Episode 2: Tinggal di Bawah Atap yang Sama dengan Diriku yang Lain dari
Dunia Paralel
"Tunggu, tunggu,
tunggu dulu."
Bukan cuma sekali dua
kali, aku mengecek ulang rumah dan papan nama di depannya berkali-kali. Tsukino-san pun melakukan hal yang sama.
"Tsukino-san, kamu tidak
salah rumah, kan?"
"Mana mungkin seseorang
salah rumah? Walau sekarang aku jadi agak ragu... tapi ya, memang di sini
rumahku."
Kami berdua menengadah menatap
rumah satu lantai yang tampak biasa itu. Mulai dari rumah tetangga kanan-kiri
sampai rumah di seberang, ini jelas-jelas rumahku.
Aduh… harus bagaimana ini?
Agak berat rasanya untuk masuk
begitu saja ke rumah yang diakui Tsukino-san sebagai rumahnya. Namun, tempat
ini seharusnya memang rumahku. Meski begitu, kepercayaan diriku sendiri mulai
goyah.
Saat aku hampir putus asa, pintu
mendadak terbuka.
"Apa yang kalian berdua
lakukan?"
Sosok yang memunculkan kepalanya
adalah Ibu.
"Aduh. Padahal sudah memberi
kabar, tapi pulangnya telat banget."
Wajahnya agak cemberut. Berwajah
bulat dan tidak mirip denganku yang bermata galak, serta bertingkah agak
kekanak-kanakan hingga usianya tampak misterius—dialah Ibu yang sangat kukenal.
"Tsukino-chan juga, laaama
banget. Walau pergi bareng Asahi sih… anak ini kan kadang tidak bisa
diandalkan. Karena kami menampung putri tunggal yang berharga di rumah ini,
kamu harus hati-hati ya."
Ibu menasihati Tsukino-san sambil
tersenyum ramah.
"Makanannya mau Ibu
hangatkan, jadi cepat masuk."
Setelah mengatakan itu, Ibu
kembali masuk ke dalam.
Kami berdua bungkam, tetapi aku
tahu kami sedang berusaha merapikan pikiran masing-masing. Dengan rasa ragu,
aku membuka suara.
"Ini rumahku… kan? Rasanya
begitu."
"Dari omongan barusan,
artinya aku dititipkan di rumah ini?"
Aku menyadari kalau gestur kami
saat melipat tangan dan berpikir ternyata sama persis.
"Aku mau tanya dulu.
Tsukino-san, apa ada alasan tertentu sampai kamu berencana tinggal bareng di
rumahku mulai hari ini?"
"Aku tidak ingat ada rencana
seperti itu..."
Tentu saja, aku pun tidak pernah
mendengarnya.
Jika ini lelucon Ibu, rasanya
terlalu mendadak. Beliau
juga bukan tipe orang yang punya selera humor seperti itu.
Bagaimanapun, sudah dipastikan
ini adalah rumahku, jadi setidaknya aku bisa masuk. Namun, aku tidak bisa
membiarkan Tsukino-san yang masih kebingungan dengan ucapan Ibu begitu saja.
"Untuk sementara, mau masuk
ke rumahku dulu?"
Aku mengucapkan kalimat yang
biasanya tak mungkin kukatakan pada seorang gadis. Mau bagaimana lagi. Jika Ibu
melontarkan lelucon tidak lucu ini, maka yang bersalah adalah Ibu.
"Kalau begitu... mmm,
permisi... ya?"
Tsukino-san menurunkan alisnya
dengan cemas. Tatapannya yang tajam kini berubah menjadi lirikan mendongak yang
tampak begitu rapuh.
Untuk ukuran anak perempuan,
tubuhnya tergolong tinggi, tetapi dia tetap sedikit lebih pendek dariku. Aku
baru menyadari hal itu sekarang.
***
Tsukino-san, gadis yang baru
kukenal dua jam lalu, kini berada di kamarku.
Aku sempat memikirkan hal itu
saat melihatnya duduk bersimpuh di kamarku yang sangat biasa—dilengkapi meja,
rak buku, dan tempat tidur—tetapi kenyataan tetaplah kenyataan.
"Ah, maaf. Harusnya aku
ambilkan bantal alas duduk."
"Eh, tidak usah. Tidak perlu repot-repot."
Tsukino-san mengedarkan
pandangannya ke sekeliling. Aku jadi cemas kalau-kalau ada barang aneh yang
berserakan. Begitu menyadarinya, aku langsung merasa gugup.
Namun, masalah kami saat ini jauh
lebih besar dari itu.
"Tadi aku sempat bicara
pelan-pelan sama Ibu."
Aku menyelipkannya secara alami
saat Ibu menyiapkan makan malam. Tingkat kesulitannya cukup tinggi.
"Katanya, Tsukino-san itu
anak dari sahabat Ayah. Karena urusan pekerjaan keluarga, kamu dititipkan di
rumah kami untuk sementara waktu."
"Itu sih... seperti cerita Blue Box ya."
"Memang mirip, tapi kita tidak punya ingatan pernah mengalami alur Blue
Box seperti itu, kan?"
"Iya. Soalnya, setahuku, tempat tinggalku ya rumah ini. Hmmm..."
Tsukino-san mengerang pelan
sambil memiringkan kepalanya.
Dia berdiri, lalu kembali
mengedarkan pandangan dan berjalan mengitari kamar.
"Kamarku ternyata kamar
Asahi-kun."
"Maksudmu,
barang-barang di dalamnya sama?"
"Bukan. Tata letak
ruangannya. Memang posisi furniturnya mirip dan barang-barang di sini juga
sangat serupa… malah rasanya hampir persis sama. Tapi tetap ada detail kecil
yang berbeda. Eh?"
Dengan mata membelalak,
Tsukino-san mengulurkan tangan ke rak buku.
"Buku ini! Ini
penyebab fetish bad ending-ku!"
Aku tidak mungkin salah
mengenali buku berpenampilan sederhana yang ditariknya.
"Ah, maaf, asal
ambil. Ini antologi klub sastra, kan?"
"Antologi SMA
Himurokigaoka. Ini terbitan lama, aku mendapatkannya saat datang ke festival
budaya waktu SMP."
"Aku juga! Novel berjudul Morning of Departure di buku ini luar
biasa banget. Cerita tentang dunia fantasi di ambang kehancuran, dan perjuangan
raja muda serta permaisurinya untuk mencegah hal itu. Demi anak tercinta,
mereka melintasi dunia yang runtuh."
"Betul! Dunianya memang putus asa, tapi karakternya ceria dan alurnya
cepat. Situasinya memperlihatkan dunia yang terkikis sedikit demi sedikit, tapi
karena mereka berdua selalu positif dan berhasil melewati ujian dengan lancar,
kita jadi merasa semuanya bakal baik-baik saja."
"Tapi kenyataannya tidak
semulus itu. Demi menyelamatkan nyawa bawahan, mereka gagal di ujian terakhir,
dan sejak saat itu kehancuran malah makin cepat."
"Raja dan permaisurinya
tidak menyerah. Mereka tetap ceria dan positif. Itu perlawanan terakhir mereka
terhadap kepunahan. Namun, rakyat yang diselamatkan justru tidak memaafkan
kegagalan itu. Di tengah ketakutan akan kehancuran dan kegilaan yang lahir
darinya, tangan-tangan warga mulai mendekati mereka. Bahkan bawahan yang susah
payah diselamatkan pun tewas di tengah kekacauan itu."
"Di akhir cerita, dengan
menyisakan sedikit harapan, mereka berhasil meloloskan anaknya ke luar dunia.
Tapi orang-orang yang memberontak menangkap mereka berdua dan menyiksanya tanpa
belas kasihan."
Tsukino membalik-balik halaman
antologi tersebut.
"Adegan ini luar biasa
banget. Penggambaran kekerasan terhadap mereka begitu intens dan detail, sampai
terasa tidak perlu separah itu. Aku sampai trauma."
"Karena membacanya waktu
SMP, aku bahkan tidak bisa tidur nyenyak selama tiga hari."
"Tapi," lanjut
Tsukino-san. Kalimat yang sama juga terlintas di benakku.
"Melihat bad ending seperti itu justru membuatku terpukau.
Sampai-sampai aku masuk klub sastra Himurokigaoka."
"...Aku juga anggota klub sastra Himurokigaoka."
Tsukino-san tampak terkejut, walau reaksinya seolah sudah menduga hal itu.
Aku pun sama.
"Asahi-kun menulis novel di klub?"
"Di antara anggota lain, aku termasuk yang paling banyak menulis."
"Kalian sering bedah
karya sampai debat?"
"Sering banget,
sering banget."
"...Tapi Asahi-kun
tidak pernah melihatku di klub maupun di sekolah, kan?"
"Aku sama sekali tidak
pernah melihat Tsukino-san. Padahal aku nyaris setiap hari ke ruang klub."
Kami terdiam di depan
buku antologi itu. Sebagai sebuah dugaan, sebuah jawaban yang tak masuk akal
mulai muncul.
"Asahi!
Tsukino-chan!"
Pintu mendadak dibuka secara
kasar, membuat kami melonjak kaget.
Saat menoleh, Ibu kembali
memasang wajah cemberut.
"Kenapa berdua di kamar
sempit begini? Kamar Tsukino-chan kan lebih luas."
Ibu menunjuk ke kamar
sebelah.
"Makan malamnya keburu
dingin, cepat makan ya. Masih
harus beres-beres dan mandi juga."
Setelah mengomel, Ibu turun
kembali ke lantai satu.
Aku dan Tsukino-san saling
bertatapan.
"Aku punya kamar
sendiri?"
Kami keluar ke lorong dan membuka
pintu kamar sebelah—yang seharusnya adalah ruang penyimpanan barang.
Saat lampu dinyalakan, tempat itu
bukan lagi ruangan yang kukenal.
Kardus-kardus yang menumpuk
sembarangan dan alat kebersihan yang jarang dipakai sudah lenyap. Lantai kayu
yang baru dilapisi wax berkilau memantulkan cahaya lampu.
Meja, tempat tidur, lemari kecil,
dan rak tersusun rapi. Perabotan di sana pas sekali untuk kamar seseorang yang
menumpang sementara.
Secara logis, jika menganggap Ibu
sedang menjahili kami dengan trik besar-besaran, maka selama aku di sekolah,
Ibu harus membereskan gudang, membersihkannya, melapisi lantai dengan wax,
lalu mengangkut perabotan baru. Mana mungkin sempat.
Tsukino-san membuka lemari
pakaian dengan ragu.
"Ada piyama yang ukurannya
pas buatku. Barang
lain juga... ah, lengkap."
Berdiri di ruangan asing
sambil memegang piyama biru muda pucat, penampilannya terlihat sangat alami.
"Asahi-kun, aku mau tanya
sesuatu."
"Aku juga. Kurasa kita
memikirkan hal yang sama."
Kami mengangguk bersamaan.
"Maaf kalau melanggar
privasi… tapi boleh aku tanya-tanya soal masa SD dan SMP-mu?"
"Boleh saja. Aku juga ingin
menanyakan hal yang sama."
Mulai dari nama wali kelas,
kenangan dari wisata, buku, anime, dan film favorit, insiden gagah berani
Kobayashi-kun, hingga soal klub sastra SMA.
"Kamu pakai nama pena di
klub sastra?"
"Mikagami Owari."
"Aku juga pakai nama itu!
Kusematkan makna bad ending di dalamnya."
Kami saling menyebutkannya, lalu
saling mengangguk seraya berseru, "Ah, iya!" dan "Sama
banget!"
"Siapa organisasi musuh favoritmu di Precure?"
"Kerajaan Bad Ending! Waktu aku dengar namanya, aku langsung menonton
semua episodenya via streaming, tapi ternyata ujung-ujungnya happy
ending."
"Kalau dipikir-pikir lagi, ya iyalah ya."
Meskipun ada perbedaan kecil, hampir semua kejadian tersebut dialami oleh
kami berdua. Bahkan hal-hal yang tidak mungkin dialami jika kami tidak berada
di kelas yang sama atau tinggal di rumah yang sama.
"Kalau begitu, siapa cinta
pertama Asahi-kun?"
"Guru TK… eh, perlu banget
dibahas?"
"Jujur aku tanya karena
terbawa suasana. Maaf... Aku juga mau mengaku kalau cinta pertamaku adalah guru
TK. Aku hampir tidak ingat wajahnya, tapi dia kelihatan keren dan
jenjang."
"Tidak perlu dijelaskan
sejauh itu juga. Tapi aku juga ingat guruku dulu kelihatan keren dan
jenjang."
Topik ini membuat suasana jadi
aneh. Kami jadi canggung karena saling mencuri pandang.
Lagipula, Tsukino-san sendiri kan
juga kelihatan keren dan jenjang…
"Mari kembali ke topik
utama." Kita kembalikan topiknya, ya."
Wajahku dan Tsukino-san sama-sama
merona, tapi kami buru-buru mengalihkan pembicaraan.
"Golongan darahku A."
"Eh? Aku B."
"Ternyata ada perbedaannya
juga. Yah, secara alami memang harusnya begitu."
"Perbedaan ya... Anuu,
Asahi-kun."
Tsukino-san memulai pembicaraan
dengan ragu.
"Tadi aku sempat melihat ayahmu...
Tapi mereka berdua sangat mirip dengan ayah dan ibuku."
"Aku tahu itu." Aku
memang sudah bisa menebaknya.
"Tapi jenis kelaminnya
terbalik."
Itu di luar dugaan.
"Eh? Ibu yang usianya
misterius berwajah lembut, dan Ayah yang bermata galak... itu ditukar?"
"Iya, betul sekali. Ibuku
bermata galak, sedangkan Ayahku yang berusia misterius."
Kami berusaha menerima situasi
yang tak masuk akal ini apa adanya.
"Rasanya pikiran kita
benar-benar terpengaruh oleh film tadi."
"Aku juga berpikir
begitu."
"Jangan-jangan kita adalah
sosok yang sama dari dunia paralel." Jangan-jangan kita adalah sosok yang
sama dari dunia paralel."
Kalimat itu terucap berbarengan.
Dunia paralel konon ada tak
terhingga jumlahnya. Ada dunia yang berjalan dengan hukum alam yang berbeda,
ada pula dunia yang menempuh jalan sejarah hampir serupa dengan duniaku.
Singkatnya, sangat mungkin ada dunia yang menyerupai dunia ini beserta
orang-orang yang mirip. Selain itu, ada juga dunia yang hampir sama, tetapi
memiliki sedikit perbedaan di sana-sini.
Contohnya, sosok yang sama dengan
Masumi Asahi tetapi memiliki jenis kelamin berbeda.
Aku pernah membaca cerita seperti
itu di buku, dan film Infinity Heaven juga menyebutkan hal yang sama.
Meski sempat berpikir "Mana
mungkin ada hal konyol seperti itu", saat ini justru jauh lebih sulit
untuk membantahnya.
Namun—
"Asahi! Tsukino-chan! Cepat
makan malam!"
Ibu memanggil dengan nada yang
benar-benar serius, membuat kami berdua terperanjat kaget.
"Itu nada sebelum beliau
beneran ngamuk." / "Itu nada sebelum beliau benar-benar marah."
Meskipun ini momen penting, kami
sepakat kalau menunda makan malam adalah ide buruk. Pola tindakan Ibu ternyata
bisa kami pahami dengan cara yang sama persis.
***
Makan malam dan mandi sudah
selesai. Sebenarnya ini bukan saatnya santai-santai, tetapi makan malamnya
tetap enak seperti biasa, dan berkat berpikir jernih di kamar mandi, rasanya
aku jadi bisa merapikan situasi yang terjadi.
Setelah mandi, tempat kami
berkumpul kembali—aku dan Tsukino-san—adalah kamarku.
Aku duduk di atas tempat tidur,
sedangkan Tsukino-san duduk di kursiku.
Tsukino-san memakai piyama yang
tadi. Warna biru mudanya tampak sangat cocok dengan rambut hitam panjangnya.
Rambutnya yang dikeringkan
sehabis mandi itu masih terasa lembap dan berkilau. Kesan di sekitar matanya
yang terasa sedikit lebih lembut daripada sebelumnya mungkin karena dia sudah
menghapus riasannya.
Saat sadar kalau kaki
telanjangnya mengintip dari balik ujung celana piyama, tanpa sadar aku
memalingkan wajah. Padahal tidak ada hal yang perlu disembunyikan atau
membuatku merasa bersalah.
Padahal ini kamarku sendiri, tapi
mendadak ada wangi sampo yang tak pernah terasa di sini sebelumnya. Rasanya aku
tidak boleh terlalu memikirkan hal itu. Ini juga sebenarnya bukan hal yang
salah sih.
"Maaf ya, aku mandinya agak
lama."
"Ah, tidak apa-apa
kok."
Aku kembali tersadar dari
lamunan, tetapi gagal memberikan jawaban yang terdengar keren.
"Terus begini, aku coba
merapikan pikiranku…"
Setelah sempat hening sejenak,
Tsukino-san mulai angkat bicara, walau nadanya terdengar ragu-ragu. Aku
ragu-ragu bisa memahami perasaannya.
"Aku merasa konsep dunia
paralel itu tidak masuk akal. Kita cuma terlalu terpengaruh oleh film.
Tapi..."
"Tapi, itu yang terasa
paling masuk akal sekarang, kan?"
Saat Tsukino-san mengangguk,
rambut hitamnya mengusap bagian dada piyamanya.
"Iya. Di tempat yang
seharusnya ada rumahku, justru berdiri rumah Asahi-kun yang bentuknya hampir
persis sama. Kalau diingat-ingat dari obrolan kita, perjalanan hidupku dan
Asahi-kun punya alur yang sangat mirip. Hubungan keluarga juga cukup dekat
walau ada sedikit perbedaan. Sekolah dan klub kita sama, tapi kita tidak pernah
bertemu di sekolah."
Tsukino-san meletakkan tangan di
bibirnya sambil berpikir. "Walau terdengar sangat tidak masuk akal,"
ucapnya memberi pengantar sebelum melanjutkan.
"Kurasa yang paling masuk
akal adalah: ini adalah duniamu, Asahi-kun, dan aku yang tinggal di dunia
paralel mendadak tersesat ke sini."
"Aku cuma mau tanya, apa
kamu punya hipotesis lain?"
"Orang tuamu sedang
berbohong dan aku diajak bekerja sama oleh mereka. Targetnya adalah momen saat
Asahi-kun menonton film bad ending. Kamu kena jebakan!"
"Memang terasa lebih
realistis, tapi tidak ada gunanya sama sekali, lagipula tingkat kesulitan dan
biayanya terlalu tinggi."
"Bagaimana kalau karena
suatu alasan, semua ini cuma ilusi yang sedang kamu lihat, Asahi-kun?"
"Itu sih terlalu serbabisa,
dan kalau begitu jadinya, memikirkannya pun tidak akan ada gunanya."
"Kalau di manga atau novel,
ini jenis alur 'ternyata cuma mimpi' yang bikin pembaca berhak marah ya."
Kami berdua melipat tangan dan
berpikir keras, tetapi pada akhirnya, hipotesis dunia paralel tetap terasa
sebagai pilihan yang paling mendingan.
"Sebenarnya..."
Tsukino-san mengambil ponsel perak yang tergeletak di meja. Aku memakai ponsel
dari merek yang sama tetapi berwarna deep blue. Padahal ini ponsel
Android yang agak kurang populer, tapi pilihan kami bisa pas.
"Waktu Asahi-kun
lagi mandi, aku mencoba menelepon dan mengirim pesan LINE ke keluargaku."
"Begitu ya. Kalau
bisa terhubung ke sana, kita bisa mengonfirmasi secara objektif soal apa yang
sebenarnya terjadi. Eh, tapi..."
Jika teleponnya
tersambung, dia pasti sudah membicarakan hal itu sejak awal.
"Iya. Seperti yang
kamu duga, keduanya tidak bisa dihubungi. Nomor maupun akun mereka tidak
terdaftar. Tapi sinyalnya tetap ada."
Saat dia memperlihatkan
layarnya, memang benar sinyal ponselnya terhubung. Tampaknya paket data dan
akun pribadinya masih aktif.
"Apa ponselnya
rusak?"
"Soal itu harus kita
coba lebih lanjut. Boleh minta nomor teleponmu?"
"A-ah, iya."
Hal yang tadi di depan rumah harus kuberanikan diri setengah mati untuk
melakukannya, kini justru terwujud begitu saja tanpa disengaja.
Tsukino-san bangkit berdiri lalu berjalan mendekat ke arahku yang sedang
duduk di tempat tidur. Saat dia membungkukkan badan dan menyodorkan layar
ponsel berisi nomornya ke depan mataku, helai rambut hitamnya yang terurai
mengusap lututku. Aroma wangi sehabis mandi mendadak menyebar lembut di udara.
"Ah," desah Tsukino-san pelan.
"Ada apa?"
"E-eh, anuu..."
Mata Tsukino-san bergerak
gelisah. Pipinya yang hangat dan merona sehabis mandi tampak sedikit lebih
merah daripada sebelumnya.
"Soal luar klub sastra… ini
pertama kalinya aku tukaran nomor telepon dengan seorang cowok, jadi terasa
malu dalam berbagai arti. ...Jangan ditanya-tanya dong!"
"M-maaf. Soalnya, ini juga
pertama kalinya buatku..."
Tukaran nomor kontak
dengan cara begini terasa agak berbeda dibandingkan dengan saat tukaran untuk
urusan klub. Atau lebih tepatnya, karena dia mengucapkannya secara gamblang,
aku justru jadi makin kepikiran.
Pertama kalinya, ya. Padahal dia
secantik ini… pikirku.
"Aduh, pokoknya cepat
telepon!"
Raut cemberutnya yang tidak cocok
dengan wajah dewasanya itu justru terlihat sangat manis. Sambil memikirkan hal
itu, aku menuruti perintahnya dan menekan tombol panggil.
"Halo," suara
sahutannya terdengar tepat di dekat telingaku. Suara Tsukino-san yang terdengar
dari ponsel dan suara Tsukino-san yang keluar langsung dari tenggorokannya
bersahutan menjadi satu.
"Ternyata tersambung normal
ya."
Saat dia mematikan telepon dan
berjalan kembali ke kursi, aku baru sadar kalau sejak tadi aku hampir menahan
napas. Rasanya seperti berdosa kalau menghirup aroma wangi di dekatnya terlalu
banyak.
Sementara aku berusaha keras
mengembalikan ketenangan diri, Tsukino-san mengotak-atik ponselnya sedikit
lagi. Aku juga mengecek ponselku sendiri, tetapi terasa sekali kalau kami
berdua cuma sedang berpura-pura untuk menutupi rasa canggung dari interaksi tadi.
Bagaimanapun, ponsel Tsukino-san tidak
bisa menghubungi kontak yang terdaftar, tetapi fungsi lainnya bisa dipakai
secara normal.
"Game ponselku juga bisa
dimainkan. Walau rasanya aneh karena hampir semua aplikasi bisa berjalan
normal, keanehan ini mirip dengan keberadaan kamarku yang tiba-tiba ada di
rumahmu."
"Kondisimu yang mendadak
jadi 'anak sahabat Ayah' juga sama. Kamu punya pemikiran soal alasan di balik
logika ini?"
"...Dari sudut pandangku,
ada satu jawaban yang sama sekali tidak meyakinkan. Kalau menurutmu bagaimana,
Asahi-kun?"
"Ini mungkin terlalu
membawa-bawa film Infinity Heaven lagi sih. Di film kan ada adegan di
mana saat ada keberadaan anomali yang muncul, 'dunia' akan melakukan
penyesuaian secara otomatis. Untuk sementara, aku memikirkannya lewat logika
itu."
"Ternyata jalan pikiran kita
sama lagi ya. Tapi mungkin ini karena kita menonton film yang sama sih."
Di dalam film tersebut, saat sang
tokoh utama berpindah ke dunia lain, ada adegan di mana dia diperlakukan
seolah-olah sudah ada di dunia itu sejak awal. Misalnya, menjadi saudara dari
seseorang di dunia tersebut, atau kalau di dunia fantasi, dia sudah terdaftar
sebagai seorang petualang.
"Teori dunia paralel maupun
teori penyesuaian dunia ini tidak akan bisa dipastikan sebelum kita mencari
tahu situasinya lebih lanjut."
"Benar juga. Tapi yang
pasti, tempat ini jelas berbeda dari tempat asalku."
Tsukino-san melirik ke arah
lemari pakaian. Di sana tergantung jas seragam sekolahku.
"Besok, boleh aku ikut pergi
ke sekolahmu?"
"Maksudmu untuk mencari tahu
bagaimana keberadaanmu diperlakukan di sekolah?"
"Betul sekali. Kalau cuma respon
dari keluarga kan masih ada kemungkinan kalian semua kompak membohongiku, jadi
aku mau melihat respon orang lain dan lingkungan sosial juga."
"Benar juga. Kita harus
mencari petunjuk."
Aku tidak tahu apakah Tsukino-san
benar-benar datang dari dunia paralel atau bukan. Secara realistis, hal seperti
itu mustahil terjadi. Namun, sosoknya benar-benar terlalu mirip denganku.
"Dan... kalau tempat ini
memang benar-benar dunia paralel, mari kita cari cara agar kamu bisa kembali,
Tsukino-san."
Mata tajamnya membelalak sejenak,
lalu perlahan menyempit kembali.
"Terima kasih ya,
Asahi-kun."
"Ah, tidak..."
Aku tidak tahu harus
merespon bagaimana.
Saat kami mendadak
bungkam, aku jadi makin sadar akan penampilan Tsukino-san yang mengenakan
piyama serta aroma wangi yang tercium darinya.
Sambil tetap duduk,
Tsukino-san menautkan kedua tangannya dan mengayunkan kakinya dengan gelisah.
Padahal sudah cukup lama berlalu sejak keluar dari kamar mandi, tetapi rona
merah di pipinya tak kunjung pudar.
"Anu... kalau
dipikir-pikir lagi, pakai piyama begini bikin agak malu ya."
Tsukino-san menyilangkan
tangannya seolah sedang memeluk dirinya sendiri. Gestur tubuhnya yang seolah
berusaha menyembunyikan diri, ditambah dengan tatapan matanya yang sedikit
berkaca-kaca, justru makin menonjolkan kesan manis pada dirinya.
Tiba-tiba Tsukino-san terkekeh
pelan.
"Asahi-kun juga melakukan
hal yang sama."
Saat mengikuti arah pandangnya,
tanpa sadar aku juga sedang dalam posisi memeluk diri sendiri. Lebih tepatnya,
seperti bersedekap, tetapi memberikan kesan gadis pemalu. Sama sekali tidak ada
manis-manisnya.
"Karena kita adalah sosok
yang sama dari dunia paralel, mungkin cara berpikir kita juga mirip."
Entah ini hanya alasan untuk
menutupi rasa canggung atau murni perasaan jujurku, aku sendiri tidak tahu.
Namun, aku bisa merasakan desiran hangat menjalar di sepanjang tulang
belakangku.
Tanpa sadar kami berdua saling
memalingkan pandangan.
Lalu bagaimana rencana kami saat
pergi ke sekolah besok?
***
Setelah momen itu, walau sempat
melenceng ke berbagai obrolan lain, kami menyisir kamar Tsukino-san dan
mendiskusikan alur rencananya secara mendetail. Hasilnya, kami memutuskan untuk
mencoba pergi ke sekolah secara normal seperti biasa.
Karena kami pulang sudah cukup
larut, saat diskusi selesai, jam sudah menunjukkan lewat pukul satu pagi. Sudah
saatnya tidur, jadi aku kembali ke kamarku dan menyusup ke dalam selimut.
Sepulang sekolah tadi, aku
menonton film, lalu dilanjutkan dengan rentetan kejadian yang benar-benar tidak
masuk akal. Tubuhku seharusnya sangat lelah.
"Aduh. Tapi sama sekali
tidak mengantuk nih."
Rasa lelah tak ada pengaruhnya,
mataku masih segar bugar.
Sampai beberapa saat lalu aku
masih berada di kamar Tsukino-san. Melihatnya memakai piyama membuatku gugup,
lagipula penampilan luar Tsukino-san benar-benar sesuai dengan selera
kesukaanku. Meskipun benar bahwa kami adalah sosok yang sama, mustahil bagiku
untuk tidak menyadari keberadaan seorang gadis yang tinggal di rumah yang sama.
Kalau dipikir-pikir... aku
membalikkan badan. Di
hadapanku ada dinding kamar. Hanya terhalang oleh satu dinding, ada tempat
tidur milik Tsukino-san di sebelah.
Apakah Tsukino-san sudah
tidur? Atau dia juga sedang terbaring gelisah, atau lebih tepatnya, matanya
masih segar bugar sama sepertiku?
"Pasti... tidak sama
ya."
Baik ini benar dunia
paralel atau bukan, kenyataan bahwa Tsukino-san tersesat di dunia ini adalah
fakta yang pasti jika mempercayai cerita yang dikatakannya.
Dia memang tidak mengatakan
apa-apa, tetapi dia pasti merasa cemas.
Kalau aku jadi dia, aku pasti
tidak akan bisa tidur.
Tok, tok, tok. Tiba-tiba terdengar suara. Suara
itu berasal dari balik dinding.
Saat aku merasa heran,
sekali lagi dengan tempo yang sama, tok, tok, tok, dinding itu berbunyi.
Tsukino-san sedang
mengetuk dinding.
"Ah, begitu
ya."
Aku mengepalkan tangan,
lalu melakukan hal yang sama, mengetuk dinding.
Tok, tok, tok.
"Fufu."
Suara terkekeh
Tsukino-san terdengar samar menembus dinding.
Bunyi tiga ketukan
dinding beserta ketukannya itu sama persis dengan saat sang tokoh utama dan
pahlawan wanita membenturkan kepalan tangan di film Infinity Heaven. Itu
adalah adegan fist bump yang juga kulakukan bersama Tsukino-san di
bioskop tadi.
"Asahi-kun, tidak bisa
tidur?"
"Iya. Terlalu banyak
hal yang bikin kaget."
Aku menyembunyikan
kenyataan bahwa aku sebenarnya sangat sadar akan keberadaannya di balik
dinding.
"Aku juga tidak bisa
tidur. Habisnya, banyak hal yang terlalu tidak masuk akal. Aku sampai tidak tahu harus
bagaimana."
Tentu saja begitu.
"Tapi ya... Asahi-kun tadi
bilang mau membantuku mencari cara untuk pulang, kan?"
"Soal itu, ya... tentu
saja."
Meskipun dinding meredam suara,
gesekan kain pakaian tetap terdengar samar. Karena ruangan itu dulunya cuma
gudang penyimpanan, aku tidak pernah memikirkan betapa tipisnya dinding pemisah
ini.
"Makanya, aku jadi
sedikit merasa tenang... dan mendadak agak mengantuk."
Di balik nadanya yang
terkesan bercanda, terdengar samar suara menguap tipis.
"Ngomong-ngomong,
aku baru kepikiran sesuatu."
Kalimatnya terhenti di sana. Aku
menunggu kelanjutan perkataannya.
Namun tak kunjung terdengar.
"Tsukino-san?"
"A-ah… kikirain kamu sudah tidur."
Nandanya terdengar agak panik, seperti sedang berusaha menutupi sesuatu.
"Aku punya usulan. Bukannya mau membesar-besarkan masalah sih, tapi...
emm, gimana ya. Kalau kita memang
sosok yang sama, memanggil 'Asahi-kun' atau 'Tsukino-san' itu terasa terlalu
kaku, tidak sih?"
"Masa sih? Yah, mungkin
juga."
Padahal kalau menurut standarku,
memanggil nama depan bukannya nama marga di hari pertama bertemu saja sudah
merupakan pemangkasan jarak yang luar biasa cepat.
"Boleh aku memanggilmu
'Asahi' saja? Kamu juga boleh panggil aku 'Tsukino'."
Hanya dengan dipanggil
"Asahi", jantungku langsung berdegup kencang.
"B-boleh. Begitu saja."
Aku berusaha merespon setenang
mungkin, tapi rasanya suaraku sempat meninggi.
Suasana hening sejenak.
Keheningan di balik dinding seolah menyampaikan bahwa dia sedang menunggu
kata-kataku berikutnya.
Kalau dia adalah sosok yang sama
dari dunia paralel, bagaimana dia memikirkannya? Entahlah, aku tidak tahu. Apa
yang terlintas di benakku sekarang mungkin cuma fantasi belaka. Padahal kalau
soal teori bad ending, aku bisa bicara sepanjang hari.
"Tsukino."
Aku memaksakan kata itu keluar.
"Emm. Asahi."
Suaranya langsung menyahut
seketika.
Setelah itu, terdengar bisikan
tawa kecil yang bocor dari sana.
"Jadi malu ya."
"T-tidak terbiasa
saja."
Mulai sekarang harus membiasakan
diri? Apa aku bisa melakukan hal seperti itu? Aku sama sekali tidak tahu.
Lagipula, merasa gugup hanya
karena memanggil nama depan dari sosok yang merupakan diriku sendiri itu
rasanya agak aneh. Dia kan seharusnya adalah aku. Namun di saat yang sama,
jenis kelaminnya berbeda, dan penampilannya secara gawat sangat sesuai dengan
selera kesukaanku.
Haruskah aku memandangnya sebagai
diriku sendiri, atau memandangnya sebagai seorang gadis? Pikiran aneh-aneh
mulai merasukiku. Aku menggelengkan kepala berusaha mengusirnya, tetapi sekali
kepikiran, hal itu makin sulit dihilangkan.
Beberapa menit berlalu setelah
itu, atau mungkin terasa lebih lama.
Hanya terdengar suara gerakan
gelisah di dalam kamar yang gelap. Bersatu dengan suara dari kamar sebelah,
sampai-sampai aku tidak tahu suara mana yang dibuat oleh siapa.
"Selamat tidur, Asahi."
"Selamat tidur,
Tsukino."
Kami akhirnya saling mengucapkan
selamat malam.
Wajah dan tubuhku terasa panas.
Meski sudah menyingkap selimut, rasanya tetap saja panas. Padahal baru akhir
bulan Mei, tapi cuaca terasa sangat menyengat.
Aku pelan-pelan bangkit dan
membuka jendela, dan dari kamar sebelah terdengar bunyi jendela dibuka di saat
yang bersamaan.
Berlatarkan langit malam,
rambutnya yang bahkan lebih pekat dari kegelapan melambai tertiup angin.
Aku dan gadis yang memunculkan
wajahnya di luar jendela itu saling melempar senyum canggung.
Rasa kantukku kini benar-benar
telah sirna tanpa sisa.


Post a Comment