Chapter 3
Tomorrow is another day.──Menaruh harapan pada hari esok.
Itu
adalah kutipan terkenal dari sebuah film lama, tapi bagi Fuutarou yang masih
terus dibuat pusing oleh pelajaran si kembar lima bahkan setelah ujian tengah
semester, bukankah ini kalimat yang terasa sangat mendalam?
Fuutarou
berjalan di koridor sekolah setelah jam pelajaran usai sambil menatap
lekat-lekat buku kosakata bahasa Inggris.
"U~e~su~gi~sa~n!"
Baru saja
mendengar suara langkah kaki dari belakang, Yotsuba sudah menubrukkan tubuhnya
ke punggung Fuutarou dengan penuh semangat.
"Guaah!?
Yo-Yotsuba!"
"Akhirnya
besok ya!"
"Apaan."
Tentu saja dia
tahu, tapi dia berpura-pura bersikap dingin. Di saat itu, Miku juga datang.
"Duh~~ kan
sudah jelas! Ini lho! Kegiatan alam!"
Yotsuba yang
bersemangat jauh lebih tinggi dari biasanya memamerkan buku panduan kecil yang
baru saja dibagikan saat wali kelas, "Kamu sudah baca buku panduannya
belum?"
"Belum baca
tuh."
"Banyak
acara yang seru-seru lho! Ada memasak dengan hangou (panci camping),
main ski, terus memancing dan hiking!"
Yotsuba
melompat-lompat dan sangat kegirangan.
"Lalu……
api unggun, dan legenda dansanya!" Dia menangkupkan kedua tangannya lalu memejamkan mata dengan terpesona.
"Katanya ada
banyak pasangan yang mulai berpacaran berkat hal itu lho!"
Miku yang
mendengarkan cerita Yotsuba diam-diam merona tipis di pipinya.
"Kan sudah
kubilang. Berpacaran sesama murid itu cuma buang-buang waktu saja."
Saat Fuutarou memotongnya dengan tegas, Yotsuba memprotes
dengan emosi.
"Ta-Tapi,
kalau dengan orang yang disukai pasti ingin berpacaran kan? Ya kan, Miku?"
Miku sedang
berpikir keras lekat-lekat.
"Miku?"
Saat Yotsuba
memanggilnya sekali lagi, Miku bergumam pelan.
"……Kenapa
ya orang-orang ingin berpacaran dengan orang yang disukainya……?"
Pertanyaan
aneh macam apa itu. Mata Fuutarou dan Yotsuba seketika melotot bingung. Miku
memang selalu kelihatan linglung dan mengantuk, tapi ternyata di dalam
kepalanya dia memikirkan hal filosofis tentang masalah mendasar manusia seperti
ini…….
"Itu karena,
orang tersebut sangat, sangat menyukainya sampai tidak tahan lagi tahu."
Tanpa disadari
Ichika sudah berdiri di belakang Miku, mengucapkannya dengan penuh drama sambil
memegang dadanya.
"Miku juga
pasti punya gambaran soal itu kan?"
Saat tersenyum
penuh arti padanya, Miku menunduk malu-malu, "T-Tidak ada kok."
Kegiatan
alam yang menyenangkan, legenda yang romantis, dan obrolan soal cinta.
Seharusnya semua murid merasa berdebar-debar dan gembira, tetapi di sinilah
Fuutarou, yang tingkat ketidakdekaannya tidak membiarkan orang lain
menandinginya.
"Bagus!
Karena semuanya sudah kumpul, ayo kita mulai belajar."
"Eh, hari
ini juga!?" Yotsuba hampir menangis.
"Aku ada
jadwal pemotretan, jadi absen dulu ya. Padahal aku sudah kirim email lho."
Ichika tertawa canggung.
"Eh?"
Saat Fuutarou
melihat ponselnya, memang benar ada email masuk dari Ichika.
"Aku juga
mau persiapan buat besok…… Ehehehe."
Sambil berjalan
mundur, Yotsuba mengucapkannya, lalu berbalik kencang dan melarikan diri.
"Hei, tunggu
dulu! ……Dasar."
Masa cuma
gara-gara kegiatan alam sampai menelantarkan pelajaran…… Di saat Fuutarou
merasa heran, Ichika berkata pada Miku:
"Miku, di
kelas ada rapat buat kegiatan alam nih, tolong seperti biasa ya!"
Dia mengeluarkan
wig rambut pendek dari tasnya lalu menyerahkannya sambil menangkupkan tangan
memohon.
"Mengerti.”
Miku yang menjadi
harapan terakhir pun membawa wig itu dan berjalan pergi ke suatu tempat.
Fuutarou yang
merasa penasaran diam-diam membuntutinya, lalu Miku masuk ke dalam toilet
perempuan.
(Seperti
biasa maksudnya apa, si Miku mau melakukan apa, coba?)
Dari balik pilar,
Fuutarou mengintip pintu masuk toilet perempuan. Dia sudah benar-benar seperti orang aneh yang
pantas diinterogasi polisi.
Tak lama
kemudian, Ichika keluar dari toilet.
(Ichika?
Bukannya tadi dia pamit pulang……)
Tapi entah kenapa
sikapnya agak aneh. Mata yang kelihatan mengantuk dan raut wajah datar itu……
Saat menatapnya
dengan curiga, Ichika melepas headphone yang tergantung di lehernya, lalu
menggunakan kedua jari telunjuknya untuk menarik sudut bibirnya ke atas.
(……Mi-Miku……!?
Menyamar!?)
***
Di dalam ruang
kelas yang disinari cahaya matahari sore, seorang murid laki-laki bermata tajam
sedang menunggu Ichika seorang diri.
"Nakano-san……
terima kasih sudah mau datang."
"……Umm……
Maeda-kun ya? Yang lainnya mana?"
Miku yang
menyamar sebagai Ichika melihat ke sekeliling ruang kelas yang kosong.
"Maaf, aku
berbohong supaya kamu mau datang."
Meskipun
terbata-bata, Maeda mengucapkannya dengan mantap.
"T-Tolong
berdansalah denganku saat api unggun nanti!"
"……Bersamaku?
Kenapa?"
Bukan bermaksud
menyiksa perasaan lawan. Ini hanyalah kepolosan murni akibat nilai rata-rata
pemahaman cintanya yang rendah.
"A-Ah, bukan
begitu, itu karena…… aku…… menyukaimu."
Wajah Maeda
memerah, lalu mengutarakan penembakannya pelan-pelan. Berlawanan dengan
penampilannya yang garang, ternyata perasaan dalamnya cukup polos.
Meski
penampilannya Ichika, tapi dalamnya Miku, sehingga pipinya pun ikut merona
merah.
(Jadi
begitu ya……
Ichika kan imut, jadi hal seperti ini mungkin sering terjadi ya.)
Terlepas dari hal
itu, dia harus keluar dari situasi ini.
"Terima
kasih ya. Untuk jawabannya lain kali saja……."
Saat Miku
bergegas berbalik hendak pulang, suara Maeda mengejarnya dari belakang.
"Aku
ingin mendengar jawabannya sekarang! Nakano-san, aku mohon!"
"Umm……."
Fuutarou
mendengarkan percakapan di ruang kelas itu dari koridor.
(Kalau
berbohong secara buruk nanti malah kena batunya…… Yah, salahnya sendiri sih.)
Meskipun tidak
sampai tersiram bubur panas di wajah, biarlah dia menerima balasan yang
setimpal.
Saat Fuutarou
hendak berpura-pura tidak tahu dan pergi dari sana,
"Lho?
……Nakano-san, suasanamu agak berubah ya?" Maeda mendadak mengucapkannya.
Dia mendekat,
"Rambutnya…… kenapa ya?" sambil mengintip wajah Miku yang bergerak
mundur.
"Anu……."
"Nakano-san
itu kembar lima, kan ya."
Saat Fuutarou
tanpa sadar menghentikan langkahnya, ponselnya berdering. "Uwoh……!"
Tanpa sempat memeriksa layar panggilan, dia dengan panik mematikan daya
ponselnya.
Di dalam ruang
kelas, Miku sedang terdesak oleh Maeda yang memasang raut wajah menyeramkan.
"Jangan-jangan,
kamu ini lagi menyamar bergantian dengan yang lain……."
Bukankah
ini situasi yang gawat──Fuutarou menjadi panik. Kelihatannya kasar, tapi bisa membongkar
penyamaran itu. Ternyata dia sangat tajam. Apakah ini yang dinamakan kekuatan
cinta. Bukan waktunya untuk terkesan.
Fuutarou kembali
ke pintu masuk ruang kelas, lalu memanggil dari tepat di belakang Miku.
"Ichika,
ternyata kamu ada di sini ya."
Miku menoleh,
matanya membelalak kaget.
"Saudarimu
memanggilmu tuh. Cepat pergi sana."
"Fuutarou……."
"Hei, main
muncul sembarangan saja kamu. Jangan seenaknya memanggil Nakano-san dengan nama
depannya, ya."
Maeda
menggertak Fuutarou dengan nada mengancam. Tapi ancaman seperti itu tidak mempan bagi mantan
anak nakal.
"Tunggulah
jawabannya dengan sabar dong. Pikirkan sedikit perasaan orang lain!"
"Ugh……."
Meskipun berhasil
mengalahkan Maeda dengan keren, Fuutarou tidak tahu kalau Miku batinnya sedang
berpikir, "Padahal kalau Fuutarou yang mengatakannya, jadi tidak ada daya
bujuknya sama sekali."
"Kenapa kamu
malah ikut campur mendengarkan pembicaraan orang lain. Tidak ada hubungannya
denganmu, kan!" Maeda kembali menyerang balik.
"Setidaknya
aku ini orang yang bersangkutan kok."
"Apa katamu,
brengsek!"
Maeda yang emosi
mencengkeram kerah baju Fuutarou.
"Anu……
tenanglah!"
Suara Miku yang
mencoba melerai pun tidak masuk ke telinga Maeda yang darahnya sudah naik ke
kepala.
"Hei, keluar
sana!" Teriaknya sambil berusaha mendorong Fuutarou keluar dengan kekuatan
fisik.
Spontan Miku
menggenggam lengan Fuutarou, menariknya seolah merebutnya dari Maeda.
"Aku sudah
berjanji mau berdansa dengan orang ini kok!"
"Hah?" Fuutarou tercengang.
"A-Ah, umm, bukan begitu……." Miku dengan panik
mencoba membenahi ucapannya, tapi
"Bohong! Orang seperti ini tidak cocok bersanding
dengan Nakano-san!"
Saking syoknya, Maeda sampai oleng ke belakang.
"T-Tidak
seperti itu kok! Fuutarou itu, Fuutarou itu……."
Miku menutupi
kedua pipinya dengan tangan, mengucapkannya sambil malu-malu.
"Keren
kok……."
Wajah yang
mengintip dari celah jarinya merah padam. Kalau yang satu ini sudah tidak bisa
dikelabui lagi.
"A-Apakah…… kalian berdua berpacaran?" Maeda terlihat jelas terlihat
goyah.
"K-Mesra
banget kan! Ayo kita pulang bareng-bareng dengan akrab.
Miku
merangkulkan lengannya ke lengan Fuutarou.
"Iya
deh, terserah begitu saja……."
Asal bicara saja
kamu ini──Fuutarou
merasa lemas.
Tapi, indra
keenam pria yang jatuh cinta tampaknya bekerja lagi.
"Tunggu
dulu! Kalau memang pasangan kekasih, harusnya bisa pulang sambil bergandengan
tangan dong!"
Dari
belakang mereka berdua yang berjalan merangkul lengan, Maeda terus mengoceh
dengan gigih.
"Kenapa,
tidak bisa ya? Tentu saja mencurigakan nih."
"Dengar ya.
Walaupun pasangan kekasih, tidak selalu harus begitu, kan."
Saat Fuutarou
menyanggahnya, Miku menggenggam tangan Fuutarou dengan erat.
"Mi……
I-Ichika……!!" Di saat Fuutarou merasa panik,
"Umm…… ini
bukannya karena aku ingin bergandengan tangan lagi atau apa…… itu…… pokoknya
ini bukan yang pertama kalinya kok."
Kali ini sampai
ke telinganya ikut memerah. Siapa pun yang melihatnya pasti tahu itu adalah
wajah gadis yang sedang jatuh cinta pada Fuutarou.
"Sialan~! Ya
sudah, aku paham!"
Tampaknya sudah
menyerah, Maeda dengan berani membelakangi mereka berdua.
Kepada Maeda yang
seperti itu, Miku berkata:
"Anu……
sebenarnya aneh kalau aku yang menanyakannya sekarang, tapi kenapa kamu
berpikir ingin menembak orang yang kamu sukai…?"
"Apakah
pantas Nakano-san menanyakan hal itu?" Tanya Maeda sambil menoleh dengan wajah
tragis.
"Maaf
ya……."
Saat
mendengar legenda romantis, memang dadanya diam-diam berdebar, tapi kenapa
kalau sudah suka harus menembak atau berpacaran, Miku masih belum begitu
memahaminya.
"Itu sih…… gimana ya, singkat cerita, ingin memonopoli
orang tersebut sendirian. Cuma sebatas itu."
"……Ingin
memonopoli orang tersebut sendirian……." Miku mengulangi perkataan itu
dengan bergumam.
"Aah,
ngomong apa sih aku…… Hei! Jangan bikin Nakano-san menangis ya!"
Maeda memberi
peringatan keras kepada Fuutarou.
"Aku
justru yang sekarang lagi berada di tengah-tengah kebingungan, tahu."
"Ngomong apa
sih. Ayo kita jalan, Fuutarou."
Miku tersenyum
kaku lalu mengambil lengan Fuutarou, menempel erat padanya saat berjalan di
koridor.
"……Tidak
usah menempel sampai segitunya juga kali."
"Sekarang
kan aku lagi jadi Ichika. Harus
melakukan sampai sejauh ini dong."
Dia membalas sambil memerah wajahnya.
(Aku……
tidak apa-apa kok…….)
Sambil berpikir
begitu, dada Miku membunyikan suara aneh yang berdebar halus.
***
"……Tapi ya,
apa tidak apa-apa kamu menolaknya sembarangan begitu."
Di pintu,
Fuutarou berkata kepada Miku yang sedang mengganti sepatunya.
"Padahal
Ichika bilang kalau dia memprioritaskan pekerjaan, kan."
Miku telah
melepas wig dan mengalungkan headphone di lehernya, kembali ke wujud aslinya.
"Lagipula,
nanti bagaimana soal api unggunnya."
Saat Fuutarou
berbicara campur desahan napas, Miku diam membisu dengan raut wajah serba
salah.
"Ah, ketemu
juga!"
Saat menoleh ke
arah suara Yotsuba, di pintu masuk utama terlihat Yotsuba, Itsuki, dan Nino
berdiri seolah sedang menghadang.
"Ayo,
kita berangkat!" Ucap Nino sambil bersedekap dada.
Tanpa
mengerti situasinya, Fuutarou dibawa ke mal di dalam gedung stasiun.
"Kami akan
memilihkan baju yang akan dipakai Uesugi-san saat kegiatan alam! Pertama dari
aku dulu. Aku mencoba memilihkan baju yang mencolok!"
Karena wajahmu
agak sederhana, setelan pakaian yang dipilih berdasarkan standar tidak perlu
disodorkan oleh Yotsuba dengan penuh semangat.
"……Mungkin
cuma perasaanku saja, tapi kamu lagi main-main, kan?"
Topi merah,
ditambah sweater bergambar gajah dan jerapah. Di cermin ruang ganti, sebuah
makhluk misterius berupa anak SMA yang berpenampilan seperti anak SD penyayang
binatang telah lahir.
Urutan kedua
adalah Miku, si penggemar sejarah.
"Buat
Fuutarou, setelan bergaya Jepang."
"Ini
sih memang baju tradisional Jepang beneran!"
Mana ada anak
bodoh di dunia ini yang ikut kegiatan alam memakai kimono dan haori.
Berikutnya,
Itsuki bergaya heavy metal yang agak mengganggu ketertiban dengan jaket kulit
tanpa lengan.
"Aku
memilihkan pakaian yang terkesan maskulin."
"Definisi
maskulin menurutmu itu seperti apa coba!?"
Kelihatan jelas.
Masa depan Itsuki yang akan ditipu pria tidak benar.
Kira-kira pakaian
seperti apa yang akan dipasangkan oleh Nino si penyuka fashion……
Berbeda dengan
rasa cemas Fuutarou, pakaian yang dipilih Nino adalah kombinasi aman khas anak
muda berupa mantel dengan hoodie berbulu dan kaus sweatshirt polos.
"Nino benar-benar serius pilihnya, ya."
"Gokil sih……."
Sambil melirik Nino dari samping, Yotsuba dan Miku
berbisik-bisik.
"Kalian
berdua, lakukan dengan serius dong!"
Meskipun
demi Fuutarou, Nino tidak akan membiarkan adanya kompromi dalam hal busana.
***
Ketika
mereka selesai berbelanja dan keluar dari mal, hari di luar sudah gelap.
"Hei,
tidak apa-apa nih soal uangnya……?"
Fuutarou
mengangkat kantong kertas belanjaan berisi pakaian itu sambil bertanya dengan
sungguh-sungguh. Kalau untuk pakaian yang biasa dibeli Fuutarou, nominal itu
bisa digunakan untuk membeli 40 potong baju.
"Ini bukan
buat kamu kok. Kalau kamu mendekat memakai baju norak, kan memalukan,
tahu."
Nino menjawab
dengan ketus.
"Tapi,
memilihkan baju dan berbelanja bareng cowok itu rasanya seperti kencan
ya!"
Pernyataan
Yotsuba sebenarnya tidak bermaksud dalam, tapi tiga orang lainnya seketika
membeku kaku.
"Ini cuma
belanja biasa kok! Berpacaran di masa-masa sekolah itu tindakan tidak
terpuji."
Itsuki menolaknya
dengan emosi.
"Aah, kamu
bicaranya sudah seperti Uesugi-san saja."
Saat Yotsuba
menggodanya, Itsuki menjadi semakin emosional.
"Jangan
samakan aku dengannya dong! Lagipula, hubungan Uesugi-kun dan kita itu adalah
guru dan murid, sudah sepatutnya kita menarik garis batas!"
"Tanpa
kamu bilang pun, aku sudah menarik garis batas kok!"
Bahkan
garis batas yang bikin ilfeel (don-biki) ya, pikir Fuutarou.
***
"Uesugi-saaann,
buku panduannya dibaca sampai tuntas ya~!"
Yotsuba
yang berjalan ke arah berlawanan di jembatan penyeberangan melambaikan
tangannya dengan lebar kepada Fuutarou.
"Sudah
kubilang tidak akan kubaca……."
"Jangan
membolos dan datang ya~! Ayo
kita buat kenangan terbaik!"
Seolah
menyerah pada senyuman ceria Yotsuba, sudut bibir Fuutarou mengendur tipis.
"……Ah, benar
juga. Ponsel."
Dia mengeluarkan
ponsel dari sakunya lalu menyalakannya. Meskipun ada panggilan masuk dari
seseorang, karena terburu-buru, dia sampai lupa memikirkannya.
"Eh, Ayah…?"
Ternyata ada
beberapa panggilan tak terjawab dari Isanari.
***
"Raiha, kamu
tidak apa-apa?"
Sambil
terengah-engah, Fuutarou masuk berlari ke dalam rumah. Terlihat Raiha terbaring
di atas kasur lipat.
"……Kakak…
sepertinya aku demam deh. Maaf ya, di tengah-tengah kamu lagi di luar."
Dengan
wajah memerah karena demam dan bercucuran keringat, Raiha memaksa untuk
tersenyum.
Setelah
mengatur napasnya, Fuutarou mengangkat kantong plastik dari apotek yang
disinggahinya di jalan.
"Tubuhmu kan
lemah. Jangan memaksakan diri. Aku sudah belikan obat, minuman, dan macam-macam
kok."
"Kalau
begitu, suapi aku obat dong."
"Iya."
"Usap
keringatku dong."
"Iya."
"Kerjakan
tugas sekolahku dong."
"Iya……
jangan ngelunjak dan minta yang aneh-aneh begitu dong."
Manja yang luar
biasa, tapi saat melihat adik kecilnya menderita begini, tak tahan rasanya
ingin menggantikannya jika saja bisa.
"Terima
kasih ya……."
"Katanya
Ayah akan langsung pulang begitu pekerjaannya selesai."
"Begitu
ya…… Kakak, besok kegiatan alam kan ya."
"……Iya."
"Boleh minta
satu hal lagi tidak ya. ……Kalau sudah pulang nanti, ceritakan banyak kisah
menyenangkan padaku ya. Aku sendiri saja tidak apa-apa kok."
Pasti merasa
kesepian, tetapi Raiha dengan tegar memasang wajah tersenyum ke arah Fuutarou.
Dalam
sekejap, sosok punggung si kembar lima melintas di benaknya, tapi
"……Iya,
aku tahu. Tidurlah yang nyenyak.»
Setelah mengucapkan hal itu, Fuutarou
tersenyum lembut.
Keesokan
paginya, cuaca sangat cerah berawan, hari yang sempurna untuk kegiatan alam.
«Ya,
kalau begitu silakan berbaris ya~.»
Beberapa
bus besar terparkir di area parkir dekat sekolah, dan para murid berpakaian
bebas sudah berkumpul.
«Nakano!
Nakano Itsuki!»
Saat
Itsuki sedang mengobrol dengan teman sekelasnya, guru wali kelas datang
menghampiri.
”Maaf ya, bisakah
kamu menjadi panitia pelaksana uji nyali pengganti?”
”……Eh?”
***
Pada saat yang
sama, Isanari yang telah menyelesaikan pekerjaannya akhirnya sampai di rumah.
"Raihaaa~!
Kamu masih hidup, kan!?"
Isanari yang
berlari heboh masuk ke dalam rumah mendadak tersentak dan menghentikan
langkahnya.
"……Fuutarou."
Di samping bantal
Raiha, Fuutarou yang mengenakan seragam sekolah sedang duduk.
"Ayah, Raiha masih tidur. Tenang sedikit dong."
"Kamu merawatnya ya…… tunggu, bukannya bus kegiatan
alammu sudah berangkat!?"
"Masa sih?
Karena tidak peduli, aku sampai lupa tuh."
Fuutarou berdiri,
lalu menyampirkan ransel besarnya ke bahu.
"Dengan
begini selama tiga hari ke depan, aku bisa belajar sepuasnya."
"……Fuutarou,
barangmu ada yang ketinggalan tuh."
Saat Fuutarou
menoleh, yang disodorkan Isanari adalah buku panduan kegiatan alam.
Buku panduan yang
lecek karena penuh ditempeli kertas catatan (sticky notes) dan telah dibaca
sampai ke sudut-sudutnya──.
"……Maaf ya,
Ayah tidak bisa pulang lebih cepat. Ini kan acara sekali seumur hidup. Kalau
kamu berangkat sekarang, bukannya belum terlambat?"
Sambil berkata
begitu, Isanari menepuk kepala Fuutarou pelan menggunakan buku panduan.
"……Palingan
busnya juga sudah tidak ada, lagipula tidak masalah kok."
Di saat Fuutarou
berpura-pura bersikap santai,
Raiha terbangun
sambil merenggangkan tubuhnya lebar-lebar, "Aaaah~! Perutku lapar!"
"……Raiha.
Demammu bagaimana?"
"Sudah
sembuh! Terima kasih ya, Kakak!"
Kelihatan sangat
bertenaga dan warna wajahnya pun bagus. Fuutarou merasa lega.
"Aku sudah
tidak apa-apa kok, jadi pergilah ke kegiatan alam!"
"Tapi
kan busnya……."
"Busnya
sudah berangkat sejak tadi."
Tiba-tiba,
suara seperti itu memotong pembicaraan. Saat dilihat, Itsuki berdiri di pintu
masuk ruangan.
"Itsuki……!?
Kenapa kamu……."
"Aku sudah
mengetahui situasinya.”
Itsuki yang masuk
ke dalam ruangan langsung memegang tali ransel yang disampirkan Fuutarou, lalu
menariknya menuju pintu depan tanpa memberi kesempatan untuk menolak.
”Permisi ya.
Uesugi-kun, saya pinjam dulu.”
”Sip!” ”Dadaah~!”
Isanari dan Raiha
melambaikan tangan dengan senang hati untuk melepas keberangkatan Fuutarou.
***
Tanpa memberikan
penjelasan apa pun, Itsuki berjalan dengan cepat mendahului Fuutarou.
"Itsuki,
kamu mau membawaku ke mana sih…… hhh!?"
Saat berbelok di
belokan yang agak jauh dari rumahnya, Fuutarou tercengang melihat pemandangan
di depannya.
"K…… kalian
semua……."
"Fuutarou."
Miku menoleh.
"Selamat
pagi, agak kesiangan." Ichika yang kelihatan masih kurang tidur.
"Sini,
sini!" Yotsuba yang sudah bersemangat penuh sejak pagi hari.
"Duh, kamu
lagi ngapain sih." Dan yang satu ini, Nino, beroperasi seperti biasa.
Si kembar lima sisanya sudah
berkumpul dengan lengkap di depan sebuah mobil limosin warna hitam!
"Mengenai panitia pelaksana
uji nyali, aku tidak bisa melakukannya. Soalnya aku takut hantu."
Setelah mendengar situasi
Fuutarou dari guru wali kelas, Itsuki yang berpura-pura santai mengatakannya
sambil berjalan ke arah saudari-saudarinya. Kemudian, "Uruslah urusanmu
sendiri," ucapnya sambil melirik sekilas ke arah Fuutarou.
"……Mau bagaimana lagi."
Fuutarou menggaruk kepalanya seraya menghela napas pasrah. "Kalau begitu,
ayo berangkat……."
Meskipun menundukkan kepala,
matanya tampak tersenyum gembira.
"Kalau begitu,
berangkaaatt!"
Suara Yotsuba bergema di bawah
langit biru yang cerah.
***
"Permainan Kembar
Lima!"
"Yeeeeii!"
Di dalam mobil yang melaju menuju
lokasi kegiatan alam, permainan kembar lima ini pun dimulai. Permainan ini
mengibaratkan Ichika = ibu jari, Nino = jari telunjuk, Miku = jari tengah,
Yotsuba = jari manis, dan Itsuki = jari kelingking, lalu menebak jari siapa
yang dijulurkan dari tangan yang tersembunyi.
"Aku ini siapa, hayo?"
Nino yang duduk di kursi barisan
kedua dekat jendela memberikan tebakan.
"Nino."
Yang paling cepat menjawab adalah
Miku di kursi penumpang depan.
"Miku mungkin ya."
"Yotsuba!"
Ichika yang duduk di dekat
jendela berseberangan dengan Nino dan Yotsuba yang ada di tengah masing-masing
menjawab.
Dari kursi barisan ketiga, Itsuki
berkata, "Itu Nino."
Tidak salah lagi, itu pasti di
antara jari telunjuk, jari tengah, atau jari manis, tetapi yang kelihatan hanya
bagian dalam ruas jari pertama saja. Sama seperti wajah si kembar lima,
benar-benar tidak bisa dibedakan. Fuutarou yang duduk di belakang Nino
mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh jari itu untuk memastikannya.
"Tunggu, dilarang menyentuh!
Maksudku, jangan sentuh-sentuh dong!"
"Ckh…… Nino kan!"
"Sayang sekali, jawabannya
Miku."
Nino tersenyum jahil lalu
menurunkan tangan yang menutupi tadi.
"Kenapa tangannya
terbalik?"
Nino menghadapkan punggung
tangannya ke arah Fuutarou sambil mengacungkan jari tengahnya. Anak baik sama
sekali tidak boleh menirukan gerakan ini, karena itu adalah tanda yang berarti
"persetan" (fuck you).
"Sial…… Berikutnya giliranku
ya!"
Melihat Fuutarou yang mengepalkan
tangannya membakar semangat, Itsuki yang duduk di sebelahnya menatapnya dengan
heran.
"Semangat banget ya."
"Selain di rumah kalian,
menginap di luar rumah begini ini pertama kalinya sejak SD. Tidak akan ada yang
bisa menghentikanku lagi!"
Menghadapi permainan pengisi
waktu luang dengan mesin berkecepatan penuh seperti itu…… Si kembar lima
menatap Fuutarou dengan senyuman yang agak kaku.
"……Tapi yah."
Yotsuba perlahan melirik ke luar jendela.
"Kita sudah tertahan di sini
selama satu jam lebih sih ya……."
Pandangan mata di luar
benar-benar putih semua, angin dingin bercampur salju berembus kencang di luar
mobil.
Tiba-tiba diserang badai salju
yang dahsyat, mobil mereka mau tidak mau terpaksa mogok dan tidak bisa
bergerak.
Rombongan si kembar lima dan
Fuutarou terpaksa menginap semalam di sebuah penginapan (ryokan) di
tengah jalan.
"Ooh, kamarnya bagus juga
ya!"
Meskipun hanya kamar bergaya
Jepang yang sangat biasa, Fuutarou menjadi orang pertama yang mengucapkannya
dengan wajah penuh kegembiraan.
"Tapi…… ini kan kamar untuk
empat orang?" ucap Itsuki.
"Aku sama sekali tidak mau
sekelompok kamar dengan anak ini!"
Melihat Nino yang menunjukkan
sikap menolak keras, Yotsuba mencoba menenangkannya.
"Katanya karena rombongan
tamu lain mendadak datang, cuma kamar ini saja yang tersisa kosong."
"Kan ada
mobil?" Nino masih tetap bersikeras.
"Pak Ebata, sang
pengemudi, sudah pulang karena ada pekerjaan lain."
"Nah, di depan
penginapan kan ada satu ruangan lagi tuh."
"Ah, besok dia bisa mati,
tahu!"
Ruangan yang dimaksud Nino adalah
kandang anjing yang terbuka terkena angin.
"Pasti tidak apa-apa
kok."
Padahal anjing yang tertutup bulu
saja sudah mengungsi dari kandang itu, tapi Nino sama sekali tidak memberi
ampun.
"Tidak boleh tahu!"
Yotsuba menolak dengan sekuat tenaga, tapi
"Bukankah tidak
apa-apa?" Itsuki pun ternyata sama saja, tidak punya rasa kasihan.
Tanpa mempedulikan percakapan
yang terjadi di belakangnya, Fuutarou mulai membongkar muatannya.
"Hm? Apa ini……."
Di dalam ranselnya, ada kertas
terlipat yang tidak diingatnya.
Saat dibuka, ternyata itu adalah
surat dari Raiha.
『Untuk Kakak. Aku membuatkan jimat
keselamatan agar perjalanan Kakak aman. Nikmatilah kegiatan alamnya ya. P.S.
Aku berharap dapat oleh-oleh balasan ya ♡ - Raiha』
Meskipun di catatan tambahan
terlihat sedikit niat tersembunyi, sebuah jimat gelang benang (misanga)
warna biru buatan tangan terlampir bersama surat itu.
Sejak kapan dia memasukkannya……
Fuutarou tersenyum tipis.
"Sip! Penginapan yang
bagus!"
Si kembar lima yang masih dalam
perdebatan menoleh ke arah suara yang mantap itu.
"Daripada mengeluh, mari
kita nikmati saja!"
Menghadap ke jendela,
Fuutarou bersemangat sendirian. Keberadaan dirinya yang menjadi akar dari
segala masalah, di hadapan perasaan Raiha yang memikirkan kakaknya, hanyalah
masalah sepele belaka.
***
"Ayo anak perempuan
berkumpul!"
Atas isyarat dari Nino,
si kembar lima berkumpul di sudut kamar.
"Dengar ya.
Masing-masing harus berhati-hati."
"Hati-hati soal
apa?"
Atas pertanyaan Yotsuba
yang polos, Nino menjadi terbata-bata.
"Itu tuh…… kan kita akan
menghabiskan malam di kamar yang sama…… anak itu kan bagaimanapun juga seorang
pria……."
"「「「「……!!」」」」"
Di dalam benak si kembar
lima, Fuutarou yang berubah menjadi serigala raksasa melotot dengan mata
merahnya, lalu menggeram Garururu~ dengan suara kelaparan seolah hendak
menerkam mereka.
"……Hal seperti itu
tidak mungkin terjadi kok."
Tepat saat Itsuki yang
sudah tenang mengucapkannya dengan tegas,
"Ayo kita lakukan."
Di dekat telinga mereka, suara
serigala—maksudnya Fuutarou—terdengar!
"Hiiiii!" Itsuki
menjerit ketakutan.
Bukan lima ekor anak domba,
melainkan si kembar lima berkumpul saling berpelukan karena takut.
"M-Mau melakukan
apa……!?"
Nino bertanya sambil ketakutan,
Fuutarou dengan senyuman yang lebih tidak berbahaya daripada sayuran bebas
pestisida berkata:
"Aku membawa kartu remi. Ayo
kita main!"
"……Kartu remi……."
Melihat barang yang dipegang
Fuutarou, Nino merasa kehilangan ketegangannya.
"K-Kangen banget ya!"
"M-Mau main apa nih?"
Mungkin karena merasa bersalah,
Ichika dan Yotsuba mencoba menutupi suasana dengan senyuman.
Tanpa menyadari bahwa dirinya
sempat dicurigai melakukan pelecehan seksual, Fuutarou dengan bersemangat
berseru, "Main Sevens (Seven Bridge) dong!"
(T-Tidak
apa-apa kan ya…… kita kan murid dan guru…….)
Meski begitu, Itsuki tetap tidak
bisa menghapus sedikit rasa cemas di hatinya.
***
Dari jendela kaca besar di area
istirahat, terlihat gunung dan pepohonan yang tertutup salju.
"Emm, pertarungan
yang sengit ya!" Ucap Ichika sambil menatap pemandangan salju.
Yang kalah paling buncit
adalah Yotsuba, dan pemenangnya adalah Fuutarou. Ngomong-ngomong, ada mitos
populer bahwa permainan Sevens akan dimenangkan oleh orang yang berwatak buruk.
Miku yang membeli matcha soda
dari mesin penjual otomatis menyodorkannya ke Ichika sambil berkata, "Mau
minum?"
"Ah, sekarang belum
dulu deh……."
Setelah menolaknya secara
halus, Ichika kembali mengalihkan pandangannya ke pemandangan salju.
"Miku…… soal cerita
api unggun yang kamu katakan kemarin, apa benar-benar tidak apa-apa kalau aku
yang melakukannya?"
Miku ikut berdiri di
samping Ichika, menatap ke luar jendela.
"……Iya. Lagipula, itu hal
yang kuputuskan secara spontan untuk mengatasi situasi saat itu."
"Begitu ya…… kalau begitu,
apakah Kakak harus menemani Fuutarou-kun yang sendirian itu ya."
Pandangan Miku yang tadinya
menatap kepingan salju yang berguguran perlahan-lahan menunduk ke bawah.
(Ingin memonopoli orang tersebut sendirian…… Aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Karena
kami ini dibagi rata menjadi lima bagian. Lagipula…… kalau Ichika, tidak ada
yang perlu dikhawatirkan…….)
Miku tersenyum kecil. Meskipun
belum pernah menyampaikan perasaannya secara jelas, dia merasa Ichika selalu
mendukungnya…….
Namun, Ichika pun meyakinkan
dirinya sendiri.
(……Kalau
Miku yang mengatakannya…… tidak apa-apa kan ya.)
Seolah menyembunyikan perasaan
satu sama lain, salju turun menumpuk dengan lebat.
***
Mangkuk besar berisi
tempura, olahan udang karang (Ise ebi), dan ikan iwana bakar
garam. Di tempat masing-masing berjejer daging sapi panggang di atas piring
tanah liat (touban-yaki), aneka hidangan sashimi, hingga nama-fu
dengaku──Makan malam yang sangat mewah tertata padat di atas meja rendah.
"Mewah banget~! Ingin
kumasukkan ke tempat makan lalu kubawa pulang deh."
Pemilik dari pernyataan yang
sangat terkesan hemat dan sederhana itu tentu saja adalah Fuutarou.
"Hentikan dong……."
Wajah Itsuki menjadi heran.
"Tapi kalau makan makanan
semewah ini, kare besok rasanya akan kelihatan kalah jauh ya."
Yotsuba mengatakannya
sambil mengambil sumpit.
"Aku menantikan kare buatan
kelompokmu lho."
Nino tersenyum licik sambil
menyindir Miku yang tidak bisa memasak.
"Berisik."
"Ngomong-ngomong, sepertinya
aku belum melihat jadwalnya deh."
Ichika yang kemarin juga ada
pekerjaan, sepertinya tidak sempat membaca buku panduan.
Seketika itu juga, Fuutarou yang
memegang mangkuk sup mulai berbicara.
"Acara utama di hari kedua
adalah orienteering, memasak dengan hangou, dan malamnya uji
nyali. Hari ketiga adalah kegiatan bebas seperti mendaki gunung, bermain ski,
dan memancing. Lalu malam harinya adalah api unggun."
Setelah menyelesaikan
penjelasannya dengan sangat lancar bagaikan air mengalir, dia menyedot supnya.
"Kenapa Fuutarou-kun bisa
hafal begitu?" Ichika
mengatakannya sambil berkedip heran.
"Ah, lalu informasi
barunya, legenda api unggun itu pada momen puncaknya, tangan mereka
akan……."
"Cerita itu lagi
ya."
Fuutarou yang merasa
bosan memotong ucapan Yotsuba, lalu menggigit tempura udangnya.
"Legenda?" Bagi
Ichika ini adalah pertama kalinya dia mendengar cerita itu.
"Tidak ada
hubungannya kok. Lagipula, anak-anak ini tidak akan punya pasangan dansa,
kan."
Mendengar kata-kata Nino,
Ichika, Miku, dan Fuutarou seketika tersentak kaget.
(Benar juga…… jadinya aku akan berdansa dengan Ichika kan…….)
Fuutarou memang tidak
percaya pada legenda ikatan takdir, tetapi secara realitas, bagaimana
solusinya?
"Yah, hal tidak
berguna seperti itu sih tidak peduli juga."
Nino mengatakannya dengan
ketus sambil menyuapkan sashimi tuna ke dalam mulutnya.
"……Sepertinya Nino
tidak diajak oleh siapa pun deh."
Menyadari sikap gengsi
Nino, Miku dengan pelan menusuk tepat di titik terlemahnya.
"Begitu ya, ternyata
kamu lagi ngambek toh~." Yotsuba menyusul, menambahkan dengan polos.
"Kalian ini
ya!"
Menyadari bahwa
pertengkaran antar saudari akan pecah, Ichika mengambil brosur penginapan yang
ada di dekatnya lalu berbicara.
"Lihat deh, di sini
sepertinya ada pemandian terbuka (rotenburo). Kelihatannya lumayan bagus
lho."
Saat membaca penjelasannya, mata
Ichika terpaku pada sebuah tulisan.
"……Eh, pemandian campuran (konyoku)……?"
"Hah!? Selain satu kamar
dengan anak ini, mandi pun harus bersamaan juga?"
"Sangat tidak masuk
akal!"
Menanggapi Nino dan Itsuki yang
bereaksi berlebihan, Ichika tertawa canggung, "Kenapa premisnya harus
masuk bersamaan, coba?"
Tiba-tiba, Fuutarou tersenyum
penuh arti dan berkata:
"Nino~. Mengatakan tidak mau
masuk bersama itu rasanya menyakitkan hatiku lho…… Bukankah aku dan kamu sudah
pernah melakukannya sebelumnya?"
Itu adalah kejadian saat Nino
menyamar menjadi Itsuki lalu menerobos masuk saat Fuutarou sedang mandi.
"……Nino?" Miku
menatapnya dengan tajam.
"B-Bukan, salah! Hei!"
Si Uesugi ini sengaja mengucapkan
kata-kata yang memicu kesalahpahaman……! Padahal cuma masuk ke area kamar mandi
saja, dan tentu saja Nino saat itu masih memakai pakaian lengkap.
"Hahaha, ini pembalasan
seperti biasa."
"Ahahaha." Yotsuba pun
ikut tertawa terbahak-bahak.
Pesta si kembar lima dan
Fuutarou pun berlanjut dengan ramai.
***
Di langit malam setelah
salju reda, bintang-bintang berkilauan, dan dari pemandian air panas alami (onsen),
uap air membumbung tinggi. Saat merendamkan tubuh perlahan dari ujung kaki
sampai ke bahu, tubuh telanjang yang tadinya mengkerut karena dingin terasa
melar pelan-pelan.
"Emm,
nikmatnya~!" Nino spontan berseru.
"Iya. Ternyata bukan
pemandian campur (konyoku), melainkan pemandian air panas (onyoku)
ya. Ahaha……."
Sambil meregangkan
tubuhnya, Ichika yang salah membaca tulisan tadi tertawa menutupi kesalahannya.
Pemandian terbuka dari
batu alam ini secara mewah berada dalam kondisi disewa khusus untuk si kembar
lima.
"Sudah berapa tahun ya kita
tidak masuk kamar mandi bersama-sama seperti ini."
Itsuki yang menutupi bagian
dadanya dengan handuk mandi berlutut di pinggir kolam lalu memasukkan kakinya
ke dalam air panas.
Mungkin karena merasa panas, Miku
berdiri dengan menaruh handuk di atas kepalanya.
"Ah! Dadanya Miku bukannya
makin besar ya?"
Yotsuba yang mengucapkannya pun mengalami
pertumbuhan dada yang sangat pesat.
"Soalnya
kita kan sama semua." Miku menepisnya dengan santai, lalu kembali
merendamkan tubuhnya ke dalam air panas.
"Tapi tetap
saja…… hari ini si
anak itu benar-benar aneh, tahu."
Di pemandian di
mana mereka berlima membentuk lingkaran, Nino menjadikan Fuutarou sebagai topik
pembicaraan.
"Apakah
Uesugi-san biasanya tidak pernah pergi jalan-jalan, ya," ucap Yotsuba.
"Suasananya
benar-benar seperti orang yang habis begadang semalaman ya."
Ichika tertawa
canggung mengingat pertarungan sengit dalam permainan Sevens yang dimenangkan
oleh Fuutarou.
"Pokoknya,
si anak itu saat dalam mode traveler's high sangat berbahaya, tahu. Masalahnya,
di kamar sempit itu kasur pas-pasan cuma ada enam lembar. Siapa yang akan tidur
di sebelah anak itu?"
Sekali lagi di
dalam benak si kembar lima, Fuutarou si serigala muncul dan merancung melolong
Ooooon.
Setelah
hening sejenak, Ichika angkat bicara.
"……Aah~
Nino, bukankah kamu terlalu berlebihan berpikirnya? Kita kan cuma sebatas teman."
"Benar tuh,
Uesugi-san itu bukan orang yang seperti itu tahu!!"
Yotsuba
menggenggam kedua tangannya erat-erat, lalu berdiri dengan menimbulkan kecipak
air Zabaah.
"Kalau
begitu maksudmu tidak apa-apa kalau kamu yang tidur di sebelahnya?"
"Uh!?"
"Uesugi
kan bukan anak yang seperti itu, jadi tidak perlu khawatir kan?"
Yotsuba
yang terdesak oleh Nino mendadak kehilangan semangatnya lalu kembali
menceburkan diri ke dalam air panas Chapon.
"Kalau itu
sih…… agak…… bagaimana ya……."
Dia
mengucapkannya dengan suara sekecil nyamuk, lalu membenamkan tubuhnya sampai ke
leher ke dalam pemandian. Handuk kelinci yang dililitkan di kepalanya pun ikut
layu lelah.
"Kalau
begitu, bagaimana kalau Nino saja?"
Itsuki
menyodorkan kedua tangannya ke arah Nino seolah mempersilakannya.
"Hah!?
Kenapa jadi aku!?"
"Bukan
apa-apa, kalau Nino kan rasanya akan melawan meskipun harus memukulnya."
"……Ichika,
kalau kamu sih tidak akan peduli kan."
Kepada Ichika
yang memasang raut wajah santai, Nino mengalihkan giliran tersebut padanya.
"Malah kena
ke aku toh~~."
"Kan cuma
sebatas teman."
Saat Nino
mendesaknya, pipi Ichika menjadi merona tipis seperti orang yang senang/kepanasan.
"……Iya.
Fuutarou-kun itu…… teman yang baik kok?"
"Kalau
begitu kan bagus."
Saat pembicaraan
hampir mencapai kesepakatan, Miku yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan
semua orang diam-diam, tiba-tiba berdiri sambil berseru, "Tunggu."
"Sama rata…… mari kita buat semuanya sama rata."
Si kembar
lima yang selesai mandi berbisik-bisik secara rahasia di depan kamar.
«……Begitu
ya, kamu memikirkannya sampai sejauh itu ya,» ucap Nino sambil mengangguk.
Jika
tidak ada yang mau tidur di sebelah Fuutarou, maka semua orang saja yang tidur
di sebelahnya. Itulah rencana Miku.
«Nah, ayo
kita masuk!»
Dengan
penampilan yukata yang sama, wajah polos tanpa makeup yang sama, dan gaya
rambut belah tengah yang sama, kelimanya masuk ke dalam kamar yang lampunya
sudah dipadamkan. Meskipun Fuutarou berubah menjadi serigala, setidaknya dia
tidak akan berani menyentuh orang yang tidak diketahuinya.
……Padahal
tekad untuk melindungi kesucian seorang gadis itu, sebenarnya untuk apa coba?
Di kasur
paling ujung, Fuutarou sudah tertidur lelap sambil mendengkur keras.
”Umm…… kalau
begitu mari kita tidur juga yuk…….”
Nino
mengucapkannya dengan merasa kurang nyaman.
***
Matahari pagi
bersinar masuk dengan cerah melalui pintu geser shoji di jendela.
"Emm……."
Ichika yang
membalikkan badannya karena silau perlahan membuka matanya lalu terkejut
setengah mati.
Di depan matanya
ada wajah Fuutarou yang sedang tertidur!
"Fuutarou-kun!?
……K-Kenapa……."
Saat dia
menegakkan tubuhnya dan melihat ke sekeliling, si kembar lima lainnya juga
berguling ke sana-sini, masih berada di dalam alam mimpi.
"Eh, hahah……
semuanya berantakan banget."
Sekali lagi,
pandangannya tertuju pada wajah tidur Fuutarou.
"Ini kedua
kalinya aku melihat wajah tidurnya ya…… Kalau tidak bisa mempertahankan
ketenangan sejauh ini, berarti bukan teman…… atau partner, kan."
Sambil menatap
Fuutarou yang tertidur dengan damai, Ichika mendekatkan wajahnya seolah ingin
mengujinya.
"Tidak
apa-apa kan ya……."
Tetapi
jantung Ichika berdetak kencang, Dokun-dokun, sampai terdengar berisik.
Pada saat itu,
pintu kamar terbuka.
”Sudah pagi lho.
Sarapannya…… di ruang makan…….”
Saat Ichika yang
terkejut menoleh, pintu kamar langsung tertutup dengan keras. Brak!!.
***
Di koridor,
Itsuki yang bangun paling awal sendirian membeku kaku sambil tetap menggenggam
kenop pintu.
(Bohong…… yang
tadi itu……)
Meskipun hanya
terlihat siluet karena membelakangi cahaya, salah satu dari saudarinya kepada
Fuutarou, c……!?
"Nakano?"
"Eh."
Mata Itsuki menoleh, membelalak bulat.
"Ternyata
Nakano toh. Lagi ngapain kamu di sini?"
Ternyata──guru
wali kelas yang mengenakan yukata penginapan dan guru-guru dari kelas lain
sedang berdiri di sana.
***
Di jalanan gunung yang bersalju, bus-bus besar melaju
beriringan.
"Tak disangka, mereka juga menginap di penginapan yang
sama gara-gara salju ya…… Untung saja kita tidak sampai berpapasan."
Fuutarou yang mengenakan mantel ber-hoddie berbulu pilihan
Nino berkata kepada Itsuki yang duduk di sebelahnya.
Tamu rombongan yang mendadak datang kemarin ternyata adalah
rombongan dari SMA Asahi.
Meskipun si kembar lima dan Fuutarou sudah berhasil
bergabung dengan selamat dan merasa lega, entah kenapa Itsuki diam membisu
seolah tenggelam dalam lamunan.
"……Kamu
kenapa?"
"T-Tidak ada
apa-apa kok."
Itsuki bingung
memikirkan kejadian tadi pagi, sampai-sampai pembicaraan Fuutarou sama sekali
tidak masuk ke telinganya.
(Karena
tidak melihatnya dengan jelas aku tidak bisa memastikannya sih, tapi…… yang
tadi itu……
salah satu dari kami, kepada Uesugi-kun……)
***
Di bus Kelas 2,
Ichika sedang membaca email yang masuk dari presiden agensi tempatnya bernaung.
Setelah presiden
agensi berbicara dengan sutradara, reputasi Ichika ternyata sangat bagus. Mulai
sekarang mereka berniat untuk mempromosikannya secara gencar……
──Untuk mendedikasikan diri pada dunia akting, mungkin mengambil cuti sekolah
bisa menjadi salah satu pilihan, ya.
Mengingat kata-kata yang diucapkan presiden agensi beberapa waktu lalu,
Ichika menatap ponselnya dengan ekspresi yang rumit.
”Nino, pasangan
buat api unggun sudah ditentukan?”
Teman sekelas
perempuan yang akrab dengannya bertanya kepada Nino.
«M-Mulai
sekarang kok!»
«Soalnya
Nino kan standar kriterianya tinggi.»
«Yah
begitulah…….» Nino membalas seadanya, lalu menatap ke luar jendela.
Yang
terbayang di kepala Nino adalah anak laki-laki nakal berambut pirang yang ada
di foto yang diselipkan di dalam buku saku siswa Fuutarou.
(Andai
saja aku bisa bertemu dengan anak laki-laki seperti itu ya……)
***
Di bus kelas
Miku, para murid perempuan sedang heboh dengan rumor yang sama.
"Hei,
kamu sudah dengar soal legenda api unggun belum?"
"Sudah
dengar~! Legenda ikatan takdir kan?"
"Katanya
akan menghabiskan sisa hidup bersama lho!"
Miku
dengan wajah datarnya yang seperti biasa menyimak pembicaraan semua orang
dengan saksama.
***
Yotsuba
membuka buku panduan kegiatan alam yang penuh dengan kertas catatan (sticky
notes), lalu mengulang materinya dengan kesungguhan yang tidak pernah
terlihat saat dia belajar.
(Uesugi-san, aku pasti akan membuat kegiatan alam ini menjadi salah satu
lembaran kenangan bagi Uesugi-san!)
Bertekad
dengan kuat, mata Yotsuba berbinar-binar berkilauan.
***
Dan
kembali ke dalam bus Fuutarou dan Itsuki.
(……Kami ini adalah murid dan guru. Meskipun murid menaruh rasa suka, tugas
gurulah untuk membimbingnya ke jalan yang benar.)
Kepada
Fuutarou yang sedang belajar memakai buku kosakata, Itsuki mengarahkan
pandangannya yang tajam.
(Uesugi-kun, apakah kamu benar-benar pantas sebagai seorang guru privat
atau tidak, akan kupastikan dalam kegiatan alam kali ini.)
***
Membawa perasaan si kembar lima, kelima bus melaju di satu jalur menuju kegiatan alam yang ditakdirkan──.


Post a Comment