Episode 11: Ada Hari-Hari di Mana Aku Tidak Memahami Diriku yang Lain
dari Dunia Paralel
Setelah makan siang ala
kadarnya di Green Mall, kami menuju ke Himurokigaoka Higashi-machi untuk
mencari cara agar aku bisa pulang. Di jam-jam seperti ini, yang melenceng dari
waktu pulang sekolah maupun belanja sore, sosok orang yang lalu lalang di jalanan
itu sendiri sangat sedikit.
"Kalau kita menyusuri jalan
yang sama seperti kemarin, mungkin saja ada sesuatu… tapi ya, itu terdengar
terlalu abstrak juga sih."
"Aku ingin portal seperti
yang sering kelihatan di film-film Marvel."
Kami berdua mencoba menggambar
lingkaran di udara dengan kedua tangan, tetapi mana mungkin celah dimensi yang
kentara seperti itu langsung muncul.
"Tapi tetap saja… dibanding
kondisi awal yang tanpa petunjuk sama sekali, tidak ada pilihan selain berpikir
kalau kita sudah berhasil mempersempit lokasinya."
"Area terlarang (kinsokuchi), Himurokigaoka Higashi-machi. Kalau kita bisa menentukan lokasi di mana
sesuatu terjadi, kita mungkin bisa tahu titik hubung antardunia. Karena mungkin
tidak bisa terlihat secara kasatmata, ada baiknya kita rajin-rajin mengecek
kondisi ponsel."
"Waktu kasusku dulu,
gara-gara kita keasikan dalam pembicaraan bad ending, aku sampai tidak
sadar hingga tiba di rumah."
Untuk saat ini, ponselku masih
dalam status tidak memiliki kontrak langganan. Jika dunianya berganti, mungkin
pesan akan masuk secara tiba-tiba seperti yang dialami Tsukino saat itu.
"Ah, benar juga."
Tsukino menepuk tangannya pelan.
"Aku sempat menanyakan soal
Asahi kepada Paman. Tapi beliau sama sekali tidak tahu."
"Begitu ya. Aku juga baru
saja bertemu Nanaha-senpai tadi, tapi seperti yang kuduga, beliau memang tidak
kenal denganku."
"...Begitu ya. Beliau memang
kerja paruh waktu di sana kan."
Di dalam buku 'Eien no
Tsuzuki', hubungan komunikasi dengan Nanaha-senpai sudah terputus.
Bagaimana dengan Tsukino di dunia nyata? Aku tidak bisa membaca sampai sejauh
itu.
"Apa ya yang membedakan
antara kasusku dengan kasus Asahi? Pokoknya, kalau tidak berpikir bahwa Asahi
tidak dianggap ada di dunia sini, mungkin bisa berbahaya."
"Iya juga ya. Apa
identitasku memang tidak ada..."
Hanya memikirkannya secara
sekilas saja sudah terbayang betapa merepotkannya berbagai urusan prosedur.
"Kita harus cepat-cepat
menemukan cara agar Asahi bisa pulang, ya."
Aku mengangguk, namun bersamaan
dengan itu, sosok Tsukino semalam terlintas di dalam benakku. Matanya yang
bergoyang di bawah cahaya bulan dan luapan cahaya yang menetes darinya. Lalu,
tekstur sentuhan tangan kami yang saling bertumpuk.
"…Boleh aku
bercerita sedikit lagi tentang diriku? Tentang diriku yang tidak tertulis di
novel. Buku itu bagaimanapun juga hanyalah fiksi."
"Bagiku, buku itu
tidak kelihatan seperti fiksi."
"Aku menulisnya
dengan sangat berlebihan dan dramatis kok. Sebagai novel bad ending-ku."
Apakah novel 'Eternal
Inferno' miliknya agak melunak setelah dibumbui drama?
Di bawah langit biru yang
dihiasi awan tipis yang tersebar, sembari melewati area di dekat rumah pamannya,
Tsukino membuka suara seolah-olah sedang mengobrol santai.
"Setelah kecelakaan itu, aku
jadi tidak bisa menulis novel. Aku tidak punya semangat untuk memikirkan bad ending dengan
ceria."
"Itu sih wajar saja."
"Padahal harusnya bisa
memisahkan antara fiksi dan kenyataan ya. Makanya aku jadi tidak tahu harus
berbuat apa."
Tsukino mendadak mengambil posisi
kuda-kuda, lalu melayangkan sebuah pukulan lurus (seiken). Suara
pukulannya yang membelah udara terdengar jelas.
"Di masa-masa itulah aku
melakukannya, karate. Sama mencabut gigi bungsu juga."
"Ternyata sama sekali bukan
cerita yang bisa ditertawakan ya…"
"Kamu boleh tertawa kok
karena aku punya bakat dalam hal melenceng dari arah dan putus asa."
Sambil melangkah masuk
dengan riang, dia melayangkan satu pukulan lagi. Bahkan di mata seorang amatir
sekalipun, gerakannya terlihat indah.
"Lalu, setelah aku
sangat pusing memikirkan apakah harus ikut kejuaraan karate atau tidak, begitu
aku kembali sadar..."
"Kamu tadinya
berniat fokus penuh di karate?"
"Soalnya waktu itu
aku sedang melenceng jauh. Pokoknya,
di saat-saat seperti itulah Nanaha-senpai memberikanku nasihat. Beliau bilang, "Kalau
aku merasa diriku sedang berada di dalam bad ending sekarang, bagaimana
kalau kucoba untuk menulisnya saja."
Dia mengembuskan napas halus.
"Waktu itu, Senpai sendiri
sebenarnya sedang pusing karena tidak bisa menulis novel, tapi beliau
mendengarkan ceritaku dengan sangat ramah dan perhatian. Makanya aku merasa
harus menulisnya, jadi aku mencoba menekan papan ketik (keyboard) begitu
saja."
Sambil menundukkan pandangannya,
dia melanjutkan ceritanya.
"Begitu mulai menulis,
karena itu adalah bad ending, aku jadi bisa menulisnya. Walau itu novel
yang tidak terbiasa dan berbeda dari yang sebelumnya, aku berhasil
menyelesaikannya sampai tamat. Lalu kukirimkan ke penghargaan sastra yang batas
waktunya pas masih sempat."
"Hasilnya, kamu berhasil menang penghargaan?"
Tsukino tertawa getir
sambil menggelengkan kepalanya.
"Gugur secara wajar
kok. Dunia tidak semanis itu, tidak semanis itu."
"Benarkah
begitu?"
"Soalnya itu cuma
novel tempatku menuliskan hal-hal tentang diriku sendiri. Kalau dibandingkan
dengan karya pemenang, sama sekali tidak ada apa-apanya. Tapi, pihak redaksi
memberikan tawaran kepadaku. Dari sana aku melakukan revisi berulang kali hingga
akhirnya diterbitkan."
"Ternyata kamu berjuang
cukup keras ya."
"Tapi hal itu sangat
membantuku karena aku jadi cuma perlu memikirkan soal novel saja. Lalu berkat
keberuntungan, bukunya jadi ramai dibicarakan."
"Kamu sampai memajang foto
wajah di poster dan menerima wawancara, kan?"
"Kamu membaca artikel
wawancara?!"
"Tidak, aku belum membacanya
kok. Rasanya kurang sopan saja kalau kubaca."
"A-Aku juga tidak bicara
yang aneh-aneh sih... Tapi tetap saja agak malu kalau dibaca sama orang yang
kukenal."
Melihatnya menunduk dengan pipi
merona, hal itu justru membuat rasa penasaran berkembang di dalam diriku.
"Barusan kamu jadi penasaran,
kan?"
"Keberadaan yang sama!
Memang penasaran, tapi aku bakal menahan diri untuk tidak membacanya."
"Kalau setelah dicek dulu
artikelnya aman untuk kamu baca atau tidak, soal itu beda cerita sih."
Dia tertawa getir, tetapi
senyuman itu perlahan menghilang.
"...Tapi, saat-saat menerima
wawancara itu terkadang terasa agak berat juga."
Gumamannya terucap pelan.
"Aku ditanyai berkali-kali
tentang Ayah dan Ibu. Fotonya
diambil saat aku sendiri tidak tahu sedang melakukan apa. Walau di pertengahan
aku berhenti melakukan ego-search (mencari namanya sendiri di internet),
ada banyak orang yang menghujat, bilang kalau aku memanfaatkan kematian orang
tua demi mengumpulkan uang. Padahal justru orang-orang tipe begitu yang tidak
membaca bukunya dan terus mengoceh tentang hal-hal yang tidak nyambung. Setidaknya bacalah dulu!"
Pukulan lurus (seiken)
yang membelah udara itu terasa memancarkan niat membunuh.
"...Tapi ini salahku juga
sih, yang tidak punya tenaga untuk menolak permintaan dari pihak redaksi."
"Kurasa seandainya aku
berada di situasi yang sama pun, aku tidak akan bisa memikirkan alasan untuk
menolaknya."
"Terima kasih, diriku.
Pokoknya, ada kejadian-kejadian seperti itu. Untuk sementara waktu aku cuma
fokus penuh pada 'Eien no Tsuzuki', dan tetap tidak bisa menulis novel bad
ending seperti biasa. Aku bahkan tidak bisa menunjukkan wajahku di klub
sastra dan berakhir mengundurkan diri. Ya, walau di buku hal ini dibuat agak
berlebihan sih."
Meskipun dia berkata begitu,
bagiku cerita itu terasa tidak lain adalah kenyataan yang nyata.
"Aku ingin melakukan sesuatu
untuk Jun yang sedang bingung atau Nanaha-senpai yang tidak bisa menulis novel
lagi, tapi tidak ada ide yang terlintas. Hari-hari ketika aku tidak bersemangat
untuk pergi ke sekolah pun makin bertambah. Ini juga gara-gara Ayah dan Ibu
yang biasa membangunkanku di pagi hari sudah tidak ada lagi."
Tanpa adanya orang tua, aku tidak
bisa membayangkan suasana pagi tanpa berkumpul di meja makan itu.
"Di hari aku bertemu Asahi
itu lho..."
Tsukino memandang jauh ke depan.
Dia melanjutkan pembicaraannya tentang kejadian beberapa hari lalu seolah-olah
sedang menceritakan hal yang terjadi bertahun-tahun silam.
"Aku tidak bersemangat untuk
sekolah dan tidur sampai siang. Membawa dokumen ke rumah Paman, lalu mampir berziarah ke makam. Karena
punya banyak waktu luang, aku mengelilingi taman pengamatan (tenbou kouen).
Dan terakhir, aku menuju ke bioskop itu."
"Di sana kamu salah
mengira kalau penayangan ulang (revival) 'Infinity Heaven' sedang
berlangsung."
"Benar, benar.
Begitu melihat tulisan 'Sedang Tayang', aku merasa harus menontonnya sekarang
juga! Makanya tanpa memastikan film lainnya, aku langsung membeli tiket."
Dan kemudian, aku dan
Tsukino bertemu.
"Itu sangat
menyenangkan. Beneran menyenangkan! Rasa pusing karena tidak bisa menulis atau
memikirkan bad ending rasanya bohong belaka. Tanpa memedulikan hal-hal
rumit, film yang meluapkan perasaan ingin mencabik-cabik dan menghancurkan hati
orang yang menontonnya itu benar-benar sangat bagus. Aku bahkan hampir saja
memberikan standing ovation!"
Sama seperti saat kami
mengobrol di kafe hari itu, dia menyampaikan suaranya dengan sangat gembira
dari dasar hatinya.
Kemudian dia berjalan sejajar di
sampingku. Memangkas jarak setengah langkah. Tsukino yang menyipitkan mata dan
mengukir senyuman di bibirnya berada tepat di dekatku.
"Bisa langsung menyampaikan
kesan-kesan itu, dan bisa berbagi bad ending yang sama hingga tingkat
yang belum pernah kurasakan sebelumnya... Sesuatu yang selama ini menghimpit
hatiku rasanya meleleh, seolah-olah aku jadi bisa memikirkan bad ending
lagi. Waktu itu, itulah yang kurasakan."
Saat kami berjalan, tangan kami
saling berbenturan secara alami.
"Aku juga bisa bertemu
dengan anggota klub sastra sebelum mereka berubah. Jun si pecandu happy ending (hapi-en
chuu), dan Nanaha-senpai si berserker kreator. Dua orang nostalgia
yang kukenal. Aku sangat senang karena Asahi melakukan interaksi yang sama
dengan mereka."
Dengan langkah kaki yang
riang, Tsukino memutar seluruh tubuhnya menghadap ke arahku.
Berlatarkan langit biru, dia yang
menyipitkan mata panjangnya dan tertawa polos terlihat sangat cerah.
"Pada hari itu, aku sangat
bersyukur bisa bertemu dengan Asahi."
Aku tidak tahu bagaimana harus
merespons senyuman menyilaukan itu. Melebihi saat sedang menulis novel, aku
tidak bisa menemukan kata-kata yang harus kugunakan.
Diriku saat itu sama sekali tidak
tahu apa pun tentang beban yang ditanggung Tsukino. Aku hanya kegirangan karena
menemukan teman yang pemikirannya sejalan. Rasa bersalah menghimpit bagian
dalam dadaku.
Seolah memutus jalan pikiranku,
pada saat itulah suara itu berbunyi. Suara yang sudah sangat kukenal.
Yang terdengar dari dalam saku
adalah nada dering notifikasi LINE.
Saat aku buru-buru
mengeluarkannya, ternyata ada banyak pesan yang masuk dari orang tuaku, Jun,
dan Nanaha-senpai.
Rupanya kami berdua sudah sampai
di sekitar taman tempat kami membicarakan bad ending kemarin. Beberapa anak yang baru pulang
dari TK sedang bermain bersama orang tua mereka.
"Panggilan
teleponnya bisa terhubung?"
"Tidak, statusnya
balik jadi tidak ada kontrak langganan lagi. Balasan LINE juga... tidak bisa ya."
Pesan-pesan yang masuk semuanya
berisi kekhawatiran karena aku belum pulang. Ada cukup banyak pesan yang masuk
dari pihak keluarga.
"Karena ponselku terhubung,
artinya tempat ini masih tetap berada di duniaku, ya."
"Kalau begitu, tadi ada
momen di mana aku secara sementara melewati duniaku. Atau mungkin ada titik
hubung di suatu tempat, sehingga ada momen di mana ponselku terhubung secara
sementara."
Meskipun aku melihat ke
sekeliling, yang terhampar hanyalah kawasan permukiman warga di sore hari.
"Tidak salah lagi kalau
lokasinya ada di sekitar area sini, ya. Tidak apa-apa, Asahi. Kalau kita
menyelidikinya sedikit demi sedikit sambil memperhatikan ponsel, pasti titik
hubungnya akan ditemukan. Lagipula aku juga bisa kembali, kan."
"Iya benar. Dibandingkan
saat kita pergi sampai ke taman pengamatan (tenbou kouen), lokasinya
sudah jauh lebih bisa dipersempit."
"Emm. Aku pasti… bakal
mengembalikan Asahi ke tempat Ayah dan Ibu, Jun, dan Nanaha-senpai. Kali ini
giliranku."
Tsukino mengangkat alisnya. Di
dalam sorot matanya yang memancarkan tekad kuat, terbayang air mata yang
menetes semalam.
Aku menghela napas sambil
menggenggam ponsel yang tidak terhubung.
Apa yang harus dilakukan
setelah ini? Demi bisa pulang, mungkin aku harus langsung mengambil tindakan
saat ini juga.
Tapi—
"Tsukino, aku punya satu
permintaan."
Kataku.
"Makam Ayah dan Ibu Tsukino.
Aku ingin pergi ke makam mereka berdua."
Sebagai keberadaan yang sama yang
seharusnya tahu segalanya, aku ingin mengenal Tsukino yang tidak kuketahui.
Itu adalah dorongan murni dari
dalam lubuk hatiku.
***
Deretan batu nisan
diterangi oleh sinar matahari sore yang damai. Entah dari mana, aroma dupa dan
bunga tercium mengalir secara halus.
Mungkin karena faktor
waktu, area pemakaman yang hampir tidak dikunjungi oleh siapa pun ini terasa
sangat sepi walau berada di bawah terik matahari.
Tepat di samping pintu
masuk, sudah disediakan keran air dan ember yang digunakan untuk mengganti air
bunga serta membersihkan batu nisan. Ini bukan pertama kalinya aku mengunjungi
pemakaman ini. Saat perayaan Obon, aku pernah datang berziarah ke makam
mendiang nenek dan para leluhur bersama kedua orang tuaku.
Hanya saja, karena
biasanya aku selalu datang bersama seseorang, ingatanku tentang di mana letak
batu nisan keluarga Masumi terasa agak samar.
Tsukino melintasi area pemakaman
tanpa ragu sedikit pun. Sangat
terlihat jelas bahwa dia sering datang ke sini. Begitu mengikutinya, kami tiba
di makam keluarga Masumi dalam waktu singkat.
Batu nisan dengan ukiran
nama yang masih sangat baru itu terawat dengan sangat baik. Permukaannya yang tanpa noda sedikit pun
berkilau diterpa sinar matahari. Bunga yang dihias di tempat wadah bunga memang
sudah layu, namun tetap terlihat bahwa bunga itu baru saja diganti beberapa
hari yang lalu. Mungkin saat Tsukino pergi berziarah sebelum tersesat ke
duniaku.
Tsukino telah membeli bunga di
dekat area pemakaman tadi. Bunga krisan dengan warna yang cerah.
"Asahi mau ikut
memberikan persembahan bunga? Mendiang orang tua pasti senang karena rasanya
tidak mungkin ada kejadian di mana diriku dari dunia paralel ikut memberikan
persembahan. ...Ah, tapi. Kamu pasti merasa agak risih/enggan, kan. Soalnya
orang tua Asahi belum meninggal."
"Tidak kok, aku
tidak keberatan. Kalau bisa,
aku justru ingin menyapa mereka."
"Begitu ya. Kalau
begitu aku juga senang."
Tsukino mengambil bunga
yang lama lalu mengganti airnya. Saat membeli bunga sebelum sampai di sini,
saat menyiapkan ember, hingga merawat batu nisan di sini saat ini, semuanya
dilakukan dengan sangat terampil. Aku sendiri tidak tahu tata caranya.
Atas dorongan Tsukino,
kami masing-masing mempersembahkan bunga di wadah bunga sebelah kiri dan kanan.
Setelah itu, kami berdua
berdiri sejajar dan mengatupkan kedua tangan di depan batu nisan yang terukir
nama kedua orang tua yang berbeda dari duniaku.
Kita cenderung menyampaikan
permohonan baik di kuil Shinto, kuil Buddha, maupun di pemakaman. Namun, apa
yang kulakukan saat ini mirip dengan saat di kuil Shinto, tetapi sekaligus
berbeda. Waktu itu, setidaknya aku memohon agar Tsukino bisa pulang ke dunianya.
Dan kemudian, dia berhasil sampai di rumahnya, hingga kini gantian dirikulah
yang tersesat.
Kalau begitu, kali ini seharusnya
aku memohon agar diriku sendiri bisa pulang.
Novel 'Eien no Tsuzuki', Nanaha-senpai
yang berambut hitam, hingga ekspresi Tsukino yang sangat tenang saat tertidur
lelap di atas tempat tidur, semuanya berputar-putar di dalam dadaku.
"Tidak masalah kalau cara
untuk pulang tidak ditemukan."
Kata-kata itu meluap keluar
menjadi ucapan.
"Eh?"
Tsukino membelalakkan matanya
seolah-olah sedang melihat sesuatu yang tidak masuk akal.
Meskipun begitu, aku tidak bisa
menghentikan kata-kataku.
"Menurutku tidak masalah
kalau aku tidak bisa pulang."
Aku memandang lurus ke arah
Tsukino yang terkejut lalu mengutarakannya.
"Aku tidak bisa membiarkan
Tsukino sendirian. Aku
akan tetap berada di sini bersamamu."
"Tidak boleh!"
Teriakan pilu bergema di area
pemakaman di sore hari.
Dia melangkah maju ke arahku
dengan sangat kencang. Dari
balik rambut hitamnya yang berantakan, matanya yang terbelalak tampak samar.
"Kenapa kamu mengatakan hal
seperti itu? Sudah pasti tidak boleh!"
Dia menggelengkan kepalanya
dengan sangat keras.
"Aku tahu kamu mengatakannya
demi aku. Tapi... tidak boleh. Sama sekali tidak boleh. Mana mungkin!"
Dia menunduk, bahunya bergetar.
"Tsukino sekarang sendirian.
Kamu kehilangan ayah dan ibu, lalu menjaga jarak dengan klub sastra... Kamu
berada dalam kesepian yang tidak akan pernah bisa kupahami secara utuh. Makanya
aku… tidak akan pernah bisa meninggalkan Tsukino."
Bahu Tsukino gemetaran jauh lebih
kencang daripada sebelumnya. Ekspresinya yang tersembunyi di balik poni depan
tidak bisa terlihat, tetapi sebuah tetesan yang berkilau jatuh ke tanah
pemakaman.
"...Memang
benar."
Suaranya terdengar serak.
"Aku kesepian. Walau
Paman memperlakukanku dengan sangat baik, aku tetap merasa kesepian. Apalagi setelah melihat semua orang di
dunia Asahi masih sama seperti dulu, aku jadi makin kesepian. Aku jadi
menyadari secara nyata kalau aku ini sendirian. Tapi tahu tidak!"
Dia mendongakkan wajahnya. Di
dalam matanya yang basah oleh air mata, terbersit rasa amarah. Ini adalah
pertama kalinya aku melihat wajahnya yang benar-benar marah.
"Asahi itu masih memiliki
semuanya! Ayah, Ibu, teman-teman klub sastra...! Semua hal yang telah
kuhilangkan! Membuang semua hal itu sudah pasti tidak boleh. Aku tidak
akan memaafkanmu!"
Tangan Tsukino mencengkeram
bagian depan bajuku.
Dari matanya yang mendelik dari
bawah, air mata menetes dan jatuh. Napasnya bercampur dengan isakan, dan tangan
yang mencengkeramku bergetar secara halus.
"Jangan membuang
kebahagiaanmu sendiri, kebahagiaan Asahi. Asahi menghilang dari hadapan Ayah
dan Ibu, lalu Nanaha-senpai dan Jun terus memikirkan Asahi yang sudah tidak
ada... Mana mungkin dunia seperti itu bagus! Aku tidak mau! Aku tahu betul
betapa sedih dan kesepiannya hal itu!"
Dampaknya terasa begitu kuat
hingga membuatku pusing. Pada dasarnya, aku tidak bisa membayangkan perasaan
Tsukino yang telah kehilangan orang-orang tercintanya. Namun, setidaknya aku
bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika aku menghilang dari duniaku.
Padahal aku seharusnya sudah memiliki kesiapan untuk hal itu.
Akulah yang terlebih dahulu
memalingkan pandangan. Setelah beberapa saat, Tsukino melepaskan tangannya.
"...Maaf."
Ucapnya dengan suara yang sangat
samar, lalu berjalan melewatinya di sampingku.
Secara refleks aku
berbalik dan berniat menghentikannya.
"Jangan hentikan
aku."
Dia mendahuluiku sehingga
membuatku tidak bisa bergerak. Bahkan tanpa sanggup berbalik pun, aku
mendengarkan suara langkah kaki Tsukino. Batu nisan di depan mataku beserta
bunga yang kami persembahkan berdua berdiri di sana seolah tidak terjadi
apa-apa.
"Biarkan aku sendiri
sebentar."
Meninggalkan kata-kata itu
beserta penolakan yang nyata, suara langkah kakinya makin lama makin menjauh.
Setelah keheningan yang panjang,
saat aku akhirnya melihat ke belakang, sosok Tsukino sudah tidak ada di mana
pun.
"…Harusnya aku
bagaimana?"
Matahari mendadak tertutup awan.
Itu hanyalah fenomena biasa di mana awan melintas lewat. Batu nisan tempat
kedua orang tua Tsukino bersemayam tidak mengatakan apa pun padaku, dan aku
tidak bisa melakukan apa pun terhadap kematian mereka berdua.
Meskipun kami adalah keberadaan
yang sama, diriku yang sekarang sudah tidak lagi memahami seluruh hal tentang
Tsukino.
Suara pasari terdengar
pelan saat sesuatu jatuh di dekat kakiku. Tampaknya bertiup oleh angin,
beberapa tangkai bunga yang layu berserakan. Itu adalah bunga krisan layu yang
sebelumnya dipersembahkan.
Bunga yang baru saja
dipersembahkan di makam dan bunga yang jatuh ini adalah hal yang sama, tetapi
seiring berjalannya waktu, keduanya telah menjadi hal yang berbeda. Jumlah yang
dipersembahkan dan jumlah yang jatuh ke tanah pun berbeda.
Namun, bunga yang jatuh itu tetap
terlihat indah meski sudah layu. Perasaan yang ditanamkan Tsukino di sana tidak
pernah berubah.
Aku dan Tsukino, duniaku dan
dunia Tsukino.
"Aku dan Tsukino itu
berbeda. Meski begitu, aku
dan Tsukino tetaplah sama."
Seharusnya aku sudah berkali-kali
merasakannya secara langsung selama beberapa hari terakhir ini. Terhubung
oleh bad ending, melakukan more bad bersama, dan tertawa pada more
hell. Bahkan selera/fetish masing-masing yang belum pernah terlihat pun
berhasil digali.
Di pintu masuk pemakaman, aku mengembalikan ember dan mengucapkan selamat
tinggal pada bunga yang telah menyelesaikan tugasnya.
Lalu aku mulai berlari.
Karena aku adalah diriku, aku
tahu apa yang bisa kulakukan untuk Tsukino saat ini.
"Seperti yang
diharapkan dariku."
Berbeda dari Tsukino, aku
menjejakkan kaki ke tanah sekuat tenaga dengan tubuh yang sama sekali tidak
terlatih ini.
Tempat yang kutuju sudah pasti
ditentukan.


Post a Comment