Prolog
Aku selalu benci musim panas.
Mataharinya terlalu terik dan panas. Suara tonggeret sangat bising. Kulit
terbakar sinar matahari rasanya sakit. Ada terlalu banyak acara ramai yang
dipenuhi lautan manusia.
Bagi seorang penyendiri sepertiku,
musim panas adalah musim yang dipenuhi hal-hal yang tidak aku kuasai. Jika
musim panas adalah seorang manusia, dia pasti seorang ekstrover.
Namun, sebagaimana setiap orang
memiliki kelebihan dan daya tariknya masing-masing, ada satu hal dari musim
panas yang aku sukai.
Dan itu adalah――liburan musim
panas.
Sebuah acara yang mengizinkanku
membolos sekolah secara legal dalam jangka waktu yang lama. Itu adalah hal
terbaik.
Cara merayakan liburan musim panas
bagiku selalu sama dari dulu. Tentu saja, aku tidak pergi ke luar. Aku
menghabiskan waktuku bermalas-malasan sambil menonton gim dan anime di dalam
kamar yang disejukkan oleh pendingin udara!
Itulah rutinitas musim panas yang
tidak tergoyahkan dan tak akan pernah berubah bagiku, sosok penyendiri
sejati――sampai…
Suara deburan ombak――. Aroma khas
tepi pantai――.
“Panasnya…”
Saat ini, seluruh tubuhku disengat
oleh paparan sinar matahari langsung. Aku sedang berada di pantai.
Di hadapanku membentang langit
biru yang cerah, lautan, dan kerumunan orang-orang ekstrover dengan pakaian
renang yang mencolok.
Suara-suara riang yang seramai
deburan ombak memenuhi udara, bukannya membakar semangatku sebagai penyendiri,
hal itu justru malah membuaiku dalam kepungan rasa tertekan.
“Tempat ini benar-benar
dipenuhi elemen ekstrover…”
Ini jelas-jelas area kekuasaan
kaum ekstrover. Aku merasa sangat salah tempat di sini…!
Pakaianku saat ini hanyalah celana
renang sederhana tanpa hiasan maupun pertahanan sama sekali, membuatku merasa
begitu telanjang dan rentan.
Saat berjalan tanpa arah dan
merasa seperti cacing kering di atas aspal panas, aku mendengar seseorang
memanggilku dari belakang.
“Shuji~!”
Ketika aku berbalik ke arah suara
menyegarkan yang mirip dengan langit musim panas itu, aku melihat seorang gadis
ekstrover berambut cerah sedang berlari ke arahku.
“――――!”
Aku terpesona oleh gadis itu,
sampai-sampai lupa akan rasa panas untuk sekejap.
Dia tampak seperti sebuah karya
seni kelas satu. Rambut agak panjangnya yang berkilauan serta parasnya yang
cantik dan imut—yang seharusnya sudah biasa kulihat—kembali mengejutkanku
dengan pesonanya yang luar biasa.
Ditambah lagi, pakaian
yang dikenakan gadis itu.
Dia memakai kaus putih
yang diikat di bagian bawahnya, tetapi di dalamnya adalah baju renang――bagian
perut dan paha――yang memamerkan kulit putih nan menawannya yang biasanya tidak
bisa kulihat, sukses membuat jantungku berdegup kencan.
Tampaknya selera
estetikaku tidak salah, karena pandangan orang-orang di sekitar kami semuanya
tertuju pada gadis itu.
“Maaf ya sudah membuatmu
menunggu!”
“Ah, iya…!”
Berhadapan langsung dengan
gadis cantik di depanku ini, aku jadi bingung harus melihat ke mana.
Aku ragu untuk menatapnya
secara langsung, apalagi sekarang dia memperlihatkan kulit yang lebih banyak
dari biasanya.
Dia memang memakai kaus di
luarnya, dan bagaimanapun juga itu adalah baju renang, jadi kupikir harusnya
tidak masalah kalau kulihat… tapi baju renang yang terbayang di balik kausnya
kelihatan mirip pakaian dalam, membuat mentalitas penyendiriku terguncang
hebat.
Kalau sampai aku
menatapnya dari dekat, aku merasa pasti akan berakhir memandanginya tanpa
henti, jadi pada akhirnya aku memilih untuk menengadah menatap langit.
“Ada apa?”
“Nggak, cuma mikir…
langitnya biru banget ya…!”
Apa-apaan yang baru saja
kukatakan…!
Aku merutuki tingkah
anehku dalam hati, tetapi gadis di depanku malah tersenyum dan mengiyakan.
“Iya, bagus ya cuacanya cerah begini!”
Untuk sejenak, kami berdua menatap langit
bersama.
Aku berhasil menghela napas untuk menenangkan
diri, tapi aku tetap tidak tahu harus melihat ke mana atau mengatakan apa
selanjutnya!
Saat aku hendak mengalihkan topik dan
pandanganku ke arah laut, gadis itu bertanya padaku dengan sedikit malu-malu.
“Hei, hei, bagaimana menurutmu?”
Itu adalah pertanyaan tanpa subjek, tetapi
bahkan aku—seorang ahli di jalan penyendiri—paham kalau dia sedang meminta
pendapatku tentang pakaiannya saat ini.
Aku menatap gadis
berkaus dan berbaju renang itu.
Meski ada begitu
banyak kata pujian yang bermunculan di benakku dalam sekejap,
“Menurutku…
benar-benar bagus banget…!”
Karena kewalahan oleh
stimulasi di depan mataku, aku hanya sanggup melontarkan pujian paling standar.
“Syukurlah! Aku senang!”
Gadis itu tersenyum lebar
mendengar komentar sederhanaku, membuatku merasa senang sekaligus sedikit
bersalah.
“Kamu juga cocok kok pakai
baju renang, Shuji!”
“Masa sih…? Terima
kasih…!”
Kuasai dirimu, wahai
diriku!
Kucoba menenangkan diri,
tetapi pikiranku sudah terlanjur panas dan aku jadi canggung luar biasa akibat
pukulan ganda dari tingginya stimulasi gadis berkaus baju renang dan elemen
ekstrover dari pantai.
“Reaksimu lucu banget deh,
Shuji, hehe.”
Sambil terkekeh kecil,
gadis itu menggenggam tanganku dan menarikku.
“Ayo cepat berenang
bareng! Hanako dan Atsuki juga ada di sebelah sana!”
“Ah, iya, ayo pergi…!”
Aku berlari melintasi
pantai berpasir yang ramai bersamanya sambil bergandengan tangan.
Aku berhasil melangkah
ke tempat yang tak akan pernah bisa kumasuki sendirian, dan itu semua berkat
dirinya.
Mungkin sudah agak
terlambat untuk menyebutkan ini, tapi gadis yang sedang menuntunku dengan
menggenggam tanganku ini bernama Hanatsuki Miran.
Dia adalah teman sekelasku
di SMA――.
Dan, tunanganku.
Aku, seorang otaku
penyendiri, telah diseret ke area kekuasaan kaum ekstrover ini oleh gadis
ekstrover yang merupakan tunanganku sendiri.


Post a Comment