-->
NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Aru Hi Totsuzen - Gyaru no Iinazuke ga Dekita Volume 2 Chapter 5

Chapter 5

Awal dari Kepopuleran!?


Setelah festival budaya usai, suasana sekolah terasa sangat sepi, seolah-olah kobaran api baru saja dipadamkan. Bahkan anak-anak ekstrover yang biasanya bising pun tampak lelah dan tidak bersemangat. Berdasarkan pengalaman masa lalu, aku memperkirakan semangat mereka bakal kembali dalam beberapa hari.

Kukira aku bisa menikmati tidur siang yang tenang di dalam kelas yang sepi untuk sementara waktu, tetapi sesuatu yang tak terduga justru terjadi.

“Selamat pagi!”

“Hei!”

“Ah, pagi!”

“Pagi, Eizawa-kun!”

“Halo!”

Semua sapan ini dialamatkan langsung padaku.

Usually, aku akan menyelinap ke kursiku tanpa disadari siapapun, sebuah rutinitas standar seorang introver, tetapi secara mendadak, aku disapa dengan penuh semangat begitu melangkah masuk ke dalam kelas. Dan sebagian besar berasal dari anak-anak cewek!

Beberapa anak cowok juga mulai menyapaku, tetapi jumlah anak cewek jauh lebih banyak secara dominan. Ini kemungkinan besar terjadi karena aksiku mengawasi Maid Café pada festival budaya kemarin.

Bagi seseorang yang selalu menjadi seorang introver sepertiku, perubahan drastis ini terasa seperti melangkah ke dunia paralel, membuatku bertingkah canggung sepanjang pagi.

Saat aku dengan gugup membalas sapaan dari anak-anak cewek, Hanako-san dan Azuki-san, yang baru saja tiba, mulai menyeringai nakal.

“Wah! Dia benar-benar jadi populer sekarang ya!” tawa Hanako-san.

“Apakah ini adegan perselingkuhan yang kulihat? Apa Miran tidak bakal cemburu nih?” goda Azuki-san.

Kata-kata mereka membuatku panik luar biasa.

“Nggak kok, ini cuma… aku cuma membalas sapan mereka! Bukannya aku selingkuh atau semacamnya――!”

Saat aku sedang panik, sebuah suara ceria yang familier memanggilku.

“Selamat pagi!”

Tunanganku si gadis gyaru masuk ke dalam kelas dengan santai.

Memang, rasio anak cewek di sekitarku lebih tinggi dari biasanya. Bagaimana jika, seperti yang dikatakan teman gyaru-ku, dia mengira aku mendua…!

Aku panik, tetapi Miran justru tersenyum bahagia.

“Selamat pagi, Shuji…! Kamu sudah jadi berteman dengan semuanya ya!”

Ekspresi dan kata-katanya langsung melenyapkan rasa cemas tak berdasarku.

“Pagi, Miran…! Merek cuma merasa reaksiku lucu saja kok.”

Jawabku, sedikit lega tetapi tetap merendah, sementara Hanako-san dan Azuki-san tertawa terbahak-bahak di sampingku.

“Dia benar-benar panik, kocak banget!” terkekeh Hanako-san.

“Semua orang kan sudah tahu kalau kamu tunangan sama Miran, jadi tidak bakal ada yang berani macam-macam!” tambah Azuki-san.

Benar-benar pasangan penggoda yang jahil, kedua gadis gyaru itu.

Saat aku mengirimkan tatapan jengkel pada mereka, Miran, yang tampak bersemangat, menanyakan sebuah pertanyaan padaku.

“Ngomong-ngomong, Shuji, kapan kita mau pergi?”

“Pergi… ke mana?”

Kata-katanya agak ambigu, dan aku memiringkan kepala karena bingung. Apakah aku pernah membuat janji dengan Miran…?

Saat aku secara panik memutar otakku hingga berkeringat dingin, Miran menjelaskan lebih rinci.

“Itu lho, nonton bioskop!” “Ah, benar! Nonton bioskop!”

Seketika semuanya menjadi jelas bagiku. Kami memang sempat membicarakan tentang menonton film anime selama liburan musim panas. Aku sepenuhnya melupakannya di tengah kesibukan persiapan festival budaya.

“Bagaimana kalau liburan akhir pekan ini…?”

“Oke!”

Miran mengangguk sambil tersenyum mendengar usulanku.

Kalau dipikir-pikir lagi, kami memang belum pernah pergi kencan lagi sejak mulai mempersiapkan festival, kecuali saat pergi ke Maid Café waktu itu…! Pemikiran itu membuatku bersemangat menantikan kencan yang akan datang.

Dan kemudian―kejadian pada pesta penutupan festival. Aku masih mengingatnya dengan sangat jelas. Kenangan akan bibir Miran membuat jantungku berdebar sangat kencang.

“…………”

Aku merasa hubungan kami telah makin dalam hingga ke titik di mana tidak ada seorang pun yang bisa mengganggu.

***

Hari libur pun tiba―. Aku berada di titik kumpul biasa kami, menunggu kedatangan Miran. Hari ini adalah kencan menonton bioskop kami.

“…………”

Aku merasa bersemangat, tetapi juga sedikit cemas karena film yang akan ditonton adalah anime orisinal. Aku sudah melakukan beberapa riset di internet tentang isi dan ulasan filmnya, tetapi memutuskan untuk memeriksa informasi film itu sekali lagi untuk hari ini.

“…………”

Visualnya terlihat sangat indah, tetapi jalan ceritanya tampak agak rumit. Aku penasaran apakah seorang gadis gyaru bisa memahaminya. Aku mempersiapkan diri untuk menjelaskan jalan ceritanya dengan lancar jika nanti dia bertanya.

“Shuji, maaf ya membuatmu menunggu!”

Saat sedang mengecek situs resminya, Miran tiba, mengenakan pakaian kasual yang sangat modis.

Mendadak―aku teringat ciuman yang dia berikan padaku saat pesta penutupan festival kemarin, dan aku bergegas menggelengkan kepala untuk menenangkan diri. Belakangan ini, pikiranku langsung dipenuhi kenangan itu begitu aku lengah sedikit saja.

“Kalau begitu, ayo kita berangkat…?”

“Iya!”

Saat aku dan Miran hendak melangkah menuju bioskop…

“――――?”

Antena penyendiriku menangkap sebuah tatapan yang sangat kuat. Rasanya tatapan itu ditujukan langsung padaku, tetapi dengan banyaknya orang di sekitar, aku tidak bisa menemukan sumbernya. Namun, rasanya itu seperti tatapan yang pernah kualami di suatu tempat sebelumnya.

“Ada apa?”

Miran tampaknya tidak menyadari tatapan itu dan memiringkan kepalanya heran.

“Nggak… bukan apa-apa kok.”

Aku melihat sekeliling dengan gelisah, tetapi pada akhirnya mengabaikannya sebagai bayangan perasaanku saja dan melangkah menuju bioskop.

Kami telah membeli tiket film dan sedang melihat-lihat merchandise film, popcorn, serta minuman sambil menunggu jam tayang pertunjukan.

“Aku mau ke kamar kecil dulu ya,” kata Miran.

“Oke…! Aku bakal menunggu di area merchandise.”

Setelah melepas Miran pergi, aku sedang melihat-lihat merchandise anime ketika mendengar sebuah suara yang lembut.

“Permisi, umm…”

Suaranya sangat mirip dengan suara karakter anime.

Aku terus melihat-lihat merchandise sambil memikirkan hal itu ketika mendengar suara itu lagi.

“Permisi, umm!”

Penasaran siapa yang sedang dipanggilnya, aku berbalik dan menemukan seorang gadis dengan warna rambut cerah yang diikat kuncir kuda sedang menengadah menatapku.

“Aku…!?”

“Iya!”

Aku tidak terbiasa disapa oleh orang asing di luar, apalagi lawan jenis.

“Ada yang bisa kubantu…?” Tanyaku, terlihat jelas merasa gugup.

Gadis itu tampak seperti seorang siswi SMA dengan wajah yang imut dan berparas cantik.

Tapi… aku merasa seperti pernah melihatnya di suatu tempat sebelumnya.

“……..”

Rasanya aku pernah melihatnya baru-baru ini… tapi di mana ya…



Saat aku memutar otakku, hal itu mendadak menyentakkanku.

“Aha――!”

Dia adalah gadis dari Nekkotalk yang mengunjungi toko kami selama festival budaya!

Mengingat hal ini mengembalikan sedikit ketenangan dalam diriku. Namun, gadis itu tampaknya tidak mengenalikuku―yah, aku kan mengenakan pakaian butler saat itu―dan dengan malu-malu menunjukkan sebuah selebaran padaku.

“Aku tersesat… Aku mau pergi ke sini, apakah kamu tahu di mana tempatnya?”

“Tersesat… umm…”

Dia memperlihatkan selebaran untuk sebuah toko pakaian, dan aku mencari alamatnya di ponsel pintarku. Harusnya dia bisa dengan mudah mengecek peta di Nekkotalk sih… Meskipun aku merasa hal itu agak aneh, aku selesai mencari dan menunjuk ke lokasi pada peta di luar.

“Tempatnya ada di sebelah sana… tinggal belok kiri di jalan itu, dan kamu bakal melihat papannya…”

Saat aku memberikannya petunjuk arah, gadis berkuncir kuda itu berseru gembira.

“Wah, terima kasih banyak! Kamu luar biasa!”

“――――!?”

Dia terlalu bersemangat…!? Gadis itu melangkah makin dekat, menengadah menatapku, yang membuatku bergegas mundur. Namun, dia kembali memangkas jarak di antara kami tanpa ragu.

“Umm…!?”

Bukankah ini terlalu dekat!? Aku pernah mendengar kalau orang ekstrover punya ruang personal yang lebih kecil, tapi apakah sampai sedekat ini!? Apalagi karena dia seorang Nekkotalker, mungkin jarak sedekat ini adalah hal yang biasa baginya!?

Merasa sangat tidak tenang, gadis itu kemudian bertanya padaku.

“Bolehkah aku tahu namamu?”

“Namaku…?”

Aku tidak yakin apakah harus memberi tahu dirinya. Aku memang tahu kalau dia seorang Nekkotalker, tetapi dia tetap saja orang asing bagiku! Namun, saat dia melangkah makin dekat, aku melontarkan kataku dalam panik.

“Umm… namaku Shuji Nagasawa…!”

“Shuji Nagasawa! Nama yang bagus!”

“Apakah… benar begitu?”

Gawat…! Aku sudah kehabisan akal menghadapi tingkat komunikasi selevel ini! Tingkat komunikasi seorang Nekkotalker benar-benar terlalu berat bagiku!

“Shuji-san, kamu ke sini mau nonton film apa hari ini?”

“Umm… film anime…” “Anime――”

Untuk sekejap, gadis itu tampak mengernyitkan alisnya tetapi kemudian langsung berbicara dengan rasa tertarik yang dibuat-buat.

“Sebenarnya itu film yang dari kemarin ingin kutonton juga tahu.”

“Ah, benarkah… begitu ya…”

Bagaimana cara mengakhiri percakapan ini…!?

Saat aku berjuang untuk merespons gadis yang terus memrakarsai percakapan ini, tunanganku si gadis gyaru akhirnya kembali.

“Shuji, maaf ya membuatmu menunggu!”

“M-Miran…!”

Aku berbalik, merasa seperti baru saja diselamatkan oleh seorang malaikat, tetapi kemudian aku menyadari sesuatu. Apakah penampilanku sekarang terlihat seperti sedang bermesraan dengan gadis yang menghampiriku ini?

Melihat situasiku, Miran tampak bingung.

“Kamu sedang apa?”

“T-Tidak ada apa-apa kok! Cuma memberi tahu petunjuk jalan――!”

Gadis yang sejak tadi menatapku secara intens itu berbalik ke arah Miran dengan senyuman lebar.

“Halo.”

“Halo?”

Miran membalas sapaannya, masih tampak tidak yakin dengan situasinya. Gadis berkuncir kuda itu mengamati Miran sejenak sebelum berbalik kembali padaku.

“Shuji-san, selamat menikmati filmnya ya♪”

Dengan senyuman cerah, gadis itu kemudian melangkah pergi.

“…………?”

Ada apa dengan semua ini…? Itu adalah pengalaman yang mengejutkan bagiku dalam berbagai hal, meninggalkanku dengan perasaan seperti baru saja selamat dari sapuan badai.

“Shuji, kamu kenal dengan gadis tadi?” tanya Miran, suasana hatinya agak memburuk.

“Nggak, sama sekali tidak kenal――!”

Aku bergegas menjelaskan situasinya, tetapi semangat Miran tampaknya sedikit menurun. Meskipun begitu, film anime yang kami tonton ternyata jauh lebih menarik daripada yang kuperkirakan.

“…………”

Meskipun filmnya menghibur… percakapan kami setelahnya tidak mengalir seperti biasanya.

***

Dalam perjalanan pulang setelah menonton film―. Saat aku mengantarkan Miran ke stasiun, aku merasakan sebuah kecanggungan, semacam ganjalan yang tidak menyenangkan. Kami memang mengobrol, tetapi suasananya tidak seceria biasanya――.

Ini terjadi karena aku tidak bisa menangani situasi dengan gadis tadi secara benar… Meskipun tidak ada kesalahpahaman, suasana aneh itu telah menurunkan suasana hati Miran.

“…………”

Aku tidak bisa membiarkan hal-hal tetap seperti ini…!

Penasaran apa yang bisa kulakukan, aku mengajukan usulan saat kami hendak berpisah.

“Besok setelah jam sekolah… kamu mau pergi ke toko pancake favoritmu?”

“Toko pancake?”

Penasaran seperti apa ekspresi yang kubuat pada saat itu… Miran berbalik menatapku, melihat wajahku, dan terkekeh pelan.

“Tentu! Aku sudah tidak sabar!”

“Kalau begitu, sampai jumpa besok…!”

Aku merasa lega melihat suasana hati tunanganku kembali naik. Setelah melepas Miran di gerbang stasiun, aku baru saja hendak melangkah pulang ketika…

“――――?”

Aku merasa seperti ada seseorang yang memperhatikan diriku lagi. Namun, area stasiun sangat ramai, dan aku tidak bisa menemukan sumber dari tatapan tersebut.

Apakah aku cuma terlalu percaya diri dan kebingungan sendiri…? Aku pun pergi, dibuat heran oleh antena penyendiriku sendiri.

Keesokan harinya setelah jam sekolah usai――. Sesuai janji, aku melangkah ke toko pancake bersama Miran.

“Aku bersemangat banget!”

Miran telah kembali ke dirinya yang ceria seperti biasa, mengobrol dengan bahagia――. Hanya melihatnya seperti ini saja sudah mengangkat semangatku juga.

Dan tepat saat tokonya mulai terlihat…

“――――?”

Mendadak, antena penyendiriku menangkap sebuah tatapan lagi――.

“Permisi, maaf ya mengganggu kalian!”

Sebuah suara yang lembut dan renyah memanggil dari belakang.

“…!?”

Aku tersentak oleh suara yang tak asing itu. Saat berbalik, di sana berdiri gadis Nekkotalker berkuncir kuda yang kukenali. Hari ini, dia mengenakan seragam sekolahnya.

“Eh… kamu itu…”

Dalam hati aku terkejut melihatnya lagi, dan Miran di sampingku juga tampak bingung.

“Ah! Ini beneran kamu, Shuji-san!”

Gadis itu, dengan senyuman di wajahnya, tampaknya hendak mendekatiku, tetapi Miran melangkah maju, menghadang jalurnya.

“Kamu ada urusan apa sama Shuji?”

“Iii, takutnya! Jangan menatapku galak begitu dong!”

“Aku tidak sedang menatap galak kok…”

“Aku cuma mau mengucapkan terima kasih pada Shuji-san karena sudah menunjukkanku jalan kemarin,” kata gadis itu, menengadah menatapku.

“Terima kasih buat yang kemarin ya.”

Tidak tahu harus merespons bagaimana, aku memilih untuk tetap diam. Gadis berkuncir kuda itu kemudian menatap Miran penuh rasa ingin tahu, memiringkan kepalanya sedikit sebelum bertanya padaku.

“Apakah dia ini… jangan-jangan pacarnya Shuji-san?”

Dihadapkan pada pertanyaan ini, aku tidak bisa tetap diam dan membuka mulutku.

“Iya… dia adalah pacarku.”

Aku merasa bangga mengatakannya dengan sangat jelas. Tetapi gadis itu tampak tidak percaya.

“Eh! Aku tidak pernah membayangkan orang seperti Shuji-san bakal pacaran sama seorang gyaru!”

“――――!?”

Kata-katanya yang tak terduga membuat otakku mengalami kemacetan pemrosesan. Aku memang sering menjadi bahan ejekan sebelumnya. Tetapi ini adalah pertama kalinya seseorang mengatakan sesuatu tentang Miran, dan pembicaranya adalah seorang gadis.

Aku kehilangan kata-kata…!

“Kamu punya masalah dengan hal itu?”

Miran bertanya padanya, dan gadis itu mundur seolah-olah ketakutan.

“Tuh kan! Gadis gyaru itu menakutkan! Dia menatapku galak!”

“――――”

Miran secara tidak biasa tampak kehilangan kata-kata.

Apa yang sedang terjadi di sini…!?

Di tengah atmosfer yang tidak tenang ini, aku pun panik.

“Apa yang harus kulakukan…!? Apa hal yang benar untuk dilakukan!?”

Atau apakah situasi ini disebabkan oleh diriku sendiri?

Bingung oleh apa yang sedang terjadi, gadis itu tersenyum padaku.

“Pacarmu menakutkan… jadi aku bakal pergi sekarang. Sampai ketemu lagi ya, Shuji-san♪”

Sampai ketemu lagi…!? Gadis berkuncir kuda itu pergi setelah mengatakan hal tersebut.

“Ada apa sih dengan gadis itu…”

Aku mendengar Miran bergumam. Daripada marah, dia tampak lebih kecewa. Aku berbicara dengan bersungguh-sungguh untuk menghindari kesalahpahaman apa pun.

“Miran, aku sungguh-sungguh tidak punya hubungan apa-apa dengan gadis itu…!”

“Iya, aku tahu kok…”

Miran mengangguk, tetapi ekspresinya muram. Kami memang pergi ke toko pancake setelahnya, tetapi tidak ada dari kami yang merasa berniat untuk makan, jadi kami hanya memesan minuman dan mengakhirinya di sana.

***

Gadis Nekkotalker itu… apa sih maunya…?

Setelah melepas Miran pulang dan kembali ke rumah, aku tenggelam dalam pemikiran. Apakah dia punya perasaan padaku…? Tapi tidak mungkin, hampir tidak ada hubungan apa pun di antara kami.

Dia kemungkinan besar tidak mengenalikuku saat festival budaya kemarin, dan kami baru benar-benar berbicara kemarin.

Aku tidak memahami motifnya, tapi…

“Aku tidak menangani situasinya dengan baik…”

Merenungkan perilakuku, termasuk yang kemarin, aku menyadari bahwa aku punya banyak hal untuk dipelajari. Karena tidak pernah dihampiri oleh gadis-gadis sebelumnya, kemarin aku hanya membiarkan hal-hal terjadi tanpa memberikan respons apa pun.

Dan hari ini, aku begitu bingung dan kewalahan hingga tidak bisa memberikan dukungan apa pun kepada Miran.

“…………”

Meskipun itu adalah lawan jenis, jika saja aku merespons dengan lebih tegas dan tepat pada saat itu, mungkin aku tidak akan membuat Miran merasa begitu murung.

Merenungkan hal ini, aku mengeluarkan ponsel pintarku. Duduk bersila secara rapi (seiza) di lantai, aku menyusun pesan permintaan maaf kepada Miran, dipenuhi oleh keteguhan hati.

Apakah pesan ini akan sanggup menyampaikan rasa penyesalanku…?

Membayangkan raut wajah Miran yang sedih, aku membaca ulang pesan permintaan maafku sambil tetap duduk bersila rapi (seiza).

“――――!”

Kemudian, kulihat pesanku sudah dibaca (read).

Berbeda dengan saat mengirim ajakan kencan santai seperti biasanya, rasa tegang saat menunggu balasan kali ini terasa sangat berbeda.

“Miran…!”

Aku menegakkan punggungku dan menatap tajam ke arah layar―dan kemudian sebuah pesan dari Miran masuk.

Shuji: Dengan hormat. Kepada Miran-sama. Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya karena telah menyebabkan situasi yang membuat Anda tidak nyaman kali ini. Saya menyadari bahwa ini adalah akibat dari buruknya kemampuan komunikasi saya, serta lambatnya saya dalam memahami situasi. Selama ini saya sering sekali mengolok-olok tokoh utama pria di anime yang tidak peka (peka-less/tonkan), tetapi rasanya hal itu sekarang berbalik menghantam saya bagaikan bumerang. Saat ini, rasanya ada banyak sekali bumerang yang menancap di punggung saya. Ke depannya, saya akan terus membenahi diri agar tidak membuat Miran memasang raut wajah sedih lagi. Bukan maksud menjadikan ini sebagai bentuk permintaan maaf, tetapi maukah Anda pergi jalan-jalan bersama saya pada libur panjang besok? Mohon bimbingannya selalu untuk ke depannya. Hormat saya.

(TLN: Jangan tanya apa pesan miran, karena ini emang dari sananya begitu, gua juga bingung)

“Syukurlah…”

Membaca pesannya, aku merasa sangat lega. Itu adalah pesan yang sangat khas dari seorang Miran.

“Mulai sekarang, aku harus memastikan untuk tidak membuat Miran sedih lagi…”

Demi tunanganku, aku bertekad untuk mengambil sikap yang lebih tegas, bahkan terhadap perempuan lain. Saat aku bertekad mencoba berdiri, kakiku mendadak kesemutan, dan aku tidak bisa bergerak untuk beberapa saat.

***

Beberapa hari kemudian―setelah jam sekolah usai. Aku sedang berjalan pulang sendirian setelah mengantar Miran ke stasiun.

“Jangan-jangan ini Shuji-san!?”

Mendengar suara lembut yang tak asing, aku berbalik karena terkejut. Ternyata itu adalah gadis berkuncir kuda dari NekkoTalk yang kemarin.

“Kamu kan…!?”

Aku dibuat kaget, tidak menyangka bakal berpapasan dengannya dalam perjalanan pulang.

“Bisa bertemu lagi seperti ini pasti namanya takdir…!” katanya dengan senyuman malu-malu.

Aku hampir saja terseret oleh ritmenya, tetapi aku mengingat pesan permintaan maaf yang sudah kukirimkan kepada tunanganku.

Kuatkan dirimu, wahai diriku! Bersikaplah yang tegas!

Saat aku mengumpulkan keteguhan hati, gadis berkuncir kuda bernama Hikari itu mendekatiku dengan mata menengadah.

“Maaf ya baru perkenalan sekarang, namaku Hikari♪”

Hikari…san?

Saat aku bersiap pasang badan, Hikari-san menanyakan sebuah pertanyaan padaku.

“Apakah rumah Shuji-san ada di dekat sini?”

Rumahku…!? Pertanyaannya yang tak terduga membuatku tersentak, tetapi aku berdeham dan menjawab.

“Nggak… yah, biasa saja sih…”

Saat aku menghindari memberikan jawaban langsung, Hikari-san makin merapat dengan pandangan menengadah. Aku mundur selangkah, dan Hikari-san bertanya dengan nada gugup:

“Bolehkah aku berkunjung untuk melihatnya?”

“Nggak, nggak, nggak mungkin――”

Ucapannya yang tak terduga untuk kedua kalinya membuatku syok, dan aku mengibaskan kedua tanganku menolak.

“Itu sama sekali tidak boleh…! Rumahku sangat berantakan! Dan tidak baik pergi ke rumah cowok secara sembarangan…!”

“Ini bukan sekadar rumah siapa saja, aku ingin melihat rumahmu, Shuji-san.”

Kenapa dia begitu gencar dan blak-blakan…!? Apakah ini yang dinamakan gadis tipe agresif…!?

“Nggak, tetap tidak boleh…! Aku sudah punya pacar!”

Aku menolaknya secara mati-matian, tetapi kemudian Hikari-san berkata, “Kalau begitu…”

“Bisakah setidaknya kita bertukar kontak?”

“Kontak…!?”

Mempertimbangkan pilihan lainnya bahwa dia mungkin akan menguntutiku sampai ke rumah, bertukar kontak mungkin pilihan yang tidak terlalu buruk dibandingkan itu…?

Tetapi kemudian aku menggelengkan kepala, menegaskan pada diri sendiri bahwa itu tidak boleh.

“Maaf ya, ponsel pintarku sedang rusak saat ini…!”

Aku tahu persis. Kalimat ini sering digunakan oleh anak-anak cewek untuk menolak saat dimintai kontak. Aku tidak pernah membayangkan kalau aku, yang seorang introver, akan berakhir menggunakan kalimat ini.

“Hmm…”

Hikari-san memasang raut wajah yang sedikit tidak senang. Suasana terasa agak tegang untuk sekejap, tetapi Hikari-san kemudian menengadah menatapku dengan ekspresi kecewa.

“Sayang sekali ya. Pasti merepotkan sekali tidak bisa memakai ponsel.”

“Iya, begitulah…”

Aku menggaruk kepala dan mengangguk. Hikari-san tersenyum padaku.

“Kalau begitu, beri tahu aku ya kalau ponselmu sudah jadi♪”

“Iya, nanti diberitahu…”

Karena sudah terlanjur bilang rusak, aku tidak punya pilihan selain mengangguk setuju saat dia berkata begitu. Aku membalasnya dengan canggung, dan Hikari-san mengangguk sambil tersenyum.

“Kalau begitu aku bakal pulang sekarang♪”

“Oke…”

Saat Hikari-san berbalik dan melangkah pergi, aku memperhatikan ikatan kuncir kudanya yang bergoyang sampai dia menghilang dari pandangan, lalu menghela napas lega.

Apakah aku berhasil menangani situasi tadi dengan cukup tegas…?

“……….”

Yah, setidaknya bisa dibilang lumayan lah.

Merenungkan tindakanku, aku memastikan bahwa aku tidak sedang diikuti lalu bergegas pulang ke rumah. Namun, aku tidak bisa mengusir perasaan bahwa aku mungkin akan berpapasan dengannya lagi di suatu tempat. Ketika hal itu terjadi, aku cuma harus bersikap tegas lagi.

“Sebenarnya apa sih niatnya…?”

Meskipun dia tahu aku sudah punya pacar… kenapa dia terus-terusan mendekatiku seperti itu? Aku tidak bisa memahami niat Hikari-san.

Namun beberapa hari kemudian, sesuatu yang menentukan akhirnya terjadi.

***

Hari itu kembali terjadi dalam perjalanan pulang sekolah.

“Shuji-san―!”

Aku terhenti mendengar suara yang tak asing. Berbalik karena terkejut, di sana berdiri Hikari-san, si gadis berkuncir kuda.

“Ada apa…!?” tanyaku gugup.

Hikari-san menarik sebuah amplop berwarna-warni dari dalam tasnya dan menghampiriku.

“Tolong baca ini ya!”

“Tunggu, tunggu dulu―”

Aku mencoba menolaknya, tidak tahu benda apa itu, tetapi Hikari-san menyerahkan amplop itu padaku. Saat bergegas mencoba mengembalikannya―

“Pastikan untuk membacanya ya!”

Dengan kata-kata itu, Hikari-san berlari pergi, tampak malu-malu.

“Apa-apaan ini…!?”

Aku dibuat tertegun oleh kejadian yang mendadak ini. Setelah beberapa saat, aku akhirnya melihat amplop yang disodorkannya padaku.

“――――!?”

Amplop itu ditujukan kepada “Shuji-san” dengan tulisan tangan yang imut, dan ditempeli stiker bentuk hati. Sebuah pemikiran terlintas di benakku saat melihatnya.

“A-Apa-apaan ini!? Mungkinkah…!”

Tanganku gemetaran saat dengan gugup menarik surat dari dalam amplop. Perlahan membuka surat tersebut, tulisannya berbunyi:

“Kepada Shuji-san, terima kasih ya sudah menunjukkanku jalan waktu itu. Kamu kelihatan keren banget waktu membantuku saat aku sedang kesulitan! Aku tidak bisa melupakanmu sejak hari itu. Ada perasaan yang ingin kusampaikan padamu secara langsung! Besok sore, aku bakal menunggu di taman. ‘Aku bakal menunggu selamanya sampai kamu datang.’”

Ini jelas-jelas――.

“Surat cinta!? Aku tidak pernah menyangka bakal menerima surat cinta…!”

Aku tidak bisa mempercayainya, tanganku gemetaran.

Tapi――.

“Aku menghargai perasaannya, tapi…”

Rasa bingung dan terbebani jauh melampaui hal lainnya. Aku sudah punya tunanganku, Miran… Hikari-san pasti sangat menyadari hal itu.

“Apa yang harus kulakukan soal ini…?”

Apakah aku harus mengabaikannya, atau bagaimana…? Aku menatap surat itu dengan perasaan bersalah, terombang-ambing tentang bagaimana harus meresponsnya.

“Dia bilang dia bakal menunggu…”

Meskipun dia punya keberanian untuk memberiku surat itu, aku tidak bisa mengabaikannya secara kasar…

Setelah berpikir sejenak――. Aku memutuskan untuk berkonsultasi secara jujur dengan tunanganku, Miran.

***

Sore harinya――. Sesuai instruksi di dalam surat, aku pergi ke taman dan menemukan Hikari-san sedang duduk di bangku.

“Aku senang banget kamu datang!”

Hikari-san berlari menghampiriku begitu melihat keberadaanku.

“Terima kasih buat suratnya yang kemarin ya… Umm, soal hal itu…”

Aku menggaruk kepala dengan gugup, dan Hikari-san menengadah menatapku lalu berbicara secara langsung.

“Aku jatuh cinta padamu, Shuji-san.”

Itu adalah kata-kata yang tidak terbiasa kudengar――. Aku dibuat terperangah, tetapi aku menundukkan kepalaku.

“…Maaf ya. Seperti yang mungkin sudah kamu tahu, aku sudah punya pacar.”

Terhadap penolakanku, Hikari-san menatapku dengan ekspresi yang agak bersimpati.

“Aku mendengar dari seseorang di sekolah… pacarmu yang sekarang itu adalah tunangan dari perjodohan orang tua, kan?”

“Awalnya sih… memang begitu,” aku mengangguk.

Hikari-san kemudian berkata, tampak makin bersimpati.

“Sudah kuduga… Rasanya memang tidak pas waktu melihat kalian berdua. Menjadi tunangan hasil perjodohan berarti kalian tidak bisa dengan mudah putus meskipun tidak cocok, kan?”

Kata-katanya menusuk ganjalan di hatiku. Sebelum aku sempat mengatakan apa-apa, Hikari-san mencondongkan badan dan berkata dengan pandangan menengadah.

“Jadi, tidak apa-apa kok meskipun kamu sudah punya pacar. Aku ingin pacaran denganmu, Shuji-san…! Kurasa aku jauh lebih cocok untukmu.”

Mendengar kata-katanya, aku merespons secara tegas dan jelas.

“Aku mencintai pacarku―Miran, terlepas dari urusan pertunangan kami. Jadi, aku tidak bisa membayangkan pacaran dengan orang lain.”

Aku merasa agak jengkel karena dia mengira Miran dan aku berhubungan secara terpaksa. Setelah menyatakan penegasanku, aku menambahkan karena khawatir pada Hikari-san.

“Dan… tidak baik merasa oke-oke saja pacaran dengan seseorang yang sudah punya pacar. Kamu harus lebih menghargai dirimu sendiri.”

“…………”

Hikari-san dibuat bungkam oleh kata-kataku. Keheningan berlangsung untuk beberapa saat――.

Kemudian, seolah-olah menghela napas dalam-dalam, Hikari-san mendadak mengacak-acak rambutnya sendiri.

“Apa-apaan sih? Maksudnya apa!? Kenapa kamu menolak penembakanku?”

“Ha?”

“Kenapa pendekatanku tidak mempan padamu!?”

“Uh… apa…?”

Apa-apaan…!? Kenapa atmosfernya bisa berubah drastis begini!?

“Anak cowok kan sukanya tipe cewek imut dan agresif, kan? Apalagi ampuh banget buat otaku! Aku sudah melakukan riset tahu!”

“Uh… beberapa orang mungkin suka, tapi aku sih tidak terlalu…”

Jujur saja, itu agak menakutkan…

“Lalu bagaimana waktu di bioskop kemarin? Kamu kan panik banget!”

“Bukan, waktu itu aku cuma panik karena ada orang asing yang mendadak menghampiriku… semacam terkejut saja.”

“Ha? Terus, bukannya kamu terlalu sensitif sama tatapan orang? Kamu selalu berbalik melihat!”

Saat Hikari-san menjadi emosional dan makin mendesak――.

“Ternyata memang kamu ya, Hikari.”

Kemunculan tunanganku si gadis gyaru mengejutkan Hikari-san.

“Eh? Kenapa kamu ada di sini!?”

“Aku sudah mendengar tentang kejadian hari ini dari Shuji,” jelasku pada Miran, berpikir bakal lebih baik jika dia melihat sendiri aku menolak penembakan itu, untuk menghindari membuatnya khawatir.

“Tadinya aku tidak berniat muncul sih, tapi… kalau Hikari yang terlibat, ceritanya jadi beda.”

Keduanya tampaknya saling mengenal, dan aku dibuat makin bingung oleh situasinya.

“Apakah kalian berdua saling kenal?”

“Aku tadinya tidak mengenali karena penampilannya beda banget dari yang dulu… tapi dia ini Hikari Miyakura, teman sekelas waktu SMP. Ingat kan, aku pernah cerita tentang dia waktu kita lihat album kelulusan SMP di rumahku pas liburan musim panas lalu? Gadis yang selalu bentrok denganku.”

“Ah…”

Aku teringat album yang kami lihat bersama di rumah Miran saat liburan musim panas. Seorang gadis yang manis tapi polos, yang hampir tidak meninggalkan kesan di ingatanku…

“Jadi, ada apa dengan semua ini?”

Miran berbalik ke arah Hikari-san, mempertanyakan niatnya. Dengan ekspresi serius, Miran disambut oleh respons cemberut dari Hikari-san.

“…Aku mau menyadarkanmu tahu.”

“Menyadarkanku? Maksudmu apa?”

“Aku malu mengakuinya, tapi aku selalu mengagumimu, Miran.”

Hikari-san melanjutkan, suaranya terdengar agak jengkel.

“Aku mau membalasmu setelah penampilanku berubah di SMA (high school debut), tapi lalu kamu mendadak mengubah pilihan SMA-mu… Dan waktu aku mendengar kamu sudah punya pacar, dan ternyata dia seorang otaku introver, aku syok banget! Apalagi waktu aku melihatnya pas musim panas! Dan bukan cuma sekadar pacar biasa tapi tunangan hasil perjodohan―”

Hikari-san menatap Miran dan aku, menghela napas.

“Aku pikir kalau aku merebutnya darimu, kamu bakal sadar kalau ada cowok-cowok lain yang lebih cocok di luar sana, jadi aku mulai mendekatinya.”

Mendengar kata-kata Hikari-san, segala hal tentang perilakunya belakangan ini mendadak menjadi masuk akal bagiku.

Menatap Miran dengan rasa simpati, Hikari-san menambahkan,

“Dia kan cuma tunangan dari perjodohan, kan? Kurasa kamu bisa dapat yang lebih baik!”

“Hikari, sepertinya kamu salah paham akan suatu hal deh…”

Miran menyela kata-kata Hikari-san. Setelah mendengarkan percakapan itu, Miran berbicara dengan kilatan rasa marah di matanya.

“Akulah yang meminta orang tua kami untuk melanjutkannya ke pembicaraan pertunangan dengan Shuji.”

“Eh…!?”

Ekspresi Hikari-san berubah menjadi syok. Aku merasakan kehangatan di hatiku saat mendengar cerita yang sempat kupelajari saat pesta barbecue dulu.

“Aku pertama kali bertemu Shuji dalam perjalanan yang kami ambil bersama orang tua kami saat kami masih kecil. Kami bersekolah di tempat yang berbeda, tapi aku selalu menyukainya.”

Miran melanjutkan bicaranya.

“Aku mengubah pilihan SMA-ku karena aku ingin masuk ke sekolah yang sama dengan Shuji.”

“……!?”

Apakah benar-benar begitu…? Aku dibuat syok mendengar informasi baru ini. Ini menjawab pertanyaanku tentang mengapa sekolahnya sangat jauh saat aku berkunjung ke rumahnya…

Dia memilih SMA-nya demi diriku…

Miran, tampak malu-malu, melirikku sebelum menegaskan pada Hikari-san,

“Aku mencintai Shuji, terlepas dari status tunangan atau bukan.”

Merasa kewalahan oleh kata-katanya, aku menggenggam tangan Miran.

“Miran… aku juga mencintaimu.”

“Shuji…”

Kami saling menatap sebagai sepasang tunangan untuk beberapa saat, tenggelam dalam dunia kami sendiri, melupakan situasi di sekitar kami.

Kemudian, Hikari-san menghembuskan napas kecil.

“Apa-apaan sih ini…”

Gumamnya, bahunya terkulai lelah.

“Rupanya aku cuma melakukan hal yang sia-sia… Maaf ya sudah mengganggu.”

Saat Hikari-san berbalik hendak pergi, aku memanggilnya.

“Tunggu dulu, Hikari-san…! Jadi, semua ini terjadi karena… kamu memikirkan Miran, kan?”

Saat Hikari-san terhenti, aku mengucapkan terima kasih padanya.

“Terima kasih banyak ya…! Aku mungkin seorang otaku introver yang punya kecemasan sosial, tapi aku bakal berusaha keras untuk menjadi pria yang pantas bagi Miran.”

Deklarasiku dengan penuh keteguhan hati. Terlepas dari tindakannya, aku bersyukur bahwa dia memikirkan kebaikan Miran.

Setelah menghening sejenak, Hikari-san berbalik secara mendadak dan meminta maaf dengan nada suara imutnya seperti awal.

“…Mengatakan kalau itu ‘tidak cocok’ memang terlalu kasar sih. Maaf ya! Miran, aku juga minta maaf ya!♪”

“Aksi imutnya masih berlanjut ya ternyata…”

Tampaknya kami berdua punya hal-hal untuk dipikirkan… dan kemudian Miran dan Hikari-san mulai mengobrol tentang masa-masa SMP mereka serta kehidupan saat ini. Aku bergeser ke tempat di mana aku tidak akan menjadi gangguan.

Tampaknya ganjalan lama dari masa SMP sudah agak terselesaikan… Pada akhirnya, mereka bahkan saling bertukar kontak.

***

Hari ini adalah hari libur――. Dan hari kencanku bersama Miran.

Aku telah memberi usaha ekstra pada tataan rambutku hari ini. Ada sesuatu yang spesial yang ingin kulakukan.

“Shuji―! Maaf ya membuatmu menunggu.”

“Miran――!?”

Saat aku menunggu di titik kumpul biasa kami, Miran tiba, tapi――. Ada orang lain bersamanya.

“Uh, Hikari-san…!? Kenapa kamu ada di sini…?”

Hikari-san datang bersama Miran.

“Dia bilang ingin meminta maaf padamu sekali lagi,” jawab Miran menjelaskan.

Saat Hikari-san mendekatiku, dia membuka matanya lebar-lebar karena terkejut.

“Kamu itu sang butler dari maid café kemarin kan!?”

“Iya…”

“Harusnya kamu tampil seperti itu dari awal dong!”

Entah bagaimana, aku malah dimarahi. Tapi ini kan seperti pahlawan super yang cuma bisa bertarung dalam batas waktu tertentu, dan bahkan aku pun punya batasan untuk moda penampilan seperti ini…

Hikari-san, yang sejak tadi menatapku, kemudian menundukkan kepalanya lagi.

“Maaf ya buat yang kemarin. Aku terlalu banyak berasumsi sendiri…”

“Nggak kok, tidak apa-apa, sungguh.”

Aku mengibaskan tanganku panik.

Lalu Hikari-san menanyakan sebuah pertanyaan padaku.

“Aku tidak bakal mengganggu kalian berdua lama-lama sih, tapi… sekadar penasaran saja, apa rencanamu buat kencan hari ini?”

“Yah, sesuatu yang seperti ini.”

Aku sudah merencanakannya dan menuliskannya di kertas, jadi aku memperlihatkannya padanya.

“Wah… ini benar-benar unik banget! Coba kulihat lebih dekat.”

Hikari-san secara berlebihan memperhatikan kertas itu. Kemudian, sambil mengernyitkan dahi, dia berbisik padaku dengan nada suara aslinya.

“Hei, apa-apaan ini? Ini terlalu kaku seperti skrip! Kamu mengambil ini dari internet ya!?”

Aku tidak bisa membantahnya karena itu memang sebagian benar…

“Miran itu berhak dapat yang lebih baik tahu. Kamu kan sedang berusaha jadi pria yang pantas buat dia, kan?”

“Maaf…!”

Saat aku meminta maaf, Hikari-san mengembuskan napas lalu berkata.

“Yah, sudah kuduga sih…”

Beralih kembali ke nada imutnya, Hikari-san mengeluarkan sebuah catatan manis dan, dengan suara yang cukup nyaring untuk didengar Miran, berkata.

“Aku sudah mencatat beberapa tempat yang direkomendasikan. Kalian berdua harus mencobanya ya!”

Hikari-san menyerahkan catatan itu padaku.

“Selamat menikmati kencan kalian.”

Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Miran, Hikari-san pun pergi.

“Luar biasa…!”

Melihat catatannya, di sana ada tempat-tempat dan ide-ide yang tidak akan pernah kupikirkan sebelumnya――.

“Pria yang pantas untuk Miran…”

Menjadi seorang pria yang sanggup menghibur tunanganku Miran, seorang pria yang pantas, terasa seperti jalan yang masih sangat panjang dan penuh tantangan di depan sana.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment