Miin... miin... miin...
Di pemakaman yang asri dan
dikelilingi pepohonan rindang, suara jangkrik dan tonggeret terdengar riuh
bersahutan.
Liburan musim panas kelas tiga
SMA. Kembar lima dari keluarga Nakano datang bersama-sama untuk berziarah ke
makam.
Ichika, Nino, Miku, Yotsuba, dan
Itsuki berdiri berjejer di depan makam keluarga Nakano sambil mengatupkan kedua
tangan.
Hari ini, tanggal 14 Agustus,
adalah hari peringatan kematian ibu mereka, Rena, yang meninggal saat si kembar
lima duduk di kelas enam SD.
Penyakit sang ibu yang tadinya
dikira sudah sembuh, mendadak kambuh kembali setelah kelimanya pulang dari
perjalanan karyawisata. Hanya dalam hitungan bulan, ibu mereka mengembuskan
napas terakhirnya.
Di salah satu pot bunga di sisi
makam, terpasang buket bunga yang selalu dipersembahkan oleh si kembar lima
setiap tahunnya. Bunga berpetak kuning dengan bentuk agak membulat itu tampak
mungil dan manis—bunga penuh kenangan bersama sang ibu.
Kehangatan ibu yang memeluk
mereka dengan erat pada hari itu, sampai sekarang masih belum bisa dilupakan
oleh si kembar lima—.
***
Bunga-bunga kecil berwarna kuning
yang mekar di semak-semak bergoyang tertiup angin awal musim panas.
Di lapangan bantaran
sungai, tim sepak bola putri tingkat SD sedang mengadakan pertandingan latihan.
"Yotsuba!"
"Serahkan
padaku!"
Yotsuba yang sudah
bersiap di depan gawang menahan bola umpan dari Nino menggunakan dadanya, lalu
melepaskan tembakan voli yang dahsyat hingga mencetak gol ketiga.
"Haha! Hari ini kita
menang besar lagi berkat kalian!"
Sang pelatih, yang
wajahnya sangat mirip dengan salah satu pemain sepak bola legendaris, tampak
sangat gembira.
Berkat kombinasi sehati
khas anak kembar lima serta trik-trik unik yang membuat lawan kebingungan,
mereka berhasil meraih kemenangan berturut-turut. Padahal bukan anggota resmi, tetapi
setiap ada pertandingan, si kembar lima yang masih kelas enam SD ini selalu
dikerahkan sebagai pemain bantuan.
"Terutama Yotsuba!
Akhir-akhir ini kemampuanmu meningkat pesat, lho!"
"Eh, aku?"
Usai pertandingan, Yotsuba yang
sedang menyeka keringat dengan handuk terkejut dan menatap empat saudarinya
yang lain.
"Masa, sih?"
Ichika, Nino, Miku, dan Itsuki,
semuanya memiliki penampilan yang benar-benar persis seperti permen yang
dipotong dari cetakan yang sama. Mana mungkin dia sendiri yang mendadak paling
menonjol.
"Kita kan kembar lima, tidak
mungkin ada yang beda sendiri," timpal Nino.
"Tidak, mataku tidak pernah
salah! Kalian juga harus menjadikan Yotsuba sebagai contoh dan berlatih dengan
giat!"
"Sebagai... contoh,
ya..."
Entah mengapa, kata-kata itu
terasa sangat istimewa di telinga Yotsuba dan membuat hatinya berdesir gembira.
"Kalau pertandingannya sudah
selesai, ayo cepat pergi! Nanti tokonya keburu tutup!" kata Itsuki tidak sabar.
"Kenapa? Kalian mau
belanja?" tanya sang pelatih.
"Iya! Kami mau beli hadiah
buat Ibu!"
Mendengar jawaban Itsuki yang
tampak gembira, Yotsuba ikut menyambung dengan senyuman.
"Perayaan karena Ibu sudah
sembuh! Untuk hari ini, kami berlima sudah mengumpulkan uang jajan
bersama-sama, lho!"
"Kalau begitu, mari
berangkat ke toko bunga!"
Ichika berdiri paling
awal lalu melangkah pergi begitu saja. Padahal mereka belum mendiskusikan
hadiahnya, tapi seolah-olah hak keputusan ada di tangan si anak sulung.
"Ya ampun, Ichika
main semau sendiri saja, sih," keluh Nino sambil mengimbau adik-adiknya,
"Ayo semuanya, kita jalan."
""
"Ooo!" ""
Setelah berganti pakaian
dari seragam tim ke gaun terusan yang seragam, mereka berjalan menyusuri
tanggul sungai dengan Ichika di barisan paling depan.
"Ibu senang tidak ya
kalau kita beri hadiah bunga seperti ini?"
Itsuki, yang paling dekat
dengan sang ibu di antara saudara-saudaranya, tidak bisa menyembunyikan rasa
antusias yang membuncah di dadanya.
"Aku pernah dengar
kalau hadiah buat ibu itu biasanya bunga anyelir," kata Miku.
"Bunga
anyelir?"
Saat Nino bertanya balik,
Miku menjadi kurang percaya diri, "Iya… aku juga kurang paham, sih…"
"Yotsuba, uang kita
ada berapa?"
Saat ditanya oleh Ichika,
Yotsuba yang berjalan paling belakang mendadak menghentikan langkahnya.
"Hmm...
sebentar..."
Yotsuba meraba-raba
sakunya, lalu wajahnya mendadak pucat pasi. "Lho...?"
"Dompetnya... sepertinya hilang."
""""Eh?""""
Empat saudarinya ikut pucat
seketika. Itu adalah uang tabungan mereka satu-satunya yang dikumpulkan sedikit
demi sedikit dari uang saku yang tak seberapa.
***
"Di sebelah sana ketemu,
tidak?" "Di sini sepertinya tidak ada."
Suara Ichika dan Nino yang sedang
mencari dompet di antara semak-semak bantaran sungai saling bersahutan.
"Kalau sebelum main sepak
bola tadi masih ada, harusnya di sekitar sini..." kata Miku sambil
merangkak mencari.
Itsuki berdiri lalu berlari,
"Aku coba cari lebih jauh ke dalam!"
Yotsuba merasa sangat bersalah
hingga matanya tergenang air mata.
(Bagaimana ini... ini semua
gara-gara aku... bagaimana ini...)
Saat mengusap air matanya dengan
punggung tangan, mata Yotsuba mendadak tertuju pada sesuatu.
Hingga langit bantaran sungai
berubah warna menjadi jingga kemerahan diterpa sinar matahari terbenam, dompet
itu masih belum ditemukan.
"Maafkan aku, ya, semuanya…
gara-gara aku…" kata Yotsuba, meminta maaf dengan lesu.
Namun, Nino dan Miku bergantian
menenangkannya. "Ini bukan salah Yotsuba, kok." "Siapa pun yang memegang
dompetnya, pasti akan hilang juga."
Ichika pun tersenyum dan
menambahkan, "Iya. Kegagalan salah satu dari kita kan dibagi lima."
"...Kalian semua..."
Yotsuba mengusap air matanya,
lalu memperlihatkan benda yang disembunyikan di balik punggungnya kepada
saudara-saudaranya.
"Ini bukan buat menggantikan
dompet yang hilang, sih… tapi aku menemukan bunga yang cantik di sebelah sana.
Bagaimana kalau… ini saja…?"
Bunga itu berwarna kuning cerah
dan tampak sangat manis.
"Yotsuba, itu kan..."
Ichika hendak mengatakan sesuatu
dengan terkejut, namun Yotsuba buru-buru memotongnya dengan panik.
"A-ah, maaf! Enak saja ya
aku main simpulkan sendiri..."
Saat Yotsuba menunduk dan
mengecilkan suaranya, empat tangkai bunga berwarna kuning disodorkan tepat di
hadapannya.
"Kami juga menemukan bunga
ini, lho," kata Ichika.
"Memang dasar anak
kembar lima, ya."
Rupanya, keempat
saudarinya masing-masing sudah menggenggam erat bunga yang sama persis dengan
yang dipegang oleh Yotsuba.
Pintu
apartemen terbuka, dan seperti biasa terdengar suara Rena, ibu mereka, menyapa,
"Ibu pulang."
Melihat
ruangan yang gelap gulita, beliau tampak heran.
"...Tidak
ada orang, ya?"
Saat Rena
melangkah masuk ke dalam ruangan sambil bertanya-tanya, lampu tiba-tiba menyala
terang.
"""""Ibu,
selamat! Syukurlah Ibu sudah sehat!"""""
Putri-putrinya
tampak gembira sambil membawa sebuket besar bunga kuning bersama-sama berlima.
"Lihat! Ini
kami kumpulkan bersama-sama!"
Nino yang
mewakili saudari-saudarinya menyodorkan buket bunga itu kepada Rena yang masih
terpana.
"Terima
kasih atas kerja keras Ibu hari ini!"
Belum sempat
Ichika yang bersikap dewasa memberi selamat, si bungsu Itsuki sudah
bermanja-manja memeluk Rena sambil berkata, "Terima kasih untuk semuanya,
Ibu!"
Namun, Rena tidak
bergerak sedikit pun seolah-olah waktu telah berhenti.
"Lho? Kok
malah diam..." "Tuh kan, cara begini memang..."
Saat Miku dan
Yotsuba mulai murung, mendadak Rena berjongkok dan merentangkan kedua
tangannya, lalu memeluk kelima putri kembarnya erat-erat.
"Bagi Ibu,
melihat kalian berlima tumbuh sehat adalah kebahagiaan yang tak tertandingi.
Justru Ibu yang harus mengucapkan terima kasih kepada kalian…"
Dipeluk oleh
kasih sayang ibu yang begitu dalam, si kembar lima adalah anak-anak yang paling
bahagia di dunia—.
***
"…Karena
semuanya sudah selesai, ayo kita pulang."
Hari ini, enam
tahun kemudian, Ichika kembali berdiri paling awal.
Adik-adiknya pun
ikut berdiri satu per satu. Nino yang tersisa paling akhir mendadak
menghentikan langkahnya saat hendak pergi.
Di pot
bunga yang satunya lagi, terpasang buket bunga krisan putih yang indah. Ini
juga pemandangan yang biasa terlihat setiap tahun.
"...Mungkinkah
itu dari Ayah?"
Miku yang
menyadarinya bertanya kepada Nino.
"Masa,
sih..."
Untuk
menyembunyikan raut wajahnya yang rumit, Nino memalingkan wajahnya dan mulai
berjalan.
***
"Liburan
musim panas terakhir di SMA cepat sekali berlalu, ya," kata Ichika sambil
menyusuri jalanan kota.
Satu-satunya
kenangan musim panas yang terasa benar-benar seperti liburan bagi si kembar
lima adalah saat bermain di kolam renang ruang terbuka.
Fuutarou, yang
seharusnya meliburkan les privat demi menikmati hidup mengurung diri untuk
fokus belajar, entah angin apa yang bertiup, malah mengajak si kembar lima
pergi...
***
Di bawah terik
matahari, di fasilitas rekreasi ruang terbuka yang memiliki berbagai macam
kolam renang dan wahana, para pemuda berbikini warna-warni dan keluarga sedang
asyik bermain air.
"Ini
dia, mi goreng lima porsi!"
"Terima
kasih."
Saat
Itsuki dengan gembira menerima bungkusan mi goreng di kedai pinggir kolam,
terdengar suara heran berkata, "Yang benar saja…"
Tanpa
disadari, Fuutarou sudah berdiri di sampingnya sambil menatapnya dengan mata
picik.
"B-Bukan
begitu!"
Sebanyak apa pun
Itsuki makan, lima porsi itu... yah, bukannya tidak mungkin sih.
Namun, tujuan
Itsuki hari ini bukanlah kolam renang, apalagi mi goreng.
Setelah
perjalanan karyawisata yang penuh gejolak, dinamika percintaan para saudari
yang memperebutkan Fuutarou menjadi semakin rumit. Padahal selama tidak ada Fuutarou,
si kembar lima sangat damai, dan ia sempat merasa lega bisa menghabiskan
liburan musim panas dengan tenang…
Karena itulah,
misi Itsuki hari ini adalah menjaga ketertiban di antara saudara-saudaranya
agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan sepanjang hari!
Lalu datanglah
Yotsuba dan Ichika yang mengenakan bikini.
"Uesugi-saaan! Ayo bermain bersama!"
"Tuh kan,
bagaimana penampilan teman sekelasmu memakai baju renang? Kamu ngajak ke sini
memang tujuannya ini, kan?"
Itsuki merasa
lega. Tekad Yotsuba untuk tetap menjaga hubungan seperti biasa dengan Fuutarou
tampaknya tidak berubah, dan Ichika tetaplah Ichika yang selalu menggoda Fuutarou
seperti biasanya.
(Ternyata… aku
cuma kebiasaan menyimpulkan terlalu cepat, bikin malu saja…)
Saat Itsuki
sedang garuk-garuk kepala sambil tersenyum malu, Nino dan Miku berlari kencang
seolah-olah sedang berlomba.
""Aku
kangen padamu!""
Keduanya langsung
memeluk Fuutarou dengan dorongan yang cukup kuat.
"Bagaimana?
Cocok tidak?"
Nino memamerkan
penampilannya menggunakan holter neck bikini yang menonjolkan bagian dadanya.
"Aku ingin
kamu mengoleskan tabir surya ini."
Miku menggenggam
tabir surya sambil menurunkan tali bikininya perlahan.
(Dua
orang ini benar-benar serius!)
***
Benar
saja, Nino dan Miku mulai berdebat tentang siapa yang akan naik perahu dua
penumpang di perosotan air bersama Fuutarou. Akhirnya diputuskan untuk menentukan pasangan
secara adil melalui gunting-batu-kertas, tetapi—
"Yeaaay!"
"Kalau
begini terus, tidak akan bagus..."
Nino yang
berpasangan dengan Yotsuba meluncur turun di perosotan air dengan wajah
cemberut.
Urutan kedua
adalah pasangan Ichika dan Miku.
"Miku sudah
berubah, ya."
"Soalnya aku
tidak bisa terus-terusan berkecil hati."
Sejak
mengungkapkan perasaannya kepada Fuutarou, Miku merasa pemandangan di
sekitarnya terlihat berbeda.
Dan yang
terakhir, entah takdir apa, adalah pasangan Itsuki dan Fuutarou.
Naik di depan
maupun di belakang, keduanya terasa bagaikan neraka… Sambil berdebar-debar,
Itsuki naik lebih dulu ke bagian belakang perahu, lalu Fuutarou masuk dan duduk
di antara kedua kaki Itsuki.
Bagian belakang
kepala Fuutarou menempel pas di perut Itsuki.
Lalu Fuutarou
melontarkan satu kata polos tanpa perasaan—
"Seperti
bantal.”
”~~~~~!”
Mau naik perahu
bersama orang seperti ini, Nino dan Miku benar-benar sudah tidak waras!
***
—Setelah melewati
hal-hal seperti itu, liburan musim panas pun hampir berakhir.
"Begitu
semester kedua dimulai, kita akan sibuk mempersiapkan festival sekolah,
lho," kata Yotsuba.
Sebagai ketua
kelas sekaligus panitia pelaksana, kesibukan Yotsuba berlipat ganda.
"Ichika,
kamu akan libur sekolah sebentar, kan?" tanya Itsuki.
"Iya,
soalnya ada syuting film~"
Miku khawatir dan
bertanya, "Jumlah kehadiranmu bagaimana, aman?"
"Yah, masih
bisa diatur. Lagipula Fuutarou-kun bilang dia mau memberi pelajaran privat
untukku," jawab Ichika.
Meskipun Ichika
telah memilih jalan sebagai aktris dan keluar lebih awal dari persaingan ujian
masuk, berkat Fuutarou, dia tidak perlu melepas impian lain yaitu lulus
bersama-sama berlima.
”Tapi...” Nino
menghentikan langkahnya. Empat saudarinya yang lain ikut berhenti.
”Tidak disangka
kita akan kembali ke sini lagi, ya.”
Di depan mata
kelima saudari itu berdiri gedung apartemen pencakar langit yang dulu pernah
mereka tinggali. Apartemen yang mereka tempati hingga baru-baru ini harus
dibongkar karena bangunannya sudah tua.
”Belum sampai
setahun pindah sudah harus keluar lagi, benar-benar tidak beruntung...”
Namun bagi Miku
yang tidak memiliki ketahanan fisik, tidak perlu naik-turun tangga adalah hal
yang sangat disyukuri. Di sini, lift akan membawa mereka langsung menuju
penthouse lantai 30 milik ayah mereka, Maruo.
***
"Wah! Masih bersih seperti dulu!"
Melihat ruangan yang terawat dengan baik, Yotsuba refleks
berseru.
"Mungkinkah Tuan Ebata?" "Mungkin beliau selalu membersihkannya untuk
kita," kata Itsuki dan Miku.
Kaca jendela
mengilap tanpa noda sedikit pun, dan di dalam akuarium ikan hias, seekor arwana
berenang santai dengan sisik putihnya yang berkilauan seolah tidak terjadi
apa-apa.
"Memang
tempat yang luas itu rasanya nyaman, ya."
Ichika
bertolak pinggang sambil memandang sekeliling ruang tamu beratap tinggi itu.
Apartemen sempit yang penuh kenangan itu tidak buruk, tetapi bagi Ichika yang
suka berantakan, luas hunian adalah poin yang penting.
Nino
diam-diam memisahkan diri dari yang lain dan berjalan menuju dapur.
Ia
mengelus bak cuci piring yang berkilau bersih. Senyuman tipis mengembang di
wajahnya.
Sudah
satu tahun berlalu sejak si kembar lima pindah ke SMA Asahi. Kalender
menunjukkan bulan September, dan semester baru telah dimulai.
***
"Permisi."
Seusai
jam pelajaran, Yotsuba keluar dari ruang guru, dan dari pintu yang satunya
lagi, Itsuki juga keluar sambil berkata, "Permisi." Tas sekolah
tersangkut di bahunya, dan ia memeluk buku catatan di dadanya.
"Ah, Itsuki.
Sedang apa di ruang guru?"
"Ada materi
pelajaran hari ini yang belum aku pahami, jadi aku bertanya..."
"Begitu, ya.
Kalau aku membicarakan festival sekolah! Katanya, ketua kelas diminta
menentukan berbagai hal."
Di papan
pengumuman koridor, terpasang poster 'Festival Sekolah SMA Asahi ke-29:
Festival Hinode'.
Periode
pelaksanaannya berlangsung selama tiga hari, dari tanggal 13 hingga 15 Oktober.
Setiap klub dan kelas yang akan membuka stan mulai bersiap-siap lebih awal.
"Lho? Kalau
bicara soal ketua kelas..."
"Ah...
Uesugi-san, kira-kira bagaimana ya kalau soal acara ramai seperti ini..."
Sambil mengobrol,
keduanya turun tangga bersama-sama.
"Pokoknya,
katanya anak kelas tiga punya tradisi membuka stan makanan. Karaage, sosis frankfurter, atau
kentang mentega juga bagus, ya."
"Maaf,
ya. Kita lanjutkan obrolan
ini lain kali. Sudah waktunya aku membantu di tempat les."
Begitu sampai di
loker sepatu lantai satu, Itsuki mengangguk pamit lalu berjalan ke arah rak
sepatu.
Padahal membahas
makanan kesukaannya, tapi respons Itsuki tidak seantusias biasanya.
"Hmm... Aku
kira Itsuki akan langsung bersemangat..."
Sambil menatap
kepergian Itsuki dengan heran, Yotsuba kembali ke kelas 3-1. Melihat situasi
yang sunyi tanpa percakapan maupun kegaduhan, sepertinya semua orang sudah
pulang.
Saat mengintip ke
dalam kelas dari jendela pintu, Yotsuba mendadak menundukkan badannya.
Fuutarou
sendirian di dalam kelas sedang belajar!
"Nn?
...Ternyata kamu, Yotsuba."
Terdengar
suara Fuutarou. Seperti saat di bianglala taman bermain dulu, pita telinga
kelincinya rupanya terlihat jelas dari jendela.
Dengan
ragu-ragu, Yotsuba membuka pintu dan masuk ke dalam.
"...Maaf
mengganggu di waktu sibukmu... E-Emm...»
”Soal stan
makanan di festival sekolah, ya?”
”Eh...?”
”Tunggu sebentar.
Sekarang aku tidak boleh membuang-buang waktu sedikit pun.”
Sambil
memfokuskan mata ke buku catatan dan mengerjakan soal, Fuutarou berbicara.
”Baik...”
Yotsuba duduk
diam di kursinya yang terletak sedikit agak jauh di belakang posisi Fuutarou.
Di dalam kelas
yang hening selepas jam sekolah, hanya terdengar gesekan pensil mekanik. Pada
pukul lima sore yang masih menyisakan hawa panas, hembusan angin beraroma musim
gugur bertiup menggoyangkan tirai.
Dari kursinya,
Yotsuba bisa melihat profil wajah Fuutarou yang sedang fokus belajar. Ia tidak
bisa memalingkan pandangan dari raut wajahnya yang begitu serius. Sama sekali
tidak disangka kalau Fuutarou terus berjuang tanpa henti sejak hari itu, enam
tahun yang lalu...
Sambil
menatapnya, Yotsuba teringat senyuman yang diperlihatkan Fuutarou di taman yang
berada di bukit.
Deg...
deg...
Yotsuba
refleks memegang dadanya. Ia sendiri tidak begitu paham mengapa dadanya bisa
berdebar sekencang ini sekarang.
***
Saat itu,
Fuutarou mendadak berucap, "Raiha memintaku melihatnya. Aku sempat melihat
iklan yang dibintangi Ichika..."
Ichika
yang mengenakan kaus putih dan celana pendek berlari sambil tertawa di pantai
musim panas—setelah pembukaan yang menyegarkan seperti itu, ia meneguk minuman
bersoda lalu menawan penonton dengan senyuman cerianya yang meletup-letup
sambil berkata, "Akan kubuat musim panas ini tak terlupakan♪".
Bahkan Fuutarou
yang sudah terbiasa melihat wajah Ichika pun sempat terpana melihatnya.
Fuutarou
yang awam dengan dunia hiburan tidak mengetahuinya, tetapi iklan yang
dibintangi Ichika ini kabarnya merupakan gerbang kesuksesan menuju aktris
populer.
"Dia
benar-benar sudah jadi aktris besar, ya. Dia berhasil mewujudkan mimpinya.
Itsuki juga bercita-cita ingin jadi guru, punya mimpi yang rasanya ketinggian
untuknya," kata Fuutarou.
Fuutarou
mendadak menengadah lalu menoleh ke arah Yotsuba.
"Yotsuba.
Apa kamu punya cita-cita atau sesuatu yang ingin kamu capai di masa
depan?"
"Eh.
Tiba-tiba sekali..."
Yotsuba
menyilangkan tangan dan berpikir keras, lalu menaikkan bahunya sambil berkata,
"...Aku bahkan tidak pernah memikirkannya."
"Yah,
kamu kan punya kemampuan fisik yang luar biasa. Di bidang itu pasti ada banyak
pilihan."
Setelah
berkata demikian, Fuutarou menutup buku catatannya dan berdiri.
"Maaf
membuatmu menunggu. Ayo kita pergi bertanya-tanya tentang data stan makanan
tahun lalu."
"Eh... Tapi
apa tidak apa-apa? Uesugi-san kan bilang tadi kalau tidak boleh membuang-buang
waktu..." kata Yotsuba dari belakang punggung Fuutarou yang sudah keluar
kelas dan menaiki tangga lebih dulu.
"Justru
karena itulah. Ini acara sekolah terakhir. Aku tidak akan menyia-nyiakannya.
Karena sudah memutuskan ikut, aku berniat menikmatinya habis-habisan!"
Yotsuba melongo.
Tidak disangka kata-kata seperti itu keluar dari mulut seorang penggila belajar
seperti Fuutarou...
"Waktu itu
terbatas. Seberapa banyak pun rasanya tidak akan pernah cukup."
Fuutarou menoleh
ke arah Yotsuba dan menatapnya dengan pandangan penuh rasa percaya.
"Aku
mengandalkanmu, ya."
Wajah
Yotsuba mendadak berseri-seri.
"...Baik!
Serahkan padaku!"
Yotsuba
berlari menaiki tangga dengan gembira, lalu mulai berjalan sejajar di samping Fuutarou.
***
Keesokan
harinya, pada jam wali kelas di sore hari, diskusi tentang festival sekolah
langsung dilaksanakan.
"Ini
adalah daftar menu stan makanan yang populer tahun lalu."
Fuutarou
sebagai ketua kelas berdiri di podium dan menunjuk ke papan tulis. Dipimpin
oleh takoyaki, ada pisang cokelat, yakitori, sosis frankfurter, churros, hingga
takosen terpampang rapi sebagai kandidat.
"Tentu saja,
kalau ada yang ingin membuat menu selain ini, silakan beri tahu kapan
saja."
Saat Yotsuba yang
berdiri di sampingnya berbicara, Nino mengacungkan tangannya.
"Aku memilih
takoyaki. Acara seperti ini sebaiknya jangan terlalu neko-neko.
Lagipula..." Nino menyipitkan mata menatap Fuutarou, "...Kamu kan
yang sudah repot-repot meriset daftar kandidat itu."
"Kalau
takoyaki, akan kuperlihatkan keahlianku yang sudah diasah lewat kerja paruh
waktu!"
Maeda berkata dengan
penuh semangat. Takeda pun menyetujui dengan senyuman yang berseri-seri,
"Wah, kelihatannya menyenangkan, ya."
Melihat alurnya,
keputusan tampaknya akan jatuh pada takoyaki, tetapi beberapa siswi perempuan
secara jelas menunjukkan rasa tidak puas mereka.
"Ada usulan lain?"
tanya Fuutarou.
Begitu ditanya, Aoi dan Tsubaki
bersuara, "Aku ingin bikin taiyaki!" "Teh boba
saja!" Saat melirik, Fuutarou melihat Miku juga tampak gelisah seolah-olah
ingin mengatakan sesuatu.
"Miku. Kamu mau bikin
apa?"
"Eh."
Miku tampak ragu-ragu apakah
harus mengatakannya atau tidak, tetapi—
"Pancake..."
Begitu ia bergumam pelan,
para siswi perempuan langsung menyambutnya dengan antusias. Pancake adalah
makanan manis yang sangat populer akhir-akhir ini, dan jauh lebih bergaya
daripada takoyaki.
"Emm... menu itu
tidak ada di data tahun-tahun sebelumnya, sih," kata Yotsuba sambil
memeriksa daftar di buku catatannya dan melapor kepada Fuutarou.
"Tapi boleh juga,
sih. Ide yang bagus."
Kubu siswi yang menolak
takoyaki langsung mengerumuni Miku dan berseru, "Miku-chan, terima
kasih~!" "Aku juga mikir gitu tadi!" "Pasti imut banget
kan~!"
Melihat Miku yang tampak
malu-malu tapi senang, Nino yang duduk di kursi depannya menoleh sejenak.
***
"Hari ini cukup sampai di
sini. Kita bahas lagi lain hari."
Bel tanda jam pelajaran
berakhir berbunyi, dan Fuutarou pun menutup diskusi. Karena kandidatnya sudah
menyempit untuk sementara, mereka memutuskan untuk mencari tahu peralatan yang
dibutuhkan dan menyusun anggarannya masing-masing.
Saat Yotsuba sedang
mencatat pendapat yang tertulis di papan tulis ke dalam bukunya, beberapa siswa
laki-laki yang membentuk grup band datang menghampirinya.
"Nakano-san. Live stage
ini, apa kami juga bisa ikut berpartisipasi?"
"Tentu saja!"
Lalu, siswa dan siswi dari klub
tata busana datang membawa pakaian buatan tangan mereka.
"Klub tata busana mau bikin
pameran seperti ini. Kira-kira
akan ada pengunjung yang datang tidak, ya..."
"Wah, bagus sekali! Kalau di
lokasi yang sudah ditentukan, kita bisa menempelkan poster, jadi tolong izinkan
saya membantunya!"
"Terima kasih~!"
Orang-orang berkumpul di
sekeliling Yotsuba satu demi satu.
"Yotsuba populer
sekali..." kata Miku pelan sambil memperhatikan dari kejauhan.
"Kenapa tidak ada yang
datang ke tempatku..." keluh Fuutarou.
Padahal sama-sama ketua kelas,
tetapi semua orang lewat begitu saja di depannya seolah-olah Fuutarou adalah
manusia transparan.
"Wibawa."
Nino merangkumnya dengan
singkat dan tepat.
Di depan papan tulis, Yotsuba
masih terus dihujani pertanyaan.
"Nakano-san, aku juga boleh
tanya? Aku ingin mengirim surat undangan ke kerabatku..." kata seorang
siswi berkacamata.
"Sudah saya siapkan!"
Di tangan Yotsuba sudah ada sebendel surat. Tanpa sepengetahuan Fuutarou,
sepertinya ia telah membuatnya sendiri.
Surat undangan... Nino menatap ke atas langit dengan raut wajah berpikir,
tetapi ia segera mengubah ekspresinya dan berkata:
"Ngomong-ngomong, stan
makanan, ya. Mau membuat apa pun, tanganku sudah gatal ingin beraksi."
"Iya. Tanganku juga sudah
gatal."
Mendengar pernyataan Miku yang
sangat bersemangat, Nino dan Fuutarou refleks mengedipkan mata terkejut.
"Eh?"
"Kamu berniat jadi bagian
memasak!? Pengunjung dari luar juga akan datang, lho! Salah-salah, warga
sekitar bisa keracunan makanan massal!"
"Kemampuanku juga sudah
meningkat, kok."
Sambil membusungkan pipinya
membela diri, Miku menatap mata Nino dan berkata:
"Lagipula ada Nino juga.
Jadi aku tenang."
"Y-Ya tentu saja! Kalau
memasak bersamaku, tidak akan ada kegagalan sedikit pun!"
Nino memalingkan wajahnya dengan
malu-malu. Sepertinya kali ini Miku lebih unggul.
Saat Fuutarou memperhatikan
mereka berdua dengan tersenyum hangat, Yotsuba akhirnya datang menghampiri.
"Fuu... maaf membuat kalian
menunggu."
"Kerja bagus."
"Kamu tidak bekerja terlalu keras?" Miku dan Nino menyapa bergantian.
Yotsuba tertawa, "Ehehe," lalu berkata:
"Ini kan acara terakhir
kita. Mari kita buat festival sekolah yang tidak menyisakan penyesalan sedikit
pun!"
Kata-kata yang lugas dan senyuman
tanpa beban itu ditujukan kepada Fuutarou.
Yotsuba yang seperti itu terlihat
sangat menyilaukan bagi Fuutarou, hingga ia memalingkan wajah tanpa bisa
menjawab dan mengusap poni depannya dengan canggung.
(Yang terakhir, ya...)
Jalan pulang yang hanya berempat
tanpa Ichika dan Itsuki.
Sambil berjalan di atas jembatan
penyeberangan yang diterpa sinar matahari terbenam, Fuutarou merasakan sedikit
kesepian di hatinya.
"Fuutarou-kun, bukannya aku
tidak menghargai usahamu yang jauh-jauh datang ke sini untuk mengajariku...
tapi bagaimana dengan ujian masuk perguruan tinggimu? Persiapan festival
sekolah sepertinya merepotkan juga..."
Di sebuah kamar hotel lokasi
syuting, Ichika yang mengenakan yukata bawaan hotel berbicara.
"Sebenarnya hari ini, hasil
prediksi kelulusan ke universitas impianku baru saja keluar..."
Mendengar suara Fuutarou yang
terdengar serius, Ichika yang sedang mengerjakan soal mendadak menengadah,
"Eh."
"J-Jangan! Jangan dilihat!
Hanya ini yang tidak ingin kulihatkan padamu!"
Sambil berpura-pura
menyembunyikan lembar hasil prediksinya, Fuutarou menyembunyikannya di balik
punggung sambil melirik ke arah Ichika.
"Ah, iya-iya. Hasilnya
bagus, kan?"
"Coba saja kalau
buruk..."
Hasil prediksi ujian simulasinya
adalah 'A'. Dengan deviant score (nilai standar) 78,4, ia berhasil
meraih peringkat ketiga secara nasional—sebuah prestasi yang sangat luar biasa.
"Sekadar mengingatkan, hal
hebat seperti itu cuma bisa dilakukan oleh Fuutarou-kun yang dari awalmya
memang pintar belajar. Tolong jaga yang lainnya dengan baik, ya. Sekarang ini
saat-saat yang krusial."
Sebagai anak sulung, ia rupanya
mengkhawatirkan masa depan adik-adiknya.
"Tidak perlu khawatir.
Belajar maupun festival sekolah pasti akan berjalan lancar." Fuutarou
tersenyum mantap, lalu berseru dengan percaya diri:
"Lihat saja nanti, Ichika. Akan kubuat festival sekolah yang
terbaik."
Namun keesokan harinya—
"Sudah cukup, menyerahlah
kalian para laki-laki!"
"Kalian para perempuan yang
harusnya menyerah!"
Perselisihan yang memecah kelas
menjadi dua kubu akhirnya pecah—antara kubu laki-laki yang menginginkan
takoyaki dan kubu perempuan yang menginginkan pancake.
Hasil pemungutan suara
benar-benar menunjukkan jumlah yang sama persis. Sebagai ketua kelas, Fuutarou
dan Yotsuba tidak punya pilihan lain selain mengawasi dari jauh.
"Pancake yang lembut dan
mengembang itu disukai semua orang, tahu!"
Garda depan kubu perempuan adalah
Manami, yang hobi menjelajahi toko-toko kue manis.
"Miku-chan, katakan sesuatu
pada mereka!" desak Aoi.
"E-Emm..."
Saat Miku sedang gagap bingung,
Yamauchi yang berkepala botak langsung melakukan serangan balik tanpa memberi
jeda.
"Kamu sudah lihat data tahun
lalu, kan! Tidak ada
orang Jepang yang membenci takoyaki! Benar kan, Nino-san!"
"Yah..."
Melihat Nino yang
menjawab dengan samar dan raut wajah cuek, Aoi langsung mendesaknya seketika.
"Nino-chan, kamu bilang
sendiri kan kalau kamu suka pancake? Kenapa malah memihak mereka?"
"Bohong kan, Nino-san!"
Terus-menerus disudutkan oleh
pihak perempuan maupun laki-laki, pengukur kemarahan Nino akhirnya mencapai
batas maksimal.
"Ahhh, sudah! Mau bagaimana lagi! Soalnya aku yang pertama kali
mengusulkannya, jadi aku akan bertanggung jawab sampai akhir!"
Nino menunjuk ke arah para siswa laki-laki, lalu melanjutkan dengan menunjuk
para siswi perempuan.
"Lagipula, menyukai makanan dan membuatnya itu dua hal yang berbeda!
Pancake souffle yang mengembang itu saja, aku sendiri masih suka gagal
membuatnya! Diskusi lebih lanjut cuma buang-buang waktu! Tidak ada cara lain
selain membuat keduanya!"
"Tidak disangka hal seperti itu bisa membelah kelas menjadi
dua..."
Seusai jam sekolah, Miku menghela
napas di tribun lintasan atletik.
"Benar. Kenapa kamu malah
mengusulkan pancake segala, sih."
Nino yang duduk di sampingnya
berbicara dengan nada agak menyalahkan.
"Katanya ibunya Fuutarou
sering membuatkan roti. Lalu saat aku mencoba mengingat-ingat tentang rumah
kita..."
Miku menatap ke kejauhan. Nino
pun menyahut, "Yah, benar juga sih..." sambil menatap langit dengan
pandangan yang sama jauhnya.
Pancake yang lembut seperti awan
yang mengapung di langit sana, yang dulu sering dibuatkan oleh Rena, ibu
mereka. Ibu selalu memperhatikan mereka dengan tatapan lembut saat si kembar
lima lahap memakannya...
"Yang itu benar-benar sangat
lembut... tapi yang seperti itu tidak bisa dibuat dalam semalam."
"Kamu pernah
membuatnya?"
"Itu masakan pertama yang
pernah kucoba buat. Buat takoyaki masih jauh lebih mudah."
Nino berdiri, lalu mengepalkan
tangannya seolah ingin memantapkan tekadnya, "Apalagi kalau untuk stan
makanan."
"Tapi meski begitu, tidak
perlu bicara selugas itu juga..."
"Aku cuma tidak suka main
sembunyi-sembunyi di belakang."
Tepat ketika Nino berpikir
mungkin saja ada yang dendam dan akan melontarkan sindiran padanya... ia
melihat tiga orang siswi kelas dari kubu pancake sedang memelototinya dari
kejauhan.
Bagi Nino, lebih baik mereka
mendatangi langsung agar masalahnya cepat selesai. Tepat saat Nino bersiap
menghadapinya, terdengar suara Fuutarou memanggil dari atas tribun, "Nino,
Miku."
"Lho, kalian bersama
rupanya."
"Fuutarou, ada apa?"
tanya Miku.
"Tidak, kalau begitu ya
sudah. Yah, sekarang memang sedang sibuk-sibuknya, tapi mari kita nikmati
festival sekolah yang langka ini."
Fuutarou berbicara dengan agak
canggung, lalu berbalik dan pergi.
"...Kenapa sih dia,"
gumam Nino.
"Aku ada urusan
dengan Fuutarou. Kamu pulang
duluan saja."
"Miku!?"
Meninggalkan Nino yang melongo
kebingungan, Miku berlari mengejar Fuutarou.
"Fuutarou."
Begitu Fuutarou menghentikan
langkah dan menoleh, Miku bersuara:
"Ada yang ingin kukatakan
sebelum festival sekolah..."
"Begitu, ya... Aku juga ada
hal yang ingin kukatakan padamu."
Melihat raut wajah Fuutarou yang
begitu serius, jantung Miku berdebar kencang.
"...Boleh aku dengar
dulu?"
"Ya. Aku sudah dengar, Miku.
Katanya hasil simulasi ujian masuk perguruan tinggimu dapat nilai 'A', ya.
Hebat juga kamu."
Miku mendadak bungkam. Kata-kata
itu memang membuatnya senang, tetapi bukan itu yang ia harapkan. Sama sekali
tidak menyadari ekspresi Miku yang campur aduk, Fuutarou memegang pangkal
hidungnya dengan raut wajah penuh haru, "Kalau dipikir-pikir, jalannya
panjang sekali..."
"Tapi semuanya akan terbayar
tuntas kalau kalian berhasil masuk perguruan tinggi! Usahaku mengajar kalian
jadi tidak sia-sia."
Fuutarou bahkan menggenggam
tangannya sendiri, menikmati rasa pencapaian tersebut.
"B-Benar juga, ya... Ngomong-ngomong, Fuutarou."
"Nn?"
"Ayo jalan bareng."
Mendengar ajakan yang mendadak itu, mata Fuutarou melotot terkejut.
"A-Ah, maaf! Maksudku bukan hal yang aneh-aneh..."
Sadar kalau ucapannya menimbulkan kesalahpahaman, Miku buru-buru
mengklarifikasi.
"Hari Minggu besok, ayo
pergi jalan-jalan keluar bersamaku."
Saat Itsuki sedang mengganti
sepatunya di rak sepatu, Nino datang menghampiri.
"Lho? Nino juga baru mau
pulang?"
"Iya. Aku sedang
mencari teman untuk pulang bareng."
"Begitu, ya. Kalau begitu
maaf, ya. Soalnya aku
harus langsung pergi ke tempat les."
"Oh, begitu. Rajin
sekali," kata Nino sambil berbalik.
"Anu... Nino sendiri hasil
simulasi ujiannya bagaimana?"
"Tidak seburuk yang
kubayangkan, kok. Seingatku dapat 'B'."
Karena memilih universitas yang
sesuai dengan kemampuannya, hasil itu bisa dibilang sangat wajar... Namun pada
saat itu.
"Uuuuuuuuuuuu~~~~~~..."
Kaget mendengar suara erangan
itu, Nino berbalik dan melihat Itsuki dengan raut wajah tanpa
harapan—seolah-olah ia bertemu dengan raja ketakutan di akhir dunia dan
dihempaskan ke jurang keputusasaan.
"Uuuuuuuuuuuu~~~~~~..."
"Eh!? Ada apa!?"
"Bagaimana ini, Nino!
Padahal aku sudah berusaha sekuat tenaga—tapi hasilnya malah begini! Masa
depanku gelap gulita!"
Itsuki menyodorkan hasil simulasi
ujian berhuruf 'D' tepat di depan mata Nino.
"Bagaimanapun juga aku ini
cuma meniru Ibu! Menjadi seorang guru sekolah itu cuma mimpi di atas mimpi!
Uuuh... uuuuu..."
"T-Tenangkan dirimu!"
Nino membawa Itsuki ke luar dan
mendudukkannya di bangku, lalu ikut duduk di sampingnya menunggu Itsuki tenang.
Tidak seperti Nino yang tidak memasang target terlalu tinggi, universitas
pendidikan yang diincar Itsuki sepertinya memiliki tingkat kesulitan (deviant
score) yang cukup tinggi.
"Maafkan aku karena sudah
kehilangan kendali... Guru
bilang sebaiknya aku berkonsultasi dulu dengan orang tua. Tapi hal seperti itu..."
Meski air matanya sudah surut,
bahu Itsuki masih terkulai lemas.
"...Dia kan bukan
tipe orang tua yang mau diajak berkonsultasi," kata Nino.
"T-Tidak! Bukan
begitu maksudku... aku cuma tidak ingin membuat Ayah makin khawatir."
"Ha? Khawatir? Sejak
kapan orang itu..."
"Kita bisa tumbuh besar
sampai seperti ini adalah berkat Ayah... Aku juga sudah mulai beranggapan
begitu."
Setiap tahun pada hari peringatan
kematian ibu mereka, selalu ada buket bunga krisan putih yang dipersembahkan di
makam keluarga Nakano.
"Bunga itu tidak salah lagi
pasti dari Ayah. Walaupun beliau jarang melakukan sesuatu secara langsung untuk
kita, aku yakin beliau selalu mengkhawatirkan kita dari jauh."
"Masa, sih..." Nino
masih ragu-ragu.
"Untuk saat ini, aku akan
coba berkonsultasi dengan Shimoda-san... guru yang membimbingku di tempat les.
Lagipula dalam waktu dekat, kabarnya akan ada kelas khusus yang dibawakan oleh
pengajar terkenal."
Menurut brosur yang ditunjukkan
Shimoda kepada Itsuki, pengajar bahasa Inggris bernama Mudou Jinnosuke itu
sangat populer di lembaga bimbingan belajar seluruh negeri karena materi
pelajaran dan kemampuan mengajarnya yang luar biasa. Kepala botaknya yang licin
serta janggut putih di dagunya yang mirip Sinterklas juga memberikan kesan
kharismatik tersendiri.
Namun saat itu, Itsuki tidak
menyadari bahwa Shimoda—yang merupakan mantan murid Rena—menatap foto pada
brosur tersebut dengan raut wajah yang pahit...
"Nino. Surat undangan yang
kamu katakan kemarin, sudah kusiapkan, lho."
Keesokan harinya seusai jam
sekolah, Yotsuba berbicara kepada Nino yang masih tersisa di dalam kelas.
"Aku batal deh."
Nino berkata dengan acuh tak
acuh, lalu melangkah keluar dari kelas.
"Eh, tidak apa-apa
nih?"
Yotsuba pun menyusul Nino keluar
dari kelas.
"Mengundang Papa itu cuma
kebingungan sesaat saja."
"Padahal menurutku tidak ada
salahnya, lho~"
Di koridor, para siswa tampak
sibuk membuat papan nama stan dan properti dari patung kertas.
"Lagipula dia pasti tidak
akan datang. Di rumah pun hampir tidak pernah menampakkan diri, dan selalu main
sembunyi-sembunyi di belakang."
"Hahaha, pedas sekali...
Tapi,"
Tepat ketika Yotsuba hendak
melanjutkan bicaranya, Nino yang hendak turun tangga menghentikan langkahnya
setelah melihat sesuatu.
Di lantai bawah, terlihat tiga
orang siswi kemarin. Atmosfernya terasa agak genting.
"Itu cewek-cewek yang
memelototiku kemarin. Ayo kita hindari sebelum makin merepotkan."
Saat hendak berbalik, suara Fuutarou
terdengar dari arah bawah.
"Aku sangat mengerti
pendapat kalian."
Ketika Nino dan Yotsuba turun ke
bordes tangga untuk mengintip diam-diam, Fuutarou berdiri berhadapan dengan
ketiga siswi tersebut.
"Kalian mau bilang kalau
aneh rasanya Nino ada di kubu laki-laki, dan pasti dia sedang tebar pesona
karena mengincar salah satu dari anak laki-laki, kan?"
Daripada tebar pesona, seingatnya
Nino cuma berteriak-teriak marah, tetapi siswi berambut panjang yang mengikat
poninya dengan jepit rambut langsung mencecar Fuutarou, "Memang
benar!"
"Kalau misalnya orang yang
dia incai itu Yusuke... kalau sainganku Nino-chan, mana mungkin aku punya
kesempatan menang..."
Rupanya dia bertepuk
sebelah tangan pada Takeda. Siswi
itu menundukkan pandangannya dengan pilu. Takoyaki cuma alasan di permukaan,
rupanya hal inilah yang membuatnya tidak puas. Dua orang temannya menenangkan,
"Sakura..." "Yang sabar, ya."
"Kamu salah
paham."
Saat Fuutarou
membantahnya dengan tegas, ketiga orang itu menatap Fuutarou, "Eh?"
"Orang yang disukai
Nino tidak ada di kubu takoyaki. Hanya itu yang aku tahu, jadi tenanglah,"
kata Fuutarou sambil melirik canggung ke arah lain.
"Tidak mungkin! Kenapa
Uesugi-kun bisa tahu hal seperti itu!?"
Sakura yang sedang dimabuk cinta
tak terima, lalu mendesak Fuutarou yang berpaling ke arah lain.
"Karena ketua kelas harus
berada di posisi netral, jadi tidak bisa memilih salah satu..."
"Ha? Maksudnya apa!
Tidak ada hubungannya kan!"
Sebuah argumen yang
sangat logis dan tak terbantahkan. Keringat mengucur deras di wajah Fuutarou.
Kedua temannya pun ikut mendesak, "Benar itu!" "Iya!"
Mau bagaimana lagi, Fuutarou
akhirnya memantapkan hatinya.
"Soalnya Nino itu...
menyukaiku!"
Dengan raut wajah sok
hebat yang kaku dan setengah jadi, Fuutarou menunjuk dirinya sendiri.
Sakura dan kawan-kawansya
melongo dengan wajah cengong seolah-olah baru kena tembak.
"Makanya, bersikap
baiklah padanya."
"U-Uesugi-kun..."
Sakura mengukir senyum
getir, lalu mengatupkan kedua tangannya seperti merasa kasihan pada Fuutarou.
"Jangan halusinasi deh.
Kasihan Nino-chan kalau kamu pakai setting-an seperti itu."
"T-Tidak, ini
beneran..."
Nino yang menyaksikan interaksi
mereka sempat melongo tertegun, namun tak lama kemudian ia terkekeh pelan. Ia
merasa senang dengan perasaan Fuutarou yang berusaha melindunginya.
Melihat Nino yang seperti itu,
Yotsuba yang berdiri di belakangnya tersenyum dan berkata:
"Main
sembunyi-sembunyi di belakang sepertinya tidak buruk juga. Pasti ada
alasannya."
Dalam benak Nino,
kenangan masa SMP terngiang kembali.
Suatu hari, saat melewati toko
spesialis pancake. Nino yang merindukan masakan ibunya meminta sang ayah untuk
masuk bersama, tetapi ayahnya menolak mentah-mentah.
Nino yang sakit hati
akhirnya pulang sendirian belakangan. Namun, di atas meja ruang tamu, sudah
disiapkan satu set bahan dan peralatan memasak pancake, bahkan lengkap dengan
buku resepnya...
Karena itulah, saat Miku
mengusulkan "pancake" pada jam wali kelas, hal itu tersangkut di
dalam hati Nino.
Nino mendongak, lalu
berkata dengan mantap:
"Yotsuba. Ayo kita pikirkan
kata-kata untuk surat undagannya bersama-sama."
Beberapa hari kemudian, surat
undangan dari Nino sampai di ruang direktur rumah sakit.
"Aku tidak ingat pernah
mengizinkanmu masuk. Cepat keluar dari sini—Uesugi."
Yang berdiri di depan meja Maruo
adalah Uesugi senior, alias Isanari, ayah Fuutarou yang merupakan teman sekelas
Maruo saat SMA.
"Oho, dingin sekali kamu.
Padahal aku datang membawa informasi bagus, lho."
Melihat apa yang dipegang
Isanari, mata Maruo menyipit tajam.
"Orang itu datang, lho.
Setelah sepuluh tahun lebih."
Yang diperlihatkan Isanari kepada
Maruo adalah brosur kelas khusus yang dibawakan oleh Mudou Jinnosuke.
Pada hari Minggu yang telah
dijanjikan, Fuutarou datang ke akuarium berdua bersama Miku.
Saat sampai di depan akuarium
penguin, bertepatan dengan waktu pemberian makan (feeding time) oleh
petugas. Petugas memperkenalkan penguin dan menjelaskan ekologi mereka sambil
memberi makan, acaranya cukup padat.
"Yang ini namanya An-chan. Dan yang di belakangnya adalah
San-chan."
Petugas wanita menggendong seekor penguin dari kawasannya.
"Nah, pertanyaan untuk semuanya. Siapa nama anak ini tadi~?"
"Wajahnya sama semua,
sih." "Nggak kelihatan bedanya, ya."
Fuutarou mendengar percakapan
pasangan di sebelahnya.
Miku menempelkan wajahnya di kaca
akrilik, menatap tajam para penguin dengan raut wajah serius, "Aku ingin
menebaknya..."
"Benar! Wajar kalau
mirip, karena kelima penguin ini adalah bersaudara!"
Petugas mengembalikan penguin
yang digendongnya ke dalam kawanan yang berisi empat ekor lainnya.
"Mirip kalian, ya,"
kata Fuutarou.
"Kalau dilihat-lihat, yang
itu mirip Nino."
Yang ditunjuk Miku adalah penguin
yang bersuara paling bising di antara kelimanya.
"Kalau begitu, apa itu kamu,
Miku?"
Yang dimaksud Fuutarou adalah
penguin yang berjalan paling belakang dalam barisan lalu jatuh gedebuk karena
tidak lincah.
"Fuutarou...!"
Miku membusungkan pipinya
cemberut, sementara Fuutarou tertawa jahil.
Empat ekor penguin melompat ke
dalam air satu per satu. Namun penguin Miku yang terlambat, tampak ragu-ragu
untuk melompat dan hanya mengepakkan sayapnya.
—Untuk saat ini, mungkin belum
terlambat walau dipikirkan setelah masuk universitas...
Pemikiran itu sempat terlintas
sejenak di kepala Miku. Tepat
saat penguin Miku yang gemetar menengok ke dalam air lalu melompat dengan
berani.
Pada saat yang sama, Miku
yang telah mengambil keputusan menatap Fuutarou yang berdiri di sampingnya dan
berkata:
"Fuutarou... aku
ingin belajar memasak."
Fuutarou tertegun dengan
mata terbelalak.
"Jadi aku tidak bisa
masuk universitas. Maaf ya, Fuutarou."
Padahal Fuutarou sudah
begitu gembira untuknya, Miku merasa sangat bersalah dari lubuk hatinya. Tapi,
walau tidak bisa menjadi first penguin yang pemberani, ia tidak ingin
menjadi penguin yang tidak bisa melompat...
Fuutarou menghela napas pelan,
lalu berbicara perlahan.
"Begitu, ya... Kalau itu
keputusanmu, aku akan mendukungmu."
Saat Miku mendongak dengan lega, Fuutarou
tampak memejamkan mata rapat-rapat dan mengatupkan bibirnya lurus.
(Raut wajahnya rumit sekali!)
Sebenarnya ada banyak hal yang
ingin ia katakan, tetapi Fuutarou pasti berusaha keras menahannya.
Di dalam akuarium, lima
penguin bersaudara berenang ke sana kemari dengan bebas.
"Benar juga, ya...
Sekolah vokasi... itu juga pilihan yang bagus..."
Fuutarou akhirnya bisa
mengeluarkan kata-kata itu.
Karena harus membuka dua stan
makanan, ketua kelas Fuutarou dan Yotsuba benar-benar sibuk setengah mati
setiap hari. Jujur saja, ia enggan pergi di hari libur yang merupakan waktu
belajar yang berharga, tapi karena Miku yang mengajaknya, ia tahu pasti ada
sesuatu...
Miku menatap Fuutarou tepat dari
depan.
"Aku rasa masuk
universitas juga bukan hal yang salah. Aku tidak tahu mana yang benar. Tapi—aku
sudah tidak sabar ingin mengejar mimpiku sendiri."
Mata Miku yang dulunya
mudah murung dan hilang percaya diri, kini bersinar terang penuh harapan akan
masa depan.
"Aku ingin menyampaikan hal
itu. Karena Fuutarou
adalah orang yang spesial bagiku."
"! Itu maksudnya..."
"Tentu saja, dalam artian
yang aneh."
Melihat Miku yang memerah pipinya
dan tersenyum jahil, Fuutarou sempat terpana sejenak.
...Kenapa Miku membicarakan hal
ini di saat seperti ini? Ini pasti bukan sekadar bicara soal masa depan.
Saat mengantarnya sampai ke depan
apartemen, Miku berbalik ke arah Fuutarou.
"Aku sudah menyampaikan
perasaanku. Sekarang giliran Fuutarou."
Rasanya Miku mendadak jadi
dewasa—Fuutarou menatap lekat punggung Miku yang berjalan pergi.
(Hal yang harus kusampaikan
adalah...)
"Kakak, selamat
datang di rumah~!"
Raiha menyambutnya dari
dapur sambil mengaduk kuah kari di panci dengan sendok sayur.
Fuutarou yang masuk ke
ruangan beraroma harum mendadak menampakkan raut wajah seperti tertelan benda
asing.
"...Kenapa kamu ada di
rumahku?"
Itsuki duduk santai seperti
seorang tamu. Tidak
ada tanda-tanda pertengkaran antarsaudara, dan sepertinya dia tidak sedang
kabur dari rumah lagi. Jangan-jangan dia tercium aroma kari?
"Ini. Yotsuba bilang
dia tidak ingat pernah menyerahkannya pada Uesugi-kun."
Itsuki mengeluarkan surat
undangan festival sekolah dari tasnya dan menyodorkannya kepada Fuutarou.
"O-Oh... Maaf
ya..." Fuutarou menerimanya dari Itsuki dengan wajah canggung.
Di dalamnya terdapat
kupon gratis dan kupon diskon stan makanan, hal yang sangat berharga bagi
keluarga Uesugi yang ekonominya pas-pasan.
"Ya~! Karinya sudah
matang~!"
"S-Selamat makan!"
Mendengar suara Raiha, Itsuki
langsung mengacungkan tangan seolah-olah sudah menunggu-nunggu saat ini.
Seusai makan malam dan
keluar rumah, bintang-bintang berkerlipan di langit.
"Kamu tidak apa-apa begini? Aku
sudah dengar, lho... soal hasil prediksimu..."
Fuutarou mengantar Itsuki yang sudah menghabiskan porsi karinya sampai
nambah ke pemberhentian bus terdekat.
"Uuh... Tapi bukan berarti aku akan menyerah pada universitas impianku!
Aku siap berjuang walau harus merelakan festival sekolah!"
"Aku mohon padamu, ya. Kamu
harus lolos, kalau tidak aku yang repot. Kalau sampai gagal, apa yang kulakukan
selama ini jadi tidak ada artinya."
"Itu tidak benar."
"...?"
"Apakah waktu yang
dihabiskan bersama Ichika yang mengejar cita-cita jadi aktris, dan Miku yang
bercita-cita jadi koki, itu tidak ada artinya?"
Mendengar kata-kata Itsuki, Fuutarou
tertawa pelan.
"Aku tidak ingin
berpikir begitu, sih..."
"Hubungan kita sudah
tidak bisa lagi dijelaskan hanya dalam batasan antara guru privat dan
murid."
Sambil memandang gemerlap
lampu kota dari balik pagar pembatas jalan, Itsuki menoleh ke arah Fuutarou.
"Uesugi-kun. Biarpun
di depan nanti ada kegagalan yang menanti... aku tidak akan pernah menyesal dan
berkata 'seandainya tidak datang ke sekolah ini' atau 'seandainya tidak bertemu
denganmu'."
Sambil membiarkan
rambutnya tertiup angin malam, Itsuki mengucapkannya dengan tatapan mata yang
sangat jernih tanpa keraguan.
Ichika... Nino... Miku...
Yotsuba... Itsuki... Setiap momen bersama mereka terlintas dalam benak
Fuutarou.
Karena hari-hari bersama kembar
lima sangat menyenangkan, Fuutarou terus menunda masalah ini hingga hari ini.
Ia bahkan sempat membaca buku berjudul 'Panduan Cinta untuk Anak SMA'
untuk mencari tahu perasaannya sendiri, tapi pada akhirnya, dunia ini penuh
dengan hal-hal yang tidak bisa dipahami hanya dari buku atau buku pelajaran.
(Hubungan ini bukannya tidak
ada artinya...)
Daripada terus memikirkannya, ada
hal-hal yang baru bisa dipahami setelah dicoba.
(...Berikutnya, giliranku.)
Pagi itu, kembang api membumbung
tinggi menandakan dibukanya festival sekolah.
Di balik gerbang masuk, stan-stan
makanan berjejer rapi, kelas-kelas tempat pameran sudah dihias cantik, dan
segala persiapan telah rampung sepenuhnya.
"Diberitahukan kepada
seluruh pengunjung untuk berkumpul di gedung olahraga! Upacara pembukaan
Festival Hinode SMA Asahi ke-29 akan segera dimulai."
Para siswa yang mengenakan kaus
seragam festival sekolah melangkah ke gedung olahraga dengan raut gembira.
Di tengah suasana itu, Fuutarou
mengirimkan pesan secara bersamaan kepada si kembar lima.
'Hari pertama festival
sekolah, kumpul di kelas jam 15.00'
Tirai panggung perlahan-lahan
terangkat.
"Pertama-tama, penampilan
pembuka dari unit siswi kebanggaan sekolah kita!"
Saat para siswi berkostum idola
muncul, sorak-sorai membahana dari para siswa yang memadati gedung olahraga.
"Wah~!" Itsuki menatap
dengan mata berbinar, sementara Miku bergumam, "Uwah..." dengan raut
wajah ilfiel.
Dan yang menjadi center
dari unit tersebut tak lain adalah Nino.
Para penonton sangat menikmati
lagu pop dan tarian idola yang menggemaskan tersebut.
Yotsuba dan Fuutarou yang
mengenakan kaus festival sekolah menyaksikan penampilan Nino dan kawan-kawan
dari pinggir panggung.
"Nino keren banget!"
"Anak itu mau-mauan ikut
ya..."
Sama sekali tidak terbayangkan
dari karakter outfit "ratu" yang biasanya bersikap angkuh
sambil bersedekap.
(...Kenapa aku harus mengalami
hal seperti ini sih!!)
Wajah Nino yang bernyanyi dan
menari tampak sama merahnya dengan kostum panggung merah yang dikenakannya.
"Festival Hinode ke-29
resmi dibuka!"
Hari pertama festival sekolah
dihadiri banyak pengunjung sejak pagi, Raiha pun datang bersama Isanari.
"Uwah~~..."
Mie goreng, crepes, sosis
frankfurter, es serut, hingga kentang mentega. Mata Raiha berbinar-binar
melihat stan makanan, sementara Isanari terus mengedarkan pandangan ke
sekeliling seolah-olah sedang mewaspadai sesuatu.
Di stan kelas 3-1, Miku
sedang memanggang pancake lembut di atas hot plate.
"Aduk adonan sampai
mengembang kaku, lalu tuang setinggi mungkin di atas plate..."
"Miku-chan hebat
banget!" "Kamu diajari siapa?"
Aoi dan Manami dibuat
kaget melihat keandalan Miku.
"Di tempat kerja paruh
waktu..."
"Ah, ada pembeli
datang!"
Para pengunjung yang diundang
berdatangan dalam jumlah banyak. Awal yang cukup menjanjikan, sampai-sampai
para siswi bersemangat berpikir bahwa mereka mungkin bisa mengincar posisi
penjualan nomor satu kalau terus begini.
Sambil memanggang pancake dengan
bersungguh-sungguh, Miku melirik ponsel yang diletakkan di dekat tangannya.
(Semoga saja suasananya sudah
agak senggang sebelum jam tiga sore...)
Sebagai panitia pelaksana
festival sekolah, Yotsuba sedang berkeliling melakukan pemeriksaan keamanan
stan makanan.
"Sip! Pemeriksaan sepertinya
sudah selesai semua."
Setelah mengisi papan jalan
berisi lembar centang, Yotsuba berlari untuk membantu tugas lain yang diminta
padanya.
"Ah, Yotsuba..."
Nino yang melapisi kostum
idolanya dengan jaket seragam, memunculkan diri dari balik tanaman hias tempat
ia bersembunyi untuk mengejar Yotsuba.
"Wah! Si Merah! Tarian di
pembukaan tadi imut banget, lho!" "Aku langsung jadi
penggemarmu!" "Kalau boleh, silakan cicipi corn dog dari stan
kami!"
Melihat Nino, para pengunjung dan
siswa yang menyaksikan panggung pembukaan langsung mengerumuninya dalam
sekejap.
"T-Terima kasih
banyak..."
Meskipun senyumnya agak kaku,
Nino memiringkan kepalanya sedikit dan tersenyum ramah.
"Padahal aku cuma ingin
melihat situasi stan makanan... Apa Ichika selalu merasakan hal seperti ini
setiap saat, ya..."
Saat berhasil melarikan diri ke
kantin sekolah dan menghela napas, seseorang memanggilnya, "Nino!"
Nino kaget dan menengadah.
"Apa-apaan sih... ternyata
kamu, Itsuki."
Itsuki mengenakan kacamata,
sedang belajar dengan buku catatan yang terhampar di atas meja.
"Tarianmu yang tadi luar
biasa, ya. Terasa sekali atmosfer festival sekolahnya."
"Ini kan festival sekolah,
kamu sendiri lagi bikin apa sih..."
"Ahaha... Tenang saja,
sebelum jam tiga sore akan kuselasaikan, kok."
Kendati demikian, sesekali suara
ajakan dari stan makanan di luar tetap saja memecah konsentrasinya...
"Haah... capeknya. Fuu-kun
ada di mana, ya..." kata Nino sambil duduk terkulai di kursi.
Pada saat yang sama, Fuutarou
berada di halaman tengah sedang memandu pengunjung menuju gedung kantin.
"Gedungnya sebelah
sini."
Kantin dibuka agar bisa digunakan
oleh siapa saja, dan Itsuki harusnya sedang belajar di tempat ini juga.
"Terima kasih petunjuk
jalannya. Kamu pemuda yang luar biasa."
Pria paruh baya itu berkepala
botak dan berjenggot putih di dagu, mirip gambar ilusi optik yang tetap
terlihat seperti wajah manusia meski dibalik.
Setelah pengunjung itu pergi, Fuutarou
menghela napas dalam-dalam. Mengangkat peralatan, mencari orang tua dari anak
yang hilang, hingga melerai perkelahian. Padahal baru hari pertama, tapi
sibuknya sudah bikin pusing kepala.
Tepat saat itu, seorang siswi
panitia pelaksana dari kelas lain berlari kecil menghampirinya.
"Uesugi-kun! Tempat ini
ingin kami jadikan area istirahat, baiknya bagaimana, ya?"
"A-Ah, iya..."
Saat memeriksa waktu di
ponselnya, jam sudah menunjukkan pukul 14.30 lewat. Waktu yang dijanjikan makin
dekat.
Pintu kelas terbuka lebar, dan
Miku yang masih mengenakan celemek berlari masuk ke dalam.
"Maaf membuat kalian
menunggu!"
Yotsuba melambaikan tangan,
"Miku, kerja bagus!"
"Lama sekali. Kamu
terlambat," kata Nino sambil menatapnya agak tajam. Jam di dinding
menunjukkan pukul 15.25.
"Bagaimanapun juga, dengan
begini semuanya sudah berkumpul, ya," kata Itsuki.
"Tidak, masih kurang
satu orang..."
Tepat ketika Fuutarou
mengatakannya, pintu terbuka kembali. Miku yang berbalik langsung tersenyum lebar.
"Ichika!"
Ichika yang mengenakan
pakaian kasual masuk sambil mengangkat tangan, "Hai!"
"Kamu datang!"
"Kenapa tidak memberi kabar dulu, sih?" Yotsuba dan Nino
menyapanya dengan gembira.
"Pantas saja tidak bikin
keributan, ya," kata Miku.
Berkat iklannya yang melejit,
saat ini Ichika adalah aktris pendatang baru yang wajahnya dikenali di seluruh
negeri. Terlebih lagi, dalam kurun waktu singkat saat tidak bertemu, ia
terlihat makin cantik.
"Ahaha, begitulah~"
Sebenarnya ia sempat menyamar
menjadi Nino menggunakan rambut palsu, namun entah mengapa malah dikejar-kejar
banyak orang hingga akhirnya bisa lolos.
"Dengan begini, semuanya
benar-benar sudah berkumpul."
Fuutarou berbicara sambil duduk
di atas meja yang agak jauh dari si kembar lima.
"Suasana seperti ini memang
paling bikin tenang, ya." Miku menyetujui Yotsuba yang tersenyum ceria,
"Memang benar."
"Mumpung sudah kumpul, ayo
kita makan," kata Ichika.
Di atas meja, berjejer rapat
berbagai makanan seperti taiyaki, donat, churros, pancake, jagung bakar,
corn dog, hingga kentang goreng.
"Aku beli banyak dari stan
makanan, lho~!" Sambil melakukan pemeriksaan keamanan, Yotsuba sekalian
mengamankan makanan dari berbagai tempat.
"Aku sudah menahannya dari
tadi!" Melihat Itsuki yang seolah-olah hendak menjilat bibirnya, semua
orang mendadak tertawa lepas.
Fuutarou menatap si
kembar lima yang sedang bersenang-senang dan bersenda gurau beberapa saat.
Baru satu tahun lebih sedikit
sejak mereka pertama kali bertemu. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan.
Bahwa bagi dirinya, kelima gadis ini akan menjadi sosok yang tak tergantikan—
Tak lama kemudian, setelah
menarik napas pelan, Fuutarou berbicara.
"Aku menyukai kalian
berlima."
Nino refleks menyemburkan
minumannya, "Pfft!?" Wajah Miku mendadak merah padam, begitu pula
dengan saudari-saudari lainnya.
"Tiba-tiba sekali..."
kata Ichika sambil tersenyum getir.
"A-Apa maksudnya
itu...?" Itsuki
bertanya dengan suara panik sambil masih memegang sosis frankfurter. Fuutarou
menatap kelimanya dengan pandangan yang tulus.
"Aku berharap
hubungan kita berenam bisa terus seperti ini selamanya. Tapi, aku rasa aku
harus memberikan jawaban."
Itulah alasan Fuutarou
sengaja memanggil si kembar lima di tengah berlangsungnya festival sekolah—.
Nino sampai tidak sanggup
bersuara. Namun, Miku telah memantapkan hatinya untuk menerima hal itu.
"Fuutarou... tidak
apa-apa."
"Begitu, ya..."
Si kembar lima menunggu
kata-kata selanjutnya dengan jantung berdebar-debar.
—Tiba-tiba saja, wajah Fuutarou
yang tadinya sangat serius mendadak berubah menjadi merah padam.
"Kendati demikian,
aku tidak secanggung itu sampai harus mengatakannya di tengah-tengah acara
festival seperti ini. Aku sendiri belum sepenuhnya menata perasaanku. Beri aku
waktu sampai hari terakhir."
Sambil memalingkan wajah saat
mengatakannya, Fuutarou turun dari meja lalu menganggukkan kepala meminta maaf.
Miku sempat melongo sejenak,
namun kemudian menghela napas sambil tersenyum seolah mewajarkannya.
"Ya ampun~! Apa-apaan sih!
Bikin buyar saja..." Nino merasa setengah lega, setengah kecewa.
"Kalau begitu, ayo kita
perbaiki suasana dan lakukan toast," kata Ichika sambil mengambil
gelas kertas.
"Aku mau yang rasa
jeruk!" "Matcha
soda ada tidak?" "Mana ada!"
Yotsuba yang bersemangat tanpa
alasan, serta sahut-sahutan antara Miku dan Nino. Fuutarou terkekeh pelan dan
rasa tegangnya mencair, lalu Itsuki mengajak berbicara.
"Akhirnya... sampai di tahap
ini juga, ya. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan soal yang
rumit ini."
"Jangan mengejekku,
dong..."
"Tapi, aku sangat iri
padamu."
Entah apa yang terjadi, Itsuki
mengucapkannya dengan raut wajah yang tersirat sedikit kesedihan. Saat Fuutarou
belum memahami maksudnya, Miku menyerahkan sebuah gelas kertas padanya,
"Ini, bagiannya Fuutarou."
Setelah masing-masing memegang
gelas kertas, Ichika memimpin untuk memulai toast.
"Kalau begitu, untuk
menandai berakhirnya hari pertama festival sekolah dengan lancar..."
""""""Bersulang~~~!""""""
Diiringi suara ceria, enam gelas
kertas disatukan.
"Semuanya~
Festival Hinode sudah memasuki hari kedua! Hari ini kami akan melakukan
wawancara dadakan kepada para pengunjung yang datang~!"
Saat Tsubaki dari
klub penyiaran sedang merekam, tiba-tiba mikrofon di tangannya direbut dari
samping.
"Nakano-san,
kamu lihat tidak? Kamu
masih ingat aku, kan? Aku datang menemuimu, lho! Kamu masih berlari?"
Ternyata itu Eba,
mantan ketua klub atletik. Sepertinya walau sudah lulus, dia masih belum bisa
melupakan gaya berlari Yotsuba.
"Jangan
ambil mikrofonnya dong!"
Saat Tsubaki
merebut kembali mikrofonnya dan mengarahkannya ke seorang pria berpenampilan
rapi yang tampak seperti wali murid, pria itu hanya berkata, "Maaf,
permisi," lalu pergi begitu saja.
"Yah~...
Kalau begitu mari kita ulangi lagi! Kakak yang di sana! Apa tujuan Kakak datang
ke sini?"
Kali ini Tsubaki
menyapa seorang gadis muda sebaya berambut hitam panjang.
"Aku?"
Sebuah senyuman mengembang di bibirnya.
"Aku datang
untuk menemui teman masa kecilku."
"Hari ini
Uesugi-kun tidak ada tugas!"
Seorang siswi
panitia pelaksana yang bertugas mengoordinasi berbicara sambil melihat lembar
lembar centang. Katanya, semua tugas yang ada sekarang akan dikerjakan oleh
ketua kelas lainnya.
"Mumpung
tidak ada tugas, nikmati saja festival sekolahnya."
"Haah..."
Tiba-tiba jadi
pengangguran begini malah membuatnya bingung. Isanari dan Raiha juga tidak
mungkin datang dua hari berturut-turut.
(Boro-boro mau
menikmati, uang buat jajan saja tidak punya...)
Sambil berjalan
gontai di lapangan yang dipenuhi barisan stan makanan, Fuutarou meraba-raba
sakunya.
(Kalau
dipikir-pikir, kalau ke sana mungkin bisa...)
Saat Fuutarou
sedang turun tangga, terdengar suara dari atas, "Ah, itu dia."
Saat
berbalik, seorang gadis sebaya sedang menatap Fuutarou dengan senyuman.
Rambut
hitam panjang. Mengenakan pakaian sederhana berupa kemeja putih dan celana
capri hitam. Tipe gadis tangguh dan pintar yang tampaknya cocok menjadi
pengurus kelas...
"Fuutarou,
kamu sudah besar, ya."
Dipanggil
dengan nama depannya, bayangan masa SD mendadak terlintas di kepalanya seperti
embusan angin kencang.
"...T-Takebayashi."
Sama
sekali tidak pernah terbayangkan, sebuah reuni dengan teman masa kecil yang
sangat dirindukan!
"Ah!
Fuutarou payah banget! Makanya agak ke kiri sedikit."
Dituntun
oleh Takebayashi untuk mencoba permainan tembak sasaran, peluru gabus Fuutarou
malah meleset dari semua hadiah.
"Kamu
berisik banget di sampingku, sih."
Sifatnya
yang suka mengatur sama sekali tidak berubah sejak dulu.
"Ah,
aku mau yang itu! Berikutnya incar yang itu ya!"
Bagi
siapa pun yang melihatnya, mereka tampak seperti pasangan kekasih yang sedang
menikmati festival sekolah.
Dari
balik bayangan gedung sekolah yang tak jauh dari stan tembak sasaran itu, aura
tidak mengenakkan memancar sangat kuat.
"Hee...
Kemarin bilang hal seperti itu ke kami, tapi hari ini malah kencan sama cewek
lain, ya..."
Miku dan Yotsuba
yang sedang mencari Fuutarou, mendengar suara mereka lalu mengintip interaksi
keduanya.
"A...
haha... Uesugi-san tidak bisa diremehkan juga, ya..."
Kalau
dipikir-pikir, Fuutarou tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun bahwa ia akan
memilih salah satu dari si kembar lima. Jangan-jangan ini laporan kalau dia
sudah punya pacar—tepat saat pemikiran negatif Miku hendak meledak:
"Fuutarou,
ayo ke sebelah sana!"
Takebayashi
menarik tangan Fuutarou lalu mulai berjalan.
"O-Oik..."
Tak perlu
diragukan lagi, kejutan besar merayapi Miku dan Yotsuba.
Terlebih lagi,
arah berjalan mereka menuju ke tempat stan kelas 3-1 berada.
"Pancake-nya,
silakan~"
Itsuki memegang
papan tulisan 'Pancake Lembut' sambil memanggil pembeli bersama Nino.
"Fuutarou,
ada pancake! Ayo kita makan!"
Tentu
saja, Nino langsung membeku. Fuutarou sedang bergandengan tangan dengan mesra
bersama gadis yang tidak dikenalnya!
"F-Fuu-kun...?"
"Ah... ini
stan kelasku."
Sambil berbicara
pada Takebayashi, Fuutarou diam-diam melepaskan tangannya.
"Begitu,
ya."
Takebayashi
memegang bagian belakang kepala Fuutarou lalu memintanya menunduk, sementara
dirinya sendiri membungkuk sopan.
"Terima
kasih sudah selalu menjaga Fuutarou kami, ya."
Mendengar aura
"istri sah" yang luar biasa dari kata "Fuutarou kami...",
Itsuki mendadak tidak bisa memberikan reaksi apa pun.
"Kalau boleh
tahu, Anda siapa, ya~?"
Sambil menahan
amarah yang membara di dalam dada, Nino bertanya dengan senyum kaku.
"Salam
kenal, namaku Takebayashi. Aku teman masa kecil Fuutarou sejak SD."
"Oh, begitu.
Kami memang cuma teman sekelas, tapi kami ini guru dan murid—bisa dibilang
hubungan kami lebih dari sekadar teman sekelas."
Kalau soal adu
gengsi, Nino tidak akan kalah. Ia maju satu langkah dan mengambil posisi siap
berperang secara terang-terangan.
Namun Takebayashi
malah menggenggam tangan Nino sambil berseru, "Begitu, ya! Kebetulan
sekali!"
"Aku juga
pernah mengajari Fuutarou belajar, lho. Kaget banget waktu dimintai tolong sama
anak bermasalah yang tidak pernah mau menurut ini."
Di balik bayangan
gedung sekolah, Yotsuba yang mendengarkan ucapan Takebayashi tersentak kaget.
"Tidak,
merekalah muridku..." Fuutarou mengoreksi.
"Ah, begitu?
Kalau begitu sudah jelas, kan. Antara aku dan kalian, siapa yang hubungannya
jauh lebih akrab."
Melihat
Takebayashi yang mendeklarasikan kemenangannya kepada Nino dan Itsuki, Miku
menggetap bibirnya rapat-rapat. Ia tidak bisa tinggal diam dan mendengarkannya
lebih lama lagi.
"Yotsuba,
aku sudah..."
Pada saat itu,
Yotsuba justru melompat keluar duluan dari balik bayangan gedung sekolah.
"A-Aku yang lebih menyukai Uesugi-san..."
Tepat saat Yotsuba hampir kelepasan bicara, Itsuki yang diam
dari tadi melangkah menghadapi Takebayashi dan tersenyum manis.
"Terima kasih banyak. Kalau hal itu benar, bisa dibilang
secara tidak langsung kami telah berutang budi padamu. Waktu yang kami habiskan
bersama Uesugi-kun mungkin kalah dari waktumu."
Kepada Takebayashi yang tersenyum jumawa, Itsuki melayangkan
sebuah pukulan balasan yang tenang namun sangat telak.
"Tapi, kami
tidak berniat kalah kalau soal kedalaman hubungan kami padanya."
Di samping mereka
berdua yang saling memelototi, Fuutarou merasa sangat canggung hingga berseru:
"Kalian
semua... memalukan banget, hentikan..."
Wajah Fuutarou
memerah. Itsuki yang baru tersadar dari emosinya ikut memerah malu.
"Lagipula
Takebayashi... jangan terlalu menggoda mereka. Mereka ini adalah segelintir
temanku yang berharga. Sudah pasti semuanya spesial bagiku."
Mendengar
perasaan tulus Fuutarou yang jarang sekali diucapkan dari mulutnya, Nino dan
Itsuki terkejut sekaligus senang hingga tak bisa berkata-kata.
"Kamu benar-benar sudah dewasa, ya..."
Takebayashi
menundukkan pandangan lalu terkekeh pelan, kemudian mendongak dan berkata:
"Maaf ya
kalian berdua. Tolong pancake-nya satu porsi."
"B-Baik!"
Itsuki pun
memandu Takebayashi menuju stan.
Nino tidak tahu
gadis itu sosok yang seperti apa, tetapi fakta bahwa ada seseorang yang spesial
di dalam hati Fuutarou tetap tidak berubah.
"...Fuu-kun!"
Nino memanggil Fuutarou
yang sedang berbicara dengan Takebayashi.
"Perasaanku
padamu tidak akan pernah berubah sama sekali!"
Karena itulah,
yang bisa ia lakukan hanyalah terus menyampaikan perasaannya secara jujur dan
lugas.
Di sisi lain,
Yotsuba yang telanjur melompat keluar namun kehilangan momen, hanya bisa
berdiri terpaku di tempat.
"Yotsuba..."
Miku terkejut.
Yotsuba yang biasanya selalu ceria dan tanpa beban, bisa menjadi begitu
emosional seperti itu...
"Maaf, aku
harus lanjut kerja..."
Yotsuba
berbalik lalu berlari pergi seolah-olah sedang melarikan diri.
Di atas
jembatan penyeberangan, seorang siswa SMA berkacamata yang membuka buku
referensi—Sanada—sedang menunggu Takebayashi.
"Kerja
bagus. Bagaimana tadi?"
"Iya.
Fuutarou kelihatan sehat, dan anak-anak kembarnya juga anak yang baik."
Sama
sekali tidak disangka Fuutarou berada di sekolah yang sama dengan mereka hingga
membuatnya kaget, tapi ia lega bisa bertemu dengan gadis itu.
"Eh? Kembar
lima...?" Sanada tampak kebingungan.
Tepat setelah
pulang dari karya wisata kelas enam SD, Fuutarou meminta Takebayashi dan Sanada
untuk mengajarinya belajar.
—Aku ini manusia
kosong yang tidak punya apa-apa. Aku ingin punya setidaknya satu hal yang bisa
kubanggakan.
Takebayashi tahu
betul perjuangan keras Fuutarou yang berdarah-darah setelah momentum itu. Ia
hanya berharap Fuutarou bisa menemukan "sesuatu" itu. Walau selalu
mengkhawatirkannya, kalau Fuutarou yang sekarang, pasti semuanya akan berjalan
baik.
"...Berjuanglah,
Fuutarou."
Takebayashi
menatap langit senja, memberikan semangat kepada teman masa kecilnya yang
berharga.
Apakah pilihan
ini... atau apakah membuat pilihan ini adalah hal yang benar? Tiga hari adalah
waktu yang terlalu singkat untuk memikirkan hal semacam itu.
Di halaman
sekolah, api unggun pesta penutupan (koyasai) sedang menyala dengan meriah.
Meskipun begitu—.
Fuutarou
menyembunyikan tekad di dalam hatinya, melangkah menyusuri lorong di antara
stan-stan makanan yang telah kosong.
"Dengan ini,
seluruh rangkaian acara Festival Sekolah dan Pesta Penutupan SMA Asahi... telah
resmi berakhir."
Masa-masa bersama
si kembar lima dan Fuutarou yang terasa singkat namun panjang ini akan segera
menutup tirainya.
Namun, masih
terlalu dini untuk menyambut babak akhir.
Di sini, mari kita putar kembali waktu ke dua hari yang lalu, untuk menceritakan festival sekolah terakhir dari sudut pandang masing-masing anak dari kembar lima ini.


Post a Comment