NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Anime Gotoubun no Hanayome Novelize Volume 3 Chapter 2

Chapter 2

Tujuh Perpisahan – Bagian 1


Tengah malam, aku sendirian di sudut ruang tamu, menghadap ke meja makan rendah yang sekaligus kubuat sebagai meja belajar.

Di sampingku, Ayah dan Raiha sudah terdengar menghembuskan napas lelap. Di rumah keluarga Uesugi, tempat dewa kemiskinan bersenang-senang dengan leluasa, ruang tamu adalah ruang makan, kamar belajar, sekaligus kamar tidur.

Ujian akhir semester tinggal seminggu lebih sedikit lagi. Di bawah lampu meja, aku menyusun kumpulan soal dengan raut wajah serius. Tes pertama si kembar lima mendapat nilai rata-rata 20 poin. Lalu pada ujian tengah semester, rata-ratanya 26 poin. Kalau memperhitungkan tingkat kenaikan ini…… mataku terbelalak lebar.

(Kalau tidak ada masalah apa-apa, harusnya bisa lolos pas-pasan! Ya! Asal tidak terjadi masalah apa-apa!)

***

Keesokan paginya, bertolak belakang dengan semangatku, langit mendung yang tak bersahabat menutupi gedung apartemen tempat tinggal si kembar lima.

"Lama sekali ya……"

Di lantai paling atas, tepatnya di depan pintu masuk rumah Nakano. Itsuki sedang duduk bersimpuh rapi di lorong masuk, menungguku.

"Hari Sabtu saat les privat…… padahal semuanya sudah berkumpul, tapi dia sedang apa sih……"

Karena dia sudah membanggakan diri bahwa dia sudah mahir menggunakan kunci otomatis, tidak mungkin dia tidak bisa masuk. Karena sudah habis kesabaran, Itsuki membuka pintu dan terperanjat kaget melihat sesuatu.

"U-Uesugi-kun?!"

Di koridor, aku tergeletak seperti orang pingsan! Itsuki bergegas menghampiriku dan membalikkan tubuhku. Wajahku pucat pasi. Mataku kosong, kehilangan fokus. Pupil mataku benar-benar terbuka!

"M-Mati……"

……Saat dia berpikir begitu, gelembung napas keluar dari hidungku.

"Ternyata tidur seperti orang mati……"

***

Saat terbangun, aku menggaruk kepala dengan perasaan malu.

"Aku melakukannya lagi…… Saking fokusnya belajar, tahu-tahu sudah pagi……"

"Karena kamu lama sekali, kami semua sudah memulainya duluan, tahu."

Sambil melangkah masuk ke depan pintu, melepas sepatu, dan berjalan duluan, Itsuki berkata.

"O-oh……"

Ini adalah perkembangan yang sama sekali tak terbayangkan saat aku pertama kali menjadi tutor privat mereka.

"Kali ini aku akan membuat kalian semua terhindar dari nilai merah. Makanya, aku sudah menyiapkan ini."

Melihat apa yang kukeluarkan dari tas punggung, wajah Itsuki langsung pucat pasi.

"Ini kumpulan prediksi soal yang mencakup seluruh materi kali ini. Kalau mengerjakan ini sampai tuntas, pasti ada kesempatan untuk berhasil."

Ketebalannya sekitar dua belas sentimeter. Itu bukan jumlah soal yang bisa diselesaikan secara biasa.

"K-kalau begitu janji hari ini batal saja! Silakan pulang!"

Setumpuk lembaran tugas yang kudorong penuh semangat itu didorong balik oleh Itsuki setengah mati.

"Jangan kabur! Kamu yang harus menerima dan mengerjakan ini!"

Karena kalah gigih, Itsuki akhirnya "menerima" setumpuk lembaran tugas tebal yang mencerminkan seluruh antusiasme-ku itu.

"Banyak sekali……!"

Sambil merasa lemas dan menatap lembaran tugas itu, Itsuki menyadari sesuatu.

"Aku heran…… Jangan-jangan, gara-gara membuat ini kamu sampai bergadang?"

"I-itu tidak penting kan…… Mana adil kalau cuma menyuruh kalian berjuang. Aku harus bisa menjadi teladan buat kalian."

"Teladan……"

Kata itu entah kenapa mengusik telinga Itsuki, hingga dia mengulangnya pelan.

"Lagipula, sebelum ada yang kabur, ayo kita masuk."

Aku membetulkan posisi tas punggungku, melangkah melewati Itsuki, dan berjalan menuju ruang tamu.

"Ah, iya…… benar juga."

Itsuki menatap lembaran tugas itu sekali lagi, lalu mendekapnya di dada dengan raut wajah senang dan mulai melangkah.

"Miku! Singkirkan tanganmu!"

"Nino yang harusnya menyerah."

Nino dan Miku sedang berebut remote TV di ruang tamu.

"Ha? Kamu yang harusnya menyerah! Acara variety show yang tayang sekarang ini ada aktor favoritku, tahu!"

Nino yang berhasil merebut remote, mengubah salurannya ke acara variety show.

"Tidak boleh! Jam segini waktunya dokumenter. Liputan hari ini tidak boleh terlewat."

Miku merebut balik remote-nya.

Aku termenung melihat pemandangan di depanku. Jangankan belajar, mereka malah berebut saluran TV tidak berguna…… Di belakangku, Itsuki, yang memasang wajah heran, tampak serba salah.

Begitu Miku mengganti saluran dan menampilkan pemandangan perkasa para panglima perang Sengoku yang hendak bertempur──saat itu juga, layarnya mendadak gelap.

"Saat jam belajar, TV dimatikan, ya."

Aku yang mematikan sakelar utama, berdiri di depan TV.

""Aaaah!!""

Setelah berseru memprotes bersamaan, Nino dan Miku memalingkan wajah bersamaan pula. Entah mereka ini cocok atau tidak, tapi yang selalu bertengkar biasanya memang mereka berdua.

"Dari dulu aku ingin bertanya, apa mereka berdua itu tidak akur?"

Aku berbisik pelan ke telinga Ichika yang berada di dekatku.

"Emm…… bagaimana ya. Seperti kucing dan anjing? Terutama Nino. Meski kelihatan begitu, dia itu anak yang paling sensitif…… makanya sering bentrok."

Begitu ya…… Aku menatap Nino yang sedang merajuk.

"Ayo semuanya, kita mulai lagi~"

Setelah menyerukan itu kepada adik-adiknya, Ichika berbalik mengarah padaku.

"Kalau begitu, Fuutarou-kun. Mulai dari minggu ini, tolong bimbing kami ya."

"Ya, ini laga pembalasan." Aku menyeringai.

Di tengah suasana yang penuh semangat, cuma Nino yang tampak bersungut-sungut sendirian.

Anak-anak kembar lima berkumpul mengelilingi meja dan mulai fokus belajar masing-masing.

Saat aku duduk di sofa sambil mengawasi mereka berlima, Miku mengambil penghapus milik Nino yang duduk di depannya.

"Ah! Itu penghapusku!"

"Cuma pinjam." ujar Miku santai sambil menggunakan penghapus itu.

"Oh, gitu."

Seolah ingin membalas dendam, Nino mengambil minuman matcha soda milik Miku.

"Ah, itu minumanku!"

"Cuma pinjam kok." ujar Nino sambil tertawa mengejek dari hidung, lalu meminumnya seteguk dan meringis jengkel. "Uwek, tidak enak!"

Suasana kembali menjadi tegang, dan mereka berdua saling menatap tajam penuh amarah.

Aku memegangi kepala. Begitu akhirnya semua berkumpul, masalah baru malah muncul lagi. Kalau Nino dan Miku sampai bermusuhan, pencapaian target akan makin jauh dari jangkauan.

"Menerima ide baru……" Tanpa sadar, aku bergumam pelan.

"Haii~! Bagaimana kalau strategi seperti ini?" Yotsuba mengangkat tangannya.

"『Strategi Semua Berteman Baik』~~~! Kalau Uesugi-san bisa membuat suasana hati mereka berdua senang, pertengkaran mereka pasti selesai!"

Boleh juga. Tampaknya layak untuk dicoba.

"Hahaha! Wah, bagus sekali! Luar biasa!"

Dengan senyum buatan yang tertempel di wajah, aku bertepuk tangan sambil mendekati Nino dan Miku.

"Kalian berdua kelihatan hebat! Gimana ya bilangnya, bagus sekali! Mandiri, sehat…… bagus deh, emm……"

Selain kelihatan mencurigakan, tindakanku ini makin lama makin terasa dipaksakan. Apa ada kata-kata pujian yang pas? Sesuatu yang bisa membuat suasana hati mereka membaik…… Saat aku kehabisan kata-kata, mataku terbelalak lebar.

"Kalian hebat!"

──Cara memujinya jelek banget~~~! Yotsuba tersungkur.

Miku dan Nino menatapku dengan curiga.

"Kamu kenapa, Fuutarou?"

"Menjijikkan tahu."

Miku yang tak terima aku dicela, menatap Nino dengan tajam, "Dia tidak menjijikkan kok."

"Aku cuma bilang yang sebenarnya."

"Itu berlebihan. Tarik ucapanmu."

"Ara~? Berarti, kamu sendiri sedikit banyak juga berpikir begitu, kan?"

Percikan api percekcokan kembali dimulai, membuatku merasa lemas.

"……Gagal. Selanjutnya……"

"Bagaimana kalau yang ini?" usul Ichika.

"『Strategi Kekuatan Ketiga』~~~! Dengan sengaja bersikap galak, kalau Fuutarou-kun menjadi musuh bersama bagi mereka berdua…… ikatan di antara mereka pasti akan menguat dengan sendirinya."

"Emm……"

Sambil bersedekap, aku mengerutkan alis tanpa antusias.

"Ada apa?"

"Biar bagaimanapun, membentak mereka yang sudah berusaha keras rasanya hatiku sakit……"

"Ternyata kamu punya hati nurani juga, ya." kata Itsuki. Kalimatnya tajam tanpa ragu.

Meski kurang setuju, aku akan mencoba sebisanya──aku pun berdiri.

"Hei hei! Tugas kalian baru selesai segitu saja?!"

Aku menatap Nino dan Miku yang baru saja mulai belajar kembali dengan tatapan mata seram dan jahat.

"Tapi ya, buat kalian yang cuma setengah manusia ini, menyelesaikan tugas saja tidak akan cukup! Ah, salah! Bukan setengah manusia, tapi seperlima manusia~~~!"

──Kok kelihatan bersemangat banget sih?! Wajah Ichika tegang.

Lalu, Nino yang biasanya membalas ucapanku dua kali lipat, entah kenapa malah berdiri dengan bangga.

"Tanpa diberitahu pun, bagianku sudah mau selesai kok. Lihat nih!"

Dia membuka buku catatannya dan memamerkannya padaku. Begitu aku memeriksanya,

"……Ah? Bagian itu bukan materi tes, tahu."

Nino bergegas memeriksa kembali bukunya, lalu memalingkan mata dengan canggung, "Gawat……"

"Nino. Kalau mau mengerjakan, kerjakan yang benar." ujar Miku menusuk.

"……Aku tidak bisa mengerjakan hal membosankan ini dengan serius! Aku mau pusing mengerjakan di kamar saja, jangan ganggu!"

Nino melontarkan kalimat terakhirnya, lalu melangkah cepat menuju tangga yang mengarah ke lantai 2.

"H-hei……!"

Pada akhirnya, hasil yang paling kutakuti malah terjadi.

"Kuh…… satu strategi terbuang percuma…"

Aku menopang tangan di atas meja tempat setumpuk lembaran tugas Nino ditinggalkan dengan lemas.

"Jangan berkecil hati." Itsuki menyemangatiku.

"Kamu mau jadi teladan, kan? Kami mengandalkanmu."

"……Ya."

Didorong oleh kata-kata Itsuki, aku mengejar Nino yang sedang menaiki tangga.

"Tunggu, Nino."

Saat kupanggil dari bawah tangga, Nino menghentikan langkahnya.

"Ini baru saja dimulai. Bertahanlah sebentar lagi. Lagipula, kamu sudah tertinggal. Ayo kejar empat orang lainnya."

"……Berisik sekali sih… padahal kamu tidak tahu apa-apa…… Kamu tidak punya hak untuk mengatur-ngaturku!"

Nino berbalik dengan emosi meledak-ledak, lalu menunjuk ke arahku dengan tajam.

"Kamu itu cuma tutor privat yang disewa. Orang luar!"

Kalau sampai berdebat, semuanya akan kacau. Saat aku menahan diri untuk menerima makian Nino tanpa membalas, tiba-tiba setumpuk lembaran tugas disodorkan ke arah Nino.

"Ini, Fuutarou yang membuatnya khusus untuk kita. Terima ini."

Miku berujar dengan nada tenang, tapi tak menerima bantahan.

"Cuma karena membuat kumpulan soal saja memangnya kenapa…… Barang begini, aku tidak butuh!"

Nino menepis setumpuk lembaran tugas itu. Mungkin karena tenaganya terlalu kuat, lembaran tugas yang terlepas dari tangan Miku melayang di udara.

Wajah Nino sempat menunjukkan penyesalan, tapi semuanya sudah terlambat. Di dekat kaki mereka berdua, lembaran tugas berserakan jatuh.

"H-hei…… kalian berdua tenang dulu ya?" Ichika yang tidak tega mencoba menengahi.

"Benar. Kalian……"

Sebelum aku sempat menyela, Miku berujar dengan suara yang menahan amarah.

"Nino…… ambil."

"J-jangan mau dibodohi oleh potongan kertas seperti ini……! Hari ini saja dia terlambat, kan. Dia itu tidak bertanggung jawab! Kalau dia berpikir bisa mengajar cuma dengan ini, itu salah besar!"

Nino yang sudah tidak bisa mundur lagi, mengambil selembar kertas tugas lalu merobeknya menjadi dua bagian.

"Nino……!"

Tepat saat Miku hendak mencengkeram Nino, aku berdiri di depan Miku.

"Miku! Aku tidak apa-apa, jadi……"

Saat itulah. Itsuki melangkah maju dengan cepat, lalu menampar pipi Nino dengan keras.

"Nino…… minta maaf."




Raut wajah Nino sempat terdistorsi, seperti hendak menangis. Namun, dia segera kembali ke ekspresinya yang tegas dan membalas menampar pipi Itsuki.

Seolah sudah menduganya, Itsuki tidak bergeming dan menatap tajam ke arah Nino.

"……Minta maaflah padanya."

"Kamu…… sejak kapan jadi ada di pihak orang ini…? Kamu benar-benar sudah masuk ke dalam perangkap omong kosongnya, ya. Sampai-sampai emosi cuma gara-gara potongan kertas seperti ini!"

Meskipun terdesak oleh intimidasi Itsuki, Nino tetap menolak.

"Ini bukan sekadar potongan kertas biasa."

Sambil berkata begitu, Itsuki memungut lembaran tugas itu lalu mengacungkannya di hadapan Nino.

Nino yang mendekatkan matanya dengan penuh curiga, tersentak kaget begitu menyadari maksudnya.

"Dia tidak punya printer maupun mesin fotokopi. Aku benar-benar heran…… semuanya ditulis tangan."

Alasan aku tertidur seperti orang mati di koridor adalah karena aku merampungkan kumpulan soal untuk lima orang ini sampai pagi hari.

"……Lalu kenapa kalau begitu…"

"Kita juga harus mengerjakannya dengan sungguh-sungguh! Agar tidak kalah dari Uesugi-kun!"

"Aku juga……"

Nino menundukkan kepalanya, lalu melirik sekilas ke arah Ichika dan Yotsuba. Mereka berdua sama-sama memperhatikan jalan cerita dengan raut cemas.

"Terimalah kenyataan ini."

Dari Miku yang ditatapnya, terpancar sorot mata yang sungguh-sungguh.

"Aku mengerti…… Jadi kalian lebih memilih orang ini daripada aku, ya……"

Sambil menggertakkan gigi, Nino mengepalkan tangannya dan berujar seolah mengempaskannya dengan keras.

"Baguslah…… Aku akan keluar dari rumah ini!"

Dia mulai melangkah menuju pintu keluar. Aku yang panik melihatnya.

"Nino! Tenanglah!"

"Aku sudah memikirkan hal ini sejak dulu! Rumah ini membuatku makin membusuk!"

"Nino! Kalau begini Ibu akan sedih! Hentikan!"

Kepada Itsuki yang mengejarnya, Nino berbalik dengan wajah jengkel.

"Berhentilah bersikap seolah-olah kamu itu pengganti Ibu yang penuh kenangan tak berguna itu!"

Wajah Itsuki mendadak berubah seketika.

"Nino, jangan terburu-buru!" "Benar, ayo kita bicarakan baik-baik."

Yotsuba dan Ichika mencoba menghentikannya secara bergantian, tapi Nino tidak mau mendengarkan.

"Dia yang duluan main tangan!" ujar Nino sambil menunjuk Itsuki. "Aku tidak bisa tinggal bersama monster bakpao kekerasan dalam rumah tangga seperti dia!"

"M-monster…… bakpao……!"

Pelipis Itsuki kedutan menahan kekesalan. Itu adalah kata-kata sakti yang sangat cukup untuk memicu amarahnya.

"Kalau aku memang mengganggu, aku yang akan pergi dari sini!"

"Masa bodoh! Lakukan saja sesukamu!"

Pertengkaran yang seharusnya terjadi antara Nino dan Miku, tanpa disadari, berubah menjadi pertengkaran antara Nino dan Itsuki hingga tidak bisa dikendalikan lagi.

"B-bagaimana ini……"

Aku hanya bisa kebingungan dan panik. Kini sudah tidak ada waktu lagi untuk memikirkan belajar.

***

Dari langit yang tertutup awan kelabu tebal, hujan turun rintik-rintik tanpa henti.

Keesokan harinya, Miku memberitahuku lewat pesan singkat bahwa Itsuki dan Nino benar-benar sudah pergi meninggalkan rumah.

Awan kelabu menghilang, memantulkan langit biru tanpa awan di genangan air jalanan.

"Hal seperti ini sering terjadi?"

Di hari Minggu pagi keesokan harinya, aku berjalan berdua bersama Miku di jalanan kota.

"Kami kan saudara. Hal seperti ini tidak aneh."

Sambil berkata begitu, ekspresi Miku mendadak meredup.

"Tapi…… kali ini rasanya agak berbeda dari biasanya."

Dia mengeluarkan ponsel pintar dan memperlihatkan obrolan di grup LINE milik si kembar lima padaku.


----

Yotsuba: Aku cemas, cepatlah pulang!!

Ichika: Ayo berbaikan

Nino: Gak mau. Jangan hubungi aku lagi

Itsuki: Aku juga sama sekali tidak berniat untuk pulang. Maaf sudah membuat kalian bertiga cemas, tapi selama Nino tidak mengintrospeksi perbuatannya, aku tidak berniat untuk kembali

----

"Ichika dan Yotsuba sudah mencoba membujuk mereka…… tapi mereka berdua sama-sama keras kepala, seolah-olah siapa yang pulang duluan dianggap kalah."

"Anak-anak bodoh…… Lalu, mereka berdua ke mana?"

"Katanya ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Kalau Ichika sepertinya urusan pekerjaan."

Miku menceritakan bahwa Ichika mengenakan pakaian biasa, sedangkan Yotsuba mengenakan seragam sekolah sambil menyandang tas olahraga di bahunya, lalu pergi dengan raut wajah serba salah.

"Berarti tidak ada cara lain selain kita berdua yang mencari Itsuki dan Nino, ya……"

"Ayo berjuang, Fuutarou."

"Sip!"

Kami berdua punya semangat yang sangat cukup, tapi sayangnya fisik kami tidak sanggup mengimbangi.

"S-sudah lelah……"

"Malah kita berdua yang jadi kombinasi tanpa stamina begini……"

Kami terengah-engah menghembuskan napas berat.

"Mau bagaimana lagi……"

Sebenarnya aku tidak ingin menggunakan cara ini—Miku mengangkat wajahnya dengan tegas.

"Apa kamu pernah melihat orang dengan wajah seperti ini?"

Dia bertanya kepada setiap orang yang lewat satu per satu. Dalam sekejap, orang-orang berkumpul penasaran.

(Kembar lima ini ternyata praktis sekali, ya……)

Saat aku memperhatikan dari kejauhan sambil merasa kagum, seorang ibu-ibu yang tampak seperti wisatawan menatap wajah Miku lekat-lekat lalu berkata:

"……Lho? Wajah ini pernah kulihat di hotel tempatku menginap."

"Orang itu Nino──!!"

Tanpa sadar, aku berteriak kepada ibu-ibu itu. Kembar lima ini benar-benar super praktis!

***

Di sebuah kamar suite di hotel mewah.

Nino selesai mandi, berganti pakaian tidur, dan sedang bersantai di atas sofa. Dia memakai masker wajah sambil meminum jus jeruk peras segar yang dipesannya melalui room service.

Bisa menonton TV sepuasnya. Suhu AC bebas diatur sesuka hati. Tidak ada yang membuat kamar berantakan. Sendirian itu benar-benar luar biasa menyegarkan—tepat saat dia menikmati kehidupan hotel yang mewah dan anggun, tiba-tiba pintu terbuka dan penyusup muncul.

"……Eh?"

Masker di wajah Nino terkelupas dan jatuh. Itu Miku dan aku.

"K-kenapa kalian bisa ada di sini……?! Lagipula, kuncinya……?!"

"Saat aku bilang ke petugas kalau kuncinya ketinggalan di dalam kamar, mereka membukakannya buatku."

Miku menjawab dengan santai. Bersikap menyamar memang keahlian utama Miku.

"Keamanannya parah banget!"

"Nino…… soal yang kemarin itu……"

Seolah menahan Miku yang hendak mendekat, Nino berdiri.

"Pergi sana! Kita ini sudah jadi orang asing!"

Nino mencoba mengusir kami berdua seolah hendak mendorong kami keluar.

Tepat sebelum pintu tertutup rapat, aku berhasil menyelipkan tangan kananku ke celah pintu.

"Nino, ada apa denganmu? Dibandingkan dengan siapa pun, bukankah kamu yang paling menyayangi mereka… dan paling menyukai rumah itu?!"

"Kan sudah kubilang, jangan sok tahu tentang aku……!"

Sambil menjepit tangan kananku, Nino mendorong pintu dengan kuat untuk menutupnya.

"Daripada siapa pun, gara-gara kamu…… semua ini terjadi gara-gara kamu!"

Nino memunculkan wajahnya dari celah pintu, lalu menatap tajam ke arahku.

"Harusnya kamu tidak usah datang……!"

Matanya yang pantang menyerah itu kini digenangi air mata yang meluap.

Seolah kehilangan tenaga, tangan kananku terlepas turun. Pergelangan tangan itu menarik perhatian Nino.

Gelang misanga berwarna biru. Jimat yang didapatnya dari Kintarou pada malam berkemah……

"Kembalikan! Ini milikku!"

"T-tunggu…… ah…… hei……!"

Nino merebut gelang misanga itu, lalu mendorongku dan menutup pintu rapat-rapat dari balik punggungnya.

Dia kembali sendirian di dalam kamar suite yang luas itu.

"……Kintarou-kun……"

Sambil menggenggam gelang misanga itu erat-erat di dadanya, Nino bergumam pelan sendirian.

***

Saat matahari mulai terbenam, aku mengantar Miku kembali ke gedung apartemennya.

"Mau bagaimana lagi, hari ini kita menyerah saja. Lagipula, Itsuki paling-paling juga ada di hotel mewah tempat lain."

"Soal itu, sebenarnya…… anak itu lupa membawa dompetnya di rumah."

"Serius?!"

Berarti sejak kemarin dia tidak punya uang sepeser pun…… Sambil merasa cemas, aku pulang ke rumah.

"Aku pulang."

"Selamat datang kembali, Kakak!"

Senyum polos Raiha menyambutku. Aku mengendus-endus hidungku.

"……Nn? Bau ini, kare ya."

"Tepat sekali! Aku makan duluan ya~"

Perutku berbunyi nyaring, kruuuk~.

(……Anak itu juga pasti sedang kelaparan, ya……)

Bayangan Itsuki yang tidur di bangku taman dengan kardus sebagai pengganti selimut melintas di kepalaku. Kasihan sekali, raut wajah tidurnya tampak menderita, pasti karena kelaparan. Mungkinkah bunyi perutnya terdengar seperti suara teman burung, sampai-sampai seekor burung merpati yang hinggap di kepala Itsuki ikut bernyanyi duet dengan suara rendah……

Saat aku mengembangkan imajinasi dengan raut wajah suram, tiba-tiba terdengar suara cerah, "Raiha-chan!"

"Boleh tambah lagi?"

"Boleh dong~!"

Di belakang Raiha yang berlari menghampiri, aku membeku seperti patung Moai.

Yang muncul di dapur sambil tersenyum lebar dengan piring kosong di tangannya adalah Itsuki. Apalagi, sepertinya dia sudah menghabiskan piring kare pertamanya.

"P-permisi, maaf menyusahkan……"

Itsuki berujar sambil menutupi mulutnya dengan piring karena merasa malu.

***

"Maaf ya…… aku sudah menggunakan kamar mandinya duluan……"

Itsuki yang sudah berganti pakaian dengan baju olahraga (jersey) kembali ke ruang tamu sambil diselimuti uap hangat.

"Bagaimana, Itsuki-chan? Kamar mandi besar rumah kami?" Ayah melemparkan lelucon bapak-bapak.

"I-iya…… Sempi──maksudku, ruangan yang nyaman dan membuatku bisa rileks."

"Gahahaha! Benar kan! Raiha, berikutnya giliran kita yang masuk!"

"Siap~!"

Ayah dan Raiha pergi ke kamar mandi, menyisakan aku dan Itsuki berdua saja di ruang tamu.

Di tengah suasana yang canggung, Itsuki duduk bersimpuh rapi di sudut ruangan, lalu melirik sekilas ke arahku.

Aku pun melirik sekilas ke arah Itsuki pada saat yang bersamaan. Pandangan kami saling berbenturan hingga kami berdua terburu-buru memalingkan mata, "Kenapa……" "Anu……" Suara kami malah bersahutan, lalu suasana mendadak hening seketika.




"S-silakan……"

Meskipun dipersilakan oleh Itsuki, setelah keadaan menjadi seperti ini, aku pun sulit untuk memulainya.

(Kenapa dia bisa ada di rumahku sih……!)

Ketidaknyamanan ini sungguh luar biasa. Sekarang, aku jadi sangat bisa memahami perasaan Nino.

"Kakak, tolong gelarkan kasurnya dong~~~"

Dari arah kamar mandi, suara Raiha terdengar.

Itsuki dengan sigap berdiri, "Ah, biar aku saja yang kerjakan."

(Dia benar-benar akan menginap, ya……)

Saudari-saudarinya yang lain tidak tahu rumahku. Tempat ini memang sangat cocok untuk dijadikan tempat bersembunyi.

Namun, apakah Itsuki tahu? Di rumah ini tidak ada tempat tidur empuk maupun kamar ekstra. Di ruang tamu yang sempit ini, seluruh keluarga menggelar kasur keras dan tidur berjejer bersama.

(Tidak, tunggu…… Setelah ini Ayah akan keluar rumah untuk bekerja, jadi……)

Aku mendadak tersadar. Di bawah satu atap tanpa adanya pengawas, pria dan wanita di usia remaja akan tidur berjejeran. Bukankah ini tidak bagus untuk pendidikan Raiha……?

"Hari ini kita bertiga tidur berjejeran ya!"

Raiha yang baru selesai mandi berkata dengan gembira. Betapa polos dan sucinya adikku ini.

Dengan Raiha di tengah, aku dan Itsuki berbaring saling membelakangi.

(Kalau begini terus tidak bisa…… Apa yang harus kukatakan……)

Raiha sudah terdengar menghembuskan napas lelap dengan cepat, tapi aku benar-benar tidak bisa tidur.

"……Uesugi-kun, kamu belum tidur?"

Mungkin merasakan keberadaanku, Itsuki bertanya dengan suara pelan.

"A-ah, iya…… aku belum tidur……"

Itsuki yang sepertinya juga tidak bisa tidur, mulai berbicara sambil tetap membelakangiku.

"Maaf ya untuk kejadian mendadak hari ini. Soal yang kemarin juga…… Sebenarnya, ada hal yang harus kuceritakan padamu……"

Emm…… Raiha tampak hampir terbangun, membuat kami berdua refleks saling berhadapan.

"……Mau jalan-jalan sebentar?"

Itsuki perlahan mendudukkan tubuhnya, lalu tersenyum padaku.

***

Di langit malam yang ditaburi kerlip bintang, bulan purnama bersinar terang.

"Lihatlah. Hari ini bulannya terlihat sangat indah, ya."

Aku dan Itsuki tiba di taman besar dekat rumah, sedang berjalan-jalan di jalur pejalan kaki dekat kolam mata air.

"Ah, ya…… begitu ya?"

"Sungguh, kamu tidak ada romantis-romantisnya sama sekali."

"Aku tidak sudi diajari soal romantisme oleh orang yang baru saja makan kare seperti orang kesurupan."

Gaya makannya dengan wajah yang berkilauan sampai licin itu, dia pasti tipe orang yang menganggap kare sebagai minuman.

"A-apa……! M-mau bagaimana lagi. Kan aku baru makan setelah seharian tidak makan……"

"Besok pulanglah. Miku juga mengkhawatirkanmu."

"Itu tidak bisa dilakukan……" Itsuki menghentikan langkahnya dengan raut wajah keras kepala.

"Khusus kali ini, aku tidak akan pulang sebelum Nino mengalah duluan. Tentu saja, aku tidak bisa terus merepotkan keluargamu lebih jauh lagi. Besok……"

"Setelah keluar, kamu mau bagaimana? Kamu kan tidak punya dompet maupun tempat tujuan."

Tersentil di bagian yang menyakitkan, Itsuki tersentak, uh, lalu membungkukkan kepalanya dalam-dalam padaku.

"Tolong izinkan aku tinggal sebentar lagi! Aku akan membantu pekerjaan apa saja!"

"Tidak mau! Pulang sana!"

Aku menolaknya dengan tegas sambil menunjuk Itsuki dengan tajam.

"Lagipula, aku tidak yakin nona muda kaya sepertimu sanggup menahan gaya hidup rumahku!"

"……Aku bukan seorang nona muda kaya kok," Itsuki berujar sambil tersenyum getir.

"Kami juga sampai beberapa tahun lalu menjalani kehidupan yang tidak kalah susahnya."

"Eh? Begitu ya……?"

Itsuki mengangguk pelan, lalu mulai menceritakan masa lalunya yang belum kuketahui.

"Sebelum Ibu menikah lagi dengan Ayah yang sekarang, kehidupan kami sangat miskin. Itu wajar saja, karena Ibu merawat lima anak sekaligus sendirian."

──Bagi Ibu, kalian berlima bisa tumbuh sehat saja sudah merupakan kebahagiaan yang paling utama.

Ibu kami biasa mengatakan hal itu sambil memeluk kami kelima bersaudara yang masih kecil dengan erat.

"Lalu, Ibu yang membesarkan kami seorang diri itu jatuh sakit…… Makanya aku memutuskan untuk menjadi pengganti Ibu dan membimbing semuanya."

Di permukaan air kolam, wajah Itsuki yang ketat dan tegar terpantul.

"Padahal sudah kuputuskan…… tapi kenyataannya sama sekali tidak berjalan lancar…"

Sambil memegang pagar, Itsuki menundukkan kepalanya dengan lesu.

Aku yang mendengarkan cerita itu dalam diam, akhirnya menyadari alasan kenapa Itsuki menampar Nino. Jadi, tindakan itu juga dilakukannya karena dia sangat mengesampingkan dan mendasarkan perbuatannya pada sosok seorang ibu.

Aku melangkah mendekati pagar, lalu berdiri berjejer di samping Itsuki.

"Pengganti ibu, ya. Kalau begitu…… aku akan menjadi pengganti ayah."

"Eh……? Apa maksudnya……?"

Mendengar Itsuki menanyakannya dengan polos, kata-kataku sendiri mendadak terasa sangat memalukan.

"M-maksudku, di saat seperti ini, apa yang sedang dilakukan oleh ayah kalian! Justru di saat seperti inilah peran seorang ayah dibutuhkan!"

Meskipun tidak ada ikatan darah, ayah tetaplah seorang ayah. Aku tidak tahu apa pekerjaannya, tapi tega-teganya pura-pura tidak tahu di saat anak-anaknya sedang mengalami masalah besar.

"……Ini juga kuanggap sebagai bagian dari pekerjaanku sebagai tutor privat."

Aku menatap lekat-lekat bulan bulat yang seolah tenggelam di dalam kolam.

"Hari itu, setelah bertemu dengan anak perempuan itu di Kyoto…… aku memutuskan untuk menjadi seseorang yang dibutuhkan oleh orang lain suatu hari nanti…… Demi itulah aku terus belajar selama ini."

Mendengar pengakuan dariku, mata Itsuki sedikit terbelalak.

"……Tapi kalau kamu jadi ayah kami, agak gimana gitu…"

"Berisik, tahan saja!" ujarku sambil memalingkan wajah karena malu.

Itsuki terkekeh pelan, lalu menengadah kembali menatap bulan purnama di langit malam.

"Hari ini bulan purnamanya sangat indah, ya."

Itsuki yang disinari cahaya bulan tampak suci bagaikan Putri Kaguya──namun, aku yang menatap profil wajahnya memberikan pandangan sedingin suhu di bawah nol.

Dahulu kala, ada legenda urban terkenal bahwa sastrawan Natsume Soseki menerjemahkan "I LOVE YOU" menjadi "Bulan malam ini indah ya" (Tsuki ga kirei desu ne). Dengan kata lain, mengucapkan "Bulan malam ini indah ya" sama saja dengan ungkapan cinta "Aku menyukaimu".

"……Sepertinya kamu memang masih harus banyak belajar lagi."

"A-apa maksudmu!"

Tiba-tiba, aku pasang kuda-kuda dan refleks menoleh ke arah semak-semak di belakang.

"Ada apa?"

"Tadi rasanya seperti ada seseorang……"

Tadi jelas-jelas terdengar suara seperti ranting pohon yang patah.

"J-jangan menakut-nakutiku dong!" Itsuki yang penakut langsung gemetaran.

"Itsuki! Coba kamu pergi periksa sebentar!"

"Bukankah kamu tadi bilang mau jadi ayah?!"

"Sekarang itu tidak ada hubungannya!"

Namun, di balik bayangan semak-semak sudah tidak ada sosok siapa pun, hanya tersisa ranting kecil yang patah karena terinjak oleh seseorang.

***

Saat berjalan di jalan menuju sekolah di pagi hari, aku menghentikan langkah dan menoleh ke belakang.

"Itsuki, dari rumahku……"

Itsuki yang berjalan mengikutiku dari jarak agak jauh, langsung bersembunyi di balik bayangan tiang listrik.

"Jangan mengajakku bicara secara terbuka! Nanti orang-orang berpikir kita berangkat sekolah bersama!"

"Merepotkan sekali……"

Suara hatiku bocor keluar. Mau tidak mau aku menghadap ke depan lagi dan mengajak Itsuki bicara.

"Berangkat dari rumahku sih boleh saja, tapi bagaimana dengan buku pelajaranmu?"

Itsuki dengan wajah bangga berujar, "Tidak ada yang terlewat……" sambil mengangkat tas sekolahnya.

Rupanya suara di semak-semak kemarin adalah Yotsuba yang membawakan tas sekolahnya.

Sebagai gantinya, ada satu permintaan yang dititipkan padanya……

"Kemarin saat tidak sengaja bertemu Yotsuba, dia yang membawakannya buatku!"

"Kenapa waktu itu kamu tidak sekalian minta dompetmu?"

"A-aku juga baru menyadarinya belakangan, tapi karena Yotsuba kelihatan sibuk……"

"Kalau dipikir-pikir, kemarin anak itu tidak ada, ya. Sedang apa sih dia."

Saat aku mengucapkannya tanpa maksud apa-apa, Itsuki memiringkan kepalanya sedikit, "Eh?"

"Kamu belum dengar?"

***

Di lapangan sekolah, setelah jam pelajaran usai, para murid klub olahraga sedang giat berlatih masing-masing.

Di balik bayangan gedung sekolah, aku mencengkeram pita telinga kelinci milik Yotsuba dan mengangkatnya.

"Kamu menerima tawaran jadi atlet bantuan klub atletik? Apa kamu paham dengan situasi sekarang ini?!"

"Maafkan aku~~~……!!"

Yotsuba yang mengenakan baju olahraga (jersey) tertunduk lesu di hadapanku.

"Sebenarnya aku sudah menolaknya sekali…… Tapi kalau begini terus mereka tidak bisa ikut perlombaan estafet Ekiden……"

"Sifat sok baikmu kumat lagi ya……"

Sambil berkata begitu, aku membetulkan posisi pita Yotsuba yang terkulai. Rasanya pitanya jadi lebih besar dari sebelumnya. Mungkin pita itu menyerap nutrisi dari otak Yotsuba.

"Berhentilah sekarang juga. Jangan menambah masalah lebih banyak lagi."

"Maaf ya sudah merahasiakannya…… Tapi kalau di rumah aku tetap mengerjakan kumpulan soal dari Uesugi-san kok!"

Di saat itu, seorang anak perempuan yang tampak seperti ketua klub atletik memanggilnya.

"Nakano-san! Latihan mau dimulai lagi nih~!"

"Siaaap!" jawab Yotsuba dengan bersemangat, lalu dia mengepalkan kedua tangannya dan memamerkan semangatnya padaku.

"Aku akan berusaha keras!"

Begitu mengucapkan kalimat itu dengan raut wajah mantap, dia langsung berbalik dan mulai berlari.

"Pembicaraan kita belum selesai, tahu! Jangan kabur!"

(Dia kabur……)

Aku yang berlari dengan sekuat tenaga, dalam sekejap kehabisan napas dan tersungkur.

"Haah…… haah…… haah…… hyuuu~~~"

Sambil mengeluarkan suara napas yang aneh, aku mengangkat kepala dan sosok Nino yang hendak pulang sekolah tertangkap oleh mataku.

Ganti target. Sambil mengumpulkan sisa tenaga yang ada, aku berdiri dan memanggilnya dengan ceria.

"Nino! Kamu masuk sekolah?! Soal yang kemarin aku tidak memasukkannya ke hati kok, jadi ayo kita pulang! Ya? Kamu pasti bisa akur lagi dengan yang lain. Seperti dulu lagi."

Mungkin persuasi yang menonjolkan kebaikan ini membuahkan hasil, Nino berkata:

"Baiklah. Aku akan pulang."

"Benarkah?!"

Kalau begini, kalau bisa membawanya belajar dengan mulus……

"Hei, ini kan hotel yang kemarin!"

Nino pura-pura tidak tahu dan melintasi lobi, melangkah menuju lift khusus tamu menginap.

"Nino! Bagaimana dengan ujianmu?!"

"Mohon maaf, selain tamu, dilarang masuk!"

Saat aku hendak mengejar Nino, dua orang petugas hotel menahanku.

"Aku akan membuatnya lulus! Makanya izinkan aku masuk!"

"Soal ujian, memangnya kenapa kalau lulus?"

Nino menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arahku.

"Aku tidak peduli."

Tatapannya begitu dingin, seolah menolak segalanya──Aku menggigit bibirku erat-erat.

Saat ini mungkin Miku sedang sendirian di ruang tamu yang luas sambil menonton acara TV bertema perang Sengoku. Yotsuba sedang giat berlatih bersama klub atletik di lapangan, dan Ichika mungkin sedang menuju tempat kerja bersama presiden agensinya. Itsuki yang menumpang di rumah keluarga Uesugi mungkin sedang berdiri dengan gembira di dapur bersama Raiha.

Semuanya menghabiskan waktu mereka masing-masing, tapi hal seperti ini jelas-jelas salah.

(……Aku tidak akan menyerah…… Aku tidak akan menyerah……)

Nino membelakangiku dan sudah mulai melangkah lagi.

"Nino! Dengarkan aku!"

Sambil ditahan oleh petugas hotel, aku berteriak.

"Aku akan datang lagi! Aku tidak akan menyerah!"

***

Beberapa hari kemudian, di siang hari, aku kembali melamun menatap kolam taman.

"Ujian tinggal empat hari lagi…… Bagaimana caranya agar anak-anak itu bisa bersatu kembali……"

Dedaunan yang gugur menari-nari melayang turun, menggoyangkan permukaan air yang tenang.

"Kalau aku tenggelam di sini, apa mereka semua akan cemas dan berkumpul ya. Ah, pikiranku gawat banget nih."

Bergumam sendiri ke arah kolam saja sebenarnya sudah sangat gawat.

"……Tapi, mungkinkah……"

Keinginan seperti itu sirna dalam hitungan detik.

(Tidak, tidak mungkin…… Mana mungkin begitu……)

Aku menjauh dari pagar kolam, lalu duduk di tangga jalur pejalan kaki dengan lemas.

Caraku memang salah…… Bahuku terkulai lemas. Karena dipercaya dan diandalkan, aku mungkin jadi salah paham. Mencampuri urusan rumah tangga orang lain adalah peran yang terlalu berlebihan buatku yang sekarang……

"Tidak, justru……"

──Harusnya kamu tidak usah datang……!

Mengingat air mata Nino, aku memejamkan mata seolah terpuruk. Benar, sejak awal memang sudah salah. Aku yang cuma bisa belajar ini sama sekali tidak ada gunanya……

"Bagi mereka, aku tidak dibutuhkan……"

Saat aku menunduk dengan kesepian, seolah menjadi pertanda, terpaan angin berembus.

Dedaunan yang mengapung di permukaan air bergeser, membuat pepohonan berdesir dan menggugurkan daun-daunnya.

"Kamu murung lagi."

Tiba-tiba terdengar sebuah suara, membuatku mendongakkan kepala perlahan.

Seorang anak perempuan berambut panjang yang memakai topi bertepi lebar sedang berdiri di sana.

"Ternyata kamu tidak berubah ya, Uesugi Fuutarou-kun."

Aku menahan napas dan mataku terbelalak lebar. Mungkinkah……

"Sudah lama ya."

Sambil sedikit mengangkat tepi topinya, anak perempuan yang telah tumbuh dewasa itu tersenyum.

***

Byuurr! Suara sesuatu jatuh ke dalam kolam.

Tidak lama kemudian, Yotsuba yang mengenakan baju olahraga (jersey) berlari dan muncul di jalur pejalan kaki.

"Wah?!" Yotsuba terperanjat kaget. "Uesugi-san! Sedang apa kamu di tempat seperti ini……"

"Yotsuba……"

Aku keluar dari kolam dalam keadaan basah kuyup dari ujung kepala sampai kaki, membiarkan kedua tanganku terkulai lemas dan menatap Yotsuba dengan pandangan kosong. Mengapa aku bisa ada di tempat seperti ini──begitulah raut wajahku.

"E-eh…… Maaf ya, aku masih di tengah-tengah latihan…… Anu…… Tolong jaga Nino dan Itsuki ya……"

Yotsuba tampak canggung, tidak seperti biasanya, lalu kembali menyusuri jalan yang dilaluinya seolah hendak kabur.

"Benar juga…… Nino……"

Aku melepas kepergian Yotsuba dalam kondisi linglung, lalu mulai melangkah dengan sempoyongan dalam keadaan basah kuyup.

***

"Ugh!"

Nino yang hendak keluar dari hotel, tanpa sadar mengerutkan hidungnya.

"Orang itu datang lagi…… Jijik banget!"

Dia yang basah kuyup seperti tikus masuk ke got, dikelilingi oleh petugas hotel di lobi.

(Aku ingin dia berhenti. Sudah berapa kali diusir baru dia mengerti sih……!)

Aku mau memarahinya. Nino melangkah ke arahku.

(Tidak kapok-kapoknya datang berkali-kali…… Benar-benar…… pantang menyerah.)

Tanpa menyadari sudut bibirnya tersimpul senyum, dia terus melangkah maju.

Ahhh...., Nino menghentikan langkahnya. Dia dipaksa pergi oleh petugas hotel dan berjalan pulang. Ternyata dia menyerah dengan cukup mudah ya…… pikir Nino sambil melihatnya, tapi profil wajahnya tampak sangat tidak berenergi seolah jiwanya telah melayang keluar.

Di kepala orang yang berjalan menuju pintu keluar itu, sebuah handuk dilemparkan pasat.

"Kalau ada orang lusuh sepertimu di sini, itu cuma merusak pemandangan orang lain saja, tahu."

Nino melangkah mendekatiku, lalu menggerakkan ibu jarinya mengarah ke belakang tubuhnya.

"Mengganggu saja. Masuklah ke kamar."



Chapter 1 | ToC | Chapter 3

Post a Comment

Post a Comment