Chapter 5
"Merepotkan
juga ya……."
"Iya."
"Kita malah
terkunci di dalam ya……."
"Iya."
Di depan pintu,
Ichika dan Fuutarou mencoba memastikan situasi saat ini.
"Baiklah.
Aku akan mendobrak pintunya dan keluar. Mundur sedikit."
Fuutarou
mengambil beberapa langkah mundur dari pintu. Padahal tadi mengangkat satu
batang kayu saja tidak sanggup, tapi bicaranya besar juga.
"Ah,
tunggu!"
Ichika menunjuk
ke arah atas pintu. Tepat
di dinding sebelah kanan, ada perangkat yang berkedip-kedip merah terpasang.
"Itu
bukannya sensor pengaman? Jenis yang kalau pintunya didobrak, petugas keamanan akan
langsung datang meluncur."
"Kalau bisa
ditemukan oleh mereka, justru itu hal yang sangat kuharapkan."
Fuutarou menarik
satu kakinya ke belakang untuk mendobrak pintu, bersiap mengambil
ancang-ancang.
"Tunggu,
tunggu, tidak boleh! Kalau begitu nanti kegiatan alamnya jadi berantakan
lho."
Lagipula, kalau
sampai hal ini diketahui oleh Miku──raut wajah Ichika menjadi redup.
"Ugh…… aku mengerti.
Mari coba lihat apakah bisa dimatikan."
Fuutarou
mendekati pintu, membelakangi Ichika lalu berjongkok di tempat itu.
"Eh? Ahaha……
andai saja tinggiku dua meter ya~."
"Bicara apa
sih. Gendong di pundak (kataguruma). Cepat naik." Ucap Fuutarou sambil
memasang posisi bersiap.
Hati Ichika
seketika berdebar. Punggung Fuutarou kelihatan sangat besar dan terkesan
gentleman──.
(Ketenangan
diri……
kalau sensor di sini sampai bereaksi kan bahaya…….)
Sambil menahan
jantungnya yang berdebar kencang dan menenangkan perasaannya,
"Jangan
bilang aku berat lho ya~?"
Ucap
Ichika bergurau, lalu menaiki pundak Fuutarou.
Saat
Fuutarou memegang erat kaki Ichika dan menariknya mendekat, kedua paha kirinya
dan kanannya yang kenyal menekan pas di wajahnya.
"Guh!! ……Nm? ……."
"A…… ada apa?"
"Sensasi
ini…… entah kenapa terasa sangat nyaman…….”
Wajah Ichika
seketika memerah padam.
”Hei! Dilarang
menikmati paha, ya!”
”Lagipula, kamu
berat jadi tidak bisa terangkat…….”
Sambil
menggendong Ichika di pundaknya dalam keadaan berjongkok, Fuutarou mengerahkan
seluruh tenaganya hingga tubuhnya gemetaran.
”Aaaah!! Tuh kan
kamu beneran mengucapkannya!”
***
Shako-shako-shako……
Di dalam gudang,
suara gesekan kayu yang saling beradu bergema di mana-mana.
"Untuk
mematikan sensornya, butuh kunci."
Setelah
Ichika memeriksanya sambil menjadikan Fuutarou yang merangkak sebagai pijakan,
kenyataan itu pun terungkap.
"……Pada
akhirnya, kita cuma bisa menunggu seseorang datang ya."
Saat Ichika naik
ke atas Fuutarou tadi, punggungnya agak terasa sakit. Ditambah lagi, karena dia
menyerahkan jaketnya kepada Ichika yang berpakaian tipis, rasanya sangat
dingin. Tapi Fuutarou tetap fokus bekerja seolah tidak terjadi apa-apa.
Semuanya demi menaikkan tingkat kesukaan.
***
"Anu,
Fuutarou?"
Ichika yang duduk
bersandar di pintu berdampingan dengan Fuutarou mengangkat tangannya.
"Benda
itu, lagi dipakai buat apa……?"
"Seperti
yang kamu lihat, membuat api. Kalau sampai masuk angin, hari terakhir akan berantakan."
Sambil
tekun membuat api menggunakan bahan seadanya di dalam gudang, Fuutarou
mengucapkannya dengan wajah bangga. Dia menggunakan batang kayu berbentuk busur
yang dipasangi tali, yaitu teknik bow drill untuk membuat sumber api dari
gesekan.
"Fuutarou-kun
itu pintar, tapi bodoh juga ya…… Daripada itu, mumpung waktu luang, ayo
ceritakan hal yang seru.”
”Aku lagi fokus,
jadi nanti saja.” Potong Fuutarou dengan dingin tanpa perasaan.
Padahal Ichika
sudah mencoba mencairkan suasana…… Dia pun mencibirkan bibirnya kesal.
***
Pada saat yang
sama di gedung penginapan, Itsuki mendatangi kamar Miku.
"Ichika
belum pulang?"
"Iya……
Katanya ada pekerjaan panitia api unggun, lalu keluar dan belum kembali."
Itsuki kelihatan
cemas. Pada saat itu, Yotsuba datang berlari kecil.
"Miku,
Itsuki~! Kalian berdua melihat Uesugi-san, tidak?"
"「Eh?」"
"Uesugi-san
itu ya, di tengah-tengah membantu panitia api unggun mendadak menghilang ke
mana tahu! Di ruang
makan tidak ada, di kamar juga belum kembali. Mmmm~! Pasti membolos lagi lalu bermain di suatu
tempat deh."
Jangan-jangan
bersama dengan seseorang……? Dada Miku menjadi gelisah.
──Apakah Kakak harus menemani Fuutarou-kun yang sendirian itu ya.
Di penginapan
kemarin Ichika sempat mengatakan hal seperti itu…….
"……Aku…… akan
pergi mencarinya……."
Miku mendadak
berlari kencang.
"Miku!?"
Pada saat itu,
mata Itsuki tertuju pada tangan Yotsuba.
"……Yotsuba,
kunci itu?"
Dari gantungan
kunci kayu yang digenggam Yotsuba, sebuah kunci tergantung berkilauan.
***
"……Dan
begitu ceritanya. Makanya~."
Shako-shako-shako.
"Beberapa
waktu lalu Itsuki-chan itu ya~. ……Lalu Nino sampai kerepotan. ……Melihat kroket
itu, menurutmu apa yang diucapkannya……?"
Shako-shako-shako.
Dengan ketabahan
yang bahkan manusia purba pun tidak akan sekuat ini, Fuutarou terus tekun
membuat api.
"Semuanya
diacuhkan…… Kakak rasanya mau menangis lagi nih."
Ichika akhirnya
menyerah, lalu membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.
(……Kenapa kamu tidak menanyakan alasanku menangis tadi ya…… Apakah kamu cuma tidak tertarik saja ya…….)
Mengangkat
wajahnya sedikit, Ichika mengingat kejadian tadi.
(Beneran
deh, kenapa tadi aku sampai menangis ya~…….)
Kalau sedang
bersama Fuutarou, kenapa aku jadi tidak seperti diriku sendiri, ya.
Shako-shako-shako.
Di dalam ruangan
sunyi yang hanya ada mereka berdua, hanya suara gesekan kayu yang bergema.
"……Aku,
mungkin akan berhenti sekolah." Ucap Ichika seperti bergumam sendiri.
Fuutarou
menghentikan tangannya dengan tersentak, "Eh," lalu menatap Ichika.
"Ahaha.
Akhirnya kamu tertarik juga."
"Daripada
itu, berhenti sekolah maksudmu……."
"Yah,
bentuknya sih mengambil cuti sekolah. Nah, berkat dukungan semuanya, aku lagi
syuting film, lalu tawaran pekerjaan baru juga mulai berdatangan sedikit demi
sedikit. Anak-anak lain yang berperan sebagai murid ada yang siap tidak naik
kelas demi membolos sekolah, atau pindah ke sekolah yang lebih fleksibel. Aku
kan seperti yang kamu tahu, nilai akademisku sangat mengenaskan…… jadi rasanya
tidak ada penyesalan lagi sama SMA……."
Saat Ichika
mengucapkannya dengan nada mengejek diri sendiri, dia menundukkan bulu matanya
perlahan.
(Lagipula,
kalau tidak ada aku kan Miku juga…….)
Shako-shako-shako.
Fuutarou melanjutkan kembali pekerjaannya membuat api.
"……Baguslah.
Kamu sudah menemukan hal yang ingin kamu lakukan."
"Eh?"
"Tunggu
dulu…… kalau kamu tidak ada, bagaimana dengan gajiku? Jangan-jangan dipotong
dua puluh persen!?"
Melihat Fuutarou
yang mendadak pucat, wajah Ichika berubah menjadi heran.
"……Tapi,
rasanya agak mengejutkan ya."
Ichika tadinya
membayangkan Fuutarou akan murka besar dengan raut wajah iblis sambil berteriak,
"Tidak punya kemanusiaan!" Saat membicarakan hal itu, Ichika tertawa
sambil berkata, "Kira-kira akan dimarahi sejauh itu, tahu!"
Fuutarou justru
mengerutkan dahinya.
"Apakah kamu
melihatku dengan pandangan seperti itu?"
Semua orang tanpa
terkecuali melihat Fuutarou yang menjadi peringkat teratas di angkatan ini
seperti bukan manusia saja……
Shako-shako-shako.
──Fuutarou-kun itu belajar demi apa sih?
Apakah saat
festival kembang api waktu itu, ya, Fuutarou teringat hal yang pernah diucapkan
Ichika padanya.
"……Aku iri
padamu yang punya pilihan. Yah, sembilan puluh sembilan persen sih pasti
gagal."
"Tuh kan,
ngomong gitu lagi!"
"Tapi itu
juga akan jadi pelajaran, kan. Kalau berhasil ya berarti bonus……."
Shako-shako-shako.
Di dahi Fuutarou yang fokus membuat api, keringat mulai bercucuran.
"Segala hal
adalah…… tantangan!!"
Shubb! Asap
membumbung tinggi, dan percikan api tercipta di antara kayu-kayu.
***
"Fuutarou."
"Ichika~!"
Miku dan Itsuki
berjalan menuju gudang sambil mencari mereka berdua.
Langkah kaki
Itsuki terhenti, dan pemandangan di penginapan tadi pagi melintas di benaknya.
Mungkinkah Ichika yang……?
"Tidak
apa-apa kok."
Miku yang
berjalan di depan menoleh menatap Itsuki.
"Kalau
Ichika, tidak ada yang perlu dikhawatirkan……."
Seolah membaca
isi hati Itsuki, dan seolah meyakinkan dirinya sendiri, Miku mengucapkannya.
***
Fuutarou membuat
api unggun dari api yang diciptakannya dengan ketabahan luar biasa untuk
menghangatkan tubuh.
"……Boleh
kok."
Ichika yang duduk
memeluk lutut membenamkan wajahnya sambil menatap nyala api, mengucapkannya
secara perlahan.
Sambil menadahkan
kedua tangannya ke unggun api, Fuutarou menatap Ichika, "Eh?"
"Dansa api
unggun…… janji denganku anggap saja tidak pernah ada tidak apa-apa kok."
"Iya……." Fuutarou memalingkan pandangannya dengan
canggung.
"Sebagai
gantinya." Ichika pun berdiri.
"Ayo kita
berdansa sekarang. Malam ini adalah api unggun khusus untuk kita berdua
saja."
Dia berputar ke
sisi sebelah unggun api, lalu menyodorkan tangannya ke Fuutarou sambil
tersenyum.
Cahaya di dalam
gudang hanyalah unggun api kecil ini dan cahaya bulan yang masuk dari jendela
penerangan. Bahkan wajah satu sama lain pun, jika agak menjauh sedikit, tidak
terlihat jelas.
"……Yah,
lagipula tidak ada yang melihat juga kan."
Setelah
hening sejenak, Fuutarou pun berdiri. Ichika berseru gembira seperti anak
kecil, "Hore!"
"Ahaha……
ternyata kamu memang merasa malu ya."
Saat Ichika
mengucapkannya, Fuutarou tersipu malu, "Tentu saja lah."
"Punya sisi
yang imut juga ya."
Sambil
mengucapkan hal itu, Ichika perlahan menyentuh dadanya sendiri.
(Tidak
ada keanehan pada sensor…… kalau begini tidak apa-apa.)
Karena
aku kan seorang aktris, hal seperti ini mah gampang sekali──.
"Lagipula,
legenda seperti itu kan disebarluaskan begitu saja. Walaupun tidak ada niat ke sana, orang lain pasti akan
melihatnya seperti itu."
"Legenda……?"
"Kamu tidak
tahu? Aku dengar dari Yotsuba, katanya dua orang yang berdansa saat api unggun akan
diikat takdir seumur hidup."
Pachi! Seolah
menyampaikan kegoyahan hati Ichika, api unggun meletup.
"……Hal itu……
apakah Miku tahu…?"
"Iya. Waktu
itu dia ada di tempat kok."
***
Susunan kayu
bakar yang ditumpuk rubuh besar, percikan api beterbangan pachi-pachi.
"T…… Tidak
ada niat seperti itu kok……."
Ichika mundur dua
tiga langkah seolah oleng.
"Ichika?"
"Bagi Miku,
api unggun itu adalah…… padahal begitu tapi aku……."
Dia menyandarkan
tangannya ke dinding, menundukkan kepala seperti sedang kepikiran berat.
"……Fuutarou-kun!"
Tepat saat dia memutar
tubuhnya secara mendadak, kaki kiri Ichika menendang kayu yang disandarkan di
dinding.
"Ichika!!"
Teriak Fuutarou.
Kayu yang
kehilangan keseimbangan kekuatan rubuh mengarah ke Ichika!
Fuutarou yang
spontan berlari melingkarkan lengannya di punggung Ichika lalu menariknya
mendekat.
DOOOON
Baki-baki-baki!
Hampir bersamaan,
kayu-kayu itu jatuh melintang di tanah dengan suara yang sangat keras.
"……Haah~~~
selamat……."
Masih dalam
posisi merangkul Ichika, Fuutarou tersenyum licik.
"Kamu ini
ya…… ternyata ceroboh juga ya."
"……!"
Mata Ichika
membelalak lebar, dan tepat di saat wajahnya memerah padam──.
Bii-pp,
bii-pp, bii-pp!
Sensor
pengaman mulai membunyikan suara yang sangat bising.
Dokku,
dokku, dokku.
Seolah
merespons suara itu, sensor di dada Ichika mulai membunyikan alarm dengan
sangat kencang.
"……L-Lepaskan!"
Sambil
mendorong wajah Fuutarou dengan tangannya, Ichika memuntir tubuhnya dengan
kuat.
"Hei, kamu,
jangan mengamuk dong!"
Terdorong oleh
Ichika, mereka berdua jatuh tersungkur di atas tanah dalam posisi saling
bertindihan.
Saat melirik,
ternyata ada lubang di pintu. Sepertinya kayu yang bersandar tadi jatuh menimpa
papan, lalu menembus pintu tersebut.
『Terdeteksi
adanya benturan. Harap buka kuncinya dalam waktu tiga puluh detik. Jika tidak
dibuka, petugas keamanan akan segera meluncur ke lokasi.』
Pengumuman
dari sensor pengaman berkumandang, membuat Fuutarou dan Ichika terkejut
setengah mati.
"Gawat.
Ayo kita lari sebelum ada yang datang!"
"Iya!"
Seketika
itu juga, air dalam jumlah besar menyembur keluar dari langit-langit.
"Uwah,
apa-apaan ini!?"
"Sprinkler?
Kita harus memadamkan apinya."
Mereka berdua
basah kuyup seolah habis mandi shower.
"Pokoknya
mari kita lakukan sesuatu pada sensor ini dulu!"
"L-Lakukan
sesuatu gimana…… kan sudah kubilang kalau tidak ada kunci……."
"Kunci……
sialan, harus bagaimana……."
Tepat saat berada
di situasi jalan buntu, suara kenop pintu terdengar, Gacha.
"……Eh?"
"Kalau
kunci, ada di sini kok."
Pintu terbuka,
dan cahaya senter memancar masuk.
"Ichika……
kalian berdua sedang melakukan apa di tempat seperti ini?”
Dengan mata yang
menuduh, Itsuki mengucapkannya.
Miku yang ada di
sebelahnya, meskipun dengan wajah datar, memancarkan rasa curiga yang mendalam.
Di mata mereka
berdua, di atas lantai yang tergenang air, Fuutarou kelihatan seperti sedang
mendesak Ichika yang jatuh pingsan/terlentang. Ditambah lagi, sebelah bahu
Ichika tersingkap, dan bra olahraga yang menempel di kaus basahnya terlihat
menerawang, sebuah penampilan yang sangat tidak sopan──.
Dengan demikian,
tingkat kesukaan pada Fuutarou bukannya membentuk garis naik, melainkan jatuh
merosot sampai ke dasar bumi.
***
Gunung salju yang
disinari matahari pagi berkilauan sampai menyilaukan mata.
"Hari
terakhir ya……."
Fuutarou mendadak
bangun di atas tempat tidur kamar murid laki-laki.
Kejadian bersama
Ichika semalam membuat dirinya terpaksa menjelaskan situasi kepada guru, dan
menerima omelan besar dari guru olahraga penanggung jawab kesiswaan. Mungkin
karena lelah, semalam dia tertidur lelap seperti tumbang, jadi kesalahpahaman
Itsuki dan Miku pun masih belum lurus sepenuhnya.
Andai saja ada
kesempatan untuk berbicara sekali lagi dengan mereka berdua ya…….
(Kegiatan
alam yang menyenangkan, kenapa bisa jadi begini……)
Dengan kepala
yang terasa melayang karena demam, mana mungkin dia bisa menemukan jawabannya.
***
"Kalau
begitu, Miku-chan, kami ke ruang makan duluan ya."
"……Iya. Aku
segera ke sana."
Murid-murid
perempuan dari kelompok yang sama keluar dari kamar terlebih dahulu.
(Kita
ini sama rata……)
Miku yang berdiri
di dekat jendela menatap kayu api unggun yang diletakkan di lapangan, menunggu
malam tiba dengan tenang.
(Kalau
begitu, aku harus bagaimana……)
Bagaikan perahu
kecil yang terapung di laut badai, hatinya terus bergoyang gelisah, berapa kali
pun dipikirkan, tidak ada jawaban yang keluar.
***
"Aduh, maaf
ya……."
Ichika yang
berbaring di atas tempat tidur meletakkan punggung tangannya di dahi yang
terasa agak demam sambil menatap ke langit-langit.
"Di saat
seperti ini malah jatuh sakit, tidak beruntung banget ya~……."
"Meskipun
ini kecelakaan, ini adalah hasil yang diundang oleh kecerobohanmu sendiri.
Berintrospeksilah dan bersikaplah penurut seharian ini."
"Eeh~……."
Meskipun
bicaranya ketus, Itsuki tetap menemani Ichika, terus menggenggam tangannya.
"Ah,
Itsuki-chan tidak usah menemaniku kok. Pergilah main ski sana."
"Tapi……."
"Kalau aku
sudah pulih nanti aku akan menyusul kok."
Sambil berkata
begitu, Ichika memalingkan wajahnya ke arah Itsuki.
"Atau
jangan-jangan, kamu merasa canggung kalau berhadapan dengan Fuutarou-kun?"
Itsuki tersentak
kaget.
"Sejak
penginapan waktu itu, kamu selalu waspada, kan."
"Ternyata
yang waktu itu benar-benar Ichika ya……."
Meskipun hanya
berupa siluet, entah kenapa Itsuki merasa begitu.
"Hari itu di
ruang makan saat aku berniat minta diajari belajar olehnya, sama sekali tidak
terlintas di pikiranku. Tidak disangka akan jadi seperti ini……."
Melihat Itsuki
yang mengerutkan dahinya dengan wajah sangat serius, Ichika tertawa canggung.
"Apakah
Fuutarou-kun kelihatan sejahat itu di matamu?"
"T-Tidak
juga sih……."
Itsuki
menyamarkan kata-katanya. Mungkin ini gara-gara sifatnya yang terlalu serius. Tapi tidak seperti
Ichika atau Yotsuba, dia tidak bisa menerimanya dengan begitu mudah……
***
Kata
orang, kalau sedang dibicarakan oleh orang lain nanti akan bersin, tapi
Fuutarou justru menggigil gemetaran karena kedinginan.
«Uuu~……
lemas banget, tidur ah…….»
Tepat
saat dia hendak menyusup ke dalam selimut, pintu terbuka dengan keras.
«Uesugi-saaann!»
«Yo-Yotsuba!»
«Meskipun
sifatnya bebas, aku tidak akan membiarkanmu kabur ya! Ayo kita main ski! Ski!”
Kebaikan penuh
yang dicurahkannya demi membuat kenangan untuk Fuutarou──.
Fuutarou tidak
bisa melawan senyuman Yotsuba yang seperti itu.
***
Di lereng salju,
murid laki-laki mengenakan pakaian ski warna biru dan murid perempuan
mengenakan warna merah muda meluncur kencang.
Fuutarou dan
Yotsuba juga berganti pakaian lalu tiba di area ski (gerande).
"Nah~! Ayo
kita meluncur sampai puas~~!"
Yotsuba memegang
tongkat ski di kedua tangannya dan memasang papan ski. Semangatnya bergelora
penuh.
"Dingin
banget, biarkan aku tidur…… Lagipula aku kan tidak bisa meluncur."
Di sisi lain,
Fuutarou menancapkan papannya di atas salju, sama sekali tidak ada semangat.
"Masa
tidur, sayang banget, kan! Kalau benar-benar tidak bisa, aku akan memegang
tanganmu lalu mengajakmu meluncur!"
Yotsuba
menyodorkan kedua tangannya.
"Bagus, ayo
kita latihan!"
Fuutarou
mengacungkan tinjunya ke atas sambil mengabaikannya. Bagaimanapun, dia adalah pria Jepang, mana mau dia
melakukan hal yang memalukan seperti itu.
"Lagipula,
empat si bodoh lainnya ke mana?"
Dengan wajah yang
agak memerah karena demam, dia celingukan melihat ke sekeliling.
"Ichika
kondisinya lagi tidak fit, jadi Itsuki yang merawatnya."
"Habis
mengalami kejadian seperti itu sih. Memang wajar kalau jadi begitu……" gumam Fuutarou pelan.
"Iya?"
"Kamu
juga pastikan dulu baru mengunci pintunya dong."
"Eh? Kamu
bicara apa sih?"
Yotsuba, dan
mungkin Nino juga, sepertinya tidak diberi tahu soal kejadian di gudang
semalam. Baguslah, biarkan mereka tidak tahu selamanya.
"Daripada
itu, Nino sudah meluncur dari tadi…… ah, itu dia datang!"
Peski
yang mengenakan kupluk rajut dan goggle datang mendekat.
"Ngg?
Siapa tuh??"
Sambil
menaikkan goggle-nya, "Miku." dia memperlihatkan wajahnya.
"Miku
toh…… Kalau cuma kelihatan wajah saja, benar-benar tidak dapat dibedakan, ya.»
Fuutarou
mendekat, menatap wajah Miku dari jarak yang sangat dekat, lekat-lekat.
«Uuh…….»
Miku yang
oleng ke belakang langsung jatuh terduduk sekuat tenaga.
«Ahahaha.»
Di bawah
langit biru area ski, suara tawa polos Yotsuba bergema.
”Jatuhnya heboh
banget ya. Kamu tidak apa-apa, Miku?” Fuutarou menyodorkan tangannya.
”Tidak apa-apa…….”
Miku memalingkan pandangannya dengan malu-malu, lalu berdiri dengan kekuatannya
sendiri.
Diacuhkan begitu
saja, Fuutarou jadi kelihatan agak tidak keren.
”Baaaguss!
Meskipun biasanya aku yang selalu diajari, hari ini aku akan mengajari kalian
berdua sepuasnya~~!”
Yotsuba dengan
sangat bersemangat mengacungkan kedua tangannya yang memegang tongkat ski.
***
Fuutarou meluncur
perlahan di lereng salju yang landai menggunakan teknik snowplough (bogen).
"Ooooh, uwah, to-to…… haha……."
Meskipun di tengah jalan sempat kehilangan keseimbangan, dia
berhasil memulihkannya kembali dan mengeluarkan senyuman agak lega. Padahal
cuma diajari secara singkat oleh Yotsuba, bukankah dia punya bakat yang
lumayan? ──Saat
dia memuji dirinya sendiri begitu,
"Wah, kaku banget~."
Baju ski warna merah muda meluncur Suii~ menyalip Fuutarou.
"Halo! Dingin banget ya~!"
Berhenti sedikit di depan, dia melambaikan tangan ke
Fuutarou.
"Maksudku, kamu beneran siapa!?"
Karena menutup kepala dengan hoodie, serta wajahnya tertutup
penuh oleh goggle dan masker, selain tahu dia adalah salah satu dari si kembar
lima, dia sama sekali tidak tahu siapa orang ini.
"Ahhaha. Tuh
kan, ini Ichika lho."
Sambil
berkata begitu, dia menggeser goggle dan maskernya, memperlihatkan wajahnya.
"Kamu
toh."
Yotsuba
yang sedang mengajari Miku sedikit di atas sana melambaikan tangan,
"Ichika~!"
"Kamu, tidak
apa-apa memangnya?"
"……Ugh, ugh!" Ichika mendadak batuk-batuk.
"……Iya, memang belum pulih total sih."
"Benar juga,
Itsuki mana? Katanya dia merawatmu."
"Itsuki-chan
bilang karena merasa canggung bertemu denganmu, jadi dia meluncur sendirian
tuh."
Melihat Ichika
dan Fuutarou yang mengobrol dengan akrab, meskipun mencoba tidak
mempedulikannya, Miku tetap memalingkan pandangannya dari mereka berdua lalu
menunduk.
"Ichika~~!
Dua orang ini sama sekali tidak mau mengingat apa yang kukatakan, tahu~!"
Yotsuba berteriak meminta bantuan dari jauh.
"Itu sih hal
yang selalu kupikirkan tentangmu, tahu!"
Seketika dipotong
oleh Fuutarou, Yotsuba tertawa ceria menutupi kesalahannya,
"Ahahaha."
"Kalau
begitu, ayo kita ingat sambil bersenang-senang." Ichika kembali memasang goggle-nya.
"Main
kejar-kejaran! Yotsuba yang jago jadi jalannya ya~~!"
Baru saja
mengucapkannya, dia langsung meluncur ke lereng dengan turn paralel yang mulus.
"Siaaap!"
"Nino dan
Itsuki mana?"
Saat Miku
bertanya, mata Yotsuba berbinar tajam seperti harimau yang membidik mangsanya.
"Tentu saja
kalau ketemu akan kutangkap dong! Sa-tu, du-a, ti-ga……."
"H-Hei!?"
Keinginan Fuutarou sama sekali diabaikan sejak awal.
"Masa aku
juga dipaksa ikut…… padahal aku baru saja bisa meluncur sedikit."
Di situ Fuutarou
mendadak teringat sesuatu.
(Tunggu dulu…… ini kan bisa jadi kesempatan untuk
memberi penjelasan pada Miku.)
Fuutarou menoleh
ke belakang.
"Miku, ayo
bareng…… tunggu, h-hei!?"
Miku yang sudah
meluncur terlebih dahulu melaju kencang melewati samping Fuutarou dalam
sekejap.
"Tunggu dong,
Miku~!"
Miku melirik
sekilas ke belakang, lalu semakin meningkatkan kecepatannya.
(A-Anak itu, sejak kapan kemampuannya meningkat sejauh itu!?)
Di sisi lain, flu
Fuutarou makin parah; demamnya rasanya makin naik saja.
"Haah……
haah…… ini gawat nih……."
Sambil
terengah-engah mengejar Miku, Ichika meluncur berdampingan dengannya.
"Ada hal
yang ingin kupastikan padamu sih. ……Soal kemarin, kamu tidak mengatakannya ke
siapa-siapa, kan?"
Soal berhenti
sekolah──pasti
soal hal itu.
"Mana
mungkin kukatakan hal seperti itu."
"Itu
artinya……" Tepat saat Ichika hendak mengatakan sesuatu,
"……Ichika……."
Fuutarou menatap
Ichika dengan senyuman yang terkesan bingung.
"Ini, gimana
cara berhentinya……?"
"Eh?"
Belum sempat
menjawab, Fuutarou sudah meluncur pergi dengan kecepatan tinggi.
Pyuuu~.
"Eeeh!?
Uesugi-kuuuun!!"
Kalau
dipikir-pikir, Fuutarou baru menyadarinya sekarang. Cara berbelok pun belum diajari.
"Aaaaaaaaa……
Aaaaa~~~!"
Meluncur
lurus dengan kecepatan dahsyat di area ski, Fuutarou menabrak pohon dengan
keras secara menakjubkan.
"……Yotsuba…
kalau mengajari itu yang benar dong……."
Terbalik
dan tertimbun salju, langit biru yang cerah meresap di mata Fuutarou.
"Anu, kamu
tidak apa-apa?" "Masih hidup, tidak?"
Tanpa disadari,
penonton yang penasaran sudah berkumpul di sekitarnya.
"T-Tidak
apa-apa kok! Jangan dipedulikan!"
Fuutarou dengan
cepat mengumpulkan papan ski dan tongkatnya yang berhamburan lalu berdiri.
(Ckh……
malah jadi pusat perhatian……)
Sambil menutupi
wajahnya dengan hoodie, dia berjalan diam-diam melewati kerumunan penonton.
Mungkin gara-gara jimat Raiha belum dikembalikan, sejak kemarin kemalangan
terus menimpanya.
Saat dia mengusap
dahinya yang basah oleh salju atau keringat, plester luka gambar hati yang
ditempelkan Nino saat uji nyali kemarin terlepas dan jatuh. Fuutarou berjalan
tanpa menyadarinya.
Di belakangnya,
sebuah tangan yang mengenakan sarung tangan memungut plester luka gambar hati
itu dari atas salju.
"……Jangan-jangan,
Kintarou-kun?"
Suara ini──Nino!!
Fuutarou tersentak
kaget lalu menghentikan langkahnya.
"Kintarou-kun
kan!"
Meskipun
berambut hitam, menutup kepala dengan hoodie justru menjadi malapetaka baginya.
"Eh? Bukan
kok? Nama aneh apa itu."
Sambil tetap
membelakangi Nino, dia mengucapkannya dengan nada datar.
"Bohong!
Soalnya ini kan cuma kuberikan padamu saja!"
Ditambah demam
dan kepanikan, keringat dingin Fuutarou tidak berhenti mengalir.
(Gawat……
harus bagaimana……)
Karena sudah
terdesak, dia membuang papan ski dan tongkatnya lalu berlari kencang.
"Tunggu,
kenapa malah lari!?"
"Ckh……."
Berbelok di
belokan pondok (lodge), dia melewati gunung salju buatan setinggi dua meter
yang disandari papan ski dan snowboard.
(Cara
untuk menyelesaikannya secara damai bagaimanapun caranya adalah……)
Saat
hendak berbelok lagi ke bagian belakang pondok, Fuutarou tersentak dan
menghentikan langkahnya.
(Gawat, Yotsuba!!)
Menyadari
hawa keberadaan, Yotsuba menoleh lalu tersenyum lebar,
Nimaa~.
"Ah,
Uesugi-san! Ketemu~~~!"
Dia
bergegas berbalik arah, tapi langkahnya terhenti di gunung salju.
"Kintarou-kuuuun."
Dari arah depan, suara Nino terdengar.
"Uesugi-saaaann!"
Dari belakang, suara Yotsuba makin mendekat.
Dia tidak boleh
tertangkap oleh Nino, dan kalau tertangkap oleh Yotsuba, maka Nino juga akan
tahu.
(Aah……
kepalaku jadi pusing……)
Benar-benar
bagaikan harimau di depan dan serigala di belakang, krisis besar yang sangat
terdesak──!
"Kintarou-kun!"
"Uesugi-san!"
Pada
detik berikutnya, dari kedua sisi pondok, Nino dan Yotsuba memunculkan wajah
mereka secara bersamaan.
"Lho……Yotsuba
toh."
"Nino
ketemu!"
"Di
sebelah sana tidak ada anak berambut pirang yang lewat?"
"Nino
sendiri, tidak melihat Uesugi-san?"
"Aneh
ya."
"Pergi ke
mana ya dia……."
Meskipun mereka
berdua tidak menyadarinya, dari gunung salju buatan di dekat situ, suara
terengah-engah terdengar samar-samar.
***
"Haah……
haah…… haah……."
Fuutarou berada
di dalam gunung salju. Disandari oleh snowboard dan papan ski sekilas memang
tidak kelihatan, tapi sebenarnya ada pintu masuk kecil dan bagian dalamnya
berongga.
"Miku……."
Di dalam ruangan
sempit yang pas-pasan untuk dua orang, Miku menempelkan tubuhnya rapat-rapat ke
punggung Fuutarou.
"Bahaya……
hampir saja tertangkap……."
"Di sini,
kamakura (rumah salju) ya? Jangan-jangan kamu yang buat?"
"Nggak, dari
awal sudah ada kok."
"Begitu
ya……."
Kalau Miku yang
bersembunyi duluan tidak menariknya masuk, entah apa yang akan terjadi padanya
saat ini.
"Haha…… di
dalam ternyata lumayan hangat ya."
Ini pertama
kalinya Fuutarou masuk Kamakura. Dia melihat sekeliling dengan heran.
"F-Fuutarou……
Karena sempit, jangan terlalu banyak bergerak……."
Miku
mengucapkannya dengan malu-malu dan canggung.
Siku Fuutarou mengenai dada Miku!
"A-Ah,
maaf……! Kalau begitu aku keluar deh."
Miku menggenggam
ujung pakaian Fuutarou yang bergegas hendak berdiri.
"……Eh?"
"Keluar
juga tidak boleh. ……Duh, ……aku tidak tahu lagi……."
Entah
kenapa wajah Miku terlihat kesusahan, membuat Fuutarou juga bingung harus
bagaimana.
"N-Nah,
Yotsuba mungkin masih ada di sekitar sini……."
Miku melepaskan
tangannya dari pakaian Fuutarou lalu berkata.
"Benar
juga…… izinkan aku mengganggumu sebentar lagi ya." ucap Fuutarou sambil
duduk kembali.
"Lagipula,
stamina melimpah tanpa batas milik anak itu apa-apaan sih…… Aku sampai tidak
percaya kalau dia itu kembar lima yang sama dengan kalian."
"Aku juga
kalau tidak ada tempat ini pasti sudah tertangkap."
"Dari
pertengahan jalan, hal ini sudah tidak ada hubungannya dengan ski lagi,
ya."
Duduk
berdampingan, mereka berdua mengobrol dalam posisi memeluk lutut.
***
(……Aku……
kenapa sampai melakukan hal ini ya…….)
Soal Yotsuba yang
mungkin masih ada di sekitar sini itu hanyalah alasan semata. Dipermainkan oleh
perasaannya sendiri, Miku menjadi sangat bingung.
"Nah, lalu……
bagaimana cara kita kabur sampai tuntas, ya."
Ucap Fuutarou. Tidak mungkin mereka terus-menerus
mengurung diri di tempat ini.
"Kalau
begitu…… benar juga, kita minta handicap saja dari Yotsuba."
"Handicap?"
"Minta dia membawa barang apa begitu…… supaya kecepatan kakinya jadi setara!"
"Yah, kalau
begitu akan jadi lebih seru sih." ucap Fuutarou.
"Iya kan.
Kalau begitu."
Kepada Miku yang
kelihatan puas dengan idenya sendiri, Fuutarou berkata.
"Tapi, aku
tidak terlalu menyukai cara itu sih."
Dia menghembuskan
napas hangat ke kedua tangannya yang kaku kedinginan.
"Kalian
berlima, kemungkinan besar pada dasarnya punya kemampuan fisik yang sama, kan?
Soalnya kalian kembar lima. Kalau begitu, kemampuan olahraga itu adalah hal
yang didapatkan Yotsuba dari usahanya sendiri belakangan ini."
"Memang sih,
tapi……."
"Meskipun
bicaranya seperti 'ngomong apa sih di tengah-tengah permainan begini'…… tapi
aku tidak ingin mengabaikan/menyangkal usaha kerasnya itu."
Fuutarou dengan
wajah yang agak memerah karena demam mengucapkannya dengan tegas dan tatapan
mata yang serius.
Di dalam kepala
Miku, berbagai pemikiran berputar-putar deras bagaikan aliran sungai.
Kata-kata Maeda,
"Ingin memonopoli orang tersebut sendirian. Cuma sebatas itu."
Kata-kata Ichika, "Apa benar-benar tidak apa-apa kalau aku yang
melakukannya?"
Kalau Ichika,
tidak ada yang perlu dikhawatirkan──berapa kali pun dia meyakinkan dirinya sendiri begitu,
rasa cemasnya tidak pernah sirna. Ditambah lagi, sosok keakraban Ichika dan
Fuutarou yang dilihatnya di gudang semalam.
”Sama rata……
Ichika saja yang jadi pasangannya…….”
──Meskipun
sudah menelan perasaannya dan mengatakan hal itu pada Ichika, jujur saja
rasanya sangat menyakitkan dan menyiksa……
”Semuanya sama
rata memang bagus, tapi kita tidak boleh menyangkal proses yang dilalui untuk
mencapai hal itu. Jangan sama rata, mari kita buat jadi adil.”
Kata-kata
Fuutarou menghapus gumpalan keraguan di hati Miku bagaikan kabut yang sirna.
Tanpa sadar, Miku
mendadak berdiri, hingga kepalanya terbentur keras ke langit-langit kamakura.
”……Uuh…….”
”H-Hei!”
”Sakitnya…….”
Melihat Miku yang
berjongkok sambil memegang kepalanya, Fuutarou tertawa.
”Hahaha. Kamu
lagi ngapain sih.”
”……Mari kita buat
jadi adil.”
Sudut bibir Miku
mengembang tipis, mengulangi kata-kata Fuutarou.
”Tunggu, aku
ngomong apa sih. Gara-gara panas aku jadi bicara hal yang aneh…….”
Sambil
mengucapkannya secara mengejek diri sendiri, Fuutarou berkata, ”Aku mau
menghirup udara luar dulu.” Lalu pergi ke luar.
Miku yang
ditinggalkan sendirian di dalam kamakura, dengan mantap mengeluarkan ponselnya.
***
Pada saat yang
sama, Yotsuba berada di area ski.
"U~e~su~gi~sa~nnn!"
Sambil meluncur
dengan kecepatan tinggi, dia mencari Fuutarou dengan wajah bersemangat.
"Aku pasti akan
menemukanmu lho!"
***
Nino masih berjalan celingukan di sekitar area pondok
(lodge).
"Duh, pergi
ke mana sih kamu!"
Dengan
mata penuh kerinduan, dia menatap lekat-lekat plester luka gambar hati di
tangannya.
"Kintarou-kun……."
***
Lalu
Itsuki berada di dekat puncak gunung di mana bubuk salju beterbangan.
Rambutnya
berkibar ditiup angin. Dia menatap pemandangan gunung bersalju yang sangat
megah.
Namun di dalam
kepalanya, pemikirannya terikat oleh perasaan yang sama sekali berbeda.
***
Di tempat
lain, ponsel Ichika berdering. Telepon dari Miku.
"Ada apa
Miku? Ada apa nih?"
Inilah Miku dari
dalam kamakura, mengucapkannya dengan raut wajah yang menyimpan tekad kuat.
"Ichika, begini nih… ada hal yang ingin kubicarakan."


Post a Comment