NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Anime Gotoubun no Hanayome Novelize Volume 4 Chapter 3

Chapter 3

Selamat Datang di Kelas 3-1


Kalender berganti ke bulan April. Bersamaan dengan berakhirnya liburan musim semi, tahun ajaran baru pun semakin dekat.

"Akhirnya, mulai minggu depan kita jadi murid kelas tiga ya."

Sambil masuk ke dalam kotatsu yang rasanya masih belum bisa dilepaskan—atau lebih tepatnya belum bisa melangkahkan kaki keluar darinya, Miku mengatakannya.

"Apakah kita sekarang sudah menjadi murid tingkat paling atas?" "Baguslah kita benar-benar bisa naik kelas."

Itsuki dan Nino masing-masing mengutarakannya dengan penuh rasa haru.

"Semuanya! Mulai sekarang, mari kita berjuang lebih keras lagi, ya!" Yotsuba justru makin penuh dengan semangat.

Di hadapan adik-adiknya, Ichika tersenyum ramah lalu mendadak mengumumkan sesuatu:

"Iya iya. Ngomong-ngomong, mulai minggu depan uang sewa rumah akan kita bagi lima secara rata."

Kepada empat orang yang terpana linglung, syarat yang sangat tidak berperasaan ditambahkan olehnya.

"Bagi yang tidak bisa membayar, terpaksa harus keluar dan kembali ke apartemen yang dulu lho. Mari berjuang keras supaya kita bisa terus bersama! Jadi, mohon kerja samanya ya♪"

Dengan senyuman yang tidak menerima penolakan, dia memaksakan kepatuhan mutlak kepada adik-adiknya. Entah kenapa, sosok Ichika yang dulu rasanya seperti telah kembali.

Kalau Ichika sudah jadi begini, dia sangat sulit untuk dilawan. Lagipula, kalau harus tinggal di apartemen itu hanya berdua bersama Ayah saja, membayangkannya saja sudah membuat keringat dingin keluar…… Meskipun begitu, selama ini mereka memang sudah terlalu memaksakan dan memberatkan Ichika.

Dengan begitu, menjelang semester baru, keempat adiknya mulai mencari pekerjaan paruh waktu.

***

Toko kue tempat Fuutarou bekerja paruh waktu, kebetulan sedang membuka lowongan staf baru.

"Emm, karena hari ini adalah wawancara. Pertama-tama, aku senang sekali kalian datang melihat lowongan ini."

Berdiri di belakang Manajer yang ber-suasana hati sangat baik, Fuutarou memasang raut wajah kaku melihat dua orang pelamar di hadapannya.

"Kenapa kalian berdua malah melamar kerja paruh waktu di sini!"

"Kenapa anak ini bisa ada di sini? Aku sendiri juga ingin tahu."

Nino mengerutkan alisnya, melirik Miku yang duduk di kursi sebelahnya.

"Kalau bisa sih aku ingin menerima kalian berdua, tapi kuotanya cuma satu orang. Kalau seandainya Uesugi-kun mau mengundurkan diri sih……" kata Manajer, menengadah menatap Fuutarou dengan penuh arti tersirat.

"Bisa saja Manajer ini~. Hahaha……"

Lalu, Miku bangkit berdiri dari kursinya dan berbicara dengan raut wajah yang sangat serius:

"Aku ingin membuat kue."

Fuutarou dan Nino seketika merasa gawat. Bagaimanapun juga, Miku adalah orang dengan keahlian memasak yang telah melahirkan berbagai hidangan aneh dan mengerikan, seperti kroket hitam pekat hingga cokelat tengkorak.

"Heeh, ternyata kamu ahli ya. Kalau begitu buatmu saja……"

Manajer yang tidak tahu apa-apa mulai condong ke arah Miku, membuat Nino terburu-buru ikut bangkit berdiri.

"T-tunggu sebentar! Aku yang jauh lebih ahli tahu!"

Mengabaikan Nino yang seperti itu, Miku melanjutkan kata-katanya:

"Sejak masuk tahun ini, aku sudah berkali-kali membuat cokelat."

"Kamu ini ya! Hal itu kan bisa terjadi berkat bantuanku juga, kan!"

"Pada akhirnya aku bisa membuatnya sendiri kok."

Saat mereka berdua mulai berdebat, Manajer yang kebingungan mengalihkan pandangannya ke arah Fuutarou sambil bergumam, "Emm……".

"Mereka berdua ini temanmu kan?"

"Eh? Yah……"

"Kuserahkan padamu ya!"

"Eeeh!?"

Manajer dengan cepat berpindah ke belakang Fuutarou lalu mendorongnya ke depan.

"Fuutarou, bagaimana keputusanmu?"

"Kalau kamu sih tentu saja akan memilihku kan?"

"Kalau hal yang bisa kulakukan, apa pun akan kulakukan kok."

Nino dan Miku bergantian mendesak keputusan pada Fuutarou.

""Makanya pilih salah satu!""

Serba salah untuk memilih yang mana, Fuutarou hanya berdiri terpaku dengan raut wajah kebingungan.

***

"Kalau begitu, mulai minggu depan mohon kerja samanya ya."

Suara Manajer terdengar, diiringi bunyi bel pintu toko kue yang berdenting klang-klang.

"Aku kalah……"

Keluar dari toko, Miku menjatuhkan bahunya lemas.

"Habisnya kamu mendadak mengajukan duel memasak sih. Apa coba rencana kemenanganmu……"

Kue tart utuh buatan Nino yang sempurna baik dari segi penampilan maupun rasa, berbanding dengan kue berantakan buatan Miku. Tentu saja Manajer mengibarkan bendera kemenangan untuk Nino.

"Yah, tapi, bukan hal yang buruk sih…… Nn?"

Miku, yang sudah menyeberang jalan, sedang melihat selebaran lowongan kerja paruh waktu di toko roti seberang.

"Mungkin aku pilih yang ini saja deh……"

Dia terlihat benar-benar sedang mempertimbangkannya secara serius. Nino yang merasa heran mendatangi Miku.

"Cepat banget kamu berpaling ya. Di toko roti itu kan tidak ada dia, tidak apa-apa nih?"

"Soalnya tujuanku bukan Fuutarou kok."

Alasan Miku mengajukan duel memasak padahal sudah tahu akan kalah adalah demi Fuutarou yang sedang kebingungan.

Tapi, Fuutarou yang memakan kue berantakan buatan Miku sempat berujar, "Emm…… rasanya tidak buruk sih." Hal sepele seperti itu saja sudah membuat Miku merasa sangat gembira tak terhingga.

"Saat membuat kue hari ini, aku kembali memikirkannya…… Sepertinya aku memang suka membuat makanan. Lagipula……"

Di daftar 『3 Hal yang Disukai dari Seorang Gadis』 milik Fuutarou, 『Pintar Memasak』 berada di peringkat kedua──

(Aku akan menjadi diriku yang bisa disukai oleh Fuutarou.)

Kalau diriku berubah, pasti hubungan kami berdua juga akan berubah──Miku berpikir begitu.

Di sisi lain, Nino tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya melihat Miku yang berubah menjadi begitu positif bagaikan orang yang berbeda.

(Padahal aku menang…… tapi entah kenapa rasanya ada yang mengganjal…)

***

Rencana saat liburan berakhir gagal gara-gara Ichika. Di malam terakhir, Nino kabur dari penginapan, menunggu Fuutarou di 『Lonceng Janji』 gardu pandang dengan dada berdebar kencang. Namun, yang memunculkan diri bukanlah Fuutarou, melainkan ayahnya, Maruo, dengan raut wajah menakutkan. Tentu saja, dia langsung dipaksa pulang kembali ke kamar.

(Tapi, lewat kerja paruh waktu ini…… akan kubuat dia menyukaiku.)

Nino mengepalkan tangannya erat-erat. Nino sendiri pun, aksi nekatnya makin menjadi-jadi tanpa kendali.

***

Udara mulai menghangat. Bunga sakura di pepohonan sepanjang jalan mekar dengan sangat indah.

"Begitu ya~…… Apakah aku sudah mengatakan hal yang menyusahkan kalian semua, ya."

Di pagi hari pertama semester baru, saat Fuutarou menanyakan soal kerja paruh waktu kepada Ichika yang ditemuinya di jalan menuju sekolah, jawaban itulah yang didapatnya.

"Kalau cuma dari penghasilanmu saja, memangnya masih berat ya?"

"Yah, sebenarnya pas-pasan masih bisa diusahakan sih…… tapi sampai hari ini demi sewa rumah, aku cuma mengambil pekerjaan yang pasti-pasti saja. Makanya aku berpikir sudah saatnya aku mencoba menantang hal yang ingin kulakukan."

Sambil membelakangi Fuutarou, dia mengucapkannya dengan malu-malu.

"Jadi begitu ya……"

"Yotsuba juga syukurlah berhasil diterima. Lagipula, dari dulu dia sudah biasa membersihkan kamarku, jadi itu sih hal gampang buatnya. Kalau Itsuki-chan sepertinya masih belum bisa mengambil langkah, tapi pasti tidak apa-apa kok."

Yotsuba mulai bekerja paruh waktu sebagai petugas kebersihan, sedangkan Itsuki sedang mencari pekerjaan paruh waktu secara hati-hati lewat ponsel pintarnya.

"Mau melakukan apa pun boleh saja kok. Asal nilaimu tidak merosot ya."

"Ahaha, kalau sudah sampai di titik ini sih rasanya ingin lulus bersama ya."

Ichika menoleh pada Fuutarou lalu tersenyum manis.

"Aku mengandalkanmu lho, Sen~sei."

Bibir indah Ichika itu membangkitkan kembali ingatan di dalam kepala Fuutarou.

Di depan Lonceng Janji. Suara langkah kaki yang mendekat tak-tak-tak. Tepat saat Fuutarou menoleh, di hadapan matanya──

"Kamu kenapa?"

"Bukan apa-apa……" kataku memalingkan pandangan mata secara kaku. Itu cuma kecelakaan, lupakan saja, Fuutarou meyakinkan dirinya sendiri.

"Tapi ya…… meskipun aku sendiri yang mengusulkannya, rasanya agak kesepian juga sih. Semuanya akan sibuk masing-masing. Pasti kesempatan untuk berkumpul berlima juga jadi makin sedikit kan."

Ditiup oleh angin yang membelai pelan, kelopak bunga sakura berguguran.

"Apakah kita, akan terus menjadi dewasa seperti ini, lalu perlahan-lahan terpisah satu sama lain ya…"

"Entahlah. Tapi, pasti itu bukan hal yang buruk kok."

Mendengar kata-kata Fuutarou, Ichika tersenyum, "Benar juga ya."

***

──Singkat cerita, rasa cemas tipis yang diutarakan oleh Ichika pada akhirnya hanya menjadi kekhawatiran yang tak beralasan.

Fuutarou masuk ke Kelas 3-1. Entah karena takdir atau apa, dia berada di kelas yang sama lagi bersama Itsuki.

Lalu, di sekeliling Itsuki yang duduk di kursi belakang Fuutarou, empat orang dengan wajah yang sama persis sedang mengelilinginya.




(Si kembar lima lho……! Tidak masuk akal banget……)

Terhadap kenyataan yang seperti lelucon buruk bahwa kelima si kembar lima berada di kelas yang sama, sudut bibir Fuutarou mendadak tersenyum pelan.

(Tolong yang sama cuma wajahnya saja dong.)

Ikatan kuat yang dimiliki kelima orang itu, sepertinya jauh melampaui bayangan Fuutarou.

"Waa~, aku tahu sih kalau Nakano-san itu kembar lima."

"Tapi begitu melihat mereka berkumpul secara langsung begini, rasanya hebat banget ya."

Teman-teman sekelas yang tidak bisa menahan rasa penasarannya, langsung berkerumun mendatangi si kembar lima.

"Karena kalau dipanggil dengan nama keluarga agak membingungkan, boleh dipanggil pakai nama depan tidak?"

Salah seorang siswi bertanya kepada Ichika.

"Ehm. Dengan begitu kami juga akan lebih terbantu sih~"

"Tunjukkan yang itu dong! Yang menebak kartu yang sama itu!"

Entah bercanda atau memang polos, seorang siswi berponi rata bernama Aoi bertanya.

"Maaf ya~, kami tidak punya telepati atau semacamnya kok."

Seolah sudah terbiasa, Nino menepisnya secara halus dengan senyuman formal.

"Miku-chan juga mirip kan? Coba perlihatkan wajahmu lebih jelas dong!"

Yang berbicara dengan cepat beruntun adalah seorang gadis dengan gaya rambut side-tail bernama Tsubaki. Miku yang tidak sesosialis Nino menjadi sangat kewalahan. Teman-teman sekelas yang lain pun semakin banyak berkumpul di sekeliling si kembar lima.

"Wa-wah!?" "Semuanya harap tenang……"

Karena semua orang saling berdesakan ingin maju duluan, Yotsuba dan Itsuki rasanya seperti mau terhimpit.

"Tolong minggir."

Secara mendadak, sebuah suara terdengar, dan dari belakang kerumunan orang muncul Fuutarou.

"Apa? Uesugi-kun juga penasaran sama Nakano-san dan yang lainnya?" pancing Aoi bercanda.

"Mau ke toilet. Karena mengganggu jadi tolong minggir."

Menjawab dengan tidak ramah, Fuutarou menerobos langsung ke tengah kerumunan dan keluar dari kelas.

Tsubaki menggerutu, "Apaan sih dia itu, menyebalkan banget!" Namun, berkat suasana yang menjadi dingin, fokus serbuan ke si kembar lima akhirnya terhenti.

"Ahaha…… kita dicuekin ya……" Ichika tersenyum getir.

"Masih tidak berubah ya…… Uesugi-kun sejak kelas dua memang sudah seperti itu. Di kelas dia sengaja berusaha agar tidak berhubungan dengan orang lain……"

Itsuki menjelaskan kepada saudarinya yang lain.

"Kalau diingat-ingat, waktu panitia kemping sekolah juga dia berniat mengerjakannya sendirian." Yotsuba berseru seolah tersadar.

"Dia memang orang yang seperti itu." kata Itsuki.

"Andai saja semua orang tahu kalau sebenarnya dia itu anak yang baik di lubuk hatinya……"

Di samping Ichika yang kelihatan agak cemas, Yotsuba tampak tenggelam dalam pemikirannya.

***

Bimbingan kelas (homeroom) dimulai. Wali kelasnya adalah seorang guru laki-laki muda berkacamata.

Si kembar lima duduk berjejer secara vertikal dari barisan paling depan di tengah: Ichika, Itsuki, Nino, Miku, Yotsuba. Di sebelah kiri Ichika adalah kursi Fuutarou, dan seperti biasa dia sedang belajar mandiri dengan tekun.

"Mulai hari ini kalian sudah menjadi murid kelas tiga. Milikilah kesadaran bahwa kalian sudah menjadi murid tingkat paling atas, dan berusahalah menjalani kehidupan sekolah yang bisa menjadi contoh bagi adik-adik kelas…… nn?"

Entah kenapa, Yotsuba yang bahkan tidak ditunjuk malah bangkit berdiri dan mengacungkan tangannya secara mantap.

"Ada apa?"

"Saya mencalonkan diri menjadi ketua kelas di kelas ini!"

Kegaduhan pelan menjalar di dalam kelas. Namun, Yotsuba sangat serius dan bersungguh-sungguh.

"E-eh…… padahal belum ada yang bertanya sih…"

Kepada guru yang kelihatan bingung, "Tolong usahakan! Biarkan saya yang melakukannya!" Yotsuba menundukkan kepalanya, memohon-mohon.

"Lagipula tidak ada yang menolak sih…… Yah, kalau tidak ada orang lain yang mau melakukan."

Yotsuba memasang raut wajah berhasil lalu tersenyum lebar, berjalan penuh semangat ke samping guru di depan kelas.

"Semuanya! Kalau ada masalah, katakan apa saja padaku ya!"

"Sekalian kita tentukan ketua kelas untuk yang laki-laki juga deh. Apakah ada yang mau mencalonkan diri~?"

Menyusul setelah guru, Yotsuba mengulang akhiran kalimatnya, "Apakah ada~?".

"Direkomendasikan orang lain juga boleh lho~."

"Boleh lho!"

(Duh, Yotsuba ini…… bikin malu saja……)

Ichika mengulas senyum getir, mengipasi wajahnya yang merona merah dengan tangan.

"Ketua kelas laki-laki sih bukannya sudah pasti ya."

"Yah, tidak ada orang lain selain Takeda, kan. Dia kan peringkat satu seangkatan di ujian akhir semester."

Di antara anak-anak laki-laki, pendapat seperti itu bermunculan.

"Fu…… sungguh, astaga."

Seorang siswa laki-laki yang duduk di kursi barisan paling belakang menyisir poninya ke atas. Sembari menyebarkan senyuman berkilauan seolah merasa memang dirinyalah yang pantas.

Takeda Yusuke. Selama dua tahun ini, gara-gara Fuutarou, dia terpaksa terus berada di peringkat kedua, namun pada ujian akhir semester tiga, dia adalah seorang jenius yang akhirnya berhasil merebut posisi peringkat pertama seangkatan.

"Pak Guru! Saya tahu orang yang sangat cocok menjadi ketua kelas!"

Yotsuba berbicara dengan penuh rasa percaya diri. Takeda menunggu namanya dipanggil dengan senyuman berkilauan.

Namun, arah tunjukan tangan Yotsuba menuju ke──

"Uesugi Fuutarou-san!"

"Ha!?"

Fuutarou terperanjat kaget dan berdiri. Murid-murid lain pun menjadi heboh riuh.

"Eh, Uesugi-kun tidak apa-apa nih……?"

"Padahal ada Takeda-kun lho……"

Aoi dan Tsubaki berbisik-bisik. Antara Fuutarou yang penyendiri dan rumit, dibandingkan dengan Takeda yang The Good Boy. Siapa yang lebih pantas menjadi ketua kelas? Tidak ada keraguan lagi.

(Yotsuba…… apa-apaan yang kamu lakukan…)

Bagi Fuutarou, menjadi ketua kelas tidak lain hanyalah beban yang menghambat pelajarannya.

"Baiklah, mari kita tentukan seksi berikutnya."

"Pak Guru! Saya tidak pernah bilang mau melakukannya, tahu!"

Di tengah Fuutarou yang memprotes dengan keras, Takeda menatapnya dengan senyuman berkilauan yang penuh arti tersirat.

"Sialan…… Si Yotsuba itu, malah melakukan hal yang tidak perlu…"

Pada akhirnya, dipaksa menjadi ketua kelas, Fuutarou yang menggerutu sendiri keluar dari toilet laki-laki, lalu Miku berjalan mendekatinya.

"Fuutarou. Boleh minta waktunya sebentar? Ada hal yang ingin kutanyakan."

Sambil berkata begitu, dia menyodorkan kedua tangannya yang terbuka kepada Fuutarou.

"Di sini ada lampu ajaib."

"……Tidak ada tuh."

"Ada kok."

"Tes psikologi ya?"

"Kalau seandainya bisa mengabulkan lima permintaan, apa yang akan Fuutarou lakukan?"

"Mendadak banget sih? Ternyata beneran tes psikologi kan."

Miku menatap diam, menunggu jawaban. Fuutarou menggaruk kepalanya pasrah.

"……Kalau hal seperti itu, bukannya tidak ada orang yang akan menjawab selain jadi orang kaya, ya?"

"Uang……"

"Gitu saja cukup kan?"

"Sisa empat lagi."

"Biasanya kan cuma tiga!"

"Apa saja boleh kok. Kan bisa pakai sihir?"

Sama sekali tidak punya ketertarikan 1 milimeter pun pada hal-hal yang tidak realistis seperti itu, aku bersedekap sambil berpikir.

"Meskipun pernah berpikir kalau staminaku naik akan bagus sih…… tapi gara-gara itu rasa lelah justru makin menumpuk, jadi pemulihan rasa lelah boleh juga deh. Belakangan ini tidurku juga buruk sih…… sekalian minta dinaikkan keberuntungannya deh."

Padahal bilangnya tidak ada selain uang, tapi ternyata serakah juga.

"……Aku mengerti."

"Mengerti apa coba?"

Namun, Miku menjawab tanpa ekspresi seperti biasanya.

"Eh? Kenapa tidak memberitahuku?"

Bikin penasaran saja, kan. Tepat saat itu, suara berseru, "Ah, ketemu!" Aoi dan Tsubaki berlari mendekat.

"Yotsuba-chan." "Pak Guru memanggilmu lho."

"Emm……"

Mengira Miku yang sedang kebingungan sebagai Yotsuba, mereka mendorong punggungnya, "Ayo, ayo."

"A-anu……"

"Dia itu bukan Yotsuba, tahu. Dia anak ketiga, Miku."

Saat Fuutarou memberitahu mereka, kedua orang itu membelalakkan mata mereka.

"Eh…… Benaran!?"

Miku mengangguk dengan sangat cepat, ehm-ehm-ehm. Tsubaki menangkupkan kedua tangannya dan meminta maaf.

"Maaf ya~, kami masih belum bisa menghafalnya."

"Tidak masalah. Sudah biasa kok." kata Miku.

"Ah!"

Aoi melihat Itsuki yang berjalan di koridor, lalu berlari mendekatinya bersama Tsubaki.

"Yotsuba-chan, Pak Guru……"

"Tebakan kalian hampir kena, tapi salah!"

Fuutarou yang kesal berdiri di samping Itsuki.

"Dengar ya!? Kalau merepotkan, hafalkan saja dari barang yang mereka pakai! Hiasan rambut berbentuk bintang yang tidak ada nilai seninya ini adalah anak kelima, Itsuki!"

"Mendadak sangat tidak sopan ya……" Itsuki kesal.

"Kalau Yotsuba itu pita mencolok yang norak itu! Hafalkan itu saja, pasti tidak akan salah!"

……Meskipun begitu, Fuutarou sendiri tidak bisa bicara sok hebat juga. Seperti saat di pemandian air panas dulu, kalau gaya rambutnya disamakan dan mereka memakai barang yang sama, dia juga sama sekali tidak tahu.

Aoi dan Tsubaki saling berpandangan, lalu memasang pandangan mata kagum.

"Uesugi-kun, hebat banget ya!" "Terima kasih ya! Seperti dugaan ketua kelas ya!"

Tadi bukannya mereka berdua baru saja menjelek-jelekkan aku ya?

Aoi memegang lengan Fuutarou, "Beri tahu kami lebih banyak tentang mereka berlima dong!"

"Ha?"

Tsubaki mendorong punggung Fuutarou, "Tuh, di sana ada satu orang lagi!".

"H-hei."

"Ooi~, Yotsuba-chan~!"

"Bukan, yang itu Nino!"

Di tengah kebingungan, Fuutarou dibawa pergi oleh mereka berdua dalam sekejap.

"Siswi itu…… menempel-nempel pada Fuutarou……"

Miku menyalakan kobaran api cemburu, membuat Itsuki tersenyum pelan lalu berkata:

"Bagus kan. Pasti dia juga perlahan-lahan mulai berubah lho."

Fuutarou yang tadinya tidak mau berhubungan dengan selain si kembar lima, meskipun terpaksa, dia mau mengajari Aoi dan Tsubaki cara membedakan Nino. Rekomendasi Yotsuba untuk menjadikannya ketua kelas sepertinya tidak sepenuhnya salah.

"Tapi aku mengerti kalau kamu jadi merasa sedikit cemburu."

Seketika Miku melayangkan pandangan mata menakutkan yang tajam pada Itsuki.

"S-sebagai teman lho!"

Dengan terburu-buru membela diri, Itsuki berpaling dengan raut wajah dingin lalu berkata:

"Tapi rasanya aneh ya…… sampai bisa menyukai orang yang seperti itu."

Fuutarou memang seorang tutor privat yang unggul, dan sekarang juga sudah menjadi teman, tapi kalau disuruh menyukainya sebagai lawan jenis…… Itsuki tetap saja merasa sulit untuk memahaminya.

***

Malam harinya, Miku berkata kepada para saudarinya yang berkumpul di kotatsu.

"Aku sudah menanyakannya lho, lima permintaan Fuutarou."

Di atas buku catatan yang dibentangkan di atas kotatsu, tertulis lima poin, yaitu 『Ingin Jadi Orang Kaya』, 『Peningkatan Stamina』, 『Pemulihan Rasa Lelah』, 『Ingin Tidur Nyenyak』, 『Peningkatan Keberuntungan』.

"Sama sekali tidak tepat sasaran ya……" Nino mengerutkan alisnya.

"Bagaimana nih?" tanya Yotsuba.

"Bagaimanapun juga, sepertinya lebih baik kita bergegas ya."

Kepada Ichika yang berbicara dengan wajah serius, Miku mengangguk dengan penuh semangat.

"Ehm. Soalnya sudah dekat kan…… hari ulang tahun Fuutarou."

Hari H adalah tanggal 15 April. Kelima orang itu menatap buku catatan dengan pemikiran masing-masing di dalam dada mereka.

***

Keesokan harinya, saat Fuutarou sedang berbicara dengan Miku di koridor, seorang siswi dari kelasnya berlari mendekat.

"Ketua Kelas Uesugi! Ada hal yang ingin kubicarakan dengan Miku-chan nih!"

Saat sedang bersama Ichika, seorang siswa membawa lembaran kertas dan mengajaknya berbicara.

"Ketua Kelas, tolong serahkan ini pada Ichika-chan ya."

Kalau bersama Nino "Buat Nino-chan.", kalau bersama Itsuki "Buat Itsuki-chan.", kalau bersama Yotsuba "Buat Yotsuba-chan."……

"Aah~~~~~! Merepotkan banget~~~~~!"

Fuutarou berteriak. Apakah aku ini pawang si kembar lima, hah? Semua orang salah paham tentang peran ketua kelas.

"Emm, karena kita semua sudah menjadi murid kelas tiga……"

Pemandu homeroom siang hari ini murni merupakan tugas ketua kelas, namun Fuutarou berdiri di podium bersama Yotsuba tanpa semangat.

"Permisi~. Ketua Kelas Uesugi. Suaramu terlalu pelan. Aku tidak bisa mendengar apa yang kamu katakan."

Takeda dengan senyuman berkilauan berujar, "Tolong agak lebih keras sedikit ya. Ya?" sambil mengedipkan satu matanya.

Si sialan itu, malah memancing keributan denganku…… Fuutarou yang kesal mengeraskan suaranya.

"Acara utama di semester satu yang bisa dibilang sangat penting, aku ingin mendiskusikan acara tersebut!"

"Akhirnya dimulai juga ya!"

Yotsuba melanjutkan dengan tersenyum, dan Fuutarou memajukan tubuhnya ke meja guru dengan penuh semangat.

"Ujian Simulasi Kemampuan Nasional!"

"Karya Wisata (Study Tour) ya!"

Suara Yotsuba menimpa suara Fuutarou.

"Semuanya, mari kita nikmati bersama dengan segenap tenaga~!"

"Oow~!"

Seluruh murid di kelas menjadi sangat bersemangat.

"Emm, ternyata yang itu ya……"

Bisa dibilang ini adalah keahlian utama seorang penyendiri, Fuutarou adalah satu-satunya orang di kelas yang berada di gelombang berbeda.

***

Setelah jam sekolah, Miku menghentikan Nino yang hendak keluar kelas sambil menyampirkan tas di bahunya.

"Nino, habis ini kerja paruh waktu?"

"Iya. Hari ini hari pertama."

"Kalau begitu, ada yang ingin kuminta."

"Apaan sih, baru sekarang bilang. Kalau bilang mau tukaran tempat pun……"

Kepada Nino yang bersikap waspada, Miku berkata secara santai.

"Kalau bersama Fuutarou, tolong cari tahu soal hadiahnya ya."

"Eh, aku? Boleh nih……?"

"Ehm. Aku juga mulai kerja paruh waktu hari ini. Aku akan berjuang keras supaya dia senang di hari ulang tahunnya."

Miku yang berusaha sekuat tenaga kelihatan sangat berkilauan, hingga Nino kehabisan kata-kata, tak seperti biasanya.

(……Menyerahkannya padaku, percaya diri banget ya.)

Sambil berjalan menuju toko kue, rasa persaingan pelan-pelan mencuat di dalam dirinya.

(Saat liburan musim semi memang terjadi banyak hal, tapi harusnya aku yang memimpin…… Tapi…… apa-apaan rasa kecemasan ini……)

Langkah kaki Nino terhenti. Meskipun Ichika menyangkalnya, mana mungkin orang tidak akan menyadarinya jika dinyatakan cinta.

***

Begitu keluar ke lantai toko mengenakan seragam kemeja koki putih dan apron salon berwarna ungu, Fuutarou yang memeluk kardus berjalan melintas.

"Oh, mulai hari ini ya."

"I-iya…… Sepertinya aku langsung diperbolehkan masuk ke dapur. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan gaya rambut ini?"

Nino menyentuh rambutnya yang diikat gaya kuncir kuda (ponytail). Perhatikanlah perubahan penampilanku sedikit saja…… Di tengah Nino yang menunggu dengan dada berdebar kencang, kesan yang kembali dari Fuutarou adalah,

"Yah, kelihatannya enak buat dipakai kerja sih. Jangan bikin repot ya."

Dia membawa kardusnya ke dalam seolah-olah sama sekali tidak tertarik.

"Hmph! Kamu pikir aku ini siapa, hah? Pekerjaan begini mah gampang banget!"

Saat Nino berujar dengan nada kesal, Fuutarou menghentikan langkahnya seketika.

"Kukuku…… Seberapa pun kamu bertugas mengurus rumah tangga, bagaimanapun kamu itu anak orang kaya…… Rasakanlah kejamnya pekerjaan…… kejamnya dunia masyarakat!"

***

Pemikiran Fuutarou yang seperti itu meleset secara telak.

"Luar biasa, sempurna! Bisa membuat yang seperti ini di hari pertama. Kamu adalah seorang genius!"

Manajer memuji-muji mousse framboise buatan Nino secara terang-terangan.

"E-eh, masa sih? Itu karena Manajer yang mengajarinya sangat jago lho~”

Sambil merendah, Nino memasang raut wajah yang sangat bangga.

Dari celah tirai penutup, Fuutarou mengintip dapur yang penuh kehangatan itu dengan pandangan mata jahat. Apaan kejamnya pekerjaan…… kejamnya dunia masyarakat……

Menyadari adanya pandangan mata, saat Nino menoleh, Fuutarou dengan cepat menghilang dari pandangan.

***

Padahal sudah bekerja paruh waktu bersama, tapi rasanya jarak dengan Fuutarou justru terasa semakin jauh dibanding sebelumnya.

(Harusnya aku tidak usah menyatakan cinta saja ya……)

Nino yang tangguh pun menjadi ciut. Jangankan makin menyadarinya, malah jadi bersikap canggung seperti ini──

"Aduh, bantuan dari Nakano-san benar-benar sangat menolong ya. Nanti malam ada reservasi pelanggan penting yang masuk soalnya."

Kepada Manajer yang sedang bersemangat, staf laki-laki di dapur berbicara.

"Ngomong-ngomong, hari ini para pekerja paruh waktu dikerahkan semua ya. Apakah ada rombongan pelanggan yang mau datang?"

"Tidak, cuma satu orang kok. Pembahas (reviewer) terkenal yang sangat populer di kalangan terbatas area ini…… 『M・A・Y (Mei)』. Katanya setiap kali M・A・Y memberi bintang di situs ulasan, jumlah pelanggan akan berlipat ganda, penilaiannya setepat itu…… M・A・Y yang seperti itu menginginkan menu baru musim semi kali ini! Target kita, bintang lima!"

Manajer mengepalkan tangannya ke atas.

"Baik!"

Sambil menerima arahan dari Manajer, Nino menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan padanya dengan fokus penuh.

(Aku harus berjuang keras…… Cepat jadi bagian dari toko ini, lalu mendekati Fuutarou dengan benar!)

Kedatangan reviewer terkenal di hari pertama kerja paruh waktu pun mungkin merupakan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan. Kalau bisa menunjukkan keahlian di sini dan diakui oleh semua orang……

***

Tepat saat itu, staf laki-laki membawa mangkuk dan mendekati Manajer dengan raut kebingungan.

"Manajer, adonan mentah yang ini rasanya ada yang aneh deh……"

Dalam sekejap, kepala Nino menjadi kosong seketika. Itu adalah adonan yang dibuat oleh Nino.

Manajer mengambil adonan dengan jarinya lalu mencicipinya, "Memang benar……" sambil mengerutkan alis.

"Maafkan aku! Itu buatanku!"

"Ayo segera buat ulang."

"B-baik!"

Padahal sudah dipercaya diserahi pekerjaan, tapi malah melakukan kesalahan serendah ini──Nino menggigit bibirnya.

***

Beberapa saat kemudian, Fuutarou menampakkan wajahnya di dapur, "Aku mau istirahat sebentar."

"Sip. Nakano-san juga, mumpung sekarang sedang bebas, istirahatlah dulu.” Manajer menyapa Nino.

”Tidak, aku masih sanggup kok. Biarkan aku mengerjakannya!”

Nino mengaduk adonan di dalam mangkuk dengan pengocok adonan seolah makin mendesak dirinya sendiri.

”Saat bisa istirahat, lebih baik istirahat dulu. Buatmu yang baru pertama kali, pasti terasa sangat berat, kan. Maaf ya.”

Karena dikasihani, justru membuatnya merasa semakin tidak berguna, Nino akhirnya menghentikan tangannya.

”Baik…… aku mengerti.”

***

Di ruang belakang (backyard), Fuutarou duduk di kursi sedang beristirahat.

"Bagaimana ini…… Gara-gara aku semuanya jadi kelihatan sibuk……"

Sambil berdiri terpaku di pintu, "Harusnya aku kembali saja……" tepat saat Nino hendak keluar lagi:

"Manajer juga bilang begitu, tapi itu bukan salahmu, tahu. Lagipula, Manajer yang menyerahkannya pada orang baru yang 100% salah."

Setelah mengucapkannya kepada Nino, Fuutarou berdiri dan berjalan menuju lemari loker.

(Tapi kalau biasanya…… Kenapa justru di hari ini…… memperlihatkan hal yang tidak keren seperti itu di hadapan Fuutarou……)

Saat Nino menundukkan kepalanya, Fuutarou kembali sambil memeluk kardus.

"Coba lihat ini. Tapi jangan dilihat terlalu lekat-lekat ya."

Dia menaruh kardus di meja lalu membuka tutupnya. Di dalamnya ada banyak sekali boneka miniatur Sinterklas untuk hiasan kue.

"Waktu Natal dulu, yang harusnya kupesan 100 buah malah salah kupesan 1.000 buah. Ini hiasan Sinterklas itu."

Fuutarou menjauh dari meja, membelakangi Nino yang terpana linglung, lalu menunjuk ke arah rak.

"Terus, goresan di rak ini. Ini waktu aku jatuh sendirian waktu itu."

"A-apa yang kamu katakan sih?"

Mengabaikan Nino yang kebingungan, Fuutarou terus menceritakan kisah kegagalannya sendiri.

"Membawakan kue yang salah ke meja pelanggan, jumlah piring yang kupecahkan saja sudah tak terhitung. Dibandingkan hal itu, kesalahanmu tadi mah cuma kesalahan kecil."

"……Jangan-jangan, kamu sedang menyemangatiku?"

"B-bukan lah! Aku sedang memberitahumu betapa kejamnya pekerjaan tahu. Bagaimanapun juga…… aku kan senior-mu…" Ucapnya sambil menggaruk poninya dengan malu-malu.

"Kenapa……" hanya kata itu yang terucap, lalu Nino membisu.

(Kalau begitu kenapa kamu malah menghindariku……?)

Tapi, dia tidak punya keberanian untuk menanyakan hal itu. Nino memaksakan diri bersikap ceria lalu berkata:

"Aah…… maaf ya sudah membuatmu repot. Bersamaku pasti bikin canggung, kan?"

Tanpa menjawab hal itu, Fuutarou mulai berbicara secara bebas.

"Dengan begitu, meskipun aku sudah berpengalaman di berbagai pekerjaan paruh waktu, setiap kali ada masalah aku selalu menyadarinya secara mendalam…… Bahwa aku ini adalah pria yang cuma bisa belajar saja! Pria yang cuma pintar, peringkat satu angkatan, dan paling-paling cuma bisa jadi tutor privat lima teman sekelas saja."

"Rasa percaya dirimu cuma menumpuk di bagian itu saja ya……"

"Makanya, ini pertama kalinya buatku…… dinyatakan cinta oleh seseorang. Aku tidak tahu harus bicara bagaimana."

Mata Nino membelalak lebar. Fuutarou, untuk pertama kalinya menyampaikan perasaannya sendiri……

"Tapi, di sini akan kuberi jawabannya. Bagaimana perasaanku padamu itu."

"Tunggu!" Nino memotong dengan terburu-buru.

"Aku tahu kalau kamu tidak menyukaiku. Soalnya dari dulu aku selalu bersikap galak padamu, kan. Tapi, jangan putuskan dulu. Padahal kita baru saja kerja paruh waktu bareng, tapi aku belum menyampaikan apa-apa. Makanya, aku ingin kamu lebih mengenalku lagi."

Melangkah mendekat dengan mantap, Nino mendekatkan wajahnya ke arah Fuutarou.

"Aku ingin kamu tahu dengan benar seberapa besar aku menyukaimu, Fuutarou!"

Nekat banget diriku ini…… Nino menunggu jawaban dengan dada berdebar kencang. Kalau sekarang, rasanya Fuutarou akan mau menghadapi perasaan Nino dengan benar.

"……Ah, begitu."

Namun, Fuutarou membalikkan badannya secara santai dan berjalan menuju pintu.

Wajah Nino seketika memerah panas bagaikan terbakar. Padahal sudah menyampaikan segenap perasaannya, tapi ternyata Fuutarou tetap sama sekali tidak menganggapku……

"Kalian berdua pas banget di sini! M・A・Y sudah datang lho."

Di koridor luar ruang belakang, Manajer kebetulan lewat.

"Baik. Saya segera ke sana."

Fuutarou berjalan pergi dengan cepat, namun Nino merasa canggung dan tidak sanggup mendongakkan wajahnya.

"Nn? Ada apa, Uesugi-kun?" mendadak Manajer berujar.

"Sampai ke telingamu merah padam lho."

"G-tidak, ini……"

Nino mendongakkan wajahnya, terkejut. Telinganya benar-benar merah padam…… Bersikap canggung maupun dingin itu bukan karena tidak menyadarinya, melainkan semuanya cuma untuk menutupi rasa malu──?

Seketika merebut kembali ketangguhannya, Nino mendekat ke belakang punggung Fuutarou lalu berbisik pelan.

"Bersiap-siaplah ya…… Fuu-kun♪"

Di samping Fuutarou yang pucat pasi, Nino berjalan melewatinya dengan langkah riang gembira.

***

"Itu dia M・A・Y……"

Sambil bersembunyi di balik tanaman hias, Manajer berkata.

Seorang pelanggan wanita bertali mantel (trench coat) yang duduk sendirian di meja paling dalam adalah reviewer terkenal yang dirumorkan itu.

Fuutarou dan Nino yang mengintip diam-diam terpana menganga. Meskipun menyamar dengan masker dan kacamata hitam, namun hiasan rambut berbentuk bintang dan rambut aneh (ahoge) yang mencuat lurus dari atas kepala……

Keduanya saling berpandangan, lalu meletupkan tawa secara bersamaan.

"Aku mau pergi mengambil pesanannya dulu ya."

Nino berjalan penuh semangat menuju lantai toko, dan di tengah jalan dia menoleh ke arah Fuutarou lalu memberikan kecupan jauh (flying kiss) dengan cepat.




"Nn! Ini kan lagi jam kerja tahu……"

Dada terasa berdebar kencang. Secara refleks, aku menutupi mulutku dengan tangan. Padahal sudah kuputuskan untuk melupakannya, tapi bibir indah Nino berwarna merah muda yang diolesi pewarna bibir (lip gloss), kembali membuat Fuutarou teringat peristiwa di Lonceng Janji.

"Itsuki, kamu sedang apa sih."

Fuutarou menatap lekat-lekat dari kejauhan Nino yang melepas masker Itsuki lalu mendesaknya.

(Mana mungkin ya……)

***

Keesokan paginya, Fuutarou seperti biasa berangkat sekolah sambil membaca buku kosakata.

"Pagi~"

Ichika duduk di bangku cadangan di depan kafe dengan satu tangan memegang frappuccino.

"Ichika toh. Tidak alami banget aku selalu bertemu denganmu saat berangkat sekolah, ya."

"Eh? A~……"

"Apakah saudari-saudarimu yang lain tidak bersamamu?"

Fuutarou melihat ke sekeliling, namun tidak ada sosok yang terlihat seperti mereka.

"Aku datang buat membeli ini lho!" kata Ichika sambil memamerkan cangkir frappuccino-nya, "Bisa bertemu denganmu juga cuma kebetulan kok! Ahahaha! Oh iya, yang ini oleh-oleh buat Fuutarou-kun ya."

Sambil berkata begitu, yang disodorkan oleh Ichika adalah kopi panas.

"Padahal bilangnya ketemu secara kebetulan, tapi kamu sudah menyiapkannya, ya."

"A~……" Gawat, Ichika memalingkan matanya seolah telah melakukan kesalahan.

"Tapi, aku tidak bisa minum kopi. Pahit sih……"

Padahal lidah orang miskin, tapi ternyata punya selera lidah anak-anak.

"K-kalau begitu biar kuminum saja deh~. Enak sekali~"

Padahal baru saja minum frappuccino, Ichika langsung meminum habis kopi itu dalam sekali teguk.

"Ayo jalan sebelum terlambat."

Menatap punggung Fuutarou yang melangkah pergi dengan cepat, Ichika menjatuhkan bahunya lemas.

(Aah, aku malah melakukan kesalahan…… Strategi memberi barang pun gagal…… Tapi walau begitu, pertarungan secara blak-blakan seperti Nino jelas-jelas tidak mungkin buatku! ……Tapi.)

Mengejar Fuutarou, lalu berjalan berjejer di sampingnya, Ichika tersenyum pelan.

(Posisi ini, jelas-jelas tidak ingin kuserahkan pada siapa pun……)

Sengaja datang jauh-jauh ke kafe yang ada di jalan menuju sekolah Fuutarou lalu menghadangnya, Fuutarou sendiri mungkin tidak menyadarinya sih──

***

Di atas jembatan penyeberangan, Fuutarou mendadak menghentikan langkahnya, lalu sekali lagi menatap wajah Ichika.

"Nn? Kamu, apakah dari dulu memakai kacamata?"

"Baru sadar sekarang! Seperti dugaan, kamu memang tidak peka ya~…" kata Ichika sambil menaikkan kacamatanya, memamerkan diri.

"Bagaimana? Apakah kelihatan sedikit lebih terpelajar? Ini sih sebenarnya penyamaran tahu."

"Penyamaran?"

"Kemarin, film yang kuperankan ada acara pemutaran perdana (premiere). Sepertinya lumayan banyak diliput di TV dan semacamnya sih…… Kamu ingat tidak……? Film yang waktu itu lho……"

Sambil berharap, saat melihat, Fuutarou malah gemetar. Dia sedang menahan tawa.

"Kukuku…… Kamu menyamar supaya tidak disapa orang, ya. Ini sih benar-benar seorang aktris hebat ya."

"Aduh~~~~! Karena memalukan, jadi jangan katakan begitu dong!"

Wajah Ichika merona merah padam, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

"Fufufu…… Penyamaran kan memang keahlian kalian."

"Ah, yang itu boleh juga tuh. Kami menyiapkannya buat saat-saat seperti ini lho."

Di dalam tas jinjingnya, terisi pita dan rambut palsu (wig) milik saudarinya.

"Kalau jadi Yotsuba atau Miku rasanya bisa langsung berubah kan~. Ah, Nino juga bisa……"

Baru mau mengambil pita kupu-kupu berwarna hitam, Ichika refleks membisu.

"Ahaha…… Kalau melakukan hal seperti itu, nanti Fuutarou-kun jadi tidak bisa membedakannya, jadi mari kita hentikan saja ya."

"Hmph. Jangan meremehkanku dong, jadi susah nih. Baru beberapa hari lalu aku berhasil membongkar penyamaran Miku itu tanpa petunjuk sama sekali lho."

"Eh? Hal itu maksudnya……"

"……Nn? Lho, bukankah itu adik-adikmu?"

Di ujung trotoar di bawah jembatan penyeberangan, sosok punggung empat orang terlihat.

"Kukuku…… Mari kuberi tahu kesalahpahamanmu yang membuat tertawa itu."

Sambil menyeringai, Fuutarou kembali melangkah.

***

"Hei hei, Itsuki makan sesuatu lagi tuh. Suara Yotsuba juga bising banget."

──Hentikan……

"Waktu Nino masuk kerja paruh waktu di toko kita, aku kaget sih, tapi waktu mendengar Miku mulai bekerja di toko roti seberang jalan, aku jauh lebih kaget lagi."

──Sudah hentikan……!

"Entah kenapa Manajer toko kita senang banget karena pelanggan toko saingan berkurang sih…"

──Jangan bicarakan soal gadis lain!

Pada saat berikutnya, Ichika memegang tangan Fuutarou dari belakang sambil berseru, "Tunggu!".

Fuutarou menoleh dengan raut wajah heran.

──Cuma aku…… aku ingin kamu cuma melihatku saja.

Seolah didorong oleh emosi egois seperti itu, Ichika menatap Fuutarou lalu berkata:

"Dengar ya. Bagaimana kalau kita berdua bolos saja seperti ini."

Benar, seperti satu halaman film masa muda, saling membisikkan cinta di tepi laut──

"Mana boleh lah."

Dibalas dengan cepat, angin dingin luar musim berembus hyuu menembus dada Ichika.

"Boleh kan, sebentar saja!"

"Mana bisa begitu!"

Kepada Ichika yang mendesak secara paksa, Fuutarou menolaknya dengan sangat tegas.

***

Di tengah bel tanda mulai pelajaran bergema di bangunan sekolah, Fuutarou dan Ichika terburu-buru berlari di koridor.

"Gara-gara kamu mengamuk, makanya kita jadi hampir terlambat, kan!"

"Aduh~! Fuutarou-kun terlalu serius sih!"

"Padahal kamu sendiri sudah sering bolos kelompok belajar, tahu. Bersikaplah yang benar dong."

Ditegur oleh Fuutarou seperti itu, Ichika kesal dan membusungkan pipinya.

(Bilangnya bolos…… aku kan bekerja demi diriku sendiri, tahu!)

"Selamat tepat waktu……"

Fuutarou membuka pintu kelas.

(Haah…… tidak berjalan lancar ya.)

Ichika pun menghembuskan napas, menyusul Fuutarou masuk ke dalam kelas. Pada saat itu, teman-teman sekelas langsung berkerumun mengerubungi Ichika.

"Ichika-san, aku melihat berita pagi tadi lho!"

"Beneran jadi aktris nih~~~~!?"

"Kaget banget~! Tak disangka di kelas yang sama ada bintang seperti ini!"

Kelas menjadi riuh penuh antusiasme, membuat Fuutarou kewalahan.

"Apakah filmnya seterkenal itu ya……"

"Y-yah, begitulah……"

"Terserah deh, tapi……"

Sambil membelah kerumunan orang menuju kursinya, Fuutarou menoleh ke arah Ichika lalu tersenyum lebar.

"Baguslah kamu ikut audisi waktu itu. Kamu sudah jadi pembohong yang sangat hebat sekarang."

Dada Ichika berdebar kencang. Percakapan yang diucapkan saat lokasi syuting di toko kue dan peristiwa di malam pesta kembang api teringat kembali dengan jelas.

(Apakah boleh aku merasa gembira cuma karena hal sederhana seperti ini……)

Fakta bahwa Fuutarou memedulikan Ichika, dan mengakuinya sebagai seorang aktris yang andal membuat rasa bahagianya meluap tak terhingga.

Ichika menyentuh pelan dadanya yang tak berhenti berdebar. Kata-kata dari satu orang ini saja, terasa jauh lebih meresap di hati dibanding pujian apa pun dari teman-teman sekelasnya──

***

"Ooi, Ichika~! Aku pergi ke ruang perpustakaan duluan ya!"

Begitu jam pelajaran usai, Yotsuba melompat keluar dari kelas.

"Ah, aku juga……"

Tepat saat Ichika hendak mengejarnya, Aoi dan Tsubaki menahannya.

"Eee~! Kami masih ingin mendengar ceritanya lho~!"

"Boleh kan sebentar lagi? Cerita soal bertemu orang terkenal atau……"

"Ahaha…… maaf ya! Soalnya aku ada kelompok belajar!"

Ichika dengan cepat berlari kabur dari kelas. Hari ini seharian penuh dia ditangkap oleh berbagai orang hingga rasanya sangat berat. Tapi, dia tidak ingin kelompok belajar setelah pulang sekolah diganggu.

"Lho? Ichika-chan pergi ke mana ya?"

Aoi dan Tsubaki melewati Miku yang sedang berdiri di dekat dinding, celingukan, berjalan di koridor.

Maaf ya, Ichika meminta maaf di dalam hatinya. Sebenarnya, orang itu adalah Ichika yang menyamar menjadi Miku.

Tepat saat itu, Fuutarou datang.

"Kamu, masih ada di sini toh. Cepat pergi, Miku."

"Ah, maaf. Aku……"

Sebelum sempat meluruskan kesalahpahaman, Fuutarou yang berjalan di depan berbicara menimpa ucapannya.

"Penayangannya cepat banget ya."

"Eh? Apaan?"

"Cerita soal filmnya Ichika. Kemarin kamu yang memberitahuku, kan."

Dari wajah Ichika, raut wajahnya menghilang bagaikan gelombang laut yang surut.

(Begitu ya…… dari Miku…… Sejak saat itu, kan terjadi banyak hal, ya. Pasti tidak cuma denganku saja, tapi dengan semuanya juga……)

Di sosok punggung Fuutarou yang berjalan di depan, sosok punggung Nino, Miku, Yotsuba, dan Itsuki bertumpuk menjadi satu.

(Cuma denganku saja…… mana mungkin bisa ya.)

Ichika memejamkan matanya dengan sedih. Miku yang menantangnya dengan kata-kata "Lakukan sesukamu. Aku tidak akan kalah kok.", dan Nino yang agresif berujar "Meskipun harus menjatuhkannya pun aku ingin mewujudkannya.".

Orang yang berada di samping Fuutarou mungkin salah satu dari mereka berdua……

"Fuutarou-ku…… Fuutarou."

Fuutarou menghentikan langkahnya, "Ada apa?".

"Fuutarou. Akan kuberitahu ya……"

Ichika berjalan menuju hadapan Fuutarou, lalu tanpa menatap matanya dia berbicara sambil berjalan melewatinya:

"Ichika, menyukai Fuutarou lho."

Kepada Fuutarou yang membelalakkan matanya terpaku kaku, Ichika berbalik membalikkan badannya.

"Rasanya kalian berdua sangat cocok deh. Aku akan mendukung kalian, ya."

Tidak ingin kalah dari Miku, dan ingin mewujudkannya meskipun harus menjatuhkan Nino.

"……Bohong… kan…?"

"Bukan bohong kok."

Diucapkannya tanpa ragu sedikit pun. Habisnya, apa salahnya? Yotsuba pun pernah bilang: "Aku ingin cuma Ichika saja yang tidak usah menahan diri, dan melakukan apa yang ingin kamu lakukan."──gitu.

Ichika yang terdesak, tidak menyadari bahwa hatinya sedang perlahan-lahan ditelan oleh kegelapan.



Chapter 2 | ToC | Chapter 4

Post a Comment

Post a Comment