Chapter 4
Dengan
latar jajaran pegunungan yang megah, beberapa gedung penginapan berdiri
berjejer.
Di area
dapur luar, para murid mulai sibuk membuat kare untuk makan malam.
«Satu,
dua!» Seiring dengan seruan semangat, kapak diayunkan ke bawah, lalu dengan
suara tebasan yang merdu, kayu bakar terbelah dua dengan sempurna.
«Ah-ha-ha,
ini seru banget ya!»
Sambil
mengusap keringat di dahi dengan punggung tangannya, Yotsuba tertawa ceria. Di
sampingnya, tumpukan kayu bakar sudah menggunung hampir setinggi tubuhnya…….
«Sudah,
tidak usah membelah kayu bakar lagi!» para murid laki-laki dengan panik
menghentikan Yotsuba.
***
"Benda ini,
sudah dipakai belum? Kurapikan ya.”
Ichika yang
bertugas mengurus bahan makanan mengambil gelas ukur di meja kerja sambil
tersenyum manis.
”I-Iya!”
Punggung Ichika
yang berjalan pergi membuat dua orang teman sekelas laki-laki terpana
terpesona.
Sudah cantik,
bentuk tubuhnya sangat bagus, ramah dan perhatian pula—benar-benar bagaikan
bunga di puncak gunung yang teramat indah.
”Aku juga ingin
kamarku dirapikan olehnya nih…….”
Padahal yang
butuh dirapikan adalah kamar Ichika sendiri, tapi mereka berdua sama sekali
tidak mengetahuinya.
***
Di sisi lain, di
area memasak──.
"Seharusnya
sudah mulai matang meresap, kan ya?"
Anak-anak
perempuan kelas 1 yang bertugas mengurus kare sedang menjaga panci besar yang
mendidih bergumpal-gumpal.
"Tinggal
tiga detik lagi genap lima belas menit."
Sambil
menatap tajam ke ponsel yang disetel timernya, Itsuki mengucapkannya dengan
raut wajah yang sangat serius.
"Bukannya
itu terlalu detail……?"
Itsuki
memang sangat serius. Dia mematuhi durasi merebus yang tertera pada kotak bumbu
kare secara ketat.
***
Di dekat
situ, kare dari kelompok Miku sudah hampir selesai.
"Kamu mau
memasukkan apa itu?"
Teman perempuan
sekelasnya menghentikan pandangannya pada sendok sayur yang dipegang Miku.
"Miso……
bahan rahasia."
Tapi kalau untuk
bahan rahasia, bukankah unjuk rasanya terlalu kuat? Tidak sulit membayangkan
perang sengit antara Jepang dan India akan berkecamuk di dalam panci tersebut.
"Masukkan ke
porsimu sendiri saja!"
***
Bahkan di
kelompok Nino yang pintar memasak pun terjadi masalah.
"Karena
belum pernah melakukannya, siapa pun juga akan jadi begini, tahu!"
Di saat murid
perempuan dan murid laki-laki dari kelompok yang sama sedang bertengkar, Nino
datang menghampiri.
"Kalau
begitu kami berdua saja yang mengerjakannya, jadi tolong awasi karenya
ya?"
Para murid
laki-laki gemetaran ketakutan melihat senyuman Nino yang penuh amarah, tetapi
di dalam kare sempurna buatan Nino, mana mungkin ada nasi yang gosong.
***
Fuutarou sedang
duduk di depan tungku, memasak nasi menggunakan hangou (panci camping).
"Hei kamu.
Jangan pura-pura tidak sadar dong. Jangan bilang kamu sudah lupa padaku,
ya."
Maeda, yang
bertugas memasak nasi di kelas Ichika, datang mengganggunya dari sebelah.
"Mana
mungkin begitu. Namamu pun aku ingat kok."
Sambil berkata
begitu, Fuutarou memberikan senyuman kaku seperti boneka manekin. Siapa ya
nama anak ini?
"Maeda,
Maeda tahu! Hubunganmu dengan Nakano-san lancar-lancar saja kan?"
"A-Ah,
iya……."
Tak lama kemudian
dari celah tutup hangou yang mendidih, busa-busa mulai meluap keluar.
"Enak
banget ya kamu, punya pasangan buat folk dance. Kalau aku jangankan pasangan, orangnya saja belum
ketemu…… Terus ya. Soal bagaimana caranya supaya bisa dapat pacar nih……
Hei, kamu dengar tidak!?"
Semoga nasinya cepat matang ya…… pikir Fuutarou
sambil menyedot ingusnya.
Ini bukan waktunya untuk mendengarkan masalah tidak berguna
orang lain. Bagaimanapun juga, dia
harus mengurus acara uji nyali malam ini sendirian──.
Pada saat itu,
Yotsuba yang membawa barang-barang memanggilnya.
"Uesugi-san,
barang-barang uji nyali ini kubawakan ya."
"Yotsuba.
Bukannya kamu itu panitia api unggun ya?"
"Iya! Tapi
aku berpikir Uesugi-san pasti akan kerepotan kalau sendirian. Uesugi-san si
'Manusia Belajar' kan sudah susah-susah datang ke kegiatan alam. Aku juga akan
mendukungmu sekuat tenaga!"
Sepertinya
Yotsuba salah paham mengira Fuutarou adalah makhluk berintelijen tinggi dari
galaksi lain, tetapi perhatian Yotsuba membuatnya merasa senang secara jujur.
"……Baiklah,
Maeda. Tolong awasi juga nasi kelompokku ya."
Fuutarou
meninggalkan tungku, lalu mengambil separuh barang dari tangan Yotsuba.
"Ah? Jangan
seenaknya memberi perintah dong! Lagipula kelanjutan ceritaku tadi……."
"Uji nyali
ini sifatnya bebas. Coba saja ajak murid perempuan dari kelasmu. Tapi."
Fuutarou menoleh
ke Maeda, lalu mengulas senyuman mengerikan yang licik.
"Karena
pihak sebelah sini juga akan maju secara serius, jangan sampai kamu ketakutan,
ya."
***
Mengikuti saran
Fuutarou, Maeda mengajak murid perempuan sekelasnya ikut uji nyali, lalu
berjalan menelusuri jalanan malam di dalam hutan yang rimbun.
"Apa-apaan,
sama sekali tidak ada hantunya tuh. Panitianya lagi ngapain sih."
Satu-satunya
murid perempuan yang bisa diajak bicara secara santai oleh Maeda adalah
Matsui-san yang nomor absennya tepat di belakangnya.
(……Sialan……!
Padahal aku mengharapkan efek jembatan gantung (bridge effect), tapi kalau
begini dia sama sekali tidak akan merasa takut, kan. Si brengsek itu~~~!)
Maeda mengerutkan
dahinya, memasang raut wajah yang mengerikan. Ngomong-ngomong, efek jembatan
gantung adalah efek psikologis yang sering diandalkan oleh cowok tidak populer,
di mana seseorang akan menaruh rasa suka kepada pasangan yang bersamanya dalam
situasi tegang atau menakutkan.
(Entah
kenapa wajahnya kelihatan seram banget…… Duh, jantungku jadi berdebar-debar nih…….)
Seiring
dengan meningkatnya detak jantung, wajah Matsui-san menjadi memerah. Efek
jembatan gantung buatan sendiri.
"Ugaaaaaaaaa~~~!"
Dari
balik kegelapan pepohonan yang rimbun, tiba-tiba muncul badut berambut pirang
yang grotesque dan mengerikan.
"Uwooooooooo~~~!"
Menyusul
kemudian mumi wanita yang seluruh tubuhnya dililit perban!
"Waaaaa!"
"Kyaaaaa~!" Teriakan mereka berdua bergema di dalam pegunungan.
Jembatan
gantung runtuh. Maeda melarikan diri sambil melindungi Matsui-san.
***
"Performa
yang sangat luar biasa ya!"
Mumi
Yotsuba mengucapkannya sambil menyerahkan mantel panjang kepada Badut Fuutarou.
"Aku
senang deh. Aku bisa merasakan dorongan kehidupan di mata Uesugi-san yang
biasanya kelihatan seperti mata mati."
"Begitu
ya, syukurlah kalau aku bisa bangkit kembali…… Fuhahahahaha."
Jiwa dan
raga Fuutarou berubah sepenuhnya menjadi badut lalu memakai mantelnya. Bagus
sih sudah bangkit kembali, tapi hidungnya sepertinya agak kena flu sedikit.
Sambil
berjongkok di balik semak-semak menunggu mangsa berikutnya, Yotsuba mulai
menggariskan huruf "no" di atas tanah menggunakan jarinya.
"……Soalnya…
aku sempat berpikir kalau kamu tidak akan datang……." Ucapnya dengan suara
yang nyaris menghilang, "Mari kita jadikan kegiatan alam ini tanpa
penyesalan, ya!"
Shishi-shi,
dia kembali ke gayanya yang biasa dan tertawa ceria.
Fuutarou
kehabisan kata-kata. Dia tidak menyangka Yotsuba memikirkannya sampai sejauh
itu secara serius…….
"Ah, orang
berikutnya sudah datang tuh!"
Saat Fuutarou
tersentak dan mengalihkan pandangannya, di dalam kegelapan sebuah cahaya kecil
terlihat mendekat ke arah mereka. Padahal baru saja sempat merasa tersentuh,
tapi dia harus menjatuhkan mereka ke dasar ketakutan sekuat tenaga.
"Akan
kuhadapi kalian~~~!"
"Akan
kumakan kalian~~~!"
Fuutarou dan
Yotsuba melompat keluar dari semak-semak secara bersamaan.
"……Fuutarou."
Pantas saja
reaksinya terasa sangat dingin, ternyata Miku.
"Ternyata
ada Yotsuba juga toh." Ichika menerangi mereka berdua dengan lampu
ponselnya.
"Ternyata
kalian yang sudah tahu rahasianya toh. Rugi saja menakut-nakuti kalian."
"Wah,
kagetnya~!"
Melihat Ichika
yang pura-pura terkejut secara berlebihan, Fuutarou menjadi ilfeel,
"Bohong banget."
"Beneran
kok~. Ah, rambut pirang itu kenapa? Kamu cat ya?"
Entah kenapa,
dengan wajah yang kelihatan gembira, Ichika mendekati Fuutarou.
"Ini wig
tahu. Daripada itu di depan sana ada tebing berbahaya, jadi jalanlah sesuai
papan petunjuk……."
Melihat Ichika
dan Fuutarou yang mengobrol dengan akrab, pandangan mata Miku berpaling dan
berayun bingung. Kenapa dadaku terasa sangat panas dan sesak begini ya…….
"Miku, kamu
dengar tidak?"
"Eh……
Apa?"
"Makanya, di
depan sana ada tebing dan berbahaya. Jalanlah sesuai petunjuk di papan."
Di persimpangan
jalan depan sana ada papan petunjuk berdiri, menunjukkan rute dengan tanda
panah.
"……Aku
paham. Ichika, ayo jalan."
"Eh? Ah,
iya."
Miku yang
mendadak berjalan pergi dikejar oleh Ichika dengan terburu-buru.
"Ada
apa dengannya? Ketus banget ya."
Fuutarou
memiringkan kepalanya bingung, tetapi bagi Yotsuba yang tidak menyadari
perubahan halus pada Miku, Miku kelihatan seperti biasanya.
"Masa sih~?
Daripada itu Uesugi-san, cara menakut-nakutimu masih ada keraguan. Kamu harus
muncul dengan cara yang lebih niat lagi!"
***
Seharusnya aku
tidak usah ikut saja…… Itsuki merasa sangat menyesal.
"Teman
sekelas pernah bilang, katanya di hutan ini sering muncul hantu……."
Sambil memegangi
Nino yang menerangi jalan dengan lampu ponselnya, Itsuki berjalan di jalanan
malam dengan ketakutan.
"Itu pasti
cuma rumor fiksi, kan. Sama seperti legenda api unggun juga, tingkat
kepercayaannya terlalu rendah, tahu."
Melihat lentera
berbentuk hantu yang tergantung di pohon, Itsuki menjerit "Uwaaa!".
"Siapa juga
yang akan kaget sama mainan murah begini." Nino menghela napas heran.
"Haah……
padahal kupikir kegiatan alam itu akan lebih seru. Sejak hari pertama saja
sudah disuruh menginap di kamar yang sama dengan anak itu. Yah, untung saja
tidak terjadi apa-apa sih……."
Kejadian di
penginapan tadi pagi mendadak melintas di dalam kepala Itsuki.
Bayangan salah
satu dari si kembar lima yang mendekatkan wajahnya ke arah Fuutarou yang sedang
tertidur──.
"Kalau
begitu, artinya itu bukan Nino, kan?"
"Eh?
Apanya?"
Pada saat itu,
suara dahan pohon berderit terdengar, Giii~. Tepat di depan mata mereka berdua
yang menengadah ke atas, daun-daun berjatuhan berantakan, dan sosok badut
terbalik yang mengerikan tergantung berayun-ayun……!
"Belajar
sanaaaa~~~."
"Waaaa, aku
tidak mau lagi~~~!"
Itsuki
yang panik langsung berlari tanpa arah sambil menangis dan berteriak.
"Hei Itsuki,
tunggu dulu!" Nino bergegas mengejarnya.
Si Itsuki itu,
apa dia benar-benar sangat penakut ya…… Fuutarou yang kakinya terikat di dahan pohon melihat keberangkatan
mereka berdua sambil berayun-ayun.
"Aduh-duh……
sepertinya kita agak berlebihan ya." Yotsuba memunculkan kepalanya dari
balik pohon.
"Lho……?"
Fuutarou melepas
topeng badutnya, lalu menatap lekat-lekat tanda panah di papan petunjuk
persimpangan jalan.
"Anak-anak itu…… pergi ke arah mana?"
Miku terus
bungkam, berjalan dengan langkah cepat menelusuri jalanan gunung yang gelap.
Demi Miku yang
berjalan di depan, Ichika menerangi jalan dengan lampu ponselnya sambil
berkata:
”Padahal sudah
susah-susah bertemu Fuutarou-kun, harusnya kita di sana sedikit lebih lama lagi
ya.”
Ichika sama
sekali tidak menyangka kalau Miku sedang cemburu padanya.
Seketika itu
juga, Miku mendadak menghentikan langkahnya.
”……Aku…… mungkin
aneh ya……. Padahal Fuutarou itu guru privat untuk kita semua…….”
Sambil menatap ke
depan, dia bergumam pelan, lalu menoleh ke arah Ichika.
”Ichika sendiri
soal Fuutarou…… bagaimana pendapatmu?”
Dengan memasang
senyuman samar, Miku bertanya.
***
"Itsuki~!
Kamu pergi ke mana sih~."
Mengejar Itsuki
sih boleh saja, tapi lampu ponsel punya keterbatasan untuk menerangi sekitar.
Bulan tersembunyi di balik awan, dan kegelapan menjadi semakin pekat.
"Apakah
jalanku ini sudah benar ya……."
Tepat saat Nino
berpikir untuk balik arah saja, lampu ponselnya mulai berkedip-kedip.
"Eh……
t-tidak mungkin!?"
Futt, cahayanya padam. Kalau dipikir-pikir,
kemarin dia sepertinya lupa mengisi daya ponsel…….
"Ada apa sih
ini…… padahal sudah susah-susah ikut kegiatan alam, kenapa harus sendirian di
tempat seperti ini……."
Mencoba
menyemangati dirinya sendiri, dia berjalan dengan gigih sambil bergumam.
Tiba-tiba,
angin berembus. Pepohonan di sekitar bergoyang-goyang seperti makhluk hidup.
Nino
berdiri terpaku. Di dalam hutan yang gelap gulita, dia sendirian──.
"……Tidak
mau!"
Tepat
saat dia berlari karena didorong rasa takut, kakinya tersandung akar pohon.
"Saaakiit~!
Duh…… sial banget."
Itsuki
tidak ada, daya baterai ponsel habis, kaki pun terasa sakit. Kenapa harus
mengalami nasib seperti ini…… sambil terduduk, dia hampir menangis.
"Kamu
tidak apa-apa?" Bersamaan dengan suara itu, awan terkuak dan bulan
memunculkan dirinya.
Di balik
semak-semak, seorang anak laki-laki berbadan tinggi yang mengenakan mantel
panjang sedang berdiri.
"Ketemu
juga, Nino."
Disinari
cahaya bulan, rambut pirang yang berkilauan itu──.
"Bohong……
Kamu……." Wajah Nino seketika memerah padam.
"Foto……
Wajah yang ada di foto itu."
"Bicara apa
sih? Ayo, pokoknya ikut aku ke sini."
Sama sekali tidak
menyangka kalau dirinya sedang disalahpahami, Fuutarou menggenggam lengan Nino.
"Eh? Jangan
memaksa begitu dong……."
Saat ditarik
berdiri, rok Nino yang tersangkut di dahan pohon mendadak robek, memperlihatkan
paha mulusnya.
"Ah!!"
"Eh!?
M-Maaf!"
Fuutarou, takut akan
dimarahi, tetapi Nino justru menundukkan wajahnya dan gemetaran karena malu.
"Aku
benar-benar minta maaf……."
──Ada
apa ini? Hari ini dia
kok penurut banget ya.
"Hei……
beritahu aku namamu dong!"
"Eh?"
"Ah,
maaf ya. Dulu aku pernah melihat fotomu, dan berpikir kalau kamu itu keren
banget."
"Foto?"
"Aku
tahu kalau murid sekolah lain juga datang ke sini, tapi tidak menyangka akan
bertemu dengan kerabatnya anak itu."
Akhirnya
Fuutarou menyadarinya.
(G-Gawat…… gawat, wig ini!)
Dengan
kata lain, Nino mengira Fuutarou yang ada di depannya saat ini adalah orang
yang ada di foto (yang sebenarnya adalah Fuutarou sendiri) yang dikatakan
Fuutarou sebagai kerabatnya. Duh, rumit banget!
(Gawat…… Haruskah aku membongkar identitasku…… Bahwa foto itu sebenarnya adalah
aku.)
Tapi rasanya seperti
memegang kelemahanku, kalau bisa aku ingin menghindarinya…… Pilihan terbaik di sini adalah
mundur sebelum kebohonganku terbongkar.
"Ah, kalau
jalan lurus lewat sini nanti akan tembus ke jalan besar kok. Kalau begitu, dah!"
Saat dia
hendak bergegas pergi, "Tunggu!" Nino memanggilnya untuk berhenti.
"Aku
terpisah dari saudariku. Bisakah kamu membantuku mencarinya
bersama-sama……."
Dimintai tolong
dengan sikap penurut seperti itu lagi, Fuutarou jadi tidak bisa menolaknya.
***
Di bawah cahaya
bulan, keduanya berjalan berdampingan.
"Jadi namamu
Kintarou-kun ya."
"Yah,
ahahaha……."
Fuutarou tertawa
menutupi kebohongannya. Fuutarou yang berambut pirang jadi Kintarou. Dia
mencoba menirukan gaya Yotsuba menyingkat nama, tapi bukankah ini terlalu
sederhana?
(Cepatlah
muncul Itsuki……
Kalau tidak……)
Saat melirik ke
samping, Nino, yang menyadari pandangan Fuutarou, merona di pipinya lalu
memalingkan mata.
──Ada
apa dengan atmosfer merah jambu yang membuat gelisah ini?
Kalau
dipikir-pikir, Nino yang melihat foto masa-masa nakal Fuutarou dulu sempat
heboh bilang, "Tipeku banget nih!"……
"A-Aah! Aku
ingin minum minuman keras nih."
"Eh?"
"Masih di
bawah umur sih, tapi ingin minum alkohol~ melanggar hukum~."
Mencoba
bersikap nakal, tapi terkesan dibuat-buat dan terlalu menjelaskan.
(Bagaimana, kamu sudah ilfiil-kan?)
Akan merepotkan
kalau sampai disukai secara aneh…… Fuutarou melirik ke arah Nino.
"……Sangat
liar dan memesona."
Nino malah
menangkup kedua pipinya dengan tangan dan kelihatan terbuai!
(Eeh~!
Malah berefek sebaliknya!!)
Bahaya nih, harus
cepat-cepat menemukan Itsuki.
"Bisa jadi……
saudarimu itu sudah menuju ke penginapan lho."
Fuutarou
membentuk huruf L dengan jari telunjuk dan ibu jarinya di kedua tangan,
menyatukannya menjadi persegi panjang lalu mengarahkannya ke langit malam.
Bintang-bintang yang berjejer membentuk gayung dikurung di dalamnya.
"Dua bintang
di bagian gayung Bintang Biduk (Ursa Major) itu kalau ditarik garis lima kali
lipat ke depannya adalah Bintang Utara (Polaris). Artinya itu arah utara.
Dengan begini kita bisa menentukan arah."
"Hee,
berpengetahuan luas ya. Aku kagum sama orang yang pintar tahu."
Bohong banget!
Aku kan tidak pernah mendapat apa-apa selain penghinaan darimu!
"Itu juga
beda banget sama orang yang pamer nilai akademisnya seolah memamerkannya
tahu."
"S-Ada ya orang sejahat itu."
"Kamu tahu
kan? Kerabatmu yang satu itu…… lho?"
Nino yang
menengadah menatap wajah Fuutarou mendadak menyadari sesuatu.
"Kamu…… coba
perlihatkan wajahmu."
Mendekat padanya,
dia berjinjit mencoba melihat wajah Fuutarou dengan jelas.
"A……
m-tidak mungkin……."
"Tuh
kan! Dahi kamu luka
tuh!"
"Eh…… a-aah.
Cuma luka gores kok, biarkan saja……."
"Mana boleh
begitu."
Nino merogoh saku
roknya, lalu mengeluarkan plester luka berbingkai gambar hati.
"Di rumahku
juga ada anak yang suka langsung pulang dengan luka-luka."
Sambil berjinjit,
dia menempelkan plester luka itu ke dahi Fuutarou.
"……Sip. Nah
begini baru pas."
Nino
mengucapkannya dengan puas, memamerkan senyuman manis yang tidak pernah
diperlihatkannya sekalipun kepada Fuutarou yang asli.
Benar-benar bikin
serba salah. Bahasa pedasnya yaaa bagaikan iblis itu bahkan terasa merindukan.
Pada saat itu,
Nino menoleh seolah kaget.
"Hei,
bukannya seperti ada suara sesuatu ya?"
Pepohonan
yang hitam pekat bergoyang ditiup angin, terasa agak mengerikan.
"……Kalau
dipikir-pikir, adikku bilang kalau di hutan ini suka muncul hantu……."
"Jangan
bicara seperti itu dong…… I-Iya benar! Aku punya jimat ini! Jimat yang bisa
mengusir roh jahat apa pun!"
Tepat saat
Fuutarou memperlihatkan jimat gelang benang dari Raiha yang terpasang di
pergelangan tangannya,
"Aaaah……
Aaaah……."
Terbawa angin,
suara mengerikan seolah datang dari dasar neraka terdengar──.
Fuutarou
langsung berlari kencang secara sprint. Sama sekali tidak terlihat punya keberanian untuk melanggar hukum.
"Eeeeeh~!
T-Tunggu, jangan tinggalkan aku dong! Sendirian itu menakutkan tahu!”
Nino bergegas
mengejarnya dari belakang.
”Hahahaha, aku
sama sekali tidak takut kok?”
Meskipun sempat
gengsi, begitu jalanannya buntu, dia langsung gelisah ditiup angin ketakutan.
(Apa-apaan…… tidak gentleman banget sih…… agak ilfiel deh.)
Nino merasa kecewa. Saat melirik ke samping, ternyata ada jalan lain.
”Di sini juga ada
jalan…”
Saat mencoba
berpindah ke sana, ujung jalan itu terbuka lebar, memperlihatkan langit malam
dan pegunungan di kejauhan. Merasa lega, Nino spontan berlari.
”Tuh kan,
hutannya juga akan segera keluar…….”
”Hei, bodoh, di
sebelah sana kan bukannya!!”
”Eh, apa?”
Saat dia
menyadarinya, Nino sudah berdiri di tepi tebing yang curam. Karena terkejut dan
menghentikan langkah, keseimbangannya goyah, dan tubuhnya seolah hendak
tersedot ke dasar jurang yang tidak kelihatan dasarnya.
Tepat pada saat
yang sangat kritis, Fuutarou yang mengejarnya menggenggam lengan Nino lalu
menariknya kembali. Namun, akibat dorongan itu, kali ini Fuutarou yang jatuh
telentang ke belakang.
”Gawat…….”
”Tangannya!”
Nino spontan
mengulurkan tangannya. Fuutarou juga mengulurkan tangannya. Jimat gelang benang
yang terpasang di pergelangan tangan Fuutarou berhasil ditangkap oleh Nino
dengan susah payah, lalu Nino menarik Fuutarou dengan seluruh kekuatannya.
Dengan dorongan
itu, keduanya jatuh bertindihan di atas padang rumput.
Tepat di depan mata Nino, ada wajah Kintarou yang
terengah-engah. Ditambah lagi, entah kenapa, posisi tubuh ini agak, gimana ya,
sedikit tidak sopan/agak erotis……
Dibandingkan saat nyawanya terancam di tepi tebing tadi,
dada Nino berdebar jauh lebih kencang saat ini.
***
"……Selamat
juga."
Masih dalam
posisi menindih Nino, Fuutarou mengulas senyuman.
"Aku juga……
terima kasih ya……."
Keringat yang
menetes di dahinya pun menyilaukan, membuat dada Nino berdebar halus. Tokun…….
Menyelamatkan nyawaku dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri, ternyata dia
benar-benar cowok yang luar biasa.
Fuutarou
menegakkan tubuhnya, lalu melilitkan kembali jimat gelang benang yang hampir
terlepas ke tangannya.
Seperti yang
tertulis di surat, perasaan Raiha yang mengharapkan keselamatan Fuutarou
mungkin telah menyelamatkan nyawanya. Dia harus memberikan oleh-oleh balasan
yang cukup mewah nanti……
"Tapi tetap
tidak ketemu ya. Jangan-jangan dia memang sudah pulang?"
Nino juga
menegakkan tubuh bagian atasnya, tetapi tetap duduk dan tidak mencoba untuk
berdiri.
"Kenapa?"
"……Maaf. Aku
sepertinya belum bisa bergerak. Karena takut…… tolong pegang tanganku……."
Wajahnya memerah
padam. Dia menyodorkan tangannya dengan malu-malu.
"Hah?"
"K-Kan kalau
di tempat seperti ini bisa saja ketemu hal menakutkan lagi!"
"……Haah."
Itu adalah reaksi
dingin yang cukup untuk mematahkan keberanian seorang gadis yang sedang jatuh
cinta.
"Maksudku,
ngomong apa sih aku ke cowok yang baru pertama kali ketemu! Yang tadi diinstal
ulang/dibatalkan ya!"
Namun, Fuutarou
menyadarinya. Tangan Nino yang ditarik kembali dengan panik tadi ternyata
bergetar kecil.
"……Aku mengerti."
Tangan Fuutarou
mendekat, lalu menjatuhkan sesuatu secara perlahan ke telapak tangan Nino.
"Itu adalah
jimat dengan nilai kebaikan tinggi. Cuma memegang ini saja dijamin bisa
mengusir malapetaka! Katanya rumornya bahkan bisa mengabulkan permintaan lho.
Khusus buatmu ya!"
Nino menatap
jimat gelang benang warna biru di tangannya dengan gembira.
"Kintarou-kun.
Apakah kamu besok masih akan ada di sini?"
"Eh?
Ah……."
"Sekolah
kami besok ada api unggun lho. Folk dance yang diadakan saat itu punya legenda,
katanya, pasangan yang bergandengan tangan pada momen puncaknya akan diikat
oleh takdir."
Sambil berkata
begitu, Nino menangkupkan kedua tangannya menjaga jimat itu dengan penuh
kehati-hatian.
"H-Hee."
"Ada juga
cerita kalau cuma bergandengan tangan saja bisa terkabul, jadi para murid yang
malu diperhatikan orang lain biasanya melakukannya diam-diam di
pinggiran."
"Apakah
begitu saja tidak apa-apa……?"
"Sungguh,
berlebihan dan kekanak-kanakan ya."
Di atas tebing,
awan melintas perlahan menutupi bulan yang mengapung.
"Kintarou-kun."
Nino yang berdiri
mengangkat sedikit ujung roknya dengan kedua tangan, lalu membungkuk secara
anggun di bawah cahaya bulan.
"Mau
berdansa denganku tidak? ……Aku tunggu ya."
"……Umm……."
Saat ditatap dengan mata berbinar-binar seperti itu, Fuutarou pun tidak bisa menolaknya secara mentah-mentah.
Pada saat itu, terdengar suara gesekan semak-semak di balik pepohonan. Tepat saat mereka berdua tersentak dan melihat ke arah suara, semak-semak di kegelapan bergerak-gerak, dan sesuatu tampak mendekat.
"Aaaaah…… Aaaaah……."
Bukan raungan binatang, melainkan suara mengerikan ini adalah──.
"Yang tadi……."
"D-Datang tuh……."
Baik Nino maupun Fuutarou tidak bisa bergerak seolah membeku karena ketakutan.
"Aaaaah…… Aaaaah…… Huaaaaaan."
Yang mendadak muncul dari sela-sela pohon adalah Itsuki yang sedang terisak-isak seperti anak kecil.
"I…… Itsuki!"
"Fueeee~~~~……."
"Hei Itsuki!"
Saat dipanggil agak keras, Itsuki akhirnya menyadari keberadaan Nino.
"Ah Ninoooo~! Aku merasa sangat kesepian~~~!"
Sambil menangis sesenggukan, dia memeluk Nino.
"Kamu ini bikin bingung saja, tahu! Nah, ayo kita pulang."
"I-Iya…… Tapi Nino…… hebat ya bisa santai-santai saja sendirian."
"Bukan begitu. Aku itu…… eh?"
Saat Nino menoleh, Kintarou sudah tidak ada di sana.
"Ada apa?"
Tanpa menjawab Itsuki, Nino menggenggam erat jimat di tangannya.
(Aku akan menunggumu…….)
Dadanya mengembang gembira penuh harapan sambil tersenyum. Dia pasti akan datang──.
***
Fuutarou, yang menjadi pelakunya, bersembunyi di balik pohon dekat situ, bercucuran keringat deras dengan raut wajah kaku.
***
Pada saat yang sama, Ichika dan Miku adalah──.
"Soal bagaimana pendapatku tentang Fuutarou-kun ya……."
Ichika berpura-pura berpikir sejenak, lalu matanya berbinar tajam.
"Mungkin itu salah satu fase pubertas ya. Soalnya kalau jujur saja, dia kan agak menyimpang/ekstrem banget kan. Bayangkan kalau dia tumbuh jadi orang dewasa seperti itu."
"Bukan itu maksudku, Ichika sendiri soal Fuutarou……."
"Miku…… Bagaimana kalau dansa di hari terakhir kita tukarkan saja? Kamu khawatir, kan?"
Seperti yang dikatakan Ichika, sebenarnya Miku sangat, sangat khawatir sampai tidak tahan lagi──meski begitu, Miku tidak bisa memonopoli Fuutarou sendirian.
"……Sama rata…… Ichika saja yang jadi pasangannya……."
"Jangan sampai menyesal lho…… Karena masa-masa seperti sekarang ini tidak akan berlangsung selamanya."
Bukan sekadar basa-basi di permukaan, Ichika mengucapkannya secara tulus dari dalam hati.
Pohon besar yang bercabang lima berdiri menjulang seolah menatap mereka berdua dari atas.
***
"Aaaah~~ Andai saja kegiatan alam ini berlangsung selamanya~~."
Nino yang kembali ke gedung penginapan memamerkan senyuman lebar di seluruh wajahnya.
"Suasanamu lagi bagus banget ya…… Apakah ada hal menyenangkan yang terjadi?"
Saking cemasnya, Fuutarou mengekor di belakang Nino seperti menempel padanya.
"Rahasia dong."
Tanpa memberi kesempatan sedikit pun, Nino masuk ke dalam ruang rapat.
(……Ini jadi semakin merepotkan.)
Kalau Fuutarou yang menyamar sebagai Kintarou cuma berdansa dengan Nino sih tidak masalah, tapi dia sudah punya janji dengan Ichika. Melakukan keduanya itu tidak mungkin. Bagaimanapun juga, dia harus memberitahu Nino hal yang sebenarnya kepadanya……
Fuutarou memantapkan hatinya, lalu masuk ke ruang rapat.
"……Lho, Nino?"
Meja-meja ramai oleh para murid yang menghabiskan waktu senggang, tetapi sosok Nino tidak terlihat di mana pun. Pada saat itu, Ichika dan Miku datang bersamaan.
"Ada apa, Fuutarou-kun?"
"Ichika…… Miku. Pas banget. Ada yang ingin kutanyakan pada kalian."
Padahal ini kesempatan emas, tetapi Miku justru memalingkan pandangannya dari Fuutarou dan menundukkan kepala.
Ichika yang tidak tega melihatnya berseru, "Aah!"
"Aku ada pekerjaan nih. Sisanya silakan menikmati waktu kalian berdua ya~."
Mengucapkan kalimat seperti ibu-ibu mak comblang, Ichika bergegas pergi dari sana.
"Ada apa dengan anak itu…… Yah, untunglah kamu tetap tinggal di sini."
"Eh?"
Miku tersentak kaget lalu mengangkat wajahnya. Apa maksudnya itu……?
"Kamu tahu Nino di mana tidak?"
"……Tidak tahu."
Sambil memonyongkan pipinya dengan Puu~, Miku bersikap ketus lalu pergi meninggalkannya.
"……Eh? Jangan-jangan tingkat kesukaan orang padaku lebih rendah dari yang kubayangkan?"
"Baru sadar sekarang ya?"
Saat menoleh ke arah suara, Itsuki memunculkan separuh wajahnya dari balik pintu, menatap Fuutarou secara lekat-lekat seolah sedang menilai barang.
"Aku beri peringatan ya. Kalau tidak ingin tingkat kesukaannya makin turun dari yang sekarang, jangan melakukan hal-hal mencurigakan lagi.”
”Aku tidak merasa melakukan hal seperti itu sih…….”
Itsuki berpura-pura tidak tahu, lalu melarikan diri secepat angin, Hyun!
(……Ini gawat. Sepertinya harus segera mengambil tindakan.)
***
"Aku sangat terbantu Uesugi-san mau membantu~."
Pertama-tama, ambil langkah aman dulu, membidik Yotsuba.
"Cuma perlu mengangkut benda ini, kan."
Di dalam gudang yang sedikit menanjak di gunung belakang, ada sekitar 20 batang kayu untuk api unggun yang menumpuk.
"Iya. Katanya sengaja disingkirkan sementara dari salju. Demi api unggun besok, seluruh panitia bekerja keras!"
Para murid panitia api unggun membagi tugas mengangkut kayu-kayu tersebut.
Fuutarou berseru, "Bagus!" penuh semangat lalu masuk ke dalam, menggenggam kedua ujung kayu dengan tangannya.
"U…… gu…… mu…… haah."
Dia mencoba mengangkatnya dengan seluruh tenaga yang tersisa, tetapi kayu itu sama sekali tidak bergerak sedikit pun.
Pada akhirnya, dia terpaksa mengangkut kayu itu berdua bersama Yotsuba.
"Uesugi-san, apakah kamu benar-benar seorang laki-laki?"
"Guh……." Niat awalnya benar-benar berbalik menghantam dirinya sendiri.
"T-Tapi makin banyak tenaga kan makin bagus!"
Yotsuba mencoba bersikap pengertian, menjaga gengsi Fuutarou di batas terakhir.
"B-Begitu ya. Anggap saja ini balasan untuk waktu uji nyali kemarin."
"Beneran lho, waktu Uesugi-san tidak ada, aku jadi peran yang menakut-nakuti sendirian lho!"
Sepertinya tanpa disadari Fuutarou bahkan sudah membuat Yotsuba kesal padanya. Jika tidak segera memulihkan kepercayaannya, ini bisa berdampak pada pekerjaannya sebagai guru privat.
"Berikutnya, ayo! Sekalian olahraga, jadi sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, kan!"
Setelah meletakkan kayu di lapangan, Yotsuba dengan energik berlari kembali menuju gudang.
"C-Capek banget…… Masa ketahanan fisikku seburuk ini sih……."
Di sisi lain, Fuutarou terengah-engah kehabisan napas, rasanya seperti mau tumbang saat itu juga.
***
"Nakano-san, bisa minta waktunya sebentar? Kunci gudang dicantolkan di dinding sebelah pintu ya……."
Yotsuba yang sampai lebih dulu sedang berbicara dengan murid perempuan panitia lainnya di samping gudang. Tak lama kemudian, Fuutarou yang agak terlambat pun tiba. Tanpa menyadari Yotsuba, dia berjalan oleng masuk ke dalam gudang, lalu memegang kayu.
"Haah…… satu, dua."
"Wah, beratnya."
Mengira itu Yotsuba, ternyata yang mengangkat sisi sebelah kayu adalah Ichika.
"Lho, kalau dilihat-lihat ternyata Fuutarou-kun toh. Bukannya kamu bukan satu kelompok panitia dengan kami, ya?"
"Eh? Yotsuba mana……." Baru mau mengatakannya, Fuutarou mendadak teringat sesuatu.
(Tidak…… tunggu dulu?)
Bukan cuma Yotsuba, bahkan Ichika juga ada di sini. Ini kan kesempatan untuk menaikkan tingkat kesukaan!
(Bertahanlah tubuhku! Kemampuan komunikasiku MAX-kan!!)
Fuutarou memamerkan gigi putihnya, mengulas senyuman segar.
"Aku lagi membantu Yotsuba tahu. Ayo kita angkut! Haha!"
Sambil mengangkut kayu bersama Ichika, Fuutarou terus mengajaknya berbicara.
"Apakah kamu menikmati acara uji nyali kemarin?"
"Eh. Ah, iya, bikin berdebar-debar lho."
"Itu sih luar biasa! Sebagai panitia pelaksana, aku sangat gembira mendengarnya."
"Soal apakah Fuutarou-kun bisa menjalankan tugas panitia pelaksana dengan baik, dalam arti lain bikin berdebar-debar juga sih."
Meskipun kebingungan dengan perubahan karakter yang mendadak ini, Ichika tetap mengimbangi pembicaraannya.
"Hahaha, kamu berhasil membalas ucapanku ya! Hahahahaha……."
Karena pada dasarnya tidak memiliki kemampuan komunikasi, gaya bahasanya jadi benar-benar melenceng dan tidak jelas.
"Tunggu dulu deh, cara bicaramu itu apaan. Aneh tahu."
Baru setelah ditunjukkan oleh Ichika, Fuutarou menyadari kalau dirinya cuma terlihat seperti orang aneh.
"Eeeh!? Biasanya aku bicaranya seperti apa ya……."
"Fuutarou-kun kan selain belajar tidak pernah berinteraksi secara aktif kan. Coba ceritakan, apa yang lagi kamu khawatirkan?"
Kepada Fuutarou yang merasa murung, Ichika bertanya dengan lembut. Kalau Nino, dia pasti akan langsung menepisnya dengan ucapan, "Orang ansos kok belagu pakai mikirin masalah segala."
***
"Begitu ya. Maksudnya, kamu tidak ingin dibenci oleh semua orang, kan."
"B-Bukan begitu maksudku……."
"Mufufu. Si Fuutarou-kun itu ternyata~."
"Kan sudah kubilang, bukan!"
"Kalau begitu, Kakak akan jadi teman latihanmu deh."
"Latihan maksudnya bagaimana……."
"Aku sih tidak sejelas/sehebat Miku tapi……."
Memberikan pengantar seperti itu, raut wajah Ichika mendadak berubah.
"Kamu! Ada niat memegang yang benar tidak sih? Aku merasa keberatan, tahu!"
Wajah iblis yang menekan seperti ini!
"Nino!"
"Kenapa malah melamun begitu. Kerjakan tugas yang diberikan dengan penuh tanggung jawab dong!"
Gaya bicara seperti guru perempuan yang sangat serius sambil mengerutkan dahi!
"Itsuki!"
"Nah, jawab dong."
Kembali menjadi Ichika, dia berkata kepada Fuutarou.
"O-Ooh……."
Seperti yang diharapkan dari calon aktris. Begitu ya, kalau keterampilan percakapan sehari-hari gagal, menggunakan trik memasukkan kepribadian lain juga bisa jadi jalan keluar ya.
"Karena terpesona oleh Itsuki, aku jadi tidak bisa fokus."
Fuutarou mencoba tersenyum dengan senyuman pangeran yang berbinar-binar.
"Duh, kok rasanya geli ya……." Wajah Ichika menjadi sangat ilfeel di lubuk hati.
"Harusnya bicaranya lebih alami lagi dong. Walaupun tetap butuh trik sih. Bicaralah sekeras Nino agar tidak kalah, dan sebaliknya, berikan kelembutan untuk Itsuki-chan. Pakai kata-katamu sendiri ya."
Setibanya di lapangan, saat Fuutarou menumpuk kayu membentuk susunan silang (piket), Ichika memberinya saran.
"Ah, kamu mau bersikap lembut padaku juga boleh kok."
Sambil mengucapkannya secara jahil, dia berjalan kembali menuju gudang.
"B-Bersikap lembut…… ya. Akan kuingat."
Untunglah bisa berbicara dengan Ichika terlebih dahulu. Memang seperti yang diharapkan dari anak sulung, dia memiliki pandangan tenang yang melihat Fuutarou maupun adik-adiknya tanpa membeda-bedakan.
"Kalau begitu berikutnya Mi……."
Ichika yang menoleh di tengah jalan baru mau mengatakan sesuatu mendadak menghentikan kata-katanya.
"Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa kok……."
Hati Ichika yang terlalu rumit mana mungkin disadari oleh Fuutarou si Raja tak Peka.
Merek berdua berdiri di pintu masuk gudang yang sudah hampir kosong.
"Ini batang kayu yang terakhir ya."
"Dengan begini, besok kita bisa mengadakan api unggun ya."
"……Besok ya……."
Sambil mulai berjalan menuju kayu, Fuutarou membukanya dengan canggung.
"Kamu sudah mendengar ceritanya dari Miku, kan?"
"……Iya. Katanya kita akan berdansa ya." Untuk menutupi rasa malunya, Ichika mengucapkannya seperti urusan orang lain.
"Kenapa bisa jadi begini ya."
Ichika juga mendekat, mengangkat batang kayu yang tersisa bersama dengan Fuutarou.
"Ahaha…… malu juga ya. Bagaimana? Mau latihan dulu tidak?"
Sekali lagi berhadapan dengan masalah pilihan ganda yang ekstrem.
(Ichika atau Nino…… kalau harus memilih salah satu dari mereka……)
Fuutarou memejamkan matanya sambil berpikir, lalu bersamaan dengan membuka matanya dia berkata:
"……Batal saja yuk."
Raut wajah Ichika seketika membeku kaku.
Fuutarou yang tidak menyadarinya mulai menjelaskan proses yang membawanya pada jawaban itu dengan lancar.
"Seperti yang kamu dengar, itu janji yang terbuat cuma gara-gara situasi saat itu saja. Soal legenda atau apa pun itu, aku juga tidak bisa menikmatinya. Kalau aku tidak ada, Maeda juga bisa dikelabui, kan. Lagipula, kalau orang lain melihatmu berdansa denganku, kamu juga akan……."
Tiba-tiba melihat profil wajah Ichika dari samping, Fuutarou membeku karena syok. Di mata Ichika, air mata berkilauan. Di saat dia tercengang, air mata yang meluap itu mengalir perlahan di pipinya.
"Eh…… Ichika?"
"Lho…… kenapa ya……."
Ichika menundukkan wajahnya seolah kebingungan dengan air matanya sendiri. Dari matanya air mata terus meluap deras, menetes jatuh ke tanah.
"Bukan begitu…… maaf ya…… bisa tolong ditaruh dulu tidak."
Air mata perempuan yang mendadak. Tingkat ketidaktahuan ini sudah terlalu ekstrem. Seolah dilemparkan ke ruang angkasa dengan suhu nol mutlak 3 kelvin (minus 270 derajat Celsius), Fuutarou mulai menggigil.
Pada saat itu, dari luar gudang terdengar suara para murid perempuan panitia api unggun.
"Ayo, cepat kita selesaikan lalu kembali ke penginapan!"
"Lho, sudah tidak ada yang tersisa tuh."
"Beneran, ternyata lumayan cepat ya~."
Tanpa masuk ke dalam, mereka berdiri mengobrol di pintu masuk. Di sana terdengar suara Yotsuba.
"Maaf! Anu, apakah ada yang melihat Uesugi-san?"
"Uesugi, si anak itu?"
"Aku tidak lihat sih."
"Begitu ya…… pergi ke mana ya dia."
Fuutarou dan Ichika menyandarkan kayu ke dinding di samping pintu masuk, menempel di dinding untuk bersembunyi.
"Haha…… dulu juga pernah ada kejadian seperti ini ya… maksudku, apa perlu kita bersembunyi?"
Sambil berbisik dengan mata yang menggenang air mata agar tidak terdengar oleh Yotsuba dan yang lainnya, Ichika kembali menunduk menghadap dinding.
(……Bersikap lembut, bersikap lembut……)
Sambil tegang, Fuutarou melepas jaket yang dikenakannya, lalu menutupi kepala Ichika dengan jaket itu dari atas.
"Tidak ada yang melihat kok."
Di bawah jaket, mata Ichika yang menampung air mata terbuka lebar karena terkejut.
"Ah, aku malah membuat suasananya jadi aneh lagi……!!"
Apakah aku salah langkah lagi! Tepat saat Fuutarou spontan menutupi mulutnya dengan tangan, dari arah pintu masuk terdengar suara Gasshan, Gacha.
"Gasshan?" ucap Fuutarou.
"Gacha?" ucap Ichika.
Bergegas ke depan pintu, mereka berdua tertegun kaku.
"T-Tunggu…… tidak mungkin……."
"Kunci yang terpasang di sini mana!?"
Kunci gudang yang tadinya dicantolkan di dinding sebelah pintu sudah tidak ada. Yotsuba yang dipercayakan kunci oleh murid perempuan panitia mengunci pintu dari luar karena mengira tidak ada orang di dalam.
Fuutarou bergegas mendorong dan memukul pintu, tetapi pintu tidak bergeming sedikit pun. Dengan pintu sejelas dan setebal ini, Yotsuba dan yang lainnya yang belum pergi jauh pun tidak akan menyadarinya.
"……Ahahahahaha."
Merek berdua pada akhirnya cuma bisa tertawa pasrah.
"Kamu berhasil membalas ucapanku, ya."
Fuutarou kali ini mengucapkannya secara alami.


Post a Comment