Episode 1: Diriku yang Lain di Dunia Paralel Ternyata Seorang Gadis
Cantik
Aku tahu segalanya
tentang dia.
Soalnya, dia adalah
aku.
***
Bad ending adalah yang tertinggi.
Karena tak terikat oleh
keharmonisan semu happy ending, bad ending mampu menyajikan
ekspresi yang jauh lebih berani. Ia menggali hakikat manusia secara lebih
mendalam, mengguncang, mengaduk-aduk, hingga mencabik-cabik hati penikmatnya.
Sebab itulah, bad ending adalah yang terbaik.
Lewat film yang baru saja selesai
kutonton, aku makin menyadari kebenaran keyakinan itu.
Sekilas terlihat seperti film
aksi hiburan biasa, tetapi dari aroma khas bad ending yang tercium sejak
video cuplikannya, serta impresi media sosial yang kuintip dengan mata
tersipit-sipit setelah penayangannya, aku sudah menduga bahwa Infinity
Heaven ini baunya sangat bad ending.
Sebelum kena spoiler, aku
menyempatkan diri menontonnya sepulang sekolah, dan ternyata ini benar-benar bad
ending tingkat mahakarya. Indra penciuman bad ending-ku memang tidak
pernah salah.
Andai saja tidak ada penonton
lain di dalam bioskop, aku pasti sudah berdiri sambil memberikan tepuk tangan
meriah dan berseru berulang kali, "Good bad ending! Best bad ending!"
"Kenapa coba bukan happy
ending? Aneh banget."
"Naskahnya jelek
banget. Berpikir kalau dibikin bad ending bakal bikin filmnya bagus apa
ya."
Padahal aku sampai lemas
terkesima karena saking terharunya, tetapi penonton lain justru keluar ruang
teater lebih awal sambil melontarkan komplain.
Untuk ukuran sore hari di
hari kerja, jumlah penontonnya memang agak... tidak, bisa dibilang sangat sepi.
Lagipula, aku sudah mengintip di media sosial kalau film ini dianggap agak
biasa saja. Namun, tetap saja, padahal mereka tergolong orang-orang terpilih
yang datang menonton ke sini, mereka sama sekali tidak paham indahnya bad
ending.
...Tapi ya, ini sudah biasa.
Kebanyakan orang memang
selalu menuntut happy ending. Konten-konten populer pun kerap panen
hujatan saat berakhir dengan bad ending.
Kalau aku bilang suka bad
ending, orang-orang hanya akan menatapku dari atas sambil menganggapku
sebagai makhluk aneh, "Unik juga ya kamu... bagus deh." Bahkan tak
jarang aku diremehkan dan dituduh cuma sok beda. Padahal dari sudut pandangku, happy
ending-lah yang justru sok beda dari kenyataan! ...Eh, tidak juga sih.
Bagaimanapun, fakta bahwa
bad ending sulit diterima masyarakat adalah hal yang biasa, tapi—
"Padahal mereka
tidak tahu indahnya bad ending."
"Padahal mereka
tidak tahu indahnya bad ending."
Aku bergumam pelan agar
tak terdengar.
Namun, gumaman pelan lain
terdengar bersahutan di waktu yang persis sama.
Tanpa sadar, aku menoleh ke arah
datangnya suara.
Di barisan kursi yang berjarak
beberapa baris dariku, seorang gadis sedang menatap ke arahku dengan cara yang
sama.
Tatapannya yang tajam bagai
menusuk dan dingin hingga membuat bergidik, terarah lurus sejajar denganku.
Jika mataku yang sering diejek
galak ini diibaratkan sebagai batu tajam di jalanan, maka sepasang matanya
adalah batu permata yang dipotong dengan artistik dan dipoles sempurna.
Rambut hitamnya yang panjang dan
lurus seolah menyatu dengan kegelapan bioskop sejak tadi. Jika rambut hitamku
seumpama rumput laut yang pekat, maka kilau hitam miliknya adalah kedalaman
pekat alam semesta yang dihiasi indahnya kilau bintang.
Aksesori rambut berbentuk mawar
berwarna hitam dan perak itu seolah menjadi simbol dari dirinya yang tajam,
dingin, sekaligus anggun.
Seragam jas yang dikenakannya
tampak sangat familier—kami berasal dari SMA yang sama. Pita merah yang
menghiasi kerah kemejanya menandakan kalau dia juga murid kelas dua.
Mata sipitnya yang tajam
berkedip.
Bibirnya yang tipis namun tampak
lembap menghembuskan napas ragu yang sangat tipis.
"“Bad ending yang bagus ya.”"
Kata-kata yang terucap
kali ini benar-benar tumpang tindih secara sempurna. Aku pun sempat ragu harus
mengatakan apa, tetapi timing keraguanku juga bertepatan persis dengannya.
Bahkan saat kami
terkekeh—"Hahaha" dan "Fufufu"—suaranya meletup di saat
yang bersamaan.
Alisnya melengkung turun
dan matanya menyempit, membentuk ukiran senyum di pipinya yang membuat kesan
dingin tadi mendadak sirna, berganti dengan kelembutan manis bagai seekor
kucing yang sedang bermanja.
"Ucapan kita
barengan ya."
"Dari tadi kita
terlalu sering ngomong hal yang sama."
Aku dan dia sama-sama memasang
ekspresi serba salah.
"Filmnya bagus banget ya. Bad ending-nya mantap."
"Perkembangan bad ending-nya benar-benar intens. Waktu karakter
utamanya memicu death flag di pertengahan cerita, tanpa sadar aku
langsung mengepalkan tangan selebrasi."
"Saat dia menghabisi
orang tak bersalah yang ada di pihak musuh kan? Bagian yang jadi pemicu babak bad
ending setelahnya. Di adegan itu, aku juga sampai mengepalkan tangan
erat-erat."
"Kamu paham
maksudku?"
"Paham banget, paham
banget!"
Sambil berseru demikian,
dia memajukan badannya dari kursi penonton dan menyodorkan kepalan tangannya
secara penuh.
Aku pun menjulurkan
tanganku lebar-lebar, lalu membenturkan kepalan tangan kami yang baru bisa
saling menjangkau di batas maksimal.
"“More Bad! More Hell!”"
Menyelaraskan suara, kami saling
membenturkan kepalan tangan sebanyak tiga kali. Pada ketukan yang terakhir,
kami meninjunya sedikit lebih kuat.
"Ahaha. Kamu beneran ngelakuin itu! Aku
senang banget."
"Kalau sudah nonton
film ini, orang normal pasti bakal ngelakuin itu."
Itu adalah gestur dan
seruan yang dilakukan sang tokoh utama dan pahlawan wanita di saat-saat
krusial. Sebuah sumpah balas dendam terhadap musuh bebuyutan, sekaligus
perwujudan ikatan mereka yang penuh harapan. Namun, saat sang pahlawan wanita
tewas, balasan yang biasa itu menghilang—sebuah penyelesaian bad ending
yang sempurna untuk makin membakar rasa kesepian sang tokoh utama.
"Anu... Kita satu sekolah,
kan? Sepertinya seangkatan juga."
Gadis itu memegang pita merah di
kerah bajunya.
"Boleh aku lepas bahasa
formalnya?"
"Boleh saja... maksudku,
ayo, pakai bahasa santai saja."
Meskipun mengatakannya begitu,
aku tetap merasa gugup. Ngobrol berduaan dengan seorang gadis adalah hal yang
hampir tidak pernah kualami, selain di klub sastra.
"Terima ka... Makasih ya.
Ah, kita harus segera keluar dari sini."
Melihat staf bioskop mulai masuk
untuk membersihkan studio demi pemutaran berikutnya, aku dan dia mengambil tas
masing-masing lalu beranjak dari kursi.
Seketika mataku terpesona melihat
rambut hitam panjangnya yang mengayun indah.
Sebenarnya aku sudah menyadarinya
samar-samar, dan rasanya agak aneh memikirkan hal seperti ini saat baru pertama
kali bertemu seseorang... tapi singkatnya, dia benar-benar tipeku banget.
Selain paras dan ekspresi
wajahnya yang memadukan kesan dingin sekaligus ramah, aksesori perak yang
mengintip malu-malu dari ujung lengan jasnya, jemarinya yang lentik, kaki
jenjangnya yang terbingkai rok motif kotak-kotak, hingga postur tubuhnya yang
tegak dan tampak begitu anggun saat berdiri... entah bagaimana, semuanya
benar-benar menembus titik selera teratasku.
Mata kami saling beradu.
Gawat, dia sadar kalau aku sedang
memperhatikan berbagai bagian dirinya.
"Eh, bukan, bukan gitu
maksudku—"
"Bukan kok, bukan begitu
maksudku—"
Bahkan kalimat pembelaan kami pun
tumpang tindih.
Dia sendiri tampak memalingkan
wajah dengan rasa bersalah. Pipinya merona tipis.
Apakah dia juga memperhatikan
diriku? Memperhatikan cowok yang cuma menang kurus sepertiku ini? Ah, aku saja
yang terlalu percaya diri.
"Anu..."
Namun, saat dia memanggil, mata
kami kembali bertatapan.
"Soal film tadi. Soal bad ending... aku masih ingin ngobrol
lebih banyak lagi."
"Ah, mmm. Aku juga. Berpikir hal yang sama."
Terlepas dari berbagai impresiku tentang dirinya, ucapan itu murni berasal
dari lubuk hatiku. Ini pertama kalinya aku bertemu seseorang yang frekuensi
persepsi bad ending-nya seklop ini denganku.
"Syukurlah. Kalau begitu, yuk cari kafe atau tempat nongkrong."
Dengan nada suara yang ceria, dia mulai melangkah dan aku berjalan di
sampingnya. Kami meninggalkan area
kursi penonton lalu melintasi lobi bioskop.
"Ngomong-ngomong... kita
belum kenalan ya."
"Benar juga. Aku Masumi
Asahi."
"Eh? Aku Masumi Tsukino...
Kok bisa sama?"
Aku dan dia sama-sama melongo
heran.
"Marga Masumi itu rasanya
lumayan langka."
"Kita seangkatan, tapi kok
sama sekali tidak sadar ya?"
Padahal nama itu seharusnya
pernah berseliweran di suatu tempat.
Meski begitu, kenyataannya aku
sendiri memang tidak tertarik pada siapa pun selain teman dan kenalanku. Aku
sama sekali tidak tahu tentang murid-murid yang tidak pernah sekelas denganku.
"Kalau memanggilmu
'Masumi-san', rasanya bakal aneh ya."
"Iya juga ya. Kalau begitu,
boleh aku panggil pakai nama depan? Asahi-kun."
"Boleh saja. Mmm...
Tsukino-san."
Aku dan Tsukino-san mendadak
sama-sama bungkam.
"Fufu. Tiba-tiba panggil nama depan bikin canggung ya. Harus
cepat-cepat terbiasa nih."
Kami berdua sama-sama menunjukkan rasa malu yang amat jelas, hingga tanpa
sadar tertawa canggung.
"Iya. Aku akan berusaha
membiasakan diri. Tsukino-san."
"Aku juga bakal berusaha.
Mohon bantuannya ya, Asahi-kun."
Saat menyebut namaku dengan nada
yang dibuat-buat, Tsukino-san menyeringai memperlihatkan giginya yang putih
bagai anak kecil yang ketahuan berbuat jahat.
"Ya sudah, ayo kita mendiskusikan bad ending!"
Jujur, ekspresi wajahnya yang itu juga sangat sesuai selera kesukaanku.
***
Singkat cerita, setelah itu kami benar-benar membahas bad ending
secara luar biasa.
Aku tidak pernah menyangka akan membicarakan bad ending selama dua
jam penuh.
Dimulai dari obrolan tentang poin-poin bad dari film Infinity
Heaven, kami berdiskusi mulai dari analisis petunjuk bad ending,
hingga pendalaman karakter yang mengarah pada akhir tragis tersebut.
Pembicaraan berlanjut ke karya-karya bermuatan bad ending lainnya,
bahkan kami meluapkan keluh kesah tentang novel dan manga yang mendapat
penilaian buruk secara tidak adil hanya karena berakhiran bad ending.
Bicaraku biasanya cepat, tetapi Tsukino-san juga terus berbicara dengan
tempo yang sama cepatnya. Hari itu tak diragukan lagi menjadi hari ketika aku
paling banyak mengucapkan kata "bad ending" sepanjang hidupku.
Jika kata singkatan bad-en dihitung, mungkin kami bisa memecahkan
rekor dunia, walau sepertinya memang tidak pernah ada rekor seperti itu
sebelumnya.
Setelah menghabiskan waktu dua jam mengobrolkan bad ending di sebuah
kafe di dalam mal tempat bioskop itu berada, aku dan Tsukino-san kini berjalan
bersisian menembus jalanan malam. Langkah kaki dengan sepatu loafer kami
terdengar beriringan.
Dari mal yang terletak di dekat Stasiun Himurokigaoka menuju permukiman
Himurokigaoka Minamimachi, tempat tinggalku, terdapat jalan menanjak yang
lumayan panjang dan landai.
Meski berada di sepanjang jalan nasional yang ramai lalu lintasnya, saat jam
menunjukkan pukul sembilan malam, lalu lalang pejalan kaki sudah sangat sepi.
Meski sudah memasuki bulan Mei, udara di jam-jam seperti ini terasa cukup
menusuk tulang. Atau lebih tepatnya, kami memang sudah keasyikan ngobrol sampai
selarut ini.
"Masih belum puas ngobrolnya nih. Aku masih ingin membahas bad
ending lebih banyak lagi."
"Aku juga berpikir begitu. Ini pertama kalinya aku bisa membahas bad ending secangkring
ini."
"Sama, aku juga. Hebat juga
kamu, Asahi-kun."
"Tsukino-san yang justru hebat. Biasanya kalau aku diajak ngobrolin bad
ending, lawan bicaraku tidak akan bertahan lebih dari satu menit."
Maksudku, satu menit sampai aku mengoceh cepat soal bad ending dan
mereka akan memotong, "Aduh, aku tak paham, sudah ah."
"Ngomong-ngomong, balik ke topik tadi, Infinity Heaven
benar-benar bagus ya. Perkembangan bad ending di bagian akhir itu, aku
melihat ada opini di medsos yang bilang terlalu mendadak, tapi justru karena
mendadak itulah eksekusi bad ending-nya jadi makin ampuh."
"Tepat sekali. Aku biasanya menyebut perkembangan bad yang
tiba-tiba itu sebagai Sudden Strike/Kehancuran Mengejutkan."
"Eh!? Ini pertama kalinya aku bertemu orang selain diriku yang
menggunakan istilah Sudden Strike/Kehancuran Mengejutkan. Maksudmu
adalah perkembangan drastis yang mengkhianati ekspektasi penikmatnya secara
tajam, kan? …Jangan-jangan kamu juga memberikan kanji dan bacaan furigana
untuk istilah itu?"
"Bercanda kan? Niatnya mau bikin istilah sendiri, tapi sampai bacaan furigana-nya
pun bisa jadi bahasa yang sama?"
"Luar biasa. Ini sih namanya
takdir."
Saat mengatakannya dengan nada
bersemangat, Tsukino-san mendadak membekap mulutnya sendiri.
"...Memanggilnya
takdir mungkin terkesan sok akrab ya."
"Tidak kok, aku juga
merasa ini seperti takdir… tapi kalau diucapkan keras-keras memang terdengar
sok akrab sih."
"Kalau kita berdua sama-sama
berpikir begitu, anggap saja aman untuk kali ini… mungkin ya."
Tanpa sadar, kami saling tertawa
untuk menutupi rasa canggung. Perasaan terbawa suasana ini, ditambah dengan
sikap ragu-ragu dan jarak antaroang introvert yang agak mengagung-agungkan
privasi… secara takdir, kami memang memiliki kemiripan yang nyata.
Kami sempat terdiam sejenak
sembari melewati salah satu terowongan yang banyak dijumpai di kawasan
Himurokigaoka. Karena kendaraan yang lewat makin sepi, gema langkah kaki kami
yang berjalan sejajar terdengar sangat nyaring.
"Ah, balik lagi ke
pembahasan Sudden Strike / Kehancuran Mengejutkan tadi."
Istilah itu kini sudah
benar-benar menjadi bahasa bersama kami.
"Kalau film itu dilihat
secara keseluruhan dari sudut pandang luas, petunjuk menuju perkembangan bad
ending-nya sendiri sebenarnya sudah ditebar dengan sangat rapi sejak awal
cerita, kan?"
"Paham banget. Sampai-sampai
berpikir, 'Jangan-jangan adegan ini dan itu di awal cerita juga petunjuk?'
Adegan bapak-bapak tidak dikenal yang memiringkan kepala itu juga petunjuk.
Cuma menurutku, penggambarannya memang agak sulit disadari kalau bukan oleh
orang yang sudah terbiasa menikmati jalan cerita."
"Mungkin begitu. Soalnya,
dari awal sampai pertengahan cerita, kan temanya menjelajahi dunia paralel,
mendapatkan kemampuan di tiap dunia, lalu menyelamatkan dunia-dunia itu.
Nuansanya lebih terasa seperti hiburan happy ending, jadi orang-orang
makin tidak sadar akan petunjuk bad ending-nya."
Tema utama di dalam film Infinity
Heaven adalah dunia paralel.
Dunia atau alam semesta ini tidak
hanya satu, melainkan berjumlah tak terhingga. Walau terdengar seperti gagasan yang tidak
masuk akal, konsep ini rupanya masuk akal dalam fisika teoritis. Terlepas dari
nyata atau tidaknya, di dalam film digambarkan bagaimana mereka melintasi
berbagai dunia yang memiliki hukum alam berbeda-beda.
Konsep ini makin umum
dikenal masyarakat terutama setelah dijadikan tema dalam film-film pahlawan
super Marvel. Aku sendiri menyukai karya seperti Spider-Verse, minus
bagian happy ending-nya. Meski untuk konsep dunia paralel sendiri
kabarnya sudah menjadi tema yang sangat familier dalam komik Amerika sejak
dulu.
"Melintasi dan menyelamatkan
banyak dunia. Merasa sudah melakukan hal yang benar, namun pembalasan dendam
dari musuh justru membukakan pintu menuju bad ending… di bagian itu bulu
kudukku benar-benar merinding."
"Aku juga sampai
merinding."
Aku masih ingin terus mengobrol dengannya.
Meski sudah bicara selama dua jam dan lanjut mengobrol di sepanjang jalan
pulang, rasa ingin bicara itu tak kunjung surut.
Namun, perpisahan sudah di depan
mata.
Begitu keluar dari jalan
nasional, rumahku sudah amat dekat. Walau jalan pulang kami sama hingga titik
ini, tentu saja kami harus berpisah di suatu persimpangan.
Setiap kali melangkahkan kaki,
akhir dari percakapan ini makin mendekat.
Karena kami bersekolah di SMA
yang sama dan berada di tingkat yang sama, kami pasti bisa bertemu lagi.
Kesempatan untuk mengobrol masih terbuka sangat lebar. Walau begitu, rasa
kesepian menyambut akhir percakapan tetap tidak bisa dihilangkan.
Aku dan Tsukino-san membelok
keluar dari jalan besar menuju jalan permukiman. Jalan pulang kami ternyata
masih sama.
Setidaknya aku harus tukar
kontak dengannya. Walau
terasa terlalu cepat dan sok akrab, aku ingin bertaruh pada ikatan takdir bad
ending ini.
Tepat saat aku hendak membuka
mulut, Tsukino-san mendadak menghentikan langkahnya, dan aku pun ikut berhenti.
"Ini rumahku—"
"Ini rumahku—"
Kata-kata kami kembali tumpang
tindih.
Suara berseru "Eh?"
milik kami pun terlontar bersamaan. Kami berdua menoleh menatap rumah yang
berdiri di hadapan kami—rumahku.
Itu adalah rumah berlantai satu
bergaya standar tanpa ciri khas yang mencolok, tetapi tentu saja aku tidak akan
salah mengenali rumahku sendiri.
Di papan nama rumah, dengan
sangat jelas tertulis marga "Masumi".
Bahkan tempo kelipan sepasang
mata kami yang membelalak lebar pun terasa sama persis.
"Masumi Asahi."
"Masumi Tsukino."
Sebutan ulang nama kami yang
keluar secara alami itu pun terucap secara bersamaan.
Hal yang baru kuketahui setelah
kejadian ini adalah:
Aku dan dia merupakan
sosok individu yang sama dari dunia paralel yang berbeda.


Post a Comment