Chapter 3
Orang yang Ingin Menjadi Nee-chan
"Uhm, Arisa-san――"
"Tsubaki-kun, mau langsung pulang?
Bukannya masih terlalu cepat? Nee-chan pengin banget coba kencan sama
Tsubaki-kun lho♪"
B-beneran mau bersikap selayaknya Nee-chan
perempuan, ya, wanita ini!?
Aku sama sekali tidak menyangka dia akan
langsung mematahkan pendapatku begitu saja—apakah panggilan 'Nee-chan' ini
serius, atau cuma candaan belaka... Sialan, apa-apaan sikap sok jadi Nee-chan
ini.
"............"
"Pengin kencan rasanya... Mau kencan
nggak ya sama adik tersayang?"
Dia memasang gestur gyaru yang menggemaskan,
menempelkan jari di bibirnya sambil memiringkan kepala dengan manis.
Lucu banget... eh, bukan itu maksudnya!
"Kalau langsung kencan... um――"
"Mau nggak ya...? Mau nggak yaaa?"
…Baiklah, aku menyerah pada tekanan Arisa-san.
Walaupun pada akhirnya kami jadi berkencan,
jalan-jalan kali ini sama sekali tidak bisa disebut sebagai kencan yang
berkeliling ke banyak tempat bermain.
Kami hanya berjalan-jalan santai di sekitar
lingkungan perumahan sambil mengobrol ringan, namun obrolan kami tidak pernah
terputus berkat sifat Arisa-san yang sangat ceria. Dia sepertinya sangat suka
memimpin, jadi tanganku terus digandengnya sepanjang jalan.
Meskipun aku sempat kebingungan dengan ucapan
"Nee-chan perempuan" yang tiba-tiba itu dan dipaksa meluangkan waktu
untuk berkencan, berkat usaha Arisa-san yang ingin membuatku senang, aku pun
jadi sangat menikmati hari ini.
Setelah puas mengobrol, kami berdua akhirnya
duduk di bangku taman.
"Gimana tadi?"
"Seru banget...!"
"Bagus deh♪ Nee-chan sudah lama banget
nggak jalan-jalan sama adik... Makanya kemarin sempat semangat banget, tapi
ternyata Tsubaki-kun emang anak yang benar-benar menggemaskan buat dimanja,
ya♪"
"Aku harus merasa terhormat… atau gimana
nih?"
"Iya
dong, iya dong♪ Anggap aja begitu♪"
Aku sama sekali tidak merasakan niat buruk
dari senyum, perkataan, maupun atmosfer di sekitar Arisa-san.
Yah, aku memang tidak punya kemampuan membaca
orang yang hebat, tapi aku tetap merasa kalau Arisa-san tidak punya niat untuk
menipuku.
Meskipun dia adalah teman Hinata-san, kurasa
kepribadian ramah yang dimiliki Arisa-san sendirilah yang membuatku merasa
nyaman.
"Kalau begitu... selanjutnya kita ngapain
lagi ya?"
Sambil tersenyum penuh arti, Arisa-san
tiba-tiba memelukku erat.
Jantungku langsung berdegup kencang
merasakan kelembutan dadanya yang menekan lenganku, namun di saat yang sama,
karena kami sudah berjalan begitu jauh, aku dan Arisa-san sama-sama mulai
sedikit berkeringat.
Meskipun aroma manis khas Arisa-san masih
tercium jelas, aku malah jadi cemas setengah mati, takut kalau dia mengira aku
bau keringat.
"............"
"Arisa-san... ada apa?"
Arisa-san menatap leherku dengan tatapan
kosong... Ada apa ini?
"Keringatnya Tsubaki-kun..."
Bergumam kecil dengan ekspresi melayang,
Arisa-san perlahan mendekatkan wajahnya. Tentu saja aku refleks mencoba menarik
tubuhku menjauh, tapi alih-alih memberi jarak, Arisa-san justru merangsek maju
dengan kecepatan yang sebanding.
"...Uwah!?"
"Kyaah!?"
Tentu saja, posisiku yang kehilangan
keseimbangan membuatku terjungkal ke belakang... dan di detik berikutnya, tubuh
Arisa-san ikut jatuh menimpa tubuhku.
"M-maaf ya Tsubaki-kun!"
"Nggak apa-apa... Eh!? "
Saat itulah, aku menyadari sebuah situasi yang
sangat gawat.
Akibat benturan saat terjatuh tadi, tangan
kananku telak mendarat di atas dadanya... Kelembutannya memang mirip dengan
Hinata-san, namun volume dan kepenuhan yang kurasakan di telapak tanganku ini
bahkan melampaui milik Hinata-san.
Sensasi geli dari rambut pirang berkilau yang
tersiram cahaya senja dan menyapu hidungku rasanya langsung lenyap tertelan
oleh kelembutan luar biasa di telapak tanganku ini... Dan saat Arisa-san
menyadari tanganku yang meremas dadanya, dia malah menjulurkan lidah melumat
bibirnya dengan genit.
"Payudaraku... tersentuh ya?"
"M-maafkan aku...!"
"Kenapa minta maaf? Padahal aku sama
sekali nggak keberatan kalau payudaraku disentuh sama kamu, lho?"
Sambil berkata begitu, Arisa-san justru
semakin menindihku dengan seluruh berat tubuhnya.
Telapak tanganku kian amblas ke dalam belahan
dadanya, membuat daging empuk itu meliuk dan berubah bentuk di sela-sela
jemariku.
Detak jantungku berdegup semakin kencang,
kepalaku nyaris overheat memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, hingga
pada saat itulah...
"!? "
"Eh?"
Ponselku... Nada dering panggilan masuk di
ponselku telah menyelamatkanku!
Rupanya Arisa-san masih punya batasan dan
tidak berniat memotong panggilan telepon, jadi dia dengan patuh bangkit
melepaskan diri, memberiku kesempatan untuk duduk dan mengangkat telepon.
"Halo, Ibu?"
Ya, peneleponnya adalah Ibu.
Jarang sekali beliau menelepon di jam-jam
seperti ini, apa terjadi sesuatu?
『Halo Tsubaki? Maaf ya mendadak... Sebenarnya
hari ini Ibu ada urusan pekerjaan dan sepertinya tidak bisa pulang. Jadi tolong
cari makan malam di luar saja ya.』
"Begitu ya... Ibu nggak apa-apa?"
『Fufu, Ibu baik-baik saja. Cuma ketepatan ingin
merampungkan pekerjaan semampu Ibu selagi bisa.』
Begitu rupanya... kalau begitu ya mau
bagaimana lagi.
Bukan hal yang aneh sebenarnya bagi Ibu untuk
mendadak tidak bisa pulang ke rumah, tapi itu artinya aku harus mencari makan
malam di luar lagi...
"......?"
Seseorang menepuk-nepuk pundakku pelan.
"Arisa-san?"
"Pembicaraan tadi sempat kedengaran lho.
Biar Nee-chan saja ya yang masakin buat kamu♪"
"...Eh!?"
Berlatar pemandangan langit senja di ufuk
barat, Arisa-san melontarkan usulan tak terduga itu.
▼▽
"............"
"Fun-fun-fun~♪"
Apakah ini mimpi atau kenyataan... Ah, tentu
saja ini kenyataan.
Di hadapanku saat ini, Arisa-san sedang
berdiri di depan kompor dapur, bersenandung riang dengan senyum ceria sembari
menyiapkan makanan.
Pada akhirnya, aku tidak sanggup menolak
usulan Arisa-san tadi.
Awalnya aku berniat menolak karena merasa
tidak enak merepotkannya, tapi saat melihat ekspresi sedih yang dipasangnya,
aku langsung tak berkutik dan terpaksa mengangguk setuju.
Yah, aku baru tahu belakangan kalau ekspresi
sedih itu cuma akting semata.
(Ah... tidak usah mencari-cari alasan aneh.)
Jujur saja, alasan utamanya adalah aku tidak
kuasa menahan godaan.
Masakan buatan seorang senpai bernama Arisa…
meskipun dia sempat bilang itu hanya menu masakan sederhana, masakan rumahan
buatan seorang wanita tetap saja merupakan impian terbesar para lelaki.
"Sepertinya
sudah pas... Tinggal bagian ini――"
Dari gerakannya yang luwes saat meracik bahan,
terlihat jelas kalau Arisa-san sangat mahir memasak.
Meskipun ini prasangka burukku saja, melihat
penampilannya, kukira dia adalah tipe orang yang payah dalam urusan dapur.
Namun, seolah menepis ekspektasi kasarku itu,
Arisa-san justru memamerkan sisi keibuannya yang begitu memukau.
"Hal kayak gini... ternyata beneran ada
ya selain di dunia manga atau anime."
"Apaan tuh~?"
"Bukan apa-apa."
Tak lama kemudian, aroma lezat dari sepiring
beef stew sudah tersaji rapi di atas meja.
Kata Arisa-san, sebenarnya dia ingin memasak
hidangan yang lebih rumit lagi, tapi bagiku menu beef stew ini saja sudah jauh
lebih dari cukup.
"Selamat makan!"
"Silakan dinikmati♪"
Dipandangi dengan senyuman manis oleh
Arisa-san, aku mulai menyuap sesendok stew tersebut ke dalam mulut.
Kehangatan dan kelezatan yang langsung
menyebar di rongga mulut... Niat awalnya ingin kunyah perlahan sambil meresapi
rasanya, tapi saking enaknya, tanpa sadar piringku sudah tandas tak bersisa...
Begitu lezatnya beef stew buatan Arisa-san ini.
"Wah, cepat banget habisnya. Enak ya?"
"Iya! Enak banget!"
"Masih ada porsi tambahannya lho."
"!? "
"Ufufu~, tunggu sebentar ya~!"
Dengan wajah yang memancarkan kebahagiaan
tulus, Arisa-san menuangkan porsi kedua stew ke mangkukku.
...Melihat punggungnya dari belakang saat
mengenakan apron senpai gyaru yang manis ini, aku jadi tersenyum-senyum sendiri
secara sembunyi-sembunyi.
Pada akhirnya, aku nambah sampai dua mangkuk
penuh hingga perutku terasa kenyang padat.
"Kamu puas makannya?"
"Ya, makanannya enak banget... dan
juga."
"Dan juga?"
"Rasanya hangat... Hangat sampai ke lubuk
hatiku yang paling dalam."
"A... ahaha! Begitu ya, begitu ya!
Seperti yang kubilang tadi, sebenarnya aku pengin bikin masakan yang lebih niat
lagi sih. Maaf ya cuma bisa bikinin stew doang?"
"Jangan ngomong 'cuma stew doang'
gitu dong. Aku benar-benar puas banget kok!"
"......Un♪"
Arisa-san merona tipis, lalu menunjukkan
senyuman paling indah yang kulihat sepanjang hari ini.
Senyuman itu begitu memukau... bagaikan
keindahan misterius yang membuatku lupa cara bernapas.
"Aku tuh ya, paling suka kalau masakanku
dibilang enak. Kalau aku masakin Takuya, dia malah cuek dan bilang 'mau enak
atau nggak ya terserah' gitu."
...Mendengar situasinya sih memang begitu,
tapi adik laki-lakinya itu sebenarnya mikir apa, ya?
Namun, bertolak belakang dengan kata-katanya,
Arisa-san terus mempertahankan senyuman di wajahnya, bahkan sedikit pun tidak
menyisakan bayangan kesedihan seperti yang kulihat sore kemarin, membuatku
merasa benar-benar lega.
"............"
Tapi... tapi ya.
Aku memang tidak punya hak untuk berkomentar
tentang urusan adiknya Arisa-san, dan tidak adil juga kalau aku hanya
mendengarkan dari satu sudut pandang saja, tapi seberapa parah pun masa
pemberontakannya, tetap saja ada batas antara ucapan yang boleh dan tidak boleh
dikatakan.
"Kalau begitu, biar piringnya
kubereskan ya."
"Ah, biarkan aku yang mencuci!"
Aku langsung bangkit berdiri dan ikut
berdampingan dengan Arisa-san di dekat wastafel.
Karena situasinya tadi terlalu natural,
aku sampai lupa kalau Arisa-san sudah repot-repot datang ke rumahku dan
memasakkan makanan... Kalau begitu, setidaknya pekerjaan mencuci piring harus
aku yang ambil alih!
"Padahal
nggak usah repot-repot lho."
"Aku nggak bisa tinggal diam
dong."
Ini sudah menyangkut harga diri...
Lagipula, mana boleh aku membiarkan seorang wanita mengerjakan semuanya
sendirian.
Kami mulai mencuci piring bersama
berdampingan, sementara Arisa-san terus memasang ekspresi riang gembira di
sebelahku.
Setelah piring-piring selesai dicuci,
Arisa-san meregangkan kedua tangannya ke atas seolah ingin merilekskan
otot-otot tubuhnya.
"Aaa~♪"
Melepaskan desahan lega yang begitu
nyaman, tubuh Arisa-san sedikit terhuyung-huyung lemas seolah seluruh tenaga di
tubuhnya mendadak lenyap.
"Arisa-san!?"
Aku dengan sigap menahan tubuhnya.
Meskipun mungkin tidak separah itu sampai
harus ditangkap dengan panik, tubuhku bergerak sendiri begitu melihat gelagat
aneh dari Arisa-san.
Akibatnya, kini jarak wajah kami sangat
dekat dan kami saling bertatapan dalam jarak sekian sentimeter.
"......Masakanmu tadi beneran enak
banget."
"Eh?"
"Stew buatan Arisa-san... beneran
seenak itu."
Tanpa sadar, mulutku bergerak sendiri,
kembali mengucapkan rasa terima kasih dan pujian atas kelezatan makanannya.
Mungkin tidak menyangka aku bakal
mengulanginya lagi, Arisa-san mengerjap kaget sesaat sebelum tersenyum geli,
lalu memegang tanganku untuk membantuku berdiri tegak.
"......Aku kan, jadi makin suka."
"Ha?"
Dengan tatapan lurus, dia dengan
blak-blakan bilang suka... eh?
"Aku paling suka dengar orang muji
masakanku enak begini."
"......Ah, begitu rupanya."
Malu banget karena aku sempat kepedean mengira
dia menyatakan perasaan.
Namun, kata "suka" itu sendiri
adalah kata yang sering kami ucapkan satu sama lain saat aku dan Hinata-san
berhubungan intim, yang membuatku selalu merasa ada kekuatan magis misterius
yang tersimpan di balik kata tersebut.
Suka――kata yang menunjukkan perasaan afeksi
terhadap seseorang, dan di luar situasi khusus, mendengarkan orang lain bilang
"suka" hampir selalu membawa kebahagiaan tersendiri.
(Adikmu itu... setidaknya coba ucapkan terima
kasih sekali saja. Cukup dengan itu, Arisa-san pasti bakal merasa sangat
bahagia.)
Cukup dengan satu patah kata sederhana itu,
hubungan mereka berdua pasti akan jauh membaik.
"Tapi..."
"......!? "
Kelembutan sentuhan itu datang secara
tiba-tiba.
Bibir Arisa-san mendarat tepat di bibirku...
Di saat otakku yang sempat stop-thinking berputar kembali untuk mencerna
keadaan, aku baru sadar kalau aku baru saja dicium oleh Arisa-san.
"Sekarang ini, Nee-chan lagi suka banget
sama kamu lho."
"......Um"
"Tsubaki-kun, kamu dan Hinata itu cuman
sex friend kan?"
"Itu... tidak salah sih."
Alur percakapan macam apa lagi ini
sebenarnya...!
Menggenggam erat tanganku yang kebingungan,
Arisa-san melanjutkan kalimatnya.
"Mau jadi sex friend-ku juga nggak? Aku
tahu ini kedengaran gampangan banget, tapi interaksi kita belakangan ini sukses
bikin aku terobsesi sama kamu♪ Payudaraku kan lebih besar dari Hinata, dan
sensasi saat dipeluk juga pasti juara, gimana?"
Membuka kancing dada kemeja seragamnya,
Arisa-san memamerkan dada montoknya secara terang-terangan.
Sepasang buah dada ranum yang terbalut bra
renda merah itu memang terlihat jauh lebih besar ketimbang milik Hinata-san.
"Ahaha, tatapanmu panas banget
sampai-sampai hampir bikin terbakar. Bukan cuma karena kamu nganggap tubuhku
ini menggairahkan, tapi tatapan jujurmu itu kelihatan imut banget,H tahu."
"Arisa-san, aku..."
"Kalau statusnya sex friend, kita kan
nggak perlu mikir ribet, kan? Bukannya Hinata juga ngomong hal yang sama ke
kamu? Makanya-makanya, Tsubaki-kun! Menahan hawa nafsu itu racun buat tubuh
lho, jadi ayo kita langsung main-main aja ya♪"
Meskipun Arisa-san menawarkan hal itu sambil
tersenyum manis, matanya memancarkan keseriusan penuh.
Memang benar kalau tadi aku sempat mencari
seribu alasan untuk kabur, tapi sekarang setelah aku tahu betapa nikmatnya
hubungan seksual... aku sama sekali tidak bisa menemukan alasan untuk menolak
tawaran dari wanita sempurna seperti Arisa-san.
Sex friend... hubungan tanpa perlu memikirkan
hal rumit, cukup saling memuaskan hasrat satu sama lain.
"Aku juga... ingin berhubungan dengan
Arisa-san."
"Un♪ Ayo kita lakukan."
"Tapi kita kan masih di ruang tamu,
sebaiknya pindah ke kamar—"
"Woaah!?"
Tentu saja tidak mungkin kami bisa bercinta di
ruang tamu terbuka begini, jadi aku refleks mengangkat tubuh Arisa-san ke dalam
gendongan.
...Tunggu, dengan begini posisinya malah
kelihatan seolah-olah aku sendiri yang sudah tidak sabar.
"Gendongan
princess... eh, Tsubaki-kun."
"Ya?"
"Kamu ini agresif banget ya ke
aku."
"Apa aku terlalu bernafsu ya? Maaf... aku
nggak bisa nahan diri."
"Sifat jujurmu yang itu justru nilai
plusnya tinggi banget! Biasanya cowok bakal mikir seribu alasan buat ngehindar,
kan? Tapi kamu malah nggak ragu sama sekali, itu bener-bener menusuk telak ke
hatiku♪"
Kalau dibilang aku terlalu menuruti insting,
mungkin memang benar, tapi tampaknya segala tindak-tandukku di mata Arisa-san
selalu dinilai positif.
Sesampainya di kamar, aku membaringkan tubuh
Arisa-san di atas tempat tidur.
Namun Arisa-san langsung bangkit duduk,
menyuruhku untuk duduk di tepi ranjang terlebih dahulu.
"Arisa-san?"
"Langsung begituan sih nggak masalah,
tapi foreplay itu penting, kan? Mau pakai tangan, pakai mulut, atau pakai
dada... bagian mana yang kamu mau buat bikin kamu merasa keenakan?"
Pertanyaan macam apa itu, gaya bicaranya
terlalu erotis...
Tatapanku sempat mondar-mandir antara tangan
Arisa-san, bibirnya... lalu berakhir di dadanya, dan pada akhirnya aku menjawab
kalau aku ingin merasa keenakan menggunakan dadanya.
Arisa-san mengangguk tersenyum, lalu merogoh
punggungnya untuk membuka kaitan bra.
Begitu benteng pertahanan terakhir bernama bra
itu lepas, buah dada montok Arisa-san memantul lembut, menampakkan wujud
seutuhnya di hadapanku.
"...Eh."
"Ahaha, reaksimu pasti bakal begini
ya."
Arisa-san tertawa kecil dengan rona malu-malu
di wajahnya.
Penyebab mataku terpaku tak berkedip adalah
bagian dada Arisa-san... kalau boleh jujur, bentuk putingnya adalah tipe yang
tenggelam ke dalam (inverted nipple).
"Kelihatan aneh ya?"
"Eh? Kenapa dibilang aneh?"
"Yah, kupikir kamu bakal bereaksi
lain."
"...Sebaliknya, aku malah mikir itu
kelihatan makin erotis."
Meskipun sempat terkejut, aku sama sekali
tidak menganggapnya aneh.
Aku benar-benar merasa itu terlihat sangat
erotis... dan entah kenapa, aku jadi punya dorongan besar untuk menyentuhnya
secara langsung...
"......Ah, sungguh! Makanya, sifat jujur
dan polosmu itu benar-benar menggemaskan!"
Tampaknya pilihan kata yang kuambil tadi sudah
tepat sasaran.
Pelukan erat yang tiba-tiba itu membuat dada
Arisa-san menempel telak di wajahku, dan tepat di depan pandanganku, ujung
dadanya... jika aku memicingkan mata, aku merasa bisa melihat sedikit bagian
yang tersembunyi di balik lekukannya.
"Nah, Nee-chan jadi terbawa suasana
saking gemesnya♪ Kalau begitu, Nee-chan buat kamu merasa keenakan sekarang
ya."
"B-baik!"
Arisa-san mendudukan dirinya tepat di
hadapanku yang masih duduk di atas ranjang, lalu mengangkat kedua payudaranya
yang berukuran besar... dan menjepitku di antaranya.
Seketika itu juga, gelombang kenikmatan yang
belum pernah kurasakan sebelumnya mendadak menghujam sekujur tubuhku.
Yah, tentu saja ini pertama kalinya aku
diperlakukan seperti ini, jadi wajar saja. Hinata-san bahkan belum pernah
melakukan hal ini padaku, dan lagi, karena terlalu banyak pengalaman baru yang
kudapat, aku bahkan tidak punya kapasitas untuk memikirkan atau meminta hal
semacam ini.
"Gimana? Enak?"
"Enak banget... Lembut dan
hangat."
"Mendengar kamu ngomong begitu bikin Nee-chan
senang banget loh♡ Senang juga lihat wajahmu yang kelihatan begitu
keenakan ngikutin semua keinginanku♡"
Pertama-tama, aku dibuat tuntas dan lega oleh
bagian dada Arisa-san.
Setelah itu, dengan gerakan yang begitu luwes,
aku dibaringkan telentang, dan Arisa-san yang sudah bersiap sepenuhnya kini
menunggangi di atasku.
Omong-omong, Arisa-san sudah terlebih dahulu
memasangkan pengaman padaku, menunjukkan betapa antusiasnya dia untuk segera
menyatukan tubuh kami.
"Uhn... ah♡ ...Begitu ya! Ini... rasanya kita benar-benar
cocok banget, kan?"
"B-benarkah begitu...nn!"
"Soalnya ini tuh rasanya enak banget,
sampai-samain bikin hati terasa terpuaskan♡"
Bagi diriku sendiri, aku tidak punya standar
untuk mengukur apa itu "kecocokan fisik".
Pasalnya, satu-satunya orang yang pernah
berbagi keintiman denganku sejauh ini hanyalah Hinata-san... dan sekarang,
Arisa-san.
(P-pemandangan
macam apa ini... Aku juga sempat mikir hal yang sama waktu dengan Hinata-san
sih.)
Tentu
saja setiap kali Arisa-san yang berada di atasku menghunjapkan pinggulnya,
gelombang kenikmatan selalu menjalar ke seluruh tubuh, namun pemandangan
sepasang buah dada besar yang berguncang kencang dengan irama buru-buru itu
benar-benar sebuah pemandangan yang luar biasa.
Secara
fisik terasa sangat nikmat, dan secara visual pun bagaikan pemandangan
spektakuler... Kalau dibilang dengan kalimat yang paling sederhana tanpa
basa-basi, berhubungan intim itu ternyata memang luar biasa.
"Nih, Tsubaki-kun, kita ciuman yuk♡"
Begitu aku mengangguk setuju, Arisa-san
langsung mencondongkan tubuhnya untuk menempelkan bibir kami.
Tentu saja ini bukan sekadar ciuman singgung
yang manis seperti sebelumnya, melainkan ciuman intens yang saling membelitkan
lidah... terlebih lagi, di sela-sela ciuman itu, Arisa-san tetap menggerakkan
pinggulnya tanpa henti untuk memberiku stimulus yang kuat.
"......Fufu, rasanya juara banget ya♡"
"I-iya... Tapi rasanya aku... kayak cuma
pasrah di setir melulu, ya."
"Ah~..."
Gerakan tubuhnya terhenti seketika, dan
Arisa-san melanjutkan kata-katanya.
"Nee-chan ini... sepertinya benar-benar
ingin melayanimu sepenuh hati, atau lebih tepatnya, ingin memimpinmu dengan
penuh kelembutan tapi juga beringas."
"......Jadi begitu alasannya."
"Kamu nggak suka?"
"Enggak... Dari Arisa-san yang tadi, dan
juga Arisa-san yang sekarang... bagaimana ya mengatakannya... aku bisa
merasakan rasa kenyamanan yang luar biasa."
Ah, benar... Kenyamanan!
Kalau sesi bercinta dengan Hinata-san terasa
seperti hubungan manis yang nyaris membuatku salah paham mengira kami adalah
sepasang kekasih, maka sesi bercinta dengan Arisa-san adalah jenis hubungan
yang penuh dengan rasa kenyamanan, membuatku ingin terus dipimpin sepenuhnya
olehnya.
"Fufu,
kamu itu adik kelas dan Nee-chan adalah seniornya... Kan sudah Nee-chan bilang
tadi? Nee-chan ingin jadi Nee-chan perempuanmu, lho♡"
"Kalau
punya Nee-chan perempuan seperti ini, rasanya hari-hari ke depannya bakal berat
banget, ya."
"Kan~!? Kalau Nee-chan ada di dekatmu
terus, meskipun kita sedarah, kamu pasti bakal tetap pengin ngajak bercinta,
kan?"
"......No comment."
Arisa-san terkekeh geli, lalu mendekatkan
dadanya ke wajahku.
Mendekatkan belahan dada berukuran ekstra
besar itu tepat di depan mulutku, Arisa-san memperlihatkan ekspresi paling
malu-malu yang kulihat hari ini, lalu berujar:
"Sebelumnya Nee-chan tidak pernah
sekalipun ngomong hal kayak gini ke orang lain, lho? Tapi karena ini kamu, Tsubaki-kun, makanya Nee-chan berani bilang... Bagian
yang malu-malu dan sembunyi di dalam ini, maukah kamu dengan lembut mengisapnya
keluar, Tsubaki-kun♡?"
Jika Arisa-san yang sangat menyukai peran
memimpin ini sudah memintanya sedemikian rupa, maka sebagai seorang pria aku
tidak boleh mengecewakan harapannya.
Kobaran gairah di dalam dadaku semakin
menjadi-jadi, menghabiskan malam yang panas bersama Arisa-san, dan begitu
semuanya usai, aku mendapati diriku terlelap dalam dekapan pelukan hangat di
antara belahan dadanya.
"Kerja bagus, Tsubaki-kun."
"Iya... hafuu."
Rasa lelah setelah menuntaskan semuanya adalah
hal yang wajar.
Namun, seperti yang selalu kurasakan setiap
kali bersama Hinata-san, momen yang disebut sebagai waktu pemulihan alias
after-time ini... momen di mana aku membenamkan wajahku di dada seorang wanita
di tengah kelelahan yang menyenangkan ini benar-benar terasa sangat nikmat dan
tiada duanya.
"Tsubaki-kun, kamu beneran suka banget ya
sama payudara."
"...Hinata-san
juga sering ngomong begitu."
"Sudah kuduga ya, tapi Nee-chan sama
sekali nggak keberatan kok."
"Bagus deh kalau begitu."
"Tenang saja, Nee-chan nggak akan pernah
merasa risi dengan segala hal tentangmu."
Ucap Arisa-san sambil mengusap-usap lembut
kepalaku.
Sepertinya mode "Nee-chan perempuan"
atau mode "penuh kenyamanan" miliknya ini masih belum usai... Ah,
jadi begitu ya?
"Arisa-san, kamu ini terlalu baik
sampai-samain aku nggak mau lepas..."
"......Uhn♡"
Mendengar ucapanku, Arisa-san mengeluarkan
suara desahan gemas, lalu semakin mempererat pelukannya… seolah tak punya
batasan lagi.
Pelukan itu bahkan membuat punggungku sedikit
terasa sakit… Namun, sensasi nyaman yang ditimbulkannya jauh lebih mendominasi,
sungguh sebuah kekuatan kenyamanan yang luar biasa menakutkan.
"......Fhwaa."
"Ngantuk?"
"Sedikit..."
"Nee-chan juga jadi ikut ngantuk... Lagian besok kan masih sekolah."
Ah... benar juga.
Biasanya kalau Hinata-san datang ke rumah
itu selalu pas hari Jumat, jadi aku sempat lupa kalau besok masih harus
sekolah...
Saat aku memejamkan mata di tengah
kehangatan dan aroma manis tubuh Arisa-san, kesadaranku perlahan-lahan mulai
memudar dengan kecepatan luar biasa.
▼▽
"Tidur juga ternyata... Cepat banget
tidurnya, Tsubaki-kun."
Sambil mengusap kepala Tsubaki yang
terlelap di dadanya, Arisa tersenyum kecil.
Dari reaksi adiknya, Takuya, Arisa sudah
tahu bahwa anak laki-laki biasanya tidak suka jika dibilang
"menggemaskan", namun bagi Arisa yang memiliki hasrat besar untuk
memanjakan seseorang, sosok Tsubaki terlihat begitu imut hingga membuatnya gemas
setengah mati.
"Aduh ampun deh... Nee-chan nggak
nyangka bakal separah ini terseretnya."
Arisa sendiri sama sekali tidak menyangka akan
sampai separuh tergila-gila pada Tsubaki seperti ini.
Tentu saja, pesona dan kepribadian Tsubaki
telah berhasil merangsang hatinya, namun di saat yang sama, kebetulan rasa
frustrasinya terhadap sang adik sedang menumpuk.
Ingin memanjakan adiknya, ingin
memperhatikannya, ingin merengkuhnya dengan penuh kasih... Segala hasrat yang
tertimbun rapat itu akhirnya terlepas begitu saja setelah bertemu dan mengenal
sosok Tsubaki.
"Hinata... bakal marah nggak ya."
Arisa langsung membayangkan wajah cemberut
Hinata yang sedang ngambek.
Mengingat betapa terobsesinya Hinata pada
Tsubaki, apalagi tadi Arisa sempat sedikit menggoda Tsubaki dan memperlihatkan
rasa kepemilikan yang kuat.
"......Yah, urusan nanti ya dihadapi
nanti saja♪"
Seandainya Hinata nanti ngamuk, Arisa sama
sekali tidak berniat meminta maaf.
Pasalnya, Arisa sama sekali tidak berniat
menjadikan kedekatannya dengan Tsubaki hanya sebagai kejadian sekali jalan; dia
ingin kembali bercinta dengan Tsubaki berkali-kali ke depannya, dan yang
terpenting, dorongan dalam dirinya untuk terus memperlakukan Tsubaki sebagai
seorang adik laki-laki kesayangannya semakin hari semakin membuncah.
"Anak itu emang imut banget sih... tapi
daya tariknya bukan cuma itu doang."
Sepanjang hari ini, Arisa jadi mengenal
banyak hal tentang Tsubaki.
Meskipun sisi kepolosan dan kejujurannya
sukses membuatnya meleleh karena gemas, Arisa juga menyadari sisi-sisi lain
dari Tsubaki—seperti ekspresi lembutnya saat menceritakan tentang sang ibu,
hingga tatapan penuh perhatian yang selalu ia berikan pada sekitarnya dalam
situasi apa pun.
"Mungkin karena dia belum terbiasa
dikelilingi cewek seperti Nee-chan atau Hinata ya, tapi Nee-chan bisa ngerasain
banget dari sorot matanya kalau dia selalu mikir apakah ada hal yang bisa dia
lakukan buat bantu orang lain♪"
Agar orang di sekitarnya tidak merasa
bosan, atau agar tidak membuat orang lain merasa tidak nyaman... itu memang
wujud perhatian yang tulus, dan di balik itu semua terpancar kebaikan murni
tanpa ada motif terselubung.
"Ditambah lagi... fufu♪"
Tsubaki memang anak yang baik, tapi di
sisi lain dia juga anak laki-laki normal seusianya yang memiliki sisi
"nakal".
Sisi nakal dalam arti dia sangat penasaran
dengan hal-hal berbau erotis selayaknya remaja seusianya, dan ada hasrat
tersembunyi yang menunjukkan bahwa dia tidak ingin melewatkan kesempatan jika
ada peluang di depan mata.
"Kalau kata orang sih dia itu anak yang
mesum... tapi, tapi ya! Tsubaki-kun itu bener-bener!"
Arisa sudah berada di puncak kegirangannya.
Hubungan fisik biasa tidak mungkin akan
membawanya pada titik ini… Namun, kecocokan fisik di antara mereka
berdua benar-benar berada di tingkat tertinggi bagi Arisa.
Kecocokan fisik, kecocokan kepribadian,
hingga kecocokan emosional—semuanya padu bersatu.
Kenikmatan yang tidak bisa didapatkan di
tempat lain, hati yang terasa terpenuhi sepenuhnya... Arisa berani bersumpah,
tidak akan pernah ada lagi pria di masa depan yang memiliki kecocokan separah
ini dengannya, dan dia pun sadar sepenuhnya bahwa kini dirinya tidak bisa lagi
berpaling ke lain hati selain Tsubaki.
"Bagian tubuh Nee-chan yang paling
memalukan, bagian paling sensitif Nee-chan bahkan sudah dijamah habis sama dia
ya♡"
Arisa memiliki titik sensitif di bagian
dadanya.
Setiap wanita pasti punya zona erotis
masing-masing, dan bagi Arisa, itu adalah bagian dadanya.
Saat ia mencoba memimpin Tsubaki sebagai
wanita yang lebih dewasa, ia bahkan nyaris kesulitan menahan suaranya saat
payudaranya diisap... Jika saja ia tidak berusaha setengah mati menahan diri,
mungkin ia sudah memperlihatkan wujud tak berdaya yang memalukan dengan tubuh
yang lemas tak bertulang di hadapannya.
"Meskipun begitu, rasanya nggak buruk
juga sih♪"
Sambil tersenyum geli memikirkan hal itu,
Arisa melirik ke arah jam dinding.
Seharusnya dia sudah harus tidur sekarang
agar tidak mengganggu aktivitas esok hari… Namun, melihat Tsubaki yang masih
tertidur pulas di dadanya membuat keengganan merayap naik, dan dia tidak bisa
menghentikan pandangannya.
Perasaan seperti ini benar-benar baru pertama
kali ia rasakan seumur hidupnya.
"Sebenarnya paling benar kalau aku
langsung tidur ya, tapi rasanya menatap Tsubaki-kun sampai pagi pun bakal tetap
sanggup kulalui... ah, ngawur."
Meskipun sempat berniat memejamkan mata untuk
tidur sungguhan—
"Arisa... san...nn."
Itu adalah sebuah igauan kecil... Nyaris saja
Arisa menjerit karena terkejut.
(Sebentar ya, Tsubaki-kun? Kamu ini mau bikin Nee-chan
jantungan ya?)
Bukan hanya mengigau, Tsubaki bahkan mulai
menggesekkan wajahnya semakin dalam membenam ke dalam belahan dadanya...
Keinginan Arisa untuk memanjakannya nyaris lepas kendali, tapi ia mati-matian
menahan diri dan bersabar.
Namun, Tsubaki yang masih dalam kondisi tidur
lelap itu justru tanpa sadar mengulum ujung dada Arisa ke dalam mulutnya.
"......♡"
Hasrat yang tadinya ia tahan mati-matian kini
mendadak meluap memenuhi seluruh isi kepalanya.
Meskipun ada dorongan untuk balik menerkamnya
atau mengajaknya bercinta sekali lagi... meskipun emosi semacam itu sempat
bergolak di dadanya, pada akhirnya melihat Tsubaki yang menyusu di dadanya
bagaikan seorang bayi saja sudah lebih dari cukup untuk membuatnya merasa
bahagia.
Hanya saja, kebiasaan tidur Tsubaki ini...
lama-lama posisinya semakin mahir saja.
Gerakan lidahnya yang melingkar pelan seolah
sedang berusaha merangsang dan menarik kembali puting Arisa yang biasanya
tenggelam ke dalam.
"Ampun deh... Kamu ini pas tidur pun
masih tetap mesum ya, sayang♡"
Arisa tersenyum masam, membatin bahwa mustahil
baginya untuk bisa tidur dalam kondisi seperti ini, namun di saat itulah—
"nn..."
"Tsubaki-kun?"
"Ibu... jangan... memaksakan diri
ya..."
"............"
Suara yang meluncur dari bibir Tsubaki saat
mengigau adalah kalimat penuh kekhawatiran untuk sang ibu.
"......Kamu ini ternyata benar-benar
anak yang baik, ya."
Akar dari segala kebaikan tulus yang
melekat dalam diri Tsubaki, Arisa merasa baru saja mendapat secercah kilas
balik dari sumbernya.
Meskipun saat mengobrol dengannya pun
Tsubaki selalu bersikap baik, ini adalah pertama kalinya ia mendengar suara
bernada cemas dan penuh kasih saat Tsubaki memikirkan ibunya... Secercah rasa
cemburu sempat menyelinap tipis, namun Arisa langsung tertawa kecil menyadari
betapa konyolnya dirinya karena merasa cemburu pada ibu anak itu sendiri.
"Tsubaki-kun, selamat tidur."
"Suu... suu..."
Dengan gelora kebahagiaan yang belum pernah ia
rasakan sebelumnya memenuhi rongga dadanya, Arisa akhirnya menyusul alam bawah
sadarnya dan terlelap dalam tidur yang nyenyak.


Post a Comment