-->
NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Heikou Sekai no Jibun ga Konomi no Bishoujo de Kuse mo Onaji Datta node Koi shite Shimatta Volume 1 Chapter 12

Episode 12: Membicarakan Bad Ending Baru Bersama Diriku yang Lain dari Dunia Paralel


Fakta bahwa aku kelelahan dan harus menurunkan kecepatan lari setelah hanya berlari sekitar dua menit, hingga akhirnya mencapai batas dan beristirahat di convenience store—semua itu membuat perjalanan terasa begitu melelahkan.

Sambil menyamarkan rasa lelah dengan sesekali berjalan atau berjalan cepat, saat aku akhirnya berhasil mendapatkan ritme jalan yang santai, aku sudah tiba di tujuan.

Aku melangkahi pintu gerbang SMA Himurokigaoka yang baru saja memasuki jam pulang sekolah. Aku berpapasan dengan murid-murid yang bergegas pulang, tetapi karena aku memakai seragam, tidak ada yang mencurigaiku.

Napas ku masih terengah-engah, dan kaki terasa sangat pegal serta berat. Keringat yang bercucuran sepanjang jalan membuat seluruh tubuhku terasa lengket dan tidak nyaman.

Terlepas dari seragam, aku tidak membawa sepatu khusus dalam ruangan (uwabaki), jadi aku meminjam sandal untuk pengunjung dan masuk ke dalam bangunan sekolah. Tempat yang kutuju dengan tergesa-gesa adalah area ruang klub.

Apakah dia akan ada di sana? Apakah kami malah saling berpapasan? Lagipula, apakah dia adalah sosok yang sama seperti yang kukenal? Tanpa sempat memikirkan hal-hal itu secara mendalam, dia sudah berdiri di depan ruang klub sastra.

Bahkan dari tampak belakangnya yang mengenakan jas almamater (blazer), terlihat jelas sosoknya yang berbadan tinggi dengan otot yang terbentuk rapi serta rambut cokelat tajam yang memancarkan kesan liar. Suaranya yang agak kasar namun ceria sangat cocok dengan penampilannya.

Orang yang ingin kutemui adalah Hikawa Jun.

Tsukino telah kehilangan banyak hal dan memutus hubungannya dengan klub sastra. Namun, bukan berarti klub itu sendiri hilang, atau Jun pergi. Meskipun Nanaha-senpai sudah lulus, dia yang sudah menjadi murid kelas tiga masih bertahan di sini.

Jika aku bisa memperbaiki hubungan antara Tsukino dan Jun, Tsukino tidak akan menjadi sendirian lagi. Tidak peduli apakah aku bisa kembali ke duniaku semula atau tidak.

Tentang Jun di dunia ini, aku hanya mengetahuinya secara tidak langsung melalui novel Tsukino. Karena tingkat kelasku dan dia berbeda, aku bahkan tidak tahu dia berada di kelas mana. Bisa saja dia mengalami perubahan besar seperti Nanaha-senpai.

Rasa cemas memang ada, tetapi melihat caranya berjalan seolah dikelilingi oleh tiga orang gadis seperti seorang host yang ganjen, jarak interaksinya terasa aneh seperti biasa. Aku merasa sedikit lega, tetapi apakah dia benar-benar sama seperti biasa?

"Ada apa? Ini pertama kalinya kamu ke tempat seperti ini? Ruang klub catur Jepang (Igo) ada di dua pintu sebelah sana."

"Terima kasih banyak sudah repot-repot memberitahu saat kami sedang bingung, Senpai!"

Salah satu gadis itu adalah adik kelas yang sedang mencari ruang klub.

"Apa-apaan muka yang kelihatan sangat menginginkan data naskah untuk evaluasi bersama (gappyou) itu? Kalau soal itu, aku sudah mengirimkannya ke folder bersama, dan beberapa lembar yang dicetak juga sudah ditaruh di ruang klub kok."

"Seperti yang diharapkan dari Ketua Klub ya. Jangan memaksakan diri sendiri, bagi-bagikan juga pekerjaannya ke kami dong."

Gadis yang satu lagi adalah adik kelas di klub sastra. Terlihat bahwa Jun bekerja dengan sangat baik sebagai ketua klub.

"Ngomong-ngomong... naskahmu kemarin benar-benar sangat manis (cute). Karakter yang memiliki daya tarik itu adalah kekuatan besar dalam light novel. Bisa menulis tokoh utama perempuan (heroine) seindah itu sungguh luar biasa."

"Pujiannya berlebihan ah. Tolong berikan kritik yang benar nanti ya."

Setelah meninggalkan pesan itu, sang adik kelas masuk lebih dulu ke dalam ruang klub.

Kebiasaan Jun yang memulai kritik dalam sesi evaluasi bersama dengan memberikan pujian terlebih dahulu juga tidak berubah. Dia memberikan kritik yang logis tanpa menurunkan motivasi orang lain. Itu adalah gaya kritik yang sangat khas darinya.

Selain itu, beberapa murid dari klub lain yang lewat juga menyapa Jun. Bahkan ada yang melakukan high-five. Anak gaul. Dia benar-benar tipe anak gaul.

Dari cerita Tsukino, Jun dikatakan sedang kehilangan ritme dalam menulis novel, tetapi sebagai seorang ketua klub, dia malah menjalankannya dengan sangat baik.

"...Dari tadi kamu memandangiku terus, ada urusan apa? Apa kamu suka padaku?"

Ternyata aksiku yang terus memperhatikannya sudah ketahuan. Sebelum aku sempat mengatakan apa pun, Jun melangkah lebar menghampiriku. Lengan berototnya ditekankan dengan keras ke dinding tepat di samping wajahku, dan wajahnya yang memperlihatkan taring secara ganas berjarak sangat dekat dariku.

Dengan kata lain, ini adalah kabe-don.

"Boleh saja. Aku layani. Ada urusan apa dengan klub sastra?"

Yang pasti, wajahnya terlalu dekat. Terlepas dari itu, seperti yang kuduga, Jun juga tidak mengenalku. Terlihat bahwa dia sedang mencoba mencari tahu siapa diriku. Wajahnya dekat, dan ada aroma wangi seperti host (dalam bayanganku).

Namun, aku tidak boleh mundur. Bahkan jika Jun tidak mengenalku, aku harus mencapai tujuanku.

"Aku punya hal yang ingin dibicarakan soal Masumi Tsukino."

Setelah kejadian seperti itu, mungkin sulit untuk kembali ke hubungan seperti semula. Meski begitu, aku ingin dia berbicara seperti dulu, seperti sosok Jun yang ada di duniaku. Aku ingin dia tetap menjadi teman dan rival.

"...Kamu ini, siapa sebenarnya?"

Jun menarik tubuhnya kembali.

Aku menahan napas. Padahal aku baru saja lepas dari kabe-don, tetapi tekanan yang kurasakan justru makin bertambah. Tatapan matanya yang mendelik ke arahku adalah sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Kehangatan yang biasa ada di sana tidak terlihat lagi; tatapan tajamnya tidak hanya mencari tahu, melainkan menyimpang niat permusuhan.

Memang benar aku datang hanya berbekal nekat, tetapi aku tidak menyangka akan dicurigai sampai sejauh ini. Mungkin aku terlalu meremehkannya hanya karena lawanku adalah Jun.

Meski begitu, aku sendiri sudah memikirkan setidaknya satu alasan.

"Aku... kerabat dekat Tsukino."

"Aku ini penggemar beratnya. Aku tidak pernah mendengar kalau dia punya kerabat dekat di sekolah ini."

Gagal total. Seperti yang diharapkan dari seseorang yang sudah lama mengenalnya.

"Bukan, aku baru saja pindah belakangan ini..."

"Aku ini tipe orang yang jago mengingat wajah orang lain. Mana mungkin aku lupa pada wajah murid pindahan. Lagipula kamu juga tidak memakai sepatu dalam ruangan."

"Ugh," gumamku tanpa sadar.

Memang benar Jun sangat ahli mengingat wajah orang. Pada dasarnya sifat dasarnya adalah tipe anak gaul.

Fakta bahwa seluruh tindakan dan ucapanku sejauh ini adalah langkah yang salah membuat keringat dingin yang tidak menyenangkan muncul di kulitku.

"Kutanya sekali lagi. Kamu ini, siapa sebenarnya?"

Kewaspadaannya kini telah berubah menjadi permusuhan yang jelas. Sambil memberi isyarat tangan agar anggota klub yang datang melihat situasi mundur, dia mendelik ke arahku.

"Tunggu dulu. Aku... ingin kamu menghubungi Tsukino lagi. Cuma itu saja."

Alis Jun bergerak. Bibirnya terdistorsi secara pahit.

"Kamu tahu banyak soal kami ya. Siapa sih kamu sebenarnya, brengsek."

Rasanya apa pun yang kukatakan sekarang semuanya akan menjadi mustahil.

"Kalau kamu penggemarnya, aku masih bisa paham. Soalnya pernah ada murid yang datang ke klub setelah membaca bukunya."

Jun melirik sekilas ke arah ruang klub.

Aku teringat pada poster yang kulihat di toko buku. Aku tidak tahu seberapa jauh informasi mengenai Mizukami Owari = Masumi Tsukino disebarkan. Hanya saja, dengan gaya penjualan seperti itu, rasanya tidak mungkin informasi pribadinya tidak teridentifikasi di era sekarang. Selain itu, Tsukino sendiri juga sempat mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang terjadi termasuk di media sosial. Di dalam lingkungan sekolah, baik atau buruk, pasti ada berbagai hal yang terjadi.

"Dengar ya. Aku ini... menyukai Tsukino! Eh tunggu, bukan begitu...!"

Jun mengibaskan kedua tangannya dengan kencang sambil menggelengkan kepala. Dia menolaknya dengan seluruh tubuhnya.

"Ini salah paham. Menyukai memang menyukai, tapi artinya berbeda. Ini suka dalam artian persahabatan, bukan perasaan cinta! Pertama-tama, hubungan kami sudah terlalu lama sampai-sampai sekarang tidak ada lagi ketertarikan seperti itu. Kalau di komedi romantis (rom-com), dia itu ada di slot kakak perempuan yang bukan target romansa. Lagipula tipe favoritku itu yang berkarakter ceria polos dan tipe adik kelas yang polos! Tapi begitu menyadari perasaannya pada sang tokoh utama, dia jadi sangat agresif dan benar-benar seperti iblis kecil. Hasrat membara seperti binatang yang mendadak muncul. Dibandingkan itu, Tsukino sama sekali tidak masuk kriteria! Dia tipe yang kelihatan lebih tua dari usia aslinya, matanya tajam, dan setiap ada kesempatan selalu membicarakan bad ending tanpa ada sedikit pun kepolosan! Makanya, dia sama sekali tidak masuk ke dalam zona sasaranku! Mengerti kan! Jangan salah paham!"

"Iya paham. Aku paham kok."

Cepat sekali dia berbicara. Terlepas dari apakah Tsukino sesuai seleranya atau tidak, aku sudah tahu sampai tahap membuatmu muak mengenai selera/fetish Jun.

"Pokoknya. Walau tidak ada perasaan cinta sedikit pun, aku sangat menyayangi Tsukino sebagai orang yang berharga. Aku tidak bisa mempercayai orang yang berbohong."

Jun mengepalkan tangannya erat-erat.

"Setidaknya biarkan aku mendengar alasan yang masuk akal."

Dia melangkah maju. Aku belum pernah berhadapan dengan Jun dalam kondisi seperti ini, dan aku tidak menyangka bahwa dirinya yang memperlihatkan kemarahan pada orang lain bisa begitu menakutkan.

Tangan Jun terulur maju. Namun aku tidak boleh mundur. Bahkan jika aku tidak dipercaya, atau bahkan jika aku dipukul sekalipun, jika hal itu bisa menjadi pemicu untuk sedikit saja memperbaiki hubungan Jun dan Tsukino, maka tujuanku sudah tercapai.

"Kuhohon. Bicaralah dengan Tsukino. Cuma itu saja yang kukinta!"

"Makanya kutanya kamu ini siapa! Apa yang kamu tahu tentang kami!"

Aku tidak mengalihkan pandangan dari Jun yang sedang meluapkan kemarahannya. Aku menatapnya lurus sambil menggertakkan gigi.

Pada saat itulah aku menyadari adanya suara langkah kaki dari arah belakang.

Sebuah bayangan menerobos masuk di antara kami, menepis tangan Jun, lalu menyusup ke dalam posisinya. Suara benturan yang tumpul terdengar, dan Jun sempoyongan ke belakang hingga berlutut.

Di antara Jun dan aku, rambut hitam panjang menari-nari secara berantakan, dan aksesori berwarna hitam serta perak berkilauan. Sambil merapikan rambut itu dengan tangannya, sosok yang berbalik tentu saja adalah Tsukino.

"...Tidak, itu sih berlebihan tahu."

Sambil memegangi perutnya, Jun merintih dengan suara serak.

"Eh, a-ah. Maaf."

Tsukino yang tadi berdiri dengan gaya keren, kini mengatupkan kedua tangannya ke arah Jun dan meminta maaf secara jujur.

Meskipun itu serangan kejutan, pukulan itu memiliki daya hancur yang cukup untuk merubuhkan Jun yang berbadan tegap, dan dari sudut pandang penonton, tinju itu benar-benar masuk secara telak.

"Saat berpikir kalau situasinya bakal jadi perkelahian, tanpa sadar gerak karateku langsung keluar..."

"Aku tidak bakal main pukul tahu. Pakai akal sehat dong! Kekerasan itu jelas-jelas tidak boleh!"

Selain penampilannya yang bergaya chara (gaul/gaul sembarangan), Jun selalu bertindak wajar.

Tidak, aku sempat terpana oleh karate yang mendadak itu, tapi bukan itu masalahnya.

"Tsukino... Kenapa kamu bisa ada di sini?"

Aku refleks bertanya.

Meskipun Jun masih memegangi perutnya, dia menatap Tsukino dengan sorot mata yang sama.

"Lagipula, timing kemunculanmu pas sekali ya. Kamu mendengarkan pembicaraan kami dari tadi kan?"

Berbeda jauh dari kemunculannya yang keren tadi, Tsukino memalingkan pandangannya dengan wajah yang sangat canggung. Ini jelas-jelas tanda bahwa dia memang melakukannya.

"Soalnya, mau bagaimana lagi. Waktu aku sampai di sini, Asahi sudah ada di dalam dan mulai berbicara duluan, jadi aku kehilangan timing untuk keluar..."

"Jangan-jangan, kamu mendengarkan semuanya?"

Tsukino makin memalingkan pandangannya.

"...Maaf. Tapi, dibanding hal itu,"

Sambil membiarkan tatapannya tetap tidak mengarah padaku, dia menurunkan bahunya.

"Asahi, soal yang tadi aku benar-benar minta maaf. Dan juga... terima kasih sudah melakukan ini demi aku."

"Tidak, aku bertindak sembarangan. Aku pikir cuma ini yang bisa kulakukan, tapi ternyata tidak berjalan lancar..."

Fakta bahwa maksudku terbaca sepenuhnya membuatku merasa sangat malu. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Baik aku maupun Tsukino sama-sama bungkam.

"Apa-apaan sih. Kalian berdua benar-benar saling kenal ya?"

Sambil berdiri secara sempoyongan, Jun mengerutkan wajahnya. Dia masih mengelus perutnya.

"E-Emm. Karate yang tadi, kamu tidak apa-apa?"

"Mana mungkin tidak apa-apa! Itu pukulan paling telak sepanjang hidupku tahu. Tapi, ya sudahlah. Aku juga tadi terbawa emosi. Tapi,"

Jun menatapku, lalu mengalihkan pandangan ke arah Tsukino secara bergantian.

"Kalian ini punya hubungan apa? Dan lagi... kenapa kamu baru datang sekarang? Padahal kamu sudah mengundurkan diri dari klub dan sama sekali tidak pernah mendekat ke sini."

Separuh dari pertanyaan itu adalah kata-kata yang ditujukan khusus untuk Tsukino saja.

"Asahi itu... seperti yang dikatakannya, dia adalah sepuluku..."

"Jangan bohong dengan kebohongan yang gampang ketahuan dong! Dia tidak pernah muncul di dalam ceritamu. Dia juga bukan murid sekolah ini. Setidaknya katakan hal yang jujur padaku!"

Di dalam suaranya yang meninggi, tersirat nada kepiluan.

Saat sosok mencurigakan yang membicarakan Tsukino muncul, Tsukino yang baru pertama kali ditemuinya setelah sekian lama malah berbohong demi melindunginya. Tidak heran jika dia merasa tersakiti.

Tapi, apa yang harus dijawab dan bagaimana menilainya? Lagipula, kenapa Tsukino bisa datang ke sini?

Sebelum aku sempat menanyakannya, Tsukino membuka suara seolah telah memantapkan hatinya.

"Aku tahu kamu mungkin tidak akan percaya. Tapi tolong dengarkan."

Tsukino yang akhirnya mengembalikan pandangannya yang tadi berpaling, berbicara secara tenang. Matanya yang tajam mengarah lurus ke arah Jun tanpa keraguan.

"Asahi adalah keberadaan yang sama denganku yang datang dari dunia paralel. Aku ingin mengembalikan dia yang tersesat ke dunia ini karena suatu alasan ke dunianya semula. Untuk itu, aku ingin meminjam kekuatan Jun. Kalau memungkinkan, aku juga ingin meminta bantuan Nanaha-senpai, makanya..."

"Tunggu tunggu tunggu tunggu! Jangan bercanda! Kita sedang tidak sedang menyumbang ide novel tahu!"

Aku tidak melewatkan raut wajah Tsukino yang tampak mengekspresikan "Waduh, gawat" setelah mendengar teriakan Jun. Aku bisa memahami apa yang sedang dipikirkan Tsukino saat ini. Wajahnya seolah berkata, "Padahal kupikir bakal berhasil," atau "Tidak, sepertinya aku bertindak gegabah tanpa berpikir panjang."

Aku sendiri tidak menyangka dia bakal blak-blakan membicarakan soal dunia paralel.

"Tapi ini memang kenyataan. Percayalah!"

"Jangan Minta hal yang mustahil dong! Ini jelas-jelas tidak mungkin! Kamu yang di sebelah sana juga katakan sesuatu!"

Meskipun pembicaraan dialihkan padaku, aku sendiri juga terkejut.

Pandanganku dan Tsukino saling bertemu. Dia benar-benar merasa sangat kesulitan dari dasar hatinya.

Meskipun aku berpikir "Masa memberi wajah seperti itu padaku...", sama seperti aku yang ingin melakukan sesuatu untuk Tsukino, aku paham bahwa dia juga memikirkanku.

Kalau begitu, aku juga harus meresponsnya. Walaupun terasa tidak mungkin.

"...Aku tahu kamu mungkin tidak akan percaya, tapi aku memang keberadaan yang sama dengan Tsukino yang datang dari dunia paralel—"

"Bisa diam tidak! Jangan cuma mengatakan hal-hal yang tidak bisa dipercayai terus!"

Padahal aku sudah mengucapkannya dengan penuh kesiapan, tetapi dipotong secara wajar begitu saja. Aku bisa memahami perasaannya. Hal yang membuatku agak kesal adalah raut wajah Tsukino yang seolah meminta agar aku melakukannya dengan sedikit lebih baik lagi. Mana mungkin keberadaan yang sama bisa memikirkan cara sebagus itu? Bagaimanapun juga dia adalah diriku.

Jun memegangi dahinya lalu menggelengkan kepala.

"Kalian bercanda. Tapi anehnya ekspresi wajah kalian kelihatan seolah-olah itu adalah kenyataan. Mana mungkin aku bisa percaya."

Jun melihat ke sekelilingnya. Tanpa disadari, mungkin karena mendengar interaksi kami yang riuh, beberapa murid dari klub lain tampak mengintip keluar.

Jun memegang gagang pintu ruang klub sastra. Aku agak tersentuh melihat poster gadis cantik berambut pink benar-benar tertempel di sana.

"Masuk ke sini dulu. Kalau kita berisik di luar, bakal mengganggu klub lain."

Aku menyusul masuk ke dalam ruang klub setelah Jun. Bentuk ruangan maupun rak bukunya hampir tidak ada bedanya dari duniaku, tetapi posisi duduk yang diambil oleh Jun adalah tempat yang biasanya diduduki oleh Nanaha-senpai.

Anggota klub lainnya menatap kami dengan ekspresi heran, tetapi mereka menyadari keberadaan Tsukino dan saling bertukar sapaan. Di sana, mau tidak mau aku merasakan adanya jarak yang saling menahan diri di antara mereka.

Begitu duduk di kursi, Jun mendelik ke arahku dan Tsukino yang berdiri mematung di dekat pintu.

"Kalau kalian bilang begitu walau itu kebohongan sekalipun, coba buktikan padaku. Bahwa kalian berdua adalah keberadaan yang sama."

"...Bagaimana caranya?"

"Mana kutahu! Justru aku yang ingin bertanya!"

"Logis juga," "Sangat logis ya."

"Ini bukan urusan orang lain tahu?!"

Jun mengacak-acak rambutnya secara kasar. Kemudian dia menyadari bahwa tatanan rambutnya rusak, lalu merapikannya kembali. Anggota klub lain tampak tidak begitu memedulikannya. Mereka terlalu santai dengan ritme masing-masing.

"...Tidak, sebenarnya ada caranya. Pakai ini."

Setelah memainkan rambutnya sejenak, Jun sepertinya memikirkan sesuatu, lalu mengangkat sudut bibirnya secara percaya diri.

"Kalau kalian bilang kalian itu sama, artinya jalan pikiran kalian juga sama kan?"

"Tidak selalu semuanya," "Bukan semuanya kok."

"Suara kalian kompak amat sih! Pokoknya, ini adalah klub sastra. Aku yang bakal memberikan temanya. Kamu yang di sebelah sana, coba pikirkan ide novelnya. Aku yang merupakan penggemar berat novel Tsukino ini bakal menilai apakah kamu benar-benar keberadaan yang sama darinya!"

Sambil duduk dengan posisi tidak sopan, dia mengangkat dagunya untuk memberi petunjuk.

"Komedi romantis sekolah (gakuen love-comedy). Tokoh utama dan tokoh utama perempuan (heroine) makin mempererat hubungan mereka setelah berbagi sebuah rahasia bersama. Coba lakukan!"

"Paham. Cara yang bagus ya. Kalau begitu, pertama-tama bad ending seperti apa yang bakal kita pakai. Mulai dari sana kan?"

"Benar juga. Apakah kita menekankan pada daya hancur 'Sudden Strike', atau menempatkan 'Ouroboros The End' di pusatnya untuk menjadikannya bad ending yang tak terelakkan."

"Cuma itu saja tidak cukup tahu. 'Eternal Inferno'. Kita harus memanfaatkan evaluasi dari pertarungan novel waktu itu. Kita harus terus memberikan stimulasi berupa tragedi kepada pembaca dan membuat mereka menderita secara terus-menerus."

"Tentu saja. Tapi, ini kan komedi romantis. Kita buat kesan awalnya terasa enak di mulut. Target kita adalah death sauce yang rasanya meluncur di tenggorokan seperti cola. Tingkat kepedasan 10.000 Scoville."

"Kalau bisa, bagusnya pembaca baru menyadari kepedasan Scoville itu belakangan ya. Seperti kari super pedas yang berbahaya."

"Tunggu tunggu! Arti dari komedi romantis itu adalah kisah romansa ditambah komedi tahu!"

"Tentu saja. Kami bakal membuatnya agar benar-benar bisa memancing tawa kok. Bad ending di mana orang-orang tertawa lalu jatuh cinta."

"Setelah terus melanjutkan komedi, kita buat bad ending yang meyakinkan tanpa membuat karakternya berubah sifat (out of character). Ini rasanya kita bisa mengharapkan 'Sudden Strike' tingkat tinggi."

Aku dan Tsukino saling melakukan fist bump sebanyak tiga kali.

""More Bad! More Hell!""

"Jangan malah saling terhubung begitu dong! Komedi dan bad ending itu sama sekali tidak cocok tahu! Pembaca juga bakal kebingungan setengah mati!"

"Bukan. Ini cerita tentang manga sih, tetapi ada sebuah karya yang tadinya terus melanjutkan komedi bergaya tokusatsu yang terkesan santai, lalu mendadak berubah menjadi sangat kelam dan serius di akhir serialisasinya."

"Aku juga pernah membaca karya itu. Manusia yang diubah menjadi cyborg aneh yang sepertinya tidak bakal mati, maupun makhluk raksasa yang diperlakukan seperti maskot mendadak dibunuh, dan gadis yang selama ini menjadi karakter reguler ternyata adalah mata-mata yang posisinya digantikan oleh musuh, jadi dia dibunuh... Kejadian mengejutkan waktu itu adalah cerita yang mendukung 'Sudden Strike' berkonsentrasi tinggi dengan 'Ouroboros The End' melalui petunjuk-petunjuk (foreshadowing) yang lihai ya."

"Ya, walau karya itu bukan bad ending sih," "Walau bukan bad ending sih ya."

"Jangan malah menyatukan suara begitu dong, bicarakan soal romansa dan komedinya!"

"Tentu saja kami bakal menjawab temanya. Ceritanya adalah, bahkan di dalam komedi romantis sekalipun, merupakan hal yang lumrah jika ada fakta mengejutkan yang terungkap lalu memicu perkembangan cerita yang serius di bagian akhir."

"Lagipula secara regulasi, asalkan ceritanya berupa komedi romantis, tidak ada masalah kan walau berakhir menjadi bad ending."

"Kamu ini tipe yang suka memanfaatkan celah kata-kata lalu merasa menang ya! Bagaimana dengan latar sekolahnya? Buat komedi romantis sekolah dong!"

"Benar juga. Kalau begitu, gadis teman sekelas yang ditaksir oleh tokoh utama ternyata adalah monster pemakan manusia."

"Paham. Jadi mereka berbagi rahasia itu ya. Kita buat gadis itu sedikit ceroboh. Karena kalau dibiarkan wujud aslinya bisa ketahuan, tokoh utama berjuang keras untuk menyembunyikannya."

"Bagus juga. Ini tidak salah lagi adalah komedi romantis sekolah. Pada awalnya proses menyembunyikan wujud asli itu dijalankan dengan sentuhan komedi, lalu saat dia benar-benar harus memakan manusia, bagaimana kalau kita buat dia memakan orang jahat yang kalau mati pun tidak akan meninggalkan masalah belakangan?"

"Di pertengahan cerita, situasinya perlahan-lahan berubah. Korban pemakan manusia mulai bermunculan di tempat yang tidak disadari oleh tokoh utama. Sang heroine lambat laun tidak bisa menahan dorongan untuk memakan manusia, hingga akhirnya kehancuran pun tiba."

"Ribuan orang bakal mati! Semua itu gara-gara ego tokoh utama yang menyukai sang heroine!"

"Ini mah malah jadi horor komedi romantis sekolah monster panik! Stop! Stop dulu!"

Jun mengibaskan kedua tangannya dengan lebar.

"Keseruan ceritanya baru dimulai dari sini tahu."

"Karena perkembangan di bagian akhir sudah lumayan terbayang, kita harus memasang petunjuk-petunjuk yang lihai agar bisa merobek-robek hati pembaca di sana ya."

"Mana mungkin bakal jadi begitu! Walau bahan ceritanya tentang heroine yang ternyata monster sekalipun, tidak ada perlunya buat membawa ceritanya ke bad ending!"

Jun memegangi wajahnya lalu mengembuskan napas dalam-dalam. Saat anggota klub lain protes, "Biarkan saja mereka melanjutkannya kan tidak apa-apa," dia malah berteriak marah, "Bisa diam tidak!"

Di atas kursi yang didudukinya secara tidak dalam, Jun melepaskan seluruh tenaganya dan menyandarkan tubuhnya.

"Tapi ya,"

Gumamnya melanjutkan.

"Alasan kenapa Tsukino itu perempuan yang menarik adalah karena hal itu. Apa pun yang dilakukannya selalu dibawa ke bad ending, dan anehnya itu terlihat sangat menarik sampai bikin iri. Sampai-sampai bikin aku merasa bodoh karena sudah berpikir serius soal perkembangan happy ending, sementara dia mengeluarkan ide-ide tanpa aturan seperti itu. Aku suka bagian dirimu yang seperti itu. Walau perasaan cinta sama sekali tidak ada sih."

Jun berdiri lalu berjalan menghampiri kami. Aku di-kabe-don lagi seperti biasa.

Di jarak yang sangat dekat hingga rambut tajamnya seolah akan menusukku, dia mengangkat sebelah alisnya, mengukir senyuman terdistorsi di bibirnya dengan sorot mata liar yang berkilau terang. Keraguan di dirinya belum menghilang.

"Aku memang suka light novel, tapi aku tidak pernah berpikir kalau hal-hal seperti di light novel itu ada di dunia nyata. Mana mungkin aku bisa percaya cerita tentang dunia paralelmu dan Tsukino."

Setelah melontarkan kata-kata itu, Jun menarik tubuhnya kembali.

Dia memperlihatkan taringnya lalu tersenyum lebar ke arahku dan Tsukino.

"Tapi ya. Bahwa Tsukino dan kamu itu sangat akrab, dan bahwa kalian berdua itu mirip, aku mengakuinya kok. Lagipula—"

Sambil berjalan ke arah pintu, dia mengeluarkan ponselnya.

"Baguslah aku bisa melihat bad ending menyenangkan dari Tsukino setelah sekian lama."

Terlepas dari itu, urat biru muncul di dahinya.

"Tapi ya! Jangan jadikan segala sesuatunya sebagai bad ending dong! Sudah pasti happy ending itu jauh lebih baik, jangan bercanda deh! Aku bakal ikut arus dan membantu kalian, sekalian menelepon Nanaha-senpai juga."

Sampai di sana, Jun menunjukkan wajah heran.

"Lagipula, kenapa Tsukino tidak langsung menghubungi Nanaha-senpai saja secara langsung?"

"Soal itu, e-emm..."

Mata Tsukino bergerak ke kanan dan ke kiri.

"Aku sudah pergi ke toko buku tempat Senpai bekerja paruh waktu kok. Tapi karena jam kerjanya hari ini sudah selesai, beliau sudah tidak ada. Lalu aku juga mencoba mengirimkan pesan LINE, tapi tidak dibaca-baca (unread). Tidak dibaca... artinya aku dihindari. Padahal begitu, kalau menelepon langsung itu... rasanya agak canggung..."

"Itu sih jelas-jelas kamu yang terlalu terbawa perasaan tahu."

Jun tertawa getir.

"Yah, fakta bahwa Tsukino memedulikan hal-hal seperti itu, aku sudah paham kok karena kita sudah lama saling kenal. Tunggu sebentar ya."

Sambil melambaikan tangannya ringan, Jun meninggalkan ruang klub. Seperti biasa, selain jarak interaksinya, dia adalah orang yang sangat bisa diandalkan dalam segala hal.

Melihat penampilannya itu, anggota klub lainnya juga ikut tertawa. Aku dan Tsukino tanpa sadar melonggarkan pipi kami.

Jarak antara para anggota klub dan Tsukino rasanya sedikit mendekat menuju bentuk yang lebih alami. Aku mendoakan hal itu.

Bagaimanapun juga, sebelum Jun kembali, aku tidak punya hal yang bisa dilakukan. Meskipun ini adalah ruang klub yang sangat kukenal, karena ini bukan duniaku, aku duduk di kursi yang berada di sudut ruangan.

Tsukino duduk di sebelahku.

Rasanya agak sulit untuk saling bertatap mata. Terlepas dari interaksi dengan Jun tadi, kami masih dalam kondisi bertengkar di taman.

Aku jadi lupa bagaimana biasanya aku menatap wajahnya. Rasanya canggung. Fakta bahwa Tsukino juga tidak melihat ke arah sini berarti dia juga merasa canggung. Hal ini bisa kupahami justru karena kami adalah keberadaan yang sama.

Kami berdua mengarahkan wajah ke bagian dalam ruang klub, tetapi bagiku yang tidak kenal dengan para anggota klub sastra di dunia ini, begitu mataku berbenturan dengan para anggota klub, hal itu juga terasa canggung. Mana ada yang namanya keberadaan yang sama dengan Tsukino. Dari sudut pandang mana pun, ini terlalu mencurigakan.

Suara kain yang bergesekan terdengar. Di ujung penglihatanku, rambut hitam Tsukino masuk ke dalam pandangan.

Saat aku melirik dari sudut mata, jarak di antara kami bertambah sedikit lebih dekat. Suara tarikan napasnya terdengar secara halus.

"Aku tadi tidak sengaja mendengar pembicaraanmu sih... Tapi kenapa kamu sampai berusaha menjembatani hubunganku dan Jun?"

Tanya Tsukino tanpa mengalihkan pandangannya padaku.

"Aku merasa klub sastra ini sangat menyenangkan. Setelah membaca tulisan di bukumu bahwa hal itu sudah hilang, aku baru menyadari hal yang dulunya dianggap biasa."

Meskipun setiap hari aku dibuat muak oleh dorongan happy ending dan teori komposisi ciptaan dari Jun, serta dihancurkan secara luar biasa oleh sang berserker sastra, aku tidak bisa membayangkan hari-hari tanpa adanya hal-hal itu.

"Hubungan di dunia Tsukino memang sudah rusak. Tapi kalau Jun dan Nanaha-senpai yang kukenal, bukankah mereka juga menyesali hubungan yang rusak ini? Walau tidak bisa kembali seperti semula, bukankah mereka tetap ingin berada di sisi Tsukino? Makanya aku mencoba melakukan ini, tapi… ternyata sama sekali tidak berjalan lancar ya."

Kalau Tsukino tidak datang, entah apa yang akan terjadi. Aku tertawa getir.

Namun, Tsukino menggelengkan kepalanya.

"...Seperti yang diharapkan dari diriku. Aku juga di dalam lubuk hatiku sebenarnya berpikir begitu. Tapi aku tidak bisa mengambil langkah maju."

Bahu kami saling bersentuhan. Tanpa sadar, saat aku melihat ke arahnya, mata tajamnya juga sedang menatap ke arah sini.

"Terima kasih, Asahi."

Di sudut mata Tsukino yang tersenyum tanpa beban, ada sesuatu yang berkilau sangat sedikit.

"Tapi,"

Berubah drastis, dia mengangkat alisnya dengan gaya yang sengaja dibuat-buat.

"Pikiranku bahwa Asahi harus pulang ke dunia asalmu sama sekali tidak berubah kok. Padahal rasanya sangat kesepian. Rasanya tersiksa seolah-olah hatiku dirobek-robek oleh bad ending terburuk."

Pandangan Tsukino mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang klub. Para anggota klub saat ini juga sedang membaca buku atau menulis novel sesuai dengan keinginan masing-masing.

"Di dunia Asahi, ada klub sastra milik Asahi, dan ada keluarga juga. Membuang hal-hal itu… bagaimanapun juga aku sangat tidak mau."

Aku tidak bisa bilang bahwa aku memahami situasi yang dialami Tsukino. Namun, aku bisa mengerti kenapa Tsukino berpikir demikian.

Makanya aku mengangguk.

"Aku bakal berusaha sebisa mungkin agar bisa pulang. Demi hal itu, Tsukino sudah mengambil satu langkah maju yang tadinya tidak bisa kamu ambil, kan."

Menghubungi Jun dan Nanaha-senpai yang sudah lama menjauh, tidak diragukan lagi, adalah hal yang membutuhkan keberanian besar. Jika itu diriku, pasti akan begitu, jadi hal ini tidak salah lagi.

"...Cuma sedikit kok."

"Padahal tujuan aku dan Tsukino itu berbeda, tetapi kenyataan bahwa kita sama-sama datang ke klub sastra itu sama, ya."

"Kalau itu sih sudah jelas karena kita adalah diri kita."

Ujung bibir Tsukino sedikit mengukir senyuman.

"Dari aku juga… terima kasih ya, Tsukino."

"Kalau begitu, sama-sama, ya."

Kami secara alami mengepalkan tangan kami. Dan kemudian, fist bump yang biasa—

"Maaf membuat kalian menunggu. Semuanya sudah lama tidak berjumpa. Apakah kalian bersenang-senang? Apakah kalian sedang saling membunuh lewat novel-!"

Suara pintu yang dibuka secara kencang beserta ucapan cepat yang tenang namun terdengar berbahaya bergema di dalam ruang klub.

Sosok itu tidak lain adalah Nanaha-senpai.

Sama seperti yang kulihat di toko buku tadi pagi, rambut hitamnya yang dikepang satu tidak berubah. Karena berlari dan berbicara dengan cepat, napasnya terengah-engah dan sebaris keringat mengalir di pipinya yang merona merah.

Dari belakangnya, Jun memunculkan wajahnya yang tampak lelah. Terlepas dari diriku, bahkan Tsukino sekalipun tampaknya tidak bisa mengeluarkan kata-kata karena kejadian yang mendadak ini, tetapi dia berusaha membuka mulutnya.

"Bukankah kedatangan Senpai terlalu cepat?"

Seharusnya belum terlalu lama sejak Jun keluar untuk menghubungi beliau.

"Karena saya membolos kuliah, begitu saya tancap gas memakai sepeda motor, ternyata langsung sampai kok."

Kalau diperhatikan, beliau memang mengenakan jaket rider yang dilengkapi protector, dan mengapit helm full-face di samping badannya.

"Tidak, membolos kuliah itu tidak boleh dong."

"Aku juga sudah bilang begitu padanya, tahu…"

Selain pakaiannya, senpai yang terlihat seperti putri dari keluarga terpandang ini tampak jauh lebih berenergi dibandingkan saat kulihat di toko buku.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment