Prolog
Aku menatap layar ponselku begitu lekat hingga tidak menyadari ruangan di
sekitarku mulai gelap.
Web novel, menurutku, adalah cara termudah dan paling terjangkau bagi
seorang penyendiri yang suram sepertiku untuk menjalani sebuah fantasi. Satu ketukan, satu guliran — dan di
sanalah dia, heroine favoritmu. Kamu bisa tenggelam dalam ilusi seolah-olah
kamu adalah sang protagonis yang keren.
"Oh — 'Amayami'
update."
Aku membuka karya yang belakangan
ini menjadi obsesiku: Kupikir Ini Komedi Romantis yang Manis, tapi Para
Heroine Yandere Merendamku dalam Cinta Obsesif, atau singkatnya
"Amayami".
Jujur saja, genre komedi romantis
memang kesukaanku. Aku sangat menyukai hal-hal manis dan menggemaskan — tentang
protagonis penyendiri yang suram dan bermesraan dengan jajaran gadis-gadis
imut.
Ada begitu banyak cerita seperti
itu yang tak terhitung jumlahnya, tapi yang satu ini? Para heroine-nya memiliki
cinta yang benar-benar berat, dan setiap dari mereka sangat menggemaskan hingga
mataku tak bisa berhenti mengejar baris demi baris kalimatnya. Dan itu bukan
cuma diriku — seluruh penggemar light novel menyebutnya sebagai mahakarya yang
tidak akan melepaskanmu begitu kamu terjerat di dalamnya.
Semua heroine-nya memang imut,
tentu saja, tapi favoritku — best girl mutlak bagiku — adalah sang heroine
utama, Hoshino Nagi.
Dia selalu tampak ceria dan manis
pada sebagian besar waktu, tetapi ketika dia menunjukkan sisi gelapnya, dia
berubah menjadi yandere seutuhnya yang jauh lebih intens daripada gadis mana
pun.
Sensasi perbedaan
karakter (gap) itu benar-benar tepat mengenai sasaran hatiku. Setiap
saat.
Kecuali —
"Astaga, Satsuki
benar-benar yang paling sampah."
Ya. Novel ini memiliki
salah satu dari tipe karakter itu — sang penjahat bajingan.
Dia adalah pacar Nagi,
sang heroine utama, dan hanya itulah seluruh peran utamanya: menjadi manusia
paling sampah yang pernah ada.
Dia tahu dirinya tampan,
jadi dia bergonta-ganti gadis seolah-olah sedang mengganti pakaian. Memperlakukan Nagi — pacarnya sendiri —
seperti sampah, tanpa ada rasa hormat sedikit pun.
Para pembaca Amayami — dan ini
adalah serial yang sangat populer — benar-benar membencinya, dan setiap dari
mereka hanya menunggu kehancurannya yang setimpal dan penuh kejayaan.
Jujur saja? Sebagian dari kami
hanya ingin langsung menikmati adegan romansa antara sang protagonis dan
heroine. Bisakah dia menghilang saja dari panggung sekarang?
Kira-kira begitulah hal yang ada
di pikiranku saat menutup novel tersebut dan menghela napas.
Layar ponselku menjadi gelap, dan
wajahku sendiri terpantul menatapku kembali — jadi aku mengalihkan pandangan.
Jika satu-satunya kelebihan Satsuki adalah berwajah tampan, maka salah satu
dari sekian banyak kekuranganku adalah memiliki wajah yang sangat biasa saja.
Aku bisa merasakan pikiranku
mulai melantur semakin dalam — jadi aku menariknya kembali ke Amayami.
Mungkin, pada akhirnya, aku hanya
cemburu. Membandingkan diriku — seorang pria yang sama sekali tidak memiliki
kontak dengan gadis-gadis di dunia nyata — dengan Satsuki.
Bukan berarti aku setuju dengan
caranya memperlakukan orang lain hanya karena dia populer. Tapi jika aku
merenungkan kebenaran pahit tentang mengapa aku sangat membencinya… apakah itu
hanya karena dia memiliki sesuatu yang tidak akan pernah bisa aku dapatkan?
"Ah, ini bodoh sekali."
Memikirkan penjahat dalam novel
seserius ini. Mungkin aku hanya lelah.
Aku menyambungkan ponselku ke
pengisi daya dan memejamkan mata.
Jika saat aku membuka mata nanti
dan menemukan diriku berada di dunia light novel sebagai protagonis yang
dicintai oleh seluruh harem heroine… yah, jika dongeng seperti itu benar-benar
terjadi, aku akan menuliskan seluruh kisahnya menjadi novel dan meraup banyak
keuntungan darinya.
■ ■ ■
Ah, andai saja setiap wanita
selain diriku lenyap begitu saja dari sisimu.
Ah, andai saja matamu
diciptakan untuk dicungkil di saat mata itu menatap wanita mana pun selain aku.
Ah, mengapa dunia diciptakan
dengan begitu kejam?
"Aku sudah lelah sekarang,
tahu. Jujur saja."
Aku selalu percaya bahwa
menunggu — percaya bahwa tidak peduli seberapa banyak kasih sayang yang kau
sebarkan kepada wanita lain, kau akan pulang kepadaku pada akhirnya — percaya
bahwa dengan cinta sejati, hal itu akan terasa mudah.
Tapi aku sudah lelah sekarang.
Beberapa saat yang lalu, aku berpikir untuk membawamu bersamaku. Bersama-sama,
kita akan… Tapi itu tidak akan berhasil, kan? Itu tidak akan mengukir diriku
jauh, jauh ke dalam kesadaranmu seperti yang kubutuhkan.
Jadi aku telah memikirkan
sebuah rencana yang indah. Akulah satu-satunya yang akan menghilang dari dunia
ini — dan aku akan terukir di dalam dirimu seumur hidupmu, sebagai rasa
bersalah.
Indah, bukan? Kita tidak bisa
mencapai akhir yang bahagia di kehidupan ini, tapi aku yakin di kehidupan
selanjutnya kita akan bersama — benar, kan?
Illustrasi | ToC | Chapter 1


Post a Comment