Chapter 5
Rumor
“Atmosfernya terasa...
aneh dan menegangkan.”
Dengan berakhirnya
festival olahraga, suasana di sekitar sekolah telah kembali ke ritme santainya
yang biasa.
Masih terlalu dini
bagi anak-anak kelas tiga untuk menyelam secara serius ke dalam persiapan
ujian, dan tidak ada lagi acara besar sekolah yang tersisa sebelum akhir tahun.
Dalam kehidupan
pribadiku juga, satu-satunya hal besar yang bakal datang hanyalah hari ulang
tahun Miran dan Natal—tapi keduanya masih lumayan jauh.
Jadi aku pikir aku
akhirnya bisa bersantai dan telungkup di atas mejaku dengan tenang—
Tapi...
“Ah! Itu cowok yang ada di rumor itu...”
“Iya, aku pernah dengar... Maksudku, ada masuk
akalnya juga sih... Dia kan kelihatan biasa
banget…”
Ada kasak-kusuk kecil di
sekitarku.
Bahkan saat berjalan ke
sekolah saja, aku menyadari murid-murid mencuri pandang ke arahku.
Beberapa siswi bahkan
berbisik-bisik menyampaikan komentar yang jelas-jelas ditujukan padaku di
belakang punggungku.
“…?”
Aku berpura-pura tidak
mendengar sambil secara diam-diam menyimak.
Rupanya, aku telah menjadi
bahan rumor.
Dan bukan rumor yang
bagus, menilai dari bunyinya.
Bahkan setelah sampai
di sekolah, aku terus menangkap potongan-potongan percakapan berbisik.
“Dari mana rumor ini
berhembus…?”
Begitu aku paham inti
dari apa yang dibicarakan, aku menghela napas dalam-dalam.
—Rumor yang beredar
adalah bahwa Miran dan aku telah membatalkan pertunangan kami.
Rumor itu telah
menyebar begitu jauh sampai-sampai aku, orang yang terlibat langsung,
mendengarnya secara langsung.
Yang artinya hampir
semua orang di sekolah mungkin sudah mendengarnya sekarang.
Rumor itu rupanya
bermula karena orang-orang melihat Miran dan aku bersama dengan anggota lawan
jenis yang berbeda.
Dalam kasus Miran—
Dia terlihat di hari
liburnya sedang berjalan dengan seorang cowok yang gantengnya kebangetan...
Lalu masuk ke dalam
mobil cowok itu dan diantar ke suatu tempat…
Merek mengobrol dengan
hangat saat berpisah, kelihatan tidak biasa dekatnya…
Bahasa tubuh mereka begitu
alami, mereka tidak kelihatan seperti “sekadar teman”…
Dan rupanya mereka
terlihat sedang berbelanja bersama juga...
Hal-hal semacam itu.
Sedangkan untuk
kasusku—
Seseorang melihatku
berbelanja dengan seorang gadis yang tampak anggun dan tenang.
Seorang gadis yang
tidak mereka kenal, kemungkinan dari sekolah lain.
Lalu, gadis yang sama
datang untuk menyemangatiku di festival olahraga.
Merek bahkan melihat
kami berbicara dengan dekat saat makan siang—kelihatannya kami berhubungan
cukup baik.
Jadi jelas-jelas ada
sesuatu yang terjadi di antara kami—begitulah pemikirannya.
Itulah asal usul dan isi dari rumor-rumor
tersebut.
Konsensus publik sepertinya menganggap bahwa
Miran sudah muak padaku dan mencampakkanku.
Gara-gara hal itu, anak-anak ekstrovert dari
kelas lain secara santai bergosip tentangku tanpa canggung.
Normally, hal semacam ini mungkin bakal jadi
tamparan syok.
Tapi jujur saja, aku tidak begitu terganggu.
Sebagai seorang pemendam, aku sudah terbiasa
menjadi bahan bisik-bisik.
“Ini praktis tergolong
imut jika dibandingkan dengan yang biasanya.”
Tetap saja, ini
pertama kalinya aku terlibat dalam rumor tentang asmara, jadi dalam artian itu,
aku agak terkejut.
Meskipun begitu, aku tidak
punya alasan untuk panik.
Karena aku tahu persis apa
yang sebenarnya terjadi.
Cowok “ganteng
kebangetan” yang terlihat bersama Miran—
Sudah pasti adalah
sepupu sekaligus atasannya di tempat kerja paruh waktu, Hayato-san.
Kalau seseorang
menyebutnya “sangat tampan,” aku tidak bakal membantahnya.
Dia mungkin menyetir
mengantar Miran pulang setelah shift malam saat hari sudah gelap.
Adapun soal
berbelanja, itu kemungkinan besar untuk mengambil perlengkapan kerja, atau
mungkin mereka mampir ke toko kelontong dalam perjalanan pulang untuk persiapan
makan malam bersama.
Merek sudah dekat
sejak kecil. Itu sangat masuk akal.
Sedangkan untukku—
“Gadis yang tampak anggun”
itu pasti Yumeno-san.
Untuk sedetik aku sempat
berpikir mungkin itu Hikari-san, tapi itu tidak cocok dengan auranya sama
sekali, dan sudah terlalu lama sejak terakhir kali kami bertemu.
Bagian di mana
seseorang melihatku bersama seorang gadis? Itu pasti saat kami bertiga—aku,
Yuusuke, dan Yumeno-san—sedang keluar mengunjungi toko-toko anime setelah shift
kami.
Yuusuke cenderung suka
keluyuran sendiri, jadi seseorang kemungkinan cuma melihat aku dan Yumeno-san
saja bersama.
Meskipun Yuusuke
bersama kami sepanjang waktu di festival olahraga, entah kenapa rumor itu
dengan nyamannya menghapus keberadaannya dari gambaran.
Begitulah cara kerja
gosip—orang-orang memelintir hal-hal agar sesuai dengan versi yang ingin mereka
percayai.
“Semua orang mungkin
berharap Miran mencampakkanku atau semacamnya…”
Aku ingat pernah
membaca di suatu tempat bahwa rumor orang-orang selalu menyertakan sedikit
unsur “bukankah bakal seru kalau ini benar?”
“Ini cuma menunjukkan
betapa populernya Miran…”
Kepopulerannya telah
meroket setelah begitu menonjol selama menjadi tim pemandu sorak festival
olahraga.
Rupanya, dia telah
mengambil posisi nomor satu dalam jajak pendapat tidak resmi itu—“Gadis yang
Ingin Kamu Kencani” dan “Kontes Miss Sekolah.”
“Yah, bagaimanapun juga…
aku percaya pada Miran, jadi tidak ada dari semua hal ini yang benar-benar
menggangguku.”
Bahkan sekarang, saat aku
berjalan ke kelas, aku masih bisa mendengar orang-orang berbisik-bisik—tapi aku
tidak terguncang, atau terluka.
Rumor bakal mati dalam
tujuh puluh lima hari.
Yang harus kulakukan
hanyalah menyikapinya dengan tenang sampai mereda.
“……”
...Tapi Miran berbeda.
Dia populer. Dia
mungkin tidak terbiasa dibicarakan di belakang punggungnya.
Dan meskipun aku
mempercayainya, dia mungkin merasa tidak tenang tentang aku dan Yumeno-san…
Memikirkan hal itu
membuatku mulai merasa cemas.
“Aku benar-benar harus
menjelaskan rumor ini pada Miran dengan benar, supaya tidak ada kesalahpahaman
yang aneh-aneh…”
Kalau rumornya sudah
sejauh ini, maka tidak diragukan lagi kalau rumor itu sudah sampai ke
telinganya juga.
Lain kali aku bertemu
dengannya, aku harus duduk dan membicarakannya sampai tuntas.
***
Itulah yang kupikirkan,
telungkup di atas mejaku seperti biasa, menunggu Miran—
“Shuuji! Um—bisa kita
bicara!?”
Miran menerobos masuk ke
dalam kelas dan bergegas lurus menghampiriku.
“I-Iya!”
Suaranya jelas-jelas
panik.
Setelah aku meletakkan
tas, dia meraih tanganku dan praktis menyeretku keluar kelas.
Genggamannya erat—sangat
erat.
Saat kami pergi, aku
menyadari Hanako dan Azuki memperhatikan kami.
Merek berdua memasang raut
wajah serius—sesuatu yang tidak sangat sering kamu lihat.
Kami berpindah ke sudut
gedung sekolah yang tenang, jauh dari kerumunan, dan Miran angkat bicara,
kelihatan canggung.
“…Shuuji. Ada rumor
yang beredar tentang kita… Apa kamu sudah mendengarnya?”
“Iya, aku sudah
dengar… Maksudmu yang tentang kita
katanya putus, kan?”
“Yang itu…”
Bahu Miran terkulai saat
suaranya mengecil.
“Aku baru tahu karena
Hanako dan Azuki menceritakannya padaku. Itu beneran bikin aku syok…”
Dia kelihatan
benar-benar terpukul.
“Waktu aku tanya
kenapa orang-orang bilang begitu, mereka memberi tahu kalau seseorang melihatku
bersama cowok lain… Tapi itu bukan seperti itu
sama sekali!”
Kata-kata Miran keluar
dengan panik, dan aku dengan lembut mencoba menenangkannya.
“Miran, tidak apa-apa. Aku
paham kok. Cowok yang berbelanja
bersamamu, yang mengantarmu pulang—itu Hayato-san, kan?”
“I-Iya!”
Dia menghela napas
lega dan mengangguk.
“Barang-barang kami
habis di toko, jadi kami pergi beli stok tambahan setelah toko tutup… Saat itu hari sudah malam,
jadi dia mengajakku makan malam sekalian. Setelah itu, dia memberiku tumpangan
pulang…”
“Aku sudah menduga hal-hal
seperti itu.”
Semuanya persis
seperti yang kubayangkan.
“Aku sejujurnya
berpikir memang itu yang terjadi.”
“Beneran? Kamu tidak
marah padaku…?”
“Lho? Kenapa aku harus
marah?”
“Karena... aku
melakukan sesuatu yang membuat orang-orang bergosip…”
“Enggak, enggak—Miran,
kamu tidak melakukan kesalahan apa pun! Aku sama sekali tidak terganggu kok.
Aku percaya padamu.”
Miran kelihatan bingung
sejenak, tapi kemudian wajahnya berseri-seri diiringi senyuman.
“…Hehe. Begitu ya. Makasih
ya, Shuuji!”
“Iya…!”
Tapi binar bahagia itu
cuma bertahan sedetik.
Ekspresi Miran dengan
cepat berubah kembali dipenuhi rasa bersalah.
“…Tapi tetap saja, aku
beneran minta maaf. Aku sempat cemas banget kalau-kalau bikin kamu salah paham…
Aku kan tidak pernah
jadi bahan gosip seperti ini sebelumnya…”
Iya… Miran jelas-jelas
tidak terbiasa menjadi target gosip negatif.
“Miran… Kalau kamu
mendengar rumor itu, apakah itu artinya kamu juga mendengar rumor tentang
diriku?”
“Iya… Yang katanya kamu
pergi kencan sama cewek lain, kan?”
“K-kencan…!?”
Sepertinya versi yang dia
dengar jauh lebih berlebihan daripada apa yang sebenarnya kulakukan.
“…Maaf ya, Miran. Bisakah
kamu mendengarkan penjelasanku sebentar? Sama seperti kamu yang menjelaskan
semuanya padaku tadi, aku juga ingin meluruskan hal ini dengan benar.”
Miran mengangguk dengan
khidmat.
Lalu aku menjelaskan
segalanya secara hati-hati, langkah demi langkah.
Yumeno-san itu cuma rekan
kerja di Sweet Pea, tempat kerja paruh waktu kami. Cuma sesama otaku.
“Awalnya, aku sama sekali
tidak tahu kalau dia suka hal-hal begitu, tapi setelah aku membantunya saat ada
beberapa cowok yang terus-terusan menggodanya di dekat toko anime, kami jadi
makin dekat…”
Pada akhirnya, Yuusuke
ikut bergabung, dan kami bertiga mulai membiasakan diri berkunjung ke toko-toko
anime bersama sepulang kerja.
Kami bahkan membuat grup
obrolan REIN khusus untuk kami bertiga, tempat kami berbagi ulasan anime,
manga, dan game tanpa henti.
Sedangkan untuk festival
olahraga, mereka datang menyemangatiku cuma karena mereka khawatir—soalnya aku
sempat murung takut bikin kekacauan dan menonjol dalam arti yang buruk.
“Kalau kamu masih tidak
percaya padaku, aku bisa memperlihatkan riwayat obrolan REIN kami.”
“Enggak, tidak apa-apa
kok. Kamu tidak perlu sampai sejauh itu. Aku percaya padamu, Shuuji…”
Dia tersenyum lembut
padaku, dan hatiku membuncah hangat.
Aku selalu memikirkan hal
ini, tapi aku beneran beruntung punya tunangan yang begitu luar biasa.
Dan di saat yang sama, aku
benci diriku sendiri karena telah membuat gadis seindah ini merasa agak cemas
walau cuma sedikit.
“Ada hal lain yang kamu
khawatirkan? Ada yang mau kamu tanyakan?”
“Enggak, aku sudah paham!
Waktu aku dengar rumor itu, aku mikirnya kalau mengenal dirimu, itu mungkin
cuma sekadar teman. Dan sekarang setelah dengar cerita lengkapnya,
semuanya masuk akal banget. Aku bahkan melihatmu di festival olahraga—kamu kan
tidak sendirian sama dia, ada cowok lain juga bersamamu.”
“Oh, beneran?”
Aku tidak tahu kalau dia
melihat kami…
“Lihat kan? Aku tidak
khawatir sama sekali kok. Dan aku beneran maksudnya begitu.”
Dia mengatakan hal
itu—tapi kemudian ekspresinya agak sedikit redup.
“Tapi… gadis bernama
Yumeno itu… aku rasa dia mungkin…”
“…Hmm? Mungkin apa?”
“Ah, n-enggak, bukan
apa-apa! Lupakan saja!”
Sekarang aku malah jadi
makin penasaran…
Tapi dia sepertinya tidak
ingin menggalinya lebih dalam, jadi aku membiarkannya berlalu.
***
Aku tidak melakukan
kesalahan apa pun, dan kami berdua sudah meluruskan semuanya… tapi fakta bahwa
aku membuat Miran memasang wajah seperti itu tetap terasa menyakitkan.
Miran itu populer.
Normalnya, dia tidak akan dibicarakan dalam arti yang buruk kecuali ada sesuatu
yang serius terjadi.
Aku harus lebih
berhati-hati mulai sekarang…
Kalau tidak, aku cuma
bakal menyeretnya turun dengan menjadi cowok yang menyebut dirinya sebagai
tunangannya.
“Sekarang setelah tahu
cerita lengkapnya, aku merasa jauh lebih lega! Maaf ya soal tadi pagi, Shuuji.”
“Jangan dipikirkan. Aku
cuma senang kita bisa membicarakannya dengan cepat…”
“Iya. Hehe…”
Miran berseri-seri
bahagia.
Kelihatannya dia
beneran senang kami sudah berbaikan.
…Duh, dia beneran
menggemaskan banget.
Aku harus menjaga dan
menyayanginya baik-baik…
“Miraaaan, kamu sudah
selesai ngobrolnya sama pacarmu~?”
“Wah, bener-bener pasangan
dimabuk cinta~”
Tepat pada waktunya,
Hanako dan Azuki muncul, berjalan santai menghampiri seperti biasa.
“Yup! Kami sudah
membicarakan semuanya!”
“Bagus deh kalau gitu~”
“Jadi itu cuma gosip
kosong belaka, ya?”
“Tentu saja! Rumor kan
memang tidak ada gunanya.”
Kedua teman gyaru-nya
mengangguk setuju, sepenuhnya sependapat.
“Bener banget. Tapi
tetap saja—punya cerita bohong yang beredar ke mana-mana itu menyebalkan, kan?”
“Aku punya sedikit
pengaruh sama anak-anak kelas lama, jadi aku bakal kasih tahu mereka kalau
semua hal itu bohong.”
“Makasih ya! Aku harap itu
bisa bikin situasinya agak mereda…”
“Harusnya cepat kok.”
“Iya, tipe orang-orang
yang gampang tersulut sama hal-hal begitu gampang ditebak. Begitu mereka
bungkam, semuanya bakal mereda.”
Selagi percakapan
terus mengalir dengan lancar, aku ditinggalkan berdiri canggung di samping.
Catatan untuk diri
sendiri: jangan pernah melawan gyaru.
“Pacar~ Aku pikir rumor
ini bakal menguap cepat banget, jadi bertahanlah sedikit lebih lama lagi, ya?”
“Maksudku, itu kan cuma
rumor… aku sebenarnya tidak begitu terganggu kok…”
“Harusnya kamu terganggu
dong!”
Miran, secara tak terduga,
membantah apa yang kuucapkan.
“Aku benci melihat
orang-orang bicara buruk tentangmu! Kamu kan bukan tipe orang seperti yang
mereka katakan, Shuuji!”
…Tunggu, jadi Hanako
dan Azuki membantuku demi diriku juga?
Selagi aku berdiri
terpana di sana, duo gyaru itu memamerkan cengiran.
“Oooh, lihat kalian
berdua~”
“Mesra banget sih jadi
pasangan~”
Miran dan aku seketika
berubah merah padam.
…Tapi jujur saja, aku
beneran bahagia.
***
Beberapa hari berlalu
sejak Miran dan aku saling menjelaskan segalanya dan membuat rencana untuk
menangani rumor tersebut.
Biasanya, kalau menyangkut
orang pemendam sepertiku, rumor dan hinaan cenderung menempel bagaikan noda
permanen.
Ini adalah kebenaran yang
terdokumentasi dengan baik dari pengalaman hidup seorang Eizawa Shuuji.
Tapi Miran, sang ratu
kasta sekolah dan kesayangan semua orang, membuat rumor tentang dirinya padam
dalam sekejap—mungkin berkat kedua teman gyaru-nya.
Spesifiknya, dalam waktu
sekitar tiga hari, tidak ada lagi orang yang membicarakan rumor tersebut.
Kalau cuma sebatas itu,
aku bakal sekadar bilang, “Yup, Miran memang luar biasa,” lalu
melanjutkannya—tapi kali ini berbeda.
Luar biasanya, bahkan
pembicaraan negatif tentang diriku pun lenyap hanya dalam waktu sekitar lima
hari.
Hal semacam itu tidak
pernah terjadi sebelumnya di sepanjang kehidupan sekolahku yang suram.
“…Kekuatan para gyaru
beneran ada di tingkat yang berbeda.”
Aku beneran harus
berterima kasih pada Hanako dan Azuki.
Tentu saja, aku juga
tidak boleh lupa mengapresiasi Miran sendiri—kepopulerannya dan, yang lebih
penting, kepribadiannya yang sungguh-sungguh baik.
Dan aku harus lebih
berhati-hati.
Aku tidak ingin
membuat Miran merasa cemas atau ragu lagi.
Mengingat kembali…
kejadiannya agak mirip saat festival budaya dulu, waktu masalah dengan Hikari
terjadi… Aku beneran harus lebih berhati-hati…
Spesifiknya, aku harus
menghindari berduaan saja dengan gadis mana pun—gadis mana pun selain Miran,
terutama yang seperti Yumeno-san.
Aku kurang
berhati-hati sebelumnya…
“Kalau aku terus
waspada, maka orang sepertiku—seorang pemendam—tidak bakal terlibat dalam rumor
aneh lagi…”
Selama aku
berhati-hati, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Secara diam-diam, aku
memantapkan hati dengan tekad yang terbarui.
***
Tapi berlawanan dengan
ekspektasiku, hal-hal sekali lagi mengambil belokan yang tak terduga.
***
“Ah, Shuuji-san! Aku
sudah menonton anime yang kamu rekomendasikan kemarin lho!”
Suatu sore sepulang
sekolah.
Seperti biasa, aku
sedang menjalani shift kerja di Sweet Pea.
Saat aku sedang
istirahat, Yumeno-san, yang juga sedang istirahat di saat yang sama,
menghampiriku dengan bersemangat.
Hal semacam ini makin
sering terjadi belakangan ini.
Meskipun aku sudah
berusaha keras menghindari salah paham saat bicara dengan gadis selain Miran,
Yumeno-san terus mencoba melakukan percakapan empat mata denganku.
Dia bahkan mulai lebih
sering mengajakku bicara saat jam kerja.
Cuma hal-hal
kecil—seperti:
“Shuuji-san, kamu
membersihkan meja dengan rapi banget ya!”
Atau,
“Kamu selalu tersenyum
saat bicara dengan pelanggan. Itu bagus banget.”
Dia memujiku atas
semua hal-hal kecil ini.
Dan meskipun
mendapatkan pujian seharusnya membuatku senang, aku tidak terbiasa diperlakukan
seperti itu, jadi jujur saja, aku agak salah tingkah.
Tetap saja, Yumeno-san
telah menjadi bantuan besar di tempat kerja.
Aku tidak bisa
mengabaikannya begitu saja, dan akulah yang merekomendasikan anime itu padanya…
jadi aku mendengarkan apa yang dia katakan.
“Kamu benar banget, aku
tidak bisa berhenti memikirkan apa yang bakal terjadi selanjutnya!”
“Yah, ini kan baru saja
mulai. Hal-hal bakal jadi jauh lebih gila lagi setelah ini.”
“Beneran!?”
Malam itu, setelah
percakapan kecil kami di ruang staf.
Dengan PR dan persiapan
untuk esok hari yang sudah selesai, aku memasuki waktu bebas keramatku—jam-jam
otaku utama.
Sebuah pesan masuk ke grup
obrolan REIN kami, di mana Yuusuke juga menjadi anggotanya.
‘Shuuji-san! Aku mau ngomongin soal itu!
Pikiranku! Perasaanku!!’
Lalu, sebelum aku sempat membalas, Yumeno-san
mengirimiku pesan terpisah—pesan pribadi empat mata lewat REIN.
‘Maaf ya! Grup obrolannya nanti bakal banjir
pesan, dan aku tidak mau mengganggu Hanayama-san, jadi aku pikir lebih baik
kirim pesan ke kamu di sini!’
Dia meluncurkan dinding teks raksasa yang
dipenuhi dengan pemikiran penuh gairah—sesuatu yang hanya bisa dihasilkan oleh
seorang otaku.
Bersamaan dengan rasa sukanya pada acara
tersebut, dia juga menuliskan betapa berterima kasihnya dia karena aku sudah
memperkenalkannya pada serial yang luar biasa itu.
‘Senang mendengarnya
kalau kamu menikmatinya! Aku tahu itu bakal jadi rekomendasi yang bagus (^^)/’
Balasan itu jujur.
Sebagai orang yang menyebarkan ajaran, aku merasa bangga dia menyukainya.
Tapi tetap saja… rasa
bersalah terhadap Miran menggantung padaku bagaikan kabut.
‘Apa kamu punya
rekomendasi lain? Aku mau menonton semua yang kamu sarankan, Shuuji-san!’
Tapi jujur saja, aku bisa
memahami kegembiraannya sebagai sesama otaku.
Sambil memastikan tidak
melewati batas apa pun, aku terus mengobrol dengan Yumeno-san—sebagai rekan
kerja sekaligus teman anime.
***
Hari yang lain.
“Kerja bagus hari ini,
Shuuji-san~”
Setelah shift
kami di Sweet Pea, aku berakhir bersama Yumeno-san lagi di ruang staf.
Seperti biasa, obrolan
santai tentang anime dimulai.
Bahkan setelah kami
meninggalkan toko, dia terus bicara padaku.
“Kalau kamu luang, mau
pergi ke toko anime bersamaku?”
“Lho? Sekarang?”
Aku pernah pergi ke toko
anime sepulang kerja sebelumnya, tapi selalu bersama Yuusuke.
Ini pertama kalinya aku
diajak pergi berdua saja.
“Ada barang pesanan yang
harus kuambil… dan, yah, setelah kejadian kemarin, aku merasa gugup kalau ada
orang asing yang mencoba mengajakku bicara. Aku merasa lebih aman kalau kamu
ikut…”
“Oh, begitu ya…”
Yumeno-san memegang
pipinya dengan satu tangan dan menatap lurus ke arahku.
Hari sudah mulai
gelap—sangat masuk akal kalau dia merasa tidak tenang pergi sendirian.
Normally, ini bakal jadi
keputusan tanpa ragu—aku bakal ikut dengannya—tapi… aku sudah memantapkan
hatiku.
“Maaf ya. Aku memang tidak
punya rencana setelah ini, tapi… pergi berduaan saja denganmu… ada seseorang
yang tidak ingin kubuat khawatir.”
Bakal keren banget kalau
aku bisa langsung bilang secara gamblang, Aku punya pacar, jadi aku tidak bisa berduaan
saja dengan gadis lain.
Tapi itu terasa terlalu
memalukan… jadi aku cuma memberi petunjuk samar tentang seseorang yang penting.
Tetap saja, sepertinya
pesannya sampai padanya.
Dengan ekspresi terkejut,
alis Yumeno-san terkulai membentuk raut rasa bersalah.
“Maafkan aku karena
meminta sesuatu yang tidak masuk akal!”
“Enggak, sama sekali
enggak… harusnya aku yang minta maaf…”
“Tidak apa-apa kok! Aku
bakal mengambilnya dari toko besok saja!”
Dia tersenyum, tampak
menerimanya.
“…Kamu beneran mengagumkan
ya, Shuuji-san.”
“Eh?”
Aku tidak merasa melakukan
sesuatu yang patut dipuji, tapi dia tetap memujiku.
Aku agak dibuat kaget saat
Yumeno-san terkikik pelan.
Meskipun… rasanya seperti
ada jejak kesedihan di dalam senyuman itu.
“Ayo kita pergi ke toko
anime lain kali—bersama Hanayama-san, ya?”
“Iya, aku dengan
senang hati…!”
Kami mengobrol seperti itu
dalam perjalanan menuju stasiun.
Dan setelah kejadian itu,
Yumeno-san berhenti memintaku pergi ke mana pun berduaan saja dengannya.
Dia masih sesekali
mengirim pesan REIN pribadi, tapi secara umum tetap berada di grup obrolan
bersama Yuusuke.
Situasinya sudah seperti
itu sebelumnya, dan tetap seperti itu setelahnya.
Tidak kurang, tidak lebih.
***
Dan begitulah, hari-hari
setelah festival olahraga berlalu.
Setelah makin menguasai
pekerjaan, aku mulai secara aktif mengambil lebih banyak shift
di Sweet Pea.
Miran juga—sekarang bebas
dari beban festival olahraga—mulai mengambil beberapa shift
lebih banyak.
Dan berkat usaha
tersebut…
“…Tabunganku beneran
bertambah!!”
Di kamarku, aku
mendapati diriku bergumam pelan sambil menatap buku tabunganku.
Tabunganku telah
mencapai jumlah tertinggi sepanjang hidupku.
Karena aku mengambil
lebih banyak shift di tempat kerja, aku punya
lebih sedikit waktu untuk membeli game.
Karena aku mengambil
lebih banyak shift di tempat kerja,
penghasilanku bertambah.
Keduanya merupakan
faktor penyebab mengapa tabunganku makin menggelembung.
“Semua kerja keras itu
membuahkan hasil…”
Dengan jumlah sebanyak
ini, aku pasti bakal sanggup membelikan hadiah ulang tahun untuk Miran.
Musim sudah berubah menjadi musim dingin.
Tinggal tersisa kurang dari sebulan lagi menuju
Malam Natal—tapi aku berhasil tepat waktu.
Namun, masih ada satu
masalah besar yang tersisa.
“…Aku harus belikan
apa buat ulang tahunnya?”
Seseorang
sepertiku—seorang otaku pemendam—jelas-jelas tidak punya pengalaman membeli
hadiah untuk gadis. Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk memberi hadiah
sebelumnya, apalagi mencari tahu barang seperti apa yang pantas.
Mungkin cara tercepat
adalah langsung minta bantuan pada teman-teman gyaru-nya, tapi… sebelum itu, aku
ingin memikirkannya secara serius sendiri dulu.
“Di anime atau game,
karakter biasanya memberikan sesuatu yang disukai si gadis…”
Atau mungkin cincin?
“…Gak, gak, gak. Itu bakal terasa berat banget, kan!?”
Aku bergumam dan
merenung, tapi tidak ada jawaban jelas yang terlintas di kepala.
Saat-saat seperti ini
membutuhkan bantuan internet.
Sama seperti saat aku
meriset tentang mencari pekerjaan paruh waktu, aku mulai mencari ide-ide hadiah
untuk pacar.
Tapi tidak ada yang
benar-benar menonjol.
Sekarang setelah aku
tidak punya masalah anggaran, ada terlalu banyak pilihan. Aku tidak bisa memutuskan.
“Apa yang kira-kira bagus
ya…?”
Begitu aku mulai
memikirkannya, aku tidak bisa berhenti.
***
Keesokan harinya.
Dalam perjalanan ke
sekolah, aku berjalan dalam kondisi linglung, mata merah berurat dan nyaris
tidak berfungsi.
Di toko kelontong, aku
melewati papan bertuliskan, “Reservasi Kue Natal Sekarang Dibuka!”—satu lagi
pengingat bahwa musim liburan makin dekat, yang cuma menambah keletihan
cemasku.
“Shuuji, kamu tidak
apa-apa?”
Begitu aku melangkah ke
dalam kelas, Miran bergegas menghampiri, kelihatan cemas.
“Iya, aku tidak apa-apa…
Aku cuma bergadang meriset sesuatu dan agak begadang semalaman, haha…”
“Riset? Kamu lagi mencari
tahu apa?”
“Yah, uh…”
Otakku terlalu hang, dan
aku hampir saja membocorkannya—tapi aku menghentikan diriku tepat pada
waktunya.
“…?”
Miran memiringkan
kepalanya bingung, menunggu jawaban yang tidak bisa kuberikan.
Secara alami, dia cuma
kelihatan makin bingung.
Pada akhirnya, aku
berhasil mengelak dari pertanyaan itu dan mengarahkan percakapan ke tempat
lain.
“Hei, pacar~”
“Punya waktu sebentar~?”
Saat jam istirahat, Azuki
dan Hanako muncul di mejaku.
Tersenyum lebar penuh
arti, mereka mendekat dan berbicara dengan suara berbisik.
“Dia mengantuk banget
hari ini gara-gara begadang memikirkan hadiah ulang tahun Miran, kan?”
“…! K-Kok kalian bisa
tahu…!?”
Rupanya, mereka sudah
sepenuhnya membacaku, dan aku panik.
“Kenapa? Karena—”
“—itu kelihatan jelas
banget~”
Merek berdua makin
mendekat, jelas-jelas menikmati momen ini.
“Jadi? Kamu sudah
memutuskan mau belikan apa?”
“Tunggu, berapa
anggaranmu?”
“Anggaranku… sekitar
sekian…”
Aku memberi mereka angka
yang jujur.
Aku masih ingin memikirkan
hal-hal sendiri sedikit lebih lama, tapi pada akhirnya, aku memutuskan untuk
memanfaatkan tawaran bantuan dari mereka. Aku pikir dengan saran dari mereka,
aku bisa memilih sesuatu yang jauh lebih baik untuk Miran.
Merek dekat dengannya,
mereka gadis-gadis, dan mereka luwes secara sosial.
Dibandingkan denganku
yang stres memikirkannya sendirian, mereka jauh lebih mungkin membimbingku ke
jawaban yang tepat.
“Wah, kamu beneran kerja
keras ya di tempat kerja~?”
“Dengan anggaran sebanyak
itu, bukannya hadiah buat Miran itu sudah sangat jelas banget?”
“Hah? Sangat jelas? Hadiah
seperti apa yang kalian maksud…?”
“Yah, tentu saja…”
Mereka berdua mendekat dan
membisikkan jawabannya padaku.
Aku sangat syok
sampai-sampai hampir melompat kaget.
“K-Kalian pikir itu tidak
apa-apa!?”
“Kenapa enggak boleh?”
“Maksudku… kalau aku
memberinya barang itu, bukannya itu agak mengindikasikan… makna semacam itu…?”
“Bukannya bagus? Aku
bertaruh dia bakal seneng banget.”
Hanako memamerkan
cengiran, dan Azuki mengangguk setuju.
“Kalau kamu punya
barang ini waktu rumor aneh itu menyebar kemarin, mungkin kamu tidak bakal
se-panik itu~”
“…Kalian mungkin ada
benarnya juga sih…”
Awalnya, aku ragu-ragu
dengan saran mereka—tapi anehnya, begitu mereka memberiku sedikit dorongan itu,
rasanya hal ini mulai terasa sebagai satu-satunya pilihan yang paling benar.
“Oh, tapi buat memberinya
barang seperti itu, aku harus menanyakan beberapa hal padanya dulu, kan…?”
“Oooh, ada yang sudah
menyelesaikan PR-nya nih~”
“Kami bakal cari tahu
semua yang kamu butuhkan dari Miran. Kamu fokus saja memilih hadiahnya, pacar~”
“…Terima kasih ya!”
Berkat duo gyaru
itu, aku akhirnya tahu apa yang bakal kubelikan untuknya.
Sekarang yang tersisa
hanyalah aku pergi memilihnya sendiri…
“Um, juga… apakah boleh
minta bantuan buat merencanakan kencan Natal juga…?”
Aku bertanya dengan
ragu-ragu, dan kedua gadis itu cuma tertawa lalu merespons dengan ucapan ceria,
“Siap mantap~!”
***
Selagi aku terus
bersiap-siap, Malam Natal merayap mendekat tanpa kusadari.
…Spesifiknya, sekarang
tinggal seminggu lagi.
Syukurlah, aku sudah
menyiapkan segalanya tepat waktu.
“…Hari ini adalah hari
di mana aku harus mengajak dia.”
Akhirnya, aku
mengumpulkan tekadku dan bersiap untuk mengundang Miran keluar untuk kencan
ulang tahun sekaligus Natal.
Hari itu adalah hari
libur, tapi sejak aku bangun tidur, aku sudah berfokus mencari cara terbaik
untuk mengajaknya.
Karena ini bukan
sekadar kencan biasa—ini adalah acara spesial—aku mendapati diriku makin
ragu-ragu lagi.
Selagi aku terus maju
mundur, mencemaskan ini dan itu, malam pun sudah terlanjur jatuh.
“Ini konyol banget…!”
Bahkan aku sendiri
harus mengakui—aku ini terlalu penakut dan ragu-ragu.
Kalau begini terus,
seharian penuh bakal berakhir tanpa aku menghubungi dirinya.
“Aku bakal
melakukannya…! Aku tidak cuma bakal kirim pesan di REIN—aku bakal meneleponnya
dan mengajaknya keluar!”
Orang tuaku ada di
lantai bawah, menonton TV bersama dengan gembira. Tidak ada risiko gangguan.
Di kamarku, aku
merengkuh ponselku dan bersiap menelepon Miran—ketika sebuah pemikiran mendadak
menghantamku.
…Bukankah orang-orang
biasanya menghabiskan hari ulang tahun mereka bersama keluarga mereka?
Kalau dia sudah punya
rencana perayaan, bukankah dia bakal menolakku?
Lagipula, kami berdua
sama-sama sibuk dengan pekerjaan paruh waktu belakangan ini, jadi kami tidak
banyak menghabiskan waktu bersama—selain jam istirahat makan siang.
Memikirkan semua hal itu
membuat sarafku menegang lagi.
Kenapa aku tidak
menanyakan jadwalnya lebih awal saja…? Apa yang sebenarnya kulakukan selama
ini…
Rasa menyesal mulai
membuncah, menyeretku ke dalam spiral keraguan lainnya.
Dan sebelum kusadari,
makin banyak waktu yang terbuang.
Dia mungkin sudah tidur jam segini.
Meneleponnya sekarang mungkin cuma bakal
mengganggunya, jadi aku menyerah dan memutuskan untuk melakukan apa yang selalu
kulakukan—mengiriminya pesan lewat REIN.
Karena ini adalah undangan penting untuk sebuah
kencan, aku menulisnya dengan segala keseriusan yang bisa kukumpulkan.
--
[Pesan - Shuuji]
Miran, terima kasih atas
kerja kerasnya. Sembari kita mendekati akhir tahun yang terasa tenang tidak
seperti biasanya ini, waktu yang tersisa di tahun ini tinggal sedikit lagi.
Sekarang, dengan kota yang dihiasi gemerlap lampu-lampu Natal, musim liburan telah
tiba. Karena ulang tahunmu jatuh pada tanggal 24 Desember, aku membayangkan
kamu berencana untuk merayakannya bersama keluargamu. Jika tidak terlalu
merepotkan, aku akan senang sekali bisa menikmati pemandangan suasana Natal
bersamamu. Aku paham kamu pasti sangat sibuk, tapi aku akan menunggu balasan
darimu.
--
Aku seharusnya
memikirkannya lebih matang sebelum mengirimnya… Aku sedang berada di
tengah-tengah rasa penyesalan ketika tiba-tiba ponselku mulai bergetar.
“Eh—apa—i-ini… panggilan
telepon!?”
Dan di layarnya tertera:
Hanatsuki Miran.
Miran meneleponku.
Dia biasanya membalas
lewat pesan…!
Dengan jantung berdebar
kencang, aku terburu-buru mengangkat teleponnya.
“H-Halo!?”
‘Ah, Shuuji? Maaf ya
menelepon mendadak.’
Suaranya yang terdengar
dari telepon terasa anehnya ceria.
Sementara itu, aku panik
setengah mati di dalam hati—yakin bahwa dia sudah punya acara dan bakal
menolakku.
‘Hei, pesan tadi itu… itu
maksudnya kamu mengajakku kencan, kan?’
“I-Iya…”
‘Hore! Tentu saja
jawabannya mau!’
“Eh, beneran!?”
‘Yup! Aku memang berharap
kamu bakal mengajakku, jadi aku sengaja mengosongkan hari itu.’
“Kamu tidak apa-apa tidak
menghabiskan hari ulang tahunmu bersama keluargamu?”
‘Aku sudah minta mereka
merayakannya bersamaku di hari lain! Tahun ini, aku beneran ingin menghabiskan waktunya
bersamamu…’
“…!”
Hanya dengan mendengar
suaranya saja—itu menghantamku dengan sangat kuat.
Meskipun kami masih
tersambung di telepon, aku berjuang menahan keinginan untuk berguling-guling di
tempat tidur dalam kondisi salah tingkah tingkat parah.
‘Ada apa?’
“Enggak, cuma… aku senang.
Beneran, seneng
banget…”
‘Kenapa dibilang dua
kali? Lucu banget deh.’
Aku bisa mendengar
terkikik pelannya bergema sedikit lewat speaker.
Mendengarkan lebih
saksama, aku juga menangkap suara air…
Gema itu, kecipak air
yang lembut—suara-suara itu cuma bisa berarti satu hal…
Nggak mungkin… nggak
mungkin, kan? Nggak bakalan…
Aku mencoba menepis
pemikiran itu. Pasti ada penjelasan lainnya…
“Miran, uh… kamu lagi
telepon dari mana sekarang?”
‘Hm? Bak mandi,
tentulah.’
“Pffft!?”
Jawaban tepat yang
sempat kucoret karena dianggap tidak mungkin itu meluncur bebas dari mulutnya,
dan aku seketika membeku di tempat.
‘Aku tadi lagi ngobrol
sama Hanako dan Azuki di grup REIN kita waktu melihat pesanmu… dan aku seneng
banget sampai harus langsung telepon~’
“P-paham…”
Aku berhasil
merespons, tapi aku sama sekali tidak dalam kondisi siap untuk bicara.
Kalau dia ada di dalam
bak mandi, itu artinya… dia sedang telanjang bulat sekarang, memegang
ponselnya, tidak memakai sehelai benang pun… berbicara denganku…
‘Shuuji, ada apa~?’
“E-enggak, tidak
apa-apa. Maksudku, iya? Atau…
mungkin enggak…?”
‘Eeh~? Tunggu,
jangan-jangan… fufufu~’
Miran melepaskan terkikik
jahil kecil—sesuatu yang tidak sering dia lakukan.
‘Shuuji~ Karena kita sudah
telanjur di telepon, ayo ngobrol lebih lama sedikit lagi, ya? ♪’
“Eh—tapi, tapi…”
‘Tidak apa-apa kok~ Jadi
gini, tadi Hanako bilang ke Azuki~…’
Suaranya masih bergema
sedikit saat dia berbicara.
Setiap kali dia
menggeser posisinya di dalam bak mandi, aku bisa mendengar kecipak airnya.
Hal itu saja sudah
cukup untuk membuat otakku overdrive, tubuhku kaku oleh energi
gugup.
Miran sepertinya sangat
menikmati reaksimu.
Meskipun begitu, mendengar
dia tertawa di tengah-tengah percakapan membuatku benar-benar bahagia.
Jadi, aku tetap berada
di telepon dan mendengarkannya selama yang dia inginkan.
‘Kurasa aku harus keluar
sekarang, kalau tidak aku bisa kepanasan…’
“O-oh, iya, sebaiknya
memang begitu.”
‘Yup, kamu benar.
Makasih ya, Shuuji. Aku beneran menantikan
kencan kita~♪’
Miran terdengar sangat
antusias dengan kencan ulang tahun kami.
“…Besok, aku bakal
konsultasi lagi sama Hanako dan Azuki soal rencana kencannya.”
Mulai keesokan harinya,
aku terus bersiap-siap untuk ulang tahun Miran secara konsisten.
Dan kemudian—begitu
saja—hari H pun tiba.


Post a Comment