-->
NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Heikou Sekai no Jibun ga Konomi no Bishoujo de Kuse mo Onaji Datta node Koi shite Shimatta Volume 1 Chapter 1

Episode 1: Diriku yang Lain di Dunia Paralel Ternyata Seorang Gadis Cantik


Aku tahu segalanya tentang dia.

Soalnya, dia adalah aku.

***

Bad ending adalah yang tertinggi.

Karena tak terikat oleh keharmonisan semu happy ending, bad ending mampu menyajikan ekspresi yang jauh lebih berani. Ia menggali hakikat manusia secara lebih mendalam, mengguncang, mengaduk-aduk, hingga mencabik-cabik hati penikmatnya.

Sebab itulah, bad ending adalah yang terbaik.

Lewat film yang baru saja selesai kutonton, aku makin menyadari kebenaran keyakinan itu.

Sekilas terlihat seperti film aksi hiburan biasa, tetapi dari aroma khas bad ending yang tercium sejak video cuplikannya, serta impresi media sosial yang kuintip dengan mata tersipit-sipit setelah penayangannya, aku sudah menduga bahwa Infinity Heaven ini baunya sangat bad ending.

Sebelum kena spoiler, aku menyempatkan diri menontonnya sepulang sekolah, dan ternyata ini benar-benar bad ending tingkat mahakarya. Indra penciuman bad ending-ku memang tidak pernah salah.

Andai saja tidak ada penonton lain di dalam bioskop, aku pasti sudah berdiri sambil memberikan tepuk tangan meriah dan berseru berulang kali, "Good bad ending! Best bad ending!"

"Kenapa coba bukan happy ending? Aneh banget."

"Naskahnya jelek banget. Berpikir kalau dibikin bad ending bakal bikin filmnya bagus apa ya."

Padahal aku sampai lemas terkesima karena saking terharunya, tetapi penonton lain justru keluar ruang teater lebih awal sambil melontarkan komplain.

Untuk ukuran sore hari di hari kerja, jumlah penontonnya memang agak... tidak, bisa dibilang sangat sepi. Lagipula, aku sudah mengintip di media sosial kalau film ini dianggap agak biasa saja. Namun, tetap saja, padahal mereka tergolong orang-orang terpilih yang datang menonton ke sini, mereka sama sekali tidak paham indahnya bad ending.

...Tapi ya, ini sudah biasa.

Kebanyakan orang memang selalu menuntut happy ending. Konten-konten populer pun kerap panen hujatan saat berakhir dengan bad ending.

Kalau aku bilang suka bad ending, orang-orang hanya akan menatapku dari atas sambil menganggapku sebagai makhluk aneh, "Unik juga ya kamu... bagus deh." Bahkan tak jarang aku diremehkan dan dituduh cuma sok beda. Padahal dari sudut pandangku, happy ending-lah yang justru sok beda dari kenyataan! ...Eh, tidak juga sih.

Bagaimanapun, fakta bahwa bad ending sulit diterima masyarakat adalah hal yang biasa, tapi—

"Padahal mereka tidak tahu indahnya bad ending."

"Padahal mereka tidak tahu indahnya bad ending."

Aku bergumam pelan agar tak terdengar.

Namun, gumaman pelan lain terdengar bersahutan di waktu yang persis sama.

Tanpa sadar, aku menoleh ke arah datangnya suara.

Di barisan kursi yang berjarak beberapa baris dariku, seorang gadis sedang menatap ke arahku dengan cara yang sama.

Tatapannya yang tajam bagai menusuk dan dingin hingga membuat bergidik, terarah lurus sejajar denganku.

Jika mataku yang sering diejek galak ini diibaratkan sebagai batu tajam di jalanan, maka sepasang matanya adalah batu permata yang dipotong dengan artistik dan dipoles sempurna.

Rambut hitamnya yang panjang dan lurus seolah menyatu dengan kegelapan bioskop sejak tadi. Jika rambut hitamku seumpama rumput laut yang pekat, maka kilau hitam miliknya adalah kedalaman pekat alam semesta yang dihiasi indahnya kilau bintang.

Aksesori rambut berbentuk mawar berwarna hitam dan perak itu seolah menjadi simbol dari dirinya yang tajam, dingin, sekaligus anggun.

Seragam jas yang dikenakannya tampak sangat familier—kami berasal dari SMA yang sama. Pita merah yang menghiasi kerah kemejanya menandakan kalau dia juga murid kelas dua.

Mata sipitnya yang tajam berkedip.

Bibirnya yang tipis namun tampak lembap menghembuskan napas ragu yang sangat tipis.

"“Bad ending yang bagus ya.”"

Kata-kata yang terucap kali ini benar-benar tumpang tindih secara sempurna. Aku pun sempat ragu harus mengatakan apa, tetapi timing keraguanku juga bertepatan persis dengannya.

Bahkan saat kami terkekeh—"Hahaha" dan "Fufufu"—suaranya meletup di saat yang bersamaan.

Alisnya melengkung turun dan matanya menyempit, membentuk ukiran senyum di pipinya yang membuat kesan dingin tadi mendadak sirna, berganti dengan kelembutan manis bagai seekor kucing yang sedang bermanja.

"Ucapan kita barengan ya."

"Dari tadi kita terlalu sering ngomong hal yang sama."

Aku dan dia sama-sama memasang ekspresi serba salah.

"Filmnya bagus banget ya. Bad ending-nya mantap."

"Perkembangan bad ending-nya benar-benar intens. Waktu karakter utamanya memicu death flag di pertengahan cerita, tanpa sadar aku langsung mengepalkan tangan selebrasi."

"Saat dia menghabisi orang tak bersalah yang ada di pihak musuh kan? Bagian yang jadi pemicu babak bad ending setelahnya. Di adegan itu, aku juga sampai mengepalkan tangan erat-erat."

"Kamu paham maksudku?"

"Paham banget, paham banget!"

Sambil berseru demikian, dia memajukan badannya dari kursi penonton dan menyodorkan kepalan tangannya secara penuh.

Aku pun menjulurkan tanganku lebar-lebar, lalu membenturkan kepalan tangan kami yang baru bisa saling menjangkau di batas maksimal.

"“More Bad! More Hell!”"




Menyelaraskan suara, kami saling membenturkan kepalan tangan sebanyak tiga kali. Pada ketukan yang terakhir, kami meninjunya sedikit lebih kuat.

"Ahaha. Kamu beneran ngelakuin itu! Aku senang banget."

"Kalau sudah nonton film ini, orang normal pasti bakal ngelakuin itu."

Itu adalah gestur dan seruan yang dilakukan sang tokoh utama dan pahlawan wanita di saat-saat krusial. Sebuah sumpah balas dendam terhadap musuh bebuyutan, sekaligus perwujudan ikatan mereka yang penuh harapan. Namun, saat sang pahlawan wanita tewas, balasan yang biasa itu menghilang—sebuah penyelesaian bad ending yang sempurna untuk makin membakar rasa kesepian sang tokoh utama.

"Anu... Kita satu sekolah, kan? Sepertinya seangkatan juga."

Gadis itu memegang pita merah di kerah bajunya.

"Boleh aku lepas bahasa formalnya?"

"Boleh saja... maksudku, ayo, pakai bahasa santai saja."

Meskipun mengatakannya begitu, aku tetap merasa gugup. Ngobrol berduaan dengan seorang gadis adalah hal yang hampir tidak pernah kualami, selain di klub sastra.

"Terima ka... Makasih ya. Ah, kita harus segera keluar dari sini."

Melihat staf bioskop mulai masuk untuk membersihkan studio demi pemutaran berikutnya, aku dan dia mengambil tas masing-masing lalu beranjak dari kursi.

Seketika mataku terpesona melihat rambut hitam panjangnya yang mengayun indah.

Sebenarnya aku sudah menyadarinya samar-samar, dan rasanya agak aneh memikirkan hal seperti ini saat baru pertama kali bertemu seseorang... tapi singkatnya, dia benar-benar tipeku banget.

Selain paras dan ekspresi wajahnya yang memadukan kesan dingin sekaligus ramah, aksesori perak yang mengintip malu-malu dari ujung lengan jasnya, jemarinya yang lentik, kaki jenjangnya yang terbingkai rok motif kotak-kotak, hingga postur tubuhnya yang tegak dan tampak begitu anggun saat berdiri... entah bagaimana, semuanya benar-benar menembus titik selera teratasku.

Mata kami saling beradu.

Gawat, dia sadar kalau aku sedang memperhatikan berbagai bagian dirinya.

"Eh, bukan, bukan gitu maksudku—"

"Bukan kok, bukan begitu maksudku—"

Bahkan kalimat pembelaan kami pun tumpang tindih.

Dia sendiri tampak memalingkan wajah dengan rasa bersalah. Pipinya merona tipis.

Apakah dia juga memperhatikan diriku? Memperhatikan cowok yang cuma menang kurus sepertiku ini? Ah, aku saja yang terlalu percaya diri.

"Anu..."

Namun, saat dia memanggil, mata kami kembali bertatapan.

"Soal film tadi. Soal bad ending... aku masih ingin ngobrol lebih banyak lagi."

"Ah, mmm. Aku juga. Berpikir hal yang sama."

Terlepas dari berbagai impresiku tentang dirinya, ucapan itu murni berasal dari lubuk hatiku. Ini pertama kalinya aku bertemu seseorang yang frekuensi persepsi bad ending-nya seklop ini denganku.

"Syukurlah. Kalau begitu, yuk cari kafe atau tempat nongkrong."

Dengan nada suara yang ceria, dia mulai melangkah dan aku berjalan di sampingnya. Kami meninggalkan area kursi penonton lalu melintasi lobi bioskop.

"Ngomong-ngomong... kita belum kenalan ya."

"Benar juga. Aku Masumi Asahi."

"Eh? Aku Masumi Tsukino... Kok bisa sama?"

Aku dan dia sama-sama melongo heran.

"Marga Masumi itu rasanya lumayan langka."

"Kita seangkatan, tapi kok sama sekali tidak sadar ya?"

Padahal nama itu seharusnya pernah berseliweran di suatu tempat.

Meski begitu, kenyataannya aku sendiri memang tidak tertarik pada siapa pun selain teman dan kenalanku. Aku sama sekali tidak tahu tentang murid-murid yang tidak pernah sekelas denganku.

"Kalau memanggilmu 'Masumi-san', rasanya bakal aneh ya."

"Iya juga ya. Kalau begitu, boleh aku panggil pakai nama depan? Asahi-kun."

"Boleh saja. Mmm... Tsukino-san."

Aku dan Tsukino-san mendadak sama-sama bungkam.

"Fufu. Tiba-tiba panggil nama depan bikin canggung ya. Harus cepat-cepat terbiasa nih."

Kami berdua sama-sama menunjukkan rasa malu yang amat jelas, hingga tanpa sadar tertawa canggung.

"Iya. Aku akan berusaha membiasakan diri. Tsukino-san."

"Aku juga bakal berusaha. Mohon bantuannya ya, Asahi-kun."

Saat menyebut namaku dengan nada yang dibuat-buat, Tsukino-san menyeringai memperlihatkan giginya yang putih bagai anak kecil yang ketahuan berbuat jahat.

"Ya sudah, ayo kita mendiskusikan bad ending!"

Jujur, ekspresi wajahnya yang itu juga sangat sesuai selera kesukaanku.

***

Singkat cerita, setelah itu kami benar-benar membahas bad ending secara luar biasa.

Aku tidak pernah menyangka akan membicarakan bad ending selama dua jam penuh.

Dimulai dari obrolan tentang poin-poin bad dari film Infinity Heaven, kami berdiskusi mulai dari analisis petunjuk bad ending, hingga pendalaman karakter yang mengarah pada akhir tragis tersebut.

Pembicaraan berlanjut ke karya-karya bermuatan bad ending lainnya, bahkan kami meluapkan keluh kesah tentang novel dan manga yang mendapat penilaian buruk secara tidak adil hanya karena berakhiran bad ending.

Bicaraku biasanya cepat, tetapi Tsukino-san juga terus berbicara dengan tempo yang sama cepatnya. Hari itu tak diragukan lagi menjadi hari ketika aku paling banyak mengucapkan kata "bad ending" sepanjang hidupku.

Jika kata singkatan bad-en dihitung, mungkin kami bisa memecahkan rekor dunia, walau sepertinya memang tidak pernah ada rekor seperti itu sebelumnya.

Setelah menghabiskan waktu dua jam mengobrolkan bad ending di sebuah kafe di dalam mal tempat bioskop itu berada, aku dan Tsukino-san kini berjalan bersisian menembus jalanan malam. Langkah kaki dengan sepatu loafer kami terdengar beriringan.

Dari mal yang terletak di dekat Stasiun Himurokigaoka menuju permukiman Himurokigaoka Minamimachi, tempat tinggalku, terdapat jalan menanjak yang lumayan panjang dan landai.

Meski berada di sepanjang jalan nasional yang ramai lalu lintasnya, saat jam menunjukkan pukul sembilan malam, lalu lalang pejalan kaki sudah sangat sepi.

Meski sudah memasuki bulan Mei, udara di jam-jam seperti ini terasa cukup menusuk tulang. Atau lebih tepatnya, kami memang sudah keasyikan ngobrol sampai selarut ini.

"Masih belum puas ngobrolnya nih. Aku masih ingin membahas bad ending lebih banyak lagi."

"Aku juga berpikir begitu. Ini pertama kalinya aku bisa membahas bad ending secangkring ini."

"Sama, aku juga. Hebat juga kamu, Asahi-kun."

"Tsukino-san yang justru hebat. Biasanya kalau aku diajak ngobrolin bad ending, lawan bicaraku tidak akan bertahan lebih dari satu menit."

Maksudku, satu menit sampai aku mengoceh cepat soal bad ending dan mereka akan memotong, "Aduh, aku tak paham, sudah ah."

"Ngomong-ngomong, balik ke topik tadi, Infinity Heaven benar-benar bagus ya. Perkembangan bad ending di bagian akhir itu, aku melihat ada opini di medsos yang bilang terlalu mendadak, tapi justru karena mendadak itulah eksekusi bad ending-nya jadi makin ampuh."

"Tepat sekali. Aku biasanya menyebut perkembangan bad yang tiba-tiba itu sebagai Sudden Strike/Kehancuran Mengejutkan."

"Eh!? Ini pertama kalinya aku bertemu orang selain diriku yang menggunakan istilah Sudden Strike/Kehancuran Mengejutkan. Maksudmu adalah perkembangan drastis yang mengkhianati ekspektasi penikmatnya secara tajam, kan? …Jangan-jangan kamu juga memberikan kanji dan bacaan furigana untuk istilah itu?"

"Bercanda kan? Niatnya mau bikin istilah sendiri, tapi sampai bacaan furigana-nya pun bisa jadi bahasa yang sama?"

"Luar biasa. Ini sih namanya takdir."

Saat mengatakannya dengan nada bersemangat, Tsukino-san mendadak membekap mulutnya sendiri.

"...Memanggilnya takdir mungkin terkesan sok akrab ya."

"Tidak kok, aku juga merasa ini seperti takdir… tapi kalau diucapkan keras-keras memang terdengar sok akrab sih."

"Kalau kita berdua sama-sama berpikir begitu, anggap saja aman untuk kali ini… mungkin ya."

Tanpa sadar, kami saling tertawa untuk menutupi rasa canggung. Perasaan terbawa suasana ini, ditambah dengan sikap ragu-ragu dan jarak antaroang introvert yang agak mengagung-agungkan privasi… secara takdir, kami memang memiliki kemiripan yang nyata.

Kami sempat terdiam sejenak sembari melewati salah satu terowongan yang banyak dijumpai di kawasan Himurokigaoka. Karena kendaraan yang lewat makin sepi, gema langkah kaki kami yang berjalan sejajar terdengar sangat nyaring.

"Ah, balik lagi ke pembahasan Sudden Strike / Kehancuran Mengejutkan tadi."

Istilah itu kini sudah benar-benar menjadi bahasa bersama kami.

"Kalau film itu dilihat secara keseluruhan dari sudut pandang luas, petunjuk menuju perkembangan bad ending-nya sendiri sebenarnya sudah ditebar dengan sangat rapi sejak awal cerita, kan?"

"Paham banget. Sampai-sampai berpikir, 'Jangan-jangan adegan ini dan itu di awal cerita juga petunjuk?' Adegan bapak-bapak tidak dikenal yang memiringkan kepala itu juga petunjuk. Cuma menurutku, penggambarannya memang agak sulit disadari kalau bukan oleh orang yang sudah terbiasa menikmati jalan cerita."

"Mungkin begitu. Soalnya, dari awal sampai pertengahan cerita, kan temanya menjelajahi dunia paralel, mendapatkan kemampuan di tiap dunia, lalu menyelamatkan dunia-dunia itu. Nuansanya lebih terasa seperti hiburan happy ending, jadi orang-orang makin tidak sadar akan petunjuk bad ending-nya."

Tema utama di dalam film Infinity Heaven adalah dunia paralel.

Dunia atau alam semesta ini tidak hanya satu, melainkan berjumlah tak terhingga. Walau terdengar seperti gagasan yang tidak masuk akal, konsep ini rupanya masuk akal dalam fisika teoritis. Terlepas dari nyata atau tidaknya, di dalam film digambarkan bagaimana mereka melintasi berbagai dunia yang memiliki hukum alam berbeda-beda.

Konsep ini makin umum dikenal masyarakat terutama setelah dijadikan tema dalam film-film pahlawan super Marvel. Aku sendiri menyukai karya seperti Spider-Verse, minus bagian happy ending-nya. Meski untuk konsep dunia paralel sendiri kabarnya sudah menjadi tema yang sangat familier dalam komik Amerika sejak dulu.

"Melintasi dan menyelamatkan banyak dunia. Merasa sudah melakukan hal yang benar, namun pembalasan dendam dari musuh justru membukakan pintu menuju bad ending… di bagian itu bulu kudukku benar-benar merinding."

"Aku juga sampai merinding."

Aku masih ingin terus mengobrol dengannya. Meski sudah bicara selama dua jam dan lanjut mengobrol di sepanjang jalan pulang, rasa ingin bicara itu tak kunjung surut.

Namun, perpisahan sudah di depan mata.

Begitu keluar dari jalan nasional, rumahku sudah amat dekat. Walau jalan pulang kami sama hingga titik ini, tentu saja kami harus berpisah di suatu persimpangan.

Setiap kali melangkahkan kaki, akhir dari percakapan ini makin mendekat.

Karena kami bersekolah di SMA yang sama dan berada di tingkat yang sama, kami pasti bisa bertemu lagi. Kesempatan untuk mengobrol masih terbuka sangat lebar. Walau begitu, rasa kesepian menyambut akhir percakapan tetap tidak bisa dihilangkan.

Aku dan Tsukino-san membelok keluar dari jalan besar menuju jalan permukiman. Jalan pulang kami ternyata masih sama.

Setidaknya aku harus tukar kontak dengannya. Walau terasa terlalu cepat dan sok akrab, aku ingin bertaruh pada ikatan takdir bad ending ini.

Tepat saat aku hendak membuka mulut, Tsukino-san mendadak menghentikan langkahnya, dan aku pun ikut berhenti.

"Ini rumahku—"

"Ini rumahku—"

Kata-kata kami kembali tumpang tindih.

Suara berseru "Eh?" milik kami pun terlontar bersamaan. Kami berdua menoleh menatap rumah yang berdiri di hadapan kami—rumahku.

Itu adalah rumah berlantai satu bergaya standar tanpa ciri khas yang mencolok, tetapi tentu saja aku tidak akan salah mengenali rumahku sendiri.

Di papan nama rumah, dengan sangat jelas tertulis marga "Masumi".

Bahkan tempo kelipan sepasang mata kami yang membelalak lebar pun terasa sama persis.

"Masumi Asahi."

"Masumi Tsukino."

Sebutan ulang nama kami yang keluar secara alami itu pun terucap secara bersamaan.




Hal yang baru kuketahui setelah kejadian ini adalah:

Aku dan dia merupakan sosok individu yang sama dari dunia paralel yang berbeda.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment