NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Anime Gotoubun no Hanayome Novelize Volume 4 Chapter 2

Chapter 2

Scrambled Eggs


Padahal aku sudah membulatkan tekad untuk sesi konsultasi masalah, namun dari pemandian wanita tidak ada respons sama sekali dari Itsuki.

"……Nn? Apa tidak terdengar ya……"

Saat aku memiringkan kepala heran, secara mendadak pintu di hadapan mataku terbuka sriit.

"Terima kasih banyak!!"

Yang memunculkan diri adalah pemandangan yang dalam arti tertentu sudah biasa terbiasa dilihat──Itsuki yang hanya terbungkus selembar handuk mandi.

"Kamu! Kenapa kamu malah datang ke sini?!"

Melihatku berbalik badan dan berlari kabur, Itsuki terus mengejarku dengan langkah cepat.

"Karena ini pemandian campuran, jadi tidak ada masalah!"

"Tapi kan ada aku di sini!"

"Kamu bicara apa sih! Kalau sesama teman hal segini mah sudah biasa……"

Tepat di saat itu, Itsuki tersadar dari lamunannya. Wajahnya merona merah padam. Dia menutupi dadanya dengan kedua lengan, lalu berputar membelakangi Fuutarou yang juga membelakanginya.

"……Tentu saja tidak biasa ya. Maaf ya…… aku sangat terbantu kalau kamu mau melupakannya…"

"Ada hal yang harus kamu lakukan untukku, tahu. Tolong bantuannya yang benar ya."

***

"Ayah. Ada sedikit hal yang ingin kubicarakan."

Itsuki yang selesai mandi, berjalan mendekati ayahnya yang sedang berdiri mengawasi di koridor.

"Ada apa?"

Di celah saat Maruo berpaling menghadap Itsuki, aku melangkah dengan jalan berjingkat menuju kamar si kembar lima.

(Sip! Kalau area ini berhasil kulewati, sisanya mah gampang banget!)

Aku tinggal mendengarkan cerita dari mereka satu per satu saja. Hal itu punya kemungkinan besar untuk mengarah pada identifikasi Itsuki Palsu. Lagipula, paling-paling itu cuma masalah sepele saja.

Dengan cepat menempel di dinding, kugeser pintu kamar tamu pelan-pelan dan menyelipkan tubuhku masuk dengan sigap.

(Ichika, Nino, Miku, Yotsuba, tunggulah! Akan kulakukan!)

Dengan penuh semangat saat membuka pintu geser (fusuma), aku menahan napas seketika.

──Ada empat orang Itsuki!

Yukata yang sama, dengan wajah yang sama. Rambut panjang bergelombang halus dan hiasan rambut berbentuk bintang di kedua sisinya……

(Hutan Itsuki…… Kenapa semuanya berubah menjadi Itsuki sih……?)

Aku bersandar lemas di pintu fusuma.

"Fuutarou-kun, ketuk pintu dulu dong."

"Kamu bikin kaget saja."

Sebenarnya mereka adalah Ichika dan Miku, tapi kalau sudah berkamuflase sejauh ini, perbedaan suara maupun nada bicara jadi samar-samar, dan di mata Fuutarou keduanya kelihatan seperti Itsuki.

"Kalau yang ini sih ya."

Yang mencoba menjelaskan alasannya adalah Yotsuba, namun Yotsuba ditahan oleh tangan Nino.

"Pas banget nih. Aku ingin mencoba mengujimu sekali lagi, tahu. Apakah kamu masih ingat? Permainan Kembar Lima. Coba tebak, siapa di antara kami yang mana."

Di hadapan mata Fuutarou, empat orang Itsuki berjejer bersama. Sama sekali tidak bisa membedakannya, tapi aku tidak bisa mundur begitu saja dengan memalukan.

Demi mendapatkan petunjuk, aku memutuskan untuk melakukan wawancara satu per satu di meja kotatsu.

『Itsuki Pertama』

"Perkenalan diri ya. Nakano Itsuki, lahir tanggal 5 Mei. Umur 17 tahun, golongan darah A."

Pertanyaanku salah. Karena mereka semua sama, tidak mungkin ada jawaban yang berbeda.

『Itsuki Kedua』

"Hal yang disukai ya…… Tentu saja, saat makan makanan lezat adalah momen paling bahagia, ya."

Lagi-lagi pertanyaanku salah. Kalau Itsuki, jawabannya cuma ada satu pilihan ini saja.

『Itsuki Ketiga』

"Nn-apa! Uesugi-kun! Tidak boleh menanyakan hal seperti itu pada seorang gadis, tahu!"

Pertanyaannya sendiri yang berbahaya. Meskipun wajahnya memerah, Itsuki yang asli pun pasti akan memberikan reaksi yang sama.

『Itsuki Keempat』

"…………"

Pertanyaanku habis. Meskipun berhadapan langsung, senyumannya benar-benar sama persis seperti Itsuki.

(Sialan! Sama sekali tidak kelihatan perbedaannya!)

Meskipun sudah terlambat untuk memikirkannya, apakah kembar lima bisa mirip sampai sejauh ini? Ini sudah selevel dengan dicurigai sebagai kloning.

"Anu~…… kalau sudah tidak ada pertanyaan lagi~……"

"Kenapa kalian semua menyamar jadi Itsuki sih?"

"!! E-emm ya…… kalau diceritakan akan panjang sih…… tapi…… emm……"

Lho……? Aku mendadak menyadarinya. Itsuki yang ini, jangan-jangan──

"Sejak dulu kami adalah kembar lima yang sangat mirip, dan dikenal oleh semua orang sebagai anak-anak yang akur. Kakek juga sangat senang melihat hal itu. Tapi, pada suatu hari…… aku mencoba berpenampilan beda dari yang lain."

"Fuu~n. Penampilan seperti apa?"

"Penampilan yang sama seperti sekarang yaitu pita kelin……" Baru mau diucapkan, dia mendadak membisu terperanjat.

"Kamu Yotsuba kan!"

Saat aku menunjuknya dengan tegas, Itsuki keempat secara terang-terangan memalingkan matanya.

"A-aku tidak paham apa maksudmu~~~~!"

Jelas-jelas kelihatan kalau dia sedang memaksakan diri. Kupikir dia adalah orang yang paling tidak jago berbohong dan paling gampang dibongkar, tapi tak disangka dia bisa terkena jebakan semudah ini.

"I-Itsuki akan melanjutkan ceritanya ya……"

"……Baiklah. Ceritakan sampai selesai."

Yotsuba menghembuskan napas lega, lalu melanjutkan perannya berpura-pura menjadi Itsuki.

"Melihat kami yang tidak sama berlima lagi, Kakek jadi sangat cemas setengah mati…… Dia berpikir apakah hubungan kami jadi memburuk…… hingga akhirnya Kakek jatuh sakit. Sejak saat itu, kami memutuskan untuk berpenampilan mirip di hadapan Kakek."

Sambil berkata begitu, dia menyentuh hiasan rambut bintang yang menjadi ciri khas Itsuki.

"Lalu dari hasil diskusi, diputuskanlah untuk menyamar menjadi Itsuki. Makanya begitu masuk liburan musim semi dan liburan ini diputuskan, aku sangat cemas apakah bisa menyamar dengan benar atau tidak……"

Rasa aneh pada Yotsuba selama ini ternyata alasannya ini, toh.

"Jadi gara-gara hal itu kamu terus-terusan cemas?"

"Ahaha…… karena yang lain kelihatan sangat gembira, aku jadi merasa sulit untuk mengutarakannya sih……"

Sesuai dugaan ini, masalah ini konyol, tapi dengan begini, kemungkinan bahwa Itsuki Palsu adalah Yotsuba menjadi sangat tipis.

"Demi Kakek yang menakutkan itu…… kalian hebat juga ya."

"Tidak kok, Kakek itu orang yang sangat lembut, tahu. Aku sangat menyukainya!"

Yotsuba tersenyum manis. Bagi si kembar lima, ini adalah bentuk kepedulian mereka terhadap kakek tersebut.

(Meskipun masalahnya konyol, anak-anak ini sangat serius menghadapinya……)

Mumpung Itsuki sedang menarik perhatian ayahnya, akan lebih bagus kalau aku bisa mendengarkan cerita dari tiga orang lainnya juga sih──

Wawancara selesai, dan empat orang Itsuki berkumpul di kotatsu.

"Nah, setelah mendengarkan cerita tadi, apa kamu sudah bisa membedakannya?"

Itsuki kedua yang sebenarnya adalah Nino, berbicara.

Aku hendak menunjuk Yotsuba, namun mendadak gerakanku terhenti.

"Yang mana tadi Itsuki keempat……? Padahal tadi aku sudah tahu……"

"Haah…… mengecewakan. Ternyata memang tidak bisa ya." kata Nino.

"Tunggu dulu! Sekali lagi……"

Tepat saat itu, suara ketukan pintu tok-tok terdengar.

Aku terperanjat. Kalau yang datang adalah Ayah Nakano, kali ini nyawaku benar-benar dalam bahaya──!

***

Pada saat berikutnya, pintu fusuma terbuka. Yang memunculkan wajahnya adalah kakek dari si kembar lima.

"Ah, Kakek." "Selamat pagi~" Yotsuba dan Ichika berpura-pura tidak tahu apa-apa.

Sepertinya ada hal yang ingin disampaikan. Kakek mengutarakan suara yang tidak jelas dan gumaman.

"Eh? Eh?" Yotsuba bertanya balik. "Sepertinya Kakek sedang cemas deh." kata Miku.

"Tenang saja. Sampai sekarang pun kami tetap mirip dan akur kok."

Mendengar kata-kata Ichika, kakek tersenyum manis, dan keempat orang itu meledak dalam tawa yang cerah.

(Bahaya…… Kupikir ayahnya, ternyata hasilnya oke……)

Tidak punya tempat kabur lain, aku refleks bersembunyi dan menyusup ke dalam kotatsu.

(Kalau Itsuki Palsu ada di dalam sini, mungkin saja bisa kelihatan……)

Tadi malam, kalau ada jejak bekas benturan di kakinya gara-gara menabrak tonjolan dinding, maka dialah Itsuki Palsu yang asli. Untungnya, saat ini Fuutarou sedang dikelilingi oleh empat orang yang sedang duduk bersimpuh.

Aku membalikkan pelan ujung yukata yang paling dekat denganku.

"!?"

"T-tunggu sebentar……"

"T-tidak boleh……"

"Apa-apaan yang kamu lakukan sih……!?"

Membuka yukata empat orang satu per satu, aku menemukan memar biru di paha salah satu dari mereka.

(Ketemu! Orang ini adalah Itsuki Palsu!)

Aku mengeluarkan wajahku pelan-pelan dari dalam kotatsu. Itsuki Palsu kelihatan agak tegang.

"Kalau begitu, ayo kita pergi ke aula besar!"

Sepertinya menyadari bahaya, Itsuki Palsu berdiri dengan cepat, dan keempat orang itu keluar kamar bersama Kakek.

──Lolos dari tangkapan ya. 

Tersisa di dalam kamar, aku merangkak keluar dari kotatsu.

"Setidaknya ada hasilnya juga sih……"

Namun, aku tidak mengerti apa alasan dia mencoba menyingkirkanku. Padahal ujian akhir semester berhasil lulus dengan selamat, dan sampai saat ini semuanya berjalan lancar……

Saat aku keluar dari kamar, di samping pintu masuk, seseorang dengan penampilan Itsuki sedang menunggu.

"Boleh minta waktunya sebentar?"

"Emm…… Yotsuba?"

"Salah. Ini petunjuknya." Sambil membuat gestur memasang pelindung telinga (headphone) di lehernya.

"Nino!"

"Petunjuk 2." Gestur menutup mata kanan dengan poni rambut belah samping.

"Aah! Ichika kan!"

Melihatnya yang gemetaran dengan wajah merengut, sepertinya bukan Ichika juga.

"Begitu ya, jangan-jangan Itsuki yang asli!"

"Sengaja kan!" Miku membusungkan pipinya.

(Beneran tidak jelas!)

Sepertinya yang tersisa adalah Miku, tapi kalau sudah tersesat terlalu dalam di Hutan Itsuki, apakah aku tidak akan bisa menemukan jalan keluar sampai mati…… Fuutarou pun gemetaran ketakutan.

***

"Apakah ada bagian yang gatal~?"

Nino menyiram punggung Ichika sambil bergurau.

"Duh…… padahal tidak perlu sampai begini juga lho. Lagipula, kenapa harus aku ya."

Entah kenapa Nino mengajak Ichika saja, "Mau mandi pagi tidak?". Meskipun memiliki firasat buruk, namun karena tidak ada alasan untuk menolak, akhirnya mereka berdua masuk ke pemandian bersama, tapi……

"Dengar ya, bukannya kamu sering mendapatkan hal seperti itu kan──pernyataan cinta (kokuhaku) dan semacamnya."

Ichika terperanjat kaget, namun Nino melanjutkannya tanpa menyadari hal itu.

"Hal seperti ini tidak bisa kuceritakan pada anak-anak yang lain tahu……"

Firasat buruk yang makin berubah menjadi kenyataan saat melihat wajah Nino merona merah saat berbicara dan menyerang Ichika.

"Aku punya orang yang kusukai."

***

Di aula besar, Yotsuba masih duduk sendirian dengan penampilan sebagai Itsuki.

"Semuanya lama banget ya~…… Aku sudah lapar nih……"

Seolah membalas ucapannya, perutnya berbunyi nyaring kruuuuk~.

"Aku sudah lapar! ……Agak beda ya."

Rasanya masih kurang terkesan seperti Itsuki. Yotsuba berdiri dan berbicara dengan mantap:

"Aku sudah lapaaaar~~~~~! ……Iya iya, Itsuki rasanya memang seperti ini!"

***

Itsuki yang asli, tanpa mengetahui situasi Fuutarou dan yang lainnya, sedang sekuat tenaga menahan ayahnya, Maruo.

"J-jadi waktu pergi membeli tirai, kelima orang punya selera warna masing-masing. Semuanya memilih warna berbeda, dan sempat membuat suasana jadi agak kaku……"

Mendengar cerita panjang Itsuki yang tidak ada isinya itu, Maruo terus memasang wajah tanpa ekspresi sambil mendengarkan.

(Uesugi-kun…… sampai kapan aku harus berada di sini ya…… Padahal aku belum makan sarapan sama sekali……)

Membayangkan nasi putih yang hangat saja sudah membuat lambungnya kram.

(Sudah mulai lapar nih~~~~……)

***

Saat Itsuki sedang berjuang sendirian, aku berjalan di belakang Miku menyusuri koridor lantai dua.

"Mendadak ada Ayah di sini pasti bikin kaget ya."

"Iya……"

"Soalnya di undian yang kuikuti bersama Fuutarou, aku salah menuliskan alamat lama. Berkat hal itu, kita semua jadi bisa pergi berlibur bersama."

Ternyata Miku toh…… Tapi, bagaimana cara membedakan wajah yang sama persis ini. Kalau ada trik untuk membedakannya, aku sangat ingin mengetahuinya. Mendadak teringat kata-kata Itsuki: "Kalau ada rasa cinta!".

(Jangan menyerah, aku! Amati baik-baik! Cinta 100%!)

Aku mengepalkan tangan erat-erat, menatap punggung Miku dengan mata yang sangat serius. Kata Itsuki, Miku pun punya masalah yang dipikirkannya. Sebenarnya sejak bulan lalu aku punya satu hal yang terlintas di pikiran. Jangan-jangan Miku……

(……Bikin heran saja. Sejak kapan aku jadi memikirkan hal-hal seperti itu ya……)

Karena terlalu fokus mengamati, tanpa disadari, aku menatap pantat Miku dengan lekat-lekat.

(Rasanya ada pandangan mata yang agak mesum!)

Miku terperanjat dan menoleh. Aku menghentikan langkahku, menghembuskan napas pasrah.

"Aku menyerah. Jangan jahat begini, beri tahu aku dong."

"Itu melanggar aturan, tahu. Berjuanglah sedikit lagi."

Sambil berkata begitu, dia memberikan pandangan mata yang dipenuhi harapan kepada Fuutarou.

"Aku juga ingin ditebak…… oleh Fuutarou."

"Kalau begitu, setidaknya perlihatkan kakimu dong." kataku, mencoba mencari petunjuk secara santai.

"Eh! Kenapa!?"

Tepat pada saat itu, kakek dari si kembar lima muncul secara mendadak dari belakang punggung Fuutarou.

"Kakek……"

Kakek itu menggerakkan mulutnya yang bergumam. Fuutarou mendekatkan telinganya, "……Iya?"

"Aku melihatnya, tahu. Kamu mau menyentuh cucuku lagi, kan?"

Akan sulit kalau sampai kena lemparan banting (Seoi-nage) lagi. Fuutarou bergegas menjauh dari sang kakek,

"Ah-ha-ha…… Hari ini aku tidak melakukan apa-apa kok." ujarnya sambil tersenyum bohong.

"Miku. Apakah dia melakukan sesuatu padamu?"

"E-ehm……"

Sang kakek mendekatkan wajahnya ke arah Fuutarou, memberikan tekanan intimidasi secara diam-diam, lalu memutar badan dan pergi meninggalkan tempat itu.

Syukurlah selamat──Menghembuskan napas lega dengan tubuh terkulai lemas, Fuutarou mendadak menyadari sesuatu.

"Kakek itu, dia bisa membedakan Miku cuma dari wajahnya saja tahu…… Miku, kamu pergi duluan ya!"

Fuutarou langsung berlari cepat, lalu tanpa peduli gengsi dia bersujud (dogeza) tepat di kaki sang kakek.

"Kakek! Bukan, Guru! Aku punya satu permintaan!"

***

"Ini soal konsultasi cinta sih……"

Terendam di ujung kolam pemandian batu yang saling berjauhan, Nino melayangkan pembicaraan secara langsung.

"Pertemuan awal kita adalah yang paling buruk. Tapi, aku mendadak menyadarinya. Kalau aku menyukai orang itu."

Ichika tanpa sadar menundukkan pandangan matanya.

(Nino, aku mohon…… Jangan katakan lebih dari itu lagi……)

Keseimbangan di antara saudari yang saat ini masih terjaga secara halus, akan hancur seketika jika dia mendengarkannya.

"Soal siapa orangnya…… tidak boleh! Kalau yang satu ini tidak bisa kukatakan!"

──Padahal aku sudah tahu. 

Melihat Nino yang bergeliat malu-malu, Ichika seketika menjadi tenang kembali.

"Baru beberapa hari lalu aku menyatakan cinta padanya sih…… tapi apakah itu keputusan yang benar, aku sendiri tidak tahu…… Makanya aku ingin bertanya. Kalau dinyatakan cinta, apakah orang akan jadi sedikit menyadarinya, ya?"

"Kalau dari pengalamanku sih, ya……"

Sebenarnya dia ingin mendengarkan konsultasinya sebagai seorang kakak. Namun, rasa cemburu yang tak tertahankan dengan mudah mengalahkan niat baiknya itu.

"Maaf ya. Sepertinya hal seperti itu tidak ada deh."

Dari ujung dagu indah Ichika, tetesan air jatuh ke bagian dadanya yang putih.

(Aku pun menyukai Fuutarou-kun…… Makanya untuk saat ini, biarkanlah tetap seperti ini dulu……!)

Mengabaikan harapan Ichika tersebut, Nino menafsirkannya sendiri dan berkata:

"Begitu ya…… Berarti sekadar menyatakan cinta saja tidak cukup ya."

"Eh!? Bukan, bukan begitu maksudku. Pertemuan kalian itu yang paling buruk, kan? Apakah kamu benar-benar menyukai orang itu?"

"Orang itu muncul sebagai sosok yang merusak hal-hal berharga milikku. Tapi di malam itu, sambil mengira orang seperti pangeran itu adalah orang lain, aku malah jadi menyukainya."

Di malam uji keberanian saat kemping sekolah, percintaan dimulai karena mengira Fuutarou adalah Kintarou.

"Lalu aku jadi memahaminya. Bahwa yang kutolak selama ini adalah peran yang dibawakannya, bukan dirinya secara pribadi…… Begitu menyadari kalau pangeran itu adalah dirinya, aku sudah tidak bisa menahannya lagi."

Teringat Fuutarou yang membawanya pergi melaju kencang dengan sepeda motor, wajah Nino merona merah terpesona.

Melihat Nino yang menceritakan perasaan cintanya secara terang-terangan, emosi yang sangat gelap kembali membuncah di dalam diri Ichika.

"Masa begitu…… Makanya kamu jadi menyukainya…… Bukankah hal itu terlalu enak di kamu saja?"

Nino terperanjat sejenak, lalu mengangkat tangannya dan meregangkan tubuhnya lebar-lebar.

"……Benar juga ya. Kalau soal yang satu ini aku sendiri juga merasa agak risi sih."

Sambil berkata begitu, dia menautkan kedua tangan di belakang kepalanya, bersandar pada batu pemandian.

"Tapi meskipun begitu, aku tidak berniat untuk menyerah kok. Soalnya ini kan cintaku. Kalau aku tidak bahagia, maka tidak ada artinya, kan."

"K-kalau…… kalau ada orang lain yang menyukai orang yang sama bagaimana? Kalau gadis itu ternyata memikirkan dia jauh lebih dalam dibanding kamu, bagaimana?"

"Hal itu…… benar juga ya…… Maaf ya, tapi meskipun harus menjatuhkannya, aku ingin mewujudkannya. Aku berpikiran seperti itu sih."

Ichika terpana linglung.

(T-tidak bisa dihentikan……! Dia adalah kereta lokomotif cinta yang melaju liar! Dia bahkan tidak mau mendengarku bicara! Padahal bilangnya mau konsultasi!)

Nino berdiri dari pemandian air panas dan keluar byurr.

"Baguslah aku bisa bicara denganmu. Ternyata sekadar menyatakan cinta saja tidak cukup, ya."

"Kamu mau melakukan apa!?"

"Memegang tangan…… tidak, memeluknya…… Kalau dengan begitu dia masih belum paham juga…… akan kucium dia!"

Nino mengepalkan kedua tangannya erat-erat di depan dadanya yang kencang. Ichika terperanjat kaget setengah mati.

"I-itu berbahaya, tahu! Masa mendadak mencium!"

"Benar juga ya…… Kalau dipikir secara tenang……"

Nah kan, tenanglah sedikit──Tepat saat Ichika merasa lega sejenak,

"Kalau akting ciumanku jelek, nanti aku malah dibenci lagi."

Nino yang menoleh melayangkan pandangan mata yang berkilat tajam bagaikan macan betina.

"Kamu, apakah sudah pernah melakukan adegan ciuman!?"

Nino mendekatkan wajahnya ke arah Ichika, mendesak maju dengan agresif.

"A-apa yang mau kamu lakukan!?"

"Tidak apa-apa kan! Kita kan saudara!"

"Justru karena kita saudara, makanya tidak boleh~~~~!!"

Kereta lokomotif cinta yang melaju liar itu telah anjlok dari rel dan jatuh ke dalam kondisi tak terkendali.

***

Jarum jam dinding telah melewati pukul sebelas malam.

Ichika bersandar di dinding seberang area resepsionis, duduk sambil merangkul lututnya.

Pagi hari tadi, setelah keluar dari pemandian, saat mengenakan yukata di ruang ganti, Nino berkata kepada Ichika.

──Kalau sudah malam, aku mau kabur dari sini buat pergi menemui dia.

──Eh!?

──Halangan saat itu adalah Papa ya…… Makanya, aku ingin Ichika mengawasi Papa.

Saat ini sang ayah sedang berbicara di kamar kakek di lantai satu. Meskipun beliau berniat pergi ke kamar si kembar lima di lantai dua, kalau Ichika menahannya di sini, beliau tidak akan menyadari kalau Nino tidak ada.

Pasti malam ini, Nino akan melakukan pertemuan rahasia dengan Fuutarou.

(Lalu, jangan-jangan…… ciuman……)

Rasanya dadanya seperti tersayat-sayat, Ichika mencengkeram erat ujung baju hangatnya (Hanten).

(Sudah tidak bisa dihentikan lagi……)

Nino tidak licik seperti Ichika. Tanpa memedulikan pandangan siapa pun, dia jatuh cinta pada Fuutarou dengan segenap tenaga dan kesungguhan hatinya. Bagi Ichika yang sekarang, tidak ada ruang maupun hak baginya untuk masuk di antara mereka berdua……

Saat menenggelamkan wajahnya di lutut, "Uuu~ toilet toilet." Yotsuba menuruni tangga.

"Nn!? Ichika……"

Menyadari kondisi Ichika yang aneh, Yotsuba mendekat dengan raut cemas.

"……Kamu kenapa?"

Ichika mendongakkan wajahnya sedikit. Di dalam matanya, air mata meluap dan jatuh.

"Ichika…… jangan menangis."

Tanpa menanyakan alasan air matanya, Yotsuba berjongkok di hadapan Ichika.

"……Benar juga, ayo kita pergi ke tempat itu setelah sekian lama."

***

Saat keluar ke atap lantai dua penginapan, di langit malam bertaburan bintang-bintang yang berkilauan bagaikan dihiasi permata.

Seperti yang sering mereka lakukan dulu saat masih kecil, keduanya duduk berjejer di atas genteng. Tepat saat itu, sosok ayah mereka yang berjalan keluar dari penginapan terlihat oleh mereka.




"Ah, Ayah. Shishi…… pasti beliau tidak menyangka kita ada di tempat seperti ini ya."

Di samping Yotsuba yang tertawa bagaikan anak jahil, wajah Ichika diam-diam memancarkan rona kepanikan.

(Bagaimana ini…… Padahal sesuai yang diminta Nino, aku harus menghentikannya……)

Pasti Ayah sedang mencari si kembar lima yang tidak ada di kamar. Di tengah keraguan itu, sosok Ayah menghilang di balik bayangan pohon.

"Emm…… Ichika…… Aku tidak terlalu paham sih……"

Yotsuba yang baru mau berbicara mendadak menggigil brrr, lalu bersin dengan sangat meriah haa-ksying!! Karena cuma mengenakan selembar yukata, sepertinya tubuhnya kedinginan.

"Haha…… malam hari memang masih dingin ya."

Raut wajah Ichika mendadak melunak pelan. Dia melepas pakaian hangatnya (Hanten) lalu membiarkan Yotsuba mengenakannya.

"Habisnya kamu keluar dengan pakaian tipis begitu sih. Tuh kan, ingusmu keluar."

Ichika mengeluarkan tisu dan hendak mengusap hidung Yotsuba.

"I-ingus segini mah aku bisa sendiri tahu!"

Yotsuba yang gengsi merebut tisu tersebut, lalu menyedot ingusnya srooot.

"Fufu. Kamu ini selalu saja seperti anak kecil, ya."

Seolah terhibur oleh sosok Yotsuba yang seperti itu, Ichika tersenyum dengan wajah seorang kakak.

"Terima kasih ya. Kamu mencoba menyemangatiku, kan? Tapi aku tidak apa-apa kok. Aku harus mengejar Ayah……"

Tangan Ichika yang hendak berdiri ditahan oleh Yotsuba, "Tunggu!"

"Kamu tidak lagi memaksakan diri, kan? Aku cemas, tahu. Kalau cuma perasaanku saja maaf ya……"

Namun, di mata Yotsuba, di balik senyuman itu, Ichika kelihatan sedang terluka.

***

Di kamar si kembar lima, hanya tersisa Itsuki dan Miku.

"Yang lain pada pergi ke mana ya……"

Miku yang menatap ke luar jendela mencengkeram tirai erat-erat.

"Jangan-jangan, mereka pergi ke tempat Fuutarou……"

"Ahaha…… mana ada alasan pergi menemui dia di tengah malam begini." Baru saja hendak mengucapkannya, Itsuki membisu.

Bukannya tidak ada, tapi tidak bisa dipastikan sepenuhnya. Meskipun tidak sempat bertemu, kemarin malam yang memanggil Fuutarou dengan memo 『Jam 00:00 di Taman Dalam』 tidak lain adalah Itsuki sendiri.

"Miku. Daripada cuma menunggu saja, bagaimana kalau kita pergi mandi air panas?"

***

Di atas atap, Yotsuba melanjutkan pembicaraannya.

"Sejak datang ke penginapan ini, aku jadi teringat masa lalu…… Dulu Kakek menakutkan banget ya~, terus kita sering dimarahi Ibu gara-gara jahil terus~."

"Fufu. Yotsuba dari dulu memang nakal sih ya."

Seolah tertarik ke dalam kenangan masa lalu, Ichika pun kembali duduk.

"Bicara apa sih? Yang paling sering dimarahi itu kan Ichika!"

"M-masa sih?"

"Jangan bilang kamu lupa ya. Di antara kita yang mirip ini, Ichika itu rasanya seperti bos anak-anak (Gaki-daisho), tahu. Sudah tak terhitung berapa kali cemilanku direbut."

"M-maaf ya……"

"Stiker yang kukumpulkan pun pernah tertempel di tas Ichika."

"Maafkan aku……"

"Anak yang kubilang ingin kuajak berteman pun, besoknya malah sudah asyik ngobrol sama Ichika tuh."

"Diriku yang dulu sampai melakukan hal seperti itu……? Ya ampun, tapi kan diriku yang sekarang sudah jadi dewasa……"

"Rasanya aneh lho~. Kenapa kita tetap seperti anak-anak, tapi cuma Ichika sendiri yang bisa jadi dewasa, ya?"

"Kalau yang itu sih…… setelah melihat sosok Itsuki-chan yang begitu menyedihkan setelah Ibu meninggal… tentu saja dong. Aku harus bersikap seperti seorang kakak."

Sudut bibir Ichika mengencang. Aku adalah putri sulung dari kembar lima. Aku harus tangguh──sejak Ibu meninggal, dia selalu mendisiplinkan dirinya seperti itu……

"Ehm. Aku senang Ichika adalah kakak kami."

Mendengar suara hangat Yotsuba, raut wajah Ichika perlahan mengendur.

"Hanya hal ini saja yang ingin kusampaikan. Ichika sewaktu kecil adalah bos anak-anak yang menyebalkan karena gampang menginginkan milik orang lain…… tapi kamu adalah pemimpin kita bersaudara."

Benar, Ichika selalu berdiri di paling depan, menarik empat orang lainnya dari depan.

"Sejak saat itu sampai sekarang…… aku selalu menganggapmu sebagai kakak lho?"

Yotsuba menatap Ichika dengan malu-malu.

"Makanya…… lho? Tadi aku mau bilang apa ya…… emm…"

Setelah berpikir sejenak, Yotsuba menoleh ke arah Ichika seolah memahami sesuatu.

"Aku ingin cuma Ichika saja yang tidak usah menahan diri, dan melakukan apa yang ingin kamu lakukan… gitu!"

"……Hal yang ingin kulakukan…"

Selalu, aku ingin masa saat ini bertahan selamanya. Aku tidak ingin ruang yang paling nyaman ini berubah. Tapi sebenarnya──

"Aku tidak ingin dia diambil oleh siapa pun……"

Perasaan jujur yang dipaksa dipendamnya, meluncur keluar begitu saja dari mulut Ichika.

Yotsuba yang tidak paham maksudnya hanya terpana heran, "Nn?"

Ichika tersenyum pelan, melucuti pakaian hangat yang dipinjamkan kepadanya oleh Yotsuba lalu mengenakannya kembali ke tubuhnya sendiri.

"Lho? Eh??"

"Phew~…… sebenarnya aku juga kedinginan, tahu."

"Eee~!? Padahal tadi sudah dipinjamkan!"

"Fufufu…… kalau begitu, ayo kembali ke kamar," ujar Ichika sambil kembali berdiri.

"Benar juga ya…… eh, bukannya Ichika ada urusan sama Ayah?"

Setelah jeda sejenak, Ichika berbicara dengan senyuman yang seolah sudah lepas dari beban:

"……Tidak. Sudah tidak apa-apa kok."

***

Itsuki dan Miku yang menuruni tangga hendak pergi ke pemandian, berpapasan dengan Kakek dan Fuutarou.

"Sedang apa di sini?"

Yang bertanya adalah Miku, namun bagi Fuutarou yang kemampuannya masih setengah jalan, keduanya tetap kelihatan seperti Itsuki.

"Eeee……"

"Itsuki, Miku."

Kedahuluan oleh Kakek begitu saja, Fuutarou menghentakkan kakinya kesal.

"Aah! Padahal tadi aku baru mau bilang! Kedahuluan bilang duluan kan, padahal tadi aku baru mau bilang!"

"Anu…… Kamu sedang apa sih……" Itsuki heran.

"Tinggal sedikit lagi! Tunggu sebentar lagi! Kakek kalian sepertinya sebentar lagi mau memberitahuku nih."

Di saat itu, Kakek sudah berjalan di ujung koridor. Fuutarou bergegas mengejarnya panik, "Tunggu dulu dong!".

"Bikin heran saja. Apakah orang itu tidak ada niat untuk menyelesaikannya sendiri, ya?"

"Mau bagaimana lagi…… Mana mungkin bisa membedakan kita cuma dari hubungan setengah tahun saja."

Sambil berkata begitu, Miku menundukkan pandangannya dengan sedih.

***

"Kakek, cepat beri tahu dong. Apa tidak ada trik buat membedakan anak-anak itu?"

Fuutarou terus menempel pada Kakek. Raiha dan Isanari pergi bermain berdua, namun Fuutarou seharian penuh hari ini menempel pada Kakek dan mengamati si kembar lima. Namun, sampai saat ini, petunjuk soal Itsuki Palsu belum didapatkan. Memar di kaki itu pun entah sampai kapan bertahan……

Kakek mengutarakan sesuatu dengan bergumam. Fuutarou mendekatkan telinganya ke mulut Kakek.

"……Cinta."

Cinta──? Punya firasat buruk nih.

"Kalau ada rasa cinta, kamu pasti bisa membedakannya."

Di kepala Fuutarou, terbayang bagan Kakek → Ibu → Anak-anak. Ternyata orang ini biang keroknya!

"Melalui perjalanan waktu yang panjang, mengenali gerak-gerik, suara, maupun kebiasaan kecil pasangan…… hal itu sudah bisa disebut sebagai cinta."

Mengutarakan kalimat yang puitis dan filosofis, Kakek berbalik menghadap Fuutarou.

"Membedakan cucu-cucuku. Begitu kan katamu? Hal itu tidak bisa dilakukan dalam semalam. Untuk apa kamu ingin membedakan cucu-cucuku?"

Kakek bertanya kepada Fuutarou secara tenang.

"Setelah bisa membedakannya, apa yang ingin kamu lakukan?"

Membongkar identitas Itsuki palsu…… alasan seperti itu rasanya tidak akan bisa diterimanya.

"Apakah kamu punya tekad untuk menghadapi cucu-cucuku?"

Fuutarou pada akhirnya tidak sanggup memberikan jawaban.

***

Keesokan paginya, dua pintu geser (shoji) di aula besar terbuka secara bersamaan.

"Kamu adalah Itsuki yang berbicara denganku di malam pertama, kan?"

Fuutarou yang dipanggil melalui Itsuki yang asli, mengalihkan pandangannya pada Itsuki Palsu.

"Iya. Identitas asliku adalah……"

Itsuki Palsu yang baru mau mengucapkannya ditahan oleh tangan Fuutarou, "Tunggu."

"Pada akhirnya, aku tidak bisa menebak dengan benar Permainan Kembar Lima. Aku menyerah. Tapi rasanya menyebalkan kalau kalah terus."

Sambil berkata begitu, Fuutarou melangkah mendekati Itsuki Palsu, berdiri berhadapan seolah hendak bertarung.

"Ini balas dendam. Setidaknya identitasmu seorang akan kubongkar sendiri."

Itulah tekad Fuutarou saat ini untuk menghadapi si kembar lima──

Itsuki Palsu menatap Fuutarou sambil menahan napas.

"Kamu sudah mendengar cerita dari Itsuki, kan?"

"Iya……"

"Pertama, masalah Yotsuba adalah soal liburan ini sendiri. Jadi setelah hari ini selesai otomatis akan terselesaikan…… Lalu, kamu bukanlah Yotsuba. Anak itu tidak akan sanggup menyamar secara sempurna sepertimu."

Fuutarou yang tanpa sadar memalingkan mata adalah karena dia tidak percaya diri.

"Jawaban yang benar……"

Fuutarou menelan ludahnya. Tersisa Ichika, Nino, dan Miku……

"Berikutnya adalah Nino, anak itu agak teledor. Dia lupa menghapus cat kuku di kakinya."

Aku menyadarinya saat Nino masuk ke pemandian campuran. Dan saat ini, di kuku kaki Itsuki Palsu yang ada di hadapanku tidak tertempel apa-apa.

Namun, semakin Fuutarou berusaha keras, raut wajah Itsuki Palsu justru semakin meredup.

(Sudah hentikan, Fuutarou…… Hal seperti ini tidak ada artinya tahu……)

Itsuki Palsu──Miku, menyentuh pelan pahanya sendiri.

***

Tadi malam setelah Fuutarou dan Kakek pergi, Miku dan Itsuki pergi ke pemandian air panas sesuai rencana.

Di ruang ganti, saat Miku melepas sabuk yukatanya, Itsuki terperanjat dan memegang tangan Miku.

"Kaki itu…… ternyata Miku ya…"

Di paha Miku yang terekspos bagian depannya, terlihat jelas memar biru. Bahwa memar di paha adalah bukti Itsuki Palsu sudah diberitahukan oleh Fuutarou.

"Gitu ya…… memar di kaki ini masih tersisa ya."

Saat Miku mengakuinya, Itsuki memasang raut wajah tak percaya.

"Miku, kenapa…… kamu yang kelihatan paling kooperatif, justru mencoba memutuskan hubungan dengan Uesugi-kun?"

"Sebelum itu, aku harus minta maaf pada Itsuki dulu. Waktu itu karena ada Kakek, jadi refleks……"

Miku menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak… itu juga cuma alasan." ujarnya, menunduk.

"Aku tidak bisa mengatakannya sebagai diriku sendiri…… Padahal aku sangat menyukai Fuutarou, tapi malah melakukan hal seperti itu……"

"Eh?" Itsuki sempat terpana sejenak,

"……Miku menyukai Uesugi-kun!?"

Matanya berbinar-binar seolah menemukan penemuan terbesar abad ini, memegang erat tangan Miku.

"Astaga, luar biasa sekali! Kalau yang lain tahu soal ini pasti akan kaget lho!"

Mungkin yang lain juga sudah tahu──batin Miku menepis. Kalau soal percintaan, Itsuki tidak kalah tidak peka dibanding Fuutarou.

"Tapi apakah tidak apa-apa ya…… Bagaimanapun kita ini kan guru dan murid……"

"Makanya itu tahu…… Kita ini guru dan murid…… Kalau begini terus, hubunganku dan Fuutarou tidak akan pernah berubah……"

Suara Miku yang terucap pelan mengandung nada kepasrahan.

"……Aku memahami perasaan Miku. Di atas hal itu, aku punya satu permintaan. Terakhir, temui Uesugi-kun."

Meskipun masih menyisakan kebingungan, Itsuki melayangkan pandangan mata yang sungguh-sungguh pada Miku.

Tapi kalau tahu akan begini, mending tidak usah bertemu Fuutarou saja──Tanpa tahu isi hati Miku yang rumit seperti itu, Fuutarou berusaha sekuat tenaga mencari tahu identitas Itsuki Palsu.

"Jadi, kamu juga bukan Nino."

"Jawaban benar. Lalu, apa masalah yang dihadapi Nino?"

"Kalau yang itu sih kemungkinan." Baru mau diucapkan, Fuutarou menutupi mulutnya dengan tangan dan memalingkan mata dengan canggung.

"Biar begitu…… yang satu ini tidak bisa kukatakan."

"Aku mengerti. Aku tidak akan bertanya."

Meskipun saudara sendiri, Miku pun tidak berniat melanggar privasinya.

***

"Kamu itu, Ichika atau Miku……"

Jujur saja, Fuutarou tidak tahu yang mana di antara keduanya. Kalau dikira Ichika kelihatan seperti Ichika, kalau dikira Miku kelihatan seperti Miku. Bagaimana cara memastikannya? Tepat saat itu, sebuah cara bagus terlintas di pikiranku.

"Sialan, tidak paham. Aku menyerah." ujarku, sengaja mengangkat kedua tangan.

"Gitu…… ya……"

Miku mengepalkan tangannya pelan. Dia merasa heran pada dirinya sendiri yang sempat berharap di dalam hati.

"Aah…… panggilkan anak itu dong."

"Anak itu……?"

"Itu lho, anak itu. Namanya emm…… Itsu…… Itsu……"

Aah…… jadi begitu toh. Miku berujar dengan raut wajah dingin.

"Itsuki-chan ya."

"Hahahahaha! Kena kamu!"

Sambil tertawa keras, aku menunjuk Miku secara tegas.

"Yang memanggil Itsuki dengan sebutan '-chan' cuma Ichika seorang! Berarti kamu adalah Ichika!"

Fuutarou tidak akan pernah bisa menemukanku…… Miku menggigit bibirnya menahan perasaan yang membuncah,

"Ahaha…… aku benar-benar tertipu ya." ujarku, berakting sebagai Ichika.

"Duh, bikin merepotkan saja…… Yah, cuma kamu saja yang masalahnya tidak bisa kutebak, jadi aku curiga begitu sih."

"Heeh, hebat banget."

"Urusan pekerjaan ya? Dengar-dengar kamu makin sibuk sih."

"Yah, begitulah. Kalau begitu aku mau bersiap-siap pulang dulu ya, sampai nanti."

Miku tetap berakting sebagai Ichika lalu membalikkan badan. 

Kalau saja aku tidak jago menirukan saudariku, mungkin kamu bisa menemukanku ya…… 

Pemikiran penuh penyesalan seperti itu melintas di kepalanya.

***

Hampir saja gawat nih──Fuutarou menghembuskan napas lega. Pada akhirnya Fuutarou hanya bisa membedakan si kembar lima dengan cara seperti ini.

(Tapi tidak apa-apa. Dengan begini masalah selesai…… Itsuki Palsu, identitasmu adalah.)

Saat menatap sosok punggung yang pergi, Itsuki Palsu mengepalkan tangannya dengan sangat kuat. ……Lho? Sensasi ini……

Tanpa disadari, sebuah ucapan keluar dari mulutnya:

"Miku ya?"

Mendengar suara itu, langkah kaki Miku yang matanya dipenuhi air mata terhenti.

"Kenapa? ……Kan tadi bilang Ichika." ujarnya, tetap membelakanginya.

"Bukan, maaf. Aku sendiri tidak tahu kenapa…… mungkin cuma perasaanku saja, tapi sekilas…… kamu kelihatan seperti Miku."

Bahu Miku gemetaran pelan, lalu mendadak membalikkan badannya. Pada saat itu, rambut palsunya (wig) terlepas, dan dengan wujud Miku, dia berlari lurus menuju Fuutarou.

"Tebakanmu benar!!"

Sambil tertawa campur menangis, dia melompat memeluk Fuutarou, melayangkan dorongan hingga Fuutarou roboh terlentang di atas tatami.

"……Seriusan nih……"

Dipeluk oleh Miku, Fuutarou menatap langit-langit dengan pandangan terpana linglung.

"Boleh kutanya satu hal?"

Sambil menenggelamkan wajahnya di dada Fuutarou, Miku berkata.

"Rasanya seperti kamu tahu masalahku, ya? Kalau seandainya aku bukan Itsuki Palsu, menurutmu apa masalah yang kupikirkan?"

"Setelah tahu kalau tebakanku salah, begini rasanya memalukan untuk diucapkan sih…… tapi jangan tertawa ya…"

Fuutarou memalingkan pandangannya ke samping dengan malu-malu.

"Soal Valentine…… kupikir kamu marah gara-gara belum kubalas…"

"……Ahahahahaha!"

Miku refleks mendongakkan wajahnya. Sambil matanya menampung air mata, dia tertawa keras. Dadanya serasa mau pecah oleh rasa bahagia.

"Kan sudah kubilang jangan tertawa! Kamu sendiri, kenapa ingin aku berhenti sih……!"

"Ah, yang itu anggap saja tidak ada ya."

"Haa!?"

Hubungan sebagai guru dan murid tidak akan berubah. Tapi bukan berarti tidak ada hal yang berubah sama sekali.

(Terima kasih ya sudah menemukanku……)

Di dalam paparan sinar matahari pagi yang menembus jendela shoji, Miku tersenyum dengan senyuman yang sangat berkilauan.

***

"Sampai jumpa~!"

Lima orang Itsuki yang mengenakan gaun seragam melambaikan tangan sambil tersenyum pada kakek yang mengantar di depan penginapan.

Maruo, Ebata, Raiha, dan Isanari pun melangkah pergi.

Kepada Fuutarou yang tersisa paling akhir, kakek dari si kembar lima berkata:

"Cucu-cucuku adalah harapan terakhirku…… setelah kehilangan Rena."

"Eh……" Rena itu kan──

"Sampaikan pada cucu-cucuku…… hiduplah menjadi diri mereka sendiri."

Fuutarou mengangguk dalam diam. Kalau suatu saat nanti datang ke sini lagi, apakah saat itu aku sudah bisa membedakan wajah kelima orang itu dengan benar?

Perjalanan 3 hari 2 malam yang sangat padat pun berakhir, Fuutarou mendongak melihat 『Lonceng Janji』 di gardu pandang.

Kakek tadi berkata. Melalui perjalanan waktu yang panjang, mengenali gerak-gerik, suara, maupun kebiasaan kecil pasangan…… hal itu sudah bisa disebut sebagai cinta──.

(Kalau begitu…… alasan kenapa waktu itu aku bisa tahu kalau itu Miku adalah……)

Aku tersenyum getir, menghapus kelanjutan pikiran itu.

"Bagaimanapun juga, fakta bahwa aku bisa membedakannya tidak berubah. Fufufu……"

Saat sedang memasang senyuman bangga, seseorang berlari mendekat tak-tak-tak.

"……Uwoh!?"

Lonceng janji yang katanya kalau dibunyikan berdua akan terikat selamanya. Seolah merayakan dimulainya perjalanan penuh gejolak bersama si kembar lima yang masih akan berlanjut ke depannya, suara lonceng bergema klang-klang memenuhi langit biru.



Chapter 1 | ToC | Chapter 3

Post a Comment

Post a Comment