NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Anime Gotoubun no Hanayome Novelize Volume 3 Chapter 6

Chapter 6

Ujian Terakhir


"Mereka sudah pergi, ya……"

Kepada Itsuki dan Yotsuba yang berdiri terdiam tanpa kata, aku berjalan mendekat.

"Uesugi-kun!? Kamu melihatnya?" Itsuki berdiri karena terkejut.

"Sesuai dugaan, ayah kalian kelihatan sangat tangguh ya."

"Benar. Apa yang dikatakan orang itu ada benarnya…… Tapi, dia hanya melihat dari sudut pandang kebenaran saja."

Nino pun ikut mendekat, melayangkan tatapan celaan ke arah ayahnya yang pergi.

"Tapi, sampai membawa-bawa urusan pindah sekolah begitu, tanggung jawabku jadi makin berat saja nih."

Aku menaruh tangan di leher seolah merasa pasrah.

"Maaf ya sudah membuatmu terseret dalam urusan keluarga kami……"

"Pindah sekolah…… aku tidak mau."

Itsuki dan Yotsuba terkulai lesu bagaikan balon yang kempis.

"Tapi, aku tidak peduli."

Seolah menerbangkan suasana suram itu, aku berujar dengan tegas.

"Urusan kalian, urusan keluarga, maupun syarat pindah sekolah itu, aku tidak peduli sama sekali."

Sambil mengepalkan tangan di depan dada, aku berujar dengan raut wajah penuh tekad yang kuat.

"Aku akan melakukan apa yang ingin kulakukan! Aku akan membuat kalian semua naik kelas! Dengan tangan kita sendiri, kita semua akan lulus bersama dengan senyuman! Cuma itu yang ada di dalam pikiranku!"

Tiga orang yang tadinya melamun terperanjat, mendadak tertawa pelan secara bersamaan. Itu baru namanya Fuutarou.

"……Sangat bisa diandalkan ya." Itsuki berujar dengan gembira.

***

Dua bulan kemudian, di awal bulan Maret. Si kembar lima masing-masing menyambut pagi hari ujian akhir semester.

(Ada janji dengan Ayah juga sih…… tapi demi impianku, pertama-tama kalau tidak lulus ujian ini dan naik kelas, maka semuanya tidak ada artinya.)

Bagi Itsuki saat ini, ada impian yang sama sekali tidak bisa dia serahkan.

(Yang kutuju dalam ujian ini bukan sekadar terhindar dari nilai merah saja. Aku tidak boleh kalah dari saudara-saudaraku yang lain…… Hari itu, aku sudah membulatkan tekad.)

Di dalam diri Miku, ada keputusan bulat yang tersimpan di dalam hatinya.

(Jangan memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Saat ini mari fokus untuk terhindar dari nilai merah saja.)

Ichika terus mengalami pergumulan di dalam hatinya.

(Tidak mungkin…… Ini tidak mungkin terjadi. Masa aku…… kepada orang itu……)

Nino sedang berada di tengah-tengah kebingungan hatinya.

(Sampai sekarang aku selalu gagal terus…… Dewa Belajar, tolong, kali ini saja pinjamkan kekuatanmu padaku.)

Kedua mata Yotsuba memancarkan cahaya yang lebih kuat daripada sebelumnya.

(Soalnya, kita semua kan sudah berjuang keras bersama-sama……!)

***

Waktu memutar kembali ke awal bulan Januari, di apartemen tempat tinggal si kembar lima──

"Ujian akhir semester tinggal dua bulan lagi. Kalian, hari ini kita mulai pelajarannya lagi ya!"

Di hadapan si kembar lima yang mengelilingi kotatsu, aku memproklamasikannya dengan kuat.

"Silakan lakukan! Dan tolong pastikan! Apa saja yang dibutuhkan untuk menembus ujian ini!"

Itsuki mendesak maju ke depan denganku.

"O-oh…… Syukurlah kalau kamu bersemangat. Pokoknya pelajaran! Targetnya menembus 30 poin……"

Sebelum selesai mengucapkannya, darah mimisan mengalir dari hidungku.

Itsuki berseru, "Wah!?" dan Yotsuba bergegas membawakanku kotak tisu.

"Kamu kenapa sih?" tanya Nino.

"Bukannya kamu habis melihat buku mesum, ya?" Ichika menyeringai.

Aku menyumbat hidungku dengan gulungan tisu, lalu menunjuk Miku yang berjalan mendekat dengan mataku.

"Ini gara-gara anak ini. Entah kenapa belakangan ini dia memaksaku makan cokelat terus……"

"Hari ini aku juga membawanya."

Di tangan Miku, menumpuk tiga buah cokelat komersial dengan jenis berbeda.

"Wah, kebetulan aku lagi ingin makan yang manis-manis nih."

Saat Nino mengulurkan tangannya, Miku dengan cepat membalikkan badannya.

"Aku tidak akan memberikannya kepada Nino."

"Haa? Jangan dimakan sendiri dong."

Saat Nino hendak menyampaikan keluhannya lebih lanjut, dia membisu.

"Belum mau kubagi, kok."

Mata yang berkaca-kaca. Senyuman yang tersipu malu. Wajah Miku yang seperti itu baru pertama kali dilihat oleh Nino seumur hidupnya.

Miku mendesakkan cokelat itu padaku, "Makan semuanya lalu beri tahu kesanmu ya."

"Hukuman jenis apa ini."

Ah, begitu ya…… Ichika akhirnya menyadari alasan kenapa Miku menjadi lebih agresif dari biasanya.

***

\Sret-sret-sret. Di dapur tengah malam, terdengar suara mengaduk mangkuk.

"Kamu masih bangun ya."

Dari kamar tidur, Ichika keluar sambil merapikan bagian dada kemeja yang dikenakannya di atas kulit telanjangnya.

"Ichika…… maaf ya sudah membangunkanmu."

Miku yang mengenakan celemek di atas pakaian tidurnya, sedang membuat cokelat.

"Bagaimana perkembangannya? Harusnya kamu sudah mulai memahami selera Fuutarou-kun, kan?"

Dengan menyuruhnya mencicipi cokelat untuk meriset rasa kesukaanku, demi menghadapi hari H tanggal 14 Februari nanti, Miku yang tidak jago memasak sedang melakukan latihan khusus dari sekarang.

"Ternyata kamu menyadarinya ya…… Karena aku kurang suka manis, aku jadi tidak terlalu paham…… makanya aku sedang membuat sampel percobaannya."

Saat Ichika memutar ke dapur dan mengintipnya, adonan cokelat cair yang kental membentuk gambar tengkorak di dasar mangkuk.

"Emm…… kok ada tanda tengkoraknya sih……"

"Ini tanda tengkorak versi yang tidak apa-apa kok."

"Versi yang tidak apa-apa itu maksudnya……" Ichika tersenyum getir.

"Bukannya lebih bagus pakai resep yang lebih simpel saja? Seperti melelehkan lalu membekukannya lagi."

Miku meredupkan wajahnya dan membisu. Kepada Fuutarou, dia ingin memberikan cokelat spesial yang penuh dengan perasaan dari lubuk hatinya──Padahal sebelumnya dia tidak pernah memedulikan Hari Valentine, tapi perasaan khas seorang gadis itu bisa dipahami oleh Ichika.

"Emm…… Kemampuan memasakku juga pas-pasan sih ya…… Ah, benar juga."

Sambil bertopang dagu di atas bak cuci piring dan berpikir, Ichika tersenyum manis pada Miku.

"Aku kenal seseorang yang jago memasak lho. Minta dia saja buat mengajarimu."

***

"Semester tiga baru berjalan seminggu…… Padahal ini hari Minggu yang berharga…… Tepat di saat seperti ini……"

Beberapa hari kemudian pada tanggal 14 Januari. Kepada empat orang dari lima saudara yang mengelilingi kotatsu, aku berujar dengan suara keras.

"Kenapa Itsuki tidak ada!? Padahal dia bilang 『Silakan lakukan! Dan tolong pastikan!』 kan!"

Melihatku yang memasang tanda bintang di kedua mata dan menirukan gayanya dengan buruk, Ichika dan Miku menenangkan diri, "Sudah-sudah……" "Tenanglah."

"Tapi sebenarnya dia pergi ke mana ya……"

Saat Yotsuba memiringkan kepalanya heran, Nino bergumam pelan.

"Dengar ya, Itsuki itu tuh…… Hari ini adalah 『hari itu』, tahu."

Ketegangan menjalar pada ketiga saudaranya. Tapi mana mungkin aku tahu istilah yang sensitif seperti itu.

"HA!? Apaan sih itu! Bicara yang jelas dong!"

"Dia bertanya secara blak-blakan……"

"Dia benar-benar menyandang nama tanpa kepekaan sepuasnya ya~…"

Miku dan Ichika heran. Yotsuba mencoba menjelaskan padaku secara ragu-ragu.

"Anu…… gimana ya bilangnya, ini sangat sulit diucapkan sih…"

"Apaan? Itu hal yang lebih penting dari ujian kan? Kalau ternyata bukan, tidak akan kumaafkan lho……"

Aku memberi tekanan gogogo pada Yotsuba. Yotsuba yang terdesak langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Uuh…… itu tuh…… buat anak perempuan……!"

"Bukan, itu mah murni hari peringatan kematian Ibu."

Menimpa ucapan Yotsuba, Nino berujar santai. Seketika aku membisu sejenak.

"……Bukan…… kalian kan punya ibu yang sama juga……"

"Ahaha…… tepatnya sih bukan hari ini. Ibu meninggal pada tanggal 14 Agustus."

Yotsuba berbicara seolah-olah sudah tahu dari awal.

"Berarti hari peringatan bulanan (Tsukimeinichi) ya."

"Yup. Anak itu sangat disiplin, setiap tanggal 14 selalu pergi berziarah ke makam." kata Nino.

"Disiplin ya……" ujarku, memotong kalimat dengan penuh arti.

Itsuki…… apa benar alasannya cuma sebatas itu saja?

***

Pada saat yang bersamaan, Itsuki sedang berada di sebuah pemakaman.

(Apakah aku bisa menjadi seperti Ibu ya……)

Saat memejamkan mata dan menangkupkan tangan di hadapan makam, sebuah suara terdengar, "Lho, jarang-jarang ada pengunjung mendahului nih."

Saat mendongakkan kepala, seorang wanita berkacamata yang mengenakan setelan jas hitam sambil membawa bunga persembahan berjalan mendekat.

"Anu…… salam kenal."

"Ugekk!? Ibu Guru……?"

Wanita yang wajahnya pucat seolah melihat hantu itu mengaku bernama Shimoda.

"Wahahaha! Maaf, maaf!"

***

Di toko kue tempatku bekerja paruh waktu, suara tawa yang begitu ceria dan tidak seperti wanita pada umumnya bergema luas.

"Soalnya kamu mirip sekali dengan Ibu Guru sampai-sampai aku salah kira. Kalau dipikir-pikir lagi, Ibu Guru kan sudah meninggal sejak lama!"

Itsuki yang duduk di seberang meja menatap wajah Shimoda dengan pandangan kosong.

"Aduh, tidak sopan ya bicara begitu di depan putrinya. Maafkan aku ya. Pertemuan kita di sini juga sudah seperti takdir. Sebagai balasan budi pada Ibu Guru, pesan makanan sesukamu!"

"S-sesukaku……"

Tak sanggup menahan godaan, Itsuki perlahan tertarik ke arah buku menu yang terbentang. Meskipun memiliki julukan monster bakpao, tentu saja dia sangat menyukai makanan manis. Sejak Hari Natal, dia sudah lama tidak makan kue.

Sambil mabuk dalam rasa bahagia melahap kue keduanya, Itsuki mendadak tersadar.

"Anu…… Shimoda-san ini dengan Ibu……"

"Aku mantan muridnya. Aku sudah tidak ingat berapa kali kena pukul tangan dari ibumu."

"Itu dia. Bolehkah beritahu aku Ibu itu sosok seperti apa?"

Itsuki menaruh garpunya sejenak, memohon dengan raut wajah serius.

"Kamu tidak ingat? Lima tahun lalu kan kamu sudah lumayan besar?"

"Iya, benar sih…… Tapi aku cuma tahu sosok Ibu saat di rumah saja…… Aku ingin tahu pekerjaan seperti apa yang dilakukan Ibu sebagai seorang guru."

Tatapannya lurus menuntut. Shimoda lalu mulai bercerita dengan pandangan mata yang menatap jauh.

"……Ibumu itu ya…… tidak ramah, dan tidak pernah merayu murid-muridnya. Aku tidak pernah sekalipun melihat orang itu tersenyum di sekolah."

Sedikit-banyak bisa membayangkannya, Itsuki tersenyum getir.

"Ahaha…… pasti murid-murid sangat takut padanya ya."

"Tidak, justru kebalikannya tahu……" Shimoda memasang raut wajah penuh rasa hormat.

"Sebesar apa pun ketakutannya, se-topeng besi apa pun dia, dia tetap dimaafkan. Dia tetap dicintai. Ibumu itu sampai sejauh itu──sangat-sangat cantik."

"Sangat cantik……"

Meskipun membicarakan ibunya sendiri, Itsuki merasa malu dan melahap kuenya.

"Bahkan sampai ada klub penggemarnya (fanclub) lho. Anak laki-laki di sekolah semuanya dibuat berlutut terpesona."

Ketua klub penggemarnya adalah murid teladan yang menjabat sebagai ketua OSIS saat itu.

"Berlutut terpesona ya……"

Katanya, di belakang ibunya yang berjalan di koridor, murid-murid laki-laki berbondong-bondong mengikutinya dari belakang.

"Kamu juga mirip dengan Ibumu, jadi pasti bisa, kan?" Shimoda menyeringai menatap Itsuki.

"W-mana mungkin aku seperti itu!"

"Pokoknya, kecantikannya sampai membuatku yang sesama wanita pun jatuh cinta."

Shimoda kembali menatap jauh, mengenang masa-masa SMA-nya yang selalu berbuat nakal bersama teman-teman berandalannya.

"Mendapat pukulan tinju dari wajah tanpa ekspresi itu, kami para anak nakal sangat ketakutan setengah mati. Tapi, di dalam hal itu, kami merasakan ada semacam keyakinan dari Ibu Guru…… hingga tanpa disadari, kami jatuh cinta padanya lebih dari sekadar penampilannya. Pada akhirnya, selama satu tahun, kenangan yang kupunya cuma kenangan dimarahi saja…… Tapi kalau tidak ada satu tahun itu…… aku tidak akan pernah mengagumi sosok guru dan tidak akan pernah menjadi pengajar bimbingan belajar (juku) seperti sekarang."

Senyuman Shimoda yang tampak bangga itu menyentuh hati Itsuki. Pertemuan tak terduga dengan mantan murid ibunya, Shimoda, di hadapan makam sang ibu terasa seperti sebuah takdir.

"Mendengar cerita dari Shimoda-san, aku jadi mantap."

Sambil berkata begitu, dia mengeluarkan lembaran 『Survei Pilihan Jalur Karier』 dari dalam tasnya.

"Kalau aku bisa menjadi seperti Shimoda-san…… menjadi seperti Ibu, memang tidak ada pilihan lain selain ini buatku."

Tepat saat ujung pensil mekaniknya hendak menulis tanpa ragu, Shimoda menghentikannya dengan mengetuk garpunya.

"Tunggu sebentar."

"Eh……"

"Mengagumi ibu sendiri itu bagus. Berusaha menjadi seperti orang yang dikagumi juga sama sekali bukan hal yang buruk. Aku pun begitu kok. Tapi, bukankah kamu cuma sekadar ingin menjadi seperti ibumu saja?"

Teguran Shimoda tidak bisa disangkal oleh Itsuki. Nino juga pernah mengatakan hal yang mirip kepadanya dulu.

"Kalau cuma sekadar ingin menjadi seperti dia, masih ada cara lain. Walaupun ya, tidak ada seorang pun yang punya hak untuk mencampuri impian orang lain. Silakan saja kamu tuju. Asalkan kamu punya alasan untuk menjadi seorang guru."

"Aku……"

Kalimat berikutnya tidak berlanjut. Itsuki yang sekarang masih belum mampu menemukan jawaban yang bisa dia ucapkan dengan membusungkan dada secara bangga.

***

Dari objek hitam yang hancur berantakan, asap berbentuk tanda tengkorak membumbung naik puf.

"Emm……"

Saat Miku sedang mengerang kebingungan, pintu depan terbuka, dan Nino yang mengenakan seragam sekolah pulang.

"Lho? Kamu sedang apa sendirian?"

"Nino…… bukannya hari ini ada kelompok belajar di sekolah…"

"Aku dipanggil oleh Ichika, makanya pulang."

"Eh…… Orang yang dimaksud Ichika itu……" Miku merengutkan wajahnya.

Dari celah tirai jendela ruang tamu yang menghadap ke koridor luar, Ichika sedang mengintip ke dalam secara diam-diam.

(Miku, semangat! Dengan begini kamu bisa memberikan cokelat Valentine-mu dengan aman ya.)

Sambil memegang kisi-kisi jendela dan berlutut, Ichika perlahan menurunkan wajahnya dari jendela.

"Fufu…… seberapa tidak pekanya pun Fuutarou-kun, dia pasti akan kaget ya……"

Mengepulkan senyuman merendahkan diri, kali ini helaan napas muram yang keluar dari mulutnya.

"Haah…… Kenapa aku malah jadi menyukainya sih……"

"Kamu kenapa…… tidak apa-apa?"

Orang yang bersangkutan, Fuutarou, mendadak menaiki tangga.

"Fuutarou-kun!? K-kenapa bisa……"

Ichika tentu saja dibuat panik. Saat membalikkan badan dan berdiri, punggung tangannya berbenturan keras dengan kisi-kisi jendela.

Di dapur, Miku dan Nino terperanjat mendengar suara itu, "Apaan tuh tadi……" mereka saling berpegangan tangan.

Melihat Ichika yang membungkuk kesakitan memegangi punggung tangannya, Fuutarou mendekat, "Sedang apa sih kamu."

Jika dia masuk ke dalam ruangan sekarang, perjuangan Miku akan sia-sia begitu saja.

Sambil memikirkan dua orang di dalam, Ichika berdiri, "K-kenapa kamu ke sini?"

"Yotsuba bilang buku referensinya ketinggalan di rumah, jadi aku datang mengambilkannya."

"A, a-ah! Yang itu sepertinya kemarin sudah kubuang deh. Sekarang aku mau pergi membelinya. Ayo ikut denganku!"

Memberikan alasan yang dipaksakan, Ichika mendorong kuat punggung Fuutarou dan pergi meninggalkan apartemen.

***

Di dapur, Nino mengkritik habis-habisan cokelat buatan tangan Miku.

"Apa-apaan ini? Kelihatannya tidak enak dan berantakan banget. Siapa coba yang akan senang dikasih barang begini. Kamu itu sudah tidak tahu rasa, tidak jago pula, kena pukulan ganda. Mendingan duduk manis dan beli cokelat komersial saja sana."

Mengejek sambil tertawa, Nino mencuri pandang melihat reaksi Miku.

"Berisik!"

Sambil membusungkan pipinya, Miku mengepalkan tangannya erat-erat. Nino mengira dia akan membalas ucapannya seperti biasa, tapi──

"Berisik……"

Matanya dipenuhi air mata yang meluap, dan suaranya keluar begitu pelan, hampir menghilang!

"Hii……!"

Menyadari dirinya sudah bicara terlalu keterlaluan, wajah Nino seketika pucat pasi.

"T-tapi kan orang bilang memasak itu yang penting ketulusan hati, jadi buatan tangan itu ada artinya kok. Lagipula, yang agak kurang rapi begini malah ada kesan imutnya, dan yang ini kelihatannya seperti serangga, lucu kok."

Dengan pembicaraan yang sangat cepat, Nino memberikan bantuan balasan yang sebenarnya sama sekali tidak membantu.

"Belakangan ini Fuutarou tidak mau memakan masakanku…… Aku tahu alasannya…… Aku juga tahu kalau aku tidak jago…… Tapi aku ingin membuatnya…… Cokelat yang membuat orang ingin memakannya tanpa sadar……"

Semangat dari mana yang tersimpan di dalam diri Miku ini…… Kepada Nino yang kehabisan kata-kata, Miku membungkukkan kepalanya dalam-dalam.

"Tolong ajari aku. Mohon bantuannya."

"…………"

Nino berbalik menghadap cokelat buatan Miku di atas meja dapur.

"Minyaknya terpisah tuh. Suhu airnya terlalu tinggi, ya. Lagipula kamu pakai krim segar yang masih dingin, kan? Sensasi di lidahnya akan buruk banget…… Sungguh, merepotkan sekali."

Kepada Miku yang mendengarkan sambil menunduk lesu, Nino berseru, "Bersiaplah."

Miku mendongakkan kepalanya terkejut, lalu mengulas senyuman gembira.

"……Ehm!"

Menjawab dengan penuh semangat, dia berdiri berjejer di samping Nino lalu mengambil mangkuk dan pengocok adonan.

Melihat Miku yang seperti itu, Nino tertawa pelan.

"Sungguh…… kepribadian yang merepotkan ya."

***

Di sisi lain, Ichika dan Fuutarou tiba di area buku referensi di sebuah toko buku besar.

Fuutarou menarik keluar buku referensi yang ditujunya dari rak, "Oh, ada nih. Yang ini."

(Duh…… kenapa jadi begini sih……)

Memeriksa isi dompetnya yang sepi, Ichika tertawa campur menangis.

"Harganya lumayan mahal, kamu tidak apa-apa……?"

Fuutarou mendekat secara tiba-tiba, bertanya sambil menutupi mulutnya dengan buku referensi.

"E-emm…… tidak usah cemas. Kalau begitu aku beli dulu ya."

Merasa gugup oleh hembusan napas di dekat telinganya, Ichika mengambil buku referensi dari tangan Fuutarou.

"Lho? Buku yang itu apa?"

Saat dilihat, Fuutarou memegang satu buku lagi di tangannya.

"Bukan…… ini tidak usah……" ujar Fuutarou, menyembunyikannya di belakang punggung seolah menutupi sesuatu.

"Jangan-jangan beneran buku mesum……!"

Mata Ichika berbinar-binar. Dengan napas memburu, dia mengintip ke belakang punggung Fuutarou.

"H-hei……! Aku kan belum memutuskan mau membelinya atau tidak."

Bukan buku mesum sama sekali, buku yang dipegang Fuutarou berjudul 『Dasar-Dasar Menjadi Guru yang Baik』.

"Heeh~…… Kamu ingin jadi guru yang baik, ya?"

Ichika menyeringai, yang membuat wajah Fuutarou memerah, "B-berisik ah."

"Jangan malu-malu dong. Mumpung lagi di sini, sekalian kubelikan bersama buku referensi ya."

"Aku bisa beli sendiri, tahu."

Fuutarou yang bersikap tsundere berpaling ke arah lain kelihatan sangat imut, membuat Ichika makin ingin membelikannya.

"Tidak usah sungkan. Siapa tahu kali ini kalian benar-benar tidak lulus, kan."

"Nn? Kali ini?" Fuutarou terpana heran.

"Lho!? Apa aku belum mengatakannya……"

Ichika refleks menutup mulutnya, tapi sudah terlambat.

***

Selesai membayar, Ichika keluar dari toko buku sambil membawa kantong plastik berisi buku.

"Uuh, benar-benar mahal…… Padahal tabunganku sudah sangat mepet……"

Tapi, wajahnya mendadak tersenyum sendiri.

(Kalau dengan begini Fuutarou-kun bisa senang sih…… Eh, tidak tidak! Hubungan seperti ini salah tahu…… Kalau kita sampai berpacaran, bisa kubayangkan dengan mudah kalau aku yang akan memanjakannya dengan uang dan Fuutarou-kun jadi pria yang rusak. Makanya ayo menyerah. Yap, itu keputusan yang benar.)

Meskipun miskin, membayangkan hal yang tidak sopan pada seorang jenius peringkat satu di angkatan adalah imajinasi yang melenceng, namun Ichika meyakinkan dirinya sendiri sambil berjalan mendekati Fuutarou yang sudah keluar duluan dan menunggu di luar.

"Oh, sudah dibeli?"

Fuutarou yang bersandar di tiang sambil membaca buku kosakata mendongakkan wajahnya.

"Iya. Yang perlu dibeli sudah dibeli, ayo pergi."

Ichika menyerahkan kantong plastik pada Fuutarou. Fuutarou menyadari punggung tangan Ichika membengkak merah.

"Tanganmu kenapa?"

"Ah, tadi di apartemen. Tidak terlalu sakit kok, jadi tidak usah cemas……"

Fuu~n…… Fuutarou mulai melangkah seolah tidak tertarik, lalu menoleh pada Ichika dan menyeringai.

"Ternyata kamu memang ceroboh ya."

──Deg. Dada Ichika berdebar kencang terkena serangan mendadak.

Dari balik bahunya, Fuutarou hanya berujar, "Hati-hati dong." lalu melangkah pergi.

"Ehm……"

Ichika pun berjalan berjejer di samping Fuutarou, melangkah menuju langit senja yang terhiasi warna merah muda.

(Pasti, bagian yang seperti inilah alasannya ya……)

Tidak seperti pria lain yang memujanya hanya karena penampilan luar Ichika. Bagian dirinya yang diam-diam memberikan bahunya saat Ichika tertidur, bagian dirinya yang perhatian secara tersirat……

(Padahal aku tidak boleh makin menyukainya lebih dari ini……)

***

Awal bulan Februari. Fuutarou memegang buku kumpulan soal Bahasa Jepang sambil berpidato dengan penuh semangat.

"Dengar ya, perhatikan baik-baik. Di sini daripada menjawab perasaan penulis, kalian justru diminta menuliskan apa yang kalian rasakan sebagai pembaca……"

──Sialan, aku menemui jalan buntu……

Kupikir tidak ada respons sama sekali. Ternyata si kembar lima sudah dalam kondisi teler bagaikan petinju yang menyelesaikan 12 ronde. Meskipun Miku tetap memperlihatkan sikap ingin belajar,

"Emm, apa ya hal yang kurasakan……"

Dia malah berujar dengan gaya seperti itu. Aku sudah tahu momen ini akan datang suatu saat nanti, tapi inilah batas kemampuan Fuutarou yang tidak punya keahlian sebagai guru……

(Aku tidak tahu apa yang mereka tidak ketahui! Aku tidak tahu bagaimana cara mengajarinya! Perbedaan IQ sungguh sangat kejam!)

Sambil menggertakkan gigi menatap ke atas langit, Nino menatap Fuutarou dengan mata tajam.

"Aku tidak terlalu paham sih, tapi rasanya kamu sedang memikirkan hal yang sangat tidak sopan ya."

"……Lagipula, sebelum menyelesaikan soal, daya konsentrasi semuanya sudah mencapai batasnya lho."

Ichika memang cekatan dan cepat menyerap pelajaran, tapi tetap saja dia kelihatan sangat kelelahan karena harus membagi waktu dengan pekerjaannya.

"Soalnya setiap hari kita terus-terusan dipaksa belajar sih ya." kata Itsuki. Karena dia adalah tipe pekerja keras yang kurang cekatan, rasa lelahnya pasti berlipat ganda dari yang lain.

"A-aku masih sanggup kok!"

Yotsuba berlagak kuat, tapi meskipun staminanya ada, kalau otak utamanya tidak bekerja, maka tidak ada yang bisa dilakukan.

Namun, hasilnya sudah mulai terlihat. Demi memastikan mereka terhindar dari nilai merah, aku ingin memberi dorongan terakhir……

Fuutarou membuka-buka buku 『Dasar-Dasar Menjadi Guru yang Baik』, lalu matanya tertahan pada sebuah kalimat.

"『Terlalu memaksakan materi justru berdampak buruk』…… Terkadang gula-gula (hadiah) juga dibutuhkan ya……"

Seorang guru juga butuh keberanian untuk mengambil keputusan. Fuutarou mengacungkan jari telunjuknya dengan mantap, lalu memproklamirkan kepada si kembar lima.

"Mulai siang ini kita libur!"

***

"Berikutnya, mari kita naik yang itu!"

"Itsuki-chan…… tunggu sebentar……"

Itsuki yang ternyata sangat kuat menaiki wahana ekstrem padahal tidak kuat di wahana hantu, menarik kuat lengan Ichika yang terkulai lemas.

Tempat yang dituju Fuutarou bersama si kembar lima adalah sebuah taman bermain yang berjarak sekitar satu jam naik kereta.

Hari ini saja lupakan soal belajar, dan nikmatilah waktu bersenang-senang sepuasnya──Sesuai kata-kata Fuutarou, sepertinya semuanya sangat menikmati taman bermain yang baru pertama kali mereka kunjungi lagi sejak pernah diajak oleh ibu mereka dulu.

"Lho? Yotsuba ke mana ya?"

Sambil berjalan di dalam area, Nino menyadarinya. Tanpa disadari, hanya sosok Yotsuba yang tidak kelihatan.

Miku memeriksa pesan di ponsel pintarnya, lalu memberitahu, "Katanya perutnya sakit, jadi sedang ke toilet."

"Kenapa tidak bilang langsung sih……"

Fuutarou yang mendongakkan wajahnya secara santai berujar, "Kalau begitu aku juga mau ke toilet." lalu berlari kecil.

"Terserah deh. Kami jalan duluan ya."

Miku melirik Nino yang tanpa sadar matanya terus mengikuti punggung Fuutarou.

"……Apa?"

Nino yang menyadari pandangan Miku bertanya balik sambil memainkan rambutnya.

"……Bukan apa-apa." Miku berpaling ke arah lain.

Cinta adalah medan pertempuran. Meskipun saudara sendiri, mereka tidak boleh lengah sedikit pun.

***

"Eeeh!? Sebenarnya kalian mau berputar berapa kali sih."

Petugas bianglala (Ferris wheel) berujar dengan bingung ke dalam gondola.

Fuutarou berjalan melewati sampingnya sambil berujar, "Aku naik ya~."

"Eh! Di situ ada pelanggan lain yang……"

Mengabaikannya, aku naik ke dalam gondola dan duduk di kursi yang kosong.

"Boleh kan naik bareng?"

"S-silakan……"

Pelanggan yang ada di kursi seberang──Yotsuba, berujar dengan rasa serba salah.

Gondola yang dinaiki mereka berdua mulai bergerak naik.

"Emm…… padahal aku sudah bersembunyi dengan benar, kenapa bisa ketahuan ya…"

"Soalnya kelihatan jelas, tahu."

Saat mendongakkan kepala, pita telinga kelinci berwarna hijau yang bergoyang-goyang di jendela gondola terlihat jelas.

"Aah! Kepala tersembunyi, tapi pita tidak tersembunyi, ya!"

"Kamu belajar di sini?"

Di kursi sebelah Yotsuba, tergeletak buku pelajaran bahasa Jepang, buku catatan, dan alat tulis.

"Iya. Soalnya, staminaku lebih kuat daripada yang lain, jadi kupikir aku masih sanggup. Lagipula, sebenarnya aku adalah yang paling bodoh di antara saudara-saudaraku."

"Semua orang juga sudah tahu."

Justru kenapa kamu berpikir orang-orang tidak tahu? Dan raut wajah bangga apa itu?

"Hari ini istirahatlah. Padahal aku sudah menguras tabunganku untuk datang ke taman bermain ini lho."

"Tidak bisa. Uesugi-san tidak tahu seberapa bodohnya aku. Apakah kamu tahu alasan kenapa kami pindah sekolah?"

"Kemarin aku dengar dari Ichika kok. Katanya kalian hampir tidak lulus, kan……"

Agak canggung. Saat mengetahui hal itu, Fuutarou sendiri tidak bisa berkata apa-apa lagi.

"Ufufu…… Sekolah kami yang dulu itu adalah sekolah ternama. Kalau tidak lulus ujian lalu tidak naik kelas, itu bukan hal yang aneh. Dan tentu saja, kami tidak lulus."

"Tentu saja tidak lulus ya!"

"Kesempatan ujian susulan diberikan, dan kami semua mencoba untuk bangkit kembali."

Memiliki firasat buruk, Fuutarou menahan napasnya.

"Jangan-jangan…… cuma kamu sendiri yang tidak lulus?"

"Seperti dugaan Uesugi-san, kamu selalu menebak dengan benar, ya."

Yang tidak lulus hanyalah Yotsuba seorang. Tapi meskipun begitu, fakta bahwa mereka semua ikut pindah sekolah berarti……

"Semuanya ikut denganku. Tanpa memperlihatkan wajah kesal sedikit pun."

"Pelajaran soal pentingnya berada berlima waktu itu, ya?"

Sambil menatap Yotsuba yang menunduk lesu dan tampak menderita, Fuutarou berpikir. Hal itu merupakan penyelamat, namun di saat bersamaan menjadi beban yang sangat besar baginya.

"Makanya aku mohon. Biarkan aku belajar sedikit saja saat ini. Aku tidak mau menarik kaki mereka semua lagi."

Yotsuba membungkukkan kepalanya pada Fuutarou sampai hampir menempel di lututnya.

"Kan sudah kukatakan hari ini libur. Tapi, sisa setengah putaran ini… tidak ada yang dikerjakan ya. Mumpung senggang ayo kita lakukan. Pelajaran satu lawan satu (man-to-man)."

Yotsuba mendongakkan wajahnya, terkejut. Matanya berbinar-binar.

"I-iya!"

"Kesempatan bagus nih. Soal esai Bahasa Jepang yang tadi belum sempat kuajari, kali ini akan kubuat kamu paham!"

"Ah, kalau yang itu tidak usah." Yotsuba menolak secara santai. "Soalnya aku sudah bisa melakukannya dengan benar kok!"

Sempat kehilangan momentum, Fuutarou menunduk melihat buku catatan yang dibuka Yotsuba sambil tersenyum manis.

"Ternyata benar…… Padahal saudara-saudaramu yang lain sangat kesulitan setengah mati di bagian ini……"

Tepat saat gondola mencapai puncak tertinggi, sebuah pemikiran terlintas di kepala Fuutarou.

"Yotsuba!"

Secara mendadak, Fuutarou mencengkeram bahu Yotsuba dengan kuat.

"Nn-apa!? Jangan-jangan bukannya satu lawan satu (man-to-man), kamu malah mau mulut ke mulut (mouth-to-mouth)! Waktu tahun baru itu kan cuma kecelakaan……"

Teringat mitos ciuman di bianglala, Yotsuba menjadi sangat panik tak karuan. Namun, hal itu sama sekali tidak masuk ke telinga Fuutarou.

"Secarik titik terang mulai kelihatan! Ayah kalian memang benar. Kalau dengan sistem dua orang, kita mungkin bisa mengusahakannya."

"……Kalau bisa, tolong jelaskan secara mudah dipahami olehku yang bodoh ini…"

"Pelajaran Bahasa Jepang, kamu juga yang akan mengajar."

"Eh…… aku……? Mana mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin!"

Sempat tertegun sejenak, Yotsuba menggelengkan kepalanya keras-keras. Aku kembali ke kursiku dan melanjutkan.

"Bukan tidak mungkin. Aku sudah menyadari kalau masing-masing dari kalian bersaudara punya mata pelajaran keahlian. Kalau Miku IPS, kalau Itsuki IPA. Dan Yotsuba. Kamu ahli di pelajaran bahasa Jepang."

"Aku……"

"Tidak perlu melakukan hal yang spesial. Katakan saja apa adanya sesuai yang kamu rasakan, pasti akan tersampaikan. Kalau kamu bisa melakukannya, empat orang lainnya juga pasti bisa──kalian kan kembar lima."

Di dalam mata Yotsuba yang lupa mengedip, terbayang wajah Fuutarou yang dipenuhi rasa percaya diri.

Tepat saat itu, gondola mulai bergerak turun.

"……Apakah aku yang bodoh ini benar-benar bisa berguna untuk semuanya?"

"Maaf ya, aku adalah guru yang kurang berpengalaman. Mulai sekarang, semua orang adalah murid, dan semua orang adalah guru."

"Apakah ada hal yang bisa dilakukan olehku yang bodoh ini?"

"Benar. Itu adalah tugas yang hanya bisa dilakukan olehmu."

"Aku sudah bukan lagi orang yang cuma menarik kaki kalian semua, kan?"

"Iya. Kali ini…… kamulah yang akan menarik tangan mereka semua!"

Pada sekejap itu, sinar matahari senja yang miring menembus masuk ke dalam gondola dengan berkilauan.

"……Iya. Serahkan padaku! Aku akan membuat mereka berempat lulus!"

"Hei hei! Jangan lupa kalau kamu itu prioritas paling utama ya……"

Wajah Yotsuba yang tampak gembira hingga hampir menangis, terwarnai indah oleh warna matahari senja.

***

Dua belas Februari pagi-pagi sekali. Itsuki melangkahkan kakinya ke pemakaman, menangkupkan kedua tangannya di hadapan makam tempat ibunya bersemayam.

"Kamu benar-benar ada di sini setiap bulan, ya."

Saat Itsuki mendongakkan wajahnya, tanpa disadari, Fuutarou sudah ada di sampingnya.

"Kenapa kamu bisa ada di sini…"

Fuutarou pun mempersembahkan dupa, berdiri di depan makam yang berjejer di samping Itsuki.

"Gagasan semua orang menjadi tutor privat itu memberikan kecenderungan yang bagus, ya. Aku bisa merasakan sendiri bahwa ada hal-hal yang bisa dicerna lebih dalam dengan cara mengajar dibanding hanya sekadar diajari."

"Bentar, kamu mau bilang kalau aku tidak dibutuhkan lagi?" Kalau begitu sih, jujur saja, agak menyakitkan.

Itsuki tertawa pelan, lalu melayangkan pandangan mata yang dipenuhi rasa percaya.

"Aku sedang mengunyah hal-hal yang diajarkan olehmu, tahu. Aku sangat berterima kasih."

Kepada Fuutarou yang terkejut dan tidak sanggup membalas kata-katanya, Itsuki berkata:

"Perasaan seperti apa yang kamu rasakan saat kamu mengucapkan terima kasih kepada orang yang kamu ajari?"

"Apa-apaan sih…… sok pamer kebaikan banget."

Itsuki teringat momen saat dia mengajari Yotsuba pelajaran IPA.

──Wah! Sangat mudah dipahami, tahu! Itsuki, terima kasih ya!

Momen saat melihat senyuman Yotsuba yang tampak gembira, kebahagiaan dan rasa haru yang membuncah di dada Itsuki……!

(Aku…… ingin menjaga baik-baik perasaan pada saat itu.)

Itsuki sekali lagi menangkupkan tangannya di hadapan makam sang ibu.

(Ibu, aku…… akan bercita-cita menjadi seorang guru.)

Dari balik celah awan berwarna abu-abu tipis, tanpa disadari, langit biru yang cerah mulai menampakkan dirinya.

***

Pintu kamar tidur terbuka, dan Miku yang mengenakan pakaian tidur berantakan keluar sambil menguap.

"Huuwaa……"

Menghabiskan waktu sampai pagi membuat cokelat, dia cuma tidur selama beberapa jam saja. Tapi hari ini adalah hari pertempuran penentuan, Hari Valentine……

"Ah, Miku. Selamat pagi."

Deg. Selain Itsuki, Fuutarou pun ada di dalam kotatsu ruang tamu.

"Kamu dan Nino tidur sampai jam berapa sih."

"Fuutarou, Kamu datang ya……"

Memalingkan mata sambil memegangi bahu pakaian tidurnya yang melorot, dia melangkah menuju dapur.

"Kalau mau datang bilang-bilang dong. Tapi, pas banget nih. ……Lho?"

Miku seketika pucat pasi. Cokelat yang ditaruh di dapur telah hilang, hanya menyisakan jejak di atas piring.

"Cokelat yang ada di sini ke mana……?"

"Ah, yang itu. Hari ini juga sudah kumakan kok."

Di hidung Fuutarou yang bangkit berdiri, menyumbat gulungan tisu yang ternoda sedikit darah merah.

"Enak kok."

Hanya dengan satu kata, Fuutarou, dunia Miku seketika berbinar-binar cerah. Wajahnya dengan cepat merona merah padam.

"T-terima kasih…… Soal cokelat itu……"

"Miku. Harusnya aku memberitahumu dari awal ya."

Fuutarou berjalan ke dapur, berdiri berhadapan langsung dengan Miku.

"Ternyata Mikulah yang nomor satu."

"Eh. Nomor satu…… itu maksudnya apa…"

M-mana mungkin Fuutarou menyukaiku? Tidak mungkin, t-t-tapi kalau-kalau ternyata iya──

"Tentu saja hasil ujian simulasi yang dilakukan kemarin! Nilaimu adalah yang nomor satu!"

Fuutarou mengacungkan lembar jawaban milik Miku yang bernilai 『63 poin』.

"Ah, begitu ya……" Seketika binar di matanya meredup.

"Ini membuat harapan jadi kelihatan jelas nih~!"

Tapi, kalau Fuutarou merasa gembira, Miku pun merasa gembira. Sambil menyentuh pelan piring cokelat yang telah dihabiskan tanpa tersisa satu pecahan pun, Miku tersenyum diam-diam.

(Aku akan berjuang keras…… jadi perhatikan aku terus ya, Fuutarou.)

***

"Uuh, dingin banget……"

Di senja hari ketika udara terasa seolah terwarnai ungu, Ichika menenggelamkan wajahnya di dalam syal sambil menaiki tangga, dan di atas, Miku sudah menunggunya.

"Ichika, terima kasih atas kerja kerasmu, ya."

"Kamu sedang apa? Lagipula, hari ini bagaimana hasilnya?"

Bertanya sambil tersenyum, Ichika menaiki tangga sampai habis dan berdiri di samping Miku.

"Ichika tidak memberi cokelat pada Fuutarou?"

"K-kenapa mendadak bertanya begitu." Terkejut, Ichika menutupi dengan tawa dan memalingkan matanya.

"Habisnya, kalau tidak ada satu pun yang memberi kan kasihan, jadi aku berpikir apa Kakak ini belikan saja ya…… Tapi kalau Miku yang beri sih, aku lega."

Saat mengembalikan pandangannya, di hadapan matanya ada wajah Miku.

"Lega, maksudnya apa?"

Sambil berkata begitu, Miku menjauh dari Ichika dan mencengkeram pegangan tangga erat-erat.

"Fuutarou sama sekali tidak melihat kita sebagai perempuan, tahu. Aku sudah tahu sih, bagi Fuutarou kita ini cuma sekadar murid…… Makanya aku memutuskan. Di ujian akhir semester ini aku akan terhindar dari nilai merah. Lagipula, dengan nilai terbaik di antara kita berlima…… Dengan begitu, setelah bisa lulus sebagai murid Fuutarou dengan penuh rasa percaya diri…… kali ini aku akan menyampaikan kalau aku menyukainya."

Menatap langit, raut wajahnya berubah penuh tekad. Sangat berbeda dari Miku yang tidak jago bicara maupun memperlihatkan emosi di wajahnya dan tidak percaya pada dirinya sendiri dulu──

Meskipun merasa terintimidasi oleh sosok Miku yang seperti itu, Ichika mencari kata-kata dan memaksakan diri memasang senyuman.

"B-bagus kan. Kalau memang itu cara Miku menentukan sikap. Miku pasti bisa kok."

"Aku tidak akan menunggu Ichika lho. Siapa cepat, dia yang dapat."

"……Ehm. Tapi, aku juga tidak punya ruang untuk bersantai-santai lho. Berjuanglah ya."

Berdiri berjejer di samping Miku, Ichika pun mencengkeram pegangan tangga erat-erat.

──Miku terus berubah dengan cepat. Berjuanglah…… sok hebat banget sih aku ini.

***

Di tengah malam saat saudara-saudaranya sudah tertidur lelap, Ichika belajar sendirian di kotatsu.

"Huuwa……"

Kepalanya terasa berkabut, seperti berada di dalam embun. Sudah tidak sanggup lagi…… Hari ini tidur saja lalu besok lanjut lagi……

──Karena momen saat ini tidak akan berlangsung selamanya, tahu.

……Padahal kalimat itu diucapkan oleh dirinya sendiri! Menepuk kedua pipinya dengan tangan untuk memicu kembali semangatnya.

"Sedikit lagi!"

Benar, tidak akan berlangsung selamanya…… Perasaan pada Fuutarou melintas di benaknya, membuat dadanya terasa sedikit nyeri.

(Tinggal…… sedikit lagi saja……)

***

Lalu, kalender berganti ke bulan Maret.

Ujian akhir semester telah usai, di saat masih agak terlalu cepat untuk melepas jaket, ketika kuncup bunga sakura perlahan-lahan mulai mengembang──

"Yotsuba, bagaimana hasil ujianmu!?"

Fuutarou berlari terengah-engah.

"Uesugi-san, terima kasih banyak ya."

Yotsuba yang menoleh, membungkukkan kepalanya dalam-dalam.

"Aku…… merasa baru pertama kali usahaku terbalaskan."

Dari kedua matanya yang terpejam, air mata menetes berjatuhan membasahi tanah.

『Bahasa Jepang: 51 / Matematika: 33 / IPA: 32 / IPS: 36 / Bahasa Inggris: 32 / Total: 184 poin.

Nakano Yotsuba LULUS, Sangat Bagus.』

"Yotsuba, kamu berhasil ya!"

"Selamat ya."

Di area tunggu toko kue, Itsuki dan Miku memeluk Yotsuba sambil tersenyum.

"Ehehe. Ini adalah nilai tertinggi sepanjang sejarah hidupku. Meskipun total 184 poin itu sangat mepet sih."

"Aku total 224 poin. Masih ada mata pelajaran yang agak berbahaya dan itu menjadi tugas ke depannya."

Itsuki yang mengeluarkan lembar hasilnya sendiri tampak sedikit kecewa.

『Bahasa Jepang: 47 / Matematika: 35 / IPA: 70 / IPS: 32 / Bahasa Inggris: 40 / Total: 224 poin.

Nakano Itsuki LULUS, Sangat bagus.』

"Aku 238 poin."

Miku mengucapkan nilainya secara santai, namun bagi Miku pun ini adalah nilai tertinggi sepanjang sejarah hidupnya.

"Eee! Hebat banget!" "Seperti dugaan Miku, ya." puji keduanya.

『Bahasa Jepang: 43 / Matematika: 48 / IPA: 41 / IPS: 72 / Bahasa Inggris: 34 / Total: 238 poin.

Nakano Miku LULUS, Sangat Bagus.』

"Ah, Ichika juga datang tuh."

Yotsuba melihat ke arah pintu masuk yang bel pintunya berbunyi.

"Maaf ya membuat kalian menunggu~" Ichika masuk.

Fuutarou yang duduk di bangku bangkit berdiri di hadapan Miku.

"Miku…… kamu benar-benar berubah ya. Seperti dugaan, kamu adalah yang paling berkembang pesat."

Dipuji oleh Fuutarou, dada Miku terasa berdebar kencang. Kalau mau menyatakan perasaan, bukankah sekarang waktunya!

"Fuutarou…… aku……"

Di telinga Miku yang mengepalkan tangannya erat-erat, percakapan saudara-saudaranya terdengar.

"Ichika, total nilainya berapa?"

"Emm, 240 poin."

Seketika raut wajah Miku menjadi kaku. Fuutarou pun melayangkan pandangan mata terkejut ke arah Ichika.

"Berarti……" "Ichika adalah yang nomor satu dong!" Kata Yotsuba dan Itsuki.

"Ah, begitu ya. ……Hore."

Di bagian akhir dengan suara pelan, Ichika memancarkan senyuman provokatif.

『Bahasa Jepang: 38 / Matematika: 63 / IPA: 52 / IPS: 40 / Bahasa Inggris: 47 / Total: 240 poin.

Nakano Ichika LULUS, Sangat Bagus.』

Tepat saat itu, Manajer toko masuk.

"Selamat atas kelulusan ujian kalian! Hari ini perayaan. Akan kupotong dari gaji Uesugi-kun, jadi makanlah sesuka hati kalian!"

"Aduh, Manajer ini, sukanya becanda terus, deh."

Fuutarou menyampaikan penolakannya dengan ramah, namun tidak ada satu pun yang mendengarkan.

"Terima kasih banyak!" Yotsuba mengucapkan terima kasih dengan senyuman penuh di wajahnya.

"Tapi, masih ada satu orang lagi yang belum datang nih."

Itsuki melihat ke arah pintu masuk dengan canggung. Padahal sudah diberitahu untuk berkumpul di toko kue untuk mengadakan acara pengumuman nilai, namun hanya Nino seorang yang belum memunculkan dirinya.

"Kalau gadis yang rambutnya diikat dua tadi, dia datang duluan dan menaruh barang ini kok."

Manajer menyodorkan kertas terlipat dua yang ada di dalam sakunya.

Itu adalah lembar hasil ujian. Di tengah Ichika, Miku, dan Yotsuba yang memperhatikan sambil menahan napas, Itsuki membuka kertas tersebut.

"Lalu, ada pesan dari dia buatmu……"

Manajer berbisik pelan ke telinga Fuutarou.

"『Selamat ya. Kamu sudah tidak dibutuhkan lagi』."

『Bahasa Jepang: 32 / Matematika: 33 / IPA: 40 / IPS: 48 / Bahasa Inggris: 56 / Total: 209 poin.

Nakano Nino LULUS, Sangat Bagus.』

"Horeeeeee~~~~~!!"

Yotsuba melompat ke atas sambil bersorak sambil mengangkat tangan.

"Luar biasa, kita semua berhasil terhindar dari nilai merah, ya!"

Wajah ayahnya melintas di benak Itsuki. Meskipun mungkin cuma tersambung seutas tali tipis saja, setidaknya mereka terbebas dari pindah sekolah.

"Lho? Kamu mau pergi ke mana?"

Yotsuba menyadari Fuutarou yang hendak keluar dari toko.

"Pesta perayaan ini wajib diikuti oleh semua orang."

Fuutarou berbicara dengan raut wajah yang tidak seperti biasanya, sangat tegas.

"Aku akan membawa Nino ke sini."



Chapter 5 | ToC

Post a Comment

Post a Comment