Chapter 2
Pergantian Tempat Duduk
"Selamat pagi."
"Selamat pagi."
Hari ini adalah hari Jumat.
Di tengah-tengah teman sekelas yang saling menyapa, aku malah tertidur dengan kepala menelungkup di atas meja sejak pagi.
Akibat menyeimbangkan antara pelajaran sekolah dan pekerjaan paruh waktu setiap hari, rasa lelah pasti akan menumpuk begitu akhir pekan tiba.
Karena malam ini aku juga mendapat jadwal shift kerja paruh waktu, aku telah bersumpah dalam hati untuk melewatkan hari ini dalam mode hemat energi semaksimal mungkin.
"Yo! Selamat pagi, Takuya! Wah, tumben pagi-pagi sudah kelihatan mau mati!"
"……Bising banget. Hari ini aku ada kerja paruh waktu lagi, makanya aku lagi menghemat energi."
"Padahal baru saja naik SMA, tapi sudah begini, masa depannya suram ya."
Orang yang menyapa diriku yang sedang menelungkup di meja adalah Takayuki Yamamoto, teman karib yang sudah lama bersamaku.
Berbicara tentang Takayuki, dia bertubuh tinggi, tegap, dan merupakan cowok keren yang gemar olahraga yang disambut sebagai pendatang baru yang menjanjikan di klub basket tempatnya bernaung.
Takayuki yang sejak dulu populer di kalangan para gadis, sejujurnya adalah sosok yang tampak bertolak belakang denganku, tapi dia tetaplah orang baik yang biasa dan entah bagaimana selalu menemaniku sejak sekolah dasar.
Kira-kira kalau aku seorang perempuan, aku pasti sudah jatuh cinta padanya! Begitulah sosok Takayuki di mataku—si nice guy Yamamoto-kun.
"……Kamu pasti lagi mikirin hal-hal tidak berfaedah lagi, kan. Yah, jangan sia-siakan masa muda yang berharga, ya. Cepat bangkit dan lebih bersemangatlah!"
Sambil berkata begitu, Takayuki tertawa sambil menepuk-nepuk punggungku dengan keras, lalu berjalan menuju tempat duduknya sendiri sambil bertukar salam dengan teman sekelas lainnya.
Aku sempat berpikir, "Aduh, ampun deh," dan berniat melanjutkan tidurku, namun tiba-tiba saja udara di dalam kelas berubah dalam sekejap, bahkan bisa kurasakan meski kepalaku sedang menelungkup.
Tanpa melihat pun aku tahu alasannya. Pasti karena Saegusa-san baru saja datang ke sekolah.
Makanya aku tidak peduli dan terus menyimpan tenaga demi persiapan kerja paruh waktu nanti malam.
Namun, suara yang terdengar bukanlah suara Saegusa-san yang bertindak mencurigakan seperti yang sering kutemui di tempat kerja paruh waktu, melainkan suara saat dia menyapa semua orang di kelas dengan mood idol yang sempurna seperti biasa.
Aku sangat penasaran, sebenarnya
kenapa setiap kali datang ke minimarket, Saegusa-san selalu menunjukkan tingkah
laku yang misterius begitu.
Semenjak aku mulai bekerja paruh
waktu, Saegusa-san hampir setiap hari datang dan mengulangi tindakan misterius
penuh kecurigaan seperti kemarin.
Aku sangat penasaran dan ingin
tahu apa alasannya sampai bisa jadi begitu, tetapi karena Saegusa-san tampaknya
berniat menyamar dengan cara tersebut, aku pun mau tidak mau pura-pura tidak
menyadarinya.
Kalau setelah melakukan berbagai
tindakan misterius itu lalu tiba-tiba diberi tahu, "Sebenarnya aku sudah
tahu, lho," kalau jadi aku, rasanya aku ingin mencari lubang di tanah dan
masuk ke dalamnya karena begitu malu.
Yah, memikirkan bahwa seandainya
aku menceritakan kisah tentang tingkah laku misterius Saegusa-san ini kepada
semua orang di kelas, pasti tidak akan ada satu pun yang percaya, rasanya
membuatku geli dan ingin sedikit tertawa.
***
"Baiklah, kalian semua
sepertinya sudah mulai terbiasa dengan kelas ini, bagaimana kalau kita adakan
pergantian tempat duduk?"
Pada saat homeroom pagi,
wali kelas kami, Pak Suzuki, tiba-tiba mengusulkan pergantian tempat duduk.
Mendengar ucapan itu, seisi kelas
langsung merasa senang dan khawatir secara bergantian.
Reaksinya bermacam-macam, tetapi
sangat mudah ditebak.
Pasalnya, orang-orang yang duduk
dekat dengan Saegusa-san merasa putus asa, sementara mereka yang duduk jauh
merasa senang.
Ngomong-ngomong, karena namaku
Ichijo dimulai dengan huruf "I", untuk saat ini aku duduk di deretan
kursi dekat jendela di bagian depan berdasarkan nomor urut absen.
Aku sebenarnya agak menyukai
tempat duduk ini karena bisa menikmati sinar matahari dan papan tulisnya juga
sangat mudah dilihat, jadi sedikit disayangkan harus berganti tempat duduk,
tapi mau bagaimana lagi.
Dengan perasaan "yah, di
mana saja boleh deh", aku pun mulai mengambil undian tempat duduk
berdasarkan nomor urut.
***
"Baik, Ichijo nomor tujuh, ya. Selanjutnya, Ueki—"
Kursi yang ditentukan adalah nomor yang tertulis pada undian.
Karena satu kelas berisi
40 siswa, ada empat baris yang masing-masing berisi 7 orang, dan dua baris yang
masing-masing berisi 6 orang. Nomor urut dibagikan mulai dari bagian depan
dekat jendela.
Dengan kata lain, tempat
duduk baruku berada di paling belakang pada deretan dekat jendela.
Yah, memang agak jauh
dari papan tulis, tapi jujur saja, bisa mendapatkan kursi di sudut kelas adalah
sebuah keberuntungan.
Namun, begitu tempat
dudukku diputuskan, dari arah Saegusa-san yang duduk agak menyerong di
belakangku terdengar suara gumaman seperti orang membaca doa, "Enam...
empat... puluh... empat..."
Sebentar, Saegusa-san?
Ini bukan minimarket lho, tapi mode mencurigakanmu malah aktif, ya? Peringatku dalam hati, tapi kalau
tidak diucapkan tentu saja tidak akan pernah sampai.
"Baik, selanjutnya,
Saegusa—"
"Ya!"
Saegusa-san, yang namanya
akhirnya dipanggil oleh guru, bangkit dari kursinya dengan mengentak penuh
semangat, berjalan dengan langkah kaki yang tegas menuju podium, lalu dengan
tekad bulat mengambil undian.
Kemudian, bagaikan
seorang peserta ujian yang sedang memeriksa hasil kelulusan, dia membuka kertas
undian tersebut secara perlahan sambil berdoa dan gemetar ketakutan.
Melihat pemandangan itu, bahkan
seisi kelas pun memperhatikannya dengan ekspresi tegang.
Bukan hanya di kelas ini, di
sekolah ini, atau bahkan di negara ini—pada detik ketika tempat duduk baru
untuk idol nomor satu ini hendak ditentukan, suasana di dalam kelas diliputi
oleh ketegangan yang sulit dijelaskan.
"Bohong... sungguh...?"
Melihat hasil undiannya, Saegusa-san
gemetar sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Ada apa? Apa yang terjadi?!
Di tengah-tengah tatapan seisi
kelas yang tertuju padanya, guru mengambil kertas undian dari Saegusa-san dan
menuliskan hasilnya di papan tulis.
"Saegusa nomor empat belas,
ya. Baik, selanjutnya, Shimizu—"
Sambil gemetar ketakutan, Saegusa-san
kembali ke tempat duduknya.
Anak-anak sekelas tampak bingung
karena tidak mengerti kenapa Saegusa-san bereaksi seperti itu. Namun,
mengabaikan hal tersebut, sekarang setelah tempat duduk Saegusa-san sudah
ditentukan, antusiasme di dalam kelas semakin membara agar mereka bisa duduk
dekat dengannya.
Lebay banget cuma masalah
tempat duduk... pikirku
sambil lalu memperhatikan urutan tempat duduk baru yang mulai tertulis di papan
tulis.
***
Ah, begitu ya, jadi
begini rupanya—
Pada saat itulah, aku
akhirnya menyadari bahwa kursi di sebelahku ternyata adalah Saegusa-san.
Setelah selesai mengambil
undian, kami langsung membawa meja masing-masing ke tempat duduk yang baru.
Tempat duduk baruku
berada di barisan paling belakang dekat jendela.
Begitu sampai di kursi
paling belakang, rasanya lumayan juga.
Sebagai seseorang yang
tidak berniat masuk ke dalam lingkaran kelas yang berpusat pada Saegusa-san,
sudut kelas adalah tempat yang sangat pas untuk menciptakan ruang pribadi
sendiri.
Dan sebenarnya, ada satu
lagi keajaiban yang terjadi.
Ternyata, kursi di depanku adalah
milik Takayuki, teman karibku sejak dulu.
Kalau berdasarkan nomor urut
absen, Takayuki menggunakan huruf "Ya" untuk Yamamoto, jadi urutan
undiannya adalah yang paling terakhir.
Tapi, nomor enam di depanku
ternyata dibiarkan kosong sampai akhir, rasanya ini benar-benar takdir
tercepat.
"Kata orang, rezeki anak
sholeh itu nyata! Mohon bantuannya ya, Takuya!"
Takayuki datang ke kursi di
depannya dengan gembira.
Aku juga merasa senang, jadi aku
membalas, "Yo! Mohon bantuannya juga!"
Srrrt—suara meja yang digeser dari
sebelah terdengar.
Takayuki dan aku yang
tadinya sedang mengobrol, secara spontan menoleh ke samping mendengar suara
itu.
Di sana, tampaklah sosok Saegusa-san
yang mulai hari ini menjadi teman sebangku kami.
Situasi di mana seorang idol
sungguhan yang sering kulihat di televisi kini berada tepat di sampingku
mengenakan seragam sekolah SMA kami, rasanya masih belum terasa nyata meskipun
sudah beberapa lama sejak masuk sekolah; sungguh sebuah sensasi yang aneh.
"Oh, Saegusa-san, mohon
bantuannya! Aku Yamamoto, dan yang ini Ichijo!"
"Aku sudah tahu!!"
Takayuki, yang sejak dulu mudah
akrab dengan siapa saja, menyapa seperti biasa meskipun itu kepada Saegusa-san.
Soal itu, aku benar-benar
berpikir kemampuan komunikasi Takayuki memang luar biasa.
Namun, Saegusa-san sedikit
memerah wajahnya dan langsung memotong dengan nada cepat, "Aku sudah
tahu," Hanya itu jawabannya.
Sebentar, sebentar, apa
maksudnya menjawab "sudah tahu" untuk sapaan orang lain?
Setelah itu, Saegusa-san langsung
menghadap lurus ke depan, mungkin merasa malu dengan kejadian barusan, dan sama
sekali tidak mau menoleh ke arah kami.
Yah, bagus sih kalau dia tahu,
tapi reaksi macam apa itu tadi, sungguh tidak jelas.
"Ah, ngomong-ngomong.
Kemarin HP-ku rusak jadi ganti baru, tapi aku lupa kata sandi Line-nya jadi
buat akun baru, nanti kukasih tahu ya!"
"Wah, sial banget itu."
Mendengar itu, Takayuki
menunjukkan kode QR Line-nya di layar ponsel, jadi aku ikut memindai kode QR
tersebut dengan ponselku untuk bertukar kontak Line.
Namun, apakah hanya perasaanku
saja yang menduga bahwa Saegusa-san di sebelah kami sedang melirik tajam ke
arah interaksi kami berdua?
"Baiklah, silakan tukar
lembar jawaban dengan teman sebangku dan koreksi ya."
Jam pelajaran pertama adalah
Bahasa Jepang.
Setelah mengerjakan kuis kecil
yang dibagikan di akhir pelajaran, guru menginstruksikan kami untuk menukar
lembar jawaban dengan teman sebangku dan saling mengoreksinya.
Oleh karena itu, secara otomatis
aku harus menukar lembar jawaban dengan Saegusa-san.
Saegusa-san menyodorkan lembar
jawabannya kepadaku dengan gerakan cepat yang mirip seperti saat dia
mengeluarkan uang seribu yen di minimarket.
Sambil tersenyum masam, aku
menerima lembar jawaban itu dan menyerahkan lembar jawabanku sebagai gantinya.
Ketika aku melirik lembar jawaban
yang aku terima, tulisan tangan Saegusa-san sangat indah.
Aku sampai kagum dan berpikir, beginilah
jadinya kalau gadis cantik sempurna, bahkan tulisan tangannya pun sempurna.
Lalu aku mulai mengoreksi
menggunakan pena merah sesuai dengan kunci jawaban yang diberikan guru.
Ah, gawat, aku salah di soal
ini, gumamku dalam hati
menyadari kesalahanku sendiri saat mengoreksi.
Sambil berpikir kalau kesalahan
ini agak memalukan, aku melirik sekilas ke arah Saegusa-san yang sedang
mengoreksi di sebelahku. Entah kenapa, Saegusa-san tampak sedang mengoreksi
dengan senyuman ceria.
Meskipun merasa heran apa
senangnya mengoreksi ujian seperti itu, aku menenangkan diri dan melanjutkan
koreksi.
Sebagai kesimpulan, Saegusa-san
mendapatkan nilai sempurna.
Sebaliknya, aku salah tiga dari
total sepuluh soal, jadi nilaiku tujuh puluh.
Karena aku bekerja paruh waktu,
aku tidak ingin mengabaikan pendidikanku, jadi hasil ini sungguh membuatku
merasa frustrasi.
Aku harus lebih berusaha lagi,
batinku sambil merenung dan memantapkan kembali tekadku.
Pokoknya, mengulas kembali
soal-soal yang salah adalah hal yang sangat penting.
Berpikir begitu, aku memeriksa
kembali lembar jawaban yang dikembalikan oleh Saegusa-san dan berniat meninjau
soal yang diberi tanda silang kecil. Namun, aku menyadari ada sesuatu yang
ditulis kecil dengan pena merah di sebelah jawabanku.
shion-s.1012
...Eh? Apaan ini?
Karena tulisannya shion,
apakah itu nama Saegusa-san? Eh, tapi apa ini, sandi rahasia?
Atau lebih tepatnya, apakah normal mencoret-coret lembar jawaban orang
lain?!
Sekali lagi, aku dibuat pusing oleh tindakan misterius Saegusa-san ini.
Ketika aku menoleh ke sebelah karena tidak mengerti maksudnya, Saegusa-san
malah menatap lurus ke depan dengan kaku sementara telinganya memerah sampai ke
pangkal.
Ampuni aku deh... Pikirku sambil mengurungkan niat belajar dan
buru-buru memasukkan lembar jawaban itu ke dalam file.
Sementara itu, Saegusa-san yang melirikku dari samping memasang ekspresi
samar—antara terkejut atau sedih—dan hari ini pun tingkah laku misteriusnya
masih tetap konsisten.
***
Lalu waktu istirahat siang tiba.
Aku memutuskan untuk makan bento
berdua bersama Takayuki di meja depan.
Di sebelah kami, gerombolan pria
dan wanita berkerumun mendatangi meja Saegusa-san untuk mengajak makan siang
bersama.
Karena hal itu, meskipun apa yang
berada tepat di samping kepalaku adalah pantat seorang siswi sekalipun, bagi
aku yang sedang makan bento saat ini, keberadaan mereka sungguh sangat
mengganggu.
"Mulai sekarang, kita makan
di luar aja gimana?"
"Iya juga ya, kalau begini
agak..."
Takayuki yang menyadari situasiku
mengusulkan agar kami makan di tempat lain lain kali.
Orang seperti Takayuki yang bisa
memperhatikan situasi di sekitarnya dengan jeli ini memang benar-benar cowok
keren luar dalam. Batinku mengaguminya.
Kira-kira kalau aku seorang
cewek, aku pasti sudah naksir!
"M-maaf semuanya! Aku mau
makan bento, jadi obrolannya dilanjut setelah makan saja boleh ya?"
Lalu, memotong suara-suara yang
datang bersahutan, Saegusa-san meminta izin dengan suara yang sedikit lebih
keras dari biasanya.
Mendengar ucapan Saegusa-san itu,
orang-orang di sekitarnya langsung meminta maaf karena tidak peka secara
bergantian, lalu buru-buru pergi meninggalkan meja Saegusa-san.
"Padahal sudah duduk di
kursi ini, kalau dipindah-pindah kan aku repot..."
Sambil menggumamkan hal yang
tidak jelas setelah menyuruh orang-orang pergi, Saegusa-san membuka bentonya
dengan ekspresi lega, sepertinya merasa senang akhirnya bisa makan.
"Ya, kalau begini kita nggak
perlu pindah tempat lagi ya."
"Iya, benar juga."
Baik aku maupun Takayuki merasa
sedikit tercengang karena orang-orang bisa bubar dengan begitu bersih hanya
lewat satu kalimat saja.
Mungkin inilah yang
dinamakan kharisma.
***
"Ah, ngomong-ngomong Takuya, kamu nonton S-Lab nggak
kemarin?"
"Hm? Ah, sori, jam segitu aku lagi kerja paruh waktu jadi nggak
nonton."
S-Lab yang dibicarakan Takayuki adalah program musik yang sedang
sangat populer di kalangan anak muda.
Acara ini selalu menjadi pusat tren anak muda karena menampilkan berbagai
penyanyi terkenal hingga musisi pendatang baru yang sedang naik daun, sambil
mengobrol dengan komedian dan membawakan lagu-lagu baru.
Tentu saja, Saegusa-san yang sekarang sedang asyik makan bento dengan lahap
di sebelahku ini dulunya juga pernah tampil di acara tersebut.
Pertama kalinya aku mengingat
keberadaan Saegusa-san adalah ketika aku menonton S-Lab ini saat masih
SMP dulu.
Eh, ada anak cewek lucu banget
di TV... Oh, namanya Shion-chan dari Angel Girls, lucu banget, lucu banget,
lucu banget...—aku masih
mengingat jelas keterkejutan yang kurasakan saat itu.
Itulah sebabnya, situasi di mana
gadis super cantik yang kulihat di TV hari itu kini malah sedang asyik makan
bento seorang diri di sebelahku, sungguh terasa tidak masuk akal.
"Seriusan? Kemarin DDG
tampil lho!"
"Hm? DDG itu apa?"
"Eh? Kamu nggak tahu? Itu
band cewek pendatang baru yang lagi hits sekarang. Semuanya cantik-cantik, tapi
vokalisnya yang namanya YUI-chan itu benar-benar cantik parah."
Mendengar jawabanku yang hanya
"oh begitu", Takayuki menunjukkan foto di ponselnya.
Di layar terpampang sosok band
gadis beranggotakan lima orang dengan fokus pada seorang wanita dewasa berambut
panjang berwarna hitam. Jadi, inilah yang dinamakan band DDG itu.
"Ah, benar juga, cantik
ya."
Brak!
Begitu aku memberikan komentar
jujurku, suara benda terjatuh terdengar dari sebelah, seolah merespons
ucapanku.
Menanggapi suara itu, aku menoleh
ke samping dan mendapati bahwa sikut Saegusa-san rupanya tergelincir dari meja.
Kamu nggak apa-apa? Pikirku, namun kami mengabaikannya dan
melanjutkan percakapan.
"Kan? Dan anak ini
sebenarnya seumuran sama kita lho! Nggak kelihatan banget kan?"
"Seriusan? Kelihatan
dewasa banget sampai dibilang mahasiswi pun nggak akan kelihatan aneh."
"Makanya itu
bagusnya, lagunya juga enak banget, coba deh dengar."
Sambil berkata begitu,
Takayuki memutar video musik DDG dari situs video dan menyodorkan salah satu
earphone-nya kepadaku.
Aku menuruti permintaannya dan
memasukkan earphone itu ke satu telingaku, mendengarkan lagu DDG untuk pertama
kalinya.
Ternyata, lagunya begitu keren
untuk ukuran band cewek yang baru debut, dan dipadukan dengan atmosfer video
musik yang mengalir di layar, rasanya bahkan memunculkan kesan yang sangat
anggun.
"Bagus juga ya
ini."
"Kan?"
"Iya, aku paham kenapa
Takayuki merekomendasikan YUI-chan. Kalau melihatnya langsung, pasti bakal langsung jatuh cinta."
Bruk!!
Begitu aku memberikan
komentar jujurku, suara yang lebih keras dari sebelumnya terdengar dari
sebelah.
Aku dan Takayuki mencopot
earphone dan menoleh lagi ke arah sumber suara di sebelah kami—Saegusa-san. Di sana tampak sosok Saegusa-san yang
hampir terjatuh dari kursinya.
—Eh? Sungguh, ada apa sih?
Aku dan Takayuki saling bertukar
pandang untuk memastikan apa yang sedang terjadi, tapi tetap saja kami tidak
mengerti apa-apa.
Begitulah, tingkah laku misterius
Saegusa-san hari ini pun masih tetap berjalan seperti biasa.
***
Pulang sekolah.
Saat aku sedang membereskan
barang-barangku dengan cepat untuk bersiap berangkat kerja paruh waktu,
tiba-tiba suara keras terdengar dari dalam kelas.
"Hei semuanya! Selepas ini,
mau pada ikut karaokean nggak sama anak-anak sekelas?"
Orang yang tiba-tiba melontarkan
usulan itu adalah Kengo Niijima, si cowok tampan di kelas kami.
"Asyik! Ayo, ayo pergi! Ah, Saegusa-san
bisa ikut juga nggak?"
Lalu, seolah-olah sudah
direncanakan, beberapa siswi langsung mendukung ajakan itu dan mengajak Saegusa-san.
—Ah, ini sih, jelas-jelas
komplotan.
Niat tersembunyi mereka untuk
mengajak sang idol super kelas Saegusa-san agar ikut bersenang-senang setelah
ini terlihat sangat jelas.
"Eh, gimana ya..."
"Kalau nggak terpaksa banget
sih, tapi kalau mau ayo bareng!"
"Jujur kami tuh,
pengen banget dengar langsung lagu Angel Girls—haha."
Para siswi itu tanpa
sadar membocorkan niat asli mereka di hadapan Saegusa-san yang sedang
kebingungan.
Yah, memang benar,
keberadaan seorang idol super yang sampai beberapa hari lalu masih aktif di
panggung utama berada di satu kelas yang sama membuat orang-orang berpikir
kalau mendengar suara aslinya sekali saja adalah hal yang wajar.
Lalu, Saegusa-san melirik
ke arahku sambil berkata, "Kalau sekadar nyanyi sih sebenarnya boleh-boleh
saja..." dengan wajah sedikit memerah, seolah sedang mengintip situasi.
"Oh, Takuya bisa ikut
karaokean nggak? ...Eh, hari ini kamu kerja paruh waktu ya?"
"Ah, iya, aku kan
bagaimanapun juga lewatkan karaoke, jadi nggak usah pedulikan aku dan nikmati
saja ya kalian."
"Parah, semenjak masuk SMA
kamu kerja paruh waktu mulu ya. Yah, sudahlah, semangat ya."
Maaf ya, Takayuki.
Sayangnya, aku memang tidak
berniat berpartisipasi dalam acara semacam itu.
Berkumpul bersama-sama untuk
karaoke rasanya cuma melelahkan saja, jadi biarkan saja orang-orang yang suka
hal semacam itu menikmatinya.
—Yah, meskipun aku sendiri
sebenarnya sedikit tertarik juga sih dengan suara menyanyi Saegusa-san.
Selesai mengobrol dengan Takayuki
begitu, tiba-tiba aku merasakan tatapan dari sebelah dan menoleh.
Di sana, kulihat sosok Saegusa-san
yang sedang menggembungkan kedua pipinya dengan kuat mirip seperti ikan buntal.
—Eh? Eh, eh, apa-apaan ini!?
—Emangnya aku ada berbuat
salah apa?!
Aku kebingungan karena tidak
mengerti kenapa Saegusa-san menatapku dengan tatapan seperti itu.
"Maaf ya, aku baru ingat
kalau malam ini ada acara, jadi lain kali saja ya kalau mau ngajak!"
Lalu Saegusa-san menolak ajakan
mereka dengan pipi yang masih menggembung.
Hasilnya, kegembiraan yang tadi
langsung lenyap begitu saja seketika mereka tahu Saegusa-san tidak bisa ikut,
membuat suasana kelas langsung suram seketika.
Yah, itu bukan urusanku, dan
kalau terlalu santai, aku bisa terlambat kerja paruh waktu, jadi aku buru-buru
meninggalkan kelas tersebut.
Sambil berjalan menuju tempat
kerja paruh waktu, aku teringat pemandangan di kelas tadi.
Meskipun tidak enak pada teman
sekelas, ada satu hal yang jauh lebih menarik perhatianku daripada urusan
karaoke itu.
—Saegusa-san tadi ngomong
sambil menggembungkan pipi, tapi tetap bisa bicara normal, lho. Bukannya itu
susah, ya?!
Setelah memastikan tidak ada
orang di sekitarmu, aku mencoba menirunya sedikit, tapi tentu saja gagal.
Mengingat betapa terampilnya Saegusa-san
berbicara sambil menggembungkan pipi saat itu, aku jadi tertawa geli sendiri.
Sebenarnya gimana cara dia ngomong sih, Saegusa-san. Nanti deh aku minta diajari triknya—
***
Lewat pukul delapan malam, melodi
pintu minimarket terbuka berkumandang.
Merespon suara itu, aku
mengucapkan salam seperti biasa, "Selamat datang~".
Orang yang masuk adalah Saegusa-san,
pelanggan tetap yang selalu bisa diandalkan seperti biasa.
Seperti biasa, hari ini pun dia
menyamar menggunakan masker, kacamata, dan topi casquette.
—Muncul juga kau, Saegusa-san.
Kira-kira apa lagi yang akan dia
lakukan hari ini, aku yang malah mulai menikmati tingkahnya memperhatikannya
karena kebetulan tidak ada pelanggan lain di toko.
Pertama-tama, Saegusa-san pergi
ke sudut majalah dan mulai membalik-balik majalah informasi.
Oh, hari ini pola majalah, ya! Sambil mengawasi gerakannya, aku
menyadari bahwa dia langsung mengeluarkan "kualitas khas Saegusa-san".
—Saegusa-san, majalahnya
kebalik lho.
Ya, tanpa diduga Saegusa-san
membuka majalah dalam posisi terbalik dan membalik-balik halamannya.
Melihat kekonyolan yang bahkan
jarang ada di acara komedi zaman sekarang itu, aku merasa lega karena Saegusa-san
hari ini sedang dalam performa terbaiknya.
Kalau diperhatikan baik-baik, Saegusa-san
berpura-pura membaca majalah sambil melirik ke arahku dari balik kacamatanya.
Oh begitu, pantas saja dia
sampai tidak sadar kalau majalahnya terbalik, batinku menikmati teka-teki misterius ini.
Majalah yang dibukanya kebetulan
memuat foto besar Saegusa-san di masa kejayaannya sebagai idol, tapi dia sama
sekali tidak menunjukkan tanda-tanda menyadari fotonya sendiri.
Pemandangan seorang idol asli
yang fotonya terpampang di majalah sedang berdiri membaca majalah itu sendiri
rasanya cukup lucu.
Namun, yang menjadi misteri
adalah kenapa Saegusa-san sampai separah itu mengawasi gerak-gerikku.
Apakah masalah sepulang sekolah
tadi masih membuatnya tidak puas? Berbagai kemungkinan muncul di benakku, tapi
tetap saja aku tidak mengerti.
Lalu, sepertinya menyadari
tatapanku, Saegusa-san buru-buru mengembalikan majalah itu ke rak lalu
mengambil keranjang belanja.
Setelah itu, Saegusa-san
memasukkan teh, caffe au lait, dan yogurt cair ke dalam keranjang lalu
membawanya ke kasir.
Sambil berpikir apakah hari ini
isinya minuman semua, aku menghitung total harganya dengan berpura-pura sama
sekali tidak tahu bahwa dia adalah Saegusa-san.
"—Totalnya jadi 426
yen."
Sambil memasukkan minuman ke
kantong plastik, aku menyampaikan hal itu, dan seperti biasa Saegusa-san
mengeluarkan lembar seribu yen dengan cepat dari dompetnya lalu menyodorkannya.
Tentu saja, hari ini pun dia
sepertinya tidak berniat mengeluarkan uang koin, jadi aku menerima uang seribu
yen itu dan menyelesaikan pembayarannya.
Lalu saat aku menyerahkan
kembalian, hari ini pun Saegusa-san dengan lembut membungkus tanganku yang
sedang memberikan kembalian menggunakan kedua tangannya, lalu menerima
koin-koin tersebut dengan penuh rasa berharga.
...Dilakukan terus setiap kali
datang, sebenarnya apa maksud dari ritual ini.
Sambil memikirkan hal bodoh
seperti "jangan-jangan Saegusa-san suka uang koin?", tiba-tiba Saegusa-san
membuka suara yang jarang terjadi.
"U-um! Kamu benci karaoke
ya?!"
"Eh?"
Benci karaoke? Kenapa
tiba-tiba menanyakan itu?
Pertanyaan ini pasti didasari
oleh kejadian sepulang sekolah tadi, tapi... sebentar ya, Saegusa-san, kamu
lupa kalau kamu sedang menyamar sekarang?
Yah, ada banyak hal yang ingin
kukatakan tapi kuurungkan dulu.
Untuk saat ini aku sedang bekerja
paruh waktu, jadi aku memutuskan untuk menjawabnya secara santai sebagai
obrolan biasa antara pelanggan dan pelayan toko.
"Karaoke ya? Saya suka kok.
Selain bernyanyi sendiri, saya juga suka mendengarkan orang yang pintar
bernyanyi di karaoke."
Aku menjawab sambil tersenyum
ramah ala pelayan toko.
Aku tidak benci karaoke, dan
dengan menambahkan kalimat bahwa aku suka orang yang pintar bernyanyi, secara
tidak langsung aku menyuarakan keinginanku untuk mendengar suara nyanyian Saegusa-san
yang memang sangat merdu.
Ini adalah isi hatiku yang
sebenarnya, jadi aku sama sekali tidak berbohong.
Sebenarnya, baru-baru ini tingkat
kesukaanku pada suara Saegusa-san sudah sampai tahap mendengarkan lagu-lagu
Angel Girls menggunakan earphone di perjalanan.
Mendengar jawabanku, Saegusa-san
memerah wajahnya sambil menatapku, lalu menunduk berkata, "Terima kasih
banyak!" dan buru-buru keluar dari toko dengan langkah tergesa-gesa.
Meskipun tetap tidak bisa ditebak
seperti biasa, ekspresi wajahnya saat pergi kelihatan begitu gembira, jadi aku
merasa, ya sudahlah, dan melanjutkan sisa jam kerjaku hari ini.
***
Hari Senin.
Aku berhasil bangun lebih pagi
dari biasanya dan berangkat ke sekolah dengan santai karena memiliki waktu
luang.
Setibanya di kelas, suasana masih
cukup sepi, tapi Saegusa-san si teman sebangku sudah duduk di tempatnya dan
tampak tekun membaca buku sejak pagi.
Mengingat Saegusa-san biasanya
selalu datang mepet karena tipe orang yang susah bangun pagi, keberadaannya di
kelas pada jam sekian sungguh sedikit mengejutkan.
"Selamat pagi, Saegusa-san."
Meskipun dia mantan idol,
sekarang dia adalah teman sekelas.
Tidak enak rasanya jika
melewatinya begitu saja dalam diam, jadi aku menyapanya di pagi hari seperti
kepada orang lain pada umumnya.
Apalagi, karena aku sudah sering
berhadapan dengan Saegusa-san di minimarket tempatku bekerja, rasa kedekatan
sudah muncul di dalam diriku, jadi aku bisa menyapanya dengan biasa.
"Eh? Ah! Ichijo-kun sela— Hyaah!"
Namun, mungkin karena terkejut
dengan sapaanku yang tiba-tiba, Saegusa-san panik hendak membalas sampai-sampai
menjatuhkan buku yang sedang dibacanya ke lantai.
Merasa tidak enak karena
mengganggu waktu membaca bukunya, aku berniat langsung memungut buku yang
terjatuh itu, tapi Saegusa-san bergerak lebih cepat, menyambar buku tersebut
dengan kecepatan luar biasa, dan langsung memasukkannya ke dalam tas.
A-ada apa ya? Apa separah itu dia
tidak ingin aku melihatnya?
Saegusa-san tertawa,
"Ha-ha-ha," dengan canggung untuk mengalihkan perhatian.
Yah, membaca apa pun
adalah kebebasan pribadi, dan setiap orang pasti memiliki satu atau dua hobi
atau rahasia yang tidak ingin diketahui orang lain, jadi aku memutuskan untuk
tidak ambil pusing lagi.
Oleh karena itu,
kenyataan bahwa saat aku melintas di sampingnya tadi aku sempat melihat sekilas
judul buku bertuliskan dengan ukuran besar: ‘Dengan Ini Kamu Juga Jadi Rebutan!
Target incaranku pun
bakal tunduk seketika—akan kuanggap sebagai rahasia saja.
Namun, aku sungguh penasaran
kenapa mantan idol gadis tercantik di nasional seperti Saegusa-san membaca buku
semacam itu.
Pasti Saegusa-san punya jalan
pikirannya sendiri mengenai hidupnya.
Seandainya pun gadis secantik Saegusa-san
ini mengalami kesulitan dalam percintaan, orang yang menjadi targetnya pasti
adalah pesohor terkenal atau manusia super... eh, tunggu dulu, cowok macam
apa itu, topiknya sudah terlalu jauh dari duniaku sampai-sampai aku ingin
tertawa.
Sambil duduk melamun memikirkan
hal itu, Saegusa-san, si subjek utama, tampak mengintip ke arahku secara
diam-diam dari sudut matanya, lalu menutupi wajahnya dengan buku teks karena
malu, kemudian mengintip lagi ke arahku secara diam-diam—mengulangi tingkah
laku misterius yang sama.
Begitulah, hari ini pun Saegusa-san
dengan tenang dan tekun bertindak mencurigakan sejak pagi.
***
"Ossu! Selamat pagi,
Takuya!"
"Yo! Selamat pagi,
Takayuki!"
Takayuki datang ke kelas setelah
menyelesaikan kegiatan klub pagi.
Latihan basket dari pagi, sungguh
kerja keras yang luar biasa, pikirku.
Takayuki dengan rambut basah
karena keringat setelah berolahraga tampak sangat seksi bahkan di mataku yang
sesama lelaki.
Kira-kira kalau aku seorang
cewek, aku pasti sudah naksir!
"Oh iya! Ada kabar
baik!"
"Hm? Apaan?"
Sambil berkata begitu,
Takayuki merogoh tasnya dan mengeluarkan dua lembar tiket, lalu menunjukkannya
dengan nada bangga.
"Takuya, akhir pekan
ini kamu kosong kan?"
"Hm, kosong kok,
emangnya kenapa?"
"Dengarkan dan
terkejutlah, ini adalah tiket konser DDG yang diadakan hari Sabtu besok! Ayo
pergi bersama!"
"Seriusan! Eh, boleh
nih?"
"Ah, tentu saja! Ayahku tidak sengaja mendapatkannya dari
urusan pekerjaan lalu memberikannya kepadaku!"
"Wah, untung banget!
Berarti, aku bisa ketemu YUI-chan langsung dong!"
Brak!!
Bersamaan dengan rasa
gembira dan antusiasku yang meluap, tiba-tiba suara keras terdengar dari kursi
sebelah.
Aku dan Takayuki terkejut
dan mengalihkan pandangan ke sana, rupanya suara itu timbul saat Saegusa-san
berdiri dengan penuh tenaga.
Saegusa-san yang berdiri
terpaku di sebelah tanpa bergerak, memasang ekspresi keputusasaan seolah-olah
dunia mau kiamat.
"S-Saegusa-san? Ada apa?"
Takayuki bertanya dengan hati-hati kepada Saegusa-san.
Namun, Saegusa-san yang tersadar hanya menjawab dengan suara melemah,
"Maafkan aku," lalu pergi meninggalkan kelas dengan wajah pucat pasi.
"A-ada apa dengannya?"
"En-entahlah?"
Aku dan Takayuki yang sama sekali tidak paham hanya bisa menatap punggung Saegusa-san
yang menjauh.
Menjelang homeroom pagi dimulai, Saegusa-san kembali ke kelas.
Menanggapi sapaan dari teman-teman sekelas yang bersahutan, dia meresponsnya
secara normal menggunakan mood idol sempurnanya seperti biasa, sehingga
sepertinya tidak terjadi apa-apa dan aku merasa lega.
Aku tidak boleh kalah dari Yui-chan...
Lalu saat homeroom dimulai, suara bisikan kecil Saegusa-san terdengar
dari sebelah.
Mendengar suara itu, aku menoleh ke samping dan melihat wajah Saegusa-san
yang dipenuhi ekspresi ketegangan dan tekad bulat, seolah dia baru saja
mengambil sebuah keputusan besar.
Dan kurasa, sejak saat inilah—
Keadaan Saegusa-san yang tadinya
sudah misterius, malah menjadi semakin aneh.
***
Hari Jumat sepulang sekolah.
Aku dan Takayuki pergi ke toko
khusus merchandise idol di depan stasiun.
Tujuannya tentu saja untuk
membeli pernak-pernik yang akan dibawa ke konser DDG hari Sabtu.
Saat istirahat siang hari Senin
lalu, atas usul Takayuki kami sudah memutuskan untuk pergi berbelanja sepulang
sekolah, tapi setelah mencocokkan jadwal, hari yang kosong bagi kami berdua
ternyata hanyalah hari Jumat, sehingga akhirnya kami datang tepat di hari
sebelum konser.
Setibanya di toko, berbagai merchandise
penggemar mulai dari idol, band, hingga aktor berjejer memenuhi ruangan.
Mungkin karena menyesuaikan
dengan konser hari Sabtu, sudut khusus DDG disiapkan tidak jauh dari pintu
masuk, membuat Takayuki langsung melompat ke sana dan bersemangat memilih
berbagai barang.
Meskipun ikut datang, aku
sebenarnya tidak begitu tertarik pada merchandise atau semacamnya, jadi
aku memutuskan untuk berkeliling melihat-lihat isi toko.
Di dalam toko berjejer berbagai
macam barang seperti kipas uchiwa dan foto bromid.
Di tengah deretan merchandise
berbagai idol dan band itu, sudut khusus Angel Girls yang disiapkan di sebelah
kasir tampak sangat mencolok.
Meskipun Saegusa-san sudah lulus,
Angel Girls sendiri masih sangat populer sebagai grup idol nasional hingga saat
ini, sehingga mereka mengambil area terluas di dalam toko untuk memajang
berbagai merchandise.
Sambil mengamati barang-barang
itu, aku menyadari ada sebuah lemari kaca besar yang diletakkan di samping.
Karena penasaran, aku melongok ke
dalam lemari kaca tersebut, dan menemukan foto bertanda tangan asli Saegusa-san,
kipas, hingga kaos yang disusun dengan sangat rapi satu per satu.
Ah, Saegusa-san! Pikirku, tapi begitu melihat harganya,
aku langsung terkejut.
Di dalam lemari kaca itu juga
berjajar berbagai merchandise dengan tanda tangan anggota Angel Girls
yang lain, tapi khusus barang milik Saegusa-san, semuanya dibanderol dengan
harga lebih dari tiga kali lipat.
"Selamat datang. Kamu,
jangan-jangan penggemar Shiorin ya?"
"Eh? Ah, tidak juga...
Haha."
Sambil terkejut melihat harga merchandise
Saegusa-san, pegawai toko menyapaku, menyadari keterkejutanku.
Ngomong-ngomong,
"Shiorin" adalah nama panggilan Saegusa-san saat aktif sebagai idol.
Karena namanya "Shion",
ia dipanggil "Shiorin".
"Um, kenapa merchandise
Shiorin saja yang harganya semahal ini ya?"
"Itu karena merchandise
Shiorin yang sudah lulus ini jumlahnya terbatas sesuai stok yang beredar di
pasaran, jadi nilai kelangkaannya lebih tinggi dibandingkan dengan member yang
masih aktif sekarang."
"Eh, tapi memangnya masih
ada permintaan untuk idol yang sudah lulus?"
Menanggapi pertanyaan polosku,
pegawai toko tersenyum menyeringai seolah berkata, "Pertanyaan
bagus."
"Ya, biasanya seperti
katamu, setelah lulus, nilai merchandise itu akan turun. Tapi khusus
Shiorin ini berbeda. Dia berhenti bukan karena alasan usia atau popularitas
yang meredup, melainkan karena tiba-tiba menghilang di tengah puncak
popularitasnya, sehingga dia mulai didewakan sebagai idola legendaris di
kalangan penggemar. Jadi, bukannya turun, nilai pasar merchandise
Shiorin justru akan terus meningkat ke depannya."
Pegawai toko itu bercerita dengan
bangga bahwa mengumpulkan merchandise Shiorin sebanyak ini pun butuh
perjuangan yang sangat besar.
"Wah, begitu ya. Ah, foto
ini kangen juga ya—"
Di belakangku dan pegawai toko
yang sedang mengobrol itu, tiba-tiba seorang wanita menyapa.
Melihat sosoknya sekilas, pegawai
toko itu langsung membeku seperti batu.
Dan aku, langsung tahu siapa
orangnya hanya dari suaranya.
Saat aku menoleh, di sana—teman
sekelasku yang duduk di kursi sebelah, mantan anggota grup idol nasional Angel
Girls, Saegusa-san alias "Shiorin"—tampak tersenyum ramah.
Sama sepertiku yang baru pulang
sekolah, Saegusa-san sama sekali tidak mengenakan penyamaran, dan siapa pun
yang melihatnya pasti akan langsung tahu bahwa itu adalah Shiorin sendiri.
Bahkan para pelanggan wanita yang
sedang memilah merchandise idol pria pun berbisik-bisik dari kejauhan
sambil melirik ke arah kami, "Hei! Bukankah itu Shiorin? Bohong?!"
"K-kenapa Saegusa-san bisa
ada di sini?"
"Aku juga mau nonton
konser DDG besok, jadi aku datang buat beli penlight."
Terkejut dengan
kemunculan Saegusa-san yang tiba-tiba, aku bertanya kenapa dia bisa ada di
sini.
Saegusa-san menjawab
sambil sedikit mengayunkan penlight di tangannya dan tersenyum manis
menggunakan movement idol sempurnanya.
—Eh? Hari ini tidak
bertingkah mencurigakan?
Jangan-jangan, ini
pertama kalinya aku mengobrol benar-benar dengan Saegusa-san tanpa penyamaran?
Aku sampai berpikir
begitu karena di dalam hati aku merasa sangat terkejut melihat Saegusa-san yang
sekarang bisa diajak mengobrol dengan normal.
"Kangen banget ya...
Ah, foto yang ini jelek banget, jadi aku agak tidak suka—"
Saegusa-san bernostalgia
dengan masa-masa sebagai idol sambil melihat merchandise Angel Girls
yang dijual secara umum, bukan yang di dalam lemari kaca.
Lalu, sepertinya sudah
puas, dia berkata "Gimana kalau yang ini saja," mengambil satu kaos
Angel Girls, lalu menyerahkannya ke kasir bersama penlight.
Pegawai toko yang tadinya
terkejut dengan kemunculan Shiorin mendadak, berhasil menguasai diri dan
memproses pembayarannya di kasir.
Namun, jemari yang
mengetik di mesin kasir itu tampak gemetar hebat dan sepertinya tidak berjalan
lancar.
"K-kalau Shiorin,
gratis pun..."
"Tidak boleh. Aku
kan juga salah satu pelanggan, jadi tolong hitung secara adil ya."
"B-baiklah!"
Mendengar senyuman idol Saegusa-san,
pegawai itu memerah wajahnya karena kegirangan bisa "melihatnya
kembali".
Luar biasa, inilah
kekuatan sejati dari Saegusa-san dalam mode idol.
Saegusa-san yang ada di
sampingku saat ini bukanlah Saegusa-san si teman sekelas, melainkan Shiorin
dari Angel Girls tanpa diragukan lagi.
"U-uangnya jadi
4.538 yen!"
"Ya, ini uang
pasnya."
Saegusa-san membayar pas
dari dompetnya, lalu membuka bungkus plastik kaos yang baru saja dibelinya
sambil berkata, "Boleh kubuka ya?". Setelah itu, dia mengeluarkan
spidol permanen hitam dari tasnya dan langsung menuliskan tanda tangan di atas
kaos tersebut.
Lalu,
"I-ini! Untuk
Ichijo-kun!"
"Eh, untuk aku?
Kenapa?!"
Saegusa-san masih menggunakan movement
idol-nya, namun wajahnya merona merah karena malu.
Aku menerima kaos itu tanpa
mengerti alasannya, sementara Saegusa-san meninggalkan sepatah kata,
"Kalau begitu!" dan pergi dengan langkah tergesa-gesa.
Aku yang ditinggal terpaku,
menatap kembali kaos yang diberikan kepadaku.
Di sana tertera tanda tangan yang
sama persis dengan kaos yang ada di lemari kaca.
Pegawai toko yang histeris
berteriak, "Shiorin asli ketemu!" memohon-mohon kepadaku agar
mau menyerahkan kaos itu dengan imbalan uang yang sepadan, tapi aku menolaknya
secara baik-baik karena itu adalah pemberian dari orangnya langsung.
Takayuki yang baru selesai
memilih merchandise DDG akhirnya datang, jadi setelah menyelesaikan
pembayaran, kami langsung keluar dari toko.
"Gerak-gerik pegawai tadi
aneh banget, emangnya ada apa?"
"Ah, pegawai itu kayaknya
fans Saegusa-san, tadi pas kamu nggak ada, Saegusa-san sempat mari ke
sini."
"Hah?! Seriusan?!"
Takayuki langsung paham kenapa
pegawai itu bersikap seperti tadi.
Begitulah, setelah selesai
berbelanja, kami makan ramen di jalan pulang dan berpisah dengan ucapan
"Sampai jumpa besok".
***
Sendirian di kamar, aku
berhadapan dengan kaos yang diberikan tadi.
Sebuah kaos putih polos
dengan logo Angel Girls tercetak di bagian dada.
Namun, di bagian kanan
bawah bagian depan tertera tanda tangan asli Shiorin.
Kaos yang diberi harga
selangit oleh pegawai toko tadi.
Sambil menatap kaos
istimewa tersebut, aku mengenang kembali kejadian hari ini.
—Pertama-tama, kenapa dia
memberikan ini kepadaku?
Karena alasannya sama sekali
tidak jelas, jujur saja aku sudah memikirkannya sejak kami makan ramen tadi.
Kemungkinan yang ada...
berdasarkan cerita pegawai toko, tanda tangan Shiorin memiliki nilai yang
sangat tinggi, jadi mungkin dia memberikannya kepadaku sebagai hadiah karena
kebetulan kami bertemu sebagai teman sekelas dalam suasana spontan?
Yah, sudahlah, dipikirkan sedalam
apa pun juga tidak akan ada jawabannya, jadi aku memutuskan untuk menerima
alasan itu saja.
Bagaimanapun alasannya, karena
ini pemberian yang berharga, nanti kalau ketemu aku harus mengucapkan terima
kasih dengan benar.
Jadi, masalah itu sudah beres.
Lebih dari itu, aku justru menyadari satu hal yang jauh lebih mengejutkan.
Yaitu—
—Saegusa-san tadi mengeluarkan uang koin secara normal.
Ya, meskipun waktu itu aku tidak terlalu memikirkannya, itu adalah pertama
kalinya aku melihat Saegusa-san mengeluarkan uang koin dari dompetnya.
Tolonglah, coba keluarkan uang koin juga waktu di minimarket...—aku
kembali memegang kepala karena tingkah laku misterius Saegusa-san.
***
Hari konser DDG pun akhirnya tiba.
Aku mengenakan pakaian baru yang kubeli dari uang tabungan kerja paruh waktu
dan menuju ke tempat janjian dengan Takayuki.
Dengan total koordinasi dalam mengenakan pakaian model terbaru dari
merek ternama, penampilanku saat ini pastinya sudah berada di level yang tidak
memalukan sebagai anak SMA.
Pertama-tama, aku sudah bekerja
keras dengan paruh waktu agar bisa menikmati momen seperti ini secara maksimal.
Hidup itu butuh keseimbangan!
Dan Takayuki yang datang agak
terlambat ke tempat janji juga mengenakan pakaian yang lebih rapi dari
biasanya.
"Yo! Takuya, maaf menunggu!
Semangat banget kelihatannya!"
"Kamu juga sama,
Takayuki."
Kami saling menertawakan karena
sama-sama berdandan rapi untuk bepergian, lalu langsung menuju ke tempat
konser.
Setibanya di lokasi konser,
tempat itu sudah dipadati oleh banyak orang.
Karena DDG juga memiliki banyak
penggemar wanita, rasanya perbandingan penonton pria dan wanita sekitar
setengah-setengah.
Kami menyerahkan tiket di pintu
masuk, dipasangi gelang di pergelangan tangan, dan berhasil masuk dengan
selamat.
Atmosfer venue yang dipenuhi
orang membuatku benar-benar merasakan bahwa aku telah datang ke sebuah konser.
Takayuki menuju ke stan penjualan
merchandise di dalam venue dan sibuk melihat-lihat berbagai
pernak-pernik konser.
Terbawa oleh suasana venue ini,
aku yang merasa gerah juga membeli handuk dengan logo DDG tercetak di atasnya
dan melingkarkannya di leherku.
Selesai berbelanja dengan cepat,
kami berdua berjalan maju ke bagian depan area konser.
Sesuai dengan keterangannya bahwa
kapasitas maksimal area berdiri bisa mencapai 1.800 orang, bagian dalam venue
ini terasa sangat luas.
"Akhirnya dimulai juga
ya!"
"Iya, aku baru pertama kali
datang ke konser musik seperti ini, jadi agak gugup."
Ya, karena ini adalah pertama
kalinya dalam hidupku aku datang ke konser musik seperti ini, jauh di dalam
hatiku aku merasa sangat antusias.
Suara penyetelan instrumen
sesekali bergema dari atas panggung, dan atmosfer yang menandakan konser akan
segera dimulai semakin melipatgandakan antusiasme-ku.
Sejujurnya, meskipun aku
menyadari diriku adalah tipe orang yang lebih dingin dibandingkan dengan orang
lain dalam menjalani hidup, aku menyadari bahwa pada dasarnya aku sama saja
dengan orang-orang di sekitarmu.
Aku tidak berniat hidup dengan
memasang sikap sinis, jadi kalau memang begitu ya sudah, perasaanku begitu
meluap sampai-sampai aku berpikir bahwa pergi karaoke bersama-sama sekarang
mungkin bukan hal yang buruk juga.
***
Tiba-tiba, seluruh lampu di dalam
venue dipadamkan.
Seiring dengan itu, seisi
venue langsung bersorak riuh.
Aku pun mengerti, konser
utamanya akhirnya akan segera dimulai!
Beberapa saat kemudian,
sorot lampu dari berbagai arah diarahkan ke panggung secara serentak.
Dan di tempat yang
disorot itu, kelima anggota DDG sudah berdiri bersiap dengan instrumen mereka
masing-masing.
Pada detik itu juga,
seisi venue langsung bergemuruh.
Aku juga tidak bisa
menahan rasa antusiasme-ku melihat DDG yang akhirnya muncul di hadapanku.
Sejak diperkenalkan oleh
Takayuki, DDG adalah lagu yang terus kudengarkan berulang kali saat perjalanan
ke sekolah maupun saat sendirian di rumah, jadi wajar saja kalau aku merasa
begitu.
Dan kemudian, permainan musik pun
dimulai.
Berbeda dari suara yang didengar
lewat earphone atau speaker rumah, suara bass yang begitu berat
bergema hingga terasa di sekujur tubuh, dan—
"Terima kasih semuanya sudah
datang hari ini! Mari kita buat suasananya jadi semakin meriah!!"
Hanya dengan sepatah kata dari
YUI-chan secara langsung, voltase di dalam venue langsung mencapai puncaknya
seketika.
***
Setelah itu, penampilannya
benar-benar luar biasa.
Sulit dipercaya bahwa mereka
seumuran dengan kami, panggung DDG sungguh sangat mengagumkan.
"Takuya... aku rasanya mau
menangis..."
"Iya... aku
mengerti... ini benar-benar luar biasa..."
Bukan hanya kami berdua,
semua orang yang ada di sini sekarang telah diselimuti oleh atmosfer yang
diciptakan oleh DDG.
Awalnya, baik aku maupun
Takayuki datang hanya dengan perasaan ringan untuk melihat YUI-chan secara
langsung.
Namun, sekarang kami
sudah benar-benar terpikat oleh penampilan luar biasa YUI-chan di atas
panggung, serta kelima anggota DDG secara keseluruhan.
"Fiuh, semuanya pada
bersenang-senang, kan? Istirahat sebentar ya!"
Setelah membawakan lima
lagu berturut-turut, obrolan santai mereka sebagai waktu istirahat pun dimulai.
"YUI, kenapa kita datang ke
sini hari ini ya?"
"Hm? Ya, karena album baru
kita mau rilis, jadi kita sedang tur konser di berbagai tempat, kan?"
"Memang benar sih, tapi
bukannya hari ini ada satu hal lagi untuk semuanya?"
MEG-chan sang bassist, disusul
SARA-chan sang drummer, melempar pertanyaan kepada YUI-chan.
Penonton di venue pun ikut
mendengarkan obrolan santai DDG dengan penuh rasa penasaran.
"Ah, benar juga. Betul
sekali, hari ini bukan konser biasa, ada kejutan spesial yang hanya ada di
venue ini saja!"
Sambil tersenyum penuh arti yang
kelihatannya sudah direncanakan, YUI-chan berbicara kepada para penonton.
"Semuanya! Tamu spesial kita
muncul di sini hari ini! Apa kalian sudah siap semuanya—?!"
Seiring dengan seruan itu, para
anggota lainnya mulai memainkan instrumen mereka.
Dan aku, merasa sangat familiar
dengan melodi lagu tersebut.
Tapi, ini bukanlah lagu
DDG—melainkan intro dari lagu andalan Angel Girls, Start!!
"Ternyata, khusus untuk hari
ini saja, semua anggota Angel Girls telah datang khusus untuk memeriahkan
konser kita—!!"
Seiring dengan teriakan YUI-chan
tersebut, seluruh anggota grup idol papan atas nasional Angel Girls
tiba-tiba muncul secara bersamaan di atas panggung.
—Apa-apaan ini! Ada apa
sebenarnya ini?!
Kemunculan tiba-tiba dari grup
idol nomor satu tersebut membuat seluruh venue diliputi kebingungan sekaligus
kegembiraan yang luar biasa.
Di tengah venue yang sedang riuh
bergemuruh itu, pundakku tiba-tiba ditepuk dari belakang—
Karena terkejut, aku menoleh ke
belakang, dan di sana tampak sosok Saegusa-san yang mengenakan kacamata hitam
berbingkai bulat besar.
"Untung banget bisa
ketemu!"
Sambil berkata begitu, Saegusa-san melepas
kacamata hitamnya dan tersenyum manis.
Begitulah, entah kenapa aku akhirnya menonton
konser Angel Girls yang akan segera dimulai ini bersama Saegusa-san alias
Shiorin, mantan anggota Angel Girls itu sendiri.
—Eh? Suasana macam apa ini?!
"Nggak nyangka semuanya pada datang,
bener-bener kaget deh," gumam Saegusa-san sambil menikmati pemandangan
panggung Angel Girls dengan riang.
Sepertinya Saegusa-san sendiri pun tidak
tahu bahwa Angel Girls akan datang ke konser hari ini.
Baru saja, aku sedang menyaksikan konser
grup idol nomor satu nasional Angel Girls bersama alias Shiorin yang notabene merupakan mantan
anggota Angel Girls itu sendiri.
Karena situasi yang terlalu membingungkan
ini, tentu saja orang-orang di venue, bahkan Takayuki yang ada di sebelahku pun
belum menyadarinya karena terlalu hanyut dalam konser.
Aku mengalihkan pandangan ke arah Saegusa-san
di sebelahku.
Bagaimana ya, penampilan Saegusa-san hari
ini benar-benar berbeda dari biasanya.
Atasan open-shoulder berwarna ungu muda,
dipadukan dengan rok putih bermotif polkadot.
Sebuah tas merah berukuran kecil yang
disampirkan di bahunya menjadi aksen dari outfit hari ini, membuat Saegusa-san
terlihat sangat modis dan menggemaskan.
Dan yang paling penting, dia bahkan merias
wajahnya secara natural—sesuatu yang biasanya tidak pernah dilakukannya—serta
memoleskan lipstik berwarna pink muda yang membuat bibirnya tampak merona dan
berkilau. Pokoknya, hari ini benar-benar
tampil habis-habisan dalam segala hal.
Kalau hal ini diceritakan, tidak akan ada
seorang pun yang percaya bahwa Saegusa-san yang datang ke minimarket dan Saegusa-san
yang sekarang adalah orang yang sama.
Bahkan aku sendiri pun hampir tidak
percaya; Saegusa-san hari ini benar-benar sangat manis dan cantik, dan di
hadapan Saegusa-san yang seperti itu, aku sampai tidak sanggup menatapnya
secara langsung hingga dibuat bingung harus memalingkan wajah ke mana.
Entah menyadarinya atau tidak, Saegusa-san
menoleh ke arahku sambil tersenyum geli. Daya serang dari senyuman itu terlalu
memberikan kejutan yang luar biasa bagi orang biasa sepertiku, sehingga aku pun
mau tidak mau langsung mengalihkan pandangan.
***
Di atas panggung, diiringi oleh alunan
musik langsung dari DDG, lagu andalan Angel Girls berjudul Start sedang
dinyanyikan.
Karena lagu ini sangat terkenal hingga
hampir semua orang mengetahuinya, meskipun hari ini mereka adalah penonton yang
datang untuk konser DDG, saat bagian reff dinyanyikan, sorak-sorai penonton pun
pecah secara alami dan venue menjadi sangat meriah.
Lalu, saat lagu mencapai bagian akhir reff
dan memasuki bait kedua, para anggota di atas panggung berpencar, dan sang
leader, Akari Niimi alias "Akari-n", berjalan menuju ujung panggung
sambil melambaikan tangan kepada penonton dengan senyuman.
Ujung panggung, tempat itu kebetulan
berada tepat di depan posisi kami berdiri.
Oleh karena itu, tentu saja Akari-n
menyadarinya.
Menyadari bahwa saat ini di sini, alias "Shiorin" sedang datang
berkunjung—
Saegusa-san, yang bertatapan mata dengan
Akari-n, membalas tatapan tersebut dengan melambaikan tangan sambil berkata,
"Yuhuu."
Akari-n, yang menerima lambaian tangan itu,
menunjukkan ekspresi terkejut dan kebingungan karena kemunculan Saegusa-san
yang tiba-tiba di hadapannya, meski begitu dia tetap berusaha melanjutkan
penampilannya sambil setengah mati menjaga profesionalitas.
Setelah berhasil menenangkan diri, Akari-n
menunjuk ke arah Saegusa-san sambil memasang ekspresi seolah ingin berkata,
‘Awas ya, nanti ada yang mau aku bicarakan!’, lalu kembali ke tengah panggung.
"Ahー ah, ketahuan deh," gumam Saegusa-san sambil terkikik geli dengan
santai, menatap punggung Akari-n seolah itu adalah urusan orang lain.
Angel Girls selesai menyanyikan lagu
Start.
Seiring dengan selesainya lagu tersebut,
tepuk tangan dan sorak-sorai yang seolah membelah udara langsung bergema dari
seluruh penjuru venue.
Suara penonton yang memanggil nama-nama
anggota Angel Girls terdengar bersahutan.
Menanggapi suara-suara itu, para anggota
Angel Girls tersenyum manis sambil melambaikan tangan ke arah penonton.
"Kalau begitu, sekali lagi, kami
adalah Angel Girls!"
Menyambut sapaan Angel Girls, seisi venue
bergemuruh, "UOOOOOH!!"
"Hari ini, karena ini adalah konser
tunggal DDG yang berasal dari agensi yang sama, kami datang khusus untuk
memberikan dukungan!"
"Wah, tadi itu luar biasa banget! Terima kasih banyak sudah datang!"
Ucapan Akari-n disambut dan dilanjutkan oleh
YUI-chan.
"Kalau begitu, rasanya bakal gawat kalau
anak-anak DDG tidak datang ke konser kita berikutnya juga~"
Orang yang melontarkan kalimat itu kepada
YUI-chan dengan senyuman penuh percaya diri adalah Megumi Tachibana alias
"Megumin", anggota Angel Girls yang bertanggung jawab sebagai pembawa
energi ceria.
"Ah, ide bagus tuh!"
"Fufu, setuju."
Mendukung pendapat Megumin tersebut, sang
anggota termuda alias imouto-chara Chitoshi Hiiragi alias
"Chii-chii", dan sang anggota berkarakter cool Miyabi Shinonome alias
"Miya-miya", mengangguk bersamaan.
Keempat orang inilah—Akari-n, Megumin,
Chii-chii, dan Miya-miya—yang menjadi anggota Angel Girls saat ini.
Meskipun keempatnya memiliki tipe yang
berbeda, masing-masing dari mereka adalah gadis-gadis yang sangat cantik, dan
kelompok idol ajaib yang mengumpulkan gadis-gadis penuh daya tarik individu
inilah yang kini disebut-sebut sebagai puncak dari seluruh idol, yaitu Angel
Girls.
Setelah obrolan santai antara Angel Girls dan
DDG itu berlangsung selama beberapa saat, tiba-tiba sang leader, Akari-n,
berbicara kepada semua orang di atas panggung dengan ekspresi yang menyiratkan
tekad bulat.
"Semuanya, boleh minta perhatian
sebentar? Hari ini kami akan menyanyikan satu lagu lagi, tapi aku akan
menanggung semua tanggung jawabnya, jadi ada seseorang yang sangat ingin
kuminta untuk ikut tampil di lagu berikutnya."
Sebenarnya apa yang sedang dibicarakan? Penonton di dalam venue mendengarkan dengan seksama.
Hal yang sama juga dirasakan oleh para
anggota di atas panggung, yang tampaknya sama sekali tidak mengerti apa maksud
dari ucapan itu.
"Tenang saja, lagu berikutnya adalah
lagu bertempo lambat, dan lagipula anak itu adalah orang yang paling tahu
tentang lagu ini. Makanya, aku ingin sekali lagi menyanyikan
lagu ini bersama anak itu!"
Melihat Akari-n yang berkata seperti itu, aku
akhirnya mengerti apa yang ingin disampaikan olehnya.
Maksudnya adalah—
"Kamu mendengarkan, kan, Shiorin! Cepat
naik ke atas panggung sekarang juga!"
Sambil menunjuk ke arah Saegusa-san alias
Shiorin, Akari-n mengumumkan seruan tersebut dengan lantang.
***
Seketika, seluruh venue
langsung mendadak riuh mendengar seruan mendadak dari Akari-n.
"Ahahaha, padahal aku kan
sudah pensiun."
"S-Saegusa-san, kamu mau
pergi?"
"Hmm, ya begitulah. Ya kan,
Ichijo-kun?"
Meskipun ucapannya terdengar
seperti sedang bimbang, Saegusa-san sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda
kebingungan dan tetap terlihat sangat santai seperti biasanya. Ia menatap ke
arahku sambil memamerkan senyuman cerahnya.
Lalu,
"Nyanyianku nanti
didengarkan baik-baik, ya?"
Meninggalkan sepatah kalimat itu,
Saegusa-san mulai melangkah menuju ke atas panggung.
"Astaga, Akari-n main comot
seenaknya aja."
Dari sisi panggung, suara yang
begitu jernih dan indah bergema ke seluruh ruangan.
Dan selang satu tarikan napas
dari suara itu, sesosok gadis cantik perlahan-lahan menampakkan dirinya di atas
panggung.
"SHIORIIIIIIIIINNNNNN!!!!"
Melihat kemunculan gadis itu,
sorak-sorai paling meriah hari ini langsung menggema memecah seluruh venue.
Begitulah, "Shiorin",
sang anggota legendaris dari grup idol papan atas nasional Angel Girls,
berhasil bangkit kembali untuk satu hari ini saja.
"Bohong... apa benar itu Shiorin...?"
"Shiorin-nn-nn!"
"Shiorin, kamu ini benar-benar Shiorin, kan?!"
Megumin, Chii-chii, dan Miya-miya berlari menghampiri Shiorin yang baru saja
muncul di atas panggung secara bergantian.
Meskipun reaksi ketiganya berbeda-beda, mereka bertiga tampak tidak mampu
menahan emosi saat berada di hadapan Shiorin.
"Semuanya, sudah lama tidak
jumpa, ya."
Saegusa-san membalas sapaan
ketiganya dengan senyuman ramah dan lembut.
Pemandangan itu membuat
suara-suara teriakan yang memanggil "Shiorin!" dari para penonton
tidak pernah berhenti.
"Maaf ya, padahal ini kan
konser YUI-chan dan kawan-kawan."
"Bener banget. Tapi ya
sudahlah, karena aku juga akhirnya bisa ketemu lagi sama Shion setelah sekian
lama, jadi dimaafkan deh."
"Fufu, terima kasih ya. Tapi
aku tidak akan kalah, lho?"
Mendengar YUI-chan yang tertawa
pasrah, Saegusa-san malah melontarkan pernyataan tidak mau kalah dengan
senyuman ala iblis kecil yang misterius.
YUI-chan yang mendapat serangan
tak terduga itu tersenyum masam, lalu membalas, "Entah kenapa, tapi kalau
begitu aku juga tidak mau kalah."
"Nah, Shiorin! Semuanya!
Karena hari ini adalah konser DDG, kita lanjut ke lagu berikutnya
sekarang!"
Mendengar perkataan
Akari-n, para anggota Angel Girls mengangguk.
Lalu, setelah Akari-n
membisikkan sesuatu kepada Shiorin, Shiorin yang mengangguk mantap langsung
berdiri tepat di tengah panggung.
Dengan Shiorin sebagai pusatnya,
anggota lainnya pun menempati posisi mereka masing-masing.
"Kalau begitu, silakan
dengarkan—Zutto Tomodachi (Selamanya Sahabat)."
Seiring dengan suara itu, alunan
musik dari DDG pun dimulai.
Lagu ini sangat kukenal.
Atau lebih tepatnya, ini adalah
lagu Angel Girls favoritku.
Lagu bertema balada yang
merayakan ikatan antara para anggota dan Shiorin ini dirilis persis setelah
pengumuman kelulusan Shiorin.
Meskipun ini hanya kebangkitan
untuk hari ini saja, berada dalam situasi di mana Angel Girls berkumpul
kembali lengkap dengan lagu ini membuat beberapa orang di venue bahkan sudah
terdengar mulai terisak-isak sebelum lagunya dimulai.
"Saegusa-san, kenapa ya dia
sampai berhenti jadi idol..."
Takayuki yang bergumam di
sampingku juga tampak terharu melihat Angel Girls yang kembali utuh.
"Bener juga ya..."
Kenapa ya, sebenarnya kenapa Saegusa-san
memutuskan untuk berhenti menjadi idol...
***
Intro lagu berakhir.
Lalu, suara nyanyian Shiorin sang idol bergema
ke seluruh penjuru venue.
Suara nyanyian malaikat yang begitu jernih itu
memiliki daya tarik yang memikat siapa saja yang mendengarkannya.
Dan, suara nyanyian para anggota lainnya mulai
bersatu satu persatu menyusul suara Shiorin tersebut.
Suara nyanyian itu terasa begitu menyentuh
hati para pendengarnya, seolah-olah setiap anggota sedang mendorong punggung
Shiorin yang akan segera lulus.
Bagian reff dinyanyikan secara paduan suara
oleh semuanya.
Lirik berbunyi, “Di mana pun kita berada, kita
tetaplah teman-teman,” berpadu dengan melodi lagu yang indah, benar-benar
meresap ke dalam lubuk hati setiap orang.
“Shiorin—!”
“Kembalilah—!”
Mendengar sorak-sorai penuh emosi yang
dikirimkan dari penonton, bahkan para anggota yang sedang bernyanyi pun tampak
tersentuh dan emosional.
—Luar
biasa, inilah wajah asli Saegusa-san.
Aku
terpaku menyaksikan sosok Saegusa-san yang, meskipun datang sebagai bintang
tamu kejutan, berhasil memikat hati orang-orang sebagai seorang idol secara
sempurna.
Aku
benar-benar terpesona oleh sosok Shiorin dari grup idol nasional Angel Girls
itu, terus menatapnya tanpa beralih hingga lagu selesai—
“Semuanya—! Terima kasih banyak ya untuk hari
ini! Silakan terus nikmati konser DDG sampai selesai, ya—!”
Begitu sang leader Akari-n mengumumkan hal
itu, para anggota Angel Girls berjalan mundur kembali ke belakang panggung.
Dari arah penonton, tepuk tangan dan
sorak-sorai yang memanggil Angel Girls yang hendak pergi tidak kunjung
berhenti.
Ngomong-ngomong, karena naik ke atas
panggung, Saegusa-san juga ikut menghilang ke balik panggung bersama mereka.
Merasa baru saja menyaksikan sesuatu yang
luar biasa, aku terdiam melamun untuk beberapa saat.
Meskipun Saegusa-san di sebelah meja
belajarku selalu bertingkah mencurigakan dan melakukan hal-hal misterius, Saegusa-san
hari ini tanpa diragukan lagi adalah seorang idol sejati.
—Aku mendengarkannya dengan baik kok, Saegusa-san.
Aku menyampaikan kalimat itu di dalam hati
kepada Saegusa-san yang sudah pergi.
***
Hari Minggu.
Aku masih belum bisa melepaskan diri dari
sisa-sisa euforia konser kemarin.
Konser DDG benar-benar luar biasa sampai
akhir, dan pada akhirnya aku sudah sepenuhnya menjadi fans DDG seperti
Takayuki.
Bahkan setelah konser selesai pun, kami masih
berlama-lama mengobrol dengan antusias di sebuah kafe bersama Takayuki;
sungguh, acaranya benar-benar sangat luar biasa.
Aku sangat berterima kasih kepada Takayuki
karena telah mengajakku ke konser yang begitu hebat.
Yah, di tengah-tengah meresapi sisa-sisa
euforia itu, aku kembali dari dunia non-normal ke rutinitas sehari-hari, dan
hari ini pun aku kembali bekerja keras paruh waktu di minimarket.
Lalu, melodi pintu minimarket terbuka
berkumandang.
Merespon melodi tersebut, aku mengucapkan
"Selamat datang~" seperti biasa sambil memastikan pelanggan yang
datang.
Di sana, berdiri seorang gadis yang tampak
sangat mencurigakan: mengenakan masker, kacamata berbingkai tebal, dan topi
casquette yang ditarik rendah untuk menutupi wajahnya.
—Saegusa-san
yang sudah sangat familiar.
Berbeda
drastis dari penampilannya yang manis kemarin, Saegusa-san dengan gaya
"orang mencurigakan" andalannya kembali mendatangi minimarket hari
ini.
Biasanya,
melihat Saegusa-san datang dengan gaya mencurigakan langganannya itu akan
membuatku merasa lega, tapi hari ini jantungku berdegup kencang tidak karuan.
Mengingat
bagaimana penampilan konser yang begitu luar biasa kemarin, meskipun hanya satu
lagu, adalah hal yang aneh jika jantungku tidak berdebar.
Namun,
Saegusa-san sama sekali tidak menyadari perasaanku; dia berjalan dengan langkah
super cepat melewati kasir, menunjukkan perilaku mencurigakannya secara
maksimal seperti biasa.
Kemudian,
setelah memasukkan salad, pasta salad, dan jus sayuran ke dalam keranjang
belanja, Saegusa-san mendatangi meja kasir.Hari ini isinya sayuran semua,
pikirku, tapi saat ini aku tidak punya kelapangan hati untuk menikmati hal itu.
Meskipun
sedang menyamar, Saegusa-san yang berdiri di hadapanku tetap saja terlihat
imut. Sambil berusaha sebisa mungkin tidak menatap wajahnya agar bisa tetap
tenang, aku dengan cepat menyelesaikan perhitungan belanjanya.
"S-semuanya
jadi 782 ye—"
"Ini
uangnya!"
Bahkan
sebelum aku selesai menyebutkan total harganya, Saegusa-san langsung mengambil
uang seribu yen dari dompetnya dan menyodorkannya dengan sigap.
Tentu
saja, hari ini pun dia tidak berniat mengeluarkan uang koin, jadi aku menerima
uang seribu yen itu, menyelesaikan pembayaran dengan cepat, dan menyerahkan
uang kembaliannya.
Lalu,
seperti biasa, Saegusa-san membungkus tanganku yang sedang mengulurkan
kembalian dengan kedua tangannya, lalu menerima koin-koin itu dengan penuh rasa
berharga.
"Ah...
ini..."
Saegusa-san
yang sedang menerima uang kembalian mendadak berhenti bergerak setelah
menyadari sesuatu.
Target
pandangan Saegusa-san adalah gelang berwarna pink yang melingkar di pergelangan
tanganku.
Barang
ini kubeli kemarin sepulang konser di toko merchandise idol yang kusinggahi
sebelumnya.
"Ah,
yang ini? Ini adalah merchandise dari idol kesukaanku. Namanya 'Shiorin dari
Angel Girls', tahu nggak?"
Mengucapkan
hal semacam itu langsung kepada orangnya sungguh terasa sangat memalukan, tapi
aku mengucapkannya sambil memasang senyuman ramah pelayan toko, membuat wajah Saegusa-san
langsung memerah seketika.
"A-awawa!
Terima kasih banyak!"
Lalu,
Saegusa-san yang sempat keseleo lidah di akhir kalimatnya itu buru-buru keluar
dari minimarket dengan langkah tergesa-gesa karena malu.
Namun,
aku tidak melewatkan ekspresi wajah Saegusa-san yang tampak gembira saat
beranjak pergi, meskipun wajahnya tertutup masker.Yah, Saegusa-san kemarin
memang keren banget, tapi kurasa Saegusa-san yang seperti inilah yang terasa
lebih dekat dan imut, pikirku sambil tersenyum, mengantar kepergian punggung Saegusa-san
yang semakin menjauh.
***
Hari
Senin.
Setibanya
di kelas, Saegusa-san sudah duduk di kursinya lebih dulu dariku seperti biasa.
Ngomong-ngomong,
berkat partisipasi dadakannya sebagai anggota Angel Girls di konser hari Sabtu
lalu, Saegusa-san mendadak menjadi pusat perhatian.
Di
media sosial, tagar ‘Kebangkitan Shiorin’ menduduki peringkat pertama trending
topic, dan bahkan dua hari berlalu pun kejadian hari Sabtu itu terus
diperbincangkan sebagai hari yang legendaris.
Oleh
karena itu, tentu saja Saegusa-san dikerumuni oleh banyak orang sejak pagi hari
ini.
"Aku lihat di berita lho! Kamu naik ke
panggung ya!"
"Sebenarnya aku juga nonton konser itu,
kaget banget pas Saegusa-san tiba-tiba muncul!"
"Hei, kapan-kapan nyanyi dong di
karaoke—!"
Semua orang yang berkumpul tampak sangat
antusias dan berbicara bersahutan kepada Saegusa-san yang sedang menjadi topik
hangat.
Aku sempat berpikir Saegusa-san pasti
kerepotan menghadapi ini semua sejak pagi, tapi dia menanggapi setiap
pertanyaan itu sambil tersenyum dengan baik, membuatku merasa bahwa dia memang
pantas disebut sebagai mantan idol super.
Yah, abaikan soal itu, intinya hari ini pun
kerumunannya terlalu padat.
Setelah meminta tolong untuk memberi jalan dan
akhirnya berhasil membuka sedikit ruang selebar satu orang, aku pun akhirnya
bisa duduk di kursiku.
Meskipun begitu, situasi di mana kerumunan
orang berada tepat di sebelah kursiku ini sama sekali tidak membuatku bisa
tenang seperti biasa.
Hari ini pun, pantat seorang siswi berada
tepat di samping kepalaku, membuat situasinya terasa sangat canggung dan
menyulitkan sejak pagi.
"Maaf ya semuanya! Aku agak lelah, jadi
bisa tolong dilanjutkan nanti saja ya?"
Mendengar suara Saegusa-san yang terdengar
sedikit lelah itu, semua orang langsung memasang ekspresi terkejut, meminta
maaf bergantian, dan buru-buru membubarkan diri dari tempat tersebut.
Hanya dengan satu kalimat, karismanya masih
tetap luar biasa...
Sepertinya pernah ada situasi serupa
sebelumnya, tapi memang Saegusa-san sangat luar biasa.
"Fiuh, selamat pagi Ichijo-kun."
"Ah, selamat pagi Saegusa-san."
Begitu kerumunan itu bubar, Saegusa-san yang
tampak lega menyapaku terlebih dahulu di pagi hari.
Aku sedikit terkejut, tapi berkat kejadian di
minimarket kemarin, aku bisa membalas sapaannya secara normal tanpa merasa
gugup.
Jika aku bertemu dengannya dalam kondisi
seperti hari Sabtu lalu, aku pasti akan merasa terlalu gugup sampai-sampai
tidak sanggup menatap wajahnya dengan benar.
Bagaimanapun juga, Saegusa-san yang mengenakan
seragam sekolah secara normal—bukan gaya penyamaran—tetaplah seorang gadis
cantik yang konsisten.
Bicara soal pakaian, pakaian kasual hari Sabtu
lalu benar-benar sangat imut.
Saegusa-san hari itu, yang merias wajahnya
secara natural dan tidak pernah ditunjukkannya di sekolah, benar-benar adalah
sosok Shiorin sang idol super yang sering kulihat di TV maupun majalah.
Situasi di mana Shiorin yang seperti itu kini
duduk santai di sebelahku dan bahkan menyapaku seperti ini sungguh terasa tidak
masuk akal.
"Uhm... ya? Terima kasih ya untuk hari
Sabtu kemarin."
"Ah, sama-sama. Um, aku dengar kok
nyanyian Saegusa-san dengan baik. Pokoknya, keren banget. Suara nyanyiannya
indah banget, nggak kalah memukau dari YUI-chan."
Mengingat hari itu Saegusa-san sempat
meninggalkan kalimat, “Nyanyianku nanti didengarkan baik-baik, ya?” saat
beranjak pergi, akhirnya aku menyampaikan kesan-kesanku meskipun agak
terlambat.
Suara nyanyian Saegusa-san sangat jernih dan
sangat indah, bagaikan suara nyanyian seorang malaikat.
Berbeda dari suara bertenaga milik YUI-chan,
ada keindahan tersendiri yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Itulah sebabnya, aku ingin menyampaikan apa
yang kurasakan secara jujur.
"B-begitukah... terima kasih..."
Mendengar itu, Saegusa-san menunduk malu
sambil menampakkan rona merah di wajahnya.
"Ah, gelang itu..."
"Gelang?"
"Eh? Ah! T-tidak apa-apa kok!"
Ketika dia menyebut soal gelang, apakah yang
dimaksud adalah gelang yang kupakai di minimarket? Tapi tentu saja sekarang kan di sekolah, jadi aku tidak mengenakan
gelang itu.
Namun, tampaknya menyadari hal tersebut,
suara kekecewaan tanpa sadar lolos dari bibir Saegusa-san.
Tapi Saegusa-san, aku minta maaf karena
tidak memakai gelangnya, tapi topik ini kan dibicarakan saat kamu berada dalam
mode orang mencurigakan di minimarket, lho?
Sepertinya akhir-akhir ini Saegusa-san
sering lupa bahwa dirinya sedang menyamar.
Saat aku pura-pura tidak sadar, Saegusa-san
buru-buru meralat ucapannya dan bilang tidak ada apa-apa.
Namun, pemandangan di mana Shiorin dari
Angel Girls yang bernyanyi dengan penuh percaya diri di atas panggung pada hari
itu kini tampak panik dengan wajah memerah hanya karena masalah gelangku
sungguh terasa begitu lucu sampai-sampai aku ingin tertawa.
—Saegusa-san, jarak kontrasnya kejauhan, tahu.
Melihatku yang tertawa, Saegusa-san tampak
panik dan berkata, "J-jangan ketawain aku!"—dia benar-benar gadis
yang sangat imut.
***
Waktu istirahat siang.
Hari ini pun aku makan bento bersama Takayuki.
Di sebelah kami, Saegusa-san yang sudah
menyingkirkan teman sekelasnya sejak awal juga tampak membuka tutup kotak
bentonya seorang diri sambil tersenyum kecil.
"Wah, hari Sabtu kemarin benar-benar
mantap ya."
"Iya, terima kasih banyak sudah
mengajakku ya, sungguh pengalaman yang luar biasa."
Baik aku maupun Takayuki masih tenggelam dalam
sisa-sisa euforia konser hari Sabtu yang belum sepenuhnya hilang.
"Ngomong-ngomong soal hari Sabtu, aku
bener-bener kaget banget sama Saegusa-san!"
"Eh?"
Saegusa-san, yang tiba-tiba diajak bicara
oleh Takayuki, tampak terkejut.
"Ah, iya benar juga. Waktu itu aku sama
Takuya kan juga nonton konsernya. Terus
tiba-tiba Saegusa-san naik ke atas panggung, aku bener-bener kaget parah."
"Ah, ya. Aku tahu kok."
"Bohong! Seriurursan?! Kelihatan dari
panggung?!"
Yah, maaf ya Takayuki.
Bukannya kelihatan dari panggung atau gimana,
tapi Saegusa-san hari itu berada tepat di sebelahku, yang artinya posisinya
sangat dekat dengan Takayuki, tapi sepertinya Takayuki benar-benar tidak
menyadari hal itu.
Yah, suasana di dalam venue kan agak
remang-remang, dan dia terlalu hanyut dalam konser, jadi kurasa itu adalah hal
yang wajar dan membahagiakan tersendiri baginya.
"Menurut kalian gimana? Konser kita
kemarin?"
"Bener-bener p-u-a-s banget
pokoknya!!"
Menanggapi pertanyaan Saegusa-san, Takayuki
langsung menjawab dengan nada penuh semangat.
Melihat Takayuki yang begitu antusias, Saegusa-san
tersenyum kecil sambil berkata, "Fufu, terima kasih ya," yang
membuatnya terlihat semakin imut seperti seorang idol sungguhan.
"Kalau Ichijo-kun sendiri, gimana?"
Eh, aku juga? Bukannya tadi pagi aku sudah
menyampaikannya, ya? Pikirku, tapi Saegusa-san yang pasti sudah tahu soal itu
sengaja ingin membuatku mengulangi pujian yang sama sekali lagi.
Hoo, begitu ya. Kalau kamu sangat ingin dipuji
separah itu, baiklah!
Kalau begitu, dengarkan baik-baik ya!
"Yah, suara nyanyian Saegusa-san
kemarin benar-benar luar biasa. Dan yang paling penting, pakaian yang kamu
pakai hari itu juga imut banget, sampai-sampai aku bingung harus memalingkan
pandangan ke mana."
"Setuju! Keren banget dan cocok
parah, kan!"
"Betul! Jujur saja, dibandingkan dengan
anggota Angel Girls lain atau anak-anak DDG di atas panggung, perhatianku lebih
tersedot ke arah Saegusa-san."
Bagaimana? Aku sudah memujimu setinggi langit
sesuai permintaanmu, kan? Sambil memikirkan hal itu, aku mengamati reaksi Saegusa-san,
tapi entah kenapa Saegusa-san malah menunduk sambil gemetar pelan.
Hm? Reaksi macam apa ini?
Reaksi yang jauh di luar perkiraannya ini
membuatku sedikit khawatir, takut-takut kalau aku sudah memujinya terlalu
berlebihan.
Tiba-tiba, Saegusa-san bangkit berdiri dengan
gerakan cepat, mengeluarkan secarik kertas yang terlipat dari dalam tasnya,
lalu menyodorkannya kepadaku secara lurus.
O-oh... apa ini?
Tanpa mengerti alasannya, aku menerima secarik
kertas yang disodorkan itu.
"S-sepulang sekolah nanti baru dibuka ya!
Sebelum itu, pokoknya dilarang keras membukanya!"
Dengan wajah yang memerah padam, Saegusa-san
melontarkan kalimat itu lalu bergegas meninggalkan kelas sambil membawa kotak
bento yang belum habis ia makan.
"Tadi itu... ekspresi karena dia malu,
kan...?"
"I-iya, sepertinya begitu..."
Aku dan Takayuki menatap punggung Saegusa-san
yang menjauh, saling mengonfirmasi apakah kami baru saja melakukan kesalahan
besar.
Hasilnya, sepertinya kami berdua tidak menimbulkan
masalah apa pun—seharusnya begitu.
Jadi, alasan Saegusa-san pergi pasti murni
karena merasa terlalu malu.
Kira-kira, pemikiran itu tidak salah.
—Lalu, kertas apa ini?
Sambil merasa penasaran, aku memutuskan untuk
menyimpan secarik kertas yang terlipat rapi itu ke dalam saku seragamku tanpa
membukanya terlebih dahulu sesuai instruksinya.
Lalu, malam harinya.
Aku sedang berdua saja "berperang"
melawan secarik kertas yang diberikan oleh Saegusa-san saat istirahat siang
tadi.
Secarik kertas bagaikan Kotak Pandora yang
dilarang dibuka sebelum tiba di rumah.
Sambil merebahkan diri di atas tempat tidur
kamarnya, aku bergumam, "Boleh dibuka sekarang, kan?" lalu membuka
lipatan kertas itu perlahan-lahan.
shion-s.1012
Apaan ini? Di sana tertulis sesuatu yang mirip
dengan ID misterius.
Rasanya seperti pernah kulihat di suatu
tempat... Ah, benar, ini adalah kata sandi yang sama persis dengan coretan di
kuis kecil pelajaran bahasa Jepang beberapa waktu lalu.
Saegusa-san ini sebenarnya mau berbuat apa sih
dengan terus-menerus memberikan sandi semacam ini kepadaku, pikirku. Namun, di
bagian kanan bawah kertas tersebut tertulis sebuah catatan kecil berbunyi
‘Line.’
Ah, begitu rupanya.
Ternyata ini adalah ID Line milik Saegusa-san.
Setelah merasa lega karena teka-teki sandi
misterius ini akhirnya terpecahkan, aku berpikir, kalau begitu kenapa tidak
langsung dikasih tahu saja sejak tadi tanpa perlu menunggu sampai pulang ke
rumah, lalu mengetik ID tersebut di kolom pencarian.
Hasilnya, sebuah akun bernama ‘Shion’ dengan
ikon gambar anak kucing yang imut muncul di layar.Oho, jadi ini Line-nya Saegusa-san
ya,—pikirku sambil hendak mengetuk tombol tambah teman, namun gerak jariku
tiba-tiba membeku di udara.
—Eh? Tunggu, apa yang sedang kulakukan
sekarang?
Rasa ganjil yang datang menerpa secara
tiba-tiba langsung menelannya bulat-bulat.
—Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu! Kenapa Saegusa-san
sampai mau membagikan akun Line-nya kepadaku?!
Sambil dilanda kepanikan yang luar biasa,
aku akhirnya menyadari kekuatan penghancur sesungguhnya yang tersimpan di dalam
kotak Pandora tersebut—
***
Setelah itu, aku menatap layar ponselku
selama hampir tiga puluh menit.
Dan kesimpulan yang akhirnya kudapat adalah:
‘Pertama-tama, mari berteman dengannya.’
Karena aku sudah diberikan ID Line-nya, entah
apa pun alasannya, kupikir tidak menambah kontaknya adalah tindakan yang tidak
sopan kepada Saegusa-san.
Oleh karena itu, dengan jari yang gemetar, aku
mengetuk tombol tambah teman.
Lalu, aku memastikan bahwa akun Saegusa-san
dengan ikon gambar anak kucing itu benar-benar telah ditambahkan ke dalam
daftar teman.
Waduh, aku benar-benar sudah
melakukannya...—aku menyadari bahwa sudah tidak ada jalan untuk mundur lagi.
Begitu sudah ditambahkan sebagai teman,
langkah selanjutnya adalah mengirimkan pesan secepat mungkin tanpa membuang
banyak waktu.
Namun, masalah baru kembali muncul di
sini.—Gawat, aku sama sekali tidak tahu apa yang harus dikirim.
‘Ini Ichijo! Aku sudah tambahkan kontaknya ya!
Terima kasih!’‘Aku Takuya Ichijo! Ikon kucingnya imut ya! Salam kenal!’‘Ini Saegusa-san,
kan? Aku Ichijo! Salam kenal ya kedepannya!’
Dan banyak lagi. Aku berulang kali mengetik dan menghapus draf pesan yang isinya hampir
serupa.
Meskipun ingin mengirim Line kepada Saegusa-san,
jarak hubungan kami benar-benar membuatku bingung harus bersikap seperti apa.
Namun, di tengah kebingungan ini, pihak
sana pasti sudah mendapat notifikasi bahwa kontaknya telah ditambahkan, dan
jika aku tidak segera mengirim pesan, dia mungkin tidak tahu siapa pemilik akun
ini, yang bisa membuatnya curiga.
Ngomong-ngomong, akun Line-milikku
menggunakan ikon anjing yang dipelihara di rumah kakekku, dengan nama akun
‘TAKU’.
Mungkin saja dia bisa menebak, tapi belum
tentu dia langsung tahu bahwa akun misterius ini adalah aku.
Mengingat Saegusa-san adalah seorang
mantan idol super, jika dia merasa curiga, dia bisa saja langsung memblokirku
sewaktu-waktu.
Karena panik, aku mengetik pesan seadanya,
berpikir bahwa aku harus mengirim sesuatu secepatnya.
‘Apakah ini akun Saegusa-san? Aku Ichijo dari
meja sebelah’
B-baiklah! Ini yang paling aman, aku pakai ini
saja.
Tepat saat aku membulatkan tekad dan
hendak mengetuk tombol kirim—
Sebuah pesan baru muncul dengan bunyi
notifikasi ping di layar ponselku.
‘Ini Ichijo-kun, kan?’
Pesan itu ternyata dikirim lebih dulu oleh Saegusa-san.
Karena aku sedang membuka layar obrolannya,
pesannya pasti langsung terbaca dalam waktu singkat. Aku pun buru-buru
menghapus ketikan pesanku dan segera membalasnya.
‘Betul! Kok tahu?’
‘Aku tahu dari namanya!’
Balasanku langsung dibaca oleh Saegusa-san,
tapi ada jeda sejenak sebelum balasannya masuk.Apakah bisa ditebak hanya dari
nama? Pikirku, tapi setidaknya dengan Saegusa-san yang mengirim pesan duluan,
beban di pundakku rasanya langsung terangkat.
‘Kenapa kasih tahu ID Line-nya?’
Sambil memulihkan ketenanganku, aku
melontarkan pertanyaan paling utama.
Tentu saja, pertanyaannya adalah kenapa Saegusa-san
sampai mau memberikan ID Line-nya kepadaku.
Pasti ada alasan yang jelas di baliknya,
seperti ingin meminta bantuan sebagai teman sekelas atau semacamnya.
Jika tidak ada alasan penting, rasanya tidak
mungkin Saegusa-san mau bertukar Line denganku jika dipikir secara normal.
Oleh karena itu, aku menunggu balasan Saegusa-san
dengan perasaan tegang, mengira dia mungkin akan meminta bantuan penting mulai
sekarang.
Lalu, setelah jeda beberapa saat, ponselku
berdering menandakan notifikasi masuk.
Dengan hati-hati, aku mengetuk layar ponselku,
dan notifikasi itu ternyata adalah balasan dari Saegusa-san.
‘Emangnya nggak boleh ya?’
Hanya kalimat itu saja yang dikembalikan.
Aku merasa kebingungan karena tidak bisa
menangkap makna di balik kalimat singkat tersebut.—Apa maksudnya "nggak
boleh ya"?
Rasanya jadi mirip seperti Saegusa-san memang
benar-benar ingin bertukar Line denganku secara normal! Pikirku, tapi aku
langsung menepis pikiran naif itu dengan cepat, berpikir, mana mungkin ada hal
seperti itu.
Namun, seolah memberikan pukulan telak padaku,
notifikasi berbunyi lagi.
‘Aku cuma mau Line-an sama Ichijo-kun’
Membaca kalimat tunggal itu, aku merasakan
sesuatu seolah mengalir keluar dari diriku.
Kalau sudah diucapkan sejelas itu, tentu saja
maknanya sudah mutlak.
Oleh karena itu, dengan kepala yang justru
kembali tenang, aku mengetuk layar ponselku untuk membalas.‘Boleh kok, terima
kasih sudah kasih kontaknya. Aku juga senang bisa Line-an sama Saegusa-san.’
Begitu kubalas, tidak ada lagi balasan dari Saegusa-san
untuk sisa malam itu.
Sambil bertanya-tanya, ‘Duh, bakal jadi gimana
ya di sekolah besok?’, entah kenapa perasaan antusias justru lebih mendominasi
rasa cemas di dalam diriku.
***
Keesokan harinya.
Seperti biasa, aku berhasil bangun pagi dan
berangkat ke sekolah jauh lebih awal dari biasanya.
Setibanya di kelas, baru ada dua orang
yang datang termasuk aku.
Satu orang lagi selain aku adalah Saegusa-san—teman
sebangku yang kini sudah terkenal sangat rajin datang super pagi semenjak kami
bertukar posisi tempat duduk.
Padahal hari ini aku datang tiga puluh
menit lebih awal dari biasanya, tapi sejak jam berapa sebenarnya Saegusa-san
sudah berada di kelas?
"Selamat pagi, Saegusa-san."
Aku menyapa Saegusa-san sambil berjalan ke
tempat dudukku.
"A-p-pa... pagi, Ichijo-kun."
Memutar lehernya dengan kaku dan memberikan
sapaan yang tegang setengah mati, Saegusa-san hari ini pun kembali menunjukkan
mode tingkah laku mencurigakannya sejak pagi.
"Oh iya. Terima kasih ya untuk Line-nya
kemarin. Ngomong-ngomong, sebaiknya hal ini tidak perlu disebar ke anak-anak
lain, kan?"
"A-m-mm! Aku selalu menolak kalau ditanya
anak-anak kelas lain, jadi kalau kamu bisa ikut rahasiakan juga, b-bantu
banget..."
Meskipun merasa cukup terkejut dengan jawaban
tak terduga itu, aku mengangguk dan menjawab, "Aku mengerti."
Kalau begitu, kenapa kamu malah memberikannya
kepadaku?Bisa-bisa aku jadi salah paham, lho? Karena aku sangat sadar diri
bahwa tidak ada alasan bagi Saegusa-san untuk melihatku sebagai target
romantis, aku memutuskan untuk tidak memikirkan detail kecil itu terlalu dalam.
Pasti ada alasan tertentu di baliknya, tapi
jika aku bisa bertukar Line dengan gadis seperti Saegusa-san sementara aku
hanyalah siswa biasa, kurasa itu sudah lebih dari cukup untuk disyukuri.
"K-kemarin, maaf ya nggak sempat balas!
Aku langsung ketiduran pas habis mandi!"
"Begitu ya. Hm, nggak apa-apa kok, santai
sa—"
"Harus dipedulikan!"
Aku tadinya berniat mengatakan bahwa dia tidak
perlu meminta maaf dan santai saja, tapi dia justru memotong ucapannya dengan
cepat dan menyuruhku untuk mempedulikannya.
Mungkin menyadari dirinya keceplosan, Saegusa-san
menunduk dengan wajah memerah karena malu.
"Ah, ya... maaf. Sebenarnya aku juga
pengen lebih lama Line-an sih, yah."
Melihat suasana berubah menjadi sangat
canggung, aku buru-buru melontarkan kalimat penyelamat.
Faktanya, karena lawan bicaraku adalah Shiorin
sang idol yang sangat kukagumi, perasaan ingin mengobrol lebih lama lewat Line
itu memang benar-benar nyata. Super nyata.
"B-b-begitu ya! Kalau gitu nanti malam
aku k-kirim pesan lagi ya!"
Sambil tertawa malu-malu Saegusa-san menjawab
seperti itu, namun obrolan kami harus terhenti karena teman sekelas lainnya
mulai berdatangan memasuki kelas.—Tapi, jujur saja aku tertolong.
Daya serang dari senyuman malu-malu Saegusa-san
tadi sangat luar biasa, dan kurasa aku tidak akan sanggup bertahan lebih lama
lagi jika harus terus mengobrol berdua saja dengannya—
***
Waktu istirahat siang.
Hari ini pun aku memakan bento bersama
Takayuki yang duduk di depanku.
Sementara itu, Saegusa-san di kursi sebelah
tampak sedang menikmati bentonya seorang diri sambil tersenyum kecil.
Entah kenapa, melihat Saegusa-san makan dengan
ekspresi sebahagia itu saja sudah bisa membuat orang lain yang melihatnya ikut
merasa tenang dan bahagia.
Sepertinya anak-anak sekelas merasakan hal
yang sama, terbukti dari banyaknya tatapan lembut yang diam-diam diarahkan ke
arah Saegusa-san dari berbagai sudut kelas.
Memang pantas disebut Saegusa-san, hanya
dengan memakan bentonya saja dia memiliki daya tarik tersendiri untuk
mencairkan suasana ruangan.
"Oh iya Takuya, hari ini klubku libur,
jadi temani aku sebentar ya sepulang sekolah nanti."
"Hm? Ah, jadwalku juga lagi nggak ada
kerja paruh waktu kok, boleh."
"Makasih! Ada toko di depan stasiun yang
pengen kudatangi."
"Toko yang mau didatangi?"
"Yoi, kafe pelayan (maid café) akhirnya
buka juga di depan stasiun kota kita! Bukannya menarik tuh?"
"Hmm, kafe pelayan ya... —kalau gitu kita
harus datang sih!"
Brak!
Begitu aku menjawab dengan penuh semangat atas
usulan menarik dari Takayuki, suara benda terjatuh terdengar dari kursi
sebelah.
Aku dan Takayuki yang interupsinya
terpotong langsung menoleh ke samping karena terkejut.
Suara tadi rupanya berasal dari sumpit
milik Saegusa-san yang terjatuh dari tangannya.
Saegusa-san dengan panik buru-buru
memungut sumpitnya yang jatuh.
"K-kamu nggak apa-apa?"
"Ah, iya, aku kan sudah selesai makan
juga, jadi nggak apa-apa."
Saat aku menegurnya dengan rasa khawatir, Saegusa-san
menjawab sambil memperlihatkan rona malu di wajahnya.
Kalau sudah selesai makan, berarti aman ya.
"I-Ichijo-kun, itu... suka sama kafe
pelayan ya?"
Lalu, di saat aku sedang lengah, sebuah
pertanyaan tak terduga meluncur dari mulut Saegusa-san.—Kamu mendengarkannya
ya, Saegusa-san.
Ditanya oleh seorang gadis apakah aku menyukai
kafe pelayan rasanya cukup memalukan.
Terlebih lagi lawan bicaraku adalah Saegusa-san,
membuatku ingin segera lari dari tempat ini...
"Yah, m-kalau dibilang tertarik sih...
mungkin iya..."
"O-begitu ya. Suka sama pelayannya
ya?"
"Yah, bisa dibilang... lebih ke arah...itu
sih..”
"Percakapan macam apa ini, memalukan
banget! Cepat akhiri siksaan ini!!
Sambil memanjatkan doa dalam hati agar
pembicaraan ini cepat selesai, Saegusa-san hanya bergumam "Begitu
ya," dan mengakhiri topik tersebut.
Namun, meskipun Saegusa-san tersenyum manis,
aku merasa seolah ada emosi yang berapi-api tengah membara di dalam hatinya,
berbanding terbalik dengan ekspresi wajahnya yang tenang.
"Y-yah, pokoknya nanti sepulang sekolah
temani aku ya."
"O-oke deh, paham."
Meskipun merasa sedikit ngeri melihat Saegusa-san
yang bertingkah aneh, aku dan Takayuki tetap berjanji untuk pergi ke kafe
pelayan sepulang sekolah nanti.
***
Sepulang sekolah.
Sesuai janji, aku dan Takayuki tiba di depan
kafe pelayan yang menjadi tujuan kami.
Tempat itu terletak di lantai lima sebuah
gedung komersial di depan stasiun, dengan papan nama berwarna merah muda
mencolok yang terpampang besar dan bisa dilihat dengan jelas dari luar.
"M-mari kita masuk!"
"O-oke!"
Setelah membulatkan tekad, kami membuka pintu
kafe dengan perasaan tegang.
"Selamat datang kembali, Tuan
Muda!!"
Begitu melangkah masuk, kami disambut oleh
gadis-gadis yang mengenakan kostum pelayan yang sangat imut.
Terlebih lagi, bisa mendengar langsung
ucapan "Selamat datang kembali, Tuan Muda!!" yang sering muncul di TV
atau manga secara langsung membuat kami merasa sedikit tersentuh.
Sambil berpikir, ternyata beneran
diucapkan ya, kami diantar oleh sang pelayan ke meja duduk.
Meskipun kafenya kelihatannya baru saja
buka, saat kami melihat sekeliling, bagian dalam ruangan sudah dipenuhi oleh
banyak pelanggan.
Setelah itu, kami memesan nasi omelus dan
meminta mereka menuliskan sesuatu dengan saus tomat, lalu berfoto bersama
pelayan mumpung ada kesempatan, menikmati pengalaman di kafe pelayan secara
menyeluruh sebelum akhirnya meninggalkan tempat tersebut.
"Yah, begini rasanya ya."
"Bener juga."
Selama berada di dalam memang terasa seru,
tapi begitu melangkah keluar, akal sehat kami langsung pulih seketika,
meninggalkan perasaan hampa saat kami berjalan pulang ke rumah masing-masing.
Yah, anggap saja ini sebagai pengalaman
sosial, pikir kami, merasa bahwa diri kami telah tumbuh menjadi orang dewasa
satu tingkat lebih matang.
***
Waktu menunjukkan sedikit lewat pukul sepuluh
malam.
Sambil berbaring sendirian di tempat tidur
kamar kos dan memainkan ponsel, sebuah pesan Line baru masuk dengan bunyi ping.
Pengirimnya adalah Saegusa-san, gadis yang
baru bertukar kontak dengannya kemarin.
Sambil teringat bahwa dia sempat bilang
akan mengirim pesan Line lagi hari ini, aku membuka pesan yang dikirimkan
olehnya.
‘Kafe pelayannya gimana tadi?’
Sebentar? Saegusa-san?Kenapa dibahas juga
lewat Line? Sambil merasa panik, aku bingung harus membalas apa, lalu
memutuskan untuk mengetik jawaban sekenanya, ‘Lumayan seru kok’.
‘Begitu ya, berarti kamu suka pelayannya ya’
Balasan yang agak ketus langsung dikirimkan
tak lama setelah pesanku terkirim.Bukannya aku suka pelayannya juga sih, eh,
maksudnya apa ini?Rasanya kok jadi mirip seperti pacar yang sedang
menginterogasi pacarnya ya? Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisku.
Karena tidak tahu jawaban apa yang paling
benar untuk dikirimkan ke pesan tersebut, aku memutuskan untuk meletakkan
ponselku sejenak demi menenangkan diri.
Ya, mari tarik napas dalam-dalam dulu.
Tarik... hembuskan.—Ping.
Bahkan sebelum aku sempat membalas pesannya, Saegusa-san
mengirimkan pesan baru lagi.
"Eh? Gambar?"
Bukan berupa teks, kali ini yang dikirimkan
adalah sebuah berkas gambar.
Meskipun itu adalah berkas gambar misterius
yang dikirim secara tiba-tiba, aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja, jadi
dengan perasaan was-was aku membuka gambar tersebut.
Lalu, melihat gambar yang tertera di
layar, aku langsung terdiam seribu bahasa—
"Lagi ngapain sih, Saegusa-san..."
Di layar ponsel yang tergenggam di
tanganku, tertera sebuah swafoto Saegusa-san yang mengenakan cosplay kostum
pelayan (maid).
Jika diperhatikan baik-baik, kostum
pelayan yang dikenakan Saegusa-san adalah kostum yang sama persis dengan yang
dipakai dalam video musik singel ketiga Angel Girls, ‘Your Only Servant’.
Rok mini berenda dengan desain yang sangat
mirip seperti kostum di kafe pelayan yang kulihat tadi siang itu terlihat
sangat cocok melekat di tubuh Saegusa-san.
Tentu saja swafoto dari Shiorin sang idol
super yang diambil dengan ekspresi wajah sedikit memerah karena malu itu sudah
pasti terlihat sangat imut.
—Bahkan kata "imut" saja rasanya
tidak cukup untuk mendeskripsikannya.
—Ping.
Sambil terpesona menatap wujud Saegusa-san
berbalut pakaian pelayan itu, pesan baru kembali masuk dari Saegusa-san.‘Aku
juga coba pakai loh, gimana menurutmu?’
Gimana menurutku... ya jelas
banget...‘Keren banget. Bakal kusimpan buat jadi pusaka keluarga.’
Setelah mengirimkan balasan itu, aku langsung
menyimpan gambar yang dikirimkan tadi sebanyak tiga kali di ponselku.


Post a Comment