Episode 8: Menjelajahi Area Terlarang Bersama Diriku yang Lain dari
Dunia Paralel
"Cerita itu sangat terkenal
lho. Terkenal banget, kan? Semua orang pasti pernah membaca 'Matsunosuke
Kembali' waktu kecil, kan?" Nanaha-senpai menceritakan hal itu secara
terperinci, meskipun dia sama sekali tidak mendapatkan persetujuan dari kami.
Sebelum new town (kota
baru) dibangun, area di sekitar Himurokigaoka—selain kawasan kota tua tempat
tinggal Nanaha-senpai dan kuil berada, yaitu Himurokigaoka Motomachi yang
sekarang—kabarnya hampir seluruhnya tertutup oleh hutan.
Kemudian jalur kereta api
dibangun di sana, hutan-hutan dibabat untuk pembangunan new town, hingga
akhirnya menjadi Himurokigaoka yang ada saat ini.
***
Berhubung Nanaha-senpai
menceritakannya dengan begitu penuh penghayatan, saat kami keluar dari sekolah
pada hari Pertarungan Novel, hari sudah hampir gelap sepenuhnya.
Karena aku masih belum tahu
perbedaan aliran waktu antara duniaku dan dunia Tsukino, ada rasa cemas yang
menggelayuti. Namun, mencari tahu tentang fenomena Kamigakushi (diculik
dewa) maupun area terlarang (kinsokuchi) mau tidak mau harus menunggu
hingga keesokan harinya.
Maka dari itu, di hari
berikutnya. Begitu jam sekolah usai, aku dan Tsukino mengunjungi Perpustakaan
Himurokigaoka.
Perpustakaan yang terletak di
dekat area stasiun tersebut memiliki tampilan khas bangunan fasilitas umum yang
polos tanpa hiasan berlebih.
Begitu melangkah ke dalam area
pintu masuk, bau yang agak mirip dengan ruang perpustakaan sekolah mulai
tercium. Mungkinkah ini aroma khas dari buku-buku?
Menghadapi atmosfer perpustakaan
yang seperti itu, penampilanku dan Tsukino hari ini terasa agak salah tempat.
Blus putih yang dikenakan Tsukino
di sampingku dihiasi dengan banyak frill. Corak berwarna abu-abu dan
hitam yang berpusat di sekitar kerah bajunya sekilas mirip dengan seragam
sekolah, tetapi sebenarnya sangat berbeda.
Rok yang mengayun seraya dia
melangkah tampak dianyami oleh pita-pita hitam berlapis. Berseberangan dengan
kesan anggun dan manis tersebut, pin studs yang memancarkan aura tajam dan
berbahaya justru berkilau redup.
Aksesori perak yang menyembul
dari ujung lengan baju, maupun sepatu bot yang memberikan kesan gagah, secara
ajaib tampak sangat cocok dengan pakaian yang memiliki dua kesan berlawanan
ini. Keseluruhan keseimbangan itu bisa dibilang adalah wujud dari Tsukino itu
sendiri. Sangat mirip dengan kesan mawar hitam dan perak yang disematkan pada
rambut hitamnya.
Ini adalah pakaian yang kami beli
pada hari kami berkeliling kota waktu itu.
Sebaliknya, aku juga mengenakan
pakaian hitam dari hari itu. Kalau berdiri bersisian dengan Tsukino, rasanya
aku hanya terlihat benar-benar polos dan biasa saja.
"Baguslah ada kesempatan
untuk memakainya. Aku senang."
Mata dan bibir Tsukino membentuk garis lengkung senyuman. Mungkinkah dia menata ulang rambutnya saat
berganti pakaian? Rambutnya terlihat jauh lebih berkilau dari biasanya, dan
rasanya aku juga bisa mencium aroma lembut lain yang berbeda dari wangi sampo.
Singkatnya, dia sengaja membawa
baju ganti dan baru berganti pakaian setelah sekolah usai. Ini adalah
permintaan khusus dari Tsukino. Berkat hal itu, barang bawaanku hari ini terasa
lumayan berat.
Meski profil wajah Tsukino tetap
terlihat dingin seperti biasa, setiap gerak-geriknya tampak begitu riang. Aku… ya,
karena cuma memakai pakaian hitam biasa, tampilanku masih dalam batas wajar.
Meskipun secara selera pakaian ini memang cocok denganku.
"Perbedaan pria dan wanita,
kah. Dalam hal seperti ini ternyata ada bedanya juga ya biarpun kita adalah
keberadaan yang sama."
"Pakaian itu cocok kok buat
Asahi."
Karena belum pernah dipuji
seperti itu sebelumnya, aku merasa agak malu. Aku jadi tidak sanggup menatap
wajahnya.
"Ya daripada tidak cocok,
sih."
"Kelihatannya kamu juga
sedang agak luwes dan senang ya."
"Itu mah kamu kali."
Apakah aku juga ikut merasa
senang tanpa menyadarinya? Yang pasti, kami berdua memang datang ke
perpustakaan ini dengan suasana hati yang sedikit riang.
Tsukino hanya terkekeh pelan
"Fufu" tanpa berkata apa-apa lagi. Dasar keberadaan yang sama...
"Asahi sering datang
ke sini?"
Tsukino sedang melihat
poster pengumuman acara yang ditempel di papan informasi.
"Tidak, sudah lama
sekali. Seingatku waktu SMP dulu aku suka datang ke sini bersama Jun pas
liburan musim panas."
"Aku paham. Tempat
ini banyak bukunya, terus adem juga, jadi sangat membantu ya."
Bagian dalam perpustakaan
tidak banyak berubah dari ingatanku. Di dalam area yang jauh lebih luas
daripada ruang perpustakaan sekolah, jajaran rak buku berdiri dengan rapi.
Setelah melewati meja
resepsionis, kami berjalan di antara celah-celah rak buku.
"Apa bagian dalam
perpustakaan di dunia Tsukino juga sama?"
"Hmm..."
gumamnya sambil melihat ke sekeliling. Koleksi buku, poster, staf. Apakah ada
perbedaan di suatu tempat?
"Ini cuma
mengandalkan ingatan waktu SMP sih, tapi secara umum sama kok. Kalau cuma mau
meminjam buku-buku populer, tidak ada masalah. Tapi kalau bukunya agak kurang
terkenal atau buku lama, sepertinya perlu mengajukan pemesanan khusus."
"Penjelasannya
sangat spesifik, tapi aku juga punya kesan yang sama."
"Hanya dengan
keberadaannya di lokasi yang mudah dijangkau saja, rasa syukurnya sudah setara
dengan tiga puluh buah novel bad ending."
"Aku paham analogi
itu."
Tsukino menghentikan
langkahnya. Kami berada di area novel hiburan umum. Dia menarik keluar sebuah
buku dari rak. Sampulnya dihiasi dengan gambar ilustrasi seorang gadis manis
dengan warna yang lembut.
"Kamu pernah membaca yang ini?"
"'Rin-chan Teman Masa
Kecil'. Cerita
tentang Rin-chan, si teman masa kecil yang mengalami hal-hal yang benar-benar
mengerikan, kan. Semua kejadian di dalamnya adalah masalah sosial yang nyata di
dunia asli. Karakter utamanya sudah berusaha setengah mati dan sepertinya bakal
berhasil menyelesaikan masalah tersebut, tapi di detik-detik terakhir semuanya
malah buntu. Kebuntuan total... Padahal kalau ada satu hal kecil saja yang
berbeda. Seandainya saja berbeda... Itu adalah novel good-bad yang efek
kepikiran/terngiang-ngiang (hiki-zuri) bertahan selama seminggu."
"Aku paham kenapa
kamu langsung bicara cepat begitu."
Aku mengambil sebuah buku
dari rak lain. Gambar ilustrasi astronot yang menengadah menatap langit penuh
bintang terasa sangat berkesan.
"Kalau yang ini sudah baca?"
"'Milky Way yang Bermekaran'. SF yang sangat enak dibaca ya.
Gaya bahasanya lembut, dan interaksi karakternya juga hangat dan harmonis.
Bahkan setelah di tengah cerita terungkap kalau karakter utamanya tidak punya
pilihan lain selain mati, kisahnya terasa seperti jenis cerita mengharukan di
mana dia tetap berjuang dengan gigih... Tapi tepat di akhir cerita, saat
karakter utamanya mencoba melarikan diri, kesan akhirnya mendadak berubah jadi
sangat menyebalkan. Kejutan penurunan itu benar-benar good-bad."
"Meskipun kisahnya bagus, pas aku mikir 'Harus dikatakan mengharukan
tapi buat ukuran bad ending rasanya masih ada yang kurang nih',
perkembangan cerita good-bad yang tiba-tiba muncul itu benar-benar
terngiang banget."
Tangan kami berdua saling
bersentuhan. Kami ternyata berniat mengambil buku yang sama. Gambar ilustrasi
sampulnya memperlihatkan tulang dari suatu bagian tubuh yang bergulir. Apakah
tulang yang retak itu menandakan bahwa keberadaannya mulai melapuk?
"'Suara Ketukan Tulang'
(Kotsu-kotsu no Oto)."
"Genre horor memang punya
banyak bad ending sih, tapi cara kejadian yang diperbuat karakter utama
menyebar ke orang-orang di sekitarnya secara beruntun itu benar-benar parah
banget ya."
"Benar. Karakter utama
memang berhasil menyelesaikan masalah tersebut dengan bantuan orang-orang di
sekitarnya, tapi kenyataannya satu-satunya yang tersisa di akhir cerita cuma
karakter utama itu lho. Di bagian akhir, ceritanya tidak banyak bicara,
melainkan menyampaikan keputusasaan hanya lewat tindakan karakter utama dan
pemandangan di sekitarnya—itu benar-benar good-bad."
Aku dan Tsukino menyemburkan tawa
di saat yang bersamaan.
"Seperti yang
diharapkan dariku, ya, seleranya bisa klop banget begini."
"Seperti yang diharapkan
dariku juga, pemikirannya bisa persis sama."
"Seandainya ada buku
yang belum kubaca tapi pernah dibaca oleh Asahi, itu pasti bakal jadi bad
ending yang sangat cocok denganku."
"Aku juga mau mengatakan hal
yang sama. Tidak, lebih dari itu... Bisa merekomendasikan novel bad ending
tanpa perlu ragu atau banyak berpikir, rasanya menyenangkan sekali ya."
"Soalnya kalau ke
Jun dia bakal marah kan."
Waktu datang ke
perpustakaan bersamanya dulu, aku sempat merekomendasikan 'Rin-chan Teman
Masa Kecil' dan dia benar-benar marah besar padaku. Tapi terlepas dari hal
itu, fakta bahwa dia tetap memuji kualitas novelnya sendiri adalah hal yang
sangat khas dari seorang Jun.
Aku tahu betul kalau bad
ending bukanlah selera mayoritas orang pada umumnya. Wajar saja kalau Jun
yang merupakan penganut fanatik happy ending merasa ilfil, bahkan
anggota klub sastra lainnya pun tidak akan mau membacanya secara sukarela.
Hanya Nanaha-senpai saja yang mau membacanya dengan senang hati, tetapi karena
dia adalah tipe pemabuk bacaan (randokuka), bukan berarti dia memiliki
ketertarikan khusus pada bad ending.
Memiliki selera bad
ending yang sejajar sejauh ini baru pertama kali kurasakan bersama Tsukino.
Ya, wajar saja sih.
"Kalau ada waktu,
mungkin kita bisa membuat daftar bad ending yang sudah kita tamatkan
lalu saling bertukar. Dengan begitu, kita bisa tahu buku apa saja yang belum
pernah dibaca oleh masing-masing dari kita."
"Boleh juga tuh.
Saling bertukar buku yang belum dibaca. Ah, tapi... Hal itu sepertinya bisa
menimbulkan masalah tersendiri deh."
"Maksudnya
bagaimana?"
"Kalau cerita bad
ending dibaca sambil mengetahui kalau itu adalah cerita bad ending,
kenikmatan saat menemukan kejutan bad ending-nya jadi berkurang kan.
Meskipun bukan spoilers, tapi arah konklusi/akhir ceritanya jadi
ketahuan duluan."
"Kejutan bad
ending tak terduga seperti di 'Infinity Heaven' itu memang tidak ada
tandingannya sih."
"Tapi kalau aku
merekomendasikan sesuatu ke Asahi, itu sudah hampir otomatis jadi spoiler
bad ending kan..."
"Kita sendiri malah
jadi spoiler bad ending sampai-sampai tidak bisa merekomendasikan
buku-buku yang berfokus pada eksekusi kehancuran mendadak (sadden strike)..."
Aku tidak menyangka kalau
kesamaan selera di antara kami bisa memiliki celah jebakan seperti ini.
"Ah, kita malah melenceng
dari topik utama."
"Benar juga ya. Padahal
kalau aku pribadi sih tidak masalah kalau hari ini dipakai buat bikin daftar bad
ending saja."
"Hei, kamu kan pihak
korbannya! Kemarin kita tidak ada kemajuan sama sekali, jadi tidak bisa begitu
dong."
Tsukino terkadang punya sisi
santai yang terlalu santai. Seandainya aku yang terlempar ke dunia paralel,
apakah aku juga bakal bersikap seperti itu?
Bagaimanapun juga, kami harus
kembali ke tujuan awal.
Kami melangkah ke area
perpustakaan yang lebih dalam. Sama seperti kami, ada beberapa siswa lain yang
datang ke sini setelah pulang sekolah. Anak-anak SD dan SMP juga terlihat.
Ada juga sepasang siswa pria dan
wanita yang duduk berhadapan di meja yang sama sambil menggerakkan pena mereka
di atas catatan. Sesekali, mereka berbisik pelan lalu tertawa bersama.
"Kira-kira itu kencan, bukan
ya," gumam Tsukino pelan.
"...Kamu memikirkan hal yang
sama?"
"Ya, begitulah."
Bicara soal itu, kalau sepasang
murid dengan seragam sekolah yang datang bersama dianggap sedang kencan, lalu
bagaimana dengan kami berdua yang datang dengan dandanan bernuansa sama ini?
Merek bakal melihat kami seperti apa? Pemikiran itu sempat terlintas di
benakku, tetapi tidak kuucapkan.
"Kalau kita… bakal kelihatan
seperti apa ya di mata orang lain."
Tsukino malah mengucapkannya
secara terang-terangan.
"Kalau dari penampilan… dari
penampilannya saja mungkin memang kelihatan seperti kencan, sih."
"Benar juga. Bagi orang yang
tidak tahu, hubungan kita mungkin bakal kelihatan seperti itu. Tapi ya, tidak
buruk juga sih."
Apakah alasan dia memalingkan
wajahnya karena sedang mencari dokumen yang kami butuhkan, atau karena alasan
yang sama dengan kenapa ruangan ini rasanya jadi mendadak agak hangat?
Bagaimanapun juga, aku meletakkan
barang bawaan di meja bagian dalam, lalu mengambil dokumen berukuran besar dari
sudut area perpustakaan.
Itu adalah peta lama daerah
Himurokigaoka. Mulai dari kumpulan peta tua hingga peta yang dijilid dalam
pemegang lembaran binder, ada berbagai jenis dokumen yang tersedia.
Kami membeberkan
dokumen-dokumen itu di atas meja. Mulai dari sini, kami harus mengerjakannya dengan serius.
Karena tidak terbiasa, kami membutuhkan
waktu dan usaha yang lumayan banyak untuk mencari informasi yang benar-benar
kami perlukan.
Namun, kami berhasil menemukan
beberapa peta sebelum pembangunan New Town serta dokumen yang mencatat
area terlarang (kinsokuchi).
"Seperti yang dibilang Nanaha-senpai,
dulu daerah ini memang hampir seluruhnya berupa hutan ya."
"Selain daerah kota lama,
semuanya benar-benar hutan. Selain itu..."
Tsukino memajukan tubuhnya dari
seberang meja ke arahku. Aroma lembut dari parfum yang berbeda dari tadi pagi
tercium tipis.
Jari-jarinya yang lentik,
panjang, dan putih menelusuri lembaran peta.
"Taman Observasi, SMA
Himurokigaoka, Green Mall... Luar biasa, semuanya benar-benar berada di luar batas area terlarang,
ya."
Cakupan wilayah area
terlarang memang sedikit berbeda tergantung pada dokumennya. Namun, yang pasti,
luasnya memang cukup untuk menampung seluruh kawasan pusat keramaian di depan
stasiun.
"Kuil Himurokigaoka yang
sepertinya mencurigakan itu juga merupakan bagian dari Motomachi, jadi
letaknya ada di luar area terlarang."
"Area yang masuk dalam kategori area terlarang adalah bagian timur New
Town, Himurokigaoka Higashi-machi. Tapi, itu adalah tempat yang justru
tidak pernah dikunjungi oleh Tsukino-kan."
Kalau begitu, sejak awal keberadaan area terlarang sama sekali tidak ada
hubungannya dengan perpindahan dunia paralel dong.
"Kupikir bakal ada petunjuk. Ternyata malah kembali ke titik awal
ya."
"Um..."
Tsukino mengangkat
tangannya dengan ragu-ragu.
"Dalam situasi
seperti ini, bukankah biasanya ada sesuatu di tempat yang menjadi landmark?
Makanya dari awal aku langsung mengira kalau tempat itu sama sekali tidak ada
hubungannya..."
"Maksudmu ada tempat yang
lupa kamu sebutkan, ya."
"Seperti yang
diharapkan dariku. Benar sekali."
Dengan raut wajah yang
tampak sangat canggung, Tsukino meletakkan jarinya di area Himurokigaoka
Higashi-machi. Tempat itu memang tumpang tindih dengan area terlarang, tetapi
di sana memang tidak ada bangunan yang bisa disebut sebagai landmark.
"Ini... di sekitar rumah
Paman ya. Terus ada Book-Off."
"Book-Off! Ternyata toko itu
melintasi dunia, ya. Namanya agak mepet tapi sebutan tokonya sering dipotong
oleh toko buku bekas waralaba daerah... Ah, itu benar-benar tidak
penting."
Tsukino menggelengkan kepalanya.
"Hari itu, tempat pertama
yang kudatangi sebenarnya adalah rumah Paman."
Dia adalah kerabat dari pihak
ayah. Karena hubungan persaudaraan orang tua kami sangat baik, hubungan
kekeluargaan yang melibatkan saudara sepupu juga lumayan erat.
"Jadi, aku memang
sempat masuk ke area terlarang. Tapi… karena aku sempat bertemu dengan Paman,
berarti pada titik waktu itu aku harusnya belum datang ke dunianya Asahi, kan?"
"Misalnya saja… akibat
penyesuaian dunia, Paman di dunia sini jadi punya kenalan dengan Tsukino?"
"Tidak mungkin. Soalnya di
dunia sini kan aku dianggap sebagai anak perempuan dari keluarga yang punya
hubungan dekat dengan keluarga Masumi. Artinya, aku tidak punya hubungan
kekerabatan dengan paman di dunia ini. Paman yang kutemui waktu itu berbicara
denganku sebagai keponakannya."
Memang aneh kalau cuma Paman saja
yang memberikan reaksi yang berbeda.
"Setelah pergi ke rumah
Paman, aku baru bergerak ke Taman Observasi, Kuil Himurokigaoka, lalu ke Green
Mall, kan."
"Kamu lumayan banyak
muter-muter ya."
"Aku cuma bergerak
mengikuti dorongan hati saat itu kok."
Meski begitu, untuk
ketahanan kaki Tsukino yang kuat, rute berjalan sejauh itu bukanlah hal yang
sulit.
Kami berdua bangkit dari
tempat duduk. Merekam dan mencari dokumen memang memakan waktu, tetapi matahari
masih belum sepenuhnya tenggelam.
"Ayo kita periksa rute
pergerakan di dalam area terlarang setelah dari rumah Paman. Siapa tahu ada
perubahan tertentu."
Tentu saja ada kemungkinan tidak
menemukan apa-apa, tetapi itu jauh lebih baik daripada tidak melakukan apa pun.
***
Pertama-tama, kami berjalan dari
perpustakaan menuju area Motomachi. Dari jajaran pemandangan kota yang
memadukan rumah-rumah berarsitektur lama dengan rumah-rumah yang baru dibangun
kembali, tercium aroma kayu yang pekat. Suara gesekan dedaunan yang bergoyang
ditiup angin bukanlah berasal dari pohon tepi jalan, melainkan dari pepohonan
yang tumbuh di balik pagar benteng kuno.
Di bawah naungan dedaunan yang
terwarnai oleh rona senja, aku dan Tsukino melangkah maju. Saat berada di luar,
langkah kakinya yang seharusnya sudah sangat familier bagiku kini berubah
menjadi suara dari sepatu bot yang benar-benar baru, memberikan kesan yang
menyegarkan hari ini.
Setelah keluar dari perpustakaan,
Tsukino tidak banyak bicara. Sosoknya yang mengenakan pakaian mirip gaun hitam
dan putih seraya melempar pandangan ke arah pemandangan kota lama
mengingatkanku pada keindahan dingin dan gelap saat pertama kali aku melihatnya.
Kepadatan pepohonan yang masuk ke
dalam jarak pandang makin meningkat. Di sepanjang jalan yang menembus dari
Motomachi menuju Higashi-machi ini terdapat Kuil Himurokigaoka. Gerbang torii
kuil tersebut mulai terlihat.
Karena hari ini tidak ada urusan
di kuil, kami berniat melewatinya begitu saja. Namun, saat melirik ke arah area
dalam kuil (keidai), aku dan Tsukino sama-sama menghentikan langkah
kaki.
Di bangku yang berada di sudut
area kuil, seorang miko tampak sedang duduk. Sosoknya yang bersandar
sambil membaca buku jelas-jelas menandakan bahwa dia sedang membolos dari
pekerjaannya. Aku yakin sekali, bahwa miko tersebut tidak salah lagi
adalah Hananokizuki Nanaha-senpai.
Mengenakan hakama merah (hibakama)
dan atasan putih (hakui), Nanaha-senpai yang duduk sangat sopan di kursi
terus melanjutkan bacaannya tanpa menyadari keberadaan kami. Rambut peraknya
yang dianyam rapi secara ajaib tampak sangat cocok dengan pakaian miko.
Di balik kacamatanya, matanya yang tenang menelusuri kalimat demi kalimat
dengan sangat tekun. Apalagi, buku yang dibacanya adalah buku bersampul tebal (hardcover)
yang lumayan tebal.
Emosi yang didapat dari buku itu
terrefleksikan pada gestur tubuh kecil serta gerakan bibirnya. Bibirnya
melonggar, mengencang, lalu mengembuskan napas pelan. Ujung kakinya yang
mengenakan tabi dan zori menepuk-nepuk kerikil di tanah.
Padahal sedang membolos kerja,
tetapi sosoknya benar-benar tampak bagaikan sebuah lukisan.
Meski sempat berpikir apakah kami
bakal mengganggu aktivitas阅读-nya, kami tetap membungkuk memberi hormat di depan gerbang torii
lalu melangkahkan kaki masuk ke area kuil.
Karena Nanaha-senpai masih belum menyadarinya, kami pun menyapanya.
"Ara. Selamat
sore."
Nanaha-senpai meletakkan
buku hardcover di tangannya ke samping dengan gestur yang sangat alami.
Dia berdiri seolah-olah tidak terjadi apa-apa, lalu meraih gagang sapunya.
Itu adalah gerakan yang sangat sempurna untuk
berpura-pura seakan-akan dia sudah menyapu sejak tadi dan baru saja
beristirahat sejenak—padahal kami berdua melihatnya sedang membaca dengan
sangat khusyuk.
"Senpai, hari ini
tidak datang ke klub sastra?"
"Pertarungan Novel
kan sudah selesai. Jun-kun juga bilang mau pergi membeli buku baru. Karena itu,
aku lebih memprioritaskan rumah. Kalau aku tidak membersihkannya, tempat ini
bakal berantakan. Bikin repot saja, ya."
Dia menggunakan tubuhnya
untuk menyembunyikan buku di atas bangku secara samar-samar. Nanaha-senpai
memang punya sisi yang seperti itu.
Lalu, seolah-olah baru
menyadari sesuatu, dia menatap ke arah kami. Di balik kacamatanya yang bulat,
matanya yang lembut berkedip pelan.
"Jangan-jangan... kalian
berdua pacaran ya?"
Suara aneh lolos dari tenggorokan
kami berdua secara bersamaan.
"Kenapa berpikir
begitu?"
Situasinya padahal sama saja
seperti saat kami datang ke ruang klub sastra kemarin, kenapa bisa berpikiran
begitu? Namun di saat yang sama, aku langsung memahaminya.
Tsukino yang berdandan rapi dan
aku yang mengenakan pakaian hitam secara garis besar terlihat seperti pasangan
yang memakai baju sarimbit (couple outfit).
"Ah, eh... Kami bukan...
Maksudnya, selera kami saja yang kebetulan mirip kok."
"Karena ada urusan keluarga,
kami jadi sering jalan bareng. Cuma itu, cuma itu kok."
"Kalian meresponsnya
kompak banget ya. Maaf,
maaf."
Nanaha-senpai terkekeh pelan
seolah sama sekali tidak memercayai sanggahan kami. Memang sih, wajar saja
kalau dia memberikan reaksi seperti itu.
"Aku… cuma berniat melihat
langsung tempat yang menjadi lokasi legenda Kamigakushi yang ditanyakan
kemarin."
"Benar. Aku cuma menemaninya
mencari bahan tulisan."
"Ooh, begitu ya, riset
lapangan! Aku paham, paham banget! Kalau sudah mencari tahu lokasinya dari
buku, rasanya memang ingin mendatangi tempat aslinya langsung, kan. Aku juga
sering melakukan hal itu."
Senpai menepuk tangannya pelan
lalu mengangguk-angguk antusias.
"Soal fenomena Kamigakushi
di Himurokigaoka, dulu aku juga pernah sangat tertarik dan banyak mencarinya
lho. Kejadian aslinya, sampai ritual yang dilakukan saat ada yang mengalami Kamigakushi."
"Ritual? Maksudnya ritual seperti apa?"
Itu mungkin bisa menjadi petunjuk
bagi Tsukino untuk kembali ke dunianya. Tsukino sendiri sepertinya memiliki
pemikiran yang sama, matanya seolah berbicara, memohon untuk mendengar
informasi itu lebih banyak lagi.
Nanaha-senpai menempelkan jarinya
di dagu sambil bergumam "Hmm...", seraya menengadah menatap langit
senja.
"Aku membaca bukunya sudah
lama sekali sih. Saat terjadi Kamigakushi, ada ritual khusus yang
dilakukan untuk membawa orang itu kembali, dan seingatku ritual itu memang
benar-benar pernah dipraktikkan berkali-kali…"
Dia menggelengkan kepalanya
hingga rambut peraknya ikut berayun.
"Nanti bakal kucoba cari
tahu lagi deh."
"Ah, tidak perlu
sampai merepotkan diri begitu. Terima kasih banyak ya."
"Maaf ya. Seandainya saja
waktu itu kutulis jadi novel, pasti bakal kuingat."
"Metode mengingat ala
Nanaha-senpai ternyata begitu ya…"
"Ngomong-ngomong. Bicara
soal topik seperti itu, aku juga pernah melihat hantu lho."
"Hantu?"
Ini pertama kalinya aku mendengar
hal itu. Nanaha-senpai meragakan gerakan tangan meliuk-liuk ala hantu.
"Benar. Cerita tentang hantu
di area terlarang (kinsokuchi) juga lumayan banyak dalam ceritanya. Dan
yang kulihat itu juga berlokasi di Higashi-machi, bekas area terlarang."
Nanaha-senpai terus melanjutkan
gerakan tangan meliuk-liuk yang agak tidak jelas maksudnya.
"Begitu mikir 'Eh, ada orang
tuh', orangnya mendadak menghilang begitu saja. Kejadiannya sempat beberapa
kali, tapi tidak ada satu orang pun yang percaya padaku."
Ucapannya diiringi dengan
alisnya yang melengkung turun.
"...Aku sendiri sih merasa
kalau itu cuma salah lihat saja ya. Tapi rasanya jauh lebih seru kalau
menganggapnya sebagai hantu."
Aku dan Tsukino tanpa sadar
saling bertukar pandang.
Mungkinkah itu menandakan adanya
celah keterhubungan dengan dunia paralel, dan dia sempat menyaksikan proses
perpindahan ke dunia sana? Meskipun interpretasi ini terdengar terlalu cocok
dan menguntungkan, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memikirkan
kemungkinan tersebut.
"Asahi-kun?"
Melihat kami yang mendadak
terdiam, Nanaha-senpai melemparkan pandangan heran.
"Ah, tidak. Cuma baru
pertama kali mendengar cerita itu. Kalau memikirkan soal area terlarang,
rasanya tidak menutup kemungkinan kalau hal itu benar-benar ada."
Mata Nanaha-senpai membulat
terkejut, lalu dia tersenyum sangat senang.
"Begitu ya. Padahal waktu
kuceritakan dulu, tidak ada yang mau percaya. Tapi seperti yang diharapkan dari
Asahi-kun dan Tsukino-chan. Kalian paham betul kalau menganggap hal-hal tidak
nyata sebagai sesuatu yang ada itu jauh lebih menyenangkan."
Nanaha-senpai mengepalkan kedua
tangannya erat-erat, membuat hakama merahnya bergoyang.
"Rasanya aku jadi makin
bersemangat untuk mencarinya kembali. Asahi-kun mau menulis novel dengan tema Kamigakushi,
kan? Aku jadi sabar menunggunya. Tidak, malah aku ingin bertarung! Boleh tidak
kalau aku menulis dengan tema yang sama? Setelah itu, bagaimana kalau kita
bertanding Pertarungan Novel? Ayo bertanding! Bertarunglah denganku!"
Di balik kacamatanya, matanya
yang bulat sudah berubah menjadi mata seorang berserker.
"Aku bahkan belum memutuskan
apakah bakal menulisnya atau tidak, jadi tolong tenang sedikit."
"Meskipun bukan tema Kamigakushi,
tidak masalah kok! Mari saling membaca, saling bertukar tulisan, dan saling
bertarung sampai mandi darah!"
"Mode berserk-nya
Senpai tidak mau berhenti…"
"Aku masih punya kesadaran
dan akal sehat kok. Aku ini cuma selalu ingin membaca novel yang seru dan
bertarung melawan novel yang seru!"
Sambil mengembuskan napas
terengah-engah, Nanaha-senpai tersenyum manis. Pupil matanya terasa agak sedikit melebar.
"Kalau ada kesempatan,
tolong ya. Pokoknya kamu harus membuat kesempatan itu!"
"Baik..." Jawabanku
pasrah.
Meski begitu, karena novel
tulisan Nanaha-senpai memang luar biasa seru, aku sendiri sebenarnya cukup
menantikannya.
"Ah, benar juga."
Berserker Nanaha-senpai tampaknya menyadari sesuatu
lagi lalu menepuk tangannya.
"Tsukino-chan juga
menulis novel, kan?"
"Iya. Ya,
begitulah."
Di dalam penyesalan
sistem dunia ini, sepertinya dia ditetapkan dengan pengaturan seperti itu.
"Kalau begitu
sekalian saja. Mumpung ada Asahi-kun juga di sini, bagaimana kalau Tsukino-chan
bergabung dengan klub sastra?"
Alis Tsukino melengkung
turun. Aku bisa tahu dengan sangat jelas kalau raut wajah itu menunjukkan
kebingungan.
Statusnya saat ini adalah
murid yang tinggal bersama keluarga Masumi dan kebetulan suka membaca novel
serta sering bolak-balik ke klub sastra.
Padahal di dunianya
sendiri dia adalah anggota klub sastra yang melakukan aktivitas klub bersama
Nanaha-senpai dan Jun, jadi kalaupun dia bergabung di sini, harusnya tidak akan
terasa aneh sama sekali. Namun, Tsukino memiliki klub sastra di dunianya sendiri.
Kebingungannya pasti
berakar dari hal tersebut.
"Untuk saat ini aku
menolaknya dulu ya."
Berseberangan dengan
senyuman segan di wajahnya, dia menolaknya dengan sangat tegas.
"Kalau begitu, nanti saja
kalau kamu sudah berminat ya. Atau tidak usah jadi anggota klub sekalian tidak
apa-apa, bagaimana kalau bertarung novel denganku? Ayo bertarung, sekarang
juga!"
"Sudahlah, cepat lanjutkan
pekerjaanmu di kuil."
Tsukino menyemburnya tanpa ampun.
Di dunia sana pun, interaksi mereka berdua pasti kurang lebih seperti ini.
***
Setelah berhasil meloloskan diri
dari Nanaha-senpai si monster Pertarungan Novel, kami bergegas menuju tempat
tujuan awal kami.
"Nanaha-senpai benar-benar
tidak mau berkompromi kalau soal hal yang disukainya, ya."
"Padahal aku sudah dijadikan
sasaran sama seperti Jun, apa ini juga karena kita adalah keberadaan yang
sama?"
"Seperti yang
diharapkan dari Senpai. Wajar saja dia bisa lolos begitu alami padahal warna
rambut peraknya melanggar peraturan sekolah."
"...Eh? Itu bukan
rambut aslinya?"
Karena baru pertama kali
mendengarnya, aku benar-benar terkejut.
"Bohong. Kamu tidak
tahu? Senpai cuma berakting seolah itu rambut aslinya kok. Kalau sudah makin
dekat dengan waktu pengecatan ulang, kadang warna hitam aslinya kelihatan
sedikit."
"Tapi aku tidak
pernah melihat guru menegurnya tuh."
"Kata-kata di
peraturan sekolah kan lumayan abu-abu, ditambah lagi karena gerak-geriknya
terlalu alami, semua orang jadi berasumsi kalau itu memang warna aslinya. Orang
tua Senaha berdua-duanya berambut hitam kok. Dia cuma menikmati berambut perak,
makanya dia terus menjaga suasananya agar terlihat alami."
"Yang benar saja.
Untuk saat ini, ini adalah informasi yang paling membuatku merasakan perbedaan
dunia paralel."
Namun, kalau
dipikir-pikir lagi, mana mungkin aku punya kesempatan untuk berdekatan dengan
Nanaha-senpai sampai bisa menyadari perbedaan warna di pangkal rambutnya.
Apakah ini perbedaan yang
disebabkan oleh jenis kelamin dari keberadaan yang sama...
"Kalau orang yang jaraknya
sedekat Jun, apa dia menyadarinya ya?"
"Jun di duniaku tahu kok. Anak itu kan memang memperhatikan
detail-detail kecil sampai segitunya."
Selain jarak sosialnya
yang agak kacau, dia memang pria yang diandalkan.
"Tapi ya, begitulah
Nanaha-senpai. Tak heran dia sendiri bicara pakai bahasa formal, tapi
menegaskan tidak suka kalau orang lain bicara pakai bahasa formal
padanya."
"Dia cuma kelihatan lembut
dari luar, padahal sebenarnya dia yang paling egois di klub."
Selagi aku tercengang, kami telah
melewati sebuah terowongan. Sama seperti rute ke sekolah, di daerah ini juga
ada beberapa terowongan. Karena New Town dibangun di atas perbukitan
yang naik-turun, memotong bukit dengan terowongan terasa jauh lebih cepat di
banyak titik.
Rasa khawatir memang ada jika
melewatinya di malam hari, tetapi setelah keluar dari terowongan pendek yang
bahkan tidak memiliki legenda perkotaan apa pun, daerah Himurokigaoka
Higashi-machi membentang di depan mata.
Walau begitu, tempat ini juga
bukan lokasi yang langka; sama seperti di sisi selatan tempat kediaman keluarga
Masumi berada, rumah-rumah bernuansa serupa dan kompleks perumahan berjejer
rapi, dengan sisa-sisa pepohonan hijau yang masih dipertahankan di selanya.
Tujuan pertama kami adalah rumah
kerabatku.
Seperti yang diperkirakan, rumah
itu berdiri di sudut perumahan biasa dan terlihat mirip dengan rumahku. Tidak
ada yang aneh dari penampilannya yang berdiri di bawah naungan sinar matahari
senja. Karena hubungan kekeluargaan kami sangat dekat dan sering berkunjung,
tempat ini sama sekali tidak terasa asing.
"Dari sudut pandang Tsukino,
ada hal yang menarik perhatianmu?"
"Mungkin ada perbedaan
kecil, tapi aku tidak bisa mengenali perbedaan sekecil itu."
"Mau mampir memberi
salam?"
"Karena kita tidak punya
urusan khusus, nanti malah cuma sebatas memberi salam singkat, kan?"
Bagaimanapun kubayangkan, kami
hanya akan terlihat seperti kerabat yang mendadak mampir memberi salam di sore
hari. Biasanya kami baru datang setelah menghubungi sepupu atau paman dan bibi
terlebih dahulu, jadi mampir begini malah bisa membuat mereka curiga.
Untuk sementara, kami
meninggalkan tempat itu dan mencoba mengelilingi seluruh area yang dulunya
merupakan area terlarang (kinsokuchi) ini.
Kami berselisih jalan dengan para
siswa dan pekerja kantor yang sedang dalam perjalanan pulang, walau jumlahnya
hanya sedikit. Sesekali, aroma masakan makan malam tercium di udara, memicu
rasa lapar.
Tempat ini dulunya memang
merupakan area terlarang, tetapi tidak ada tanda-tanda keanehan yang jelas. Portal menuju dunia lain tidak terbuka,
dan hantu yang diceritakan Nanaha-senpai pun tidak muncul.
Setelah selesai
mengelilingi area tersebut—
"Lelahnya."
Aku singgah di sebuah
taman dan menengadah menatap langit. Di langit senja, awan-awan yang terpecah
menjadi kecil berarak pergi. Angin yang berembus melewati tubuh yang hangat
karena terus berjalan terasa sangat menyenangkan.
"Selamat atas kerja
kerasnya," ucap Tsukino seraya duduk di sampingku. Ujung roknya yang
mengembang di atas bangku menyenggol kakiku sedikit.
Tsukino yang berada tepat di
sampingku tidak menunjukkan raut lelah sama sekali. Seperti dugaan, daya tahan
fisiknya jauh lebih unggul dariku.
Meski pada dasarnya hanya taman
di tengah permukiman, ukurannya lumayan luas dan fasilitas bermainnya cukup
lengkap. Perosotan, ayunan, dan jungkit-jungkit terpasang di sana, serta ada
area bak pasir yang dilindungi pagar agar hewan tidak masuk. Taman ini
tampaknya dikelola dengan baik karena tidak ada sampah yang mencolok.
Bangku yang kami duduki juga
dilengkapi atap seperti tempat peristirahatan. Di dekatnya bahkan terdapat
mesin penjual otomatis (vending machine). Tempat ini sepertinya
berfungsi sebagai area bersantai bagi warga sekitar.
"Ini buatmu."
Tsukino menyodorkan botol plastik
cola yang baru dibelinya dari mesin penjual otomatis tersebut.
"Maaf ya, nanti kuganti
uangnya."
"Tidak usah. Lagipula kamu
kan sedang membantuku mencari cara untuk pulang, setidaknya cuma ini yang bisa
kulakukan."
Tsukino membuka botol cola
miliknya sendiri lalu meminumnya. Di balik kerah blus berhiaskan frill,
tenggorokan putihnya bergerak menelan. Meski dari luar dia terlihat tidak lelah
sama sekali, bulir keringat mengalir menelusuri garis pembuluh darah di
lehernya.
"Kalau begitu aku terima ya,
terima kasih."
Aku pun ikut meminum milikku. Rasa soda yang mengalir dari
tenggorokan yang kering menuju lambung terasa sangat menyegarkan. Manisnya
seolah meresap ke dalam tubuh yang lelah, walau itu mungkin hanya ilusi belaka.
Tanpa kusadari, Tsukino
yang sudah menutup kembali tutup botol cola-nya sedang menatap ke arahku.
Matanya yang menyipit memancarkan senyuman jahil dari pihak yang berhasil
menemukan bahan godaan.
"Kamu memperhatikan
leherku, ya?"
"...Aku cuma
berpikir kalau kata 'leher' itu punya kesan yang lumayan menarik."
"Fufu. Kalau aku sih merasa
kata 'jakun' (nodobotoke) punya potensi yang tak terbatas."
Aku refleks menutupi leherku,
membuat Tsukino langsung menyemburkan tawa. Dia menutupi mulutnya seraya
bahunya berguncang.
"Kita kan sama saja, tidak
usah sampai tertawa berlebihan begitu dong."
Saat berpaling, pandanganku
secara alami tertuju pada area taman. Masih ada beberapa anak kecil yang
berlarian dan memanjat fasilitas bermain. Dalam permainan peran mereka, pasukan
pembasmi iblis sedang bermain Minecraft. Apa-apaan itu?
"Tsukino pernah bermain di
sini juga?"
"Itu artinya Asahi juga
pernah, kan? Iya. Waktu main ke rumah Paman, ujung-ujungnya memang bakal main
di sini."
Melihat anak-anak SD yang
berlarian, bayangan diriku di masa lalu bertumpuk dengan mereka. Mungkin saja
di dunia masing-masing, aku dan Tsukino pernah berada di tempat ini pada waktu
yang bersamaan.
"Ngomong-ngomong, Asahi mau bagaimana dengan novel selanjutnya?"
Sambil memainkan botol plastik cola-nya, Tsukino bertanya.
"Selanjutnya, ya..."
Aku mengeluarkan laptop dari dalam tas. Saat berbincang dengan Nanaha-senpai
tadi, gaya berserker-nya yang luar biasa sempat memberiku kilatan ide.
Belum ada yang terstruktur, tetapi aku mulai mengetikkannya di catatan laptop.
"Pantas saja tas yang kamu bawa rasanya besar sekali."
Dengan nada suara agak heran, Tsukino meletakkan laptopnya sendiri di
sampingku. Itu adalah laptop yang kupinjamkan saat dia merevisi 'Akhir dari
Seorang Petualang'.
"Aku juga berpikir
tas Tsukino kelihatan besar banget tadi."
"Karena ini
berkaitan denganku, aku pikir mungkin bakal ada gunanya membawa ini juga."
Memang benar, bahkan saat
di luar pun, jika ada kesempatan, kami cenderung langsung bekerja. Tsukino
pasti juga begitu.
Tsukino mendekatkan
tubuhnya lalu mengintip layar laptop di sisiku.
"Sepertinya kamu dapat ide,
kali ini mau bikin cerita seperti apa?"
"Aku berpikir untuk membuat
cerita tentang pertarungan tanpa memedulikan penampilan seperti Nanaha-senpai.
Detailnya belum kuputuskan, tapi mungkin semacam kisah balas dendam."
Aku langsung mengetikkan apa yang
kuucapkan sebagai catatan di laptop.
"Ah, benar juga. Di
sini kan ada Wi-Fi gratis."
Saat dia mengatakannya,
aku baru sadar kalau kedua laptop kami memang menangkap sinyal Wi-Fi. Tempat ini mungkin dipasangi Wi-Fi saat
taman direnovasi beberapa waktu lalu. Tampaknya kebutuhan warga sekitar jauh
lebih tinggi daripada yang kukira.
"Kalau begini jadi lebih
mudah buat tukar ide ya."
Tsukino menunjuk catatan yang
baru saja diperbarui di file berbagi.
"Aku sendiri yang
mengeluarkan laptop, tapi apa tidak apa-apa kalau kita menghabiskan waktu di
sini? Padahal rencananya mau langsung bergerak setelah istirahat
sebentar."
"Lokasi yang mirip area
terlarang kan sudah kita kelilingi semua. Menurutku tidak ada lagi yang bisa
kita lakukan hari ini~"
"Benar juga. Kalau besok
kita bertanya lebih detail pada Nanaha-senpai, apa kita bakal dapat petunjuk
ya? Hantu, ritual... Semoga saja ada hubungannya."
"Tapi ya, hal itu
baru bisa dilakukan besok, kan. Senpai juga bilang mau mencari tahu lagi."
Memang benar, kami tidak punya
pilihan selain menunggu besok.
"Makanya… membantu
memikirkan ide buat cerita balas dendammu terasa jauh lebih konstruktif untuk
saat ini."
"Aku sih
senang-senang saja."
"Aku yang memang
ingin melakukannya kok."
Dari mata Tsukino yang
menegaskan hal tersebut, aku merasakan tekad yang kuat.
Jujur saja, aku juga
ingin melakukan more bad, more hell dengannya.
Kami saling mengangguk
lalu menghadap ke layar laptop bersama-sama.
"Dengan memasukkan
elemen 'Uroboros The End', 'Akhir dari Seorang Petualang'
berhasil memberikan daya tawar yang sangat kuat pada bagian konklusinya.
Penggambaran reaksinya juga kurasa cukup berhasil. Tapi, karena terlalu
memedulikan hubungan sebab-akibat ceritanya, alur di pertengahan jadi terasa
berat dan jalan ceritanya jadi gampang ditebak. Itu poin evaluasiku."
Saat Tsukino memberikan
respons setuju, aku merasa bisa menganalisis dengan lebih baik daripada
biasanya. Kami berdua mulai
mengetikkan poin-poin tersebut ke dalam catatan.
"Di luar itu, aku juga
merasa ingin membuatnya jadi cerita yang lebih menyiksa lagi. Pengembangan
cerita yang more bad tanpa membuat pembaca kesulitan membaca... Apakah hal seperti itu mungkin?"
"Aku bisa memahami perasaan
itu sampai rasanya menyakitkan. Kontradiksi yang menyusahkan ya."
Aku melipat tangan, sementara
Tsukino menatap tajam catatan di layar.
Kalau ide bagus bisa muncul
seketika, tentu kami tidak perlu bersusah payah, dan ujung-ujungnya kami hanya
menatap taman di bawah naungan sinar senja.
"Ngomong-ngomong."
Bukan baru saja teringat ide,
melainkan aku baru teringat pertanyaan yang sempat lupa kutanyakan.
"Tsukino sendiri biasanya
menulis bad ending yang seperti apa? Jangan-jangan ada yang mirip
denganku?"
'Akhir dari Seorang Petualang' adalah karya yang belum pernah ditulis
oleh Tsukino.
"Novelku, ya..."
Jemari Tsukino mengetuk papan
ketik. Karakter tanpa arti terketik di catatan lalu dihapus beberapa kali.
Kuku-kukunya menimbulkan suara ketukan kering. Rasanya seperti sedang dibuat
penasaran.
"'Eternal Inferno',
sih."
"Artinya, perkembangan
cerita yang terus-menerus bagaikan neraka?"
"Benar, bad
ending yang tidak ada habisnya."
"Ooh, hell."
Perkembangan cerita seperti apa
itu sebenarnya? Apakah bisa digunakan bersama dengan 'Sudden Strike'
atau 'Uroboros The End'? Keinginan untuk membaca dunia yang ditulis
Tsukino—membaca bad ending-nya—terasa sangat kuat.
"Tidak usah memasang wajah
kepingin begitu, nanti juga kubiarkan kamu membacanya kok."
"Gaya bicaramu mirip Jun…
Apa wajahku kelihatan seperti itu? Ya, aku sadar sih."
Bagaimanapun juga, kalau cara
agar Tsukino bisa kembali ke dunianya belum ditemukan, aku tidak akan bisa
membacanya.
Meskipun ada pilihan untuk
memintanya menulisnya kembali atau menulis karya baru.
"Tapi 'Eternal Inferno'
ya. Terus memberikan stimulasi bernuansa bad ending mungkin bisa menjadi
cara agar alur pertengahan cerita tidak terasa membosankan. Tapi, kalau
penderitaannya terus berlanjut, bukannya malah bikin pembaca lelah?"
"Benar juga. 'Akhir dari
Seorang Petualang' dalam artian tertentu juga merupakan cerita yang
terus-menerus menyiksa."
Kami berdua bergumam
memikirkan solusi. Dari arah taman, suara anak-anak yang sedang bersemangat
terdengar kencang. Permainan peran mereka telah mencapai puncaknya dengan
kemunculan Ender Muzan Kibutsuji Dragon.
"Perkembangannya
terlalu drastis!"
"Dari tadi alurnya
memang sudah lumayan ekstrem kok. Anak itu katanya Cure Gavan Rider."
"Ini malah jadi
lebih mirip cerita dunia paralel daripada 'Infinity Heaven'."
Bahkan 'Infinity
Heaven' yang alurnya selalu heboh dan berubah cepat pun tidak bisa
menandingi imajinasi bebas anak-anak SD.
"Bukan, itu
dia!"
"Seperti yang diharapkan
dariku. Kita memikirkan hal yang sama, ya."
"Benar. Yang kurang dari
cerita kemarin adalah keseruan dari tiap-tiap adegannya. Walau itu hal yang
wajar sih."
"Iya. Baik 'Uroboros The
End' maupun 'Eternal Inferno', kalau fungsinya sebagai hiburan,
tidak akan ada artinya kalau tidak punya daya tarik untuk memikat pembaca. 'Infinity
Heaven' memang punya alur cerita yang agak ugal-ugalan, tapi sepanjang
cerita selalu diisi oleh perkembangan yang menarik."
"Kalau begitu, yang harus kita incar adalah..."
"「'Extreme
Bad End'!」"
"Novel bad ending yang terus menyajikan adegan puncak. Malah,
cerita yang mana bad ending-nya makin melaju kencang di tiap pembatas
babnya."
Begitu arah tujuan kami mantap, aku dan Tsukino mulai mengetik di papan
ketik dengan sangat bersemangat. Meski masih sebatas draf kasar, karakter,
perkembangan cerita, dan pengaturan yang terlintas langsung kami ketikkan ke
dalam catatan bersama.
"Kisah balas dendam dengan latar dunia modern. Balas dendam ini bakal
terus ditingkatkan eskalasinya."
"Target pertama adalah dalang perundungan, lalu berikutnya adalah
seniornya yang merupakan anggota geng jalanan. Dari sana bakal berkembang jadi
pertarungan melawan kelompok geng jalanan, tapi kalau karakter utamanya cuma
orang biasa, lama-lama bakal keteteran melawannya ya."
"Kalau karakter utamanya mendadak ternyata mantan agen organisasi, rasanya
terlalu aneh dan tidak cocok. Bagaimana kalau dia membangkitkan bakat
membunuhnya?"
"Bagus tuh. Mulai dari titik di mana fisiknya belum bisa mengejar untuk
melawan musuh berikutnya, yaitu pembunuh bayaran profesional."
"Pertarungannya sendiri berjalan lancar dan karakter utama makin kuat,
tapi sementara itu orang-orang di sekitarnya malah makin tertimpa kemalangan
yang parah. Balas dendam karakter utama sempat memperbaiki keadaan sesaat, tapi
hal itu justru menjadi pemicu tragedi berikutnya."
Meski detailnya belum dirampingkan sama sekali, ide-ide terus mengalir tanpa
henti.
Sebuah cerita yang mengulang tragedi, krisis, dan pembalikan keadaan. Mental karakter utama makin
terdesak, dan penderitaan itu terus bereskalasi.
"「More
Bad! More Hell!」"
Setelah terus berdiskusi dan mengetik catatan dengan penuh semangat, kami
mengakhirinya dengan melakukan fist bump tiga kali.
Di hadapan laptop yang kini hanya berisi tulisan tentang hal-hal mengerikan,
aku dan Tsukino menghela napas lega.
Saat menengadah dalam keletihan setelah menyelesaikan tugas, matahari senja
sudah lama tenggelam. Di taman yang kini mulai gelap, anak-anak yang tadi
memainkan perpaduan peran impian sudah tidak ada lagi, menyisakan fasilitas
bermain yang berdiri samar ditimpa cahaya lampu jalan.
Tempat istirahat beratap yang
kami duduki juga telah diselimuti kegelapan tipis. Cahaya dari layar laptop
terasa sangat mencolok.
"Kita agak keasyikan
ya."
"Sudah larut seperti hari
saat kita menonton bioskop, ya."
Waktu sudah mendekati pukul
sembilan malam. Omelan dari Ibu sudah dipastikan akan terjadi. Baterai laptop
juga sudah sangat berkurang. Kalau saja baterai laptop tua ini tidak hampir
habis, kurasa kami masih akan terus melanjutkannya.
Menghasilkan ide bersama orang
lain yang memiliki pemikiran dan selera yang sama benar-benar sangat
menyenangkan.
"Mau tidak mau hari ini kita
harus pulang sekarang."
Tsukino melangkah keluar menuju
arah fasilitas bermain.
Justru di dalam remang-remang
lampu jalan itulah, rambutnya yang lebih hitam dari malam makin menegaskan
keberadaannya. Aksesori dan pin studs perak yang tidak biasa untuk blus
anggunnya berkilau secara acak. Seraya seolah menari, dia mengedarkan pandangan
mengelilingi taman yang penuh kenangan ini.
Mataku tertuju padanya hingga
tidak bisa bergerak. Dia mengayunkan rok hitamnya yang dihiasi frill dan
pita, memicu bunyi keras dari sepatu botnya.
Tanpa kusadari, sosoknya sudah
berada di atas perosotan. Sosok fantastis tadi seolah bohong belaka, kini dia
melambaikan tangannya dengan polos.
Meninggalkan barang-barang di
bangku, aku melangkah mendekatinya.
"Karena merasa kangen, aku
jadi memanjat ke atas. Asahi juga pernah meluncur di sini, kan."
"Hal-hal seperti ini pun
ternyata sama ya. Yah, kalau sering datang ke taman ini tapi belum pernah
meluncur di perosotan, malah kelihatan tidak wajar sih."
Saat aku menengadah menatap
Tsukino di atas perosotan, dia mengulurkan tangannya padaku.
"Asahi mau naik juga? Karena
ini perosotan besar, kurasa kalau naik berdua masih muat kok."
"Jujur saja, aku malu."
"Padahal kan sama
aku..."
"Gara-gara Tsukino naik
duluan, aku jadi agak bisa berpikir jernih."
"Kan jadi kelihatan cuma aku
sendiri yang senang."
Meskipun menurutku dia memang
sedang kesenangan, aku pun sebenarnya sama saja.
Dengan alis terangkat dan pipi
yang sedikit menggembung, Tsukino terlihat lebih muda dari biasanya.
Di atas perosotan, dia menaruh
tangan di pinggang seraya menatap ke arahku. Dia tidak kunjung meluncur turun.
"...Bukannya sebaiknya kita
pulang sekarang?"
Namun, dia tetap tidak
meluncur. Kerutan di antara
alisnya tampak makin tajam daripada sebelumnya.
"Jangan-jangan kamu
marah..."
"Sebenarnya ya..."
Memotong ucapanku, dia membungkuk
sambil memegangi roknya. Seolah bingung menentukan kata-kata berikutnya, dia
membuka mulut dengan raut berpikir. Namun, dia tidak mengatakan apa-apa.
Setelah mengulangnya beberapa kali, akhirnya suaranya terdengar.
"...Pas sudah naik ke atas,
ternyata lumayan tinggi, jadi aku tidak bisa bergerak."
"Aku agak paham
rasanya."
Bukan perosotan sih, tapi seperti
monumen di Taman Observasi yang dulu sewaktu SD bisa kupanjat dengan santai,
sekarang aku sama sekali tidak berniat memanjatnya lagi.
"...Bisa tolong... ulurkan tanganmu?"
"Soal itu, tidak apa-apa
sih, tapi..."
Sambil tetap membungkuk,
Tsukino mengulurkan tangannya. Di dalam kegelapan tipis, ujung jemari putihnya
berada tepat di depan mataku. Jemari dari keberadaan yang sama yang jauh lebih
lentik dan indah daripada jemariku. Aksesori di pergelangan tangannya menimbulkan
suara gemerincing halus.
Aku sempat ragu sejenak
apakah boleh menggenggamnya, tetapi dialah yang memintanya.
Saat kusentuh perlahan, tangannya
sedikit gemetar. Jari-jemari
kami bertautan, terhubung dalam genggaman yang saling merengkuh.
"Kalau begitu, aku turun
ya."
Dengan suara yang sedikit
meninggi, Tsukino menyandarkan tubuhnya ke papan seluncuran sambil tetap
membungkuk.
Bukan meluncur, melainkan
menapakkan kakinya erat-erat pada papan seluncuran, menahan roknya dengan
tangan yang bebas, lalu turun perlahan-lahan sambil tetap menggenggam tanganku.
Menempelkan telapak sepatu ke
papan seluncuran sebenarnya adalah hal yang tidak boleh dilakukan, tetapi
berhubung ini adalah hal konyol yang dilakukan tanpa sadar di usia yang bukan
anak-anak lagi, kali ini mau bagaimana lagi.
Membutuhkan waktu yang terasa
sangat lama hingga akhirnya Tsukino sampai di ujung seluncuran.
Dia mengembuskan napas lega, lalu
berdiri dengan bertumpu pada tangan yang kami genggam.
"Kyat," suara kecil
lolos dari mulutnya.
Tubuhnya hilang keseimbangan.
Batang tubuhnya seharusnya lebih kuat daripada milikku, tetapi mungkin karena
dia lengah, atau mungkin karena posisi membungkuk yang aneh tadi.
Sambil tetap menggenggam tangan,
tubuhnya roboh membebani ke arahku.
Seketika aku menahannya. Aku
merengkuh dan menangkap tubuhnya.
Wajah Tsukino berada tepat di
depan mataku. Karena dia selalu menegakkan punggungnya, aku jadi tidak
menyadarinya, tetapi tinggi badannya sebenarnya setengah kepala lebih pendek
dariku.
Rambutnya yang dihiasi mawar
hitam dan perak, serta poni rambutnya yang tertata rapi dapat terlihat dengan
jelas. Dari celah rambut itu, matanya menengadah menatap ke arahku. Manik
matanya yang membulat karena terkejut tidak memancarkan kesan dingin atau
dewasa seperti biasanya. Bulu matanya panjang, melengkung indah, dan saat ini
gemetar secara halus.
Dari bibirnya, suara halus lolos,
dan helaan napasnya mengelus garis leherku. Aroma parfum dan sampo yang menguar
dari Tsukino terasa lebih pekat dari biasanya.
Meskipun terhalang kemeja lengan
panjang dan blus Tsukino, dari tubuh yang saling mendekap dan menempel erat
ini, tekstur lembut dan suhu tubuhnya yang hangat tersampaikan padaku. Suara
gesekan pakaian dan detak jantung terdengar sangat kencang.
Aku tidak tahu apakah itu detak
jantungku atau milik Tsukino, atau mungkin sudah bercampur menjadi satu. Bahkan
muncul ilusi seolah-olah kami telah menyatu.
Aku tidak bisa bergerak, dan
Tsukino pun tidak bergerak.
Di bawah pancaran cahaya lampu
jalan yang menerangi taman pada malam hari, kami tetap bergeming dalam posisi
seperti itu. Suara deru knalpot mobil, langkah kaki orang-orang, hingga suara
kehidupan yang terdengar dari pemukiman warga, segalanya terasa begitu jauh.
Tidak ada pemicu untuk melepaskan
dekapan, juga tidak ada aba-aba. Tanpa tahu apakah waktu sedang berjalan atau
berhenti, tanpa tahu berapa jam yang telah berlalu atau berapa detik yang
terlewati, kami akhirnya perlahan merenggangkan tubuh.
Dada dan dada, lengan dan
lengan saling menjauh, lalu kami berdiri dalam jarak seperti biasanya.
"...Maaf ya. Terima
kasih."
"Tidak apa-apa, hal seperti
ini kan sering terjadi."
Mana ada sering terjadi. Hal
seperti ini tidak pernah terjadi sekali pun sebelumnya.
Namun, Tsukino tidak mengatakan
apa-apa lagi, dan aku pun tidak sanggup melanjutkan kata-kata.
Setelah mengambil tas
yang tertinggal di bangku, tanpa ada diskusi khusus, kami melangkah pulang. Mengambil rute pintas yang bisa sedikit
memangkas waktu menuju rumah alih-alih rute saat pergi tadi tanpa ragu sedikit
pun—seperti yang diharapkan dari keberadaan yang sama.
Di kawasan pemukiman
Higashi-machi, berselisih jalan dengan orang-orang sesekali, aku dan Tsukino
berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Ujung jari kami saling
bersentuhan. Kuku Tsukino menggores punggung tanganku tipis. Sesaat tatapan
kami saling bertautan, tetapi segera kembali menghadap ke depan.
Antara sore hari saat kami
berjalan menuju area terlarang (kinsokuchi) dan saat ini ketika berjalan
pulang ke rumah, aku menyadari bahwa jarak di antara kami telah berubah.
Bukannya menempel erat, tetapi jarak berjalan berdampingan ini menjadi lebih
dekat setengah langkah. Cukup mengulurkan tangan sedikit saja, tangan kami akan
saling bertumpuk.
Aku ingin menggenggam tangannya,
dan aku merasa dia tidak akan menolaknya.
Aku tidak bisa memalingkan mata
dari perasaan yang kupeluk ini. Biarpun berusaha memalingkan wajah, perasaan
itu tetap meluap dari dalam lubuk hatiku.
Aku menyukai Tsukino.
Sebagai keberadaan yang sama,
mulai dari penampilan, selera pakaian, hingga preferensi pribadi, semuanya
sesuai dengan seleraku, bahkan fetish bad ending yang kerap dianggap
aneh oleh orang lain pun kami bagi bersama. Sudah pasti aku bakal jatuh cinta
padanya.
Kenyataan bahwa kami adalah
keberadaan yang sama tadinya sempat menjadi hambatan bagiku, tetapi jenis
kelamin dan respons detail kami berbeda. Karena itulah, ketimbang menganggapnya
sebagai keberadaan yang sama dengan Masumi Asahi, aku lebih melihatnya sebagai
Masumi Tsukino. Tidak, ini sudah bukan masalah logika lagi.
Aku menyukainya.
Jika kuucapkan perasaan ini,
Tsukino pasti akan meresponsnya. Rasanya seperti keyakinan yang muncul justru
karena kami adalah keberadaan yang sama, meski mungkin sebenarnya bukan karena
itu.
Ujung jari kami kembali
bersentuhan.
Secara impulsif aku membuka
mulut. Perasaan itu meluap keluar.
"Aku akan mengembalikan
Tsukino ke dunia asalmu. Pasti."
Namun, hal yang kuucapkan justru
sebuah janji.
Tanpa kusadari, bulan telah
terbit di belakang Tsukino. Langit malam yang minim awan, cahaya bulan yang
mendekati purnama memancar terang, meneranginya lebih kuat daripada lampu
jalan.
Tatapan mata Tsukino yang
berpaling menatapku terasa dingin seperti biasanya, tetapi alisnya melengkung
turun seraya dia tersenyum tipis.
"Seandainya aku tidak bisa
pulang pun sebenarnya tidak apa-apa kok."
Itu hanyalah sebuah bisikan,
tetapi terdengar dengan sangat jelas.
Ada perasaan di dalam diriku
bahwa hal itu tidak boleh terjadi. Tsukino datang ke dunia ini sendirian, dan di dunia paralel sana ada
orang-orang yang sedang menunggunya.
Namun ada juga perasaan
yang menginginkan agar dia tidak usah pulang. Aku ingin Tsukino tetap berada di
sini seperti ini. Akan tetapi, aku tidak bisa mengucapkannya.
Kemarin, saat pergi ke Kuil
Himurokigaoka, aku berdoa agar Tsukino bisa pulang. Di antara kedua perasaan
ini, mana yang menjadi keinginan jujur dari hatiku yang sebenarnya saat ini?
Bisakah aku menghadapi janji yang telah kubuat?
Tsukino menatap ke depan seolah
tidak pernah membisikkan apa pun, dan aku pun tidak membalas kata-katanya
seolah tidak pernah mendengarnya.
Melewati depan stasiun, menaiki
jalan tanjakan yang lumayan panjang dan terjal, melewati terowongan, hingga
akhirnya kami sampai di rumah seperti biasanya.
"Lho?"
Tsukino bergumam tepat pada saat
itu.
Dia menghentikan langkah di depan
rumah lalu memperhatikan layar ponselnya. Gerakan jarinya mengusap layar terasa
sangat impulsif.
"...Pesan LINE masuk."
Hingga saat ini, akun orang-orang
dari dunia Tsukino berada dalam kondisi menghilang, bahkan jangankan panggilan
telepon, mengirim pesan pun tidak bisa dilakukan. Tentu saja, tidak mungkin ada
pesan baru yang terkirim dari sana.
"Aku tidak menyadarinya. Soalnya
dari tadi kita terus-terusan membahas bad ending."
"Kita sampai lupa tujuan
utama kita... Tidak, aku bahkan tidak pernah terpikir kalau cuma ponselnya saja
yang bakal terhubung."
Aku menggelengkan kepala.
Aku harus berusaha menenangkan diri dan berpikir.
"Kamu tahu kapan pesan LINE
itu masuk? Dari waktu penerimaan pesan, mungkin kita bisa mengidentifikasi di
bagian area terlarang mana titik hubung antara kedua dunia ini berada."
"Itu… tidak bisa. Waktu yang
tertera di sini adalah waktu saat pihak sana mengirimkannya. Tapi yang pasti,
dalam beberapa hari terakhir ini ada banyak sekali pesan yang masuk."
"Jangan-jangan, panggilan
telepon juga sudah bisa tersambung."
Tidak ada gunanya berdiri
di sini terus. Untuk
sementara, mari masuk ke dalam rumah dulu dan pikirkan apa yang harus
dilakukan.
"Hmm?"
Sesaat aku tidak tahu dari mana
rasa janggal ini berasal.
Aku berniat masuk ke rumah
seperti biasanya. Masukkan kunci lalu putar. Namun, kuncinya tersangkut di
tengah jalan, jadi kucoba memutarnya beberapa kali lagi. Tetapi tetap tidak mau
bergerak.
Aku memastikan kuncinya,
memasukkannya sekali lagi, lalu baru menyadari sesuatu.
Lampu rumah padam. Ini adalah jam
di mana semua orang seharusnya ada di rumah, jam di mana Ibu biasanya sedang
marah-marah karena meja makan belum dirapikan. Namun, bagian dalam jendela
tampak gelap gulita. Tidak ada suara yang terdengar. Suara gemercik air, suara
kompor gas, suara televisi, tidak ada satu pun yang terdengar.
Di hadapanku yang berdiri
mematung sambil menggenggam kunci, Tsukino memasukkan kunci lain ke dalam
lubang pintu.
Kunci itu berputar dengan lancar,
memicu suara klik yang sudah sangat familier.
Pintunya terbuka. Di balik pintu
itu membentang kegelapan yang menganga bagaikan lubang tak berdasar, gelap
gulita, tanpa ada seorang pun di dalamnya.
"Rumahku... tempat ini,
adalah duniaku."


Post a Comment