Chapter 2
"Haaaaah~~~~……."
Membuka notebook 『Rencana
Kelulusan Si Kembar Lima』, Fuutarou menghembuskan napas berat.
"Hampir
semua mata pelajaran dapat nilai merah, ya……. Ck, padahal walaupun cuma
sebentar, aku sudah belajar segitu kerasnya……."
Saat dia bergumam
sendiri sambil melihat nilai kelima gadis itu yang dicatat di notebook, Isanari
yang sedang makan malam menghentikan tangannya dan menegurnya seperti seorang
ayah.
"Fuutarou!
Berhenti bicara soal belajar ketika di rumah!"
"Prinsip
mendidik macam apa itu! Lagipula, ini pekerjaan yang kamu bawa ke rumah,
kan!"
Kalau
dipikir-pikir, dari mana ayahnya menemukan lowongan guru privat ini, ya?
"Dulu
kamu juga tidak bisa belajar, kan. Jangan khawatir, Itsuki-chan dan yang
lainnya juga akan berubah kok."
"Eh?
Kakak dulu bukannya monster belajar seperti sekarang ini ya?"
Raiha
yang sedang mengurus pekerjaan dapur mendengar percakapan Isanari.
"Anak
ini, dulu itu pria liar yang mirip sekali denganku, tahu."
"Eeeeh~~~!?"
"Aku
tahu foto masa-masa itu diselipkan di dalam buku saku siswa kok."
Sejak kapan!
Fuutarou terkejut setengah mati.
"Tunjukkan
padaku!"
Raiha menjadi
sangat tertarik, berubah menjadi gumpalan rasa ingin tahu.
"Jangan!
Sama sekali tidak boleh ditunjukkan……."
Di saat Fuutarou
teralih perhatiannya oleh Raiha, Isanari dengan cepat mengambil buku saku siswa
dari saku dada Fuutarou.
"Hei,
Ayah!"
Raiha berlari ke
arah Isanari sambil berseru, "Tunjukkan, tunjukkan!"
"Ooh, lihat
nih, lihat."
Mata Raiha
membelalak bulat saat melihat foto di buku saku siswa.
"Bohong~~~!?
Ini Kakak!? Hebat banget."
Sejarah
kelamnya diketahui oleh adiknya sendiri……! Di saat sang putra remaja memekik malu, Isanari
menambah rasa malunya tanpa perasaan.
"Hahaha. Di
masa-masa inilah. Setelah bertemu anak itu, dia berubah jadi seperti
sekarang."
Di dalam benak
Fuutarou, terbayang lembut rambut panjang seorang gadis yang berkibar ditiup
angin.
"A-Apa-apaan
sih……."
Setelah merebut
kembali foto dan buku saku siswanya, Fuutarou berdiri seolah hendak melarikan
diri.
"Hei, hei!
Apakah itu cinta pertamamu, Kakak?!”
”Bukan, tahu!”
Hujan pertanyaan dari Raiha terus berlanjut tanpa henti setelah itu.
Lalu, hari libur
keesokan harinya──.
Yotsuba yang
dipanggil oleh Miku datang ke meja makan, lalu melihat benda di atas meja
secara lekat-lekat dan berkata:
«Benda
apa ini?»
Benda
padat berwarna hitam legam bertengger sekitar tiga buah di atas piring.
«Kroket…….»
Miku menjawab dengan ragu-ragu.
«Batu……
bukan ya?»
«Soal
rasa, aku percaya diri…… cobalah
makan.»
”Kalau begitu,
aku makan ya.”
Saat Yotsuba
menjepit kroket hitam legam itu dengan sumpit, Fuutarou memunculkan kepalanya
dari samping.
”Kamu buat ohagi
ya? Aku minta ya.”
Dia mengambil
satu, lalu memasukkannya ke dalam mulut bersamaan dengan Yotsuba, ”Nyam.”
Saat mengunyah
dan menelannya, Fuutarou menyadari kesalahannya.
«Ini
kroket ya, enak kok seperti biasa!»
«Sama
sekali tidak enak!»
Pendapatnya
berlawanan total dengan Yotsuba.
«Yang
mana yang benar……?» Apakah enak, atau tidak enak, Miku menjadi bingung.
”Apa-apaan,
Yotsuba. Kamu ternyata kulineran banget ya.”
”Uesugi-san saja
yang lidahnya mati rasa! Anchi, anchi!”
Setelah ”ketinggalan
zaman dalam hal fashion”, sekarang lidah mati rasa disebut ”anchi”. Padahal dia
Yotsuba, tapi kalau bicara ceriwis sekali.
”Mau anchi atau
apa terserahlah. Kalau begitu, mari kita mengulang pelajaran ujiannya…….”
”Tunggu!”
Miku yang
cemberut memotong Fuutarou dan Yotsuba yang hendak mulai belajar.
"Sampai
rasanya benar-benar sempurna dan enak, aku akan buat terus. Makan ya."
***
Kruuuuk,
kruuuuk…… Di dalam perut yang ditekan dengan kedua tangan, usus yang mengalami
pencernaan buruk bergerak aktif.
"Uesugi-san,
bagaimana kondisi perutmu?"
Yotsuba
memperhatikan Fuutarou yang terbaring di lantai ruang tamu dengan dahi
bercucuran keringat dingin dengan cemas.
"Miku akan
segera belikan obat kok ya."
"Sial……
Padahal ini hari mengajar guru privat, tapi malah ceroboh…… Aku tidak menyangka
akan disuruh makan sampai tumbang begini……."
Meskipun
dimakan dan dimakan, kroket hitam legam tetap menggunung di piring. Mode tidak
mau kalah dari Miku, ternyata memiliki dendam dan ketabahan sejauh itu.
"Perutku
juga sudah penuh banget……."
"Ini
gara-gara kamu terus-terusan mengeluh, tahu! Aku benar-benar berpikir itu enak,
tapi bohong demi kebaikan kan tidak apa-apa!"
Karena
tidak bisa bangun, Fuutarou merengek sambil menggerakkan tangan dan kakinya.
Benar-benar seperti anak kecil yang sedang mengamuk.
"Bohongku
pasti akan ketahuan sama Miku!"
"Haah……
Kalau kamu jawab bilang rasa kesukaanmu, kan bisa mengelabuhinya……."
Pita telinga
kelinci Yotsuba mendadak berdiri tegak, Pikoon!
"Rasa
kesukaan…… Begitu ya, ini jadi pelajaran buatku!"
"Aku
tidak bermaksud mengajarimu hal seperti itu sih……."
Pada saat itu,
Nino dan Itsuki yang berdandan rapi turun ke ruang tamu.
"Lho~? Tidur
siang di rumah orang ya~? Apa mungkin dikasih obat racun ya~."
Fuutarou yang
sekarang bahkan tidak punya tenaga untuk membalas sindiran Nino.
"Sangat
ironis, hari ini aku justru sangat menginginkan obat."
"Hmm,
terserah deh. Ayo pergi, Itsuki. Nanti waktu makan siangnya selesai."
"E-Eh,
iya……."
Itsuki
mengkhawatirkan Fuutarou, tetapi tetap mengikuti Nino.
……Gawat! Mereka
berdua berniat pergi keluar. Fuutarou yang panik memanggil dengan suara pelan,
"Yotsuba!"
"I-Iya, ada
apa?"
Yotsuba bergegas
berjongkok di samping Fuutarou.
"Sudah
saatnya membuat mereka berdua belajar juga. Pokoknya tahan mereka!"
"Eeeh!?
Harus bagaimana?"
"Bo-Bohong
atau apa terserah, yang penting tahan mereka!"
"……Aku
mengerti!"
Dengan mengangkat
wajahnya secara mantap, Yotsuba mendekati Nino dan Itsuki.
"Kalian
berdua, tunggu!"
Nino dan Itsuki
yang sedang berdiskusi mau makan apa menoleh.
"Seperti
yang kalian lihat, Uesugi-san terserang penyakit berat! Rawatlah dia!"
Fuutarou
seketika pucat pasi.
(Yotsuba, kamu……)
Sambil
bercucuran keringat dingin, Yotsuba mengedipkan mata secara kaku ke arah
Fuutarou.
(Bohongmu jelek banget tahu!)
Tetapi, Itsuki
yang sangat serius menanggapi hal itu secara mentah-mentah.
"Kalau
begitu, bukannya lebih baik pergi ke rumah sakit……."
"I-Itu tidak
bisa dilakukan……."
Yotsuba yang
terdesak mengeluarkan alasan yang dipikirkannya dalam keadaan kepala
berputar-putar:
"Katanya
ini penyakit yang kalau bergerak akan meninggal!"
──Penyakit
aneh apa itu!
"Hah?
Apa-apaan itu? Ayo pergi, Itsuki."
Nino tidak
mempedulikannya, berbalik arah dengan cepat menuju pintu keluar bersama Itsuki.
Harus mencegah
mereka pergi keluar bagaimanapun caranya. Lagipula, menyerahkannya pada Yotsuba
adalah awal dari kesalahan, tapi kalau sudah begini, mau tidak mau harus ikut
bermain.
"Ugh,
ugh!"
Fuutarou
menegakkan tubuh bagian atasnya lalu batuk-batuk secara sengaja.
"Ugh! Ugh!
Gawat…… bergerak sedikit saja rasanya hampir meninggal……."
Telapak tangan
dan mulut Fuutarou terwarnai merah padam.
"Apa yang
kamu lakukan! Tenanglah!" Itsuki berlari mendekat karena terkejut.
Rasakan……
Fuutarou diam-diam menggulingkan botol saus tomat yang digunakannya untuk
kroket tadi.
"Yah, kalau
minum obat lalu tidur, pasti sembuh kok."
Kepada Nino yang
tetap bersikeras mau pergi makan siang, Yotsuba berkata dengan panik:
"N-Nah,
Nino! Kalau makan siang kan ada kroket!"
"Sebelah mana yang kroket, coba!"
Pendapat itu tidak bisa dibantah. Yotsuba memutar otaknya
sekuat tenaga.
"Nino
kan…… benar juga! Kamu kan pintar memasak? Buatkan bubur dong."
Lambung
Fuutarou yang belum mencerna kroket dalam jumlah banyak rasanya mau terbalik.
(Aku begini kan gara-gara kekenyangan…… Kamu tidak lupa kan……?)
Yotsuba
dengan gugup menunggu jawaban dari Nino yang kelihatan cemberut.
Tak lama kemudian
Nino berkata seolah menyerah:
"Kalau cuma
segitu sih gampang."
Mata Fuutarou
membelalak. Kenapa justru di saat seperti ini kamu malah mau melakukannya untukku!?
"Yang
pakai telur tidak apa-apa, kan." Ucapan Nino sambil berjalan menuju dapur.
"……Ah……
sangat membantu……."
Berbaring kembali
dalam keadaan pasrah, Itsuki duduk bersimpuh mendampingi Fuutarou dan berkata:
"Aku tidak
tahu kalau kamu menderita penyakit seberat itu. Yotsuba, apakah ada yang bisa
kubantu?"
"Umm…… umm……
ah! Bagaimana kalau kamu pegang tangannya!?"
"「!?」"
Yotsuba kembali
mengucapkan hal yang tidak masuk akal, membuat keduanya terkejut setengah mati.
"N-Nah!
Waktu kecil dulu kan kalau kita jatuh sakit, Ibu suka melakukannya, kan? Mantra supaya cepat sembuh."
"Tidak
mau! Itu dan ini kan beda masalah!" Itsuki menolak dengan seluruh jiwa dan
raganya.
Semakin
Yotsuba membuka mulutnya, situasinya justru semakin rumit saja.
"Yotsuba,
kamu jangan bicara lagi deh……."
Tepat saat
Fuutarou menegakkan tubuhnya, rasa sakit mendadak menjalar di perutnya.
"Ugh……!"
"Kamu tidak
apa-apa!?" Suara cemas Yotsuba.
Memegang perutnya
dan melihat Fuutarou yang meringis kesakitan, Itsuki mengatakannya sambil
ragu-ragu:
"Kalau hal
itu bisa membuatmu membaik……."
Tangan Itsuki
terulur dengan ragu-ragu, dan tepat sebelum menyentuh tangan Fuutarou──
tangannya terhenti seketika lalu ditarik kembali dalam sekejap.
"Ternyata
tetap tidak bisa……."
"Sepertinya
kamu sangat membenciku ya……."
(Nah……
menahan mereka sudah berhasil, tapi setelah ini harus bagaimana?)
Fuutarou
berbaring sambil berpikir. Gara-gara Yotsuba berbohong dengan buruk, situasinya
jadi jalan buntu total.
Pada saat itu,
Yotsuba mendekat, lalu berlutut di samping Fuutarou di sisi yang berlawanan
dari Itsuki.
"Lagipula,
lebih baik kalau kita akrabkan! Itsuki, juga ayo belajar bareng!"
"Eh……?"
"Mulai
sekarang ayo ikut pelajaran Uesugi-san bareng-bareng! Kalau berlima kumpul semua pasti jauh lebih
seru!"
Sambil melewati
Fuutarou, dia memajukan tubuhnya ke arah Itsuki, memohon dengan sekuat tenaga.
Fuutarou menatap
senyuman Yotsuba yang polos tanpa kepura-puraan itu secara lekat-lekat.
Cara memintanya
yang salah…… Daripada menyuruhnya berbohong secara paksa, cara seperti ini jauh
lebih mencerminkan diri Yotsuba.
"……Akan
kupikirkan."
Kata-kata jujur
dari Yotsuba tampaknya tersampaikan juga ke hati Itsuki.
Di saat itu, Nino datang membawa bubur panas di atas nampan.
"Nih, buburnya sudah jadi lho~……."
Pada detik berikutnya, Nino yang menginjak botol saus tomat
yang digulingkan Fuutarou tadi terpeleset dan menumpahkan buburnya.
"Aakh!?"
Bubur yang terlempar dari mangkuk terbang berkilauan ke arah
Fuutarou.
(Ooh
beras pecah kulit……
Setiap butirnya berkilauan…… Beras yang dipakai bagus juga ya……)
Gumpalan bubur jatuh menempel di pipi Fuutarou.
"Aaaaaadadadada~ Panas tahu!!"
Dia
mendadak bangun. Sambil menghentakkan kaki, dia menepis butiran beras di
pipinya.
"M-Maaf……
Kamu tidak apa-apa……?"
Nino yang menatap
Fuutarou dengan mata berkaca-kaca mendadak menyadari sesuatu.
"Tunggu,
lho? Kamu bisa bergerak biasa tuh……."
──Benar, aku menderita penyakit aneh yang kalau bergerak akan meninggal!
Saat
Fuutarou menoleh karena terkejut, Itsuki dan Nino menatapnya dengan raut wajah
seperti iblis.
"Hahaha……
Sepertinya sudah sembuh." Ucapan Fuutarou sambil tersenyum buatan.
***
"Pada
akhirnya, kita cuma berdua lagi ya……."
"Ahahaha."
Kepada
Fuutarou yang berbaring di lantai lagi, hanya Yotsuba yang mau mendampinginya.
"Kalau
begini kan sama saja seperti sebelum ujian……."
"Masa
sih?"
"Eh?"
"Kamu tidak
menyadarinya? Padahal Uesugi-san ada di rumah kita, tapi Nino tidak mencoba
mengusirmu keluar lho."
Meskipun sangat
marah pada kebohongan Fuutarou, Nino pergi keluar rumah bersama Itsuki tanpa
mengucapkan apa-apa lagi.
"……Cuma
kebetulan saja paling."
"Bukan cuma
Nino dan Itsuki, bahkan aku pun bisa tahu kalau Ichika dan Miku juga sudah
berubah. Yang tidak berkembang cuma aku saja…… Nilai tesku juga tetap
jelek."
Ehehe, Yotsuba
tertawa dengan malu-malu.
"Tidak
mungkin seperti itu, kan."
Fuutarou
berpaling dari Yotsuba lalu berkata:
"Kamulah
yang pertama kali berubah untukku. Sangat membantuku karena ada satu orang yang
jujur dan polos seperti ini tahu."
Karena ini adalah
perasaan jujur, makanya dia merasa malu untuk mengucapkannya secara berhadapan
langsung.
"Tapi ya,
mungkin aku terlalu berlebihan memujimu…… Karena kamu begitu jujur sampai tidak
bisa berbohong, hari ini aku jadi kena batunya."
Karena merasa
malu, dia mengakhirinya dengan sedikit nada pedas.
Yotsuba berdiri,
lalu berputar ke arah kepala Fuutarou.
"……Kamu tahu
tidak kenapa aku ada di pihakmu, Uesugi-san?"
"Apa-apaan
itu? Karena kamu ingin menaikkan nilai akademismu, kan?"
"Bukan
kok."
Yotsuba duduk di
tempat itu, menangkup pipi Fuutarou dengan kedua tangannya, lalu mendekatkan
wajahnya seolah menatapnya dari atas.
"Karena aku
menyukaimu."
Mata Fuutarou
membelalak membeku.
"……Eh?"
Begitu dekat
hingga hembusan napasnya terasa, ada wajah Yotsuba yang tampak tersipu malu.
"……Hah?"
Bibir berwarna
merah muda yang tampak lembut itu juga……
"Tuh……."
Di dalam rumah
hanya berdua saja dengan Yotsuba. Jika dipikir secara tenang, atau tidak
dipikir secara tenang pun, bukankah ini situasi yang sangat tidak baik──!?
Tepat saat
Fuutarou hampir jatuh ke dalam kepanikan, Yotsuba tersenyum lebar.
"Bo-hong~"
Sambil melepaskan
tangannya dari Fuutarou, Yotsuba dengan cepat berdiri.
"Hahaha,
kena tipu kan~! Aku juga kalau mau pasti bisa kok~!"
Sambil
berbicara dengan bangga, dia berlari melarikan diri.
Fuutarou
menegakkan tubuh bagian atasnya, merasa tercengang. Tak disangka dirinya bisa
dipermainkan oleh Yotsuba yang si bodoh yang polos itu──.
(……Aku
tidak akan mempercayai siapa pun lagi……!)
Dengan demikian,
hati Fuutarou pun menjadi sedikit tertutup.
***
"Kegiatan
alam♪ Kegiatan alam♪"
Beberapa hari
kemudian setelah pulang sekolah, Yotsuba yang telah menyelesaikan wali kelas
berjalan dengan langkah ringan menuju perpustakaan.
Sambil melihat ke
sekeliling ruangan, dia menemukan sosok punggung Fuutarou dan Miku.
"Uesugi-san,
sebentar lagi kegiatan alam lho!"
Kegiatan alam.
Itu adalah salah satu acara besar yang menyenangkan dan khas bagi para murid,
sejajar dengan jalan-jalan sekolah, festival budaya, festival olahraga, dan
berbagai acara lainnya yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran.
"Yotsuba
ya……"
Padahal itu suara
Fuutarou, tetapi yang menoleh adalah sosok badut mengerikan berambut pirang.
"Uwaaaaaaaaaaa~~~~!!"
Jeritan histeris
Yotsuba bergema di seluruh perpustakaan.
"Ini
aku."
Saat melepas wig
dan topeng badutnya, Fuutarou yang seperti biasa pun muncul.
"Uesugi-san……."
Rasa lega Yotsuba
hanya berlangsung sekejap, karena Fuutarou kembali memasang wig dan topengnya.
"Siapa
ini~~~!!"
"Ini
aku." Dia melepas wig dan topengnya.
"Syukurlah~……."
Untuk ketiga
kalinya, Fuutarou memasang kembali wig dan topengnya.
"Siapa
ini~~~!!"
"Ini
aku." Dia melepas wig dan topengnya lagi.
"Uaaaaaaaa~!"
Pikiran Yotsuba
sudah kacau balau.
Lalu Fuutarou
memasangnya lagi.
"Tolong
aku~~~!!"
Di saat Fuutarou
sedang mengerjai Yotsuba sekalian membalas dendam kejadian kemarin, terdengar
suara deham batuk di dekat mereka, "Ehem."
"……Harap
tenang di dalam perpustakaan!"
Ditegur
oleh murid perempuan petugas perpustakaan, Fuutarou dan Yotsuba membungkukkan
kepala bersamaan, "Maafkan kami……." Bagaimanapun juga, mereka
berkumpul di sini memang untuk belajar.
Yotsuba
tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke kardus di atas meja.
"Kenapa
membawa barang-barang kostum sebanyak ini?"
Kardus
itu dipenuhi dengan berbagai topeng yang mengerikan.
"Katanya dia
jadi panitia pelaksana uji nyali."
Miku yang
dari tadi belajar dengan tenang memberikan penjelasan.
"Hee~.
Tumben Uesugi-san mau bersosialisasi ya."
"Bukan
karena aku ingin melakukannya tahu. Katanya kelas kita yang bertanggung jawab
untuk uji nyali…… tapi anak-anak di kelas malah menjejalkan tugas merepotkan
ini di saat aku sedang belajar mandiri."
"Kasihan
sekali……." Yotsuba merasa simpati.
"Salahmu
sendiri." Ucap Miku dengan tenang. Miku berbicara seolah-olah Fuutarou
adalah korban, padahal bagaimana pun dipikirkan, Fuutarou yang terlalu sibuk
belajar mandiri tanpa peduli sekitar dialah yang salah.
Fuutarou yang
telah melepas penyamarannya kembali memasang topengnya.
"Akan kubuat
mereka sangat ketakutan untuk membalas dendam ini……. Akan kubuat malam itu
menjadi malam yang tak terupakan buat mereka……."
"Semangat
banget ya." Ucap Miku yang merasa tidak bisa melayani tingkahnya, lalu
kembali belajar.
"Tapi,
membiarkan Uesugi-san melakukannya sendirian itu jahat banget! Aku akan pergi
memprotes ke Kelas 1 sebentar."
Yotsuba merasa
geram sambil mengepalkan tangannya.
"Hentikan.
Seperti kata Miku, ini memang salahku sendiri."
Meskipun
mengatakannya begitu, karena wajahnya adalah badut, rasanya jadi kurang
terkesan serius.
"Tapi……."
"Lagipula,
aku juga tidak peduli dengan kegiatan alam itu sendiri kok."
Yotsuba
memonyongkan bibirnya dengan raut wajah tidak puas.
"Kalau
begitu, mari kita bicarakan hal yang membuat kegiatan alam jadi menyenangkan!
Aku dengar dari teman sekelas, apa kamu tahu kalau kegiatan alam di sekolah ini
punya legenda?"
Dansa api
unggun yang diadakan pada hari terakhir. Konon pasangan yang berdansa di momen
puncaknya akan diikat oleh takdir untuk menghabiskan sisa hidup bersama──.
"Tidak
realistis. Sesuatu yang tidak berguna."
Fuutarou
si badut memotong pembicaraan Yotsuba yang sedang bercerita dengan terpesona.
"Mmm……."
Meskipun
setuju dengan Fuutarou, raut wajah Miku yang sedang menghadap buku catatannya
tampak agak terbuai mimpi.
"Dingin
banget! Anak zaman sekarang! Ini api unggun lho!! Legenda ikatan takdir lho!! Apa kamu tidak berpikir kalau ini
romantis!?"
"Sudahlah,
ayo mulai belajar……."
Mengabaikan
Yotsuba yang heboh sendiri, saat Fuutarou hendak membuka buku pelajarannya,
Ichika datang sambil berseru, "Yoo-hoo."
"Ichika,
kamu terlambat!"
"Kostum apa
itu?"
Tentu saja dia
salah fokus pada topeng badutnya.
"Sudah,
abaikan saja. Hari ini kita belajar Matematika!"
Saat Fuutarou si
badut berambut hitam mengatakannya, Ichika menangkupkan kedua tangannya.
"Maaf ya~,
setelah ini aku ada jadwal pemotretan."
Sepertinya saat
ini pekerjaan adalah prioritas utamanya. Lagipula ujian tengah semester baru
saja selesai, jadi biarkan saja kali ini…… Fuutarou melepas topengnya.
"Lalu ya……
aku pikir hal seperti ini lebih baik disampaikan terlebih dahulu."
Ichika merogoh
tas selempangnya, lalu menyodorkan ponsel yang menampilkan layar profil
miliknya kepada Fuutarou.
"Nih,
tukaran alamat email!" Katanya sambil mengedipkan mata.
"Alamat
email ya…… memangnya hal seperti itu diperlukan?"
Fuutarou
mengeluarkan ponselnya dengan enggan. Jujur saja, kontak yang terdaftar hanya
ada dua orang yang punya hubungan dekat dengannya. Yaitu, hanya keluarganya
saja, Isanari dan Raiha.
"Aku sangat
setuju sama tukaran alamat email! Uesugi-san, tolong izinkan aku ikut
bergabung juga ya!"
Yotsuba memajukan tubuhnya.
"Ah, sebelum itu, hal yang ini akan kuselesaikan dulu
ya."
Sambil
berkata begitu, Yotsuba mulai merogoh-rogoh tas miliknya.
Apakah dia mau
menyelesaikan tugas sekolahnya dulu. Hebat, hebat. Sementara itu, Fuutarou
bertukar alamat email dengan Ichika melalui komunikasi inframerah.
"Selesai."
"Ya.
……Yotsuba, sekadar bertanya saja, kamu lagi melakukan apa?"
Fuutarou melirik
ke arah Yotsuba yang sedang sibuk bekerja dengan tangannya.
"Burung
bangau kertas (senbazuru)! Karena temannya temanku masuk rumah sakit."
Di atas meja
telah bermunculan berpuluh-puluh burung bangau kertas beraneka warna.
"Belajar
sana!"
Temannya teman
kan bahkan bukan kenalanmu. Tapi karena Yotsuba adalah orang yang tidak bisa
menolak kalau dimintai tolong, dia pasti tidak akan berhenti sebelum melipat
seribu burung bangau.
Fuutarou merasa
kesal lalu merebut tumpukan kertas origami tersebut.
"Bagi dua
denganku! Kalau ini selesai, kamu harus belajar lho."
"Siap!"
Ichika
memperhatikan mereka berdua dengan tatapan hangat.
Di saat itu, wali
kelas Yotsuba si 'Tikus Botak' kebetulan lewat.
"Nakano! Pas
banget ada kamu di sini. Bisa tolong bagikan buku catatan ini ke meja
semuanya?"
"Siap~!"
Yotsuba kembali menyanggupinya dengan mudah.
(Anak
ini……
sampai sejauh mana dia mau jadi orang yang kelewat baik!)
Saat rasa
kesalnya hampir mencapai batas maksimal, sebuah kilatan petir melintas di dalam
benak Fuutarou.
(Jangan-jangan,
dia melakukan ini cuma buat mengulur waktu agar bisa menghindari belajar!?
Kalau begitu, dia adalah wanita jahat yang bahkan jauh melebihi Nino!)
Di dalam
bayangannya, terlihat sosok Yotsuba dengan wajah jahat tertawa melengking,
"Ooo-ho-ho-ho!"
"Kalau
begitu, aku pergi dulu ya." Ucap Ichika sambil berbalik pergi.
"Semangat
ya." "Ichika, berjuang ya!" Miku dan Yotsuba memberikan dukungan
masing-masing.
Tak lama
kemudian, ponsel Fuutarou berdering.
"Hm?"
Saat dilihat, itu
adalah email pertama dari Ichika. Subjeknya adalah, 『Wajah tidur yang imut』……?
『Kalau
tidak mau disebarkan, dapatkanlah alamat email empat orang sisanya!』
Saat menggulir
teksnya ke bawah, sebuah hal yang luar biasa muncul.
Foto wajah tidur
Fuutarou yang sedang tertidur lelap di atas pangkuan Ichika terlampir di sana!
Ternyata dia
diam-diam mengambil foto itu saat malam festival kembang api di taman. Saat
bergegas melihat ke arah pintu keluar perpustakaan, terlihat Ichika yang
memegang ponsel tersenyum jahil lalu berjalan keluar.
──Si
Ichika itu, malah melakukan hal yang tidak perlu……!
Daripada foto
seperti itu disebarluaskan, melihat diriku yang cuma memakai celana dalam saja
rasanya masih jauh lebih mendingan.
"……Aah~!
Memang sebagai guru privat, aku harus tahu alamat email kalian berlima
ya~!"
Karena berusaha
menahan amarahnya, nada bicaranya justru terdengar seperti sandiwara gertakan,
tetapi Miku justru menyodorkan ponselnya sendiri secara sukarela.
"Aku bantu
kok."
"Wah, asyik,
berhasil. Kalau Itsuki dan Nino…… nanti-nanti saja tidak apa-apa."
Sambil memamerkan
senyum kaku, Fuutarou mengetik alamat email Miku.
"Kalau
mereka berdua tadi ada di kantin lho. Ayo kita ke sana!"
Yotsuba yang
membawa buku catatan untuk seluruh siswa kelas berjalan melewati Fuutarou
dengan cepat.
"H-Hei!
Alamat emailmu sendiri mana!"
Setelah
menyelesaikan sisa pekerjaan dengan kecepatan super tinggi, Fuutarou
mengembalikan ponsel Miku sambil berkata, "Terima kasih ya."
"Alamat
emailku sudah kumasukkan. Tunggu Yotsuba!"
Dia
bergegas mengejar Yotsuba dari belakang.
Miku yang
ditinggalkan sendirian di perpustakaan menatap lekat-lekat alamat email
Fuutarou yang terdaftar di ponselnya……. Pada detik berikutnya, senyuman lebar
merekah di seluruh wajahnya.
***
"Aku
menolak! A-KU-ME-NO-LAK!"
Nino yang
sedang minum jus di kantin sekolah setelah pulang sekolah bersedekap dada
sambil menatap Fuutarou dengan tajam.
"Kami tidak
punya keuntungan apa pun untuk menanyakan alamat emailmu."
Itsuki juga
mengatakannya sambil menggigit roti melon. Ngomong-ngomong, di nampannya masih
ada satu lagi roti manis berukuran agak besar.
"Reaksi yang
sudah kuduga…… Tapi! Bagaimana kalau begini!"
Fuutarou
memamerkan daftar kontak yang sudah disiapkannya di layar ponsel.
"Khusus
sekarang, selain alamat emailku, alamat email Raiha juga sudah termasuk dalam
satu paket, penawaran menarik dengan harga tetap!"
Wajah Raiha yang
bagaikan malaikat terbayang, membuat Itsuki menggigit bibirnya.
"……Perut
harus diisi daripada gengsi." Ucapnya dengan nada kesal sambil menyodorkan
ponselnya sendiri.
"Menjual
keluargamu sendiri itu licik, tahu!"
Protes dari Nino
dianggap angin lalu, Fuutarou tersenyum puas sambil mengetik alamat email
Itsuki ke ponselnya.
"Bicara saja
sesukamu. ……Nino, kamu tidak mau kasih tahu?"
"Tentu saja tidak!" Nino memalingkan wajahnya.
Tapi Fuutarou punya kartu truf pamungkas.
"Mau
bagaimana lagi…… Kalau begitu, mari kita bicara tanpa dirimu. Aku dan empat
orang lainnya akan membicarakan hal rahasia!"
"……K-Kasih
aku alat untuk menulisnya.” Nino berbicara sambil gemetar.
Dengan wajah
kemenangan, Fuutarou menyerahkan buku saku siswanya kepada Nino, ”Nih.”
“Dengan begini semuanya sudah kumpul ya!”
Fuutarou melirik sekilas ea rah Yotsuba yang tersenyum
gembira di sebelah.
«……Masih
kurang satu orang lagi, kan.»
”Eh? Ichika,
Miku, Itsuki, Nino…… Aaaah!! Yotsuba! Itu aku!”
──Ternyata
anak ini memang Cuma bodoh saja. Kepada Fuutarou yang merasa heran, Yotsuba
menyodorkan ponselnya sendiri, ”Ini alamat emailku!”
Pada saat itu,
layar profil Yotsuba berganti menjadi layar panggilan masuk. Dari 『Ketua
Klub Basket – Hongo-san』.
”Ada telepon tuh.”
Saat Fuutarou
memberitahunya, Yotsuba yang melihat siapa peneleponnya langsung tersentak.
«Dari
klub basket…… jangan-jangan kamu masih berhubungan dengan mereka.»
Wajah
gawat Yotsuba berubah menjadi senyum buatan.
”Aah, aku, ada
satu hal lagi yang dimintai tolong~. Ka,lau begitu Uesugi-san, aku permisi dulu
ya~.”
Sambil melirik
bingung, Yotsuba mundur perlahan, lalu berbalik dan berlari kencang.
”Kamu itu terlalu
buruk dalam hal berbohong, tahu…….”
Tidak salah lagi,
Yotsuba masih berhubungan dengan klub basket. Waktu belajarnya tidak boleh
direbut lebih banyak lagi dari ini.
”Ah! Tunggu.”
Meskipun Nino
memanggilnya, Fuutarou tetap berjalan keluar dari kantin dengan cepat.
”Padahal alamat
emailnya sudah kutulis…….”
Sambil memegang
buku saku siswa milik Fuutarou, Nino bergumam setelah kejengkelannya mendadak
hilang.
***
"Halo
semuanya, terima kasih atas kerja kerasnya~!"
Yotsuba membuka
pintu ruang klub, menyapa para anggota klub basket yang baru selesai latihan
dengan ceria.
"Nakano-san,
terima kasih untuk waktu itu ya."
"Sama-sama."
Fuutarou
diam-diam mengintip percakapan tersebut dari belokan koridor.
(Sudah
kuduga……
Sampai mau berbohong yang merupakan kelemahannya demi datang ke sini……)
Berasal dari
dalam ruang klub, suara seseorang yang tampaknya adalah 『Ketua
Hongo』
terdengar.
”Jadi bagaimana,
Nakano-san. Soal bergabung ke klub, sudah kamu pikirkan?”
Fuutarou tanpa
sadar memunculkan kepalanya dari belokan koridor.
”Iya! Aku senang
sekali sudah diajak.” Yotsuba
menjawab sambil tetap berdiri di ambang pintu.
(Jadi begitu rupanya……! Yotsuba si bodoh itu,
benar-benar mengulur waktu Cuma demi menghindari belajar……!)
Di dalam
benak Fuutarou, kembali terbayang sosok Yotsuba si wanita jahat tertawa
melengking, «Ohohohoho!»
”Baguslah! Kalau
begitu.”
”Tapi…… maaf ya.”
Memotong
perkataan sang ketua, Yotsuba membungkukkan badannya dalam-dalam.
”Izinkan aku
untuk menolaknya. Aku sangat paham betul kalau teman-teman di klub basket
sedang dalam kesulitan, tapi setelah pulang sekolah aku punya janji yang sangat
penting."
Ruang
klub seketika menjadi hening. Mungkin para anggota klub berpikir bahwa Yotsuba
tidak akan menolaknya──tidak, tidak akan bisa menolaknya.
"T-Tentu
saja kalau cuma bantuan untuk pertandingan, aku siap kapan saja kok……."
Yotsuba dengan
panik mengadah lalu membungkukkan kepalanya lagi.
"Begitu ya……
kalau begitu mau bagaimana lagi. Padahal rasanya sayang sekali bakat sehebat
ini didiamkan."
"……Ada orang
yang mendukungku, padahal aku tidak punya bakat apa-apa."
Yotsuba tetap
menundukkan kepalanya, lalu mengucapkannya dengan sedikit malu-malu.
Fuutarou yang
menarik kembali kepalanya menggaruk kepalanya dengan canggung.
Yotsuba menutup
pintu ruang klub, menghela napas panjang seolah baru saja menyelesaikan tugas
besar, lalu berjalan kembali melewati koridor.
"Nuwaaa!?
U-Uesugi-san!? Kenapa bisa ada di sini……."
Yotsuba yang
berbelok di belokan terperanjat besar saat melihat Fuutarou yang bersandar di
dinding.
"Aku mau
pergi ke perpustakaan."
"Gedung
perpustakaan kan arahnya berlawanan total dari gedung ruang klub…… A-Aneh
ya~……."
"Urusanmu sudah selesai, kan? Mulai sekarang
akan kugembleng kamu, jadi bersiap-siaplah ya."
Hanya mengucapkan
hal itu, Fuutarou berjalan terlebih dahulu.
"……Siap! Aku sudah bersiap-siap!"
Seolah menjawab dukungan Fuutarou, Yotsuba memberi hormat
dengan tegap disertai senyuman yang sangat lebar.
***
"Raiha,
terima kasih untuk makanannya."
Malam itu,
setelah selesai makan malam, Fuutarou mengeluarkan ponselnya, "Benar
juga."
"Mumpung
ingat, lebih baik kukirim email ke mereka untuk memberitahu soal guru privat di
akhir pekan nanti……."
Dia membuka
daftar kontak lalu menggulirnya ke bawah. 『Nakano Ichika』, 『Nakano Miku』, 『Nakano Yotsuba』, 『Nakano Itsuki』…….
"Lho? Nino
mana……."
Pada saat dia
bergumam linglung, seketika darah Fuutarou rasanya tersedot habis dari seluruh
tubuhnya.
"Buku saku siswaku…… belum dikembalikan oleh Nino……!"
Di atas tempat
tidur yang disinari cahaya matahari pagi dari celah tirai, Nino yang
dikelilingi oleh boneka-boneka hewan seperti beruang dan kelinci tertidur lelap
sambil meneteskan air liur.
Melihat piyamanya
yang tersingkap hingga perutnya kelihatan, sepertinya posisi tidurnya lebih
buruk daripada Raiha.
Tapi, hal
seperti itu sudah tidak penting lagi. Saat ini, hanya ada satu misi yang memenuhi pikiran Fuutarou.
Kepada Nino yang
perlahan terbangun, Fuutarou mengatakannya dengan raut wajah yang luar biasa
mengerikan.
”Kembalikan buku
saku siswaku…….”
Di mata Nino, air
mata ketakutan seketika merebak dengan cepat.
”TIDAAAAAAKKKKKKK~~~~!!”
Jeritan histeris
Nino bergema di seluruh apartemen mewah itu.
***
"Tidak bisa
dipercaya! Masih pagi begini, berani-beraninya masuk ke kamar gadis tanpa
izin!"
Nino yang melipat
kaki dan menyandarkan badannya di sofa menatap Fuutarou yang duduk bersimpuh di
lantai dengan wajah marah.
"Aku yang
mengizinkannya." Miku memotong dengan wajah polos.
"Kamu punya
hak apa coba!" Amarah Nino semakin meluap-luap.
"Aku yang
salah…… Aku cuma ingin buku saku siswaku dikembalikan secepat mungkin."
Kesalahan seratus
persen ada pada Fuutarou, dan khusus kali ini dia tidak punya kata-kata untuk
membalas.
"Sangat
penurut ya. Jangan-jangan, ada sesuatu yang kamu sembunyikan di dalam sini,
ya?"
Nino yang
instingnya anehnya sangat tajam memamerkan buku saku siswa milik Fuutarou
sambil mengipas-ngipaskannya.
Fuutarou jatuh ke
dalam posisi terdesak. Kalau sampai foto masa lalunya dilihat oleh Nino, entah
apa yang akan diucapkannya……!
Pada saat itu,
Ichika terbangun dan datang, "Selamat pagi, Fuutarou-kun."
"Nino, ini
barang yang kamu bicarakan kemarin. Kamu bisa melakukannya sendiri?"
Barang yang
diletakkan Ichika di atas meja sambil tersenyum jahil adalah piercer──alat
untuk menindik telinga. Di antara saudari-saudarinya, hanya Ichika satu-satunya
yang menindik sebelah telinganya.
"K-Kan
sudah kubilang bisa! Jangan
mengejekku!"
Memanfaatkan
kesempatan ini…… Fuutarou diam-diam mengulurkan tangannya ke arah buku saku
siswa, tetapi tepat sebelum menyentuhnya, pandangan Nino kembali dan membuat
Fuutarou dengan cepat menarik tangannya kembali.
Nino menatap
Fuutarou tanpa berkata apa-apa, lalu berdiri dari sofa. Dia memasukkan buku
saku siswa ke dalam saku piyamanya, lalu memberi isyarat dengan dagunya.
"Eh?"
Sepertinya dia
menyuruh Fuutarou untuk mengikutinya. Entah apa yang dipikirkannya, Nino
mengajak Fuutarou masuk ke dalam kamarnya sendiri.
"Sebenarnya
sampai mati pun aku tidak mau memasukkanmu ke dalam kamarku sih."
Trik bicaranya
benar-benar kejam. Tapi karena barangnya disandera, Fuutarou pun tidak bisa
membalas dengan keras.
"Ada apa
sih…… cepat kembalikan buku saku siswaku……."
Fuutarou tidak
tahu apa niat Nino, tapi dia ingin segera keluar dari deathmatch kurungan besi
ini secepat mungkin. Kemudian, Nino menyodorkan piercer ke arah Fuutarou.
"Kalau kamu
mau menindik telingaku, akan kukembalikan."
Sambil
menyibakkan rambutnya, dia memperlihatkan telinga kirinya.
"Hah!?"
"Kamu ingin
ini dikembalikan, kan? Cepat lakukan."
"Lakukan
saja sendiri sana."
"Tidak mau,
aku takut tahu." Dengan percaya diri, dia meluapkan kelemahannya.
"Kalau
begitu kenapa pakai mau ditindik segala…… Kuperingatkan ya, ini akan sakit
untuk sementara waktu lho."
"Jangan asal
bicara padahal kamu sendiri belum pernah melakukannya deh."
"Ya,
yah……."
Dengan merasa
serba salah, Fuutarou mencubit pelan cuping telinga kirinya sendiri.
"Tidak ada
alasan khusus kok…… Cuma karena yang lain melakukannya, jadi aku juga
ingin……."
Nino kelihatan
ragu-ragu dan malu-malu, menggambar lingkaran di lantai dengan jemari kakinya.
Fuutarou belum pernah melihat Nino yang sekelemah ini. Jangan-jangan, ini
adalah kesempatan emas yang sangat diidam-idamkannya……
"Begitu ya……
baiklah."
Di deathmatch
kurungan besi tidak memerlukan aturan. Fuutarou mengambil piercer dari tangan
Nino, memegang kepalanya secara perlahan, lalu menempelkan jarumnya ke cuping
telinga.
"Ini adalah
kesempatan emas untuk meluapkan kejengkelanku padamu selama ini. Ayo
mulai."
Nino memejamkan
matanya rapat-rapat.
Bagus, bagus.
Setelah memastikan bahwa buku saku siswanya ada di dalam saku piyama Nino,
Fuutarou mulai menghitung mundur untuk memicu rasa takutnya.
"5,
4."
Nino yang
tegang menggenggam erat ujung piyamanya. Seperti dugaan Fuutarou, seluruh
sarafnya pasti sedang terfokus pada cuping telinganya.
"3, 2."
Fuutarou perlahan mengulurkan tangannya ke saku piyama Nino.
"1."
Rebutan berhasil──!
"0! Nah,
akan kutindik sekarang ya~!"
"Jangan
main-main ya!"
"Aduuh!"
Tulang kering
Fuutarou ditendang sekuat tenaga oleh Nino, membuat buku saku siswa terlepas
dan meluncur jatuh dari tangan Fuutarou.
(Gawat……!)
Dia terlalu
keasyikan. Kalau ada Miku, dia pasti akan bilang ini salahnya sendiri.
Buku saku siswa
yang jatuh di lantai terbuka, memamerkan foto yang diselipkan di dalamnya.
Nino berkedip
heran sambil memungut buku saku siswa itu, "Eh?"
"Tunggu,
anak nakal ini…"
Berambut
pendek warna emas, dengan tindik di telinga kiri. Yang ada di dalam foto adalah
seorang anak laki-laki berusia sekitar dua belas atau tiga belas tahun yang
kelihatan sangat nakal.
"Tipeku
banget nih! Siapa ini!?"
Mata Nino
berbinar-binar, menatap foto itu dengan sangat serius.
(Itu aku tahu……)
Meskipun
bibirnya robek, dia tidak akan mengatakannya, tapi kalaupun dia mengatakannya
dengan risiko bibirnya robek, Nino pasti tidak akan percaya.
"I-Itu
foto sepupuku…… Sebenarnya aku tidak terlalu ingin diperlihatkan sih……."
Sambil
bercucuran keringat deras, Fuutarou spontan mengarang cerita asal-asalan.
"Hee~! Jauh
lebih keren daripada kamu tahu. Lain kali pertemukan aku dengannya ya!"
Mana mungkin bisa
dipertemukan! Fuutarou dengan cepat merebut kembali buku saku siswanya dari
Nino, "Yah, kapan-kapan ya……" ucapnya sambil berpaling pura-pura
tidak tahu.
"Benar
juga!"
Nino membuka laci
mejanya, lalu mengeluarkan sebuah album foto.
"Kami juga
sewaktu seumur ini imutnya seperti malaikat tahu…… Nah! Lihat nih."
Dia membuka album
foto dan memperlihatkannya ke punggung Fuutarou yang basah kuyup oleh keringat.
"……Tidak
tertarik ah. Mumpung ingat, kuleperlihatkan ke yang lain juga ah!"
Untung saja
perhatiannya teralih ke sana, Nino pun membawa album foto itu dan keluar dari
kamar.
"Syukurlah……."
Setelah berhasil
melewati situasi kritis, Fuutarou menghela napas lega.
***
Di ruang tamu,
semua anak kembar lima kecuali Nino yang sedang berganti pakaian seragam sudah
berkumpul.
"Nino, sudah
selesai?"
Nino yang
ditanyai soal tindik oleh Ichika memalingkan pandangannya dengan canggung.
"Kalau
dipikir-pikir lagi, tidak perlu terburu-buru kok. Setidaknya kalau bisa
ditindik sebelum memakai gaun pengantin saja sudah cukup, kan."
Seolah bisa
melihat kepura-puraan Nino, Ichika tertawa kecil.
"Daripada
itu, coba lihat foto ini deh!"
Semua orang
mengelilingi album foto yang diletakkan Nino di atas meja.
"Ah, foto
kita berlima! Semuanya imut ya!" Yotsuba mengatakannya dengan gembira.
"Ini foto
kapan ya?"
Saat Ichika
memiringkan kepalanya bingung, Miku menjawab, "Kelas enam."
"Di Kyoto…
berarti waktu jalan-jalan sekolah ya!" "Kangen banget~~~!"
Ichika dan Nino
menjadi sangat bersemangat.
"Suasana
kita juga sudah banyak berubah ya." Itsuki mengatakannya dengan penuh
kenangan.
Rambut
panjang dengan belahan di tengah, memakai gaun terusan tanpa lengan yang
seragam. Pada masa ini, si kembar lima memiliki penampilan yang sangat mirip sehingga
tidak ada yang bisa membedakan mereka selain ibu dan kakek mereka.
***
Fuutarou
menatap ke arah ruang tamu yang ramai dari lantai dua.
Dia membuka buku
saku siswanya, lalu mengeluarkan foto masa-masa nakalnya dulu.
Pandangan matanya
di foto tidak menghadap ke depan melainkan ke kiri karena dia merasa malu saat
itu.
(Fotoku
memang sempat kelihatan…… tapi syukurlah cuma setengahnya.)
Sambil
mendengarkan obrolan di lantai bawah secara samar-samar, Fuutarou membuka
lipatan foto yang terlipat dua itu.
(Lima
tahun lalu ya……
Warnanya sudah agak pudar nih…….)
Di setengah
bagian foto yang tersembunyi tadi, terdapat seorang anak perempuan yang
terpotong di sana.
"Kapan-kapan
semoga bisa bertemu lagi ya……."
Rambut
panjang dengan belahan di tengah, memakai gaun terusan tanpa lengan.
Gadis yang tersenyum sambil membuat tanda peace di sebelah kanannya itu ternyata adalah salah satu dari si kembar lima──Fuutarou pada masa itu masih belum memiliki alasan untuk mengetahuinya.


Post a Comment