Chapter 5
Sebuah mobil limusin mewah
berwarna hitam melintas di jalanan kota yang dihiasi rintik salju.
"Ebata, hari ini kamu agak
terlambat ya."
Nakano Maruo, ayah dari si kembar
lima yang duduk di kursi belakang, berujar dengan suara baritonnya.
"Mohon maaf yang
sebesar-besarnya."
"Tidak apa-apa. Tapi,
penampakanmu itu……"
Pria tua yang biasanya
berpenampilan sopan bagaikan seorang pria terhormat itu, melakukan perubahan
gaya (image change) yang terbilang sangat berani.
Rambut pirang panjang
dengan kulit gelap. Ebata yang menyamar sebagai tutor privat palsu atas
permintaan si kembar lima, tertawa dengan anggun ho-ho-ho sambil
memegang kemudi.
Maruo berujar, "Yah,
terserahlah," lalu mengalihkan pandangannya ke ponsel pintar di tangannya.
Telepon dari Uesugi
Fuutarou, tutor privat anak-anaknya, terjadi pada pagi hari di hari pertempuran
ujian akhir semester──
***
Di ruang pemeriksaan
rumah sakit umum tempatnya menjabat sebagai direktur, Maruo menerima panggilan
telepon dari Fuutarou.
"Kalau begitu,
berjuanglah untuk ujian akhir semester hari ini."
Tepat saat dia hendak
mematikan telepon setelah menerima laporan bahwa mereka berlima sudah belajar
dengan giat,
"Boleh aku bicara
sebentar?"
"Ada apa?"
"Ini mungkin terkesan
lancang, tapi aku punya satu permintaan. Mulai hari ini, aku mengundurkan diri sebagai
tutor privat."
Dengan suara yang mantap,
secara mendadak dia menyampaikan niatnya untuk mengundurkan diri.
"Apa kamu tahu? Bahwa Nino
dan Itsuki bertengkar lalu pergi keluar dari rumah."
"Ini pertama kalinya aku
mendengarnya. Apa masalahnya sudah selesai?"
"Sudah."
"Kalau begitu baguslah.
Berarti……"
Pemeriksaan untuk sesi pagi akan
segera dimulai. Dia tidak punya waktu untuk melayani celotehan seorang anak
SMA.
"Cuma itu tanggapanmu?"
Suara itu entah kenapa terdengar
menahan emosi.
"Apa kamu tidak penasaran
kenapa mereka bertengkar? Apa kamu sama sekali tidak berniat untuk mencari tahu
apa yang mereka pikirkan dan apa yang mereka risaukan?" Fuutarou lalu
tertawa menyeringai, "Ah maaf ya, aku malah berlagak sok tahu dan lancang
kepada majikanku sendiri…… Ah! Kan aku sudah mengundurkan diri."
Setelah mengucapkannya secara
sangat sengaja, dia berteriak meluapkan amarahnya.
"Bersikaplah sedikit seperti
seorang ayah!! Dasar bodoh!!"
Sambil menggenggam ponsel
pintarnya erat-erat, Maruo menatap ruang hampa dengan mata dingin.
"Uesugi-kun, kamu
benar-benar sudah melangkah terlalu jauh ya. Tapi…… aku tidak akan menyerahkan putri-putriku
kepada pria sepertimu."
Lampu depan mobil dari arah
berlawanan menyinari wajah Maruo yang diam-diam mendidihkan amarahnya secara
tenang. Wajah yang sama persis dengan dokter penanggung jawab Fuutarou saat dia
dirawat di rumah sakit karena flu berat beberapa bulan lalu──
***
Pagi hari di Tahun Baru yang
telah berganti, area di dalam kuil dipadati oleh banyak pengunjung yang hendak
berdoa.
"Kuh……"
Di awal tahun baru ini, Fuutarou
memasang raut wajah gusar seolah baru menelan ulat pahit.
(Padahal sampai tahun lalu
masih bisa dapat uang tahun baru (Otoshidama)…… Kalau tahu akan begini, mending
aku belajar saja di rumah……)
Sesuai tradisi tahunan, dia pergi
memberikan salam Tahun Baru ke rumah kakek dan nenek dari pihak ayah, tapi yang
mendapat uang Tahun Baru hanyalah Raiha seorang. Dalam perjalanan pulang, dia
dipaksa menemani Raiha untuk melakukan kunjungan kuil pertama tahun baru (Hatsumode).
"Dapat keberuntungan sangat
besar (Daikichi)! Hore! Kakak dapat apa?"
Tanpa perlu mengambil pun, aku
sudah tahu bagaimana nasib keberuntunganku tahun ini. Secara umum,
probabilitasnya memang rendah, tapi ini sudah pasti terjadi.
(Sejak bertemu dengan
anak-anak itu, keberuntunganku selalu……)
Aku membuka kertas ramalan (Omikuji)
dengan perlahan. Nah
kan, benar saja.
(Sial besar (Daikyo).)
Bisa dibilang kuil ini
justru sangat bisa dipercaya. Tepat saat itu, terdengar suara langkah kaki
menggunakan sandal kayu (Zori) dari beberapa orang──lebih tepatnya lima
orang.
Firasat buruk──!
Berseberangan dengan Fuutarou yang memasang raut wajah waspada, mata Raiha
justru berbinar-binar gembira.
"Waaah……!"
Si kembar lima yang
mengenakan pakaian kimono berlengan panjang (Furisode) yang anggun
sedang berjalan di atas lantai batu.
"Uesugi-san dan Raiha-chan!"
Yotsuba yang mengenakan celana rok tradisional (Hakama) berwarna
hijau, menyadari keberadaan mereka berdua dan berseru. Ichika mengenakan warna
kuning, Nino warna ungu, Miku warna biru, dan Itsuki berbasis warna
merah—mereka semua berbusana gaun pesta tahun baru (Haregi) dengan motif
bunga berwarna-warni yang sangat indah.
"Kenapa kamu selalu ada di
mana-mana sih!"
Apakah racun dari mulut Nino di
awal tahun baru ini juga termasuk bagian dari kesialan besarku?
"Kalau tidak keberatan, mau
mampir ke rumah kami, tidak?" Yotsuba mengajak mereka berdua sambil tersenyum lebar.
"Tidak usah deh,
rasanya tidak enak kalau……"
"Mauuuuu~~~!"
Suara Raiha menyapu
bersih ucapan Fuutarou.
***
『Aku juga menyukaimu!』
Perasaan mereka saling
terhubung, lalu tanpa disadari keduanya saling menautkan bibir──
"Waaah~~~!! Mereka
ciuman……"
Itsuki menutupi mulutnya
dengan tangan sambil wajahnya merona merah padam, sedangkan Nino bergumam
terpesona, "Romantisnya……"
Ichika dan Yotsuba juga
ikut masuk ke dalam meja pemanas (kotatsu), menonton bersama drama
percintaan yang diperankan oleh aktor tampan.
"Sebenarnya untuk apa kalian
memanggilku ke sini……"
Di sisi lain, Fuutarou berdiri
berjejer bersama Raiha, menatap keempat orang yang sedang tenggelam dalam
cerita percintaan fiktif tak berguna itu dengan raut wajah heran──menghabiskan
waktu yang terbuang sia-sia.
"Sudahlah, mumpung tahun
baru, ayo kita nikmati waktu santai ini."
Ichika menoleh ke arah Fuutarou
sambil tersenyum getir. Tiba-tiba Miku membawakan kotak makanan bertingkat (jubako)
dari dapur.
"Fuutarou, selamat tahun
baru. Aku membuat makanan Tahun Baru (Osechi). Mau coba?"
"Hii!"
Membayangkan makanan persembahan
untuk dewa dijadikan barang yang mengerikan seperti ini……
Perut Fuutarou secara refleks
berbunyi nyaring kruuuk~. Kali ini adalah imajinasi sakit perut.
"Lho? Kamu kenapa,
Raiha-chan?"
Yotsuba, yang menyadari Raiha
sedang melihat ke sekeliling ruangan dengan bingung, mendekatkan wajahnya untuk
bertanya.
"Anu…… sepertinya aku salah
paham. Habisnya aku mendengar kalau keluarga Nakano-san itu orang kaya……"
"Ahaha…… ada banyak hal yang
terjadi……" Yotsuba menggaruk kepalanya.
"Maaf ya, ruangannya kosong,
tidak ada apa-apa~"
Tapi dari penghasilan Ichika saat
ini, menyewa apartemen dua ruangan ini adalah batas maksimalnya.
"Aku juga harus
mengembalikan kimono ini ke Ibu Kontrakan." kata Nino.
Kimono yang dipinjamkan oleh Ibu
Kontrakan terbungkus kain pembungkus (Furoshiki) dan menumpuk di sudut
ruangan.
"Pokoknya, anggap saja
seperti rumah sendiri dan bersantailah ya."
Kepada Ichika yang tersenyum
manis, Raiha menjawab, "Siaaap~"
Pintu masuk yang sempit, toilet
dan tempat cuci muka yang agak remang-remang, dapur yang polos tanpa hiasan.
Bagi Fuutarou, tempat ini justru menimbulkan rasa akrab, tapi bagi si kembar
lima, ini adalah gaya hidup yang sangat berbeda jauh dari kehidupan mereka
sebelumnya.
"Kalian, apa benar-benar
tidak apa-apa?"
Kepada Fuutarou yang duduk di
bagian lantai kayu, Nino mengangkat selimut kotatsu dan berujar,
"Sebentar, kenapa kamu malah duduk di situ?"
"Dingin tahu. Masuklah ke kotatsu."
Fuutarou terpana heran. Mana
mungkin esok hari akan terjadi bencana alam, kan. Sambil tetap berhati-hati dan
tidak lengah, "Kalau begitu, Raiha saja." ujarku sambil mendorong
punggung adikku.
"Nah nah, tidak usah
sungkan-sungkan." Ichika muncul dari belakang punggung Fuutarou, berbisik
di dekat telinganya.
"Benar juga, mau kupijat
tidak? Kamu lelah, kan?"
"Eh…… tidak… aku tidak
terlalu lelah kok…"
Senyuman Ichika yang
memperlihatkan niat tersembunyi membuatku merasa takut.
"Cuma Ichika saja, curang!"
Miku melayangkan protes, yang dibalas Ichika, "Siapa cepat dia dapat
dong~"
"Kalau begitu, aku bagian
tangan!" "Mau bagaimana lagi ya." Yotsuba dan Nino ikut
berpartisipasi secara bergantian, bahkan Itsuki pun menambah keramaian,
"Kalau aku, aku akan memijat bagian kaki."
Sebenarnya apa-apaan permainan
yang memalukan ini…… Fuutarou merasa lemas tak berdaya saat seluruh tubuhnya
dipijat-pijat oleh si kembar lima. Raiha yang memperhatikan pemandangan itu
dengan pandangan kosong mendadak tersadar.
(Kakak mendadak jadi
populer banget!)
Masa populer yang dikira
tidak akan pernah datang kepada kakaknya sampai kapan pun…… Dia menangkupkan
kedua tangannya untuk melapor kepada ibunya yang ada di surga.
"Ibu, musim semi
datang lebih cepat untuk Kakak."
Namun, Fuutarou yang saat
ini sudah memahami si kembar lima lebih dari siapa pun, tidak akan dibodohi
semudah itu.
"Kalian, sebenarnya
berniat apa…?"
"Kaget! T-tidak
berniat apa-apa kok~"
"Ini cuma bentuk
rasa terima kasih harian saja."
Baik Yotsuba maupun Miku
jelas-jelas mencoba menyembunyikan sesuatu.
"Bohong banget!"
"Terima kasih atas kerja
kerasmu selama ini ya!"
Nino menyapa dengan senyuman yang
sangat mencurigakan.
(Mencurigakan banget……)
"Ini milikku sih, tapi kalau
mau silakan dimakan."
Itsuki menyodorkan kue eclair
sambil tampak ragu dan bimbang.
(Mencurigakan banget!)
"Mumpung tahun baru,
bagaimana kalau bermain permainan menempel anggota wajah (Fukuwarai)?
Aku membuat versi si kembar lima lho!"
Di atas kotatsu,
ada permainan Fukuwarai versi si kembar lima yang disiapkan oleh
Yotsuba.
(Terlalu sulit!)
Tiba-tiba Miku membuka mulutnya
dengan malu-malu.
"Anu…… ada hal yang ingin
kukonsultasikan pada Fuutarou……"
"Yang itu masih terlalu
cepat, tahu!" Yotsuba menghentikannya.
"Semuanya, ayo kita pergi ke
kamar sebelah."
Ichika yang mengerti situasi
mengajak empat orang lainnya, lalu pintu kamar gaya Jepang yang dijadikan kamar
tidur tertutup rapat.
"Sebenarnya apa yang sedang
mereka rencanakan……"
Menatap kepergian si kembar lima
dengan mata penuh kecurigaan, Fuutarou melahap kue eclair itu ke dalam
mulutnya.
***
Berkumpul di sudut kamar gaya
Jepang, si kembar lima mendekatkan wajah mereka dan mulai berbisik-bisik dan berdiskusi.
"Bagaimana ini? Sepertinya
orang itu tidak terlalu memikirkannya……" kata Nino.
"Tapi kalau begini terus
rasanya tidak enak…… Padahal bukan pekerjaannya lagi, tapi Uesugi-san masih
terus mengajari kita sebagai tutor privat."
"Aku ingin melakukan sesuatu
buat dia……"
Yotsuba dan Miku yang perasaannya
sudah melangkah terlalu jauh duluan, hasilnya malah permainan Fukuwarai
si kembar lima dan makanan osechi kutukan.
"Lagipula, kita juga tidak
ingin terlalu mengandalkan Ayah, kan."
Ichika, yang menjadi tiang
penopang saudara-saudaranya, memperlihatkan wajah khas seorang anak sulung.
"Meski begitu, apa ya hal
yang bisa kita lakukan untuk dia……"
Mendengar ucapan Itsuki, semuanya
mendongak ke atas sambil berpikir. Di atas kepala mereka, adegan ciuman dari
drama TV tadi melayang-layang powawa~n.
"T-tidak sopan!"
Itsuki bergegas mengibaskan
tangannya, menghapus bayangan di atas kepalanya, yang ditanggapi Nino,
"Kamu sendiri juga memikirkan hal yang sama, kan."
Ngomong-ngomong, cuma Yotsuba
seorang yang memikirkan hadiah berupa medali buatan tangan juara satu—sebuah
hadiah yang tidak ada kesan romantisnya sama sekali, selevel celana dalam
anak-anak.
"Ahaha…… aku tidak berpikir
Fuutarou-kun akan senang dengan ciuman sih."
"Orang itu kan juga pria,
jadi kita tidak pernah tahu, kan? Kalau aktris kan setidaknya bisa melakukan ciuman di pipi, kan?"
Mungkin karena gaya sok
dewasa Ichika terasa mengusik, Nino mencoba menggoyahkannya.
"K-kamu pikir aktris itu
seperti apa sih! Tapi kalau memang harus begitu, Miku lebih cocok……!!"
Agar kegugupannya tidak
terbongkar, Ichika mengalihkan pembicaraan ke Miku.
"A-aku……?! Aku…… ke Fuutarou……"
Kesadaran Miku melayang sangat jauh, berkelana di ruang angkasa.
----
"Fuutarou…… muah."
Bibir merah muda Miku menyentuh pelan pipi Fuutarou.
"Miku! Kamu membuatku jadi
bergairah, tahu? Sekarang sudah tidak bisa dihentikan lagi."
Fuutarou yang dipercantik bergaya
pria tampan di drama TV mencengkeram bahu Miku dengan kuat.
"Eeeeee~~~~?!"
Soalnya kelanjutannya adalah……
"T-tidak boleh Fuutarou……
hentikan…… ah, ternyata jangan dihentikan……"
Imajinasinya meluncur liar, Miku
yang duduk merangkul lutut menggerak-gerakkan ujung kaus kakinya sambil
mengerang merajuk.
-----
"Kamu!! Hentikan imajinasimu
itu!" suara tajam Nino melayang.
"Anu…… kalian lagi
membicarakan apa sih~?"
Mengabaikan Yotsuba yang
disisihkan dari pembicaraan, Itsuki memberikan usulan.
"Bukankah lebih aman kalau
menggunakan masakan saja? Nino kan juga jago. Mari kita buatkan kue atau
semacamnya."
Bahu Nino gemetar pikun.
Kenangan kue sus manis yang dibuatnya untuk Kintarou kembali membayang pahit di
benak Nino.
"……Tidak mau… padahal aku
sudah susah payah melupakannya……"
Itsuki yang tidak tahu apa-apa
menatap raut wajah sedih Nino dengan heran.
"Pokoknya, ayo kita
ceritakan situasinya secara jujur saja."
Saat Ichika berdiri dan membuka
pintu, Fuutarou berdiri tepat di hadapan matanya.
"Ichika. Jangan
bergerak."
Mendekatkan wajahnya sampai
hidung mereka hampir bersentuhan, Fuutarou menatap wajah Ichika lekat-lekat.
"Eh…… t-tunggu, ada apa……
h-hentikan……"
Sekali lagi adegan ciuman drama
TV melintas di kepala Ichika. Diberi tatapan hangat oleh Fuutarou, dia tidak
punya ruang lagi untuk berakting menjadi seorang kakak yang sedikit jahat
seperti biasanya.
"……Nn……"
Pada akhirnya akal sehatnya
takluk, tepat saat Ichika memejamkan matanya untuk menerima bibir Fuutarou──
"Ternyata benar!"
Fuutarou menghilang bagaikan
angin dari hadapan Ichika, lalu melanjutkan permainan Fukuwarai bersama
Raiha di meja kotatsu.
"Ini adalah mulut milik
Ichika! Tidak salah lagi!"
"E~, menurutku sih yang ini
lho~."
Yotsuba berlari ke tempat
Fuutarou dan Raiha dengan gembira.
"Waa~! Kalian
bermain bersama ya!"
Miku dan Itsuki dengan
cepat menopang Ichika dari kedua sisinya saat ia lemas dan tersungkur di
lututnya.
"Meskipun aturannya
sudah berubah sih."
Raiha menjelaskan kepada
Yotsuba. Ini sudah bukan
permainan Fukuwarai lagi, melainkan pembuatan foto montase.
"Yotsuba, kalau yang ini
bagaimana?"
"E~, coba kubaca……"
Yotsuba berlutut di samping
Fuutarou dan menatap permainan Fukuwarai.
"Ah, Uesugi-san. Ada krimnya
tuh."
Yotsuba yang biasanya bertindak
sebelum berpikir, menempelkan bibirnya ke pipi Fuutarou dan menjilat bersih
krim kue eclair yang menempel di sana.
Tak perlu dikatakan lagi, rasa
terkejut menjalar di antara para saudari.
"K-Kakak!?
Yotsuba-san!?"
Bagi Raiha yang masih kelas 6 SD,
pemandangan ini agak terlalu tajam dan merangsang.
Yotsuba yang tanpa sengaja
melakukan kontak fisik secara intens dengan Fuutarou, merona merah padam dan
menyentuh bibirnya sendiri.
Di sisi lain, Fuutarou menaruh
tangan di pipinya yang masih menyisakan sensasi bibir Yotsuba, lalu jatuh ke
dalam kondisi berhenti berpikir.
"Ciuman di pipi tadi itu
anggap saja sebagai tanda terima kasih untuk tutor privat ya……"
Di belakang Yotsuba yang
memberikan alasan secara memaksakan, Miku memancarkan aura yang sangat gelap.
(Tak disangka Yotsuba…… aku
sampai lengah……)
"Hah! Hawa membunuh!" Yotsuba
pucat pasi sambil keringatnya mengucur deras.
"T-tanda terima kasih?"
Di hadapan Fuutarou yang
kepalanya dipenuhi tanda tanya, Itsuki melangkah maju dari antara para saudara
dan berkata:
"Soal masalah itu. Dalam
situasi kami saat ini, kami tidak sanggup memberikan imbalan yang cukup……"
Jadi, alasan kenapa sikap semua
orang aneh adalah karena hal itu──Fuutarou akhirnya paham.
"Apa-apaan sih, hal seperti
itu katakan dong dari awal."
Sambil menghela napas
pasrah, aku berdiri dan melangkah mendekati Itsuki.
"Aku melakukannya karena aku
sendiri yang ingin. Soal
gaji tidak usah dipikirkan."
"Uesugi-kun……" Itsuki
mengulas senyum lega.
"Bayar saja nanti kalau
sudah sukses bekerja."
Kepada si kembar lima yang bahkan
sempat merasa terharu, Fuutarou berujar dengan sangat segar.
"Sebagai gantinya,
catat dengan benar ya! Satu orang lima ribu yen per hari! Tidak akan
kupotong walau satu yen pun!"
Sifat hamba uang yang begitu menyegarkan. Si kembar lima langsung memasang raut wajah
dingin.
"Dia memang tipe
orang yang seperti ini ya……" Nino memasang wajah memahami.
"Mumpung berkumpul
lima orang! Mulai sekarang
mari kita selesaikan tugas liburan musim dingin!"
Kepada Fuutarou yang mencoba
membawa suasana ke arah belajar memanfaatkan momentum, "Tugas liburan
musim dingin ya," Itsuki berujar dengan sangat santai. Kupikir keluhan dan
ketidakpuasan akan meledak, tapi si kembar lima malah saling bertatap muka dan
mulai tertawa.
"Kamu terlalu meremehkan
kami." Nino menyeringai. "Tugas seperti itu mah sudah selesai dari
tadi."
Fuutarou yang tadinya bersemangat
untuk memecut bokong si kembar lima setelah sekian lama, merasa seperti kena
tipu.
"A…… begitu ya…… Kalau
begitu, kelompok belajar seperti biasa saja."
Si kembar lima mengeluarkan buku
catatan masing-masing ke atas kotatsu. Justru mereka kelihatan sangat
bersemangat.
"Kakak, karena tidak mau
mengganggu, aku pulang duluan ya!"
"O-oh…… hati-hati
ya……"
Raiha yang mengerti
situasi berjalan pulang, dan kelompok belajar pun segera dimulai.
"Fuutarou, bagian
ini aku tidak mengerti."
Fuutarou berjongkok di
samping Miku, "Yang mana," ujarnya sambil menunduk melihat buku
catatannya dari jarak yang sangat dekat.
"Kasus di mana
jumlah mata dadu menjadi angka ganjil ada berapa cara. Karena dadunya ada tiga,
jadi pola untuk menjadi ganjil ada dua……"
Tepat di dekatnya ada
bibir Fuutarou…… Berdebar-debar karena jarak yang dekat secara tiba-tiba,
penjelasan Fuutarou sama sekali tidak masuk ke kepala Miku.
"Genap genap,
ganjil. Sisanya ganjil, ganjil, ciuman (kisu)……"
Mendengar kata yang tidak
mungkin, tanpa sadar Miku menyentuh bibirnya sendiri. Tentu saja itu hanyalah salah dengar akibat
sisa-sisa imajinasinya. Nino menatap Miku yang seperti itu dengan pandangan
yang mengamati lekat-lekat.
"……Apa?"
"Tidak, tidak ada apa-apa
kok." Nino mengalihkan pandangannya dengan cepat.
Fuutarou yang mendongakkan kepala tiba-tiba menyadari Ichika yang tampak
hampir tertidur lelap.
"Hei, Ichika, bangun."
"Ah…… tidak, maaf. Aku…… tidak tidur……"
Meskipun sempat membuka mata sekali, di kata "Yo……", kepalanya
terkulai terbalik ke belakang.
"Tidur kan!
Hei……"
"Biarkan dia tidur
sebentar."
Nino menghentikan
Fuutarou, lalu menatap Ichika yang tertidur sambil menghadap ke atas.
"Ichika…… sepertinya
menambah pekerjaannya dibanding sebelumnya."
"Soalnya dia yang
membayarkan biaya hidup kita kan……" kata Itsuki.
"Bisa diajari oleh Fuutarou
seperti ini pun semuanya berkat Ichika." kata Miku.
Termasuk Yotsuba, semuanya
menatap wajah tidur Ichika dengan raut wajah bersalah.
"Tapi bukan berarti
memaksakan diri sampai tidak bisa menyerap pelajaran itu tidak ada gunanya.
Hei, bangun……"
Membendung Fuutarou yang bangkit
berdiri, Itsuki mengangkat tangannya, "Anu!"
"Bagaimana kalau kita juga
bekerja?"
Mendengar pernyataan yang
tiba-tiba itu, "Eh?" saudari-saudarinya terkejut. Namun, Itsuki
sangat serius.
Fuutarou menatapnya dengan mata
berbinar-binar, "Oh……". Enak saja kamu mengucapkannya dengan gampang.
"Pengalaman kerja kalian
sampai sekarang apa?"
Di dalam ruang rapat pikiran
Fuutarou. Kepada Itsuki yang datang untuk wawancara, Fuutarou sang pewawancara
melayangkan pertanyaan.
"A-tidak ada……"
"Apa bisa dijalankan
bersamaan dengan belajar? Kalian yang sedang setengah mati terhindar dari nilai
merah."
"Ugh…… Kalau begitu…… aku
juga akan menjadi tutor privat seperti kamu!"
Itsuki yang membayangkan dirinya
sendiri adalah seorang tutor privat andalan bergaya setelan jas sambil memeluk
buku referensi di ketiaknya.
"Mengajar sambil belajar!
Dengan begitu, kemampuan akademisku sendiri juga akan meningkat, sekali
mendayung, dua tiga pulau terlampaui!"
"Hentikan deh…… kasihan
murid yang diajari olehmu……"
Ujung-ujungnya pasti panik,
kebingungan dan diremehkan oleh muridnya sendiri.
"Kalau begitu, bagaimana
kalau jadi pelayan supermarket?"
Seolah bilang serahkan padaku
kalau soal kerja fisik, Yotsuba membusungkan dadanya di dalam pikiran sambil
mengenakan kain segitiga di kepala dan celemek.
"Langsung dipecat tuh."
Di kepala Fuutarou, yang
terbayang cuma Yotsuba yang mengalami situasi panik karena antrean panjang di
kasir.
"Aku, ingin mencoba bekerja
di kafe maid (maid cafe)." Miku bergumam pelan.
Dengan atribut pemalu sebagai
gadis penyuka sejarah (Rekijo), ternyata diam-diam dia menyimpan impian
mengenakan baju pelayan (maid)……
"Kelihatannya akan
populer banget!" "Ditolak ditolak!"
Pro dan kontra
bermunculan dari Yotsuba dan Nino.
"Kalau Nino pasti
jadi ratu galak (joou-sama) ya?"
Di mata Miku, bayangan
Nino yang mengenakan pakaian bondage sambil mengayunkan cambuk terbayang
dengan sangat alami.
"Maksudmu apa bilang
pasti!?"
"Nino kan urusan memasak,
ya." Yotsuba mengoreksi, yang dijawab Nino secara acuh tak acuh,
"Cih…… kalau memang harus bekerja sih ya." Yotsuba lalu
membeberkannya lagi dengan wajah tersenyum tanpa niat buruk.
"Habisnya, impian Nino kan
membuka tokonya sendiri."
"Heeh…… baru pertama kali
dengar tuh."
Fuutarou menatap Nino dengan agak
terkejut.
"I-itu mah celotehan sewaktu
kecil…… jangan dianggap serius."
"Aku tahu toko kue yang enak
lho."
Mendengar kata-kata Itsuki, bahu
Nino mendadak gemetar. Bicara soal rajanya kue, tentu saja Paris di Prancis……
"Mille-feuille, eclair, Mont
Blanc~"
Fuutarou versi pelayan pria
melangkah dengan ringan.
"Merci beaucoup~♪"
Nino dan Fuutarou bergandengan
tangan dan menari, tarian cinta mereka yang manis──
"Tidaaaaak~~~~~~!!"
Retakan menjalar di dalam
imajinasi yang aneh itu, "Uwek……" Nino mual di sudut ruangan.
Terlepas dari hal itu, mereka
berempat sama sekali tidak tahu kerasnya dunia kerja. Fuutarou bersedekap
dengan raut wajah rumit.
"Aku juga sudah
berpengalaman di berbagai pekerjaan paruh waktu, tapi tidak ada satu pun yang
bisa dijalankan dengan perasaan setengah-setengah……"
Pelayan restoran keluarga,
pencuci piring di kedai minum (Izakaya), mengantar pizza dengan sepeda
motor. Alasan semuanya berhubungan dengan makanan dan minuman, tentu saja demi
mendapatkan makanan gratis (makanai). Mataku terbelalak lebar.
"Jangan meremehkan
pekerjaan! Saat ini yang terpenting adalah belajar, kan!!"
"Nn…… nn~~"
Ichika yang tertidur lelap
bergerak-gerak, lalu mendadak menyingsingkan baju kaus trainer-nya ke
atas.
Punggung putihnya terekspos
jelas. Fuutarou terperanjat kaget.
"Fuutarou!"
Miku memaksa memalingkan wajah
Fuutarou ke arah lain dengan kekuatan seperti hendak mematahkan lehernya.
"Ichika! Jangan melepas
pakaian saat tidur!" Itsuki berteriak marah.
"Jangan lihat, dasar
mesum!!" Nino menatap Fuutarou dengan tajam.
"Aku!?" Musibah
kena getahnya macam apa ini!
Pada akhirnya, aku diusir keluar
dari rumah dan pintu tertutup rapat.
***
"……Pekerjaan ini…… terlalu
kuremehkan ya……"
Fuutarou mengulas senyum pasrah,
lalu menatap langit awal tahun baru yang mulai senja.
***
Beberapa hari kemudian di siang
hari──
Itsuki duduk di kotatsu,
mengoperasikan ponsel pintarnya dengan raut wajah serius. Meskipun ditolak oleh
Fuutarou, dia tidak bisa terus-menerus bergantung hanya pada Ichika.
Saat mencari pekerjaan paruh
waktu sebagai tutor privat di aplikasi lowongan kerja, layarnya mendadak
berganti ke tampilan panggilan masuk. Dia mengangkat telepon dengan raut wajah
tegang.
"Sudah lama tidak menyapa
ya, Itsuki-kun."
"Ayah……"
Tangan Itsuki yang memegang
ponsel pintar terkepal makin kuat.
***
"Bagaimana, pai buatanku! Mirip sekali dengan buatan Manajer,
kan!"
Di dapur toko kue,
Fuutarou mengeluarkan pai apel yang baru matang dari oven.
"Naikkan peringkatku
dan naikkan gajiku dong!"
Kepada Fuutarou yang
penuh percaya diri, manajer mengambil sepotong pai lalu menyodorkannya,
"Coba kamu makan." Fuutarou yang menggigit seteguk dari tangan manajer,
hampir muntah karena rasanya yang sangat tidak enak.
"Uwek…… rasanya agak
mentah…… Yang begini aku tidak bisa mengejek Miku lagi nih……"
"Buat bisa masuk dapur masih
sangat jauh ya. Ah, benar juga. Uesugi-kun, kamu sudah boleh pulang kok."
"Eh!? Jangan-jangan……
dipecat!?"
"Soalnya hari ini libur dari
siang. Tokonya akan dipinjamkan buat lokasi syuting film."
"Bicara dong dari
awal……"
Tepat saat itu, pintu terbuka dan
staf syuting memunculkan wajahnya.
"Permisi~! Hari ini mohon
bantuannya ya!"
"Kalau filmnya sukses,
tempat ini pasti akan diserbu oleh para penggemar sebagai tempat suci (Seichi).
Pokoknya, tancapkan tusukan (pick) bertuliskan nama toko pada pai yang
dipakai buat syuting ya……"
Secara aktif dan santai, Manajer
sibuk menancapkan tusukan kecil pada pai apel.
(Semangat pantang
menyerah yang patut ditiru……)
Saat Fuutarou
memperhatikan dengan wajah serius, gadis-gadis berbusana seragam sekolah yang
tampak berperan sebagai siswi SMA masuk. Fuutarou tidak mengenal satu pun dari
mereka, tapi menurut cerita Manajer, mereka adalah idola muda yang sedang naik
daun saat ini.
"Waa, kelihatannya
enak~♪"
"Mohon bantuannya ya~♪"
Semuanya memancarkan aura
selebritas yang berkilau tanpa terkecuali.
"P-permisi……"
Bagi orang ansos (Inkya),
ini terlalu menyilaukan hingga bisa membuat mata sakit. Pas sekali. Ayo cepat
selesaikan dan pergi ke rumah anak-anak itu. Ini kesempatan buat mengganti
ketertinggalan Ichika yang kemarin.
Sambil memikirkan hal itu, saat
Fuutarou keluar dari dapur, bel pintu berbunyi dan pintu terbuka.
"Mohon bantuannya
ya~~~……"
Yang masuk adalah, tak
disangka-sangka, aktris yang sangat-sangat dikenal oleh Fuutarou.
"Ah!?"
Wajah Ichika yang mengenakan
jaket bulu (down jacket) di atas seragam sekolah untuk syutingnya,
merona merah padam.
***
"Adegam 37 bagian 4, action!"
Papan klip (clapperboard)
berbunyi, dan syuting dimulai dengan suara sutradara yang memberi tanda dimulainya
akting.
Dimulai dari adegan di mana
Ichika dan tiga orang lainnya duduk di meja dalam toko.
"Toko kue di sini, aku ingin
coba datang sekali saja tahu~~~"
Ichika mengikat rambutnya menjadi
dua di bagian atas, menempelkan jari telunjuknya ke pipi sambil memiringkan
kepalanya sedikit. Tamako, seorang siswi SMA yang kelihatan sangat bodoh,
berperan sebagai figuran; sepertinya itu adalah peran milik Ichika.
"Tamako! Ini bukan waktunya
bicara begitu, tahu."
"E~, membicarakan apa
sih~?"
"Itu, balasan (reply)
kutukan lho."
"Katanya kalau dikirim bisa
meninggal……"
"Emm…… Tamako merasa ini
terlalu sulit dan tidak begitu paham. Daripada itu, ayo makan kuenya~."
Aku yang menonton dari
balik para staf syuting, terpana linglung melihat akting Ichika. Ini sudah bukan sekadar beda suasana lagi.
Jelas-jelas ini murni kesalahan pembagian peran (casting).
"Ufufufu……"
Sambil melanjutkan aktingnya,
Ichika melirik sekilas ke arahku. Meskipun mencoba untuk tidak memikirkannya,
di momen yang tak terduga, kepribadian aslinya mendadak muncul sedikit.
Setelah gilirannya selesai untuk
sementara, Ichika menarikku masuk ke area belakang (backstage).
"Ada apa, Tamako-chan."
"Fuutarou-kun…… karena itu
memalukan, bisa tidak jangan melihatku?"
Sambil melakukan kabedon,
dia mengarahkan wajahnya yang dipenuhi rasa malu padaku.
"Jangan ambil peran
yang bikin malu begitu dong."
Bagi diriku, aku tidak
paham apa artinya melakukan pekerjaan sebagai aktris sampai mengganggu
kehidupan pribadinya.
"……Meskipun aku
berpura-pura di depan semuanya, tapi sebenarnya tabunganku sudah sangat menipis,
tahu."
Sambil tersenyum getir,
Ichika menurunkan tangannya dari dinding dan menunduk.
"Ya ampun, biaya
makan, biaya listrik dan air, ternyata memakan biaya lebih besar dari
bayanganku. Makanya, aku
memutuskan untuk mengambil pekerjaan apa saja sekecil apa pun itu. Demi
anak-anak itu juga, aku harus berjuang keras."
Tekad Ichika sebagai anak sulung
terasa tersampaikan padaku.
"Makanya walaupun kamu
menghentikanku……" ujarnya ragu-ragu dan merasa bersalah.
"Aku tidak berniat
menyangkal usahamu itu kok."
Mendengar kata-kataku
yang tak disangka-sangka, Ichika yang sedang menunduk langsung tersentak.
Aku memalingkan mata dari
Ichika, namun hatiku terus berbicara padanya secara sungguh-sungguh.
"Lagipula, aku berterima
kasih padamu karena sudah membuatkan kesempatan bagiku untuk terus menjadi
tutor privat kalian. Tapi kalau kamu, kamu pasti bisa melakukannya secara lebih
luwes, kan. Tidak perlu terlalu terikat pada pekerjaan aktris yang hasilnya
sedikit tapi menyita banyak waktu, kan?"
Tepat saat Ichika mendongak
hendak menyanggah, "Nakano-san, persiapan syuting sudah selesai."
suara staf terdengar. Ichika mengubah mode hati dan wajahnya kembali ke mode
kerja, lalu berlari kecil kembali ke lokasi.
Ichika yang melahap pai apel ke
dalam mulutnya, memejamkan mata dengan terpesona.
"Emm~♪ Enak sekali~♪"
"Sip cut! Bagus
sekali~!" suara sutradara terdengar.
"Yang tadi sudah bagus, tapi
coba kita ambil satu pola lagi ya."
"Baik!"
Aku bersembunyi di balik pot
tanaman hias, mengamati Ichika yang sedang berakting dengan mata tajam.
(Gaya sok imutnya itu, ingin
rasanya kuperlihatkan pada anak-anak itu……)
Di saat itu, staf syuting yang
membawa piring pai apel lewat di dekatku.
"Pai yang ini, izinkan kami
menggunakannya untuk take satu kali lagi ya."
Sambil pandanganku tetap terpaku
pada Ichika, "Silakan." jawabku asal-asalan.
Piring yang berisi sisa makanan
diturunkan, dan piring pai apel yang baru ditaruh di hadapan Ichika.
(……Nn? Tusukannya tidak
tertancap……)
Wajahku seketika pucat pasi.
──Itu pai apel buatan gagal
milikku! Tepat saat aku menyadarinya, suara "Ayo action!"
melayang.
Tanpa tahu apa-apa, Ichika
memasukkan pai apel buatan milikku yang sangat berbahaya itu ke dalam mulutnya,
mengunyahnya, lalu menelannya glek. Saat aku menahan napas
memperhatikan,
"Emmmm~♪ Enak
sekali~~~~♪"
Ichika menangkupkan kedua-dua
pipinya dengan tangan, memancarkan senyuman yang merekah cerah.
"Bagus sekali! Luar
biasa!"
Hebat banget…… Tanpa sempat mengedipkan mata, aku menatap
senyuman menyilaukan milik Ichika.
***
Ichika yang masih mengenakan
pakaian Tamako, duduk di bangku area tunggu sambil belajar dengan tekun.
"Soal nomor lima salah tuh."
Aku yang sudah bersiap-siap untuk pulang menyapanya, membuat Ichika akhirnya
mendongakkan wajah dari buku catatannya.
"Ah…… Haha, ketahuan ya."
"Tidak perlu disembunyikan, kan."
Sambil berkata begitu, aku menaruh tas punggungku dan duduk di samping
Ichika.
"Hal seperti ini kan kelihatan keren kalau dikerjakan di balik layar,
tahu."
Ichika menaruh buku catatannya di atas bangku. Di bawahnya, naskah skenario
dengan nama Ichika tertulis di atasnya terlihat.
"Skenarionya tidak apa-apa?"
"Iya. Yang itu sudah kuhafal sampai akhir kok."
"Kenapa kemampuan itu tidak
bisa kamu pakai buat belajar juga ya……"
"Ahaha…… soalnya aku mati
dikutuk di awal-awal cerita, jadi kemunculanku sedikit."
Ichika mengarahkan tangannya untuk
menggaruk kepala. Katanya, cara matinya sangat tragis dengan luka kutukan yang
bermunculan di seluruh tubuh.
"Kamu sering mati ya
dalam peran."
"Ah, benar juga……
kue di toko ini tidak apa-apa?"
Ichika berbisik pelan ke
telingaku dengan raut cemas.
"Paling halus
bilangnya rasa yang unik…… kalau
kasar bilangnya sih rasanya mirip seperti masakan buatan Miku……"
"Kalau yang itu, maaf ya……
Tapi kamu sangat membantuku. Dusta yang luar biasa, aku sampai dibuat
terkejut."
"Duh! Bilang akting
dong!"
"Tapi, aku terkejut
itu memang benar kok. Gimana
ya bilangnya, ya…… k-kamu sudah makin kelihatan seperti aktris…"
Aku sepertinya sama sekali tidak
memahami kesungguhan Ichika.
Aku jadi tidak bisa menyuruhnya
untuk berganti pekerjaan lagi…… Aku melirik Ichika dari sudut mata.
"Lho, malah tidur!"
Ichika tertidur pulas dengan
posisi tubuh membungkuk ke depan yang cukup ekstrem.
"Bahaya nih, hampir saja aku
mengucapkan hal yang manis……"
Sambil bergumam, aku menaruh
tangan di bahu Ichika, lalu menyandarkan kepalanya ke bahuku.
"Tapi, hebat juga kamu bisa
melakukannya tanpa rasa malu di hadapan orang sebanyak itu. Beneran deh, ingin
kuperlihatkan pada anak-anak itu."
Teringat akting sok imut Ichika,
aku menyeringai, lalu bergumam pelan:
"Terima kasih atas kerja
kerasmu…… Ichika."
Bulu mata Ichika bergerak pikuri,
dan matanya yang terpejam perlahan terbuka sedikit.
(……Sampai di saat seperti ini
pun aku berakting…… Kalau begini, aku benar-benar pembohong ya……)
Deg-deg──detak jantung di dada terasa
semakin kencang dan kuat.
(Tapi…… wajah seperti ini
tidak boleh kuperlihatkan padanya…)
Karena aku seorang aktris, aku
tahu seperti apa wajahku saat ini. Wajah seorang gadis yang sedang jatuh cinta,
yang merona merah padam tak kalah dari sinar matahari senja──.
***
"Ugh!? Berat banget……!"
Aku yang memeluk karung beras,
lututku hampir menekuk karena beratnya yang luar biasa.
"Tenanglah……! Secara
mekanika…! Yang paling efisien……! Adalah……!"
Meskipun mencoba memikulnya di
bahu, otot-ototku gemetaran karena tidak terbiasa melakukan kerja fisik.
"Tidak kuat~~~~!!"
Saat aku menurunkan karung beras
itu dengan lemas, dari sampingku Yotsuba memungutnya dengan satu tangan dengan
sangat ringan, "Biar aku yang bawa ya." Tidak punya uang, tidak punya
tenaga, dan bukan pria tampan pula, Tuhan sungguh sangat tidak adil.
"Dua orang pembawa barang, cepatlah sedikit."
Nino yang berjalan di
depan sambil mendorong troli belanja menoleh.
"Apa-apaan sih, kupikir
dipanggil buat apa jam segini……"
Di sini adalah area penjualan
bahan makanan di pusat perbelanjaan yang ada di gedung stasiun.
"Hari ini hari obral, tahu.
Kalau cuma segitu, bawa sendiri, dong."
"Kalau begitu, kamu saja
yang bawa."
"Ah, benar juga. Aku
dititipi oleh Miku."
Nino menghentikan langkahnya di
area makanan ringan, lalu menumpuk cokelat batangan secara beruntun ke dalam
keranjang.
"Banyak banget makan
cokelatnya……" Membayangkannya saja sudah bikin mual.
"Kamu ini, padahal pintar,
tapi tidak peka banget."
Nino menatapku dengan heran.
Yotsuba tertawa, "Padahal masih bulan Januari, tapi sudah buru-buru banget
ya~." Namun, meskipun begitu, bagi diriku yang sangat tidak peka soal
percintaan duniawi, aku sama sekali tidak paham apa maksudnya.
"Ayo, kita jalan." Nino
mulai melangkah.
"Ah, Nino. Boleh minta waktu
sebentar?"
Begitu mengucapkannya, Yotsuba
menyerahkan karung beras itu ke tangan Nino, lalu mulai membetulkan tali
sepatunya yang terlepas.
"T-tunggu……! ……Hei!
B-berat banget!"
Pijakan kakinya yang
memakai sepatu hak tinggi menjadi oleng, dan tepat saat Nino hampir jatuh ke
depan bersama karung beras itu, aku dengan cepat mengulurkan tangan untuk menangkap
karung beras tersebut.
"Makanya kan sudah
kukatakan. Pegang yang kuat dong."
Ditatap olehku, jantung
Nino melompat.
(Belakangan ini aneh
deh……)
Wajah terasa panas, dan
detak jantung tidak mau berhenti berdebar kencang.
(Apa aku masih belum bisa
sepenuhnya melupakan Kintarou-kun ya…… kalau tidak, ini aneh banget.)
***
Selesai berbelanja dan berjalan
di area concourse stasiun, Nino mencuri pandang ke arahku yang berjalan
di sampingnya.
(Benar…… Orang ini
menjadi pangeranku itu jelas-jelas tidak mungkin banget!)
Mana ada pangeran hamba
uang yang matanya kadang seperti mata ikan mati, dan kuda putih yang dinaikinya
pun pasti jelek──Menyadari pandangan Nino yang dipenuhi prasangka dan sudut
pandang pribadi itu, aku bertanya dengan heran, "Ada apa?"
"Bukan
apa-apa!"
Tepat saat Nino berpaling
ke arah lain, Yotsuba yang berjalan di sisi sebelahku menghentikan langkahnya.
"Nino, itu
kan……"
Di dalam kafe yang
ditunjuk oleh pandangannya, Itsuki dan seorang pria berjas gelap──ayah dari si
kembar lima—sedang duduk berhadapan.
***
"Maaf. Tolong beri aku semua
jenis roti lapis (sandwich)."
Maruo menghentikan pelayan toko
dan memesan. Tentu saja itu untuk Itsuki.
"Aah, tidak perlu repot-repot!"
"Kamu tidak mau?"
"……A-aku makan kok."
Setelah sempat kehabisan kata-kata sejenak, Itsuki menjawab sambil menatap dari
bawah.
"Anak pintar. Itsuki-kun
memang penurut dan mudah mengerti. Kecerdasan itu menurutku merujuk pada
hal-hal seperti itu."
Itsuki menyeruput caramel
macchiato yang penuh krim segar dengan rasa malu.
"Ternyata benar-benar
Papa……"
"Kenapa Itsuki bisa……"
Nino, Yotsuba, dan aku
bersembunyi di balik bayangan papan nama toko, mengamati situasi di dalam.
(Tidak salah lagi…… waktu itu,
yang di rumah sakit……)
Aku kehabisan kata-kata. Itu
adalah dokter yang merawatku saat aku dirawat di rumah sakit.
(Orang itu, ayah dari
anak-anak ini……!)
Setelah menghabiskan tiga
piring roti lapis dan meminum habis minumannya, Itsuki mengusap mulutnya dengan
serbet dengan puas, lalu Maruo membuka mulutnya perlahan.
"Nah, Itsuki-kun…… Aku akan
menutup mata terhadap apa yang telah kalian lakukan. Segeralah pulang bersama
semuanya. Tolong sampaikan hal ini pada semua saudaramu."
Dia memberikan tatapan menekan
yang tak menerima bantahan.
"Apakah itu juga termasuk
dirinya?"
"Maksudmu Uesugi-kun? Ini
adalah pembahasan keluarga kita. Dia bagaimanapun juga adalah orang luar……
Lagipula, kalau boleh jujur…… aku membencinya."
──S-sangat tidak dewasa!!
Wajah Itsuki tegang.
Nino, Yotsuba, dan aku diam-diam
masuk ke dalam toko, mengambil posisi di meja konter dekat meja Itsuki dan
memasang telinga untuk mendengarkan.
"Kamu, sudah melakukan apa
pada Papa…"
Sama seperti Itsuki yang
menganggapnya tidak dewasa, Nino berbisik pelan padaku yang duduk di tengah.
"M-mana aku tahu…… aku tidak
merasa melakukan apa-apa tuh…"
Bahwa aku pernah menceramahinya
dan berteriak memanggilnya bodoh, tidak akan pernah kuucapkan sampai mulutku
robek sekalipun.
Di meja, Itsuki menundukkan
kepalanya, mengepalkan tangannya erat-erat di atas lutut.
"Kami belum bisa pulang……
Bagi kami, dia sudah terlalu terlibat untuk disebut sebagai orang luar……"
"Kalau begitu begini saja.
Aku akan mencabut larangan masuk bagi Uesugi-kun, dan membiarkannya melanjutkan
menjadi tutor privat kalian."
Aku di meja konter
tersentak dan melihat ke arah Maruo dari balik bahu.
"Tapi, dengan sistem
dua orang bersama tutor privat profesional…… Uesugi-kun akan dialihkan menjadi
pendukungnya."
"Tapi, semuanya sedang
berusaha keras dalam situasi seperti ini……"
"Pada dasarnya, kalau
membiarkan Uesugi-kun tetap menjadi tutor privat dalam situasi saat ini…… apa kamu
berpikir Yotsuba-kun bisa terhindar dari nilai merah?"
Pita telinga kelinci di meja
konter bergoyang pelan.
Itsuki tidak bisa membalas
apa-apa dan menundukkan kepalanya.
"Melihat nilai semester dua
kalian, jujur saja, aku tidak berpikir dia sanggup melakukannya."
Refleks aku hendak
berdiri, namun tangan Nino menumpuk di atas tanganku dan menghentikanku.
"Jangan. Kalau kamu ke sana,
situasinya malah makin buruk, tahu."
"Tapi……" ujarku sambil
melihat ke sebelah kananku. Sosok Yotsuba yang harusnya ada di sana sudah tidak
ada.
Sambil mempertimbangkan usulan
Maruo, Itsuki mencari kata-kata dengan hati-hati.
"I-iya ya…… Sistem dua orang
memang lebih menjamin sih……"
"Kami bisa!"
Suara yang mantap bergema di
sekitarnya.
"Yotsuba……"
Tepat di belakang Itsuki,
Yotsuba berdiri berhadapan dengan Nakano Maruo.
"Kami bersama Uesugi-san
pasti bisa! Kami ingin mencapainya berenam. Makanya, tolong percayalah pada
kami. Kami tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi!"
"Lalu, kalau kalian
gagal?"
Dengan cepat dibalas, Yotsuba
kehabisan kata-kata.
"Aku tidak bisa
mengatakannya dengan suara keras, tapi aku sudah berbicara dengan kenalanku
yang menjadi pengurus di sebuah SMA agar kalian bisa pindah sekolah saat kelas
tiga nanti. Kalau kalian gagal di ujian berikutnya, kalian harus pindah ke sekolah
itu. Kalau kalian tetap ingin melakukan sesuka hati kalian, sisanya adalah
tanggung jawab kalian sendiri. Kamu mengerti, kan?"
Maruo sama sekali tidak
bergeming. Tanpa kata-kata untuk membalas, Yotsuba menunduk lesu. Meskipun
berkat Ichika mereka bisa tinggal di apartemen, yang menanggung biaya sekolah
dan asuransi adalah ayah mereka, Maruo, dan mereka yang masih di bawah umur bahkan
tidak bisa membuat kontrak ponsel pintar sendiri.
"……Aku mengerti."
Menggantikan Yotsuba yang tidak
bisa menjawab, Itsuki berkata.
"Sudah kuduga kalau
Itsuki-kun pasti bisa mengerti. Kalau begitu, mari kita lanjutkan
pembahasannya……"
Tepat saat Maruo hendak
berdiri dengan puas.
"Tidak. Kalau kami
gagal, kami tidak keberatan dengan syarat pindah sekolah itu."
Itsuki berbicara, secara pelan
namun sangat tegas. Seketika, Yotsuba yang sempat salah paham mengira Itsuki
menurut pada Maruo, serta Nino dan aku di meja konter dibuat terpana linglung.
"Maaf ya, aku bukan
anak yang penurut, gampang mengerti, dan pintar."
Itsuki memiringkan
kepalanya sedikit, memperlihatkan senyuman campur pasrah.
"……Sepertinya,
mendengarkan keegoisan anak adalah tugas seorang orang tua. Dan, memarahi
keegoisan anak juga adalah tugas seorang orang tua──"
Maruo langsung berdiri
dari kursinya, "Tidak ada kesempatan berikutnya lagi." ujarnya dingin
dari balik bahu, lalu melangkah pergi.
Punggung sang ayah
tersebut dilepas pergi oleh Itsuki dan Yotsuba dengan raut wajah cemas tanpa
bergerak sedikit pun.


Post a Comment