Chapter 6
Rahasia Ada untuk Diungkapkan
“Gossan, kamu
lebih suka yang mana: laut, taman hiburan, atau festival?”
“…Apakah ini
semacam survei?”
“Bukan. Aku cuma
berpikir untuk mengajakmu ke salah satunya. Lagipula, liburan musim panas sudah
di depan mata.”
Hari itu adalah
hari Senin setelah jalan-jalan yang mirip kencan dengan Tora-senpai.
Setelah dengan
cepat menghabiskan makan siangku dengan roti yang kubeli di koperasi sekolah,
aku kembali ke kelas dan bertanya kepada Gossan, yang sedang duduk sendirian di
mejanya sambil membuka bekalnya. Figur menyerupai gorila itu menghentikan
sumpitnya, yang terapit di antara jari-jarinya yang tebal, lalu menatapku
seolah-olah sedang mengukur seorang penyusup di wilayah kekuasaannya.
“…Sebelum aku
menolak, bolehkah aku bertanya kenapa kamu menanyakan hal ini?”
“Yah, begitu
liburan musim panas dimulai, kita tidak bakal bisa saling menghubungi, kan?
Jadi aku pikir aku harus merencanakannya dari awal. Gossan, kamu pasti sibuk
dengan kegiatan klub dan lainnya. Mungkin pergi ke laut bagus?”
“Aku tidak mau
pergi. Lagipula, apa kamu tidak punya pekerjaan lain?”
“Aku berencana
kerja paruh waktu, dan aku cuma anggota cadangan di klub, jadi kurasa aku tidak
bakal terlalu sibuk. Oh, bagaimana kalau taman hiburan yang menyatu dengan
akuarium?”
“Aku sudah
bilang aku tidak mau pergi. Kalau kamu mau mengajak seseorang, kenapa tidak
pilih orang yang lebih aktif?”
“Tidak, aku
berfikir untuk membuat rencana dengan Gossan sebagai titik awalnya. Kalau itu
gagal… Oh, ada festival kembang api di dekat sini. Mungkin yang itu—huh?”
Saat aku sedang
mencari informasi acara lokal di ponselku, seekor gorila yang menjulang tinggi
telah berdiri di hadapanku.
“…Ikut aku
sebentar.”
“Ah? Tapi
Gossan, kamu kan masih di tengah-tengah makan siang,”
“Itu bisa
tunggu. Ayo, cepat.”
“Whoa, hei,
tidak perlu menarikku begitu…!”
Otot bisep
kananku dicengkeram, dan aku ditarik secara paksa keluar dari kelas. Tatapan
murid-murid lain menusukku, tetapi aku sama bingungnya dengan mereka.
Aku diseret
dengan tenaga yang cukup besar menuju gedung sekolah baru yang terhubung dengan
gedung utama, dan akhirnya dilepaskan di sudut koridor. Tidak ada orang
di sekitar, dan akan terlihat jelas jika ada orang yang mendekat. Tampaknya ini
tempat untuk pembicaraan pribadi.
“…Aku
sudah memikirkan hal ini sejak lama, tapi Saiki-kun, kamu harusnya lebih peka
terhadap orang-orang di sekitarmu.”
“Kalau
bicara soal kepekaan, tindakan menyeretku secara paksa tadi sepertinya lebih
bermasalah bagiku.”
“Itu lebih baik
daripada melanjutkan percakapan itu di sana. Serius, kamu ini
benar-benar…”
Itu tampak lebih
seperti rasa jengkel daripada kemarahan. Dari suaranya, itulah kesanku,
meskipun yang bisa kulihat hanyalah seekor gorila yang cemberut.
Berkat
pengalaman yang kukuumpulkan karena duduk di sebelahnya, aku bisa memahami
sebanyak itu. Yang tidak kupahami adalah,
“Kenapa kita
harus bicara di tempat sepi seperti ini? Aku cuma mengajakmu jalan-jalan.”
“…Sekadar
memastikan, apakah itu ajakan untuk jalan-jalan bersama sebuah kelompok?”
“Tidak. Kalau
Gossan lebih suka begitu, aku bisa mengaturnya setelah memutuskan detailnya,
tapi untuk saat ini, aku tidak mengajak siapa pun selain kamu, Gossan.”
“…”
Kenapa dia
kelihatan seperti sedang menahan sakit kepala? Aku yakin aku tidak
mengatakan sesuatu yang aneh.
Saat aku
berdiri di sana dengan bingung, Gossan, yang tadi berpose seperti gorila yang
sedang berpikir keras, menurunkan tangannya dari pelipis dan mengarahkan
tatapan tajam padaku.
“…Saiki-kun,
kamu terlalu tidak peka kalau menyangkut anak perempuan. Apakah karena kamu
punya adik perempuan?”
Ini lebih
mungkin disebabkan oleh pengalaman unikku dengan wujud hewan, tetapi tidak ada
gunanya mengatakannya.
“Tapi Gossan,
bukankah wajar mengajak teman untuk jalan-jalan?”
“…Teman…?”
“Aku kaget kamu
sampai tersandung di kata itu! Kita sudah menjalani hidup bertetangga di meja
kelas yang intens selama hampir tiga bulan!”
“Jangan katakan
itu dengan cara yang aneh. Tidak ada interaksi yang melebihi batas sesama teman
sekelas.”
“Yah, itu benar,
tapi aku berharap kita bisa menjadi teman yang lebih baik. Gossan, aku bahkan
tidak punya kontakmu.”
“Kamu tidak
pernah memintanya.”
“Huh, kalau aku
minta, apa kamu bakal memberikannya padaku?”
Terkejut oleh
sikapnya yang tidak terlalu enggan, aku bertanya, dan Gossan segera mengangguk.
“Ya. Itu bukan
masalah besar, dan kalau aku merasa terganggu, aku tinggal memblokirmu.”
“Pertahananmu
kokoh sekali. Ngomong-ngomong, apa yang bisa membuatmu memblokir seseorang?”
“Yah… kalau kamu
mengirim pesan tanpa ada keperluan apa pun, itu tidak boleh.”
“Komunikasi
normal saja tidak boleh!? Wah, itu terlalu ketat kalau sampai begitu.”
Ini berarti
begitu liburan musim panas dimulai, aku tidak akan bisa berkomunikasi dengan
Gossan. Aku tidak berencana melakukan sesuatu secara mendadak karena adanya
kutukan, tetapi tetap saja terasa menyedihkan.
Setidaknya, aku
ingin berada di tingkat hubungan di mana aku bisa mendapatkan balasan untuk
pesan-pesan santai.
“…Baiklah, aku
paham. Aku bahkan bakal menraktirmu makan, jadi ayo pergi ke mana pun yang kamu
suka!”
“Kamu
benar-benar tidak paham, ya? Apa kamu pikir aku ini tipe orang yang akan menerima
ajakan kasual seperti itu?”
“Tidak.
Aku sama sekali tidak berpikir begitu. Itulah sebabnya aku gigih bersikeras.”
“Bahkan
jika kamu tidak menganggapku murah, menyebalkan sekali melihatmu sama sekali
tidak mempertimbangkan kemungkinan bahwa aku mungkin sudah punya pacar.”
“Whoa!? Serius,
Gossan punya pacar!?”
Suaraku meninggi
akibat rasa terkejut yang melampaui dampak gorila awal, dan Gossan dengan
terburu-buru memeriksa apakah ada orang di dekat kami.
“Aku tidak
punya! Aku cuma bilang menyebalkan melihatmu tidak mempertimbangkannya!”
“Oh, begitu…
Tapi maksudku, kalau ada tanda-tanda kehadiran seorang pria, aku pasti bakal
berpikir dua kali sebelum mengajakmu. Gossan kan selalu sendirian, dan aku
tidak pernah melihatmu menghubungi siapa pun saat istirahat.”
“…Sama
menyebalkannya diintai sampai setransparan itu, tapi kamu tidak salah, jadi aku
biarkan kali ini. Tapi apa kamu akan tetap mengajak seseorang meskipun mereka
sudah punya pacar?”
“Yah, dalam
kasus itu, aku tidak akan pergi berduaan saja. Mungkin aku bakal meminta untuk
membawa pacarnya sekalian dan jalan-jalan bertiga.”
Jika itu terjadi
dan aku melihat Gossan akrab dengan pacarnya, aku bakal siap untuk mundur. Di
sisi lain, jika keadaannya tampak tidak beres, aku mungkin bakal termotivasi
untuk berusaha lebih keras.
Bagaimanapun
juga, aku mungkin bakal mencobanya, dan saat aku mengangguk, si gorila
menatapku dengan ekspresi heran.
“…Aku tidak bisa
memahami cara berpikirmu. Tapi kalau ini bukan ajakan kencan, aku mungkin akan
mempertimbangkannya sedikit.”
“Benarkah!? Dari
opsi yang kusebutkan tadi, mana yang paling menarik buatmu?”
“…Kalau harus
memilih, aku pilih kembang api. Itu tidak terasa seperti kencan.”
“Oh, ya?
Bukankah itu punya atmosfer kencan yang kental?”
“Tempatnya
dekat, kan? Kalau begitu tidak ada risiko menginap. Kita cuma pergi mengelilingi stan
makanan, menonton kembang api, lalu bubar.”
Aku paham. Itu
salah satu cara untuk melihatnya.
“Benar juga,
kalau dekat, ujung-ujungnya bakal begitu. Bayanganku tadinya lebih ke arah
terjebak hujan lebat saat jalan pulang dan harus menginap, atau mengatakan
sesuatu seperti ‘Kamu lebih cantik daripada kembang api itu’ sambil
menontonnya, jadi rasanya seperti acara kencan sepenuhnya.”
“…Kamu sadar kan
kalau ini bukan kencan? Lagipula, bayangan Saiki-kun terlalu banyak
fantasinya.”
“Aku tadinya
mencoba memilih acara untuk pergi bersama seorang teman, tapi yang itu
tampaknya paling terasa seperti kencan. Dan soal pengalaman romansaku, selain
cinta monyet di kelas enam SD, sisanya kebanyakan berdasarkan fiksi, jadi aku
tidak bisa membantah kalau kamu menyebutnya fantasi.”
“Kamu tidak
seharusnya mengatakan itu dengan wajah bangga begitu…”
Aku tidak
bermaksud menyombongkan diri, tapi itu juga bukan sesuatu yang harus
disembunyikan, dan bisa jadi bahan percakapan. Tidak ada orang lain di sekitar,
dan ini mungkin membantu menurunkan kewaspadaan Gossan, jadi aku bagikan saja.
“Ya, aku cukup
awam soal seluk-beluk hubungan laki-laki dan perempuan. Cinta pertama yang
kusebutkan tadi, kalau diingat-ingat lagi, aku baru sadar kalau itu rasa suka,
tapi saat itu aku sama sekali tidak paham.”
“…Aku tidak
tertarik dengan riwayat romansamu, Saiki-kun, tapi apa yang terjadi dengan
cinta pertama itu?”
“Tidak
ada yang spesial. Dia cuma seorang gadis yang kebetulan keliling festival
bersamaku. Aku bahkan tidak menanyakan namanya, dan begitu saja berakhir.”
Pada
kenyataannya, lebih tepat untuk mengatakan bahwa situasi yang dimulai saat itu
jauh dari kata cinta pertama dan dihentikan secara paksa, tetapi aku tidak bisa
memberikan penjelasan yang tak masuk akal seperti itu.
“Saat itu, aku
cuma bermain-main dengan anak laki-laki maupun perempuan tanpa kesadaran
khusus. Kalau saat itu sesederhana cinta pada pandangan pertama, aku mungkin
sudah bergerak, tapi aku terlalu kanak-kanak untuk langsung menyadarinya.”
“…Kamu
sepertinya masih cukup kanak-kanak sampai sekarang, tahu?”
“Aku tidak bisa
membantah yang itu! Tapi bagaimanapun juga, jangan anggap ini terlalu serius
sebagai kencan, anggap saja sebagai ajakan jalan-jalan biasa, dan itu bakal
sangat membantuku.”
“Aku tidak paham
apa maksudmu dengan ‘membantu,’ tapi… yah, baiklah.”
Fuuuh. Tidak
jelas apakah dia yakin atau tidak, tapi setidaknya ada celah untuk mengajak—
“Jadi, kapan dan
di mana pesta kembang apinya?”
“…Huh?”
“Tempatnya
dekat, kan? Kalau tidak terlalu jauh, aku tidak keberatan pergi. Aku sebenarnya
suka kembang api.”
“…Oh…”
Kata 'ya' yang
tak terduga muncul begitu saja tanpa persiapan apa pun.
Apakah ini
karena Gossan hanya khawatir jika ini dimaksudkan sebagai kencan, dan jika
bukan, maka tidak apa-apa? Atau apakah dia sangat menyukai kembang api hingga
rela menoleransi sedikit rasa tidak nyaman?
Bagaimanapun
juga, aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini…!
“Tunggu
sebentar. Kembang apinya ada di tepi Sungai Nagami, dan… whoa, hari ini!”
“Hari ini?
Maksudmu… oh, yang itu?”
“Tunggu, kamu
tahu soal itu, Gossan?”
“Itu tidak
benar-benar di lingkungan rumahku, tapi tidak terlalu jauh dari rumahku. Aku
pernah ke sana beberapa kali.”
“Oh, ya? Itu
menenangkan.”
“Seharusnya ada
stan-stan makanan di sepanjang tepi sungai dan mungkin di sekitar kuil dekat
sana juga. Kita bisa beli makanan di sana.”
Meskipun
situasinya tadinya tampak tanpa harapan, rencananya menyatu dengan lancar. Ada
apa ini, terlalu beruntung sampai terasa tidak nyata?
“Mungkin aku
bakal tertabrak kecelakaan lalu lintas atau tersambar petir dan berakhir luka
parah hari ini…”
“Jangan
katakan hal-hal bernada sial begitu. Aneh juga melihatmu begitu positif
berpikir cuma bakal berakhir dengan luka parah alih-alih meninggal.”
“Yah,
aku tidak berpikir ini sesuatu yang bakal membunuhku.”
Mendengar
penilaianku, wajah gorila itu jelas-jelas berkata, ‘Orang ini bicara apa, sih?’
tetapi menjelaskannya hanya akan membuatnya makin bingung.
“…Yah,
tidak apa-apa. Saiki-kun yang aneh kan bukan hal baru. Jadi, jam berapa kembang
apinya mulai?”
“Sebentar.
Coba kulihat… sepertinya mulai jam tujuh lewat tiga puluh.”
“Kalau
begitu, ayo bertemu di Stasiun Nagami jam tujuh. Cuma sekitar lima menit berjalan
kaki ke kuil.”
“Oke, oke. Aku
tidak pernah turun di sana, tapi aku harusnya baik-baik saja.”
“Kalau begitu,
sudah sepakat. Ngomong-ngomong, kalau kamu membawa topik ini di dalam kelas,
aku bakal memukulmu begitu keras sampai kamu tidak bisa merasakan makananmu,
jadi bersiaplah untuk itu.”
Dengan lontaran
kata-kata santai namun mengerikan, Gossan kembali ke kelas.
Aku mencoba
memanggilnya kembali, tetapi aku hanya berhasil mengangkat tanganku separuh,
tak sanggup mengeluarkan suara.
Pikiranku masih
belum bisa mengejar. Aku yang mengajak, tetapi aku tidak menyangka dia bakal
menerima, dan sekarang acara ini cuma berdua saja.
Yah, ini
festival kembang api, jadi bakal ada banyak orang di sekitar, dan kami tidak
akan benar-benar berduaan, tapi tetap saja ini cukup berbeda dari pergi bersama
sebuah kelompok. Aku sendiri yang bilang ini bukan kencan, tapi tetap saja.
“…Aku sudah
mulai merasa gugup… tapi…”
Ini
bukan waktunya untuk gemetar karena gembira. Ini adalah sebuah kesempatan,
tetapi jika aku berantakan, mungkin tidak akan ada kesempatan kedua.
Untuk
memastikan Gossan bersenang-senang, yang kubutuhkan di atas segalanya adalah…
“…Aku
tidak punya uang… Berapa sisa uang di bank… ugh, apa yang harus kulakukan…!?”
Tepat
setelah merasakan kepanikan yang intens tentang kurangnya danaku yang parah,
bel sekolah pun berbunyi.
***
Saat aku
kembali ke kelas, aku mengirim pesan kepada Tora-senpai, rekanku dan
satu-satunya orang yang bisa kuajak berkonsultasi, berbunyi, ‘Aku mau pergi
menonton kembang api dengan orang yang kusukai.’
Segera
setelah pesan itu dibaca, rentetan pesan datang membombardir.
『Eh?』
『Ada apa?』
『Kencan!?』
『Bukankah perkembangannya terlalu cepat!?』
『Jelaskan!
Aku butuh penjelasan!』
…Wah, kurang
dari satu menit. Balasan yang cepat sekali. Ini seperti dia sedang berbicara tepat di
depanku.
Tapi tidak ada
waktu untuk menjelaskan. Pelajaran berikutnya adalah kelas yang harus berpindah
ruangan, jadi aku harus kembali dengan cepat.
Jadi aku hanya
mengirim pesan yang berbunyi, ‘Aku akan cerita setelah pulang sekolah’, lalu
menyimpan ponselku.
Aku merasakan
getaran dari pesan yang masuk, tetapi tidak ada waktu untuk membalasnya, jadi
kuabaikan saja untuk saat ini.
Saat aku kembali
ke kelas, aku bergegas mengambil barang-barangku lalu berlari ke laboratorium
kimia di gedung sekolah baru.
Pelajaran
berlangsung lama, dan aku hampir tidak punya waktu istirahat, jadi aku hanya
sempat melihat pesan-pesan dari Tora-senpai… Di akhir rentetan pesan itu, ada
panggilan yang terkesan seperti sebuah tantangan.
『Setelah
pulang sekolah. Atap gedung sekolah lama.』
◇ ◆
“——Begitu ya.
Jadi kamu sudah mengambil satu langkah ke depan.”
Setelah pulang
sekolah, aku pergi ke atap gedung sekolah lama tempat ruang klub berada dan
menjelaskan kepada Tora-senpai yang telah menunggu tentang jam makan siang yang
sibuk itu.
Beruntung,
tidak ada orang lain di atap hari ini. Beberapa klub dan organisasi sesekali
menggunakannya, dan siswa bisa masuk tanpa izin, jadi aku pikir ada kemungkinan
lima puluh-lima puluh seseorang ada di sana, tetapi bisa melakukan percakapan
pribadi adalah lega yang besar. Tora-senpai juga dengan percaya diri berbicara
dengan nada femininnya.
“Ini
bisa jadi langkah ke depan atau malah strikeout sepenuhnya. Akulah yang
menegaskan bahwa itu bukan kencan.”
“Bahkan
jika itu bukan niatmu, itu tetap bisa efektif untuk membuatnya menyukaimu, kan?
Jika kamu memberikan kesan yang baik sebelum liburan musim panas, kamu mungkin
bisa menciptakan kesempatan lain selama liburan, atau jika tidak berjalan
lancar, hal-hal negatifnya mungkin memudar selama waktu kalian tidak bertemu.”
“Ah, begitu ya.
Tora-senpai, kamu paham sekali soal romansa… Kelihatannya bukan berarti kamu
tidak punya pengalaman…”
“…Yah, aku
terpengaruh oleh drama, manga, dan novel. Aku telah belajar dengan benar untuk
mematahkan kutukan ini.”
“Aku bisa
menangani gim galgame tanpa panduan, tapi anak perempuan di dunia nyata itu
sulit. Bahkan adik perempuanku sendiri kadang sulit dipahami.”
“Mau bagaimana
lagi kalau lawan jenis kelihatan seperti hewan bagimu… tapi kita tidak bisa
membiarkannya begitu saja. Dia mungkin memiliki orang lain yang mendekatinya,
dan kita harus mematahkan kutukan ini sesegera mungkin.”
Mata mirip
kucing milik Tora-senpai tajam penuh tekad. Baik sekali darinya karena peduli
dengan kehidupan cintaku.
Tapi mematahkan
kutukan, ya?
“Entah itu cinta
berbalas atau membuatnya menyukaiku, sebuah ciuman sepertinya rintangan yang
terlalu tinggi untuk dilompati sekarang. Aku menyukaimu, Tora-senpai, tapi aku
tidak berpikir itu berada di tingkat cinta.”
“Memang
menyebalkan diberitahu secara gamblang begitu, tapi aku setuju. Namun, aku
tetap berpikir cara yang paling memungkinkan adalah kita, yang berbagi situasi
ini, untuk bereksperimen bersama.”
“Itu benar,
tapi… apa lagi yang bisa dieksperimenkan selain membangun hubungan secara
bertahap?”
“Kita sudah
mencobanya di bioskop, kan? Ini adalah ekstensi dari hal itu… bukan, versi
spesial dari strategi yang lebih agresif.”
Ada
kehendak yang kuat dalam kata-katanya. Ini bukan sekadar mengandalkan kekuatan
kasar, tapi ada rencananya. Seperti yang diharapkan dari Senpai, bisa
diandalkan.
Namun,
strategi yang agresif, ya? Hmm.
“Aku sih
setuju untuk mencobanya, tapi apakah kutukanmu yang akan patah duluan? Jika kutukanku patah
duluan, ada kemungkinan besar aku akan mulai melihat senpai sebagai seorang
pria, kan?”
“Jika berjalan
lancar, kutukan kita harusnya patah di saat yang sama. Syaratnya samar, jadi
ada kemungkinan hanya satu yang patah… tapi kita akan pikirkan itu nanti. Itu
lebih baik daripada kita berdua tetap terkutuk.”
“Jika
Tora-senpai tidak masalah dengan itu, aku juga tidak punya keluhan. Tapi apa
yang sebenarnya akan kita lakukan?”
Tidak bisa
menebak metode seperti apa yang dipikirkannya, aku bertanya pada Tora-senpai,
yang entah kenapa malah tersedak kata-katanya sendiri dengan ucapan ‘Ugghh…’
Kemudian, dengan
tangan gelisah yang mengatup, membuka, dan saling bertautan, serta setelah
bertingkah canggung dengan aneh, dia berbicara seolah memeras kata-katanya
keluar.
“K-kita akan…
berciuman. Kamu dan aku… bersama!”
“…uh, apa…? Tapi
bukankah setidaknya salah satu dari kita harus jatuh cinta agar kutukannya
patah?”
Aku cukup yakin begitulah alur ceritanya. Apakah itu kepastian atau
ada syarat lain, akan kusingkirkan dulu untuk saat ini.
Yang berarti…
“…Huh?
Tora-senpai, kamu jatuh cinta padaku? Dalam waktu singkat begini?”
“Jangan konyol.
Aku memang merasa kamu cukup menyenangkan, tapi itu jenis kasih sayang yang
berbeda, bukan yang tergolong romansa. Sebagai manusia? Seperti teman?”
“Makin tidak
masuk akal dong. Kalau begitu kenapa harus melakukannya?”
“Aku
menyadarinya saat kencan kita kemarin. Ketika kamu melakukan sesuatu dengan
seseorang yang biasanya tidak kamu lakukan dengan sekadar teman, itu membuat
jantungmu berdebar dan kamu jadi lebih menyadari keberadaan mereka. Jadi, ini
bukan tentang berciuman untuk mematahkan kutukan, tapi tentang berciuman untuk
mempercepat kasih sayang di antara kita…!”
“Oh… Aku paham…”
Jadi ini seperti
momen-momen lucky pervert atau kontak tak sengaja dalam komedi romantis yang
tiba-tiba meningkatkan rasa suka atau membuatmu sangat menyadari seseorang…!
Aku
tidak pernah menyangka akan benar-benar mempraktikkannya sendiri.
Namun, satu hal
yang dikhawatirkan adalah,
“Tora-senpai
mungkin mulai menyadari keberadaanku, tapi aku tidak yakin itu akan memberikan
efek yang sama padaku.”
“Kenapa kamu
berpikir begitu?”
“Jujur saja,
mencium senpai mungkin cuma terasa seperti mengelus kucing besar. Dan saat ini, aku
bahkan tidak merasa ingin mencium orang yang benar-benar kusukai.”
Aku
pikir itu mungkin akan terkesan seperti ‘Aku tidak tertarik pada Senpai’,
tetapi Tora-senpai tidak marah atau merenung. Sebaliknya, dia tersenyum jahil.
“Kekhawatiranmu
masuk akal. Tapi di situlah kencan kita kemarin memberiku petunjuk besar!”
“Oh? Apa itu?”
“Sederhana.
Tutup saja matamu sebelum berciuman. Jangan lihat aku, dan bayangkan kamu sedang
bersama seorang gadis cantik.”
“Oh,
yah… itu sebuah solusi sekaligus agak tidak tulus…”
Sungguh
hal yang luar biasa untuk diucapkan, senpai yang satu ini. Memang, karena
kutukanku hanya memengaruhi penglihatanku, jika aku memejamkan mata, itu tidak
akan berpengaruh.
Namun,
dengan nol informasi tentang wajah orang tersebut, ada masalah besar karena itu
berubah menjadi murni imajinasi.
Jika itu
seseorang yang sudah kukenal lama, aku masih bisa mengingat wajah mereka
sebelum kutukan ini terpicu, jadi aku bisa sedikit membayangkan orang aslinya,
tapi kalau dengan Tora-senpai…
“Hmm…
apakah tidak ada karakter manga atau anime yang mirip dengan Tora-senpai?
Sesuatu yang bisa kugunakan sebagai referensi.”
“Aku
tidak banyak menonton hal-hal seperti itu, jadi agak sulit… Aku tahu seorang
model yang agak mirip denganku jika kamu mencari selebriti.”
“Ah, itu sesuatu
yang sama sekali tidak kupahami. Mencarinya hanya akan membuatku melihat hewan,
jadi sia-sia saja.”
“Kalau begitu
gunakan saja citra yang kamu suka. Ngomong-ngomong,
aku ini cukup imut, tahu? Sebelum kena kutukan, aku populer di antara anak
laki-laki dan ditembak berkali-kali.”
“Benarkah? Tapi kenapa tiba-tiba
menyombongkan diri?”
“Ini untuk meningkatkan ekspektasimu! Aku
tidak akan begitu tidak tahu malu memuji diriku sendiri seperti ini tanpa
alasan.”
Tora-senpai memperlihatkan giginya dan
menggeram marah, lalu aku menyatukan kedua tanganku, membungkukkan kepala, dan
meminta maaf. Aku tidak pernah membayangkan kalau itulah niatnya.
Aku telah membuat malu Senpai yang sedang
berusaha untuk perhatian, tetapi yang lebih penting,
“Aku paham rencana ciuman dan melejitkan
tingkat kasih sayang ini. Tapi jika itu tidak berhasil, itu hanya akan berakhir
sebagai ciuman di antara kita. Apa kamu tidak apa-apa dengan itu, Senpai?”
“Sudah terlambat
untuk meragukan itu. Aku telah mencoba segala macam cara untuk mematahkan
kutukan ini. Aku bahkan melakukan latihan di bawah air terjun yang keras. Aku
melakukan ritual Goma. Yang terburuk adalah mencium ayahku sendiri, tapi aku
bertahan melewati itu juga…!”
“Bukankah teori
itu cacat jika kamu harus menahannya?”
“Rasa sayang
ayahku pada putrinya itu nyata, jadi jika kutukan itu bisa dipatahkan oleh
ciuman dengan rasa sayang dari lawan jenis, ada kemungkinan… Sebaliknya,
kegagalan itu mempersempit syarat untuk mematahkan kutukan menjadi tiga pola:
‘ciuman dengan perasaan romantis dari kedua belah pihak lawan jenis,’ ‘ciuman
dengan seseorang yang kucintai,’ atau ‘ciuman dengan seseorang yang
mencintaiku’… Pengorbanannya sangat tinggi, sih.”
Entah itu lebih
merusak bagi Tora-senpai atau bagi seorang ayah yang ditolak dan gagal, itu
tetap terasa berat di kedua sisi.
“Jadi, Senpai,
kamu sudah bersiap untuk ini sejak lama…?”
“Tentu saja.
Tapi akan tidak ada artinya jika kamu tidak antusias tentang hal itu, dan aku
pikir terlalu terburu-buru untuk menggunakan jalan terakhirku.”
“Jadi ini
dimajukan karena aku… Maaf ya, Senpai.”
“Jangan
dipikirkan. Kamu dan aku ada di dalam masalah ini bersama. Bahkan jika hanya satu dari kita
yang berhasil mematahkan kutukan, kita akan bekerja sama sampai akhir.”
“Itu sudah
pasti… Ah, tapi jika kutukanku terangkat, aku akan mulai melihat Senpai sebagai
laki-laki alih-alih kucing, kan? Apakah aku masih bisa membantu saat itu?”
“Ya. Jika itu
terjadi, kamu tinggal terbangkitkan ke arah homoseksualitas, dan itu akan
baik-baik saja.”
“…Aku paham.”
Banyak masalah
terlintas di pikiranku, tetapi memang, itu tidak akan menjadi masalah bagi
Tora-senpai.
Karena dia telah
bekerja keras untuk menemukan solusi dan mempertimbangkan keadaanku, aku ingin
merespons semangatnya. Aku tidak tahu bagaimana cara terbangkitkan ke arah
homoseksualitas, tapi…
“Juga, efek dari
kutukanku hanya bekerja pada persepsi orang-orang, jadi kita bisa saja menunggu
perasaan kita tumbuh melalui pesan singkat alih-alih bertemu secara langsung.”
“Itu masuk akal…
Tapi bukankah akan lebih cepat jika memulai romansa dari awal di internet
saja?”
“Berapa
menurutmu peluang semuanya hancur saat kamu akhirnya bertemu denganku?”
“…Ah…”
Bagaimanapun
juga, itu sulit tanpa menjelaskan tentang kutukan tersebut. Atau mungkin aku
harus mencari seorang homoseksual di internet dan jatuh cinta. Yang terakhir
sepertinya lebih punya harapan.
Yah, ya, aku
paham. Masalah lain yang mungkin muncul ada di pihakku.
“Peluang
tertinggi untuk mematahkan kutukan adalah dengan ‘ciuman dengan perasaan
romantis dari kedua belah pihak lawan jenis,’ kan? Aku tidak berpikir aku akan
jatuh cinta pada Senpai tepat setelah berciuman, tapi berapa lama kita akan
mencoba ini sebagai sebuah jangka waktu?”
“Sudah
diputuskan. Setidaknya sampai salah satu kutukan kita patah, kan?”
“Wah, ini
pertarungan jangka panjang.”
“Ini harusnya
mempersingkat proses daripada sekadar mengobrol dan jalan-jalan, dan ini
harusnya meningkatkan peluang untuk jatuh cinta. Tapi sekadar memberi tahu, aku
siap mencobanya sebanyak yang diperlukan.”
“Ah? Apakah kita
akan berciuman sesering itu?”
“Sekali kamu
melakukannya, melakukannya dua atau tiga kali tidak mengubah apa pun. Malah
lebih frustrasi dan tidak berguna jika kamu tidak melihat hasil setelah yang
pertama.”
“Yah, ya, itu
benar.”
Tapi Tora-senpai
mungkin masih berusaha menyemangati dirinya sendiri. Dia memancarkan suasana
yang tegang daripada bersemangat dari biasanya.
Karena aku
melihat Tora-senpai sebagai seekor kucing, aku tidak punya banyak penolakan…
tapi itu tidak bagus. Seperti saat di bioskop tempat kami kencan kemarin, aku
harus mendekatinya dengan kesadaran kuat terhadap lawan jenis.
Tipe yang imut,
tipe gadis yang imut… seorang gadis dengan tinggi rata-rata dengan cara bicara
yang agak aneh dan tidak punya imunitas terhadap hal-hal erotis, seorang gadis
yang berpakaian silang sebagai karakter laki-laki… Ya, aku mulai mendapatkan
gambarannya.
“Jika ada
karikatur, akan lebih mudah untuk membayangkannya, tapi bagaimana kemampuan
menggambarmu, Senpai?”
“Lebih
baik kamu tidak bertanya. Kamu mungkin berakhir tidak mengenalinya sebagai
manusia.”
“Seburuk itu,
ya… Tapi oke, mungkin ini bisa berhasil.”
“Kalau begitu
mari kita lakukan sekarang juga. Dan dengan pola pikir yang baru, mari kita
jalani kencan semu setelah sekolah kita…!”
Tora-senpai,
dengan ayunan bahunya yang penuh tekad, tampak sedikit liar di mataku. Sama
sekali tidak terasa seperti suasana untuk berciuman.
Tapi… mungkin
ini cara untuk menyembunyikan rasa malu atau mungkin terlalu canggung kecuali
dia bertindak agak membabi buta. Itu masuk akal. Ciuman adalah tindakan yang
sangat berarti bagi seorang gadis. Di negara lain, itu adalah bagian dari
budaya menyapa, tapi bahkan di sana pun itu di pipi, bukan di bibir.
“Ngomong-ngomong,
apakah tempat kita berciuman itu berpengaruh?”
“Harus bibir
dengan bibir. Berciuman di bagian lain membuat salah satu orang menjadi
penerima, dan berciuman di tangan atau pipi tidak akan membuatmu sebegitu
gugupnya, kan?”
“Paham. Itu
masuk akal sekali.”
Tora-senpai,
yang memasukkan tablet permen mint ke dalam mulutnya dan mulai mengoleskan
pelembab bibir (lip balm) dengan terburu-buru, tak diragukan lagi menangani hal
ini dengan sangat serius.
…Entah
bagaimana, aku juga mulai merasa agak gugup. Tidak, apakah itu hal yang bagus?
Mungkin ini lebih baik daripada berciuman dengan kondisi pikiran yang datar.
Naik turunnya emosi tampaknya lebih sejalan dengan tujuan kami. Ini bukan
sepenuhnya efek jembatan gantung (suspension bridge effect), tetapi jika harus
mengategorikannya, itu jatuh di sisi tersebut.
Baiklah, mari
pertahankan seperti ini. Aku memejamkan mata dan memunculkan bayangan
Tora-senpai imajiner yang kubayangkan tadi…
“Ah, ngomong-ngomong, bagaimana dengan gaya
rambutnya?”
“Hmm? Seperti
yang bisa kamu lihat… Oh, kamu kan tidak bisa melihatnya. Poni gantungku
sampai ke alis, dan sisanya cukup panjang untuk menutupi telinga dan tengkuk,
sedikit lebih panjang dari potongan pendek anak laki-laki pada umumnya.
Warnanya agak kecokelatan, dan aku tidak memakai wax atau semacamnya.”
“Aku
paham… Jadi mirip Okuna-chan, heroine ketiga dari serial anime 『Guragura Angel』 yang sedang tayang
sekarang.”
“…Aku
tidak tahu anime itu, tapi menjadi yang ketiga terdengar seperti heroine yang
kalah (losing heroine), yang mana aku tidak suka…”
Hmm, dia
tidak terlalu familiar dengan anime, tapi komentarnya cukup tajam. Dia mungkin
bakat yang bisa dengan mudah melampaui pemula sepertiku.
Tapi kali ini,
belum diputuskan kalau dia bakal jadi heroine yang kalah.
“Tora-senpai,
tidak apa-apa. Okuna-chan itu karakter yang sangat menonjol yang menduduki
peringkat pertama dalam jajak pendapat popularitas heroine di manga aslinya
meskipun dia baru muncul belakangan.”
“…Yah, itu…
tidak terlalu menyenangkan, sih, tapi…”
“Ngomong-ngomong,
aku juga cukup menyukai Okuna-chan, jadi jika gambaran kalian saling tumpang
tindih, kurasa peluangku untuk jatuh cinta pada Senpai akan meningkat.”
“…Itu membuat
segalanya jadi makin rumit… Namun, kita tidak bisa mengganti satu masalah
dengan masalah lain, jadi jika itu membuatmu bersemangat, kurasa itu hal yang
bagus…!”
“Bukannya aku
bersemangat sampai begitu, oke? Aku tidak bisa lepas dari kenyataan sejauh
itu.”
“Kita sedang
mencoba mengubah kenyataan yang jauh dari kata normal, jadi sedikit
penyimpangan mungkin justru hal yang kita butuhkan. Ayo, cepat pejamkan matamu
sebelum ada orang yang datang!”
Didesak oleh
Senpai, aku memejamkan mata dan memantapkan gambaran itu seperti sebelumnya.
Aku membayangkan Okuna-chan berseragam laki-laki sekolah kami, menimpa atmosfer
Tora-senpai yang mudah marah dan mudah tertawa.
——Ya, imut.
Rasanya seperti VR.
“Baiklah, aku
sudah siap di sisiku. Senpai, kuserahkan sisanya padamu.”
“Apa!? A-aku
yang harus memulai gerakannya?”
“Yah, aku kan
tidak bisa melihat. Aku bahkan tidak tahu di mana posisi wajahmu.”
“Mmm, grr… kalau
begitu buat bingkai dengan kedua tanganmu di sekitar wajahku. Dengan begitu,
kamu bisa melakukannya bahkan tanpa melihat!”
Tora-senpai,
yang tampaknya enggan untuk mengawali ciuman itu, menyarankan rencana lain.
Memang paling diandalkan jika Senpai, yang bisa melihat, yang melakukannya,
tapi kurasa mau bagaimana lagi. Dia pasti sedang memaksakan dirinya.
“Baiklah, kalau
begitu pandu aku. Di sini.”
Aku merentangkan
kedua tanganku ke depan sambil tetap memejamkan mata. Merekam hal ini mungkin
terlihat konyol dari luar, tetapi sejujurnya, aku sudah gugup sejak tadi.
Bagaimanapun
juga, mencium kucing sungguhan itu berbeda. Kesadaran bahwa aku akan mencium
Tora-senpai, seorang gadis manusia sungguhan, telah mulai melipatgandakan detak
jantungku dengan kegugupan yang mirip dengan rasa panik.
Di tengah-tengah
ini, aku merasakan genggaman lembut pada tanganku. Bukan milik kucing,
melainkan milik manusia. Ini sudah bulan Juli, namun sentuhannya terasa dingin
yang tak biasa.
Saat aku
merentangkan tangan dengan dipandu oleh sensasi itu, aku menyentuh sesuatu yang
sedikit di atas tinggi dada.
Usapan
kulit yang berbeda dari kulit tangan, tekstur rambut di ujung jariku. Sentuhan
ringan di tepi telapak tanganku adalah… bibir, kan? Ya, kemungkinan besar.
Sensasi yang jelas berbeda dari keringat ini, pasti pelembab bibir yang
dioleskan tadi.
Jadi
saat ini, aku sedang memegang wajah Tora-senpai di antara kedua tanganku…!
“Bisakah kamu
tahu di mana letak bibirnya? Kamu mungkin perlu membungkuk atau menurunkan
wajahmu sedikit untuk menyesuaikan tingginya.”
“Ya, aku agak
paham. Bisakah aku mengubah sudut wajah Senpai sedikit?”
“Tentu…
seperti semacam mengangkat dagu, kurasa…”
Sambil
menyesuaikan, aku bisa merasakan ketegangan Senpai. Tak ragu lagi dia tahu aku
juga tegang. Bagaimanapun juga, dia bisa melihat, dan wajahku mungkin terlihat kaku.
Sebelum aku
menyadarinya, ‘Tora-senpai yang mirip Okuna-chan’ yang kubayangkan di kepalaku
telah lenyap sepenuhnya. Tak peduli bagaimana pun, hanya bibir dari Tora-senpai
yang tak terlihat yang terlintas dengan jelas di benakku.
Aku bahkan belum
melakukannya, tetapi jantungku berdebar begitu kencang. Keringat di punggungku
makin deras.
Haruskah aku
tetap melanjutkannya seperti ini? Apakah tidak apa-apa untuk melanjutkan
meskipun gambaran Tora-senpai sudah hancur? Tapi yang pasti, rasa berdebar yang
kurasakan ini adalah karena orang tersebut jelas-jelas adalah Tora-senpai, jadi
mungkin tidak perlu memulainya dari awal…
“Apakah kamu
masih belum siap? Tolong, cepatlah…!”
Tidak sabar,
atau mungkin panik, Tora-senpai mendesakku dengan suara tegang. Dia pasti
sangat kewalahan juga.
Baiklah, aku
harus memantapkan hatiku…! Untuk mematahkan kutukan, aku harus tetap berciuman,
dan kami berdua sama-sama setuju. Jika aku gentar sekarang, itu akan tidak adil
bagi Tora-senpai yang memiliki keberanian untuk menyarankan hal ini.
…Oke…!
“Aku mulai ya.
Apakah sudutnya sudah pas begini?”
“Harusnya sudah
pas. Jadi tolong, lakukan saja dengan cepat…!”
Setelah
konfirmasi terakhir, aku menahan napas dan mendekatkan wajahku ke wajah
Tora-senpai.
Dengan
hati-hati, perlahan-lahan, agar tidak membentur hidung atau gigi… Aku bisa merasakan
kehadiran sesuatu yang berjarak sedikit saja, meskipun aku tidak bisa
melihatnya.
“Ah, tunggu,
berhenti.”
“Ada apa,
Senpai?”
Aku berhenti dan
bertanya tanpa membuka mata, dan aku bisa merasakan secara samar wajah
Tora-senpai bergerak di tanganku.
Apakah itu
panggilan untuk berhenti atau mengulang kembali? Sebagian dari diriku merasa
sedikit lega, yang mana itu sangat menyedihkan. Bagaimanapun juga, Senpai
sedang mengerahkan kebaikan dan keberaniannya.
Setelah sesaat
menyesali diri sendiri, sesuatu menyentuh dadaku. Mungkin tangan Senpai.
Meskipun tidak kuat, dia menekan tangannya yang tertangkup ke sana…?
“Aku tahu ini di
saat-saat terakhir, tapi sebenarnya… itu… um…”
Tora-senpai
kesulitan untuk berbicara. Ini pasti jalur pembatalan. Aku harus menemukan cara
untuk merespons tanpa membuat Senpai merasa bersalah…
“…Karena ini
pertama kalinya bagiku… bisakah kamu melakukannya dengan lembut…”
——Suaranya yang
rentan memohon, dan aku pikir kepalaku akan mengalami korsleting.
Wah…
benar-benar ada orang yang mengatakan hal-hal seperti ini di dunia nyata…?
Ini
diucapkan oleh seorang gadis yang dianggap cantik, untukku, dan meskipun dia
mungkin lebih menyukai adanya proses pendekatan terlebih dahulu, dia memaksakan
dirinya.
Setelah semua
ini, tidak mungkin aku mundur. Demi Senpai, aku harus melakukannya.
Jantungku
berdebar sangat keras hingga terasa seperti hendak melompat keluar dari
mulutku.
Tapi tidak ada
lagi keraguan.
Bahkan jika
kakiku gemetar karena tegang, bahkan jika napasku begitu tidak teratur hingga
terasa akan berhenti, aku mengarah lurus ke bibir Tora-senpai di antara kedua
tanganku——atau setidaknya, begitulah rencananya.
Tiba-tiba, aku
mendengar suara dentuman keras, dan tanpa sadar aku membuka mataku.
“Apa…?”
“Hyaah…!?”
Tampilan dari
dekat seekor kucing belang jingga-cokelat dengan mata terbelalak tampak sama
kagetnya denganku. Fakta bahwa bibir kami hanya berjarak beberapa sentimeter
dari sentuhan memang mengejutkan, tetapi yang harus paling kuhawatirkan
sekarang adalah suara tadi.
Itu tak
meragukan lagi adalah suara pintu atap yang tertutup. Aku telah ke sini
berkali-kali, jadi aku tahu. Saat dibuka terasa agak berat, tapi saat ditutup,
jika tidak ditahan, pintu itu akan tertutup dengan cukup keras karena angin;
pintu itu membuat suara serupa saat kami masuk tadi.
Secara refleks,
aku berbalik untuk melihat ke arah pintu masuk, dan di sana——tidak ada
siapa-siapa.
Aku bergegas ke
pintu dan membukanya untuk melihat ke dalam gedung. Meskipun aku tidak bisa
melihat siapa pun, aku jelas-jelas bisa mendengar suara seseorang yang berlari
menuruni tangga.
Aku berpikir
untuk mengejar mereka, tetapi sebelum aku sempat melakukannya, Tora-senpai,
yang sudah mendekat, mencengkeram bajuku dan berkata,
“A-apa ada yang
melihat kita!? Aku tidak tahu siapa atau dari mana mereka, tapi mereka mungkin
melihat kita hendak berciuman!”
“Kemungkinan
besar. Tidak ada orang di sana saat aku membuka mata, dan dari sudutnya,
kemungkinan besar mereka tidak melihat wajah Senpai.”
“B-begitukah?
Kalau begitu mungkin kita bisa mengelak… mungkin…?”
“Mari berharap
begitu… Wajahku mungkin terlihat, jadi aku cuma berharap itu bukan teman
sekelas.”
“Hmm… Haruskah
kita pergi mencari mereka sekarang?”
“Harus bagaimana
ya… Aku bahkan tidak bisa membedakan apakah mereka laki-laki atau perempuan,
dan sama sekali tidak ada petunjuk.”
Aku tidak
mendengar suara pintu saat seseorang memasuki atap. Jadi, aku tidak tahu sudah
berapa lama mereka ada di atas sini. Mungkin mereka bersembunyi dan tidur siang
selama jam makan siang atau semacamnya.
Andai saja aku
bisa melihat setidaknya bayangan mereka dari belakang. Tapi kalau dipikir-pikir
lagi, separuh dari seluruh siswa di sekolah—itu bukan jumlah yang kecil untuk
dipersempit.
“…Untuk saat
ini, haruskah kita mengakhiri saja hari ini?”
“Aku tidak
keberatan, tapi… bukankah bakal berbahaya kalau mereka melihat wajahmu?”
“Seharusnya
tidak apa-apa jika mereka bukan orang yang kukenal… setidaknya, itulah yang
ingin kupikirkan. Aku akan memeriksa dengan anggota klub nanti.”
“Hmm… dipahami.
Jika terjadi sesuatu, jangan ragu untuk mengungkapkan keterlibatanku.”
“Huh? Senpai,
identitasmu kan tidak ketahuan?”
“Aku sudah
mengatakannya sebelumnya. Kamu dan aku berada dalam masalah ini bersama. Aku
tidak akan membiarkanmu menanggung akibatnya sendirian.”
Tora-senpai,
dengan telinga kucingnya yang ditegakkan, kelihatan benar-benar keren saat
berbicara. Rasa hormatku padanya terus bertambah.
“Paham.
Tapi yah, kecuali mereka mengambil tindakan, tidak ada yang bisa kita lakukan,
dan mereka mungkin menyimpan hal itu untuk diri mereka sendiri, jadi mari tetap
optimistis.”
“Ya…
maaf soal itu. Sungguh kecerobohan dariku untuk menyarankannya.”
“Tidak,
tidak, jangan dipikirkan. Kita ada dalam masalah ini bersama, kan,
Tora-senpai?”
“…Ya!”
Dia
benar-benar merasa khawatir. Aku bisa mendengar nada lega di suaranya.
…Tapi serius,
apa yang harus kulakukan… Kuharap tidak terjadi apa-apa dari kejadian ini.
Saat aku bersiap
menghadapi masalah yang berpotensi meledak sebelum rencana yang sangat
dinanti-nantikan, aku diam-diam menghela napas tanpa membiarkan Tora-senpai
menyadarinya.
◇ ◆
Setelah
dihadapkan pada masalah besar tetapi tidak punya cara untuk mengatasinya dan
punya janji untuk bertemu Gossan, aku memutuskan untuk pulang ke rumah terlebih
dahulu.
Dengan semangat
yang sama sekali tidak terangkat, aku mampir ke ATM bank di jalan untuk menarik
hampir semua sisa saldo rekeningku, lalu pulang. Dengan sedikit waktu tersisa,
aku mandi untuk mendinginkan tubuh secara fisik.
Setelah menghabiskan waktu di kamar dengan perasaan gelisah, waktunya hampir tiba, jadi aku menuju ke stasiun tempat kami berjanji untuk bertemu, naik kereta yang biasanya tidak kugunakan. Beberapa menit setelah keluar dari gerbang tiket dan menunggu di depan pintu masuk stasiun yang luas, seekor gorila dengan kehadiran yang mendominasi, meskipun menyatu dengan para penonton kembang api lainnya, muncul.
“Gossan, sebelah
sini, sebelah sini!”
“Maaf, apa kamu
menunggu lama?”
“Tidak, kok,
kurasa ini masih sebelum waktu janjian kita. Yang lebih penting, kamu pakai
yukata. Rasanya benar-benar sangat bernuansa musim panas.”
Dia mengenakan
yukata berwarna biru muda dengan motif bunga ortensia (hydrangea), yang
memberikan kesan dan atmosfer yang cukup kental. Dia tinggi dan tampak
mencolok. Jika dia tidak kelihatan seperti seekor gorila, dia akan terlihat
sempurna.
Aku sedang
berpikir bagaimana cara memujinya tanpa perlu berbohong, ketika Gossan
merapikan kerah yukatanya dengan jari-jarinya yang tebal,
“Aku mendapatkan
ini dari nenekku tahun lalu. Aku belum punya kesempatan untuk memakainya sejak
saat itu.”
“Seharusnya aku
memakai jinbei atau mungkin jaket happi yang kudapatkan waktu ikut patroli
kebakaran dulu.”
“Begini saja
sudah cukup, kita kan cuma mau menonton kembang api.”
Itu
benar. Gossan tidak berdandan secara berlebihan. Dia hanya memilih pakaian yang
cocok untuk menonton kembang api.
…Tapi
ya, terlepas dari masalah besar yang sedang kualami, suasana hatiku agak
terangkat sedikit.
“Jadi, arah mana
yang menuju kuil?”
“Di sebelah
sana. Sepertinya kebanyakan orang menuju ke arah tepi sungai, jadi di sana
tidak seharusnya terlalu ramai.”
“Oke, oke. Kalau
begitu, pimpin jalannya.”
Sebelum aku
sempat bertanya, Gossan mulai berjalan, dan aku menyusul di sampingnya,
berjalan berdampingan mendaki bukit menuju kuil. Dia memakai geta, bukan sepatu
kets, jadi aku pikir aku harus hati-hati dengan kecepatan langkahku, tetapi
Gossan terus melangkah seolah ingin mengatakan dia tidak membutuhkan
pertimbangan seperti itu.
Saat kami
mengobrol tentang insiden kecil yang terjadi di kelas hari ini, setelah
beberapa menit, kami bisa melihat gerbang torii yang tampaknya merupakan pintu
masuk ke kuil.
“Di sebelah
sana? Kelihatannya gelap, tapi apakah ada stan makanan?”
“Ada
tangga tepat setelah gerbang torii. Kurasa ada beberapa stan makanan setelah kamu naik ke
atas.”
“Berpengalaman
juga, ya.”
“Aku tidak
merasa senang dipuji karena hal seperti ini… Ah, sepertinya tidak apa-apa.”
Entah mereka
sedang menuju ke arah tepi sungai atau tidak, keluarga-keluarga yang keluar
dari balik gerbang torii dilengkapi dengan topeng festival, arum manis, es
serut, dan perlengkapan festival lainnya, semuanya tampak bersemangat dan
ramai. Sepertinya ada sesuatu yang bisa dinantikan di atas sana.
“Ngomong-ngomong,
apa kamu lapar, Gossan?”
“Tentu saja. Aku
mandi keringat saat kegiatan klub tadi. Lagipula, kamu kan mau menraktirku?”
“…Seorang
samurai tidak menarik kembali kata-katanya. Yah, aku memang bukan samurai, tapi
aku sudah berjanji.”
“Sikap yang
bagus. Kalau begitu aku tidak akan menahan diri—tapi, waktu aku berangkat tadi,
aku diberi sedikit uang jajan untuk festival ini, jadi cukup traktir aku satu
hal saja.”
Itu adalah
tawaran yang terlalu bagus untuk diriku yang sedang kesulitan keuangan. Ini
seperti sebuah pertolongan yang menyelamatkan.
“Aku terharu
dengan kebaikan hati Gossan. Kalau begitu, aku bakal menraktirmu bukan cuma
satu, tapi dua hal!”
“Bukankah
seharusnya ‘Aku bakal menraktirmu semuanya’?”
“Jujur saja, aku
tidak yakin apakah uangku cukup. Lagipula, porsi makanmu banyak, Gossan. Aku
tahu porsi makan seseorang dari klub olahraga setelah latihan.”
“…Menyinggung
sekali diperlakukan seolah-olah aku ini pemakan bermulut besar. Aku bisa
memukulmu, tahu?”
“Aku tidak
bilang begitu, dan kurasa anak perempuan yang bisa makan dengan lahap itu malah
lebih bagus. Lagipula, kamu pasti ingin mencoba berbagai hal di stan-stan ini,
kan? Dan harganya lumayan mahal.”
“Aku setuju
dengan yang itu. Porsinya juga sedikit.”
“Kan? Makanya
aku memilih untuk cuma menraktir dua hal, meskipun kelihatannya agak tidak
keren, daripada berakhir bilang tidak bisa bayar belakangan.”
“…Aku merasa itu
lebih dari sekadar agak tidak keren… tapi sebagai orang yang ditraktir, aku
tidak boleh bicara lebih banyak. Dengan senang hati aku akan menerima kemurahan
hatimu.”
Gossan sedikit
menundukkan kepalanya, dan mulutnya tampak tersenyum tipis. Apakah itu langkah
yang tepat, aku tidak bisa memastikannya. Sangat sulit membaca otot-otot wajah
seekor gorila.
Namun hanya
dengan melihat wajah itu saja sudah membuatku merasa senang, mungkin karena aku
menyukainya.
Berjalan
berdampingan dengan Gossan, kami melewati bagian bawah gerbang torii dan
menaiki anak tangga yang agak panjang. Tak lama kemudian, kami disambut oleh
jalan setapak berkerikil yang diapit oleh berbagai stan makanan di kedua
sisinya.
“Takoyaki,
yakitori, yakisoba, kebab, tusukan daging sapi, arena tembak… variasinya lebih
banyak dari yang kubayangkan.”
“Ada juga
stan-stan makanan di belakang kuil. Mereka dulu menyajikan amazake di sana.”
“Pelayanan yang
bagus. Tapi aku tidak terlalu suka amazake. Itu membuatku merasa ‘ugh…’ ”
“Aku suka. Cuma
memang tidak cocok kalau dipadukan dengan menu stan makanan.”
“Ya,
banyak makanan berbahan dasar tepung. Aku bahkan tidak bisa memikirkan makanan
apa yang cocok dengan amazake.”
Sambil
melakukan percakapan seperti itu, aku berpikir untuk memilih sesuatu dari menu
klasik dengan aroma saus yang menggoda, tetapi Gossan melewati stan-stan
makanan itu tanpa membeli apa pun.
“Hei, Gossan?
Kamu tidak membeli apa-apa?”
“Kita sudah
sampai di kuil, jadi kita harus berdoa terlebih dahulu.”
“Oh, begitu. Aku
terlalu terdistraksi oleh festival ini sampai tidak memikirkan hal itu.”
“Kamu tidak
perlu melakukannya kalau datang bukan untuk beribadah. Aku hanya merasa tidak
nyaman jika tidak melakukannya. Plus, kamu bisa mencuci tanganmu.”
Bahkan bagian
terakhirnya saja sudah membuat hal itu layak dilakukan. Berdoa kepada dewa
terasa agak meragukan bagiku karena masalah kutukan ini.
“Kalau begitu,
mari berdoa dulu lalu keliling sepenuhnya.”
“Itu ide yang
bagus. Bahkan untuk makanan yang sama, harga dan kuantitasnya bisa bervariasi
antar stan, jadi kita harus memilih dengan cermat setelah memeriksanya.”
“Kamu teliti
sekali, aku… pikir itu sangat bagus.”
Aku mengacungkan
jempol, tetapi aku hampir saja kelepasan mengucapkan ‘Aku suka bagian dirimu
yang itu.’ Biasanya hal itu tidak masalah, tetapi karena kami tidak sedang
berkencan—hanya pergi berdua saja—aku memastikan untuk menekankan hal tersebut,
jadi aku tidak boleh mengatakan hal yang ceroboh. Jika perasaanku padanya
sampai terbongkar, hal-hal akan menjadi rumit dari sana.
Aku memang
mendapatkan izin dengan kemurahan hati dari Tora-senpai, ‘Jika ada kemungkinan
segalanya berjalan lancar, kamu boleh membongkar semuanya, termasuk soal
diriku’, tetapi untuk hari ini, aku akan bersikap santai saja mengikuti jalur
berteman. Terlepas dari bagaimana perasaannya, selama Gossan bersenang-senang,
itu sudah cukup bagus bagiku.
“Kalau begitu,
haruskah kita pergi berdoa? Tapi apakah tempatnya masih buka jam segini?”
“Kantor kuilnya
mungkin sudah tutup. Tapi kamu masih bisa berdoa dan mengambil omikuji bahkan
di malam hari.”
“Paham, paham.
Kalau begitu, mari berdoa untuk kesehatan yang baik saja.”
Sejujurnya, yang
benar-benar kuinginkan adalah bagaimana caranya menangani siapa pun yang pasti
telah melihat adegan hampir-berciuman antara aku dan Tora-senpai di atap tadi,
tetapi jika aku bahkan tidak tahu siapa atau di mana mereka, bagaimana aku bisa
membungkam mereka? Bisakah aku benar-benar mengandalkan dewa ketika aku sendiri
tidak bisa memikirkan sebuah rencana?
Hmm… yah, aku
akan berdoa untuk hal itu sekadar jaga-jaga. Aku cukup putus asa hingga
menggantungkan harapan pada hal sekecil apa pun, dan lagipula, keluargaku
hampir tidak pernah sakit—kami punya obat flu kedaluwarsa yang tergeletak
bertepatan selama bertahun-tahun.
Jadi, Gossan dan
aku menyucikan tangan dan mulut kami di temizuya lalu menyelesaikan doa kami.
Kami kemudian berjalan-jalan melewati stan-stan makanan yang berjejer di area
kuil dan tempat parkir di belakangnya. Kami berbagi takoyaki yang baru matang
yang dibeli Gossan dan mendiskusikan rencana kami.
“Fuuuh, panas…
Kurasa aku bakal memilih tusukan daging sapi dan jagung bakar di sebelah sana.
Cumi bakar memang menggoda, tapi mengingat ada es serut dan permen aprikot,
makanan itu terpaksa tersingkir dari pilihan.”
“…Aku pasti beli
tusukan daging sapi, es serut, lalu yakisoba dan pisang cokelat… Ah, panas…”
Si gorila dengan
wajah tegas ini cukup mengintimidasi, tetapi ketika dipadukan dengan takoyaki
di tangannya, entah bagaimana itu terasa menenangkan. Meskipun ukurannya
lumayan besar, saat Gossan memegang takoyaki itu, ukurannya terasa sekecil
kelereng.
Normally,
pemandangan seorang gadis SMA berseragam yukata yang makan takoyaki panas akan
membuat jantung seseorang berdebar dengan nuansa musim panas, tetapi dengan
seekor gorila yang memakai yukata, itu terasa menggelikan dan menghibur secara
aneh.
Bicara soal
pisang cokelat.
Itu memang sudah
klasik, tapi…
“Gossan, apa
kamu suka pisang? Aku pernah melihatmu memakannya sebelum ini.”
“Aku tidak
benci, kok. Pisang itu bergizi, mengenyangkan, dan tidak mudah busuk di suhu
ruangan, jadi bagus untuk musim panas.”
“Itu
terdengar seperti dukungan dari seorang penggemar berat. Haruskah aku
menraktirmu pisang bakar dari stan di sebelah sana?”
“Uh, aku
tidak sedang mendukungnya. Tapi… aku melewatkannya sama sekali…!”
Reaksinya tak
salah lagi adalah reaksi seseorang yang menyukai barang yang dimaksud. Mungkin
dia tidak ingin mengaku kalau dia terlalu menyukai pisang, mengingat masa
lalunya yang pernah diejek dengan julukan ‘gorila’.
“…Baiklah. Kalau
begitu, aku menerima traktiran pisang bakar dan tusukan daging sapimu. Dan untuk tusukan
daging sapinya, tolong berikan aku yang terbaik dari 'spesial lidah dan skirt
(daging samcan/iga)'.”
“Wah,
mereka punya yang begitu… tunggu, dua ribu yen pertusuk!? Mahal sekali! Tapi
dari namanya saja sudah terdengar super lezat!”
Stan
tusukan daging sapi ada di dekat sini, dan sungguh label harga yang berani.
Apakah festival ini khusus untuk orang kaya?
“Aku
pernah melihatnya di festival lain sebelumnya, bukan di sini. Aku benar-benar
ingin mencobanya, tapi saat masih SD, itu jumlah uang yang mustahil untuk
kubayar sendiri, jadi aku harus menyerah.”
“Dendam
masa kecil itu… tidak harus terbalaskan sekarang juga, kan…!”
“Sekarang
adalah waktu yang tepat. Ini memang masih tidak ramah bagi dompet, jadi aku
akan menahan diri jika ini bukan traktiran.”
“Sialan…
Aku juga bakal menyerah kalau pakai uangku sendiri… tapi baunya enak sekali…!”
Memfokuskan
perhatianku, aroma kuat dari daging dan lemak yang dipanggang, bercampur dengan
bau kecap asin, saus, dan arum manis, begitu memikat secara agresif. Pilihan
untuk tidak membeli tusukan daging sapi langsung lenyap dari pikiranku.
“…Mungkin,
bolehkah aku minta satu gigitan…?”
“Tidak
boleh. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang tidak anggun seperti itu. Kalau
dipisah secara terpisah, mungkin bisa.”
“Tunggu,
itu kan ditusuk, jadi kalau kamu mencabut satu potong, itu harusnya bisa!”
“Dari
yang kulihat sebelumnya, ada empat potong per tusuk, masing-masing dua jenis.
Mengambil seperempatnya itu terlalu banyak. Itu juga akan merusak keseimbangan
antara kedua jenis dagingnya.”
“Kalau
begitu bagi dua saja sama rata! Gossan makan dua potong duluan, lalu sisanya berikan
padaku, masalah selesai!”
“Aku
sedang ingin makan banyak sekarang, jadi tidak mau. Aku bahkan ingin satu piring
takoyaki lagi.”
“Sialan… Aku
paham betul rasanya, jadi makin sulit untuk mendebatnya…!”
Aku bisa
merasakan tekad kuat yang tidak akan bergeming, terpancar dari tatapan matanya
yang lurus. Yah, karena dia kelihatan seperti gorila, itu tampak seperti
tatapan membunuh.
“…Yah, harganya
memang mahal. Jadi kalau Saiki-kun keberatan, tusukan daging sapi biasa saja
tidak apa-apa. Aku cuma akan mengingat hal ini seumur hidupku.”
“Aku tidak ingat
pernah menjadi pria tak berguna yang mundur dari tantangan seperti ini!
Baiklah, aku akan menraktirmu tusukan spesial dua ribu yen itu atau apa pun
namanya!”
“…Kalau kamu
sebersemangat itu, malah membuatku ingin mundur… tapi dengan senang hati aku
akan menerima traktirannya.”
Aku dimainkan,
tapi karena aku sudah berjanji untuk menraktirnya, kurasa aku harus merelakan
es serut atau permen aprikotku… Oh, benar juga.
“Gossan,
takoyaki tadi harganya empat ratus yen, kan? Aku ganti uangmu sekarang.”
“Tidak
perlu, biar aku yang menraktirmu yang ini. Tidak enak membiarkanmu membayar
terlalu banyak, dan aku takut dengan apa yang akan terjadi setelahnya.”
“Benarkah?
Aku menghargai tawarannya, tapi apakah aku dinilai sekasar itu?”
“Menurutku
itu wajar. Kamu harus merenungkan perilakumu sendiri dengan tangan di dadamu.”
Dengan
itu, Gossan memasukkan potongan takoyaki terakhir ke dalam mulutnya. Meskipun
ukurannya lumayan besar, dia memakannya dalam satu gigitan, bahkan tidak
meringis karena panas. Sikapnya yang kuat terhadap makanan terlihat sangat
jelas.
Setelah
mengunyah takoyaki selama hampir satu menit, Gossan menghela napas puas,
berdiri dengan wadah kosong di tangannya, dan berkata,
“Ayo
pergi kalau begitu. Tusukan jenis itu dipanggang dan dipanaskan ulang saat
dipesan, jadi lebih baik pergi lebih awal.”
“Inisiatif yang
kuat sekali… Lalu, bagaimana dengan minumannya? Haruskah aku pergi membelinya
selagi kamu memesan?”
“Tidak perlu,
kalau kamu memesan hal lain di toko itu, kamu bisa mendapatkan ramune seharga
seratus yen, jadi ayo beli bersama. Harganya sama dengan harga terendah, dan
aku jarang mendapat kesempatan minum ramune di waktu lain.”
“Oke, oke. Kalau
begitu, mari gunakan rencana itu.”
Aku merasakan
lonjakan rasa senang atas saran Gossan. Aku tidak biasanya melihatnya begitu
antusias mengungkapkan pendapatnya, jadi mungkin ini memberikan kesan sesuatu
yang spesial.
Dengan perut
kami dalam kondisi baik setelah berbagi takoyaki, rasa lapar kami tampaknya
makin intens saat kami menuju ke stan tusukan daging sapi.
Tepat saat
pelanggan di depan kami menerima tusukan daging sapi panggang mereka lalu
pergi, aroma yang menggoda langsung menyergapku, dan air liurku menetes saat
melihat berbagai tusukan berjejer di atas panggangan dan papan menu yang
menggantung di atasnya.
“Hei, mereka
punya samcan babi! Paman, pesan satu tusukan spesial dan satu samcan babi! Sama
dua botol ramune!”
Aku menaikkan
suaraku agar tidak tenggelam oleh keramaian di sekitar dan suara makanan yang
sedang dipanggang, dan pemilik stan yang mengenakan kaus kutang merespons
dengan lantang, “Baiklah, totalnya jadi dua ribu lima ratus yen!”
“…Saiki-kun,
kamu memilih babi? Jika situasi keuanganmu sekeritis itu——”
“Tidak, tidak,
bukan begitu. Maksudku, aku memang kehabisan uang, tapi bukan itu poinnya, aku
cuma sangat suka samcan babi. Mungkin malah lebih suka daripada iga sapi.”
“Begitukah?
Bukan karena kamu menghemat selisih 200 yen itu?”
“Jika harganya
sama, aku mungkin akan memilih iga sapi… tapi sebenarnya, jika melihat itu, aku
mungkin bakal tetap membelinya.”
Pemilik stan
sudah menata tusukan yang dipesan di atas panggangan. Lemak yang menetes dari
samcan babi mendesis di atas api, suaranya, dan aromanya sungguh tak
tertahankan.
Saat aku hampir
tergoda oleh pemandangan yang memikat itu, Gossan di sebelahku juga sedang
menatap tajam, matanya berbinar karena kelaparan. Meskipun berupa gorila, dia
memiliki sorot mata seekor serigala yang kelaparan.
Tapi tusukan
spesial yang dipanggang di sebelah samcan babi juga kelihatan lezat. Aku belum
pernah makan lidah atau skirt sebelumnya.
Sementara
perutku, yang baru saja diisi takoyaki, menjerit menuntut lebih banyak makanan,
aku menyelesaikan transaksi dan menerima kantong kertas berisi makanan kami,
“Baiklah, ayo
makan, ayo makan! Gossan, di mana kita bisa duduk?”
“Ada
bangku kosong di sebelah sana.”
Suara
Gossan terdengar melambung penuh kegembiraan saat kami berdua dengan cepat
berjalan menuju bangku tersebut. Aku menyerahkan tusukan spesial yang tebal
dengan potongan lidah dan skirt yang berselang-seling serta sebotol ramune
padanya, dan aku langsung menggigit tusukan samcan babiku.
“Mmm!
Lezatnya!”
Sari
dagingnya meletup saat aku menggigitnya, dan rasa asin gurih dari garam dan
lada yang hampir berlebihan itu sungguh tak tertahankan. Kaya rasa dari
lemaknya, yang hampir terlalu berat, disegarkan secara sempurna oleh sensasi
soda dari ramune.
Gossan,
yang juga sedang mengunyah di sebelahku, tampak melembutkan matanya dengan
kebahagiaan. Daging benar-benar memperkaya jiwa.
Setelah
dengan cepat menghabiskan separuh, aku menetralkan lidahku dengan ramune, siap
untuk paruh kedua, ketika sebuah tusukan daging sapi dan tangan kekar Gossan
muncul di depanku.
“Saiki-kun, mau
bertukar?”
“Huh? Maksudku,
aku sih senang-senang saja, tapi apa kamu yakin, Gossan?”
“Aku sudah makan
masing-masing satu potong. Ini kan traktiranmu, dan aku juga ingin mencoba
babinya.”
“Begitu ya.
Kalau begitu, aku akan menerima tawaranmu.”
Menerima tawaran
Gossan dan tusukan daging sapinya, aku menukarnya dengan tusukan samcan babi
yang sedang kumakan.
Lidah yang tebal
dan skirt yang dipanggang dengan baik kelihatan sangat lezat, tetapi aku
ragu-ragu untuk langsung menggigitnya karena merasa agak cemas. Lalu aku
mendengar,
“Ah, aku belum
menyentuh sisa daging di tusukan itu, kok, jadi harusnya tidak kotor.”
“O-oh. Maksudku,
aku tidak keberatan meskipun kamu sudah menyentuhnya, tapi…”
Maaf, bohong
besar, aku sebenarnya super gugup.
Perasaan apa
ini? Aku biasanya bisa berbagi minuman dari botol yang sama, dan sama sekali
tidak ada rasa berdebar dalam ciuman tidak langsung dengan seekor gorila,
tetapi ada ketegangan aneh ini.
Namun, terdorong
oleh keinginan untuk menyantap daging seharga dua ribu yen, aku menggigit
tusukan daging sapi itu dengan lahap.
“Mmm… teksturnya
yang kenyal, atau lebih tepatnya, gigitannya sungguh luar biasa. Aku cuma
pernah makan irisan tipis lidah sapi, jadi aku tidak menyangka bakal semantap
ini.”
“Ya, tidak
terlalu keras dan cukup lezat.”
“Begitu
ya. Kalau skirt-nya… mmm… ya, ini benar-benar terasa seperti daging sapi. Sama
sekali tidak berlemak, apakah ini daging tanpa lemak?”
“Kurasa
itu dikategorikan sebagai jeroan… walau sama sekali tidak terasa seperti
jeroan, sih.”
“Jelas berbeda
dari hati. Apa pun itu, ini lezat.”
“Tapi reaksimu
kelihatan cukup tenang, ya?”
Pengamatan tajam
Gossan membuatku mengembalikan tusukan yang sudah bersih ke dalam kantong,
“Mungkin
ekspektasiku terlalu tinggi, tapi jujur saja, aku lebih suka tusukan samcan
babi. Atau mungkin iga sapi memang lebih enak?”
“Kebetulan
sekali. Aku juga lebih suka iga yang lebih berlemak. Dan aku ingin makan nasi
putih bersamanya.”
“Aku paham
maksudmu. Tadi ada onigiri bakar di sebelah sana, tapi aku lebih memilih nasi
putih polos. Sebenarnya, jika ada seseorang yang membawa rice cooker ke sini
untuk menjual nasi, mereka bakal untung besar. Aku pasti bakal belinya.”
“Aku juga. Yah,
terlepas dari itu, tadi memang lezat, tapi dua ribu yen terasa terlalu mahal.”
“Kan? Itu tidak
sepadan jika dibandingkan dengan tiga tusuk samcan babi dan dua tusuk iga sapi.
Aku belum mencoba iga sapinya, sih, tapi tetap saja.”
“Untuk harga
seribu yen… bahkan kalau begitu pun, aku mungkin bakal memilih satu samcan babi
dan satu tusuk iga sapi…”
Gossan
dan aku secara serius mendiskusikan harga tusukan daging tersebut. Apakah ini
yang mereka sebut sebagai percakapan yang sama sekali tidak memiliki atmosfer
romantis? Satu-satunya
hal yang hadir di antara kami hanyalah nafsu makan.
“Kalau begitu,
kita masih punya pesta kembang api untuk ditonton nanti, jadi bisakah kita
pindah? Sebagai permintaan maaf karena membuatmu membeli sesuatu yang mahal,
aku akan menraktirmu es serut.”
“Benarkah?
Gossan baik hati sekali!”
“Serahkan
padaku. Kalau begitu, ayo beli yang mereka jual di sebelah sana.”
“Yang porsi
kecil? Yang di mangkuk kertas itu?”
“Kita kan cuma
memakannya sebagai pembersih langit-langit mulut, dan lagipula, bukankah es
serut cuma enak di beberapa gigitan pertama? Setelah itu kamu tidak benar-benar
bisa merasakannya karena terlalu dingin.”
“Kalau kamu
bilang begitu, mungkin ada benarnya juga. Kalau begitu, ayo nikmati
traktiran darimu.”
Setelah
memutuskan, kami bangkit dari bangku dan mulai berjalan melewati area kuil yang
ramai, menuju target kami berikutnya.
Setelah
mengambil apa yang kami inginkan dari berbagai stan dan berpindah tempat dengan
cepat, kami menghabiskan waktu yang intens, dan dalam waktu sekitar sepuluh
menit, perut kami sudah lumayan kenyang, dan dompet kami jauh lebih ringan.
Meragukan
apakah percakapan kami, yang sebagian besar tentang rasa makanan, itu
menyenangkan, tetapi bagiku, itu anehnya terasa seru, dan waktu berlalu begitu
cepat…
Dan
kemudian, sebuah kejadian besar yang cocok untuk menutup hari yang penuh
gejolak ini pun meletus.
“——Nah, kita
sampai. Tempat ini harusnya bagus.”
Dipandu oleh
Gossan yang mengenakan yukata, kami tiba di sebuah area pepohonan yang tidak
berisi apa-apa selain sebuah gudang penyimpanan.
Gossan bilang
dia akan membawaku ke tempat rahasia untuk menonton kembang api, jadi aku
mengikutinya dari belakang area kuil dan berjalan sebentar ke tempat yang tidak
ada orang lain.
Atau lebih
tepatnya, ada lampu yang terpasang di gudang penyimpanan itu, jadi tempat itu
cukup terang, tetapi tidak ada tanda-tanda kembang api atau orang-orang yang
menuju ke kuil di dekat sini.
“Gossan, apa
kamu yakin ini tempatnya? Apa kita bakal memanjat pohon?”
“Tidak. Tempat
dengan pemandangan kembang api yang bagus itu bukan di sini. Itu lebih jauh ke
bawah jalan yang kita pisahi tadi. Walaupun kurasa kamu masih bisa melihatnya
dengan lumayan dari sini.”
“Jadi, kamu
tidak salah jalan. Kamu membawaku ke sini sengaja?”
“Ya. Ada sesuatu
yang sangat ingin kutanyakan, atau lebih tepatnya, sesuatu yang perlu
kupastikan.”
Nada suaranya
tidak banyak berubah dari biasanya. Sulit membaca ekspresinya karena dia adalah
seekor gorila, tetapi atmosfer yang dipancarkan Gossan telah menjadi serius,
tidak seperti sebelumnya.
Dalam remang
cahaya, Gossan menatap lurus ke mataku, dan setelah menghela napas pelan, dia
bertanya,
“Saiki-kun, apakah kamu menyukaiku?”
——Dia baru saja
menjatuhkan bom yang sangat dahsyat.
“Itu… Kenapa
kamu menanyakan hal itu…?”
Jantungku
berdebar sangat kencang, dan aku merasa seolah-olah kehabisan udara, tetapi
hanya itu yang sanggup kuucapkan. Itu terlalu mendadak, dan yang paling
penting, aku tidak memahami maksudnya.
Gossan
memalingkan wajahnya sejenak lalu kembali menatapku tajam, berkata,
“Mungkin cuma
sedikit—aku sempat berpikir bahwa kamu mungkin memang menyukaiku. Yanagiya-san
bahkan pernah menyebutkan bahwa mungkin memang begitu kejadiannya. Tapi bagiku,
aku bersikap skeptis karena tidak ada alasan untuk menyukai wanita bertubuh
besar dan membosankan sepertiku…”
“…Tapi
sekarang?”
“Tapi saat aku
mempertimbangkan kembali perilakumu hari ini, aku pikir itu mungkin layak
dipertimbangkan. Bahkan seseorang yang minim pengalaman cinta sepertiku pun
menyadari banyak hal yang menarik perhatiaanku.”
“…”
Aku tidak tahu
harus merespons apa untuk hal ini. Aku sudah berusaha menyembunyikannya, tapi
aku memang tidak pandai dalam hal semacam ini. Dan jika Yassan sampai
menyadarinya, itu berarti ada cukup banyak orang di kelas yang mungkin juga
sadar. Ugh, memalukan sekali…!
“Jadi, kamu
sedang memastikan apakah aku menyukaimu atau tidak?”
Menahan dorongan
untuk berguling-guling dalam rasa malu yang teramat sangat, aku mengepalkan
tangan kananku begitu kuat hingga kehilangan rasa di jariku, lalu bertanya pada
Gossan.
Itu adalah
pertanyaan untuk mengulur waktu agar bisa tenang, tetapi jawaban tak terduga
justru keluar darinya.
“Bukan. Itu
bukan masalah utamanya. Ini lebih seperti konfirmasi awal.”
“Konfirmasi
awal? Untuk
apa?”
Sudah terlanjur
bingung, aku menirukan kata-kata misterius Gossan, dan dia menjawab,
“Perasaanmu yang
sebenarnya bukan untukku, melainkan untuk orang yang hendak kamu cium di atap
tadi, kan?”
Kata-kata yang
diucapkannya dengan nada tenang itu menghancurkan seluruh gejolak dan
kebingungan di dalam diriku.
…Begitu ya,
karena itulah.
Aku punya banyak
pertanyaan, tetapi semuanya langsung menjadi masuk akal seketika.
“Kamu
yang datang ke atap waktu itu, Gossan…”
“Ya. Aku
melihat Saiki-kun berjalan menuju gedung sekolah lama dari kelas saat aku
sedang piket piket bersih-bersih, jadi aku pikir aku akan memberikan kontakku
padamu kalau-kalau kamu bertahan sampai larut untuk kegiatan klub. Saat aku
mengintip ke ruang klub dan melihatmu tidak ada di sana, aku berpikir mungkin
kamu ada di atap. Aku pernah ke sana sebelumnya.”
Dengan
itu, Gossan menghela napas dan menatapku dengan pandangan lesu.
“Aku
tidak bermaksud untuk melarikan diri… tapi jujur aku tidak tahu harus berkata
atau melakukan apa karena itu sangat mendadak, jadi aku akhirnya pergi begitu
saja ke kegiatan klubku.”
“…Yah, aku rasa
aku bisa memahami hal itu.”
Hanya menjadi
saksi adegan hampir-berciuman dari teman sekelas saja sudah cukup mengejutkan,
apalagi pasanganku adalah Tora-senpai. Gossan pasti melihatnya sebagai seorang
pria.
“Aku berencana
memberitahumu setelah pesta kembang api bahwa aku telah melihatnya. Sampai saat
itu, aku ingin bersikap seperti biasa sebisa mungkin, dan tergantung pada
perilaku Saiki-kun, aku siap membicarakannya lebih awal…”
“Lalu kenapa
kamu membawanya sekarang?”
“Mungkin karena
Saiki-kun tampak terlalu terbawa suasana, sampai-sampai aku pun bisa
mengetahuinya? Ketika aku memberanikan diri meminta tusukan daging sapi yang
mahal itu, kamu tidak menolak dengan keras dan menyetujuinya, dan setelah itu,
kamu terus menatapku dengan mata berbinar-binar seperti itu… Tak peduli
seberapa anehnya Saiki-kun biasanya, aku tahu itu bukan reaksi normal terhadap
seseorang.”
“Aku sampai
begitu, ya… dan begitulah aku dinilai secara harian…”
Rasa terkejutnya
berlipat ganda. Aku tidak menyadari bahwa aku sedang diuji.
“Setelah
menyaksikan adegan di atap itu, aku mencoba mempertimbangkan kembali bahwa
anggapan Saiki-kun menyukaiku hanyalah kesalahpahaman, tetapi sepertinya kamu
memang menyukaiku… Itulah mengapa aku ingin meluruskan segalanya terlebih
dahulu.”
“Maksudmu apakah
aku menyukai Gossan atau tidak?”
“Termasuk itu,
aku ingin memahami apa niat Saiki-kun yang sebenarnya. Aku tidak menuduhmu
mendua karena kamu belum menyatakan cinta padaku, tapi aku tidak ingin
digunakan sebagai kedok untuk berkencan secara rahasia dengan sesama jenis. Aku
akan memukulmu, tapi tidak cukup keras sampai berdarah.”
“Itu secara
mengerikan sangat spesifik… Tapi aku paham maksudmu…”
Jika ini hanya
soal perasaanku pada Gossan yang terbongkar, aku bisa saja menghadapi penolakan
secara langsung. Yah, bukannya itu akan baik-baik saja, tapi itu akan menjadi
sederhana.
Namun, Gossan
telah menyaksikan adegan hampir-berciuman antara aku dan Tora-senpai. Itulah
bagian yang rumit.
Tora-senpai,
karena kebaikannya, pernah berkata, ‘Jika mendesak, kamu bahkan boleh
menceritakan tentang kutukan ini’, tapi… secara realistis, siapa yang bakal
percaya dengan kutukan seperti itu?
Jika aku ingin
menyisakan kemungkinan apa pun dengan Gossan, aku harus samar-samar mengaburkan
apa yang terjadi dengan Tora-senpai dan hanya mengatakan bahwa Gossan adalah
satu-satunya orang yang kusukai, tentu saja dengan tetap merahasiakan
kutukannya.
Bahkan jika aku
tidak melakukan itu, setidaknya aku harus menjelaskan dengan ketulusan. Jika
tidak, itu bisa menimbulkan masalah bagi Tora-senpai dan menyakiti Gossan. Tak
seorang pun, termasuk aku, yang akan bahagia.
…Aku tahu itu,
tapi ini sungguh rumit…
“Gossan, bisakah
aku menanyakan satu hal padamu sebelum aku menjawab?”
“Apa itu? Kalau
terlalu lama, pesta kembang apinya bakal mulai——”
“Tolong, jangan
beritahu siapa pun tentang orang yang bersamaku di atap itu.”
“…Dari awal aku
tidak pernah berniat memberitahu siapa pun. Kamu ingin aku berjanji?”
Dia merentangkan
tangan kanannya dengan jari kelingking terangkat, tampak agak jengkel.
Membuat janji
kelingking di usia kita sekarang, ada apa dengan itu?
“Tidak, hanya
mengatakan itu saja sudah cukup bagiku. Aku percaya kamu tidak akan memberitahu
siapa pun, tapi aku tetap ingin memastikannya terlebih dahulu. Kamu mungkin
bakal marah dan pergi di tengah percakapan.”
“Menurutku
masalahnya adalah kamu punya cerita yang bisa membuat seseorang marah… Yah,
baiklah.”
Dia dengan cepat
meredakan kemarahannya, mungkin karena dia menyadari hal ini ada hubungannya
dengan homoseksualitas. Diskriminasi dan prasangka ada di mana-mana, jadi dia
mungkin sedang berusaha bersikap penuh pertimbangan.
Gossan bisa
sangat tegas, tetapi aku pikir sisi dirinya yang ini benar-benar luar biasa.
Makanya aku——
“Aku pikir aku
menyukaimu, Gossan. Ada bagian yang membuatku tidak percaya diri, dan aku tidak
berniat untuk menyatakan cinta atau berpacaran, jadi aku berencana untuk diam
saja untuk sementara waktu.”
“Apakah itu ada
hubungannya dengan orang yang ada di atap?”
“Ada
hubungannya, tapi itu bukan alasan utamanya. Masalahnya ada padaku.”
——Di suatu
tempat di dalam kepalaku, ada bagian dari diriku yang memohon untuk tidak
mengatakannya.
Peluang untuk
dipercayai sangat tipis, dan aku tidak merasakan kasih sayang dari Gossan, jadi
akan lebih bijaksana jika aku ditolak secara diam-diam.
“——Aku
terkutuk.”
Aku tahu ini
konyol, tapi aku menyuarakan kebenaran yang seharusnya tidak pernah diucapkan
dalam keadaan normal.
Tanpa
memedulikan citra luar, aku melangkah lurus ke depan, menjadi jujur pada diriku
sendiri. Apakah aku dipercayai atau tidak, itu tidak relevan.
Lebih baik
hancur setelah menyuarakan kebenaran kepada orang yang kusukai daripada
berbohong.
Tentu saja,
Gossan mengerutkan keningnya dalam-dalam mendengar pengakuan absurdku,
menatapku seolah-olah memelototi.
“Apa maksudmu?
Apakah itu semacam kemalangan?”
“Tidak salah,
tapi ceritanya lebih sederhana dari itu. Garis keturunanku terkutuk, dan karena
hal itu, putra sulung dari keluarga utama menjadi tidak normal.”
“Aku tidak
paham. Apa maksudmu dengan kutukan?”
“Bersiaplah
untuk terkejut. Aku melihat wanita sebagai hewan.”
“…”
Ekspresi
Gossan tidak berubah merespons pengakuanku. Namun, tak diragukan lagi, campuran
antara kebingungan dan rasa muak merembes keluar.
Tentu
saja, aneh rasanya jika langsung mempercayai cerita semacam itu seketika. Aku
paham hal itu.
Namun
tetap saja, aku ingin membicarakannya dengan benar.
“Saat
aku kelas enam SD, kutukan itu aktif, dan sejak saat itu, aku melihat wanita
sebagai berbagai macam hewan. Bukan cuma orang yang kulihat secara langsung,
tapi di TV dan foto juga. Tepatnya, bagian terbuka yang tidak tertutup pakaian
terlihat berubah menjadi hewan.”
“Kamu
mengharapkan aku mempercayai cerita sekonyol itu?”
“Maaf, ceritanya
malah makin tidak masuk akal dari ini. Senpai yang bersamaku di atap tadi juga
terkutuk. Itu kutukan yang berbeda, tapi orang yang merrapalkannya sepertinya
sama.”
“Lalu apa yang
membuat kutukan ini terlihat olehnya?”
“Tidak, justru
kebalikannya. Senpai terlihat berbeda bagi orang lain.”
“Huh? Apa
maksudmu?”
“Gossan,
Tora-senpai tampak seperti seorang pria bagimu, kan? Tapi sebenarnya, orang itu
adalah seorang wanita. Sepertinya bagi orang normal, dia hanya tampak sebagai
seorang pria. Ngomong-ngomong, bagiku, dia tidak tampak sebagai pria ataupun
wanita, melainkan sebagai seekor kucing.”
“…”
Oh, ada kerutan
dalam di antara alisnya lagi. Tingkat kebingungannya terlihat sangat jelas.
Gossan mungkin
berpikir aku sedang mencoba mengaburkan masalah dengan cerita rekaan. Mau
bagaimana lagi.
“…Apakah ada
orang yang bisa membuktikan ceritamu, Saiki-kun?”
“Keluargaku,
termasuk kerabatku, dan kurasa keluarga Tora-senpai. Tapi tidak ada bukti
fisik. Efek dari kutukan ini hanyalah klaim dari diriku sendiri, dan
Tora-senpai sepertinya telah memanipulasi kartu keluarga atau semacamnya.”
“…Aku tidak bisa
mempercayaimu sama sekali, tapi bagaimana hal itu berhubungan dengan apa yang
terjadi di atap? Apakah kamu mencoba mengatakan bahwa itu bukan homoseksualitas
melainkan heteroseksualitas karena Senpai itu sebenarnya seorang wanita?”
Mungkin karena
rentetan konten yang tak terduga ini, Gossan bertanya dengan suara lelah. Tapi
dia memiliki kesabaran yang luar biasa. Normally, dia akan berkata, ‘Aku sudah
cukup mendengar ini’, lalu pergi. Aku sungguh bersyukur dia mau mendengarkan
sejauh ini.
“…Keluargaku
tidak tahu cara mematahkan kutukan ini, tapi bibi Tora-senpai berhasil
melakukannya secara kebetulan. Dia mematahkan kutukannya dengan mencium pria
yang dicintainya.”
“Solusi yang
mudah macam apa itu? Ini bukan dongeng peri.”
“Aku juga
berpikir begitu, tapi karena aku melihat lawan jenis sebagai non-manusia, dan
Senpai diperlakukan sebagai sesama jenis oleh orang lain, tingkat kesulitannya
ada di tingkat lunatic. Ditambah lagi, itu tampaknya membutuhkan ciuman dengan
kasih sayang dari kedua belah pihak, dan mereka hanya mengetahuinya secara
kebetulan, jadi kami tidak tahu seberapa benar hal itu. Kami harus mencoba
berbagai hal karena kami tidak punya kandidat untuk dicoba bersama, dan itu
benar-benar sulit.”
Mengetahui
solusinya mungkin terlihat mudah, tetapi pada kenyataannya, tidak. Ini seperti
membutuhkan panduan permainan dan pembelian dalam aplikasi untuk bisa
melanjutkan.
“…Jadi kamu
mencoba berciuman untuk mematahkan kutukan? Tapi kalau begitu, bukankah itu
berarti kamu dan Senpai itu…”
“Tidak,
Tora-senpai dan aku baru saja bertemu belum lama ini, dan kami tidak punya
perasaan seperti itu satu sama lain. Tapi kami telah mendiskusikan bagaimana
mengembangkan hubungan cinta semu untuk mematahkan kutukan tersebut.”
“…”
Setelah
mendengar penjelasanku, Gossan diam-diam memejamkan matanya. Mungkin dibantu
oleh cahaya yang samar, ekspresinya tampak pahit. Rasanya dia tidak bisa
mencerna kata-kataku dengan sepenuhnya, yang memang mirip dengan fantasi liar.
Aku menunggu
pemikiran Gossan selama beberapa detik.
Si gorila
perlahan membuka matanya dan, dengan helaan napas lelah, memelototiku.
“…Apakah itu
sebabnya kamu berkata tadi, ‘Aku tidak berniat untuk menyatakan cinta atau
berpacaran’?”
“Ya… kurang
lebih begitu. Untuk mematahkan kutukan ini, ada kemungkinan besar bahwa orang
lain tersebut harus menyukaiku balik, dan kemudian kami berciuman. Itu
rintangan yang terlalu tinggi bagiku.”
“Dan untuk
dirimu sendiri, Saiki-kun?”
“Jujur saja, aku
tidak bisa memaksa diriku untuk mencium seekor hewan, dan itu bakal buruk bagi
pihak sebelah jika aku melakukannya dengan enggan. Jadi aku pikir aku akan
menunggu sampai kutukan ini patah untuk mengejar romansa yang sebenarnya, dan
sementara itu, aku akan bekerja sama dengan Senpai… dan itulah yang terjadi di
atap tadi.”
“Kamu bilang
tidak bisa memaksa diri untuk berciuman karena mereka kelihatan seperti hewan,
kan?”
“Makanya Senpai
menyarankan agar kami mencobanya dengan mataku terpejam. ‘Jika kamu
membayangkan seorang gadis yang sangat imut, mungkin kamu bakal jatuh cinta dan
meningkatkan peluangnya,’ katanya.”
Menjelaskannya
seperti itu, ya, rasanya terdengar cukup buruk. Aku bisa memahami mengapa
Gossan menekan pelipisnya seolah-olah menahan sakit kepala.
Tapi Tora-senpai
dan aku sama-sama seputus asa itu. Jika tidak berhati-hati, kami mungkin akan
menghabiskan waktu bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup di bawah kutukan
ini.
“Tora-senpai
kelihatan seperti seekor kucing, jadi dalam satu hal, lebih mudah untuk
berciuman. Jika itu sesuatu yang lebih buas atau dengan penampilan yang lebih
intes, bahkan dengan mata terpejam pun, aku akan tetap menyadari hal itu.”
“…Jadi kamu
tidak menyadari aku ada di sana karena hal itu?”
“Karena itulah
kami mencoba melakukannya dengan mata terpejam.”
Jika tidak ada
suara pintu tadi, aku mungkin tidak akan menyadarinya sama sekali. Saat hal itu
hendak terjadi, aku benar-benar gugup.
“…Sigh. Baik,
aku paham.”
Tak sanggup
bertanya apa maksudnya dengan ‘baik’, aku dengan patuh mengatupkan mulutku.
Penjelasanku sudah hampir selesai.
Masih ada begitu
banyak hal yang ingin kukatakan, tapi tak satu pun yang bisa memperkuat
kesaksianku. Bahkan jika Tora-senpai atau keluargaku berbicara atas namaku, itu
tidak akan membuktikan keberadaan kutukan tersebut.
Aku sudah tahu
hal itu bahkan sebelum berbicara. Aku hanya ingin menyampaikan perasaanku
secara jujur tanpa kebohongan apa pun. Jika tidak, perasaan yang kuinginkan
pada Gossan akan terasa tak lebih dari cangkang kosong, tidak lebih berbobot
daripada sebuah kepalsuan.
Bahkan jika itu
dianggap sebagai kebohongan atau karangan, satu-satunya cara untuk dipercayai
adalah menyampaikannya sebagai fakta. Terutama jika orang tersebut adalah
seseorang yang kamu sukai.
…Setelah
keheningan yang panjang, Gossan mengerutkan kening seolah menahan sakit kepala
dan berkata,
“Menganggap
cerita Saiki-kun itu benar, aku punya satu pertanyaan terakhir. Apakah tidak
apa-apa?”
“…Ya. Kalau aku
bisa menjawabnya, tanyakan apa saja.”
“Kalau begitu,
aku tanya. Bagi Saiki-kun, aku ini kelihatan sebagai hewan apa?”
“…Ah?”
Aku tidak pernah
bermimpi bakal ditanyai pertanyaan seperti itu. Wajahku mengernyit tanpa sadar.
“Kenapa… kamu
menanyakan… hal semacam itu?”
“Karena kamu
menyukaiku, kan? Meskipun kamu melihatku sebagai seekor hewan. Wajar saja kalau
aku penasaran bagaimana wujudku di mata dirimu.”
“…A-aku paham.
Itu masuk akal…”
Sambil
mengangguk, aku merasakan keringat dingin keluar, bukan karena cuaca panas.
——Uhh, apakah
aku benar-benar harus mengatakannya? Bahwa dia kelihatan seperti seekor gorila?
Mengatakan
kepada gadis yang kamu sukai bahwa dia ‘kelihatan seperti gorila’ bukankah
terlalu merusak? Bahkan sebelum mempertimbangkan apakah itu kebohongan atau
kebenaran, bukankah hal itu akan mempertanyakan karakter dan moralitasku? Dan
orang yang bersangkutan punya masa lalu yang menyakitkan karena sering diejek
dengan sebutan gorila akibat namanya. Mengetahui hal itu, apakah aku harus
tetap mengatakannya?
…Ugh, serius…
Apa yang harus kulakukan, apa yang sebaiknya kulakukan, apa yang bakal
kulakukan…!?
Haruskah aku
mengatakan yang sebenarnya, atau haruskah aku membohonginya? Ini bukan soal
penyelamatan diri; mungkin berbohong demi kebaikan Gossan adalah hal yang benar
untuk dilakukan.
Bukankah itu
hanya pemuasan diri sendiri jika mengatakan sesuatu padahal kamu tahu itu akan
menyakiti perasaan orang lain?
Aku baru saja
hendak memutuskan apa yang harus dilakukan ketika tiba-tiba, suara ledakan
keras yang bergetar hingga ke perut dan cahaya kemerahan dari kembang api
menerangi wajah Gossan.
Mata yang
menatap lurus ke arahku dari balik kelopak mata gorila yang tebal itu tidak
terdistraksi sedikit pun oleh kembang api yang baru saja dimulai.
Selama tiga
bulan terakhir, aku lebih sering melihat wajahnya dari samping daripada dari
depan. Ciri-ciri wajah yang tegas yang hanya bisa kulihat, penampilan ilusi
ini.
Jadi, meskipun
aku bilang dia kelihatan seperti hewan lain, kebenaran tentang apakah itu benar
atau tidak sama sekali tidak akan pernah terbongkar—
“Kamu kelihatan
seperti gorila. Seperti gorila dataran rendah barat yang biasa kamu lihat di
kebun binatang.”
…Meskipun aku
tahu hal itu, aku akhirnya mengatakan yang sebenarnya padanya.
Mengetahui bahwa
aku akan disambut oleh kemarahan atau kekecewaan.
“…!”
Dengan
ekspresi tegas, dia mengayunkan tangan kanannya ke belakang dengan sekuat
tenaga.
Namun
tamparan kuat yang telah terasah di klub bola voli itu tidak mendarat dan
perlahan-lahan diturunkan.
“——Maaf,
tapi aku mau pulang. Silakan nikmati kembang apinya sendirian.”
Meskipun
kata-katanya sopan, itu diucapkan dengan penekanan yang tak bisa dibantah.
Gossan kemudian berbalik dan berjalan kembali ke arah jalan saat kami datang
tadi.
Aku hanya bisa
menatap punggungnya dalam balutan yukata yang makin menjauh, tak sanggup
menemukan kata-kata untuk memanggilnya… Pada akhirnya, saat Gossan menghilang
ke dalam kegelapan dan suara langkah kaki serta keberadaannya memudar, aku
terduduk jongkok di tempat.
“…Aku
benar-benar mengacaukannya…”
Aku telah
membuat dirinya marah besar. Lebih dari sekadar masa depan hubungan baik dengan
Gossan yang telah berakhir, terasa lebih menyakitkan fakta bahwa aku telah
menyakiti hatinya.
Aku tahu hal ini
kemungkinan besar akan terjadi, namun aku tidak memilih untuk menyebutkan nama
hewan lain karena,
“…Jika aku tidak
mengatakan yang sebenarnya, tidak akan ada orang yang mempercayaiku…”
Bahkan jika
peluang untuk dipercayai soal kutukan ini lebih kecil daripada seekor semut,
aku harus menyampaikan pembelaanku, atau itu tidak akan pernah dipercayai.
Itulah mengapa,
tak peduli seberapa mustahilnya, bahkan jika itu berarti harus menyakiti orang
lain, sangat perlu untuk menyampaikan kebenaranku dengan segala ketulusan.
…Aku
mengatakannya dengan tekad bulat, tapi…
“…Sigh… Dibenci
itu benar-benar menyakitkan…”
Dengan perasaan
hampa seolah-olah ada lubang yang menganga di hatiku, dada ini berdenyut
menyakitkan. Bahkan untuk bernapas saja terasa sulit. Jika aku lengah sedikit
saja, aku merasa seperti akan mulai menangis.
Ini pasti rasa
sakit dari patah hati yang pernah kudengar dalam rumor.
“…Jadi itu
artinya… aku memang benar-benar menyukainya…”
Hal itu justru
membuatnya makin menyakitkan karena aku telah menyakiti Gossan begitu dalam.
Aku lebih suka
jika dia memukulku tadi. Bahkan jika wajahku memar akibat protes yang keras,
itu akan terasa sedikit… Tidak, itu cuma aku yang ingin dimaafkan. Itu tidak
akan memperbaiki keadaan.
“…Bagaimana aku
harus menghadapinya besok…”
Pikiran itu saja
sudah tak tertahankan, dan aku tetap berjongkok sambil menggaruk kepalaku.
Bahkan saat
kembang api terus berlanjut di kejauhan, aku tidak bisa berdiri untuk beberapa
saat.
◇ ◆
“Saiki-kun,
selamat pagi. Kamu kelihatan seperti orang yang mau mati, apa kamu tidak
tidur?”
“…Oh. Pagi,
Yassan.”
Keesokan
paginya, saat bel pertama berbunyi sebelum SHR, Yassan, seekor anjing rakun
kecil, memanggilku saat aku terbaring lesu di atas mejaku.
Menggunakan
tanganku untuk menopang diri, aku memberikan senyum getir pada Yassan.
“Cuacanya sangat
panas sampai aku tidak bisa tidur sama sekali. Bukankah kamu hampir terlambat
hari ini, Yassan?”
“Aku
terlanjur keasyikan mengobrol dengan teman-teman di dekat loker sepatu. Tapi
kalau bicara soal sesuatu yang tak biasa, justru lebih aneh kalau Riho-chan
belum ada di sini sekarang.”
Tepat seperti
yang dikatakan Yassan, kursi di sebelah kananku masih kosong. Gossan, yang
biasanya datang lebih awal karena latihan pagi, absen hari ini dari sekian
banyak hari.
…Ini mungkin
tidak terlepas dari kejadian kemarin. Mungkin dia begitu terluka atau begitu
membenciku sampai sengaja datang tepat sebelum terlambat agar tidak perlu
melihatku?
Setelah apa yang
terjadi, aku pulang ke rumah tanpa menonton kembang api dan merasa sangat
terpuruk.
Namun, selama
malam tanpa tidur itu, aku berhasil memikirkan berbagai cara untuk ‘menghadapi
Gossan hari ini’. Jadi, sambil berusaha bersikap senormal mungkin, aku
berencana untuk secara halus menjaga jarak dari Gossan, setidaknya sampai
liburan musim panas tiba.
Tora-senpai,
yang kulaporkan kejadian semalam padanya, berkata, ‘Waktu yang akan
menyelesaikannya.’ Meskipun aku tidak berkonsultasi dengannya sebelum
menceritakan tentang kutukan tersebut, dia justru menghiburku alih-alih
menyalahkanku, dan aku benar-benar berpikir dia adalah orang yang baik dan luar
biasa.
Jika aku
bersikap optimistis, ini berarti aku bisa fokus untuk mencoba menyukai
Tora-senpai sekarang. Bahkan jika kutukannya terangkat, hubunganku dengan
Gossan tampaknya sudah berakhir, dan sulit membayangkan untuk menjadi teman
lagi.
Tapi tenggelam
dalam keputusasaan tidak akan membantu, jadi aku melakukan beberapa simulasi
semalaman… Ya, aku tidak memperhitungkan kemungkinan dia tidak masuk sekolah…
Di tengah rasa
cemas dan bersalah, guru wali kelas masuk, dan Yassan kembali ke kursinya.
Kursi di sebelahku tetap kosong.
Dan bahkan
setelah jam wali kelas selesai serta jam pelajaran pertama dan kedua berlalu,
Gossan masih belum muncul juga. Aku berbicara sebentar dengan Yassan saat
istirahat, tapi dia sepertinya tidak tahu kenapa Gossan absen.
Tidak seperti
aku, dia punya kontak Gossan dan telah mengirim pesan, tapi pesan itu tetap
tidak dibaca.
…Ini salahku,
kan? Jika dia cukup terluka hingga tidak ingin datang ke sekolah atau
membenciku, apa yang bisa kulakukan untuk menebusnya?
Pindah sekolah?
Dengar-dengar memang drastis, tapi hanya itu yang bisa kupikirkan. Mustahil
untuk tidak saling melihat karena kami berada di kelas yang sama. Aku tidak
ingin memintanya menahan diri selama satu tahun.
Merasa sesak
oleh rasa cemas dan bersalah, aku menahan rasa tidak nyaman di perutku selama
pelajaran matematika jam keempat sambil berpikir untuk meminta Yassan
menghubunginya lagi saat makan siang.
Hanya beberapa
menit sebelum pelajaran berakhir, pintu kelas tiba-tiba terbuka, dan si gorila
pun muncul.
Suasana kelas
riuh seketika, Yassan bahkan hampir saja berdiri, tetapi Sensei, yang dikenal
suka memberi nilai berdasarkan perilaku di kelas, dengan cepat menenangkan
semua orang dengan ucapan ‘harap tenang’, dan semua mata pun tertuju pada
Gossan.
Aku adalah salah
satu di antaranya. Melihat seragam pelautnya yang familier, aku merasakan
kelegaan yang luar biasa.
Raut wajahnya
sulit dibedakan karena kulit gorilanya yang secara alami gelap. Namun,
posturnya tegak dan langkah kakinya bermartabat, jadi dia tidak kelihatan
sedang sakit. Satu-satunya perubahan adalah, alih-alih hiasan rambut kuning
yang biasanya, dia mengenakan jepit rambut bunga berwarna putih.
Gossan baru saja
hendak berjalan menuju mimbar alih-alih ke kursinya, tetapi atas perintah guru
matematika, ‘Aku sedang berbicara. Duduklah di kursimu’, dia menurut dan duduk
di kursi biasanya.
Aku mendapati
diriku berkali-kali meliriknya dari sudut mata. Dengan kata lain, hanya itulah
yang bisa kulakukan. Aku tidak bisa berbicara padanya selama pelajaran, dan aku
juga merasa cemas apakah boleh mengajak dia bicara sama sekali.
Saat aku
tenggelam dalam lamunan, pelajaran berakhir dalam kedipan mata, dan sebelum bel
selesai berbunyi, Sensei meninggalkan kelas hanya dengan kata-kata, ‘Pastikan
kalian mengulas pelajaran dengan benar’.
Pada saat yang
sama, beberapa anak perempuan dari kelas mendekati Gossan yang datang terlambat
dan bertanya,
“——Bisa ikut
denganku sebentar?”
Sebelum ada yang
bisa berbicara lebih jauh, Gossan, yang telah berdiri, mencengkeram siku
kananku dan bertanya,
“Maukah kamu
ikut denganku?”
Terkejut oleh
ajakan yang tak terduga itu, aku berkedip cepat dan menengadah menatap Gossan,
“…Uh?”
“Kuanggap itu
sebagai persetujuan. Ayo kalau begitu.”
“H-huh? Gossan,
maksudmu kita mau pergi… Ah, bagaimana dengan makan siang!?”
“Kita makan
setelah ini kalau ada waktu. Kalau tidak ada waktu, kita lewati saja.”
Sambil
mengatakan hal ini tanpa ampun, Gossan menarik melepaskan tanganku dan
membawaku keluar dari kelas, tak peduli dengan perhatian orang-orang di
sekitar.
Gossan
memanduku, yang masih bingung, menyusuri koridor dan tangga menuju pintu masuk,
di mana kami berganti sepatu. Tentu saja, itu bukanlah tujuan akhir. Masih
memegang tanganku, dia membawaku ke luar gedung sekolah.
“Huh…!?”
Saat kami
melewati sekelompok senior laki-laki yang baru kembali dari pelajaran penjas,
seekor kucing belang cokelat di antara mereka menyadari keberadaan kami.
“Ah…”
Namun, sebelum
aku sempat memikirkan bagaimana harus merespons, aku sudah ditarik oleh
kekuatan gorila Gossan yang tak biasa, dan Tora-senpai pun hilang dari
pandangan. Dengan pakaian itu, dia kemungkinan besar tidak membawa ponselnya,
jadi mengirim sinyal SOS adalah hal yang mustahil.
Setelah semua
itu, tempat yang kami tuju, yang sudah kuduga sejak pertengahan jalan, adalah
atap gedung sekolah lama, tempat kejadian kemarin.
Sampai kami tiba
di sana, Gossan hampir sepenuhnya diam. Dia hanya memberikan instruksi singkat
dan tidak berbicara lebih jauh ataupun menatapku.
“Kalau
begitu——mari buat ini cepat.”
Bergumam
demikian, Gossan melepaskan tanganku dan mulai memeriksa apakah atap sekolah
dalam keadaan kosong.
Tapi aku masih
belum bisa memahami alasan dibawanya aku ke sini secara mencolok seperti ini.
Mungkinkah ada
sesuatu yang begitu penting bagiku, orang yang telah membuat dirinya kecewa?
Setelah
memastikan tidak ada orang yang bersembunyi di sudut mana pun, Gossan
menghadapku kembali.
“Urusanku
denganmu akan selesai dengan cepat. Aku hanya ingin memukul Saiki-kun sekali.”
“Oh, uh… apakah
itu karena kamu masih marah soal kejadian kemarin…?”
“Kurang lebih
begitu. Namun, bisakah aku memastikan satu hal sebelum melakukannya?”
“Ah, tentu.
Silakan.”
Meskipun aku
sangat penasaran dengan Gossan yang mengepalkan dan membuka tangannya, aku
memahami kemerahannya dan siap untuk menerimanya. Bahkan jika itu bukan
tamparan melainkan pukulan… Aku bisa menahannya di badan, tapi kalau kena
wajahku, gigi atau tulangku bisa patah… Aku sungguh berharap tidak sampai
seperti itu.
…Tidak, mungkin
ini adalah luka yang akan membekas seumur hidupku, dan aku harus bersiap untuk
pergi ke rumah sakit. Aku berusaha keras menahan dorongan untuk menangis karena
ketakutan.
Jadi, apa yang
ingin ditanyakan oleh Gossan…!?
“——Apakah kamu
menyadari ada sesuatu yang berbeda dariku hari ini?”
“…Uh?”
Aku mengira
pertanyaan itu bakal berhubungan dengan masalah Tora-senpai, kutukan, atau
fakta bahwa aku bilang menyukainya, tetapi dugaanku sepenuhnya meleset.
Tapi… sesuatu
yang berbeda dari Gossan hari ini?
Dia kelihatan
seperti gorila yang biasanya bagiku…?
Ada keteguhan
tekad pada dirinya, tapi itu cuma persepsiku saja. Bukankah seharusnya ada
sesuatu yang lebih jelas berbeda?
Jika harus
kukatakan, apakah itu hiasan rambut yang berbeda…? Selain itu, dia mengenakan
seragam pelaut biasanya, warna kulitnya adalah gorila jadi aku tidak bisa
membedakannya, dan tidak ada perbedaan seperti perban di bagian lengan dan kaki
yang terbuka…
“Ada apa? Apa
kamu tidak paham apa yang ingin kukatakan?”
“Uh… ada
petunjuk?”
“Tidak ada
petunjuk… ingin rasanya kukatakan begitu, tapi aku akan memberimu satu
petunjuk, dengan batas waktu tiga puluh detik.”
Kondisi mirip
kuis acara TV mendatangi diriku. Apakah dia marah atau memang lagi ingin main
kuis? Yang mana yang benar?
“Ugh… Baiklah. Tolong, berilah aku petunjuk
yang bagus…!”
“Jawaban yang benar bukanlah sesuatu yang ada
di dalam diri. Itu adalah sesuatu yang terlihat oleh mata.”
“…”
Aku cuma bisa
melihat seekor gorila…!
Gawat, bahkan
setelah memperhatikan dengan cermat, dia tetaplah gorila yang seperti biasanya.
Malah, rasanya dia kelihatan lebih mengintimidasi dari biasanya.
“Sisa waktu
sepuluh detik.”
Dengan
pengumuman yang dingin dan tanpa ampun, kepanikanku makin menjadi-jadi. Ini
buruk, ini buruk, aku sudah mengaku tidak tahu dengan meminta petunjuk, yang
memberikan kesan buruk, dan kalau aku tidak menebaknya dengan benar sekarang,
aku benar-benar bakal dipukul di wajah…!
Tunggu, tapi
mungkinkah hiasan rambut itu jawaban yang benar? Tidak ada hal lain lagi, kan?
Kalau itu riasan atau kuku, aku tidak akan bisa membedakannya, jadi itu bakal
jadi perjudian murni.
Apa
lagi, apakah ada hal lain yang berbeda…
“——Waktu
habis. Jawabanmu, silakan.”
“Ugh…
hiasan rambutmu berbeda dari biasanya!”
Aku
hampir saja menebak sembarangan, tetapi karena ada satu pilihan yang jelas, aku
memutuskan untuk menggunakan satu-satunya hal yang kuketahui berbeda—hiasan
rambut.
Dengan
jantung yang berdebar kencang, respons Gossan adalah,
“Jawabanmu
salah. Bukan itu yang ingin kusadari dari dirimu.”
“Ugh… begitu
ya…”
“Kalau begitu,
mari selesaikan ini dengan cepat. Tutup mata dan mulutmu, lalu taruh kedua
tanganmu di belakang punggung. Aku akan menanyakan pertanyaan yang sama lagi
padamu setelah ini.”
“…Apa-apaan
itu, serem banget…! Dan ini tidak akan berakhir sampai aku menebaknya dengan
benar…?”
“Cepatlah. Waktu
makan siang kita makin menipis.”
Apakah aku bakal
berada dalam kondisi yang sanggup untuk makan dengan benar meskipun ada waktu,
itu lebih menjadi kekhawatiran.
…Tapi jika ini
bisa sedikit meredakan suasana hati Gossan, aku siap mengorbankan satu atau dua
porsi makan siang, atau lebih tepatnya, satu atau dua gigi geraham.
Menyiapkan diri,
aku memejamkan mataku rapat-rapat.
“…Baiklah,
lakukan saja! Whoa, tidak tahu kapan waktunya malah bikin makin menakutkan…!”
“Diam. Aku mau
menamparmu.”
Aku ingin
membalas dengan sesuatu, tetapi aku memilih untuk mengatupkan mulutku. Jika aku
terpukul saat sedang berbicara, aku bisa saja menggigit lidahku sendiri.
Gemetar karena
ketakutan, aku menyatukan kedua tanganku di belakang punggung, mengatupkan
gigi, dan bersiap menahan benturan.
Dalam
penglihatanku yang tertutup, aku bisa mendengar langkah kaki yang samar. Aku
merasakan sebuah kehadiran mendekat di hadapanku, lalu aku mengencangkan rahang
dan otot perutku, siap menghadapi apa pun yang akan terjadi, ketika tiba-tiba──
Sensasi
yang lembut dan basah tertekan di bibirku.
——Aku
tidak memahami apa yang baru saja terjadi pada awalnya. Itu adalah sensasi yang
belum pernah kurasakan sebelumnya, dan aku tadi memperkirakan bakal mendapat
pukulan atau tamparan, jadi itu adalah kejutan yang sepenuhnya tak terduga.
“Apa itu
tadi——!?”
Saat aku
bertanya dengan suara yang serak, aku membuka mataku dan melihat,
“Bagaimana? Apa
kamu menyadari ada yang berbeda?”
——Seorang
gadis dengan wajah manusia berdiri di sana.
Dia
mengenakan seragam pelaut lengan pendek musim panas, rambutnya dipotong bob
pendek sedikit di atas bahu, dihiasi dengan aksesori rambut berwarna putih.
Alisnya tipis
dan matanya memiliki tatapan tajam, memancarkan aura yang agak marah.
——Gadis yang
kulihat untuk pertama kalinya setelah hampir empat tahun berada tepat di sana.
“…Gossan?”
“Benar. Kamu
pikir siapa lagi?”
“Bukan, cuma…
uh… apa…?”
Itu bukan wajah
seekor gorila, bukan juga gadis 2D. Karena bagiku Gossan sama dengan gorila,
aku tidak akan mengenali wajah aslinya yang tiba-tiba muncul, tetapi suaranya
tak salah lagi sama dengan suara Gossan.
Ini artinya,
dengan kata lain…
“Kutukannya
sudah terangkat…? Jadi, yang tadi itu…!?”
Apakah sensasi
di bibirku tadi berasal dari Gossan yang menciumku?
Dan ada hal lain
yang sangat mengganggu pikiranku, tetapi sebelum aku sempat bertanya, dia
angkat bicara,
“Sebelum kita
lanjutkan, biarkan aku bertanya padamu sekali lagi. Melihatku hari ini, apakah
kamu menyadari sesuatu?”
Sesuai dengan
perkataannya, Gossan mengulangi pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.
Dari
perspektifku sekarang, hal pertama yang terlintas di pikiran adalah ‘bukan
gorila’, tetapi itu jelas bukan jawaban yang dicari olehnya.
…Atau lebih
tepatnya, ini pertama kalinya aku melihat wajah asli Gossan… sepertinya. Jejak memori
samar yang hampir lenyap seolah-olah saling tumpang tindih.
Dengan
gadis berseragam yukata yang kulihat untuk pertama kalinya dalam empat tahun.
“…Mungkinkah…
kamu menemuiku saat liburan musim panas kelas enam SD…?”
“Yah, anggap
saja begitu tidak apa-apa. Sia-sia mengharapkan terlalu banyak darimu,
Saiki-kun.”
Aku merasa
seperti dinilai secara tajam, tetapi itu hal sepele dibandingkan dengan
kebingungan yang berputar-putar di kepalaku.
——Gossan adalah
gadis yang kuhabiskan waktu bersamanya di festival musim panas waktu itu? Serius? Dan dia
mengenali diriku? Terlebih lagi, dia menciumku?
“Aku
tidak bisa mengatasi ini. Aku tidak bisa memahami situasinya sama sekali… Bisakah
kita membenahi ini satu per satu?”
“Mau bagaimana
lagi. Tolong
selesaikan ini sebelum jam makan siang berakhir, ya?”
“Tidak yakin aku
bisa, tapi oke…”
Aku tidak bisa
melihat jam dari sini, jadi bel sekolah yang akan menjadi batasnya. Bakal sulit
untuk kembali ke kelas sebelum pelajaran dimulai jika aku bertahan sampai menit
terakhir, tetapi jujur saja, itu adalah hal yang paling tidak kukawatirkan.
Hal pertama yang
ingin kutanyakan──
“Gossan,
bukankah kamu bilang kamu tidak percaya pada kutukan…?”
“Aku
bahkan lebih dari sekadar skeptis. Tapi aku juga tidak bisa sepenuhnya tidak
percaya, jadi aku memutuskan untuk mencobanya.”
“Mencobanya…
maksudmu, kamu mencobanya dengan sebuah ciuman?”
Itu
sangat berani, tidak berlebihan untuk mengatakannya.
Tapi
Gossan, dengan ekspresi yang sedikit jengkel, menggelengkan kepalanya,
“Itu karena
pertanyaan tadi. Aku membuat keputusanku berdasarkan hal itu.”
“Pertanyaan itu,
tapi kamu bilang jawabanku salah?”
“Itu
karena jawabannya memang tidak benar. Aku sangat marah ketika mendengar
ceritanya kemarin, tetapi saat aku berjalan, aku sedikit tenang dan mengingat
sesuatu yang menggangguku.”
“Sesuatu
yang mengganggumu…?”
“——Saat
pertama kali aku masuk ke kelas dan bertemu denganmu, Saiki-kun, kamu melihatku
dan berkata ‘gorila,’ kan?”
Mata dingin
Gossan berkilat tajam. Kehadiran yang begitu mengintimidasi. Apakah itu masih
ada bahkan jika dia tidak kelihatan seperti hewan?
Tidak bagus,
bahkan jika dia bukan gorila, dia tetap sangat menakutkan.
“Aku… meskipun
aku tidak tahu, aku sangat tidak sopan waktu itu…”
“Aku tidak akan
memaafkanmu jika ada niat jahat, tapi aneh bagi Saiki-kun, yang tidak
mengenalku dan tidak bisa membaca namaku, memanggilku ‘gorila,’ dan kamu
membuat alasan yang aneh, jadi aku tidak bisa lupa dan itu menggangguku. Tetap
saja, aku memang marah.”
Mungkin bagian
terakhir itulah alasan utama dia tidak lupa. Meskipun aku sudah meminta maaf
dengan benar waktu itu, itu tidak menyelesaikan masalahnya, ya?
Tapi tunggu?
Gossan juga berpikir dia tidak mengingatku…
“Jadi, Gossan,
kamu juga tidak mengingatku?”
“Aku merasa
seperti mengalami dejavu. Tapi malam itu di festival, jujur saja, itu tidak
seperti cinta pertamaku atau semacamnya. Aku mengingat kejadiannya, tapi baru
setelah berbicara dengan seorang teman beberapa kali, aku menghubungkan anak
laki-laki itu denganmu, Saiki-kun.”
“Seorang teman…
yang kamu sebutkan sebelumnya yang sekolah di tempat lain?”
“Ya. Kamu ingat
nama Namikawa Yume?”
“Ah, ya.
Dia teman sekelas di SD… dan masuk ke SMA yang berbeda, kan?”
“Namikawa-san
ada di tempat les yang sama denganku, dan dia mengundangku ke festival hari itu
karena hubungan tersebut. Padahal dia sendiri tidak bisa datang.”
“Aku
paham… jadi kamu tahu tentang diriku dari Namikawa?”
“Aku
mulai curiga bahwa mungkin memang begitu setelah ujian tengah semester kita.
Aku juga telah memastikan bahwa Namikawa-san tidak menyebutkan nama atau nama
panggilanku.”
“Itu
sudah lebih dari sebulan yang lalu… Harusnya kamu memberitahuku…”
“Aku
pikir kamu sudah sepenuhnya melupakanku, jadi aku tidak ingin mengatakannya.
Lagipula, aku bahkan tidak memperkenalkan diriku dengan benar saat di
festival.”
Kalau
dipikir-pikir lagi, itu benar. Aku tidak menanyakan namanya, dan aku tidak
ingat pernah memberitahukan namaku padanya. Itu seperti, ‘Semua orang tidak
bisa datang… Kalau begitu ayo kita pergi berdua saja!’ dan aku membawanya
secara paksa meskipun kami baru saja bertemu.
“Jadi semalam,
ketika aku mempertimbangkan kembali ‘kutukan yang membuatku kelihatan seperti
gorila,’ itu menjadi sedikit masuk akal. ‘Ah, itu sebabnya dia tidak
mengingatku,’ pikirku. Tapi aku malah makin jengkel. Benar-benar jengkel…
Bagian mananya dari diriku yang kelihatan seperti gorila?”
“Kemarahanmu
memang beralasan, tapi aku juga tidak tahu! Tidak ada aturan atau kesamaan
tentang siapa yang kelihatan seperti hewan apa!”
“Benarkah…
Bagaimanapun juga, mengingat kejadian di hari pertama dan Sabtu lalu adalah hal
yang signifikan.”
“Sabtu… Saat
kita tidak sengaja bertemu dalam perjalanan pulang, yang itu?”
Apakah
ada hal penting yang terjadi? Itu bisa menjadi alasan baginya untuk mencurigai
hubungan antara Tora-senpai dan aku, tetapi aku tidak bisa memikirkan hal lain.
Saat aku
mengerutkan kening sambil berpikir, Gossan dengan lembut mengelus bahunya,
“Saat
itu, aku baru kembali dari gym setelah mandi. Pengering rambut sedang dipakai,
dan aku tidak ingin menunggu, jadi aku cuma mengeringkan rambutku dengan cepat
memakai handuk. Rambutku masih basah, jadi aku menatanya berbeda dari biasanya…
Saiki-kun, kamu tidak berkomentar apa-apa tentang itu, kan?”
“Ah, ya.
Aku tidak menyadarinya.”
“Itulah sebabnya
aku memutuskan untuk mengujinya. Jika apa yang dikatakan Saiki-kun itu benar,
itu sangat kasihan, dan jika itu bisa diselesaikan hanya dengan sebuah ciuman,
tidak ada yang lebih baik dari itu.”
Sungguh
pernyataan yang gagah berani. Gossan mungkin juga sedang mengalami ciuman
pertamanya. Aku hampir jatuh cinta padanya lagi karena kebaikan dan
ketegasannya.
Namun,
pertanyaan yang penting tetap belum ditanyakan.
“Pada akhirnya,
untuk apa kamu mengujiku? Apakah sudah benar untuk menyadari bahwa kamu adalah
gadis dari hari festival itu?”
“Bukan. Kamu
sudah berpikir keras tentang hal itu, mencari petunjuk, dan pada akhirnya, kamu
tertipu oleh jebakan yang kupasang untuk jaga-jaga, jadi aku memutuskan untuk
percaya pada kutukan itu.”
“Baik sekali
dirimu, tapi… apakah itu begitu jelas hanya dengan sekali lihat?”
Apa yang sangat
berbeda? Bagiku, dia selalu kelihatan seperti gorila yang biasanya.
Gossan, yang
melihat bahwa aku masih belum paham, berputar di tempat,
“Rambutku sering
diikat ke belakang saat kegiatan klub atau pelajaran penjas. Hampir setiap
saat.”
“Huh…? Diikat…?”
Aku hampir
membiarkannya berlalu begitu saja, tetapi jelas ada sesuatu yang aneh.
Bagaimanapun
juga, rambut Gossan jelas-jelas tergolong pendek… Tunggu, kalau dipikir-pikir
lagi, sepertinya aku ingat pernah mendengar kalau rambutnya dulu panjang…?
“Sampai kemarin,
rambutku panjang. Tidak benar-benar sampai ke pinggang, tapi mendekati itu.”
“…Apa?”
“Reaksi itu
benar-benar pemandangan yang bagus. Usahaku tidak sia-sia.”
Bibir
Gossan sedikit melengkung ke atas. Namun ini bukanlah situasi 'iseng berbuah
manis' yang ringan.
“K-kamu
memotongnya!? Hanya untuk memastikan bahwa aku tidak bisa membedakan gaya
rambut karena kutukan itu!?”
“Itu
benar. Tapi bagaimanapun juga aku memang sudah berencana memotongnya sebentar
lagi. Rasanya
menyebalkan saat cuaca panas dan terlalu merepotkan untuk dikeringkan.”
“Tapi tetap
saja… seriusan…?”
“Itu bukan
sesuatu yang perlu dipikirkan sampai sesyok itu.”
“Yah, aku juga
suka rambut hitam lurus yang panjang, jadi aku ingin melihatnya…”
“…Jadi kutukan
itu bukan alasan atas dirimu yang agak aneh, ya.”
Itu adalah hal
yang cukup pedas untuk dikatakan, tetapi aku benar-benar setengah kecewa dan
setengah merasa bersalah tentang hal itu.
Gossan,
mengalihkan pandangannya dari rasa syokku, menyentuh ujung rambutnya yang baru
saja dipotong dan berkata,
“Aku memotongnya
tadi malam, tapi hasilnya ternyata lebih buruk dari yang kukira saat aku
melakukannya sendiri, jadi aku tidak punya pilihan selain pergi ke salon rambut
sebelum datang ke sekolah.”
“Ah, jadi itu
alasannya kamu baru tiba di jam segini…”
“Aku bisa saja
datang sedikit lebih awal, tapi aku mengatur waktunya agar tidak ada orang lain
yang menyebutkan tentang potongan rambutku, dengan tiba tepat di menit-menit
terakhir.”
“Begitu rupanya…
Itu menjelaskan kenapa semua orang bereaksi seperti itu…”
Tentu saja, jika
teman sekelas yang datang terlambat tiba-tiba muncul dengan rambut panjangnya
yang mendadak dipotong pendek, bahkan mereka yang tidak begitu dekat pun akan
merasa terdorong untuk bertanya. Meskipun Yassan mungkin bakal ragu-ragu apakah
boleh bertanya atau tidak.
Berkat
penjelasan Gossan, berbagai misteri telah terpecahkan. Namun, masih ada satu
pertanyaan krusial yang tersisa.
Kutukan
yang terangkat berarti, dengan kata lain——
“Gossan, apakah
itu berarti kamu menyukaiku?”
Aku memutuskan
untuk bertanya secara langsung, dan dahi Gossan berkerut.
Dia tidak
kelihatan seperti gorila, tetapi atmosfernya sama seperti saat dia sedang marah
secara diam-diam. Dia adalah seorang wanita cantik dengan tatapan yang tegas,
yang memang terasa mengintimidasi.
“——Tidak. Jangan
salah paham.”
“Tapi kutukannya
sudah terangkat, jadi…”
“Jika aku harus
mengategorikan perasaanku antara suka dan tidak suka, aku akan bilang kamu
masuk ke dalam kategori seseorang yang kusukai, tapi cuma sebatas itu. Tolong
jangan kebiasaan melonjak gembira. Nanti kupukul kamu.”
“Tapi kamu
menciumku, jadi——”
“Itu lebih
seperti ucapan terima kasih karena sudah menyebutku sebagai cinta pertamamu.
Tolong jangan anggap itu terlalu serius. Nanti kupukul kamu.”
“Meskipun
begitu, kamu pergi melihat kembang api bersamaku kemarin, jadi wajar saja kalau
berpikir ada kesempatan, kan?”
“Aku
bakal buat kamu berhenti bernapas.”
Ya,
menyeramkan. Itu tatapan yang serius. Kalau aku membantah lagi, dia bakal
memastikan aku paham lewat tubuhku.
Tapi ada satu
hal lagi. Melihat wajah Gossan yang makin lama makin tegas, aku menyadari
sesuatu.
Itu kelihatan
seperti kemarahan, tapi kemungkinan besar, itu bercampur dengan rasa malu. Dia
memang benar-benar jengkel, tetapi Gossan punya kebiasaan menyembunyikan sisi
imutnya.
Bagian dari
dirinya yang itu tidak berubah sejak saat dia masih kelihatan seperti gorila.
Gadis yang
kutemui di festival itu juga sama. Ketika aku menunjukkan bahwa dia kelihatan
senang, dia malah marah, menghabiskan bagian takoyakiku, tetapi kemudian
berbagi permen apelnya denganku. Ketika aku mengucapkan terima kasih, dia
pura-pura tidak mendengar.
“——Terima kasih,
Gossan.”
“Ada apa
tiba-tiba? Berakting penurut tidak bakal menyelamatkanmu dari hukuman, tahu?”
“Bukan
begitu, aku benar-benar bersyukur. Aku sangat bahagia sekarang sampai rasanya aku bisa
menangis.”
“Begitukah? Yah,
baguslah kalau begitu. Aku senang usahaku tidak sia-sia.”
Memperhatikan
Gossan meletakkan tangannya di dada dan merilekskan bahunya, aku merasakan
luapan emosi yang berbeda dari sekadar rasa lega.
—Saat itu,
kata-kata itu terucap tanpa disengaja. Jadi aku belum menyampaikan perasaanku
secara sadar.
“Gossan. Aku
benar-benar menyukaimu.”
“Apa yang kamu
katakan tiba-tiba? Karena kamu mendapati aku adalah cinta pertamamu? Atau
karena aku kelihatan sedikit lebih baik dari yang kamu bayangkan?”
Gossan
mengerutkan kening dengan waspada mendengar kata-kataku. Namun, tidak seperti
biasanya, tebakannya kali ini sepenuhnya meleset.
“Bukan, bukan
itu. Aku tidak terpaku pada cinta pertamaku, dan aku berusaha untuk tidak
membayangkan seperti apa wajah aslimu karena rasanya tak ada gunanya. Jujur
saja, aku membayangkan sebagian besar gadis bakal lebih imut atau lebih cantik
daripada seekor gorila.”
“Yah,
itu memang benar, tapi tetap saja menyebalkan mendengarnya.”
“Karena
itulah, meskipun sudah lama sejak terakhir kali aku melihat wajah gadis non-2D
dan kamu kelihatan sangat cantik, tapi di luar itu semua, aku menyukaimu,
Gossan, karena dirimu yang sebenarnya di dalam. Seperti kebaikanmu, seperti apa
yang kulihat kali ini.”
“Padahal
aku bukan orang yang sangat baik.”
Gossan
merespons, nadanya lebih defensif dan marah daripada sebelumnya, yang mana aku
terkekeh dan tidak setuju dengannya.
“Kamu
itu baik. Kamu selalu menanggapai cerita-ceritaku yang tidak penting,
meminjamkanku barang-barang saat aku lupa membawanya, dan kamu bahkan menghapus
papan tulis saat piket lupa melakukannya, tanpa mengucapkannya sepatah kata
pun. Kamu sering memukulku saat aku kelewat batas, tapi kamu biasanya memberiku
peringatan terlebih dahulu.”
“Menggunakan
hal itu sebagai tolok ukur kebaikan agak diragukan. Lagipula pada akhirnya aku
tetap memukulmu.”
“Kurasa
begitu. Tapi aku belum pernah melihatmu melakukan itu pada orang lain. Kamu
tidak memukulku saat pertama kali aku memanggilmu 'gorila.' Itu jauh lebih baik
daripada menyimpan dendam dengan terus-menerus membenciku. Kurasa aku menyukai
gadis yang berpendirian teguh?”
“Aku
tidak tahu soal itu.”
“Jadi,
aku memang sudah agak menyukaimu, tapi kali ini rasanya benar-benar
menyengatku. Kamu mau melakukan hal sejauh ini demi mematahkan kutukan untukku.”
Gossan bilang
dia 'memang berencana memotongnya', tetapi meskipun itu bukan kebohongan, dia
tidak akan melakukannya mendadak seperti ini jika bukan demi aku.
Dan mengenai
ciuman itu,
“Jika kamu tidak
menyukaimu, normalnya kamu bakal benci untuk berciuman, kan? Tapi kamu mencoba
melakukan sesuatu pada kutukan yang cuma setengah kamu percayai. Itu tidak lain
adalah sebuah kebaikan. Gossan, kamu mungkin kelihatan cuek, jadi hal itu sulit
terlihat.”
“Itu
tidak terdengar seperti pujian.”
“Benarkah?
Tapi itu membuatku menyadari bahwa aku tidak salah telah jatuh cinta padamu.
Jatuh cinta pada orang yang sama dua kali tanpa menyadarinya, itu sesuatu yang
luar biasa, bukan?”
Aku
pikir aku tidak punya kesempatan lagi dalam percintaan karena kutukan itu
membuatku melihat lawan jenis sebagai hewan dan aku tidak bisa benar-benar
menyukai karakter 2D.
Tetapi
orang yang telah mencuri hatiku adalah seseorang yang luar biasa, seseorang
yang bahkan melampaui kesan kuat dari seekor gorila.
“Aku
tidak berlebihan jika mengatakan bahwa aku tidak akan pernah melupakan kebaikan
ini seumur hidupku. Rasa terima kasih seperti apa pun tidak akan pernah cukup.”
“Tolong
hentikan. Aku tidak melakukannya agar kamu merasa berutang padaku.”
“Tetap saja, aku
tidak bisa diam saja. Jika ada yang bisa kulakukan, katakan saja! Aku bisa
mengerjakan PR-mu atau memberikan semua uangku padamu!”
“Saiki-kun,
nilaimu lebih buruk dariku. Dan semua uangmu, memangnya berapa banyak?”
“…kalau
dipikir-pikir, sepertinya aku sudah menghabiskan semuanya kemarin…”
Gossan
menghela napas dalam-dalam mendengar pengakuanku tentang krisis keuangan yang
serius ini. Oh tidak, wajahnya seolah berkata, “Mungkin seharusnya aku tidak
perlu melakukannya…?” Dia mungkin berpikir lebih baik tidak melakukannya.
“Dengar,
aku bakal bekerja bagai orang gila di musim panas ini! Sekarang setelah
kutukannya terangkat, aku bisa mengambil lebih banyak pekerjaan sampingan, dan
aku bahkan bisa meminjam uang dari orang tuaku untuk memberimu sejumlah uang
tunai sekaligus!”
“Aku
tidak butuh uang. Memilikinya memang bukan hal yang merugikan, tapi aku tidak
ingin kamu melangkah sejauh itu. Bagaimanapun juga penggunaannya terbatas.”
“Uh…
kalau begitu, bagaimana kalau aku menjadi suruhanmu selama tiga tahun masa SMA
ini?”
“Dilihat
dari sudut pandang mana pun, itu cuma bakal membuatku terlihat jahat, jadi
tidak.”
“Sial… apakah
aku sudah kehabisan pilihan…?”
“Kamu terlalu
cepat kehabisan ide. Kamu benar-benar tidak bisa diandalkan. Kamu tidak
perlu melakukan apa pun.”
“Mana
mungkin begitu. Aku benar-benar terselamatkan di tingkat hidup-mati… jadi,
bagaimana dengan ini. Aku akan melakukan apa pun yang diminta Gossan. Asal bukan kejahatan. Aku
siap melakukan hampir apa pun!”
“Aku benar-benar
tidak membutuhkan itu juga… tapi… yah…”
Oh, dia
tidak langsung menolaknya. Ada jeda waktu untuk berpikir. Sepertinya ada ruang
untuk pertimbangan.
Gossan,
dengan tangan kanannya menopang pipi kanannya, berpikir sejenak sebelum
menatapku.
“Baiklah, satu
hal saja.”
“Katakan saja!
Aku bahkan rela lari maraton penuh atau menyelesaikan triatlon demi Gossan!”
“Aku sama sekali
tidak menginginkan hal-hal seperti itu. Yang kuinginkan adalah kamu berhenti
memanggilku dengan nama itu.”
“Huh? Tunggu,
apakah kamu benci dipanggil Gossan?”
Jika
memang begitu, ini masalah serius. Itu hampir seperti aku telah merundungnya
sepanjang semester.
Ini
seperti hukuman mati… tidak, serius, aku benar-benar minta maaf.
“Tidak,
bukannya aku sangat membencinya. Aku cuma tidak terlalu menyukainya.”
Melihat wajahku
yang pucat penuh kepanikan dan rasa bersalah, Gossan menambahkan bantahan
sebelum melanjutkan,
“Setiap kali
dipanggil begitu, aku merasa feminitasku menurun. Nama itu terdengar kasar dan
kaku.”
“Aku
paham… oke, mengerti! Ngomong-ngomong, apa kamu punya permintaan aku harus memanggilmu apa?”
“Tidak ada
secara khusus. Aku serahkan padamu, Saiki-kun.”
“Kalau begitu,
biasanya aku bakal memanggilmu Gou——”
“Ngomong-ngomong,
aku tidak terlalu suka nama belakangku.”
“…Kalau begitu,
Riccha——”
“Juga, aku tidak
suka dipanggil ‘chan’ oleh lawan jenis. Rasanya agak menggelikan.”
“…Kamu sama
sekali tidak menyerahkannya padaku!”
Eh, jadi
bagaimana ini? Maksudmu aku tidak boleh memanggilmu sama sekali? Atau haruskah
aku memanggilmu ‘anata-sama’ atau ‘ojou-san’ atau semacamnya?
“…Bagaimana
kalau Riho-chi?”
“Sama sekali
tidak pas di telingaku.”
“…Riho-rin?”
“Tidak.”
“…Ritchon!”
“Apa kamu sedang
mengejekku?”
Aku berusaha
mencari ide seolah-olah sedang ujian, tetapi suasana hatinya sepertinya makin
memburuk. Apakah ada jawaban yang benar?
“…Uh… kalau
begitu… bagaimana kalau cuma ‘Riho’?”
“…Yah, itu tidak
apa-apa. Sungguh misteri kenapa kamu tidak memikirkan nama itu sejak awal.”
“Yah, kamu tahu
sendiri. Kalau aku memanggil nama kecilmu di kelas, orang-orang bisa curiga
kalau kita terlalu dekat, kan?”
“Itu benar. Jadi
mari kita biarkan seperti biasa untuk saat ini, dan ketika cuma ada kita
berdua, kamu bisa memanggilku dengan nama kecilku.”
“Cuma ada kita
berdua… rasanya seperti kita sedang pacaran diam-diam.”
Aku bergumam
tanpa sengaja, dan Gossan—bukan, Riho memalingkan wajahnya. Profil sampingnya
yang sangat bermartabat itu… apakah dia marah, atau merajuk… atau sedang
menyembunyikan rasa malunya?
Bagaimana
situasinya? Aku tidak bisa menilai. Sekarang setelah dia bukan lagi seekor
gorila, pengalaman masa laluku sama sekali tidak berguna. Jika dia sedang
menyembunyikan rasa malu, itu benar-benar sangat imut…!
…Atau apakah
ini… mungkin dia juga menyukaiku… atau itu cuma angan-anganku saja?
Bagaimanapun juga, dia memotong rambutnya dan bahkan menciumku demi diriku.
Jadi, alasan
kutukanku terangkat sebenarnya bukan karena ‘ciuman dari seseorang yang
dicintai’ pada akhirnya.
Hal itu tadi
dibantah, jadi apakah karena itu adalah ‘ciuman dari cinta yang saling
berbalas’…?
Jika memang
begitu—maksudku, tidak masalah apakah ada kesempatan atau tidak. Ini bukan soal
baru bertindak ketika hasilnya sudah terjamin; ini soal apa yang ingin
kulakukan sekarang setelah kutukan ini terangkat.
“—Riho, ada
sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. Bisakah kamu mendengarkannya?”
“…Jam makan
siang hampir berakhir karena ini memakan waktu lebih lama dari yang
diperkirakan.”
“Aku tahu. Beri
aku waktu sepuluh detik saja.”
“…Ada apa?”
Keraguan dalam
respons Riho mungkin karena dia sudah menduga apa yang bakal kukatakan.
Keheningan yang
tegang menyusul, dan aku menarik napas dalam-dalam sebelum menatap langsung ke
arah orang yang mulai kusukai hari ini, wajah aslinya yang terungkap, untuk
menyampaikan sesuatu yang penting.
“Aku
benar-benar menyukaimu, Riho.”
“…”
“Jadi,
setelah semua hal tentang kutukan ini terselesaikan, aku ingin—”
Tepat
sebelum aku sempat menyelesaikan kalimat ‘aku ingin berpacaran denganmu’, Riho
mengepalkan kedua tangannya di depan dada dan memasang posisi bersiap.
Tepat saat itu,
aku melihat pintu atap terbuka dari sudut mataku dan refleks menoleh.
“Firasatku
mengatakan kalian ada di sini… huh!?”
Aku tahu itu
Tora-senpai dari suaranya sebelum aku melihatnya, tetapi segera pintu atap
tertutup, dan aku melihat seekor kucing belang dengan seragam anak laki-laki.
…tunggu,
apa? Seekor kucing belang?
Kutukannya
sudah terangkat, tapi aku masih belum melihat sosok manusia atau seorang
pria…!?
“Tidak, kenapa!?
Tapi Riho, kamu baru saja——!?”
Tidak mampu
mempercayai pemandangan yang tidak berubah di hadapanku, aku berbalik menghadap
ke depan kembali,
“…Saiki-kun?”
—Itu adalah
seekor gorila. Gorila yang sama yang sudah terbiasa kulihat selama tiga bulan
terakhir.
Hanya beberapa
detik yang lalu, dia adalah seorang gadis yang keren dan cantik, tetapi
sekarang dia telah kembali menjadi gorila yang kuat dan bermartabat yang sama.
“…Kamu pasti
bercanda kan!!!?”
Riak teriakanku,
bercampur dengan kemarahan, kesedihan, penolakan, dan keputusasaan bergema di
seluruh atap sekolah, dan kemudian bel pun berbunyi.
Jam makan siang
telah berakhir seiring kerasnya kenyataan yang menghantamku dengan guncangan
naik-turun yang drastis bagaikan reverse bungee jump.


Post a Comment