NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Anime Gotoubun no Hanayome Novelize Volume 3 Chapter 4

Chapter 4

Tujuh Perpisahan – Bagian 3


Pagi-pagi sekali, para anggota klub atletik yang akan berangkat menuju pemusatan latihan (camp) berkumpul di depan stasiun.

"Semuanya sudah berkumpul ya."

Eba menatap para anggota klub dengan puas. Di antara mereka, ada Yotsuba yang memasang raut wajah muram.

"Sungguh, padahal mau ujian, tapi mereka benar-benar mengabaikan belajar sama sekali……"

Dari geladak jalan layang di depan stasiun yang menghadap ke tempat berkumpul, aku, Ichika, dan Itsuki—yang mengenakan baju olahraga (jersey) sekolah sama seperti para anggota klub atletik—memperhatikan situasi tersebut.

"Apa masih belum bisa menghubungi Miku?"

Saat aku bertanya, Ichika menurunkan ponsel pintar dari telinganya dan mematikan sambungan telepon.

"Sepertinya ponselnya dimatikan…… Tunggu sebentar ya, aku sudah tahu tempat tujuannya kok."

Begitu mengucapkannya, dia berbalik dan mulai berlari cepat.

"Eh? Ichika……?"

Kepada Itsuki yang kebingungan, aku menyeringai dengan wajah penuh siasat.

"Kalau Yotsuba tidak bisa menolak, kalian saja yang melakukannya. Menyamarkan keahlian kalian?"

"A-aku agak kurang pandai kalau soal itu…… Waktu menirukan Ichika dulu saja……"

Sebenarnya saat mandi, dia sering berlatih menirukan kakak-kakaknya, tapi kemampuannya sama sekali tidak berkembang.

"Aku tahu kok. Begitu Miku datang, kita minta dia memakai baju olahragamu……"

Saat itu, para anggota klub atletik mulai bergerak.

"Gawat! Mereka sudah berangkat! Sebelum mereka masuk ke stasiun, kita harus melakukan sesuatu……!"

"Tapi, bagaimana caranya?"

Aku menatap Itsuki lekat-lekat dengan pandangan yang penuh arti.

***

Di saat bersamaan, Nino dan Miku yang berada di kamar suite──

"Mau dibilang apa pun, aku tidak akan pulang!"

Sambil memasukkan batang gula kedua ke dalam teh hangat yang baru diseduh, Nino berujar dengan keras kepala.

"Kalau memasukkan gula sebanyak itu, nanti bisa sakit."

"Terserah aku dong. Kamu yang minum teh seperti nenek-nenek mana paham."

Nino mengaduk tehnya dengan sendok.

Miku yang duduk berjejer di sofa bersama Nino, meminum teh hijau hangatnya dengan suara seruput zuzutto, lalu menghembuskan napas lega.

"Kamu yang tidak paham rasa pahit nan nikmat ini masih anak-anak."

"Kalau sudah habis minum itu, cepatlah pulang. Lagipula, kenapa kamu bisa tahu hotel baruku sih……"

"Kemarin lusa aku pergi ke hotelmu yang lama. Di sana aku melihat Nino berlari keluar dari hotel."

Miku diam-diam mengikutinya dari belakang. Nino yang berjalan cepat sambil menarik koper pakaiannya, entah kenapa memasang raut wajah antara terluka dan marah──

"Kamu melakukan apa bersama Fuutarou?"

Mata Nino mendadak menjadi dingin, lalu ia menaruh cangkir tehnya di atas meja.

"Kalau harus menggambarkan kejadian kemarin lusa dalam satu kata: buruk sekali…… Orang itu…… sama sekali tidak akan kumaafkan…"

Gogogo…… Aura kemarahan tingkat super tinggi menyelimuti seluruh tubuh Nino.

"A-apa yang sudah dia lakukan sampai sejahat itu……"

"Dengar dan kagetlah!" Nino berdiri seketika. "Orang itu menyamar dan membodohiku!"

"……Cuma itu?." bergumam pelan, Miku kembali menyeruput teh hijau hangatnya.

"Responmu tipis bangeeeet!! Padahal itu parah banget, tahu! Beri reaksi yang lebih dong!"

"Habisnya itu kan hal yang biasa kita lakukan."

"Memang…… tapi…… Saat itu juga…… saat itu juga…… ternyata orang itu adalah dia……"

Momen saat mereka sangat dekat saat berkemah, momen saat dia merasa gembira dan menyajikan kue sus…… Berbagai kenangan bersama Kintarou kembali berkelebat di benak Nino.

"Tidak akan kumaafkan…… Tidak akan kumaafkan tahu……"

Antara kesal dan malu, tubuhnya sampai gemetar.

"Selain itu, tidak ada hal lain lagi?"

"Cuma itu saja kok." Setelah mengucapkannya, Nino tersentak. Sambil memutar-mutar rambutnya dengan jari dan memainkannya, "Cuma itu saja kok……" ujarnya sambil berpaling ke arah lain dengan canggung.

Saat Miku menegaskan, "Beneran?", Nino membuka mulutnya dengan berat.

"……Dia bilang ingin kita berlima tetap bersama. Tidak ada hubungannya dengan ujian……"

"Fuutarou mengatakan hal seperti itu……" Ekspresi Miku melunak secara perlahan.

"Padahal dia sudah mendengar alasanku…… Egois sekali."

"Nino tidak mau kembali ke rumah?"

"Kenapa harus kembali? Kita yang sudah terpisah-pisah begini, apa artinya sampai harus dipaksa bersama-sama?"

"……Karena kita keluarga."

Miku berujar dengan malu-malu, lalu mendongak menatap Nino yang masih berdiri, "Cuma karena itu, aneh, ya?"

"Nino mungkin berpikir kalau kita semua sudah berubah…… Tapi dari sudut pandangku, Nino sendiri juga sudah banyak berubah."

"Berubah di bagian mananya coba……"

"Dulu kamu tidak minum teh hangat." ujar Miku sambil menunjuk cangkir teh yang belum dihabiskan.

"Cuma karena itu?!"

"Kita ini kan masing-masing 20 poin, seperlima bagian manusia."

Sambil berkata begitu, Miku menggerakkan ujung jarinya secara ringan, mengarahkannya ke kantong kertas yang diletakkan di samping sofa.

"Soal yang itu……"

"Ah! Jangan sembarangan melihatnya dong!"

Miku mengabaikan Nino, lalu mengeluarkan lembaran tugas Sejarah Jepang yang sudah diisi jawabannya.

"Nomor tiga salah. Jawaban yang benar adalah 『Pertempuran Nagashino』."

"Apa? Kamu mau bilang kalau kamu sudah belajar?"

Kepada Nino yang kesal, Miku menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum.

"Dari awal aku memang suka kok…… Panglima perang Sengoku."

"Panglima perang Sengoku? Bapak-bapak seperti itu?"

Yang terlintas di kepala Nino adalah sosok Takeda Shingen dengan kumis lebatnya.

"Iya. Ini adalah 20 poin milikku. Dan……"

Miku mengambil cangkir teh Nino, meminum habis sisa teh hangat itu sampai tuntas, lalu meringis jengkel, "……Terlalu manis."

"Kamu sedang apa sih……"

"Tapi, rasa ini…… kalau tidak ada Nino, aku tidak akan pernah mengetahuinya."

Sambil berkata begitu, Miku menaruh cangkir teh yang sudah kosong itu di atas meja.

"Memang dulu kita berlima sangat mirip, tidak ada perselisihan, dan sangat damai…… Tapi kalau begitu terus, kita akan tetap bernilai 20 poin. Tertawa, marah, sedih…… Masing-masing dari kita menjalani pengalaman yang berbeda, saling melengkapi bagian yang kurang, dan dengan begitu kita akan menjadi satu manusia utuh. Makanya, tidak apa-apa kalau kita berbeda."

Kepribadian, hal yang disukai, hingga keahlian, semuanya berbeda. Tapi yang terpenting adalah, saat ini pun sama seperti sewaktu kita masih kecil dulu, kita berlima bisa saling tertawa bersama──.

Di hadapan tatapan Miku yang sungguh-sungguh, rasa ganjal di hati Nino perlahan mencair.

"Ngomong-ngomong, karena tidak ada Nino, makanan di rumah kita jadi berantakan sekali. Keseimbangan gizinya hancur……"

"Kalau yang itu usahakan sendiri dong!"

Kembali ke wajahnya yang galak seperti biasa, Nino duduk di sofa sambil berseru, "Cih!". Dia meminum teh hijau Miku secara kasar, lalu menjulurkan lidahnya, "Pahit!".

"Aku tidak berniat minum minuman seperti ini, tahu. Bagaimanapun, teh hangat masih lebih unggul."

"Teh hangat pun asalnya pahit, tahu."

Seketika percikan api pertengkaran kembali meletup.

"Teh hangat punya rasa pahit yang elegan, tahu! Pasti diekstrak dari daun teh berkualitas tinggi!"

"Teh hijau punya rasa pahit yang mendalam. Yang ini menggunakan daun teh yang lebih bagus."

"Kalau begitu, ayo kita cari tahu. Jangan menangis ya kalau ternyata cuma pakai rumput liar biasa di sekitar sini."

"Nino sendiri yang jangan menangis."

Nino mengetikkan kata kunci 『Teh hangat Teh hijau Daun』 di mesin pencari ponsel pintarnya, lalu mengklik hasilnya. Kemudian, fakta yang tidak disangka-sangka terungkap.

"Teh hangat dan teh hijau berasal dari daun yang sama……"

"Perbedaannya hanya pada tingkat fermentasinya……"

Nino dan Miku saling menatap dengan canggung, lalu tertawa terbahak-bahak secara bersamaan.

"Hahaha! Apa-apaan itu! Nanti kita beri tahu yang lain…"

Nino tersentak lalu menghentikan ucapannya, menghembuskan napas kecil.

"Melupakan masa lalu dan menerima masa kini…… Sepertinya sudah waktunya aku membulatkan tekad ya."

Nino berdiri dan melangkah menuju lemari laci, lalu membuka lacinya.

"Miku…… kamu juga bulatkan tekadmu ya."

Di tangan Nino yang berbalik, sebilah gunting tajam berkilat tajam.

"Hi……!"

Melihat Miku yang ketakutan dan mundur ke belakang, bayangan Nino yang memegang gunting perlahan mendekat.

***

Di pangkal tangga jalan layang depan stasiun, latihan darurat sedang berlangsung.

"A-aku berniat untuk mengundurkan diri dari klub……"

Itsuki yang mengenakan pita telinga kelinci berwarna hijau sama seperti Yotsuba, membuka mulutnya dengan ragu-ragu.

"Salah! Bikin gaya bicaranya lebih kelihatan bodoh lagi!"

Bimbinganku yang keras meluncur. Itsuki kehabisan kata-kata, gluk.

"……! Tidak bisa~~~! Aku mau berhenti dari peran seperti ini~~~!"

"Nah itu diaaaaa~~~!"

Padahal Itsuki benar-benar menangis karena tidak sanggup, tapi aku menunjuknya seolah memberi nilai lulus!

"Itsuki! Saat ini kamu adalah Yotsuba! Setidaknya dari penampilan sudah sempurna!"

"Apa ini benar-benar akan berhasil……"

Mengabaikan Itsuki yang dipenuhi rasa cemas, aku menghirup napas dalam-dalam, lalu mendadak berteriak dengan suara keras.

"Pencabul~~~~! Ada pencabul~~~~!"

"Eh?!" Mata Itsuki membulat lebar.

"Pencabul?"

Eba dan para anggota klub atletik yang berjalan menuju stasiun menghentikan langkah mereka dan menoleh.

Di mata para anggota klub, terlihat sosok pria yang diduga pencabul sedang berlari menaiki tangga untuk kabur.

"Orang di sana, berhentiii!"

Tanpa tahu bahwa identitas asli pencabul itu adalah aku, Yotsuba langsung terpancing untuk berlari dengan kencang.

"Tungguuu!"

Tepat setelah Yotsuba berlari menaiki tangga, dari balik bayangan jalan layang, Itsuki muncul dengan raut wajah tegang.

"Strategi nekat macam apa ini……!"

Maksud strateginya adalah saat aku berpura-pura menjadi pencabul untuk memancing Yotsuba pergi, Itsuki akan kembali ke tempat anggota klub atletik dengan berpura-pura tidak terjadi apa-apa, lalu mengajukan pengunduran diri kepada Eba.

"Kalau sudah begini, tidak ada pilihan lain selain melakukannya ya……"

Ia tidak punya pilihan selain mempercayai kata-kataku bahwa saat ini dirinya adalah Yotsuba. Itsuki membulatkan tekad, berlari menuju rombongan klub atletik, lalu berujar sambil terengah-engah:

"Haah…… haah…… Ahaha…… dia berhasil kabur."

"Eh?" Eba kebingungan.

"Aku tidak bisa ikut pemusatan latihan…… Aku ingin mengundurkan diri dari klub……"

"Eh, kenapa?" Eba makin merasa heran.

"Minggu depan ada ujian kan……"

"Bukan, bukan itu, yang ingin kutanyakan adalah……"

Eba tersenyum tipis sambil memiringkan kepalanya sedikit, mengarahkan tatapan misterius ke arah Itsuki.

"Kenapa orang lain berpura-pura menjadi Nakano-san?"

"Lho?!"

Di sisi lain, aku berlari di jalur jalan layang sambil memperhatikan ke belakang.

Semoga sebelum tertangkap oleh Yotsuba, Itsuki bisa menyelesaikannya dengan baik…… Namun harapanku sia-sia, suara langkah kaki Yotsuba yang kuat semakin lama semakin mendekat.

"Taaaaa~!"

Bersamaan dengan teriakan semangat, Yotsuba memijakkan kakinya dan melayangkan tackle yang sangat kuat tepat ke punggungku.

"Gueeeek?!"

Yotsuba menindihkan seluruh berat badannya di atas tubuhku yang tersungkur jatuh ke depan.

"Pencabul sudah tertangkap~~~~! ……Nn? Bau ini……"

Endus-endus. Indra penciuman Yotsuba yang setara dengan anjing menyampaikan pesan ke otaknya bahwa ini adalah bau yang pernah diciumnya.

"Berat……" Aku melenguh kesakitan.

"U-Uesugi-san?! Kenapa bisa?!" Yotsuba terkejut dan mendudukkan tubuhnya.

Sambil menahan beban berat yang menindihku, aku menyeringai.

"Yah, begitulah masalahnya……"

"Kenapa kamu malah jadi pencabul……"

──Lho, dia tidak paham?! Kepada Yotsuba yang syok, aku bergegas memberikan penjelasan.

"Bukan, bukan! Itu cuma kebohongan untuk memancingmu ke sini~~~!"

"Eh? Memancingku? Untuk apa?"

"Itsuki sedang menggantikanmu untuk mengajukan pengunduran diri dari klub."

Yotsuba tersentak lalu berdiri, berbalik dan berniat berlari kembali.

"Hei! Kalau kamu kembali sekarang, semuanya gagal!"

Kepada diriku yang bangkit berdiri, Yotsuba menghentikan langkahnya dan menoleh.

"Aku kan tidak apa-apa!"

"Cukup sudah……"

Aku yang berhasil menyusul Yotsuba, menyadari keberadaan Itsuki dan para anggota klub atletik tepat di bawah kami.

"Sembunyi!"

Aku memeluk Yotsuba dari belakang lalu menutupi mulutnya dengan tangan.

"Mmmm…… Mmmph!"

"Situasinya aneh……"

Sambil merunduk dan bersembunyi di balik bayangan pagar, aku memasang telinga mendengarkan percakapan di bawah.

"A-aku ini Yotsuba kok~ Coba lihat pita ini."

Memamerkan pita telinga kelinci di kepalanya, Itsuki bertahan setengah mati.

"Iya. Memang mirip, tapi berbeda kok. Soalnya……" Mata Eba menjadi dingin bagaikan ular.

"Panjang rambutnya berbeda."

"Kuh…… tajam sekali pengamatannya……"

Sebenarnya cuma Uesugi dan Itsuki saja yang bodoh.

Yotsuba menggoyangkan tubuhnya dan meloloskan diri dari dekapan lengan Uesugi.

"Dulu kan pernah ada kejadian seperti ini……! Tolong lebih perhatikan orang lain dong."

Di saat bersamaan, suara Eba yang menyudutkan Itsuki terdengar dari bawah.

"Terima kasih banyak untukku. Tapi maaf ya, aku pergi dulu!"

Yotsuba membungkuk memberi hormat kepada Uesugi, lalu berlari dengan kencang.

"Hei, tunggu!"

Namun, kali ini Yotsuba tidak menoleh lagi.

***

"Maaf ya membuat kalian menunggu~!"

Yotsuba kembali ke tempat para anggota klub atletik sambil menggaruk kepalanya tahaha……

"Semuanya, maaf ya sudah membuat repot~"

Rambut bob cut dengan pita telinga kelinci. Eba yang yakin itu adalah Yotsuba asli tersenyum, "Nakano-san."

"Ahaha, ini cuma kejutan kecil kok. Lelucon kembar lima."

"Yotsuba……" Itsuki sudah tidak punya cara lain lagi.

"Lho, cuma bercanda ya. Tidak lucu tahu, hentikan deh."

Kepada Eba yang suasana hatinya membaik, Yotsuba berkata:

"Yah…… tapi soal aku ingin berhenti dari klub itu beneran kok."

Lemparan bom berwujud senyuman. Eba tentu saja kaget membeku, begitu pula Itsuki dan anggota klub lainnya.

"Eh…… N-Nakano-san…… Kenapa……"

"Kenapa, katamu…… Lagipula, mendadak mengadakan pemusatan latihan sebelum ujian itu mana ada."

Kalau melihat ke bawah, kuku yang teroles cat kuku (pedicure) dengan rapi mengintip dari ujung sandal, tapi Eba tidak menyadarinya dan mundur ke belakang.

"Beneran tidak masuk akal tahu."

Marah secara tenang. Kalau Eba adalah ular, mata Yotsuba saat ini bagaikan burung pemangsa (raptor).

"I-iya~~~~……"

Eba, yang ketakutan setengah mati, terduduk lemas sambil berkaca-kaca.

Uesugi menyaksikan seluruh kejadian itu dari atas jalan layang.

"Apa maksudnya ini……"

Saat sedang terpana, Yotsuba yang asli berjalan mendekat dengan sempoyongan sambil setengah menangis.

"A-akhirnya muncul juga…… Doppelganger~~~~!! Aku tidak mau mati~~~~!!"

"Doppelganger, berarti…… begitu ya!"

Sesuai rencana awal, itu adalah Miku yang menyamar menjadi Yotsuba.

"Phew…… Sepertinya tepat waktu ya."

Terdengar suara helaan napas di belakang. Saat menoleh, Ichika bersandar pada tiang dengan lemas.

"Ichika! Untunglah tepat waktu! Kamu membawakan Miku…… Eh?!"

Dari balik punggung Ichika, entah kenapa Miku memunculkan dirinya.

"Aku tidak melakukan apa-apa kok."

Sambil kebingungan, Uesugi mulai menghitung kelima jarinya seolah mengibaratkan si kembar lima.

"Lima…… Empat…… Satu…… Tiga……?"

Jari kelingking adalah Itsuki, jari manis adalah Yotsuba, ibu jari adalah Ichika, jari tengah adalah Miku…… tersisa jari telunjuk kedua.

"Mungkinkah……"

Kepada Uesugi yang tercengang, Ichika berkata:

"Saat aku sampai di hotel, Miku sedang berdiri terpaku memegang gunting. Aku tidak tahu detailnya, tapi pasti telah terjadi perubahan perasaan pada dirinya──Nino."

Tanpa disadari, Nino yang mengenakan baju olahraga (jersey) telah melepaskan pita telinga kelinci dan menggantinya dengan pita kupu-kupu. Di hadapan Uesugi yang kehabisan kata-kata, dia menyisir rambutnya yang baru saja dipotong sejajar bahu oleh Miku. Pantas saja, yang sanggup memancarkan aura intimidasi untuk menekan Eba si biang kerok cuma Nino, sang ratu tundra.

"Memotong rambut semulus itu, jangan-jangan kamu lagi patah hati ya~?"

Ichika menggoda, yang dijawab Nino secara dingin, "Yah, begitulah."

"Kyaa~! Sama siapa? Miku, kamu tahu~?"

"Tidak tahu."

Kepada Uesugi yang otaknya belum sanggup mengejar situasi, Nino menunjuk ke arahnya dengan mata tajam.

"Biar kutegaskan ya, bukan karena kamu kok!"

"O-oh……"

"Kamu paham kan!"

Sambil berkata begitu, Nino membelakangi Uesugi dan mulai melangkah.

(Selamat tinggal, Kintarou-kun. Dan, selamat tinggal──)

Bersama dengan rambut panjangnya, dia mengucapkan selamat tinggal pada cinta pertamanya yang manis serta masa kecil si kembar lima bersaudara. Namun, di bibir Nino yang akhirnya terbang mengepakkan sayap dari sarangnya, terukir senyuman yang sangat lega.

"Yotsuba. Aku sudah melakukan sesuai yang kamu katakan, tapi apa tidak apa-apa begini?"

Nino berujar kepada Yotsuba. Di bawah jalan layang, para anggota klub atletik sedang menyemangati Eba yang lesu.

"Tanpa perlu memakai cara seperti ini pun, kalau kamu mau jujur bicara dari hati ke hati, mereka pasti akan paham. Kamu juga berubah, ya. Memang berat, tapi pasti akan ada hal baik yang terjadi."

Menaruh tangan di tengkuknya yang terasa segar, Nino tersenyum pada Yotsuba dengan raut wajah dewasa.

Perubahan pada diri Nino tersebut menggerakkan hati Yotsuba.

"……Aku pergi dulu."

"Mau kuantarkan?" Ichika menawarkan diri.

"Terima kasih. Tapi──aku sendiri tidak apa-apa kok."

Yotsuba melangkah dengan mantap, berlari menuju tempat Eba dan yang lainnya.

Itsuki dan Nino yang baru pertama kali bertatap muka setelah bertengkar hebat, saling memalingkan mata dengan suasana canggung.

"Nino, soal kemarin itu……" Itsuki angkat bicara duluan.

"Tunggu, jangan minta maaf. Kamu tidak salah. Yang salah itu aku."

Sambil melirik Itsuki sekilas dari sudut matanya, "……Maaf ya." Nino bergumam pelan.

"Nino……"

"Kalau boleh dibilang salah, bagianmu cuma soal kekuatan saja. Sakit sekali tahu……"

"Uuuu~…… Nino……" Mata Itsuki langsung berkaca-kaca meluapkan air mata.

"B-benar…… Sekalian sebagai permohonan maaf, aku berniat memberikan ini padamu……"

Mengeluarkan dua lembar tiket film 『Liburan Musim Panas Penuh Cinta』 dari saku baju olahraganya, Itsuki berkata sambil menangis campur tersenyum:

"Ini tiket presale film yang ingin kamu tonton kemarin. Kapan-kapan ayo kita pergi menonton bersama."

"Sungguh, apa-apaan sih…… Segalanya tidak berjalan sesuai rencanaku……"

Nino tersenyum getir. Di tangan yang disembunyikannya di balik punggung, dua lembar tiket presale film 『Asal-usul Kehidupan ~Misteri yang Tak Terkuak~』 yang ingin ditonton oleh Itsuki tergenggam erat.

***

Sesampainya di rumah, Yotsuba langsung bersujud (dogeza), menempelkan tangannya di lantai begitu masuk ke pintu depan.

"Kali ini aku sudah membuat kalian repot, aku sungguh-sungguh minta maaf…… Aku sudah bicara baik-baik dengan teman-teman klub atletik, dan sepakat untuk cuma membantu saat perlombaan saja lalu berpisah……"

"A? Sampai kapan kamu memikirkan hal itu. Cepat masuk."

Uesugi yang sudah masuk duluan menoleh, menyapa seolah tidak terjadi apa-apa.

Yotsuba sempat terperanjat sejenak, lalu tersenyum lebar dengan bahagia, "……Iya!"

Ichika dan Miku juga menoleh ke pintu depan sambil tersenyum.

"Lalu kalian berdua. Selamat datang kembali."

Nino dan Itsuki yang berdiri canggung di lorong pintu masuk, saling bertatap muka dengan malu-malu, lalu menjawab bersamaan dengan akur:

""Kami pulang……""

Nino, Yotsuba, dan Itsuki selesai berganti pakaian, lalu si kembar lima berkumpul di ruang tamu tempat Uesugi menunggu.

Di atas meja, kumpulan soal buatan tangan Uesugi untuk lima orang menumpuk tinggi.

"Untuk sementara, sepertinya kumpulan soalnya sudah diselesaikan oleh semuanya." ujar Miku.

"Apa kita benar-benar sudah naik level, ya?" Ichika tampak cemas.

Pada dasarnya, level mereka masih level penduduk desa. Baru sanggup mengalahkan musuh kroco saja, jadi untuk mengalahkan musuh utama, yaitu ujian akhir semester, mereka harus naik level pada hari Sabtu dan Minggu ini.

"Tenang saja, aku punya jurus rahasia…… Lembaran contekan!"

Uesugi mengacungkan gulungan kertas catatan seukuran telapak tangan di hadapan si kembar lima. Sebuah item cheat yang bisa membuat penduduk desa seperti si kembar lima mengalahkan bos.

"A-aku pikir kamu tidak akan melakukan hal seperti itu……"

"Mendapatkan nilai dengan cara seperti itu tidak ada artinya, tahu……"

Itsuki dan Yotsuba mengekspresikan rasa syok mereka secara bergantian.

"Kalau begitu, belajarlah lebih keras lagi! Supaya tidak perlu pakai barang seperti ini, dalam dua hari terakhir ini aku akan menjejalkannya sampai tuntas! Bulatkan tekad kalian!"

Setelah mendeklarasikannya dengan kembali menjadi tutor privat galak, Uesugi berbisik pelan pada Nino:

"……Begitulah rencana jalannya, bagaimana menurutmu?"

"Apa-apaan itu, padahal sampai sekarang sudah bersikap sesukamu."

Nino berpaling ke arah lain sambil berseru, "Cih!" lalu pipinya merona merah padam.

"Aku mau kok…… Mohon bimbingannya."

Mungkin karena malu, melirik Uesugi yang melamun, terperanjat, Nino bergegas mengajak saudara-saudaranya, "Ayo kita mulai, bersiaplah."

"Siaaap!"

Si kembar lima duduk di kursi masing-masing dan mulai bersiap untuk belajar.

Di hadapan mata Uesugi, hari-hari saat dia kesulitan mengajari si kembar lima berputar bagaikan membuka album foto.

──Semuanya salah!

Yotsuba yang sejak awal kooperatif, semangatnya cuma berputar-putar tanpa hasil.

──Katanya pintar, tapi cuma segini saja.

Miku yang sangat sulit membuka hatinya.

──Kenapa kamu malah repot-repot membantuku?

Ichika yang pada dasarnya sangat benci belajar.

──Aku tidak akan pernah mau belajar darimu!

Itsuki yang keras kepala dan selalu bentrok dengannya.

──Harusnya kamu tidak usah datang……!

Jurang pemisah dengan Nino lebih dalam daripada siapa pun.

Dan sekarang…… Di hadapan mata Uesugi, terlihat sosok si kembar lima yang sedang belajar dengan gembira mengelilingi meja. Saat dia tenggelam dalam rasa haru,

"Baguslah ya, Fuutarou." Miku menyadarinya dan tersenyum padanya.

Uesugi tersenyum tipis, memejamkan mata, lalu mendongakkan wajahnya dengan mantap.

"Masih…… baru dimulai dari sini."

***

Dan dua hari kemudian, di pagi hari pertempuran penentuan──

"Akhirnya hari H tiba ya."

Sambil berjalan berjejer di koridor sekolah bersama saudara-saudaranya, Miku berkata.

"Apa akan baik-baik saja ya~?" kata Ichika.

"Kita sudah melakukan apa yang bisa kita lakukan! Ya kan, Uesugi-san!"

Yotsuba menoleh dengan ceria. Namun, sosok Uesugi yang seharusnya ada di sana tidak terlihat.

"Lho? Uesugi-san ke mana……?"

"Katanya sedang menelepon Raiha-chan."

Saat Itsuki memberitahu, Ichika memiringkan kepalanya heran, "Di saat seperti ini?"

"Pasti ada hal yang tidak bisa ditunda. Padahal ponsel miliknya sendiri kehabisan daya, sampai-sampai dia meminjam milikku."

***

Uesugi sedang sendirian di atap sekolah, menelepon menggunakan ponsel pintar milik Itsuki. Setelah selesai menyampaikan urusannya, sambil berpikir apakah dia bisa menerima gaji bulan ini, dia mematikan sambungan telepon yang menampilkan tulisan 『Ayah』 di layar.

"Berjuanglah kalian……"

Sambil menyandarkan punggungnya ke dinding, dia menatap langit biru tanpa awan dan mengulas senyuman.

"Ichika…… Nino…… Miku…… Yotsuba…… Itsuki…… Kalau kalian berlima berkumpul bersama, kalian tidak akan terkalahkan."

Beberapa hari setelah ujian akhir semester usai, pada Sabtu sore hari.

Si kembar lima yang berkumpul di ruang tamu memegang lembar hasil ujian akhir semester mereka.

"Ini parah sekali……"

Itsuki: 『Bahasa Jepang: 43 / Matematika: 28 / IPA: 68 / IPS: 26 / Bahasa Inggris: 34 / Total: 199 poin』.

"Padahal sudah belajar keras, tapi hasilnya begini ya~"

Ichika: 『Bahasa Jepang: 24 / Matematika: 47 / IPA: 41 / IPS: 28 / Bahasa Inggris: 36 / Total: 176 poin』.

"Sekali lagi terbukti kalau kita ini memang bodoh ya."

Miku: 『Bahasa Jepang: 35 / Matematika: 41 / IPA: 40 / IPS: 70 / Bahasa Inggris: 20 / Total: 206 poin』.

"Nino, bersemangatlah."

Yotsuba: 『Bahasa Jepang: 35 / Matematika: 15 / IPA: 22 / IPS: 30 / Bahasa Inggris: 26 / Total: 128 poin』.

"Kamu khawatirkan dirimu sendiri saja sana……"

Nino: 『Bahasa Jepang: 19 / Matematika: 22 / IPA: 38 / IPS: 27 / Bahasa Inggris: 45 / Total: 151 poin』.

Selama dua hari, pada hari Sabtu dan Minggu, mereka hampir terus terpaku di meja belajar, tapi ternyata nilai merah tetap tidak bisa dihindari.




"Kebetulan hari ini jadwal les privat, jadi agenda utamanya hari ini pasti refleksi ujian akhir semester ya."

Saat Ichika menaikkan bahunya, bel pintu berbunyi pin-pon.

"Oh, panjang umur," kata Ichika. Itsuki berdiri untuk membuka pintu intercom.

"Pasti akan dimarahi habis-habisan sama Fuutarou." "Pasti deh~"

Melihat Miku dan Yotsuba berbincang sambil tersenyum, Nino heran, "Kenapa kalian malah kelihatan senang sih……"

"Ahaha. Hasilnya memang sangat disayangkan, tapi aku senang karena bisa berusaha keras lagi bersama semuanya."

Yotsuba memancarkan rasa antusias hingga pipinya merona merah. Nino pun memasang raut wajah yang tampak tidak terlalu keberatan.

Itsuki yang berdiri di depan monitor intercom mendadak berseru, "Lho?" lalu menoleh ke arah empat orang lainnya.

"……Bukan Uesugi-kun."

***

Tidak lama kemudian, seorang pria berambut putih yang mengenakan setelan jas masuk sambil mengucapkan, "Permisi."

"Lho, Ebata-san toh," kata Ichika dengan ramah.

"Hari ini libur jadi sopir Ayah?"

Saat Miku bertanya tanpa maksud apa-apa, sebuah jawaban yang tidak disangka-sangka terluncur.

"Hari ini saya datang sebagai tutor privat sementara."

Di antara para saudara yang terpana linglung, Yotsuba berujar dengan ragu-ragu, "B-begitu ya……"

"Ebata-san kan dulunya guru sekolah ya," kata Ichika.

Mereka sudah dirawat oleh Ebata sejak masih kecil, tapi hal seperti ini baru pertama kali terjadi.

"Orang itu bolos ya." Nino kesal. Miku pun merasa cemas, "Apa dia sakit ya……"

Melihat reaksi si kembar lima, Ebata berdeham pelan, ehem, lalu mulai angkat bicara.

"Ada hal yang harus saya sampaikan kepada Nona-nona sekalian. Uesugi Fuutarou-sama telah mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai tutor privat."

Seketika itu juga, pikiran si kembar lima menjadi kosong melompong.

Mungkinkah ada kesalahpahaman, atau lelucon yang garing──pikir mereka—tapi Ebata memasang raut wajah yang sangat serius.

"Saya mendapat kabar dari Tuan Besar, bahwa Uesugi-sama telah memutus kontrak akibat hasil ujian akhir semester kemarin."

"Eh…… berarti…… Fuutarou-kun tidak akan datang lagi……?"

Ichika memasang raut wajah tak percaya. Yotsuba dan Itsuki terpaku linglung tanpa bisa berkata-kata.

Miku yang merasa pusing bergumam, "Bohong…" lalu membisu linglung.

"Ini pasti gara-gara hasil ujian……"

Nino menundukkan kepalanya, mengepalkan tangannya erat-erat dengan rasa menyesal. Kalau satu orang saja dari si kembar lima mendapat nilai merah, maka akan dipecat──syarat waktu ujian tengah semester dulu rupanya masih berlaku.

"Papa yang menyuruhnya," baru saja Nino mau mengucapkannya, Ebata memotongnya.

"Sepertinya bukan begitu. Saya mendengar bahwa Uesugi-sama mengundurkan diri atas kemauannya sendiri."

"Atas kemauannya sendiri……" "Fuutarou…… kenapa……"

Baik Yotsuba maupun Miku tidak sanggup menyembunyikan rasa syok mereka.

"Aku tidak bisa menerima hal ini. Aku akan memanggilnya dan bertanya langsung padanya."

Saat Itsuki melangkah maju sambil memegang ponsel pintarnya, Ebata membungkukkan kepalanya dalam-dalam.

"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, tapi hal itu tidak dapat diwujudkan. Saya menerima perintah dari Tuan Besar untuk melarang keras Uesugi-sama memasuki rumah ini sama sekali."

"Kenapa sampai sejauh itu……"

"Aku mengerti…… Aku yang akan pergi ke tempatnya."

Miku berdiri dan hendak keluar, namun Ebata dengan cepat menahannya menggunakan tangan.

"Ebata-san, izinkan aku lewat."

"Tidak bisa. Walaupun hanya sementara, saya menerima tugas sebagai tutor privat. Jika Nona sekalian tidak menerima pendidikan tingkat minimal, saya tidak bisa mengizinkan Nona lewat."

Dijelaskan secara logis dan runtut seperti itu, si kembar lima tidak punya pilihan lain selain menurut.

Mengelilingi meja dan mulai belajar berlima, Ebata memperhatikan mereka dari kejauhan sambil berdiri.

"Kalau ini selesai kami boleh pergi, kan?"

Saat Nino bertanya, Ebata menjawab, "Ya, silakan lakukan sesuka hati Nona."

"Soal yang ini lumayan gampang lho. Pasti Ebata-san sengaja memberi kemudahan buat kita."

Kepada Ichika yang menggerakkan pulpennya dengan lancar, Nino mengangguk dan berkata, "Benar juga ya."

"Tapi kalau kita yang dulu, mungkin sudah dalam bahaya…… Anehnya, aku bisa menyelesaikan soal-soal ini dengan lancar. Walau menyebalkan, ini semua memang berkat orang itu."

Seseorang yang begitu bersemangat hingga mengganggu seperti Uesugi mendadak mengundurkan diri sebagai tutor privat…… Sebelum mendengar langsung dari mulut orangnya sendiri, mereka berlima tidak akan bisa merasa puas.

"Tinggal satu soal lagi…… padahal tinggal satu soal lagi…" Miku memegangi kepalanya karena kebingungan.

"Aku juga tinggal soal terakhir." kata Itsuki. Namun, soal yang ini rasanya sulit sekali.

"Hahaha…… Jika soal sekelas ini saja tidak bisa diselesaikan, maka akan saya ubah menjadi kelas pelajaran khusus ya."

Si kembar lima serentak memajukan badannya ke depan. Melihat hal itu, Ebata tersenyum, lalu melangkah ke dapur untuk menyeduh teh hangat.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga lewat. Kalau soal ini tidak bisa diselesaikan, mereka mungkin tidak akan dibebaskan selamanya. Itsuki mengangkat wajahnya sedikit untuk melihat situasi Ebata, lalu membulatkan tekad dan membuka mulutnya.

"Anu…… mau coba lihat lembaran contekan tidak?"

Sambil menutupi mulut dengan tangan dan berbisik pelan memberikan usul, Yotsuba berseru, "Eh?!"

"Yang buat ujian akhir itu?" tanya Nino.

"Iya. Semuanya pasti sudah memasukkannya ke dalam tempat pensil, kan."

Itsuki mengeluarkan gulungan lembaran contekan dari tempat pensilnya.

"A-apa tidak apa-apa ya……"

Melihat Yotsuba yang ragu-ragu, Itsuki menaikkan kacamata dengan jarinya lalu mengerutkan dahinya.

"Ini situasi darurat. Kita tidak punya waktu untuk memikirkan gengsi lagi." Meskipun berkata begitu, peluh mengucur deras di wajahnya karena rasa bersalah.

"Itsuki mirip sekali dengan Uesugi-san!" "Kamu berubah ya……"

Yotsuba dan Nino merasa sangat kagum.

"Kalau begitu, aku juga deh……"

Ichika yang pertama kali membuka lembaran contekan terbelalak matanya, "Eh……"

"『Jangan mau mendapatkan jawaban dengan cara gampang, dasar bodoh.』…… Apa-apaan, dari awal dia memang tidak berniat membiarkan kita menyontek, kan."

"Tapi, itu sangat mencerminkan gaya Fuutarou."

Miku tampak senang, tapi Itsuki yang jalannya dipotong secara mendadak langsung menundukkan bahunya.

"Tapi, bagaimana ini……"

"Tunggu dulu, masih ada kelanjutannya……"

Saat Ichika membuka lembaran contekan sampai akhir, tertulis 『→②』.

"Nomor ② berarti……"

"Apa itu aku ya." Nino membuka lembaran contekannya sendiri.

"『Mana sudi aku mengajari murid yang suka menyontek』."

Di bagian akhir tertulis 『→③』. Sepertinya ini menjadi pesan berantai untuk si kembar lima.

Miku dan Yotsuba melanjutkannya.

"『Mulai sekarang raihlah dengan tangan kalian sendiri』."

"『Akhirnya aku terbebas dari tugas neraka yang berat ini, rasanya lega sekali』."

Ternyata dia benar-benar sudah muak pada kita lalu mengundurkan diri──Saat suasana menjadi seperti itu, Itsuki yang membuka lembaran contekan terakhir menahan suaranya.

"Itsuki?"

"……『Tapi, neraka itu lumayan menyenangkan kok. Sampai jumpa』."

Sambil matanya berkaca-kaca, Itsuki membaca pesan itu keras-keras. Pesan yang sangat khas gaya Uesugi, penuh omelan menyebalkan, tapi tidak lain mengandung rasa kasih sayang belaka……

Dada mereka semua bergemuruh penuh perasaan, hingga tidak sanggup mengeluarkan kata-kata dengan segera.

"Aku…… masih ingin diajari oleh Uesugi-san tahu……"

Yotsuba bergumam dengan sedih.

"Aku juga…… kalau tidak ada Fuutarou, rasanya sudah……"

Miku menampung air mata yang meluap di matanya.

"Meskipun kita bilang begitu, orang itu kan tidak bisa datang ke sini. Tidak ada yang bisa kita lakukan……"

Nino menundukkan kepalanya dengan lemah, tak seperti biasanya.

Ichika yang memperhatikan adik-adiknya dalam diam, memancarkan rasa tekad di matanya lalu berkata:

"Semuanya, dengarkan ya. Aku punya satu usul……"

Tidak lama kemudian, Ebata kembali membawakan lima cangkir teh hangat di atas nampan.

"Lho, ada apa ini?"

Si kembar lima telah meninggalkan meja dan berdiri berjejer menghalangi jalannya.

"Ebata-san, tolong bantu kami ya."

Mewakili saudara-saudaranya, Ichika melangkah satu langkah ke depan.

Di dalam benak Ebata, terbayang sosok si kembar lima sewaktu masih kecil yang saling mendekap tidur seperti anak anjing di kursi belakang mobil. Anak-anak itu, kini telah memiliki tatapan mata yang begitu kuat dan sungguh-sungguh──

"……Kalian sudah tumbuh sangat besar ya."

Ebata mengendurkan sudut bibirnya dengan lembut, berujar penuh haru.

***

Daun-daun gugur menari di bawah langit dingin musim dingin.

Sesuai janji, Yotsuba yang berpartisipasi dalam perlombaan Ekiden, berhasil membawa klub atletik menjadi juara.

Lalu pelajaran tersisa di semester dua berakhir, dan upacara penutupan semester pun usai. Tanggal 24 Desember──

"Selamat Natal. Mau beli kuenya~"

Di malam Natal yang dihiasi rintik salju, aku mengenakan kostum Santa dan bekerja paruh waktu di toko kue. Mungkin karena caraku memanggil pembeli kurang bersemangat, semua orang lewat berpura-pura tidak tahu.

Haah…… Tepat saat aku menghembuskan napas putih yang muram──

"Permisi."

"Iya! ……Eh."

Saat aku menoleh, sosok si kembar lima melompat masuk ke dalam pandanganku.

"Kalian……"

"Apa bisa kuenya diantar? Kami ingin kuenya diantar ke rumah." kata Itsuki.

"Haa?! Kami tidak melayani pengantaran……"

Mendengar percakapan itu, manajer toko berambut panjang keluar dari dalam toko.

"Uesugi-kun. Di sini sudah cukup kok, pergi saja antarkan buat mereka."

"T-tunggu?! Manajer, mana bisa begitu……"

"Uesugi-kun!"

Tanpa membiarkanku berbicara sampai habis, manajer memberikan kotak kue padaku, lalu berujar "Selamat Natal" sambil mengedipkan mata dan mengacungkan ibu jari dengan bangga. Dia kembali ke toko dengan wajah orang dewasa yang sangat paham perasaan anak muda.

"Eeeh……"

Apa aku berhenti dari pekerjaan paruh waktu ini saja ya…… Pemikiran seperti itu terlintas sejenak di kepalaku.

Sambil tetap mengenakan kostum Santa dan membawa kotak kue, aku berjalan mengikuti dari belakang si kembar lima.

"Hei, rumah kalian kan bukan lewat jalan ini."

Entah kenapa mereka berjalan menyusuri tanggul tepi sungai yang rendah, ke arah yang berlawanan dengan gedung apartemen mereka.

"Bukan kok~" "Lewat sini, lewat sini." Suara Ichika dan Miku membalas. Mungkin karena mereka marah padaku, mereka sengaja berputar jauh.

"Dengar ya…… Soal mengundurkan diri tanpa bilang-bilang, aku minta maaf. Tapi aku sudah tidak bisa kembali menjadi tutor privat kalian lagi……"

Tiba-tiba si kembar lima menghentikan langkah mereka, lalu Itsuki menyodorkan sebuah surat lamaran kerja (rirekisho), "Coba lihat ini."

"Orang ini adalah tutor privat yang baru. Kami ingin memperlihatkannya pada Uesugi-kun juga."

"B-begitu ya…… Cepat juga ya sudah dapat gantinya……"

Sambil menghembuskan napas kecil, aku mencoba menutupi keguncangan hatiku sambil memeriksa surat lamaran kerja itu.

"Lulusan universitas di Tokyo, mantan guru…… Heeh~ Baguslah kalau orangnya kelihatan hebat."

Foto berkas di surat lamaran kerja itu menampilkan gambar bapak-bapak berkulit gelap dengan rambut pirang panjang—sosok yang agak mencurigakan, tapi dia pasti sanggup membimbing si kembar lima sampai terhindar dari nilai merah……

Nino yang sudah tidak tahan lagi melangkah ke depan, lalu menatapku tajam dari bawah.

"Kamu tidak apa-apa?! Menyerahkan kami begitu saja pada orang berikutnya dan mencampakkan kami?!"

Menyerang secara lugas dan terang-terangan seperti khasnya Nino.

"Aku sudah diberi dua kali kesempatan, tapi gagal memberikan hasil! Tidak ada jaminan bahwa ujian berikutnya akan berjalan lancar. Kalau begitu, menyerahkannya kepada profesional adalah keputusan yang benar. Aku tidak bisa melibatkan kalian lebih jauh lagi ke dalam sikap egoisku……"

Aku berujar sambil menggertakkan gigi. Karena rasa benci pada diri sendiri dan penyesalan, aku tidak sanggup menatap wajah si kembar lima. Aku menunduk, memegang kotak kue dengan cengkeraman tangan yang makin kuat.

"Benar…… Kamu memang selalu egois dari dulu. Gara-gara itu aku dipaksa belajar hal yang tidak ingin kupelajari, menghafal setengah mati dan mengingat rumus…… Tapi, saat bisa menyelesaikan soal rasanya jadi senang……"

Nino berujar dengan malu-malu, lalu menunjukku dengan tajam.

"Bisa sampai sejauh ini semuanya gara-gara kamu! Makanya jadilah orang yang egois sampai akhir! Kamu yang sok rendah hati begini malah bikin jijik, tahu!"

"……Maaf…… Tapi aku sudah tidak bisa kembali lagi. Aku sudah mengundurkan diri…… Bahkan masuk ke rumah kalian pun sudah dilarang……"

Kepada diriku yang menunduk lemas tanpa tenaga, Ichika bertanya, "Cuma karena alasan itu?"

"Iya…… Ayo cepat jalan."

Saat aku berujar pasrah, Ichika mengambil kotak kue dari tanganku, "Sudah cukup kok."

"Terima kasih ya sudah mengantarkan kuenya."

"Bukan, masih belum……"

"Di sini tempatnya."

Ichika menunjuk ke sebuah bangunan apartemen dua lantai yang merakyat yang berdiri di sepanjang jalan di atas tanggul sungai.

"Ini rumah baru kami."

"Eh……? Apa maksudnya……"

"Kami menyewanya. Aku kan juga punya penghasilan sendiri. Mulai hari ini kami akan tinggal di sini. Dengan begini sudah tidak ada penghalang lagi, kan?"

"Bohong kan…… Cuma demi hal sepele seperti itu……"

"Kan sudah kubilang? Yang terpenting itu bukan berada di mana……"

Kepada diriku yang terpana linglung, Yotsuba memperlihatkan lima lembar kartu kunci di tangannya.

"Tapi berada bersama-sama berlima!"

Begitu mengucapkannya, dia melempar kartu-kartu itu tinggi-tinggi ke arah sungai. Itu kan, kartu-kartu itu kan──

"Kartu kunci apartemen kalian?!"

Saat refleks mencoba menangkapnya, kakiku terpeleset licin di tepi tanggul.

Ah, aku jatuh. Saat tubuhku melayang di udara, wajah Rena saat mengucapkan "Selamat tinggal" berkelebat di benakku. Kali ini aku benar-benar bisa mati…… Saat jatuh terbalik ke arah sungai, momen pertemuanku kembali dengan Rena di taman terputar bagaikan slow motion.

(Gawat…… Lampu kilat kenangan hidup (soumatou) kelihatan nih…… tapi kok kenangan yang baru banget terjadi sih……)

Mungkinkah ini kualat karena pernah berpikiran tidak sopan seperti "Kalau aku tenggelam di sini, apa mereka akan cemas?" Aku jatuh byurr ke dalam sungai tempat salju halus berjatuhan. Cipratan air besar membumbung tinggi, dan busa air meletup-letup di sekitarnya.

Saat membuka mata di dalam air yang dingin membeku, aku melihat hal yang tak bisa dipercaya di sana.

Mengelilingi diriku, si kembar lima ada di sana!

"Puhaa! ……Kalian ini!"

Menyusulku, Itsuki dan Miku memunculkan wajah mereka dari permukaan air.

"Kenapa kalian semua malah ikut menyebur juga sih!"

"Fuutarou!! Kamu tidak apa-apa?!"

Sambil terendam air sampai ke bahu, Miku berjalan mendekat di dalam sungai.

"Jangan menyerah cuma gara-gara dua kali gagal…… Kali ini kita pasti bisa…… Kalau bersama Fuutarou, kita pasti bisa kok!"

Sambil mendekatkan wajahnya yang gemetaran hingga giginya beradu karena kedinginan, dia memohon padaku setengah mati.

Anak-anak ini, sampai punya tekad sejauh ini demi aku…… Dibandingkan mereka, aku ini……

Di belakang tubuhku, jimat berbentuk gulungan yang ditaruh di dalam saku mengapung pukari.

──Kalau kamu sudah bisa mengakui dirimu sendiri, bukalah itu.

Tepat saat aku teringat kata-kata Rena dan hendak mengulurkan tangan ke arah jimat yang hanyut terbawa arus──

"Nino, kamu kenapa?!"

Mendengar suara tegang Yotsuba, aku menoleh dan melihat Nino mengepakkan tangannya di air hampir tenggelam.

"D-dingin banget…… tubuhku tidak bisa……"

"Nino!" Sebelum sempat berteriak, aku langsung membalikkan badanku.

Aku memeluk Nino dengan satu tangan dan membawanya dari dalam air, lalu menaruh tangan satunya di tanggul tepi sungai.

"Bisa naik tidak……? Pegangan yang kuat."

Wajah Nino yang tadinya pucat karena kedinginan mendadak merona merah. Wajahku berada sangat dekat dengannya sampai-sampai napas kami saling berembus.

Nino mencengkeram bahuku erat-erat. Aku memeluk Nino dengan kuat lalu memanjat ke atas tanggul.

"Kalian ini benar-benar tidak masuk akal…… Bertindaklah sambil memikirkan akibatnya dong……"

Setelah menyerahkan Nino kepada empat orang lainnya yang sudah naik duluan ke tepi sungai, aku menghembuskan napas dalam-dalam.

"Makanya orang bodoh itu menyusahkan…… Rasanya jadi bodoh sendiri kalau aku harus terus-terusan mempertimbangkan kalian."

Aku memungut surat lamaran kerja bapak-bapak berkulit gelap berambut pirang yang terbang ke dekat kakiku, lalu tanpa ragu merobeknya menjadi dua bagian, sriit.

"Aku juga akan melakukan apa yang ingin kulakukan. Ikuti saja semua sikap egoisku, paham? Sampai akhir nanti."

Kepada diriku yang berujar seolah sudah lepas dari beban pikiran, Ichika, Miku, Yotsuba, dan Itsuki membalas dengan senyuman.

***

Di tengah-tengah itu, Nino yang bersandar pada Ichika menutupi dadanya yang berdebar sangat kencang hingga terasa berisik.

(Bukan…… ini bukan……)

Ini cuma karena aku belum bisa melupakan Kintarou-kun saja──ia meyakinkan dirinya sendiri seperti itu.

"Kalau sudah diputuskan begitu, ayo cepat masuk rumah!" kata Ichika.

"Ah! Kuenya aman tidak?"

Kepada Itsuki yang kelihatan paling cemas dibandingkan siapa pun, Ichika memamerkan kotak kue, "Aman kok!"

(Selamat tinggal…… Rena.)

Membelakangi para saudara yang menaiki tangga, aku menatap lekat-lekat sungai tempat jimat itu hanyut terbawa arus.

"Fuutarou, cepat naik."

"Nanti kuenya habis kita makan lho."

Miku dan Itsuki memanggilku dari tangga.

"Sip. Tapi apa tidak apa-apa? Kalau ada aku, kuenya tidak bisa dibagi jadi lima bagian sama rata lho?"

Si kembar lima saling bertatap muka, lalu meletupkan suara tawa yang cerah. Bagaikan anak-anak yang menerima hadiah paling istimewa dari Santa Claus, dengan senyuman penuh kebahagiaan dan kepolosan yang meluap-luap.



Chapter 3 | ToC | Chapter 5

Post a Comment

Post a Comment