpa tidur, tetapi rasa lelah dari seharian di pantai segera membuatku tertidur lelap.
***
“Silau banget…”
Aku terbangun oleh cahaya yang menusuk mata. Gorden tipis membiarkan sinar matahari yang terik masuk, memanggang wajahku.
“Ini bukan mimpi, kan…?”
Aku tertidur begitu nyenyak hingga kepalaku masih terasa berasap dan linglung. Aku bertanya-tanya apakah datang ke sini dan bermain di pantai semuanya cuma mimpi belakangan ini.
Namun, langit-langit tradisional Jepang, jendela, dan dinding penginapan ini jelas-jelas merupakan realita dari hari kemarin―.
Melihat sekeliling kamar, aku melihat ketiga gadis gyaru masih tertidur lelap, keberadaan mereka dengan cepat membersihkan pikirkanku yang linglung.
Saat aku duduk tegak, aku mengamati sekeliling kamar―.
“――――!?”
Aku bergegas memalingkan kepala dan kembali berbaring.
Untuk sekejap, aku melihat terlalu banyak―para gadis itu masih berada di dalam futon mereka, tetapi pakaian yukata mereka telah tersingkap tak beraturan selama tidur.
Jauh dari kata menyegarkan mata, situasi ini sangat berbahaya dan merangsang.
“Aku tidak bisa bangun kalau begini…!”
Jika aku bangun sekarang, aku mungkin bakal disalahkan karena melihat penampilan tak sopan mereka atau diejek habis-habisan tentang hal itu…!
Percakapan hari sebelumnya tentang ciuman, yang berhasil kulupakan, kini kembali melintas di benakku, memaksaku untuk menggelengkan kepala dan membenamkan diri di balik futon.
“――――”
Kucoba untuk tidur kembali, tetapi mataku sudah melek sepenuhnya, dan sepertinya hal itu mustahil dilakukan.
Namun, aku tidak bisa begitu saja bangun, jadi aku berpura-pura tidur sampai Miran dan yang lainnya terbangun.
Setelah sekitar setengah jam, aku mulai mendengar percakapan pagi mereka yang masih mengantuk.
“Selamat pagi…” “Yukatamu terlalu terbuka tuh,” “Lucu banget kalau pagi-pagi.”
Sekarang aku mungkin sudah bisa bangun!
Merasa terbebas dari mantra, aku baru saja hendak bangkit ketika suara gesekan pakaian yang dilepas membuatku berhenti seketika.
Aku berharap mereka tidak
berganti pakaian di sini…!
Hanya mendengar suaranya
saja bisa memicu imajinasi yang aneh-aneh, jadi aku mengulang-ulang taktik
"Jugemu" dari pemandian air panas semalam di dalam hati untuk
mengalihkan perhatianku.
Akhirnya, ketika ketiganya
mulai mengobrol dengan ceria seperti biasa, aku pun bangun, tapi…
“Wajahmu merah banget,
kocak banget wkwk.”
Aku ditertawakan oleh
para gadis gyaru,
tetapi aku bersikeras bahwa itu hanya karena sengatan matahari.
Setelah selesai
sarapan di penginapan dan bersiap untuk check-out, kami mendiskusikan
rencana kami untuk hari ini.
Acara utama hari ini tentu
saja adalah festival musim panas.
Menurut informasi yang
telah kami cari sebelumnya, festival ini akan diadakan di area yang luas mulai
dari stasiun hingga ke jalan pertokoan, dengan kembang api pada malam harinya.
“Hari ini bakal padat
banget…”
Rencananya adalah
menyewa yukata
di siang hari, jalan-jalan di sekitar festival, menonton kembang api,
mengembalikan yukata, lalu pulang… sebuah jadwal
yang terasa sangat menguras fisik bagi seorang introver sepertiku.
“Ngomong-ngomong, bagaimana dengan barang
bawaan kita? Apa ada tempat buat
menitipkannya?”
Atsuki, yang membawa cukup banyak barang
bawaan, bertanya dengan cemas.
Memang, akan sangat berat berjalan-jalan di
festival mengenakan yukata sambil membawa semua barang
bawaan kami.
Aku sempat melupakan hal ini dan mulai merasa
cemas, tetapi Miran menjawab dengan santai,
“Seingatku toko persewaan yukata-nya
bilang kita bisa menitipkan barang bawaan di sana kok.”
Setelah mengecek kembali
toko persewaan yukata, kami mendapati bahwa mereka
memang memiliki layanan penitipan barang, dan Atsuki pun menghela napas lega.
Setelah semua orang
bersiap-siap dan mengemas barang, para gadis gyaru sudah bersemangat tinggi.
“Mumpung masih ada waktu
sebelum check-out,
bagaimana kalau kita pergi berenang dulu?”
Aku terkejut saat
mendengar saran ini.
Namun, seperti yang sudah
diduga, mereka akhirnya memutuskan untuk tidak melakukannya karena hal itu bisa
merusak riasan dan tatanan rambut mereka―.
Kami check-out dari penginapan, naik
bus, dan kembali ke stasiun sambil memandangi laut dari jendela bus.
***
“Wah… ramai banget…”
Saat kami berjalan dari halte bus menuju
stasiun melalui jalan pertokoan, sudah ada banyak stan yang beroperasi, dan
kerumunannya sangat padat padahal ini baru menjelang siang.
Aku sudah mulai merasa
kewalahan, tetapi ketiga gadis gyaru itu tampak sangat antusias.
“Bagaimana kalau kita beli
oleh-oleh dulu mumpung masih ada waktu?”
Atsuki memberi saran saat
kami melihat-lihat toko.
Miran dan Hanako
menyetujuinya dengan sangat bersemangat.
“Setuju! Nanti begitu
festival dimulai, kita mungkin nggak bakal sempat belanja.”
“Aku ada barang yang
mau kubeli!”
Tentu saja, sebagai
seseorang yang pandai membaca situasi, pendapatku juga sudah pasti―.
Kami secara bulat
memutuskan untuk membeli oleh-oleh terlebih dahulu, dan aku mengekor mereka
bertiga dari belakang.
Mungkin aku harus
membeli sesuatu yang sederhana untuk orang tuaku…
Aku hanya membeli
oleh-oleh untuk orang tuaku, tetapi Miran dan yang lainnya membeli cukup
banyak.
“Oleh-olehnya banyak
banget… Apa itu buat kerabat?”
Saat aku membantu
membawakannya dan bertanya, ketiga gadis itu menjawab secara serempak,
“「「「Ini buat teman-teman!」」」”
“B-Begitu ya…! Benar
juga, teman…”
Tampaknya sebagian
besar barang yang mereka beli adalah untuk teman-teman mereka.
Aku terpikir betapa
beratnya punya begitu banyak teman… tidak sepertiku, yang sama sekali tidak
meratapi fakta bahwa aku tidak punya teman untuk diberi oleh-oleh…!
Setelah selesai
belanja oleh-oleh dan menghabiskan waktu bersantai sejenak di kafe, kami menuju
ke toko persewaan yukata.
“Toko yukata-nya
lewat sini kan?” “Bukannya lewat sana?” “Bukan, bukannya masih agak jauh lagi?”
Para gadis gyaru
itu, dengan tangan yang penuh oleh-oleh dan tas, hanya melirik peta sekilas
lalu melangkah maju murni mengandalkan intuisi.
“Tunggu dulu, mari kita
cek petanya dengan benar…!”
Aku bergegas menghentikan
mereka bertiga yang asal jalan di depan, lalu memandu mereka menggunakan
navigasi aplikasi peta di ponsel pintarku.
Setelah beberapa saat,
kami mendekati sebuah toko yang sepertinya tepat.
“Wah, cantiknya!”
Mata Miran
berbinar-binar saat melihat orang-orang yang mengenakan yukata
di depan toko.
Meskipun agak
terpencil dari jalan utama pertokoan, area ini sangat ramai oleh orang-orang
yang datang untuk menyewa yukata.
Hanako dan Atsuki
terlihat sangat gembira melihat pemandangan tersebut.
Setelah berada di
dalam, kami menitipkan tas kami di resepsionis dan mengikuti staf untuk
berganti pakaian mengenakan yukata.
“………”
Dengan bantuan seorang
staf, aku berganti pakaian dengan cepat.
“Aku, mengenakan yukata
di sebuah festival…”
Aku tidak akan pernah mau
repot-repot melakukan hal seperti ini jika sendirian, jadi aku menatap diriku
sendiri di cermin dengan perasaan mendalam. Yukata-ku berwarna biru dongker
yang simpel, dipilih untuk menekan biaya, tetapi pembuatannya rapi dan terlihat
sangat bagus, tidak seperti yukata polos yang ada di
penginapan.
Para gadis tampaknya
membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama, jadi aku menunggu, bingung harus
melakukan apa.
Tokonya tidak terlalu
besar tetapi cukup padat. Karena tidak ingin menghalangi jalan, aku melangkah
keluar.
Aku memang sudah
mengenakan yukata
di penginapan kemarin, tetapi mengenakannya di luar adalah hal yang langka,
membuatku merasa agak gelisah.
“………”
Langit cerah, dengungan
suara tonggeret.
Saat aku mendengarkan
percakapan seru di sekitarku sambil menunggu para gadis, seseorang menepuk
punggungku.
“Kami membuatmu menunggu
ya―”
Mendengar suara ceria itu,
aku berbalik dan tersentak.
Yukata yang sangat anggun―.
Seorang gadis, tunanganku,
dibalut dalam yukata berwarna-warni, sedang
tersenyum.
“――――”
Aku sebenarnya sudah
melihat yukata
yang dipajang di dalam toko sebelumnya, jadi kukira aku tidak akan terkejut,
tetapi betapa sempurnanya pakaian itu di tubuhnya membuatku sampai kehilangan
kata-kata.
Dia selalu memiliki pesona
yang menarik perhatian orang-orang, tetapi dibalut yukata yang melengkapi rambut
cerahnya, dia terlihat sangat anggun dan bersinar, seolah-olah dia memancarkan
cahaya.
Setelah melihatnya
mengenakan yukata
sederhana di penginapan sehari sebelumnya, dia tampak jauh lebih memukau
sekarang.
“Bagaimana yukata-ku…?”
Miran mengangkat kedua
lengannya sedikit, memamerkan yukata-nya dengan ekspresi
malu-malu.
Aku baru menyadari bahwa
aku sempat menahan napas dan bergegas menarik napas dalam-dalam.
“Benar-benar cantik
banget…! Kamu kelihatan luar biasa mengenakannya…!”
“Benarkah!? Aku senang
banget!”
Miran merona dan tersenyum
lebar penuh kebahagiaan.
Aku merasa bisa
menghabiskan seumur hidup hanya untuk memandanginya.
“Kamu juga kelihatan cocok
pakai yukata,
Shuji!”
“Ah, terima kasih… tapi
aku tidak ada apa-apanya dibandingkan kamu.”
“Nggak mungkin!”
“Nggak, beneran deh―”
Saat aku dan Miran
sedang saling bertukar pujian dengan canggung, sebuah suara dengan nada lebih
rendah menyela kami.
“Hei, bagaimana dengan
kami?”
“Masa kami nggak dapat
pujian sama sekali?”
Saat berbalik, aku melihat
Atsuki dan Hanako dalam balutan yukata mereka, tersenyum kecut.
Aku tadi hanya memandangi
Miran, jadi aku bergegas menatap mereka berdua. Mereka juga mengenakan yukata
yang mencolok dengan warna dasar hitam dan biru dongker, memberikan sentuhan
kesan dewasa.
“Kalian berdua juga
kelihatan sangat anggun…!”
Aku memuji mereka secara
tulus, tapi…
Mereka berdua saling
bertukar pandang lalu mengejekku,
“「Gaya memujimu beda banget ya sama pas memuji Miran
tadi?」”
Dengan selesainya sesi
berganti yukata,
kami pun berangkat menuju festival secara sungguh-sungguh.
Kerumunan orang makin
padat, dan stan-stan ramai dengan aktivitas.
Permainan mancing yo-yo, tembak hadiah, seni
potong siluet, dan undian yang agak mencurigakan.
Aku memang tidak menyukai kerumunan, tetapi aku
tidak keberatan dengan atmosfer festival yang luar biasa ini.
“Gimana kalau kita beli
gulali?” “Ayo beli apel karamel!” “Nggak boleh melewatkan es serut dong kalau
di festival!”
Memperhatikan para gadis gyaru
yang bersemangat melompat dari satu stan ke stan lainnya, aku berjalan santai
menelusuri festival.
“Shuji, ada yang menarik
perhatianmu nggak?”
“Untuk makanan… mungkin takoyaki
buatku.”
Pada akhirnya, kami
memutuskan untuk membeli semua jajanan yang kami bicarakan.
Meskipun camilan dan
makanannya bukan hal yang langka, membelinya sambil berjalan-jalan di antara
deretan stan membuatnya terasa istimewa.
“Bukankah ini agak
kebanyakan?”
Aku tidak bisa menahan
diri untuk tidak memprotes pembelian mereka yang berlebihan.
Aku sendiri lebih tertarik
pada stan permainan seperti lempar gelang atau mengambil ikan koki, tetapi para
gadis gyaru
itu tampaknya terpikat oleh hidangan manis dan camilan, dan tanpa disadari,
kami telah membeli dan memakan cukup banyak hal.
Namun secara keseluruhan,
termasuk hal itu, berjalan-jalan di festival bersama semuanya terasa sangat
menyenangkan.
Kami terus berjalan-jalan
di festival dalam waktu yang lama sampai…
“Bagaimana kalau kita
istirahat sebentar di suatu tempat?”
Saat matahari mulai
terbenam, Miran, yang sedikit terengah-engah, menyarankan agar kami
beristirahat. Bahkan para gadis gyaru yang energik pun, karena
tidak terbiasa mengenakan yukata dan sandal tradisional,
tampak lelah setelah berjalan sejauh itu. Hanako dan Atsuki juga menunjukkan
tanda-tanda kelelahan yang sama.
Kami menemukan sebuah kafe
yang terlihat bagus di agak jauh dari jalan utama dan memutuskan untuk
mendinginkan diri serta beristirahat di sana.
“Fuuuh…”
Tampaknya aku juga terbawa
suasana, merasakan gelombang rasa lelah menghantamku begitu aku duduk.
Melihat jam, masih ada
waktu sebelum pertunjukan kembang api dimulai, jadi kami memutuskan untuk
berdiam di sana sebentar sambil menikmati kopi dingin.
“Stan crepe
tadi kelihatan enak banget ya?” “Nanti kita balik ke sana lagi yuk?” “Tapi
bukannya antrenya lumayan merepotkan?”
Sesuai dengan sifat
ekstrover mereka, para gadis gyaru itu dengan cepat memulihkan
energi mereka, dan tak lama kemudian, mereka kembali ke semangat awal mereka.
“………”
Kerumunannya benar-benar
makin parah…
Sambil mendengarkan
percakapan mereka, aku melihat ke luar jendela dan menemukan lautan manusia di
jalan utama makin padat.
Ini bakal butuh
perjuangan ekstra…
“――Ayo kita
berangkat?”
Para gadis gyaru,
setelah mengecek jam tangan mereka, mulai berdiri dengan penuh semangat, jadi
aku pun ikut berdiri, meski agak enggan.
Langkah kaki keluar
dari kafe, hawa panas musim panas dan kehangatan dari kerumunan manusia
langsung menyengat kami.
“Spot buat nonton kembang
apinya lewat sini kan?” “Kurasa iya.”
Kami berjalan menelusuri
jalan utama area pertokoan, menuju ke arah pantai yang direkomendasikan sebagai
titik terbaik untuk menonton kembang api.
Namun, seperti yang sudah
diduga, lokasi yang direkomendasikan juga berarti kerumunan yang jauh lebih
besar.
“Banyak banget
orangnya…――!”
Mendekati waktu
pertunjukan kembang api, kerumunan menjadi jauh lebih padat, dan kami harus
ekstra hati-hati agar tidak bertabrakan dengan orang lain.
Merasa seperti berada di
dalam kereta yang penuh sesak, energiku yang sudah terkuras makin tersedot
habis. Lingkungan seperti ini terlalu kejam bagi seseorang yang lebih suka
mendekam di dalam rumah!
Saat kepadatan orang makin
meningkat, aku berulang kali tersenggol orang lain, berjuang keras untuk tetap
menyusul langkah mereka.
Aku harus hati-hati… Kalau
sampai terpisah, kami bisa saling kehilangan dalam sekejap.
“Semuanya… hati-hati ya
jangan sampai terpisah――”
Aku merasakan desakan
dalam kerumunan dan mengecek posisi para gadis gyaru.
Hanako dan Atsuki ada
di depanku sebelah kiri, dan Miran seharusnya ada di sebelah kananku…
“Tunggu dulu――!?”
Mendadak, keringat
dingin mengucur deras.
Tunanganku si gadis gyaru
yang tadi ada tepat di sampingku telah menghilang.
“Ah, Miran ke mana――!?”
Aku melihat sekeliling
dengan panik, tetapi keberadaan Miran tidak terlihat di mana pun. Aku bergegas memanggil
Hanako dan Atsuki yang ada di depan.
“Hanako, Atsuki! Miran
hilang!”
“Eh… Masa sih?” “Apa dia
tersesat?”
Tidak mungkin berhenti di
tengah lautan manusia, kami memaksakan diri menepi ke pinggir jalan.
Hanako mencoba membuat
panggilan telepon di ponsel pintarnya tetapi dengan wajah meringis jengkel.
“Hmm… Orang terlalu
banyak, teleponnya nggak terhubung.”
“REIN juga belum
dibaca nih, apa kita harus balik lewat jalan yang tadi?” kata Atsuki sambil
menatap ponselnya dengan raut khawatir.
“………”
Aku diselimuti oleh
rasa cemas dan syok yang luar biasa. Dadaku terasa sesak.
Kenapa… aku tidak
menjaga Miran dengan lebih ketat…
Aku merasa ingin
memukul diriku sendiri karena begitu ceroboh beberapa saat yang lalu.
“Maafkan aku, kalian
berdua… Ini semua salahku…”
Merasa sangat bertanggung
jawab, aku meminta maaf, tetapi mereka berdua menatapku dengan heran.
“Ini bukan salahmu kok,”
“Dengan kerumunan sebanyak ini, mau bagaimana lagi.”
Aku bersyukur atas
pengertian Hanako dan Atsuki, tetapi aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.
“Terima kasih… Aku akan
pergi mencari Miran sekarang.”
“Kalau begitu kami juga――”
mereka baru mau bicara, tapi aku menggelengkan kepala.
“Tidak, bisakah kalian
berdua pergi duluan saja ke lokasi tujuan kita?”
“Kamu yakin nggak apa-apa
sendirian?” “Kami bisa bantu cari juga kok?”
“Kalian berdua tidak
terbiasa memakai yukata, dan mencari di tengah
kerumunan sebanyak ini bakal terlalu berat.”
Aku juga mengenakan yukata,
tetapi pakaian pria jauh lebih mudah dipakai bergerak daripada pakaian wanita.
Lagipula, di tengah kerumunan ini, aku ragu kami bisa menggunakan ponsel dengan
efektif, dan memisahkan diri justru bisa membuat kami makin sulit berkumpul
kembali.
Mereka tampak agak ragu,
tapi…
“Aku pasti akan menemukan
Miran, kalian tenang saja.”
Mendengar kata-kataku,
mereka akhirnya mengangguk.
“Aku bakal kirim pesan
REIN begitu menemukan Miran. Kalau sulit berkumpul lagi, kita bertemu di toko
persewaan yukata
saja ya――”
Dengan itu, aku menerjang
masuk ke dalam kerumunan.
Namun, mendorong melawan
arus lautan manusia sangatlah sulit, langkahku hampir tidak mengalami kemajuan.
Meskipun mendapatkan keluhan dari orang lain, aku tidak sanggup memikirkannya
saat ini, meminta maaf berkali-kali sambil terus menerobos jalan.
“Miran――!”
Aku tidak yakin seberapa
jauh suaraku bisa terdengar di tengah keriuhan festival, tetapi aku terus
memanggil namanya seraya berjuang menyusuri kerumunan, menelusuri kembali jarak
yang lumayan jauh.
Apakah aku harus balik
lebih jauh lagi…?
Atau aku tidak sengaja
melewatkannya di suatu tempat tadi…?
Dipenuhi rasa cemas, aku
mengerahkan seluruh indraku untuk memindai sekeliling saat melangkah.
Kemudian, di dalam bidang pandangku――.
“――――?”
Aku merasa melihat sekilas
kibasan rambut cerah dan yukata yang tak asing.
Sedikit melenceng dari
jalur yang ramai, di pinggir jalan.
Aku bergegas menerobos
kerumunan menuju ke arah tersebut.
“Miran…!”
Tampaknya mataku tidak
menipuku. Di sebuah celah sempit di antara dua stan, tampak sosok tunanganku.
Tapi ada sesuatu yang
aneh…
“Tolong hentikan――”
Suara Miran, terdengar
dingin dan marah.
Saat aku menerobos
kerumunan dan makin dekat, aku menyadari Miran sedang diganggu oleh seseorang.
“Ayo dong, kalau
terpisah dari teman-temanmu, kenapa nggak nonton kembang api bareng kami saja?”
“Iya nih, ketemu di sini pasti namanya jodoh.”
Miran dikelilingi oleh
tiga orang pria, dan aku bergegas melerai.
“Miran…! Kamu tidak
apa-apa?”
“Shuji…!?”
“Mau apa kamu, Mas?”
Pria-pria itu, dengan
wajah memerah—mungkin karena minum alkohol—menghadapiku dengan agresif.
Merek terlihat seperti
mahasiswa ekstrover yang agak nakal…
Tunggu dulu, mereka
kelihatan familier… Dan kemudian aku baru menyadarinya.
“Ha? Cowok krempeng
yang kemarin kan?”
Para pria itu menyeringai
mengejekku.
Merek adalah mahasiswa
ekstrover yang sama yang sempat mengganggu Miran di pantai kemarin.
Miran yang kasihan,
diganggu oleh orang-orang yang sama dua hari berturut-turut…
Merasa bersimpati, aku
menggenggam tangan Miran.
“Maaf ya aku kurang
perhatian. Ayo kita pergi ke tempat Hanako dan Atsuki.”
“Iya…!”
“Hei, tunggu dulu,”
“Jangan menyela dong!”
Saat kami mencoba kembali
ke kerumunan, para mahasiswa ekstrover itu menghadang jalan kami.
“Masalahmu apa sih, Mas?
Dari kemarin ganjal banget!”
Merek tampak jengkel.
Aku juga merasakan hal
yang sama!
Merasa jengkel pada
para mahasiswa itu, aku berdiri pasang badan di depan Miran dan menatap tajam
ke arah mereka.
“Dia ini
pacarku――tunanganku! Jadi jangan mendekatinya secara sembarangan.”
Kata-kata yang tidak bisa
kuucapkan dengan percaya diri kemarin――.
Kali ini, aku bisa
mengucapkannya secara lugas dan tegas.
“Tunangan…?” “Kamu
serius?” “Mana mungkin cowok kayak kamu pacarnya.”
Para mahasiswa itu
mengejek, tetapi Miran, yang berdiri di belakangku, melangkah maju dengan
cemberut marah.
“Itu benar. Dia adalah
tunanganku dan calon suamiku.”
Mendeklarasikan hal
tersebut, tunanganku si gadis gyaru menggandengkan lengannya ke
lenganku dan bersandar rapat. Dia kemudian memberi tahu para pria itu dengan nada
dingin.
“Bisa tolong jangan
ganggu? Kalian benar-benar bikin ilfiel tahu.”
Dia tampak sangat jengkel,
kemarahannya terasa begitu nyata.
Para mahasiswa itu
ragu-ragu sejenak, tetapi masih tetap menghadang jalan kami.
“Huuuh…”
Aku mengembuskan napas,
lalu menarik napas dalam-dalam.
Aku sebenarnya tidak ingin
mengandalkan cara ini, tetapi sepertinya tidak ada pilihan lain…!
Aku mengembuskan napas
keras-keras, mengubahnya menjadi sebuah teriakan nyaring.
“Tolong ada orang
jahat――! Kami diganggu! Tolong, siapa pun tolong kami――!”
Aku berteriak sekeras
yang kubisa.
Puncak dari teriakan minta
tolong yang maha dahsyat…!
Bahkan cowok sepertiku,
yang biasanya pendiam, bisa membuat suaranya terdengar lantang di saat-saat
kritis.
“Siapa pun tolong kami――!”
Orang-orang di stan dan
mereka yang sedang fokus ke area kembang api mulai mengalihkan perhatian mereka
ke arah kami.
Perhatian dari teriakanku
dan kerumunan yang mulai berkumpul membuat para mahasiswa itu panik.
“Sialan, cowok ini gila!”
Saat Makin banyak orang
yang memperhatikan kami dan seorang pemilik stan berwajah galak mendekat, para
mahasiswa itu berubah pucat lalu melarikan diri.
“Terima kasih banyak ya,
Anda sudah menyelamatkan kami!”
Aku membungkuk
sedalam-dalamnya kepada pemilik stan dan orang-orang di sekitar.
“Ayo kita pergi, Miran――!”
Aku menggenggam tangannya
dan menuntunnya kembali ke dalam kerumunan.
Memastikan untuk tidak
terpisah lagi kali ini…
***
Miran dan aku berjalan
menelusuri kerumunan sambil bergandengan tangan.
Karena kami tidak bisa
menyusul ke spot menonton kembang api, aku mengirim pesan REIN ke kedua gadis gyaru
itu lalu berjalan kembali ke toko persewaan yukata.
“Aku senang kamu selamat…”
Saat kami makin menjauh
dari jalan pertokoan, kerumunan makin terurai, membuat langkah kaki terasa
lebih ringan.
Pertunjukan kembang api
telah dimulai, suara dentuman keras dan getarannya dapat dirasakan. Di
tengah-tengah itu, aku mendengar suara Miran yang agak murung.
“Maafkan aku ya karena
sempat terpisah tadi…”
Aku bergegas meminta maaf
sebagai balasannya.
“Nggak kok, ini salahku…
Maaf ya karena sempat kehilangan jejakmu…!”
Jika aku lebih perhatian,
hal seperti ini tidak akan terjadi… Atau jika saja kami bergandengan tangan
sejak awal, kami tidak akan terpisah.
Bertekad untuk tidak
kehilangan dirinya lagi, aku menggenggam tangan Miran makin erat.
“………”
Kami sampai di depan
toko.
Beruntung, meskipun dari
kejauhan, kami bisa melihat kembang api dari tempat ini.
“Kali ini, aku baru saja
diselamatkan lagi oleh Shuji.”
Miran, sambil menengadah
menatap kembang api, tersenyum kecut.
Aku tersenyum menatap
profil wajahnya.
“Itu hal yang wajar
kok, aku kan tunanganmu. Lagipula, aku selalu jadi pihak yang diurus olehmu.”
“Terima kasih ya,
Shuji…”
Merespons ucapan
terima kasih Miran, aku bercanda dengan canggung sambil merendahkan diri.
“Yah, aku berharap
bisa menyelamatkanmu dengan cara yang lebih keren sih…”
Andai saja aku bisa
menjadi seperti pahlawan di manga, menumbangkan orang-orang itu tanpa
kesulitan… Tapi apa yang bisa kulakukan hanyalah meninggikan suara untuk minta
tolong, sebuah taktik yang terkesan kurang gagah.
Mengingat aksiku tadi
membuatku merasa makin malu.
Saat aku menunduk,
Miran, dengan ekspresi bingung, berkata padaku,
“Shuji, kamu tadi
benar-benar keren banget tahu?”
“Nggak kok, kurasa aku
tadi payah banget…!”
“Sama sekali tidak.”
Miran berdiri tepat di
hadapanku, menatap mataku dengan penuh kesungguhan.
Biasanya, aku akan
merasa malu dan menghindari tatapan matanya yang indah, tetapi kali ini, aku
tidak bisa memalingkan mataku, seolah-olah ditarik oleh semacam gaya gravitasi.
“Miran… Terima kasih
ya.”
Saat aku menatap
balik, Miran tersenyum dan melangkah lebih dekat, mecondongkan tubuhnya ke
arahku. Wajah cantiknya kian mendekat, membuat jantungku berdebar kencang.
“Setidaknya ciuman
dong! Cuma ciuman!”
Mendadak, kata-kata dari
semalam kembali terngiang di kepalaku.
Dengan tunanganku yang ada
tepat di hadapanku, sangat sadar akan bibirnya, aku berpikir…
“Miran…”
Sampai beberapa saat yang
lalu, aku tidak bisa membayangkan menciumnya.
Tapi sekarang, hal itu
terasa sangat mungkin…
“――――”
Seolah terdorong oleh gaya
gravitasi, aku ikut mencondongkan badan lebih dekat.
Aku bisa mendengar
hembusan napas Miran, dan bibir kami sudah hampir bersentuhan― ketika hal itu
terjadi.
“Miran! Lega banget kami
akhirnya menemukan kalian!”
Suara-suara yang tak asing
diiringi dentuman kembang api membuatku terkejut dan berbalik. Hanako dan
Atsuki berlari terengah-engah menghampiri kami.
“――――!?”
Sadar kembali ke realita,
aku bergegas menarik diri menjauh dari Miran.
“Uh, apa kami menyela
sesuatu…?”
“Ayo kita nonton kembang
apinya berdua saja, Atsuki.”
Melihat situasinya, kedua
teman itu saling bertukar pandang lalu mulai berjalan menjauh.
“Tunggu, tunggu dulu! Buka
seperti itu kok!”
Merasa canggung karena
berbagai alasan, aku bergegas mencoba menghentikan mereka.
Meskipun aku merasa kecewa
karena batal berciuman, momen tadi lebih disebabkan oleh impulsif saja―.
Aku sendiri tidak yakin
apakah Miran benar-benar ingin menciumku, jadi bisa dibilang, bagus juga mereka
berdua datang di saat yang tepat…
Kami menghabiskan waktu
menonton kembang api bersama-sama dari dalam gang.
Bahkan dari kejauhan,
kembang apinya terlihat sangat memukau―.
Kembang api itu terasa
jauh lebih indah daripada kembang api mana pun yang pernah kutonton sendirian
di masa lalu.
“Shuji, lain kali, ayo
kita pergi berlibur berdua saja.”
Di tengah gemuruh kembang
api, Miran membisikkan hal itu di telingaku.
Entah karena wajahnya yang
memerah akibat cahaya kembang api, sengatan matahari, atau hal lainnya…
“Iya, sepertinya itu
bakal menyenangkan…”
Aku mengangguk,
wajahku terasa jauh lebih panas daripada pijar kembang api.
Aku tidak pernah
memiliki kenangan liburan musim panas yang berkesan sebelumnya―.
Namun berkat tunanganku si gadis gyaru yang mengundangku dalam perjalanan ini, sekarang aku memiliki sebuah kenangan yang begitu indah dan berarti untuk dikenang selamanya.
Prolog | ToC | Next Chapter


Post a Comment