NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 SEMUA TERJEMAHAN YANG ADA DI KOKOA NOVEL FULL MTL AI TANPA EDIT.⚠️ DILARANG KERAS UNTUK MENGAMBIL TEKS TERJEMAHAN DARI KOKOA NOVEL APAPUN ALASANNYA, OPEN TRAKTEER JUGA BUAT NAMBAH-NAMBAHIM DANA BUAT SAYA BELI PC SPEK DEWA, SEBAGAI GANTI ORANG YANG DAH TRAKTEER, BISA REQUEST LN YANG DIMAU, KALO SAYA PUNYA RAWNYA, BAKALAN SAYA LANGSUNG TERJEMAHKAN, SEKIAN TERIMAKASIH.⚠️

Anime Gotoubun no Hanayome Novelize Volume 2 Chapter 5

Chapter 5

Legenda Ikatan Takdir — Hari ketiga


"Merepotkan juga ya……."

"Iya."

"Kita malah terkunci di dalam ya……."

"Iya."

Di depan pintu, Ichika dan Fuutarou mencoba memastikan situasi saat ini.

"Baiklah. Aku akan mendobrak pintunya dan keluar. Mundur sedikit."

Fuutarou mengambil beberapa langkah mundur dari pintu. Padahal tadi mengangkat satu batang kayu saja tidak sanggup, tapi bicaranya besar juga.

"Ah, tunggu!"

Ichika menunjuk ke arah atas pintu. Tepat di dinding sebelah kanan, ada perangkat yang berkedip-kedip merah terpasang.

"Itu bukannya sensor pengaman? Jenis yang kalau pintunya didobrak, petugas keamanan akan langsung datang meluncur."

"Kalau bisa ditemukan oleh mereka, justru itu hal yang sangat kuharapkan."

Fuutarou menarik satu kakinya ke belakang untuk mendobrak pintu, bersiap mengambil ancang-ancang.

"Tunggu, tunggu, tidak boleh! Kalau begitu nanti kegiatan alamnya jadi berantakan lho."

Lagipula, kalau sampai hal ini diketahui oleh Miku──raut wajah Ichika menjadi redup.

"Ugh…… aku mengerti. Mari coba lihat apakah bisa dimatikan."

Fuutarou mendekati pintu, membelakangi Ichika lalu berjongkok di tempat itu.

"Eh? Ahaha…… andai saja tinggiku dua meter ya~."

"Bicara apa sih. Gendong di pundak (kataguruma). Cepat naik." Ucap Fuutarou sambil memasang posisi bersiap.

Hati Ichika seketika berdebar. Punggung Fuutarou kelihatan sangat besar dan terkesan gentleman──.

(Ketenangan diri…… kalau sensor di sini sampai bereaksi kan bahaya…….)

Sambil menahan jantungnya yang berdebar kencang dan menenangkan perasaannya,

"Jangan bilang aku berat lho ya~?"

Ucap Ichika bergurau, lalu menaiki pundak Fuutarou.

Saat Fuutarou memegang erat kaki Ichika dan menariknya mendekat, kedua paha kirinya dan kanannya yang kenyal menekan pas di wajahnya.

"Guh!! ……Nm? ……."

"A…… ada apa?"

"Sensasi ini…… entah kenapa terasa sangat nyaman…….”

Wajah Ichika seketika memerah padam.

”Hei! Dilarang menikmati paha, ya!”

”Lagipula, kamu berat jadi tidak bisa terangkat…….”

Sambil menggendong Ichika di pundaknya dalam keadaan berjongkok, Fuutarou mengerahkan seluruh tenaganya hingga tubuhnya gemetaran.

”Aaaah!! Tuh kan kamu beneran mengucapkannya!”

***

Shako-shako-shako…… Di dalam gudang, suara gesekan kayu yang saling beradu bergema di mana-mana.

"Untuk mematikan sensornya, butuh kunci."

Setelah Ichika memeriksanya sambil menjadikan Fuutarou yang merangkak sebagai pijakan, kenyataan itu pun terungkap.

"……Pada akhirnya, kita cuma bisa menunggu seseorang datang ya."

Saat Ichika naik ke atas Fuutarou tadi, punggungnya agak terasa sakit. Ditambah lagi, karena dia menyerahkan jaketnya kepada Ichika yang berpakaian tipis, rasanya sangat dingin. Tapi Fuutarou tetap fokus bekerja seolah tidak terjadi apa-apa. Semuanya demi menaikkan tingkat kesukaan.

***

"Anu, Fuutarou?"

Ichika yang duduk bersandar di pintu berdampingan dengan Fuutarou mengangkat tangannya.

"Benda itu, lagi dipakai buat apa……?"

"Seperti yang kamu lihat, membuat api. Kalau sampai masuk angin, hari terakhir akan berantakan."

Sambil tekun membuat api menggunakan bahan seadanya di dalam gudang, Fuutarou mengucapkannya dengan wajah bangga. Dia menggunakan batang kayu berbentuk busur yang dipasangi tali, yaitu teknik bow drill untuk membuat sumber api dari gesekan.

"Fuutarou-kun itu pintar, tapi bodoh juga ya…… Daripada itu, mumpung waktu luang, ayo ceritakan hal yang seru.”

”Aku lagi fokus, jadi nanti saja.” Potong Fuutarou dengan dingin tanpa perasaan.

Padahal Ichika sudah mencoba mencairkan suasana…… Dia pun mencibirkan bibirnya kesal.

***

Pada saat yang sama di gedung penginapan, Itsuki mendatangi kamar Miku.

"Ichika belum pulang?"

"Iya…… Katanya ada pekerjaan panitia api unggun, lalu keluar dan belum kembali."

Itsuki kelihatan cemas. Pada saat itu, Yotsuba datang berlari kecil.

"Miku, Itsuki~! Kalian berdua melihat Uesugi-san, tidak?"

"「Eh?」"

"Uesugi-san itu ya, di tengah-tengah membantu panitia api unggun mendadak menghilang ke mana tahu! Di ruang makan tidak ada, di kamar juga belum kembali. Mmmm~! Pasti membolos lagi lalu bermain di suatu tempat deh."

Jangan-jangan bersama dengan seseorang……? Dada Miku menjadi gelisah.

──Apakah Kakak harus menemani Fuutarou-kun yang sendirian itu ya.

Di penginapan kemarin Ichika sempat mengatakan hal seperti itu…….

"……Aku…… akan pergi mencarinya……."

Miku mendadak berlari kencang.

"Miku!?"

Pada saat itu, mata Itsuki tertuju pada tangan Yotsuba.

"……Yotsuba, kunci itu?"

Dari gantungan kunci kayu yang digenggam Yotsuba, sebuah kunci tergantung berkilauan.

***

"……Dan begitu ceritanya. Makanya~."

Shako-shako-shako.

"Beberapa waktu lalu Itsuki-chan itu ya~. ……Lalu Nino sampai kerepotan. ……Melihat kroket itu, menurutmu apa yang diucapkannya……?"

Shako-shako-shako.

Dengan ketabahan yang bahkan manusia purba pun tidak akan sekuat ini, Fuutarou terus tekun membuat api.

"Semuanya diacuhkan…… Kakak rasanya mau menangis lagi nih."

Ichika akhirnya menyerah, lalu membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.

(……Kenapa kamu tidak menanyakan alasanku menangis tadi ya…… Apakah kamu cuma tidak tertarik saja ya…….)

Mengangkat wajahnya sedikit, Ichika mengingat kejadian tadi.

(Beneran deh, kenapa tadi aku sampai menangis ya~…….)

Kalau sedang bersama Fuutarou, kenapa aku jadi tidak seperti diriku sendiri, ya.

Shako-shako-shako.

Di dalam ruangan sunyi yang hanya ada mereka berdua, hanya suara gesekan kayu yang bergema.

"……Aku, mungkin akan berhenti sekolah." Ucap Ichika seperti bergumam sendiri.

Fuutarou menghentikan tangannya dengan tersentak, "Eh," lalu menatap Ichika.

"Ahaha. Akhirnya kamu tertarik juga."

"Daripada itu, berhenti sekolah maksudmu……."

"Yah, bentuknya sih mengambil cuti sekolah. Nah, berkat dukungan semuanya, aku lagi syuting film, lalu tawaran pekerjaan baru juga mulai berdatangan sedikit demi sedikit. Anak-anak lain yang berperan sebagai murid ada yang siap tidak naik kelas demi membolos sekolah, atau pindah ke sekolah yang lebih fleksibel. Aku kan seperti yang kamu tahu, nilai akademisku sangat mengenaskan…… jadi rasanya tidak ada penyesalan lagi sama SMA……."

Saat Ichika mengucapkannya dengan nada mengejek diri sendiri, dia menundukkan bulu matanya perlahan.

(Lagipula, kalau tidak ada aku kan Miku juga…….)

Shako-shako-shako. Fuutarou melanjutkan kembali pekerjaannya membuat api.

"……Baguslah. Kamu sudah menemukan hal yang ingin kamu lakukan."

"Eh?"

"Tunggu dulu…… kalau kamu tidak ada, bagaimana dengan gajiku? Jangan-jangan dipotong dua puluh persen!?"

Melihat Fuutarou yang mendadak pucat, wajah Ichika berubah menjadi heran.

"……Tapi, rasanya agak mengejutkan ya."

Ichika tadinya membayangkan Fuutarou akan murka besar dengan raut wajah iblis sambil berteriak, "Tidak punya kemanusiaan!" Saat membicarakan hal itu, Ichika tertawa sambil berkata, "Kira-kira akan dimarahi sejauh itu, tahu!"

Fuutarou justru mengerutkan dahinya.

"Apakah kamu melihatku dengan pandangan seperti itu?"

Semua orang tanpa terkecuali melihat Fuutarou yang menjadi peringkat teratas di angkatan ini seperti bukan manusia saja……

Shako-shako-shako.

──Fuutarou-kun itu belajar demi apa sih?

Apakah saat festival kembang api waktu itu, ya, Fuutarou teringat hal yang pernah diucapkan Ichika padanya.

"……Aku iri padamu yang punya pilihan. Yah, sembilan puluh sembilan persen sih pasti gagal."

"Tuh kan, ngomong gitu lagi!"

"Tapi itu juga akan jadi pelajaran, kan. Kalau berhasil ya berarti bonus……."

Shako-shako-shako. Di dahi Fuutarou yang fokus membuat api, keringat mulai bercucuran.

"Segala hal adalah…… tantangan!!"

Shubb! Asap membumbung tinggi, dan percikan api tercipta di antara kayu-kayu.

***

"Fuutarou."

"Ichika~!"

Miku dan Itsuki berjalan menuju gudang sambil mencari mereka berdua.

Langkah kaki Itsuki terhenti, dan pemandangan di penginapan tadi pagi melintas di benaknya. Mungkinkah Ichika yang……?

"Tidak apa-apa kok."

Miku yang berjalan di depan menoleh menatap Itsuki.

"Kalau Ichika, tidak ada yang perlu dikhawatirkan……."

Seolah membaca isi hati Itsuki, dan seolah meyakinkan dirinya sendiri, Miku mengucapkannya.

***

Fuutarou membuat api unggun dari api yang diciptakannya dengan ketabahan luar biasa untuk menghangatkan tubuh.

"……Boleh kok."

Ichika yang duduk memeluk lutut membenamkan wajahnya sambil menatap nyala api, mengucapkannya secara perlahan.

Sambil menadahkan kedua tangannya ke unggun api, Fuutarou menatap Ichika, "Eh?"

"Dansa api unggun…… janji denganku anggap saja tidak pernah ada tidak apa-apa kok."

"Iya……." Fuutarou memalingkan pandangannya dengan canggung.

"Sebagai gantinya." Ichika pun berdiri.

"Ayo kita berdansa sekarang. Malam ini adalah api unggun khusus untuk kita berdua saja."

Dia berputar ke sisi sebelah unggun api, lalu menyodorkan tangannya ke Fuutarou sambil tersenyum.

Cahaya di dalam gudang hanyalah unggun api kecil ini dan cahaya bulan yang masuk dari jendela penerangan. Bahkan wajah satu sama lain pun, jika agak menjauh sedikit, tidak terlihat jelas.

"……Yah, lagipula tidak ada yang melihat juga kan."

Setelah hening sejenak, Fuutarou pun berdiri. Ichika berseru gembira seperti anak kecil, "Hore!"

"Ahaha…… ternyata kamu memang merasa malu ya."

Saat Ichika mengucapkannya, Fuutarou tersipu malu, "Tentu saja lah."

"Punya sisi yang imut juga ya."

Sambil mengucapkan hal itu, Ichika perlahan menyentuh dadanya sendiri.

(Tidak ada keanehan pada sensor…… kalau begini tidak apa-apa.)

Karena aku kan seorang aktris, hal seperti ini mah gampang sekali──.

"Lagipula, legenda seperti itu kan disebarluaskan begitu saja. Walaupun tidak ada niat ke sana, orang lain pasti akan melihatnya seperti itu."

"Legenda……?"

"Kamu tidak tahu? Aku dengar dari Yotsuba, katanya dua orang yang berdansa saat api unggun akan diikat takdir seumur hidup."

Pachi! Seolah menyampaikan kegoyahan hati Ichika, api unggun meletup.

"……Hal itu…… apakah Miku tahu…?"

"Iya. Waktu itu dia ada di tempat kok."

***

Susunan kayu bakar yang ditumpuk rubuh besar, percikan api beterbangan pachi-pachi.

"T…… Tidak ada niat seperti itu kok……."

Ichika mundur dua tiga langkah seolah oleng.

"Ichika?"

"Bagi Miku, api unggun itu adalah…… padahal begitu tapi aku……."

Dia menyandarkan tangannya ke dinding, menundukkan kepala seperti sedang kepikiran berat.

"……Fuutarou-kun!"

Tepat saat dia memutar tubuhnya secara mendadak, kaki kiri Ichika menendang kayu yang disandarkan di dinding.

"Ichika!!" Teriak Fuutarou.

Kayu yang kehilangan keseimbangan kekuatan rubuh mengarah ke Ichika!

Fuutarou yang spontan berlari melingkarkan lengannya di punggung Ichika lalu menariknya mendekat.

DOOOON Baki-baki-baki!

Hampir bersamaan, kayu-kayu itu jatuh melintang di tanah dengan suara yang sangat keras.

"……Haah~~~ selamat……."

Masih dalam posisi merangkul Ichika, Fuutarou tersenyum licik.

"Kamu ini ya…… ternyata ceroboh juga ya."

"……!"

Mata Ichika membelalak lebar, dan tepat di saat wajahnya memerah padam──.




Bii-pp, bii-pp, bii-pp!

Sensor pengaman mulai membunyikan suara yang sangat bising.

Dokku, dokku, dokku.

Seolah merespons suara itu, sensor di dada Ichika mulai membunyikan alarm dengan sangat kencang.

"……L-Lepaskan!"

Sambil mendorong wajah Fuutarou dengan tangannya, Ichika memuntir tubuhnya dengan kuat.

"Hei, kamu, jangan mengamuk dong!"

Terdorong oleh Ichika, mereka berdua jatuh tersungkur di atas tanah dalam posisi saling bertindihan.

Saat melirik, ternyata ada lubang di pintu. Sepertinya kayu yang bersandar tadi jatuh menimpa papan, lalu menembus pintu tersebut.

『Terdeteksi adanya benturan. Harap buka kuncinya dalam waktu tiga puluh detik. Jika tidak dibuka, petugas keamanan akan segera meluncur ke lokasi.』

Pengumuman dari sensor pengaman berkumandang, membuat Fuutarou dan Ichika terkejut setengah mati.

"Gawat. Ayo kita lari sebelum ada yang datang!"

"Iya!"

Seketika itu juga, air dalam jumlah besar menyembur keluar dari langit-langit.

"Uwah, apa-apaan ini!?"

"Sprinkler? Kita harus memadamkan apinya."

Mereka berdua basah kuyup seolah habis mandi shower.

"Pokoknya mari kita lakukan sesuatu pada sensor ini dulu!"

"L-Lakukan sesuatu gimana…… kan sudah kubilang kalau tidak ada kunci……."

"Kunci…… sialan, harus bagaimana……."

Tepat saat berada di situasi jalan buntu, suara kenop pintu terdengar, Gacha.

"……Eh?"

"Kalau kunci, ada di sini kok."

Pintu terbuka, dan cahaya senter memancar masuk.

"Ichika…… kalian berdua sedang melakukan apa di tempat seperti ini?”

Dengan mata yang menuduh, Itsuki mengucapkannya.

Miku yang ada di sebelahnya, meskipun dengan wajah datar, memancarkan rasa curiga yang mendalam.

Di mata mereka berdua, di atas lantai yang tergenang air, Fuutarou kelihatan seperti sedang mendesak Ichika yang jatuh pingsan/terlentang. Ditambah lagi, sebelah bahu Ichika tersingkap, dan bra olahraga yang menempel di kaus basahnya terlihat menerawang, sebuah penampilan yang sangat tidak sopan──.

Dengan demikian, tingkat kesukaan pada Fuutarou bukannya membentuk garis naik, melainkan jatuh merosot sampai ke dasar bumi.

***

Gunung salju yang disinari matahari pagi berkilauan sampai menyilaukan mata.

"Hari terakhir ya……."

Fuutarou mendadak bangun di atas tempat tidur kamar murid laki-laki.

Kejadian bersama Ichika semalam membuat dirinya terpaksa menjelaskan situasi kepada guru, dan menerima omelan besar dari guru olahraga penanggung jawab kesiswaan. Mungkin karena lelah, semalam dia tertidur lelap seperti tumbang, jadi kesalahpahaman Itsuki dan Miku pun masih belum lurus sepenuhnya.

Andai saja ada kesempatan untuk berbicara sekali lagi dengan mereka berdua ya…….

(Kegiatan alam yang menyenangkan, kenapa bisa jadi begini……)

Dengan kepala yang terasa melayang karena demam, mana mungkin dia bisa menemukan jawabannya.

***

"Kalau begitu, Miku-chan, kami ke ruang makan duluan ya."

"……Iya. Aku segera ke sana."

Murid-murid perempuan dari kelompok yang sama keluar dari kamar terlebih dahulu.

(Kita ini sama rata……)

Miku yang berdiri di dekat jendela menatap kayu api unggun yang diletakkan di lapangan, menunggu malam tiba dengan tenang.

(Kalau begitu, aku harus bagaimana……)

Bagaikan perahu kecil yang terapung di laut badai, hatinya terus bergoyang gelisah, berapa kali pun dipikirkan, tidak ada jawaban yang keluar.

***

"Aduh, maaf ya……."

Ichika yang berbaring di atas tempat tidur meletakkan punggung tangannya di dahi yang terasa agak demam sambil menatap ke langit-langit.

"Di saat seperti ini malah jatuh sakit, tidak beruntung banget ya~……."

"Meskipun ini kecelakaan, ini adalah hasil yang diundang oleh kecerobohanmu sendiri. Berintrospeksilah dan bersikaplah penurut seharian ini."

"Eeh~……."

Meskipun bicaranya ketus, Itsuki tetap menemani Ichika, terus menggenggam tangannya.

"Ah, Itsuki-chan tidak usah menemaniku kok. Pergilah main ski sana."

"Tapi……."

"Kalau aku sudah pulih nanti aku akan menyusul kok."

Sambil berkata begitu, Ichika memalingkan wajahnya ke arah Itsuki.

"Atau jangan-jangan, kamu merasa canggung kalau berhadapan dengan Fuutarou-kun?"

Itsuki tersentak kaget.

"Sejak penginapan waktu itu, kamu selalu waspada, kan."

"Ternyata yang waktu itu benar-benar Ichika ya……."

Meskipun hanya berupa siluet, entah kenapa Itsuki merasa begitu.

"Hari itu di ruang makan saat aku berniat minta diajari belajar olehnya, sama sekali tidak terlintas di pikiranku. Tidak disangka akan jadi seperti ini……."

Melihat Itsuki yang mengerutkan dahinya dengan wajah sangat serius, Ichika tertawa canggung.

"Apakah Fuutarou-kun kelihatan sejahat itu di matamu?"

"T-Tidak juga sih……."

Itsuki menyamarkan kata-katanya. Mungkin ini gara-gara sifatnya yang terlalu serius. Tapi tidak seperti Ichika atau Yotsuba, dia tidak bisa menerimanya dengan begitu mudah……

***

Kata orang, kalau sedang dibicarakan oleh orang lain nanti akan bersin, tapi Fuutarou justru menggigil gemetaran karena kedinginan.

«Uuu~…… lemas banget, tidur ah…….»

Tepat saat dia hendak menyusup ke dalam selimut, pintu terbuka dengan keras.

«Uesugi-saaann!»

«Yo-Yotsuba!»

«Meskipun sifatnya bebas, aku tidak akan membiarkanmu kabur ya! Ayo kita main ski! Ski!”

Kebaikan penuh yang dicurahkannya demi membuat kenangan untuk Fuutarou──.

Fuutarou tidak bisa melawan senyuman Yotsuba yang seperti itu.

***

Di lereng salju, murid laki-laki mengenakan pakaian ski warna biru dan murid perempuan mengenakan warna merah muda meluncur kencang.

Fuutarou dan Yotsuba juga berganti pakaian lalu tiba di area ski (gerande).

"Nah~! Ayo kita meluncur sampai puas~~!"

Yotsuba memegang tongkat ski di kedua tangannya dan memasang papan ski. Semangatnya bergelora penuh.

"Dingin banget, biarkan aku tidur…… Lagipula aku kan tidak bisa meluncur."

Di sisi lain, Fuutarou menancapkan papannya di atas salju, sama sekali tidak ada semangat.

"Masa tidur, sayang banget, kan! Kalau benar-benar tidak bisa, aku akan memegang tanganmu lalu mengajakmu meluncur!"

Yotsuba menyodorkan kedua tangannya.

"Bagus, ayo kita latihan!"

Fuutarou mengacungkan tinjunya ke atas sambil mengabaikannya. Bagaimanapun, dia adalah pria Jepang, mana mau dia melakukan hal yang memalukan seperti itu.

"Lagipula, empat si bodoh lainnya ke mana?"

Dengan wajah yang agak memerah karena demam, dia celingukan melihat ke sekeliling.

"Ichika kondisinya lagi tidak fit, jadi Itsuki yang merawatnya."

"Habis mengalami kejadian seperti itu sih. Memang wajar kalau jadi begitu……" gumam Fuutarou pelan.

"Iya?"

"Kamu juga pastikan dulu baru mengunci pintunya dong."

"Eh? Kamu bicara apa sih?"

Yotsuba, dan mungkin Nino juga, sepertinya tidak diberi tahu soal kejadian di gudang semalam. Baguslah, biarkan mereka tidak tahu selamanya.

"Daripada itu, Nino sudah meluncur dari tadi…… ah, itu dia datang!"

Peski yang mengenakan kupluk rajut dan goggle datang mendekat.

"Ngg? Siapa tuh??"

Sambil menaikkan goggle-nya, "Miku." dia memperlihatkan wajahnya.

"Miku toh…… Kalau cuma kelihatan wajah saja, benar-benar tidak dapat dibedakan, ya.»

Fuutarou mendekat, menatap wajah Miku dari jarak yang sangat dekat, lekat-lekat.

«Uuh…….»

Miku yang oleng ke belakang langsung jatuh terduduk sekuat tenaga.

«Ahahaha.»

Di bawah langit biru area ski, suara tawa polos Yotsuba bergema.

”Jatuhnya heboh banget ya. Kamu tidak apa-apa, Miku?” Fuutarou menyodorkan tangannya.

”Tidak apa-apa…….” Miku memalingkan pandangannya dengan malu-malu, lalu berdiri dengan kekuatannya sendiri.

Diacuhkan begitu saja, Fuutarou jadi kelihatan agak tidak keren.

”Baaaguss! Meskipun biasanya aku yang selalu diajari, hari ini aku akan mengajari kalian berdua sepuasnya~~!”

Yotsuba dengan sangat bersemangat mengacungkan kedua tangannya yang memegang tongkat ski.

***

Fuutarou meluncur perlahan di lereng salju yang landai menggunakan teknik snowplough (bogen).

"Ooooh, uwah, to-to…… haha……."

Meskipun di tengah jalan sempat kehilangan keseimbangan, dia berhasil memulihkannya kembali dan mengeluarkan senyuman agak lega. Padahal cuma diajari secara singkat oleh Yotsuba, bukankah dia punya bakat yang lumayan? ──Saat dia memuji dirinya sendiri begitu,

"Wah, kaku banget~."

Baju ski warna merah muda meluncur Suii~ menyalip Fuutarou.

"Halo! Dingin banget ya~!"

Berhenti sedikit di depan, dia melambaikan tangan ke Fuutarou.

"Maksudku, kamu beneran siapa!?"

Karena menutup kepala dengan hoodie, serta wajahnya tertutup penuh oleh goggle dan masker, selain tahu dia adalah salah satu dari si kembar lima, dia sama sekali tidak tahu siapa orang ini.

"Ahhaha. Tuh kan, ini Ichika lho."

Sambil berkata begitu, dia menggeser goggle dan maskernya, memperlihatkan wajahnya.

"Kamu toh."

Yotsuba yang sedang mengajari Miku sedikit di atas sana melambaikan tangan, "Ichika~!"

"Kamu, tidak apa-apa memangnya?"

"……Ugh, ugh!" Ichika mendadak batuk-batuk. "……Iya, memang belum pulih total sih."

"Benar juga, Itsuki mana? Katanya dia merawatmu."

"Itsuki-chan bilang karena merasa canggung bertemu denganmu, jadi dia meluncur sendirian tuh."

Melihat Ichika dan Fuutarou yang mengobrol dengan akrab, meskipun mencoba tidak mempedulikannya, Miku tetap memalingkan pandangannya dari mereka berdua lalu menunduk.

"Ichika~~! Dua orang ini sama sekali tidak mau mengingat apa yang kukatakan, tahu~!" Yotsuba berteriak meminta bantuan dari jauh.

"Itu sih hal yang selalu kupikirkan tentangmu, tahu!"

Seketika dipotong oleh Fuutarou, Yotsuba tertawa ceria menutupi kesalahannya, "Ahahaha."

"Kalau begitu, ayo kita ingat sambil bersenang-senang." Ichika kembali memasang goggle-nya.

"Main kejar-kejaran! Yotsuba yang jago jadi jalannya ya~~!"

Baru saja mengucapkannya, dia langsung meluncur ke lereng dengan turn paralel yang mulus.

"Siaaap!"

"Nino dan Itsuki mana?"

Saat Miku bertanya, mata Yotsuba berbinar tajam seperti harimau yang membidik mangsanya.

"Tentu saja kalau ketemu akan kutangkap dong! Sa-tu, du-a, ti-ga……."

"H-Hei!?" Keinginan Fuutarou sama sekali diabaikan sejak awal.

"Masa aku juga dipaksa ikut…… padahal aku baru saja bisa meluncur sedikit."

Di situ Fuutarou mendadak teringat sesuatu.

(Tunggu dulu…… ini kan bisa jadi kesempatan untuk memberi penjelasan pada Miku.)

Fuutarou menoleh ke belakang.

"Miku, ayo bareng…… tunggu, h-hei!?"

Miku yang sudah meluncur terlebih dahulu melaju kencang melewati samping Fuutarou dalam sekejap.

"Tunggu dong, Miku~!"

Miku melirik sekilas ke belakang, lalu semakin meningkatkan kecepatannya.

(A-Anak itu, sejak kapan kemampuannya meningkat sejauh itu!?)

Di sisi lain, flu Fuutarou makin parah; demamnya rasanya makin naik saja.

"Haah…… haah…… ini gawat nih……."

Sambil terengah-engah mengejar Miku, Ichika meluncur berdampingan dengannya.

"Ada hal yang ingin kupastikan padamu sih. ……Soal kemarin, kamu tidak mengatakannya ke siapa-siapa, kan?"

Soal berhenti sekolah──pasti soal hal itu.

"Mana mungkin kukatakan hal seperti itu."

"Itu artinya……" Tepat saat Ichika hendak mengatakan sesuatu,

"……Ichika……."

Fuutarou menatap Ichika dengan senyuman yang terkesan bingung.

"Ini, gimana cara berhentinya……?"

"Eh?"

Belum sempat menjawab, Fuutarou sudah meluncur pergi dengan kecepatan tinggi.

Pyuuu~.

"Eeeh!? Uesugi-kuuuun!!"

Kalau dipikir-pikir, Fuutarou baru menyadarinya sekarang. Cara berbelok pun belum diajari.

"Aaaaaaaaa…… Aaaaa~~~!"

Meluncur lurus dengan kecepatan dahsyat di area ski, Fuutarou menabrak pohon dengan keras secara menakjubkan.

"……Yotsuba… kalau mengajari itu yang benar dong……."

Terbalik dan tertimbun salju, langit biru yang cerah meresap di mata Fuutarou.

"Anu, kamu tidak apa-apa?" "Masih hidup, tidak?"

Tanpa disadari, penonton yang penasaran sudah berkumpul di sekitarnya.

"T-Tidak apa-apa kok! Jangan dipedulikan!"

Fuutarou dengan cepat mengumpulkan papan ski dan tongkatnya yang berhamburan lalu berdiri.

(Ckh…… malah jadi pusat perhatian……)

Sambil menutupi wajahnya dengan hoodie, dia berjalan diam-diam melewati kerumunan penonton. Mungkin gara-gara jimat Raiha belum dikembalikan, sejak kemarin kemalangan terus menimpanya.

Saat dia mengusap dahinya yang basah oleh salju atau keringat, plester luka gambar hati yang ditempelkan Nino saat uji nyali kemarin terlepas dan jatuh. Fuutarou berjalan tanpa menyadarinya.

Di belakangnya, sebuah tangan yang mengenakan sarung tangan memungut plester luka gambar hati itu dari atas salju.

"……Jangan-jangan, Kintarou-kun?"

Suara ini──Nino!! Fuutarou tersentak kaget lalu menghentikan langkahnya.

"Kintarou-kun kan!"

Meskipun berambut hitam, menutup kepala dengan hoodie justru menjadi malapetaka baginya.

"Eh? Bukan kok? Nama aneh apa itu."

Sambil tetap membelakangi Nino, dia mengucapkannya dengan nada datar.

"Bohong! Soalnya ini kan cuma kuberikan padamu saja!"

Ditambah demam dan kepanikan, keringat dingin Fuutarou tidak berhenti mengalir.

(Gawat…… harus bagaimana……)

Karena sudah terdesak, dia membuang papan ski dan tongkatnya lalu berlari kencang.

"Tunggu, kenapa malah lari!?"

"Ckh……."

Berbelok di belokan pondok (lodge), dia melewati gunung salju buatan setinggi dua meter yang disandari papan ski dan snowboard.

(Cara untuk menyelesaikannya secara damai bagaimanapun caranya adalah……)

Saat hendak berbelok lagi ke bagian belakang pondok, Fuutarou tersentak dan menghentikan langkahnya.

(Gawat, Yotsuba!!)

Menyadari hawa keberadaan, Yotsuba menoleh lalu tersenyum lebar,

Nimaa~.

"Ah, Uesugi-san! Ketemu~~~!"

Dia bergegas berbalik arah, tapi langkahnya terhenti di gunung salju.

"Kintarou-kuuuun." Dari arah depan, suara Nino terdengar.

"Uesugi-saaaann!" Dari belakang, suara Yotsuba makin mendekat.

Dia tidak boleh tertangkap oleh Nino, dan kalau tertangkap oleh Yotsuba, maka Nino juga akan tahu.

(Aah…… kepalaku jadi pusing……)

Benar-benar bagaikan harimau di depan dan serigala di belakang, krisis besar yang sangat terdesak──!

"Kintarou-kun!"

"Uesugi-san!"

Pada detik berikutnya, dari kedua sisi pondok, Nino dan Yotsuba memunculkan wajah mereka secara bersamaan.

"Lho……Yotsuba toh."

"Nino ketemu!"

"Di sebelah sana tidak ada anak berambut pirang yang lewat?"

"Nino sendiri, tidak melihat Uesugi-san?"

"Aneh ya."

"Pergi ke mana ya dia……."

Meskipun mereka berdua tidak menyadarinya, dari gunung salju buatan di dekat situ, suara terengah-engah terdengar samar-samar.

***

"Haah…… haah…… haah……."

Fuutarou berada di dalam gunung salju. Disandari oleh snowboard dan papan ski sekilas memang tidak kelihatan, tapi sebenarnya ada pintu masuk kecil dan bagian dalamnya berongga.

"Miku……."

Di dalam ruangan sempit yang pas-pasan untuk dua orang, Miku menempelkan tubuhnya rapat-rapat ke punggung Fuutarou.

"Bahaya…… hampir saja tertangkap……."

"Di sini, kamakura (rumah salju) ya? Jangan-jangan kamu yang buat?"

"Nggak, dari awal sudah ada kok."

"Begitu ya……."

Kalau Miku yang bersembunyi duluan tidak menariknya masuk, entah apa yang akan terjadi padanya saat ini.

"Haha…… di dalam ternyata lumayan hangat ya."

Ini pertama kalinya Fuutarou masuk Kamakura. Dia melihat sekeliling dengan heran.

"F-Fuutarou…… Karena sempit, jangan terlalu banyak bergerak……."

Miku mengucapkannya dengan malu-malu dan canggung.





Siku Fuutarou mengenai dada Miku!

"A-Ah, maaf……! Kalau begitu aku keluar deh."

Miku menggenggam ujung pakaian Fuutarou yang bergegas hendak berdiri.

"……Eh?"

"Keluar juga tidak boleh. ……Duh, ……aku tidak tahu lagi……."

Entah kenapa wajah Miku terlihat kesusahan, membuat Fuutarou juga bingung harus bagaimana.

"N-Nah, Yotsuba mungkin masih ada di sekitar sini……."

Miku melepaskan tangannya dari pakaian Fuutarou lalu berkata.

"Benar juga…… izinkan aku mengganggumu sebentar lagi ya." ucap Fuutarou sambil duduk kembali.

"Lagipula, stamina melimpah tanpa batas milik anak itu apa-apaan sih…… Aku sampai tidak percaya kalau dia itu kembar lima yang sama dengan kalian."

"Aku juga kalau tidak ada tempat ini pasti sudah tertangkap."

"Dari pertengahan jalan, hal ini sudah tidak ada hubungannya dengan ski lagi, ya."

Duduk berdampingan, mereka berdua mengobrol dalam posisi memeluk lutut.

***

(……Aku…… kenapa sampai melakukan hal ini ya…….)

Soal Yotsuba yang mungkin masih ada di sekitar sini itu hanyalah alasan semata. Dipermainkan oleh perasaannya sendiri, Miku menjadi sangat bingung.

"Nah, lalu…… bagaimana cara kita kabur sampai tuntas, ya."

Ucap Fuutarou. Tidak mungkin mereka terus-menerus mengurung diri di tempat ini.

"Kalau begitu…… benar juga, kita minta handicap saja dari Yotsuba."

"Handicap?"

"Minta dia membawa barang apa begitu…… supaya kecepatan kakinya jadi setara!"

"Yah, kalau begitu akan jadi lebih seru sih." ucap Fuutarou.

"Iya kan. Kalau begitu."

Kepada Miku yang kelihatan puas dengan idenya sendiri, Fuutarou berkata.

"Tapi, aku tidak terlalu menyukai cara itu sih."

Dia menghembuskan napas hangat ke kedua tangannya yang kaku kedinginan.

"Kalian berlima, kemungkinan besar pada dasarnya punya kemampuan fisik yang sama, kan? Soalnya kalian kembar lima. Kalau begitu, kemampuan olahraga itu adalah hal yang didapatkan Yotsuba dari usahanya sendiri belakangan ini."

"Memang sih, tapi……."

"Meskipun bicaranya seperti 'ngomong apa sih di tengah-tengah permainan begini'…… tapi aku tidak ingin mengabaikan/menyangkal usaha kerasnya itu."

Fuutarou dengan wajah yang agak memerah karena demam mengucapkannya dengan tegas dan tatapan mata yang serius.

Di dalam kepala Miku, berbagai pemikiran berputar-putar deras bagaikan aliran sungai.

Kata-kata Maeda, "Ingin memonopoli orang tersebut sendirian. Cuma sebatas itu." Kata-kata Ichika, "Apa benar-benar tidak apa-apa kalau aku yang melakukannya?"

Kalau Ichika, tidak ada yang perlu dikhawatirkan──berapa kali pun dia meyakinkan dirinya sendiri begitu, rasa cemasnya tidak pernah sirna. Ditambah lagi, sosok keakraban Ichika dan Fuutarou yang dilihatnya di gudang semalam.

”Sama rata…… Ichika saja yang jadi pasangannya…….”

──Meskipun sudah menelan perasaannya dan mengatakan hal itu pada Ichika, jujur saja rasanya sangat menyakitkan dan menyiksa……

”Semuanya sama rata memang bagus, tapi kita tidak boleh menyangkal proses yang dilalui untuk mencapai hal itu. Jangan sama rata, mari kita buat jadi adil.”

Kata-kata Fuutarou menghapus gumpalan keraguan di hati Miku bagaikan kabut yang sirna.

Tanpa sadar, Miku mendadak berdiri, hingga kepalanya terbentur keras ke langit-langit kamakura.

”……Uuh…….”

”H-Hei!”

”Sakitnya…….”

Melihat Miku yang berjongkok sambil memegang kepalanya, Fuutarou tertawa.

”Hahaha. Kamu lagi ngapain sih.”

”……Mari kita buat jadi adil.”

Sudut bibir Miku mengembang tipis, mengulangi kata-kata Fuutarou.

”Tunggu, aku ngomong apa sih. Gara-gara panas aku jadi bicara hal yang aneh…….”

Sambil mengucapkannya secara mengejek diri sendiri, Fuutarou berkata, ”Aku mau menghirup udara luar dulu.” Lalu pergi ke luar.

Miku yang ditinggalkan sendirian di dalam kamakura, dengan mantap mengeluarkan ponselnya.

***

Pada saat yang sama, Yotsuba berada di area ski.

"U~e~su~gi~sa~nnn!"

Sambil meluncur dengan kecepatan tinggi, dia mencari Fuutarou dengan wajah bersemangat.

"Aku pasti akan menemukanmu lho!"

***

Nino masih berjalan celingukan di sekitar area pondok (lodge).

"Duh, pergi ke mana sih kamu!"

Dengan mata penuh kerinduan, dia menatap lekat-lekat plester luka gambar hati di tangannya.

"Kintarou-kun……."

***

Lalu Itsuki berada di dekat puncak gunung di mana bubuk salju beterbangan.

Rambutnya berkibar ditiup angin. Dia menatap pemandangan gunung bersalju yang sangat megah.

Namun di dalam kepalanya, pemikirannya terikat oleh perasaan yang sama sekali berbeda.

***

Di tempat lain, ponsel Ichika berdering. Telepon dari Miku.

"Ada apa Miku? Ada apa nih?"

Inilah Miku dari dalam kamakura, mengucapkannya dengan raut wajah yang menyimpan tekad kuat.

"Ichika, begini nih… ada hal yang ingin kubicarakan."



Chapter 4 | ToC | Chapter 6

Post a Comment

Post a Comment