Hari terakhir
festival sekolah. Saat matahari mulai terbenam, pesta penutupan (koyasai) yang
khusus dihadiri oleh para siswa sekolah pun dimulai.
Berbagai macam
pertunjukan digelar, stan makanan dan minuman pun tetap dibuka, dan para siswa
sangat menikmati suasana yang meriah di mana-mana.
"Berikutnya,
pengumuman toko/stan terbaik!"
Kelas yang
terpampang di layar monitor khusus gedung olahraga adalah 'Kelas 3-1'.
"Wah—!"
"Yey, kita berhasil!"
Sorak-sorai
membahana seketika dari Kelas 3-1. Siswa laki-laki dan perempuan saling
berpegangan tangan dalam kegembiraan yang luar biasa.
"...Lho?
Nakano-san dan yang lainnya di mana?" Aoi yang menyadarinya mengedarkan
pandangan ke sekeliling.
Miku yang menjadi
pahlawan kemenangan kali ini, beserta saudari-saudarinya yang lain sama sekali
tidak terlihat di mana pun.
"Maaf
membuat kalian menunggu~"
Itsuki berlari
menghampiri bangku tempat yang lain menunggu.
"Itsuki,
bagaimana?" "Pesan dari kami sudah disampaikan ke Fuutaro-kun?"
Miku dan Ichika
bertanya bertubi-tubi kepada Itsuki yang dititipi pesan oleh mereka bersaudara.
"Sudah.
Selain itu, aku juga sudah menyampaikan terima kasih atas bantuan terkait Ayah.
Sekali lagi aku ingin berterima kasih pada kalian..."
"Tidak
apa-apa, kok."
Ichika langsung
berlari menghampiri mereka tepat setelah menyelesaikan syutingnya.
"Lagipula
itu kan masalah keluarga kita juga," kata Yotsuba.
"T-Tapi...
t-terima... terima kasih ya!"
Demi menanggalkan
peran "ibu", Itsuki memberanikan diri mengubah nada bicaranya, tetapi
saudari-saudarinya justru menunjukkan reaksi yang canggung.
"...Malah
makin terasa aneh tahu," kata Nino dengan mata picik.
"Bisa-bisanya
kalian begitu! Ah, Miku juga sampai repot-repot menyamar..."
"Tidak
apa-apa. Lagipula aku tidak puas dengan penyamaran seceroboh itu."
Melihat Miku yang
matanya berbinar penuh semangat, Nino menyahut heran, "Anak ini malah
menumbuhkan harga diri yang aneh."
"Orang awam
memang bisa terkecoh cuma dengan penyamaran begitu, ya~" Ichika tersenyum
getir.
Bagi si kembar
lima, ayah kandung yang mendadak muncul itu benar-benar orang asing tanpa
hubungan emosional.
"Meskipun
sifatnya berbeda, wajah kita kan sama."
Yotsuba
mengucapkannya sambil tertawa, dan Miku mengangguk setuju.
Namun Ichika
menatap adik-adiknya lekat-lekat lalu bergumam pelan:
"Sampai
kapan ya kita akan terus menjadi kembar lima..."
Di telinga kelima
saudari yang mendadak membisu, suara musik yang meriah terdengar dari arah
lapangan. Sepertinya grup band yang tampil di festival sekolah sedang
membawakan konser encore.
"Nah nah,
masih ada waktu sampai janji kumpul dengan Fuutaro-kun. Ayo ubah suasana hati
dan nikmati pesta penutupan ini!"
Ichika bersuara
ceria untuk mencairkan suasana.
"Hei...
sampai kapan kamu mau duduk di tempat seperti ini? Ayo cari makanan di
stan."
Di area istirahat
halaman tengah, Maeda berbicara.
"Stan
makanan, ya... Benar juga. Aku belum makan dari tadi, dan ada toko yang belum sempat
kudatangi..."
Fuutarou melirik
canggung ke sana kemari, lalu—
"Setelah
ini selesai, aku... ada janji bertemu dengan seseorang."
"Begitu,
ya," Takeda mengangguk dengan raut wajah sok tahu.
"Kalau para
saudari itu, barusan aku sempat melihat mereka. Ichika-san juga ada, jadi
mereka berkumpul lengkap berlima."
"Hee.
Maeda-kun, hebat juga kamu bisa langsung tahu kalau itu Ichika-san hanya dalam
sekejap."
"Eh!
Y-Yah... Aneh memang, tapi sejak dulu cuma Ichika-san yang entah kenapa bisa
aku kenali."
Benar, kalau ada
rasa cinta, pasti bisa membedakannya—Maeda dulu pernah bertepuk sebelah tangan
pada Ichika.
Takeda bertanya,
"Kalau Uesugi-kun, tentu saja sudah bisa membedakan mereka, kan?"
"Eh?
...Kalau dibilang begitu aku jadi tidak percaya diri..."
Jika mereka
sengaja menyamar, Fuutarou tidak punya cara untuk membedakannya. Pernah ada
momen di mana Miku menyamar jadi Yotsuba, Itsuki jadi Ichika, Nino jadi
Yotsuba, Ichika jadi Miku, hingga mereka berlima semuanya menyamar menjadi
Itsuki.
"Awalnya aku
jauh lebih bingung dari sekarang. Dari dasarnya saja aku memang tidak pandai
mengingat wajah orang. Ditambah lagi, mereka memanfaatkan kelebihan itu
habis-habisan. Sudah tak terhitung berapa kali aku ditipu... Sampai akhir pun mereka
benar-benar gadis-gadis yang merepotkan."
Namun raut wajah Fuutarou
saat menceritakannya tampak sangat bahagia.
"Fuh, sok
jual mahal kamu," ledek Maeda.
"Aku cuma
penasaran... sebenarnya siapa di antara mereka yang pertama kali berhasil kamu
bedakan?"
Mendengar
pertanyaan Takeda, Fuutarou membisu kehabisan kata-kata, lalu berdiri seolah
mengalihkan pembicaraan, "Sip, ayo ke stan makanan."
"Hahaha...
Tunggu dulu. Jeda barusan itu maksudnya apa?"
Takeda ikut
berdiri dan memegang bahu Fuutarou dengan kuat seolah tidak akan membiarkannya
kabur.
"Hei Takeda.
Maksudmu apa?" tanya Maeda.
"Ayo kita
tanyakan langsung maksudnya pada Uesugi-kun."
"Bukan
apa-apa, tahu!"
"Dingin
banget sih, Uesugi-kun! Menjaga rahasia di antara teman itu tidak
bergaya!"
Melihat Fuutarou
yang berusaha melarikan diri, Takeda mendesaknya dari jarak dekat untuk memberi
tekanan.
"B-Berisik!
Rahasia, rahasia!"
Maeda yang
mengamati Fuutarou sejak tadi bergumam pelan:
"Kamu
menyukai... salah satu dari si kembar lima, ya?"
"(!!)"
Kenapa sih Maeda ini kalau soal urusan asmara hidungnya tajam sekali...
"...Aku
hidup dengan percaya bahwa tugas utama seorang siswa adalah belajar... dan hal
selain itu tidak diperlukan. Tapi ternyata, tidak ada keharusan untuk membuang
hal-hal selain belajar itu."
Saat mendongak
menatap langit malam, bayangan punggung si kembar lima yang berlari bersama ke
depan terlintas di benaknya.
"Belajar,
persahabatan, pekerjaan, hiburan, hingga percintaan, mereka selalu mencurahkan
segalanya dengan sepenuh tenaga. Merekalah yang mengajarkan hal itu kepadaku
yang dulu begitu kaku."
Hanya untuk
menyadari hal sesederhana itu, ia telah membuat mereka menunggu sejauh ini.
"Kalau aku
masih seperti yang dulu, mungkin di saat seperti ini pun aku akan
sendirian."
"Uesugi..."
Maeda dan Takeda
yang kini telah menjadi sahabat berharganya, tersenyum bahagia.
"Sip! Kalau
begitu ayo kita ke stan makanan! Walau aku tidak punya uang sih."
"Kalau tidak
punya uang, kenapa malah mau ke stan makanan!"
Sambil saling
melempar gurauan, mereka bertiga berjalan menuju lapangan. Tiba-tiba dua orang
siswi menghampiri area tersebut.
"Area
istirahat ini benar-benar menolong banget." "Seru banget ya~"
Sambil mengobrol, mereka duduk di kursi mengistirahatkan kaki yang lelah.
"...Sudah
kuputuskan."
Sambil merasakan
sedikit kesepian karena festival akan segera berakhir, Fuutarou menatap
bintang-bintang di langit seolah-olah telah memantapkan tekadnya.
"Demi
menikmati festival ini sampai akhir."
Saat pesta
penutupan makin mendekati akhir, si kembar lima pun berhadapan dengan pilihan
terakhir mereka.
"Sudah
waktunya, ya," kata Itsuki.
Demi menyemangati
Nino dan Yotsuba yang tampak tegang, Ichika merangkul bahu mereka berdua dari
belakang.
Melihat hal itu,
Miku dan Itsuki saling bertukar pandang lalu tersenyum.
Kelima saudara
itu membentuk lingkaran, lalu menautkan kelingking dan ibu jari mereka
membentuk simbol kembar lima.
Ichika tersenyum
pada semuanya. Nino menatap dengan pandangan tajam penuh tekad. Miku tampak
telah terbebas dari keraguannya. Yotsuba merasa bahagia bisa bersama berlima.
Dan Itsuki tersenyum seolah menegaskan bahwa ini adalah pilihan yang terbaik.
Tautan simbol
kembar lima pun terlepas, dan kelimanya berpisah menuju lokasi mereka
masing-masing.
"Saat
segalanya hari ini berakhir, kami akan menunggu di kamar/ruangan kami
masing-masing. Sambil memeluk perasaan kami masing-masing, kami akan
menunggumu. Ruangan yang akan kamu tuju, hanyalah satu ruang kelas—"
Sambil meresapi
perasaan si kembar lima yang disampaikan oleh Itsuki, Fuutarou melangkahkan
kakinya masuk ke dalam gedung sekolah.
"Kami tahu
usulan ini justru akan membuatmu bingung."
Ia melangkah
menuju ruang kelas tempat salah satu dari si kembar lima menunggu.
"Inilah
tekad kami. Mohon pahamilah hal itu."
Langkah Fuutarou
terhenti di depan sebuah ruang kelas.
Dari arah
lapangan, suara pengumuman terdengar membahana.
"Dengan ini,
seluruh rangkaian acara Festival Sekolah dan Pesta Penutupan SMA Asahi... telah
resmi berakhir."
Setelah menarik
napas panjang dan dalam, Fuutarou membuka pintu dengan pandangan mata penuh
tekad.
"...Uesugi-kun."
Itsuki tersenyum
manis penuh kebahagiaan.
"Perjuangannya
baru dimulai dari sekarang, Uesugi-kun."
Itsuki diam-diam
memberikan semangat kepada Fuutarou yang berada di salah satu ruang kelas.
"Boleh juga
kamu, Fuutaro-kun."
Ichika tersenyum
getir. Seharusnya ia tidak boleh buru-buru mencapnya sebagai orang penakut.
Padahal di saat-saat krusial, ia sendiri yang paling paham kalau Fuutarou bisa
bersikap jauh lebih pria dari siapa pun—
Sambil berdiri di
balkon kelas dan memandang pemandangan di luar, ia mengingat kaleng minuman
yang dipegang Fuutarou di taman semalam.
"...Rupanya
di saat itu kamu sudah memantapkan hatimu, ya."
Meskipun sudah
menduga hasilnya, begitu menjadi kenyataan rasanya dadanya tetap serasa
teroyak.
Tidak boleh
menangis—Ichika menyandarkan wajahnya di atas tangannya yang bertumpu pada
pagar pembatas.
Pintu ruang kelas
lain terbuka lebar.
"!"
Nino yang
menunggu, tersentak dan menoleh ke arah pintu.
"...Sudah
berakhir."
Sambil
menahan tangis, Miku tersenyum.
Nino
menggetap bibirnya seolah marah—dan matanya mendadak digenangi air mata.
Nino
melangkah mendekati Miku. Keduanya saling memeluk erat satu sama lain
seolah-olah sedang berbagi rasa sakit akibat patah hati.
Yotsuba
sudah meninggalkan ruang UKS dan berjalan menyusuri koridor.
Begitu
festival sekolah berakhir, hubungan antara Fuutarou dan mereka pun akhirnya
selesai.
Anak
laki-laki yang ditemuinya di Kyoto enam tahun lalu mendadak menjadi guru privat
si kembar lima, entah takdir seperti apa yang mempertemukan mereka kembali...
Seandainya
saja ia berterus terang sejak awal, mungkin akhir yang berbeda sedang
menantinya.
Ia menyadari
kalau Miku menyukai Fuutarou di malam kembang api. Ichika yang dikiranya telah
melupakan Fuutarou pun rupanya juga terpikat padanya.
Di saat seperti
itu, saat kegiatan kemah sekolah, ia tak sengaja mendengar Fuutarou yang
dirawat karena demamnya memburuk sedang menceritakan kejadian di Kyoto kepada
Itsuki.
—Masa sih, dia
masih mengingatku!?
Akulah anak
perempuan saat itu... Keinginan untuk membeberkan kebenaran makin membuncah di
dalam dadanya.
Seolah menembus
gejolak hati Yotsuba, Fuutarou pernah bertanya kepada si kembar lima:
"Di antara
kalian, siapa yang pernah bertemu denganku di masa lalu~?"
Ichika melirik ke
arah Yotsuba seolah menahannya.
Ichika telah
mengingatnya. Bahkan Nino pun ikut jatuh cinta pada Fuutarou.
Yotsuba pun
memutuskan—bahwa dirinya sendiri tidak boleh menjadi sosok yang spesial.
Karena itulah
saat mengantarkan tas kepada Itsuki yang kabur dari rumah, ia meminta Itsuki
untuk menemui Fuutarou menggantikan dirinya. Meskipun Itsuki
mengkhawatirkannya, Yotsuba menanamkan pada dirinya sendiri bahwa inilah yang
terbaik.
Ia tidak ingin Fuutarou
terikat pada janji masa lalu hingga mengorbankan masa mudanya hanya untuk
belajar. Ia ingin Fuutarou membuat banyak teman dan menambah kenangan
indah selama masa SMA.
Hanya itu saja
yang ia inginkan. Ya, hanya itu saja...
Yotsuba mendadak
menghentikan langkahnya. Ponselnya tertinggal di ruang UKS.
"Ada."
Saat kembali ke
ruang UKS dan hendak mengulurkan tangan mengambil ponselnya yang tertinggal di
atas tempat tidur—
"Yo."
Saat menoleh
dengan ragu-galu, Fuutarou bersedekap sambil bersandar di tempat tidur sebelah,
menunggunya.
"Maaf
membuatmu menunggu."
"Eh...?
Kenapa Uesugi-san bisa ada di sini..."
"Aku datang
untuk menemui milikmu, Yotsuba."
Setelah terdiam
sejenak, Yotsuba menatap Fuutarou dengan terpana.
"...Bohong,
kan?"
Bahkan ketika
ditanya begitu, Fuutarou tidak tahu harus menjawab apa.
"B-Bohong!
Hal seperti ini tidak mungkin terjadi!"
"Benar
juga ya. Kenapa juga bisa jadi begini..."
Fuutarou
bangkit dari tempat tidur seolah pasrah.
"Lagipula
aku sudah menunggu lumayan lama, tahu. Kenapa kamu tidak ada di sini?"
"Habisnya...
aku sama sekali tidak menyangka kalau kamu akan datang ke tempatku..."
"Padahal aku sudah repot-repot membeli yang baru
dibuat."
Fuutarou
mengambil kantong plastik yang diletakkan di atas tempat tidur.
"Itu
kan..."
"Ini
kan kupon bonus yang kamu berikan? Nih, makanlah."
Di dalam
kantong plastik itu terdapat karaage yang kelihatan sangat lezat.
"Kamu
menyimpannya dari tadi?"
Ternyata
ia datang ke sini demi hal ini—Mikir begitu, Yotsuba menyantap karaage yang
ditusuk dengan tusuk gigi.
"Ya... Aku
memang sudah memutuskan untuk memakannya bersamamu di sini."
"!"
Pipi Yotsuba
memerah seketika. Untuk menyembunyikan kegugupannya, ia terus mengunyah
makanannya tanpa henti.
"Lalu...
ah..."
Fuutarou
berbicara dengan canggung dan tegang. Dari dasarnya ia memang tidak pandai
menyusun perkataan soal perasaannya sendiri, bahkan ia baru menyadari
perasaannya sendiri belum lama ini.
"Setelah
kamu tahu hasilnya begini, sekadar bertanya saja... bagaimana denganmu..."
"Maafkan
aku!"
Yotsuba mendadak
menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Napas dan pikiran
Fuutarou terhenti seketika. Momen menyatakan perasaan pertama dalam hidupnya
dihentikan mentah-mentah di tengah jalan...
"...Lho?
Uesugi-san? Halo, Uesugi-saaan?"
Melihat Fuutarou
yang linglung dan hilang akal, Yotsuba melambaikan tangannya di depan wajah Fuutarou.
"...Padahal
aku sudah mengerahkan seluruh keberanianku... Tidak disangka akan langsung ditolak..."
Fuutarou
berucap dengan suara serak, membuat Yotsuba mendadak memerah panas.
"Anu...
fakta kalau Uesugi-san... memilihku itu sangat membanggakan bagiku,
tapi..."
Sambil menunduk
malu, raut wajahnya sama sekali tidak terlihat seperti membenci Fuutarou.
"Uesugi-san
harusnya bersama orang yang jauh lebih baik! Sayang banget kalau cuma puas
dengan orang sepertiku!"
Ia mengucapkannya
dengan senyuman seolah pasrah. Yang tidak mengerti situasinya justru Fuutarou.
"...Maksudmu
apa?"
Mana ada cara
menolak seperti itu. Bahkan Fuutarou yang awam soal asmara pun paham.
"M-Maksudku...
daripada aku, yang lain kan jauh lebih..."
"Yang
lain...?"
Fuutarou mendekati Yotsuba dengan raut wajah serius.
"Sekarang,
aku sedang bertanya padamu. Tolong beri tahu aku perasaanmu yang
sebenarnya."
"~~~~~~!?"
Bagi Yotsuba yang
kapasitas otaknya sudah melampaui batas, jalur yang tersisa hanyalah satu.
Yakni, berlari kabur bagaikan kelinci dari ruang UKS.
"A-Ah, anak
itu...!"
Fuutarou
buru-buru berlari mengejar Yotsuba.
(Dia kabur...)
Kecerdatan kaki
berlari seekor anak kelinci memang luar biasa... Tepat saat Fuutarou berdiri
terpana setelah sampai di tangga, Itsuki turun dari lantai atas.
"Uesugi-kun."
"Itsuki...
Anak-anak yang lain..."
"Kalau
Yotsuba, aku melihatnya berlari ke arah sana," kata Itsuki sambil menunjuk
ke arah koridor.
"Tempat yang
harus kamu tuju cuma satu, kan. Perhatian yang tidak perlu justru cuma
akan menyakitinya, lho."
"Benar juga... maaf."
Fuutarou pun berlari kencang menuju arah yang ditunjuk
Itsuki, hanya mengejar Yotsuba seorang.
Yotsuba—.
Sambil berlari mencari Yotsuba, Fuutarou menyusuri area
lapangan di antara para siswa yang sedang menikmati sisa-sisa festival sekolah.
(Kamu kan selalu
mengatakannya, kan.)
—Mari kita buat
kegiatan kemah sekolah yang tanpa penyesalan, ya!
—Mari kita buat
perjalanan karya wisata yang tanpa penyesalan, ya!
—Mari kita buat
festival sekolah yang tidak menyisakan penyesalan sedikit pun!
Dengan senyuman
bagaikan matahari, berkali-kali, bahkan sampai terkesan gigih...
(Aku tidak akan
menyerah!)
Fuutarou
mengitari gedung sekolah lalu keluar ke halaman tengah.
"Ah!"
Yotsuba sedang berjalan gontai. Begitu menyadari keberadaan
Fuutarou, Yotsuba refleks berlari lagi.
"T-Tunggu!"
Yotsuba berlari sekuat tenaga menghindari Fuutarou yang
mengejarnya.
(Maafkan aku, Uesugi-san... Aku tidak boleh menjadi sosok
yang spesial... Orang sepertiku tidak pantas...)
Namun, Fuutarou sama sekali tidak mau menyerah.
"Jangan lari, Yotsuba!"
"Jangan lari..."
Mata Yotsuba mendadak redup seolah tertutup awan yang sangat
tebal.
(Memang benar, Uesugi-san... Gara-gara aku yang lemah, aku
malah menyeret semuanya...)
Masa lalu yang tidak ingin diingat kembali, kini ikut
mengejarnya dengan gigih—.
"Semuanya~
kalian ada di mana~..."
Enam tahun lalu.
Di dalam Stasiun Kyoto, Yotsuba dengan raut wajah cemas sedang mencari
saudari-saudarinya yang terpisah darinya.
"Wah!?"
Karena berjalan
tanpa memperhatikan jalan, ia berbenturan kepala dengan seseorang yang berjalan
dari arah berlawanan.
"Aduh...
maafkan aku..."
"Tidak,
saya juga yang kurang hati-hati. Mohon maaf."
Apakah siswi dari
rombongan karya wisata lain? Seorang gadis berambut bob berusia sebaya memegang
kepalanya sambil meminta maaf, lalu pergi bersama seorang anak laki-laki
berkacamata.
Bagaimanapun
juga, situasinya sudah menjadi gawat.
"Emm... yang
itu juga bukan..."
Ia keluar dari
stasiun, lalu mencari saudari-saudarinya dari atas jembatan layang.
Padahal kita
harus selalu berlima bersama-sama.
(...Tapi,
apakah benar harus begitu...?)
Tepat
pada saat itulah, Yotsuba bertemu dengan anak nakal berambut pirang—Fuutarou.
Waktu
yang dihabiskan bersama Fuutarou sangat menyenangkan hingga ia tidak sempat
merasa cemas, dan tanpa disadari saat mereka mengelilingi berbagai tempat, hari
sudah gelap gulita.
Di dalam
area kuil, tidak ada lagi peziarah maupun wisatawan yang terlihat.
"Ah,
sudah jam segini."
Karena
keduanya tidak membawa ponsel, mereka tidak bisa meminta siapa pun untuk
menjemput.
"Untuk saat
ini, mari kita naik bus lalu pulang," kata Fuutarou sambil melangkah.
Yotsuba yang
memeriksa isi dompetnya mendadak berseru, "Ah."
"Jimat yang
kubeli tadi siang sepertinya menguras seluruh uangku..."
"Kamu bodoh
ya! Sekadar memberi tahu, uang di tanganku cuma tersisa dua ratus yen ini.
Tidak akan kupinjamkan, ya," kata Fuutarou sambil mengeluarkan dua keping
koin seratus yen dari sakunya dan memperlihatkannya pada Yotsuba.
"Emm,
aku mengerti. Kalau begitu hati-hati, ya..."
Fuutarou
sempat menampakkan raut wajah bingung sejenak, namun ia melangkah mendekati
kotak persembahan (saisen-bako) lalu melemparkan uang dua ratus yen itu ke
dalamnya.
"Ah,
uangnya habis."
"Eh...?"
"Keluargaku
miskin, jadi tiap ke sini cuma bisa lempar lima yen. Pelit banget, kan."
Sambil
mengucapkannya, Fuutarou duduk santai di tempat itu. Yotsuba sangat kaget.
"Fuutarou-kun,
biarpun tidak punya uang, kamu tidak merasa menderita?"
"Maksudmu
apa?"
"Rumahku
juga begitu... Demi keluarga, Ibu bekerja sendirian. Karena itulah... sesekali
aku berpikir. Seandainya aku tidak ada, Ibu pasti bisa lebih santai."
"Kamu..."
Yotsuba dengan
gembira memamerkan lima buah jimat berbentuk gulungan kertas di depan matanya.
"Makanya,
mulai sekarang aku akan belajar yang giat, jadi anak yang sangat pintar, lalu
masuk ke perusahaan dengan gaji yang sangat tinggi demi meringankan beban Ibu!
Kalau begitu, aku yakin keberadaanku akan punya arti!"
Fuutarou yang
mendengarkannya dengan mulut ternganga, menatapnya dengan mata terbelalak
lebar.
"Luar
biasa... Kamu dewasa banget, ya."
Fuutarou berdiri
dengan sigap lalu berhadapan langsung dengan Yotsuba.
"Benar juga!
Aku juga harus belajar keras, jadi pintar, dan kalau bisa menghasilkan banyak
uang, aku bisa membuat adikku hidup tanpa kekurangan! Aku mungkin bisa menjadi
manusia yang dibutuhkan!"
Mata Fuutarou
yang tadinya terkesan agak sinis pada dunia, kini bersinar terang dengan sangat
menyilaukan.
Yotsuba merasa
sangat bahagia lalu menggenggam erat tangan Fuutarou.
"Mari kita
berjuang bersama-sama berdua! Aku demi Ibu, dan Fuutarou-kun demi adikmu, mari
kita belajar sekuat tenaga!"
Fuutarou yang
terpesona oleh senyuman Yotsuba yang bagaikan matahari, akhirnya tersenyum
lebar.
"...Ayo!
Nah, mari kita berdoa pada Tuhan porsi seratus yen masing-masing."
Sambil berdiri
sejajar di depan bangunan utama kuil, mereka menepuk tangan, memejamkan mata,
dan mengatupkan tangan dengan penuh kesungguhan.
Di malam itu,
janji yang diucapkan oleh dua anak kecil tersebut hanya diketahui oleh
bintang-bintang yang berkerlipan di langit.
Kapal feri
membelah lautan meninggalkan jejak gelombang putih di belakangnya.
Di atas geladak
kapal, Ichika, Nino, Miku, dan Itsuki sedang asyik bermain kejar-kejaran.
Satu momen tepat
setelah liburan musim panas dimulai, di mana mereka diajak oleh Rena, ibu
mereka, untuk berkunjung ke penginapan pemandian air panas milik kakek mereka
di pulau terpencil. Yotsuba sendirian menatap lautan dari tepi kapal.
"Yotsuba.
Pita itu sangat cocok untukmu, ya."
Sambil
mengucapkannya, Rena berjalan menghampiri.
"Terima
kasih... Kalau begini
kan tidak akan tertukar lagi dengan yang lain."
Di kepala Yotsuba
terikat sebuah pita yang menyerupai telinga kelinci.
"Entahlah
ya. Apa yang dikenakan di tubuh itu bukanlah perbedaan yang besar."
"Bukan cuma
itu saja! Aku belajar lebih giat dibanding yang lain, dan kemarin aku dapat
peringkat pertama, lho! Aku menang dari mereka, kan? Aku sudah tidak berada di
tempat yang sama dengan mereka lagi. Aku tidak persis sama dengan mereka lagi."
Yotsuba
merasa terdesak. Ia harus
menepati janjinya pada Fuutarou-kun. Ia tidak bisa bermain-main dengan santai
seperti saudari-saudarinya yang lain.
"Ibu~!
Lihat, lihat~!"
Itsuki yang
mengenakan hiasan rambut berbentuk bintang di kedua sisi rambutnya, berlari
menghampiri dengan gembira.
"Wah,
imutnya."
"Aku mencoba
memakainya meniru Yotsuba~!"
Itsuki memeluk
Rena erat-erat sambil bermanja-manja.
"Yotsuba.
Usahamu memang luar biasa dan sama sekali tidak salah. Namun, tanpa harus
menjadi nomor satu pun, kalian masing-masing sudah sangat spesial."
Yotsuba menggigit
bibirnya lalu menunduk. Ia tidak bisa menerima kata-kata ibunya secara jujur.
"Sebagai
orang tua, Ibu berharap kalian tetap bersama-sama. Bagaimanapun hal yang
terjadi..."
Sambil sedikit
menyipitkan matanya, Rena mencurahkan tatapan penuh kasih sayang kepada
Yotsuba.
"Yang
terpenting bukanlah di mana kalian berada, melainkan fakta bahwa kalian berada
berlima bersama-sama."
Ibu mereka yang
kondisi kesehatannya terus memburuk, menghembuskan napas terakhirnya tidak lama
setelah peristiwa itu.
"Uwaaaa!!
Ibuuuu!!"
Mendapati
perpisahan yang mendadak dengan sang ibu, si kembar lima hanya bisa menangis
sesenggukan di sudut apartemen.
"Ternyata...
Ibu memang belum sembuh..."
Bagaimana nasib
mereka ke depannya. Tidak
mungkin sang kakek sanggup menampung mereka berlima sekaligus. Mungkinkah
mereka akan diadopsi secara terpisah...
Saat
mereka hampir hancur oleh rasa sedih dan cemas, terdengar suara memanggil,
"Permisi."
Seorang
pria muda berjas duka berdiri dengan raut wajah tanpa ekspresi. Pria itu adalah
dokter penggemar ibu mereka yang pernah ditemui beberapa kali. Padahal ibu
pernah bilang akan mengenalkannya suatu saat nanti—
Pria itu
menatap foto mendiang di altar yang dihiasi bunga, lalu melangkah mendekati si
kembar lima.
"Ini pertama
kalinya kita berbicara secara langsung, ya."
Hanya Yotsuba
yang pernah bertukar kata dengannya saat dijemput sewaktu karya wisata dulu.
"Kalian
semua akan menjadi tanggung jawabku."
Pria itulah yang
kemudian menjadi ayah angkat mereka berlima, Nakano Maruo.
—Ibu. Kami sudah
jadi anak SMP, lho.
Karena merasa
terganggu saat kegiatan klub, Ichika memotong habis rambutnya menjadi pendek.
Nino yang
mengikat pita kupu-kupu menjadi makin modis dan menjadi pusat di kelompok anak
perempuan.
—Tapi ya. Berlima
bersama-sama itu ternyata mustahil.
Miku tidak pernah
melepaskan headphone-nya dari tubuhnya, sementara Itsuki mulai berbicara dengan
nada yang sama persis seperti Ibu.
—Kami sudah tidak
bisa terus bersama-sama lagi...
"Ayah, lihat
ini! Ujian kemarin, aku dapat nilai tertinggi di antara kita berlima!"
Singgah ke rumah
sakit sepulang sekolah, Yotsuba memamerkan lembar jawabannya dengan bangga.
"Bagus."
"Aku diajak
masuk klub atletik tapi kutolak, lho. Tapi karena ingin fokus belajar, ya mau
bagaimana lagi."
Yotsuba
melapor dengan bangga.
"Teruslah
berjuang."
Nada
bicara sang ayah selalu datar dan tidak pernah mengubah raut wajahnya.
"Emm...
agak dingin ya~... Kalau Ibu pasti akan lebih memujiku..."
Yotsuba
yang berlari menuju rumah, mendadak menghentikan langkahnya dan menatap ujung
sepatunya.
(Ibu
pasti memujiku, kan...)
Sambil
menghempaskan rasa tidak percaya dirinya, ia mendongak lalu berlari kencang
kembali.
(Apakah Fuutarou-kun
juga sedang belajar sekarang ya...)
Pasti dia
sedang berjuang keras. Yotsuba pun tidak boleh kalah.
"Yotsuba,
barang ini sudah tidak kamu pakai lagi?"
Melihat konsol
gim dan kaset yang dikemas dalam kardus, Miku bertanya.
"Emm!
Soalnya akan mengganggu belajar!"
"Kalau
begitu boleh kupinjam tidak...?"
Dari
beberapa kaset gim yang ada, Miku mengambil gim bertema zaman Sengoku.
Yotsuba
tersenyum puas melihat hasil ujian sejarah yang dibagikan kembali.
Meskipun
masih belum seberapa karena dasarnya yang buruk, ini pertama kalinya ia
berhasil meraih nilai di kisaran 30-an.
(Sip sip,
nilainya perlahan naik. Mulai sekarang harus lebih semangat lagi!)
Saat kembali ke
kursinya, Miku berlari menghampirinya dengan gembira.
"Yotsuba!
Ujian sejarahku dapat nilai segini, lho. Ini berkat gim yang kupinjam dari
Yotsuba."
Nilai Miku adalah
42. Selisih lebih dari 10 poin di atas Yotsuba.
"B-Begitu
ya... Baguslah."
Meskipun jujur
saja ia syok, ia tinggal meraih nilai yang lebih tinggi dari Miku di ujian
berikutnya.
(Harus
lebih giat lagi... Belajar yang banyak... Jadi sangat pintar... Lalu masuk ke
perusahaan dengan gaji yang sangat tinggi...)
Yotsuba
memaksakan dirinya, belajar mati-matian menempel di atas meja. Namun bukannya
naik, nilainya justru terus merosot turun.
Saat
lembar ujian matematika bernilai 29 dikembalikan padanya, ia merasa bagian
dalam dirinya mendadak kosong hampa.
(Untuk apa
sebenarnya aku belajar...)
Ibu
pernah bilang kalau tidak perlu menjadi nomor satu. Karena yang terpenting
adalah berada berlima bersama-sama—
(Kenapa berada
berlima bersama-sama itu penting? Aku tidak paham...)
Yotsuba merasa
dirinya dilemparkan ke dalam kegelapan yang tidak memperlihatkan apa pun.
Musim
berganti, dan si kembar lima telah menjadi siswi SMA.
'Kepada
seluruh anggota klub atletik SMA Putri Kurobara, silakan naik ke atas panggung.
Selamat atas kelulusan menuju Inter-High!'
Di antara
para anggota klub atletik, Yotsuba berdiri berjejer dengan raut wajah bangga.
Klub atletik menjadi kuat berkat bergabungnya Yotsuba. Ia juga yang memimpin
klub bola basket melaju ke turnamen nasional, serta menyumbangkan trofi
kemenangan bagi klub sofbol...
Yotsuba
yang selama ini berjuang dalam kegelapan, pada suatu momen menemukan secercah
cahaya.
Jika
tidak bisa menjadi teladan bagi yang lain dalam hal belajar, ia bisa menjadi
teladan dalam hal olahraga—!
(Ibu, lihat
tidak? Aku dipuji oleh semua orang! Aku dibutuhkan oleh banyak orang! Bukan sebagai salah satu dari saudari-saudariku,
melainkan karena aku adalah diriku sendiri!)
Ia menyanggupi
semua tawaran dari berbagai klub olahraga satu per satu, hingga tidak ada lagi
waktu tersisa untuk duduk di meja belajar.
"Akhir-akhir
ini kamu latihan terus, apa tidak apa-apa? Belajarmu bagaimana?"
Khawatir melihat
Yotsuba yang seperti itu, Miku bertanya dengan ragu-ragu.
"...Kalau
mau, boleh kukajari?"
"Aku sudah
berbeda dengan kalian! Jangan samakan aku dengan kalian."
Miku dipalingkan
dari punggungnya seolah diputus begitu saja.
(Aku yang
paling unggul di antara kita bersaudara! Aku sosok yang spesial!)
Rasa
unggul yang kelam itu mendorong Yotsuba melaju makin kencang ke arah yang
salah.
"Ujian
susulan kedua, tidak lulus. Nakano Yotsuba-san, kamu dinyatakan tidak naik
kelas."
Di akhir semester
pertama kelas dua SMA, guru wanita wali kelasnya menyampaikan hal itu dengan
dingin di ruang guru.
"Eh?"
Sesaat, Yotsuba
tidak sanggup memahami apa yang sedang diucapkan padanya.
"Masa...
bohong, kan...?"
"Ini
bukan bohong."
"Tapi!
Aku sudah memberikan hasil sehebat itu di klub! Kemarin pun di klub
basket..."
"Tidak
ada hubungannya. Padahal sudah berkali-kali diperingatkan, kamu tetap tidak mau
berhenti bergabung di banyak klub. Kemasi barang-barangmu."
Dalam
kondisi bingung dan kacau, Yotsuba dipanggil ke ruang kepala sekolah.
"...Pindah
sekolah?"
Di sana,
ayahnya sudah menunggu.
"Kenalan
Ayah menjadi pengurus di sebuah sekolah campuran laki-laki dan perempuan. Mulai
usai liburan musim panas, kamu akan bersekolah di sana."
"Cuma aku... sendirian..." Yotsuba bergumam dengan
pandangan hampa.
(Lho...?
Padahal aku harusnya sosok yang spesial... Aku berjuang mati-matian demi menciptakan arti
dari keberadaanku... Tapi, kenapa aku malah sendirian...?)
Ia melihat
bayangan dirinya yang berlari sendirian di atas lintasan atletik tanpa penghuni
di malam gelap tanpa bulan. Biarpun terus berlari dan berlari, garis finis tidak kunjung ditemukan.
(Kalau sendirian,
aku harus bagaimana? Bagaimana caranya agar bisa menjadi sosok yang spesial?
Aku tidak tahu harus melangkah ke mana lagi...)
Tepat pada momen
saat air mata Yotsuba pecah membanjiri matanya—
"Tunggu!"
Suara Nino
terdengar, dan pintu terbuka dengan suara klek.
"Kalau
Yotsuba pindah sekolah, kami juga akan ikut pergi."
Ichika, Nino,
Miku, Itsuki—seluruh saudarinya berkumpul lengkap di sana. Kepala sekolah
mendadak panik luar biasa.
"Bicara apa
kalian ini! Kalian kan dinyatakan lulus ujian."
"Iya, kami
memang lulus... berkat menyontek."
Nino mengukir
senyuman jahat, lalu memamerkan kertas contekan kepada kepala sekolah.
"A-Apakah hal itu benar!?"
"Kami juga, lho~"
Ichika dan Miku, serta Itsuki yang bertarung melawan rasa
bersalahnya, ikut mengeluarkan kertas contekan masing-masing.
"Kalian
semua... kenapa... kenapa demi aku sampai..."
Menyontek itu
bohong. Lagipula kalau memang menyontek, harusnya mereka bisa dapat nilai yang
jauh lebih tinggi.
"Yotsuba.
Aku tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan... Tapi aku paling benci dan tidak
mau kalau cuma kamu sendirian yang hilang!"
"Ke mana pun
kita pergi, kita akan selalu berlima bersama-sama."
Nino maupun
Ichika, menerima Yotsuba tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Karena
itulah ajaran Ibu," Itsuki tersenyum.
"Yotsuba...
Hal apa pun yang terjadi, kita akan membaginya menjadi lima bagian. Kesulitan
apa pun, kalau berlima pasti bisa kita lewati."
Miku melangkah
satu tapak ke depan lalu berbicara pada Yotsuba. Padahal Yotsuba sempat
memasang sikap yang sangat jahat padanya, tetapi Miku tidak memalingkan
punggung dan justru ingin berjalan bersama darinya.
(Hal yang
dimaksud Ibu dulu... ternyata adalah hal ini, ya...)
Sambil
menangis tersengguk-sengguk, Yotsuba memeluk Miku erat-erat.
Saudari-saudari
yang lain mengelilingi dan menjaga Yotsuba yang menangis di tengah mereka.
(Aku akan
berhenti memikirkan siapa yang paling unggul... Aku akan hidup demi mereka semua.)
"T-Tunggu!"
Fuutarou
mengejarnya dengan kecepatan penuh.
(Diriku yang
sekarang bisa ada di sini adalah berkat mereka semua... Kenangan itu, maupun
perasaan ini, mari kita hapuskan saja...)
Menyerahkan Fuutarou
adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukan Yotsuba saat ini.
"Ooh!?"
Tersandung batu
tepi jalan, Fuutarou melakukan head sliding meluncur deras di atas rumput.
"Eh!"
Saat Yotsuba
menghentikan langkah dan berbalik, Fuutarou yang tersungkur sama sekali tidak
bergerak sedikit pun.
"A-Apakah
Anda tidak apa-apa...?"
Saat Yotsuba
mendekat dengan ragu-ragu, tangan Fuutarou dengan sigap mencengkeram
pergelangan kaki Yotsuba.
"Hiiiiiiii~~!?"
Berhasil
menangkap Yotsuba berkat keberuntungan tak terduga, Fuutarou mulai berbicara
sambil membenamkan wajahnya di atas rumput.
"Saudari-saudarimu
semuanya adalah orang yang baik, orang yang luar biasa, dan orang-orang yang
sangat kusukai."
Sebagai rekan
seperjuangan, teman bertengkar, adik, hingga sahabat... bagi Fuutarou, mereka
masing-masing adalah sosok yang tak tergantikan.
"Aku sangat
bangga bisa menjadi guru privat mereka."
Fuutarou
melepaskan cengkeraman tangannya dari Yotsuba, lalu terlentang dalam posisi
huruf T.
"Tapi...
kalau tidak ada kamu, aku pasti sudah tersandung dari dulu."
Sejak hari
pertama kali bertemu, tanpa disadari Yotsuba selalu berada di sisinya. Menjadi
satu-satunya pemandu sorak bagi Fuutarou. Sudah tak terhitung berapa kali ia
terselamatkan oleh senyuman yang hangat bagaikan matahari cerah itu—
"Kenapa...
bilang hal seperti itu..."
Yotsuba terduduk
lemas di tanah di tempatnya berdiri.
"Aku ini
manusia yang lemah, jadi ke depannya pasti akan terus tersandung berkali-kali.
Ini permintaan egois dari orang yang tidak keren sepertiku... Tapi di saat-saat
seperti itu, Yotsuba... aku akan sangat bahagia kalau kamu ada di sampingku."
Kata-kata bahagia
yang terasa seperti mimpi—sebuah gejolak hangat membumbung di tenggorokannya,
dan tanpa mampu ditahan lagi, air mata menetes bercucuran dari mata Yotsuba.
"Rasanya
membuatku tenang, tahu."
Fuutarou
mengulurkan tangannya ke arah langit.
"Kamu adalah
penopangku, dan aku ingin menjadi penopangmu. Makanya, kalau kamu benci pun
tidak apa-apa... Tolong beri tahu aku perasaanmu yang sebenarnya."
"...Aku,
pada Uesugi-san..."
Yotsuba
menggenggam erat ujung roknya.
(Katakanlah...
mari kita akhiri semuanya di sini...)
Satu demi satu
kenangan bersama Fuutarou berputar kencang dalam benak Yotsuba.
(Aku benci
Uesugi-san.)
Baik Fuutarou
yang dulu seorang anak nakal, maupun Fuutarou yang kini tumbuh menjadi siswa
SMA.
(—Aku benci.)
Bagian mulutnya
yang kasar, sifatnya yang tidak peka, serta bagian dirinya yang sedikit bodoh
padahal sebenarnya sangat pintar.
(—Aku benci.)
Profil wajah
seriusnya saat belajar di kelas. Maupun senyumannya saat tertawa dari lubuk
hati yang paling dalam.
(—Aku benci.)
Sifatnya yang
sangat menyayangi adiknya, lebih lembut dan hangat dibanding siapa pun,
segalanya dari dirimu.
"...Aku
menyukaimu."
Air mata menetes
jatuh dari mata Yotsuba yang menatap wajah Fuutarou.
"Aku...
tidak bisa berbohong pada Uesugi-san..."
Perasaan selama
enam tahun lamanya mengalir meluap tanpa henti bersama dengan tetesan air mata.
"Sejak dulu,
aku selalu menyukaimu—"



Post a Comment