Episode 3: Meskipun Dia Diriku yang Lain dari Dunia Paralel, Berangkat
Sekolah Bareng Tetap Bikin Grogi
Begitu bangun tidur, hal
pertama yang kubakukan adalah mencuci muka.
Kemarin malam aku sama
sekali tidak bisa tidur, walau kurasa aku sempat kehilangan kesadaran sebentar
sebelum langit di luar mulai terang.
Bagaimanapun juga, kelopak mataku
terasa amat berat dan tubuhku terasa layu.
Saat melangkah ke area wastafel
yang menyatu dengan kamar mandi, Tsukino sa... Tsukino sudah berada di sana.
Sepertinya dia baru saja selesai mencuci muka dan sedang menyapu wajahnya
dengan handuk. Rambut panjangnya agak berantakan dan sedikit mencuat karena
bekas tidur.
Tatapannya yang mengarah padaku
kali ini terlihat samar dan linglung—berbeda dari tatapan tajam sedingin es
saat pertama kali kami bertatap muka, maupun sepasang mata yang menyempit manis
saat dia tertawa.
Kesan itu membuatnya tampak
polos, bahkan terasa sedikit kekanak-kanakan. Bagian kerah bajunya yang basah
terkena usapan air mencuci muka tampak agak berantakan, menyisakan kesan yang
sedikit rawan. Itu adalah sisi lain dari Tsukino yang belum pernah kulihat
sebelumnya.
"Selamat pagi. Asahi-ku...
Asahi."
"Selamat pagi.
Tsukino."
Suaraku sempat sedikit melengking
tinggi. Aku masih belum terbiasa.
"Tsukino ternyata tipe yang
mencuci muka dulu sebelum sarapan, ya?"
"Emm. Sampai kebiasaan kecil
begini pun kita sama ya."
Ujung bibirnya mengukir
senyum tipis. Suaranya yang masih diselimuti rasa kantuk terdengar sedikit
serak-serak manja dari hidungnya.
Kemudian Tsukino berkedip
beberapa kali, lalu menatapku lekat-lekat. Sisa-sisa rasa kantuk di matanya
perlahan sirna, berganti dengan sepasang mata yang membelalak lebar.
Aku pun akhirnya menyadari
situasi kami saat ini.
"...Dilihat orang lain saat
baru bangun tidur begini, ternyata malu banget ya."
Tsukino buru-buru menekan bagian
rambutnya yang sedikit mencuat bekas tidur.
"Maaf. Aku tunggu di kamar
saja."
Aku sendiri sampai merasa ragu
bahkan hanya untuk mengembuskan napas. Tampilan sesaat setelah bangun tidur
begini memang bikin salah tingkat dalam banyak hal.
"Maaf ya," ucap Tsukino
sambil menangkupkan kedua tangannya. Aku membalikkan badan membelakanginya,
berpikir kalau mulai besok aku harus sedikit mengatur ulang rutinitas pagiku...
lalu melangkah kembali ke lantai dua.
***
Saat sarapan, Tsukino sudah
mengenakan seragam sekolah dengan sangat rapi.
Rambut panjangnya tak lagi
berantakan atau mencuat bekas tidur, bahkan kemeja putihnya tidak menunjukkan
kerutan sedikit pun.
Aku sendiri termasuk tipe yang
sudah selesai berganti pakaian sebelum sarapan, tetapi jika dibandingkan dengan
Tsukino yang seharusnya merupakan sosok yang sama denganku, penampilanku terasa
terlalu biasa. Walau kurasa aku sudah merapikan rambut bekas tidurku dengan
benar sih.
Di keluarga Masumi, sudah menjadi
kebiasaan untuk makan pagi bersama seluruh anggota keluarga. Ibu dan Ayah duduk
di meja makan setelah menyelesaikan hampir semua persiapan untuk berangkat
kerja.
"Tsukino-san."
Ayah yang membuka suara terlebih dahulu. Tatapan matanya yang terkesan galak
terasa menurun cukup kuat padaku, tetapi mungkin terlihat cocok dengan kemeja
rapinya. Aku mendadak teringat
obrolan kemarin kalau di dunia Tsukino, sosok ini bukan ayah melainkan ibu. Ah,
konyolnya.
"Sudah sekitar dua bulan
kamu tinggal di rumah kami, apa kamu sudah mulai terbiasa?"
Tsukino sempat menggerakkan
alisnya sepersekian detik, tetapi menjawab tanpa terlihat goyah.
"Iya. Rasanya seperti sudah
tinggal di sini sejak awal."
Kerlingan matanya yang terarah
padaku seolah berkata, "Sepertinya memang begitu keadaannya."
Televisi di ruang keluarga
menayangkan berita pagi. Ibu dan Ayah menikmati santapan sambil berbincang
mengenai liputan khusus dan prakiraan cuaca. Ini adalah pemandangan pagi yang
seperti biasanya.
Di tengah suasana itu, saat
mencuri pandang ke arah Tsukino, dia tampak menyempitkan mata sambil menggigit
roti panggang beroleskan selai yang melimpah.
Senyumnya yang terlihat membuncah
bahagia dari lubuk hati terdengar sebagai reaksi yang agak di luar dugaan.
Jangan-jangan dia lebih suka makan daripada aku.
Setelah itu, setiap anggota
keluarga berangkat pada waktunya masing-masing—begitulah suasana pagi di rumah
keluarga Masumi.
Setelah melepas Ibu dan Ayah
berangkat kerja, aku dan Tsukino meninggalkan rumah pada waktu yang sama.
Pertama-tama, kami menyusuri
jalan menurun, melewati terowongan, lalu menuju ke arah stasiun lewat jalan
sekolah yang biasa.
Namun, hari ini ada Tsukino di
sampingku.
Karena bertepatan dengan jam
sibuk kerja dan sekolah, jalanan di sepanjang jalan nasional dipadati
orang-orang. Ada siswa dari sekolah yang sama, siswa yang transit di stasiun
menuju sekolah lain, hingga orang dewasa yang berangkat kerja.
Di antara lalu-lalang itu,
terselip pasangan sejoli. Mereka berjalan berdampingan, dan entah apa yang
dibicarakan, mereka tampak begitu menikmati momen itu. Jarak di antara mereka
tentu saja sangat dekat.
Berapa jarak yang pas untuk
situasi begini ya...?
Begitu aku memikirkannya,
mendadak aku jadi bingung sendiri.
Kami baru saja bertemu kemarin
dan tentu saja bukan sepasang kekasih. Namun, karena kami adalah sosok yang
sama dari dunia paralel, entah kenapa jarak di antara kami terasa agak dekat.
Tsukino berada tepat di
sampingku. Tinggi badannya sedikit lebih pendek dariku, tetapi karena postur
tubuhnya sangat tegap, rasanya garis pandang kami sejajar.
Dia melangkah ringan
dengan punggung tegak lurus. Rambut hitam panjangnya berkibar, memperlihatkan
aksesori rambut berwarna hitam dan perak yang berkilau disiram cahaya pagi.
Sosoknya yang menatap lurus ke depan dengan sepasang mata jernih itu terlihat
begitu cantik, mau bagaimana lagi.
Aku hampir tidak pernah
berjalan berduaan saja dengan seorang gadis. Kalaupun sedang bersama senior di klub sastra,
biasanya ada anggota lain. Kemarin kami cuma membicarakan bad ending
sepanjang waktu, jadi aku tidak kepikiran, tetapi begitu disadari, rasanya jadi
bikin minder.
"Asahi." Suara itu
menarikku kembali ke kenyataan.
Mata Tsukino sedang memperhatikan
pasangan murid yang bergandengan tangan. Apakah dia tahu apa yang
kupikirkan? batinku sambil menahan napas.
"Menurutmu, berapa jarak
yang pas untuk situasi seperti ini?"
Dengan tatapan mata yang tetap
tenang, dia malah menanyakan hal yang hampir sama dengan apa yang kupikirkan.
Tanpa mengubah ekspresi wajahnya, tubuhnya bergeliat canggung.
"Oh. Ternyata kebingungan
kita sama ya."
"Betul. Kita memang
sosok yang sama."
Dialog itu diucapkan
dengan raut wajah yang terkesan sangat serius dan nada suara yang berat.
Setelah itu, kami berdua langsung meledak dalam tawa secara bersamaan.
Melihat wajah Tsukino
yang merekah dengan sisa warna kemerahan di pipinya membuat keteganganku ikut
luntur.
"Habisnya, aku tidak
tahu cara berangkat sekolah berduaan dengan cowok."
"Sayang sekali, aku juga
sama. Sama sekali tidak tahu."
Kami hanya bisa mengubah tawa
tadi menjadi senyum canggung. Entah ini hal baik atau buruk, ketidaksamaan kami
dalam berbagai hal ini juga terasa sangat mencerminkan sosok yang sama.
"Ngomong-ngomong,"
Tsukino angkat bicara seolah tidak terjadi apa-apa.
"Di tempat Asahi, sarapannya
juga barengan ya."
Cuma obrolan santai untuk
mengalihkan topik.
"Berarti di rumah Tsukino
juga sama?"
Karena aku juga ingin menutupi
rasa canggung, aku merespon dengan pura-pura santai.
"Walau jenis kelamin Ayah
dan Ibu tertukar sih. Tapi sarapan bareng di pagi hari itu sebenarnya agak
merepotkan, kan?"
"Kalau sehabis begadang,
paginya ingin tidur sampai batas waktu terakhir, tapi kalau tidak bangun tepat
waktu, pasti diomeli."
"Betul, betul! Ayahku cerewet banget."
"Nah, di situ kebalikannya. Kalau di rumahku, Ibu yang cerewet. ...Eh,
tapi kan mereka sosok yang sama ya."
Tampaknya kepribadian seseorang tidak mengikuti jenis kelamin, melainkan
melekat pada individu itu sendiri.
Kalau dipikir-pikir lagi, kegemaran kami berdua pada alur bad ending
juga sama.
"Satu hal lagi yang agak
merepotkan, jalanan ini juga sama persis. Jalannya banyak tanjakan, jadi bikin
capek ya. Naik sepeda juga susah."
"Soalnya, ini kota
yang dibangun dengan mengeruk bukit."
Makanya dinamai
Himurokigaoka. Karena ini adalah new town yang dikembangkan dari bukit
di sebelah utara dan selatan stasiun, mau tak mau memang banyak tanjakan dan
terowongan. SMA Himurokigaoka terletak di Himurokigaoka, Kita-machi, jadi
setelah melewati depan stasiun, kami harus menaiki tanjakan yang cukup terjal.
"Hubungan telepon di
ponselmu masih belum bisa ya?"
"Iya. Aku sudah mencoba
berkali-kali, tapi..."
Setelah mengoperasikan ponselnya
sebentar, dia memasukkannya kembali ke dalam saku.
"Sudah lewat semalam begini
pasti bikin cemas ya."
"Sedikit sih. Aku masih
belum tahu bagaimana perbandingan alur waktu antara dunia Asahi dan
duniaku."
"Hup," Tsukino
membenarkan posisi tasnya sambil berjalan.
"Tujuan kita ke sekolah kan
cuma untuk mengecek bagaimana keberadaanmu diperlakukan di sana, harusnya kamu
tidak perlu membawa tas sekalian kan? Lagipula, kita juga harus mencari cara
agar kamu bisa pulang."
"Memang benar sih, tapi
lebih baik membawa barang daripada tidak sama sekali. Lagipula soal cara pulang
pun kita belum tahu apa-apa. Beralih ke hal dasar, aku bahkan belum tahu apakah
kota ini sama dengan Himurokigaoka yang kukenal atau tidak."
"Benar juga."
"Ah, iya. Buku pelajaran
yang kubawa sekarang ini adalah buku milikku dari dunia asal, tapi di kamarku
tadi ada buku pelajaran lain juga. Asahi tidak punya dua set buku pelajaran,
kan?"
"Untuk apa menyiapkan dua
set. Apa itu penyesuaian dunia juga? Dunia ini perhatian sekali sampai mengurus
buku pelajaran segala."
Tsukino mengangkat bahunya.
Meskipun terasa mendesak, kami
membutuhkan lebih banyak informasi. Kami harus memeriksanya satu per satu.
Sembari mengobrol, kami berjalan
melewati depan stasiun. Sambil melirik orang-orang yang melangkah masuk dan
menghilang ke dalam stasiun, kami menyeberangi jalan raya berukuran besar
berupa jembatan layang di atas rel kereta.
Area depan Stasiun Himurokigaoka
adalah pusat kota ini. Pusat perbelanjaan Green Mall Himurokigaoka yang memuat
bioskop tempat kami kemarin berkunjung berada sangat dekat, dan kawasan
pertokoan di depan stasiun juga belum sepenuhnya sepi, sehingga tempat ini
terlihat lumayan terurus layaknya kawasan perkotaan.
Walau pada kenyataannya, butuh
waktu hampir satu jam untuk pergi ke pusat kota.
Begitu mendekati area utara kota,
sebagian besar orang yang berjalan di sekitar sini adalah murid SMA
Himurokigaoka. Tanjakan dari titik ini cukup menyiksa, dan karena ini sudah
akhir Mei, udara terasa panas begitu angin berhenti berembus.
Tsukino menaiki tanjakan dengan
langkah ringan, jadi aku berusaha setengah mati untuk menyejajarkan langkah
bersamanya.
”Padahal seharusnya ini sekolah
yang sama, tapi aku agak tidak sabar menantikannya.”
”Kalau buatku sih tidak ada
bedanya.”
Namun, karena hari ini ada
Tsukino di sisiku, pemandangan ini jelas terasa berbeda dari biasanya.
Tak lama kemudian, gedung SMA
Himurokigaoka mulai terlihat. Meskipun sekolah ini dibangun setelah pembangunan
new town, fakta bahwa ini adalah SMA negeri membuat gedung sekolahnya
tampak mulai dimakan usia.
Di depan pintu gerbang tempat
para siswa berbondong-bondong masuk, Tsukino menghentikan langkahnya.
Meskipun aku berdiri sedikit di
belakangnya dan tidak bisa melihat wajahnya dari balik punggungnya, aku bisa
paham apa yang sedang dipikirkannya.
”Katanya tadi tidak sabar?”
”Aku baru kepikiran, bagaimana
kalau aku dituduh sebagai orang mencurigakan yang tidak punya nomor induk
siswa? Apa tidak menyeramkan kalau ada orang tak dikenal memakai seragam dan
berlagak santai di dalam kelas?”
”Kalau kubayangkan di posisiku,
itu memang lumayan bikin merinding sih. Bakal ada yang bertanya, ’Dia siapa?’,
dan kalau ketahuan tidak terdaftar di sekolah, bisa-bisa berurusan dengan
polisi.”
”Jangan diperjelas sampai sejauh
itu dong. Duh, bagaimana ya? Keberadaanku di sekolah diukur sebagai apa ya?”
”Terus, kenapa kamu malah ikut ke
sini...?”
Tsukino memalingkan wajahnya. Dia
memanyunkan bibirnya dengan raut canggung. Ternyata dia bisa menunjukkan
ekspresi seperti ini juga.
”Kalau Asahi adalah aku, kamu
pasti paham kan. Setelah bertindak menuruti impuls, baru sadar kalau ternyata
sama sekali tidak berpikir panjang. Dan hal itu sering jadi penyebab kegagalan.”
”Ingin rasanya kubilang ’tidak’,
tapi aku paham banget.”
Aku sendiri lumayan sering
melakukan kebodohan seperti itu. Malah, interaksi di bioskop kemarin dan
obrolan bad ending selama dua jam itu juga didasari impulsivitas yang
berlebihan. Kalau saja lawanku bukan Tsukino yang merupakan sosok yang sama,
bukankah itu bisa jadi bencana besar?
”Tapi ya, karakter yang bertindak
asal impulsif lalu membuat kekacauan itu terasa kurang menyenangkan kalau di
karya bad ending."
"Aku paham banget itu! Kalau
penyebab bad ending-nya adalah kecerobohan akibat kebodohan karakter,
rasanya malah bikin lemas dan kecewa."
"Nah, itu dia. Kalau
karakter yang sangat terampil bertindak sekuat tenaga tetapi tetap tidak bisa
mencapai hasil, atau ketika berbagai pilihan terbaik saling berbenturan hingga
mengarah ke bad ending, itu baru bisa diterima. Tapi kalau gagal cuma
karena bergerak tanpa berpikir, kesan akhirnya cuma berakhir di 'Ini orang
bodoh ya?'."
"Jangan-jangan… kita tidak
cocok berada di alur bad ending?"
"Untuk urusan dunia nyata,
bukannya begitu malah bagus?"
Bad ending itu bagus justru karena berada di
dalam fiksi. Dalam kehidupan nyata, aku ingin berada di alur happy ending.
"Makanya. Mulai dari
sini, aku yang akan bersikap tenang, logis, tepat sasaran, dan membackup tanpa
bawa-bawa impulsif. Lagipula ini kan duniaku."
Sebab jika aku yang
tersesat ke dunia paralel, aku pasti akan merasa cemas.
Mata Tsukino membelalak kaget.
Kemudian, dia terkekeh pelan.
"Seperti yang
diharapkan dariku, ya. Kalau
begitu, ayo!"
Tsukino menarik tanganku. Begitu
saja, dia menyeretku melewati pintu gerbang sekolah.
Kami memang pernah saling
membenturkan kepalan tangan, tetapi ini pertama kalinya aku menyentuh telapak
tangannya. Terasa dingin, lembut, dan halus, namun membawa kehangatan kulit
manusia. Tangan kami bertautan, dan dia membimbingku dengan tenaga yang cukup
kuat di luar dugaan.
Tanpa kusadari, aku tak lagi
memusingkan soal jarak di antara kami. Entah karena kami adalah sosok yang
sama, atau murni karena aku sudah terbiasa.
Terlepas dari itu, berjalan
sambil bergandengan tangan begini tetap saja membuatku sangat malu.
Tiba di area halaman sekolah,
Tsukino menghentikan langkah dan melepaskan tangannya.
Saat dia berbalik, tatapan
matanya goyah. Itu adalah raut wajah seseorang yang baru saja sadar telah
melakukan kebodohan.
Dalam sekejap, pipi putihnya
merona merah padam. Begitu menyadarinya, dia buru-buru menutupi wajah dengan
kedua tangan, tetapi karena daun telinganya ikut memerah, tidak ada yang bisa
dia sembunyikan.
"Aku tahu kamu
bergerak impulsif lagi."
"Aku tidak punya kata-kata
untuk membela diri. Tolong jangan lihat wajahku sekarang."
Kalau kami adalah sosok yang sama
dari dunia paralel, apa aku juga selalu terlihat seperti ini? Sepertinya aku
harus sedikit mengintrospeksi diri.
Tanpa sempat mengintrospeksi
diri, tidak sampai sepuluh menit kemudian, aku sendiri yang melakukan kebodohan
akibat impulsif.
***
"Kalian tahu soal Masumi
Tsukino-san tidak—"
"Lho, yang tahu soal
itu kan harusnya Masumi-kun sendiri. Kalian kan tinggal bareng?"
"Y-yah. Maksudku
memang begitu. Walau bukan kumpul kebo sih."
Sebelum Tsukino masuk ke
kelas, aku berniat mencari tahu bagaimana status keberadaannya dengan bertanya
pada teman sekelas di sekitar situ, dan inilah hasilnya. Aku memilih anak yang
jago bersosialisasi dengan pemikiran dia bakal merespon dengan santai, tetapi
hal itu malah berbalik menyerangku.
Memang tidak ada
pertanyaan yang lebih aneh dari ini. Dari sudut pandang mereka, orang yang
tinggal serumah dengan Tsukino malah bertanya "Kalian tahu soal Tsukino
tidak?". Sangat mencurigakan. Aku jelas-jelas sedang dicurigai.
"Maksudmu itu kesan
soal Tsukino-chan? Kenapa
tiba-tiba tanya begitu?"
Aku cuma bisa tergagap.
Tergantung cara pandangnya, ini bisa dikira aku sedang mencari-cari keburukan
Tsukino. Mereka adalah orang-orang baik yang akan marah demi membela teman,
tetapi posisiku sekarang benar-benar gawat.
Beralih ke masalah mendasar, aku
memang lemah dalam berbicara dengan anak perempuan.
Pemilihan diriku sebagai
eksekutor maupun pertanyaan yang dilontarkan, keduanya adalah kesalahan besar. Ini bisa mengarah ke bad ending
kelas D akibat gagal karena bertindak impulsif.
Di luar kelas, Tsukino
menyilangkan tangannya membentuk tanda silang. Bukan tanda silang kecil nan
imut menggunakan jari, melainkan tanda silang penuh menggunakan kedua
tangannya. Aku pun berpikiran
sama.
Saat aku menggelengkan kepala,
Tsukino melangkah maju.
Sepersekian detik lalu wajahnya
masih menunjukkan raut "Waduh", tetapi ekspresinya langsung berubah
total. Dengan tatapan anggun dan dingin, dia masuk ke dalam kelas dengan santai
seolah baru saja tiba di sekolah.
"Selamat pagi,"
sapanya. Kedua teman sekelas tadi berbalik dan menyahut, "Oos!"
"Maaf ya. Soal itu tadi
sebenarnya topik yang sempat kami bahas berdua. Kami tadi penasaran kapan
kalian berdua dan aku pertama kali saling kenal. Asahi cuma berniat
menanyakannya, tapi penyampaian karatnya agak aneh..."
"Kan kita beda SMP, jadi ya
pas SMA lah. Lagian Masumi-kun, padahal anak klub sastra tapi Bahasa Jepangnya
parah banget sih."
"Lagian kenapa bisa bahas
topik begitu?"
"Alurnya tidak
penting-penting amat kok. Cuma
pembahasan seperti 'Siapa orang di kelas ini yang pertama kali kamu temui?'.
Maaf ya sudah bikin bingung."
Setelah bertukar dua-tiga patah
kata lagi, Tsukino berjalan menuju kursinya yang sudah dikonfirmasi sebelumnya.
Karena masalah sudah berhasil ditutupi, aku kembali ke kursiku yang berada
tepat di sebelah kursinya.
Kedua teman perempuan yang
ditanyai soal Tsukino tadi tampaknya sudah tidak peduli lagi dan kembali
membicarakan video yang baru mereka tonton.
"Penyelamatan yang bagus.
Ternyata aku juga orang yang bertindak impulsif."
"Setidaknya kita
jadi bisa mengintrospeksi diri sendiri kan."
"Tolong jangan lihat wajahku
dulu sekarang."
Sambil duduk, Tsukino
terkekeh pelan dan berpaling dengan agak dibuat-buat. Baik hati sekali.
"Tapi kalau
dipikir-pikir lagi, pertanyaan 'apa kamu kenal aku' itu memang tingkat
kesulitannya terlalu tinggi ya."
"Nanti aku bakal
memikirkan cara bertanya yang lebih baik."
Sambil memperhatikan dua
gadis populer yang sedang tertawa terbahak-bahak itu, aku berbisik.
"Tapi, caramu merespon tadi
kelihatan terbiasa banget ya. Apa kemampuan komunikasimu lebih tinggi
dariku?"
"Mungkin karena lawannya
sesama anak perempuan? ...Lagipula temanku cuma anak-anak klub sastra kok.
Asahi bagaimana?"
"Aku juga sama. Begitu ya.
Kalau lawannya sesama cowok, harusnya aku juga bisa bicara tanpa perlu
se-minder itu."
Terlepas dari hal itu, fakta
bahwa Tsukino bukanlah tipe anak yang sangat jago bersosialisasi dengan teman
cowok dan cewek yang melimpah membuatku merasa lega—walau aku menyembunyikan
perasaan lega yang agak memalukan ini.
"Kalau kukatakan anak cowok
yang paling mudah diajak bicara saat ini adalah Asahi, kamu senang tidak?"
"Itu kan cuma karena kita
adalah sosok yang sama. ...Tapi ya, aku senang sih."
Aku merasa jauh lebih senang dari
kata-kata yang kuucapkan, sampai-sampai degup jantungku serasa mau melompat
keluar. Singkatnya, ini gawat.
Bisa-bisanya dia menggodaku! batinku, tetapi sang pelaku sendiri
terlihat sangat malu dengan mata tertunduk sambil mengotak-atik rambut
hitamnya. Dia ternyata melakukan self-destruction.
"...Tapi, fakta kalau kita
tinggal serumah ternyata sudah diketahui satu kelas ya. Bukannya hal seperti
ini biasanya disembunyikan?"
"Penyesuaian dunianya
lumayan serampangan ya."
"Penyesuaian ya. Apa dua
orang tadi juga ada di kelas Tsukino? Bagaimana dengan komposisi murid di
kelasmu?"
Aku berusaha menahan suara saat
berbicara, tetapi karena suasana kelas cukup bising, sepertinya tidak perlu
terlalu dikhawatirkan.
"Rasa-rasanya hampir tidak
ada yang berubah. Tapi
ada beberapa orang yang jenis kelaminnya berbeda."
"Sama seperti kasus
keluargaku ya. Sepertinya kita sudah bisa melangkah dengan asumsi kalau ini
memang dunia paralel."
"Iya. Kalau tidak begitu,
bakal banyak hal yang tidak bisa dijelaskan alasannya."
"Lalu kita mau bagaimana
setelah ini?"
"Kita harus mencari tahu
kapan dan di mana aku terlempar masuk ke dunia ini."
"Kita memang bertemu di
bioskop, tapi karena kamu menonton film di sana, tidak mungkin kamu tiba-tiba
muncul di dalam bioskop begitu saja, kan."
Setelah film selesai sampai topik
bad ending mencuat, kami memang tidak ada kontak, tetapi aku yakin dia
sudah berada di kursi penonton selama film berlangsung.
"Jujur saja, aku sama sekali
tidak sadar kapan momen aku berpindah ke dunia lain. Bakal lebih gampang kalau
ada portal yang kelihatan jelas lalu menuntun masuk."
"Kalau begitu sih namanya
terang-terangan pindah dunia."
Di film Infinity Heaven memang begitu sih.
"Makanya, kurasa lebih baik
kalau nanti kita menyusuri tempat-tempat yang kudatangi kemarin. Kalau bisa
menemukan tempat yang aneh di antaranya, urusannya bakal lebih cepat
selesai."
"Kalau begitu, ayo pergi
sekarang."
Sebentar lagi wali kelas bakal
masuk untuk jam wali kelas, jadi kalau mau keluar dari sekolah, sekarang adalah
saatnya.
Kami belum tahu bagaimana
perbandingan alur waktu antara dunia Tsukino dan dunia ini. Apakah berjalan
bersamaan, ataukah saat kembali nanti dia akan tiba di titik waktu tepat saat
dia meninggalkan dunianya, atau justru berbeda jauh. Tergantung situasinya,
bisa saja hilangnya Tsukino sudah memicu kepanikan besar di sana.
"Anu. Soal menyusuri
tempat-tempat yang kudatangi itu, kurasa tidak apa-apa kalau dilakukan sepulang
sekolah saja."
"Tapi ini bukan saatnya ikut
pelajaran, kan. Aku juga bakal bantu."
Tsukino menggelengkan kepala
seraya mulai menyiapkan buku pelajaran.
"Tempat yang kudatangi
terbatas kok, jadi menyusurinya sepulang sekolah saja sudah lebih dari
cukup."
Wali kelas melangkah masuk ke
dalam kelas. Jam wali kelas akan segera dimulai.
"Lagipula, mumpung ada di
sini, aku juga ingin melihat seperti apa klub sastra di dunia ini. Siapa tahu
ada petunjuk yang bisa didapat dari tempat yang berhubungan erat dengan
kita."
"Masa iya ada? Yah, kalau
kamu bilang begitu..."
Sambil mendengarkan suara wali
kelas secara samar-samar, aku ikut menyiapkan peralatan belajar.
Bagaimana jika posisiku dibalik
dan aku yang tersesat ke dunia paralel? Mencari cara untuk kembali ke dunia
asal tentu menjadi prioritas utama, tetapi rasa penasaran terhadap dunia yang
mirip tetapi berbeda ini pasti tetap ada. Jika begitu, aku bisa memahami
keinginan Tsukino yang ingin mengintip klub sastra di dunia ini. Lagipula,
jujur saja, aku sendiri penasaran dengan klub sastra di dunianya.
"Ngomong-ngomong Asahi, aku
salah membawa buku pelajaran nih, boleh lihat bareng?"
Tsukino menggeser mejanya
mendekat ke arahku.
"Padahal tadi persiapannya
sudah rapi banget..."
"Jadwal pelajarnya agak
sedikit berbeda, tapi refleks tanganku malah menyiapkan jadwal yang
biasa."
Beberapa teman sekelas menyadari
kami yang saling menggeser kursi dan mulai mencuri-curi pandang ke arah kami.
Meskipun kami adalah sosok yang
sama dari dunia paralel, dilihat orang lain dalam posisi sedekat ini tetap saja
terasa sangat memalukan.


Post a Comment