NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Anime Gotoubun no Hanayome Novelize Volume 5 Chapter 3

Chapter 3


 

Hari terakhir festival sekolah. Saat matahari mulai terbenam, pesta penutupan (koyasai) yang khusus dihadiri oleh para siswa sekolah pun dimulai.

 

Berbagai macam pertunjukan digelar, stan makanan dan minuman pun tetap dibuka, dan para siswa sangat menikmati suasana yang meriah di mana-mana.

 

"Berikutnya, pengumuman toko/stan terbaik!"

 

Kelas yang terpampang di layar monitor khusus gedung olahraga adalah 'Kelas 3-1'.

 

"Wah—!" "Yey, kita berhasil!"

Sorak-sorai membahana seketika dari Kelas 3-1. Siswa laki-laki dan perempuan saling berpegangan tangan dalam kegembiraan yang luar biasa.

 

"...Lho? Nakano-san dan yang lainnya di mana?" Aoi yang menyadarinya mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Miku yang menjadi pahlawan kemenangan kali ini, beserta saudari-saudarinya yang lain sama sekali tidak terlihat di mana pun.

 

"Maaf membuat kalian menunggu~"

 

Itsuki berlari menghampiri bangku tempat yang lain menunggu.

 

"Itsuki, bagaimana?" "Pesan dari kami sudah disampaikan ke Fuutaro-kun?"

Miku dan Ichika bertanya bertubi-tubi kepada Itsuki yang dititipi pesan oleh mereka bersaudara.

 

"Sudah. Selain itu, aku juga sudah menyampaikan terima kasih atas bantuan terkait Ayah. Sekali lagi aku ingin berterima kasih pada kalian..."

"Tidak apa-apa, kok."

 

Ichika langsung berlari menghampiri mereka tepat setelah menyelesaikan syutingnya.

"Lagipula itu kan masalah keluarga kita juga," kata Yotsuba.

 

"T-Tapi... t-terima... terima kasih ya!"

Demi menanggalkan peran "ibu", Itsuki memberanikan diri mengubah nada bicaranya, tetapi saudari-saudarinya justru menunjukkan reaksi yang canggung.

 

"...Malah makin terasa aneh tahu," kata Nino dengan mata picik.

"Bisa-bisanya kalian begitu! Ah, Miku juga sampai repot-repot menyamar..."

"Tidak apa-apa. Lagipula aku tidak puas dengan penyamaran seceroboh itu."

 

Melihat Miku yang matanya berbinar penuh semangat, Nino menyahut heran, "Anak ini malah menumbuhkan harga diri yang aneh."

"Orang awam memang bisa terkecoh cuma dengan penyamaran begitu, ya~" Ichika tersenyum getir.

 

Bagi si kembar lima, ayah kandung yang mendadak muncul itu benar-benar orang asing tanpa hubungan emosional.

"Meskipun sifatnya berbeda, wajah kita kan sama."

Yotsuba mengucapkannya sambil tertawa, dan Miku mengangguk setuju.

 

Namun Ichika menatap adik-adiknya lekat-lekat lalu bergumam pelan:

"Sampai kapan ya kita akan terus menjadi kembar lima..."

 

Di telinga kelima saudari yang mendadak membisu, suara musik yang meriah terdengar dari arah lapangan. Sepertinya grup band yang tampil di festival sekolah sedang membawakan konser encore.

 

"Nah nah, masih ada waktu sampai janji kumpul dengan Fuutaro-kun. Ayo ubah suasana hati dan nikmati pesta penutupan ini!"

Ichika bersuara ceria untuk mencairkan suasana.

 

"Hei... sampai kapan kamu mau duduk di tempat seperti ini? Ayo cari makanan di stan."

Di area istirahat halaman tengah, Maeda berbicara.

 

"Stan makanan, ya... Benar juga. Aku belum makan dari tadi, dan ada toko yang belum sempat kudatangi..."

Fuutarou melirik canggung ke sana kemari, lalu—

"Setelah ini selesai, aku... ada janji bertemu dengan seseorang."

 

"Begitu, ya," Takeda mengangguk dengan raut wajah sok tahu.

"Kalau para saudari itu, barusan aku sempat melihat mereka. Ichika-san juga ada, jadi mereka berkumpul lengkap berlima."

"Hee. Maeda-kun, hebat juga kamu bisa langsung tahu kalau itu Ichika-san hanya dalam sekejap."

"Eh! Y-Yah... Aneh memang, tapi sejak dulu cuma Ichika-san yang entah kenapa bisa aku kenali."

 

Benar, kalau ada rasa cinta, pasti bisa membedakannya—Maeda dulu pernah bertepuk sebelah tangan pada Ichika.

Takeda bertanya, "Kalau Uesugi-kun, tentu saja sudah bisa membedakan mereka, kan?"

 

"Eh? ...Kalau dibilang begitu aku jadi tidak percaya diri..."

Jika mereka sengaja menyamar, Fuutarou tidak punya cara untuk membedakannya. Pernah ada momen di mana Miku menyamar jadi Yotsuba, Itsuki jadi Ichika, Nino jadi Yotsuba, Ichika jadi Miku, hingga mereka berlima semuanya menyamar menjadi Itsuki.

 

"Awalnya aku jauh lebih bingung dari sekarang. Dari dasarnya saja aku memang tidak pandai mengingat wajah orang. Ditambah lagi, mereka memanfaatkan kelebihan itu habis-habisan. Sudah tak terhitung berapa kali aku ditipu... Sampai akhir pun mereka benar-benar gadis-gadis yang merepotkan."

 

Namun raut wajah Fuutarou saat menceritakannya tampak sangat bahagia.

"Fuh, sok jual mahal kamu," ledek Maeda.

 

"Aku cuma penasaran... sebenarnya siapa di antara mereka yang pertama kali berhasil kamu bedakan?"

Mendengar pertanyaan Takeda, Fuutarou membisu kehabisan kata-kata, lalu berdiri seolah mengalihkan pembicaraan, "Sip, ayo ke stan makanan."

 

"Hahaha... Tunggu dulu. Jeda barusan itu maksudnya apa?"

Takeda ikut berdiri dan memegang bahu Fuutarou dengan kuat seolah tidak akan membiarkannya kabur.

"Hei Takeda. Maksudmu apa?" tanya Maeda.

"Ayo kita tanyakan langsung maksudnya pada Uesugi-kun."

"Bukan apa-apa, tahu!"

"Dingin banget sih, Uesugi-kun! Menjaga rahasia di antara teman itu tidak bergaya!"

 

Melihat Fuutarou yang berusaha melarikan diri, Takeda mendesaknya dari jarak dekat untuk memberi tekanan.

"B-Berisik! Rahasia, rahasia!"

 

Maeda yang mengamati Fuutarou sejak tadi bergumam pelan:

"Kamu menyukai... salah satu dari si kembar lima, ya?"

 

"(!!)" Kenapa sih Maeda ini kalau soal urusan asmara hidungnya tajam sekali...

 

"...Aku hidup dengan percaya bahwa tugas utama seorang siswa adalah belajar... dan hal selain itu tidak diperlukan. Tapi ternyata, tidak ada keharusan untuk membuang hal-hal selain belajar itu."

 

Saat mendongak menatap langit malam, bayangan punggung si kembar lima yang berlari bersama ke depan terlintas di benaknya.

"Belajar, persahabatan, pekerjaan, hiburan, hingga percintaan, mereka selalu mencurahkan segalanya dengan sepenuh tenaga. Merekalah yang mengajarkan hal itu kepadaku yang dulu begitu kaku."

 

Hanya untuk menyadari hal sesederhana itu, ia telah membuat mereka menunggu sejauh ini.

"Kalau aku masih seperti yang dulu, mungkin di saat seperti ini pun aku akan sendirian."

 

"Uesugi..."

Maeda dan Takeda yang kini telah menjadi sahabat berharganya, tersenyum bahagia.

 

"Sip! Kalau begitu ayo kita ke stan makanan! Walau aku tidak punya uang sih."

"Kalau tidak punya uang, kenapa malah mau ke stan makanan!"

 

Sambil saling melempar gurauan, mereka bertiga berjalan menuju lapangan. Tiba-tiba dua orang siswi menghampiri area tersebut.

"Area istirahat ini benar-benar menolong banget." "Seru banget ya~" Sambil mengobrol, mereka duduk di kursi mengistirahatkan kaki yang lelah.

 

"...Sudah kuputuskan."

Sambil merasakan sedikit kesepian karena festival akan segera berakhir, Fuutarou menatap bintang-bintang di langit seolah-olah telah memantapkan tekadnya.

 

"Demi menikmati festival ini sampai akhir."

 

Saat pesta penutupan makin mendekati akhir, si kembar lima pun berhadapan dengan pilihan terakhir mereka.

 

"Sudah waktunya, ya," kata Itsuki.

 

Demi menyemangati Nino dan Yotsuba yang tampak tegang, Ichika merangkul bahu mereka berdua dari belakang.

Melihat hal itu, Miku dan Itsuki saling bertukar pandang lalu tersenyum.

 

Kelima saudara itu membentuk lingkaran, lalu menautkan kelingking dan ibu jari mereka membentuk simbol kembar lima.

 

Ichika tersenyum pada semuanya. Nino menatap dengan pandangan tajam penuh tekad. Miku tampak telah terbebas dari keraguannya. Yotsuba merasa bahagia bisa bersama berlima. Dan Itsuki tersenyum seolah menegaskan bahwa ini adalah pilihan yang terbaik.

 

Tautan simbol kembar lima pun terlepas, dan kelimanya berpisah menuju lokasi mereka masing-masing.

 

"Saat segalanya hari ini berakhir, kami akan menunggu di kamar/ruangan kami masing-masing. Sambil memeluk perasaan kami masing-masing, kami akan menunggumu. Ruangan yang akan kamu tuju, hanyalah satu ruang kelas—"

 

Sambil meresapi perasaan si kembar lima yang disampaikan oleh Itsuki, Fuutarou melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung sekolah.

 

"Kami tahu usulan ini justru akan membuatmu bingung."

 

Ia melangkah menuju ruang kelas tempat salah satu dari si kembar lima menunggu.

 

"Inilah tekad kami. Mohon pahamilah hal itu."

 

Langkah Fuutarou terhenti di depan sebuah ruang kelas.

 

Dari arah lapangan, suara pengumuman terdengar membahana.

"Dengan ini, seluruh rangkaian acara Festival Sekolah dan Pesta Penutupan SMA Asahi... telah resmi berakhir."

 

Setelah menarik napas panjang dan dalam, Fuutarou membuka pintu dengan pandangan mata penuh tekad.

 

"...Uesugi-kun."

Itsuki tersenyum manis penuh kebahagiaan.

"Perjuangannya baru dimulai dari sekarang, Uesugi-kun."

Itsuki diam-diam memberikan semangat kepada Fuutarou yang berada di salah satu ruang kelas.

 

"Boleh juga kamu, Fuutaro-kun."

Ichika tersenyum getir. Seharusnya ia tidak boleh buru-buru mencapnya sebagai orang penakut. Padahal di saat-saat krusial, ia sendiri yang paling paham kalau Fuutarou bisa bersikap jauh lebih pria dari siapa pun—

 

Sambil berdiri di balkon kelas dan memandang pemandangan di luar, ia mengingat kaleng minuman yang dipegang Fuutarou di taman semalam.

"...Rupanya di saat itu kamu sudah memantapkan hatimu, ya."

 

Meskipun sudah menduga hasilnya, begitu menjadi kenyataan rasanya dadanya tetap serasa teroyak.

Tidak boleh menangis—Ichika menyandarkan wajahnya di atas tangannya yang bertumpu pada pagar pembatas.

 

Pintu ruang kelas lain terbuka lebar.

"!"

Nino yang menunggu, tersentak dan menoleh ke arah pintu.

 

"...Sudah berakhir."

Sambil menahan tangis, Miku tersenyum.

Nino menggetap bibirnya seolah marah—dan matanya mendadak digenangi air mata.

 

Nino melangkah mendekati Miku. Keduanya saling memeluk erat satu sama lain seolah-olah sedang berbagi rasa sakit akibat patah hati.

 

Yotsuba sudah meninggalkan ruang UKS dan berjalan menyusuri koridor.

 

Begitu festival sekolah berakhir, hubungan antara Fuutarou dan mereka pun akhirnya selesai.

Anak laki-laki yang ditemuinya di Kyoto enam tahun lalu mendadak menjadi guru privat si kembar lima, entah takdir seperti apa yang mempertemukan mereka kembali...

 

Seandainya saja ia berterus terang sejak awal, mungkin akhir yang berbeda sedang menantinya.

 

Ia menyadari kalau Miku menyukai Fuutarou di malam kembang api. Ichika yang dikiranya telah melupakan Fuutarou pun rupanya juga terpikat padanya.

 

Di saat seperti itu, saat kegiatan kemah sekolah, ia tak sengaja mendengar Fuutarou yang dirawat karena demamnya memburuk sedang menceritakan kejadian di Kyoto kepada Itsuki.

 

—Masa sih, dia masih mengingatku!?

Akulah anak perempuan saat itu... Keinginan untuk membeberkan kebenaran makin membuncah di dalam dadanya.

 

Seolah menembus gejolak hati Yotsuba, Fuutarou pernah bertanya kepada si kembar lima:

"Di antara kalian, siapa yang pernah bertemu denganku di masa lalu~?"

 

Ichika melirik ke arah Yotsuba seolah menahannya.

Ichika telah mengingatnya. Bahkan Nino pun ikut jatuh cinta pada Fuutarou.

 

Yotsuba pun memutuskan—bahwa dirinya sendiri tidak boleh menjadi sosok yang spesial.

 

Karena itulah saat mengantarkan tas kepada Itsuki yang kabur dari rumah, ia meminta Itsuki untuk menemui Fuutarou menggantikan dirinya. Meskipun Itsuki mengkhawatirkannya, Yotsuba menanamkan pada dirinya sendiri bahwa inilah yang terbaik.

 

Ia tidak ingin Fuutarou terikat pada janji masa lalu hingga mengorbankan masa mudanya hanya untuk belajar. Ia ingin Fuutarou membuat banyak teman dan menambah kenangan indah selama masa SMA.

 

Hanya itu saja yang ia inginkan. Ya, hanya itu saja...

 

Yotsuba mendadak menghentikan langkahnya. Ponselnya tertinggal di ruang UKS.

"Ada."

 

Saat kembali ke ruang UKS dan hendak mengulurkan tangan mengambil ponselnya yang tertinggal di atas tempat tidur—

 

"Yo."

 

Saat menoleh dengan ragu-galu, Fuutarou bersedekap sambil bersandar di tempat tidur sebelah, menunggunya.

 

"Maaf membuatmu menunggu."

"Eh...? Kenapa Uesugi-san bisa ada di sini..."

"Aku datang untuk menemui milikmu, Yotsuba."

 

Setelah terdiam sejenak, Yotsuba menatap Fuutarou dengan terpana.

"...Bohong, kan?"

 

Bahkan ketika ditanya begitu, Fuutarou tidak tahu harus menjawab apa.

"B-Bohong! Hal seperti ini tidak mungkin terjadi!"

"Benar juga ya. Kenapa juga bisa jadi begini..."

Fuutarou bangkit dari tempat tidur seolah pasrah.

"Lagipula aku sudah menunggu lumayan lama, tahu. Kenapa kamu tidak ada di sini?"

 

"Habisnya... aku sama sekali tidak menyangka kalau kamu akan datang ke tempatku..."

"Padahal aku sudah repot-repot membeli yang baru dibuat."

 

Fuutarou mengambil kantong plastik yang diletakkan di atas tempat tidur.

"Itu kan..."

"Ini kan kupon bonus yang kamu berikan? Nih, makanlah."

 

Di dalam kantong plastik itu terdapat karaage yang kelihatan sangat lezat.

"Kamu menyimpannya dari tadi?"

 

Ternyata ia datang ke sini demi hal ini—Mikir begitu, Yotsuba menyantap karaage yang ditusuk dengan tusuk gigi.

"Ya... Aku memang sudah memutuskan untuk memakannya bersamamu di sini."

 

"!"

 

Pipi Yotsuba memerah seketika. Untuk menyembunyikan kegugupannya, ia terus mengunyah makanannya tanpa henti.

 

"Lalu... ah..."

Fuutarou berbicara dengan canggung dan tegang. Dari dasarnya ia memang tidak pandai menyusun perkataan soal perasaannya sendiri, bahkan ia baru menyadari perasaannya sendiri belum lama ini.

 

"Setelah kamu tahu hasilnya begini, sekadar bertanya saja... bagaimana denganmu..."

 

"Maafkan aku!"

 

Yotsuba mendadak menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Napas dan pikiran Fuutarou terhenti seketika. Momen menyatakan perasaan pertama dalam hidupnya dihentikan mentah-mentah di tengah jalan...

 

"...Lho? Uesugi-san? Halo, Uesugi-saaan?"

Melihat Fuutarou yang linglung dan hilang akal, Yotsuba melambaikan tangannya di depan wajah Fuutarou.

 

"...Padahal aku sudah mengerahkan seluruh keberanianku... Tidak disangka akan langsung ditolak..."

Fuutarou berucap dengan suara serak, membuat Yotsuba mendadak memerah panas.

 

"Anu... fakta kalau Uesugi-san... memilihku itu sangat membanggakan bagiku, tapi..."

Sambil menunduk malu, raut wajahnya sama sekali tidak terlihat seperti membenci Fuutarou.

 

"Uesugi-san harusnya bersama orang yang jauh lebih baik! Sayang banget kalau cuma puas dengan orang sepertiku!"

Ia mengucapkannya dengan senyuman seolah pasrah. Yang tidak mengerti situasinya justru Fuutarou.

 

"...Maksudmu apa?"

Mana ada cara menolak seperti itu. Bahkan Fuutarou yang awam soal asmara pun paham.

 

"M-Maksudku... daripada aku, yang lain kan jauh lebih..."

"Yang lain...?"

 

Fuutarou mendekati Yotsuba dengan raut wajah serius.



"Sekarang, aku sedang bertanya padamu. Tolong beri tahu aku perasaanmu yang sebenarnya."

"~~~~~~!?"

 

Bagi Yotsuba yang kapasitas otaknya sudah melampaui batas, jalur yang tersisa hanyalah satu. Yakni, berlari kabur bagaikan kelinci dari ruang UKS.

 

"A-Ah, anak itu...!"

Fuutarou buru-buru berlari mengejar Yotsuba.

 

(Dia kabur...)

Kecerdatan kaki berlari seekor anak kelinci memang luar biasa... Tepat saat Fuutarou berdiri terpana setelah sampai di tangga, Itsuki turun dari lantai atas.

 

"Uesugi-kun."

"Itsuki... Anak-anak yang lain..."

"Kalau Yotsuba, aku melihatnya berlari ke arah sana," kata Itsuki sambil menunjuk ke arah koridor.

"Tempat yang harus kamu tuju cuma satu, kan. Perhatian yang tidak perlu justru cuma akan menyakitinya, lho."

"Benar juga... maaf."

 

Fuutarou pun berlari kencang menuju arah yang ditunjuk Itsuki, hanya mengejar Yotsuba seorang.

 

Yotsuba—.

Sambil berlari mencari Yotsuba, Fuutarou menyusuri area lapangan di antara para siswa yang sedang menikmati sisa-sisa festival sekolah.

 

(Kamu kan selalu mengatakannya, kan.)

—Mari kita buat kegiatan kemah sekolah yang tanpa penyesalan, ya!

—Mari kita buat perjalanan karya wisata yang tanpa penyesalan, ya!

—Mari kita buat festival sekolah yang tidak menyisakan penyesalan sedikit pun!

 

Dengan senyuman bagaikan matahari, berkali-kali, bahkan sampai terkesan gigih...

 

(Aku tidak akan menyerah!)

 

Fuutarou mengitari gedung sekolah lalu keluar ke halaman tengah.

"Ah!"

 

Yotsuba sedang berjalan gontai. Begitu menyadari keberadaan Fuutarou, Yotsuba refleks berlari lagi.

"T-Tunggu!"

 

Yotsuba berlari sekuat tenaga menghindari Fuutarou yang mengejarnya.

(Maafkan aku, Uesugi-san... Aku tidak boleh menjadi sosok yang spesial... Orang sepertiku tidak pantas...)

 

Namun, Fuutarou sama sekali tidak mau menyerah.

"Jangan lari, Yotsuba!"

"Jangan lari..."

 

Mata Yotsuba mendadak redup seolah tertutup awan yang sangat tebal.

(Memang benar, Uesugi-san... Gara-gara aku yang lemah, aku malah menyeret semuanya...)

 

Masa lalu yang tidak ingin diingat kembali, kini ikut mengejarnya dengan gigih—.

 

"Semuanya~ kalian ada di mana~..."

 

Enam tahun lalu. Di dalam Stasiun Kyoto, Yotsuba dengan raut wajah cemas sedang mencari saudari-saudarinya yang terpisah darinya.

 

"Wah!?"

Karena berjalan tanpa memperhatikan jalan, ia berbenturan kepala dengan seseorang yang berjalan dari arah berlawanan.

 

"Aduh... maafkan aku..."

"Tidak, saya juga yang kurang hati-hati. Mohon maaf."

 

Apakah siswi dari rombongan karya wisata lain? Seorang gadis berambut bob berusia sebaya memegang kepalanya sambil meminta maaf, lalu pergi bersama seorang anak laki-laki berkacamata.

 

Bagaimanapun juga, situasinya sudah menjadi gawat.

"Emm... yang itu juga bukan..."

 

Ia keluar dari stasiun, lalu mencari saudari-saudarinya dari atas jembatan layang.

Padahal kita harus selalu berlima bersama-sama.

(...Tapi, apakah benar harus begitu...?)

 

Tepat pada saat itulah, Yotsuba bertemu dengan anak nakal berambut pirang—Fuutarou.

 

Waktu yang dihabiskan bersama Fuutarou sangat menyenangkan hingga ia tidak sempat merasa cemas, dan tanpa disadari saat mereka mengelilingi berbagai tempat, hari sudah gelap gulita.

 

Di dalam area kuil, tidak ada lagi peziarah maupun wisatawan yang terlihat.

"Ah, sudah jam segini."

 

Karena keduanya tidak membawa ponsel, mereka tidak bisa meminta siapa pun untuk menjemput.

"Untuk saat ini, mari kita naik bus lalu pulang," kata Fuutarou sambil melangkah.

 

Yotsuba yang memeriksa isi dompetnya mendadak berseru, "Ah."

"Jimat yang kubeli tadi siang sepertinya menguras seluruh uangku..."

 

"Kamu bodoh ya! Sekadar memberi tahu, uang di tanganku cuma tersisa dua ratus yen ini. Tidak akan kupinjamkan, ya," kata Fuutarou sambil mengeluarkan dua keping koin seratus yen dari sakunya dan memperlihatkannya pada Yotsuba.

 

"Emm, aku mengerti. Kalau begitu hati-hati, ya..."

 

Fuutarou sempat menampakkan raut wajah bingung sejenak, namun ia melangkah mendekati kotak persembahan (saisen-bako) lalu melemparkan uang dua ratus yen itu ke dalamnya.

 

"Ah, uangnya habis."

"Eh...?"

 

"Keluargaku miskin, jadi tiap ke sini cuma bisa lempar lima yen. Pelit banget, kan."

Sambil mengucapkannya, Fuutarou duduk santai di tempat itu. Yotsuba sangat kaget.

 

"Fuutarou-kun, biarpun tidak punya uang, kamu tidak merasa menderita?"

"Maksudmu apa?"

 

"Rumahku juga begitu... Demi keluarga, Ibu bekerja sendirian. Karena itulah... sesekali aku berpikir. Seandainya aku tidak ada, Ibu pasti bisa lebih santai."

"Kamu..."

 

Yotsuba dengan gembira memamerkan lima buah jimat berbentuk gulungan kertas di depan matanya.

"Makanya, mulai sekarang aku akan belajar yang giat, jadi anak yang sangat pintar, lalu masuk ke perusahaan dengan gaji yang sangat tinggi demi meringankan beban Ibu! Kalau begitu, aku yakin keberadaanku akan punya arti!"

 

Fuutarou yang mendengarkannya dengan mulut ternganga, menatapnya dengan mata terbelalak lebar.

"Luar biasa... Kamu dewasa banget, ya."

 

Fuutarou berdiri dengan sigap lalu berhadapan langsung dengan Yotsuba.

"Benar juga! Aku juga harus belajar keras, jadi pintar, dan kalau bisa menghasilkan banyak uang, aku bisa membuat adikku hidup tanpa kekurangan! Aku mungkin bisa menjadi manusia yang dibutuhkan!"

 

Mata Fuutarou yang tadinya terkesan agak sinis pada dunia, kini bersinar terang dengan sangat menyilaukan.

Yotsuba merasa sangat bahagia lalu menggenggam erat tangan Fuutarou.

 

"Mari kita berjuang bersama-sama berdua! Aku demi Ibu, dan Fuutarou-kun demi adikmu, mari kita belajar sekuat tenaga!"

 

Fuutarou yang terpesona oleh senyuman Yotsuba yang bagaikan matahari, akhirnya tersenyum lebar.

"...Ayo! Nah, mari kita berdoa pada Tuhan porsi seratus yen masing-masing."

 

Sambil berdiri sejajar di depan bangunan utama kuil, mereka menepuk tangan, memejamkan mata, dan mengatupkan tangan dengan penuh kesungguhan.

Di malam itu, janji yang diucapkan oleh dua anak kecil tersebut hanya diketahui oleh bintang-bintang yang berkerlipan di langit.

 

Kapal feri membelah lautan meninggalkan jejak gelombang putih di belakangnya.

Di atas geladak kapal, Ichika, Nino, Miku, dan Itsuki sedang asyik bermain kejar-kejaran.

 

Satu momen tepat setelah liburan musim panas dimulai, di mana mereka diajak oleh Rena, ibu mereka, untuk berkunjung ke penginapan pemandian air panas milik kakek mereka di pulau terpencil. Yotsuba sendirian menatap lautan dari tepi kapal.

 

"Yotsuba. Pita itu sangat cocok untukmu, ya."

Sambil mengucapkannya, Rena berjalan menghampiri.

 

"Terima kasih... Kalau begini kan tidak akan tertukar lagi dengan yang lain."

Di kepala Yotsuba terikat sebuah pita yang menyerupai telinga kelinci.

 

"Entahlah ya. Apa yang dikenakan di tubuh itu bukanlah perbedaan yang besar."

"Bukan cuma itu saja! Aku belajar lebih giat dibanding yang lain, dan kemarin aku dapat peringkat pertama, lho! Aku menang dari mereka, kan? Aku sudah tidak berada di tempat yang sama dengan mereka lagi. Aku tidak persis sama dengan mereka lagi."

 

Yotsuba merasa terdesak. Ia harus menepati janjinya pada Fuutarou-kun. Ia tidak bisa bermain-main dengan santai seperti saudari-saudarinya yang lain.

 

"Ibu~! Lihat, lihat~!"

Itsuki yang mengenakan hiasan rambut berbentuk bintang di kedua sisi rambutnya, berlari menghampiri dengan gembira.

 

"Wah, imutnya."

"Aku mencoba memakainya meniru Yotsuba~!"

Itsuki memeluk Rena erat-erat sambil bermanja-manja.

 

"Yotsuba. Usahamu memang luar biasa dan sama sekali tidak salah. Namun, tanpa harus menjadi nomor satu pun, kalian masing-masing sudah sangat spesial."

 

Yotsuba menggigit bibirnya lalu menunduk. Ia tidak bisa menerima kata-kata ibunya secara jujur.

"Sebagai orang tua, Ibu berharap kalian tetap bersama-sama. Bagaimanapun hal yang terjadi..."

 

Sambil sedikit menyipitkan matanya, Rena mencurahkan tatapan penuh kasih sayang kepada Yotsuba.

"Yang terpenting bukanlah di mana kalian berada, melainkan fakta bahwa kalian berada berlima bersama-sama."

 

Ibu mereka yang kondisi kesehatannya terus memburuk, menghembuskan napas terakhirnya tidak lama setelah peristiwa itu.

 

"Uwaaaa!! Ibuuuu!!"

 

Mendapati perpisahan yang mendadak dengan sang ibu, si kembar lima hanya bisa menangis sesenggukan di sudut apartemen.

"Ternyata... Ibu memang belum sembuh..."

 

Bagaimana nasib mereka ke depannya. Tidak mungkin sang kakek sanggup menampung mereka berlima sekaligus. Mungkinkah mereka akan diadopsi secara terpisah...

 

Saat mereka hampir hancur oleh rasa sedih dan cemas, terdengar suara memanggil, "Permisi."

Seorang pria muda berjas duka berdiri dengan raut wajah tanpa ekspresi. Pria itu adalah dokter penggemar ibu mereka yang pernah ditemui beberapa kali. Padahal ibu pernah bilang akan mengenalkannya suatu saat nanti—

 

Pria itu menatap foto mendiang di altar yang dihiasi bunga, lalu melangkah mendekati si kembar lima.

"Ini pertama kalinya kita berbicara secara langsung, ya."

 

Hanya Yotsuba yang pernah bertukar kata dengannya saat dijemput sewaktu karya wisata dulu.

"Kalian semua akan menjadi tanggung jawabku."

 

Pria itulah yang kemudian menjadi ayah angkat mereka berlima, Nakano Maruo.

 

—Ibu. Kami sudah jadi anak SMP, lho.

Karena merasa terganggu saat kegiatan klub, Ichika memotong habis rambutnya menjadi pendek.

Nino yang mengikat pita kupu-kupu menjadi makin modis dan menjadi pusat di kelompok anak perempuan.

 

—Tapi ya. Berlima bersama-sama itu ternyata mustahil.

Miku tidak pernah melepaskan headphone-nya dari tubuhnya, sementara Itsuki mulai berbicara dengan nada yang sama persis seperti Ibu.

 

—Kami sudah tidak bisa terus bersama-sama lagi...

 

"Ayah, lihat ini! Ujian kemarin, aku dapat nilai tertinggi di antara kita berlima!"

Singgah ke rumah sakit sepulang sekolah, Yotsuba memamerkan lembar jawabannya dengan bangga.

 

"Bagus."

"Aku diajak masuk klub atletik tapi kutolak, lho. Tapi karena ingin fokus belajar, ya mau bagaimana lagi."

Yotsuba melapor dengan bangga.

 

"Teruslah berjuang."

Nada bicara sang ayah selalu datar dan tidak pernah mengubah raut wajahnya.

 

"Emm... agak dingin ya~... Kalau Ibu pasti akan lebih memujiku..."

Yotsuba yang berlari menuju rumah, mendadak menghentikan langkahnya dan menatap ujung sepatunya.

 

(Ibu pasti memujiku, kan...)

 

Sambil menghempaskan rasa tidak percaya dirinya, ia mendongak lalu berlari kencang kembali.

(Apakah Fuutarou-kun juga sedang belajar sekarang ya...)

Pasti dia sedang berjuang keras. Yotsuba pun tidak boleh kalah.

 

"Yotsuba, barang ini sudah tidak kamu pakai lagi?"

Melihat konsol gim dan kaset yang dikemas dalam kardus, Miku bertanya.

 

"Emm! Soalnya akan mengganggu belajar!"

"Kalau begitu boleh kupinjam tidak...?"

Dari beberapa kaset gim yang ada, Miku mengambil gim bertema zaman Sengoku.

 

Yotsuba tersenyum puas melihat hasil ujian sejarah yang dibagikan kembali.

Meskipun masih belum seberapa karena dasarnya yang buruk, ini pertama kalinya ia berhasil meraih nilai di kisaran 30-an.

 

(Sip sip, nilainya perlahan naik. Mulai sekarang harus lebih semangat lagi!)

 

Saat kembali ke kursinya, Miku berlari menghampirinya dengan gembira.

"Yotsuba! Ujian sejarahku dapat nilai segini, lho. Ini berkat gim yang kupinjam dari Yotsuba."

 

Nilai Miku adalah 42. Selisih lebih dari 10 poin di atas Yotsuba.

"B-Begitu ya... Baguslah."

 

Meskipun jujur saja ia syok, ia tinggal meraih nilai yang lebih tinggi dari Miku di ujian berikutnya.

(Harus lebih giat lagi... Belajar yang banyak... Jadi sangat pintar... Lalu masuk ke perusahaan dengan gaji yang sangat tinggi...)

 

Yotsuba memaksakan dirinya, belajar mati-matian menempel di atas meja. Namun bukannya naik, nilainya justru terus merosot turun.

 

Saat lembar ujian matematika bernilai 29 dikembalikan padanya, ia merasa bagian dalam dirinya mendadak kosong hampa.

(Untuk apa sebenarnya aku belajar...)

 

Ibu pernah bilang kalau tidak perlu menjadi nomor satu. Karena yang terpenting adalah berada berlima bersama-sama—

(Kenapa berada berlima bersama-sama itu penting? Aku tidak paham...)

 

Yotsuba merasa dirinya dilemparkan ke dalam kegelapan yang tidak memperlihatkan apa pun.

 

Musim berganti, dan si kembar lima telah menjadi siswi SMA.

 

'Kepada seluruh anggota klub atletik SMA Putri Kurobara, silakan naik ke atas panggung. Selamat atas kelulusan menuju Inter-High!'

 

Di antara para anggota klub atletik, Yotsuba berdiri berjejer dengan raut wajah bangga. Klub atletik menjadi kuat berkat bergabungnya Yotsuba. Ia juga yang memimpin klub bola basket melaju ke turnamen nasional, serta menyumbangkan trofi kemenangan bagi klub sofbol...

 

Yotsuba yang selama ini berjuang dalam kegelapan, pada suatu momen menemukan secercah cahaya.

Jika tidak bisa menjadi teladan bagi yang lain dalam hal belajar, ia bisa menjadi teladan dalam hal olahraga—!

 

(Ibu, lihat tidak? Aku dipuji oleh semua orang! Aku dibutuhkan oleh banyak orang! Bukan sebagai salah satu dari saudari-saudariku, melainkan karena aku adalah diriku sendiri!)

 

Ia menyanggupi semua tawaran dari berbagai klub olahraga satu per satu, hingga tidak ada lagi waktu tersisa untuk duduk di meja belajar.

 

"Akhir-akhir ini kamu latihan terus, apa tidak apa-apa? Belajarmu bagaimana?"

Khawatir melihat Yotsuba yang seperti itu, Miku bertanya dengan ragu-ragu.

"...Kalau mau, boleh kukajari?"

 

"Aku sudah berbeda dengan kalian! Jangan samakan aku dengan kalian."

Miku dipalingkan dari punggungnya seolah diputus begitu saja.

(Aku yang paling unggul di antara kita bersaudara! Aku sosok yang spesial!)

Rasa unggul yang kelam itu mendorong Yotsuba melaju makin kencang ke arah yang salah.

 

"Ujian susulan kedua, tidak lulus. Nakano Yotsuba-san, kamu dinyatakan tidak naik kelas."

Di akhir semester pertama kelas dua SMA, guru wanita wali kelasnya menyampaikan hal itu dengan dingin di ruang guru.

 

"Eh?"

Sesaat, Yotsuba tidak sanggup memahami apa yang sedang diucapkan padanya.

"Masa... bohong, kan...?"

 

"Ini bukan bohong."

"Tapi! Aku sudah memberikan hasil sehebat itu di klub! Kemarin pun di klub basket..."

 

"Tidak ada hubungannya. Padahal sudah berkali-kali diperingatkan, kamu tetap tidak mau berhenti bergabung di banyak klub. Kemasi barang-barangmu."

 

Dalam kondisi bingung dan kacau, Yotsuba dipanggil ke ruang kepala sekolah.

"...Pindah sekolah?"

Di sana, ayahnya sudah menunggu.

 

"Kenalan Ayah menjadi pengurus di sebuah sekolah campuran laki-laki dan perempuan. Mulai usai liburan musim panas, kamu akan bersekolah di sana."

"Cuma aku... sendirian..." Yotsuba bergumam dengan pandangan hampa.

 

(Lho...? Padahal aku harusnya sosok yang spesial... Aku berjuang mati-matian demi menciptakan arti dari keberadaanku... Tapi, kenapa aku malah sendirian...?)

 

Ia melihat bayangan dirinya yang berlari sendirian di atas lintasan atletik tanpa penghuni di malam gelap tanpa bulan. Biarpun terus berlari dan berlari, garis finis tidak kunjung ditemukan.

 

(Kalau sendirian, aku harus bagaimana? Bagaimana caranya agar bisa menjadi sosok yang spesial? Aku tidak tahu harus melangkah ke mana lagi...)

 

Tepat pada momen saat air mata Yotsuba pecah membanjiri matanya—

 

"Tunggu!"

Suara Nino terdengar, dan pintu terbuka dengan suara klek.

 

"Kalau Yotsuba pindah sekolah, kami juga akan ikut pergi."

Ichika, Nino, Miku, Itsuki—seluruh saudarinya berkumpul lengkap di sana. Kepala sekolah mendadak panik luar biasa.

 

"Bicara apa kalian ini! Kalian kan dinyatakan lulus ujian."

"Iya, kami memang lulus... berkat menyontek."

Nino mengukir senyuman jahat, lalu memamerkan kertas contekan kepada kepala sekolah.

 

"A-Apakah hal itu benar!?"

"Kami juga, lho~"

Ichika dan Miku, serta Itsuki yang bertarung melawan rasa bersalahnya, ikut mengeluarkan kertas contekan masing-masing.

 

"Kalian semua... kenapa... kenapa demi aku sampai..."

Menyontek itu bohong. Lagipula kalau memang menyontek, harusnya mereka bisa dapat nilai yang jauh lebih tinggi.

 

"Yotsuba. Aku tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan... Tapi aku paling benci dan tidak mau kalau cuma kamu sendirian yang hilang!"

"Ke mana pun kita pergi, kita akan selalu berlima bersama-sama."

 

Nino maupun Ichika, menerima Yotsuba tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Karena itulah ajaran Ibu," Itsuki tersenyum.

 

"Yotsuba... Hal apa pun yang terjadi, kita akan membaginya menjadi lima bagian. Kesulitan apa pun, kalau berlima pasti bisa kita lewati."

Miku melangkah satu tapak ke depan lalu berbicara pada Yotsuba. Padahal Yotsuba sempat memasang sikap yang sangat jahat padanya, tetapi Miku tidak memalingkan punggung dan justru ingin berjalan bersama darinya.

 

(Hal yang dimaksud Ibu dulu... ternyata adalah hal ini, ya...)

 

Sambil menangis tersengguk-sengguk, Yotsuba memeluk Miku erat-erat.

Saudari-saudari yang lain mengelilingi dan menjaga Yotsuba yang menangis di tengah mereka.

 

(Aku akan berhenti memikirkan siapa yang paling unggul... Aku akan hidup demi mereka semua.)

 

"T-Tunggu!"

Fuutarou mengejarnya dengan kecepatan penuh.

 

(Diriku yang sekarang bisa ada di sini adalah berkat mereka semua... Kenangan itu, maupun perasaan ini, mari kita hapuskan saja...)

Menyerahkan Fuutarou adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukan Yotsuba saat ini.

 

"Ooh!?"

Tersandung batu tepi jalan, Fuutarou melakukan head sliding meluncur deras di atas rumput.

 

"Eh!"

Saat Yotsuba menghentikan langkah dan berbalik, Fuutarou yang tersungkur sama sekali tidak bergerak sedikit pun.

 

"A-Apakah Anda tidak apa-apa...?"

Saat Yotsuba mendekat dengan ragu-ragu, tangan Fuutarou dengan sigap mencengkeram pergelangan kaki Yotsuba.

 

"Hiiiiiiii~~!?"

 

Berhasil menangkap Yotsuba berkat keberuntungan tak terduga, Fuutarou mulai berbicara sambil membenamkan wajahnya di atas rumput.

"Saudari-saudarimu semuanya adalah orang yang baik, orang yang luar biasa, dan orang-orang yang sangat kusukai."

 

Sebagai rekan seperjuangan, teman bertengkar, adik, hingga sahabat... bagi Fuutarou, mereka masing-masing adalah sosok yang tak tergantikan.

"Aku sangat bangga bisa menjadi guru privat mereka."

 

Fuutarou melepaskan cengkeraman tangannya dari Yotsuba, lalu terlentang dalam posisi huruf T.

"Tapi... kalau tidak ada kamu, aku pasti sudah tersandung dari dulu."

 

Sejak hari pertama kali bertemu, tanpa disadari Yotsuba selalu berada di sisinya. Menjadi satu-satunya pemandu sorak bagi Fuutarou. Sudah tak terhitung berapa kali ia terselamatkan oleh senyuman yang hangat bagaikan matahari cerah itu—

 

"Kenapa... bilang hal seperti itu..."

Yotsuba terduduk lemas di tanah di tempatnya berdiri.

 

"Aku ini manusia yang lemah, jadi ke depannya pasti akan terus tersandung berkali-kali. Ini permintaan egois dari orang yang tidak keren sepertiku... Tapi di saat-saat seperti itu, Yotsuba... aku akan sangat bahagia kalau kamu ada di sampingku."

 

Kata-kata bahagia yang terasa seperti mimpi—sebuah gejolak hangat membumbung di tenggorokannya, dan tanpa mampu ditahan lagi, air mata menetes bercucuran dari mata Yotsuba.

 

"Rasanya membuatku tenang, tahu."

Fuutarou mengulurkan tangannya ke arah langit.

 

"Kamu adalah penopangku, dan aku ingin menjadi penopangmu. Makanya, kalau kamu benci pun tidak apa-apa... Tolong beri tahu aku perasaanmu yang sebenarnya."

 

"...Aku, pada Uesugi-san..."

Yotsuba menggenggam erat ujung roknya.

 

(Katakanlah... mari kita akhiri semuanya di sini...)

Satu demi satu kenangan bersama Fuutarou berputar kencang dalam benak Yotsuba.

 

(Aku benci Uesugi-san.)

Baik Fuutarou yang dulu seorang anak nakal, maupun Fuutarou yang kini tumbuh menjadi siswa SMA.

 

(—Aku benci.)

Bagian mulutnya yang kasar, sifatnya yang tidak peka, serta bagian dirinya yang sedikit bodoh padahal sebenarnya sangat pintar.

 

(—Aku benci.)

Profil wajah seriusnya saat belajar di kelas. Maupun senyumannya saat tertawa dari lubuk hati yang paling dalam.

 

(—Aku benci.)

Sifatnya yang sangat menyayangi adiknya, lebih lembut dan hangat dibanding siapa pun, segalanya dari dirimu.

 

"...Aku menyukaimu."

 

Air mata menetes jatuh dari mata Yotsuba yang menatap wajah Fuutarou.

"Aku... tidak bisa berbohong pada Uesugi-san..."

 

Perasaan selama enam tahun lamanya mengalir meluap tanpa henti bersama dengan tetesan air mata.

 

"Sejak dulu, aku selalu menyukaimu—"



Chapter 2 | ToC | Chapter 4

Post a Comment

Post a Comment