Chapter 1
Dulu, Aku Juga Berpikir Begitu
1
Hanatsuki Miran,
seorang gyaru populer yang ekstrover. Tipe karakter yang aku pikir tidak akan
pernah berinteraksi dengan laki-laki introver sepertiku.
Satu tahun masa SMA-ku
telah berlalu, dan posisi introverku sudah mantap tanpa tergoyahkan sedikit
pun. Bahkan saat memasuki tahun kedua, posisi ini seharusnya tidak pernah
berubah—tetapi, situasi yang tidak terduga malah terjadi.
Seseorang bertanya,
"Hei, hei, kenapa kamu selalu pura-pura tidur?"
Hari ini, saat aku sedang
pura-pura tidur, seseorang kembali menghampiriku. Dari suaranya yang ceria dan
menenangkan, sudah jelas itu suara seorang gadis, sampai-sampai rasanya hampir
membuatku bereaksi karena jengkel. Namun, karena saat ini aku sedang berpura-pura
tidur, aku tidak punya pilihan selain menahannya dan diam saja.
"Hei, hei, kamu
sebenarnya bangun, kan?" Beberapa pukulan pelan mendarat di bahuku.
Ini... Jari tangannya
menyenggolku, kan!
Aku hampir tidak pernah
disentuh oleh seorang gadis sebelumnya, yang membuat rasa jengkelku menjadi
makin menjadi-jadi. Sementara aku bingung harus berbuat apa, dia terus mencolek
bahuku. Akhirnya, setelah ragu-ragu sejenak, aku mengangkat wajahku sambil
berpura-pura baru saja terbangun dari tidur.
"Ah, akhirnya kamu
merespons juga!"
Warna rambutnya yang cerah
berkilau di depan mataku, dipadu dengan bola matanya yang besar dan bulu
matanya yang lentik. Seragam sekolahnya yang longgar dan jemarinya yang cantik
tampak berkelebat di hadapanku. Dia adalah Hanatsuki Miran—seorang gyaru ekstrover
yang populer—sedang berdiri di depan meStandard-ku.
““............””
Meskipun aku merasa
curiga pada kasta tertinggi sekolah yang entah kenapa tiba-tiba muncul di
hadapanku ini, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak terpesona sejenak. Selain seorang gyaru,
Hanatsuki-san juga merupakan gadis yang sangat memikat
Rambut berwarna miliknya
yang semi-long sedang bersinar cerah di bawah paparan sinar matahari, dan pada
saat itulah aku menyadari bahwa rambutnya telah dirawat dengan sangat telaten.
Mata yang jernih dan
hidungnya berada di batas antara cantik dan imut, begitu modis hingga seseorang
mungkin akan bertanya-tanya apakah dia berasal dari spesies yang sama.
Tubuhnya, yang mengintip
dari seragam sekolahnya yang longgar, terlihat ramping tetapi masih memiliki
kesan agak berisi, memberikan impresi yang seksi.
Bahkan aku, seorang otaku
yang hidup di dunia dua dimensi, terpesona oleh keindahan yang anggun ini.
"Aku sudah penasaran
sejak lama, apa tidak lelah berpura-pura tidur setiap kali jam
istirahat?", Hanatsuki-san memiringkan kepalanya dan melontarkan
pertanyaan itu kepadaku.
Bagi diriku, sebenarnya
jauh lebih melelahkan mencari seseorang untuk diajak mengobrol daripada
berpura-pura tidur!
Jika aku mengatakannya
secara jujur, gyaru yang populer dan ekstrover ini tidak akan pernah mengerti.
Maksudku, bagaimana bisa dia tahu kalau aku sedang berpura-pura tidur?
Menurutku, aktingku ini sudah sempurna.
"N-Tidak, aku tidak
sedang berpura-pura tidur..."
Aku mencoba mengatakan itu
dengan harga diri seorang introver, tetapi aku tidak bisa mengucapkannya dengan
lantang karena aku tidak biasa banyak bicara.
"Apa maksudnya
itu?", Hanatsuki-san turut mendekatkan wajahnya ke arahku, berusaha
mendengar suaraku.
Jaraknya terlalu dekat.
Wajah cantiknya yang mendekat hampir menyentuh wajahku, membuatku panik.
"Tidak, tidak ada
apa-apa!"
Aku bertanya balik sembari
menjauhkan mata dan tubuhku dari Hanatsuki-san,
"K-Kamu ada perlu
sesuatu dariku?"
"Aku cuma bertanya
karena penasaran."
"Eh?"
Hanatsuki-san terkekeh
saat melihat reaksiku dan kembali ke tempat teman-temannya.
A-Apa-apaan? Apa yang
sebenarnya baru saja terjadi!?
Setelah menyadari bahwa
gadis-gadis lain juga memperhatikan diriku, aku segera merebahkan diri di atas
meja dan berpura-pura tidur kembali.
Situasi tak terduga
terjadi saat aku memasuki tahun kedua. Alasannya adalah karena aku berada di
kelas yang sama dengan Hanatsuki Miran, si gyaru ekstrover yang populer.
Faktanya, hari ini
bukanlah pertama kalinya Hanatsuki Miran berbicara kepadaku. Bahkan, baru
beberapa hari setelah kami menjadi teman sekelas, dia telah berbicara kepadaku
lebih banyak dari jumlah jari di kedua tanganku, dan hal itu sebenarnya sudah
sering terjadi sejak tahun pertama SMA-ku.
Meskipun aku berada di
ruang kelas yang berbeda dari Hanatsuki-san selama tahun pertama, setiap kali
aku berpapasan dengannya saat jam makan siang, sepulang sekolah, di acara
sekolah, dan kesempatan lainnya, ada kemungkinan besar dia akan menyapaku. Awalnya,
aku hanya terkejut dia mau berbicara dengan orang muram sepertiku,
menganggapnya sebagai kemampuan wajar dari kasta atas sekolah. Namun, semakin sering
dia berinteraksi denganku, aku menjadi semakin bingung.
Aku tidak mengerti
mengapa gadis populer seperti dia berusaha keras untuk terlibat denganku.
Sikapnya tidak seperti mengasihani diriku yang introver dan menyendiri. Tapi
bukan berarti dia mengejek atau membenciku. Aku pikir dia hanya ingin bercanda
dan menikmati reaksiku. Entahlah, aku juga penasaran apa yang dipikirkan
Hanatsuki-san saat memanggilku. Kurasa aku memang tidak bisa membaca niat
seorang gyaru. Menurutku, dia bukanlah gadis yang jahat. Namun, karena dari
awal aku memang tidak menyukai orang-orang ekstrover, aku merasa tidak nyaman
dengan kehadirannya.
Lalu, ketika aku
memulai tahun kedua, aku berakhir di kelas yang sama dengan Hanatsuki-san. Para
siswa laki-laki sangat senang bisa menjadi teman sekelas dari seorang gyaru
yang cantik dan populer, sementara aku merasa sangat tertekan. Karena—
"Kamu sudah
mengunjungi toko baru di depan stasiun belum?"
"Belum, nih. Tapi
camilan di sana kelihatan enak banget, lho."
"Ah, aku pernah ke
sana sama pacarku, dan tokonya keren banget."
"Toko baru di
jalan utama itu lagi tren banget, kan?"
""Bener
banget~!!""
Setiap kali ada jam
istirahat, selalu ada percakapan di antara para gadis di dekat tempat dudukku. Tentu saja, Hanatsuki
Miran adalah tokoh utamanya. Kemudian—
"Pelajaran hari ini
membosankan banget, ya~"
"Kemarin aku diganggu
sama anak cowok dari SMA lain, tahu? Aku cuekin sih, tapi beneran membosankan
banget—"
"Eh tunggu, musik
ini keren banget, kan?"
Seorang cowok bergaya
mencolok berbicara dengan lantang di kelas, berusaha menarik perhatian para
gadis. Namun tidak hanya itu, ada juga mereka yang datang dari kelas lain atau
angkatan lain yang rela datang jauh-jauh ke kelas ini hanya untuk berbicara dengan
Hanatsuki-san dan gadis-gadis lainnya, mereka semua menunjukkan keberadaan
mereka dengan berbicara keras dalam percakapan tersebut.
Jadi! Kehadiran
gadis-gadis populer di kelas tak terhindarkan mengubah ruang kelas menjadi
dunia mereka yang bising. Hanya dengan mengetahui hal ini saja sudah membuatku
tertekan. Namun tidak berhenti di situ. Sebagai orang yang paling tidak
menonjol, keberadaanku dapat dengan mudah tertelan dalam dunia mereka yang
ceria.
"Hei, hei—"
Perhatian orang-orang
di sekitarku tertuju padaku, karena gadis populer yang menjadi target para
cowok itu menyapaku, sebuah masalah yang lebih besar muncul dibandingkan tahun
lalu. Sebagai orang yang telah menjalani kehidupan introver selama lebih dari sepuluh
tahun, aku dapat dengan mudah memahami bahwa tatapan mereka tidak berdampak
baik bagiku. Memang, tidak sampai dianggap sebagai rival, karena statusku
hanyalah seorang cowok introver yang membosankan. Namun, aku masih bisa
merasakan tajamnya pandangan mereka.
Oleh karena itu, aku
berusaha lebih keras untuk menjadi lebih tidak mencolok daripada saat tahun
pertama dan menghindari kebencian mereka. Namun, setiap kali Hanatsuki-san
berbicara padaku, aku gagal, dan kenyataannya mereka makin membenciku. Jadi aku sangat berharap
dia akan berhenti melakukan hal itu padaku.
"Kenapa dia berbicara
padaku?", gumamku.
Dari sudut pandang seorang
gadis populer, orang yang introver dan pemurung mungkin merupakan hal yang
langka, tetapi meski begitu, aku sungguh tidak mengerti mengapa dia selalu
menggangguku.
"Tidak mungkin...
kan?"
Mungkinkah dia...
menyukai... aku?
Tidak, tidak, tidak,
tidak, tidak! Sama sekali tidak mungkin!
Jangan salah paham, diriku yang malang!
***
"Hei, hei."
Hari ini pun sama saja,
dia mencolek bahuku saat aku berpura-pura tidur selama jam istirahat. Hari
sudah mendekati akhir April, tetapi kejengkelanku terhadap Hanatsuki-san sudah
menjadi kejadian yang hampir terjadi setiap hari. Setidaknya dua kali sehari
dia akan memanggilku seperti ini.
"Hei, hei, kamu
bangun, kan?"
Sialan, kenapa dia terus
menggangguku seperti ini!
Aku bingung apakah harus
terus berpura-pura tidur atau sebaliknya, tetapi aku merasa akan terus dicolek
dan didorong tanpa henti olehnya, jadi pada akhirnya dengan enggan aku
mengangkat wajahku. Tentu saja, aku melakukan ini sambil berpura-pura baru saja
terbangun. Berpura-pura tidur adalah salah satu dari sedikit keahlianku, jadi
aku tidak boleh bersikap sembarangan tentang hal itu.
"Hmm? Ada apa?"
"Kualitas tidur
pura-puramu hari ini bagus banget!"
Apakah gyaru ini baru saja
mengejekku?
Aku menyadari pandangan
yang datang dari sekitarku dan mencoba kembali berpura-pura tidur, tetapi
Hanatsuki-san malah membungkuk ke depan dan bertanya,
"Ngomong-ngomong, kamu sudah punya pacar
belum?"
"Pacar?"
Aku sudah punya pacar—tentu saja tidak! Fakta itu sudah sejelas
siang hari. Tidak, tunggu sebentar! Aku punya banyak pacar di dalam layar!
Meskipun mereka hanya mengucapkan kalimat yang sama dan berbentuk dua dimensi!
Namun, itu hanyalah lelucon konyol dari seorang otaku sepertiku yang tidak mungkin
dimengerti oleh seorang gyaru, dan selain itu, aku tidak memiliki keberanian
atau kemampuan untuk bercanda dengan mereka. Oleh karena itu, aku akan menjawab
mereka dengan jujur.
"Aku tidak
punya."
"Begitu ya,
huum," sebagai respons atas jawabanku, Hanatsuki-san membuat ekspresi yang
tampak lega.
Berdasarkan reaksi itu,
aku merasakan sensasi déjà vu yang luar biasa. Jika diingat-ingat,
Hanatsuki-san pernah menghampiriku di koridor dan menanyakan pertanyaan yang
sama ketika kami pertama kali masuk sekolah. Saat itu, obrolan yang kami bahas
sama, dan ekspresi Hanatsuki-san pun sama seperti sebelumnya.
"““............””?"
Apa yang sebenarnya
dipikirkan gyaru ini?
Termasuk yang terakhir
kali, aku benar-benar tidak tahu mengapa dia repot-repot menanyakan pertanyaan
itu padaku. Apakah karena dia menyukaiku? Aku sudah membuang pikiran-pikiran
mengganggu itu sejak lama. Di sisi lain, dia tidak bermaksud merendahkanku—atau
apakah dia hanya sekadar penasaran?
Mengingat hal itu,
Hanatsuki-san menanyakan pertanyaan itu lagi, "Masa kamu belum punya
pacar?"
Siapa sebenarnya orang
yang sedang kamu tanyai ini? Ini aku, tahu? Orang paling introver, otaku, dan
penyendiri! Kalau aku punya kemampuan untuk mendapatkan pacar di dunia nyata,
tentu saja aku tidak akan berpura-pura tidur seperti ini. Namun, aku sendiri
tidak berpikir bahwa gadis ini memiliki niat buruk. Hanya dari tatapannya saja, aku bisa merasakan perasaan
yang sangat tulus.
"N-Gak... tentu saja
tidak," jawabku dengan jawaban yang berantakan.
Bukannya aku tidak ingin
punya pacar, tetapi terlalu sulit untuk mengatakannya secara jujur karena aku
sendiri terlalu introver untuk melakukan hal seperti itu. Ah..... Namun, aku
pernah mendapatkan pengakuan cinta dari seorang gadis ketika aku masih kecil.
Aku bertemu dengan
seorang gadis pendiam saat berlibur bersama orang tuaku. Entah bagaimana, kami
selalu tidak sengaja bertemu setiap kali kami pergi keluar, yang membuat kami
menjadi teman dan berujung pada dia yang mengungkapkan perasaannya padaku. Jika
aku tidak salah ingat, itu adalah periode paling populer dalam hidupku. Namun,
kami tidak pernah bertemu lagi setelah itu, dan aku juga penasaran bagaimana
kabar gadis itu sekarang.
Kemudian aku
memalingkan wajahku dari gadis di hadapanku seolah hendak melarikan diri dari
kenyataan,
"Kalau begitu, apa
ada seseorang yang kamu sukai sekarang?" Hanatsuki-san bertanya padaku,
membungkukkan badannya ke depan dengan sekuat tenaga.
"S-Seseorang yang aku
sukai?"
A-Apa? K-Kenapa dia begitu
penasaran hari ini! Saat aku sedang bingung, di saat yang sama,
"Mm—?", pandanganku liar kemana-mana. Blus yang dikenakannya tampak
longgar di bagian dada. Ini terjadi karena ketika Hanatsuki-san membungkuk ke
depan dan bersandar di meja, belahan dadanya masuk ke dalam bidang pandangku.
"Kalau kamu punya
seseorang yang kamu sukai, aku ingin kamu memberitahuku." Dia mendekatkan
wajahnya dengan ekspresi serius.
Mungkin dia memakai
makeup, tetapi kulitnya terlihat sangat lembut dan halus dari jarak dekat.
Kombinasi mematikan dari wajah cantiknya dan belahan dadanya yang tersembunyi
terlalu menstimulasi bagiku yang seorang introver, sampai-sampai pandanganku
menjadi liar. Dia juga beraroma sangat wangi!
"Apa ada kemungkinan
kalau ada seseorang yang kamu sukai?"
"S-Secara
spesifik, tidak ada!"
"Hmm,
beneran?". Hanatsuki-san menunjukkan ekspresi samar di wajahnya,
seolah-olah dia merasa lega atau mengkhawatirkan sesuatu.
Jika aku bisa memahami
perasaan gyaru di hadapanku ini, aku mungkin sudah bisa bergabung dengan
jajaran orang-orang ekstrover sekarang. Namun—
““............””
Ya, aku tidak bisa
memahaminya! Lebih tepatnya, aku tidak tahu bagaimana perasaan seorang gyaru!
Orang sepertiku, yang tidak memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan lawan
jenis, tentu tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh gyaru yang mengubah ekspresinya
di depanku ini. Padahal kami berada sangat dekat. Maksudku, bahkan jika ada
seseorang yang aku sukai, aku masih tidak mengerti mengapa aku harus
memberitahunya!
Aku tidak tahu lagi!
Tolong berhenti berbicara padaku! Menjauhlah dariku! Kamu sudah terlalu menstimulasiku! MP
komunikasiku sudah menjadi nol! Teman-teman sekelasku juga... oh, mereka semua
melihat ke arah sini!
Aku menjadi makin kesal
ketika menyadari bahwa orang-orang memperhatikan diriku dengan lebih intens
dari yang kubayangkan.
"Ngomong-ngomong..."
Kemudian dia mendekatkan
wajahnya ke wajahku dan berbisik,
"Aku juga belum punya pacar, lho."
"B-Begitu ya... huh?"
Aku terlalu fokus pada sekelilingku hingga
tidak memahami kata-katanya. Aku masih tidak mengerti mengapa dia mengatakan itu,
tetapi itu sedikit mengejutkan. Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, tetapi
menurutku, Hanatsuki-san adalah gadis yang cantik, bergaya modis, dan seorang
gyaru ekstrover, jadi tidak mengherankan jika dia memiliki satu atau dua orang
pacar. Dengan kata lain, apakah hanya kebetulan saja kalau dia tidak memiliki
pacar saat ini?
Mendengar pemikiran ini,
Hanatsuki-san tersenyum seolah bisa membaca pikiranku dan berkata, "Aku
belum pernah pacaran sebelumnya, tahu?"
"Eh!
S-Beneran!?" Aku tidak sengaja bereaksi berlebihan.
Ini di luar kata
mengejutkan, di luar dugaanku. Sejak hari pertama aku masuk sekolah, Hanatsuki
Miran sudah menjadi bahan pembicaraan para siswa laki-laki, dan aku pikir dia
juga populer saat SMP. Dia bisa saja memiliki
banyak pacar jika dia mau. Tapi apakah ada alasan khusus untuk itu?
Yah, itu kalau apa yang
dia katakan bukanlah kebohongan. Tapi ada kemungkinan juga dia hanya bercanda
denganku, merasa terhibur karena ada seorang introver yang dengan mudah
dibodohi oleh apa yang dia katakan.
"Reaksimu lucu
banget!"
Bisa dilihat,
Hanatsuki-san terkekeh saat melihatku. Tapi tetap saja, kalau diingat-ingat,
aku belum pernah mendengar gosip bahwa Hanatsuki-san itu genit di SMA ini
sebelumnya. Meskipun dia sering dihampiri oleh cowok-cowok resek, dia
sebenarnya lebih sering nongkrong dengan teman-teman perempuannya. Meskipun
tidak diragukan lagi bahwa dia populer di kalangan cowok-cowok, dan tentu saja
dia seorang gyaru.
Gadis ini sebenarnya
sedang mengerjaiku, kan?
"Jujur ya, apa yang
aku katakan tadi itu beneran."
Hanatsuki-san
mengatakannya lagi, seolah-olah dia benar-benar bisa membaca pikiranku.
Ekspresi wajah gyaru ini saat membungkuk begitu serius, dan tidak ada
tanda-tanda bahwa dia sedang bercanda—seketika, tatapannya membuatku tidak
nyaman.
"Ah, begitu ya."
Aku tidak terbiasa
melakukan kontak mata dengan lawan jenis, jadi aku hanya bisa menganggukkan
kepala. Bahkan jika apa yang dikatakan gyaru ini benar, apa gunanya
memberitahuku?
Sejak awal, aku
benar-benar tidak mengerti mengapa kami bisa sampai pada topik ini, dan aku
tidak tahu bagaimana harus merespons?
"Hei, tunggu
sebentar—Miran!"
Saat aku tenggelam dalam
kebingungan, dengan atmosfer yang tak terjelaskan, sebuah suara memanggil
Hanatsuki-san—
"Yah, begitulah
kira-kira—" Hanatsuki-san tersenyum pahit saat mengatakan itu padaku, lalu
meninggalkan tempat dudukku.
"Fuuuh..."
Sambil menghela napas, aku
memperhatikan Hanatsuki-san berjalan mendekati gadis-gadis yang memanggilnya.
Rasanya seperti badai telah berlalu. Aku melihat sekeliling dan menyadari bahwa
mata para gadis dan cowok yang biasanya mengelilingi Hanatsuki-san masih
tertuju padaku. Untuk menghindari tatapan mereka yang seperti panah, aku
berbaring di atas meja dan berpura-pura tidur lagi.
"Hah, capeknya."
Itu adalah percakapan yang
singkat dari segi waktu, tetapi aku tetap merasa lelah setelah menggunakan
seluruh keterampilan komunikasiku bahkan yang berada di tingkat paling rendah
sekalipun. Lagipula, pertanyaan yang diajukan Hanatsuki-san sangat mendalam,
seolah-olah aku sedang mendengarkan kisahnya sendiri. Serius, apa yang dia
inginkan dariku mengenai topik itu?
"Tidak mungkin!"
Apakah dia menyukai
diriku? Tidak, tidak, tidak, tidak! Itu tidak mungkin! Jangan mengambil
kesimpulan terlalu cepat, wahai diriku! Dia itu gyaru populer, tahu? Itu masih
memungkinkan kalau aku ini cowok keren, tapi aku adalah kebalikannya, dan jelas
dia tidak akan memiliki perasaan seperti itu terhadap orang introver yang jauh
sepertiku. Dengan kata lain, dia
hanya main-main saja. Ya, kekonyolan seorang gyaru. Jelas, dia menikmati
reaksiku, memprovokasi seorang otaku introver yang tidak tahu apa-apa tentang
cinta.
"Haaa~"
Itulah mengapa aku tidak
suka orang-orang keren dan para gyaru. Jelas sekali, pikiranku jadi kacau. Apa
yang harus kulakukan jika aku, yang tidak memiliki imunitas terhadap
gadis-gadis, tidak sengaja jatuh cinta?! Yah, karena aku sudah mencapai tingkat
introver akut, aku telah mengambil tindakan pencegahan untuk menghindari hal
itu.
—Hanatsuki Miran adalah
seorang gyaru ekstrover.
—Hanatsuki Miran kebetulan
merasa penasaran.
—Hanatsuki Miran masih
asing dengan orang penyendiri dan introver sepertiku sehingga merasa tertarik.
Benar, kan? Jika aku
memikirkannya seperti itu, aku akan menyadari bahwa Hanatsuki-san mengganggu
dan menyentuhku hanyalah sebuah kebetulan. Dia hanya penasaran karena menemukan
sesuatu yang sama sekali berbeda, seperti orang penyendiri yang introver sepertiku.
Dengan kata lain, dia hanya merasa senang dan tertarik pada hewan langka yang
ditemukannya di kebun binatang. Sekarang, dia tertarik karena kami berada di
kelas yang sama, sehingga rasa penasarannya mencapai puncak, tetapi kemudian
dia akan merasa bosan dan tidak akan menggangguku lagi.
Karena kami hidup di
dunia yang berbeda sejak awal. Aku juga tidak pernah berpikir bahwa hubungan
kami akan menjadi lebih dalam, melainkan ini hanyalah sesuatu yang bersifat
sementara.
***
Menurutku, segalanya
berjalan sesuai dengan apa yang kubayangkan. Gangguan dan lelucon yang biasanya
dilakukan Hanatsuki-san kepadaku perlahan-lahan berkurang. Kalau diingat-ingat
kembali, itu dimulai setelah hari di mana kami membicarakan status hubungannya.
Pertama, jam istirahat, di
mana aku sering diganggu olehnya, menjadi lebih tenang. Dia masih membuat
keributan di sekitarku, tetapi tidak ada kontak denganku, jadi lebih mudah
bagiku untuk berpura-pura tidur. Selain itu, ketika dia melewatiniku di gedung
sekolah, dia biasanya memanggilku, tetapi itu juga berhenti. Dia hanya berjalan
melewatiniku secara diam-diam seolah-olah dia tidak peduli padaku.
““............””
Gangguan itu memang
mereda, tetapi anehnya, hal itu juga membuatku merasa sedikit kesepian.
Meskipun tidak memberi banyak dampak karena hal inilah yang kuharapkan. Aku
merasa cukup senang karena tidak terlihat mencolok lagi dan tidak lagi
mendapatkan tatapan tajam dari cowok-cowok itu.
Namun, seperti biasa,
ketika kamu tiba-tiba tidak lagi diganggu oleh orang lain, bahkan seorang
penyendiri yang introver sepertiku pun tak terhindarkan akan merasa penasaran—
"Aku ingin makan
parfait di sana!", "Makanannya porsinya besar, nanti kamu bisa gemuk,
tahu?", "Nggak bakal seburuk itu kalau kita berbagi dengan beberapa
orang, kan?", "Kalau begitu, ayo kita beli lain kali."
Saat jam istirahat, aku
duduk di mejaku seperti biasa dan melirik ke arah kelompok gyaru yang sedang
asyik membicarakan makanan.
"----"
Kemudian mataku tiba-tiba
tertuju pada gyaru populer yang ada di kelompok mereka. Seketika itu juga, aku
merasa dia memalingkan pandangannya dariku. Ya, aku mengerti, dan itu adalah
hal yang wajar. Pada akhirnya, aku menyadari bahwa aku memiliki kemampuan yang
dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman di sekitarku, tetapi sebelum aku
menyadarinya, gyaru yang sebelumnya penasaran itu sekarang membenciku. Aku bisa
membayangkan banyak alasan untuk hal ini.
"Tapi, sejak
awal—"
Memang tidak menyenangkan
bagi seorang ekstrover untuk berinteraksi dengan seorang introver, jadi
perilaku yang dia tunjukkan sebelumnya adalah hal yang tidak normal.
Tidak apa-apa, semuanya
sudah kembali normal. Seperti yang kuduga dan apa yang kuharapkan.
Faktanya, aku tidak merasa kesal sedikit pun.
"Haaa~"
Tidak, maaf,
sebenarnya rasanya memang sedikit menyebalkan. Aku biasanya tidak terlibat
dengan orang lain, jadi sudah agak lama sejak seseorang secara jelas menjauhkan
diri dariku. Pada dasarnya, aku hanya bisa menganggap apa yang terjadi
sebelumnya hanyalah sebuah mimpi. Sebuah mimpi di mana aku diganggu oleh gyaru
yang populer. Sekali lagi, mimpi ini penuh dengan delusi seorang otaku. Tapi
tetap saja, itu adalah mimpi yang indah.
““............””
Karena mimpinya sudah
berakhir, mulai sekarang aku akan kembali ke kehidupanku seperti sebelumnya,
menjadi seorang otaku introver yang tidak diganggu oleh siapa pun. Ini sedikit
menyedihkan, tapi memang begitulah yang seharusnya. Lagipula, gyaru itu tidak
akan pernah menggangguku lagi. Selamat datang kembali, kehidupan introverku.
—Pikirku, atau memang
begitulah yang seharusnya terjadi!!!
2
Hari itu, aku menjalani
hari yang super malas. Sampai-sampai orang tuaku berteriak, "Mau sampai
kapan kamu terus-terusan di atas kasur!". Aku bangun sebelum tengah hari,
menonton anime terbaru di situs video resmi, dan memaksa diriku memainkan berbagai
macam gim. Belajar? Yah, nanti saja. Liburan paling pas dihabiskan di dalam
rumah. Beda halnya dengan orang-orang ekstrover yang katanya menghabiskan waktu
liburan dengan bermain di luar—hal yang menurutku sama sekali tidak masuk akal.
"Oke, akhirnya aku
mengalahkannya!" Aku berhasil mengalahkan bos gim yang membosankan itu,
melepas headphone, lalu berbaring.
"Hei, Shuuji!"
Seketika, terdengar suara gaduh dari luar kamar, dan tanpa menunggu jawabanku,
ibuku langsung masuk.
"Hei, jangan asal
masuk ke sini!"
Bagaimana kalau dia masuk
saat aku sedang melihat sesuatu yang memalukan?
"Ibu sudah
memanggilmu ratusan kali. Kamu sendiri yang salah karena tidak menjawab,"
Ibu malah menyalahkanku.
Sikapnya yang tidak
rasional ini sudah menjadi hal biasa, tetapi penampilannya kali ini agak aneh,
yang membuatku memiringkan kepala dan bertanya,
"Ibu, ada apa?"
Rambut panjangnya tertata
rapi dan diatur seolah-olah dia baru saja pergi ke salon, makeup-nya luar biasa
bagus, dan dia mengenakan pakaian modis seakan-akan hendak pergi jalan-jalan.
"Ibu mau pergi ke
suatu tempat?" tanyaku lagi.
"Sini sebentar."
Dia tidak menjawab
pertanyaanku, melainkan memberi isyarat dengan wajahnya yang serius.
"Apa? Makan malam
sudah siap? Atau kita mau makan di luar?"
Aku melihat jam tanganku,
masih terlalu awal untuk makan malam, tapi—
"Bukan itu.
Cepatlah."
"Eh, apa?"
Karena atmosfer yang
serius, aku hanya bisa menurut dan meninggalkan kamar. Ketika aku turun ke
ruang tamu, aku menemukan ayahku sedang duduk di meja dengan raut wajah cemas
dan tangan bersedekap. Dia selalu berpakaian kasual saat hari libur, tetapi
sekarang dia berpakaian sangat rapi hingga terlihat seperti hendak pergi
bekerja.
"Shuuji, duduk di
situ."
Ayah memintaku duduk di
kursi yang berseberangan dengannya. Sementara Ibu, dia duduk di samping Ayah,
dan untuk sesaat, mereka berdua menatapku dengan ekspresi serius.
"Apakah aku...
melakukan kesalahan?"
Suasananya sungguh tidak
nyaman, seolah-olah aku sedang diomeli. Aku memutar otak untuk mengingat apakah
aku telah melakukan kesalahan, tetapi aku bingung karena begitu banyak hal yang
memenuhi pikiranku. Namun, aku yakin tidak melakukan apa pun yang bisa menjadi
alasan kuat untuk diomeli seperti ini. Seharusnya... begitu, kan?
"Shuuji, ada yang
perlu Ayah sampaikan padamu."
"Hei, ada apa, Yah?
Apa yang terjadi?"
Menurutku, ini adalah hal
yang sangat serius sampai-sampai Ibu dan Ayah belat-belatin berpakaian rapi
hanya untuk berbicara denganku. Serius, aku bingung. Aku tidak bisa menebak
pikiran mereka!
"Sebenarnya,
Shuuji—"
Tepat ketika aku merasa
tidak enak dengan apa yang akan dikatakannya, Ayah berdeham dan berkata,
"Kamu punya
tunangan."
"Eh?"
Punya tunangan?
Butuh waktu sejenak bagiku
untuk memahami maksudnya karena ada beberapa kata yang terasa asing bagiku. Aku
berusaha mencerna kata-kata itu, tetapi pikiranku tidak mampu mengejar makna
mengejutkan yang terkandung di dalamnya. Saat aku tetap diam, Ayah kembali
berkata padaku,
"Shuuji, kamu sudah
punya tunangan."
"Tunangan... Aku
punya tunangan? Tunangan!?"
Tidak, tunggu
sebentar. Tenang dulu!
Pertama-tama, apa arti
dari kata 'tunangan'? Apakah ada hubungannya dengan ochazuke (nasi yang disiram
air teh) atau fukujinzuke (acar potongan sayuran)? Tidak, tidak, tidak ada
hubungannya dengan konteks itu! Yah, kalau tidak salah ingat, 'tunangan' adalah
pasangan menikah yang sudah dipilih oleh orang tua, sama seperti calon istri,
kan?
"Apakah tunangan ini
benar-benar... untukku?"
"Benar
sekali," Ayah dan Ibu mengangguk serius.
Sepertinya hal ini
memang... nyata. Namun, 'tunangan' adalah kata yang belakangan ini hanya
kulihat di manga, anime, atau karya fiksi lainnya. Aku punya seorang
'tunangan'? Hal semacam itu? Aku masih belum memahami kata-kata itu, tetapi
ayahku menjelaskannya seolah-olah sedang mengenang masa lalu.
"Ayah dan Ibu
berteman baik dengan orang tua dari pihak sebelah, dan dulu kami pernah
membahas pernikahan anak-anak kami. Atas permintaan pihak sebelah, jika Shuuji
memiliki pacar, kedua belah pihak akan membatalkan pertunangan ini..."
Seolah melanjutkan
rentetan kata-kata ayahku, ibuku berkata dengan ekspresi menyesal,
"Seperti kata
'Koibito' tanpa 'Ko', tidak ada harapan jika hidupmu hanya bisa tersenyum pada
gadis-gadis dua dimensi sepanjang hari. Ibu bertaruh padamu, Shuuji, kamu tidak
akan pernah bisa mendapatkan pacar."
"Tidak, tidak,
ini adalah kata-kata dari orang tua kandung sendiri!"
Sakit rasanya, tapi itu
memang kenyataan! Namun, setelah pahitnya kenyataan menghantamku, aku akhirnya
tersadar dari rasa terkejut masalah pertunangan ini. Di depanku, ayahku
menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan ibuku,
"Karena itulah—"
dia melanjutkan,
"Kami telah berbicara
dengan pihak keluarga sebelah dan telah memutuskan untuk melanjutkan
pertunangan ini."
"Tapi kamu perlu
tahu, ini bukan berarti kami tiba-tiba mulai membicarakan tentang
tunanganmu."
Dari sudut pandang mereka,
ini terdengar seperti diskusi yang sudah berlangsung lama, tetapi dari sudut
pandangku, ini muncul secara tiba-tiba dari mana saja. Saat aku menggaruk
kepalaku dalam kebingungan dan keraguan, ayahku mengatakan sesuatu yang makin
mengejutkanku,
"Lagipula, tunanganmu
akan datang menemui kita hari ini, jadi lebih baik kamu bersiap-siap untuk
menyambutnya."
"Eeeeeh!? Ke sini!?
Serius!?"
Bukannya aku tidak siap,
hanya saja semuanya terjadi begitu mendadak hingga aku tidak sanggup
mengejarnya!
"Ini terlalu
mendadak!"
Ibu menghela napas saat
berbicara kepadaku yang sedang panik,
"Kalau Ibu
memberitahumu terlebih dahulu, kamu pasti akan membuat alasan untuk menolak
atau melarikan diri."
"Yah, itu mungkin ada
benarnya! Tapi apa yang harus kulakukan hari ini!?"
"Jangan plin-plan,
temui saja dia untuk saat ini."
"Tidak, dari mana
datangnya kata "temui saja dia" itu!"
Aku tidak tahu bagaimana
cara menyapa dirinya! Aku bahkan tidak tahu apakah bisa berbicara dengannya
secara benar! Maksudku, gadis seperti apa yang akan datang? Apakah aku sedang
bermimpi? Aku mencubit pipiku, tetapi rasa sakitnya tetap sama. Atau apakah ini
sebuah kerjain? Namun, ketika aku melihat sekeliling ruangan, tidak ada kamera
tersembunyi.
"Ayo, cepat
bersiap-siap!" Ayah dan Ibu berdiri lalu melihat ke arah jam.
Aku menatap mereka lagi
dan akhirnya paham setelah sekian lama waktu berlalu.
"Apakah karena itu
Ibu dan Ayah berpakaian sangat rapi hari ini?"
"Benar sekali.
Shuuji, kamu juga harus berganti pakaian dan membersihkan diri. Pakaianmu
bau."
Satu lagi kata-kata yang
menyakitkan. Kemudian Ibu dan Ayah mulai merapikan ruang tamu dan menyiapkan
makanan untuk menyambut calon menantu mereka. Saat mereka sibuk, aku mulai
menyadari bahwa perihal tunangan dan fakta bahwa dia akan datang menemuiku hari
ini adalah hal yang nyata dan benar adanya.
"Tunangan,
ya..."
Seorang introver
sepertiku memiliki seorang tunangan? Gadis seperti apa dia? Semakin aku
memikirkannya, jantungku makin berdebar kencang karena gugup dan keringat
dingin mulai bercucuran.
"U-Untuk saat ini,
aku harus ganti baju! Tidak, mungkin aku juga harus mandi."
Perasaan cemas,
penasaran, dan gugup. Dengan begitu banyak hal yang berputar-putar di kepala,
aku berlari ke kamar mandi dan memutuskan untuk menyegarkan penampilanku yang
masih sama seperti saat baru bangun tidur.
***
Sudah hampir waktunya
tunanganku tiba.
"Huuu...
haaa..."
Apakah aku pernah merasa
se-gugup ini sepanjang hidupku? Tidak, tidak pernah. Apakah aku pernah merasa
se-tertekan ini sepanjang hidupku? Sama sekali tidak pernah. Beberapa menit
yang lalu, hari Minggu ini adalah hari yang normal, tetapi dalam waktu sesingkat
itu, segalanya berubah drastis. Aku duduk di kursi ruang tamu dan menunggu dengan
gelisah.
"Lagipula..."
Gadis seperti apa
tunanganku nanti? Tentu saja aku akan bertanya-tanya tentang hal itu.
"Hmm~ dia
pasti—"
Tunanganku pastilah
seorang gadis lugu dan introver sepertiku? Mungkinkah seorang gadis yang suka
berolahraga? Atau bagaimana kalau dia
adalah anak nakal yang sangat menakutkan? Pertama-tama, usianya belum tentu
sama denganku, dia bisa saja lebih tua atau lebih muda dariku. Bahkan, ketika
aku menanyakannya kepada orang tuaku, mereka hanya bilang akan lebih menyenangkan
jika aku bertemunya sendiri nanti! Imajinasiku menjadi liar dan aku merasa
kepala ini seperti mau meledak.
"Tapi meski
begitu..."
Bahkan di tengah-tengah
semua ini, ada bagian dari pikitanku yang merasa ragu. Apakah dia tidak
keberatan menjadi tunanganku? Tidak, yang lebih penting, apakah dia sudah
menerima ide pertunangan ini? Dengan kata lain, pertunangan ini adalah apa yang
diputuskan oleh orang tua kami, tetapi apakah dia menyetujuinya?
Aku hanya diberitahu
secara tiba-tiba dan hanya bisa mengikuti arus, tetapi aku berpikir bahwa pihak
sebelah sudah diberitahu terlebih dahulu, dan aku penasaran bagaimana
perasaannya saat datang ke sini. Di sisi lain, aku penasaran apakah dia akan
berkata, "Aku tidak sanggup!" saat kami bertemu nanti. Jujur saja,
aku takut dia akan berkata seperti itu.
"Hah..."
Aku terus memikirkan hal
yang berputar-putar itu dan tidak bisa menghentikan rasa takutku. Kemudian,
ketika menginjak putaran keempat dari kecemasanku yang panjang,
akhirnya—ding-dong! Interkom berbunyi.
"----!"
Aku tersentak dengan kaki
bergoyang seperti hewan yang baru lahir dan mencoba langsung pergi ke pintu
depan, tetapi diriku yang gemetaran membuat Ayah dan Ibu cemas, jadi mereka
menyuruhku tetap di tempat dan menunggu.
"Duh cantiknya, kamu sudah besar ya! Kamu datang
sendirian?", "Ayo masuk, masuk, jangan sungkan-sungkan."
Terdengar suara bising
dari Ibu dan Ayah yang menyambutnya di pintu depan. Sampar menyatu dengan
mereka, terdengar suara samar yang kupikir adalah suara tunanganku. Aku tidak
bisa mendengarnya dengan jelas dari sini, tetapi itu sudah cukup untuk membuatku
menyadari keberadaannya. Jantungku berdetak sangat kencang karena gugup.
"““............””!"
Suara langkah kaki tiga orang itu terdengar mendekat ke arahku.
Gadis seperti apa
tunanganku itu?
"Huuuu...
haaa..."
Pokoknya, tenanglah! Coba
hentikan gemetaran ini!
Tepat saat aku menarik
napas dalam-dalam dan berdiri tegap, pintu ruang tamu terbuka di hadapanku.
"Permisi, maaf
mengganggu—" sebuah suara yang santai dan ceria terdengar.
Orang tuaku membimbingnya
masuk ke ruang tamu, dan gadis yang akan menjadi tunanganku memasuki ruangan.
Dia adalah—
"Nn, n?"
Aku tidak bisa mempercayai
mataku dan menguceknya. Karena gadis yang diperkenalkan sebagai tunanganku
ini—atau lebih tepatnya, adalah seseorang yang sangat kukenal sebelumnya.
"Senang bertemu
denganmu—" gadis yang menjadi tunanganku tersenyum dan menyapaku.
Rambutnya yang cerah
dan melambai bersinar lembut di bawah cahaya lampu ruang tamu. Kulitnya yang
putih, matanya yang lebar, dan hidungnya yang mancung. Kemudian ada
jari-jarinya yang ramping dan terawat dengan baik. Pakaiannya memang tidak
mencolok, tetapi seluruh tubuhnya dipenuhi dengan keanggunan yang tak
tertahankan hingga membuatku sangat kagum.
"—Aku Hanatsuki
Miran," lanjutnya.
Ya. Sosok di depanku
hari ini adalah kasta tertinggi di sekolah, yaitu gadis ekstrover paling
populer di sekolah. Gadis yang biasanya bersenda gurau dan berbicara denganku
saat di sekolah—sang gyaru, Hanatsuki-san!
"----" dampaknya terlalu kuat untuk bisa diterima oleh otakku.
Aku tertegun tanpa bisa
berkata-kata dengan mulut melotot tak percaya. Kenapa Hanatsuki-san bisa ada di
sini? Padahal aku sedang menunggu tunanganku dan ingin menyapanya, tahu? Apa
maksudnya dengan Hanatsuki-san lah yang menjadi tunanganku? Tidak, tidak,
bukankah itu salah?
"Emm—" Pikiranku
benar-benar kacau balau.
Kemudian ibuku
menyenggolku dengan sikunya dan berkata, "Ayo, sapa dia dulu."
Setelah empat kali senggolan, aku baru tersadar sepenuhnya.
"Uhm, aku Eizawa
Shuuji."
Meskipun kebingungan di
otakku masih belum terurai, aku tetap menyebutkan namaku. Rasanya sangat aneh
memperkenalkan diri pada seseorang yang sebenarnya sudah kukenal.
"Rasanya segar ya,
bisa bertemu di luar sekolah seperti ini?" Hanatsuki-san mengubah sikap
formalnya dan berbicara padaku dengan senyum cerianya yang seperti biasa. Lewat
ekspresi dan kata-kata itu, aku kembali diingatkan bahwa gadis di hadapanku ini
adalah seorang gyaru yang juga teman sekelasku.
"Di sekolah, kami
sekarang berada di kelas yang sama," Hanatsuki-san menjelaskan kepada
orang tuaku, sambil memberiku tatapan yang memintaku untuk mengiyakan. Aku,
yang masih tidak sanggup mengatasi tekanan ini, hanya bisa menganggukkan
kepala.
"Tadi Ibu sudah
dengar dari orang tuamu. Tapi Shuuji tidak merepotkanmu, kan?"
Ibu bertanya padanya
dengan raut wajah cemas, yang dijawab Hantsuki-san dengan senyuman hangat,
"Dia sama sekali
tidak merepotkanku, kok. Malah, dia memperhatikan saat aku berbicara dengannya,
dan reaksi-reaksinya juga selalu menarik."
Ini pertama kalinya dalam
hidupku ada orang yang mengatakan bahwa reaksimu menarik, tetapi aku tidak tahu
harus senang atau tidak saat mendengar kalimat ini. Lagipula, akan lebih tepat
jika dikatakan bahwa aku terpaksa meresponsnya. Meskipun akhir-akhir ini kami memang menjaga jarak.
"““............””?"
Benar juga. Tanpa
sepengetahuan diriku, Hanatsuki-san sempat tampak membenciku dan aku harus
menjaga jarak darinya. Jadi, kenapa sekarang dia berdiri di depanku sebagai
tunanganku?
Mengingat kembali perilaku
Hanatsuki-san belakangan ini, aku merasa semakin bingung dengan situasinya.
Namun, aku tidak memiliki keberanian untuk menyuarakan keraguan dan pemikiranku
di sini. Saat ini, aku hanya bisa menyaksikan percakapan antara gyaru di
kelasku dan orang tuaku seolah-olah aku sedang melamun.
"Ibu tidak mau
ngobrol sambil berdiri, jadi silakan duduk. Shuuji, kamu jangan cuma berdiri di
situ, duduk juga."
Saat orang tuaku
menyambutnya, kami berdua duduk berhadapan. Ketika mataku bertatapan dengannya,
jantungku mulai berdebar kencang, jadi aku memalingkan wajahku.
"Ibu buatkan teh dulu
ya...", "Ayah akan telepon orang tuamu...."
Hah? Apakah kalian berdua
bakal meninggalkan kami berdua sekarang? Terlepas dari rasa takutku, Ayah dan
Ibu justru sengaja meninggalkan ruang tamu....
““............””
Keheningan yang canggung
menyelimuti saat aku ditinggalkan berdua saja dengan Hanatsuki-san.
““............””
Aku bertanya-tanya apakah
harus mengatakan sesuatu, tetapi aku tidak bisa memikirkan satu pun hal yang
pantas untuk diucapkan. Ketika aku menyadari bahwa dia adalah tunanganku, aku
menjadi sedikit malu dan tidak sanggup menatap wajahnya. Dalam keheningan itu,
saat aku berjuang memikirkan apa yang harus dilakukan—
"Hei, hei..."
katanya dengan nada yang sama seperti saat dia berbicara padaku di sekolah.
"Kamu sudah dengar
tentang pertunangan kita?"
"Uh, y-ya..."
Aku menganggukkan kepala, menghindari kontak mata. Aku mungkin adalah pihak
yang paling gugup saat ini.
"Uhm, maaf ya."
"......?"
Permintaan maaf
Hanatsuki-san terlontar dengan serta-merta. Aku yang tadinya gemetaran karena
gugup dan malu, menjadi sedikit lebih tenang saat wajahnya juga menunjukkan
perasaan tidak nyaman.
"K-Kenapa minta
maaf?"
Aku memiringkan kepala,
tidak tahu untuk apa dia meminta maaf, dan Hanatsuki-san membuka mulutnya
sambil sedikit menunduk.
"Maksudku, belakangan
ini kita agak menjauh satu sama lain saat di sekolah..."
Hari-hari itu, aku tidak
lagi berinteraksi dengannya saat jam istirahat, tidak juga dihampiri saat kami
berpapasan, dan jika mata kami bertatapan, dia akan langsung memalingkan
wajahnya. Aku merasa seolah-olah kami sedang menjaga jarak—meskipun aku baru menyadari
belakangan bahwa hal itulah yang sebenarnya dimaksud oleh Hanatsuki-san.
"Bagaimana ya
ngomongnya... Umm... Aku malu... waktu sadar kalau aku ini tunanganmu,
tahu?"
Berseberangan dengan
penampilannya yang biasanya ceria, pipi Hanatsuki-san merona karena malu, dan
ekspresinya juga tampak gelisah. Sementara aku terkejut dengan penampilannya
itu, aku mengangguk dalam hati sambil berkata, "Begitu ya". Jadi, fenomena
rasa gugup dan malu yang baru saja kurasakan ternyata terjadi pada
Hanatsuki-san juga. Apakah itu berarti dia sudah tahu tentang pertunangan ini
sejak saat itu?
"Bukannya aku
membencimu lalu menjauhimu! Tapi, maaf ya..."
Ingatan tentang perasaan
dibenci dan tertekan langsung sirna dari pikiranku. Aku segera melambaikan
tangan kepada Hanatsuki-san yang merasa bersalah.
"Aku sama sekali
tidak keberatan, kok! Tidak apa-apa," jawabku.
"Makasih! Tapi agak
aneh ya, kamu kelihatan tidak peduli sama sekali," katanya dengan senyum
pahit.
Aku tidak tahu kenapa dia
tersenyum seperti itu, tapi sekarang aku hanya mengikuti suasana dan ikut
tersenyum.
"Reaksimu yang ini
lucu banget, tahu?" lalu Hanatsuki-san kembali tersenyum seperti biasanya.
Tepat saat kupikir dia
akan tertawa sejenak—dia tiba-tiba tersenyum padaku dengan ekspresi malu yang
berbeda dan berkata,
"Mulai sekarang, aku
akan mengandalkanmu sebagai tunanganku, Shuuji."
Jantungku berdegup
kencang. Biasanya aku selalu memalingkan wajah darinya, tapi kali ini, aku
tidak bisa berpaling dari senyuman gadis ini. Tidak, aku tidak ingin
melewatkannya. Menurutku, dia jauh lebih memikat daripada ilustrasi gadis
cantik 2D mana pun yang pernah kulihat.
"----"
Hanatsuki Miran, gadis
ekstrover populer yang juga seorang gyaru di kelasku... adalah tunanganku. Aku
masih sedikit bingung. Aku sebenarnya tidak cocok dengan orang-orang ekstrover
dan gyaru... tapi karena kecantikannya, ada bagian dari diriku yang jujur saja
memikirkannya dengan senang. Perasaanku campur aduk, dan aku belum bisa
merapikan apa yang ada di dalam kepala dan hatiku.
"A-Aku juga mohon
bantuannya..."
Dengan ragu-ragu, aku
menundukkan kepala dan menjawabnya dengan beberapa patah kata. Untuk saat ini,
aku memutuskan untuk menerima situasi ini.
"Entah kenapa, ini
bikin aku deg-degan banget."
Saat melihat Hanatsuki-san
tersenyum, aku merasa malu dan menggaruk kepalaku. Ngomong-ngomong, saat
menerima kejadian di depanku ini, aku berpikir sejenak dan menyadari sesuatu,
Apakah Hanatsuki-san tidak
keberatan memiliki tunangan yang introver sepertiku?
Dari kata-kata dan
tindakannya sejauh ini, sepertinya dia telah menerima ide pertunangan ini,
tetapi Hanatsuki-san memiliki banyak pilihan. Jika dia mau, dia bisa memiliki
masa depan dengan banyak pria yang jauh lebih baik daripada diriku. Bahkan jika
ini adalah pertunangan yang diputuskan oleh orang tua kami, apakah dia
benar-benar tidak keberatan bertunangan dengan pria introver dan otaku
sepertiku?
"Ada apa?"
"N-Tidak,
umm..."
Perasaan ragu
menyelimutiku saat aku mencoba bertanya padanya. Mata Hanatsuki-san begitu
jernih tanpa ada keraguan sedikit pun, membuatku ragu untuk menanyakan
pertanyaan yang begitu kelam dan picik itu.
"Maaf ya sudah
membuat kalian menunggu..." Kemudian, entah ini waktu yang tepat atau
bukan, orang tuaku kembali ke ruang tamu—dan pada akhirnya aku tidak sempat
menanyakan pertanyaan itu.
***
Setelah itu, kami berempat
makan malam bersama Hanatsuki-san, tetapi aku tidak banyak berpartisipasi dalam
percakapan karena rasa gugupku. Seperti yang kuduga, Hanatsuki-san benar-benar
seorang ekstrover, yang bisa dilihat dari betapa bahagianya dan terbukanya dia
saat berbicara dengan orang tuaku dari awal hingga akhir.
Lalu, seiring malam yang
makin larut, orang tua Hanatsuki-san datang untuk menjemputnya. Aku menyapa
mereka di pintu depan, tetapi aku sangat gugup hingga tidak ingat sama sekali
apa yang kuucapkan. Satu-satunya hal yang kuingat dengan jelas adalah bahwa
orang tua Hanatsuki-san adalah pria dan wanita yang sangat menawan, berbeda
dengan orang tuaku. Orang tua kami berdua tampaknya sangat akrab satu sama
lain, dan mereka mengobrol cukup lama di depan pintu.
"Kalau begitu, sampai
bertemu di sekolah besok—" katanya.
"Y-ya. Hati-hati di
jalan," jawabku.
Aku keluar dari pintu
depan dan melihat Hanatsuki-san masuk ke dalam mobil orang tuanya. Aku menunggu
sampai mobil itu menghilang dari pandanganku, lalu masuk ke dalam rumah,
melakukan percakapan seadanya dengan orang tuaku, dan kembali ke kamarku.
"Capeknya..."
Aku merebahkan diri di
atas kasur. Seiring dengan menghilangnya rasa tegang, perasaan lelah
menyelimutiku. Hanya dalam waktu setengah hari, kehidupan bisa berubah menjadi
seperti ini. Mentalitasku yang rentan menjerit melihat kecepatan peristiwa dan
besarnya perubahan yang terjadi. Ada banyak hal yang harus dipikirkan, tetapi
rasa kantuk sudah mengambil alih.
"Akan kuurus semuanya besok—"


Post a Comment