-->
NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Heikou Sekai no Jibun ga Konomi no Bishoujo de Kuse mo Onaji Datta node Koi shite Shimatta Volume 1 Chapter 7

Episode 7: Diriku yang Lain dari Dunia Paralel dan More Bad, More Hell


"Permisi~ Cuma bercanda, deng."

Tsukino yang masuk ke dalam kamar baru saja selesai mandi. Dia mengenakan baju tidur berwarna hijau muda—hanya berbeda warna dari yang dipakainya kemarin. Rambut hitamnya yang sudah dikeringkan dengan sempurna tampak lebih lurus dan rapi dibandingkan saat siang hari.

Kemudian, dia meletakkan kursi yang dibawanya dari kamarnya sendiri tepat di samping kursi yang kududuki. Karena kedua kursi yang dijajarkan itu sempat berbenturan akibat dorongan saat meletakkannya, Tsukino memberi sedikit jarak sebelum akhirnya duduk.

Aroma sehabis mandi yang tercium dari Tsukino yang mengenakan baju tidur—padahal seharusnya menggunakan sabun dan sampo dari rumahku—entah kenapa masih belum membuatku terbiasa.

Aku sendiri sudah selesai mandi sewaktu Tsukino menghabiskan waktu untuk merawat diri dan melakukan berbagai hal sehabis mandi.

"Kalau begitu, aku minta tolong ya."

Di atas laptop yang sudah terbuka di atas meja, karya yang bakal kuserahkan untuk Pertarungan Novel besok sudah ditampilkan di layar.

"Emm. Pertama-tama aku coba baca dulu ya. Aku penasaran."

"Kalau kita sosok yang sama, mungkin ini novel yang pernah Tsukino tulis juga."

"Melihat kalimat pembukunya sih, rasanya aku belum pernah menulis yang ini."

Saat Tsukino mencondongkan tubuhnya ke depan, cahaya dari tampilan layar memantul di matanya yang tajam.

"Jujur saja, memikirkan kalau tulisanku dibaca oleh diriku sendiri malah bikin aku tegang."

"Kalau kupikir-pikir soal tulisanku yang dibaca oleh Asahi, aku juga pasti bakal begitu sih. Selain penasaran apakah tulisannya tersusun dengan baik atau tidak, rasanya ada rasa malu seolah-olah seluruh rahasia diriku diperlihatkan sepenuhnya."

"Padahal kita ini sosok yang sama, ya."

"Meskipun sosok yang sama, ternyata ada sedikit perbedaan di antara kita, kan."

Hal itu benar-benar kurasakan sepanjang hari ini. Bukan cuma sekadar perbedaan jenis kelamin, perbedaan orang tua maupun golongan darah mungkin berujung pada sedikit pergeseran di antara kami. Termasuk juga soal tersadar atau tidaknya, kami akan melakukan fiksasi masing-masing.

"Muda dibaca. Seperti yang diharapkan dariku. Walaupun yang menulis bukan aku sih."

"Pujian untuk diri sendiri yang sangat terobosan ya. Bagaimanapun juga, aku sudah bersiap mental, jadi aku minta tolong diperiksa."

"Serahkan padaku," kata Tsukino sambil mulai membaca.

Aku memperhatikan profil wajahnya yang serius serta alur kalimat yang di-scroll dengan tempo yang baik, lalu berdiri dari kursi. Aku menunggu seperti itu beberapa saat sampai dia selesai membaca.

Tak lama kemudian, Tsukino mengembuskan napas pelan, dan guliran teks pun terhenti. Dia mengoperasikan kursor tetikus untuk mengembalikannya ke bagian awal.

"Naskah ini memang sudah hampir selesai ya. Begitu ya, fantasy dunia lain. Mungkin aku juga sempat memikirkan ide sampai sejauh ini." Sambil berpikir, dia merangkum sesuatu di kertas catatan yang sudah kusiapkan.

"Ceritanya seru, dan bad ending-nya bagus. Good Bad." Raut wajahnya yang tadinya serius mendadak mengendur.

"Ceritanya sih tentang pembasmian monster oleh petualang yang ortodoks, tapi bagian mereka tewas semuanya (zenmetsu) itu benar-benar perkembangan bad yang khas Asahi banget. Dari segi level, padahal musuhnya sangat bisa dikalahkan, tapi sebelum pertarungan bos, item penawar efek status malah habis dipakai, ditambah lagi ada perselisihan antarteman. Setelah memberikan isyarat pembuka menuju kekalahan total dengan rapi, keputusasaan yang merayap perlahan menyudutkan mereka, serta deskripsi adegan sadis dan berdarah (gore) yang agak terlalu bersemangat itu benar-benar Good Bad banget."

Dia menilai bagian-bagian yang memang kuincar dengan sangat tepat.

"Tapi, fakta bahwa naskah ini belum selesai artinya ada bagian yang belum membuatmu puas, kan? Begitu?" Ditambah lagi, tebakannya sangat jitu.

"Seperti yang diharapkan dariku. Tapi, aku tidak yakin bagian mana yang kurang sreg."

"Kita memang tidak bisa melihat novel tulisan sendiri secara dingin dan objektif, ya. Meskipun kita bisa merasakan ada gelagat yang kurang bagus. Kita cenderung memanjakan diri sendiri jadi melewatkan kesalahan, atau menulis hal-hal yang tidak dipahami pembaca cuma gara-gara hal itu sudah jadi hal yang lumrah buat kita. Tapi—"

Tsukino menuliskan beberapa hal lagi di kertas catatan.

"Hari ini ada aku. Karena aku punya nilai-nilai bad ending yang sama dengan Asahi, aku paham apa yang coba kamu tulis. Tapi karena aku bukan penulis aslinya, aku tidak punya prasangka maupun keterikatan emosional yang berlebihan."

"Sosok diriku sendiri yang bisa melihat karyaku secara dingin dan objektif, ya. Teman diskusi yang paling hebat." Satu-satunya yang bisa melakukan hal seperti ini hanyalah aku dan Tsukino.

"Hal yang lumrah buatku juga pasti lumrah buat Asahi, jadi mungkin bagian itu bakal terlewat juga sih."

"Kalau itu sih mau bagaimana lagi." Kami berdua sama-sama mengedikkan bahu.

"Kalau begitu, sini balik lagi." Sesuai instruksinya, aku kembali duduk di samping Tsukino.

Karena posisinya, kami sama-sama mengintip ke layar, bahu kami hampir saling bersentuhan. Namun, saat ini aku harus berfokus pada pendapat Tsukino.

Bersama Tsukino, aku menelusuri kalimat demi kalimat serta pergerakan kursor tetikus.

"Pertama-tama, bukankah deskripsi adegan sadis dan berdarah (gore)-nya malah jadi sajian utama? Menurutku, bagian ini terlalu panjang."

"Kalau itu… aku paham. Aku memang merasa terlalu terlena saat menulisnya. Tidak, kalau dilihat secara dingin, tidak ada gunanya menghabiskan satu halaman penuh cuma untuk menggambarkan isi perut yang terburai."

"Saat membacanya, terasa banget kalau isi perutnya terburai secara sangat pelan, perlahan, dan penuh kehati-hatian. Padahal panjang usus besar manusia itu kira-kira seukuran tinggi badan kita, tapi di sini rasanya seperti ada tiga meteran."

"Bagian setelah ini, saat kepalanya dihancurkan, juga kalimatnya terlalu panjang, terus ekspresi kiasannya terlalu berbelit-belit. Kiasan ini terlalu banyak memecahkan buah dan telur."

Begitu ditunjukkan sekali, aku jadi sangat menyadari bagian-bagian yang tidak bagus itu.

"Terus, aku baru sadar setelah membaca semuanya sampai selesai. Di bagian akhir memang terjadi tragedi yang besar, tapi aku tidak begitu merasa kasihan. Mungkin gara-gara aku belum cukup mengenal para karakter utamanya."

"Memang benar... Gara-gara terlalu mengerahkan tenaga untuk peletakan petunjuk menuju kekalahan total dan deskripsi adegan sadis, gambaran tentang para karakter utamanya jadi kurang tertulis. Maksudnya, ini berarti belum berhasil menciptakan 'Dirty Resonance' (resonansi kesedihan bersama), ya."

"Seperti yang diharapkan dariku. Ternyata kamu pakai istilah itu juga ya, 'Dirty Resonance' (Resonansi Kesedihan bersama)."

"Untuk membuat pembaca benar-benar merasakan tragedi yang menimpa karakter, membuat mereka merasa pedih, kita harus membuat pembaca berempati pada karakter atau menyukai karakter tersebut. Tragedi yang menimpa karakter yang tidak peduli atau tidak dikenal hanya bakal terasa sebagai kejadian angin lalu yang tidak berkesan bagi pembaca."

Contohnya, meskipun paman figurin (mob) yang baru saja muncul mendadak diserang zombie lalu tewas, pembaca hanya bakal menyikapinya sebatas "Pamannya mati. Daerah sekitar sini berbahaya ya."

"Tapi novel ini kan ceritanya pendek... Karena sudah menghabiskan banyak porsi untuk peletakan petunjuk yang rapi, kita tidak bisa mengalokasikan terlalu banyak porsi untuk penggambaran karakter." Tsukino merangkum pendapat kami berdua ke dalam kertas catatan. Namun, beberapa saat kemudian, gerakannya terhenti dan dia tampak berpikir keras.

"Asahi, apa laptopmu cuma ada ini saja?"

"Laptop yang kupakai sebelumnya rasanya masih bisa menyala. Walaupun mesinnya lumayan lemot sih."

Aku mengambil laptop yang tersimpan di sudut kamar. Karena beberapa waktu lalu aku sempat memindahkan data-data yang diperlukan, laptop itu sudah kubersihkan sedikit dan pembaruan sistem operasinya (OS) juga sudah selesai.

Saat aku menyejajarkan laptop itu di atas meja, Tsukino membuka aplikasi layanan penyimpanan awan (cloud storage) lalu membuat folder baru di sana.

"Salin naskah novelnya ke sini. Dengan begini aku juga bisa langsung menyunting novelnya."

"Paham. Bisa menghemat waktu dan tenaga, ya."

Selain itu, dia juga membuat file dokumen catatan untuk merangkum ide-ide revisi, jadi kami tidak perlu lagi menggunakan kertas catatan tangan. Sambil mengobrol, kami bisa berbagi hasil perbaikan dan langsung merefleksikannya pada data di laptop masing-masing.

Aku mengetikkan kata-kata di file catatan lalu menyimpan datanya untuk memastikan responnya.

"Yup. Kalau cuma untuk menulis kalimat saja, laptop tua pun tidak ada masalah ya."

Aku pun mulai merangkum draf rencana revisi isi cerita ke dalam catatan terlebih dahulu.

"Untuk memancing 'Dirty Resonance' (Resonansi Kesedihan bersama), kira-kira harus bagaimana ya... Karena sekarang drama terbagi ke empat karakter, bagaimana kalau kita persempit fokusnya ke hubungan antarmanusia di sekitar karakter utama saja? Seperti semua panah, hubungan mengarah ke karakter utama."

"Paham. Boleh juga tuh. Rasa sayang maupun rasa cemburu sekalian kita arahkan ke karakter utama saja. Lalu sisanya... Awalnya aku berniat menonjolkan kelemahan mereka untuk menampilkan realitas sisi kemanusiaan, tapi sekarang aku mau menjadikan fakta bahwa mereka adalah 'orang baik' sebagai sajian utamanya."

"Aku paham banget! Kalau mau menulis bad ending, dibanding melihat orang jahat mengalami nasib sial, melihat orang baik mengalami nasib sial bakal lebih bikin kita merasa 'Hentikan! Tolong selamatkan dia!' kan."

""More Bad! More He... Sempit banget!""

Kami berniat melakukan adu kepalan tangan, tetapi karena posisi kami terlalu menempel erat, kami berdua malah memperagakan pose seperti patung kucing pemanggil keberuntungan (maneki-neko), hingga kami tak sanggup menahan tawa.

"Kalau aku dan diriku berpikir bersama, rasanya kita bisa menulis bad ending yang jauh lebih dahsyat lagi."

"Bad ending porsi dua dunia! Kita bakal bikin raut wajah Jun kelihatan makin cemberut dari biasanya."

"Benar banget! Ayo kita bikin makin bad lagi. Sampai-sampai hati orang yang membacanya jadi hancur berkeping-keping. Aku juga mau hati diriku yang sedang memikirkannya ini makin hancur berkeping-keping."

"Bakal kubuat begitu. Sebuah luka yang membekas seumur hidup, sampai-sampai tidak bisa bangkit kembali selama seminggu di sini. Kita tumpuk keburukan di atas keburukan terburuk!"

"Satu, dua, tiga—"

Kali ini kami mengambil pose kucing pemanggil keberuntungan sejak awal. Kami berhasil mempertemukan kepalan tangan kami dengan pas.

""More Bad! More Hell!""

Di jarak di mana rambut hitam Tsukino dan bahunya saling bersentuhan, kami berhadapan dengan layar di depan kami. File yang dibagikan terus diperbarui tanpa henti.

Jalan menuju bad ending serta perkembangan tragedi yang mengalir keluar dari diri kami berdua tidak menunjukkan tanda-tanda bakal berhenti.

Kalau sekarang, kami pasti bisa menulis bad ending terbaik sepanjang sejarah yang belum pernah ada sebelumnya. Rasa keyakinan seperti itu bergaung kuat di dalam diri.

***

Keesokan harinya sepulang sekolah, Jun menyambutku dengan kabe-don. Matanya yang liar berkilat dalam jarak yang hampir nol sentimeter, menunjukkan giginya bak seekor inatang buas pemakan daging.

“Muka lu kelihatan kurang tidur banget, dah.”

“Jaraknya terlalu dekat. Perasaanku saja atau kamu pakai diksi yang aneh ya. Omong yang biasa saja kenapa.”

”Kalau kondisi badan lagi drop, jangan dipaksakan.”

«Kamu memang dasarnya orang baik ya.»

Setelah puas melakukan aksinya, dia pun menjauh. Tangan jemarinya menyisir rambutnya yang dibuat tajam berdiri memakai minyak rambut.

Ini adalah kejadian yang sudah sangat biasa di ruang klub sastra yang familier. Menjelang Pertarungan Novel, ruang klub hari ini dihadiri oleh anggota yang sedikit lebih banyak dari biasanya. Namun, meski ada aksi kabe-don tadi, mereka paling-paling hanya melirik sekilas. Sudah terlalu terbiasa.

”Yah, yang penting pinter-pinter jaga badan lah.”

Cowok penggemar light novel bergaya host itu duduk bersandar santai di kursinya dengan gestur yang agak sewenang-wenang.

”Terima kasih perhatiaannya. Kalau untuk Pertarungan Novel sih tidak ada masalah.”

Aku pun duduk di kursi yang kosong. Karena merasa ragu sebab bukan anggota klub, Tsukino tadinya tetap berdiri. Namun pada akhirnya dia duduk setelah Jun memberi isyarat dengan dagunya ke arah kursi sambil berkata, «Duduk saja kali. Kaki lu capek kan.»

«Seperti yang diharapkan dari Jun ya. Selalu ramah dan memperhatikan orang lain dengan baik.»

«Baguslah, asalkan jarak fisik dan sikap sok jagoannya itu bisa dikondisikan sedikit.»

Sambil mengobrol, aku dan Tsukino sama-sama menahan uap kantuk. Wajar saja kalau Jun khawatir.

Kelewat bersemangat semalam adalah penyebabnya. Padahal awalnya berniat menahan revisi ke tingkat sekecil mungkin, tetapi sewaktu berdiskusi berdua dengan Tsukino, ide-ide yang muncul terlalu banyak dan semuanya sangat menarik hingga konsepnya terus membesar tanpa henti.

Tidak, kalau begini strukturnya bisa hancur... pemikiran untuk memilah dan merangkum ide-ide itu baru muncul setelah bergantinya hari. Secara alami, waktu penyelesaiannya pun jadi makin molor. Aku bahkan ingat saat itu langit luar sudah mulai terang.

Oleh karena itu, aku dan Tsukino menjalani pelajaran hari ini dalam kondisi setengah sadar. Kami saling menyenggol untuk membangunkan jika salah satu mulai terkantuk-kantuk, tetapi pada akhirnya kami berdua malah tertidur leutap.

Dan begitulah hingga sampai pada kondisi sekarang.

”Anggota yang berencana ikut sepertinya sudah berkumpul semua ya.”

Para anggota klub yang tadinya sedang mengobrol atau membaca naskah dan novel, langsung memalingkan wajah ke arah suara tenang Nanaha-senpai. Suaranya entah bagaimana selalu terdengar sangat jelas.

Rambut perak yang dianyam rapi dengan poni rata di depan, serta senyuman hangat yang tidak pernah pudar memberikan keberadaan yang sangat khas dari seorang Nanaha-senpai.

"Data naskahnya sudah dibagikan sebelumnya, dan aku juga menyiapkan beberapa salinan cetaknya, apa ada yang belum memegangnya?"

Tampaknya tidak ada masalah. Peraturan untuk membagikan data sebelum ulasan bersama—atau yang kami sebut Pertarungan Novel—adalah aturan yang dibuat oleh Jun.

Berkat kategorisasi sistem ini, acara ulasan bersama di klub sastra jadi berlangsung sangat lancar. Kalau soal ini, dia memang layak disebut pria penuh teori.

Para anggota klub memegang novelku dan novel Jun dalam format yang sesuai dengan preferensi masing-masing, seperti data di ponsel atau lembaran kertas hasil cetak. Setelah memastikannya, Nanaha-senpai tersenyum lebar dan mengangguk, lalu bertepuk tangan pelan.

"Baiklah~! Kalau begitu... Pertarungan Novel! Ready, GO!"

Nanaha-senpai mengepalkan tangannya tinggi-tinggi ke udara, membuat para anggota klub ikut mengangkat kepalan tangan mereka secara serabutan dan tidak serempak. Mereka benar-benar pandai menyesuaikan diri.

"Nanaha-senpai ternyata otaknya memang otak otaku ya."

"Meskipun dunianya berbeda, syukurlah hal-hal seperti ini tetap sama."

Nanaha-senpai masih terus mengangkat kepalan tangannya. Alisnya ikut terangkat, dan mata di balik kacamata itu tampak lebih gagah dari biasanya. Bibirnya pun tertutup rapat dengan tegas.

"Ah, semuanya. Tolong prioritaskan poin di mana letak keseruan dari karya tersebut, ya. Dibandingkan dengan bersaing pada kesalahan atau bagian yang dirasa membosankan, bersaing pada bagian yang lebih menyenangkan akan membuat kita semua merasa jauh lebih gembira."

Masih dalam pose otaku, dia mengucapkan hal yang sangat bagus sebagai seorang ketua klub.

"Menemukan keunikan karakter itu jauh lebih berguna untuk modal ke depannya daripada sekadar mencari kekurangan, sih."

Jun juga mengucapkan hal yang sangat masuk akal. Keduanya memang sangat bisa dipercaya dalam hal-hal seperti ini.

"Pemain Pertama! Giliran Jun-kun dengan 'Pahlawan Veteran yang Serba Kerepotan dan Si Gadis Pemberani Cheat Pemula’!"

"Gua ambil giliran pertama ya, Asahi."

Nanaha-senpai mengarahkan tangannya ke arah Jun. Itu adalah gaya khas juri otaku.

Jun yang merespons hal itu malah makin bersikap bersandar congkak di kursinya.

"Penyakit otaknya menular, ya."

Aku mengalihkan pandangan ke lembaran cetak novel milik Jun. Bersama dengan para anggota klub lainnya, aku mulai membaca naskah tersebut. Di antara suara lembaran kertas yang dibalik, terdengar suara anggota klub yang tertawa terbahak-bahak. Aku sendiri sempat tertawa beberapa kali.

Karena bentuknya cerita pendek, naskah itu selesai dibaca dalam waktu singkat. Nanaha-senpai mengonfirmasi apakah semua orang sudah selesai membaca pada waktu yang sangat tepat.

Dengan begini, persiapan telah usai.

"Aku bakal mengawasi saja ya. Soalnya aku kan bukan anggota klub."

"Lagipula, pendapatmu kemungkinan besar bakal sama denganku kok."

Di klub sastra kami, jika mengadakan Pertarungan Novel, aturannya adalah pihak yang bertanding yang memberikan pendapat terlebih dahulu.

'Pahlawan Veteran yang Serba Kerepotan dan Si Gadis Pemberani Cheat Pemula' adalah kisah berpindah ke dunia lain (isekai ten'i) yang berlatar belakang dunia fantasy ala Eropa Abad Pertengahan.

Meski temanya terbilang klise, keunikan dari karya ini terletak pada karakter utamanya yang merupakan pahlawan di dunia tersebut—seorang pemuda petualang veteran yang dulunya pernah mengalahkan naga iblis dan menyelamatkan kerajaan—lalu sang mahasuri (heroine) berpindah dunia ke tempat tersebut.

Sedikit menggeser alur dari jalan cerita utama (ourou). Itu adalah pola keahlian Jun.

"Ceritanya seru, padahal bukan bad ending. Boleh juga kamu."

"Standar penilaianmu ke bad ending tinggi banget tidak, sih?"

"Tidak dong, kalau untuk karya bad ending, penilaianku justru bakal jauh lebih ketat. 'Jangan bicara soal bad ending kalau cuma pakai bad ending murahan! Mana paham kamu soal indahnya bad ending!' Kurang lebih begitu perasaanku. Kamu beruntung lho, Jun."

"Parah banget dah, fans fanatik bad ending."

Terlepas dari hal itu, 'Pahlawan Veteran yang Serba Kerepotan dan Si Gadis Pemberani Cheat Pemula' adalah cerita tentang perjalanan sepasang kawan (buddy) sekaligus komedi romantis (romcom).

Sebuah kisah petualangan antara sang pahlawan yang kehilangan motivasi akibat kejadian di masa lalu, dengan heroine berjiwa ceria, energik, asal-asalan, agak gampang lepas kendali, serta dibekali kekuatan luar biasa yang bisa disebut sebagai kemampuan cheat.

"Setiap kali karakter utama berniat bersikap dingin atau mengenang masa lalu, heroine-nya selalu datang menghancurkannya dengan perkataan yang tidak masuk akal, dan itu bagus banget. Padahal karakternya berpotensi bikin jengkel, tapi malah kelihatan menggemaskan—benar-benar memperlihatkan kelas seorang Jun yang rela memotong uang makan demi membeli buku komedi romantis."

"Gua memang banyak beli komedi romantis isekai sih, tapi gua punya prinsip tetap makan siang demi kesehatan ya."

Meskipun biasanya karakter utama selalu terseret ke dalam lelucon komedi, saat heroine berada dalam bahaya, dia bakal memperlihatkan kehebatan sesungguhnya dari seorang pahlawan. Tidak sekadar komikal, ketampanan dan kerennya adegan di saat-saat krusial benar-benar membuat dada berdebar. Dia memang terbukti banyak membaca cerita pertarungan setelah komedi romantis.

"Bagian di mana karakter utama menyadari bahwa dirinya telah diselamatkan oleh keberadaan heroine padahal sepanjang waktu selalu mengeluh, itu juga bagus. Lalu, fakta bahwa karakter utama ternyata juga merupakan orang yang berpindah dunia menjadi kejutan yang sangat menyenangkan."

Tsukino bersedekap dada sambil mengangguk-angguk setuju. Seperti dugaan, kesannya sama persis. Di samping itu, gestur tubuhnya benar-benar mirip dengan pose karakter ahli yang berada di luar arena dalam otaku.

Novel tulisan Jun memang seru. Baik komedi romantis modern maupun tema dunia lain, semuanya terasa ceria, penuh harapan, serta memiliki karakter yang memikat dan kuat. Dia juga menyisipkan lekukan alur (plot twist) yang rapi di suatu tempat dalam ceritanya.

"Tapi, ada beberapa masalah juga. Hubungan mereka berdua memang bagus, tapi masalah yang mereka hadapi sama sekali belum terselesaikan, dan alurnya cuma menggambarkan pertemuan dan kehidupan sehari-hari… atau lebih tepatnya baru sebatas introduksi. Padahal judulnya ada kata 'Gadis Pemberani', tapi di dalam cerita dia sama sekali tidak pernah dipanggil dengan sebutan Gadis Pemberani kan. Gara-gara hal itu juga, klimaks ceritanya terasa kurang menonjol."

"Pendapat yang menarik! Dan memang 100% tepat seperti itu!"

Masih dalam posisi bersandar congkak, Jun memegang wajahnya sambil mengerang.

"Pas lagi menulis, gua mendadak sadar... 'Lho… ini kok isinya kagak ada ya. Bahkan alur pembuka, konflik, dan penyelesaiannya (kishoutenketsu) kagak kebentuk'. Gua menyadari 'Ini mah cuma seru doang!' dari tengah jalan! Kalau dari awal berniat cuma bikin introduksi sih tidak masalah, tapi kalau begini kan jadinya kagak selesai! Apalagi pas mencoba bikin konklusi ala kadarnya, bagian akhirnya jadi terasa terburu-buru! Aaaargh, padahal gua suka ceramah soal struktur ke orang lain, tapi struktur tulisan gua sendiri malah parah banget!"

Ini adalah hal yang sering terjadi dalam dunia penulisan (sousaku aruaru). Penulisnya sendiri sadar akan kesalahannya, dan biasanya bagian itulah yang bakal dikritik. Aku paham betul perasaan menyiksanya. Tsukino juga tampak mendekap tubuhnya sendiri. Benar-benar sosok yang sama.

"Asahi-kun, terima kasih banyak. Kalau begitu, kita minta pendapat dari anggota lainnya secara berurutan ya."

Anggota klub lainnya secara umum memberikan tanggapan positif. Baik jalan ceritanya maupun karakternya disukai oleh mereka. Hanya saja, ceritanya terasa ada yang kurang. Karena merupakan alur utama berakhiran bahagia (happy ending), muncul juga pendapat bahwa perkembangan alurnya terlalu mudah ditebak.

"Haha. Pendapat yang menarik. Benar-benar bisa jadi bahan evaluasi. Terima kasih ya semuanya."

Setelah selesai mendengarkan pendapat semua orang, Jun tampak sedikit lemas, tetapi karena mendapatkan banyak pujian juga, dia terlihat senang. Meskipun bersandar congkak, dia mencatat setiap masukan di laptopnya dengan rapi.

Nanaha-senpai memperhatikan dengan senyuman hangat, tetapi dia belum menyampaikan pendapatnya. Karena bertindak sebagai pembawa acara, dia selalu merangkum keseluruhan evaluasi setelah ulasan kedua belah pihak selesai.

"Terima kasih semuanya. Jun-kun juga ya. Kalau begitu, sekarang giliran pemain kedua! Giliran Asahi-kun dengan 'Akhir dari Seorang Petualang’!"

Aku pun menyiapkan lembaran cetak novelku sendiri. Meskipun ulasan bersama bertajuk Pertarungan Novel ini sudah berkali-kali dilakukan, rasa tegangnya tetap tidak pernah berubah. Tsukino yang duduk di sampingku mengarahkan pandangan matanya yang dingin ke arah Jun, tetapi aku bisa melihat leher putihnya bergerak meneguk ludah.

Dia juga merasa tegang dengan cara yang sama. Hanya dengan mengetahui hal itu saja, entah kenapa perasaanku jadi sedikit lebih tenang.

Aku kembali menatap Jun dengan lekat. Dia yang memegang kertas naskah cetak sambil tersenyum jahil berkesan malas tampak seperti tidak bersemangat, tetapi seperti biasa, itu hanya tampilannya saja. Kalimatnya yang berbunyi, "Hehe. Lu mau memancing gua ya," menandakan kalau dia pasti sudah menangkap petunjuk alur yang kutanam.

Nanaha-senpai entah sudah membacanya terlebih dahulu atau membacanya dengan sangat cepat, dia sedang membaca kembali kertas cetakan itu dari awal. Tangannya membalik halaman dengan sangat cepat, dan gerakan matanya menelusuri kalimat demi kalimat juga sangat lincah. Orang ini fix sedang membaca putaran kedua.

Setelah Jun selesai membaca, anggota klub lainnya menyusul meletakkan naskah kertas maupun ponsel mereka.

"Kalau begitu, dari gua dulu ya."

Jun menyunggingkan bibirnya dengan nada menantang.

"Pertama-tama… karya ini bagus banget. Jalan ceritanya sangat simpel, cuma tentang para petualang yang menantang monster merepotkan bernama Basilisk yang bisa menggunakan berbagai efek status negatif (debuff). Tapi ya… dari awal ceritanya sudah seru banget."

Jun menepuk naskah kertas itu dengan kasar. Tampaknya untuk merangkum kesannya, dia menempelkan banyak sekali pembatas buku (sticky notes) serta menuliskan catatan yang sangat panjang hingga lembaran kertasnya memerah. Keseriusannya hari ini pun terasa menakutkan seperti biasa.

"Introduksinya langsung dimulai dari tengah-tengah pertarungan melawan Basilisk, di mana mereka berada dalam kondisi terdesak karena terkena racun dan tidak ada cara untuk mengobatinya. Ketegangannya langsung terasa dari awal! Dari sana, cerita mundur ke belakang menggambarkan perjalanan mereka, tetapi di dalam kilas balik (flashback) itu, hubungan antarmanusia di antara mereka mulai terungkap. Bener-bener rumit dan kacau kan!"

"Itu bagian yang kami poles dengan sangat keras lho."

"Iya. Kami merekonstruksi hubungan antarmanusia dengan berpusat pada karakter utama. Semuanya punya perasaan yang sangat berat (gekiomoe) terhadap karakter utama."

"Gara-gara kelewatan bersemangat membuat hubungannya makin rumit dan kacau, kami sempat agak kesulitan mengendalikannya, ya."

"Aksi penusukan di babak awal itu memang agak keterlaluan sih. Aku bahkan sempat menumpuknya dengan membunuh gadis kedai minuman yang tidak ada hubungannya."

Setelah itu, kami sadar diri lalu memperbaikinya dengan benar.

"Penyihir wanita dan prajurit karakter utama sebenarnya saling menyukai, tetapi hubungan mereka belum bisa jujur satu sama lain. Bikin gemas! Gadis biarawati juga menyukai karakter utama dan dia terang-terangan menunjukkan perasaannya, tetapi cintanya ditolak. Walau begitu, dia masih menyukainya, jadi gua ingin mendukungnya! Ditambah lagi, si pencuri wanita. Dia menyukai karakter utama, tapi di atas segalanya dia sangat terobsesi dengan perjodohan (coupling) antara karakter utama dan si biarawati. Dia marah besar atas kegagalan ungkapan cinta itu, dan berusaha keras menjodohkan mereka berdua… Lu bener-bener penggila ship (kapu-chuu) kan! Bisa menyajikan hal seperti ini dalam tulisan pendek, benar-benar luar biasa lu ya."

"Kami lumayan kesulitan lho supaya tulisannya tidak jadi terlalu panjang."

"Aku malah ingin menulis lebih banyak lagi. Berpatokan pada fakta bahwa setelah ini hal buruk bakal terjadi dan hubungan mereka hancur, ternyata menyajikan karakter yang saling akrab itu menyenangkan banget ya."

Aku bisa melihat para anggota klub agak ilfeel/merinding , tetapi itu juga merupakan pemandangan yang biasa.

"Gara-gara hubungan antarmanusia ini, masing-masing dari mereka melakukan kesalahan kecil. Karakter utama tidak bisa menyadari perubahan pada temannya, padahal dia seorang pemimpin, hanya gara-gara pertengkaran sepele dengan si penyihir wanita yang saling menyukai dengannya. Si pencuri penggila ship sengaja merusak item penawar efek status demi menciptakan kesempatan agar si biarawati bertepuk sebelah tangan bisa bersatu dengan karakter utama. Si penyihir wanita melakukan kesalahan dalam pertarungan karena syok melihat jarak antara si biarawati dan karakter utama makin dekat… Bener-bener rumit dan kacau! Bikin mereka bahagia sedikit kenapa sih!"

"Biarpun kamu bilang begitu... dasar penggila happy ending (hapi-en chuu)."

"Terlepas dari itu, pertarungan melawan Basilisk seharusnya dilakukan dengan persiapan yang matang. Tapi hal itu hancur gara-gara kesalahan kecil dalam hubungan mereka. Menyusul introduksi, tim petualang makin terdesak ke dalam bahaya. Teman-teman bertumbangan satu demi satu. Bahkan di tengah kondisi itu, karakter utama dan si biarawati tidak menyerah, lalu mempercayakan kartu truf terakhir kepada si penyihir wanita. Namun, begitu si biarawati tewas, si pencuri yang terobsesi dengan hubungan mereka berdua jadi putus asa dan mematahkan tongkat sihir milik si penyihir! Harapan pun sirnah!"

Air mata berkilat di mata Jun. Dia selalu menghayati cerita dengan sepenuh hati seperti ini.

"Deskripsi kehancuran tubuh manusia di bagian akhir yang agak bikin merinding itu, jujur saja, bikin ilfil banget, tapi gua paham kalau deskripsi itu digunakan untuk menggambarkan penyesalan si karakter utama. Seru banget! Dalam durasi yang singkat, isi naskah yang berhasil menuntaskan kisah akhir para petualang sesuai judulnya ini benar-benar novel yang seru banget!"

Di titik itu, Jun menghela napas. Masih dalam posisi duduk di kursi, dia mendongak menatap langit-langit lalu menutupi wajah dengan tangannya.

"Tapi terlepas dari kebagusannya, kesan akhirnya buruk banget kan! Sama sekali tidak ada hal baik yang terjadi! Karena dimulai dari krisis dan melalui berbagai rintangan, harusnya di bagian akhir ada pembalikan keadaan dong! Gua tuh suka sama si biarawati maupun si penyihir, bahkan gua mengidentifikasikan diri dengan si pencuri sebagai sahabat karib! Gua menyamakan hubungan mereka dengan hubungan gua dan lu tahu!"

"Hatinya benar-benar hancur berkeping-keping, ya."

"Benar banget, Jun. Wajah seperti itulah yang ingin kulihat. Tapi, jangan menyamakan cerita dengan dunia nyata dong."

"Dasar lu penggila bad ending! Ya sudahlah, terlepas dari kebaikan isinya—"

Sambil menyapu air mata dengan saputangan, Jun melanjutkan dengan suara sengau.

"Sebagai sebuah cerita, memang tidak ada yang cacat, dan gua juga nangis gara-gara terlalu menghayati cerita ya. Tapi perkembangan alur di babak tengah di mana mereka saling melakukan kesalahan itu... rasanya menyiksa banget pas dibaca. Fakta bahwa kita tahu kesalahan itu bakal berujung pada kegagalan bikin tambah menyiksa!"

Banyak anggota klub yang menyetujui hal itu.

"Kalau saya sih mikirnya introduksi dan klimaks akhirnya sudah bagus, tapi babak tengah yang dibilang Jun-senpai tadi agak sedikit..."

"Kalau saya pribadi sih tidak kuat sama bad ending apalagi bagian adegan sadis (gore) di akhir cerita."

Setelah ucapan Jun selesai, anggota klub lainnya menyusul menyampaikan kesan mereka, dan kebanyakan berisi ketidakpuasan yang serupa.

Setelah semuanya selesai menyampaikan pendapat, Nanaha-senpai mengangguk.

"Terima kasih semuanya. Kalau buat aku, dua-duanya sangat menyenangkan. Aku memang paling tidak bisa kalau disuruh memilih, ya."

Nanaha-senpai menurunkan alisnya.

"Kelemahan karya Jun-kun yang dibilang belum selesai sebagai sebuah cerita berdasarkan kesan tadi. Serta kelemahan karya Asahi-kun yang kurang memiliki daya tarik pendorong di babak tengah. Aku rasa dua-duanya memang benar seperti itu. Tapi... aku sangat menyukai dan menikmati keduanya. Kalau kalian bagaimana?"

Fakta bahwa Senpai tidak tega menentukan mana yang lebih baik memang benar adanya. Makanya setelah menyampaikan pendapatnya, pada akhirnya dia menyerahkan keputusan akhir pada kesan para anggota klub.

"Kalau begitu, aku akan mengumumkan pemenang Pertarungan Novel kali ini. Tolong angkat tangan kalian seperti biasa ya. Aku tunggu selama 30 detik."

Senpai melirik jam dinding.

Aku dan Jun selaku penulis tidak ikut memilih. Tsukino juga menggelengkan kepala. Karena bukan anggota klub dan pasti bakal condong memihakku, dia memilih untuk menahan diri. Menurutku itu keputusan yang tepat.

"Kalau begitu... Judgement!"

Nanaha-senpai mengambil pemungutan suara untuk masing-masing karya.

Rasa tegang tentu saja ada. ...Namun, hasilnya sudah bisa kutebak. Tsukino memejamkan matanya dengan perlahan.

Seluruh anggota klub memilih karya Jun, 'Pahlawan Veteran yang Serba Kerepotan dan Si Gadis Pemberani Cheat Pemula'.

"Novel Asahi-senpai juga seru sih, tapi saya lebih suka akhiran bahagia ya~"

"Maaf ya, saya kurang kuat sama adegan sadis (gore)."

Saat para anggota klub sedang membaca tadi, dari raut wajah mereka aku sudah bisa menebak hasilnya secara kasar. Rasa suka dan tidak suka yang berbeda dari sekadar hati yang terguncang oleh bad ending mau tidak mau tetap tersampaikan.

Nanaha-senpai mengumumkannya dengan lembut namun jelas.

"Pertarungan Novel Klub Sastra. Pemenangnya adalah... Hikawa Jun-kun! Selamat ya."

Tepuk tangan bergema di ruang klub yang sempit. Aku dan Tsukino ikut bertepuk tangan.

"Terima kasih semuanya. Tapi gua masih belum ada apa-apanya. Bagian yang buruk juga masih banyak. Gua bakal bikin yang lebih bagus lagi."

"Seperti yang diharapkan dari Jun-kun, ya. Lagipula, novel Asahi-kun juga benar-benar menyenangkan lho. Sepertinya anggota yang lain juga berpikiran begitu di luar bagian yang tidak mereka sukai."

Saat senpai melemparkan pandangan mata, anggota klub lainnya ikut mengangguk. Karena aku paham kepribadian mereka, aku tahu mereka tidak sekadar mengiyakan ucapan Senpai. Hal itu menjadi sebuah penawar bagiku.

"Ahhh, tapi... rasanya menyenangkan sekali. Bisa membaca dua karya yang menyenangkan seperti ini sekaligus..."

Dengan raut wajah yang tampak terpesona, Senpai membiarkan tubuhnya gemetar.

"Jantungku sampai berdebar-debar (tokimeki). Aku juga mau menyelesaikan novel yang sedang kutulis, lalu bertanding dalam Pertarungan Novel melawan Jun-kun dan Asahi-kun. Lalu, aku bakal menghancurkan kalian berdua sekaligus. Tolong bertarunglah denganku lewat novel, aku mohon!"

"Ternyata di sini pun dia tetap seorang berserker penulisan karya ya."

Tsukino bergumam penuh penghayatan.

"Gua kalau sampai kalah lagi dari Nanaha-senpai kali ini, berarti bakal jadi kekalahan 8 kali berturut-turut lho. Bener-bener cewek yang menarik banget dah."

"Aku bakal menerima tantangannya sih, tapi rasanya aku juga tidak bakal bisa menang."

"Wahhh. Motivasinya luar biasa banget. Sekarang jantungku rasanya sedang berdebar tidak karuan."

Nanaha-senpai mendorong kacamatanya yang hampir melorot ke atas.

Membaca buku dengan kebiasaan yang sama seperti bernapas, dan menciptakan karya tulisan dengan kesahajaan yang sama seperti mengembuskan napas—itulah sosok Hananokizuki Nanaha. Karena menjadikan aktivitas menulis sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, dia adalah tipe jenius yang tidak merasakan penderitaan dalam berjuang. Dia adalah orang terhebat di klub sastra yang telah memenangkan berbagai penghargaan di ajang perlombaan kecil.

Di klub sastra ini, senpai yang seperti itu bakal menerjang kami setiap ada kesempatan. Baik aku maupun Jun selalu menyambut tantangannya dan berakhir tewas setiap saat.

"Woi, Asahi."

Jun kembali berbicara padaku secara serius.

"Kalau secara kualitas sebagai sebuah novel, tulisan gua jelas kalah dari lu. Makanya... soal itu... bukankah sebaiknya lu mencoba menulis cerita selain bad ending juga?"

Itu adalah kalimat yang tergolong sopan bagi seorang Jun. Rambutnya yang tajam berdiri entah kenapa terlihat agak lemas, dan jarak tubuhnya juga menjauh. Padahal dia seorang Jun, tapi dia tidak melakukan kabe-don.

"Bahkan untuk ukuran Pertarungan Novel pun, hal itu saja sudah bikin lu rugi lho. Lu tuh cowok yang bisa bertahan hidup biarpun bikin cerita happy ending! Tidak, malah gua tuh pengen banget membaca cerita happy ending buatan lu!"

Anggota klub lainnya juga mengangguk dengan canggung.

Tsukino menundukkan pandangannya. Di Pertarungan Novel kali ini, dia telah mendorongku untuk menulis cerita bad ending. Dia pasti merasa bertanggung jawab atas hal itu.

"Seperti yang kamu katakan, Jun. Terima kasih ya."

Aku mengangguk,

"Tapi, aku tetap bakal menulis bad ending."

Aku mengucapkannya dengan tegas dan jelas.

Tsukino mengangkat wajahnya dan mengedipkan matanya terkejut. Jun menyunggingkan sudut bibirnya seolah-olah sudah menebak perkataanku secara garis besar. Nanaha-senpai mengangguk-angguk berulang kali.

Aku mengedarkan pandangan mata ke arah mereka bertiga dan para anggota klub lainnya.

"Aku... suka bad ending. Aku bahkan masih ingat alasan kenapa aku menyukainya."

Atau lebih tepatnya, harus kukatakan kalau aku mengingatnya dengan lebih jelas dalam beberapa hari terakhir ini.

Di salah satu sudut rak buku ruang klub, majalah buatan klub (bu-shi) yang dibuat oleh para mantan anggota klub sastra hingga anggota klub sastra yang sekarang terpajang rapi. Di sana, majalah klub yang juga ada di kamarku—maupun di sisi dunia sebelah sana, di kamar Tsukino—turut bersemayam.

"Sewaktu SMP dulu, saat datang ke festival budaya SMA ini, aku membaca novel buatan klub sastra zaman dulu. Bad ending yang ada di dalam cerita itu membuat tubuhku gemetar hebat. Hatiku terombang-ambing dan tercabik-cabik. Tetapi, guncangan itu… bekas luka itu tidak pernah bisa kulupakan."

Guncangan yang membuatku tidak bisa tidur selama tiga hari. Kenangan yang kubagi bersama sosok diriku yang lain, Tsukino.

"Aku ingin mengukir bekas luka seperti itu di dada seseorang juga. Alasanku menulis bad ending bukan agar disukai oleh orang lain, tetapi karena aku ingin memberikan luka yang tidak akan pernah hilang."

Perasaan yang tadinya samar-samar kini telah mengambil bentuk dalam wujud kata-kata. Keberadaan sosok diriku yang satu lagi telah membuat diriku sendiri bisa memahaminya.

"Aku juga… berpikir kalau bad ending itu tidak apa-apa kok."

Sebuah suara yang dingin dan jernih terdengar. Tsukino telah berdiri dari duduknya.

"Umm. Aku kan orang luar ya."

Sadar bahwa dia telah berbicara karena terbawa suasana, pandangan matanya yang bagaikan musim dingin yang membekukan terlempar ke arah yang tidak jelas.

"Jangan dipikirkan, tolong lanjutkan saja. Aku ingin mendengarkannya kok."

Nanaha-senpai mengepalkan kedua tangannya erat-erat dan tampak sangat bersemangat. Jun dan para anggota klub lainnya juga tidak menghentikannya.

"Terima kasih banyak. Kalau begitu, sekali lagi ya."

Punggung Tsukino menegak lurus. Di balik pandangan matanya yang membeku, terdapat kobaran api yang pasti. Dia menatap Jun dan para anggota klub dengan manik matanya itu.

Dia memutar tubuhnya dengan anggun. Rambut hitam panjangnya menyusul berayun indah.

Di dalam matanya yang dingin namun hangat itu, sosok diriku terpantul. Seorang siswa SMA yang tatapan matanya cuma galak biasa, tetapi memiliki ciri khas yang sama persis dengan Tsukino.

"Alasannya sangat simpel. Aku sama seperti Asahi. Aku ingin menulis bad ending. Biar bagaimanapun orang mengatakannya, aku ingin menghancurkan hati orang lain. Makanya, aku ingin mendukung Asahi yang menulis bad ending."

Menerima ucapan dari sosok diriku yang lain dengan anggukan penuh rasa terima kasih dan empati, aku kembali berhadapan dengan Jun.

"Maaf ya, Jun. Singkatnya, aku ini memang fans fanatik bad ending (bad end chuu)."

Jun mengangkat bahunya secara berlebihan, lalu tertawa kecut.

"Memang tidak ada obatnya, ya. Tapi bagian yang kayak gitu dari lu… gua suka sih."

"Aku juga sangat menyukai bad ending tulisan Asahi-kun lho. Saking sukanya, aku ingin menulis cerita yang jauh lebih menyenangkan daripada itu untuk menghancurkanmu. Sikap egois penulis seperti Asahi-kun justru membuat novel buatanku jadi jauh lebih menyenangkan."

Nanaha-senpai yang memegang kacamatanya dengan tidak tenang mengembuskan napas dari hidungnya secara berapi-api.

"Tidak, lho, lagipula kami kan selalu dihancurkan olehmu setiap saat."

Jun ikut mengangguk dengan keras.

"Tapi setiap kali dihancurkan, Asahi-kun dan Jun-kun selalu bangkit kembali dengan makin kuat dan makin menyenangkan, kan. Melihat hal itu membuatku berpikir kalau aku juga harus berjuang lebih keras lagi."

Kenyataannya, meskipun aku atau Jun membuat karya yang lebih bagus dari sebelumnya, orang ini selalu melangkah satu tahap di depan kami, dan itu sangat menakutkan. Seorang jenius yang memiliki ambisi untuk terus berkembang benar-benar terlalu menakutkan.

"Karya kalian berdua kali ini benar-benar sangat menyenangkan. Kalian jadi makin kuat lagi. Karakter buatan Jun-kun terasa jauh lebih hidup dari sebelumnya sampai-sampai membuatku tersenyum-senyum sendiri saat membacanya. Sementara Asahi-kun berhasil menutupi aspek struktur yang sempat dikritik sebelumnya dengan sangat rapi. Kalian mau jadi sekuat apa sih?"

"Soal itu... terima kasih ya."

Anggota klub lainnya juga mengakui hal tersebut. Dipuji secara terang-terangan di depan wajah seperti ini membuatku merasa sangat geli.

’Akhir dari Seorang Petualang’ yang menjadi novel yang lebih menarik dari sebelumnya bukanlah karya yang bisa kutulis seorang diri. Itu berkat adanya masukan dari Jun. Dan juga—

Pandangan mataku bertemu dengan Tsukino. Berkat keberadaannya, aku bisa melangkah satu tahap lebih jauh meskipun dalam durasi waktu yang singkat ini.

Aku juga jadi tidak perlu ragu lagi mengenai apa yang ingin kutulis.

Cahaya yang masuk dari jendela membuat mata hitam Tsukino berkilau.

Seketika aku menyadarinya. Kami ternyata telah menghabiskan terlalu banyak waktu. Meskipun ini adalah periode waktu siang yang panjang, matahari sudah mulai condong ke barat.

Hal paling penting saat ini adalah menemukan cara agar Tsukino bisa kembali ke dunianya yang semula.

"Benar juga. Nanaha-senpai. Aku rasa Senpai cukup tahu soal legenda atau cerita rakyat di sekitar daerah sini kan."

"Tidak sampai tahu banget kok. Cuma pernah menyelidikinya sedikit karena tertarik saja."

Orang yang benar-benar tahu banyak biasanya memang bakal berkata begitu. Fakta bahwa novel buatan Nanaha-senpai tidak akan bisa ditulis tanpa adanya landasan pengetahuan sejarah, legenda daerah, serta trivia yang melimpah bakal langsung tersampaikan begitu membaca karyanya.

"Di sekitar sini, apakah ada contohnya... tanah yang punya asal-usul kelam, atau cerita rakyat tentang tempat yang terhubung dengan dunia lain? Apa Senpai pernah mendengar hal-hal seperti itu?"

Meski begitu, pertanyaan ini kuajukan tanpa berharap banyak. Mana mungkin cerita yang kebetulan seperti petunjuk dunia paralel bakal keluar begitu saja.

"Ada banyak kok."

""Eh?""

Suaraku dan Tsukino saling berbenturan.

"Kalau bicara soal Himurokigaoka, daerah ini kan sangat terkenal dengan fenomena diculik dewa (Kamigakushi)."

Dia mengucapkannya dengan santai, seolah-olah bilang kalau manusia tidak bisa bernapas, pasti bakal mati.

Baik Jun maupun anggota klub lainnya menggelengkan kepala sambil berkata, "Baru pertama kali dengar tuh."

"Lho?"

Mata Nanaha-senpai di balik kacamatanya membulat terkejut.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment